(SKS) Yang Tidak Terpilih Part 1



Apa yang terjadi jika pilihan lain yang menang?

Jangan dikira Penulis enggak menyiapkan sama sekali kelanjutan dari setiap pilihan yang ditawarkan. Pada saat membuat voting-nya, ya, kelanjutannya belum tahu ke arah mana. Namun, 24 jam kemudian sudah ada gambaran apa yang akan terjadi secara garis besar. Setiap dari pilihan itu mengarah pada hasil yang berbeda, yang akan menentukan relationship dari tokoh Rama dan Saga.

Apakah makin cepat mereka ke bagian intim? Apakah makin lambat? Apakah makin bergairah? Apakah makin suram?

Pilihan puting menang pada pemilihan pertama. Hasil akhirnya, seperti yang dapat dibaca di Part 2, menunjukkan bahwa relasi antara Rama dan Saga masih belum berprogres signifikan. Di ending Part 2, Saga masih mengira Rama seorang lelaki straight, makanya dia menawarkan untuk crot duluan di Melinda selama maksimal 10 menit, setelahnya Rama boleh menikmati Melinda. Karena, dalam pikiran Saga, Rama akan menikmati Melinda.

Adakah pilihan yang berbeda jika kemarin yang menang bukan puting? Jelas ada.

Ayo kita breakdown satu per satu.

 

(1)  Mainin Ketek

Rama membenamkan wajahnya di ketek Saga dan menikmatinya selama beberapa saat. Namun, Saga terbangun karena geli. Rama pura-pura tidur dan menunggu hingga akhirnya Saga tidur lagi. Dia coba mainkan lagi bulu ketek Saga, dan kawannya itu kembali bangun tak lama setelah dimainkan. Ketiga kalinya Rama mencoba lagi, kali ini memberi jarak cukup lama hingga Saga benar-benar terlelap, tetapi lagi-lagi Saga terbangun. Namun di bangun yang kali ini, Rama tak sempat pura-pura tidur sehingga terpaksa dia membeku dalam kondisi wajahnya ada di ketek Saga.

Saga yang merasa tak enak karena wajah Rama sampai harus mendarat di keteknya saat tidur akhirnya bangkit dan mengenakan kaus. Dan selama berhari-hari berikutnya, Saga selalu mengenakan kaus ketika tidur.

Tidak ada adegan sempak kotor yang diciumi oleh Rama, tetapi ada adegan Saga mencukur bulu keteknya hingga mulus dan membuangnya di tempat sampah. Rama mengumpulkan bulu-bulu ketek itu dan menggunakannya untuk coli.

Adegan Melinda tidak pernah ada, tetapi ada adegan Saga pengin coli gara-gara enggak bisa keluar kosan. Hujan deras mengguyur Bali. Saga enggak nemu cewek untuk ngewe. Dia (1) minta izin kepada Rama untuk coli di kasur selama Rama belajar, atau supaya Rama bisa santai dia (2) mengajak Rama coli bareng dan istirahat dari belajarnya, atau dia (3) minta Rama mengantar Saga dengan mobilnya ke sebuah kelab.

Nomor-nomor tersebut menjadi pilihan yang ditanyakan ke pembaca. Pilihan keempat adalah Rama menyuruh Saga coli di kamar mandi.

 

(3) Mainin Perut

Rama memainkan pusar Saga dalam tempo yang cukup lama. Dia tak berani memainkan ketek dan puting karena percaya dua hal itu punya reseptor sensitivitas yang tinggi, dapat membangunkan Saga dengan mudah. Namun, Rama bosan menjilati perut dan pusar Saga. Tak sengaja dia melihat ke arah celana Saga dan tebersit untuk menyepong kontol Saga.

Diam-diam Rama menyepong-nya. (Ya, Part 2 sudah ketemu kontol Saga!) Kontol itu enggak ngaceng meski sudah beberapa menit di-sepong oleh Rama. Bukannya mengeras, Saga malah bangun. Rama kaget. Saga juga kaget. Namun, Saga langsung berbalik memunggungi Rama dan lanjut tidur. Sementara Rama tak bisa tidur karena cemas, panik, ketakutan, dan malu.

