Halo, Kak!
Kerjaanku di klinik harusnya simpel. Aku
membantu dokter yang bertugas untuk menjembatani segala keperluan medis yang
dibutuhkan. Misalnya mengecek tekanan darah pasien sebelum bertemu dokter, atau
bertanya secara kasual riwayat medis si pasien, atau apa keluhannya, dan segala
informasi yang mungkin akan bermanfaat bagi sang dokter sebelum pasiennya masuk
ke ruangan.
Namun mengingat ini klinik swasta, tentu
saja load pekerjaanku jauh lebih banyak dari itu. Aku mengurus
administrasi juga, kadang bantu menggerus obat, kadang mengepel lantai, kadang
mencatat rekam medis untuk medical check up yang dilakukan di luar (on-site).
Setiap bulan, selalu ada saja perusahaan yang melakukan medical check up
di kantor mereka, lalu meng-hire kami untuk menjalankannya di sana. Aku
dan tim datang ke lokasi dan memeriksa setiap karyawan.
Maklum, namanya juga klinik swasta.
Segala kesempatan untuk menghasilkan cuan akan dilakukan. Salah satunya
menggaji rendah seorang perawat, tetapi membiarkannya melakukan segala jenis
pekerjaan.
Aku enggak ngeluh. Demi Allah. Aku suka
pekerjaan ini. Setiap hari selalu ada drama medis yang berbeda dari pasien yang
datang dan aku hampir enggak pernah bawa pulang kerjaanku. Kalau pasiennya
ganteng, badannya kekar misalnya, aku akan ngelama-lamain cek tensinya supaya
aku bisa pegang-pegang bisep trisep kekar itu. Aku enggak perlu jaga malam
kayak perawat di rumah sakit. Aku enggak perlu ganti popok, bolak-balik ganti
infus, atau memasang infus, dan segala jenis kerepotan para perawat rumah
sakit.
Paling mantap adalah waktu menggosipkan
pasien, bersama kolegaku. “Lu tahu enggak bapak-bapak yang tadi pake kemeja
kotak-kotak? Yang enggak mau duduk?”
“Yang hemoroid?”
“Itu bukan hemoroid gara-gara ngeden,
anjir!”
“Hah? Gara-gara apa emang?”
“Itu fisura ani gara-gara dia
masukin sendok ke bool-nya.”
“Anjir, lah! HAHAHA!”
Ya, mohon maklum kalau kami ngomongin
pasien. Tapi aku bisa pastikan, semua kerahasiaan pasien itu enggak akan bocor
keluar.
Hanya bocor di dalam aja untuk hiburan
kami yang kadang gabut enggak tahu mesti ngapain.
Enggak setiap saat kasus pasien kami
layak untuk digibahkan. Kebanyakan kasus medisnya umum dan membosankan. Seperti
misalnya pagi ini. Setelah aku clock in dan duduk di meja administrasi,
di sebelah rekanku yang shift pagi, enggak ada berita yang menarik.
“Morning, Ca! Ada yang oke buat
di-spill enggak?” sapaku, sembari duduk di kursi kosong lalu menyesap
kopi yang langsung kubuat barusan setelah clock in.
“Enggak ada yang mantap. Kebanyakan
masuk angin, doang.”
Rekanku itu dipanggil Geca, tapi nama
KTP-nya Algheesa Famella Arshavina. Padahal dia kelahiran tahun 96, tetapi
orang tuanya sudah lebih advance ngasih nama dibandingkan ibu bapakku.
Dari nama cantik yang kebanyakan huruf A itu, nama panggilannya juga masih
imut: Geca. Karena waktu kecil Geca cadel dan kesulitan menyebut namanya
sendiri, Algheesa. Jadinya dia menyebutnya Geca.
Dari nama Rohmat, nama panggilan yang
bisa dipanggil, kalau enggak Omat, ya ... Roh.
“Dokter Keandra udah di dalam?” tanyaku,
sembari lanjut menyesap kopi.
“Udah. Datang pagi, dia. Pasien enggak
ada yang telat masuk. Bu Lusi juga udah datang. Ada janji katanya.”
“Ama siapa?”
Geca mengangkat bahu. “Eh, lu tahu
enggak si Lita yang kemaren resign, terus pindah ke RSUD?”
“He-eh. Kenapa dia?”
“Hari pertama dia di RS ketemu pasien
hantu, anjir!”
“Wah, seru! Gimana ceritanya?”
