Tentu saja aku melama-lamakan diri sebelum bertemu Edvan.
Enggak. Aku enggak mau masuk
kamar Edvan sebelum dia nemu sempaknya di mana, terus dia pake itu sempak,
sehingga kontolnya enggak berayun-ayun lagi. I’m not being munafique. Dalam
situasi normal, aku akan sangat bersyukur bisa melihat kontol Edvan. Kalau
perlu, aku ingin digagahi Edvan.
Tapi situasiku enggak normal
sama Edvan. Apa pun yang dia lakukan, berhasil bikin aku deg-degan dengan
“rasa” yang lain. Bukan sekadar rasa naksir yang kurasakan setiap melihat cowok
ganteng atau seksi di ruang publik. Bukan rasa pengin ngewe seperti
melihat Randi handukan saja dengan tubuh kekar seksinya itu.
Tapi ada rasa ingin
memiliki, rasa ingin merengkuh Edvan, lalu mencium bibirnya lagi. Seperti saat
dia mencium bibirku di Pati tempo hari.
Itu adalah rasa yang
berbahaya.
Aku baru saja ngewe
brutal dengan Tino semalam. Tak akan kurusak momen indah itu dengan membiarkan
Edvan membolak-balikkan hatiku.
Jadi, aku santai-santai dulu
di kamarku. Sempat aku ketuk kamar Tino, tapi dia masih belum pulang. Mungkin
sedang interview lagi entah di mana. Lalu aku balik kamarku. Nge-rank
dulu sekali main (dan timku kalah, aku turun rank). Baru aku berangkat
ke kamar Edvan.
Kuketuk kamar itu sambil
menyapa, “Gue enggak akan masuk kalau elu belum pake celana!”
Ckrek! Pintu kamar Edvan terbuka.
Edvan sudah pake celana
pendek.
Tapi telanjang dada.
Bangsat!
“Masuk!” katanya, sambil
garuk-garuk kepala dan pamer ketek.
Aku memutar bola mata. Kalau
aku jadi Presiden Indonesia, salah satu mandat yang akan kuresmikan adalah
larangan bagi Edvan pamer ketek, karena keteknya terlalu seksi!
Ya sudah.
Sudah terlanjur. Jadi, aku
masuk saja ke dalam dan langsung duduk ke atas tempat tidurnya. Edvan menutup
pintu kamar. Menguncinya.
“Elu mau merkosa gue?! Pake
ngunci pintu segala!” komentarku.
“Elu mau si Romi masuk?”
“Oh! Enggak. Enggak mau.”
Edvan pun berjalan ke kursi gaming-nya,
menggoyang mouse, lalu layar monitornya yang ada tiga unit itu—ditempel
berjejer satu sama lain—langsung menyala.
Edvan bersandar dengan nyaman di kursi gaming-nya itu.
Pencahayaan ungu langsung menyala di kamar, berbarengan dengan PC yang menyala
juga.
Edvan menyugar rambutnya
sembari memutar kursi menghadap tempat tidur. “Gimana rencana elo?”
“Sama kayak yang gue
ceritain di Semarang kemaren,” jawabku.
“Yang mana?”
Aku menarik napas panjang,
bersiap untuk menceritakan ulang. “Yang nge-prank balik si Randi dengan
cara—”
“Oh, yang itu,” sela Edvan
sambil manggut-manggut.
“Emang elu denger?”
“Denger dengan detail,”
jawabnya.
Fuck. Berarti dia “sadar” ketika dia nempelin badan telanjangnya ke badanku.
Tapi, ya sudah. Enggak usah
dibahas. Takutnya memory yang sensual itu balik lagi ke diriku,
membuatku bergairah lagi, kemudian Edvan di depanku setengah telanjang lagi ….
Bahaya.
“Aku udah ganti PT-ku jadi
Randi,” kataku. “Aku udah ngobrol banyak ama dia. Aku udah tahu tipe cewek
favoritnya kayak gimana.”
“Oke.” Edvan mengangkat
bahunya dengan simpel. Seolah-olah sepakat aja dengan apa pun yang kukatakan.
“Tinggal eksekusi.”
“Emang elo udah setuju ama
ide gue?”
“Ya.”
“Ide gue tuh ribet, anjir.
Kita harus cari cewek buat ngegodain si Randi, bikin Randi jatuh cinta, lalu
bikin dia mau VCS, lalu kita rekam VCS-nya, dan lain sebagainya. It will
take great resources. Mungkin waktu kita bisa terbuang banyak buat ngurusin
ini.”
