Part 4: Pak Fahri
Prosesnya simpel aja,
Kang. Namanya juga aku téh lagi sama
empat cowok straight yang lagi pengin
ngebunuh Pak Fahri. Kalau aku sepong
Pak Fahrinya terus keenakan, entar yang lain jijay lihatnya. Jadi, aku cuma main-mainin putingnya Pak Fahri,
sampai si guru itu antara keenakan, juga ketakutan.
Badan Pak Fahri
nyentak-nyentak karena enak. Tapi kemudian menghindar, tersadar dirinya lagi
diculik. Aku mainin lagi susunya, Pak Fahri nyentak keenakan lagi, tapi
kemudian inget dia lagi dalam bahaya. Jadinya Pak Fahri menghindar lagi.
Apa aku pake tangan
sendiri mainin puting Pak Fahri? Ya enggak atuh,
Kang. Entar muka aku masuk video, bisa bahaya. Aku pake gagang sapu, aku
colok-colok itu susu Pak Fahri dari jauh. (Ada alasan lain kenapa jarak aku
harus agak jauh dari Pak Fahri, tapi aku jelasin entar, ya.) Satria sambil
cekikikan sambil ngerekam
“Saha maranéh?! Di mana aing! Hey! Coplokkeun!” jerit Pak Fahri,
mulai berang. Doi bertanya, siapa kami, di mana dia, lepaskan.
“Naon nu dicoplokkeun?! Kanjutna?” sahut Satria sambil tertawa
ngakak.
Aku nyikut Satria supaya
enggak bersuara, entar Pak Fahrinya jadi tahu. Dan memang Pak Fahri jadi tahu.
“Satria? Kamu Satria?!”
Aku nyimpen telunjuk di
depan bibir Satria. Sambil geleng-geleng kepala, aku juga nyuruh yang lain
untuk enggak bersuara.
“Satria? Coplokkeun talina! Satria!” titah Pak
Fahri.
Satria dengan bete menarik napas dan menuruti
kata-kata aku. Dia akhirnya sibuk merekam Pak Fahri yang terikat di pinggir
lemari. Selama sepuluh menit kemudian, aku cuma main-mainin badan Pak Fahri
pake ujung sapu. Aku mainin kontolnya, keteknya, mulutnya, perutnya, lipatan
pahanya, dan nenennya berkali-kali. Kadang pake ujung gagang, kadang pake ijuk
sapunya. Pak Fahri terus-terusan teriak minta dilepaskan, tapi sambil keenakan,
karena kadang ada ah-ahnya.
“Satria! Jangan mainin burung
Bap—aaahhh ... aaahhh ... Satria! Jangan di—aaahhh ....” Kemudian badannya
merinding keenakan, sementara kami semua cekikikan tanpa suara.
Prosesnya enggak bisa
lama. Yang penting udah direkam, sebenarnya udah cukup. Jadi, kami bekap lagi
mulut Pak Fahri, lalu kami tinggalin dalam kondisi kayak begitu. Pak Fahri
masih bugil, kedua tangan terikat ke atas lemari, kedua kaki terikat ke bawah
lemari, badan merah-merah karena digelitikin sapu, matanya tertutup singlet,
mulutnya tertutup kancut sendiri.
Apa Pak Fahri ngaceng selama dijailin? Enggak
sebenernya mah. Mungkin karena panik
juga kok bisa-bisanya dia diculik dan dilecehkan macam begitu. Jadi, kontolnya
ngerut kayak jamur di antara rerumputan hitam, enggak berani mengeras seperti
pedang.
“Gapapa ditinggalin kayak begitu?” tanyaku pas kami semua
mengendap-endap keluar perpustakaan.
Satria menyikutku. “Alah, nyantai wé! Ngké gé istrina
nyari. Paling gé ketahuan sama
istrinya entar malam pas si bangsat itu teu
balik-balik.”
