Halo, Kak!
Terima kasih sudah mau dengerin ceritaku
yang biasa-biasa aja ini. Aku kasih disclaimer dulu, ya. Aku hanya
lelaki normal biasa.
Gay. Tapi normal.
Dalam artian, aku enggak punya prestasi
setinggi langit sehingga menjadi kebanggaan ortu. Aku juga enggak punya bakat
mumpuni buat jadi makeup artist, lalu masuk ke dunia showbiz.
Kepercayaan diriku enggak setinggi orang-orang, sampai aku bisa punya akun
media sosial yang follower-nya banyak. (Follower-ku cuma
seratusan di IG.) Badan dan wajahku nanggung, soalnya. Mau dibikin kekar, udah
telat. Mau dibikin cantik, enggak sanggup sama bully-an netizen.
Udah cukup dihina banci sejak SD. Aku
pengin punya kehidupan yang normal aja. Sebagai lelaki yang dianggap normal
oleh orang-orang. Yang mungkin punya jalan cerita normal juga. Aku tahu aku
enggak akan ngaceng lihat perempuan, tetapi aku enggak menutup pintu
untuk menikah dengan cewek suatu hari. Aku akan mereplika kelakuan homo-homo
lain yang menikahi cewek-cewek berjilbab yang haus suami, yang bisa ditipu,
bisa dimanipulasi, supaya di depan orang-orang aku terlihat sudah menikah.
Tapi itu rencanaku untuk nanti-nanti.
Aku belum akan mikirin itu di usia segini. Umurku aja baru 24 tahun. Belum
punya tabungan banyak untuk membina rumah tangga. Dan belum ditanyain juga sama
saudara-saudara, “Kapan kawin?” ketika lebaran tiba. Aku mau jalanin dulu
kehidupan normal sebagai petugas kesehatan di sebuah klinik swasta, di satu
pinggiran kota besar, dengan gaji pas-pasan, dan kehidupan percintaan yang
lumayan menyedihkan.
Namaku Rohmat. Pake O. Ortuku baby
boomers angkatan awal yang pedoman ejaannya masih Van Ophuijsen. Kakak
tertuaku namanya Soetjahjadi. Kakak keduaku, perempuan namanya Joejoen.
Dibacanya Yuyun, bukan Jojon. Bapak dan Ibu adalah sejenis warga negara
Indonesia yang percaya banyak anak banyak rezeki. Enggak heran kalau aku adalah
anak ke-13 mereka, yang lahir tahun 2000, berjarak 10 tahun dengan anak ke-12
yang lahir tahun 1990. Aku lahir sebelum ibuku menopause. Tepat sebelum rahim
ibuku berubah menjadi kesat dan kering.
Karena aku lahir telat dan agak jauh
dari semua saudaraku, aku merasa kesepian. Ketika aku masuk sekolah, rata-rata
semua kakakku sudah lulus dan bahkan sudah menikah. Dua keponakanku bahkan
lahir tahun 1997, lebih awal dibandingkan aku. Agak aneh kalau harus main ama
mereka. Sebab secara teknis, aku ini paman mereka.
Gara-gara itu, kurasa aku tumbuh jadi
orang yang introvert. Aku menemukan kedamaian dalam kesendirian. Aku
terbiasa tak punya siapa-siapa untuk mencurahkan energiku. Apalagi aku tumbuh ketika
teknologi sedang berkembang pesat. Dikasih hape, Wi-Fi, dan kamar
pribadi saja aku bisa survive.
Maka dari itu, karena aku enggak punya
banyak teman, aku akan bercerita denganmu saja, Kak. Aku akan ceritakan sebuah
kisah dalam hidupku, yang seharusnya normal dan biasa-biasa saja ini, ketika
Semesta memutuskan bahwa aku pantas mendapatkan kenikmatan yang tak bisa semua
orang rasakan.
Kemungkinan besar, kamu akan merasa iri
dengan apa yang kualami.