Edvan hanya mengangkat kecil
bahunya. “Oke.”
Didebat, kek? Bilang ideku
sampah atau apa gitu, biar kita bisa brainstorm bareng? Gampang banget
sih setujunya!
“Oke. Tinggal cari cewek
yang mau,” kataku akhirnya. “Gue bisa cari ceweknya. Tapi elo bisa bantu bikin,
you know, teknologi supaya kita bisa ngerekam si Randi pas dia VCS sama
cewek ini.”
“Gampang,” balas Edvan.
“Tapi elo bisa cari cewek yang mau ngelakuin itu semua enggak?”
“Banyak cewek bispak di
kampus gue yang rela dibayar mahal buat ini.”
“Elu punya budget-nya?”
“Ada. Enggak usah khawatirin
soal budget.”
“Oke.” Edvan mengangkat
bahunya. “But for safety, kita bikinin identitas palsu buat dia. Jangan
pake nama asli dia.”
“Setuju,” kataku. “Malah,
gue kepikiran buat daftarin membership di tempat gym gue, terus
gue bikin mereka ketemu di tempat gym …, biar organik.”
“Oke.”
“Tapi untuk daftar di situ
butuh ngasih KTP. Kalau kita ngasih KTP dia yang asli—”
“Gue bisa bikin KTP palsu,” sela
Edvan dengan enteng.
Aku menyipitkan mata.
“Sebenarnya elo siapa sih, Bro? Takut banget anjir, bisa bikin KTP palsu
segala.”
“Apa pun konten digital buat
bikin tokoh ini believable, gue bisa usahain. Elo yang ngusahain
eksekusi di dunia nyatanya. Enggak usah khawatirin soal bagian gue.” Edvan
membuka Photoshop di PC-nya, lalu membuka file psd KTP Indonesia. “Kita bikin
sekarang aja. Siapa nama ceweknya? Bianca?”
“Enggak,” kataku, sambil
bangkit dan berdiri di belakang kursi gaming Edvan. “Cewek favorit si
Randi harus yang syariah, yang pake makeup halal kayak Wardah.”
“Siti Khadijah?” Edvan
bersiap mengetik.
Aku ngakak kecil. Kutoyor
bahu Edvan yang lebar. “Yang bener aja, kali. Ketahuan banget sok-sok
syariah-nya. Something yang … modern, tapi cukup masuk akal kalau
pemilik namanya seorang perempuan berjilbab yang syariah …. Jangan terlalu
Islami dengan nama Siti. Dan jangan terlalu modern kayak Bianca juga.”
“Buka Tinder. Elo seleksi
aja nama cewek-cewek jilbaban yang ada di sana,” usul Edvan.
“Isi Tinder gue cowok
semua.”
Edvan langsung menoyor
kepalaku. “Ya lu ganti preferensi lu jadi cewek, anjir!”
“Oh, iya. Hehe.” Kukeluarkan
ponsel dan kubuka Tinderku.
“Jangan di-swipe
kanan. Swipe kiri aja semua. Setiap cewek yang berjilbab dan cakep, yang
namanya cocok buat umpan kita entar, elu screenshot. Gue coba cari-cari
alamat yang possible buat dijadiin konten KTP dia.”
Aku lagi enggak mau mikirin
alternatif lain, jadi kuikuti saja usul Edvan. Kubuka Tinder, kuganti
preferensiku menjadi cari perempuan, lalu ku-swipe kiri semua cewek yang
kutemui, sembari aku mempertimbangkan satu per satu akun Tinder perempuan
berjilbab yang muncul.
“Azka …, terlalu kekinian
….” Swipe kiri.
“Jennifer …, terlalu barat
namanya ….” Swipe kiri.
“Muthia …, hm …, aku enggak
suka bentuk hidungnya.” Swipe kiri.
“Hafizah …, terlalu gede
badannya. Kayak kudanil.” Swipe kiri.
Edvan melempar kaus kotornya
yang tergeletak di atas meja, ke arahku. Menimpuk wajahku. “Body shaming,
lu!”
“Eh, si Randi kagak suka
yang badannya gendut. Dia sendiri yang bilang cewek gendut tuh mirip kudanil.”
Aku men-swipe lagi dan mencari lagi cewek-cewek berjilbab di sekitar.
“Rieke … enggak suka.” Swipe kiri.
“Bella …, ngaco cara pake
kerudungnya. Rambut ke mana-mana.” Swipe kiri.