Ya sudah, kami berjalan
menyusuri koridor melewati workshop
dan kantin, menuju koridor sekolah yang sudah kosong-melompong karena semua
orang sudah pulang. Semua guru yang lagi rapat di ruang guru sana enggak ada
yang ngedengerin jeritan Pak Fahri di belakang. Emang agak jauh sih lokasinya.
Mereka masih aja asyik rapat.
“Kamu pulang ka mana?”
tanya Satria sambil ngeluarin motornya di parkiran. Imam, Adit, dan Cepi juga
udah ke motornya masing-masing.
“Saya bareng sama Pak Restu,”
jawabku sambil tersenyum.
Semuanya menoleh. “Pak
Restu?” ulang Satria.
Aku mah ngangguk aja. “Rumah saya sama Pak Restu deketan. Dia juga yang
nyaranin sekolah di sini. Untuk sementara saya bareng Pak Restu dulu. Tapi Pak
Restu lagi rapat.”
“Oh, ya udah atuh,” ujar Satria sambil menepuk bahuku
dan menyalakan motornya. “Nuhun, nya.
Udah bantuin!”
Aku ngangguk. “Inget,
ya. Gunakan dengan bijak videonya. Jangan disebarin di internet.”
“Kenapa jangan?” tanya
Imam bingung.
“Entar jadi enggak ada
nilainya atuh. Kan Pak Fahri pasti
nurut sama kalian karena kalian punya video berharga itu. Enya teu?”
Keempat cowok itu
mengangguk setuju. Mereka pun berlalu dari sekolah, pulang dengan perasaan
gembira karena punya rencana untuk Pak Fahri, tanpa perlu melakukan perbuatan
kriminal. Yah, memeras juga perbuatan kriminal, sih. Tapi seenggaknya enggak
ada nyawa melayang. Betul enggak? Kalau memang Pak Fahri melecehkan adiknya
Satria, kata aku mah lebih adil untuk
melecehkan Pak Fahrinya lagi. Membunuh Pak Fahri mah enggak ngebayar apa-apa.
Terus, aku jadi
jalan-jalan keliling pasar, enggak?
Ya enggak lah, Kang!
Enak aja. Itu di perpus ada kontol orang dewasa lagi nganggur belum dikulum,
masa iya aku abaikan kesempatan itu?
Setelah aku pastiin
keempat cowok itu menghilang di ujung jalan, aku ngecek ruang rapat. Kayaknya
mereka masih lama. Guru-guru masih sibuk bahas entah apa di dalam sana. Jadinya,
aku jalan lagi ke perpustakaan, sambil mastiin enggak ada yang lihat. Di perpustakaan,
Pak Fahri masih dalam kondisi sama. Dia malah langsung goyang-goyangin badan
menyadari ada yang masuk.
“Tolong! Tolong!”
katanya, dengan suara tertahan, karena kancutnya lagi ngebekap mulutnya
sendiri.
Apa aku nolong dia? Ya
enggak, lah. Tujuanku kan menikmati kontol Pak Fahri.
Bayangin aja, Kang.
Sejak diperawanin sama sopir truk Sumatra itu, aku téh jadi gampang horny
lihat laki-laki. Mungkin aku udah homo dari sananya, aku mah enggak tahu. Yang pasti aku jadi pengin nyedot segala jenis
kontol yang aku lihat. Termasuk kontol Pak Fahri.
Melihat beliau dalam
kondisi enggak berdaya kayak begitu, pelan-pelan aku ambil tisu yang ada di
atas meja, terus aku bersihin kontol Pak Fahri yang mungkin kotor gara-gara
sapu. Pak Fahri mulai teriak-teriak lagi minta dilepaskan, tapi aku mengabaikan
itu semua. Aku malah jongkok dan mulai mengulum kontol Pak Fahri ke dalam
mulutku.
Aaahhh ... anjay. Kenyal pisan ini mah, lah. Asoy.
