Bocah Titipan (7)



Part 7: Hukuman

 

Karena kusabab Pak Fahri udah nungguin dientot sama kontol aku, kita sekip aja ya segala jenis intro sama foreplay-nya sesi sore ini. Boleh?

Lagian juga Pak Fahri kayaknya mulai keenakan ngelakuin BDSM. Buat predator kelas ikan cupang kayak Pak Fahri mah, apa pun yang bikin kontol enak, pasti bakal dijabanin.

Waktu di Lampung, aku ketemu sama seorang master BDSM yang nyelamatin aku dari bajing luncat. Ceritanya aku lagi numpang satu truk yang ngangkut sawit, terus ada bajing luncat sekitaran Mesuji, aku sama si sopirnya nyaris digorok, sampe akhirnya seorang laki-laki nyelamatin kami berdua. Itu laki-laki jago bela diri. Dia libas setiap bajing luncat sampai pingsan. Pas kami mau terima kasih, dia cuma pengin aku dikasih ke dia.

Ya udahlah si sopir ngasihin aku ke dia. Pan aku mah cuma nebeng aja di dia. Selama aku tinggal sama laki-laki itu (sekitaran tiga hari aja sebenernya) aku belajar bahwa dia adalah master BDSM maho. Apa aku jadi budaknya dia? Untungnya téh enggak, Kang. Aku mah cuma disuruh jadi pembantu di rumah dia, beres-beres kekacauan habis orgy sama budak-budaknya dia. Terus, aku sering disuruh duduk di kursinya dia, nontonin selusin laki-laki dewasa merangkak kayak anjing. Katanya, itu bagian dari humiliation. Mempermalukan para orang dewasa ini di depan minor, atau anak di bawah umur. (Padahal mah aku udah harusnya punya KTP. Hehe.)

Cerita soal laki-laki ini mah lain kali aja ya Kang? Sebab ceritanya panjang. Intinya, saya jadi punya ilmu pengetahuan bermanfaat soal BDSM. Salah satunya soal “kontrol nafsu”. Ini adalah bagian dari titah para master, mengontrol nafsu manusiawi para budaknya. Nafsu apa aja yang dikontol téh? Eh, sorry. Dikontrol!

Yaitu: nafsu makan, nafsu pipis, sama nafsu seks. Masih ada nafsu lain yang dikontrol, tapi itu mah terlalu serem buat dijelasin. Jadi aku mah mau jelasin yang penting-penting aja, yaitu yang ada hubungannya sama Pak Fahri.

Sore ini, di rumahnya Pak Fahri, aku mau ngontrol pipis sama seksnya dia.

Hal pertama yang aku lakuin ke Pak Fahri adalah mengikat dia di kursi makan pake tali tambang yang aku colong dari pasar.

“Saya mau diapain, Sat?” tanya Pak Fahri.

“Jangan banyak bacot, Pak,” jawab aku, dan tolong Akang-Akang pahami bahwa suara aku téh akan selalu cempreng di depan Pak Fahri, kayak suaranya Satria.

“Tapi nanti kamu bakal masukin—”

“Kalau Bapak bacot terus,” potongku. “Bapak saya kasih hukuman!”

“Ampun, Satria!” balas Pak Fahri otomatis. Yang mengindikasikan bahwa Pak Fahri ini ngeh soal BDSM. Ngerti soal konsep dominasi dan submisif. Ngerti soal minta ampun dan hukuman. (Pastinya ngerti juga bahwa Satria badannya lebih gede dari dia. Kalau mau sparring pun, Pak Fahri pasti K.O.)

“Kata kuncinya rengginang,” kata aku kemudian, teringat si master selalu menekankan bahwa BDSM itu bukan sekadar nyiksa, tetapi memanusiakan manusia juga. Jadi kata kunci ini penting. “Kalau Bapak udah enggak tahan dan pengin berhenti, bilang ‘rengginang’.”

“Siap, Satria,” jawab Pak Fahri, agak-agak tersenyum kecil karena gembira.

