(HD) 2. Sugar Waxing




Halo, Kak!

Kerjaanku di klinik harusnya simpel. Aku membantu dokter yang bertugas untuk menjembatani segala keperluan medis yang dibutuhkan. Misalnya mengecek tekanan darah pasien sebelum bertemu dokter, atau bertanya secara kasual riwayat medis si pasien, atau apa keluhannya, dan segala informasi yang mungkin akan bermanfaat bagi sang dokter sebelum pasiennya masuk ke ruangan.

Namun mengingat ini klinik swasta, tentu saja load pekerjaanku jauh lebih banyak dari itu. Aku mengurus administrasi juga, kadang bantu menggerus obat, kadang mengepel lantai, kadang mencatat rekam medis untuk medical check up yang dilakukan di luar (on-site). Setiap bulan, selalu ada saja perusahaan yang melakukan medical check up di kantor mereka, lalu meng-hire kami untuk menjalankannya di sana. Aku dan tim datang ke lokasi dan memeriksa setiap karyawan.

Maklum, namanya juga klinik swasta. Segala kesempatan untuk menghasilkan cuan akan dilakukan. Salah satunya menggaji rendah seorang perawat, tetapi membiarkannya melakukan segala jenis pekerjaan.

Aku enggak ngeluh. Demi Allah. Aku suka pekerjaan ini. Setiap hari selalu ada drama medis yang berbeda dari pasien yang datang dan aku hampir enggak pernah bawa pulang kerjaanku. Kalau pasiennya ganteng, badannya kekar misalnya, aku akan ngelama-lamain cek tensinya supaya aku bisa pegang-pegang bisep trisep kekar itu. Aku enggak perlu jaga malam kayak perawat di rumah sakit. Aku enggak perlu ganti popok, bolak-balik ganti infus, atau memasang infus, dan segala jenis kerepotan para perawat rumah sakit.

Paling mantap adalah waktu menggosipkan pasien, bersama kolegaku. “Lu tahu enggak bapak-bapak yang tadi pake kemeja kotak-kotak? Yang enggak mau duduk?”

“Yang hemoroid?”

“Itu bukan hemoroid gara-gara ngeden, anjir!”

“Hah? Gara-gara apa emang?”

“Itu fisura ani gara-gara dia masukin sendok ke bool-nya.”

“Anjir, lah! HAHAHA!”

Ya, mohon maklum kalau kami ngomongin pasien. Tapi aku bisa pastikan, semua kerahasiaan pasien itu enggak akan bocor keluar.

Hanya bocor di dalam aja untuk hiburan kami yang kadang gabut enggak tahu mesti ngapain.

Enggak setiap saat kasus pasien kami layak untuk digibahkan. Kebanyakan kasus medisnya umum dan membosankan. Seperti misalnya pagi ini. Setelah aku clock in dan duduk di meja administrasi, di sebelah rekanku yang shift pagi, enggak ada berita yang menarik.

Morning, Ca! Ada yang oke buat di-spill enggak?” sapaku, sembari duduk di kursi kosong lalu menyesap kopi yang langsung kubuat barusan setelah clock in.

“Enggak ada yang mantap. Kebanyakan masuk angin, doang.”

Rekanku itu dipanggil Geca, tapi nama KTP-nya Algheesa Famella Arshavina. Padahal dia kelahiran tahun 96, tetapi orang tuanya sudah lebih advance ngasih nama dibandingkan ibu bapakku. Dari nama cantik yang kebanyakan huruf A itu, nama panggilannya juga masih imut: Geca. Karena waktu kecil Geca cadel dan kesulitan menyebut namanya sendiri, Algheesa. Jadinya dia menyebutnya Geca.

Dari nama Rohmat, nama panggilan yang bisa dipanggil, kalau enggak Omat, ya ... Roh.

“Dokter Keandra udah di dalam?” tanyaku, sembari lanjut menyesap kopi.

“Udah. Datang pagi, dia. Pasien enggak ada yang telat masuk. Bu Lusi juga udah datang. Ada janji katanya.”

“Ama siapa?”

Geca mengangkat bahu. “Eh, lu tahu enggak si Lita yang kemaren resign, terus pindah ke RSUD?”

“He-eh. Kenapa dia?”

“Hari pertama dia di RS ketemu pasien hantu, anjir!”

“Wah, seru! Gimana ceritanya?”