Kontolnya Pak Fahri tuh
ukuran normal. Mungkin di bawah rata-rata, tapi enggak kecil-kecil amat, Kang.
Jembutnya lumayan banyak, keriting dan menyebar membentuk segitiga di sekitaran
kontolnya. Waktu aku kulum, hidung aku sampai harus dibenamkan di antara
jembut-jembut itu. Malah, saking mungilnya kali ya, terus emang aku lebih
bongsor dibandingkan Pak Fahrinya sendiri, bijinya Pak Fahri masuk juga ke
dalam mulutku.
Pak Fahri mulai
terentak-entak keenakan. Dari yang asalnya minta tolong, sekarang mulai
mendesah nikmat. Lama-lama, kontolnya agak ngeras juga, sih. Pas aku pegang
nenennya, itu puting juga mengeras.
Seluruh tubuh Pak Fahri
berkeringat sekarang. Aku lepas buah zakarnya yang ada di mulutku, cuma kukulum
kontolnya Pak Fahri dengan nikmat.
Aku menghabiskan
berjam-jam mengeksplor kontol sopir truk Sumatra itu. Aku coba cari di mana
bagian-bagian enak kontol yang bisa disentuh sama lidah di dalam mulut.
Rupanya, apa yang sopir itu anggap enak, dianggap enak juga sama Pak Fahri.
Jadi, aku menggelitik titik tersebut pake lidah, bikin Pak Fahri kelojotan dan
ereksi sampai tegang-tegangnya. Lebih tegang dari menara sutet.
Karena kasihan dia
enggak bisa mendesah nikmat kayak cewek Jepang yang bokepnya pernah kutonton,
aku lepasin juga kancut itu dari mulutnya. Apa kata pertama Pak Fahri setelah
mulutnya dibebaskan?
“Terus! Terus!” Kayak
tukang parkir.
Yes.
Bukannya minta tolong sambil teriak, dia malah nyodok-nyodokin kontolnya ke
dalam mulutku. Ya udah, aku juga lanjut aja ngulum itu kontol mungil di dalam
mulut. Badan Pak Fahri bergetar dan ngejeduk-jeduk lemari dengan suara berisik.
Karena kakinya diikat, Pak Fahri cuma bisa goyangin pantatnya maju mundur.
“Terusin, aaahhh ...
enak! Terusin ...!” Pak Fahri udah enggak peduli lagi siapa ini yang lagi nyepong kontolnya. Enggak peduli itu
cewek atau cowok, orang apa bukan, kuntilanak apa pohon pisang. Yang penting
kontol kerasa enak, hajar terus!
Mungkin bener kata
Satria, Pak Fahri adalah seorang predator.
“Aaahhh ...! Bapak mau
keluar, nih.”
Enak aje, Pak.
Nyodok-nyodok mulut aku terus mau keluar? Aku ya lepasin, lah.
“Hey-hey-hey! Lanjutin!
Cepet!” titah Pak Fahri agak galak. Galak karena spermanya udah di ujung, tapi
kuluman mulutku yang nikmat mendadak berhenti. Kontol itu berkilat-kilat di bawah
matahari sore, basah oleh ludahku. Kontolnya agak mungil meski sudah keras.
Bagian kepalanya lumayan gede. Batangnya lebih ramping dengan beberapa luka
bekas sunat. Warna batangnya kecokelatan, warna kepala kontolnya ke-pink-pink-an. “Hey! Terusin!”
Aku berkacak pinggang
sambil geleng-geleng kepala. Predator macam Pak Fahri ini emang harus dikasih
pelajaran, emang.
Jadi, aku ngebuka ikatan
kakinya Pak Fahri. Iya, kakinya aja. Tangannya enggak. Malah, tangannya aku
pastiin terikat lebih kuat dibandingkan tadi. Setelahnya, aku tutup lagi itu
mulut yang berisik pake kancutnya dia. Bukan dibekap ya, Kang. Ditutup. Yang
pasti, wajah Pak Fahri yang ganteng nyaris enggak kelihatan sekarang. Bagian
atas ditutup kaus kutang, bagian bawah ditutup kancut.
