(PPT) Part 14 Bag. A




Hingga Sabtu pagi, aku belum mengobrol lagi dengan Tino.

Kenapa? Karena pertama, Rabu malam, mereka ngewe sampai tengah malam kayaknya. Aku mendengar suara-suara feminin, “Aaahhh … aaahhh … aaahhh …!” yang berarti benar Tino lagi ngewe ama entah cewek mana lagi. Malah kayaknya ngewe mereka brutal banget, anjay. Ada suara gebrak-gebrak meja, suara duk-duk-duk, teriakan pilu, “Ampuuunnn … ampuuunnn …,” bahkan suara tamparan. Which is okay. Ini adalah kebiasaan Tino sebelum ini.

Kalau Tino ingin melampiaskan kekesalannya atas nasib sial yang menimpanya ke cewek itu, aku paham. Takutnya selama ini dia sebenarnya pengin nge-fuck aku dengan brutal karena murka pada semua LGBT sedunia, tetapi dia masih butuh uangku, sehingga dia enggak menyiksaku. Kemudian cewek itulah yang jadi korbannya.

Bagus, lah.

Tapi, karena kupikir dia akan datang ke kamarku, jadi aku menunggunya.

Sayangnya aku ketiduran. Kira-kira jam sebelas malam, aku udah enggak sadar lagi. Aku terbangun pukul enam pagi dalam kondisi pintu kamar enggak dikunci, supaya Tino bisa masuk. Tapi kayaknya Tino juga enggak masuk.

Aku sekepo itu dengan cerita Tino semalam, sehingga aku melompat turun dari tempat tidur, lalu berlari ke kamar sebelah. Kebetulan, kamar itu tidak dikunci. Aku menghambur masuk dan menemukan ….

… Tino masih tertidur. Sendirian.

Telanjang, tapi sendirian.

Kamarnya berantakan. Pertama, meja Tino ada di tengah ruangan. Plus kursi-kursinya. Kedua, aku menemukan dua kondom bekas pakai berceceran di atas lantai. Satu kondom robek, satu kondom lagi berisi cairan, kemungkinan spermanya Tino. Ketiga, bantal, guling, dan selimut juga sudah berserakan ke sana kemari. Di bawah tempat tidur ada kain lap yang menggunduk, yang kayaknya dipakai untuk mengelap sesuatu, dan aku kayak nyium aroma-aroma pesing gitu.

Sampe terkencing-kencingkah ngewe semalam? Anjing. Keren banget itu cewek sampe salah satu dari mereka ngompol!

Tino tidur tanpa mengenakan apa pun. Kontolnya sedang ngaceng karena morning wood. Aromanya agak-agak … you know … kalau kamu ngewe sampai berkeringat, cairan tubuhmu terejakulasi ke mana-mana karena melakukan ewe brutal dengan pasanganmu, lalu setelah crot-crot-crot kalian langsung molor, enggak bersih-bersih dulu, nah seperti itu.

Aku mencoba membangunkan Tino, tetapi dia malah mengeluh dan berbalik memunggungiku. Dia menarik satu guling lalu lanjut tidur.

Mungkin ngewe-nya benar-benar brutal sampai Tino kelelahan. Kuputuskan untuk tidak mengganggunya pagi ini, sehingga aku berjalan lagi ke luar, menutup pintu kamar, lalu kembali ke kamarku.

Setelah itu aku bersiap-siap pergi ke kampus, mencoba mencari cewek bayaran untuk misiku menghancurkan Randi, dan sampai hari Sabtu, aku sudah enggak memprioritaskan kekepoanku.

Sumpah. Mungkin selain impulsif, enggak tahu diri, dan baper setelah dicium Edvan, salah satu sifat burukku adalah gampang melupakan hal-hal penting. Kalau sudah lewat sekali saja karena aku terdistraksi hal lain, bablas kulupakan hal penting sebelumnya.

Aku baru teringat lagi soal kekepoanku Rabu malam ketika Tino masuk ke kamarku Sabtu pagi, hanya mengenakan handuk dililit di pinggang. Sisanya telanjang. Dia mengetuk pintu kamarku dengan cukup pelan, satu tangannya disandarkan ke kusen pintu. Jadi saat kubuka pintu kamar, hal pertama yang kulihat adalah keteknya.

