(HD) 7A. Aku Rela Disiksa sama Kamu




Halo, Kak!

Hari ini aku akan melakukan kejahatan kriminal dalam dunia medis.

Huhuhu.

Aku tahu aku langsung menyesalinya setelah melakukannya, tapi aku sedang dibutakan oleh hawa nafsu. Aku terdesak dan tak punya pilihan lain.

Aku punya pilihan lain, tapi pilihan lain yang seharusnya kuambil itu, mendadak nyaru di udara, enggak kelihatan sama sekali. Seolah-olah aku enggak punya pilihan lain.

Benar kata pepatah, Ada tiga kelemahan lelaki:

Harta, tahta, dan taruna.

(Lelaki macam aku, maksudnya.)

Ketika calon taruna bernama Xavier itu meninggalkan klinik, aku melongo di station-ku, tak percaya dengan apa yang baru saja kulakukan. Ingin kuperbaiki dan kubatalkan semuanya, tapi sudah terlambat. Aku menjambak rambutku dengan panik, lalu menutup wajahku dengan tangan, hampir menangis.

“AAAAAARGH ...!” teriakku, mumpung belum ada siapa pun masuk ke klinik saat itu.

Aku baru saja melakukan penipuan ke instansi pertahanan negara.

GOBLOK KAMU, ROHMAT!

Jadi begini ceritanya:

Xavier ngebet banget pengin masuk taruna, menjadi bagian dari TNI AU, tetapi langkahnya bisa jadi terhenti kalau dia punya varikokel. Sejauh ini, dia dicurigai mengidap varikokel, meskipun dia enggak yakin. Xavier sudah memastikan dirinya bebas hernia, varises, hemoroid, gigi berlubang, bahkan buta warna. Tapi perkara varikokel ini lain cerita. Uangnya sudah habis untuk mengecek penyakit-penyakit lain, sehingga Xavier enggak sempat melakukan USG testis untuk mengecek varikokel. Dia pikir dia aman karena dia merasa enggak ada tanda-tanda ke arah sana.

Waktu pemeriksaan kesehatan kemarin, pemeriksanya agak ragu dengan testis Xavier. Makanya Xavier dirujuk untuk melakukan USG testis agar bisa melihat apakah pembuluh darah venanya membengkak atau tidak di bagian testis itu.

Xavier panik. Takutnya iya, dia punya varikokel. Meskipun tanda-tanda eksternalnya juga kurang meyakinkan. Aku sudah melakukan anamnesis semampuku, Kak. Aku tanya-tanya soal riwayat kesehatan Xavier, meskipun aku bukan dokter dan enggak punya kompetensi untuk menilai. Tapi dari riwayat kesehatan Xavier, kalau informasinya memang benar, seharusnya bocah ini baik-baik saja.

Tapi balik lagi, penyebab varikokel saja sampai hari ini belum diketahui oleh medis. Sumpah, Kak. Silakan tanya semua dr. Urologi, mereka akan menjawab penyebab pasti varikokel itu belum ditemukan. Kemunculannya bisa terjadi secara acak kepada siapa pun, tanpa satu struktur yang konsisten maupun konstan. Jadi, riwayat kesehatan keluarga pun, enggak bisa dijadikan acuan.

Xavier turun dari tempat tidur, telanjang bulat, lalu bersujud di kakiku. Dia memohon-mohon agar bisa dibantu supaya hasil labnya negatif varikokel.

“Aku lakuin apa pun. Apa pun! Aku jadi budakmu juga gapapa! Please, bantu aku!” Bahunya berguncang.

Aku benar-benar iba.

Seperti yang kubilang, aku teringat lagi calon taruna di supermarket yang gagal masuk ke pendidikan militer. Entah apa yang membuatnya gagal, tetapi wajahnya yang sedih, hatinya yang hancur, suaranya yang bergetar saat dia menelepon ibunya untuk mengabarkan kegagalan itu membuat hatiku ikutan hancur. Aku ikutan sedih dan patah hati juga.

