(HD) 7B. Kita Bolak Balik Kok




Halo, Kak!

Pukul lima pagi, aku terbangun dari tidur karena ada telepon masuk.

Aku membuka mataku sembari mencerna situasi.

Aku ngewe brutal barengan Xavier semalam. Setelah ngewe, kami tertidur sambil berpelukan. Bahkan, lampu kamar masih menyala. Kami berdua masih telanjang. Belum bersih-bersih.

Masih ada sisa sperma di perutku!

Drrrttt ...! Drrrttt ...! Drrrttt ...!

Aku melepaskan pelukan Xavier dan turun dari tempat tidur untuk mengambil ponselku. Dengan lutut masih lemas, aku melihat jam dan siapa yang meneleponku.

Pukul 4 pagi.

Fian menelepon.

“Halo ...?” sapaku.

“Halo, Dek! Di mana?”

“Aku ..., aku di kosan ...,” bualku.

“Masa? Abang ada di depan kosan Adek, nih. Lagi tidur?”

Aku membelalak. Dengan panik dan terbata-bata aku menjawab, “Ma ... maksud aku! Aku ... aku di kosan teman.”

“Oh ..., jauh enggak?”

“Lu ... lumayan. Kenapa gitu, Bang?”

“Kan kita mau hiking pagi ini. Adek jadi nemenin Abang, kan?”

Goblok kamu, Rohmat! Kamu kan ada janji naik gunung bareng Fian. “I ... iya! Iya! Sorry, aku pikir agak siangan.”

“Dari lanud jam enam. Abang dari semalam Whatsapp Adek, tapi belum dibalas aja.”

Karena aku lagi ngewe Baaang ..., sama salah satu calon tarunamu! Huhuhu ....

Aku merasa bersalah, sumpah. Merasa sudah kehilangan satu kesempatan besar.

“Maaf ...,” kataku akhirnya.

“Gapapa. Abang Whatsapp buat jelasin kita berangkat dari kosan jam 5. Tapi karena Adek belum balas aja, ini Abang ke kamar Adek buat ngabarin. Tapi Adek lagi di luar, ternyata. Adek masih mau ikut, kan?”

“Mau, mau!”

“Dek Ida enggak mau ternyata.” Fian menghela napas. “Oke, Adek perlu dijemput?”

“Enggak usah. Gapapa. Aku pulang sekarang!” kataku, sembari dengan rusuh pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. “Kukabari kalau udah nyampe, ya!”

Itu adalah bersih-bersih after ngewe terkilat yang pernah kulakukan. Aku mandi, menggosok tubuhku dengan sabun hotel yang seadanya, enggak sempat douching lagi, aku langsung mengenakan pakaianku sembari memesan ojol.

Xavier terbangun melihat kehebohanku. “Mau ke manaaa ...,” katanya sambil mendengung.

“Aku ada janji. Sorry, aku pulang duluan, ya!”

“Enggak mau ngewe lagiii ...?”

“Enggak!” sergahku tergesa-gesa. Aku sudah memasang sepatu dan ojolku sudah dekat. “Thanks, ya! Aku pulang dulu!” Kukecup pipi Xavier kemudian berlalu pergi.

Sesampainya di kosan, Fian sudah tidak ada di depan kamarku. Dia pasti sudah balik lagi ke kamar Ida. Kugunakan kesempatan itu untuk mengganti baju dan menyiapkan kebutuhan esensial hiking yang enggak pernah kuketahui. Aku pakai sepatu yang solnya tebal. Pakai jaket. Celana ... jeans? Aku juga memanaskan air karena mau merebus Indomie goreng.

Aku enggak tahu hiking tuh harus ngapain. Sumpah. Apa kita perlu masak Indomie lalu menyantapnya di puncak gunung? Indomie goreng yang sudah dingin, yang gumpalannya nanti membentuk tupperware-nya?

