Halo, Kak!
Uhhuk! Uhhuk!
Tunggu sebentar. Aku lagi berjuang
antara hidup dan mati ngeluarin air yang masuk ke tenggorokanku.
Uhhuk! Uhhuk!
“Argh!”
Uhhuk! Uhhuk!
....
Oke, Kak. Halo.
Uhhuk!
....
Aku hanyut, Kak. Dengan dramatis.
Aku terperosok dari tebing tempat
peristirahatan itu. Seluruh tubuhku tercebur ke dalam sungai, tenggelam dan
berputar-putar di bawah aliran air sungai yang cukup deras. Kemudian, aku
gelagapan mencari permukaan air agar aku bisa ngedapatin udara. Gerakanku yang
panik membuatku kemasukan air di berbagai lubang. Di hidungku, di mulutku, dan
juga telingaku. Satu-satunya lubang yang enggak kemasukan air adalah lubang bool-ku.
Tapi kemudian aku terantuk batu dan
tiba-tiba pandanganku gelap. Aku masih bisa melihat seseorang menyusulku ke
dalam sungai, melompat dari tebing yang cukup tinggi, nyemplung ke air seperti
sedang loncat indah.
Tapi minus jumpalitan di udaranya, ya.
Aku lihat dia masuk ke air kepala dulu,
baru badannya, kemudian ....
DUK!
... kepalaku terbentur.
....
Aku terbangun enggak lama dari situ.
Hal pertama yang kulihat adalah pantat
seksi yang terbungkus celana kargo yang basah. Aku sedang bertengger terbalik
di bahu seseorang, sedang dibawa keluar dari area sungai. Tungkai kekar itu
berjalan buru-buru ke tepi sungai, lalu membaringkanku dengan tergesa-gesa di
area berumput yang tanahnya agak lembek seperti gambut.
Tentu saja itu Fian. Siapa lagi?
“Adek enggak apa-apa?” tanyanya dengan
napas terengah-engah sembari membaringkanku agak jauh dari aliran air.
Seluruh tubuhnya basah. Wajahnya
dipenuhi air. Sebagian dari air itu menetes di dagunya. Kausnya yang ketat kini
menempel ke tubuhnya, menciptakan siluet kekar yang menggiurkan. Bahkan hal
pertama yang kulihat ketika kami berhadap-hadapan adalah puting susu Fian
tercetak di kausnya.
“UHHUK! UHHUUUK!” Aku enggak bisa
menjawab pertanyaan Fian.
Aku terbatuk-batuk. Dada dan leherku
rasanya panaaasss ... banget! Hidungku terrasa perih dan ngilu. Mataku saja
berair, membuat pandanganku kabur, tak bisa melihat dengan jelas lekukan otot
kekar di tubuh Fian itu.
“Adek tunggu di sini, bisa?” tanya Fian,
masuk lagi ke dalam aliran air sungai. “Cari tempat yang solid! Abang mau
nolong dulu si Ezel!”
“UHHUUUK ...! UHHUUUK ...! UHHUK!”
Maksudnya, “Jangan tinggalkan aku, Maaasss ...!” Tapi aku hanya bisa
terbatuk-batuk.
Sumpah, Kak. Ini bukan tenggelam seperti
di film-film. Yang begitu diselamatkan bisa langsung membuka mata, tersenyum,
tampil cantik, “I love you, please don’t leave me,” cipokan, lalu credit
scene muncul di layar. Kemasukan air tuh rasanya sakiiit ... banget!
FUCK!
Setiap kali terbatuk, dada rasanya
panas. Paru-paru juga sesak. Lalu karena aku menggunakan otot perut untuk
batuk, area diafragmaku terasa sakit. Seluruh bagian abdomen dan toraksku
seperti kesemutan.
Aku enggak bisa pindah tempat, Kak. Aku
hanya terbaring di situ terbatuk-batuk. Tak ada yang memberikan CPR. Tak ada
yang memberikan napas buatan. Aku berjuang sendirian untuk tetap hidup meski
dada dan perut rasanya seperti dibetot ke luar. Satu-satunya yang membuatku
bertahan adalah siluet seksi Fian yang basah, yang pakaiannya menempel ke badan
dan menampilkan samar-samar lekuk otot keras itu, lalu wajah Fian yang dipenuhi
titik-titik air seperti orang yang keringatan waktu ngewe ....