Aku tahu banget rasanya berjuang akan sesuatu. Berusaha melakukan segala cara agar bisa lolos mencapai impian kita. Kalau kita ujung-ujungnya gagal untuk sesuatu yang berada di luar kontrol kita ..., wah, itu bakal menyakitkan banget, sih. Bisa bunuh diri.

Di tengah-tengah pertimbanganku itu, Xavier terus-menerus melontarkan janji-janji manis yang menggiurkan.

“Aku rela ngewe sama kamu tiap hari!

“Aku janji ajak temen tarunaku buat ngewe sama kamu juga, siapa tahu kamu mau orgy sama tentara!

“Aku rela disiksa sama kamu!

“Aku kasih rekaman video semua taruna lagi mandi!”

Anjing! Aku pengin banget nonton video taruna lagi mandi. Ngumpul banyakan di depan bak mandi besar, telanjang, lalu saling menyiram air dalam gayung ke satu sama lain. Pasti seksi banget!

Tapi bukan itu yang membuatku akhirnya berkata, “Oke,” dengan jantung berdegup sangat kencang. “Asal kamu janji, enggak akan nyebut-nyebut namaku kalau kamu bermasalah dengan ini.”

“JANJI!” katanya sembari bangkit dan memegang kedua bahuku.

“Dan semua janji kamu itu harus kamu penuhi,” kataku, masih terbuai dengan segala janji kampanye seksi yang Xavier tawarkan sedari tadi. Aku merasa, semakin sini, Xavier tampak semakin ganteng. Entah karena dia berani menunjukkan sisi vulnerable-ya, menangis dan pasrah, entah karena dia memang seksi. Kontolku ngaceng saat itu, kepikiran berbagai petualangan seksi bersama Xavier.

Mungkin ini semua gara-gara Fian juga, sih—kalau aku boleh nyalahin orang. Kalau saja dia enggak menggodaku dengan keteknya semalam, sudah pasti hari ini aku akan bilang, “Enggak. Enggak. Enggak. Enggak. Enggak!” Sampai Xavier memohon-mohon barusan, ingatanku masih bisa memproyeksikan dengan jelas ketek Fian yang seksi, mulai dari berbulu, hingga glowing tanpa bulu. Godaan Fian untuk mencukurkan jembutnya seperti hal yang ngegantung dalam hidupku, seperti sange yang belum di-crot-kan, yang membuatku mengambil keputusan hanya berdasarkan kebutuhan seksualku.

Menikmati tubuh Xavier yang kekar kurus atletis ala-ala taruna yang sedang pendidikan ini terdengar menggairahkan.

“JANJI!” sahut Xavier, mengiakan permintaanku yang itu. “Kalau perlu, malam ini aku sepong kamu! Sumpah!”

Enggak malam ini juga, sih. Tapi aku tetap berkata, “Oke.”

“Apa lagi?” tantangnya. “Kamu mau aku ngapain lagi?”

Aku enggak punya ide apa-apa lagi detik itu. Jantungku masih berdebar-debar karena menyetujui pemalsuan hasil pemeriksaan medis. Kepalaku belum begitu kreatif memikirkan permintaan yang sepadan dengan tindak pidana ini, karena aku masih terlena oleh kemungkinan menikmati tubuh calon taruna.

Akhirnya yang bisa kukatakan adalah, “Aku pengin kamu borong sugar wax yang aku jual.”

Dan Xavier memborongnya.

Xavier pulang tak lama setelah itu, mengantungi semua sugar wax Ida dan membayarnya secara kontan. Dia juga menukar nomor teleponnya denganku dan berjanji akan menemuiku nanti malam untuk memberikan “DP”-nya. Pokoknya dia pengin hasil pemeriksaan USG-nya negatif varikokel.

Lalu, apa yang kulakukan untuk memalsukannya sementara yang mengeluarkan hasil diagnosa adalah dr. Nining selaku dr. Radiologi?

Di depan Xavier, aku melepaskan celanaku, memamerkan kontolku yang lemas karena aku akan berbuat fraud.

Tapi Xavier mikirnya aku pengin di-sepong, karena kontolku ukurannya ... yah, lumayan, lah. Tanya aja sama Deva. Deva akan dengan senang hati menjelaskan dengan detail terkait kontolku, plus kontolnya sendiri yang menurut Deva lebih oke dari kontolku.