Aku lanjut mengikat Pak Fahri ke kursi makan. Aku ngikatnya begini: Kedua tangan di belakang kursi. Dada, perut, dan pahanya diikat ke kursi. Kedua kakinya diikat ke kaki-kaki kursi. Pak Fahri enggak bakal bisa berkutik harusnya. Kalau mau kabur pun, dia harus kabur sama kursi-kursinya. Itu pun kalau dia bisa lari. Tapi kayaknya Pak Fahri enggak akan lari. Orang dia kagak berontak selama aku ngikat badannya kayak gitu.

Gini nih manusia kalau udah dikontrol nafsu. Demi pantat dirasuki kontol aja rela matanya ditutup dan badannya diikat. Kalau aku jahat kan aku bisa ngerampok seisi rumahnya.

Sebelum beraksi, tentunya aku memfoto Pak Fahri dalam kondisi terikat. Aku kirim fotonya ke Satria sambil bilang, “Tuh! Udah saya tanganin. Kamu mah nyantai aja.”

Satria membalas cepat, “You are my Bro! Apa pun yang kamu pengin, saya kasidah!”

Aku tersenyum kecil baca balasan itu.

Bagus, Satria. Aku pegang janji kamu, ya.

Kembali ke Pak Fahri, aku ninggalin Pak Fahri selama beberapa menit karena sedang mencari gunting. Itu guru udah manggil-manggil, “Saaat? Saaat? Kamu ke mana?” Begitu nemu guntingnya, aku balik lagi sambil menekan dua pipi dia pake tanganku.

“Bapak jangan bacot.”

“Ke mana kamu barus—” Kata-kata Pak Fahri terpotong karena aku mulai menggunting kaus yang dipake Pak Fahri. “Eh? Eh? Sat? Kamu ngapain?”

Pak Fahri cuma pakai kaus santai dan celana pendek aja ketika aku datang. Belel pula. Jadi aku asumsikan ini bukan baju mahal. Dengan kurang ajar aku gunting itu kaus, dari bawah sampai ke kerahnya, menampilkan secara telanjang bagian depan tubuh Pak Fahri. Perutnya agak berlipat-lipat khas gadun. Tapi enggak buncit kayak om-om. Body Pak Fahri masih tampak memukau.

“Sat, kenapa baju Bapak kamu gunting?” tanya Pak Fahri.

Aku enggak balas komentar bacot itu. Aku cuma lanjut gunting lengan kausnya, lalu aku robek dan tarik bajunya lepas dari tubuh Pak Fahri. Sekarang Pak Fahri telanjang dada. Kulitnya yang putih mulus langsung tampak di depan muka. Terus aroma tubuhnya téh wangi, kayak habis mandi dan disiapin buat ngentot sama aku. (Eh, maksudnya sama Satria.) Wangi deodoran bahkan menguar dari keteknya.

“Ampun, Sat,” ujar Pak Fahri saat tubuhnya setengah telanjang sekarang. Aku ngecek selangkangan Pak Fahri. Kontolnya udah ngaceng keras di balik celana pendek tipis itu, padahal sedari tadi mata dia ditutup, enggak sekali pun ngelihat siapa sosok di depannya.

Emang dasarnya udah mesum ini guru.

Karena akunya lagi nyantai, aku mah mainin dulu aja puting susunya Pak Fahri. Aku cubit dua-duanya, ngebikin Pak Fahri langsung mangap keenakan. “Aaahhh ...,” katanya. Kayak lagi disetrum.

