(PPT) Part 13 Bag. B




Tentu saja aku melama-lamakan diri sebelum bertemu Edvan.

Enggak. Aku enggak mau masuk kamar Edvan sebelum dia nemu sempaknya di mana, terus dia pake itu sempak, sehingga kontolnya enggak berayun-ayun lagi. I’m not being munafique. Dalam situasi normal, aku akan sangat bersyukur bisa melihat kontol Edvan. Kalau perlu, aku ingin digagahi Edvan.

Tapi situasiku enggak normal sama Edvan. Apa pun yang dia lakukan, berhasil bikin aku deg-degan dengan “rasa” yang lain. Bukan sekadar rasa naksir yang kurasakan setiap melihat cowok ganteng atau seksi di ruang publik. Bukan rasa pengin ngewe seperti melihat Randi handukan saja dengan tubuh kekar seksinya itu.

Tapi ada rasa ingin memiliki, rasa ingin merengkuh Edvan, lalu mencium bibirnya lagi. Seperti saat dia mencium bibirku di Pati tempo hari.

Itu adalah rasa yang berbahaya.

Aku baru saja ngewe brutal dengan Tino semalam. Tak akan kurusak momen indah itu dengan membiarkan Edvan membolak-balikkan hatiku.

Jadi, aku santai-santai dulu di kamarku. Sempat aku ketuk kamar Tino, tapi dia masih belum pulang. Mungkin sedang interview lagi entah di mana. Lalu aku balik kamarku. Nge-rank dulu sekali main (dan timku kalah, aku turun rank). Baru aku berangkat ke kamar Edvan.

Kuketuk kamar itu sambil menyapa, “Gue enggak akan masuk kalau elu belum pake celana!”

Ckrek! Pintu kamar Edvan terbuka.

Edvan sudah pake celana pendek.

Tapi telanjang dada.

Bangsat!

“Masuk!” katanya, sambil garuk-garuk kepala dan pamer ketek.

Aku memutar bola mata. Kalau aku jadi Presiden Indonesia, salah satu mandat yang akan kuresmikan adalah larangan bagi Edvan pamer ketek, karena keteknya terlalu seksi!

Ya sudah.

Sudah terlanjur. Jadi, aku masuk saja ke dalam dan langsung duduk ke atas tempat tidurnya. Edvan menutup pintu kamar. Menguncinya.

“Elu mau merkosa gue?! Pake ngunci pintu segala!” komentarku.

“Elu mau si Romi masuk?”

“Oh! Enggak. Enggak mau.”

Edvan pun berjalan ke kursi gaming-nya, menggoyang mouse, lalu layar monitornya yang ada tiga unit itu—ditempel berjejer satu sama lain—langsung menyala.  Edvan bersandar dengan nyaman di kursi gaming-nya itu. Pencahayaan ungu langsung menyala di kamar, berbarengan dengan PC yang menyala juga.

Edvan menyugar rambutnya sembari memutar kursi menghadap tempat tidur. “Gimana rencana elo?”

“Sama kayak yang gue ceritain di Semarang kemaren,” jawabku.

“Yang mana?”

Aku menarik napas panjang, bersiap untuk menceritakan ulang. “Yang nge-prank balik si Randi dengan cara—”

“Oh, yang itu,” sela Edvan sambil manggut-manggut.

“Emang elu denger?”

“Denger dengan detail,” jawabnya.

Fuck. Berarti dia “sadar” ketika dia nempelin badan telanjangnya ke badanku.

Tapi, ya sudah. Enggak usah dibahas. Takutnya memory yang sensual itu balik lagi ke diriku, membuatku bergairah lagi, kemudian Edvan di depanku setengah telanjang lagi …. Bahaya.

“Aku udah ganti PT-ku jadi Randi,” kataku. “Aku udah ngobrol banyak ama dia. Aku udah tahu tipe cewek favoritnya kayak gimana.”

“Oke.” Edvan mengangkat bahunya dengan simpel. Seolah-olah sepakat aja dengan apa pun yang kukatakan. “Tinggal eksekusi.”

“Emang elo udah setuju ama ide gue?”

“Ya.”

