Part 5: Crot! Crot! Crot!
Itu adalah perasaan paling mendebarkan sepanjang hidupnya. Lebih
mendebarkan dari naik Halilintar di Dufan, tetapi debarannya menyenangkan.
Kiko kembali ke kamarnya setelah Reza pergi dengan uang tiga ratus ribu
di tangan. Kiko menghempaskan diri ke atas tempat tidur, meringkuk memeluk
guling karena tak tahan lagi. Sesuatu dari dalam tubuhnya berusaha keluar.
Berusaha melesak dan menyembur. Tentu saja Kiko tahu apa maksudnya, tetapi dia
tidak tahu rasanya akan seperti ini.
Dia bahkan tak menyangka rencananya benar-benar berhasil.
Apa yang harus Kiko lakukan nanti kalau Reza bugil selama weekend?
Apa yang perlu Kiko lakukan
dengan tubuh Reza? Membelai-belainya? Mengecup-ngecupnya? Kiko gemas sendiri
membayangkan hal tersebut.
Dia mengintip ke balik celananya. Lagi-lagi cairan bening itu keluar
dari ujung kontolnya. Kiko mencoleknya dengan telunjuk, lalu mengamatinya
dengan saksama. Ditepuknya cairan itu antara telunjuk dan jempol, sehingga
cairan itu menciptakan koneksi. Seperti cairan yang lengket. Seperti gel.
Apakah cairan ini keluar juga dari kontol Reza?
Kontol Reza kenyal. Tampak sangat indah ketika dilihat dengan mata
telanjang. Meski temponya cepat, Kiko dapat melihat batang yang disunat itu
mengerut kecil. Kepalanya berwarna pink,
sementara batangnya kecokelatan. Bekas luka sunatnya membentuk pola tertentu di
bawah leher kontol.
Apa jadinya kalau kontol itu mengeras?
Karena, saat bibir Kiko menyentuh permukaan kulit kontol Reza tadi, dia
bisa merasakan geli-geli mendebarkan di permukaan bibirnya.
Apa jadinya kalau dia boleh mengulum kontol itu di dalam mulutnya seperti
lolipop?
“Aaahhh …,” desah Kiko tak tahan lagi.
Beruntung, Kiko sesosok remaja yang persistent.
Kalau dia ingin sesuatu, dia akan meraihnya dengan teguh. Kalau dia nggak mau
orgasme sebelum menikmati tubuh Reza, dia nggak akan orgasme. Tak peduli sebesar
apa pun dorongan orgasme itu bergejolak di bawah perutnya.
Kiko lebih semangat belajar sekarang. Yah, memang dia masih nggak bisa
fokus pada soal matematika di depannya. Kepalanya terus-menerus dipenuhi
skenario sensual bersama pamannya. Namun demi menunggu dini hari ketika Reza
biasa pulang, Kiko bersedia menyelesaikan PR matematikanya.
Pukul tiga dini hari, Kiko sudah menyelesaikan PR matematika, membuat
kesimpulan dari pelajaran biologi hari Jumat kemarin, menulis satu artikel
untuk mading, dan membersihkan kamarnya—meski sehari-hari kamar ini selalu
rapi. Pada saat yang sama, Kiko mendengar pintu depan dibuka. Dengan semangat,
Kiko melompat dari kursi belajarnya, berlari menuruni tangga, menyalakan lampu
ruang tengah hingga terang benderang.
Reza sedang mengendap-endap melewati ruang tamu. “Anjing, ketahuan!’
Reza membanting sepatunya ke atas lantai. “Kirain udah tidur, Bro!”
Kiko tersenyum. “Masa bayar satu setengah juta terus aku lewatin
semuanya, sih?”
“Ck!” Reza berdecak dan
dengan malas melepas jaketnya. Dia melemparkan jaket itu ke atas sofa ruang
tamu. Kemudian, Reza melepas kausnya.