Lalu, senyumnya. Yang sangat lebar dan sok-sok memelas itu.

Lalu, aku baru ngeh dia hampir telanjang lagi.

“Mau minjam uang, ya?” sapaku.

“Kok tahu?”

“Ini udah jadi kostum elo Bang kalau mau manfaatin gue.” Aku mendengus sambil memutar bola mata. “Masuk!”

Dengan tengil Tino masuk ke kamarku, lalu melempar tubuhnya ke atas tempat tidurku yang masih berantakan. Aku juga memanjat naik ke atas tempat tidur setelah menutup pintu—sebab aku kan tadi sedang tidur saat Tino mengetuk. Aku langsung menyusupkan kedua kakiku ke bawah selimut, membiarkan Tino duduk dengan paha agak terbuka, sehingga kontolnya yang lemas di balik handuknya yang tersingkap jadi terlihat.

“Enggak usah pamer-pamer kontol,” kataku sambil memalingkan muka.

“Anjir! Cuma ini agunan gue buat minjem duit ke elo, Bro. Enggak mau dipegang dulu?”

“Enggak!”

Tapi Tino bersikeras. Dia mengambil tanganku lalu mengulurkannya ke kontolnya.

Mau enggak mau ya aku jadi meremas-remas kontol lemas itu.

Bukan mau enggak mau, sih. Aku ya mau banget. Tapi nyebelin aja ini personal trainer kok tahuuu gitu mau minjem duit tuh harus ngasih kontol aku.

Ya udah, dengan muka bete, aku mainin kontol uncut yang emesh itu.

“Gimana kabarnya, Bro?”

“Anjing! Udah dibilangin enggak usah nanya kabar dulu! Langsung to the point aja!” Karena aku lagi memegang kontol Tino, jadi kuremas kontol itu kuat-kuat.

“AW-AW-AW-AAAWWW!” Tino menjerit sambil membungkuk dan menekan tanganku agar lepas dari kontolnya. Wajahnya kesakitan. “Anjing! ANJING! BRO! Jangan di—AAARGH!”

Kulepaskan remasan kuat yang seperti ingin meremukkan dan memutuskan kontol Tino dari tubuhnya. Namun aku tetap membelai-belai kontol imut itu, seakan-akan ingin membangunkannya.

Tino meringis sambil menatap kontolnya di bawah. Dadanya berdebar-debar, ngeri karena kegagahannya hampir sirna barusan.

“Gue mau pinjam sejuta aja hari ini, hehe,” kata Tino, masih sambil meringis kecil, sisa dari ngilu kontolnya diremas.

“Buat apa emang, Bang?”

“Kebutuhan sehari-hari,” jawabnya. “Duit gue udah nipis. Hari ini gue ada interview lagi. Tapi entar sore. Gue catat kok utang gue plus yang kosan kemarin. Gue ganti kalau udah dapat job. Bisa enggak, Bro?”

Interview di mana? Kok sore?”

“Di hotel gitu. Si HR-nya baru bisa ketemu sore. Terus, oh …, gue mau pinjem celana elo. Yang warna item.”

Aku menyipitkan mata. “Celana gue enggak bakal muat anjir di kaki elo.”

“Muaaat …. Kaki kita enggak jauh beda—”

“Pantat kita yang jauh beda! Pantat gue tepos, Bang. Enggak kayak pantat elu yang kayak balon. Sempit entar anjiiirrr ….”

“Enggak, lah …. Oke? Gue pinjem duit elo, sama celana elo, bunganya ….” Tino menatap ke kontolnya sendiri. Lalu menatap wajahku.

“Dih!” Aku berjengit. “Bunganya kawin ama elo, anjir! Ngapain bunganya cuma kontol elo doang?!”

Kulepaskan kontol itu lalu aku berbalik memunggungi Tino, berbaring menghadap tembok. Aku merajuk. Tino mengusap-usap punggungku.