Lumayan lama lah aku mainin itu puting susu. Aku tarik-tarik, aku pilin-pilin, aku cubit-cubit, aku remas juga dadanya. Pak Fahri kelojotan, padahal baru dicubit susu doang. Aku menduga, kayaknya ini guru kekurangan sumber daya manusia buat mendapatkan servis macam begini. Mungkin istrinya enggak tahu begini-beginian. Kemudian dia cari bocah-bocah SMP yang bisa disuruh, tapi bocah-bocahnya blah-bloh juga. Mungkin dia baru tahu bahwa si Satria bisa bikin dia kelojotan dengan perlakuan dominasi macam begini. Maklum ya Kang, di kampung mah segala jenis seks itu tabu. Jangankan yang homo, yang normal aja tabu untuk dibicarakan. Sekalinya sepasang kekasih kumpul kebo di tempatnya kebo—yaitu di balik semak-semak—sekampung bisa nelanjangin dan mengarak kekasih tersebut seolah-olah mereka melakukan tindak kriminal.

Jadi, wajar kalau eksplorasi seksual macam begini enggak berkembang di Weningmas. Si Master dari Lampung juga bilang begitu, kok. Orang-orang di kampung, karena mereka enggak terpapar oleh informasi tentang seks yang beragam, jadinya kalau ada sesuatu yang ena, sebenarnya mau-mau aja eksplor ena-ena gaya baru yang penting ena.

Sama seperti Pak Fahri yang mewajarkan bahwa dicubit puting sama cowok ini (dan cowoknya kelas 1 SMA) sebagai kenikmatan seksual.

Buktinya, tuh lihat aja kontolnya. Kedut-kedut minta dikocok di balik celana pendek tipis itu.

“Satria, Bapak pengin lihat wajah kamu,” ujar Pak Fahri, setelah putingnya kemerahan aku cubitin terus-menerus.

“Bacot ah, Pak,” kataku tegas, mencubit putingnya lebih keras sampai Pak Fahri menjerit. “Kalau mata Bapak ditutup, Bapak tuh enggak tahu siapa yang memperlakukan Bapak kayak begini. Jadi kalau ada yang nuduh Bapak macam-macam, Bapak tinggal bilang Bapak enggak tahu apa-apa karena mata Bapak ditutup. Paham, enggak?”

Pak Fahri sudah membuka mulut untuk mendebat, tetapi dia enggak mengeluarkan kata-kata. Akhirnya, Pak Fahri mengangguk. Mungkin baru nyadar bahwa dia téh harus kreatif urusan seks menyimpang kayak begini. Menyimpang karena BDSM, sama laki-laki, dan sama murid. Maksud aku mah baik atuh. Jadi kalau suatu hari Pak Fahri diarak keliling kampung karena perbuatan tidak senonoh macam begini, dia kan bisa bilang, “Saya diikat dan mata saya ditutup. Saya tak berdaya!”

Iya enggak, Kang?

Gini-gini juga aku téh mikirin kelangsungan hidup Pak Fahri meskipun ini guru harus dimusnahkan karena melakukan pelecehan ke anak di bawah umur. Tapi sebelum dimusnahkan, aku mah pengin melecehkan dia untuk beberapa waktu dulu. Supaya dia kena pelecehannya double-double: di Weningmas sama di neraka.

Setelah puas mencubit putingnya Pak Fahri, juga karena itu guru badannya udah bergetar keenakan minta segera disodomi, aku berlutut di depannya dan mulai mengulum puting Pak Fahri.

“Aaahhh ...!” Desahan Pak Fahri makin kencang saat lidahku menggelitik puncak putingnya. “Satria ... aaahhh ... itu en-enak ....”

Iye, tahu. Tapi Satrianya lagi di rumah, Pak.

Aku mainin putingnya pake mulut. Aku isap, aku gigit, aku jilat-jilat, aku gigit lagi, aku sedot, aku mainin pake lidahku. Kursi yang didudukin Pak Fahri sampai bergeser karena Pak Fahri melompat-lompat keenakan.

“Bapak udah keenakan, Sat. Ayo kocokin Bapak.”

“Bacot!” sahutku lagi.

Aku berdiri dan pergi ke dapur. Aku cari gelas terbesar yang ada di sana, lalu aku isi dengan air putih sampai penuh. Buat aku siramin? Bukan. Tapi aku paksa Pak Fahri minum.