Xavier yang mengira DP-nya harus dibayar di ruang radiologi itu, malah menghampiri kontolku dengan mulutnya, tetapi aku mendorong kepalanya sampai tersungkur.

“Apaan, sih? Jangan di sini!” kataku. Lalu aku naik ke atas tempat tidur, berbaring 45 derajat pada posisi fowler, lalu aku memindai testisku sendiri.

Yep. Yang kukirim ke dr. Nining adalah USG di testisku sendiri.

Yang kuharap enggak ada varikokelnya, sih. Bakalan kocak kalau dr. Nining ngirim hasil bacaannya dengan positif varikokel juga, mengingat itu gambaran USG testisku. Tapi aku yakin enggak, sih. Tanda-tanda varikokelnya enggak ada. Area penis, skrotum, bahkan prostatku dalam kondisi baik-baik saja. Tidak ada perasaan yang tidak nyaman.

....

Oh, ada.

Semalam. Waktu aku lagi sange-sange-nya dengan keseksian Fian, eh Ida malah datang. Kontolku rasanya di-PHP-in. Dan itu enggak nyaman.

Tapi itu kan bukan ciri-ciri varikokel.

Alhasil, aku menghabiskan sisa hari itu dengan penuh kecemasan. Diam-diam aku meng-googling segala jurnal soal varikokel, berdoa bahwa ada satuuu saja penelitian yang bilang kalau varikokel bisa sembuh sendiri. Lalu, aku berdoa varikokelnya Xavier (misal ada), bisa sembuh sendiri. Jadi varikokelnya enggak akan pernah dipertanyakan TNI AU. Sayangnya dari semua pencarian jurnalku, varikokel hanya bisa disembuhkan dengan operasi.

Pukul tujuh malam, aku mendapatkan Whatsapp dari Xavier. Aku udah sewa oyo buat kita. Kamu bisa ke sini jam berapa?

Aku menarik napas panjang sembari menenangkan diriku untuk keseribukalinya. Aku sudah berkomitmen melakukan kejahatan ini. Aku harus bisa menghadapinya. Jangan sampai kinerjaku jadi turun gara-gara kepikiran. Dan jangan sampai aku tidak menikmati reward yang sudah dijanjikan atas kejahatan pidanaku ini.

Oke. Shareloc oyonya di mana.

[ ... ]

Ketika aku masuk ke kamar Oyo itu, Verdian Arshaka Xavier sedang push rank Mobile Legend. Dia mengenakan kaus putih tipis dengan kalung perak ala-ala dog tag di lehernya dan celana pendek putih seperempat paha. Penampilannya kayak tentara di barak lagi santai-santai.

“Masuk. Kunci pintunya. Aku lagi push rank,” katanya tanpa mengangkat kepala.

An enemy has been slain.

Aku mengunci pintu dan meletakkan seluruh peralatanku ke atas meja. Aku masuk kamar mandi untuk bersih-bersih. Sekalian mandi aja, toh bakal ngewe juga. Ketika aku keluar handukan saja, sudah setengah telanjang, Xavier masih main Mobile Legend.

You have been slain!

“ANJING!” Dengan kesal Xavier melemparkan ponselnya ke atas kasur lalu mendengus. Dia mengamatiku yang sedang mengenakan lagi celana pendek, lalu menghela napas panjang. “Udah ada hasilnya?”

Aku mengangguk. Aku merogoh tasku lalu mengeluarkan sepucuk surat yang isinya adalah hasil USG testis siang tadi.

Hasilnya negatif varikokel.

Bijiku, ya. Bukan bijinya Xavier. Aku enggak tahu dia ada varikokel atau enggak.

Xavier menyambar surat itu dan membukanya dengan harap-harap cemas, seperti sedang menunggu surat kelulusan. Padahal dia sudah tahu bahwa hasilnya bukanlah pemeriksaan bijinya dia.