“Ide gue tuh ribet, anjir. Kita harus cari cewek buat ngegodain si Randi, bikin Randi jatuh cinta, lalu bikin dia mau VCS, lalu kita rekam VCS-nya, dan lain sebagainya. It will take great resources. Mungkin waktu kita bisa terbuang banyak buat ngurusin ini.”

Edvan hanya mengangkat kecil bahunya. “Oke.”

Didebat, kek? Bilang ideku sampah atau apa gitu, biar kita bisa brainstorm bareng? Gampang banget sih setujunya!

“Oke. Tinggal cari cewek yang mau,” kataku akhirnya. “Gue bisa cari ceweknya. Tapi elo bisa bantu bikin, you know, teknologi supaya kita bisa ngerekam si Randi pas dia VCS sama cewek ini.”

“Gampang,” balas Edvan. “Tapi elo bisa cari cewek yang mau ngelakuin itu semua enggak?”

“Banyak cewek bispak di kampus gue yang rela dibayar mahal buat ini.”

“Elu punya budget-nya?”

“Ada. Enggak usah khawatirin soal budget.”

“Oke.” Edvan mengangkat bahunya. “But for safety, kita bikinin identitas palsu buat dia. Jangan pake nama asli dia.”

“Setuju,” kataku. “Malah, gue kepikiran buat daftarin membership di tempat gym gue, terus gue bikin mereka ketemu di tempat gym …, biar organik.”

“Oke.”

“Tapi untuk daftar di situ butuh ngasih KTP. Kalau kita ngasih KTP dia yang asli—”

“Gue bisa bikin KTP palsu,” sela Edvan dengan enteng.

Aku menyipitkan mata. “Sebenarnya elo siapa sih, Bro? Takut banget anjir, bisa bikin KTP palsu segala.”

“Apa pun konten digital buat bikin tokoh ini believable, gue bisa usahain. Elo yang ngusahain eksekusi di dunia nyatanya. Enggak usah khawatirin soal bagian gue.” Edvan membuka Photoshop di PC-nya, lalu membuka file psd KTP Indonesia. “Kita bikin sekarang aja. Siapa nama ceweknya? Bianca?”

“Enggak,” kataku, sambil bangkit dan berdiri di belakang kursi gaming Edvan. “Cewek favorit si Randi harus yang syariah, yang pake makeup halal kayak Wardah.”

“Siti Khadijah?” Edvan bersiap mengetik.

Aku ngakak kecil. Kutoyor bahu Edvan yang lebar. “Yang bener aja, kali. Ketahuan banget sok-sok syariah-nya. Something yang … modern, tapi cukup masuk akal kalau pemilik namanya seorang perempuan berjilbab yang syariah …. Jangan terlalu Islami dengan nama Siti. Dan jangan terlalu modern kayak Bianca juga.”

“Buka Tinder. Elo seleksi aja nama cewek-cewek jilbaban yang ada di sana,” usul Edvan.

“Isi Tinder gue cowok semua.”

Edvan langsung menoyor kepalaku. “Ya lu ganti preferensi lu jadi cewek, anjir!”

“Oh, iya. Hehe.” Kukeluarkan ponsel dan kubuka Tinderku.

“Jangan di-swipe kanan. Swipe kiri aja semua. Setiap cewek yang berjilbab dan cakep, yang namanya cocok buat umpan kita entar, elu screenshot. Gue coba cari-cari alamat yang possible buat dijadiin konten KTP dia.”

Aku lagi enggak mau mikirin alternatif lain, jadi kuikuti saja usul Edvan. Kubuka Tinder, kuganti preferensiku menjadi cari perempuan, lalu ku-swipe kiri semua cewek yang kutemui, sembari aku mempertimbangkan satu per satu akun Tinder perempuan berjilbab yang muncul.

“Azka …, terlalu kekinian ….” Swipe kiri.

“Jennifer …, terlalu barat namanya ….” Swipe kiri.

“Muthia …, hm …, aku enggak suka bentuk hidungnya.” Swipe kiri.

“Hafizah …, terlalu gede badannya. Kayak kudanil.” Swipe kiri.

Edvan melempar kaus kotornya yang tergeletak di atas meja, ke arahku. Menimpuk wajahku. “Body shaming, lu!”