Aku mondar-mandir dengan panik di kamar hingga akhirnya Fian muncul di ambang pintu sambil menatap kehebohanku.

Dia terkekeh kecil. “Adek ngapain?”

“Argh!” Aku terkejut sampai terlonjak jatuh, ketika aku sedang menyiapkan peralatan mandiku.

“Kita bolak balik kok, Dek. Enggak akan nginap.”

“Enggak, koookkk ...,” kataku sambil menyorongkan lagi kotak peralatan mandiku ke dalam rak. “Barusan ..., barusan cuma beresin aja.”

“Dan Adek enggak perlu bawa makanan. Abang udah bawain makanan buat kita.” Fian melihat ke panci dengan air mendidih yang ada di atas kompor listrikku.

“Oh! Itu ... itu buat aku minum teh, kok. Pagi-pagi aku selalu minum teh. Bukan buat ....” Aku menoleh ke arah panci itu dan baru menyadari, aku sudah memasukkan mi ke dalam panci itu.

“Tehnya pake mi?” tanya Fian dengan satu alis mengangkat.

GOBLOOOKKK ...!

Ingin rasanya membenturkan kepalaku ke dinding sampai pecah.

(Dindingnya yang pecah. Kepalaku jangan.)

“Aku ... hehe ... aku ... lapar.”

Fian mengangkat jam tangannya. “Oke. Masih ada sepuluh menit sebelum kita ke check point di lanud.” Dia melepas sepatu hiking-nya, lalu masuk ke dalam kamarku. Tanpa diminta, dia tiba-tiba menghampiri dapur kecilku dan menuang bumbu-bumbu Indomie ke atas piring. “Adek beres-beres dulu aja kalau perlu, Abang selesaiin ya Indomie-nya. Adek enggak perlu bawa apa-apa, kok. Abang udah siapin semuanya. Kan, Abang yang ngajak Adek. Adek bawa badan aja.”

Jujur. Aku adalah orang tergoblok sedunia. Terlebih karena aku sebenarnya enggak lapar-lapar banget saat ini. Sekarang aku mengembalikan lagi barang-barang yang tadinya sudah kusiapkan, karena kupikir diperlukan dalam pendakian gunung itu. Usai menyimpan lagi raket listrik untuk membunuh nyamuk ke dalam lemari, Fian sudah selesai dengan mi gorengku, bahkan sudah mengaduknya.

“Adek memang sering makan Indomie sampai tiga?” tanya Fian.

Kan, goblok.

Kenapa enggak jujur aja sejak awal kalau aku bikin Indomie karena mau dibekal ke gunung?!

“I ... iya.”

“Abang sih enggak nyaranin makan sebanyak ini sebelum naik gunung. Nanti sakit perutnya.”

“Oh ....”

“Kalau kita bungkus aja, gimana?” Fian dengan inisiatif berdiri di depan rak piringku, mencari wadah makan untuk bekal.

Memang itu buat dibungkus, Abang ganteeennnggg ...! Huhuhu ...! Tapi ini bukan salahmu, kok. Akunya aja yang gengsian, sampai-sampai persoal Indomie pun enggak mau jujur.

“Bo ... boleh, Bang. Bungkus aja.” Kubantu Fian mengambilkan tupperware palsu untuk menampung Indomie-ku. Aku enggak mau pakai Tupperware asli. Takut hilang di gunung, enggak bisa diambil lagi.

Punya ibuku, soalnya.

Singkat cerita, aku dan Fian berangkat ke lanud pagi itu, sebelum matahari benar-benar muncul di ufuk timur. Motor Fian keren dan macho banget. Aku enggak tahu namanya apa, karena aku lelaki gay condong ke boti. Entah Ninja, entah Samurai, entah Atletjudo. Yang tangki bensinnya di depan, dan aku sebagai penumpang harus duduk condong ke depan, menempelkan dadaku ke punggung Fian yang kekar.

