(HD) 8B. Cuma Keseleo




Halo, Kak!

Kami melanjutkan lagi perjalanan selama dua jam. Sempat istirahat lagi dua kali, tetapi tidak sepanjang istirahat yang tadi. Formasi perjalanan hampir sama hingga ke puncak. Delapan orang yang lain ada di depan, sementara aku, Ezel, Fian, dan Erick ada di paling bontot.

Pada satu titik perjalanan, kami berpapasan dengan satu sungai yang mengalir cukup deras. Jalan setapak itu berada di ketinggian tertentu, yang di bawahnya terdapat sungai cukup lebar, dengan air yang masih jernih, mengalir ke arah berlawanan. Sumpah, airnya tidak berwarna cokelat. Tapi arusnya entah mengapa cukup deras.

Kami juga sempat berhenti di sana untuk melihat pemandangan, atau menikmati suara aliran sungai yang menenangkan. Para tentara seperti biasa membahas soal Aksa.

“Gue nyari si Aksa sampe ke sungai ini, cuy! Diubek-ubek seharian. Siapa tahu hanyut kan ama puing-puingnya.”

Fian juga menanggapi, “Kalau beneran hanyut di sini sih, mestinya kita tinggal nyari di sungai yang deket alun-alun. Kan ini ngalir ke sana.”

“Bener juga!”

Namun aku sudah tak memedulikan lagi obrolan itu. Aku asyik menghirup udara segar di gunung ini, mendengarkan gemericik aliran air sungai di bawah sana, ditemani suara-suara serangga dan hewan hutan yang saling bersahutan. Aku duduk di atas batu, sangat jauh dari tebing, karena takut terperosok lagi kayak di pos awal tadi.

Fian tiba-tiba duduk di sampingku. Memeluk lututnya sembari dengan sengaja menyenggolku dengan bahunya.

“Enggak mau lihat ke sana?” tanyanya.

“Enggak, ah. Takut kayak tadi lagi.”

“Oh, iya. Hahaha ....” Fian terkekeh. “Ya asal hati-hati aja gapapa. Masih aman kok kalau Adek berdiri di situ. Tuh, yang ada si Lelanya.”

Aku menoleh ke arah yang ditunjuk Fian. Lela sedang melakukan gerakan dance Tiktok barengan Bondan. “Entar aja, ah.”

“Entar kita ketemu lagi kok sungainya, sebelum nyampe puncak.”

“Ini sungai yang di bawah itu bukan?”

“Yang tadi Adek hampir jatuh? Iya.”

“Ini sungainya dari gunung ini?”

“Bukan gunung yang ini. Tapi yang sebelahnya. Kita enggak akan ke sana. Harus camping kalau kita mau hiking ke sana.”

Aku manggut-manggut paham.

“Yuk? Kita mau jalan lagi,” kata Fian, sembari bangkit dan mengabari yang lain untuk melanjutkan perjalanan.

“Iya ....” Aku mengambil ranselku lalu bangkit berdiri.

Namun, ketika melangkah ....

... aku kepeleset.

“ARGH!”

Aku salah mengambil pijakan, sehingga kakiku melenceng ke dalam, dan aku pun terkilir. Tentu saja aku jatuh ke atas tanah.

“Dek?!” Fian langsung melompat menghampiriku. “Adek enggak apa-apa?”

“Gapapa, gapapa. Sorry. Tadi kepeleset aja.”

Fian langsung memijat-mijat pergelangan kakiku. “Sakit?”

Sakit bangeeettt ....

Tapi aku enggak mau dianggap lemah seperti Erick menganggap Ezel sebagai adik yang lemah, jadi aku menggelengkan kepala. “Gapapa, kok. Cuma keseleo.”

“Nih aku bawa balsem,” kata Lela, si suster RSUD, sambil merogoh tasnya.

Suster macam apa kamu?! Masa orang keseleo langsung dikasih balsem?! Jangan-jangan STR-mu palsu, atau kamu enggak punya STR sama sekali!

“Ada yang bawa air es?” tanya Fian, sembari mendongak. Tangannya dengan lihai langsung  membuka sepatu dan kaus kakiku, mencoba memosisikan pergelangan kakiku senyaman mungkin.

“Oh, aku ada!” sahut Ezel, langsung memindahkan ranselnya ke depan untuk mengambil satu termos lumayan besar yang isinya air es. Termos itu berbunyi berisik karena masih ada esnya di sana. Bahkan, bagian luarnya memiliki titik-titik air dan embun, saking dinginnya.