Oke, kamu enggak perlu dengar cerita
Geca kayak gimana, Kak. Aku cuma mau nunjukin aktivitas kami di klinik itu yang
secara rutin terlihat biasa-biasa aja. Kalau pasiennya sedang sepi kayak
begini—hanya ada dua pasien duduk di kursi tunggu ketika aku datang—aku dan
rekanku akan mengobrol ngalor-ngidul sampai muncul pasien baru untuk mendaftar.
Kalau enggak ada pasien sama sekali, dokternya keluar dari ruangan dan ikutan
ngegibah bareng kami. Kalau pasiennya penuh banget, sampe-sampe ada yang nunggu
di luar, aku bisa jadi enggak ngobrol sama rekan kerjaku karena kami sibuk
mendata pasien atau melakukan check up ringan.
Populasi karyawan di sini kebanyakan
perempuan. Laki-lakinya cuma aku, beberapa dokter yang datangnya pada jam-jam
tertentu, seorang apoteker, dan juga satu OB. Kesemua laki-laki ini juga jarang
interaksi, kecuali kalau makan siang bareng, tapi setelah kembali ke klinik
kami diam di station masing-masing. Berhubung pekerjaanku lebih banyak
beririsan dengan cewek-cewek tukang gibah ini (didukung oleh sifat sejati aku
yaitu seorang gay), alhasil aku dekat dengan mereka. Segala jenis gosip
aku selalu kebagian. Segala jenis curhat aku sering dibebankan.
Sayangnya, enggak ada satu pun dari
mereka yang tahu aku gay.
Di kota ini, yang tahu aku gay
hanyalah Ida dan semua homo yang pernah kutemui di aplikasi, atau sudah melihat
fotoku di aplikasi, kayak FunNowNPNC19cm yang pagi tadi meng-ghosting-ku
setelah kukirimkan foto. (Sampai sekarang dia masih belum membalas pesanku.) Di
depan cewek-cewek klinik ini, aku adalah laki-laki straight “normal”
yang harus terima nasib rekan kerjanya perempuan semua, jadi aku harus ikhlas
mendengarkan curhatan, gosip, atau spill the tea mereka. Di depan mereka
juga aku sering berbohong, seperti misalnya, “Iya, cewekku ada di Jakarta. Aku
ketemuan sama dia sebulan sekali, lah.”
Reus.
Pagi itu, karena klinik lumayan sepi, obrolan
Geca soal hantu yang ditemui Lita di RSUD berkembang ke sana kemari. Sempat nyambung
ke pasien duda yang melakukan pesugihan. Kostum baru penggoreng kerupuk yang
viral. Penjual teh tarik ganteng yang baru buka di Alfamart dekat lanud. Hingga
ke pencabutan bulu ketek menggunakan sugar waxing.
“Oh, ini temen gue udah balas,” kataku,
karena lima menit terakhir kami membahas soal cabut bulu ketek, dan aku
teringat produk sugar waxing-nya Ida. “Ready stock. Kalau bayar
hari ini, besok gue bawain ke sini. Ini mereknya.”
Di titik ini, dr. Keandra yang sedang
jaga, termasuk Marisa dari klinik gigi sudah kumpul di meja registrasi untuk
membahas soal cabut bulu ketek.
“Ada BPOM-nya enggak?” tanya dr. Keandra
sambil men-zoom in gambar yang dikirim Ida. Tapi sebelum aku menjawab,
dia sudah nemu jawabannya sendiri. “Oh, iya. Saya tahu ini mah. Lumayan
bagus katanya.”
“Bagus, Dok? Dokter pernah pake?” Geca
giliran melihat gambar kiriman Ida.
“Enggak pernah. Temen yang pake.”
“Aman?” tanya Marisa.
“Enggak tahu. Saya enggak pernah pake
sendiri. Biasanya ke beauty clinic.”
“Mahal ah, Dok. Aku mau cobain sendiri
aja. Enggak sakit, kan?”
“Katanya sih enggak.”
“Ini gimana sih Mat pakenya? Jelasin
lagi, please.”
“Ya udah nih, gue ulang.” Aku menggeser
kursiku membelakangi meja resepsionis, sehingga aku memunggungi pintu masuk. Dengan
tubuh tegak, aku mempraktikkan cara sugar waxing ke ketek yang
kuketahui. Kuangkat tanganku ke atas, “Lu bersihin dulu ketek lu, Sa. Exfoliate.
