Part 1: Pernah Ngaceng
Cowok itu berulah lagi, batin
Kiko. Kali ini dia bawa dua cewek ke
rumah.
“Ssst! Jangan keras-keras. Anaknya Pak Hamid ada di rumah.” Lalu,
cekikikan.
Kiko memutar bola mata sambil mengenakan lagi headphone-nya di kepala. Lagu 7
Years-nya Lukas Graham langsung menggema dalam otak Kiko. Pertanyaan nomor
27 tugas matematikanya siap dikerjakan. Tentang grafik tangen dan cosinus.
Namun, kepala Kiko nggak bisa lepas dari cowok itu.
Namanya Reza, adik bungsu dari ibunya Kiko. Secara teknis, Reza pamannya
Kiko. Rumahnya bukan di sini. Dia mengekos di kecamatan sebelah karena itu
lebih dekat ke kantornya. Namun, kalau ayah dan ibu Kiko pergi ke luar kota
(yang nyaris dilakukan setiap bulan), Reza akan diminta menginap untuk menjaga
rumah.
Reza berumur 28 tahun, beda dua belas tahun dengan Kiko yang masih duduk
di bangku 2 SMA. Apakah Kiko dan Reza dekat? Nggak juga. Kiko nggak pernah
menyukai Reza. Pertama, Reza orangnya sok ganteng. (Memang ganteng. Tapi kalau
sok, kan ceritanya lain.) Kedua, Reza miskin. Udah kerja, tapi sering minjam
uang Kiko sembunyi-sembunyi. Utangnya sekitar dua juta sekian-sekian sampai
hari ini, entah kapan bakal dibayar.
Ketiga, Reza mungkin homofobik.
Ya memang sih, nggak ada yang tahu Kiko homo. Bahkan Kiko sendiri masih
berupaya keras menghalau perasaan ‘berbeda’ itu. Namun, Reza paling hobi
menyindir Kiko kalau remaja itu mulai agak-agak lain. Misalnya, “Yuk, mabok!
Gue ada vodka. Diimpor dari luar.” Lalu Kiko menolak, maka Reza akan mencibir,
“Alah, banci lu nggak bisa diajak mabok! Homo!”
Kiko ingin sekali menyanggah. Karena, banci atau homo bisa mabuk. Ini
bukan perihal ekspresi gender dan orientasi seksual. Namun Kiko tahu
perdebatannya akan sia-sia.
Reza lulusan SMA, bekerja sebagai satpam. Jadi, badannya otot-otot
kering atletis pujaan semua homo. Ditambah wajah ganteng, alis tebal, hidung
besar, dan bibir merah, Kiko sendiri pernah ngaceng
membayangkan Reza. Profesi satpamnya pula yang bikin Papa selalu meminta Reza jaga rumah. Ada satu barang penting Papa yang
wajib dijaga. Jenis-jenis barang yang kalau betulan hilang, Papa harus tahu
secepatnya supaya bisa mengambil tindakan.
Dan, Papa nggak memercayai Kiko menjaga barang itu, karena Kiko latihan
pencak silat saja nggak pernah naik kelas dari sabuk putih. Sudah begitu, Kiko
anak tunggal. Nggak ada lagi orang lain selain dirinya di rumah itu.
Cekreeek …! Gebrak!
“Hihihi …! Kamu, ih! Pelan-pelan ….”
Suara pintu tertutup dan ketawa-ketiwi itu menembus headphone Kiko. Mungkin karena sedang jeda lagu di playlist Spotify, Kiko dapat mendengar
lagi suara-suara nggak penting itu. Kiko ada di lantai atas. Reza dan dua teman
ceweknya ada di lantai bawah. Tepatnya, di kamar tidur Papa dan Mama.
Papa dan Mama sedang dinas ke Bali. Katanya, tiga hari. Yang berarti,
Reza harus menginap tiga hari juga di rumah. Kebetulan tiga harinya jatuh pas weekend. Yang berarti, Kiko akan berada
di rumah selama Sabtu dan Minggu. Yang
berarti, dia akan bertemu dengan Reza terus.
Sialan, batin Kiko
sambil menyugar rambutnya karena frustrasi.
Sebenarnya, Kiko bisa saja mengunci diri di dalam kamar sepanjang akhir
pekan. Dia baru akan keluar untuk mengambil pesanan Go-Food atau pergi ke kamar
mandi. Kiko juga sudah menyiapkan cash,
andai Reza mau pinjam uang lagi—supaya urusannya dengan pamannya itu cepat
selesai. Namun, bukan itu problem
utama Kiko.
Begini, Kiko homo. Dia tahu itu sejak lama—sejak SD malah—dan sampai
hari ini masih berjuang melawannya. Kiko sengaja memfokuskan diri pada
pelajaran di sekolah. Prestasinya di kelas selalu bagus. Keikutsertaannya di
olimpiade akademik menuai pujian. Kiko juga aktif di OSIS, ekskul mading, english club, KIR, bahkan klub buku.
