Halo, Kak!
Kami melanjutkan lagi perjalanan selama dua jam. Sempat istirahat lagi dua kali, tetapi tidak sepanjang istirahat yang tadi. Formasi perjalanan hampir sama hingga ke puncak. Delapan orang yang lain ada di depan, sementara aku, Ezel, Fian, dan Erick ada di paling bontot.
Pada satu titik perjalanan, kami
berpapasan dengan satu sungai yang mengalir cukup deras. Jalan setapak itu
berada di ketinggian tertentu, yang di bawahnya terdapat sungai cukup lebar,
dengan air yang masih jernih, mengalir ke arah berlawanan. Sumpah, airnya tidak
berwarna cokelat. Tapi arusnya entah mengapa cukup deras.
Kami juga sempat berhenti di sana untuk
melihat pemandangan, atau menikmati suara aliran sungai yang menenangkan. Para
tentara seperti biasa membahas soal Aksa.
“Gue nyari si Aksa sampe ke sungai ini,
cuy! Diubek-ubek seharian. Siapa tahu hanyut kan ama puing-puingnya.”
Fian juga menanggapi, “Kalau beneran
hanyut di sini sih, mestinya kita tinggal nyari di sungai yang deket alun-alun.
Kan ini ngalir ke sana.”
“Bener juga!”
Namun aku sudah tak memedulikan lagi
obrolan itu. Aku asyik menghirup udara segar di gunung ini, mendengarkan
gemericik aliran air sungai di bawah sana, ditemani suara-suara serangga dan
hewan hutan yang saling bersahutan. Aku duduk di atas batu, sangat jauh dari
tebing, karena takut terperosok lagi kayak di pos awal tadi.
Fian tiba-tiba duduk di sampingku.
Memeluk lututnya sembari dengan sengaja menyenggolku dengan bahunya.
“Enggak mau lihat ke sana?” tanyanya.
“Enggak, ah. Takut kayak tadi lagi.”
“Oh, iya. Hahaha ....” Fian terkekeh.
“Ya asal hati-hati aja gapapa. Masih aman kok kalau Adek berdiri di situ. Tuh,
yang ada si Lelanya.”
Aku menoleh ke arah yang ditunjuk Fian.
Lela sedang melakukan gerakan dance Tiktok barengan Bondan. “Entar aja,
ah.”
“Entar kita ketemu lagi kok sungainya,
sebelum nyampe puncak.”
“Ini sungai yang di bawah itu bukan?”
“Yang tadi Adek hampir jatuh? Iya.”
“Ini sungainya dari gunung ini?”
“Bukan gunung yang ini. Tapi yang
sebelahnya. Kita enggak akan ke sana. Harus camping kalau kita mau hiking
ke sana.”
Aku manggut-manggut paham.
“Yuk? Kita mau jalan lagi,” kata Fian,
sembari bangkit dan mengabari yang lain untuk melanjutkan perjalanan.
“Iya ....” Aku mengambil ranselku lalu
bangkit berdiri.
Namun, ketika melangkah ....
... aku kepeleset.
“ARGH!”
Aku salah mengambil pijakan, sehingga
kakiku melenceng ke dalam, dan aku pun terkilir. Tentu saja aku jatuh ke atas
tanah.
“Dek?!” Fian langsung melompat
menghampiriku. “Adek enggak apa-apa?”
“Gapapa, gapapa. Sorry. Tadi
kepeleset aja.”
Fian langsung memijat-mijat pergelangan
kakiku. “Sakit?”
Sakit bangeeettt ....
Tapi aku enggak mau dianggap lemah
seperti Erick menganggap Ezel sebagai adik yang lemah, jadi aku menggelengkan
kepala. “Gapapa, kok. Cuma keseleo.”
“Nih aku bawa balsem,” kata Lela, si
suster RSUD, sambil merogoh tasnya.
Suster macam apa kamu?! Masa orang
keseleo langsung dikasih balsem?! Jangan-jangan STR-mu palsu, atau kamu enggak
punya STR sama sekali!
“Ada yang bawa air es?” tanya Fian,
sembari mendongak. Tangannya dengan lihai langsung membuka sepatu dan kaus kakiku, mencoba
memosisikan pergelangan kakiku senyaman mungkin.
“Oh, aku ada!” sahut Ezel, langsung
memindahkan ranselnya ke depan untuk mengambil satu termos lumayan besar yang
isinya air es. Termos itu berbunyi berisik karena masih ada esnya di sana.