“Waduh, Bro …. Hidup gue sekarang aja susah, sampe minjem duit ke elo. Gimana ceritanya gue ngawinin elo, Bro? Mau gue kasih makan apa elu, Bro?”

Aku terkekeh kecil. Aku menolehkan muka ke belakang, lalu aku menjulurkan lidah. “Bercandaaa …, anjir! Serius amat, sih!” Kucubit tetek Tino sampe lelaki kekar itu mengaduh kesakitan. “AW!” lalu dia mengusap-usap nenennya. “Iya nanti aku kasih pinjam baju sama celanaku. Asalkan Abang mau jawab pertanyaanku. Siapa cewek kemaren?”

“Cewek?” Tino mengerutkan alisnya, mengingat-ingat. “Oh! Yang itu? Yaaa … ketemu pas interview di agensi gitu.”

Tino lalu melepas handuknya sehingga dia telanjang bulat. Kemudian, dia memanjat naik, merangkak di atas tubuhku, seakan-akan ingin meng-ewe-ku.

“Dia di-interview juga?”

“He-eh.” Tino menindihkan tubuhnya yang besar ke tubuhku. Dia juga membalik tubuhku agar telentang pasrah. Bahkan kedua kakiku dinaikkannya ke atas, diposisikan agar melingkari pinggangnya.

“Terus habis interview, elu ngajak ngewe di kamar kosan?”

“Iya.” Tino tiba-tiba mendekapku ke dalam pelukannya. Wajahnya dia susurkan ke leherku. Mencumbuku.

“Terus dia … aaahhh … dia cantik, enggak?”

“Yah. Lumayan.” Tino makin merengkuhku ke dalam dekapannya. Kontolnya dia tempelkan ke pantatku.

“Terus kalian kemarin sampai jam … anjing, Bang! Aaahhh … sampai jam berapa? Aaahhh ….”

Tino mencumbu leherku, ke rahangku, lalu menjilati telingaku. Dekapannya makin erat dan kontolnya makin mendorong ke pantatku. Aku merasakan geli-geli nikmat yang luar biasa. Apalagi ini masih pagi. Libido setiap lelaki sedang tinggi. “Sampai malam,” jawab Tino singkat, sembari mulai menyusurkan bibirnya ke pipiku.

“Bang …?”

“Hmmm …?”

“Kenapa jadi mancing-macing gini, sih Bang—aaaaaahhh …!”

“Biar elo enggak nanya-nanya lagi,” jawab Tino, lalu memagut bibirku, dan menciumku penuh nafsu.

Tentu aku pasrah dibikin enak oleh Tino secara tiba-tiba. Dan ya, aku jadi enggak mau nanya-nanya lagi. Dari yang tadinya kepo siapa cewek itu, sekarang aku enggak peduli. Aku penginnya dibikin enak begini terus sepanjang pagi. Aku penginnya dimanja, digelitiki, dibelai, diraba, dikecup oleh bibir Tino, dihantam oleh kontol Tino juga kalau perlu.

Tapi sedari tadi kayaknya kontol itu enggak ngaceng.

Kemungkinan besar Tino melakukan ini kepadaku karena punya tujuan minjam uang itu, sih. Dia merasa perlu bikin aku enak sebagai bagian dari usaha minjam duitnya. In which I don’t mind.

Akhirnya, sepanjang pagi itu, kami cuddling dan enak-enakan. Apa ada sodomi? Enggak ada. Alasannya karena ini masih pagi, sebentar lagi bowel movement-ku melakukan aksi, yang artinya isi perutku akan bersiap untuk disembarking. Enggak lucu dong kalau ada kontol masuk ke jalur di mana pada waktu bersamaan ada yang lagi mau keluar juga?

Tentu saja Tino sempat berbisik merdu, dengan kata-kata yang indah dan romantis berupa, “Mau dimasukin?”

Aku menggelengkan kepala dengan bijak. “Jangan sekarang. Tapi gue bakal simpan pertanyaan itu, dan gue tagih ke elo suatu hari nanti ….”

“Oke,” jawab Tino, kembali mengecup bibirku.