Oke, kamu enggak perlu dengar cerita Geca kayak gimana, Kak. Aku cuma mau nunjukin aktivitas kami di klinik itu yang secara rutin terlihat biasa-biasa aja. Kalau pasiennya sedang sepi kayak begini—hanya ada dua pasien duduk di kursi tunggu ketika aku datang—aku dan rekanku akan mengobrol ngalor-ngidul sampai muncul pasien baru untuk mendaftar. Kalau enggak ada pasien sama sekali, dokternya keluar dari ruangan dan ikutan ngegibah bareng kami. Kalau pasiennya penuh banget, sampe-sampe ada yang nunggu di luar, aku bisa jadi enggak ngobrol sama rekan kerjaku karena kami sibuk mendata pasien atau melakukan check up ringan.

Populasi karyawan di sini kebanyakan perempuan. Laki-lakinya cuma aku, beberapa dokter yang datangnya pada jam-jam tertentu, seorang apoteker, dan juga satu OB. Kesemua laki-laki ini juga jarang interaksi, kecuali kalau makan siang bareng, tapi setelah kembali ke klinik kami diam di station masing-masing. Berhubung pekerjaanku lebih banyak beririsan dengan cewek-cewek tukang gibah ini (didukung oleh sifat sejati aku yaitu seorang gay), alhasil aku dekat dengan mereka. Segala jenis gosip aku selalu kebagian. Segala jenis curhat aku sering dibebankan.

Sayangnya, enggak ada satu pun dari mereka yang tahu aku gay.

Di kota ini, yang tahu aku gay hanyalah Ida dan semua homo yang pernah kutemui di aplikasi, atau sudah melihat fotoku di aplikasi, kayak FunNowNPNC19cm yang pagi tadi meng-ghosting-ku setelah kukirimkan foto. (Sampai sekarang dia masih belum membalas pesanku.) Di depan cewek-cewek klinik ini, aku adalah laki-laki straight “normal” yang harus terima nasib rekan kerjanya perempuan semua, jadi aku harus ikhlas mendengarkan curhatan, gosip, atau spill the tea mereka. Di depan mereka juga aku sering berbohong, seperti misalnya, “Iya, cewekku ada di Jakarta. Aku ketemuan sama dia sebulan sekali, lah.”

Reus.

Pagi itu, karena klinik lumayan sepi, obrolan Geca soal hantu yang ditemui Lita di RSUD berkembang ke sana kemari. Sempat nyambung ke pasien duda yang melakukan pesugihan. Kostum baru penggoreng kerupuk yang viral. Penjual teh tarik ganteng yang baru buka di Alfamart dekat lanud. Hingga ke pencabutan bulu ketek menggunakan sugar waxing.

“Oh, ini temen gue udah balas,” kataku, karena lima menit terakhir kami membahas soal cabut bulu ketek, dan aku teringat produk sugar waxing-nya Ida. “Ready stock. Kalau bayar hari ini, besok gue bawain ke sini. Ini mereknya.”

Di titik ini, dr. Keandra yang sedang jaga, termasuk Marisa dari klinik gigi sudah kumpul di meja registrasi untuk membahas soal cabut bulu ketek.

“Ada BPOM-nya enggak?” tanya dr. Keandra sambil men-zoom in gambar yang dikirim Ida. Tapi sebelum aku menjawab, dia sudah nemu jawabannya sendiri. “Oh, iya. Saya tahu ini mah. Lumayan bagus katanya.”

“Bagus, Dok? Dokter pernah pake?” Geca giliran melihat gambar kiriman Ida.

“Enggak pernah. Temen yang pake.”

“Aman?” tanya Marisa.

“Enggak tahu. Saya enggak pernah pake sendiri. Biasanya ke beauty clinic.”

“Mahal ah, Dok. Aku mau cobain sendiri aja. Enggak sakit, kan?”

“Katanya sih enggak.”

“Ini gimana sih Mat pakenya? Jelasin lagi, please.”

“Ya udah nih, gue ulang.” Aku menggeser kursiku membelakangi meja resepsionis, sehingga aku memunggungi pintu masuk. Dengan tubuh tegak, aku mempraktikkan cara sugar waxing ke ketek yang kuketahui. Kuangkat tanganku ke atas, “Lu bersihin dulu ketek lu, Sa. Exfoliate. Di-scrub, digosok kuat-kuat, biar kotoran, sel kulit mati, sisa-sisa deo lu, atau dosa-dosa yang nempel di ketek lu, luntur semua. Terus ....”