Aku yakin, kamu juga ingin berada di
posisi ini.
[ ... ]
Hi
Halo!
T/B?
Aku V
Bisa jadi T?
Bisa sih. Kamu B?
Fun?
Nanti malam paling bisanya. Kamu B?
Dmn?
Dekat lanud. Kmu?
Kos?
Iya kos. Kmu dmana?
Pic.
[sending photo]
Pic kmu mana?
Kmu big dick?
Biasa aja kynya. Pic kmu mana?
Halo?
Jadikah Mas?
Halo?
“Anjing!”
Bukan. Bukan kisah yang itu bakal bikin
kamu iri. Itu cuma kisah awalku hari ini yang dimulai dengan ngobrol di
aplikasi, berharap bisa ena-ena sepulang kerja nanti, tapi aku di-ghosting
untuk kesekian kali.
Hari ini tuh kebetulan aku kebagian shift
dua. Masuk pukul 10 pagi, pulang pukul 8 malam. Meski sudah bangun dari pukul
enam pagi, aku tetap rebahan di atas kasur sambil nge-scroll Tiktok.
Kebetulan aku udah lama enggak ngewe, bahkan udah lama enggak coli,
jadi aku buka aplikasi. Siapa tahu malam nanti bisa nyangkut satu laki di
sekitar sini, terserah mau itu top atau boti, yang penting aku
bisa crot bukan pake tangan sendiri.
Dari beberapa orang yang ngobrol
denganku di aplikasi, rata-rata enggak ada yang lanjut ke jenjang per-ngewe-an.
Alasannya macam-macam. Ada yang pengin ngewe sekarang, tapi aku enggak
bisa. Ada yang pengin pake poppers, tapi aku enggak punya. Ada yang
pengin dimentokin sampai mampus, tapi aku bukan kriminal. Sisanya mungkin
merasa aku bukan tipenya atau aku terlalu pendek, atau terlalu kurus, atau
terlalu kampungan mukanya. Entahlah. Urusan cari partner ngewe kan
subjektif, ya. Aku cuma bisa sabar dan terus berikhtiar.
Aku melihat jam di ponsel. Pukul 08.11.
Sudah waktunya mandi. Jam sembilanan aku sudah harus OTW ke klinik supaya
enggak telat. Enggak jauh kliniknya, tapi perjalanan ke sana enggak bisa
diduga-duga. Dengan malas-malasan aku menyambar handuk dan keluar dari kamar
kosan.
Kosanku enggak eksklusif. Kalian mesti
tahu dulu gaji perawat itu berapa supaya paham kami enggak mungkin sewa kosan
dengan kamar mandi di dalam. Jadi meski ukuran kamarku 3 x 4 meter dengan
jendela besar—ada dapurnya juga—kamar mandinya harus berbagi dengan penghuni
lain. Kebetulan aku tinggal di lantai tiga gedung kosan, lantai yang
penghuninya enggak banyak-banyak amat. Dari sepuluh kamar yang berjejer, hanya
enam saja yang terisi. Kamar mandinya ada lima, berjejer di ujung koridor, agak
jauh dari lokasi kamarku. Secara teknis, persaingannya cuma lima kamar mandi
banding enam orang penghuni. Enggak begitu besar.
Masalahnya adalah penghuni lantai dua
yang seluruh kamarnya terisi kadang menggunakan kamar mandi lantai tiga.
Salah satunya Ida.
Perempuan jalang itu adalah frenemy-ku.
Kadang jadi musuh, kadang jadi bestie. Aku enggak tahu pekerjaannya apa,
tapi dia selalu punya uang untuk beli mi bakso di dekat Indomaret. Jadi
kuasumsikan dia lonte. Penampilannya emang agak bohay dengan aroma
parfum berlebihan. Tapi dia baik. Kalau punya makanan lebih, aku pasti dibagi. Kalau
aku butuh duit, dia selalu ada untuk dipinjami. Paling mantap adalah dia tahu
aku gay dan enggak masalah dengan fakta ini. Malah dia kalau curhat
sering memperlakukanku seperti perempuan. Curhatannya dengan perspektif
perempuan yang ngomongin laki-laki.