Tidak ada adegan sempak bekas pakai Saga. Soalnya, Saga di versi ini tidak jorok. Dia merapikan barangnya, mencuci sendiri bajunya, termasuk menggunakan peralatan mandi Saga sendiri—tidak mengambil sabun Rama. Saga juga menghindari obrolan yang terlalu intens dengan Rama. Alasannya adalah Saga mulai curiga Rama seorang gay—makanya Saga merapikan diri supaya enggak diapa-apain Rama.

Adegan Melinda ada, tetapi konteksnya berbeda. Pada kunjungan keduanya, Melinda secara spesifik ingin ngewe dengan Rama. Jadi, Saga datang ke Rama untuk membujuknya ngewe bertiga. Soalnya, Saga pengin ngentotin Melinda, tapi Melinda enggak mau kecuali ada Rama. Di titik ini Saga mencoba peruntungannya kepada Rama. Saga langsung menuduh Rama gay.

Saga menawarkan (1) kontolnya setelah ngewe dengan Melinda, atau (2) menawarkan teman cowoknya yang ganteng banget yang juga gay, atau (3) ngajak threesome bertiga bareng teman Saga yang gay tersebut, yang penting Rama mau bikin Melinda ngewe dengan Saga.

Nomor-nomor tersebut menjadi pilihan yang ditanyakan ke pembaca. Pilihan keempat adalah Rama pergi ke kafe 24 jam dan meninggalkan Saga dan Melinda berdua.

 

(4) Enggak Mainin Apa-Apa

Secara teknis, Rama memang enggak memainkan apa pun di tubuh Saga. Namun, Rama sange berat. Jadi, Rama berdiri di kasurnya, coli sambil menatap Saga tertidur telanjang dada. Dia mengamati ketek, puting, dan perut six pack itu dengan nafsu hingga akhirnya Rama ejakulasi.

Sayangnya, Rama crot ke wajah dan dada Saga. Lelaki itu terbangun karena terkejut. Rama langsung berbaring memunggungi Saga dan main hape. Dia bisa mendengar Saga terduduk bingung sambil melihat sperma di tubuhnya. Saga bertanya, “Ini ... punya gue?”

Rama berbohong, “Iya. Barusan elo coli. Sambil ngigo. Makanya gue kagak bisa tidur.”

Saga malu bukan main. Dia langsung mandi malam itu dan lanjut tidur dengan pakaian lengkap. Obrolan soal terima kasih terjadi malam itu juga, termasuk menawarkan cewek bule Rusia ke Rama. Di titik itu, Rama belum tahu bahwa Saga orangnya enggak rapi, jadi Rama hanya memaafkan Saga yang “coli dalam tidurnya” sambil mengizinkan Saga untuk tinggal di kosan meski belum tahu bisa bayar kapan.

Tidak ada adegan coli mengendus sempak bekas pakai, tetapi Rama menemukan kaus lekbong basket Saga yang belum tercuci sehingga Rama coli menggunakan itu.

Adegan Melinda tidak ada. Namun malam itu, untuk membayar rasa malu karena “coli di depan Rama”, Saga mengajak Rama main keluar untuk menikmati hidup. Saga mengajak Rama ke (1) bar untuk mencari cewek, atau ke (2) pantai untuk minum bir sambil mengobrol santai dan menikmati angin laut, atau ke (3) bar drag queen untuk melihat performance kabaret.

Nomor-nomor tersebut menjadi pilihan yang ditanyakan ke pembaca. Pilihan keempat adalah Rama menolak semua tawaran itu dan memilih untuk belajar di kosan saja.

 

Bisa dilihat dengan jelas kan betapa bergesernya jalan cerita jika pemenang voting-nya berbeda. Voting tak sekadar menentukan adegan mana yang akan diambil, tetapi juga jalan cerita ke depannya, termasuk pilihan yang muncul setelahnya.

Maka dari itu, ayo pertimbangkan baik-baik setiap voting yang muncul. Soalnya, nasib Rama terhadap Saga benar-benar ada di tanganmu, Wahai Pembaca!

 

Salam,

Matheus Axilla.


Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Beranda


Komentar