“Eh, si Randi kagak suka yang badannya gendut. Dia sendiri yang bilang cewek gendut tuh mirip kudanil.” Aku men-swipe lagi dan mencari lagi cewek-cewek berjilbab di sekitar. “Rieke … enggak suka.” Swipe kiri.

“Bella …, ngaco cara pake kerudungnya. Rambut ke mana-mana.” Swipe kiri.

“Syakila …, enggak cocok mukanya untuk ukuran orang yang namanya Syakila. Harusnya muka kayak gini namanya Nunung.” Swipe kiri.

“(Bo)nita …, ini kenapa ada kurungnya, sih—oh! Maksudnya bisa open BO. Enggak, ah.” Swipe kiri.

“Carissa …, hmmm …, bionya kebanyakan bahas zodiak.” Swipe kiri.

“Udah, sih! Pilih aja satu, anjing!” sahut Edvan sambil geleng-geleng kepala.

“Belum ada yang cocok, anjir! Lihat, nih! Masa foto pake kerudung emak-emak kayak gini, pose manyun-manyun kayak bebek, namanya Tatiana! Enggak sekalian Titik Puspa, hah?”

“Ya biarin aja, sih! Nama-nama dia. Udah pilih aja cewek berikutnya yang pake kerudung. Siapa namanya?”

Aku men-swipe dua perempuan berambut bagus. Setelah itu, muncul satu akun perempuan berkerudung, yang agak berlebihan dalam berpakaian. Kerudungnya lebar, which is Islami banget. Posenya lebai, ditambah filter love-love dan tulisan-tulisan Korea. Pakaiannya tabrak warna, enggak bagus sama sekali. Lalu ada poster Jungkook di dinding belakangnya. Jelas aku enggak akan nge-swipe kanan ke orang macam ini, meskipun aku straight. Tapi somehow, aku merasa nama dia pas banget untuk karakter pemancing Randi.

“Gue nemu,” kataku.

“Siapa namanya.”

“Ulfa.” Kubaca bionya dengan lebih detail. “Dia rumahnya di Bogor. Penyuka Korea, tapi kayaknya Islami juga. Ada bismillahnya soalnya.”

“Bismillah?”

“Iya. Bionya tulisannya: ‘Bismillah 2023 jadi milik Taeyong, kecuali Jaemin mau gabung’. What the fuck?

“Ulfa apa?” tanya Edvan.

“Enggak ada panjangnya,” kataku, sembari membaca info lain. “Oh, my anthem-nya dia di Tinder—lagu favoritnya adalah … Adam dan Hawa, by Aldi Taher.”

Aku ngakak membacanya. Edvan juga.

“Ya udah, gue tulis aja, Ulfa Taher ya?”

“Serah lu!” Aku masih ngakak membaca profil yang kutemukan itu.

Di antara miliaran lagu di dunia ini, dia memilih Aldi Taher? Damn. This girl is special! Melihat foto-fotonya di Tinder pun tampaknya perempuan ini rada-rada … you know … unik. Aku enggak tega ngomong yang jelek-jelek soal orang ini. Takutnya dia orang baik yang hanya ingin mengekspresikan diri saja. Perempuan Islami penyuka boyband Korea yang tidak pernah neko-neko.

Done!” kata Edvan. Dia menunjukkan monitor yang tengah. “KTP atas nama Ulfa Taher, dengan nomor KTP dan alamat palsu. Entar bisa gue print di langganan gue supaya kelihatan kayak KTP betulan. Elu pake aja buat daftarin cewek pancingan entar ke gym elu.”

“Anjir, gokil! Serem gue sekarang deket-deket ama elu. Identitas gue bisa dipalsuin ama elu.” Aku menoyor kepalanya.

“Udah, sono! Fokus cari ceweknya. Kalau ada yang dibutuhin, entar gue kabarin elo lagi.”

Thanks! Besok gue ke kampus dan cari cewek bispak yang lagi butuh duit. Eh, gue mau ikut ke toilet elu.”

“Hati-hati jangan lewat situ—”

Kata-kata Edvan enggak sempat selesai, karena apa yang dihati-hatikan Edvan, keburu kejadian kepadaku.

