Bocah Titipan (3)



Part 3: Satria

 

SMKN 1 Weningmas lokasinya agak jauh dari rumah Pak Restu. Senin pagi aku berangkat bareng Pak Restu, dibonceng di atas motor bebek keluaran jadul. Kami ngelewatin berblok-blok persawahan, hutan bambu, rumah warga lokal, kebun karet yang luas, satu jembatan yang di bawahnya mengalir sungai yang bermuara ke Samudra Hindia, lalu lewatin pasar yang ramai.

Kata Pak Restu, kalau aku mau pulang sendiri, aku bisa menumpang mobil bak yang akan mengangkut ikan pada jam-jam tertentu. Tapi habis sekolah nanti Pak Restu mau cari sepeda untuk aku pakai setiap hari, kalau-kalau Pak Restu enggak bisa berangkat bareng sama aku ke sekolah.

“Bapak setelah bel pulang bakal ada rapat guru sampai jam lima. Salah satunya bahas soal kehadiran kamu. Kalau kamu mau nungguin boleh. Tapi kalau mau pulang duluan, nanti Bapak tunjukin numpang ke mobil apa buat sampe ke jalan masuk ke rumah.”

“Saya tungguin Bapak aja,” kataku.

Pak Restu orang yang baik banget, Kang. Meski aku udah mergokin beliau coli dua kali sambil lihatin foto aku, sampai hari ini aku belum berani kurang ajar sama Pak Restu. Waktu kemarin nemenin Pak Restu ke Sukabumi pun, aku mah jadi anak baik aja, nurut apa kata Pak Restu. Seolah-olah, Pak Restu adalah bapak sendiri.

Jadi, sewaktu Pak Restu ngasih tahu aku satu dua hal untuk dikasih tahu ke orang-orang, aku nurut aja. Misalnya, aku pindahin dari SMK di Batam. Umur aku 16 tahun (ini harus ditanamkan kuat-kuat). Cita-citaku arsitek. Rumahku di RW 13, tapi jangan bilang spesifik di rumahnya Pak Restu. Ada lagi beberapa hal omong-kosong yang sudah kuhafal demi diterimanya aku di SMK.

Apa menurut aku Pak Restu melakukan sesuatu yang enggak terpuji? Enggak, lah. Justru Pak Restu rela mempertaruhkan profesinya cuma supaya aku bisa sekolah dengan baik.

Aku makin pengin bikin Pak Restu senang dengan cara apa pun.

Kelas Teknik Gambar Bangunan atau TGB cuma ada satu di SMK itu. Dari kelas satu sampai tiga, aku bakalan ketemu orang yang sama. Jumlah siswanya 21 orang. Masuk aku ke kelas pagi itu, jadinya 22 orang. Padahal, kursinya bisa buat 40 orang. Tetep aja semua murid duduk berdua semeja, kecuali satu orang yang duduk sendirian.

“Kenalin ini namanya Jalu,” ujar Bu Enur, guru bahasa Indonesia yang jadi wali kelas X TGB 1. “Jalu pindahan dari Batam, tapi urang Sunda asli. Tiasa nyarios basa Sunda kan, Kang?

Aku mengangguk. “Tiasa, Bu.” Bu Enur bertanya apa aku bisa bicara bahasa Sunda? Ya bisa, lah. Toh, aku lahir di Bandung, kedua orangtuaku Sunda asli, sampai gede aku diajarin bahasa Sunda setiap hari.

Sok atuh. Tong isin-isin milarian réréncangan di dieu, nya. Hapunten teu aya istrina di dieu, da ieu téh kapungkurna STM atuh da.

Seorang siswa menyahut, “Si Tono istri da, Bu!” Diikuti tawa seluruh kelas, kecuali siswa bernama Tono yang langsung mesam-mesem sebal diejek seperti itu.

Gandeng siah, Fikri!” Tono mengibaskan poni rambutnya ke arah lain dengan bete.

Toh, ah! Tos, ah! Tong sok kitu! Sok mangga, Jalu. Éta bangku gigireun Satria kosong kénéh.

Aku uraikan secara singkat buat Akang-Akang yang enggak ngerti bahasa Sunda: Bu Enur bilang maaf di sini enggak ada murid perempuannya. Karena, ini aslinya STM, yang berarti laki-laki semua. Terus Fikri bilang si Tono tuh perempuan. Kemudian, Tono dengan bete nyahut supaya Fikri diam aja. Kira-kira seperti itu, Kang.

Pas aku lihat gimana Tono mendelik judes, kayaknya Tono banci.

Aku mah cuma tersenyum kecil aja ngikutin gelak tawa seisi kelas yang ngetawain Tono. Tapi sebenarnya mah enggak begitu peduli apa seseorang tuh banci apa bukan. Orang di atas truk aja aku nyodomi sopirnya, kok. Sesuci apa sih aku ini sampai perlu mendiskriminasi banci?

