Tubuh Paman yang Bikin Deg-Degan (2)

Part 2: Menciumi Aroma Jantan


“Siap, Kak! Siap …. Siap …. Iya, nanti saya nyalain komputernya. Yang di ruang kerja, kan …? Iya …. Siap, siap. Oke …. Entar saya kabarin lagi Kakak kalau udah nyala …. Wa ‘alaikum salam.” Reza menutup panggilan telepon lalu mencolek bahu Kiko. “Nih!”

Kiko, yang sedang berdiri memunggungi Reza, tak berani menoleh. Dia menggapai-gapai udara di belakangnya, mencari ponsel yang diulurkan, tetapi nggak dapat juga. Malah, tangan Kiko mendarat di dada bidang Reza, sehingga Kiko terkesiap kecil. “Argh!”

Reza menyentuh kulit dada cowok dewasa! Rasanya … mendebarkan!

“Kenapa, sih?!” tuntut Reza kesal.

Kiko pun memaksa diri menoleh ke arah Reza, kilat saja, hanya untuk mengambil ponsel. Setelah itu dia berbalik lagi. Tingkahnya persis cewek-cewek yang malu melihat cowok telanjang. Di mana secara harfiah, Reza lagi telanjang. Dia berdiri di belakang Kiko menutup selangkangannya dengan bantal putih besar. Bantal yang digunakan papanya untuk tidur.

Sebelum debaran jantung Kiko kedengaran oleh Reza, remaja itu segera berlari ke tangga.

“Ke mana lu?!” panggil Reza. Namun, Kiko nggak menjawab. Kiko sudah menghilang di puncak tangga, berbelok ke kamarnya. “Kalau gue udah beres, gue mau ngomong sama elo!”

Kiko masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Dia berdiri di balik pintu sambil mengatur napasnya yang memburu. Jantungnya berdegup semakin kencang. Apa yang dia lihat sepersekian detik saat mengambil ponsel itu membuat sekujur tubuhnya gelisah. Kiko tak bisa membohongi diri bahwa dia ingin menatapnya lebih lama. Ingin menyentuhnya. Ingin mengamati detail permukaan kulit kecokelatan Reza.

Satu pikiran gila dalam kepalanya: Kiko ingin menjilat Reza.

Nggak! batin Reza sambil menggelengkan kepala kuat-kuat. Enyahkan pikiran itu!

Reza kembali duduk di meja belajarnya. Dia memasang headphone di kepala, menaikkan volume lagu di atas 90% (pokoknya harus budek total), lalu memutar lagu-lagu Maroon 5. Buku matematikanya tetap terbuka di depan mata dan Kiko masih terjebak di soal nomor 27.

Cosinus dan tangen. Cosinus dan tangen. Cosinus dan tangen.

Puting susu Reza.

Shit, umpat Kiko dalam hati. Dia membanting pensil ke atas meja lalu mengusap wajahnya. Kiko ingin menangis. Dia nggak bisa konsentrasi lagi sekarang. Sejak melihat visual Reza telanjang bulat di kamar ayahnya, kontol Kiko mengeras hingga detik ini. Itu adalah sesi ereksi terlama yang pernah Kiko rasakan seumur hidup. Ketika Kiko malu-malu dan membuang muka menyerahkan ponsel, ketika Kiko menunggu Reza berbicara dengan ayahnya di telepon, lalu aroma keringat Reza yang tercium nikmat …, dan hangat, Kiko ingin sekali menggesek-gesek pahanya di atas tempat tidur sambil menyentuh batang kemaluannya dengan lembut.

Ini benar-benar menyebalkan.

Kiko menoleh ke arah lemari di sampingnya, di mana terdapat cermin besar tempat dia biasa mematut diri. Dia melihat wajahnya memerah sekarang. Seperti kepiting rebus. Bukan karena malu, melainkan sange sampai ubun-ubun.

“Apa gue harus coli?” gumam Kiko sambil menutup wajahnya dengan tangan.

Kiko sudah berkomitmen untuk nggak coli hingga dia berumur delapan belas tahun, atau sampai dia diterima di kampus favoritnya. Kiko percaya coli akan mengacaukan fokus pendidikannya. Masa SMA ini penting. Jangan sampai Kiko terjebak di jurusan kuliah yang salah nanti.

“Tapi gue nggak tahan lagi ….”

Kiko mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuknya, mempertimbangkan pilihan. Dia juga mengentak-entakkan tumit di atas lantai, benar-benar gelisah. Sesekali, Kiko berdiri dan berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Seolah-olah mencari jawaban atas alam semesta. Namun Kiko nggak mendapatkan apa pun.

Dia ini bocah kutu buku yang menghabiskan waktu di perpustakaan pada waktu luang. Dia sudah mempelajari setiap bab reproduksi di buku paket biologi, tetapi tak ada satu pun buku di sekolahnya membahas ketertarikan pada sesama jenis. Kiko penasaran setengah mati mengapa dia begitu menggebu-gebu ingin melihat tubuh telanjang Reza. (Pun, laki-laki dewasa lain.) Pasti ada reaksi kimia dalam tubuhnya, mungkin hormon, atau kelenjar, atau saraf yang bereaksi khusus pada visual laki-laki telanjang.

Sayangnya, Kiko nggak bisa menyimpulkan apa pun.

Yang dia lakukan selama dua jam berikutnya adalah memeluk guling, menggesek-gesek selangkangannya ke guling, sambil menggulir akun Instagram Reza. Napasnya yang memburu berubah menjadi desahan. “Hhhhhh ….” Kiko geli mendengar desahannya sendiri. Dia menemukan dirinya menggigit bibir seperti menahan sesuatu yang nikmat. Dan matanya berhenti sangat lama pada setiap foto Reza bertelanjang dada.