Kedua tanganku berpegangan ke akar-akar
pohon di dekatku, macam ibu yang mau melahirkan. Mataku memandang pepohonan
pinggir sungai yang tumbuh tinggi menjulang. Dadaku naik turun, tubuhku
bergetar seiring guncangan batukku.
Lama-lama batuk itu mereda. Kutarik
napas panjang-panjang, kutelan ludah berkali-kali.
“UHHUUUK! UHHUUUK ...!”
Kukerjap-kerjapkan mata sembari
menenangkan diri.
Aku berhasil tergeletak diam pada
akhirnya. Berbaring tak berdaya sembari mendengarkan suara alam. (Kebanyakan
mendengarkan suara aliran air sungai.) Aku berusaha menyatu dengan alam,
merasakan tanah lembek di bawahku ini mulai ....
... mulai mengisapku.
Sial.
Tanahnya mulai turun. Membuatku
seperempat terjerembab. Aku langsung berpikiran negatif bahwa ini adalah tanah
isap yang akan menyedotku ke bawah tanah, lalu membiarkanku terkubur
hidup-hidup.
Dan di bawah tanah yang gelap nanti,
udaraku habis total, aku enggak bisa bergerak karena tubuhku tertimbun tanah
yang berat, lalu aku mendengar ....
“Man rabbuka ....”
“AAAAAAAAAAAARRRGGGHHH ...!”
“Hey, hey, hey, ini Abang! Hey? Hey?!
Adek?!”
“AAAAAAAAARGH—“ Aku menoleh.
“Adek enggak apa-apa?”
Kupukul dada Fian yang keras itu dengan
tanganku yang lemas. Buk! “Ergh! Aku pikir Abang bilang man rabbuka!”
“Hah?”
Ternyata itu Fian. Sudah berlutut di
sampingku, dan tiba-tiba menyusupkan kedua tangannya ke bawah tubuhku. Dia
mengangkat tubuhku yang berat ke depan dadanya, lalu Fian dengan entengnya
berdiri dan masuk lagi ke air, berjalan beberapa meter ke bawah, menghampiri
Ezel yang sudah dievakuasi di area terbuka yang lebih nyaman.
Lahan kecil itu seperti delta mungil
yang terbentuk karena sedimen sungai mengendap di bagian yang tidak bisa
ditembus oleh aliran air. Ada banyak bebatuan kali dan tanah yang lebih keras.
Di sekitarnya vegetasi tumbuh mengitari tanpa berani masuk ke area delta.
Pepohonan yang tinggi tumbuh menjulang, meneduhi area tersebut dengan nyaman.
Ezel sudah terbaring tak berdaya di
sana, dengan kepala bersandar ke salah satu batu. Dia sadar, tetapi sama
kelelahan. Dia menoleh lega ketika melihat Fian membopongku seperti pengantin
perempuan, menyusuri pinggiran sungai yang dangkal.
“Adek enggak apa-apa?” tanya Fian dengan
napas terengah-engah.
“Uhhuukkk!”
Eh, si goblok, masih batuk aja, anjing!
“Gapapa ...,” kataku, dengan suara
serak.
“Siapa yang man rabbuka?”
“Enggak. Enggak apa-apa. Udah lupain
aja.”
Aku dibaringkan tepat di samping Ezel
yang kelihatan seperti sedang menangis. Kedua alis Ezel bertaut ke tengah,
membuat mukanya jadi jelek. Bahunya juga berguncang kesakitan. Dia memandangku
dengan tatapan meminta tolong. Persis seperti semua korban kecelakaan yang baru
saja masuk IGD—aku sudah melihat ekspresi seperti ini ribuan kali.
Fian menurunkanku tetapi aku sudah punya
sedikit tenaga untuk duduk dengan tegak. Aku bersandar ke salah satu batu
sembari menarik napas lebih panjang agar jantungku tidak deg-degan
terus-menerus. Fian kembali menghampiri Ezel.
“Kamu ada yang luka, Zel?” tanya Fian,
berjongkok di samping adiknya Erick itu sembari mengamati seluruh bagian tubuh
Ezel yang bisa terlihat.
Ezel tampak lebih parah dibandingkanku.
Bajunya kotor oleh lumpur. Bahkan ada bagian yang sobek. Dia juga sudah tak
bersepatu. Mungkin sepatunya hanyut atau apa. Ezel tidak terbatuk-batuk
sepertiku, tetapi dia menangis terisak-isak.
