Part 4: Bakat-Bakat Homo
Untuk sesaat, Reza hanya memandang Kiko tanpa ekspresi. Sedetik
kemudian, Reza tertawa terbahak-bahak. Mulutnya menganga lebar menertawakan request Kiko. Bahkan, Reza nggak
terganggu dengan fakta bahwa Kiko laki-laki, menukar uang dua ratus ribu untuk
melihat kemaluan laki-laki.
“Seriusan?” tanya Reza sambil menatap Kiko lekat-lekat. Senyumnya lebar
karena Reza yakin Kiko bercanda.
Namun, Kiko nggak bercanda. Dia mengangguk sambil tersenyum. “Serius.”
Reza mengambil jeda beberapa saat sambil kembali menatap Kiko
lekat-lekat. Dia lalu melepaskan rangkulannya dari bahu Kiko, menenggak bir,
mendesah nikmat, dan menatap Kiko dengan serius. “Gue tahu lo homo.”
Kiko menoleh, terkejut mendengar fakta itu.
“Dari lo masih SD, udah kelihatan bakat-bakat homo elo! Tapi gue nggak
percaya elo pengin lihat kontol gue ditukar dua ratus ribu.”
Kiko tak menyangka “bakat-bakat homo” itu sudah dideteksi oleh Reza.
Siapa lagi yang mengetahuinya? Atau menebaknya? Karena, Kiko mengira dia sudah
menutup semuanya dengan rapi. Menjadi anak berprestasi, menyibukkan diri dalam
kegiatan OSIS, menjadi anak yang patuh.
Tak ada yang bisa Kiko katakan selain, “Ya udah, mau nggak minjam
uangnya?”
“Kalau gue nunjukin kontol terus lo ngasih duit, ya bukan minjem, lah.”
Reza menggeplak pelan kepala Kiko.
Kiko hanya tersenyum sebelah. “Kalau mau dapat duit dua ratus ribu tanpa
harus dibalikin, aku mau Abang nggak pake celana semalaman. Tititnya harus
dipamerin di mana-mana selama di rumah ini.”
Reza terbahak-bahak lagi. “Wadaaaw
… murah amat gue mamerin kontol dibayar dua ratus ribu.”
Kiko mengangkat bahu. “Terserah.”
Reza menghela napas dan tampak mempertimbangkan. Setelah jeda selama lebih
dari dua menit tanpa kata-kata, Reza pun bicara, “Lima ratus ribu. Nggak bisa
kurang.”
Kiko menggelengkan kepala. “Lima ratus ribu kalau Abang semalaman ini
telanjang bulat. At least, sampe jam
enam pagi.”
Reza menyemburkan bir yang sedang ditenggaknya. “Anjing! Licik juga ya
lu!”
“Bukan licik namanya.” Kiko menoleh sambil mencubit dagu pamannya itu.
“Ini namanya negosiasi.”
Reza menggeleng. “Nggak bisa. Kemurahan. Gue telanjang bulat sampe jam
enam pagi, sih … Satu juta.”
“Satu juta tuh kalau aku juga dibolehin pegang-pegang Abang.”
“Lu seriusan pengin ama gue?”
“Biasa aja,” bual Kiko. Padahal dia sudah mendambakan tubuh pamannya
sepanjang sore. “Aku udah punya pacar cowok. Cuma ya … pengin lihat dan
pegang-pegang Abang aja.”
Pacar yang dimaksud Kiko tentu saja imaginary.
Yang penting dia tampak meyakinkan di depan calon kliennya.
“Iya, gue tahu gue ganteng.” Reza menghela napas dan mencoba mencari
alternatif lain. Dia menenggak birnya berkali-kali sambil berpikir keras.
Baginya saat ini, uang satu juta lumayan banget. Dan Reza tahu Kiko anak yang
rajin menabung. Uang satu juta bisa digelontorkan dengan mudah.
Kemudian, Reza mendapat ide. “Tawaran gue tetep satu juta. Cuma gue
telanjang doang, lo nggak bisa pegang. Atau kalau lo nolak … gue bilangin ke
bokap-nyokap elo, kalau elo homo.”
Kiko malah membalasnya dengan senyum sebelah. “Silakan. Aku tinggal
bilang ke Papa kalau Bang Reza sering pake kamar Papa-Mama buat ngewe ama banyak cewek. Aku punya foto
semua ceweknya yang kuambil diam-diam.”
“Anjing!” umpat Reza sambil menepuk sandaran tangan sofa. Padahal, Kiko
hanya menggertak pamannya saja. Dia sama sekali nggak punya foto cewek-ceweknya
sang paman. “Kan tadi udah gue bilang buat nggak bilang bonyok lu! Gimana,
sih?”
“Lah aku emang belum bilang, kok!” balas Kiko sengit. “Tapi, aku bisa
sewaktu-waktu bilang sama mereka. Makanya, tawaranku: satu juta untuk Abang
bugil semalaman, dan aku boleh pegang apa pun. That’s it.”
Reza mengumpat lagi, tetapi sangat pelan, “Anjing.” Suaranya terdengar
seperti desahan.
Jeda kembali menyesapi ruangan. Reza kembali berpikir sambil menenggak
habis birnya. Ketika botol itu kosong, dia melemparnya ke sofa di seberang. Reza
bahkan bangkit dari sofa untuk mondar-mandir di ruang tengah itu. Dia
benar-benar memikirkan tawaran ini dengan matang.