Kiko semakin berdebar. Dia bisa melihat puting itu lagi. Dan dada bidang
itu lagi. Dan perut itu.
Reza mengendus ketiaknya. “Tapi gue belum mandi, Bro.”
“Ya udah aku yang mandiin.”
“Hadeuh … ini homo satu,
ada-ada aja.” Reza menggelengkan kepala sambil melepas ikat pinggangnya.
Kemudian, celana itu melorot dari tungkai Reza. Setelahnya, Reza melepaskan
celana dalam speedo merek Mundo dari
selangkangannya.
Kiko sampai membelalak melihat pemandangan di depannya. Ternyata, ini
lebih indah dari dugaannya. Menatap secara langsung, menggunakan mata
telanjang—bukan di layar ponsel, sosok cowok dewasa telanjang bulat dan
menyerahkan diri kepadanya. Kiko menelan ludah karena masih nggak percaya. Juga,
karena napasnya mulai memburu.
Reza mengendus lagi ketiak yang satunya. “Bau nih, gue. Serius.”
Kiko pun melangkah maju, memberanikan diri menyambut piala paling
menakjubkan yang pernah dimilikinya. Kiko mengulurkan tangan menyentuh kontol
Reza. Lalu, dia meremasnya. Setelah meremas dengan gemas (karena kontol itu
benar-benar kenyal), Kiko menariknya. Seperti petani menarik kerbau. “Ayo, kita
mandi!”
Reza hanya bisa pasrah membuntuti Kiko. Mau gimana lagi? Kontolnya
ditarik remaja homo.
Setidaknya, Reza nggak harus effort
banget buat mandi. Dia berdiri di bawah shower,
mematung dengan tenang, memejamkan mata sambil membayangkan cewek semok yang
dilihatnya di kelab tadi. Sementara itu, keponakannya menyabuni seluruh
tubuhnya. Agak-agak lama menyabuni kontol Reza, seolah-olah kontol itu mainan
baru Kiko.
Bayangan cewek bohay di kelab, digabung kontol yang dikocokin orang lain
pakai sabun, tentunya membuat kontol Reza agak-agak ngaceng.
“Eh, Bang. Bisa keras!” seru Kiko takjub.
Reza menggeplak pelan kepala Kiko. “Iye, lah! Emang gue impoten?!”
Setelah mandi, Kiko juga yang menghanduki tubuh basah Reza. Kiko
benar-benar telaten. Dia tersenyum sepanjang mengeringkan tubuh pamannya.
Kemudian, mereka berjalan ke atas tempat tidur orangtua Kiko. Berbaring di
atasnya.
“Gue mau tidur. Lo mau ngapain?” tanya Reza sambil melipat kedua tangan
di belakang kepala.
“Aku mau mandangin Abang aja. Boleh?”
“Terserah lu!” Reza lalu memejamkan matanya.
Kiko tersenyum sangat lebar. Dia nggak menginginkan apa-apa lagi di
dunia ini selain melihat tubuh pamannya telanjang, terbaring tak berdaya di
atas tempat tidur. Dia lupa impiannya pada kampus favorit, dia lupa komitmennya
untuk nggak coli, dia lupa pada
cita-citanya untuk berhenti jadi homo. Kiko menikmati malam itu seolah-olah itu
malam terakhirnya di dunia.
Kiko mengamati setiap inci tubuh Reza. Membelainya dengan lembut,
mengecupnya, menghidu aromanya. (Aroma sabun, sih. Namun tetap terasa jantan.)
Kiko juga memindai dada pamannya yang bidang. Mengamati puting cokelat itu,
rambut-rambut tipis yang tumbuh di sekitarnya, dan jendolan yang berwarna lebih
muda. Kiko mengecup puting itu, membuat Reza bergidik sekali sambil menjauhkan
kepala Kiko.
“Geli, woi!” kata Reza terganggu.
