Halo, Kak!
Hari ini aku akan melakukan kejahatan
kriminal dalam dunia medis.
Huhuhu.
Aku tahu aku langsung menyesalinya
setelah melakukannya, tapi aku sedang dibutakan oleh hawa nafsu. Aku terdesak
dan tak punya pilihan lain.
Aku punya pilihan lain, tapi pilihan
lain yang seharusnya kuambil itu, mendadak nyaru di udara, enggak kelihatan
sama sekali. Seolah-olah aku enggak punya pilihan lain.
Benar kata pepatah, Ada tiga kelemahan
lelaki:
Harta, tahta, dan taruna.
(Lelaki macam aku, maksudnya.)
Ketika calon taruna bernama Xavier itu
meninggalkan klinik, aku melongo di station-ku, tak percaya dengan apa
yang baru saja kulakukan. Ingin kuperbaiki dan kubatalkan semuanya, tapi sudah
terlambat. Aku menjambak rambutku dengan panik, lalu menutup wajahku dengan
tangan, hampir menangis.
“AAAAAARGH ...!” teriakku, mumpung belum
ada siapa pun masuk ke klinik saat itu.
Aku baru saja melakukan penipuan ke
instansi pertahanan negara.
GOBLOK KAMU, ROHMAT!
Jadi begini ceritanya:
Xavier ngebet banget pengin masuk
taruna, menjadi bagian dari TNI AU, tetapi langkahnya bisa jadi terhenti kalau
dia punya varikokel. Sejauh ini, dia dicurigai mengidap varikokel, meskipun dia
enggak yakin. Xavier sudah memastikan dirinya bebas hernia, varises, hemoroid,
gigi berlubang, bahkan buta warna. Tapi perkara varikokel ini lain cerita.
Uangnya sudah habis untuk mengecek penyakit-penyakit lain, sehingga Xavier
enggak sempat melakukan USG testis untuk mengecek varikokel. Dia pikir dia aman
karena dia merasa enggak ada tanda-tanda ke arah sana.
Waktu pemeriksaan kesehatan kemarin, pemeriksanya
agak ragu dengan testis Xavier. Makanya Xavier dirujuk untuk melakukan USG
testis agar bisa melihat apakah pembuluh darah venanya membengkak atau tidak di
bagian testis itu.
Xavier panik. Takutnya iya, dia punya
varikokel. Meskipun tanda-tanda eksternalnya juga kurang meyakinkan. Aku sudah
melakukan anamnesis semampuku, Kak. Aku tanya-tanya soal riwayat kesehatan
Xavier, meskipun aku bukan dokter dan enggak punya kompetensi untuk menilai.
Tapi dari riwayat kesehatan Xavier, kalau informasinya memang benar, seharusnya
bocah ini baik-baik saja.
Tapi balik lagi, penyebab varikokel saja
sampai hari ini belum diketahui oleh medis. Sumpah, Kak. Silakan tanya semua
dr. Urologi, mereka akan menjawab penyebab pasti varikokel itu belum ditemukan.
Kemunculannya bisa terjadi secara acak kepada siapa pun, tanpa satu struktur
yang konsisten maupun konstan. Jadi, riwayat kesehatan keluarga pun, enggak
bisa dijadikan acuan.
Xavier turun dari tempat tidur,
telanjang bulat, lalu bersujud di kakiku. Dia memohon-mohon agar bisa dibantu
supaya hasil labnya negatif varikokel.
“Aku lakuin apa pun. Apa pun! Aku jadi
budakmu juga gapapa! Please, bantu aku!” Bahunya berguncang.
Aku benar-benar iba.
Seperti yang kubilang, aku teringat lagi
calon taruna di supermarket yang gagal masuk ke pendidikan militer. Entah apa
yang membuatnya gagal, tetapi wajahnya yang sedih, hatinya yang hancur,
suaranya yang bergetar saat dia menelepon ibunya untuk mengabarkan kegagalan
itu membuat hatiku ikutan hancur. Aku ikutan sedih dan patah hati juga.
Aku tahu banget rasanya berjuang akan
sesuatu. Berusaha melakukan segala cara agar bisa lolos mencapai impian kita. Kalau
kita ujung-ujungnya gagal untuk sesuatu yang berada di luar kontrol kita ...,
wah, itu bakal menyakitkan banget, sih. Bisa bunuh diri.