“Minum!” titahku galak.

“Tapi, Sat—” Pak Fahri enggak bisa melanjutkan kata-katanya karena bibir gelas udah nyentuh bibir dia. Dengan terpaksa Pak Fahri menenggak minuman itu sampai habis. Dia minta berhenti di tengah-tengah, tapi dengan galak aku suruh dia habisin.

“Jangan sampai bersisa!” kataku. “Ini hukuman karena Bapak banyak bacot.”

Air itu habis juga. Ada mungkin setengah liter? Atau seliter? Aku enggak tahu pastinya segimana. Yang pasti Pak Fahri sendawanya panjang. Air menetes dari mulutnya ke badan Pak Fahri.

Setelahnya, aku ambil gunting dan mulai ngeguntingin celana Pak Fahri.

“Sat ... jangan, Sat. Ini celana kesayangan Bapak.”

“Adik saya juga kesayangan saya, Pak. Tapi Bapak nyentuh dia tanpa izin.”

Pak Fahri hanya mengembuskan napas. Tak bisa mendebat.

“Ini hukuman Bapak karena bacot terus. Udah dibilangin diem, Bapak malah ngomong terus.”

“Ampun, Sat.”

Seperti kaus, aku guntingin itu celana dan lepasin dari tungkainya Pak Fahri. Termasuk celana dalamnya juga ya, Kang. Celana dalam longgar warna biru merek murahan, yang bagian depannya udah basah sama precum. Malah, kalau aku perhatiin téh, precum-nya banyak banget meleleh dari kontolnya Pak Fahri. Guru ini beneran melahap segala jenis murid. Enggak peduli SMP atau SMA, enggak peduli pria atau wanita, kalau enak ya kontol ngaceng juga.

Sekarang Pak Fahri telanjang bulat dalam posisi masih terikat ke kursi makan. Kontolnya kedut-kedut minta disentuh. Precum-nya masih meleleh keluar dari lubang kontolnya. Pas aku pegang kontol ukuran biasa-biasa aja itu, rasanya hangat dan keras. Mungkin emang udah sange berhari-hari, puasa nunggu hari ini. Aku téh agak cemas kalau kontolnya disenggol dikit, langsung muncrat.

Tapi tetap aja, aku kulum itu kontol ke dalam mulut aku. Kasihan, lah. Udah aku lecehkan begini, sekalian aku kasih Pak Fahri enaknya juga. Guru itu langsung mendesah nyaring merasakan sensasi hangat mulutku atau gimana lidahku menari-nari di dalam sana.

“Terus, Sat ...! Terus! Aaahhh ...!” Berulang-ulang Pak Fahri menitahkan Satria untuk memainkan kontolnya di dalam mulut. Badan Pak Fahri terentak-entak karena keenakan, perutnya kembang kempis. Aku bisa merasakan aroma sabun yang pekat di area selangkangan Pak Fahri. Mungkin pas mandi barusan digosok kuat-kuat di sekitaran jembutnya, supaya pas dikulum gini rasanya harum.

Lama-lama aku téh kayak lagi ngulum sosis rasa Lifebouy.

Karena kontol selalu menjadi titik utama keenakan semua pria, aku agak lamaan memainkan kontol Pak Fahri di dalam mulutku. Aku isap dan gelitikin pake lidahku. Aku gerakin mulutku naik turun sambil dibasahin dengan ludah biar licin. Aku telan sampai kerongkongan, sampai hidung mancungku mendesak jembut-jembutnya Pak Fahri. Dan guru itu hanya sanggup mengentakkan kursi karena keenakan.

“Bapak mau keluar,” desah Pak Fahri tiba-tiba.

Saat itulah aku ngeluarin kontolnya dari mulut aku. Enak aja crot sekarang!

“Satria!” panggil Pak Fahri saat merasakan kontolnya dicubit udara secara tiba-tiba.

Aku kembali lagi ke dapur buat ngambil air minum ke gelas besar tadi. “Nih, minum lagi.”