Bahkan, bagian luarnya memiliki titik-titik air dan embun, saking dinginnya.
“Boleh saya pinjam, kan?” tanya Fian.
“Iya, gapapa. Bukan buat dibuang, kan?”
“Buat dikompres aja. Boleh?”
“Iya boleh, Kak.”
Fian langsung menarik satu kain panjang
dari ranselnya, kemudian menempelkan termos yang dingin banget itu ke
pergelangan kakiku yang cedera. Setelah itu, Fian membebatnya dengan kain agar termosnya
menempel dengan kuat ke kakiku. Sudah seperti bidai kayu saja.
Aku sempat menggigil hebat saat
merasakan termos dingin itu ditempelkan ke pergelangan kakiku yang snut-snutan.
Aku merasa yang dilakukan Fian itu lebai, karena kayaknya keseleo barusan hanya
keseleo ringan yang akan sembuh dalam beberapa menit ke depan.
Tapi aku benar-benar menikmati usaha
Fian untuk membuatku nyaman. Jadi aku diam saja.
Masalahnya ....
“Terus aku jalannya gimana?” tanyaku.
“Jalan?” tanya Fian sembari meletakkan
ranselnya ke depan. “Adek mau Abang gendong sampai atas.”
Aku membelalak.
“Sini. Gapapa. Udah dekat, kok. Naik ke
punggung Abang.”
....
Kak ....
....
Kakak boleh iri lagi sama aku, Kak.
Tapi sumpah, meskipun ini sweet
banget, aku malu.
Ya memang enggak ada yang protes karena
aku digendong sama Fian. Tapi rasanya kayak ....
... kayak jadi beban.
Yang lainnya jalan dengan kaki sendiri,
aku digendong sama tentara paling kekar di situ, bagaikan tuan putri. Aku sudah
request untuk turun berkali-kali, tetapi Fian bersikukuh, “Udah enggak
apa-apa, Dek. Udah dekat, kok.”
Ya tapi ....
Tapi ....
....
Kontolku ngaceng, Kak.
....
Dan kontol ngaceng itu pasti menekan ke
punggung kekar Fian.
Aku yakin Kakak juga bakalan ngaceng
di posisi ini! Udah deh, enggak usah munafik. Digendong tentara ganteng, kekar,
manly, naik gunung. Kedua kaki Kakak digaet sama tangannya, lalu badan
Kakak nemplok ke punggungnya. Dan dagu Kakak bisa ada di bahunya yang lebar.
Mendengarkan dia ngos-ngosan, tapi dia bersikeras untuk tetap menggendong
Kakak.
Itu bikin ngaceng enggak, sih?
Pengin nangis, anjir.
Malu banget.
Tapi sange juga.
Sengaja aku enggak berkata apa-apa
sepanjang jalan karena aku merasa malu. Mati-matian kepalaku membayangkan
hal-hal yang mengerikan, yang menjijikkan, supaya kontolku enggak ngaceng
dan menodong punggung Fian.
Kubayangkan waktu latihan memandikan
kadaver (mayat), mengeluarkan kotoran dari isi perutnya ....
... tapi aku masih ngaceng karena
Fian tiba-tiba menyundulkan kepalanya ke wajahku dengan romantis.
Kubayangkan waktu menangani korban
kecelakaan yang tangannya buntung dan darah di mana-mana di IGD sebuah rumah
sakit pas aku lagi koas ....
... aku masih ngaceng karena
lengan Fian yang kokoh menggaet erat lipatan lututku supaya aku enggak jatuh.
Terus dia berbisik, “Adek pegangan yang kuat, supaya enggak jatuh.” Itu tuh
sambil ngelompatin batu-batu gitu, karena perjalanannya menanjak.
Kubayangkan muka Deva yang nyebelin itu
waktu aku dan dia threesome bareng seorang “tentara” ....
... aku tetap ngaceng karena Fian
....
Karena ini Fian.
Dan aku suka Fian.
Ah, sialan.
Pokoknya kalau Fian suatu waktu
bertanya, “Dek, itu yang ngeganjal di punggung Abang tuh apa, ya?”
Aku enggak akan berpikir panjang untuk
menjawab, “REMOTE TV!”
[ ... ]
Oke. Aku enggak akan bahas dengan detail
kegiatan kami di puncak gunung yang didaki. Alasan pertama, aku masih malu
gara-gara aku digendong Fian. Alasan kedua, aku masih malu gara-gara aku
digendong Fian. Iya. Alasannya sama. Alasan pertama malu ke semua orang. Alasan
kedua malu ke Fian. Aku benar-benar beban.