“Bang Reza …,” desah Kiko pelan sekali.

Jujur saja Kiko sudah menyia-nyiakan dua jam waktu belajar hanya demi mengagumi sosok Reza dan membuat selangkangannya terasa nyaman. Namun, Kiko nggak mau berhenti.

Tok, tok, tok. “Bro? Woi! Buka!” Reza ada di luar pintu.

Kiko terkejut. Dia belingsatan turun dari tempat tidur sampai-sampai kepalanya terantuk lemari. Dengan panik Kiko menarik lagi sweat pants-nya yang sempat turun karena selangkangannya digesek-gesek ke guling. Dia menemukan celana dalam abu-abunya basah oleh sesuatu, padahal seingat Kiko dia nggak mengompol.

Sambil membelalak terkejut, Kiko menarik celananya tinggi-tinggi, sampai jahitan bawahnya menekan testis. Dia lalu menurunkan tepian bawah kausnya hingga ke paha, menutupi apa pun di selangkangan yang mengacung seperti Patung Liberty. Setelah menarik napas panjang dan menguatkan diri, Kiko pun membuka pintu.

Reza berdiri tepat di depannya. Mengenakan kaus sleeveless favoritnya dan celana pendek. Tangannya bertumpu di daun pintu, sehingga Kiko yang lebih pendek darinya harus melihat rambut ketiak yang tumbuh di sana. Jantungnya berdebar melihat panorama itu. Kiko semakin frustrasi. Bagaimana caranya satu bagian tubuh paling nggak fungsional seperti bulu ketek dapat membuat dadanya berdebar-debar?

“Bro,” kata Reza sambil meletakkan tangannya yang lain di bahu Kiko. (Bukan tangan yang ketiaknya dipamerin. Yang sekarang aroma keringatnya tercium, dan itu maskulin banget. Kiko mengakui dia menyukainya.) “Yang tadi jangan bilang-bilang ke bokap lo, ya.” Reza memberikan senyum lebar.

Kiko menelan ludah. “O-oke ….”

“Good!” Reza lalu mencubit dagu Kiko dan menggoyangkannya. “Anak baik!”

Kiko tak memberikan respons apa-apa. Dia nggak berani menatap mata Reza yang ganteng itu. Namun, ketika dia menurunkan pandangan sejajar horison matanya, dia harus menatap rambut ketiak hitam yang lebat itu. Nggak. Arah lain! Tapi kalau melihat ke bawah, entar dianggap nggak sopan.

“Entar lo minta apa aja gue kasih, deh,” rayu Reza sok ganteng. “Asal lo kunci mulut lo soal yang tadi. Atau yang sebelum-sebelumnya. Khususnya Mira, yang datang ke sini bulan kemarin. Yang rambutnya pendek sebahu. Sebab dia sekretarisnya bokap elo.”

“I-iya, Bang.”

Reza menepuk-nepuk lagi bahu Kiko dengan akrab. Tampak mendominasi. “Sekarang, tolong elo cuciin lah itu seprai. Sama kolor gue. Oke, oke? Gue mau nganterin mereka pulang dulu.” Reza pun mencubit pipi Kiko dengan gemas sebelum akhirnya berlalu menuruni tangga.

Kiko menutup lagi pintu dan merosot ke atas lantai. Obrolan tadi benar-benar mendebarkan. Sekuat apa pun Kiko mengelak, dia nggak bisa membohongi diri bahwa Reza tampak memesona. Otot-otot di lengannya, di lehernya, di dadanya, dan ketika tangan terangkat sehingga sleeveless-nya turun, puting susu Reza terkuak sedikit. Puting berwarna cokelat gelap dengan lingkaran puting yang besar.

Kiko nggak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Otot-otot reza, rambut ketiak Reza, puting susu, pandangan mata tampan itu, hamparan kulit kecokelatannya, semua membuat tubuh Kiko gelisah. Seolah-olah darah berdesir dua kali lebih cepat dari biasanya.

Kiko harus melakukan sesuatu. Antara dia mengikuti nafsunya, atau melawannya sekuat tenaga.

Kiko turun ke bawah setelah Reza dan dua cewek itu pergi meninggalkan rumah. Dia masuk kamar ayahnya untuk menarik lepas seprai di atas tempat tidur. Posisi seprai berantakan. Tiga sudutnya sudah lepas. Bantal-bantal berserakan di atas lantai. Terpaksa Kiko membereskan dulu kamar ayahnya sebelum memboyong seprai ke tempat cuci.

Lalu, dia menemukan celana dalam Reza. Jadi, Kiko mengambilnya juga. Diam-diam Kiko menghidu aromanya. Tubuh Kiko sampai kelojotan hanya karena mencium kolor itu.

Nggak, nggak, nggak, Kiko. Yang benar aja! jerit Kiko dalam hati.

Sesampainya di depan mesin cuci, Kiko tahu dia harus memasukkan seprai dan celana dalam itu sekarang juga. Namun ketika dia menemukan noda basah di salah satu bagian seprai, dia tahu basah ini dihasilkan oleh Reza. Aromanya sama seperti basah di celana Kiko sekarang.

Ini adalah keputusan paling cepat dalam hidup Kiko. Mungkin adrenalin atau nafsu syahwatnya mengontrol otak Kiko sekarang. Karena Kiko pada akhirnya membawa seprai dan celana dalam itu ke kamarnya.

Dia ingin menciumi aroma jantan yang keluar dari kontolnya Reza. Dia memutuskan untuk menikmatinya saja.


[ ... ]


< Sebelumnya | Berikutnya >

Komentar