Kiko kini tiba di depan ketiak sang paman. Yang entah mengapa siang tadi
terlihat sangat-sangat menakjubkan. Sekarang juga tetap menakjubkan. Rambutnya
keriting dan mengacung ke sana kemari. Tumbuh di atas permukaan kulit ketiak
yang berwarna lebih terang.
Lalu, wajah pamannya yang tampan. Dari dekat. Sempurna. Kiko tersenyum
lebar karena ini kombinasi paling oke untuk menghabiskan uang satu setengah
juta.
Setelahnya, Kiko merangkak ke bagian selangkangan. Dia mengamati kontol
yang tertidur itu. Kontol yang terkulai di atas jembut hitam legam—sama
keritingnya seperti rambut ketiak Reza. Kiko merebahkan kepalanya di atas perut
Reza, mengamati kontol itu dari dekat. Dia juga menyentuhnya hati-hati. Sensasi
kenyalnya masih membuat jantung Kiko berdebar-debar.
Meski aroma dominannya sabun mandi, Kiko dapat merasakan aroma asli
kontol ini. Dia mendekatkan wajahnya ke kepala kontol, mengendus dan
mengecupnya penuh khidmat. Kemudian, Kiko mengulumnya ke dalam mulut.
Rasanya menakjubkan. Kiko nggak bisa menjabarkannya dengan kata-kata.
Kontol kenyal pamannya, berada dalam mulutnya! Jembut di sekitarnya
menggelitiki wajah Kiko, tetapi Kiko tak peduli. Dia hanya ingin menelan penuh
kontol itu. Memainkan batangnya dengan lidah di dalam mulut. Mengisapnya.
Aaahhh ….
Kiko berharap bisa begini terus selama-lamanya. Ini pengalaman paling
menakjubkan yang pernah dia rasakan seumur hidup. Kiko ikhlas uang tabungannya
sebanyak satu setengah juta melayang demi kontol kenyal yang nikmat ini.
Selama beberapa menit, Kiko membiarkan kontol itu berada di dalam
mulutnya. Lama-lama, Kiko merasakan mulutnya penuh. Ternyata, kontol itu
mengembang menjadi besar. Sangat-sangat besar. Kiko tersedak dan harus
melepaskan kontol Reza dari mulutnya.
Dia menoleh ke arah pamannya yang terpejam, tetapi alisnya mengerut.
“Sori. Gue keingetan mbak-mbak bohay
di kelab tadi. Udah, lu terusin aja!” sahut Reza sambil memegang kepala Kiko
dan menyorongkannya ke kontol yang keras itu. Kiko terpaksa (atau tepatnya:
dengan senang hati) mengulum lagi kontol sang paman.
Agak sulit mengulumnya kalau kontol ini keras. Namun Kiko tetap
menikmatinya. Apalagi ketika dia tiba-tiba merasakan tangan pamannya menyusuri
pantatnya. Kiko sampai memelotot karena kaget. Sentuhan tangan itu bahkan lebih
nikmat dibandingkan melihat kontol dengan mata telanjang. Jari tengah pamannya
merangkak di antara belahan pantat Kiko.
Tahu-tahu, pamannya menarik Kiko bangun, melucuti pakaiannya hingga Kiko
sama-sama telanjang, lalu membiarkan remaja itu merangkak di atas tubuh Reza.
Wajah Kiko ada di depan kontol Reza, tetapi pantatnya ada di depan wajah Reza.
Kiko baru saja melanjutkan kuluman di kontol pamannya ketika dia tiba-tiba
merasakan sensasi geli yang sangat nikmat di lubang pantatnya.
Reza menjilati lubang pantat Kiko.
“Aaaaaahhh!” Kiko sampai menjerit saat mendesah. Tubuhnya menggelinjang
seperti kesetrum. Apalagi setelahnya, satu tangan Reza yang bebas meremas
kontol Kiko.
Dan Kiko pun, karena sudah menahan-nahan dari tadi, K.O. Pejuh menyembur
dari kontol Kiko, menggenangi perut pamannya.
