Karena ini kosan sultan, kamar kosannya lumayan besar dibandingkan kosan-kosan pada umumnya. Ada jarak yang cukup di tengah-tengah ruangan untuk meletakkan ponsel dan tripod, memproyeksikan gambar ke tembok dekat meja kerja, dan Tino berdiri di sisi lain ruangan untuk coli.
Aku membantu Tino memasang ponsel itu. Pake tripodku.
Lalu dikoneksikan ke proyektor kecil khusus hape. Lalu kusorotkan ke
tembok dekat meja. Apa pun yang terjadi di ponsel itu sekarang, kami bisa
melihat proyeksinya dalam ukuran 1 x 2 meter. Gede banget, anjir.
Tino berdiri membelakangi jendela kamar kosannya, yang
sudah dia tutup dengan tirai rapat-rapat. Aku berbaring di atas tempat tidur
Tino, yang kebetulan berada di samping kamera, sehingga aku tidak akan masuk ke
dalam layar.
“Oke. Jangan berisik! Jangan ngacauin VCS gue!” ancam
Tino sambil memencet tombol panggilan video di chat-nya bersama Lidya.
“Iye. Tapi gue boleh buka celana sekarang, kan? Pengin
ngocok.”
“Serah elu, anjir!”
Wajah Lidya yang memang supercantik muncul di tembok
kamar. Statusnya masih RINGING. Sudah terkoneksi, tapi belum diangkat oleh
Lidya. Tino berdiri dengan cemas di depan kamera, masih membalut perutnya
dengan handuk. Aku sih sudah melepas celanaku. Sudah pamer kontolku. Dan sudah
kukocok pelan-pelan sambil mengamati tubuh indah Tino.
“Halo,
Baaang ... udah? Kita lanjut enggak nih?” sapa Lidya tiba-tiba.
“Udah, Dek. Gimana? Udah HD belum gambarnya?” balas
Tino.
“Uuuh!
Udah! Otot Abang kelihatan jelas.”
Aku berhenti ngocok karena terkejut dengan suara itu.
Suara Lidya kayak suara waria. Kayak suara Lucinta Luna. Serak-serak berak
gitu. Aku berbalik untuk melihat siapa yang ada di layar, ternyata Lidya sudah
dalam posisi ngangkang.
Tanpa wajah.
Jadi, Lidya seperti sedang duduk di atas kasur, bugil,
membuka lebar-lebar pahanya. Memek berjembut tipis itu tampak berada di
tengah-tengah layar. Toket Lidya yang cukup besar bergelayut jatuh ke atas
perutnya. Namun, kamera tidak menyorot wajah Lidya. Hanya bagian leher dan dagu
saja yang kelihatan. Bibir pun tidak.
Aku setengah enggak percaya cewek di layar itu adalah
Lidya. Namun aku tidak berkomentar. Sebab, Tino melorotkan handuknya.
Memamerkan kontol ngaceng yang ukurannya lumayan. Tumbuh di atas jembut
yang digunting rapi, khas binaragawan yang hobi mencukur rambut-rambut tubuh.
Akhirnya ... ya Tuhan ... bisa melihat Tino bugil
tampak depan! Hore!
“Uuugh
... Abang seksi banget. Hmmmph!” desah Lidya.
“Kamu juga, Dek.”
Untuk ukuran orang yang tadi cemas tetangga
mendengarkan percakapan kami soal pinjam proyektor, Tino tampak biasa-biasa
saja suara desahan Lidya di-loudspeak
di seantero kamarnya. Tapi aku enggak peduli. Yang kupedulikan adalah kontol
Tino dua meter nun jauh di sana.
“Abang
flexing, dooong. Aku pengin lihat Abang pamerin
otot Abang.”
“Boleh.”
Tino memamerkan ototnya. Seperti binaragawan. Atau
seperti fitness enthusiast yang
angkat barbel sepuluh kali, tapi bercermin mengamati ototnya sendiri sepuluh
menit. Dimulai dari mengangkat lengan, memamerkan otot bisep dan trisepnya.
Lalu dia meletakkan kedua tangan di pinggangnya yang ramping, membusungkan
dada. Memamerkan otot dada yang bidang. (Tino juga mengedut-ngedutkan otot
dadanya.) Bahkan Tino berbalik untuk memamerkan otot sayap, bahu, dan
punggungnya.
Aku semakin sange
melihatnya. Fetish-ku adalah melihat cowok kekar pamer otot, sambil
bugil, sambil kontolnya ngaceng.
“Uuuh,
gede banget!” ungkap Lidya. Kulihat Lidya asyik mencolok-colok memeknya dengan
telunjuk dan jari tengah.
“Coba kamu mainin toket kamu, Dek,” pinta Tino.
“Enggak
mauuu,” balas Lidya manja. “Aku pengin
lihat Abang pamerin lagi otot Abang.”
“Please, Abang pengin lihat toket kamu
diremas-remas.”
“Enggak
mauuu. Abang harus flexing lagi,
atau aku matiin nih?”
“Jangan, jangan!” Dengan patuh Tino langsung pamer
otot lagi.
Aku memutar bola mata melihat kelakuan Lidya. Mungkin
inilah alasan Tuhan menjadikanku homo. Karena aku jelas enggak tahan menghadapi
makhluk manja macam Lidya.
Setelah tiga menit flexing,
sampai-sampai kontol Tino agak melemas sedikit, Lidya komentar lagi. “Bang, deketin dong titit Abang ke kamera.