Dan motornya enggak ada pegangan di belakang.

“Adek pegang ke pinggang Abang aja. Gapapa,” katanya.

Aku pegangan ke pinggang Fian. Tapi pantatku agak mundur ke belakang, hampir saingan sama knalpot motor. Soalnya, kontolku ngaceng. Jangan sampai kontol sialan itu menyentuh badan Fian.

Sesampainya di sana, sudah ada tiga kawan Fian yang sama-sama tentara, menunggu di dekat pos masuk area pangkalan udara. Mereka semua membawa cewek. Fian saja yang membawa cewek jadi-jadian. Tapi kami enggak langsung berangkat karena masih menunggu dua rekan Fian yang lain, yang ketika datang mereka bawa plus one laki-laki juga. Tapi plus one-nya adik kandung. Fian saja yang membawa adik-adikan.

Kami berdua belas beriringan mengendarai motor ke lokasi gunung di belakang lanud. Ini kedengarannya kayak yang dekat, ya: “di belakang lanud”. Tapi sebenarnya gunung ini lokasinya cukup jauh. Kami harus berkendara hampir satu jam dengan lalu lintas yang lengang. Kami meninggalkan area kota, masuk ke area perkampungan, lama-lama udara menjadi lebih dingin dan perumahan warga mulai jarang terlihat.

Ketika kami berkendara di area perbukitan, aku menoleh ke belakang dan melihat kota tempatku tinggal sekarang tampak begitu jauh. Langit sudah cukup terang meski beberapa bangunan masih menyalakan lampunya. Landasan udara tampak jauh sekali, tetapi tampak besar juga dengan bangunan-bangunan militer berjejer di samping landasan, dan pesawat-pesawat tempur berjejer rapi. Tampak kentara dengan kota kecil yang berada di latar belakangnya.

“Kenapa?” tanya Fian sambil sesekali menoleh ke belakang.

Aku tersenyum sembari tetap melihat pemandangan itu. “Udah dua tahun tinggal di sini, aku enggak pernah ke sini. Pemandangannya bagus.”

“Di depan sana ada kafe yang pemandangannya bagus pas sunset. Kapan-kapan kita main ke sana, kalau Adek mau.”

Aku pernah dengar soal kafe itu. Deva yang cerita. Karena dia pernah ke sana juga dan enggak berhenti memamerkannya kepadaku betapa indahnya menikmati kopi sambil menatap matahari tenggelam.

“Pegangan yang bener. Jalannya kelok-kelok,” kata Fian.

Aku memegang pinggang Fian seperti sebelumnya. Hanya saja mencengkeram lebih kuat sekarang.

Tapi Fian malah menarik tanganku ke depan perut ratanya, memaksaku memeluk tubuhnya.

Aku membelalak terkejut. “Ish! Entar dilihatin!” bisikku panik. Kutarik lagi tanganku ke pinggang Fian.

Fian dengan sengaja mengolengkan motornya kanan kiri.

Ngeeeng ...! Ngeeennnggg ...!

“Argh!” Aku hampir terguling ke atas aspal!

Otomatis aku terkejut dan langsung memeluk Fian dari belakang. Jantungku berdebar-debar, kupikir aku akan terjatuh beneran dari atas motor dengan kecepatan tinggi. Kusembunyikan juga wajahku di bahu Fian. Aku sampai berkeringat dingin.

“Nah, gitu,” kata Fian, menepuk-nepuk tanganku yang kini memegang erat perut Fian. “Di depan tuh jalannya kelok-kelok, Dek. Harus pegangan yang kuat.”

Enggak gini juga, Baaang ....

Huhuhu ....

Sekarang aku enggak mau lepasin tanganku ....

....