Semakin lama aku semakin bisa
mendengarnya tersedu-sedu. “Huhuhu ....” Macam boti yang baru
ditinggalkan top-nya, atau boti yang baru memergoki top-nya
ternyata seorang boti juga. “Huhu ... huhu ... huhuhu ....”
“Oke kamu ada luka panjang,” kata Fian
tiba-tiba.
Aku menoleh dan melihat Fian melompati
tubuh Ezel ke sisi satunya. Dia menguak kaki kiri Ezel ke atas, menunjukkan
guratan panjang hasil sayatan benda tajam di bagian betis. Guratannya masih
mengeluarkan darah, meski area sekitarnya sudah memucat.
“Dek, bisa bantu Abang di sini?” tanya
Fian sambil secara hati-hati merobek celana Ezel dari bagian yang sudah
terkuak. Fian membuka lebar kaki Ezel yang berdarah dan mengeksposnya untuk
melihat lebih teliti.
Aku merangkak dengan segera menghampiri
kaki Ezel.
“Tolong Adek cek ada benda asing atau
enggak. Abang mau cari kain kering dulu.”
Aku mengangkat naik kaki itu, lebih
tinggi dari posisi jantung Ezel. Kuamati dengan segera garis luka itu. Tidak
ada benda apa pun yang masuk ke dalam lukanya. Tidak ada batu, ranting, sampah
plastik, atau apa pun yang mungkin menyebabkan luka ini tergores panjang.
Di lain sisi, Fian dengan cepat membuka
satu-satunya ransel yang ada di sini. Ranselnya Ezel. Ransel ini sempat
disambar Ezel sewaktu dia merosot dari tebing. Sementara aku dan Fian tidak
mengenakan ransel. Semua ransel kami ditumpuk di satu titik. Namun ketika Fian
mengeluarkan semua isi ransel Ezel, tak ada satu pun kain kering yang tersisa.
Malah, tak ada kain apa pun di situ. Isinya adalah kotak-kotak makan kosong, roti-rotinya
Bondan, dan handuk kecil yang sayangnya sudah basah.
Fian celingukan mencari ke segala arah,
tetapi dia tak bisa menemukan kain bersih yang kering.
Lalu apa yang Fian lakukan?
....
Dia melepas kausnya.
....
Fian menarik lepas kaus basah itu
melewati kepalanya, lalu memerasnya hingga agak kering. Dia tak menekan kaus
itu ke luka Ezel, tetapi dia membebat satu area di bawah lutut, untuk menyetop
aliran darah Ezel. Seperti turniket yang digunakan sebelum kita mengambil darah
melalui jarum suntik.
Telanjang dada, dengan tubuh kekar
berotot yang masih basah, Fian mencoba mengaduk-aduk lagi isi ransel Ezel yang
basah.
Aku terpana menatap tubuh seksi itu.
Meskipun tempo hari aku sudah melihatnya hampir telanjang, atau semalam aku
baru ngewe dengan calon taruna yang sama seksinya, tetap saja tubuh Fian
ini memesona.
Fian mengeluarkan semua isi ransel itu
hingga tak satu pun tersisa di dalamnya. Selain makanan, ternyata ada juga satu
kotak berisi ....
... lip balm dan mouthwash.
Ezel ini makin sini makin kayak boti.
Untuk apa dia bawa mouthwash ke mana-mana? Biar bisa nyepong
setiap kontol yang dia temukan?
“Kita anggap bersih aja lah, ya?” kata
Fian sembari memeras handuk yang basah itu.
“Karena ini darurat, gapapa, Bang.”
Fian memeras handuk itu sampai hampir
kering, lalu menuang mouthwash ke permukaan handuk karena pencuci mulut
biasanya mengandung alkohol. Setelah memastikan kain itu lumayan aman untuk
digunakan (enggak tahu juga, sih ..., tapi mau pake apa lagi, coba? Semuanya
basah), Fian menurunkan kaki Ezel yang terangkat, meluruskannya, lalu menekan
luka itu dengan handuk ber-mouthwash untuk menekan pendarahan.
Sebenarnya pendarahannya enggak parah.
Enggak ada bagian daging yang terkuak atau tulang yang kelihatan. Aku pernah
melihat luka yang jauh lebih parah dari ini, yang sampai harus dijahit secara
langsung dalam kondisi masih berdarah-darah. Tapi luka memanjang ini bisa jadi
parah kalau terekspos terus-menerus.
“AAAAAAARGH ...!” Ezel menjerit saat
handuk ber-mouthwash itu ditekan ke lukanya. Pasti perih banget, sih.
