Part 6: Bang Raka
Dia melepaskan celana
pendek jins itu dari panggulnya. Di balik celana itu tidak ada celana dalam.
Jadi, kontol Bang Raka langsung terkuak di depan mataku. Apalagi posisi Bang
Raka berdiri. Kontol itu cuma beberapa senti depan hidungku.
Apa kontolnya gede?
....
Pffft!
Jiaaahhh ...
terong belanda aja enggak akan minder ngelihatnya.
Pertama, nyambung ke
intro awal aku tadi, aku téh udah
ketemu berbagai laki-laki dalam perjalanan ke Weningmas. Yang berarti, aku
ketemu berbagai jenis dan bentuk kontol. Masih ada selusin kontol yang lebih besar
dari kontolnya Bang Raka ini. Jadi, aku ngakak aja dalam hati.
Kedua, beda kontol Bang
Raka sama kontolku signifikan, Kang. Dan kontol kami masing-masing lagi dalam
kondisi lemes. Lagi bobo cantik. Siapa yang lebih gede? Ya akulah, Kang. Hehe.
Aku langsung berdiri,
ngebuka celana aku sampe ke celana dalamnya. Lalu aku angkat seragam SMA aku.
Aku pamerin lah kontol sendiri.
Aku lihat Bang Raka
menelan ludah pas lihat kontol yang ngegantung di selangkangan aku. Kontolku
itu menggantung ke bawah melebihi buah zakarnya yang lagi enggak kencang juga.
Akang tahu kan pas biji peler ngerut jadi bulet sama kendor kayak kulit
nenek-nenek? Nah, biji pelerku téh
lagi kendor kayak kulit nenek-nenek. Yang berarti ngegantung ke bawah kayak
kantung kresek diisi air. Lalu kontolku menggantung lebih panjang dari itu.
Akang bisa ngebayangin,
kan?
Bang Raka membeku
melihat penampakan itu. Apalagi kontol Bang Raka itu enggak lebih panjang dari
biji pelernya sendiri. Dan buah zakar Bang Raka tuh lagi mengerut kencang ke
atas, kayak dua telur yang dibalut sweter.
“Licik, ah! Curang!” sahut Bang Raka enggak terima. “Kamu mah lagi konak, nya?!”
Konak artinya kontol
naik ya Kang. Alias ngaceng. Bukan takjil
buka puasa.
“Enggak, A. Pegang wé. Ini lagi lemes, da.”
Bang Raka langsung menyambar
kontolku. Dia meremasnya, dan menemukan kontolku memang lagi lemas. Dia bahkan
memelintir, memutar ke atas, memilin ke bawah, menarik maju mundur, dan segala
jenis cara untuk memastikan kontolku lagi lemes. Sebab kalau lagi ngaceng, enggak mungkin semua manuver
itu bisa dilakukan.
“Anjing,” gumam Bang
Raka, sambil menelan ludah. Dia menyadari bahwa kontolku emang lagi lemes.
Jadi, tolong jangan
bayangin kalau udah ngaceng ya Kang.
Serem. Pak Fahri aja sampai takluk dan nunduk nurut sama kata-kataku kemarin.
Kayaknya Bang Raka bakal takluk juga.
Aku pura-pura kaget
sambil memegang dahiku. “Aduh, aduh ... kayaknya saya menang ya A? Haduuuh ....
Hapunten pisan, A. Punteeen pisan. Sugan téh Aa bakal lebih gede dari saya A kanjutna.”
Bang Raka masih belum
berkomentar. Dia masih menatap kontolku dengan tatapan kalah.
Sekarang aku tutup
setengah mukaku dengan tangan. “Ya udah A, enggak usah aja. Enggak apa-apa saya
mah. Saya datang aja ke nikahan
temannya Teh Mira—”
“Enggak!” tegas Bang
Raka tegar. “Sebagai preman, saya akan nepatin janji saya!” Bang Raka bahkan
mendengus. Lagaknya sudah seperti bajak laut.
Dalam hati aku
tersenyum.
“Eh, enggak usah, A.
Kalau Aa enggak suka jari saya masuk ke—”
“Bacot!” sahut Bang
Raka. “Mun saya kalah, ya saya kalah.
Dan saya harus nepatin janji saya dengan menuhin permintaan kamu! Sekarang
juga, saya perintahkan manéh masukin curuk manéh ka bujur saya! Itu perintah!” Bang Raka mendengus lagi seperti
kerbau.
Aku menelan ludah,
pura-pura canggung. Padahal aku menelan ludah karena sudah tak sabar ingin
menikmati lubang pantat Bang Raka, sang preman ganteng.