Di tengah-tengah pertimbanganku itu,
Xavier terus-menerus melontarkan janji-janji manis yang menggiurkan.
“Aku rela ngewe sama kamu tiap
hari!
“Aku janji ajak temen tarunaku buat ngewe
sama kamu juga, siapa tahu kamu mau orgy sama tentara!
“Aku rela disiksa sama kamu!
“Aku kasih rekaman video semua taruna
lagi mandi!”
Anjing! Aku pengin banget nonton video
taruna lagi mandi. Ngumpul banyakan di depan bak mandi besar, telanjang, lalu
saling menyiram air dalam gayung ke satu sama lain. Pasti seksi banget!
Tapi bukan itu yang membuatku akhirnya
berkata, “Oke,” dengan jantung berdegup sangat kencang. “Asal kamu janji,
enggak akan nyebut-nyebut namaku kalau kamu bermasalah dengan ini.”
“JANJI!” katanya sembari bangkit dan
memegang kedua bahuku.
“Dan semua janji kamu itu harus kamu
penuhi,” kataku, masih terbuai dengan segala janji kampanye seksi yang Xavier
tawarkan sedari tadi. Aku merasa, semakin sini, Xavier tampak semakin ganteng.
Entah karena dia berani menunjukkan sisi vulnerable-ya, menangis dan
pasrah, entah karena dia memang seksi. Kontolku ngaceng saat itu,
kepikiran berbagai petualangan seksi bersama Xavier.
Mungkin ini semua gara-gara Fian juga,
sih—kalau aku boleh nyalahin orang. Kalau saja dia enggak menggodaku dengan
keteknya semalam, sudah pasti hari ini aku akan bilang, “Enggak. Enggak.
Enggak. Enggak. Enggak!” Sampai Xavier memohon-mohon barusan, ingatanku masih
bisa memproyeksikan dengan jelas ketek Fian yang seksi, mulai dari berbulu,
hingga glowing tanpa bulu. Godaan Fian untuk mencukurkan jembutnya
seperti hal yang ngegantung dalam hidupku, seperti sange yang belum di-crot-kan,
yang membuatku mengambil keputusan hanya berdasarkan kebutuhan seksualku.
Menikmati tubuh Xavier yang kekar kurus
atletis ala-ala taruna yang sedang pendidikan ini terdengar menggairahkan.
“JANJI!” sahut Xavier, mengiakan
permintaanku yang itu. “Kalau perlu, malam ini aku sepong kamu! Sumpah!”
Enggak malam ini juga, sih. Tapi aku
tetap berkata, “Oke.”
“Apa lagi?” tantangnya. “Kamu mau aku
ngapain lagi?”
Aku enggak punya ide apa-apa lagi detik
itu. Jantungku masih berdebar-debar karena menyetujui pemalsuan hasil
pemeriksaan medis. Kepalaku belum begitu kreatif memikirkan permintaan yang
sepadan dengan tindak pidana ini, karena aku masih terlena oleh kemungkinan
menikmati tubuh calon taruna.
Akhirnya yang bisa kukatakan adalah,
“Aku pengin kamu borong sugar wax yang aku jual.”
Dan Xavier memborongnya.
Xavier pulang tak lama setelah itu,
mengantungi semua sugar wax Ida dan membayarnya secara kontan. Dia juga
menukar nomor teleponnya denganku dan berjanji akan menemuiku nanti malam untuk
memberikan “DP”-nya. Pokoknya dia pengin hasil pemeriksaan USG-nya negatif
varikokel.
Lalu, apa yang kulakukan untuk
memalsukannya sementara yang mengeluarkan hasil diagnosa adalah dr. Nining
selaku dr. Radiologi?
Di depan Xavier, aku melepaskan
celanaku, memamerkan kontolku yang lemas karena aku akan berbuat fraud.
Tapi Xavier mikirnya aku pengin di-sepong,
karena kontolku ukurannya ... yah, lumayan, lah. Tanya aja sama Deva. Deva akan
dengan senang hati menjelaskan dengan detail terkait kontolku, plus kontolnya
sendiri yang menurut Deva lebih oke dari kontolku.