Ezel pun menangis meraung-raung karena kesakitan. Kepalanya geleng kanan dan
kiri. Darah masih saja merembes keluar dari betis yang sudah pucat itu.
“Harusnya pake sarung tangan,” kataku,
melihat tangan Fian kena darah Ezel.
“Di sini enggak ada sarung tangan,”
sergah Fian dengan tegas. Nada bicaranya agak intimidatif, seperti tidak bisa
diajak bercanda. Aku tahu di sini tidak ada sarung tangan medis, aku cuma
bilang harusnya mengompres luka tuh pakai sarung tangan. That’s basic 101
saat menangani luka berdarah.
Aku menoleh ke arah Ezel yang masih
berjengit kesakitan dengan napas memburu. “Kamu enggak punya HIV, kan—“
“Enggak perlu nanya begitu,” potong Fian
sedikit kesal. “Ini kondisi darurat, Dek.”
“Maaf.”
Alih-alih kesal karena diserobot Fian
seperti itu, aku malah merasa malu karena bisa-bisanya melakukan anamnesis
dalam situasi seperti ini. Fian benar, sih. Kalau sedang begini mah
enggak perlu sekaku itu dalam melakukan pertolongan.
“Abang enggak ada luka terbuka di
tangan,” kata Fian, masih menekan luka itu. “HIV enggak akan masuk.”
“Iya. Maaf.”
“Bisa Adek pegangin handuknya?” tanya
Fian setengah berdiri.
“Abang mau ke mana?”
“Abang mau cari bantuan.”
Aku memegang handuk itu dan lanjut
menekannya.
“Hape Adek masih nyala?” tanya Fian
sembari tiba-tiba meraba area saku celana dan jaket Ezel.
Aku mengeluarkan ponselku yang bukan
iPhone, yang kalau kecemplung air ya langsung almarhum. “Mati hapeku.”
Fian menemukan ponsel di jaket Ezel.
Namun ponselnya sama-sama mati.
“Oke, Abang cari dulu bantuan ke sana,
ya. Kamu temani Ezel di sini, tekan terus handuknya, kalau tetap ada
pendarahan—“
“Iya, iya, aku tahu. Aku kan suster.”
“—oke. Makasih banyak, Dek.” Fian, yang
tampil seperti Rambo, dengan body kekar telanjang dada langsung berdiri
dan melompat ke area hutan untuk mencari pertolongan atau sesuatu yang berguna.
Aku ditinggalkan berdua bersama Ezel yang masih meringis kesakitan. Namun
untungnya dia sudah tidak menangis lagi.
“Masih perih?”
Ezel mengangguk kecil.
“It’s okay. Kita bakal keluar
dari sini, kok.”
Ezel mengangguk lagi.
“Mau roti?” tawarku, karena melihat
roti-rotinya Bondan berceceran di atas tanah.
Ezel menggelengkan kepala.
Aku duduk dengan nyaman di atas
batu-batu itu. Seluruh tubuhku basah dan menggigil. Kepalaku berkali-kali
mendongak untuk melihat ke mana Fian pergi, tetapi aku sudah tak bisa melihat
lagi sosoknya kecuali aku berdiri.
“Maaf,” bisik Ezel, tiba-tiba berbicara
dengan suara lirih dan tubuh setengah menggigil.
“Gapapa. Tenang aja.”
“Gara-gara aku ....”
“Enggak usah mikir gitu. Ini emang
musibah aja. Udah, kamu tarik napas panjang aja. Tenangin diri kamu. Tahan
perihnya. Rebahan dengan santai. Enggak usah ngajak ngobrol.”
Ezel mengangguk.
Namun Ezel enggak mau berhenti bicara. “Kamu
... kamu beruntung.”
“Beruntung? Karena kakiku enggak luka?”
Ezel menggelengkan kepala. “Karena bisa
dekat sama Mas Raf.”
“Hah?” Bisa enggak sih ini bocah manggil
nama orang di bagian yang enaknya, gitu? Bukan tiga huruf pertama dari nama
depan doang. “Enggak ada apa-apa antara aku sama Bang Fian.”
Aku jadi GR juga karena disebut
beruntung gara-gara itu.
“Iya, aku tahu ...,” balas Ezel sembari
mengatur napasnya dengan tenang. “Enggak boleh juga ada apa-apa. Kan sama-sama
cowok.”
Sialan ini bencong!
Kalau situ boti, jangan sok suci
menasihati.