“Tapi ada satu syarat
yang harus kamu penuhi!” tegas Bang Raka. “Dan ini penting!”
“Apa itu, A?”
“Kamu enggak boleh
bilang-bilang ke siapa pun kalau saya kalah dari kamu! Kalau kamu bilang ke
satu orang aja—” Bang Raka menganimasikan leher dipotong menggunakan
telunjuknya, “—kamu modar! Paham?!”
“P-paham, A.”
Bang Raka pun nungging
di depanku. “Gimana? Begini?”
“Ngng ... di atas kasur
aja, A. Telentang. Jangan begini. Takutnya sakit.”
“Apa bedanya, Njing?!”
protes Bang Raka. Tapi dia nurut juga. Bang Raka naik ke atas tempat tidurnya,
tidur telentang, mengangkat kedua kakinya ke atas, memamerkan lubang pantatnya.
Wow. Boolnya indah, Kang. Ada bulu-bulu hitam
di sekitarnya, memenuhi sekitaran lubang, lalu memanjang di belahan pantat Bang
Raka. Sekitaran lubang itu berwarna lebih gelap, khas pemuda-pemuda kampung.
Tapi buat aku mah ini pemandangan
surgawi.
Bang Raka memejamkan
matanya, tak mau melihat prosesi memalukan itu. “Burukeun!” titahnya tergesa.
Aku segera mengeluarkan baby oil yang kucuri dari meja rias Tono
tadi. Kulumuri jemariku dengan minyak tersebut. Lalu, aku mengusap-usap
sekitaran lubang pantat Bang Raka dengan jariku. Bang Raka awalnya terentak
geli, dia sampai menunduk ke arahku.
“Anjing, naha getek?!” serunya. Bertanya, mengapa
rasanya geli?
“Aku ... aku bikin
relaks dulu, A. Biar enggak sakit. Boleh?”
“Sok!” titah Bang Raka mempersilakan. Dia kembali merebahkan
kepalanya di atas tempat tidur, memejamkan mata lagi.
Kuusap-usap dan kupijat
lagi sekitaran lubang pantat Bang Raka. Preman bertubuh besar itu sesekali
terentak karena geli, atau badannya merinding karena keenakan. Aku mah yakin banget dia keenakan. Tapi dia
enggak mau ngaku. Kelihatan kok dari lubang pantatnya yang mengembang dan
mengempis berkali-kali setiap jemariku bergerak-gerak dengan licin di
sekitarnya.
Kalau mengerut ke dalam,
dia sedang menutup pintu bool. Kalau
mengembang keluar, berarti dia sedang membuka pintu bool dan melonggarkan otot-ototnya. Yang perlu aku lakukan mah melihat apakah mengembang keluarnya
sudah lebih banyak dari mengerut ke dalam? Karena kalau sudah, berarti Bang
Raka udah rileks.
Preman itu, ajaibnya,
enggak komen apa-apa menikmati pijatan dan usapan jariku di pantatnya. Malah
sesekali aku lihat dia senyum-senyum keenakan merasakan sensasi surgawi itu.
Lama-lama, setelah lubang pantatnya mengembang keluar terus-menerus, mulutnya
menganga kecil sambil mendesah.
Ini waktunya.
Aku lumurin lagi
telunjukku dengan baby oil. Kemudian,
telunjukku masuk ke pantatnya Bang Raka. Preman itu kayak enggak merasakan apa
pun. Dia masih sibuk mengangkat kakinya ke atas, mengepit lututnya sendiri
dengan kedua tangan, lalu memejamkan mata dan berkonsentrasi. Telunjukku masuk
perlahan-lahan ... pelaaan banget ... sampai akhirnya aku masuk ke satu ruang
rektum di dalam. Yang berarti, aku baru aja melewati jaringan otot utama lubang
anus.
Di bagian setelah
jaringan otot itu, ada satu organ kecil yang mengatur saluran kontol. (Bukan
kontrol, ya. Tapi kooontol.) Seperti pintu air yang mengatur, “Apa nih yang mau
keluar? Kencing apa air mani?” Kalau kita sentuh dari belakang, dari lubang
pantat, sensasi enaknya seks tuh ada di situ. Namanya apa? Akang pasti tahu.
Namanya prostat.
Dan aku téh tahu ini semua dari seorang dokter
yang nolong aku di Cilegon. Dia téh
yang nyetir mobil mewah, dia sempat biarin aku nginep di rumahnya untuk eksplor
bagian tubuh, dan dia nganterin aku sampai ke Jakarta. Tapi cerita soal si
dokter ini mah kapan-kapan aja ya
Kang. Kita fokus ke Bang Raka dulu.
