Halo, Kak!
Pukul lima pagi, aku terbangun dari tidur karena ada telepon masuk.
Aku membuka mataku sembari mencerna
situasi.
Aku ngewe brutal barengan Xavier
semalam. Setelah ngewe, kami tertidur sambil berpelukan. Bahkan, lampu
kamar masih menyala. Kami berdua masih telanjang. Belum bersih-bersih.
Masih ada sisa sperma di perutku!
Drrrttt ...! Drrrttt ...!
Drrrttt ...!
Aku melepaskan pelukan Xavier dan turun
dari tempat tidur untuk mengambil ponselku. Dengan lutut masih lemas, aku
melihat jam dan siapa yang meneleponku.
Pukul 4 pagi.
Fian menelepon.
“Halo ...?” sapaku.
“Halo, Dek! Di mana?”
“Aku ..., aku di kosan ...,” bualku.
“Masa? Abang ada di depan kosan
Adek, nih. Lagi tidur?”
Aku membelalak. Dengan panik dan
terbata-bata aku menjawab, “Ma ... maksud aku! Aku ... aku di kosan teman.”
“Oh ..., jauh enggak?”
“Lu ... lumayan. Kenapa gitu, Bang?”
“Kan kita mau hiking pagi ini. Adek jadi
nemenin Abang, kan?”
Goblok kamu, Rohmat! Kamu kan ada janji
naik gunung bareng Fian. “I ... iya! Iya! Sorry, aku pikir agak
siangan.”
“Dari lanud jam enam. Abang dari
semalam Whatsapp Adek, tapi belum dibalas aja.”
Karena aku lagi ngewe Baaang ...,
sama salah satu calon tarunamu! Huhuhu ....
Aku merasa bersalah, sumpah. Merasa
sudah kehilangan satu kesempatan besar.
“Maaf ...,” kataku akhirnya.
“Gapapa. Abang Whatsapp buat
jelasin kita berangkat dari kosan jam 5. Tapi karena Adek belum balas aja, ini
Abang ke kamar Adek buat ngabarin. Tapi Adek lagi di luar, ternyata. Adek masih
mau ikut, kan?”
“Mau, mau!”
“Dek Ida enggak mau ternyata.” Fian menghela napas. “Oke,
Adek perlu dijemput?”
“Enggak usah. Gapapa. Aku pulang
sekarang!” kataku, sembari dengan rusuh pergi ke kamar mandi untuk
bersih-bersih. “Kukabari kalau udah nyampe, ya!”
Itu adalah bersih-bersih after ngewe
terkilat yang pernah kulakukan. Aku mandi, menggosok tubuhku dengan sabun hotel
yang seadanya, enggak sempat douching lagi, aku langsung mengenakan
pakaianku sembari memesan ojol.
Xavier terbangun melihat kehebohanku.
“Mau ke manaaa ...,” katanya sambil mendengung.
“Aku ada janji. Sorry, aku pulang
duluan, ya!”
“Enggak mau ngewe lagiii ...?”
“Enggak!” sergahku tergesa-gesa. Aku
sudah memasang sepatu dan ojolku sudah dekat. “Thanks, ya! Aku pulang
dulu!” Kukecup pipi Xavier kemudian berlalu pergi.
Sesampainya di kosan, Fian sudah tidak
ada di depan kamarku. Dia pasti sudah balik lagi ke kamar Ida. Kugunakan
kesempatan itu untuk mengganti baju dan menyiapkan kebutuhan esensial hiking
yang enggak pernah kuketahui. Aku pakai sepatu yang solnya tebal. Pakai jaket.
Celana ... jeans? Aku juga memanaskan air karena mau merebus Indomie
goreng.
Aku enggak tahu hiking tuh harus
ngapain. Sumpah. Apa kita perlu masak Indomie lalu menyantapnya di puncak
gunung? Indomie goreng yang sudah dingin, yang gumpalannya nanti membentuk tupperware-nya?