Ketika aku berbalik untuk menghampiri kamar mandi di kamar Edvan, aku terpeleset sesuatu di atas lantai, menuju kamar mandi. Seperti ada genangan air yang belum kering.

“ARGH!”

Badanku terjengkang ke belakang, hingga kakiku yang terpeleset itu melayang ke udara.

Aku jatuh ke bawah, dan ….

….

… dan aku mendarat di pelukan Edvan.

Dia tampaknya tahu aku akan terpeleset sehingga Edvan melompat dari kursi gaming-nya, mengulurkan tangan, lalu menangkap tubuhku.

Kami berdua akhirnya terjatuh ke atas lantai dengan posisi tubuhku menindih tubuh Edvan.

Jujur, aku enggak merasakan sakit atau ngilu whatsover, karena jatuhku benar-benar ditolong oleh Edvan.

Yang cedera adalah ….

… hatiku.

Karena wajahku langsung berada di depan dada Edvan yang bidang. Pipiku literally menempel ke puting susu Edvan, di mana mataku bisa melihat dengan jelas sejumput bulu ketek di balik lipatan lengan itu. Lalu telingaku bisa mendengar degup jantung Edvan dengan jelas.

Untuk sesaat kami berdua hanya terdiam di atas lantai. Saling berpandangan dan melihat situasi selanjutnya, apakah aku masih jatuh, apakah terjadi gempa bumi gara-gara aku jatuh, atau apa. Tapi aku dan Edvan jadi saling melihat satu sama lain.

Seperti di film-film romantis di mana dua orang bertabrakan, lalu buku-buku berjatuhan, lalu ketika mau mengambil bukunya, si yang ditabrak mengambil juga bersamaan, lalu mereka berdua saling melihat ….

… semacam itulah.

So … sorry,” kata Edvan, menelan ludah. “Tadi … tadi air minum gue tumpah di situ, pas gue cari sempak. Hehe. Lupa belum gue lap. Elu keburu datang barusan.”

Aku menelan ludah juga.

Fuck.

FUCK FUCK FUCK FUCK FUCK FUCK!

Aku baper.


[ … ]


Aku sampe enggak ngapa-ngapain anjir sepulangnya dari meeting bareng Edvan. Aku enggak jadi pake kamar mandi Edvan, aku pamit, ambil hape, lalu kabur ke kamarku. Aku enggak ngomong apa-apa lagi. Di dalam kamarku sendiri, kutepuk-tepuk kontolku sendiri.

“ELU ENGGAK PERLU NGACENG ANJIIINNNGGG …! ENGGAK PERLU!”

Lalu, sepanjang hari, aku enggak lanjutin skripsiku. Aku enggak main game juga. Enggak ada yang kusentuh. Aku overthinking dengan yang kurasain tadi siang di kamar Edvan. Aku tahu, enggak ada apa-apa antara aku dan dia. Semua ini hanya kengacoan berpikir dalam kepalaku. Mana mungkin Edvan punya rasa sama aku.

Enggak.

Enggak mungkin.

Misal iya, sebaiknya aku enggak tamak. Aku sudah punya Tino. Cowok yang jelas-jelas ngaceng keras di sampingku, membiarkanku nyepong kontol dia sampai crot di dalam mulutku, dan mem-fuck-ku dengan semangat 45 semalam. Tino lebih mungkin kuperdaya supaya jadi homo betulan lalu menikah denganku di Belanda, dibandingkan aku mengejar straight yang too good to be true macam Edvan.

Lewat Magrib, aku mencoba mengenyahkan pikiran kacrutku soal Edvan. Aku mandi, beres-beres kamar, memasak makan malam, menyalakan diffuser dengan aroma lemon, lalu aku menyiapkan Netflix agar bisa makan malam sambil menonton. Kubuka pintu agar pikiran-pikiran nyeleneh soal Edvan yang menghantui kepalaku sepanjang sore bisa keluar dari ruangan ini.

Lumayan berhasil, sih.

Sampai makananku habis dan satu episode sebuah serial TV kulalui dengan damai, aku merasa lebih enakan. Aku bisa melupakan Edvan karena pikiranku mulai tertanam ke serial TV yang kutonton. Sebelum masuk episode dua, aku mencuci dulu bekas makan malamku, lalu aku kembali ke laptop untuk menonton. Sempat kututup pintu yang sedari tadi terbuka, supaya AC enggak mubazir.