Setelah jemariku masuk
ke dalam, aku lekukkan itu telunjuk agar menyentuh bagian prostat. Apa yang
terjadi dengan Bang Raka?
“ANJING!” seru Bang Raka
sambil memelotot dan mengembuskan napas panjang.
“Kenapa, A? Sakit?”
tanyaku.
“Enak!” sahutnya.
“Oh. Saya keluarin aja? Takutnya
sak—”
“HEH!” hardik Bang Raka
sambil tiba-tiba bangkit dan menarik kerah kemejaku. Badanku ditariknya
mendekat secara paksa. “Jangan dikeluarin! Awas kalau dikeluarin!”
“Enggak sakit emang, A?
Saya kirain sakit.”
“Enak, nyaho! Aaahhh! Lagi!”
“Lagi apa?”
“Lagi yang barusan
kamu—aaahhh!” Bang Raka membelalak lagi saat telunjukku memainkan lagi prostat
di bagian dalam itu.
Berhasil.
Aku berhasil membuat
Bang Raka merasakan nikmatnya prostat atau sentuhan dari dalam pantat. Dalam
hati aku tersenyum. Dari ngobrol dengan Satria tadi, aku udah berfantasi ke
arah sini. Dan ternyata rencanaku ini berjalan sukses.
Bang Raka kembali
merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia melepaskan genggaman tangannya di
kerah kemeja aku. Punggungnya melengkung karena keenakan. Kakinya diluruskan
mengacung ke udara, bahkan pahanya kayak pengin dirapatkan, tapi karena ada
kepala aku di situ, Bang Raka tahan-tahan. Aku lihat Bang Raka nutup muka pake
kedua tangannya.
Selama bermenit-menit,
aku mainin telunjuk aku di dalam pantat itu. Aku tahu persis yang mana prostat,
jadinya kalau aku tekan, badan Bang Raka langsung bergidik.
Gimana kondisi kontol
Bang Raka?
Udah keras atuh, Kang. Tapi Bang Rakanya aja belum
nyadar kalau lama-lama dia ngaceng
ngerasain permainan di dalam pantat itu. Kontolnya pas ngaceng ternyata panjangnya sama kayak kontol aku pas lemes. Dan
aku baru ngeh kenapa Bang Raka punya gestur pengin ngerapetin paha ... ternyata
dia pengin bikin kontolnya enak.
Ya udah wé, aku dengan inisiatif maju lebih
dekat, aku simpan betis Bang Raka di masing-masing bahuku, lalu aku lumurin
tanganku yang bebas pake baby oil,
dan aku genggam kontol Bang Raka dengan lembut.
“AAAHHH ...!” Desahan
Bang Raka semakin kuat. Malah mungkin bakal kedengaran sampe dapur. Aku lihat
mulut Bang Raka menganga lebar.
Jadi, aku cabut
telunjukku. “Sakit, ya A?” tanyaku, pura-pura enggak tega.
Bang Raka menempelkan
dagu ke dada dan menatap menatapku. “Ari
sia naha eureun?!” hardiknya dalam bahasa Sunda kasar, yang artinya kenapa berhenti? “Masukin lagi!” Satu
tangan Bang Raka terulur ke leherku, lalu mencekikku. Seolah-olah memasukkan
jari ke pantatnya Bang Raka adalah perintah wajib sekarang.
Bagus, batin
aku. Emang itu tujuanku.
Aku masukkan lagi
jariku. Kali ini, tanpa Bang Raka ketahui, aku masukin dua jari. Yaitu itu
telunjuk dan jari tengah. Udah pasti lah aku tambahin dulu baby oil biar licin. Tapi karena ada dua jari, jadinya agak-agak
susah masuk ke dalam. Cuma Bang Raka kan enggak tahu ada dua jari di situ, dia mah dengan anteng longgarin otot
sekitaran lubang pantatnya, sehingga telunjuk sama jari tengah aku masuk juga
akhirnya. Setelah masuk, ya aku mainin lagi dong prostat itu.
“Aaahhh ....” Bang Raka
semakin keenakan.
Ditambah lagi, satu
tanganku yang lain sekarang ngocokin kontolnya Bang Raka. Itu preman beneran enggak
ngeh lagi dibikin enak ala ala maho.
Dia malah sibuk nutup tangan pake muka, menikmati sensasi prostat digelitikin.
Apa yang terjadi lima
menit kemudian?
Crot crot crot,
lah!
Sperma Bang Raka
langsung menyembur keluar, jauuuh banget sampe ngelewatin kepala Bang Raka.
