Hingga Sabtu pagi, aku belum mengobrol lagi dengan Tino.
Kenapa? Karena pertama, Rabu
malam, mereka ngewe sampai tengah malam kayaknya. Aku mendengar
suara-suara feminin, “Aaahhh … aaahhh … aaahhh …!” yang berarti benar
Tino lagi ngewe ama entah cewek mana lagi. Malah kayaknya ngewe
mereka brutal banget, anjay. Ada suara gebrak-gebrak meja, suara duk-duk-duk,
teriakan pilu, “Ampuuunnn … ampuuunnn …,” bahkan suara tamparan. Which
is okay. Ini adalah kebiasaan Tino sebelum ini.
Kalau Tino ingin
melampiaskan kekesalannya atas nasib sial yang menimpanya ke cewek itu, aku
paham. Takutnya selama ini dia sebenarnya pengin nge-fuck aku dengan
brutal karena murka pada semua LGBT sedunia, tetapi dia masih butuh uangku,
sehingga dia enggak menyiksaku. Kemudian cewek itulah yang jadi korbannya.
Bagus, lah.
Tapi, karena kupikir dia
akan datang ke kamarku, jadi aku menunggunya.
Sayangnya aku ketiduran.
Kira-kira jam sebelas malam, aku udah enggak sadar lagi. Aku terbangun pukul
enam pagi dalam kondisi pintu kamar enggak dikunci, supaya Tino bisa masuk.
Tapi kayaknya Tino juga enggak masuk.
Aku sekepo itu dengan cerita
Tino semalam, sehingga aku melompat turun dari tempat tidur, lalu berlari ke
kamar sebelah. Kebetulan, kamar itu tidak dikunci. Aku menghambur masuk dan
menemukan ….
… Tino masih tertidur.
Sendirian.
Telanjang, tapi sendirian.
Kamarnya berantakan. Pertama,
meja Tino ada di tengah ruangan. Plus kursi-kursinya. Kedua, aku menemukan dua
kondom bekas pakai berceceran di atas lantai. Satu kondom robek, satu kondom
lagi berisi cairan, kemungkinan spermanya Tino. Ketiga, bantal, guling, dan
selimut juga sudah berserakan ke sana kemari. Di bawah tempat tidur ada kain
lap yang menggunduk, yang kayaknya dipakai untuk mengelap sesuatu, dan aku
kayak nyium aroma-aroma pesing gitu.
Sampe terkencing-kencingkah ngewe
semalam? Anjing. Keren banget itu cewek sampe salah satu dari mereka ngompol!
Tino tidur tanpa mengenakan
apa pun. Kontolnya sedang ngaceng karena morning wood. Aromanya
agak-agak … you know … kalau kamu ngewe sampai berkeringat,
cairan tubuhmu terejakulasi ke mana-mana karena melakukan ewe brutal
dengan pasanganmu, lalu setelah crot-crot-crot kalian langsung molor,
enggak bersih-bersih dulu, nah seperti itu.
Aku mencoba membangunkan
Tino, tetapi dia malah mengeluh dan berbalik memunggungiku. Dia menarik satu
guling lalu lanjut tidur.
Mungkin ngewe-nya
benar-benar brutal sampai Tino kelelahan. Kuputuskan untuk tidak mengganggunya
pagi ini, sehingga aku berjalan lagi ke luar, menutup pintu kamar, lalu kembali
ke kamarku.
Setelah itu aku bersiap-siap
pergi ke kampus, mencoba mencari cewek bayaran untuk misiku menghancurkan
Randi, dan sampai hari Sabtu, aku sudah enggak memprioritaskan kekepoanku.
Sumpah. Mungkin selain
impulsif, enggak tahu diri, dan baper setelah dicium Edvan, salah satu sifat
burukku adalah gampang melupakan hal-hal penting. Kalau sudah lewat sekali saja
karena aku terdistraksi hal lain, bablas kulupakan hal penting sebelumnya.
Aku baru teringat lagi soal
kekepoanku Rabu malam ketika Tino masuk ke kamarku Sabtu pagi, hanya mengenakan
handuk dililit di pinggang. Sisanya telanjang. Dia mengetuk pintu kamarku
dengan cukup pelan, satu tangannya disandarkan ke kusen pintu. Jadi saat kubuka
pintu kamar, hal pertama yang kulihat adalah keteknya.