Kenapa harus ditutup
lagi? Biar Pak Fahri enggak bisa teriak?
Bukan.
Biar dia enggak bisa
nyium bau badan aku, atau bau parfum aku yang baru yang dibeliin sama Pak Restu
di pasar kemarin siang. Atau bau sabun, deh. Karena aku lagi ngerasa badan aku
ini wangi sabun yang enak, meski seharian udah keringatan.
Setelah kakinya
terbebas, Pak Fahri enggak menggunakan kesempatan itu untuk nendang aku. Dia
malah nungguin aksi apa yang bakal aku lakuin ke badan dia. Aksi apa,
Anak-Anak?
Aksi menyodomi Pak
Fahri.
Aku ya merosotin celana
SMA-ku sampai ke bawah, tapi enggak sampai lepas. Celana dalam juga aku
pelorotin. Tampaklah kontolku yang ukurannya uwow dan bikin cowok-cowok minder. (Seenggaknya si sopir truk
kemarin minder lihatnya. Tapi meski minder, dia malah pengin kontolku ini masuk
ke bool-nya.)
Aku ngeludahin kontol
sendiri banyak-banyak. Aku bikin licin dan basah. Setelahnya, aku ngangkat
kedua kaki Pak Fahri ke lengan-lenganku yang berotot besar.
Pak Fahri kaget, lah.
“Eh eh eh, apa ini? Apa ini?!” Posisinya, aku menggendong kedua tungkai Pak
Fahri. Lubang pantat Pak Fahri ada di depan kontolku sekarang. “Saya mau
diapain, nih?! Hey, hey! Siapa kamu?! Satria?”
Karena enggak mau ribet,
dengan suara agak-agak dicemprengin, karena suara Satria emang lebih cempreng
dibandingkan aku, aku jawab aja, “Iya, Pak.”
“Mau ngapain kamu
Satria?”
Aku enggak jawab
pertanyaan yang itu. Ribet. Yang kulakukan adalah memukul-mukul area sekitaran
lubang pantat Pak Fahri dengan kontolku yang keras dan basah. Pak Fahri terlonjak
kaget. Dia mencoba berontak, tetapi aku lebih kuat dibandingkan dirinya.
Iyalah, badanku lebih gede hasil nguli di Batam. Aku kunci tungkainya itu
supaya enggak bisa lepas.
“Hey, hey, saya mau
diapain?! Hey!”
Kemudian, aku mulai
arahin kepala kontolku ke pantatnya Pak Fahri. Aku coba dobrak masuk, meski
tentu Pak Fahri belum ngasih izin.
“Satria! Kamu mau
ngapain?! Satria, jangan!”
Aku malah jawab begini,
“Rileksin aja, Pak.” Tentunya dengan suara cempreng yang bukan suara aku
banget.
“Astagfirullah! Enggak
boleh gitu, Satria! Dosa!”
Cakeeeppp ...! Sodomi
dosa, tapi gerepe-gerepe toket anak
SMP enggak ya Pak?
Aku tentunya enggak
ngedengerin kata-kata beliau, Kang. Aku lanjut sodokin kontol ke bool Pak Fahri dengan semangat 45.
Kontolku untungnya setia dan siaga, tetap keras meski bool itu enggak buka pintu masuk.
Pak Fahri mulai nangis.
“Jangan Satria. Bapak mohon. Jangan kamu ngelakuin hal-hal kayak begini.
Satria, tolong berhenti.” Tungkai Pak Fahri mulai lemas. Dia udah capek
berontak. Awalnya gerak-gerak minta bebas, sekarang cuma bisa ngegantung aja
enggak bisa ngapa-ngapain.