Di-scrub, digosok kuat-kuat, biar kotoran, sel kulit mati, sisa-sisa deo
lu, atau dosa-dosa yang nempel di ketek lu, luntur semua. Terus ....”
Kuambil gunting di atas meja registrasi,
lalu kugerakkan gunting itu ke ketekku, pura-pura sedang men-trim-nya. Kres!
Kres! “Elu gunting bulu-bulunya, kalau misal terlalu panjang. Lebih dari
tiga senti, gunting dulu. Tapi jangan terlalu pendek juga, entar sugar
waxing-nya kagak nempel.” Aku menatap ketekku sendiri, yang sebenarnya
enggak kelihatan karena aku sedang pake seragam. Lalu aku meniupnya. “FUH!”
Benar-benar serius mempresentasikan cara sugar waxing bulu ketek.
“Terus ..., anggap aja ini sugar
waxing-nya, yak!” Kuambil kotak bedak Geca di atas meja. Kubuka tutupnya,
lalu kucolek pura-pura ke kotak itu, “ambil dikit aja, terus elu olesin ke
ketek lu kayak gini.” Aku bahkan menambahkan desahan, “Aaahhh .... yamete
kudasai—agak anget, biasanya.”
Tapi mereka enggak ada yang ketawa.
“Pastikan seluruh bulu keteknya kena sugar
wax-nya, ya. Elu tungguin tuh sampe kering dan kerasa nempel. Kalau udah,
elu tarik ....”
Tunggu. Ada yang aneh.
Geca, dr. Keandra, sama Marisa enggak
menatap ke arahku. Sedari tadi mereka melihat ke sesuatu di belakangku,
seakan-akan ada hantu RSUD yang lagi melayang di depan meja registrasi. Wajah
mereka kayak terpukau, sih. Kayak lagi lihat pemandangan indah. Aku langsung
diam dengan satu tangan masih teracung ke udara, dan tanganku yang lain
mengipas-ngipasi ketekku sendiri, masih pura-pura sugar waxing.
Namun karena aku tahu ada orang di
belakangku, aku memutar kursi perlahan-lahan ke belakang.
Ternyata benar, di belakangku, sudah
berdiri seseorang. Dia menjulang tinggi, sedang anteng mengamatiku
mempraktikkan cara mencabut bulu ketek, dan dia pun menyapa ....
“Halo, Dek!”
Dia adalah tentara yang pagi tadi
kutabrak di depan kosan.
[ ... ]
Kalau aku punya akses ke dukun yang mujarab,
akan kusantet ketiga perempuan itu karena membiarkanku mempresentasikan cara
cabut bulu ketek di depan tamunya Bu Lusi.
Tamu tentara ganteng yang dadanya kenyal
nan tebal saat aku bertabrakan tadi.
Aku malu bukan main.
Mukaku langsung memerah seperti kepiting
rebus.
Tentara ganteng itu malah bertanya,
“Terus seudah ditarik, gimana lagi, Dek?”
Demi Tuhan, kalau nyawaku dicabut saat
itu juga, aku ikhlas. Itu adalah puncak rasa malu yang pernah kualami seumur
hidup. Sebagai orang introvert yang hanya bersikap konyol di depan
orang-orang dekat saja, aku enggak punya energi cukup untuk melakukan kebodohan
di depan orang asing.
“Eh, Pak. Hehe .... Ma-mau ...,
registrasi?” tanyaku salah tingkah. Lenganku langsung turun dan mengepit badan
dengan kuat. Tanganku sibuk mencari pulpen dan kertas, berlagak mau melakukan
registrasi.
Untungnya tentara itu baik. Dia hanya
terkekeh kecil dan menjawab, “Enggak, enggak. Saya mau ketemu Ibu Lusi, Dek.
Ada?”
“Oh, Bapak tamunya Bu Lusi?” tanya Geca
ganjen. Dia melompat dari kursinya dan langsung berjalan ke luar meja
registrasi. “Sini, Pak. Saya antar ke ruangannya.”
Begitu Geca lenyap ke lantai dua membawa
tentara ganteng itu ke ruang Bu Lusi, aku duduk dengan lemas di depan meja. Dr.
Keandra dan Marisa terkekeh melihat hal konyol yang kulakukan.
Marisa menepuk bahuku. “Lanjutin ih,
Mat! Kalau udah kering, digimanain?”
“Bodo!” sahutku sambil mendengus kesal.
“Googling aja sendiri!” Aku pun pergi ke toilet untuk menjedotkan
kepalaku ke tembok berkali-kali, menghukum diri sendiri karena sudah bertingkah
sangat memalukan.