Lalu, senyumnya. Yang sangat
lebar dan sok-sok memelas itu.
Lalu, aku baru ngeh dia
hampir telanjang lagi.
“Mau minjam uang, ya?”
sapaku.
“Kok tahu?”
“Ini udah jadi kostum elo
Bang kalau mau manfaatin gue.” Aku mendengus sambil memutar bola mata. “Masuk!”
Dengan tengil Tino masuk ke
kamarku, lalu melempar tubuhnya ke atas tempat tidurku yang masih berantakan.
Aku juga memanjat naik ke atas tempat tidur setelah menutup pintu—sebab aku kan
tadi sedang tidur saat Tino mengetuk. Aku langsung menyusupkan kedua kakiku ke
bawah selimut, membiarkan Tino duduk dengan paha agak terbuka, sehingga
kontolnya yang lemas di balik handuknya yang tersingkap jadi terlihat.
“Enggak usah pamer-pamer
kontol,” kataku sambil memalingkan muka.
“Anjir! Cuma ini agunan gue
buat minjem duit ke elo, Bro. Enggak mau dipegang dulu?”
“Enggak!”
Tapi Tino bersikeras. Dia
mengambil tanganku lalu mengulurkannya ke kontolnya.
Mau enggak mau ya aku jadi
meremas-remas kontol lemas itu.
Bukan mau enggak mau, sih.
Aku ya mau banget. Tapi nyebelin aja ini personal trainer kok tahuuu
gitu mau minjem duit tuh harus ngasih kontol aku.
Ya udah, dengan muka bete,
aku mainin kontol uncut yang emesh itu.
“Gimana kabarnya, Bro?”
“Anjing! Udah dibilangin
enggak usah nanya kabar dulu! Langsung to the point aja!” Karena aku
lagi memegang kontol Tino, jadi kuremas kontol itu kuat-kuat.
“AW-AW-AW-AAAWWW!” Tino
menjerit sambil membungkuk dan menekan tanganku agar lepas dari kontolnya.
Wajahnya kesakitan. “Anjing! ANJING! BRO! Jangan di—AAARGH!”
Kulepaskan remasan kuat yang
seperti ingin meremukkan dan memutuskan kontol Tino dari tubuhnya. Namun aku
tetap membelai-belai kontol imut itu, seakan-akan ingin membangunkannya.
Tino meringis sambil menatap
kontolnya di bawah. Dadanya berdebar-debar, ngeri karena kegagahannya hampir
sirna barusan.
“Gue mau pinjam sejuta aja
hari ini, hehe,” kata Tino, masih sambil meringis kecil, sisa dari ngilu
kontolnya diremas.
“Buat apa emang, Bang?”
“Kebutuhan sehari-hari,”
jawabnya. “Duit gue udah nipis. Hari ini gue ada interview lagi. Tapi
entar sore. Gue catat kok utang gue plus yang kosan kemarin. Gue ganti kalau
udah dapat job. Bisa enggak, Bro?”
“Interview di mana?
Kok sore?”
“Di hotel gitu. Si HR-nya
baru bisa ketemu sore. Terus, oh …, gue mau pinjem celana elo. Yang warna
item.”
Aku menyipitkan mata.
“Celana gue enggak bakal muat anjir di kaki elo.”
“Muaaat …. Kaki kita enggak
jauh beda—”
“Pantat kita yang jauh beda!
Pantat gue tepos, Bang. Enggak kayak pantat elu yang kayak balon. Sempit entar
anjiiirrr ….”
“Enggak, lah …. Oke? Gue
pinjem duit elo, sama celana elo, bunganya ….” Tino menatap ke kontolnya
sendiri. Lalu menatap wajahku.
“Dih!” Aku berjengit.
“Bunganya kawin ama elo, anjir! Ngapain bunganya cuma kontol elo doang?!”
Kulepaskan kontol itu lalu
aku berbalik memunggungi Tino, berbaring menghadap tembok. Aku merajuk. Tino
mengusap-usap punggungku.
“Waduh, Bro …. Hidup gue
sekarang aja susah, sampe minjem duit ke elo. Gimana ceritanya gue ngawinin
elo, Bro? Mau gue kasih makan apa elu, Bro?”