“Ya lu pikir aja, emangnya segala
sesuatu tuh jadi baik gara-gara kontol?”
“Oh. Emang kontol dia oke?”
“Oke, sih. Bentar, bentar .... Nih, gue
punya fotonya.”
Aku jadi bisa melihat kontol lelaki straight
yang pernah nge-fuck Ida.
Jadi, aku enggak bisa benci lonte ini
sepenuhnya. Apalagi, kami berbagi satu kutukan yang sama, yaitu anak-anak
kelahiran 2000-an, dengan nama 80-an. Di tengah-tengah manusia seangkatan kami
yang bernama Kayesha, Ollafasya, Nayshilla, Thalita, Omprakasha, atau Lizzalea,
kami menyusup di tengah kerumunan dengan nama Rohmat dan Ida.
Harusnya aku membenci Ida karena dia
sedang mengantre di depan kamar mandi lantai tiga sambil melipat tangan di
depan dada. Rambut panjangnya yang diombre pirang dia urai ke depan bahu.
Jemarinya menyisir rambut yang ujung-ujungnya sudah bercabang itu.
“Kok elu baru keluar, anjing?” sapanya
dengan sopan.
“Kok elo ngantre di sini?” balasku
dengan sopan juga, sembari menyorongkan kepalanya ke belakang, hampir
membuatnya terjengkang dari lantai tiga.
“Penuh, anjing, di bawah.”
“Kan masih ada lantai satu.”
“Kagak mau. Jorok. Lantai satu kan laki
semua.”
“Halah, padahal kontol semua laki udah
lu sepong, giliran kamar mandi aja lu anggap jorok.” Aku menyorongkan
kepalanya lagi. Ida yang bersandar ke pagar koridor hampir terjengkang lagi.
Dan aku menyesal mendorongnya kurang kuat.
Aku turut bersandar ke pagar koridor,
melipat tangan di depan dada setelah mendapati lima kamar mandi di lantai ini
terisi semua.
“Eh, gue punya lilin sugar waxing,
gitu. Buat cabut bulu ketek. Lu mau enggak? Cuma tiga puluh rebu gue jual ke
elu.”
“Enggak. Gue suka bulu ketek gue.”
“Buat jembut Miss V juga bisa.”
“Kagak punya memek, gue!” Kudorong lagi
jidat Ida untuk ketiga kalinya hari itu. “Dan gue suka jembut gue.”
“Ya udah lu bantu gue jualin, napa? Gue
ada tiga lusin soalnya. Lu jual ke temen lu di klinik, kek. Jual tiga lima.
Untung lima rebu. Lumayan.”
“Gue tanya dulu temen-temen gue pada
pengin atau enggak. Lu Whatsapp-in aja produknya.”
“Ho-oh.” Ida paling enggak bisa kalau
enggak nyerocos panjang lebar ngomongin apa pun sama aku. Jadi selesai nawarin sugar
waxing buat ketek dan jembut, dia langsung curhat. “Gue mau ketemuan ama
cowok entar malam. Hihihi ....”
“Mau ngewe?”
“Iya dooong ...! Mukanya cakep, badannya
sterek, terus tinggi besaaarrr .... Gue udah ketemu dia di depan tukang
jamu depan sono, tapi belum sempat—“
Ceklek. Salah satu pintu kamar mandi terbuka.
Mbak Heni yang tinggal dua kamar dari kamarku keluar sambil menyapa kami dengan
senyum.
Ida langsung melompat ke kamar mandi
kosong itu. “Gue dulu!” Dan ceritanya enggak pernah selesai.
Ya gapapa juga, sih. Jujur aku malas
dengar cerita Ida. Aku iri karena dia bisa dengan mudah mendapatkan lelaki
untuk ngewe, sementara aku udah nurunin standar sejeblok apa pun di
aplikasi, tetap aja di-ghosting. Padahal aku enggak jelek, anjir.