Xavier yang mengira DP-nya harus dibayar
di ruang radiologi itu, malah menghampiri kontolku dengan mulutnya, tetapi aku
mendorong kepalanya sampai tersungkur.
“Apaan, sih? Jangan di sini!” kataku.
Lalu aku naik ke atas tempat tidur, berbaring 45 derajat pada posisi fowler,
lalu aku memindai testisku sendiri.
Yep. Yang kukirim ke dr. Nining adalah
USG di testisku sendiri.
Yang kuharap enggak ada varikokelnya,
sih. Bakalan kocak kalau dr. Nining ngirim hasil bacaannya dengan positif
varikokel juga, mengingat itu gambaran USG testisku. Tapi aku yakin enggak,
sih. Tanda-tanda varikokelnya enggak ada. Area penis, skrotum, bahkan prostatku
dalam kondisi baik-baik saja. Tidak ada perasaan yang tidak nyaman.
....
Oh, ada.
Semalam. Waktu aku lagi sange-sange-nya
dengan keseksian Fian, eh Ida malah datang. Kontolku rasanya di-PHP-in. Dan itu
enggak nyaman.
Tapi itu kan bukan ciri-ciri varikokel.
Alhasil, aku menghabiskan sisa hari itu
dengan penuh kecemasan. Diam-diam aku meng-googling segala jurnal soal
varikokel, berdoa bahwa ada satuuu saja penelitian yang bilang kalau varikokel
bisa sembuh sendiri. Lalu, aku berdoa varikokelnya Xavier (misal ada), bisa
sembuh sendiri. Jadi varikokelnya enggak akan pernah dipertanyakan TNI AU.
Sayangnya dari semua pencarian jurnalku, varikokel hanya bisa disembuhkan
dengan operasi.
Pukul tujuh malam, aku mendapatkan
Whatsapp dari Xavier. Aku udah sewa oyo buat kita. Kamu bisa ke sini jam
berapa?
Aku menarik napas panjang sembari
menenangkan diriku untuk keseribukalinya. Aku sudah berkomitmen melakukan
kejahatan ini. Aku harus bisa menghadapinya. Jangan sampai kinerjaku jadi turun
gara-gara kepikiran. Dan jangan sampai aku tidak menikmati reward yang
sudah dijanjikan atas kejahatan pidanaku ini.
Oke. Shareloc oyonya di mana.
[ ... ]
Ketika aku masuk ke kamar Oyo itu, Verdian
Arshaka Xavier sedang push rank Mobile Legend. Dia mengenakan kaus putih
tipis dengan kalung perak ala-ala dog tag di lehernya dan celana pendek
putih seperempat paha. Penampilannya kayak tentara di barak lagi santai-santai.
“Masuk. Kunci pintunya. Aku lagi push
rank,” katanya tanpa mengangkat kepala.
An enemy has been slain.
Aku mengunci pintu dan meletakkan
seluruh peralatanku ke atas meja. Aku masuk kamar mandi untuk bersih-bersih.
Sekalian mandi aja, toh bakal ngewe juga. Ketika aku keluar handukan
saja, sudah setengah telanjang, Xavier masih main Mobile Legend.
You have been slain!
“ANJING!” Dengan kesal Xavier
melemparkan ponselnya ke atas kasur lalu mendengus. Dia mengamatiku yang sedang
mengenakan lagi celana pendek, lalu menghela napas panjang. “Udah ada
hasilnya?”
Aku mengangguk. Aku merogoh tasku lalu
mengeluarkan sepucuk surat yang isinya adalah hasil USG testis siang tadi.
Hasilnya negatif varikokel.
Bijiku, ya. Bukan bijinya Xavier. Aku
enggak tahu dia ada varikokel atau enggak.
Xavier menyambar surat itu dan
membukanya dengan harap-harap cemas, seperti sedang menunggu surat kelulusan.
Padahal dia sudah tahu bahwa hasilnya bukanlah pemeriksaan bijinya dia.
“Good,” katanya lega, sembari
menghela napas dan merebahkan badannya di atas tempat tidur. Dia menatap
langit-langit dengan bahagia. Satu problem-nya sudah mendapatkan solusi.