Kuambil gunting di atas meja registrasi, lalu kugerakkan gunting itu ke ketekku, pura-pura sedang men-trim-nya. Kres! Kres! “Elu gunting bulu-bulunya, kalau misal terlalu panjang. Lebih dari tiga senti, gunting dulu. Tapi jangan terlalu pendek juga, entar sugar waxing-nya kagak nempel.” Aku menatap ketekku sendiri, yang sebenarnya enggak kelihatan karena aku sedang pake seragam. Lalu aku meniupnya. “FUH!” Benar-benar serius mempresentasikan cara sugar waxing bulu ketek.

“Terus ..., anggap aja ini sugar waxing-nya, yak!” Kuambil kotak bedak Geca di atas meja. Kubuka tutupnya, lalu kucolek pura-pura ke kotak itu, “ambil dikit aja, terus elu olesin ke ketek lu kayak gini.” Aku bahkan menambahkan desahan, “Aaahhh .... yamete kudasai—agak anget, biasanya.”

Tapi mereka enggak ada yang ketawa.

“Pastikan seluruh bulu keteknya kena sugar wax-nya, ya. Elu tungguin tuh sampe kering dan kerasa nempel. Kalau udah, elu tarik ....”

Tunggu. Ada yang aneh.

Geca, dr. Keandra, sama Marisa enggak menatap ke arahku. Sedari tadi mereka melihat ke sesuatu di belakangku, seakan-akan ada hantu RSUD yang lagi melayang di depan meja registrasi. Wajah mereka kayak terpukau, sih. Kayak lagi lihat pemandangan indah. Aku langsung diam dengan satu tangan masih teracung ke udara, dan tanganku yang lain mengipas-ngipasi ketekku sendiri, masih pura-pura sugar waxing.

Namun karena aku tahu ada orang di belakangku, aku memutar kursi perlahan-lahan ke belakang.

Ternyata benar, di belakangku, sudah berdiri seseorang. Dia menjulang tinggi, sedang anteng mengamatiku mempraktikkan cara mencabut bulu ketek, dan dia pun menyapa ....

“Halo, Dek!”

Dia adalah tentara yang pagi tadi kutabrak di depan kosan.


[ ... ]


Kalau aku punya akses ke dukun yang mujarab, akan kusantet ketiga perempuan itu karena membiarkanku mempresentasikan cara cabut bulu ketek di depan tamunya Bu Lusi.

Tamu tentara ganteng yang dadanya kenyal nan tebal saat aku bertabrakan tadi.

Aku malu bukan main.

Mukaku langsung memerah seperti kepiting rebus.

Tentara ganteng itu malah bertanya, “Terus seudah ditarik, gimana lagi, Dek?”

Demi Tuhan, kalau nyawaku dicabut saat itu juga, aku ikhlas. Itu adalah puncak rasa malu yang pernah kualami seumur hidup. Sebagai orang introvert yang hanya bersikap konyol di depan orang-orang dekat saja, aku enggak punya energi cukup untuk melakukan kebodohan di depan orang asing.

“Eh, Pak. Hehe .... Ma-mau ..., registrasi?” tanyaku salah tingkah. Lenganku langsung turun dan mengepit badan dengan kuat. Tanganku sibuk mencari pulpen dan kertas, berlagak mau melakukan registrasi.

Untungnya tentara itu baik. Dia hanya terkekeh kecil dan menjawab, “Enggak, enggak. Saya mau ketemu Ibu Lusi, Dek. Ada?”

“Oh, Bapak tamunya Bu Lusi?” tanya Geca ganjen. Dia melompat dari kursinya dan langsung berjalan ke luar meja registrasi. “Sini, Pak. Saya antar ke ruangannya.”

Begitu Geca lenyap ke lantai dua membawa tentara ganteng itu ke ruang Bu Lusi, aku duduk dengan lemas di depan meja. Dr. Keandra dan Marisa terkekeh melihat hal konyol yang kulakukan.

Marisa menepuk bahuku. “Lanjutin ih, Mat! Kalau udah kering, digimanain?”

“Bodo!” sahutku sambil mendengus kesal. “Googling aja sendiri!” Aku pun pergi ke toilet untuk menjedotkan kepalaku ke tembok berkali-kali, menghukum diri sendiri karena sudah bertingkah sangat memalukan.