Coba aja yang ikut ini Ida, bukan aku,
mungkin seenggaknya Fian akan menggendong sesemakhluk yang cantik jelita, berambut
panjang, berketek mulus, bibir bergincu, dan bikin semuanya romantis, bikin
paling romantis.
Tapi Fian malah menggendongku.
Aku bener-bener malu.
Kami tiba di puncak gunung sebelum makan
siang. Hal pertama yang dilakukan adalah foto-foto dan merekam konten untuk diunggah
di Tiktok setelah turun gunung nantinya. Sebagian dari kami mulai memasang
kompor portabel dan bersiap untuk memasak. Kami melakukan makan siang,
mengobrol, nyanyi, dan lain sebagainya yang aku enggak berani ikutan terlalu
aktif karena masih malu gara-gara kejadian tadi.
Setelah termos es itu dilepaskan dari
kakiku, ternyata kakiku baik-baik saja. Aku masih merasa ngilu, tapi enggak
parah-parah banget. Aku akhirnya mengoleskan balsem dari Lela dan pura-pura
masih agak sakit, meskipun sebenarnya aku enggak kenapa-napa.
Lewat pukul dua siang, kami membereskan
semua peralatan dan kembali menyusuri jalan yang sama untuk pulang. Malah, kami
pulang barengan rombongan lain yang datang sebelum dan sesudah kami. Jadi agak
ramean gitu perjalanannya.
Aku enggak digendong Fian lagi, tetapi
aku enggak bisa gegabah juga. Pergelangan kakiku masih mudah goyah sehingga aku
harus memastikan pijakanku kuat dan aku punya area yang cukup untuk kebablasan.
Fian begitu setia menemaniku sepanjang perjalanan turun. Posisi kami di tengah
rombongan, dan kebetulan orang-orang di belakangku tak bermasalah ketika aku
jalannya agak lelet. Mereka nyantuy dan terus-menerus menyemangatiku.
“Gapapa Kak Rohmat, pelan-pelan aja.
Jangan terburu-buru!”
“Pegangan ke pohon itu aja, Kak.
Batangnya lebih tebal.”
“Bener, Kak. Atau ke batang yang kiri,
Kak. Itu batangnya kurus, panjang, banyak uratnya.”
Pukul empat sore, progres kami agak
lambat. Rombongan depan sudah berada cukup jauh, sementara rombongan belakang
ini baru tiba di tempat kakiku tadi terkilir. Kupikir turun gunung akan lebih
cepat dibandingkan naik gunung. Ternyata kalau turun gunungnya barengan boti
yang cedera kaki sepertiku, lama juga, ya.
Di titik istirahat dekat sungai itu, aku
duduk bersama Fian untuk menyantap sisa panganan yang belum habis. Fian ada di
dekatku juga, tapi sedang asyik mengobrol bersama Erick. Rombongan luar yang
gabung bersama kami sedang asyik mengambil banyak foto karena katanya tadi,
waktu naik, mereka enggak berhenti di sini.
“Bukan, Bro! Itu kalau dilemparin suar
dari tempat kayak gini,” kata Erick, sembari berdiri dan menunjuk area
pepohonan tinggi di belakang kami, “enggak akan kelihatan, lah. Apache juga
enggak bakal bisa lihat. Lihat itu daun-daunnya dekat gitu!”
Fian bangkit berdiri dan menyusul Erick.
Kepalanya mendongak menatap ke dedaunan yang meneduhi kami di bawah sini.
“Masuk akal, sih. Makanya si Aksa enggak bisa ngasih tanda ke helikopter yang
lewat—“
“Ya iya, makanya! Enggak akan kelihatan
anjir. Mana di sono lebih rapat pohonnya daripada sini. Ya, kan? Lu ke sana
juga kan pake casevac?”
“Iya. Lebih padat pohonnya.”
“Nah, kan!”
“Mereka bahas apa, sih?” tanya Ezel
sambil menyenggolku. Dia agak berbisik.
Aku mengangkat bahu. “Katanya sih urusan
kantor. Aku juga enggak tahu.”
“Dari tadi semuanya bahas itu mulu.”
“Kamu yang tinggal serumah ama masmu,
enggak dengar dia cerita apa gitu?”
“Oh, rumahku enggak di sini. Aku orang
Jakarta. Aku ngekos di sini karena kuliah.”
“Kuliah? Di sini emangnya ada kampus?”