“Boleh saya pinjam, kan?” tanya Fian.

“Iya, gapapa. Bukan buat dibuang, kan?”

“Buat dikompres aja. Boleh?”

“Iya boleh, Kak.”

Fian langsung menarik satu kain panjang dari ranselnya, kemudian menempelkan termos yang dingin banget itu ke pergelangan kakiku yang cedera. Setelah itu, Fian membebatnya dengan kain agar termosnya menempel dengan kuat ke kakiku. Sudah seperti bidai kayu saja.

Aku sempat menggigil hebat saat merasakan termos dingin itu ditempelkan ke pergelangan kakiku yang snut-snutan. Aku merasa yang dilakukan Fian itu lebai, karena kayaknya keseleo barusan hanya keseleo ringan yang akan sembuh dalam beberapa menit ke depan.

Tapi aku benar-benar menikmati usaha Fian untuk membuatku nyaman. Jadi aku diam saja.

Masalahnya ....

“Terus aku jalannya gimana?” tanyaku.

“Jalan?” tanya Fian sembari meletakkan ranselnya ke depan. “Adek mau Abang gendong sampai atas.”

Aku membelalak.

“Sini. Gapapa. Udah dekat, kok. Naik ke punggung Abang.”

....

Kak ....

....

Kakak boleh iri lagi sama aku, Kak.

Tapi sumpah, meskipun ini sweet banget, aku malu.

Ya memang enggak ada yang protes karena aku digendong sama Fian. Tapi rasanya kayak ....

... kayak jadi beban.

Yang lainnya jalan dengan kaki sendiri, aku digendong sama tentara paling kekar di situ, bagaikan tuan putri. Aku sudah request untuk turun berkali-kali, tetapi Fian bersikukuh, “Udah enggak apa-apa, Dek. Udah dekat, kok.”

Ya tapi ....

Tapi ....

....

Kontolku ngaceng, Kak.

....

Dan kontol ngaceng itu pasti menekan ke punggung kekar Fian.

Aku yakin Kakak juga bakalan ngaceng di posisi ini! Udah deh, enggak usah munafik. Digendong tentara ganteng, kekar, manly, naik gunung. Kedua kaki Kakak digaet sama tangannya, lalu badan Kakak nemplok ke punggungnya. Dan dagu Kakak bisa ada di bahunya yang lebar. Mendengarkan dia ngos-ngosan, tapi dia bersikeras untuk tetap menggendong Kakak.

Itu bikin ngaceng enggak, sih?

Pengin nangis, anjir.

Malu banget.

Tapi sange juga.

Sengaja aku enggak berkata apa-apa sepanjang jalan karena aku merasa malu. Mati-matian kepalaku membayangkan hal-hal yang mengerikan, yang menjijikkan, supaya kontolku enggak ngaceng dan menodong punggung Fian.

Kubayangkan waktu latihan memandikan kadaver (mayat), mengeluarkan kotoran dari isi perutnya ....

... tapi aku masih ngaceng karena Fian tiba-tiba menyundulkan kepalanya ke wajahku dengan romantis.

Kubayangkan waktu menangani korban kecelakaan yang tangannya buntung dan darah di mana-mana di IGD sebuah rumah sakit pas aku lagi koas ....

... aku masih ngaceng karena lengan Fian yang kokoh menggaet erat lipatan lututku supaya aku enggak jatuh. Terus dia berbisik, “Adek pegangan yang kuat, supaya enggak jatuh.” Itu tuh sambil ngelompatin batu-batu gitu, karena perjalanannya menanjak.

Kubayangkan muka Deva yang nyebelin itu waktu aku dan dia threesome bareng seorang “tentara” ....

... aku tetap ngaceng karena Fian ....

Karena ini Fian.

Dan aku suka Fian.

Ah, sialan.

Pokoknya kalau Fian suatu waktu bertanya, “Dek, itu yang ngeganjal di punggung Abang tuh apa, ya?”

Aku enggak akan berpikir panjang untuk menjawab, “REMOTE TV!”


[ ... ]


Oke. Aku enggak akan bahas dengan detail kegiatan kami di puncak gunung yang didaki. Alasan pertama, aku masih malu gara-gara aku digendong Fian. Alasan kedua, aku masih malu gara-gara aku digendong Fian. Iya. Alasannya sama. Alasan pertama malu ke semua orang. Alasan kedua malu ke Fian. Aku benar-benar beban.