“Syakila …, enggak cocok
mukanya untuk ukuran orang yang namanya Syakila. Harusnya muka kayak gini
namanya Nunung.” Swipe kiri.
“(Bo)nita …, ini kenapa ada
kurungnya, sih—oh! Maksudnya bisa open BO. Enggak, ah.” Swipe kiri.
“Carissa …, hmmm …, bionya
kebanyakan bahas zodiak.” Swipe kiri.
“Udah, sih! Pilih aja satu,
anjing!” sahut Edvan sambil geleng-geleng kepala.
“Belum ada yang cocok,
anjir! Lihat, nih! Masa foto pake kerudung emak-emak kayak gini, pose
manyun-manyun kayak bebek, namanya Tatiana! Enggak sekalian Titik Puspa, hah?”
“Ya biarin aja, sih!
Nama-nama dia. Udah pilih aja cewek berikutnya yang pake kerudung. Siapa
namanya?”
Aku men-swipe dua
perempuan berambut bagus. Setelah itu, muncul satu akun perempuan berkerudung,
yang agak berlebihan dalam berpakaian. Kerudungnya lebar, which is
Islami banget. Posenya lebai, ditambah filter love-love dan
tulisan-tulisan Korea. Pakaiannya tabrak warna, enggak bagus sama sekali. Lalu
ada poster Jungkook di dinding belakangnya. Jelas aku enggak akan nge-swipe
kanan ke orang macam ini, meskipun aku straight. Tapi somehow,
aku merasa nama dia pas banget untuk karakter pemancing Randi.
“Gue nemu,” kataku.
“Siapa namanya.”
“Ulfa.” Kubaca bionya dengan
lebih detail. “Dia rumahnya di Bogor. Penyuka Korea, tapi kayaknya Islami juga.
Ada bismillahnya soalnya.”
“Bismillah?”
“Iya. Bionya tulisannya: ‘Bismillah
2023 jadi milik Taeyong, kecuali Jaemin mau gabung’. What the fuck?”
“Ulfa apa?” tanya Edvan.
“Enggak ada panjangnya,”
kataku, sembari membaca info lain. “Oh, my anthem-nya dia di Tinder—lagu
favoritnya adalah … Adam dan Hawa, by Aldi Taher.”
Aku ngakak membacanya. Edvan
juga.
“Ya udah, gue tulis aja,
Ulfa Taher ya?”
“Serah lu!” Aku masih ngakak
membaca profil yang kutemukan itu.
Di antara miliaran lagu di
dunia ini, dia memilih Aldi Taher? Damn. This girl is special! Melihat
foto-fotonya di Tinder pun tampaknya perempuan ini rada-rada … you know
… unik. Aku enggak tega ngomong yang jelek-jelek soal orang ini. Takutnya dia
orang baik yang hanya ingin mengekspresikan diri saja. Perempuan Islami penyuka
boyband Korea yang tidak pernah neko-neko.
“Done!” kata Edvan.
Dia menunjukkan monitor yang tengah. “KTP atas nama Ulfa Taher, dengan nomor
KTP dan alamat palsu. Entar bisa gue print di langganan gue supaya
kelihatan kayak KTP betulan. Elu pake aja buat daftarin cewek pancingan entar
ke gym elu.”
“Anjir, gokil! Serem gue
sekarang deket-deket ama elu. Identitas gue bisa dipalsuin ama elu.” Aku
menoyor kepalanya.
“Udah, sono! Fokus cari
ceweknya. Kalau ada yang dibutuhin, entar gue kabarin elo lagi.”
“Thanks! Besok gue ke
kampus dan cari cewek bispak yang lagi butuh duit. Eh, gue mau ikut ke toilet
elu.”
“Hati-hati jangan lewat
situ—”
Kata-kata Edvan enggak
sempat selesai, karena apa yang dihati-hatikan Edvan, keburu kejadian kepadaku.
Ketika aku berbalik untuk
menghampiri kamar mandi di kamar Edvan, aku terpeleset sesuatu di atas lantai,
menuju kamar mandi. Seperti ada genangan air yang belum kering.
“ARGH!”
Badanku terjengkang ke
belakang, hingga kakiku yang terpeleset itu melayang ke udara.
Aku jatuh ke bawah, dan ….
….
… dan aku mendarat di
pelukan Edvan.
Dia tampaknya tahu aku akan
terpeleset sehingga Edvan melompat dari kursi gaming-nya, mengulurkan
tangan, lalu menangkap tubuhku.
Kami berdua akhirnya
terjatuh ke atas lantai dengan posisi tubuhku menindih tubuh Edvan.