Tinggiku 170 cm, di atas rata-rata
lelaki Indonesia. Kulitku mulus, rajin skincare-an. Muka lumayan
ganteng, pernah pacaran ama cewek di sekolah, waktu zaman-zamannya aku denial
soal seksualitasku. Mantan-mantan cewekku ini bilang mereka sudi pacaran
denganku karena aku ganteng dan imut. Kayak artis Korea. Dan dari semua homo
yang pernah ngewe denganku, semuanya sepakat aku ganteng.
Terakhir kali aku di-fuck gadun
pun, si gadun megang wajahku sembari menggenjot, terus berulang kali bilang, “Cute
banget kamu, Deeekkk ... Aaahhh ... aaahhh ... aaahhh ...! Ganteng banget kamu
... aaahhh .... Mulus .... Aaahhh .... Om bisa crot nih, ngelihatin muka
kamu doang .... Aaahhh .... Kamu kayak selebgram ... siapa tuh? Aaahhh
.... yang follower-nya banyak .... Aaahhh ... homo juga .... Dia ...
aaahhh ... Dek! Dek ...! Kayaknya Om mau keluar! AAARGH! AAARGH! AAAAAARGH
...!”
Di-fuck-nya cuma dua menit, tapi
seenggaknya aku berhasil mendapatkan testimoni itu.
Sayangnya, Semesta kayak enggak ikhlas
aku ngewe dengan strangers dari aplikasi hari ini. Mungkin aku
bakal coli aja nanti. Seperti biasa. Mungkin sambil buka Tevi juga, biar
bisa lihat kontol orang lain dikocok live streaming.
Kalau Ida bilang cowok dia malam ini
cakep, sterek, tinggi besar, kemungkinan besar itu fakta. Sebab, enggak
jauh dari sini, ada pangkalan TNI AU baru yang beberapa bulan terakhir ramai
diisi tentara angkatan udara. Lanudnya juga baru. Kadang suara pesawat latihan
yang terbang bisa kedengaran di mana pun di kota ini. Kalau tentara-tentara ini
kesepian dan pengin ngewe, cewek-cewek lonte macam Ida pasti nyangkut.
Basis mereka bukan di sini. Mereka ke sini untuk pelatihan selama beberapa
bulan, lalu kemudian ditugaskan ke tempat lain. Atau tentara yang sudah
berkeluarga pun, mereka di sininya hanya sementara. Saking barunya, belum
banyak tentara yang 100% berbasis di sini.
Makanya, aku bersyukur Mbak Heni keluar
dari kamar mandi, lalu Ida masuk dan mandi, sehingga aku enggak perlu dengar
cerita soal Ida dan lelaki berkarakter tentara ini. Nanti aku makin iri dengki,
makin punya hasrat untuk bikin Ida dimutilasi.
Aku suka banget tentara, Kak. Seksi
banget mereka.
Gagah. Ganteng. Rambut cepak. Kekar.
Kuat. Kokoh. Straight. Aaahhh! Prototipe manusia sempurna, lah.
Pengin banget, sebelum mati aku punya
kesempatan ngewe dengan seorang tentara.
(Amin. Amin. Amin. Amin. Amin. Amin.
Amin.)
Tapi aku tahu diri, kok. Misal enggak
berjodoh pun ya enggak masalah. Toh akhirnya aku punya rencana masa depan yang
sudah kususun dengan terpaksa. Umur 30 seenggaknya aku sudah punya perempuan
untuk dinikahi, atau mungkin aku sudah menikah. Jadi aku harus memanfaatkan
sisa enam tahun ini untuk berpuas-puas diri menikmati tubuh lelaki.
....