Di lain sisi, jantung Kiko berdetak sangat kencang. Meski dia tampak
tenang, di dalam dirinya, Kiko panik bukan main. Selain panik, dia sange pula. Fakta bahwa Reza memikirkan
penawaran ini, menunjukkan otoritas tubuh Reza bisa berada di tangan Kiko.
Bahwa tubuh yang indah itu bisa Kiko nikmati melalui uang dan ancaman melapor.
Ini memang berjalan sesuai rencana Kiko. Namun dia tetap gugup dan cemas.
“Bentar,” ujar Reza sambil berjalan ke depan Kiko, tepat di sebelah TV,
sambil melipat tangannya di depan dada. “Waktu lo bilang lo pengin nyentuh gue,
itu maksudnya apa?”
Kiko mengerutkan alisnya. Bingung dengan pertanyaan Reza. “Ya …
nyentuh.” Kiko membelai sandaran tangan sofa sebagai contoh.
“Lo mau sepong gue juga?”
Kiko nggak tahu apa itu sepong.
Jadi dia mengulanginya, berharap Reza menjelaskannya. “Sepong?”
Reza tiba-tiba mempraktikkan gerakan tangan di depan mulut naik-turun.
Lidah di dalam mulut Reza melesak-lesak ke pipi. Kiko membelalak karena paham
maksudnya apa. Yah, dia bukan penikmat film bokep. Namun Kiko cukup pintar
untuk memahami itu artinya kontol di dalam mulut.
Kiko ingin sekali mengulum kontol Reza di dalam mulutnya. Mengisapnya
seperti mengisap lolipop. Kalau bisa semalaman.
Sambil menelan ludah, Kiko menjawab, “Iyalah!”
“Sodomi?”
“Ew.” Kiko meringis
jijik. Dia nggak kepikiran untuk menyodomi atau disodomi pamannya.
Atau mungkin belum. Goal-nya
malam ini hanya melihat pamannya telanjang lalu menikmati tubuh itu dengan
matanya. Itu saja, lho.
“Nggak?”
“Sodomi sih bisa … bisa ama pacar aja. Bukan ama Abang.”
Reza menarik napas panjang. “Oke … sepong
… sepong …,” gumamnya berulang-ulang sambil berpikir. Tangannya memijat
dagu, tampak sangat keras mempertimbangkan. “Nggak. Nggak bisa, itu satu
setengah juta,” jawab Reza kemudian, sambil menggelengkan kepala.
Kiko nggak mau kalah dalam negosiasi ini. “Kalau Abang nggak mau, ya
udah. Aku bisa balik lagi ke pacar cowokku. Terserah Abang.” Pacar yang nggak
pernah ada. Namun pamannya nggak perlu tahu.
Reza mulai menyugar rambutnya sambil berpikir keras. Dia benar-benar desperate ingin mendapatkan uang itu.
Uang sakunya habis karena foya-foya. Gajinya yang nggak seberapa selalu dia
pakai membeli minuman atau masuk kelab. Uang dua ratus ribu yang dia minta
malam ini, sebenarnya untuk pergi ke kelab. Dia nggak punya uang.
“Kalau satu setengah juta, dapat apa?”
Hm. Ini di luar prediksi, batin
Kiko. Jadi, Kiko malah bertanya balik kepada pamannya. “Abang bisa ngasih aku
apa untuk satu setengah juta?”
Reza berpikir lagi. Dia agak berat mengatakannya, tetapi kebutuhannya
akan uang satu setengah juta lebih tinggi daripada gengsinya. “Gini aja, satu
setengah juta untuk gue bugil sampai Senin pagi. Dan lo boleh apa-apain gue
termasuk sepong—tapi nggak ada
sodomi. Dan gue nggak mau sepong elo.
Atau ngapa-ngapain sama lo. Hiii …
anjing. Gue bukan homo.” Reza bergidik ngeri.
Kiko menghela napas dan berdiri. Dia mengulurkan tangannya. “Deal.”
“Mana uangnya?” Reza menadahkan tangan, setelah dia menjabat tangan Kiko.
“Mana bugilnya?” balas Kiko.
Reza menghela napas. “Oke, gue bohong. Gue bukan mau beli headset, oke? Gue mau clubbing. Gue butuh 200 buat entrance sama satu botol.”
Oh. Kiko agak kecewa.
“At least bisa pinjemin gue
dua ratus, lah? Please,” pelas
pamannya dengan muka nelangsa. “Gue janji, begitu gue pulang entar, mungkin jam
dua atau jam tiga, gue udah bugil total sampai Senin pagi. Sampe bokap nyokap
lo pulang lagi. Gimana?”
Kiko nggak mau selemah itu dalam negosiasi. “Oke, aku kasih dua ratus.
Nggak, deh. Tiga ratus malah, sebagai down
payment. Asalkan aku sekarang bisa cium titit Abang. Hitung-hitung nunjukin
komitmen kita berdua.”
“Deal.”
Sebelum Reza pergi lagi untuk clubbing, dia memerosotkan celananya dan menampilkan kontol mungil yang sedang tertidur lelap. Kontol itu bermahkotakan jembut hitam legam keriting, tampak sangat lebat. Dua bola testisnya menggantung lemas.
Kiko menciumnya dan memberikan uang tiga ratus ribu sebagai down payment.
[ ... ]
Komentar
Posting Komentar