Bocah Titipan Prolog

 


Prolog

 

Nama desa itu Weningmas. Berada di pertemuan Kabupaten Sukabumi dan Cianjur, berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Populasi laki-lakinya lebih banyak dibandingkan perempuan. Masyarakatnya menggantungkan hidup dengan mencari ikan, menambak buntal, berkebun kelapa, karet, dan kopi, bahkan menjadi satu-satunya kecamatan di Jawa Barat yang menghasilkan minyak fosil ketika daerah lain di Tanah Pasundan ini hanya menelurkan batu-batu mulia seperti andesit, kapur, dan gamping.

Aktifnya sumber daya alam yang dihasilkan Desa Weningmas membuat laki-laki pendatang menetap cukup lama dan menjadikan populasi gender tidak imbang. Untuk memperparah, rumor mengatakan Mak Erot dan beberapa legenda pembesar kelamin sebenarnya berasal dari desa ini.

Itulah mengapa tambak buntal di sini cukup maju. Buntalnya bukan untuk dikonsumsi, melainkan untuk memperbesar kemaluan laki-laki. Jadi desa ini sudah ditakdirkan menarik laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan. Wisata urut kemaluan menjadi wisata rahasia yang hanya tersebar dari mulut ke mulut saja, khususnya mulut laki-laki.

Siang itu, seorang laki-laki lain datang ke desa dan tampaknya akan tinggal lama. Dia turun dari sebuah bus jurusan Bandung-Sukabumi, melompat di depan Terminal Weningmas yang sepi. Tak ada lagi penumpang lain yang turun selain dirinya. Kakinya melangkah menyusuri jalan utama provinsi ke bagian-bagian pedesaan yang diaspal seadanya di tengah padang rumput.

Pemuda itu memegang sebuah surat yang lecek karena digenggam dan dilipat berkali-kali. Dia menghela napas lelah sambil sengaja melewati pematang sawah, menyeimbangkan tubuhnya dengan merentangkan tangan. Mengusir burung-burung dari padi menghibur hatinya untuk sesaat. Meski itu mengambil alih pekerjaan bebegig di sekitarnya.

Tak apa. Yang penting dirinya bisa tersenyum setelah dua minggu terakhir mengalami kejadian traumatis bersama keluarga.

Ayah dan ibunya mati. Dalam sebuah insiden kapal laut. Cerita lengkapnya mungkin disampaikan nanti, saat pemuda itu punya suasana hati yang baik. Yang dia tahu, dia harus menyampaikan surat lecek itu kepada seorang guru di Desa Weningmas. Setelah berkelana berhari-hari menuju tempat ini bermodalkan uang lima puluh ribu saja, pemuda itu tiba juga di lokasi tujuan.

Dia sudah tak punya uang. Jadi dia mencuri jambu air yang berwarna merah di sebuah pekarangan rumah yang sepi. Dia memanjat seperti monyet ke batang pohon yang dipenuhi ulat dan semut merah, menyantap jambu sepuasnya, lalu turun dan menepuk-nepuk tubuhnya yang mulai gatal-gatal.

Alamat rumah itu berada tak jauh dari pohon jambu. Rumahnya mungil, asri, bersih, dan indah. Seperti rumah di dalam buku paket bahasa Indonesia saat SD dulu. Ada halaman depan yang dipenuhi tanaman-tanaman lokal, teras yang sejuk dengan dua kursi rotan diletakkan berpasangan, bagian bawah dinding yang diciprati tanah merah karena hujan, dan beberapa ekor ayam yang berkeliaran.

Dia masuk menyusuri jalan setapak menuju teras. Diketuknya pintu depan hingga seorang laki-laki dewasa muncul sambil menyipitkan matanya.

“Wa ‘alaikum salam. Mau nyari siapa, Kang?” tanyanya.

Pemuda itu menyerahkan surat di genggamannya begitu saja. Kemudian, dia duduk di kursi rotan sambil mengetuk-ngetuk lantai dengan tumitnya.

Laki-laki dewasa yang menjadi guru di satu-satunya SMK di Weningmas itu tak banyak bertanya. Dia membuka surat yang diterimanya, membaca susah payah tulisan yang kabur karena lecek, kemudian memegang dadanya penuh simpati.

Hal berikutnya yang guru itu katakan adalah, “Mangga, Jalu. Kamu boleh tinggal sama saya di sini.”

Pemuda itu menoleh dan tersenyum kecil.

“Turut berduka cita, ya Jal.”

[ ... ]

Berikutnya >

Komentar