“Mas Raf itu pintar banget,” lanjut
Ezel, sembari menoleh ke titik terakhir di mana Fian tadi menghilang. “Mas Raf
... Mas Raf tahu harus ngapain ... dalam situasi begini ....”
“Ya kan dia tentara. Dia terlatih buat ngadepin
yang kayak begini—sama kayak kakakmu.”
“Tapi Mas Raf tuh ... Mas Raf tuh keren
....” Ezel mesem-mesem kayak ABG lagi kasmaran. Dia sedang memuji keahlian Fian
bertahan hidup di alam bebas atau memuji kegantengannya? “Dia langsung lompat
ke sungai .... Tanpa pikir panjang ....”
“Ngng ..., kayaknya kalau pikir
panjang dulu, kita berdua masih hanyut sih sekarang. Setahuku memang tugas
tentara buat mikir cepat.”
Ya kali pas lagi perang ada tentara yang
mikir-mikir dulu, Hmmm ... tembak enggak, ya? Aku tembak apanya dulu, yaaa
...? hmmm .... Nanti mati enggak ya kalau ditembak? Kan enggak gitu juga,
coy!
Ezel masih mengamati area kosong itu
sebelum akhirnya dia mengambil napas panjang dan tersenyum lebar. Respons
terakhirnya hanyalah ..., “Iya.”
Hingga matahari hampir terbenam, tak ada
bantuan yang datang kepada kami. Fian kembali ke tempat kami kira-kira dua
puluh menit setelah dia menghilang begitu saja. Hutan sudah mulai gelap.
Sebagian langit sudah seperti malam, sementara langit yang lain berwarna
lembayung keemasan. Fian muncul membawa beberapa dedaunan entah apa yang dia
tumbuk di atas batu, lalu oleskan ke luka terbuka di betis Ezel.
Sebagai suster aku enggak tahu menahu
soal itu ya, Kak. Jadi jangan tanya aku itu daun apa. Aku enggak mau diomeli
Fian lagi kayak barusan kalau akunya banyak bertanya.
“Masih sakit kakinya?” tanya Fian usai
mengoleskan racikan dedaunan hijau itu.
“Masih,” balas Ezel, meringis sembari
menggigit bibir bawahnya.
Menggigit bibir bawah tuh beda tipis
antara betulan menderita atau sedang ganjen.
Kaus Fian yang tadi digunakan untuk
membebat lutut Ezel sudah kering. Sehingga, Fian melepasnya dan melilitkannya di
atas handuk ber-mouthwash itu. Dengan begitu, aku tak perlu menekan lagi luka
di betis Ezel. Dengan kilat, Fian mencoba membuat api menggunakan kayu-kayu
kering di sekitar kami. Seperti di film-film, Fian berhasil membuat api kecil
yang kemudian diperbesar melalui dedaunan kering.
“Kenapa kita malah bikin api unggun?”
tanyaku, seraya menyantap roti pemberian Bondan.
“Saya udah keliling tapi enggak nemu
jalan bukaan manusia. Kayaknya belum pernah ada yang lewat sini, atau area ini
jarang dilewatin manusia.” Fian duduk di salah satu batu. Mengusap wajahnya
yang lelah sembari menenangkan diri. Dia sudah berlari ke sana kemari mencari
bantuan tetapi tak mendapatkan hasil. “Makin ke dalam, hutannya makin rapat.
Justru di sini areanya kebuka. Saya bikin api unggun, siapa tahu asapnya bisa
kelihatan sama orang yang nyari kita.”
“Bakal ada orang yang nyari kita?”
tanyaku. Aku menghampiri Fian yang duduk tiga meter dari Ezel, gemas sekali
ingin memeluknya untuk membuatnya tenang.
“Saksinya banyak.” Fian mengangguk
dengan yakin. “Pasti udah ada yang lapor ke pos di bawah lewat radio. Teman-teman
Abang juga pasti langsung ngerahin pasukan buat nyari kita—tapi mereka harus
turun gunung dulu buat dapat sinyal, terus terbang ke sini buat nyari. Yaaahhh
..., mungkin tiga atau empat jam sejak kita kecebur bakal langsung dicari.”
Aku manggut-manggut paham.
Aku enggak tahu harus ngomong apa, jadi
aku diam saja. Kadang kalau sudah sunyi begini, aku mendengar Fian bergumam, “Si
Aksa gimana ya kemarin?” Seperti bertanya ke diri sendiri, tetapi aku bisa
mendengarnya samar-samar di tengah aliran air sungai yang berisik ini.