Aku mah enggak peduli, Kang. Yang kulakukan cuma ngebasahin kontolku
sekali lagi dengan air ludah, dan coblos itu bool meski susah payah.
Berhasil? Nya berhasil, atuh!
Pada akhirnya, Pak Fahri
nyerah. Lubang pantat itu dibuka juga aksesnya. Kontolku yang berukuran uwow bisa masuk ke dalam bool Pak Fahri. Awalnya Pak Fahri
menjerit kesakitan. Tapi cuma sekali. Setelahnya, yang aku dengar malah desahan
napas kayak kecapean. Seluruh tubuh Pak Fahri keringetan dan mengilat.
Ternyata, setelah kontolku masuk sepenuhnya ke dalam, Pak Fahri nyadar juga
rasanya enggak sakit-sakit banget.
Sekali lagi aku bilang,
“Pokoknya rileksin aja, Pak,” dengan suara cempreng ala-ala Satria.
Eh, ajaibnya Pak Fahri
nganggukin kepala. Nurut aja kayak anak buah.
Ya udah, aku genjot lah
itu bool Pak Fahri. Puting susu Pak
Fahri bergerak naik turun ngikutin irama genjotan kontolku. Pak Fahri cuma
terkulai pasrah aja di bawah kuasaku. Kepalanya bersandar di dinding lemari,
malah kayak lagi nikmatin sodokan itu. Perutnya yang agak buncit juga bergetar
naik turun sesuai melodi.
Enggak ada lagi
tentangan dari Pak Fahri. Yang ada malah Pak Fahri nikmatin sodomiku.
Apa yang lebih ajaib?
Kontol Pak Fahri masih aja ngaceng. Anjim. Ini mah doyan kayaknya.
Aku enggak bisa ceritain
panjang lebar soal sodomi itu ya Kang. Karena aktivitasnya ya cuma gitu-gitu
aja. Aku gerakin kontol maju mundur di dalam pantat Pak Fahri, keenakan, aku
kasih ludah lagi supaya licin, dan diulang lagi. Pak Fahri cuma terkulai
nikmatin perlakuan itu. Dia enggak banyak berontak. Malah lama kelamaan ....
Crot! Crot! Crot!
Kontol Pak Fahri
muntahin sperma-sperma putih yang hangat ke atas dadanya. Pak Fahri mengerang
keras, “AH! AH! AH!” kayak lagi dipecut. Badannya mengentak dan berontak, tapi
dalam konteks keenakan. Aku enggak berhenti genjot meski sperma itu udah crot keluar. Yang kulakukan berikutnya,
karena aku kasihan, adalah ikutan crot.
Aku crot di dalam pantat Pak Fahri sekitar dua menit kemudian. Pak
Fahri bilang sebenernya, bahwa dia kesakitan. Sama kayak sopir truk itu.
Setelah crot, rasanya agak
menyakitkan kalau bool masih disodok.
Tapi aku enggak peduli. Kan konteksnya aku lagi melecehkan Pak Fahri atas
perbuatan pelecehan Pak Fahri ke adiknya Satria. Jadi aku terus genjot, lalu:
Crot, crot, crot! Aku pun crot. Setelahnya, aku lepaskan itu kontol dari pantat Pak Fahri.
Aku bersihin kontolku,
aku pake lagi celana, dan aku ikat lagi kaki Pak Fahri di lemari. Doi sempat
memohon, “Satria, Bapak mohon, Nak. Lepasin Bapak. Please. Bapak janji enggak akan ganggu Shinta lagi. Bapak mohon,
Nak. Lepasin Bapak.”
Nama adiknya Shinta
ternyata. Tapi aku enggak dengerin kata-kata memelas itu. Aku tetap ikat kaki
Pak Fahri yang mulai lemas karena barusan crot
dengan sensasi luar biasa: crot saat ada
kontol mengganjal di dalam pantat. Yang kata sopir truk Sumatra itu berefek
seluruh paha, lutut, betis, dan kaki lemas kayak baru digebukin. (Makanya
setelah aku sodomi sopir truk, kami istirahat dulu sekitar lima jam sampe si
sopir kuat lagi buat nginjak pedal gas.)