Kelas TGB ini betulan enggak ada perempuannya. (Kecuali Tono.) Tapi siswa yang duduk sendirian bukan Tono. Si Tono malah duduk sama satu cowok pendiam berkacamata yang namanya Arul. Nah, yang duduk sendirian, dan posisinya di belakang, adalah Satria. Aku ngira yang duduk sendirian adalah anak yang terpinggirkan dan enggak punya teman. Nyatanya justru Satria adalah premannya kelas TGB.

Seharian berada di kelas TGB, aku bisa menyimpulkan bahwa aku ini yang badannya paling bongsor di sini. Kumaha deui atuh, emang aslinya kan aku téh 19 tahun. Badanku kira-kira 185 cm, berisi, agak berotot karena dulu sering nguli bantuin bapakku di Batam, terus sekarang ada di ruangan di mana siswa-siswanya baru tumbuh bulu jembut di atas kontol. Yang umurnya paling 15-16 tahun, masih kurus dan bau kencur.

Nah, Satria adalah murid paling tinggi di antara yang lain, tapi sebelum kedatangan aku ke kelas itu. Jadi sekarang, dua murid jangkung duduk semeja di belakang. Anaknya ramah dan baik pas aku disuruh Bu Enur duduk di sebelahnya. Dia juga enggak merasa superior, meski kayaknya pas jam istirahat Satria kayak mimpin beberapa cowok lain di kelas TGB.

Satria ini ganteng. Akang harus percaya sama aku yang setengah homo ini. Kulit Satria putih, mulus, muka imut-imut, tulang besar, badan langsing, tipe-tipe yang kalau main basket bakal bikin siswa cewek klepek-klepek. Dulu waktu SMP ada yang kayak Satria di sekolahku. Biasanya jadi anak populer.

Mungkin populer, sih. Sebab Tono sepanjang hari hobi banget nengok dan curi-curi pandang ke arah meja aku. Entah naksir aku, entah naksir Satria.

Yang pasti, pas istirahat makan siang, tiga cowok lain mendadak mampir ke mejaku buat ngajak ngobrol Satria. Mereka pake bahasa Sunda, yang untungnya aku ngerti.

Jadi ngké, Sat?” tanya Adit, menanyakan apakah rencana mereka akan lanjut atau tidak.

Satria hanya menggigit pulpen dan mengangkat alisnya. “Maranéh mah amankeun we perpusna. Nu penting kudu kosong.

Nya berarti kudu nungguan kabéh baralik atuh?” sahut Imam.

Nu penting si Pak Fahrina can balik wé,” balas Adit.

Bekep wé pas keur sepi, gotong ka tukangeun perpus. Da moal aya nu ningali atuh.

Nyantai wé. Gampang, lah éta mah,” sergah Satria sambil terkekeh kecil.

Aku mengerutkan alis mendengarkan percakapan itu. Aku téh lagi makan bekal yang dibikinin Pak Restu pagi tadi (cuma indomie goreng dikasih nasi aja, sama dimasukin tahu dan tempe), karena aku enggak dikasih uang jajan kayak murid yang lain. Jadi, aku ya diem di atas kursi aku lah. Terpaksa dong dengerin percakapan mereka.

Buat Akang-Akang yang enggak paham, intinya: perpustakaan harus diamankan nanti setelah pulang sekolah, pastikan semua orang sudah pulang, pastikan Pak Fahri belum pulang, bekap Pak Fahri dan bawa ke belakang perpus, tapi Satria bilang nyantai aja, itu semua bisa diatur.

Aku enggak tahu itu semua konteksnya apaan. Lagi mau nyulik orangkah, atau lagi mau main panggung sandiwara. Yang pasti mah waktu si Imam bilang, “Éta si Jalu ajakan tong?

Satria dengan tegas bilang, “Alah, teu kudu. Budak anyar kénéh.

Mereka mempertanyakan apakah aku perlu ikutan misi mereka, mengingat aku duduk di sebelah Satria dan nguping semua rencana itu. Tapi, Satria bilang enggak usah karena aku masih murid baru.

Aku juga enggak tertarik kok buat ikutan. Terserah mereka sendiri aja.

Tah, dari situlah aku jadi tahu Satria sebenarnya jéger, atau premannya kelas TGB ini. Lagaknya lama-lama juga songong. Cuma ya aku belum kebagian songongnya Satria. Entah karena aku anak baru, atau badanku lebih gede lagi dari Satria. Aku mah beneran punya otot-otot kayak bintang L-Men nge-gym di tempat fitnes.