Crot pertama mendarat di tembok. Crot kedua mendarat di dahi Bang Raka. Crot
ketiga di mulutnya. Crot keempat di dadanya. Crot kelima di perut. Baru deh
crot-crot terakhir meleleh di bawah kontolnya.
Bang Raka tentunya
mengerang keenakan, “Argh! Argh! Argh!”
seiring crot yang keluar. Badannya gimana? Bergetar lah Kang. Kayak lagi
kesetrum dan dicabut nyawanya.
Itu pemandangan paling
indah buat aku. Kontolku juga ngaceng
dari tadi, tapi kan Bang Raka enggak tahu. Dan untuk sekarang, enggak perlu
tahu dulu. Malah, setelah ngeluarin jariku pelan-pelan dari pantatnya Bang
Raka, aku langsung pake lagi celanaku. Jangan sampai aku ketahuan ngaceng sama Bang Raka.
Sore ini mah aku cuma perlu nikmatin mengontrol
hasrat dan kenikmatan preman Weningmas. Preman ganteng, narsis, digosipin
berkontol gede, dan tentunya dominan. Rasanya mendebarkan bisa membuat sosok
laki-laki superior semacam Bang Raka berada dalam kuasaku. Itulah esensinya aku
ngelakuin ini semua. Aku mulai enggak tertarik menggenjot perempuan, karena
rasanya gampang.
Tapi menggenjot
laki-laki, yang beneran laki-laki ya, bukan ordonya Tono, adalah tantangan
tersendiri. Dan sore ini, aku masuk tahap pertama mengontrol Bang Raka.
(Kontrol ya Kang, bukan kontol. Kooontrol!)
Apa aku akan menyodomi
Bang Raka sore ini? Enggak, lah. Justru misi utamanya ngebikin Bang Raka
terngiang-ngiang sama permainan jariku di pantatnya. Besok-besok, siapa tahu
dia request kontol aku yang masuk ke boolnya.
Cerdas, enggak?
Emang agak tanggung, sih.
Sebab aku juga pengin crot pas
ngelihat preman berbadan besar ini secara tak berdaya ejakulasi di tanganku.
Tapi aku harus sabar. Aku langsung berdiri, mengelap tanganku dengan handuk
entah bekas apa yang ada di atas lantai, membiarkan Bang Raka terkulai lemas di
atas ranjang.
“Ma-maaf, A,” kataku,
pura-pura merasa bersalah.
“Apa, Njing!” hardiknya.
Tapi masih mager.
“Maaf Aa jadi ... ngng
... jadi keluar itunya—”
“Bacot, manéh!” sentak Bang Raka. “Enak tahu
barusan téh! Belajar dari mana kamu?”
“Belajar sendiri.”
Bang Raka mendengus dan
memikirkan sesuatu. “Inget, nya! Jangan bilang siapa-siapa soal barusan!”
“Enggak akan, A,”
kataku, pura-pura ketakutan. Aku menelan ludah dan bertanya. “Ya udah, aku
temenin Teh Mira aja nanti. Maaf ya A.”
“Enggak usah!” sergah
Bang Raka, sambil memindahkan posisinya lebih nyaman di atas tempat tidur.
Badannya masih telanjang, dipenuhi sperma dan keringat, dadanya masih kembang
kempis mengatur napas karena sensasi crot
barusan enaknya pasti seperti surga. “Saya aja yang temenin si Mira!”
“Terus Teh Nenengnya
gimana?”
“Alah, éta mah ngké deui!” sahutnya. Katanya, itu mah nanti lagi aja. “Saya malah pengin
lagi yang barusan sama kamu dicolok-colok. Ternyata enak, euy! Kamu mau lakuin itu lagi enggak?!”
Pelan-pelan aku
ngangguk. “Kalau Aa suka, sih ... boleh, A.”
“Bagus!” Bang Raka
mendengus karena lelah. “Pokokna besok-besok mun saya pengin dibikin enak, kamu harus siap! Sekarang mah, sana pergi dari sini! Saya pengin
tidur!”
Berhasil.
Misiku berhasil.
Aku keluar dari kamar
Bang Raka sambil berjalan penuh gaya, kayak di film-film laga yang di bagian
belakangnya ada ledakan api besar. Andai ada kacamata hitam, pasti aku pake itu
kacamata.
Aku balik lagi ke kamar
Tono dengan perasaan puas. Aku lap tanganku yang penuh baby oil dengan tisu, lalu aku pura-pura berbaring di atas kasurnya
Tono. Itu banci muncul sekitar sepuluh menit kemudian bawa dua piring spageti.