Aku terkekeh kecil. Aku
menolehkan muka ke belakang, lalu aku menjulurkan lidah. “Bercandaaa …, anjir!
Serius amat, sih!” Kucubit tetek Tino sampe lelaki kekar itu mengaduh
kesakitan. “AW!” lalu dia mengusap-usap nenennya. “Iya nanti aku kasih pinjam
baju sama celanaku. Asalkan Abang mau jawab pertanyaanku. Siapa cewek kemaren?”
“Cewek?” Tino mengerutkan
alisnya, mengingat-ingat. “Oh! Yang itu? Yaaa … ketemu pas interview di
agensi gitu.”
Tino lalu melepas handuknya
sehingga dia telanjang bulat. Kemudian, dia memanjat naik, merangkak di atas
tubuhku, seakan-akan ingin meng-ewe-ku.
“Dia di-interview
juga?”
“He-eh.” Tino menindihkan
tubuhnya yang besar ke tubuhku. Dia juga membalik tubuhku agar telentang
pasrah. Bahkan kedua kakiku dinaikkannya ke atas, diposisikan agar melingkari
pinggangnya.
“Terus habis interview,
elu ngajak ngewe di kamar kosan?”
“Iya.” Tino tiba-tiba
mendekapku ke dalam pelukannya. Wajahnya dia susurkan ke leherku. Mencumbuku.
“Terus dia … aaahhh … dia
cantik, enggak?”
“Yah. Lumayan.” Tino makin
merengkuhku ke dalam dekapannya. Kontolnya dia tempelkan ke pantatku.
“Terus kalian kemarin sampai
jam … anjing, Bang! Aaahhh … sampai jam berapa? Aaahhh ….”
Tino mencumbu leherku, ke
rahangku, lalu menjilati telingaku. Dekapannya makin erat dan kontolnya makin
mendorong ke pantatku. Aku merasakan geli-geli nikmat yang luar biasa. Apalagi
ini masih pagi. Libido setiap lelaki sedang tinggi. “Sampai malam,” jawab Tino
singkat, sembari mulai menyusurkan bibirnya ke pipiku.
“Bang …?”
“Hmmm …?”
“Kenapa jadi mancing-macing
gini, sih Bang—aaaaaahhh …!”
“Biar elo enggak nanya-nanya
lagi,” jawab Tino, lalu memagut bibirku, dan menciumku penuh nafsu.
Tentu aku pasrah dibikin
enak oleh Tino secara tiba-tiba. Dan ya, aku jadi enggak mau nanya-nanya lagi.
Dari yang tadinya kepo siapa cewek itu, sekarang aku enggak peduli. Aku
penginnya dibikin enak begini terus sepanjang pagi. Aku penginnya dimanja, digelitiki,
dibelai, diraba, dikecup oleh bibir Tino, dihantam oleh kontol Tino juga kalau
perlu.
Tapi sedari tadi kayaknya
kontol itu enggak ngaceng.
Kemungkinan besar Tino
melakukan ini kepadaku karena punya tujuan minjam uang itu, sih. Dia merasa
perlu bikin aku enak sebagai bagian dari usaha minjam duitnya. In which I
don’t mind.
Akhirnya, sepanjang pagi
itu, kami cuddling dan enak-enakan. Apa ada sodomi? Enggak ada.
Alasannya karena ini masih pagi, sebentar lagi bowel movement-ku
melakukan aksi, yang artinya isi perutku akan bersiap untuk disembarking.
Enggak lucu dong kalau ada kontol masuk ke jalur di mana pada waktu bersamaan
ada yang lagi mau keluar juga?
Tentu saja Tino sempat berbisik
merdu, dengan kata-kata yang indah dan romantis berupa, “Mau dimasukin?”
Aku menggelengkan kepala
dengan bijak. “Jangan sekarang. Tapi gue bakal simpan pertanyaan itu, dan gue
tagih ke elo suatu hari nanti ….”
“Oke,” jawab Tino, kembali
mengecup bibirku.