DUK! DUK! DUK!
[ ... ]
Aku enggak mau bahas soal kejadian
memalukan itu. Sekembalinya dari kamar mandi aku langsung pergi ke station-ku
dan melanjutkan pekerjaan. Geca sudah ada di station-nya lagi, bercerita
soal tentara ganteng yang jadi tamunya Bu Lusi. Tapi aku enggak mau bergabung.
Marisa sempat mengajakku nimbrung. “Dia
udah datang pas kamu jelasin dari awal, Mat.”
“Iya,” jawabku, dengan nada tak peduli.
“Udah sih gapapa. Dia juga pasti paham
kita lagi bercanda-canda. Orang kita lagi sepi, kok. Lagi enggak ada pasien,”
sahut Geca. “Sini, sih. Aku mau bahas soal tentara yang tadiii ....”
“Gue banyak kerjaan, Ca. Bentar lagi dr.
Santo yang praktik. Gue yang harus assist dia.”
“Ck!” Geca berdecak kesal. Namun
hanya sedetik. Setelahnya dia menoleh ke Marisa dan melanjutkan ceritanya.
“Terus pas dia salaman ama si Bu Lusi, ya Allah ... gede banget tangannya, Sa!”
Sial banget sih aku hari ini. Sudah tak
laku di aplikasi, aku bikin malu di depan tentara seksi. Ya emang, itu tentara
enggak mungkin suka sama aku. Tapi tetap aja malu. Laki-laki, bahas waxing
ketek di depan perempuan. Enggak kebayang apa yang ada dalam pikiran dia.
Selama sepuluh menit berikutnya, aku
berusaha melupakan semua itu dengan lanjutin kerjaanku. Aku enggak mau overthinking.
Ngabisin energi aja mikirin sesuatu yang mungkin orang itu bahkan enggak
mikirin lagi. Aku kasih tahu diriku berulang-ulang bahwa wajar melakukan
kebodohan di depan umum. Enggak perlu dibesar-besarkan. Dalam dua minggu, semua
orang bakal lupa soal kejadian itu.
Kecuali Ida. Biasanya dia ingat semua
ketololan orang-orang, karena dia rajin menceritakannya kepadaku.
Tepat ketika aku merasa lebih tenang,
telepon di meja Geca berdering. Aku bisa dengar Geca mengangkat telepon dan
berbicara dengan seseorang. Setelah menyimpan lagi gagang telepon ke tempatnya,
Geca memanggilku.
“Mat! Lu diminta naik ke ruang Bu Lusi.”
Aku menelan ludah. Enggak tahu kenapa
jantung berdebar-debar. Berasa lagi mau ditilang polisi. Segala pikiran buruk
yang belum tentu terjadi langsung menghantam kepalaku. Aku berprasangka, si
tentara ganteng itu melaporkan kelakuanku di bawah, bukannya bekerja dengan
giat, malah bahas waxing ketek dengan rekan kerja yang lain. Mungkin aku
harus dipecat. Atau di-blacklist dari instansi medis mana pun. Termasuk
RSUD yang ada hantunya juga aku enggak akan diterima kerja di sana.
Pokoknya ketika aku bangkit dan berjalan
menuju tangga, segala pikiran buruk sudah mengisi kepalaku. Susahnya jadi orang
introvert adalah overthinking berlebihan. Mengira orang lain
punya banyak persepsi tentang kita, padahal orang lain sebenarnya enggak
mikirin-mikirin amat. Tapi beneran, sampe aku buka kenop pintu ruang Bu Lusi,
aku masih berpikiran aku bakal dipecat karena lalai bekerja. Dan aku sudah
menyiapkan diri untuk cari pekerjaan baru.
“Ya, Bu?”
“Masuk, Mat! Sini!” Bu Lusi melambaikan tangannya
sembari membereskan kertas-kertas di atas meja.
Ketika aku masuk, tentara ganteng itu
masih ada di dalam. Duduk tegak di depan meja Bu Lusi, tampak gagah dan
menjulang, padahal sedang duduk. Dia menoleh juga dan langsung tersenyum lebar
begitu melihat aku masuk. Energinya ramah dan baik hati. Aku makin enggak enak
sudah bercanda-canda di depannya beberapa menit lalu.