Aku pun ditelanjanginya pagi itu. Hampir setiap bagian kulitku dikecup dan dijilat oleh Tino. Berkali-kali dia bertanya, “Gimana, Bro? Enak?” Dan aku akan mengangguk keenakan. Tapi Tino kebanyakan nanya, sampai-sampai aku toyor kepalanya sambil bilang, “Stop asking! Udah, lanjut aja sih, Baaang …. Aaaaaahhh ….”

Karena memang enak!

Jadi kamu bayangin aja, misal nih, ya, nenenku, lagi diisap sama dia. Lagi enak-enaknya, tiba-tiba dia berhenti terus dongak. “Gimana? Enak?” Kan sebel, anjing! Kenapa berhenti, coba?!

“Gue enggak jago nyepong,” ungkap Tino jujur, sambil menatap kontolku yang ngaceng. Dia ngelihatinnya kayak lagi mikir-mikir, perlu diisap atau enggak.

Aku langsung nyusupin tangan ke bawah ketek Tino, supaya dia naik lagi. “Enggak usah di-sepong, anjir. Udah elu di sini aja, Bang. Hold me tight. Sampe gue crot.”

Tino pun kembali mendekapku dengan erat, lalu mencumbuku sepanjang pagi.

Apa aku crot?

Crot.

Boring banget sih. Kamu pasti menyesal bacanya. Tapi pagi itu, aku beneran menikmati setiap perbuatan intim yang dilakukan Tino ke aku, dan aku bersyukur kontolku bisa digesek-gesek oleh perut Tino yang rata, hingga akhirnya aku ejakulasi beneran. Handsfree.

Aku keenakan.

Saking keenakannya, aku kecapean. Tino langsung memelukku sambil kami cuddle beberapa saat, lalu aku tertidur lagi. Kayaknya Tino juga tidur bersamaku. Kami bangun kira-kira pukul sebelas siang dan aku langsung membuatkan makan siang untuk kami berdua.


[ … ]


“Brooo …, enggak akan masuk, Brooo …,” kataku berulang-ulang, bahkan sampai aku harus menyindirnya dengan kata Bro cuma supaya dia paham bahwa celanaku enggak akan ada yang muat di tubuhnya.

“Yang ini bisa, Bro …. Lihat nih. Bahannya melar.”

“Enggak bakal enak lu pakenya, Brooo …,” kataku bersikukuh.

“Tapi cocok sama kemeja gue yang baru selesai di-laundry. Yuk, lihat!” Tino melilit lagi handuk ke pinggangnya. Dia lalu keluar dari kamarku untuk masuk ke kamarnya.

Aku membuntuti Tino sembari membawa sebagian celanaku yang akan dipinjamnya. Kututup pintu kamarku lalu kudengar suara Romi menggema di lorong kosan. Dia sedang menelepon seseorang.

“Kok tutup, sih aaahhh …? Buka dooong …. Yuk, buka, yuk!” Romi bolak-balik di depan kamar kosannya sambil menelepon. Dia sempat melihatku, lalu dia melambaikan tangannya.

Tentu aku buru-buru berlari ke kamar Tino dan mengunci pintunya.

Why? Supaya Romi enggak nimbrung ke sini lalu melihat ketelanjangan Tino yang aduhai seksi nan kekar maskulin ini. Kan aku sama Tino lagi nyobain semua celanaku. Kalau Romi tahu Tino telanjang, dia bisa menggila.

“Nih, Bro …. Kemeja gue yang ini,” kata Tino, mengacungkan sebuah kemeja berbahan tipis dan longgar, berwarna krem. Yang aku tahu harganya mahal, modelnya bagus, bakal cakep banget kalau dipakai di badan Tino yang kekar ini, apalagi kalau tiga kancing pertamanya enggak dikaitkan—waaahhh … bisa seksi banget si Tino.

Kemeja yang jujur aja aku enggak pernah melihatnya.

“Baju dari mana ini?”

“Dikasih ama temen. Bagus enggak? Secara fashion-fashion?” Tino menempelkannya ke tubuh telanjangnya.