Pulang sekolah, aku ikutan siswa yang lain keluar dari gerbang. Kalau yang lain pulang, aku mah jalan-jalan di pasar dan lihat-lihat. Kan ceritanya lagi nungguin Pak Restu yang lagi rapat. Terus kemudian, aku téh teringat kotak makan siang aku ketinggalan di kelas. Jadi, aku balik lagi buat ngambil kotak makan di sana.

Proses sampai aku ngambil kotak makan sih aman. Tapi pas aku keluar kelas dan ngelewatin lorong, aku lihat Imam celingukan di ujung lorong memastikan enggak ada yang lihat. Imam pun belok ke lorong lain yang tertutup oleh kelas.

SMKN 1 Weningmas ini udah sepi total, kecuali kumpulan guru yang ada di ruang guru lagi rapat. Itu pun kayaknya enggak semua guru. Kehadiran Imam yang mencurigakan bikin aku jadi pengin ngebuntutin dia ke perpustakaan. Aku pengin tahu apa yang mereka rencanakan untuk Pak Fahri. Dan siapa itu Pak Fahri?

Karena aku udah tahu lokasi mereka, aku langsung cabut ke perpustakaan yang letaknya di belakang sekolah. Jauh ngelewatin kantin, gudang, dan workshop buat anak-anak jurusan mesin. Lokasinya beneran pojok dan gelap. Yang bahkan di depannya ditumpuk meja dan kursi kayu yang rusak.

Aku bisa dengar ribut-ribut suara orang di dalam perpustakaan. Enggak berisik banget, sih. Tapi aku bisa dengar dengan jelas Satria dan kawan-kawan ada di sana. Mungkin barengan Pak Fahrinya juga. Karena penasaran, aku pun jalan ke arah perpus dan ngintip dari salah satu jendela kaca yang ada di sana.

Jendela depan enggak kelihatan. Jadinya aku memutar ke belakang perpus, memanjat ke satu kursi kayu yang bagian sandarannya rusak, lalu ngintip dari jendela belakang.

Ya. Mereka ada di sana. Barengan seorang guru yang kini terkulai tak sadarkan diri sambil dipegangin sama Imam dan Cepi. (Cepi tuh yang diam aja enggak ngomong apa pun siang tadi.)

Satria berdiri di depannya, bawa pisau, kayak siap buat ngelukis Pak Fahri dengan darah.

Ini enggak bisa dibiarkan, sih. Masa iya aku abaikan empat orang murid yang mau melakukan kekerasan ke seorang guru?

Aku belum tahu siapa itu Pak Fahri, tapi dia adalah guru di sekolah ini, karena dia pake baju PNS kayak Pak Restu. Kayaknya aku lihat dia pas upacara pagi tadi. Tapi dia enggak masuk ke kelas TGB, jadi aku enggak kenal Pak Fahri ngajar apa. Yang pasti, Pak Fahri sama mudanya kayak Pak Restu. Badannya lebih mungil, gempal agak berisi, mukanya baby face imut, perutnya agak buncit juga.

Apa Pak Fahri ganteng? Yah, boleh lah. Misal Pak Fahri bugil terus nungging, kemungkinan besar aku bakal ngaceng buat nyodomi Pak Fahri. Yang pasti Pak Fahri jauh lebih enak dipandang mata dibandingkan sopir yang kontolnya aku sepong beberapa hari lalu.

Aku melompat dari kursi dan kembali mengitari perpustakaan menuju pintu depan. Dengan keras aku ketuk pintu perpus yang kekunci.

DOK! DOK! DOK!

Kayaknya mereka agak panik dan kaget, sih. Adit tampak berlari ke pintu depan, ngelongok lewat jendela untuk lihat siapa yang ngetok, kemudian lega saat melihat aku berdiri di depan pintu.

ANJING! Sia kunaon ngarerewaskeun waé, anjing!” sapanya sambil membuka pintu. Malah, dia langsung menarikku masuk ke dalam perpus, dan mengunci lagi pintunya. Aku ditarik ke depan kumpulan anak-anak itu.

Hal pertama yang aku lakukan adalah bertanya, “Kalian mau ngapain?”

“Mau ngoyak-ngoyak isi beuteungna,” jawab Imam, sambil tersenyum sebelah.

Satria yang memegang pisau malah asyik dengan hapenya. Dia tampak sangat arogan dan enggak peduli. “Jal, kenapa kamu téh belum pulang, hm?” tanyanya.

“Masih nunggu jemputan,” jawabku ngibul. “Boleh tahu kenapa kalian mau ngoyak isi perut Pak Fahri ini?”

Keempat murid itu saling berpandangan. Setidaknya Adit, Imam, dan Cepi menatap ke arah Satria. Seolah-olah memberikan kesempatan pada sang tetua untuk menjelaskan.