Aku pun ditelanjanginya pagi
itu. Hampir setiap bagian kulitku dikecup dan dijilat oleh Tino. Berkali-kali
dia bertanya, “Gimana, Bro? Enak?” Dan aku akan mengangguk keenakan. Tapi Tino
kebanyakan nanya, sampai-sampai aku toyor kepalanya sambil bilang, “Stop
asking! Udah, lanjut aja sih, Baaang …. Aaaaaahhh ….”
Karena memang enak!
Jadi kamu bayangin aja,
misal nih, ya, nenenku, lagi diisap sama dia. Lagi enak-enaknya, tiba-tiba dia
berhenti terus dongak. “Gimana? Enak?” Kan sebel, anjing! Kenapa berhenti,
coba?!
“Gue enggak jago nyepong,”
ungkap Tino jujur, sambil menatap kontolku yang ngaceng. Dia
ngelihatinnya kayak lagi mikir-mikir, perlu diisap atau enggak.
Aku langsung nyusupin tangan
ke bawah ketek Tino, supaya dia naik lagi. “Enggak usah di-sepong,
anjir. Udah elu di sini aja, Bang. Hold me tight. Sampe gue crot.”
Tino pun kembali mendekapku
dengan erat, lalu mencumbuku sepanjang pagi.
Apa aku crot?
Crot.
Boring banget sih. Kamu pasti menyesal bacanya. Tapi pagi itu, aku beneran
menikmati setiap perbuatan intim yang dilakukan Tino ke aku, dan aku bersyukur
kontolku bisa digesek-gesek oleh perut Tino yang rata, hingga akhirnya aku
ejakulasi beneran. Handsfree.
Aku keenakan.
Saking keenakannya, aku
kecapean. Tino langsung memelukku sambil kami cuddle beberapa saat, lalu
aku tertidur lagi. Kayaknya Tino juga tidur bersamaku. Kami bangun kira-kira
pukul sebelas siang dan aku langsung membuatkan makan siang untuk kami berdua.
[ … ]
“Brooo …, enggak akan masuk,
Brooo …,” kataku berulang-ulang, bahkan sampai aku harus menyindirnya dengan
kata Bro cuma supaya dia paham bahwa celanaku enggak akan ada yang muat di
tubuhnya.
“Yang ini bisa, Bro …. Lihat
nih. Bahannya melar.”
“Enggak bakal enak lu
pakenya, Brooo …,” kataku bersikukuh.
“Tapi cocok sama kemeja gue
yang baru selesai di-laundry. Yuk, lihat!” Tino melilit lagi handuk ke
pinggangnya. Dia lalu keluar dari kamarku untuk masuk ke kamarnya.
Aku membuntuti Tino sembari
membawa sebagian celanaku yang akan dipinjamnya. Kututup pintu kamarku lalu
kudengar suara Romi menggema di lorong kosan. Dia sedang menelepon seseorang.
“Kok tutup, sih aaahhh …?
Buka dooong …. Yuk, buka, yuk!” Romi bolak-balik di depan
kamar kosannya sambil menelepon. Dia sempat melihatku, lalu dia melambaikan
tangannya.
Tentu aku buru-buru berlari
ke kamar Tino dan mengunci pintunya.
Why? Supaya Romi enggak nimbrung ke sini lalu melihat ketelanjangan Tino yang
aduhai seksi nan kekar maskulin ini. Kan aku sama Tino lagi nyobain semua
celanaku. Kalau Romi tahu Tino telanjang, dia bisa menggila.
“Nih, Bro …. Kemeja gue yang
ini,” kata Tino, mengacungkan sebuah kemeja berbahan tipis dan longgar,
berwarna krem. Yang aku tahu harganya mahal, modelnya bagus, bakal cakep banget
kalau dipakai di badan Tino yang kekar ini, apalagi kalau tiga kancing pertamanya
enggak dikaitkan—waaahhh … bisa seksi banget si Tino.
Kemeja yang jujur aja aku
enggak pernah melihatnya.
“Baju dari mana ini?”
“Dikasih ama temen. Bagus
enggak? Secara fashion-fashion?” Tino menempelkannya ke tubuh
telanjangnya.
“Yaaa … bagus, sih. Gue juga
jadi pengin. Ini apa dah mereknya?” Aku menarik kemeja itu untuk membaca brand-nya.