Aku mondar-mandir dengan panik di kamar
hingga akhirnya Fian muncul di ambang pintu sambil menatap kehebohanku.
Dia terkekeh kecil. “Adek ngapain?”
“Argh!” Aku terkejut sampai terlonjak
jatuh, ketika aku sedang menyiapkan peralatan mandiku.
“Kita bolak balik kok, Dek. Enggak akan
nginap.”
“Enggak, koookkk ...,” kataku sambil
menyorongkan lagi kotak peralatan mandiku ke dalam rak. “Barusan ..., barusan
cuma beresin aja.”
“Dan Adek enggak perlu bawa makanan.
Abang udah bawain makanan buat kita.” Fian melihat ke panci dengan air mendidih
yang ada di atas kompor listrikku.
“Oh! Itu ... itu buat aku minum teh,
kok. Pagi-pagi aku selalu minum teh. Bukan buat ....” Aku menoleh ke arah panci
itu dan baru menyadari, aku sudah memasukkan mi ke dalam panci itu.
“Tehnya pake mi?” tanya Fian dengan satu
alis mengangkat.
GOBLOOOKKK ...!
Ingin rasanya membenturkan kepalaku ke
dinding sampai pecah.
(Dindingnya yang pecah. Kepalaku
jangan.)
“Aku ... hehe ... aku ... lapar.”
Fian mengangkat jam tangannya. “Oke.
Masih ada sepuluh menit sebelum kita ke check point di lanud.” Dia
melepas sepatu hiking-nya, lalu masuk ke dalam kamarku. Tanpa diminta,
dia tiba-tiba menghampiri dapur kecilku dan menuang bumbu-bumbu Indomie ke atas
piring. “Adek beres-beres dulu aja kalau perlu, Abang selesaiin ya Indomie-nya.
Adek enggak perlu bawa apa-apa, kok. Abang udah siapin semuanya. Kan, Abang
yang ngajak Adek. Adek bawa badan aja.”
Jujur. Aku adalah orang tergoblok
sedunia. Terlebih karena aku sebenarnya enggak lapar-lapar banget saat ini. Sekarang
aku mengembalikan lagi barang-barang yang tadinya sudah kusiapkan, karena
kupikir diperlukan dalam pendakian gunung itu. Usai menyimpan lagi raket
listrik untuk membunuh nyamuk ke dalam lemari, Fian sudah selesai dengan mi
gorengku, bahkan sudah mengaduknya.
“Adek memang sering makan Indomie sampai
tiga?” tanya Fian.
Kan, goblok.
Kenapa enggak jujur aja sejak awal kalau
aku bikin Indomie karena mau dibekal ke gunung?!
“I ... iya.”
“Abang sih enggak nyaranin makan
sebanyak ini sebelum naik gunung. Nanti sakit perutnya.”
“Oh ....”
“Kalau kita bungkus aja, gimana?” Fian
dengan inisiatif berdiri di depan rak piringku, mencari wadah makan untuk
bekal.
Memang itu buat dibungkus, Abang
ganteeennnggg ...! Huhuhu ...! Tapi ini bukan salahmu, kok. Akunya aja
yang gengsian, sampai-sampai persoal Indomie pun enggak mau jujur.
“Bo ... boleh, Bang. Bungkus aja.”
Kubantu Fian mengambilkan tupperware palsu untuk menampung Indomie-ku. Aku
enggak mau pakai Tupperware asli. Takut hilang di gunung, enggak bisa diambil
lagi.
Punya ibuku, soalnya.
Singkat cerita, aku dan Fian berangkat
ke lanud pagi itu, sebelum matahari benar-benar muncul di ufuk timur. Motor
Fian keren dan macho banget. Aku enggak tahu namanya apa, karena aku
lelaki gay condong ke boti. Entah Ninja, entah Samurai, entah
Atletjudo. Yang tangki bensinnya di depan, dan aku sebagai penumpang harus
duduk condong ke depan, menempelkan dadaku ke punggung Fian yang kekar.