“Satria! Tolong lepaskan
Bapak!” teriak Pak Fahri, agak-agak menangis lagi. Kancutnya masih diikat di
wajah, tapi mulutnya emang enggak kebekap penuh. Seragam mengajarnya aku
sembunyiin di salah satu tempat di perpustakaan yang enggak akan ketahuan.
Nah, aku malah pergi
dari perpustakaan sambil nutup pintu.
Aku berjalan meninggalkan
perpus dengan kondisi kontol baru dibikin enak. Aku pergi ke toilet sekolah,
bersihin kontol, lalu keluar lagi.
Apa aku tinggalin Pak
Fahri gitu aja? Ya enggak, lah Kang. Kan aku ada ide brilian. Justru inilah
saatnya aku mainin kartuku.
Aku ambil wudhu, tambah
minyak wangi, rapiin seragam, lalu aku masuk lagi ke dalam perpus. Aku harus
agak nyengat wanginya, supaya Pak Fahri ngira aku baru masuk perpus. Inilah
alasan aku agak jauh waktu mainin body
Pak Fahri pake sapu tadi, atau waktu aku bekap wajah Pak Fahri pake kancutnya
sendiri.
“Lho, Bapak?” sapaku,
pura-pura kaget. Tentu aja suaraku suara normal, ya Kang. Bukan suara cempreng
kayak tadi.
“S-siapa itu? Satria?”
“B-bukan, Pak,” kataku,
melompat menghampiri Pak Fahri sambil membuka ikatan singlet dan kancut di
wajah Pak Fahri. “Saya Jalu, yang baru masuk hari ini.”
Tanpa banyak bicara, aku
lepaskan ikatan kaki dan tangan Pak Fahri.
“Alhamdulillah, ya Allah
...,” ungkap Pak Fahri bersyukur. “Untung ada kamu.”
“Kenapa Bapak bisa kayak
gini?” tanyaku cemas, masih sibuk melepaskan ikatan.
“Ada yang mau jahatin
Bapak,” jawabnya pasrah.
“Siapa, Pak?”
“Bapak enggak bisa
bilang. Makasih ya Jalu udah nolongin Bapak.” Pak Fahri menghela napas lega
sambil menunggu aku membuka ikatan.
“Aku baru beres salat zuhur,
udah gitu mau ke kantin beli gorengan. Ternyata kantinnya udah tutup. Terus aku
dengar Bapak minta tolong.”
Pak Fahri enggak
berkomentar apa-apa. Begitu ikatannya terlepas, Pak Fahri langsung melemaskan
tangannya yang pegal sambil mengenakan kaus kutang dan kancutnya.
“Ini basah apa, Pak?”
tanyaku, dengan polosnya nunjuk sperma yang nyaris mengering di dada Pak Fahri.
“Jangan dipegang!” sahut
Pak Fahri panik. Dia buru-buru mengelapnya dengan kaus kutang. “Mana baju
Bapak?”
“Baju?” ulangku
pura-pura bingung. “Saya ... saya enggak tahu.”
“Innalillahi,” ungkap
Pak Fahri sambil mulai menelusuri perpus mencari pakaiannya. Aku membantu Pak
Fahri mencari pakaiannya itu. Namun sampai sepuluh menit kemudian bajunya belum
ketemu.
(Aku tahu lah di mana.
Tapi kan tujuanku emang disembunyiin dari beliau.)
“Emang kenapa bisa
begini, Pak?” tanyaku, untuk ketiga kalinya sambil aku ngaduk-ngaduk salah satu
laci. (Di dalam laci itu ada bajunya, sih. Tapi aku pastiin aku yang nyari di
situ, dan misal Pak Fahri ke sini, bajunya tersembunyi sangat jauh di dalam
laci.)