“Ada. Tapi kampus kecil-kecil. Bukan
universitas gede. Sengaja aku kuliah di sini supaya dekat sama abangku.” Ezel
menghela napas, seperti lelah dengan kehidupan. “Penginnya sih aku ke Bandung,
tapi enggak diizinin. Waktu tahu Bang Erick ditugasin di sini, di lanud baru
itu, aku langsung dikuliahin di sini.”
“Kamu kan udah gede. Kamu bisa
memutuskan sendiri mau kuliah di mana.”
Ezel hanya mengangkat bahunya. “Kalau
aku kuliah di Bandung, aku harus pake biaya sendiri. Kalau di sini, dibiayain
sama ortuku. Jadi ya ..., terpaksa, deh.”
“Di mana kosanmu?”
“Dekat simpang.”
“Simpang lima?”
“Iya.”
Aduh, dekat kosanku, dong. Tapi kayaknya
dia enggak ngekos di kosanku, sih. Sebab aku enggak pernah lihat Ezel sekali
pun. Kan kamar mandi sharing. Kalau dia ngekos di kosanku, pasti aku
pernah ketemu seenggaknya satu kali.
“Kenapa ya aku ngerasa pernah ngelihat
Mas Fian di sekitaran Simpang Lima?” gumam Ezel.
Iya, karena Fian lagi ngunjungin
lontenya. Si Ida.
Tapi aku enggak mengatakan itu.
“Eh, kamu mau roti? Masih ada sisa roti
dari Mas Bondan.”
Aku menimang-nimang. “Boleh, deh.”
“Bentar.”
Ezel bangkit untuk menghampiri kumpulan
tas yang kami simpan di satu sudut tempat peristirahatan. Tapi setelah Ezel
membawa ranselnya, tiba-tiba topi yang Ezel kenakan jatuh dari pangkuannya,
menggelinding ke arah tebing. Ezel berlari menyusulnya.
“ZEL! Jangan terlalu ke sana!” kataku
mengingatkan.
Namun Ezel tak mendengarkanku. Dia terus
berjalan menghampiri tepi tebing, lalu membungkuk untuk mengambil topinya, lalu
Ezel ....
... kepeleset.
Dia terjatuh dengan pantat menghantam
tanah dengan cukup keras.
“Aduh.” Aku bisa mendengarnya mengaduh
kecil, hampir membuat orang-orang menoleh, tetapi kebanyakan enggak ngeh bahwa
Ezel kepeleset. Buktinya tak ada yang tertawa satu pun melihat kejadian itu.
Termasuk Fian dan Erick yang masih sibuk membahas entah apa sambil mendongak
menatap langit.
Ya sudah, aku bangkit berdiri dan
berjalan agak cepat menghampiri Ezel yang masih terduduk di atas tanah.
Aku bermaksud untuk menolongnya berdiri,
tetapi ....
....
WWWRRRUUUZZZZZZ ...!
Tanah yang kami pijak longsor.
....
....
....
“AAAAAARGH ...!”
Aku dan Ezel terperosok ke bawah dengan
cepat.
Sangat-sangat cepat.
Pantat kami meluncur seperti di
perosotan, menghantam berbagai vegetasi yang ada.
Menabrak beberapa batang dan ranting
yang keras.
“AAAAAAARGH ...!!!”
....
Kami merosot jatuh hingga akhirnya ....
BYUUUUUURRRRRR ...!!!
....
Kami berdua tercebur ke dalam sungai.
....
Aku merasakan tubuhku tenggelam untuk
beberapa saat, pantatku langsung menghantam dasar sungai. Yang kulihat adalah
cahaya putih dan gelembung-gelembung air di atasku.
Namun aku masih bisa berusaha naik ke
permukaan untuk mencari udara.
“AAAAAARGH!” Aku berteriak sekeras
mungkin begitu kepalaku keluar dari permukaan.
Hidungku kemasukan air.
“TOLOOOGGG ...!”
Dengan panik aku melambai-lambaikan
tangan untuk mencari perhatian siapa pun.
Hal pertama yang kuketahui setelah aku
mencapai permukaan adalah ....
... aku hanyut cepat sekali mengikuti
arus sungai.
....
Hal kedua yang kuketahui adalah ....
BYUUURRR!
....
Seseorang melompat dari tebing yang
tinggi di atas sana, loncah indah seperti di olimpiade, untuk menyelamatkan
kami.
....
Namun aku tak tahu siapa itu, karena
....
... karena kepalaku terantuk batu.
Komentar
Posting Komentar