Xavier bangkit lagi dan mundur ke kepala ranjang, lalu menepuk area kosong di
sampingnya. “Sini,” katanya. Dia juga mengambil ponselnya tadi, lalu AFK dari Mobile
Legend.
Aku memanjat naik ke atas ranjang dan
menyusup masuk ke pelukan Xavier. Dia baru menyadari aku telanjang dada, jadi
dia dengan inisiatif melepaskan kaus putihnya, sekaligus melepas kalung dog
tag-nya.
Anjir, badannya seksi, cuy.
Badan seksi calon tentara. Eksotis.
Kekar. Atletis. Romantis. Putingnya gelap dan bulat. Berbulu sedikit. Perutnya
rata dengan garis six pack yang kentara.
Dia merentangkan satu tangannya untuk
menyambutku ke pelukannya. Aku jadi bisa melihat bulu keteknya yang hitam,
halus, tumbuh rapi di lipatan lengannya yang agak-agak glowing. Yang
menarik adalah ketek itu lumayan kekar dengan cekungan berotot karena Xavier
rajin pull up sebelum pendidikan militer ini.
Sebelum aku benar-benar masuk ke pelukan
itu, Xavier berkata seperti ini, “Aku belum mandi.”
Lalu aku berhenti bergerak. “Hah?”
“Homo-homo pada suka kan kalau cowok
belum mandi?”
Aku sudah membuka mulut untuk
menyanggah, tetapi aku menutupnya lagi. Dalam situasi darurat sange
seperti ini, memang benar aku suka bau cowok yang belum mandi. Tapi dalam
situasi normal sih aku enggak mau. Ini mah gara-gara libido dan berahiku
lagi mantul-mantulnya, makanya kuli bermuka kuda pun mungkin aku mau ngewe
dengannya.
Aku merangkak ke pelukannya dan langsung
bergelung ke tubuh calon taruna itu. Benar, aroma tubuhnya seperti lelaki yang
baru work out seharian, keringatan, dan belum mandi.
Tapi ....
... enaaaaaakkk ... banget!
Laki banget baunya.
Kalau enggak ingat harga diri, sudah
kujilati seluruh tubuh Xavier sekarang juga. Pengin banget rasanya bergelung di
ketek Xavier selama-lamanya. Mengingat enggak mungkin aku bisa begini sama
Fian, akan kusyukuri kesempatan yang satu ini sebaik-baiknya.
“Emang kamu bukan homo?” tanyaku sembari
membenamkan wajahku di ketek itu, mengendusnya, lalu merem melek kayak orang
teler karena nge-fly sama bau badan Xavier.
“Bukan,” jawab Xavier enteng sembari
mendekap bahuku, lalu menarikku lebih dekat ke pelukannya. “Aku cuma korban.”
“Korban apa?”
“Korban perkosaan bapakku. Tapi udahlah,
aku enggak mau nyerita yang itu.” Xavier tiba-tiba mengecup keningku,
seolah-olah kami pacaran. Tangannya yang merangkul bahuku, mengusap-usap
kulitku dengan lembut.
Aku agak sensitif sama topik perkosaan.
Jadi aku juga tidak menanyakan lebih jauh. Tapi aku menanyakan hal yang lain.
“Terus kenapa kamu ada di aplikasi?”
“Ya akibat yang tadi itu,” katanya,
sambil menggaruk-garuk kepala. Mata Xavier terlihat nostalgic, tetapi
lelah. Tatapannya kosong menatap ke ujung tempat tidur. “Gara-gara keseringan
digituin aku sampai ....”
Xavier menarik napas panjang sebelum
akhirnya melanjutkan, “... sampai suka. Ngelakuinnya.”
“Kamu enggak jijik?” Aku mengangkat
kepalaku. “Itu, kan kejadian traumatis. Lazimnya, traumatic event kayak
gitu justru bikin orangnya menghindari kegiatan yang sama. Kadang baru denger
aja udah bisa triggering ....”
Xavier mengangkat bahu. “Tau, dah ...,”
sahutnya. “Aku jijik sama si bangsat itu. Tapi setiap jijik ... aku malah
pengin nunjukin kalau aku bisa hidup tanpa dia. Kalau aku kuat. Aku bisa lebih
hebat. Makanya aku harus masuk TNI. Aku harus buktiin aku punya martabat!”