Aku enggak tahu brand-nya. Mungkin brand lokal. Tapi kemejanya
emang bagus. Bahannya juga enak. Linen dingin dengan tekstur yang lembut, tapi
coraknya elegan. Tipe-tipe baju gay yang lagi liburan di Bali.
“Kalau dipake interview
…, keterima enggak gue?” tanya Tino, sambil melepas handuknya, menelanjangi
diri, lalu mencoba satu celanaku.
“Kalau HRD-nya homo sih
langsung keterima dan jadi manager lu, Bang,” kataku. “Tapi dari mana sih
juntrungannya elo bisa dapat kemeja ini? Heran gue.”
“Kan gue udah bilang,
dikasih anjir—AAAWWW!” Tino membungkuk kesakitan.
Dia pake celana jeans-ku,
tanpa celana dalam, lalu barusan ritsletingnya kena bijinya.
“Anjing! Anjing! ANJING!
AAAAAARGH!” Tino guling-guling di atas lantai. Kesakitan.
“Pake sempak dulu, BRO!”
dengusku kesal. “Lagian ngapa langsung pake sih?! Ini kan celana jeans!”
Akhirnya aku membungkuk
untuk membantu Tino memasukkan kontolnya ke balik celana, lalu menutupnya
dengan ritsleting.
“Susah, susah, susah!”
teriak Tino. “Ganti, Bro!”
“Dibilangin pantat lu
kegedean, anjir. Ngapa ngeyel, dah?!” Aku mengambil satu celanaku yang lain.
“Lagian kemeja itu mendingan pake celana ini, kali. Warnanya lebih nyambung.
Nih, pake! Buka dulu yang itu!”
Selama lima belas menit
kemudian, Tino mencoba semua celanaku bergantian. Kadang ada yang dicoba ulang,
hanya untuk mengecek apakah setelannya cocok dengan kemeja yang dipunyai Tino
atau tidak. Most of the time, enggak cocok. Dan yang cocok, ukurannya
enggak pas. Well, semua ukurannya enggak pas, sih.
Ada satu celana yang
kayaknya disukai Tino, tapi celana itu kelihatan banget enggak muat.
“Tapi ini … gay
banget, Bro,” kata Tino, sambil mematut tungkainya di depan cermin,
menggerakkan kaki bolak-balik untuk melihat bentukan celana itu membungkus paha
dan betisnya. Sayangnya celana itu kekecilan, sehingga bagian kancingnya enggak
bisa dikaitkan. Bagian ristleting pun enggak bisa dinaikkan.
So, kontol Tino berayun keluar, terekspos dengan imut dan menggemaskan.
“Enggak akan masuk, Brooo
…,” kataku untuk kesekian kalinya.
“Atau yang krem itu—”
“Enggak itu juga enggak
masuk. Udah. Lepas celananya. Gue ada satu celana lagi yang bahannya lebih stretch,
tapi udah lama gue enggak pake.”
“Oh, oke. Yang itu pasti
masuk.”
“Enggak. Enggak akan masuk.
Lagian kenapa harus kelihatan gay, sih?”
“Baju-baju maho bagus-bagus
soalnya, Bro. Kayak elo.”
“Bro bro bro,” ledekku
sambil memutar mata. “Ya udah gue ambilin dulu.”
Tino melepas celana itu dan
menjejerkannya dengan celana lain di atas tempat tidur. Dia berdiri telanjang
bulat, berkacak pinggang, berpikir keras celana mana yang cocok dia gunakan,
seperti pemimpin dunia sedang berpikir keras mencari solusi untuk konflik di
timur tengah.
Aku mengambil satu celana
katun yang sudah jelas enggak akan dipakai Tino karena enggak muat sama sekali,
lalu aku membuka pintu kamar dan berjalan keluar.
“Yang merah itu kayaknya
bagus—”
“Udah gue bilang, kagak
bakal muat! Pantat elo udah kayak pantat Nicky Minaj!” Aku menghambur keluar
dan terkejut dengan sosok seorang lelaki yang tampaknya sudah berdiri di sini
sedari tadi. “Argh!” aku terlonjak kecil. “Eh, Mas Lanang!”
“Ha … hai!” balas Lanang
malu-malu.