Akhirnya Pak Fahri
menyerah. Dia duduk di meja penjaga perpus, hanya mengenakan kutang dan kancut.
Setelah kepanikannya reda, beliau pun mengatakan, “Ada yang mau ngejahatin
Bapak. Dia melakukan hal bejat ke Bapak.”
“Kok bisa begitu, Pak?
Emang Bapak ngapain?”
“Mungkin ada yang sirik
sama Bapak,” akunya.
Hilih, kintil.
“Ya udah Bapak lapor
polisi aja,” saranku. “Nanti saya temenin Pak. Saya bisa jadi saksi juga. Nanti
saya jelaskan ke pak polisinya semua yang saya lihat. Misalnya kondisi Bapak
pas ditemukan, terus basah di—”
“Eh eh eh,” potong Pak
Fahri panik, “enggak usah. Enggak pake polisi-polisian.”
“Lho, kenapa?”
“Ini urusan pribadi!”
tegasnya. “Kamu sudah cukup bantu Bapak.”
Aku manggut-manggut.
“Atau karena ini terjadi di lingkungan sekolah, gimana kalau saya bantu bicara
ke kepala sekolah? Saya siap jadi saksi, Pak. Saya siap ceritain semua yang
saya—”
“Enggak usah!” potong
Pak Fahri lagi, dia mulai agak cemas aku bakalan ngebocorin kisah ini ke seseorang.
“Udah Bapak bilangin, kamu enggak usah cerita apa pun. Ini urusan Bapak. Urusan
pribadi.”
Aku menunjukkan ekspresi
bingung. “Oh,” kemudian aku menelan ludah, “ya udah.”
“Pokoknya simpan ini
sebagai rahasia kita berdua. Kamu paham, Jalu?”
Aku mengangguk patuh.
“Ya udah kalau gitu, saya pulang dulu, ya Pak?”
“Sebentar, dong. Ini
gimana Bapak pulangnya?”
Akhirnya, aku
mengambilkan sarung yang ada di musala sekolah, sambil kupinjamkan jaketku yang
besar untuk Pak Fahri pake menutupi kaus kutangnya. Lama-lama, karena aku
begitu baik hati kepadanya, Pak Fahri luluh juga. Sebelum berpisah, beliau
masih sempat berbicara kepadaku, “Maaf karena Bapak galak setelah kamu
tolongin. Sebenarnya kamu baru aja nyelamatin Bapak. Bapak yang berutang budi
sama kamu.”
“Gapapa, Pak. Namanya juga Bapak lagi kesal karena dijahatin. Saya
paham, Pak.”
“Kamu baik banget jadi
orang, Jalu,” ungkap Pak Fahri tenang. “Bapak percaya kamu orangnya bisa jaga
rahasia. Pokoknya, kalau kamu butuh apa-apa nanti, bilang sama Bapak, ya! Bapak
bakal bantu kamu sebisa mungkin.”
“Makasih banyak, Pak.”
Aku pun sun tangan ke Pak Fahri biar sopan.
“Omong-omong, kamu
pulang sama siapa?”
“Saya pulang sama Pak
Restu,” jawabku jujur.
Pak Fahri mengerutkan
alisnya. “Kamu ... keponakan jauh Pak Restu yang anak baru itu?”
Aku mengangguk. Aku baru
tahu aku dikenalkan sebagai keponakan jauh oleh Pak Restu. Tapi ya sudahlah.
Yang penting aku puas melihat wajah ngeri Pak Fahri saat tahu aku kerabat dekat
Pak Restu. Malah, Pak Fahri sempat menelan ludah dengan cemas.
“O-oke,” jawab Pak Fahri
canggung. “Kamu tuh dari kelas mana?”
“Saya kelas X TGB, Pak.”
Wajah Pak Fahri pucat.