“Yang di depan kita ini predator,” mulai Satria sambil berdiri di depanku, menatap ke mataku. Karena aku terus-menerus menggunakan bahasa Indonesia, tampaknya mereka terpaksa menggunakan bahasa nasional. “Dia udah ngelecehin adik cewek aing. Paham?”

“Kenapa bisa?”

“Ya bisa, lah!” Satria tersenyum mengejek. “Selain ngajar di sini, Si Bangsat ini ngajar juga di SMP-nya adik aing. Terus adik aing diajak belajar di rumah manéhna, terus diraba-raba susuna. Kan, goblog!”

Aku menelan ludah. “Terus kalian mau ngoyak isi perutnya?”

Enya, lah!” sahut Satria sambil terbahak. “Sampe dia modar. Supaya dia tahu buat enggak macam-macam sama aing!”

Ketiga teman Satria mengangguk-angguk setuju. Aku mah cuma bisa diam, mengeraskan rahang, mencoba mencari solusi lebih solutip tanpa perlu ada nyawa melayang.

Aing bakal keluarin isi perutna, aing bakal potong kanjutna, aing bakal gores-goresin ini pisau ke muka dia supaya dia jelek, supaya dia modar sakalian!”

“Jangan,” kataku tiba-tiba. “Jangan pakai cara itu.”

Diam sejenak di dalam ruangan. Empat siswa itu memandangku dengan penasaran, sementara Pak Fahri masih saja pingsan. Entah obat bius apa yang mereka gunakan untuk membuat Pak Fahri tak berdaya.

Sia punya cara lain, hah?!”

Aku mengangguk dan mencoba mengumpulkan ide. “Pertama, guru-guru lagi rapat. Kalau kalian menyakiti Pak Fahri, kalian bisa ketahuan dengan gampang. Sebab, di ruang guru sana, masih ada banyak orang. Kedua, membunuh dia enggak ngebikin dendam kamu terbayarkan.”

“Kalau dia enggak mati, dia bakal terus ngelakuin hal yang sama ke cewek-cewek lain!” sentak Satria berang.

“Dia mati pun, enggak mengubah fakta bahwa adik kamu pernah dilecehkan sama gurunya.” Aku ngelipat tangan di depan dada, kayak nantang Satria.

Dari postur badan sih aku jelas lebih sterek dibandingkan empat siswa bau kencur ini. Ototku lebih nyata, dan omong-omong soal pengalaman hidup, waaahhh ... berani takabur aku lebih berpengalaman dibandingkan mereka. Jadi kalau aku bilang kematian Pak Fahri itu enggak ada gunanya, ya emang enggak ada gunanya. Itu enggak akan menyelesaikan masalah apa pun.

“Terus, menurut sia kita kudu kumaha?” tanya Imam.

Aku tersenyum. “Telanjangin dia,” titahku.

Mereka saling berpandangan.

“Telanjangin dia, rekam pake hape kamu, dan gunakan video memalukan Pak Fahri untuk meras dia. Kamu bisa peras dia untuk enggak ngelakuin hal bejat kayak gitu ke siapa pun. Dia pasti bakal nurut.”

Satria diam sejenak untuk mempertimbangkan ideku barusan. Tiga kawannya juga saling berpandangan dan berpikir bahwa mungkin ideku ini ada bagusnya juga.

“Selain kalian enggak perlu masuk penjara gara-gara ngebunuh orang, dijamin Pak Fahri bakal melakukan apa aja buat kalian kalau kalian punya video memalukan soal dia.”

Apa aku berhasil?

Berhasil.

Sore itu, kami menelanjangi Pak Fahri dan mengikat dia di belakang lemari perpustakaan. Pak Fahri bugil total. Diam-diam aku ngaceng karena gimana pun Pak Fahri ini cowok maskulin dewasa. Kulitnya mulus, ada rambut di ketek, dada, perut, dan area jembutnya. Tititnya mungil karena lagi enggak terangsang. Dan perutnya yang agak buncit itu bikin Pak Fahri kelihatan imut-imut.

Asyiknya adalah Pak Fahri terbangun setelah kami berhasil mengikat dia di belakang sebuah lemari buku dengan kedua tangan terjulur ke atas kepala, terikat ke lemari, pun kaki-kaki Pak Fahri terikat di kaki-kaki lemari.

“Di mana saya? Di mana saya?” teriak Pak Fahri, yang matanya sudah ditutup oleh kaus singletnya sendiri sekarang.

Satria sudah siap memvideo Pak Fahri dalam kondisi memalukan. Dan aku pribadi, siap mempermainkan tubuh Pak Fahri secara seksual, sebagai balas dendam terhadap perlakuan bejat Pak Fahri ke adiknya Satria.

Akang mau tahu gimana prosesnya?

Kita lihat di part berikutnya.


[ ... ]

< Sebelumnya | Berikutnya >

Komentar