Ya. Pacarnya Mas Akbar yang
selingkuh sama cowok ganteng itu ada di depanku sekarang. Bahunya naik turun,
seakan-akan dia kehabisan napas. Dia berdiri di ujung tangga sambil memainkan
jari-jarinya dengan gugup. Kepalanya juga menunduk. Wajahnya seperti ketakutan.
Seperti baru melihat hantu.
Dan ada apa dengan
orang-orang yang tinggal di kamar ujung sana? Baik Mas Akbar maupun Lanang
tiba-tiba main ke area tangga kosan yang sebelah sini. Yang jelas-jelas jauh
dari kamar mereka.
Aku menghampirinya sejenak.
Menyipitkan mata sambil mengedarkan pandangan ke sekitar. Aku jadi penasaran
lagi, apakah dia ada di sini bersama Mas Akbar yang tempo hari juga berjalan ke
sini malam hari lalu lenyap entah di mana?
“Kok …, ada di sini?”
tanyaku. “Lagi mau ke mana?”
“Aku … aku mau ketemu Mas
Tino.”
“Oh!” That’s odd.
Sambil menoleh ke dalam kamar Tino, sambil tanpa sadar melipat celana katun di
tanganku, aku memanggil si personal trainer yang ngeyel sama ukuran
celana itu. “Bro! Ada yang nyariin!”
“Bentar!” jawab Tino dari dalam.
Aku melihat Lanang tampak
ketakutan ketika mendengar balasan Tino. Seakan-akan dia enggak mengharapkan
Tino ada di sana, meskipun dia secara gamblang mencarinya. Jadi untuk
menenangkannya, aku menjelaskan apa yang sedang terjadi. Demi menekankan bahwa
tidak ada yang mengancam nyawa di sekitaran sini.
“Dia lagi nyari baju buat interview,
terus dia mau minjem celana-celana gue, anjir. Emangnya bakal muat? Gue
bilangin gitu ke dia, kagak percaya, pula. Ya udah tuh, memang enggak masuk.
Paha dia lebih gede dari paha gue!”
“BACOOOT!” seru Tino dari dalam.
“Ini Mas Lanang nungguin!”
dengusku.
“Bentar …! Elu mau gue bugil
keluar kamar, hah?!”
“Ya pake dulu sempaknya!”
Goblok emang. Lagian dari awal kenapa enggak pake sempak, sih?
Aku melihat Lanang mulai
engap kehabisan napas mendengar itu. Wajar, sih. Kamu dengar Tino enggak pake
sempak, dan kamu hanya berjarak dua meter aja dari Tino enggak pake sempak,
cuma kehalang ama pintu, pasti kamu pun engap karena sange. Bener, deh.
Sedahsyat itu keseksian Tino.
Jadi supaya si Lanang
tenang, kujelasin aja, “Sejak viral video itu, dia akhirnya resign dari
tempat fitnesnya. Kebanyakan boti nyari dia soalnya,” jangan-jangan elu
juga nyari si Tino ke sini gara-gara video itu, hah? “Mas udah nonton videonya
juga, kan?”
“Vi … video?” ulang Lanang
sambil geleng-geleng kepala.
Lah, dia kagak tahu soal
video itu?
What the fuck?!
Mantengin apa sih homo-homo
kosan ini di Twitter? Kok enggak tahu video viralnya Tino?! Si Enzo enggak
tahu, si Lanang enggak tahu, sekarang aku jadi bete karena video coli
Tino ternyata enggak sedahsyat itu viralnya. Jadi tersinggung aku! Harusnya
video Tino tuh sedunia sudah tahu at this point!
“Hei!” Tino pun menyapa
keluar, mengenakan sempak seadanya yang dia temukan di lemari. Sempak berbentuk
segitiga yang cukup ketat dan mungil. Seperti celana renang. Yang membungkus
panggul Tino dengan sempit, sehingga jembutnya mencuat keluar, dan kontol uncut-nya
menonjol seperti bakat.
BRUK!
Lanang pun pingsan.
“What the—”
Aku dan Tino saling
berpandangan.
“See?!” dengusku.
“Ini nih akibatnya kalau elu tebar pesona, Bang! Boti lemah kayak dia
bisa pingsan!”
[ … ]
Part 13 (Bag. B) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Prank Personal Trainer | Part 14 (Bag. B)
Komentar
Posting Komentar