Jujur, aku enggak merasakan
sakit atau ngilu whatsover, karena jatuhku benar-benar ditolong oleh
Edvan.
Yang cedera adalah ….
… hatiku.
Karena wajahku langsung
berada di depan dada Edvan yang bidang. Pipiku literally menempel ke
puting susu Edvan, di mana mataku bisa melihat dengan jelas sejumput bulu ketek
di balik lipatan lengan itu. Lalu telingaku bisa mendengar degup jantung Edvan
dengan jelas.
Untuk sesaat kami berdua
hanya terdiam di atas lantai. Saling berpandangan dan melihat situasi
selanjutnya, apakah aku masih jatuh, apakah terjadi gempa bumi gara-gara aku
jatuh, atau apa. Tapi aku dan Edvan jadi saling melihat satu sama lain.
Seperti di film-film
romantis di mana dua orang bertabrakan, lalu buku-buku berjatuhan, lalu ketika
mau mengambil bukunya, si yang ditabrak mengambil juga bersamaan, lalu mereka
berdua saling melihat ….
… semacam itulah.
“So … sorry,” kata
Edvan, menelan ludah. “Tadi … tadi air minum gue tumpah di situ, pas gue cari
sempak. Hehe. Lupa belum gue lap. Elu keburu datang barusan.”
Aku menelan ludah juga.
Fuck.
FUCK FUCK FUCK FUCK FUCK
FUCK!
Aku baper.
[ … ]
Aku sampe enggak
ngapa-ngapain anjir sepulangnya dari meeting bareng Edvan. Aku enggak
jadi pake kamar mandi Edvan, aku pamit, ambil hape, lalu kabur ke
kamarku. Aku enggak ngomong apa-apa lagi. Di dalam kamarku sendiri,
kutepuk-tepuk kontolku sendiri.
“ELU ENGGAK PERLU NGACENG
ANJIIINNNGGG …! ENGGAK PERLU!”
Lalu, sepanjang hari, aku
enggak lanjutin skripsiku. Aku enggak main game juga. Enggak ada yang
kusentuh. Aku overthinking dengan yang kurasain tadi siang di kamar
Edvan. Aku tahu, enggak ada apa-apa antara aku dan dia. Semua ini hanya
kengacoan berpikir dalam kepalaku. Mana mungkin Edvan punya rasa sama aku.
Enggak.
Enggak mungkin.
Misal iya, sebaiknya aku
enggak tamak. Aku sudah punya Tino. Cowok yang jelas-jelas ngaceng keras
di sampingku, membiarkanku nyepong kontol dia sampai crot di
dalam mulutku, dan mem-fuck-ku dengan semangat 45 semalam. Tino lebih
mungkin kuperdaya supaya jadi homo betulan lalu menikah denganku di Belanda,
dibandingkan aku mengejar straight yang too good to be true macam
Edvan.
Lewat Magrib, aku mencoba
mengenyahkan pikiran kacrutku soal Edvan. Aku mandi, beres-beres kamar, memasak
makan malam, menyalakan diffuser dengan aroma lemon, lalu aku menyiapkan
Netflix agar bisa makan malam sambil menonton. Kubuka pintu agar
pikiran-pikiran nyeleneh soal Edvan yang menghantui kepalaku sepanjang sore
bisa keluar dari ruangan ini.
Lumayan berhasil, sih.
Sampai makananku habis dan
satu episode sebuah serial TV kulalui dengan damai, aku merasa lebih enakan.
Aku bisa melupakan Edvan karena pikiranku mulai tertanam ke serial TV yang
kutonton. Sebelum masuk episode dua, aku mencuci dulu bekas makan malamku, lalu
aku kembali ke laptop untuk menonton. Sempat kututup pintu yang sedari tadi
terbuka, supaya AC enggak mubazir.
Nah, ketika aku menutup
pintu, ada seseorang yang lewat di depan kosanku, yang kupikir seharusnya dia
enggak perlu lewat ke sini.
Kamarku dan kamar Tino
lokasinya lumayan di ujung. Paling jauh dari gerbang utama, dan paling jarang
dilewati penghuni kosan lain. Karena ngapain juga? Makanya, ketika aku melihat
orang itu lewat dengan cepat dari arah koridor, menuju tangga di samping kamar
Tino, aku merasa heran.
Aku sempat diam sebentar
untuk memastikan apakah itu orang tersebut?