“Aduuuhhh ... maaf ya, Jaaal ... aku kelamaan, ya? Pasti kamu bosan banget ya
nungguin di sini?”
“Gapapa, kok,” jawabku sambil tersenyum.
“Aku jadi ngerasa enggak
enak. Nanti aku bekelin rengginang deh buat di rumah, sebagai ganti kamu nunggu
lama di sini, terkurung terpenjara dalam kamar. Padahal kalau kamu mau mainin
koleksi CD Korea aku, boleh, kok. Ada NCT, BTS, EXO, yang Blackpink juga ada.”
“Gapapa. Aku tadi udah nonton Youtube.”
Aku pulang dari rumah
Tono sekitar pukul lima sore. Tono bersikeras ingin mengantarku ke rumah. Tapi
aku menolak. Aku cuma nerima diantar sampai pasar aja. Terpaksa Tono menurut.
Aku juga udah agak kenyang sama spageti dan kue-kue kering lebaran yang
disajikan kepadaku. Malah aku sekarang bawa sekantung besar isi rengginang,
kerupuk ikan, dorokdok, kue-kue, dan manisan salak.
Apa aku pulang ke rumah
setelah Tono nge-drop aku di pasar?
Enggak, lah Kang.
Sebab setengah jam
sebelumnya, Satria ngirim WA ke aku, “Jal!
Si Babi menta aing main ke rumahna! Rumahna lagi kosong. Istri sama anakna lagi
ke rumah nenek. Gimanain nih?!”
Aku balas, “Kasih aku alamatnya, suruh dia tutup mata
pake kain.”
“Hah?! Kamu mau ngapain ke dia?” balas Satria.
“Ngasih pelajaran, lah. Kamu mau ikut, Sat?”
“EMBUNG!” Satria menggunakan huruf kapital dengan jawaban, “Enggak
mau!”
“Ya udah. Suruh dia jangan kunci pintu depan. Suruh dia tutup mata pake
kain. Kasih alamatnya ke aku. Biar aku kasih pelajaran. Entar aku kirim fotonya
ke kamu. Kalau kamu mau ikut, silakan. Kalau enggak, biar aku yang ngurusin.”
“Tai! Najis aing main ke rumahna si BABI! Nih, alamatna! Silakan lakukan
apa pun.”
Memang itu rencanaku
kok, Sat. Yaitu pergi ke sana sendirian. Tanpa kamu.
Jadi, Kang, ini adalah
ceritaku yang keempat hari ini. Aku datang ke rumah Pak Fahri. Agak jauh dari
sekolah, tapi aku berhasil nebeng naik ojek yang kubayar dengan semua makanan
dari Tono. Abang ojeknya seneng banget dapat makanan sebanyak itu. Begitu aku
masuk ke rumahnya, sesuai arahan Satria, pintu depannya enggak dikunci. Pas aku
masuk, ada yang manggil, “Satria? Itu kamu?”
Dengan cempreng aku
jawab, “Iya! Bapak udah tutup mata?”
“Udah!” jawabnya
gembira.
Di ruang tengah rumah
Pak Fahri, guru sekolah kami itu sudah duduk dengan manis. Kedua matanya ditutup
oleh kain. Aku kunci pintu depan, dan aku hampiri Pak Fahri. Sebelum aku sampai
ke sini, aku nyemprotin segala jenis wewangian yang ada di meja riasnya Tono,
supaya Pak Fahri enggak mencium bau parfumku.
“Bagus!” kataku, sambil
memegang dagunya. Aku tersenyum lebar dan berkata, “Sekarang, berdiri. Lepas
celananya!”
Lima menit kemudian, Pak
Fahri sudah telanjang bulat.
Tapi maaf, Kang. Cerita
bagian ini, kita simpan untuk episode berikutnya. Setuju?
Nyantai wé, Pak Fahri emang udah ngebet pengin dientot sama Satria. Jadi Pak Fahri
enggak akan kabur ke mana-mana. Selama seminggu terakhir aku mantau chat Pak Fahri sama Satria, termasuk
gimana Pak Fahri ngelihatin Satria setiap berpapasan di koridor. Pak Fahri sama
sekali enggak dendam atas apa yang terjadi di perpustakaan. Yang ada malah Pak
Fahri ketagihan ngerasain kontol di dalam boolnya.
Kontol yang dia kira kontolnya Satria.
Padahal itu kontolku.
Jadi ... sampai ketemu
di lubangnya Pak Fahri besok, ya Kang!
Salam.
[ ... ]

Komentar
Posting Komentar