“Ke-kenapa?” tanyanya bingung.

“Karena Bapak nyaris crot barusan! Ini hukumannya!”

Pak Fahri dengan terpaksa meneguk gelas kedua sampai habis. Perutnya pasti kembung sekarang. Aku mah enggak peduli. Yang penting dia jadi berat dan capek karena kebanyakan minum. Juga karena bete kontolnya enggak jadi ejakulasi.

Aku ngebuka semua ikatan Pak Fahri dengan segera. Tapi bukan berarti dia dibebaskan. Aku genggam kontol Pak Fahri dengan kuat, terus aku tarik dia kayak lagi narik kerbau ke ruangan sebelah, ruangan nonton TV. Ada dua meja TV gede dari bahan jati yang berat banget di situ. Terus, aku ikat lagi Pak Fahri ke kaki-kaki meja TV kayu jati itu.

Kali ini, kedua tangan Pak Fahri diikat ke kaki meja, terulur melewati kepalanya. Itu aja. Sisanya mah bergerak bebas. Sebab sekarang aku téh mau nusuk Pak Fahri, sesuai dengan apa yang dia inginkan malam ini. Berhari-hari dia nge-WA Satria karena pengin disodomi. Udah gitu barusan aku sange berat pas mainin pantatnya Bang Raka. Ya cocok atuh.

Cuma bedanya, sama Pak Fahri mah harus agak disiksa dulu, sebagai hukuman karena dia melecehkan anak di bawah umur.

Jadi, setelah Pak Fahri sukses pamer ketek karena kedua tangannya diikat ke kaki meja, lalu Pak Fahri berbaring tak berdaya di atas lantai, aku angkat kedua kakinya ke atas bahuku. Ada minyak zaitun aku temuin di dapur pas ngambil air minum tadi. Jadi, kulumuri telunjuk sama jari tengah aku dengan minyak zaitun, terus aku masukin ke pantatnya Pak Fahri.

Guru itu langsung bergidik keenakan. Desahannya stakato. “Ah-ah-ah-aaahhh ...!” Pak Fahri menggigit bibir bawahnya karena keenakan.

Aku memberikan perlakuan yang sama kayak yang aku lakukan ke Bang Raka tadi. Mainin prostatnya Pak Fahri. Mungkin karena sudah rindu prostatnya dipermainkan kayak gitu, Pak Fahri mulai mendesah kayak anjing lagi kesakitan. Tapi aku tahu, kok, itu téh lagi merasa keenakan. Emang gitu suaranya.

Cuma ya karena dia baru aja minum air putih dua gelas penuh, ada perasaan lain yang kebelet pengin dilakukan Pak Fahri. Akang masih inget kan waktu aku bilang prostat tuh mengatur jalan keluarnya air kencing sama air mani?

“Satria ... lepasin dulu, Bapak mau pipis dulu.”

Yes. Pak Fahri jadi pengin kencing sekarang. Karena prostatnya digelitikin terus, selain sperma yang lagi nunggu dipanggil keluar, sekarang air kencing pun jadi pengin ikutan keluar.

Tapi aku mah enggak akan ngebiarin Pak Fahri kencing, lah. Justru aku makin mainin prostat itu pake jariku, sampai Pak Fahri enggak kuat lagi.

“Jangan Sat ... jangan dimainin. Bapak jadi pengin kencing.”

“Ya kencing aja, Pak!” titahku.

“Tapi ini bukan kamar mandi, Satria.” Pak Fahri mencoba melepaskan kedua tangannya dari ikatan, tetapi dia enggak berhasil. Tampak jelas Pak Fahri menderita karena kebelet. “Satria berhenti. Bapak mau kencing. Aaahhh ....”

Mau kencing, tapi kontol masih ngaceng juga.

Kata master dari Lampung, inilah yang namanya mengontrol bladder atau kencing. Ini sejenis penyiksaan yang bikin menderita, tapi budak-budaknya justru bahagia mendapatkan perasaan ini. Cuma ya karena pengetahuan Pak Fahri soal BDSM masih sangat minim, aku mah enggak muluk-muluk mempraktikkan BDSM betulan.