Good,” katanya lega, sembari menghela napas dan merebahkan badannya di atas tempat tidur. Dia menatap langit-langit dengan bahagia. Satu problem-nya sudah mendapatkan solusi. Xavier bangkit lagi dan mundur ke kepala ranjang, lalu menepuk area kosong di sampingnya. “Sini,” katanya. Dia juga mengambil ponselnya tadi, lalu AFK dari Mobile Legend.

Aku memanjat naik ke atas ranjang dan menyusup masuk ke pelukan Xavier. Dia baru menyadari aku telanjang dada, jadi dia dengan inisiatif melepaskan kaus putihnya, sekaligus melepas kalung dog tag-nya.

Anjir, badannya seksi, cuy.

Badan seksi calon tentara. Eksotis. Kekar. Atletis. Romantis. Putingnya gelap dan bulat. Berbulu sedikit. Perutnya rata dengan garis six pack yang kentara.

Dia merentangkan satu tangannya untuk menyambutku ke pelukannya. Aku jadi bisa melihat bulu keteknya yang hitam, halus, tumbuh rapi di lipatan lengannya yang agak-agak glowing. Yang menarik adalah ketek itu lumayan kekar dengan cekungan berotot karena Xavier rajin pull up sebelum pendidikan militer ini.

Sebelum aku benar-benar masuk ke pelukan itu, Xavier berkata seperti ini, “Aku belum mandi.”

Lalu aku berhenti bergerak. “Hah?”

“Homo-homo pada suka kan kalau cowok belum mandi?”

Aku sudah membuka mulut untuk menyanggah, tetapi aku menutupnya lagi. Dalam situasi darurat sange seperti ini, memang benar aku suka bau cowok yang belum mandi. Tapi dalam situasi normal sih aku enggak mau. Ini mah gara-gara libido dan berahiku lagi mantul-mantulnya, makanya kuli bermuka kuda pun mungkin aku mau ngewe dengannya.

Aku merangkak ke pelukannya dan langsung bergelung ke tubuh calon taruna itu. Benar, aroma tubuhnya seperti lelaki yang baru work out seharian, keringatan, dan belum mandi.

Tapi ....

... enaaaaaakkk ... banget!

Laki banget baunya.

Kalau enggak ingat harga diri, sudah kujilati seluruh tubuh Xavier sekarang juga. Pengin banget rasanya bergelung di ketek Xavier selama-lamanya. Mengingat enggak mungkin aku bisa begini sama Fian, akan kusyukuri kesempatan yang satu ini sebaik-baiknya.

“Emang kamu bukan homo?” tanyaku sembari membenamkan wajahku di ketek itu, mengendusnya, lalu merem melek kayak orang teler karena nge-fly sama bau badan Xavier.

“Bukan,” jawab Xavier enteng sembari mendekap bahuku, lalu menarikku lebih dekat ke pelukannya. “Aku cuma korban.”

“Korban apa?”

“Korban perkosaan bapakku. Tapi udahlah, aku enggak mau nyerita yang itu.” Xavier tiba-tiba mengecup keningku, seolah-olah kami pacaran. Tangannya yang merangkul bahuku, mengusap-usap kulitku dengan lembut.

Aku agak sensitif sama topik perkosaan. Jadi aku juga tidak menanyakan lebih jauh. Tapi aku menanyakan hal yang lain. “Terus kenapa kamu ada di aplikasi?”

“Ya akibat yang tadi itu,” katanya, sambil menggaruk-garuk kepala. Mata Xavier terlihat nostalgic, tetapi lelah. Tatapannya kosong menatap ke ujung tempat tidur. “Gara-gara keseringan digituin aku sampai ....”

Xavier menarik napas panjang sebelum akhirnya melanjutkan, “... sampai suka. Ngelakuinnya.”

“Kamu enggak jijik?” Aku mengangkat kepalaku. “Itu, kan kejadian traumatis. Lazimnya, traumatic event kayak gitu justru bikin orangnya menghindari kegiatan yang sama. Kadang baru denger aja udah bisa triggering ....”

Xavier mengangkat bahu. “Tau, dah ...,” sahutnya. “Aku jijik sama si bangsat itu. Tapi setiap jijik ... aku malah pengin nunjukin kalau aku bisa hidup tanpa dia. Kalau aku kuat. Aku bisa lebih hebat. Makanya aku harus masuk TNI. Aku harus buktiin aku punya martabat!”