Coba aja yang ikut ini Ida, bukan aku, mungkin seenggaknya Fian akan menggendong sesemakhluk yang cantik jelita, berambut panjang, berketek mulus, bibir bergincu, dan bikin semuanya romantis, bikin paling romantis.

Tapi Fian malah menggendongku.

Aku bener-bener malu.

Kami tiba di puncak gunung sebelum makan siang. Hal pertama yang dilakukan adalah foto-foto dan merekam konten untuk diunggah di Tiktok setelah turun gunung nantinya. Sebagian dari kami mulai memasang kompor portabel dan bersiap untuk memasak. Kami melakukan makan siang, mengobrol, nyanyi, dan lain sebagainya yang aku enggak berani ikutan terlalu aktif karena masih malu gara-gara kejadian tadi.

Setelah termos es itu dilepaskan dari kakiku, ternyata kakiku baik-baik saja. Aku masih merasa ngilu, tapi enggak parah-parah banget. Aku akhirnya mengoleskan balsem dari Lela dan pura-pura masih agak sakit, meskipun sebenarnya aku enggak kenapa-napa.

Lewat pukul dua siang, kami membereskan semua peralatan dan kembali menyusuri jalan yang sama untuk pulang. Malah, kami pulang barengan rombongan lain yang datang sebelum dan sesudah kami. Jadi agak ramean gitu perjalanannya.

Aku enggak digendong Fian lagi, tetapi aku enggak bisa gegabah juga. Pergelangan kakiku masih mudah goyah sehingga aku harus memastikan pijakanku kuat dan aku punya area yang cukup untuk kebablasan. Fian begitu setia menemaniku sepanjang perjalanan turun. Posisi kami di tengah rombongan, dan kebetulan orang-orang di belakangku tak bermasalah ketika aku jalannya agak lelet. Mereka nyantuy dan terus-menerus menyemangatiku.

“Gapapa Kak Rohmat, pelan-pelan aja. Jangan terburu-buru!”

“Pegangan ke pohon itu aja, Kak. Batangnya lebih tebal.”

“Bener, Kak. Atau ke batang yang kiri, Kak. Itu batangnya kurus, panjang, banyak uratnya.”

Pukul empat sore, progres kami agak lambat. Rombongan depan sudah berada cukup jauh, sementara rombongan belakang ini baru tiba di tempat kakiku tadi terkilir. Kupikir turun gunung akan lebih cepat dibandingkan naik gunung. Ternyata kalau turun gunungnya barengan boti yang cedera kaki sepertiku, lama juga, ya.

Di titik istirahat dekat sungai itu, aku duduk bersama Fian untuk menyantap sisa panganan yang belum habis. Fian ada di dekatku juga, tapi sedang asyik mengobrol bersama Erick. Rombongan luar yang gabung bersama kami sedang asyik mengambil banyak foto karena katanya tadi, waktu naik, mereka enggak berhenti di sini.

“Bukan, Bro! Itu kalau dilemparin suar dari tempat kayak gini,” kata Erick, sembari berdiri dan menunjuk area pepohonan tinggi di belakang kami, “enggak akan kelihatan, lah. Apache juga enggak bakal bisa lihat. Lihat itu daun-daunnya dekat gitu!”

Fian bangkit berdiri dan menyusul Erick. Kepalanya mendongak menatap ke dedaunan yang meneduhi kami di bawah sini. “Masuk akal, sih. Makanya si Aksa enggak bisa ngasih tanda ke helikopter yang lewat—“

“Ya iya, makanya! Enggak akan kelihatan anjir. Mana di sono lebih rapat pohonnya daripada sini. Ya, kan? Lu ke sana juga kan pake casevac?”

“Iya. Lebih padat pohonnya.”

“Nah, kan!”

“Mereka bahas apa, sih?” tanya Ezel sambil menyenggolku. Dia agak berbisik.

Aku mengangkat bahu. “Katanya sih urusan kantor. Aku juga enggak tahu.”

“Dari tadi semuanya bahas itu mulu.”

“Kamu yang tinggal serumah ama masmu, enggak dengar dia cerita apa gitu?”

“Oh, rumahku enggak di sini. Aku orang Jakarta. Aku ngekos di sini karena kuliah.”

“Kuliah? Di sini emangnya ada kampus?”