Malah, aku dengan baik hati langsung membuka celanaku, melumuri kontolku dengan minyak zaitun, terus aku coblos pantatnya Pak Fahri sampai mulut guru itu menganga lebar.

“Aaargh!” jeritnya menahan sesuatu. Yang pasti, bukan rasa sakit. “Satria ... Bapak enggak kuat lagi. Bapak ....”

“Udah, keluarin aja, Pak.”

Sambil aku menggenjot pantat Pak Fahri, air kencing itu pun keluar dari lubang kontolnya. Suuurrr ...! Suuur ...! Suuur ...! Karena kondisi batangnya sedang mengacung keras, air kencing itu keluar seperti disemprot secara bertahap, mengencingi wajah Pak Fahri. Guru itu berusaha menutup mulut dan menjauhkan mukanya. Namun air kencingnya sendiri tetap melompat satu per satu ke area sana.

Bagus. Memang itu yang aku cari.

Aku enggak berhenti menggenjot Pak Fahri sampai aku pun crot di dalam tubuhnya. Pak Fahri sudah meminta ampun berkali-kali, tetapi dia selalu gagal mengatakan kata kunci. “Risoles! Risoles!” Aku ya lanjut aja Kang. Kan, kata kunci yang bener harusnya rengginang. Lagian Pak Fahri juga keenakan, kok. Selama aku genjot dan akhirnya aku crot sepuluh menit kemudian, Pak Fahri crot dua kali dan terkencing-kencing tiga kali.

Badannya basah oleh air kencing sekarang. Juga pejuh yang meleleh di sekitaran kontolnya. Jadi, tanpa aku pegang sekali pun itu kontol, tahu-tahu air mani keluar pelan-pelan dan jatuh ke atas perutnya. Enggak crot-crot kayak seharusnya. Tapi tetep aja, itu namanya ejakulasi. Dan itu pasti enak, kan Kang?

Aku enggak mau ngebayangin lagi suasana ruang nonton itu kayak gimana. Apalagi sekarang digenangi air kencing Pak Fahri sendiri. Setelah aku crot, aku keluarin kontolku dan siap-siap untuk pulang. Sebelum pulang, dalam kondisi Pak Fahri masih terikat, aku bilang begini, “Bapak masih mau dibikin enak?”

Anehnya, ini guru mesum malah bilang, “Mau, mau!” Sambil ngangguk. Yang berarti, dibikin ngencingin wajah sendiri enggak mengubah pandangan Pak Fahri soal Satria. Sudah jelas ini guru goblok yang perlu dipermainkan sampai ambang batasnya. Karena orang kayak dia membuat nama guru menjadi buruk. Dia melecehkan guru yang merupakan profesi mulia dan bermartabat. Dia enggak bisa ngontrol nafsunya pada manusia. Udah punya istri punya anak, murid SMP dan SMA diembat juga.

Next time kita apain nih Kang si Pak Fahri ini?

“Oke, aturan pertama, berhenti WA saya. Paham, Pak?” titahku.

“Tapi kalau saya pengin dibikin enak lagi, gimana Sat?”

“Ya gimana saya, lah Pak. Bukan gimana Bapak. Kalau saya mau, Bapak baru bisa dapat enaknya. Paham?!”

Kemudian, aku pergi dari rumah itu. Tentunya setelah aku melepas satu aja ikatan tangan Pak Fahri, dan kubiarkan Pak Fahri membuka sendiri ikatan tangan yang satunya lagi. Seraya Pak Fahri sibuk ngebuka ikatan itu, aku punya waktu buat kabur tanpa perlu kepergok bahwa aku bukanlah Satria kesayangannya.

Kisahku sama Pak Fahri, belum berakhir.

[ ... ]

< Sebelumnya | Berikutnya >

Komentar