“TGB ... T-TGB yang ada si Ontohod Satria itu?”
“Saya sebangku ama
Satria, Pak.” Aku melemparkan senyum lebar. “Sebab Satria duduk sendiri, jadi
tadi saya disemejain sama Bu Enur barengan Satria.”
Skakmat. Wajah Pak Fahri
langsung pucat. Beliau benar-benar khawatir sekarang. Kata-kata terakhirnya
sebelum kami berpisah (karena Pak Restu sudah selesai rapat dan sedang
menghampiri kami) adalah, “Pokoknya, apa pun yang kamu pengin, Bapak siap
lakukan. Apa pun! Jangan sungkan, ya Jalu!”
Dalam hati aku tertawa
menang.
Apa pun, ya Pak?
Oookeee ...!
Dalam perjalanan pulang
ke rumah, di atas motor, Pak Restu pun bertanya, “Ngapain kamu tadi sama Pak Fahri?”
Aku yang dibonceng di
belakang hanya menjawab, “Enggak ngapa-ngapain, Pak. Ngobrol aja.”
“Kenapa Pak Fahri pake
jaket kamu, dan kenapa dia pakai sarung?”
Aku membual, “Bajunya
basah. Terus enggak ada baju buat pulang, jadi pinjam jaket saya, Pak. Kalau
pakai sarung mah saya enggak tahu.”
Pak Restu hanya
mengangguk-angguk paham.
Ketika kami tiba di
sebuah jalan yang biasa kami lewati, tiba-tiba jalur tersebut ditutup karena
sedang ada acara hajatan. Aku enggak tahu acara hajatan apa yang diadakan Senin
sore kayak begini. Yang pasti, ada kursi yang disimpan di tengah jalan, dan ada
sekumpulan anak muda lokal yang sedang berjaga, yang tugasnya mengalihkan semua
pengendara ke jalur lain.
Yaitu sebuah jalur tanah
penuh batu di samping kebun karet, memotong jalan menuju area rumah kami. Jalan
ini agak memutar, tetapi memang ini akses alternatif kalau jalan yang tadi
ditutup.
Karena jalannya jelek,
motor sampai berguncang, Pak Restu pun bilang, “Pegangan ya, Jal. Jalannya
jelek.”
Dengan jail aku
bertanya, “Boleh pegangan ke Bapak enggak? Tangan saya kegedean kalau pegang ke
handle di belakang.”
“B-boleh,” jawab Pak
Restu sambil menelan ludah. Aku bisa melihat Pak Restu agak-agak salah tingkah
meski aku duduk di jok belakang.
Aku pun memeluk Pak
Restu dari belakang. Aku simpan daguku di bahu Pak Restu. Guru itu enggak
komplain, protes, atau mengedikkan bahu supaya kepalaku pergi. Dia malah diam,
membiarkanku memeluknya sepanjang melewati jalan yang jelek itu. Aku eratkan
pelukannya semakin lama, mendekap perutnya, menempelkan tubuhku yang lebih
bongsor ke punggung Pak Restu.
Malam hari, di rumah,
aku mengintip lagi Pak Restu dari jendela. Beliau coli lagi sambil menatap fotoku. Foto yang sama. Kali ini, aku bisa
mendengar Pak Restu bergumam, “Jalu,
peluk Bapak terus, Jalu. Peluk Bapak ....” Agak berbisik, tapi aku di luar
jendela bisa mendengarnya dengan jelas.
Hari ini, aku berhasil mengentot Pak Fahri. Dan mungkin aku masih akan mengentot Pak Fahri di masa depan. Atau mungkin laki-laki lain di desa ini? Kenapa enggak. Yang pasti, aku ingin sekali menjawab desahan Pak Restu itu, meski dia tidak mengatakannya dengan lantang.
Suatu hari ya, Pak. Suatu hari, saya bakal peluk Bapak.
[ ... ]

Komentar
Posting Komentar