“Ada. Tapi kampus kecil-kecil. Bukan universitas gede. Sengaja aku kuliah di sini supaya dekat sama abangku.” Ezel menghela napas, seperti lelah dengan kehidupan. “Penginnya sih aku ke Bandung, tapi enggak diizinin. Waktu tahu Bang Erick ditugasin di sini, di lanud baru itu, aku langsung dikuliahin di sini.”

“Kamu kan udah gede. Kamu bisa memutuskan sendiri mau kuliah di mana.”

Ezel hanya mengangkat bahunya. “Kalau aku kuliah di Bandung, aku harus pake biaya sendiri. Kalau di sini, dibiayain sama ortuku. Jadi ya ..., terpaksa, deh.”

“Di mana kosanmu?”

“Dekat simpang.”

“Simpang lima?”

“Iya.”

Aduh, dekat kosanku, dong. Tapi kayaknya dia enggak ngekos di kosanku, sih. Sebab aku enggak pernah lihat Ezel sekali pun. Kan kamar mandi sharing. Kalau dia ngekos di kosanku, pasti aku pernah ketemu seenggaknya satu kali.

“Kenapa ya aku ngerasa pernah ngelihat Mas Fian di sekitaran Simpang Lima?” gumam Ezel.

Iya, karena Fian lagi ngunjungin lontenya. Si Ida.

Tapi aku enggak mengatakan itu.

“Eh, kamu mau roti? Masih ada sisa roti dari Mas Bondan.”

Aku menimang-nimang. “Boleh, deh.”

“Bentar.”

Ezel bangkit untuk menghampiri kumpulan tas yang kami simpan di satu sudut tempat peristirahatan. Tapi setelah Ezel membawa ranselnya, tiba-tiba topi yang Ezel kenakan jatuh dari pangkuannya, menggelinding ke arah tebing. Ezel berlari menyusulnya.

“ZEL! Jangan terlalu ke sana!” kataku mengingatkan.

Namun Ezel tak mendengarkanku. Dia terus berjalan menghampiri tepi tebing, lalu membungkuk untuk mengambil topinya, lalu Ezel ....

... kepeleset.

Dia terjatuh dengan pantat menghantam tanah dengan cukup keras.

“Aduh.” Aku bisa mendengarnya mengaduh kecil, hampir membuat orang-orang menoleh, tetapi kebanyakan enggak ngeh bahwa Ezel kepeleset. Buktinya tak ada yang tertawa satu pun melihat kejadian itu. Termasuk Fian dan Erick yang masih sibuk membahas entah apa sambil mendongak menatap langit.

Ya sudah, aku bangkit berdiri dan berjalan agak cepat menghampiri Ezel yang masih terduduk di atas tanah.

Aku bermaksud untuk menolongnya berdiri, tetapi ....

....

WWWRRRUUUZZZZZZ ...!

Tanah yang kami pijak longsor.

....

....

....

“AAAAAARGH ...!”

Aku dan Ezel terperosok ke bawah dengan cepat.

Sangat-sangat cepat.

Pantat kami meluncur seperti di perosotan, menghantam berbagai vegetasi yang ada.

Menabrak beberapa batang dan ranting yang keras.

“AAAAAAARGH ...!!!”

....

Kami merosot jatuh hingga akhirnya ....

BYUUUUUURRRRRR ...!!!

....

Kami berdua tercebur ke dalam sungai.

....

Aku merasakan tubuhku tenggelam untuk beberapa saat, pantatku langsung menghantam dasar sungai. Yang kulihat adalah cahaya putih dan gelembung-gelembung air di atasku.

Namun aku masih bisa berusaha naik ke permukaan untuk mencari udara.

“AAAAAARGH!” Aku berteriak sekeras mungkin begitu kepalaku keluar dari permukaan.

Hidungku kemasukan air.

TOLOOOGGG ...!

Dengan panik aku melambai-lambaikan tangan untuk mencari perhatian siapa pun.

Hal pertama yang kuketahui setelah aku mencapai permukaan adalah ....

... aku hanyut cepat sekali mengikuti arus sungai.

....

Hal kedua yang kuketahui adalah ....

BYUUURRR!

....

Seseorang melompat dari tebing yang tinggi di atas sana, loncah indah seperti di olimpiade, untuk menyelamatkan kami.

....

Namun aku tak tahu siapa itu, karena ....

... karena kepalaku terantuk batu.


[ ... ]


Komentar