DUK! DUK! DUK!


[ ... ]


Aku enggak mau bahas soal kejadian memalukan itu. Sekembalinya dari kamar mandi aku langsung pergi ke station-ku dan melanjutkan pekerjaan. Geca sudah ada di station-nya lagi, bercerita soal tentara ganteng yang jadi tamunya Bu Lusi. Tapi aku enggak mau bergabung.

Marisa sempat mengajakku nimbrung. “Dia udah datang pas kamu jelasin dari awal, Mat.”

“Iya,” jawabku, dengan nada tak peduli.

“Udah sih gapapa. Dia juga pasti paham kita lagi bercanda-canda. Orang kita lagi sepi, kok. Lagi enggak ada pasien,” sahut Geca. “Sini, sih. Aku mau bahas soal tentara yang tadiii ....”

“Gue banyak kerjaan, Ca. Bentar lagi dr. Santo yang praktik. Gue yang harus assist dia.”

Ck!” Geca berdecak kesal. Namun hanya sedetik. Setelahnya dia menoleh ke Marisa dan melanjutkan ceritanya. “Terus pas dia salaman ama si Bu Lusi, ya Allah ... gede banget tangannya, Sa!”

Sial banget sih aku hari ini. Sudah tak laku di aplikasi, aku bikin malu di depan tentara seksi. Ya emang, itu tentara enggak mungkin suka sama aku. Tapi tetap aja malu. Laki-laki, bahas waxing ketek di depan perempuan. Enggak kebayang apa yang ada dalam pikiran dia.

Selama sepuluh menit berikutnya, aku berusaha melupakan semua itu dengan lanjutin kerjaanku. Aku enggak mau overthinking. Ngabisin energi aja mikirin sesuatu yang mungkin orang itu bahkan enggak mikirin lagi. Aku kasih tahu diriku berulang-ulang bahwa wajar melakukan kebodohan di depan umum. Enggak perlu dibesar-besarkan. Dalam dua minggu, semua orang bakal lupa soal kejadian itu.

Kecuali Ida. Biasanya dia ingat semua ketololan orang-orang, karena dia rajin menceritakannya kepadaku.

Tepat ketika aku merasa lebih tenang, telepon di meja Geca berdering. Aku bisa dengar Geca mengangkat telepon dan berbicara dengan seseorang. Setelah menyimpan lagi gagang telepon ke tempatnya, Geca memanggilku.

“Mat! Lu diminta naik ke ruang Bu Lusi.”

Aku menelan ludah. Enggak tahu kenapa jantung berdebar-debar. Berasa lagi mau ditilang polisi. Segala pikiran buruk yang belum tentu terjadi langsung menghantam kepalaku. Aku berprasangka, si tentara ganteng itu melaporkan kelakuanku di bawah, bukannya bekerja dengan giat, malah bahas waxing ketek dengan rekan kerja yang lain. Mungkin aku harus dipecat. Atau di-blacklist dari instansi medis mana pun. Termasuk RSUD yang ada hantunya juga aku enggak akan diterima kerja di sana.

Pokoknya ketika aku bangkit dan berjalan menuju tangga, segala pikiran buruk sudah mengisi kepalaku. Susahnya jadi orang introvert adalah overthinking berlebihan. Mengira orang lain punya banyak persepsi tentang kita, padahal orang lain sebenarnya enggak mikirin-mikirin amat. Tapi beneran, sampe aku buka kenop pintu ruang Bu Lusi, aku masih berpikiran aku bakal dipecat karena lalai bekerja. Dan aku sudah menyiapkan diri untuk cari pekerjaan baru.

“Ya, Bu?”

“Masuk, Mat! Sini!” Bu Lusi melambaikan tangannya sembari membereskan kertas-kertas di atas meja.

Ketika aku masuk, tentara ganteng itu masih ada di dalam. Duduk tegak di depan meja Bu Lusi, tampak gagah dan menjulang, padahal sedang duduk. Dia menoleh juga dan langsung tersenyum lebar begitu melihat aku masuk. Energinya ramah dan baik hati. Aku makin enggak enak sudah bercanda-canda di depannya beberapa menit lalu.