Dan motornya enggak ada pegangan di
belakang.
“Adek pegang ke pinggang Abang aja.
Gapapa,” katanya.
Aku pegangan ke pinggang Fian. Tapi
pantatku agak mundur ke belakang, hampir saingan sama knalpot motor. Soalnya,
kontolku ngaceng. Jangan sampai kontol sialan itu menyentuh badan Fian.
Sesampainya di sana, sudah ada tiga
kawan Fian yang sama-sama tentara, menunggu di dekat pos masuk area pangkalan
udara. Mereka semua membawa cewek. Fian saja yang membawa cewek jadi-jadian. Tapi
kami enggak langsung berangkat karena masih menunggu dua rekan Fian yang lain,
yang ketika datang mereka bawa plus one laki-laki juga. Tapi plus one-nya
adik kandung. Fian saja yang membawa adik-adikan.
Kami berdua belas beriringan mengendarai
motor ke lokasi gunung di belakang lanud. Ini kedengarannya kayak yang dekat,
ya: “di belakang lanud”. Tapi sebenarnya gunung ini lokasinya cukup jauh. Kami
harus berkendara hampir satu jam dengan lalu lintas yang lengang. Kami
meninggalkan area kota, masuk ke area perkampungan, lama-lama udara menjadi
lebih dingin dan perumahan warga mulai jarang terlihat.
Ketika kami berkendara di area
perbukitan, aku menoleh ke belakang dan melihat kota tempatku tinggal sekarang
tampak begitu jauh. Langit sudah cukup terang meski beberapa bangunan masih
menyalakan lampunya. Landasan udara tampak jauh sekali, tetapi tampak besar
juga dengan bangunan-bangunan militer berjejer di samping landasan, dan
pesawat-pesawat tempur berjejer rapi. Tampak kentara dengan kota kecil yang
berada di latar belakangnya.
“Kenapa?” tanya Fian sambil sesekali
menoleh ke belakang.
Aku tersenyum sembari tetap melihat
pemandangan itu. “Udah dua tahun tinggal di sini, aku enggak pernah ke sini.
Pemandangannya bagus.”
“Di depan sana ada kafe yang pemandangannya
bagus pas sunset. Kapan-kapan kita main ke sana, kalau Adek mau.”
Aku pernah dengar soal kafe itu. Deva
yang cerita. Karena dia pernah ke sana juga dan enggak berhenti memamerkannya
kepadaku betapa indahnya menikmati kopi sambil menatap matahari tenggelam.
“Pegangan yang bener. Jalannya
kelok-kelok,” kata Fian.
Aku memegang pinggang Fian seperti
sebelumnya. Hanya saja mencengkeram lebih kuat sekarang.
Tapi Fian malah menarik tanganku ke
depan perut ratanya, memaksaku memeluk tubuhnya.
Aku membelalak terkejut. “Ish!
Entar dilihatin!” bisikku panik. Kutarik lagi tanganku ke pinggang Fian.
Fian dengan sengaja mengolengkan
motornya kanan kiri.
Ngeeeng ...! Ngeeennnggg ...!
“Argh!” Aku hampir terguling ke atas
aspal!
Otomatis aku terkejut dan langsung
memeluk Fian dari belakang. Jantungku berdebar-debar, kupikir aku akan terjatuh
beneran dari atas motor dengan kecepatan tinggi. Kusembunyikan juga wajahku di
bahu Fian. Aku sampai berkeringat dingin.
“Nah, gitu,” kata Fian, menepuk-nepuk
tanganku yang kini memegang erat perut Fian. “Di depan tuh jalannya
kelok-kelok, Dek. Harus pegangan yang kuat.”
Enggak gini juga, Baaang ....
Huhuhu ....
Sekarang aku enggak mau lepasin tanganku
....
....
Kami tiba kira-kira dua puluh menit
kemudian. Jalanan benar-benar sepi. Bangunan terakhir yang dilewati adalah kafe
yang dibilang Fian tadi. Itu pun entah sudah berapa belas menit yang lalu.