Aku manggut-manggut paham. “Keju, wijen,
atau cokelat?”
“Itu martabak, ANJING!” Xavier
menggeplak kepalaku sambil terkekeh. Dengan gemas dia menarikku ke dekapannya.
Kayak pengin uyel-uyel mukaku.
Aku mengagumi perutnya yang bergetar
saat dia terkekeh barusan. Seksi banget.
“Terus, kenapa nge-ghosting aku
di aplikasi?” tanyaku, sembari mulai memainkan putingnya yang gelap itu.
Xavier menoleh ke arahku, mengangkat
kedua alisnya. “Karena .... Karena kamu pake baju suster.”
“Aku enggak pake baju suster!”
“Oh! Ada baju suster ngegantung di
belakangnya.”
Aku menyipitkan mata untuk
mengingat-ingat. Benar juga. Aku berfoto di kosan, dengan latar lemari dan
mejaku, lalu ada satu seragam suster yang digantung dekat pintu.
“Emang kenapa kalau ada baju suster?”
“Pas kita chatting itu, siangnya
aku tes kesehatan, cuy. Gimana kalau kamu yang ngecek kesehatan terus kamu
laporin kita ketemu di aplikasi?!”
Aku sudah membuka mulut untuk mengatakan
bahwa minggu depan memang aku yang ngecek kesehatan di lanud itu, tapi aku
mengurungkannya. Aku enggak mau memperpanjangnya setelah hari ini aku melakukan
tindakan kriminal. Aku hanya ingin menikmati reward-ku, yaitu ngewe
bersama calon taruna.
“Sorry aku udah bikin kamu ngelakuin
itu,” kata Xavier tiba-tiba. Dia menoleh lagi ke arahku, menempelkan wajahnya
ke wajahku. “Aku enggak tahu cara lain lagi buat keterima di sana. Aku udah
usaha keras, udah ngorbanin banyak hal, enggak lucu kalau akunya enggak lolos
gara-gara itu doang.”
“Iya, aku paham.”
“Aku udah pernah operasi wasir, anjir. Demi
bisa lolos TNI!”
“Kenapa operasi wasir?”
“Ya kan efek diperkosa waktu SMP!”
“Terus kemaren kamu lolos tes
hemoroidnya?”
Xavier mengangguk. “Bool aku
mulus. Lihat aja entar sendiri. Sejak operasi, aku main rapi.”
Aku menyipitkan mata, masih enggak
percaya. Tapi memang sih, hanya karena disodomi, bukan berarti bool
seseorang akan ada wasirnya.
Bool-ku enggak ada wasirnya. Sebab aku
selalu rileks setiap kali disodomi. Aku enggak punya hemoroid. Aku enggak
pernah diperkosa. Aku juga enggak pernah di-fisting. Cincin anusku
enggak mengembang seperti bunga.
“Tenang aja. Aku orangnya nepatin
janji!” kata Xavier sambil tersenyum. “Apa pun yang kamu mau dari aku, boleh!”
“Aku mau jilatin badan kamu,” kataku
sembari mengendus keteknya lagi.
“Boooleeeeeehhh ...!” Xavier mendengus
bangga karena dia bisa sebermanfaat itu. “Siap merasakan kenikmatan seorang
taruna?!”
Aku terkekeh sembari bangkit dan menatap
tubuh atletis itu dengan penuh kagum. “Siap kubikin lemas?”
“Mau taruhan siapa yang bakal K.O.
duluan?”
“Kamu nantangin suster, hah?”
“Kamu nantangin calon tentara, hah?”
“Oke!”
“OKE!” Xavier mendengus dengan ganas.
“Mau di mana kamu? Top atau bottom?!”
Kami pun ngewe malam itu. Dimulai
dari cerita detail soal masa lalu Xavier, tapi ujung-ujungnya ngewe
juga.
Ada kok detail ngewe-nya, tapi enggak akan aku share di sini karena takut di-banned. HAHAHA.
[ ... ]
6. USG Testis | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 7B. Kita Bolak-Balik Kok
Komentar
Posting Komentar