“Duduk, Mat,” kata Bu Lusi, semua dokumen di meja dimasukkan ke lacinya, lalu dia menarik kalender. Bu Lusi adalah manager operasional di sini. Dia juga seorang dokter dan punya jadwal praktik di klinik ini pada hari tertentu. “Kamu ... enggak ada jadwal med-check keluar, kan?”

“Bulan depan, Bu. Sama dr. Keandra,” jawabku sembari duduk di kursi samping si tentara.

“Ooohhh ... yang pabrik tekstil itu, ya?”

“Iya, Bu. Yang ngecek kadar radioaktifnya juga, efek limbah tekstilnya.”

Bu Lusi manggut-manggut sembari tetap mengamati kalender di depannya. Dia membolak-balik kalender itu hingga dua bulan ke depan, seakan-akan sedang memperhitungkan sesuatu. “Cancel aja, lah.”

Aku terkesiap kaget. “Apa?”

Di situ aku sudah yakin aku dipecat.

Dipecat karena bercanda-canda pada waktu bekerja.

“Kita ganti ke si Geca aja, yang pabrik tekstil itu.”

“Oh, oke.” Aku mengangguk pasrah. Tapi kemudian aku teringat, “Kalau enggak salah, sih ..., Geca juga ada med-check sama dr. Stephen di bank BUMN yang buka lowongan itu—“

“Iya, tahu. Tapi kan tanggalnya beda,” sela Bu Lusi, sembari membolak-balik lagi lembar kalender, lalu memutuskan dengan mantap bahwa Geca bisa melakukannya. “Jaraknya satu minggu. Bisa, lah si Geca nemenin Stephen di situ.”

“Jadi ..., Geca yang med-check on the road di pabrik tekstil sama bank BUMN?”

“Iya.”

Fiks, aku dipecat.

“Sebab saya mau ngasih kamu tugas baru,” lanjut Bu Lusi kemudian.

Oh?

“Ini kenalin dulu, namanya Pak Fian.”

Tentara itu mengulurkan tangan ke arahku. Dia mengatakan, “Rafianto.”

Aku merasakan jabatan tangannya begitu kokoh dan tegas. Manly banget kayak tentara berpangkat jenderal. Ketika aku menyebut nama, “Rohmat,” suaraku seperti cecurut kecil yang ketakutan. Vibes deg-degannya sama kayak ngendarain motor di jalan raya, enggak punya SIM, lalu di ujung jalan ada sekumpulan polisi lagi ngadain razia.

“Pak Fian ini dari TNI AU yang di dekat sini, yang sering latihan di lanud-lanud itu,” terang Bu Lusi dengan sabar. “Minggu depan mau ada kopral-kopral baru ya, Pak?”

“Tamtama,” Fian membetulkan.

“Nah, itu ..., jumlahnya lumayan banyak, lumayan masif, dan mereka harus cek kesehatan, Mat. Mereka juga ada tenaga medis di militer, selalu ada. Tapi karena jumlahnya banyak, terus mereka juga lagi ada pemeriksaan kesehatan di tempat-tempat lain, yang di sini, karena baru, kekurangan tenaga medis buat med-check. Kita di-hire buat bantu-bantu aja di sana.”

“Oh ..., oke, Bu. Sama dokter siapa?”

“Enggak sama dokter kita. Cuma butuh satu orang aja. Perawat juga bisa. Apalagi kamu udah ke sana kemari medical check up sama dokter-dokter, kamu juga udah bisa menilai pemeriksaan visual. Lagi pula kerjaan kamu bukan meriksa, cuma konfirmasi. Cuma ini, nih ....” Bu Lusi membuka lagi lacinya, mengeluarkan kertas berisi catatan-catatan yang dia buat bersama Fian. “Jadi kamu cuma konfirmasi aja, Mat. Yang meriksa tetap mereka. Pemeriksaan fisik, ya .... Ngng ... mana tadi? Oh, nih, tinggi badan, berat badan, buta warna, ini mah kamu juga bisa, Mat. Pemeriksaan-pemeriksaan visual gitu kamu udah kompeten lah, ya. Terus ada THT, urin, darah, rontgen, ini mah kamu bisa banget ngelakuinnya. Kan cuma ambil sampel, terus kamu bawa ke sini, kita periksa di lab kita.