Karena kepo enggak
ketulungan, kubuka lagi pintu dan kukejar dia. Kamu tahulah, aku seimpulsif itu
dalam melakukan sesuatu. Kalau aku pengin lakukan, ya akan kulakukan. Enggak
usah mikir-mikir dulu.
Siapa yang kulihat lewat
depan kamarku?
Mas Akbar.
Pacarnya Lanang.
Aku keluar dan menutup
pintu. Kulewati kamar Tino, karena kayaknya Mas Akbar berjalan cepat sekali
menuju tangga. Aku turun ke bawah untuk mencarinya, tapi ….
… tapi aku enggak
menemukannya.
Kucari sosok itu di lahan
kecil samping tangga tempat Edvan menyembunyikan motor besarnya yang berwarna
hitam. Mas Akbar tak ada di sana. Dia juga tak tampak di seluruh area parkir
mobil belakang. Tak ada tanda-tanda manusia di sana.
Aneh. Sungguh.
Perasaan aku enggak ngelamun
selama itu sampai aku kehilangan jejak Mas Akbar. Aku cuma diam sebentar,
kira-kira sepuluh detik, kemudian aku membuka pintu dan keluar. Tapi Mas Akbar
sudah enggak kutemukan di mana-mana.
Masa itu hantu, sih?
….
Mungkin emang hantu.
Sekarang, kan … malam Kamis!
Enggak tahu juga sih malam
Kamis sama seremnya ama malam Jumat atau enggak. Tapi aku tetep merinding
malam-malam keliling area belakang kosan buat cari orang, padahal orangnya
enggak ada. Jadi aku balik lagi ke tangga, naik dengan cepat, melangkahi dua
anak tangga, lalu aku mencoba membuka kamar Tino.
Biasanya kamar ini jarang
dikunci. Dan biasanya aku kurang ajar masuk ke dalam tanpa permisi. Tapi saat
ini, pintu itu dikunci. Padahal, lampu di dalamnya menyala. Ada tanda-tanda
kehidupan di dalam.
“Siapa?” tanya Tino dari dalam.
“Halah, emang siapa lagi
yang bakal masuk kamar elu, Bang?”
“Oh. Bentar.”
Literally, aku mesti nunggu beberapa saat sampai pintu itu akhirnya dibuka.
Padahal biasanya enggak pernah lama. Dalam kondisi apa pun, mau lagi mandi,
lagi molor, lagi berak, lagi benerin genteng, Tino akan berjalan ke pintu,
membukanya, lalu kembali ke aktivitasnya. Aku menunggu hampir satu menit hingga
akhirnya kunci pintu dibuka dan Tino pun melongokkan kepalanya dari dalam.
Ketika dia muncul, Tino
seperti baru saja menurunkan kausnya ke bawah. Seperti baru memasang kaus itu.
Dia juga langsung menyugar rambutnya, seakan-akan merapikannya.
“Kenapa, Bro?” sapanya. Dan
Tino tidak membiarkanku masuk.
Aku langsung menyipitkan
mata curiga. “Ada siapa?”
“Oh, itu, ngng ….”
Tino menggaruk kepalanya dengan canggung. “Ada …, hehe …, cewek.”
“Cewek? Lu udah maen cewek
lagi, Bang?”
“I … iya. Tadi … tadi
ketemuan pas interview. Kenapa?”
“Kok enggak cerita?” Aku
berkacak pinggang.
“Karena … karena ….”
Fakta bahwa Tino sampai
harus pakai baju dulu, padahal dia tahu yang mengetuk pintu adalah aku,
menurutku agak di luar nurul. Maksudnya, meski dia bawa cewek, dan mereka lagi ngewe,
Tino pasti bakal lari telanjang ke pintu buat nyapa aku atau ngusir aku, tanpa
perlu repot-repot pake baju dulu.
Siapa gerangan cewek yang
berhasil bikin dia pake baju dulu demi menemuiku?
“Karena … baru ketemu tadi,
kan? Entar gue cerita, deh. Oke? Lu udah makan?”
Aku terdiam sejenak. “Udah.”
Tino menoleh dulu ke
belakang, ke kamarnya, lalu dia menoleh lagi ke arahku. “Entar gue ke kamar lu
ya, Bro? Sip?”
Terpaksa aku mengangguk
saja. “Oke, Bang.”
“Oke. See you. Bye.”
Tino pun menutup pintu kamarnya.
Hmmm …, bukan aku mau
bersikap lebai, tapi … tapi kayaknya kok ada yang disembunyikan Tino dariku,
ya?
Komentar
Posting Komentar