“Duduk, Mat,” kata Bu Lusi, semua
dokumen di meja dimasukkan ke lacinya, lalu dia menarik kalender. Bu Lusi adalah
manager operasional di sini. Dia juga seorang dokter dan punya jadwal praktik
di klinik ini pada hari tertentu. “Kamu ... enggak ada jadwal med-check
keluar, kan?”
“Bulan depan, Bu. Sama dr. Keandra,”
jawabku sembari duduk di kursi samping si tentara.
“Ooohhh ... yang pabrik tekstil itu,
ya?”
“Iya, Bu. Yang ngecek kadar
radioaktifnya juga, efek limbah tekstilnya.”
Bu Lusi manggut-manggut sembari tetap
mengamati kalender di depannya. Dia membolak-balik kalender itu hingga dua
bulan ke depan, seakan-akan sedang memperhitungkan sesuatu. “Cancel aja,
lah.”
Aku terkesiap kaget. “Apa?”
Di situ aku sudah yakin aku dipecat.
Dipecat karena bercanda-canda pada waktu
bekerja.
“Kita ganti ke si Geca aja, yang pabrik
tekstil itu.”
“Oh, oke.” Aku mengangguk pasrah. Tapi
kemudian aku teringat, “Kalau enggak salah, sih ..., Geca juga ada med-check
sama dr. Stephen di bank BUMN yang buka lowongan itu—“
“Iya, tahu. Tapi kan tanggalnya beda,”
sela Bu Lusi, sembari membolak-balik lagi lembar kalender, lalu memutuskan
dengan mantap bahwa Geca bisa melakukannya. “Jaraknya satu minggu. Bisa, lah si
Geca nemenin Stephen di situ.”
“Jadi ..., Geca yang med-check on the
road di pabrik tekstil sama bank BUMN?”
“Iya.”
Fiks, aku dipecat.
“Sebab saya mau ngasih kamu tugas baru,”
lanjut Bu Lusi kemudian.
Oh?
“Ini kenalin dulu, namanya Pak Fian.”
Tentara itu mengulurkan tangan ke
arahku. Dia mengatakan, “Rafianto.”
Aku merasakan jabatan tangannya begitu
kokoh dan tegas. Manly banget kayak tentara berpangkat jenderal. Ketika
aku menyebut nama, “Rohmat,” suaraku seperti cecurut kecil yang ketakutan. Vibes
deg-degannya sama kayak ngendarain motor di jalan raya, enggak punya SIM, lalu
di ujung jalan ada sekumpulan polisi lagi ngadain razia.
“Pak Fian ini dari TNI AU yang di dekat
sini, yang sering latihan di lanud-lanud itu,” terang Bu Lusi dengan sabar.
“Minggu depan mau ada kopral-kopral baru ya, Pak?”
“Tamtama,” Fian membetulkan.
“Nah, itu ..., jumlahnya lumayan banyak,
lumayan masif, dan mereka harus cek kesehatan, Mat. Mereka juga ada tenaga
medis di militer, selalu ada. Tapi karena jumlahnya banyak, terus mereka juga
lagi ada pemeriksaan kesehatan di tempat-tempat lain, yang di sini, karena
baru, kekurangan tenaga medis buat med-check. Kita di-hire buat
bantu-bantu aja di sana.”
“Oh ..., oke, Bu. Sama dokter siapa?”
“Enggak sama dokter kita. Cuma butuh
satu orang aja. Perawat juga bisa. Apalagi kamu udah ke sana kemari medical
check up sama dokter-dokter, kamu juga udah bisa menilai pemeriksaan
visual. Lagi pula kerjaan kamu bukan meriksa, cuma konfirmasi. Cuma ini, nih
....” Bu Lusi membuka lagi lacinya, mengeluarkan kertas berisi catatan-catatan
yang dia buat bersama Fian. “Jadi kamu cuma konfirmasi aja, Mat. Yang meriksa
tetap mereka. Pemeriksaan fisik, ya .... Ngng ... mana tadi? Oh, nih, tinggi
badan, berat badan, buta warna, ini mah kamu juga bisa, Mat.
Pemeriksaan-pemeriksaan visual gitu kamu udah kompeten lah, ya. Terus ada THT,
urin, darah, rontgen, ini mah kamu bisa banget ngelakuinnya. Kan cuma
ambil sampel, terus kamu bawa ke sini, kita periksa di lab kita.