Pokoknya lima hari seminggu di sekolah Kiko harus pulang lebih sore supaya
nyampe rumah kelelahan, dan dia pun tidur setelah mengerjakan PR.
Nggak akan ada waktu untuk coli
atau memikirkan hal-hal seksual.
Sayangnya, justru sekarang waktunya Kiko memikirkan itu semua. Dia mulai
masuk periode puber. Kiko merasa tertekan beberapa minggu terakhir, karena kontolnya
ngaceng lebih sering dari sebelumnya.
Cowok dewasa telanjang dada dikit aja, kontol keras. Buka TikTok dan lihat
cowok-cowok Filipina joget shirtless,
kontol keras lagi. Duduk di pinggir lapangan lihat cowok-cowok main futsal,
lalu sebagian di antaranya melepas seragam, memamerkan permukaan kulit, kontolnya
snut-snutan minta dikocok.
Kiko nggak pernah coli, for the
record. Dia serius ingin menjadikan masa remajanya berharga, jauh dari
hal-hal seksual.
Nah, masalah utamanya ada di Reza. Pamannya itu, saking gantengnya,
pakai baju lengkap aja bikin kontol Kiko keras. Apalagi kalau muncul ke rumah
pakai seragam satpamnya, tampak lebih ganteng dua kali lipat. Biasanya, Reza akan
tersenyum lebar sambil dengan bercanda memukul pantat Kiko. “Hey, Bro! Lu ada
dua puluh ribu, nggak?” Begitu kata-kata favorit pamannya. Setiap kali terjadi,
Kiko selalu menyerah, memberikan uang dua puluh ribu karena kontolnya
meraung-raung minta dibikin enak.
Kalau sudah begitu, Kiko nggak bisa konsentrasi belajar. Menonton
YouTube pun, dia bakal tetap kepikiran gantengnya Reza. Kiko sampai jogging malam-malam untuk mengenyahkan
pikiran. Kalau sudah capek, dia bisa langsung tidur.
Nah, sekarang, siklus itu harus dimulai lagi. Weekend yang seharusnya penuh kedamaian menjadi mendebarkan bagi
Kiko. Pagi ini dia melihat Reza memasuki pekarangan dengan Honda Civic-nya. Dua
cewek keluar dari mobil. Dengan manja mereka membelai Reza di masing-masing
lengan.
Entah apa yang akan mereka lakukan. Biasanya, Reza dan teman ceweknya
akan masuk ke kamar Papa, lalu bersarang di sana hingga tengah malam.
Kadang-kadang, kalau Kiko belum tidur, Reza terdengar menyelinap menuju dapur,
membuka kulkas. Cewek-ceweknya membuntuti dari belakang. Jadi, kedatangan
cewek-cewek ini, bukan yang pertama.
Kiko hanya ingin ditelan Bumi selama weekend
agar nggak perlu menghadapi Reza. Bukan urusan duit atau homofobiknya aja, sih.
Namun, urusan selangkangan Kiko.
Drrrt …! Drrrt …! Ponsel
Kiko bergetar. Papa menelepon.
“Halo, Pa?”
“Kiko! Si Reza di rumah nggak?” sapa
Papa.
“Iya. Lagi di bawah. Kenapa?”
“Kasih telepon kamu ke dia.
Sekarang.”
“Hah?!
“Papa nelepon nggak diangkat-angkat.
Cepat kasih. Ini penting!”
Kiko menelan ludah. “I … iya.”
Ini kali pertama Kiko harus menginterupsi sesi Reza dan cewek-ceweknya.
Kiko nggak pernah tahu apa yang Reza lakukan di dalam kamar Papa. Apa main Uno,
nonton DVD bareng, merumuskan politik Indonesia tahun depan? Kiko nggak punya
tebakan yang pasti. Apalagi biasanya mereka akan terkikik dan menjerit-jerit.
Yang disambung dengan kekehan, atau raungan, “Lagi! Lagi!”
Mungkin mereka main Monopoli.
Kiko menarik napas panjang sambil berjalan menuruni tangga. Dia tiba di
depan kamar ayahnya, menyiapkan diri mengganggu acara Reza. Alasannya kuat sih,
karena Papa ingin bicara dengan Reza. Harusnya Kiko nggak perlu takut. Dari dalam
terdengar dua cewek itu mendesah-desah, seperti sedang mencium aroma bunga.
“Hmmm …! Hmmm …! HMMM …!” Makin sini makin keras.
Kiko pun membuka pintu perlahan-lahan. Namun yang
ditemukannya, bukanlah Reza dan dua cewek sedang menciumi aroma bunga.
Mereka bertiga sedang telanjang. Reza sedang
menggenjot salah satunya sementara satu cewek lain payudaranya diremas-remas
Reza dengan kuat.
“ARGH!”
Keempat orang di ruangan itu menjerit kaget. Termasuk
Kiko.
“Kiko? Kiko?! Ada
apa? Kenapa kamu menjerit-jerit?!”
[ ... ]
Komentar
Posting Komentar