“Kalian mention nama Aksa cukup
sering,” ungkapku. “Seharian ini semuanya bahas soal Aksa. Siapa itu Aksa?”
Fian menggelengkan kepala. “Urusan
kantor.”
“Iya, apa.”
“Confidential.” Fian menoleh dan
mencoba tersenyum lebar. “Rahasia negara. Enggak bisa dibeberin.”
“Oke.” Aku kecewa.
Mungkin karena Fian melihatku kecewa,
dia mencoba menjelaskan sebisanya. “Tentang petualangan di hutan, yang pasti. Tentang
survive di hutan kayak gini.”
Aku manggut-manggut.
Kutatap aliran air sungai di depanku
sembari sesekali mendongak untuk melihat apakah asap api unggun ini benar-benar
melayang ke langit di atas. Sesekali aku menaburkan dedaunan kering yang sudah
kukumpulkan agar apinya tetap besar.
“Maaf, ya,” kata Fian tiba-tiba. “Gara-gara
ikut saya, Adek jadi—“
“Enggak usah minta maaf,” selaku sembari
menyenggol lengannya yang kekar. Aku terkekeh untuk memberi tahu Fian bahwa aku
baik-baik saja. Dengan badan kekar kayak begini sih, semua homo akan baik-baik
saja. Berasa dilindungi malaikat. “Ini udah risiko kok, Bang. Kalau enggak mau
kayak gini mah, mending rebahan di kosan aja, kayak si Ida. Ini kita
lagi sial aja.”
Fian tersenyum kecil. “Makasih ya, Dek.
Tadinya Abang takut ..., Adek marah sama Abang gara-gara—“
“Enggak, enggak, enggak ...,” penggalku.
“Bukan waktunya buat marah. Ini waktunya buat cari cara keluar dari sini.”
“Betul.” Fian mengangkat satu jempolnya.
“Dan Abang bisa jamin, kita bakal keluar.”
“Hutan ini enggak pedalaman, kan?
Maksudnya ..., pasti ada bagian yang pernah dijamah manusia, kan?”
“Sering, lah. Kan tadi di atas aja ada
jalan setapak buat pendaki. Ya memang area sebelah sini enggak dilewatin, tapi
bukan berarti enggak bisa diakses.” Fian giliran mendongak ke atas melihat ke
arah asap yang mengepul melewati pepohonan yang tinggi. “Si Aksa aja bisa,
pasti kita bisa juga.”
“Siapa sih ya Tuhan yang namanya Aksa
ini?!”
“Hahaha ...!” Fian malah tergelak dalam
tawa sembari mengacak-acak rambutku yang sudah mengering. Sampai selamanya Fian
enggak pernah memberitahuku siapa orang bernama Aksa yang disebut-sebut
sepanjang hari ini.
Aku tidak tahu kami sudah terjebak
berapa lama di delta kecil ini. Mungkin satu jam? Dua jam? Tiga jam? Yang pasti
rasanya lamaaa ... sekali. Api unggun sudah nyala padam nyala padam dengan asap
yang mengepul secara hopeless. Fian bilang tak mungkin kita berjalan
berlawanan arah dengan sungai karena kaki Ezel hampir tak bisa digerakkan,
sehingga boti itu akan menjadi liability. Selain itu, Fian tak
berhasil menemukan bukaan jalan untuk manusia di radius beberapa ratus meter.
Tanpa peralatan memadai, akan sulit melewati hutan karena banyak
tanaman-tanaman merambat yang melintang dan tumbuh dengan sangat rapat.
Akhirnya Fian meminta kami untuk
bertahan hingga bantuan datang. Alasan lain dibuatnya api unggun adalah supaya kami
merasa hangat. Nyamuk-nyamuk mulai beterbangan. Ezel sudah berhasil duduk dan
bersandar ke salah satu batu. Roti dari Bondan sudah hampir habis.
Dan ketika aku sedang menunggu petang
berubah malam, Ezel tiba-tiba memanggil kami.
“To ... to ... tolong ....” Suaranya
lirih, hampir tidak kedengaran.
Aku menoleh pertama kali dan masih
kebingungan apa yang dikatakan Ezel. Namun Fian langsung melompat siaga sembari
menghampiri Ezel.
Di situlah aku menyadari ....
... seekor ular raksasa ... sedang
merayap di sekitar kaki Ezel yang terluka.
[ ... ]
Komentar
Posting Komentar