Aku manggut-manggut paham. “Keju, wijen, atau cokelat?”

“Itu martabak, ANJING!” Xavier menggeplak kepalaku sambil terkekeh. Dengan gemas dia menarikku ke dekapannya. Kayak pengin uyel-uyel mukaku.

Aku mengagumi perutnya yang bergetar saat dia terkekeh barusan. Seksi banget.

“Terus, kenapa nge-ghosting aku di aplikasi?” tanyaku, sembari mulai memainkan putingnya yang gelap itu.

Xavier menoleh ke arahku, mengangkat kedua alisnya. “Karena .... Karena kamu pake baju suster.”

“Aku enggak pake baju suster!”

“Oh! Ada baju suster ngegantung di belakangnya.”

Aku menyipitkan mata untuk mengingat-ingat. Benar juga. Aku berfoto di kosan, dengan latar lemari dan mejaku, lalu ada satu seragam suster yang digantung dekat pintu.

“Emang kenapa kalau ada baju suster?”

“Pas kita chatting itu, siangnya aku tes kesehatan, cuy. Gimana kalau kamu yang ngecek kesehatan terus kamu laporin kita ketemu di aplikasi?!”

Aku sudah membuka mulut untuk mengatakan bahwa minggu depan memang aku yang ngecek kesehatan di lanud itu, tapi aku mengurungkannya. Aku enggak mau memperpanjangnya setelah hari ini aku melakukan tindakan kriminal. Aku hanya ingin menikmati reward-ku, yaitu ngewe bersama calon taruna.

“Sorry aku udah bikin kamu ngelakuin itu,” kata Xavier tiba-tiba. Dia menoleh lagi ke arahku, menempelkan wajahnya ke wajahku. “Aku enggak tahu cara lain lagi buat keterima di sana. Aku udah usaha keras, udah ngorbanin banyak hal, enggak lucu kalau akunya enggak lolos gara-gara itu doang.”

“Iya, aku paham.”

“Aku udah pernah operasi wasir, anjir. Demi bisa lolos TNI!”

“Kenapa operasi wasir?”

“Ya kan efek diperkosa waktu SMP!”

“Terus kemaren kamu lolos tes hemoroidnya?”

Xavier mengangguk. “Bool aku mulus. Lihat aja entar sendiri. Sejak operasi, aku main rapi.”

Aku menyipitkan mata, masih enggak percaya. Tapi memang sih, hanya karena disodomi, bukan berarti bool seseorang akan ada wasirnya.

Bool-ku enggak ada wasirnya. Sebab aku selalu rileks setiap kali disodomi. Aku enggak punya hemoroid. Aku enggak pernah diperkosa. Aku juga enggak pernah di-fisting. Cincin anusku enggak mengembang seperti bunga.

“Tenang aja. Aku orangnya nepatin janji!” kata Xavier sambil tersenyum. “Apa pun yang kamu mau dari aku, boleh!”

“Aku mau jilatin badan kamu,” kataku sembari mengendus keteknya lagi.

“Boooleeeeeehhh ...!” Xavier mendengus bangga karena dia bisa sebermanfaat itu. “Siap merasakan kenikmatan seorang taruna?!”

Aku terkekeh sembari bangkit dan menatap tubuh atletis itu dengan penuh kagum. “Siap kubikin lemas?”

“Mau taruhan siapa yang bakal K.O. duluan?”

“Kamu nantangin suster, hah?”

“Kamu nantangin calon tentara, hah?”

“Oke!”

“OKE!” Xavier mendengus dengan ganas. “Mau di mana kamu? Top atau bottom?!”

Kami pun ngewe malam itu. Dimulai dari cerita detail soal masa lalu Xavier, tapi ujung-ujungnya ngewe juga.

Ada kok detail ngewe-nya, tapi enggak akan aku share di sini karena takut di-banned. HAHAHA.


[ ... ]


6. USG Testis | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 7B. Kita Bolak-Balik Kok

Komentar