Aku akhirnya mandi sekitar lima menit
kemudian dan selesai dalam waktu sepuluh menit. Ketika aku keluar, kamar mandi
yang tadi diisi Ida sudah kosong, sehingga aku enggak perlu nungguin lonte itu
dulu. Aku berjalan setengah telanjang menuju kamarku, melilitkan handuk di
pinggang, menenteng peralatan mandi dan baju kotorku, lalu masuk ke dalam
kamar.
Pukul 08.57 aku sudah siap dengan
seragamku. Sudah mengenakan jaket dan sudah memasukkan semua kebutuhanku ke
dalam tas. Di titik itu aku sudah enggak mikirin lagi soal gagalnya aku
mendapatkan partner ngewe untuk nanti malam. Pikiranku sudah terfokus ke
kerjaan hari ini. Mengingat-ingat dengan keras, hasil lab mana yang harus
kuambil dan kukabarkan ke pasien. Atau apakah ada dokumen rekam medis pasien
BPJS yang belum kumasukkan untuk dilaporkan bosku ke BPJS Kesehatan.
Semacam itulah.
Sembari mengenakan sepatu, mengunci
pintu kamar kosan, lalu menuruni tangga ke lantai satu, kepalaku masih saja
berkutat ke hal-hal yang perlu kulakukan sesampainya di klinik nanti.
Namun, karena aku melamun, aku jadi
enggak waspada.
Tepat ketika aku menghambur keluar pagar
dengan agak tergesa (karena dari lantai dua barusan sempat melihat angkot yang
sedang ngetem di depan kosan), aku menabrak seseorang. Niatku mengejar angkot
itu, takutnya dia keburu pergi. Tapi aku malah ....
BRUUUKKK ...!
Menghantam sesosok tinggi besar dengan
badan kekar dan kokoh.
Saking kokohnya itu badan, akulah yang
terpelanting jatuh ke belakang—dianya sih enggak. Pantatku mendarat di atas
ubin kamar kosan paling dekat pagar.
“Oh, maaf,” katanya, sembari membungkuk
dan mengulurkan tangan. “Gapapa, Dek?”
Seorang tentara.
Seorang lelaki kekar, berbadan tinggi
besar, berambut cepak, mengenakan sepatu bot bersol tebal, celana tentara, dan
jaket pilot yang membungkus badannya dengan ketat.
Ada sepersekian detik aku membeku
terpana pada sosok itu.
Karena si tentara ini ganteng.
Tapi karena aku enggak boleh telat, aku
terima uluran tangan itu dengan segera, lalu melompat berdiri layaknya orang
normal lain kalau bertabrakan. Aku enggak punya waktu untuk menciptakan momen
film-film romantis, dengan lagu-lagu jazz yang mendayu, suara saksofon
berkumandang, kamera zoom in ke wajahku hingga mukaku ini memenuhi layar
bioskop, secara slow motion, lalu bunga-buang bertebaran di sekitarku,
lalu mataku tampak terpukau jatuh cinta dan ....
Enggak. Enggak cukup waktunya.
Aku tahu aku bakalan klepek-klepek ama
tentara ganteng ini, tapi aku harus segera mengejar angkot itu sekarang juga.
“Oh, oke, Mas. Makasih,” kataku sembari
berjalan lagi ke pagar.
“Kamu gapapa, kan?”
“Gapapa. Santuy. Makasih, Mas.”
Aku pun berlari ke arah angkot dan melompat masuk ke dalamnya.
Baru setelahnya aku menyadari, kenapa
aku enggak menikmati momen dulu barengan tentara itu? Pegang-pegang nenennya
yang keras, kek? Atau menuntut ganti rugi berupa nyepong kontol dia?
Tolol kamu, Rohmat.
Mana ini angkot ternyata masih ngetem
sepuluh menit sejak aku duduk. Kan aku masih sempat untuk bikin romantis, bikin
paling romantis dulu sama tentara itu. Sambil bermain mata, turun ke hati,
hatinya jatuh.
Ah, angkot goblok.
Sorry ya, Kak!
Komentar
Posting Komentar