Kami tiba kira-kira dua puluh menit kemudian. Jalanan benar-benar sepi. Bangunan terakhir yang dilewati adalah kafe yang dibilang Fian tadi. Itu pun entah sudah berapa belas menit yang lalu. Jalanannya memang berkelok-kelok, masuk ke area hutan yang pepohonannya menjulang tinggi dan sejuk. Sinar matahari menembak lurus aspal dengan cahaya-cahaya keemasan. Semua yang kulihat hanyalah hijaunya dedaunan. Tak ada rumah warga.

Namun, kami tiba di sebuah pos yang memang jadi titik awal pendakian. Areanya lumayan ramai. Ada beberapa kendaraan lain yang sudah parkir, dan mungkin orangnya sudah naik duluan. Warung-warung kopi berjejer, memfasilitasi para pendaki sebelum naik. Sekumpulan anak muda dengan jaket tebal juga berkumpul atau baru tiba seperti kami.

Motor para tentara ini diparkirkan di satu kantung parkir khusus motor, di bawah pohon pinus yang sangat tinggi. Di balik pohon itu ada tebing curam yang berujung ke sungai kecil di bawahnya. Ada pagar kayu yang sudah lapuk di samping tebing itu.

Aku turun dari motor untuk meregangkan otot-ototku. Fian melepas helm dan tetek bengek cowok motoran kayak kacamata, baf, dan sarung tangan.

Satu teman Fian menghampiri kami dan berbicara dengan Fian. “Deket sini enggak sih crash-nya si Aksa, tuh?”

Fian menggeleng. “Bukan. Jauh dari sini. Ada di balik gunung, tapi ke sananya lagi.”

“Enggak ada jalannya juga, ya?”

“Nihil. Harus buka jalan.”

“Terus debris-nya udah pada diangkut.”

“Masih ada sebagian yang perlu diangkut. Harus pake heli soalnya.”

Temannya Fian manggut-manggut. Tapi perhatiannya langsung terdistraksi karena adiknya mengatakan sesuatu entah apa.

“Apa yang harus diangkut pake heli?” tanyaku kepo.

Fian hanya tersenyum lebar sembari merapikan peralatan motorannya ke dalam jok. “Urusan kerjaan.”

“Oh, oke.” Aku mengangguk paham lalu melihat ke arah sungai dan berjalan pelan-pelan menghampiri pohon pinus. Sambil menunggu Fian selesai dengan urusan motornya, aku ingin melihat sungai yang kanan kirinya dikelilingi vegetasi hijau itu.

“Hati-hati, jangan terlalu ke sana,” ungkap Fian dengan suara berat yang seksi.  

Aku mengangguk sambil lanjut berjalan terlalu ke sana.

Maksudnya, aku melompati satu undakan batu, berdiri hati-hati di atas batu itu, berpegangan ke pohon pinus, lalu melongokkan kepala ke bawah untuk melihat sungai. Tapi sungainya masih belum kelihatan. Jadi aku melangkahkan satu kakiku ke batu yang lebih depan lagi, yang ternyata ....

BBBRRRSSSSSSTTT ...!

Batu itu menggelincir ke bawah ....

Jatuh ke bawah tebing ....

Membawaku ikut serta ....

“AAAAAARGH ...!”

Dan aku terperosok di tebing!

Jatuh hingga ....

HAP!

....

Fian menyambar tanganku, lalu menahan tubuhku yang menggantung di pinggiran tebing. Satu tangan Fian berpegangan ke pohon pinus, lalu dengan satu angkatan yang sangat kuat, dia menarik tubuhku hingga aku naik lagi ....

... Fian menarik pinggangku ....

... menarik badanku ke badannya ....

....

Mendekapku ....

....

Wajahnya begitu dekat dengan wajahku.

Aku membelalak melihat hidung Fian hanya berjarak lima senti saja dari hidungku.

....

Lalu kurasakan kepala itu mendekat ....

....

Dan mendekat ....

....

Jantungku berdebar-debar saat kulihat Fian membuka mulutnya untuk ....


[ ... ]


Komentar