“Yaaa … bagus, sih. Gue juga jadi pengin. Ini apa dah mereknya?” Aku menarik kemeja itu untuk membaca brand-nya. Aku enggak tahu brand-nya. Mungkin brand lokal. Tapi kemejanya emang bagus. Bahannya juga enak. Linen dingin dengan tekstur yang lembut, tapi coraknya elegan. Tipe-tipe baju gay yang lagi liburan di Bali.

“Kalau dipake interview …, keterima enggak gue?” tanya Tino, sambil melepas handuknya, menelanjangi diri, lalu mencoba satu celanaku.

“Kalau HRD-nya homo sih langsung keterima dan jadi manager lu, Bang,” kataku. “Tapi dari mana sih juntrungannya elo bisa dapat kemeja ini? Heran gue.”

“Kan gue udah bilang, dikasih anjir—AAAWWW!” Tino membungkuk kesakitan.

Dia pake celana jeans-ku, tanpa celana dalam, lalu barusan ritsletingnya kena bijinya.

“Anjing! Anjing! ANJING! AAAAAARGH!” Tino guling-guling di atas lantai. Kesakitan.

“Pake sempak dulu, BRO!” dengusku kesal. “Lagian ngapa langsung pake sih?! Ini kan celana jeans!”

Akhirnya aku membungkuk untuk membantu Tino memasukkan kontolnya ke balik celana, lalu menutupnya dengan ritsleting.

“Susah, susah, susah!” teriak Tino. “Ganti, Bro!”

“Dibilangin pantat lu kegedean, anjir. Ngapa ngeyel, dah?!” Aku mengambil satu celanaku yang lain. “Lagian kemeja itu mendingan pake celana ini, kali. Warnanya lebih nyambung. Nih, pake! Buka dulu yang itu!”

Selama lima belas menit kemudian, Tino mencoba semua celanaku bergantian. Kadang ada yang dicoba ulang, hanya untuk mengecek apakah setelannya cocok dengan kemeja yang dipunyai Tino atau tidak. Most of the time, enggak cocok. Dan yang cocok, ukurannya enggak pas. Well, semua ukurannya enggak pas, sih.

Ada satu celana yang kayaknya disukai Tino, tapi celana itu kelihatan banget enggak muat.

“Tapi ini … gay banget, Bro,” kata Tino, sambil mematut tungkainya di depan cermin, menggerakkan kaki bolak-balik untuk melihat bentukan celana itu membungkus paha dan betisnya. Sayangnya celana itu kekecilan, sehingga bagian kancingnya enggak bisa dikaitkan. Bagian ristleting pun enggak bisa dinaikkan.

So, kontol Tino berayun keluar, terekspos dengan imut dan menggemaskan.

“Enggak akan masuk, Brooo …,” kataku untuk kesekian kalinya.

“Atau yang krem itu—”

“Enggak itu juga enggak masuk. Udah. Lepas celananya. Gue ada satu celana lagi yang bahannya lebih stretch, tapi udah lama gue enggak pake.”

“Oh, oke. Yang itu pasti masuk.”

“Enggak. Enggak akan masuk. Lagian kenapa harus kelihatan gay, sih?”

“Baju-baju maho bagus-bagus soalnya, Bro. Kayak elo.”

“Bro bro bro,” ledekku sambil memutar mata. “Ya udah gue ambilin dulu.”

Tino melepas celana itu dan menjejerkannya dengan celana lain di atas tempat tidur. Dia berdiri telanjang bulat, berkacak pinggang, berpikir keras celana mana yang cocok dia gunakan, seperti pemimpin dunia sedang berpikir keras mencari solusi untuk konflik di timur tengah.

Aku mengambil satu celana katun yang sudah jelas enggak akan dipakai Tino karena enggak muat sama sekali, lalu aku membuka pintu kamar dan berjalan keluar.

“Yang merah itu kayaknya bagus—”

“Udah gue bilang, kagak bakal muat! Pantat elo udah kayak pantat Nicky Minaj!” Aku menghambur keluar dan terkejut dengan sosok seorang lelaki yang tampaknya sudah berdiri di sini sedari tadi. “Argh!” aku terlonjak kecil. “Eh, Mas Lanang!”

“Ha … hai!” balas Lanang malu-malu.