“Kamu di sana bakal bantu konfirmasi tentara medis. Misal mereka enggak yakin sama judgment-nya, kamu bakal jadi outsider buat konfirmasi visual check-nya. Kamu juga bakal bantu catat rekam medis semuanya. Termasuk interview satu-satu yang dites, riwayat kesehatannya gimana. Ini mah kamu bisa ngelakuinnya, Mat. Sebab organ internal mah kan semua lewat lab. Seenggaknya kamu tahu sampel apa yang perlu diambil.”

“Izin menambahkan, Bu,” kata Fian menginterupsi.

“Oh iya, Pak. Silakan, silakan.”

“Kami juga butuh penilaian luar untuk menjaga netralitas, kejujuran, dan keakuratan hasil tes kesehatan. Anggota dari Angkatan Udara butuh fisik yang sempurna, karena kami mengendalikan alutsista yang bergerak cepat. Yang tidak bisa melakukan kesalahan sedikit pun, tidak punya ruang untuk melakukan kelalaian. Zero tolerance to any error. Jadi, cek kesehatan kami penting untuk mendapatkan outsider review. Nanti akan ada instansi medis swasta lain yang ikut dalam tes kesehatan ini. Bukan klinik ini saja, Bu.”

“Nah, jadi cuma butuh satu orang tenaga medis aja kan ya, Pak?”

“Siap, Bu. Benar.”

“Jadi saya mau kirim kamu, Mat. Selama proses tes kesehatan itu, kamu bantu Pak Fian ini melakukan rekam medis ke calon-calon kopral itu ....”

“Tamtama.”

“... nanti kamu langsung on-site aja di sana, enggak perlu ke klinik dulu kalau ada hari pemeriksaan.”

Aku masih terpana mendengar tugas baru ini. Ada banyak pertanyaan memenuhi kepalaku. Namun aku belum bisa mengutarakan semuanya. Salah satu yang kutanyakan adalah, “Jadi saya ... sendirian aja, Bu? Enggak ada perwakilan lain dari sini?”

“Enggak, Mat. Enggak ada. Lagian Pak Fian juga cuma butuh satu tenaga medis kan, ya?”

“Siap, Bu. Benar.”

“Dan saya juga enggak bisa ngasih perawat atau dokter yang perempuan. Hahaha. Saya juga enggak bisa nawarin diri saya buat bantu ke sana.”

“Kenapa, Bu?”

“Karena nanti kan ada tes kelamin juga, Mat. Harus ngecekin penis sama testis mereka satu per satu. Ngecekin rektum juga, lihat ada hernia atau enggak. Terus ada tes verikokel juga. Ada tes visual sama USG buat verikokel. Ya kan, Pak?”

“Tesnya visual untuk verikokel, tetapi kalau dicurigai, kami akan mengajukan tes USG untuk konfirmasi,” jawab Fian. “Dan sebagai klinik yang kami ajak kerja sama, kami akan rekomendasikan klinik ini sebagai lokasi pengecekan verikokel. Kalau boleh tahu, di sini ada alat USG-nya, Ibu?”

“Oh ada, ada! Kami kan ada bagian kebidanan di sini, Mas. Jadi alat USG di sini lengkap. Si Rohmat ini juga jago pake transducer. Tenang aja, nanti kalau ada yang dicurigai punya verikokel, lalu butuh pemeriksaan ultrasound, bisa sama Rohmat semuanya. Aman, Pak. Hehehe. Bisa kan, Mat?”

Aku masih mematung karena syok dengan informasi itu.

“Ini kita di sini kebanyakan perempuan, Pak. Perawat-perawatnya juga perempuan. Enggak elok kalau yang meriksain penis-penis ini perempuan juga. Takut enggak nyaman juga sama calon kopralnya—“

Fian sudah hampir menarik napas untuk meralat, tetapi dia memutuskan untuk mengangguk saja.

“Dan berhubung si Rohmat ini laki-laki,” kata Bu Lusi, “bisa lah dia ngecekin penis, zakar, sama dubur kopral-kopralnya. Menurut saya aman, sih Pak. Bisa, kan, Mat? Kamu saya tugaskan untuk med-check calon kopral aja, ya?”

Kak, sumpah .... Aku hampir pingsan.

Karena kesenangan.

Mimpi apa aku dapat kesempatan untuk memegang selangkangan para calon tentara?

Mungkin aku harus cabut bulu ketek dengan sugar waxing-nya Ida untuk mengecek apakah ini mimpi atau kenyataan!


[ ... ]


Komentar