Adek pengin lihaaat ....”
Tino mendekat ke kamera sambil mengocok kontolnya.
“Kok
agak lemes sih Bang tititnya?”
“Kamunya coba mainin toketmu, Dek. Abang suka sama
toket Adek.”
“Enggak
mau, iiihhh .... Aku udah mainin memekku begini, Abang malah minta toket.”
“Ya gapapa. Mainin aja, please.”
“Enggak
mauuu. Abang aja tititnya lemas. Ngapain aku mainin toket aku,” balas Lidya, masih
asyik mencolok-colok memeknya dengan dua jari tanpa henti.
Aku yakin sekali, dua jari itu pasti sudah keriput
karena berada di dalam memek selama bermenit-menit.
“Iya ini Abang kerasin lagi, kok Dek,” kata Tino
sambil mengocok kembali kontolnya.
“Coba
deh Abang aja yang mainin tetek Abang. Pasti enak.”
Tino menurut. Dia memilin-milin putingnya dengan
tangan. Matanya merem melek sambil menatap memek Lidya di tembok sana.
Kuperhatikan, lama-lama kontol Tino mengeras lagi setelah dia memilin putingnya
sendiri.
“Abang
seksi bangeeet ... aaahhh ... hmmmppphhh ....” Lidya mendesah lagi.
“Kamu lebih seksi lagi, Dek.”
“Coba
aja badan Abang berkilat-kilat. Pasti makin seksi.”
“Berkeringat?”
“Semacam
itu, Bang. Hmmmppphhh ...
aaahhh ... Abang ada minyak?”
“Minyak?”
“Iya,
biar badan Abang kelihatan seksi kalau mengilap. Tumpahin minyaknya ke badan,
balurin seluruh badan, terus mainin lagi teteknya Bang.”
“Jangan dong, Dek. Susah mandinya kalau badan Abang
berminyak.”
“Tapi
Abang bakal kelihatan seksi.”
“Abang pushup
aja ya sampai keringatan?”
“Jangaaan
...,” rajuk Lidya dengan suara makin mirip Lucinta Luna. “Mending minyak aja, ih. Abang kok enggak mau dengerin Adek, sih? Kalau
minyak, badan Abang jadi licin. Jadi kalau Abang mau mainin tetek atau titit,
Abangnya jadi enaaak ... iya enggak?”
“Abang enggak punya minyak, Dek.”
“Cari
dulu! Beli ke warung.”
“Yah, Dek ....”
“Adek
matiin nih.”
“J-jangan!”
“Adek
matiin pokoknya. Adek baru angkat telepon dari Abang kalau badan Abang dibalur
sama minyak.”
Panggilan diakhiri.
“Anjing!” umpat Tino kesal. Dia menonjok tembok di
belakangnya. “Mana gue kagak punya minyak, pula.”
Tino menatap ke arahku.
“Lu mau enggak gue suruh beli Bimoli ke warung?”
Aku diam selama tiga detik, sebelum akhirnya aku
meledak dalam tawa. Aku ngakak terpingkal-pingkal di atas tempat tidur Tino,
enggak percaya dia berencana pakai Bimoli. “Woy, Bang! Yang bener aja! Masa
Bimoli, sih?!”
“Terus apa lagi, anjir?”
“Pake minyak zaitun, kek? Jangan minyak goreng! Enggak
sekalian Pertalite, Bang?”
“Anjing! Ngehina gue, lu!” Tino melompat ke arahku dan
menjitak kepalaku. Dia bahkan mencubit pipiku dan menariknya hingga aku
mengaduh kesakitan.
Aku sih keenakan, sebenarnya. Sebab kontol Tino
barusan menggesek-gesek pahaku.
“Ya udah, cari minyak zaitun sono!” titah Tino gusar.
“Enggak mau.” Aku mendengus. “Lagian gue juga punya.”
“Minyak zaitun?”
“Iyalah. Buat gue coli. Buat gue ngentot ama
cowok. Kan pake minyak Bang pelumasnya.”
“Anjir! Seriusan?!”
“Abang pikir masukin kontol ke bool pake apa?
Pake bismillah doang? Harus licin, anjir.”
“Ya udah sono ambil ke kamar elo, gih.”
“Enggak!”
“Pan gue udah biarin elo nontonin gue VCS, anjir.”
“Itu kan bayaran buat proyektor. Minyak zaitun
harganya beda.”
“Anjing! Resek lu ya!” Tino menjitakku lagi. Dia
mendengus, napasnya terengah-engah, tapi lagi horny berat. “Ya udah, elu mau apa dari gue, hah?”
Aku tersenyum lebar. “Gue pengin bobok di sini, malam
ini, ama Abang. Hehe.”
“Tiap hari juga elu boleh tidur di sini, anjir. Cepet
bawa minyaknya.”
“Halah, kayak yang mau aja tidur ama gue tiap hari!”
Aku mendengus tak percaya. “Pokoknya malam ini gue mau bobok ama Abang, gue mau
peluk Abang, gue mau endus-endus badan Abang, persis yang akan dilakukan semua
homo sedunia ke Abang.”
“Anjing. Dasar homo lu!” Tino balas mendengus, tapi
sambil menimang-nimang. “Ya udah. Lu bisa jamah gue sambil tidur malam ini.
Sekarang bawa minyak zaitunnya.”
HOREEE! Bisa bobok bareng Tino malam ini!
Komentar
Posting Komentar