“Kamu di sana bakal bantu konfirmasi
tentara medis. Misal mereka enggak yakin sama judgment-nya, kamu bakal
jadi outsider buat konfirmasi visual check-nya. Kamu juga bakal
bantu catat rekam medis semuanya. Termasuk interview satu-satu yang
dites, riwayat kesehatannya gimana. Ini mah kamu bisa ngelakuinnya, Mat.
Sebab organ internal mah kan semua lewat lab. Seenggaknya kamu tahu
sampel apa yang perlu diambil.”
“Izin menambahkan, Bu,” kata Fian
menginterupsi.
“Oh iya, Pak. Silakan, silakan.”
“Kami juga butuh penilaian luar untuk
menjaga netralitas, kejujuran, dan keakuratan hasil tes kesehatan. Anggota dari
Angkatan Udara butuh fisik yang sempurna, karena kami mengendalikan alutsista
yang bergerak cepat. Yang tidak bisa melakukan kesalahan sedikit pun, tidak
punya ruang untuk melakukan kelalaian. Zero tolerance to any error. Jadi,
cek kesehatan kami penting untuk mendapatkan outsider review. Nanti akan
ada instansi medis swasta lain yang ikut dalam tes kesehatan ini. Bukan klinik
ini saja, Bu.”
“Nah, jadi cuma butuh satu orang tenaga
medis aja kan ya, Pak?”
“Siap, Bu. Benar.”
“Jadi saya mau kirim kamu, Mat. Selama
proses tes kesehatan itu, kamu bantu Pak Fian ini melakukan rekam medis ke
calon-calon kopral itu ....”
“Tamtama.”
“... nanti kamu langsung on-site
aja di sana, enggak perlu ke klinik dulu kalau ada hari pemeriksaan.”
Aku masih terpana mendengar tugas baru
ini. Ada banyak pertanyaan memenuhi kepalaku. Namun aku belum bisa mengutarakan
semuanya. Salah satu yang kutanyakan adalah, “Jadi saya ... sendirian aja, Bu?
Enggak ada perwakilan lain dari sini?”
“Enggak, Mat. Enggak ada. Lagian Pak
Fian juga cuma butuh satu tenaga medis kan, ya?”
“Siap, Bu. Benar.”
“Dan saya juga enggak bisa ngasih
perawat atau dokter yang perempuan. Hahaha. Saya juga enggak bisa nawarin diri
saya buat bantu ke sana.”
“Kenapa, Bu?”
“Karena nanti kan ada tes kelamin juga,
Mat. Harus ngecekin penis sama testis mereka satu per satu. Ngecekin rektum
juga, lihat ada hernia atau enggak. Terus ada tes verikokel juga. Ada tes
visual sama USG buat verikokel. Ya kan, Pak?”
“Tesnya visual untuk verikokel, tetapi
kalau dicurigai, kami akan mengajukan tes USG untuk konfirmasi,” jawab Fian. “Dan
sebagai klinik yang kami ajak kerja sama, kami akan rekomendasikan klinik ini
sebagai lokasi pengecekan verikokel. Kalau boleh tahu, di sini ada alat
USG-nya, Ibu?”
“Oh ada, ada! Kami kan ada bagian
kebidanan di sini, Mas. Jadi alat USG di sini lengkap. Si Rohmat ini juga jago
pake transducer. Tenang aja, nanti kalau ada yang dicurigai punya
verikokel, lalu butuh pemeriksaan ultrasound, bisa sama Rohmat semuanya.
Aman, Pak. Hehehe. Bisa kan, Mat?”
Aku masih mematung karena syok dengan
informasi itu.
“Ini kita di sini kebanyakan perempuan,
Pak. Perawat-perawatnya juga perempuan. Enggak elok kalau yang meriksain
penis-penis ini perempuan juga. Takut enggak nyaman juga sama calon kopralnya—“
Fian sudah hampir menarik napas untuk
meralat, tetapi dia memutuskan untuk mengangguk saja.
“Dan berhubung si Rohmat ini laki-laki,”
kata Bu Lusi, “bisa lah dia ngecekin penis, zakar, sama dubur kopral-kopralnya.
Menurut saya aman, sih Pak. Bisa, kan, Mat? Kamu saya tugaskan untuk med-check
calon kopral aja, ya?”
Kak, sumpah .... Aku hampir pingsan.
Karena kesenangan.
Mimpi apa aku dapat kesempatan untuk
memegang selangkangan para calon tentara?
Mungkin aku harus cabut bulu ketek
dengan sugar waxing-nya Ida untuk mengecek apakah ini mimpi atau
kenyataan!
Komentar
Posting Komentar