Crot! Crot! Crot!
Mungkin karena akumulasi sperma seumur hidupnya, pejuh itu banyak
sekali. Di luar normal.
“Cemen amat lu udah bucat aja!” komentar Reza sambil terkekeh.
Kiko nggak mendengarkan. Dia sedang keenakan. Tubuhnya masih tetap
menggelinjang bahkan setelah tetes terakhir spermanya keluar. Kiko menindih
tubuh pamannya, mencoba merasakan sensasi surgawi yang baru pertama dia
rasakan.
….
Setelah tubuh Kiko berhenti berguncang, Reza bangun dan memosisikan
kontolnya di depan wajah keponakannya. Kiko tetap dipaksa mengulum kontol itu.
Di mana Kiko nggak keberatan meski dia sudah orgasme. Reza tetap membayangkan
cewek bohay di kelab. Dia memilin kedua putingnya sendiri.
Orgasme sang paman terjadi tak lama dari situ. Crot! Crot! Crot! Pejuhnya menyembur di dalam mulut Kiko, membuat
Kiko nyaris tersedak. Namun, Kiko menelannya. Dia ingin meminum semuanya. Rasa
sperma itu seperti air kelapa.
Pada saat yang sama, Reza malah mengumpat, “Anjing!” Reza tiba-tiba panik.
Matanya memelotot memandang ke lukisan di depan tempat tidur.
“Kenapa, Bang?” tanya Kiko, mengikuti arah pandangan pamannya.
Reza nggak menjawab pertanyaan Kiko. Dia melompat turun dari tempat
tidur, menghampiri lukisan yang terbuka sedikit, lalu menguak apa yang ada di
baliknya. Sebuah brankas. Brankas yang terbuka kecil. Reza membukanya
lebar-lebar. Dia tak menemukan benda yang seharusnya ada di dalam sana.
“Ke mana flashdisk-nya?!” seru
Reza panik sambil menjambak rambutnya sendiri. Reza berbalik dan menganga. “Ke
mana flashdisk-nya?!” ulang Reza.
Kiko hanya mengerutkan alis. “Flashdisk?
Flashdisk apa?!”
“Di situ seharusnya ada flashdisk!
Sekarang flashdisk-nya hilang! FUCK!” Reza mulai mondar-mandir di dalam
ruangan. “Mati gue. Mati gue. Mati gue!”
Kiko turun untuk memeriksa isi brankas. Di sana memang tak ada apa-apa.
Kosong melompong.
“Lo yang ngambil?! Ngaku!” desak Reza tiba-tiba sambil mencekik leher
Kiko dan mendorongnya ke tembok.
Kiko berontak melepaskan diri. “Nggak!” jerit Kiko kesulitan. Reza pun
melepaskan cekikan itu. Dia terlalu panik untuk langsung menyalahkan
keponakannya. “Aku aja nggak tahu flashdisk
apa yang Abang omongin!”
Reza nggak bisa mengambil risiko memberi tahu Kiko soal flashdisk penting yang seharusnya dia
jaga dengan nyawanya.
“Teman-teman Abang, kali. Kan, Abang sering banget bawa cewek ke kamar
ini. Dua orang pula hari ini.”
Reza menggelengkan kepala. Napasnya memburu seperti habis berlari
maraton 10 km. Masih dengan tubuh telanjang, Reza berlari ke luar kamar untuk
mengambil ponselnya. Dia bermaksud menelepon dua cewek yang diundangnya ke
kamar ini siang tadi.
Di lain sisi, Kiko diam-diam tersenyum. Dia tahu flashdisk apa yang dimaksud.
Karena Kiko yang mengambilnya.
Untuk apa? Untuk memeras pamannya, lah. Karena kalau flashdisk itu sampai hilang, habis riwayat Reza. Dengan begitu, Kiko bisa membuat pamannya melakukan apa pun untuknya.
Rencana cerdas, Kiko.
The end.
Komentar
Posting Komentar