Ya. Pacarnya Mas Akbar yang selingkuh sama cowok ganteng itu ada di depanku sekarang. Bahunya naik turun, seakan-akan dia kehabisan napas. Dia berdiri di ujung tangga sambil memainkan jari-jarinya dengan gugup. Kepalanya juga menunduk. Wajahnya seperti ketakutan. Seperti baru melihat hantu.

Dan ada apa dengan orang-orang yang tinggal di kamar ujung sana? Baik Mas Akbar maupun Lanang tiba-tiba main ke area tangga kosan yang sebelah sini. Yang jelas-jelas jauh dari kamar mereka.

Aku menghampirinya sejenak. Menyipitkan mata sambil mengedarkan pandangan ke sekitar. Aku jadi penasaran lagi, apakah dia ada di sini bersama Mas Akbar yang tempo hari juga berjalan ke sini malam hari lalu lenyap entah di mana?

“Kok …, ada di sini?” tanyaku. “Lagi mau ke mana?”

“Aku … aku mau ketemu Mas Tino.”

“Oh!” That’s odd. Sambil menoleh ke dalam kamar Tino, sambil tanpa sadar melipat celana katun di tanganku, aku memanggil si personal trainer yang ngeyel sama ukuran celana itu. “Bro! Ada yang nyariin!”

“Bentar!” jawab Tino dari dalam.

Aku melihat Lanang tampak ketakutan ketika mendengar balasan Tino. Seakan-akan dia enggak mengharapkan Tino ada di sana, meskipun dia secara gamblang mencarinya. Jadi untuk menenangkannya, aku menjelaskan apa yang sedang terjadi. Demi menekankan bahwa tidak ada yang mengancam nyawa di sekitaran sini.

“Dia lagi nyari baju buat interview, terus dia mau minjem celana-celana gue, anjir. Emangnya bakal muat? Gue bilangin gitu ke dia, kagak percaya, pula. Ya udah tuh, memang enggak masuk. Paha dia lebih gede dari paha gue!”

“BACOOOT!” seru Tino dari dalam.

“Ini Mas Lanang nungguin!” dengusku.

“Bentar …! Elu mau gue bugil keluar kamar, hah?!”

“Ya pake dulu sempaknya!” Goblok emang. Lagian dari awal kenapa enggak pake sempak, sih?

Aku melihat Lanang mulai engap kehabisan napas mendengar itu. Wajar, sih. Kamu dengar Tino enggak pake sempak, dan kamu hanya berjarak dua meter aja dari Tino enggak pake sempak, cuma kehalang ama pintu, pasti kamu pun engap karena sange. Bener, deh. Sedahsyat itu keseksian Tino.

Jadi supaya si Lanang tenang, kujelasin aja, “Sejak viral video itu, dia akhirnya resign dari tempat fitnesnya. Kebanyakan boti nyari dia soalnya,” jangan-jangan elu juga nyari si Tino ke sini gara-gara video itu, hah? “Mas udah nonton videonya juga, kan?”

“Vi … video?” ulang Lanang sambil geleng-geleng kepala.

Lah, dia kagak tahu soal video itu?

What the fuck?!

Mantengin apa sih homo-homo kosan ini di Twitter? Kok enggak tahu video viralnya Tino?! Si Enzo enggak tahu, si Lanang enggak tahu, sekarang aku jadi bete karena video coli Tino ternyata enggak sedahsyat itu viralnya. Jadi tersinggung aku! Harusnya video Tino tuh sedunia sudah tahu at this point!

“Hei!” Tino pun menyapa keluar, mengenakan sempak seadanya yang dia temukan di lemari. Sempak berbentuk segitiga yang cukup ketat dan mungil. Seperti celana renang. Yang membungkus panggul Tino dengan sempit, sehingga jembutnya mencuat keluar, dan kontol uncut-nya menonjol seperti bakat.

BRUK!

Lanang pun pingsan.

What the—

Aku dan Tino saling berpandangan.

See?!” dengusku. “Ini nih akibatnya kalau elu tebar pesona, Bang! Boti lemah kayak dia bisa pingsan!”


[ … ]


Part 13 (Bag. B) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Prank Personal Trainer | Part 14 (Bag. B)

Komentar