Jalanannya memang berkelok-kelok, masuk ke area hutan yang pepohonannya
menjulang tinggi dan sejuk. Sinar matahari menembak lurus aspal dengan
cahaya-cahaya keemasan. Semua yang kulihat hanyalah hijaunya dedaunan. Tak ada
rumah warga.
Namun, kami tiba di sebuah pos yang
memang jadi titik awal pendakian. Areanya lumayan ramai. Ada beberapa kendaraan
lain yang sudah parkir, dan mungkin orangnya sudah naik duluan. Warung-warung
kopi berjejer, memfasilitasi para pendaki sebelum naik. Sekumpulan anak muda
dengan jaket tebal juga berkumpul atau baru tiba seperti kami.
Motor para tentara ini diparkirkan di
satu kantung parkir khusus motor, di bawah pohon pinus yang sangat tinggi. Di
balik pohon itu ada tebing curam yang berujung ke sungai kecil di bawahnya. Ada
pagar kayu yang sudah lapuk di samping tebing itu.
Aku turun dari motor untuk meregangkan
otot-ototku. Fian melepas helm dan tetek bengek cowok motoran kayak kacamata,
baf, dan sarung tangan.
Satu teman Fian menghampiri kami dan
berbicara dengan Fian. “Deket sini enggak sih crash-nya si Aksa, tuh?”
Fian menggeleng. “Bukan. Jauh dari sini.
Ada di balik gunung, tapi ke sananya lagi.”
“Enggak ada jalannya juga, ya?”
“Nihil. Harus buka jalan.”
“Terus debris-nya udah pada
diangkut.”
“Masih ada sebagian yang perlu diangkut.
Harus pake heli soalnya.”
Temannya Fian manggut-manggut. Tapi
perhatiannya langsung terdistraksi karena adiknya mengatakan sesuatu entah apa.
“Apa yang harus diangkut pake heli?”
tanyaku kepo.
Fian hanya tersenyum lebar sembari
merapikan peralatan motorannya ke dalam jok. “Urusan kerjaan.”
“Oh, oke.” Aku mengangguk paham lalu
melihat ke arah sungai dan berjalan pelan-pelan menghampiri pohon pinus. Sambil
menunggu Fian selesai dengan urusan motornya, aku ingin melihat sungai yang
kanan kirinya dikelilingi vegetasi hijau itu.
“Hati-hati, jangan terlalu ke sana,”
ungkap Fian dengan suara berat yang seksi.
Aku mengangguk sambil lanjut berjalan
terlalu ke sana.
Maksudnya, aku melompati satu undakan
batu, berdiri hati-hati di atas batu itu, berpegangan ke pohon pinus, lalu
melongokkan kepala ke bawah untuk melihat sungai. Tapi sungainya masih belum
kelihatan. Jadi aku melangkahkan satu kakiku ke batu yang lebih depan lagi,
yang ternyata ....
BBBRRRSSSSSSTTT ...!
Batu itu menggelincir ke bawah ....
Jatuh ke bawah tebing ....
Membawaku ikut serta ....
“AAAAAARGH ...!”
Dan aku terperosok di tebing!
Jatuh hingga ....
HAP!
....
Fian menyambar tanganku, lalu menahan
tubuhku yang menggantung di pinggiran tebing. Satu tangan Fian berpegangan ke
pohon pinus, lalu dengan satu angkatan yang sangat kuat, dia menarik tubuhku
hingga aku naik lagi ....
... Fian menarik pinggangku ....
... menarik badanku ke badannya ....
....
Mendekapku ....
....
Wajahnya begitu dekat dengan wajahku.
Aku membelalak melihat hidung Fian hanya
berjarak lima senti saja dari hidungku.
....
Lalu kurasakan kepala itu mendekat ....
....
Dan mendekat ....
....
Jantungku berdebar-debar saat kulihat
Fian membuka mulutnya untuk ....
Komentar
Posting Komentar