Nah, ketika aku menutup pintu, ada seseorang yang lewat di depan kosanku, yang kupikir seharusnya dia enggak perlu lewat ke sini.

Kamarku dan kamar Tino lokasinya lumayan di ujung. Paling jauh dari gerbang utama, dan paling jarang dilewati penghuni kosan lain. Karena ngapain juga? Makanya, ketika aku melihat orang itu lewat dengan cepat dari arah koridor, menuju tangga di samping kamar Tino, aku merasa heran.

Aku sempat diam sebentar untuk memastikan apakah itu orang tersebut?

Karena kepo enggak ketulungan, kubuka lagi pintu dan kukejar dia. Kamu tahulah, aku seimpulsif itu dalam melakukan sesuatu. Kalau aku pengin lakukan, ya akan kulakukan. Enggak usah mikir-mikir dulu.

Siapa yang kulihat lewat depan kamarku?

Mas Akbar.

Pacarnya Lanang.

Aku keluar dan menutup pintu. Kulewati kamar Tino, karena kayaknya Mas Akbar berjalan cepat sekali menuju tangga. Aku turun ke bawah untuk mencarinya, tapi ….

… tapi aku enggak menemukannya.

Kucari sosok itu di lahan kecil samping tangga tempat Edvan menyembunyikan motor besarnya yang berwarna hitam. Mas Akbar tak ada di sana. Dia juga tak tampak di seluruh area parkir mobil belakang. Tak ada tanda-tanda manusia di sana.

Aneh. Sungguh.

Perasaan aku enggak ngelamun selama itu sampai aku kehilangan jejak Mas Akbar. Aku cuma diam sebentar, kira-kira sepuluh detik, kemudian aku membuka pintu dan keluar. Tapi Mas Akbar sudah enggak kutemukan di mana-mana.

Masa itu hantu, sih?

….

Mungkin emang hantu.

Sekarang, kan … malam Kamis!

Enggak tahu juga sih malam Kamis sama seremnya ama malam Jumat atau enggak. Tapi aku tetep merinding malam-malam keliling area belakang kosan buat cari orang, padahal orangnya enggak ada. Jadi aku balik lagi ke tangga, naik dengan cepat, melangkahi dua anak tangga, lalu aku mencoba membuka kamar Tino.

Biasanya kamar ini jarang dikunci. Dan biasanya aku kurang ajar masuk ke dalam tanpa permisi. Tapi saat ini, pintu itu dikunci. Padahal, lampu di dalamnya menyala. Ada tanda-tanda kehidupan di dalam.

“Siapa?” tanya Tino dari dalam.

“Halah, emang siapa lagi yang bakal masuk kamar elu, Bang?”

“Oh. Bentar.”

Literally, aku mesti nunggu beberapa saat sampai pintu itu akhirnya dibuka. Padahal biasanya enggak pernah lama. Dalam kondisi apa pun, mau lagi mandi, lagi molor, lagi berak, lagi benerin genteng, Tino akan berjalan ke pintu, membukanya, lalu kembali ke aktivitasnya. Aku menunggu hampir satu menit hingga akhirnya kunci pintu dibuka dan Tino pun melongokkan kepalanya dari dalam.

Ketika dia muncul, Tino seperti baru saja menurunkan kausnya ke bawah. Seperti baru memasang kaus itu. Dia juga langsung menyugar rambutnya, seakan-akan merapikannya.

“Kenapa, Bro?” sapanya. Dan Tino tidak membiarkanku masuk.

Aku langsung menyipitkan mata curiga. “Ada siapa?”

“Oh, itu, ngng ….” Tino menggaruk kepalanya dengan canggung. “Ada …, hehe …, cewek.”

“Cewek? Lu udah maen cewek lagi, Bang?”

“I … iya. Tadi … tadi ketemuan pas interview. Kenapa?”

“Kok enggak cerita?” Aku berkacak pinggang.

“Karena … karena ….”

Fakta bahwa Tino sampai harus pakai baju dulu, padahal dia tahu yang mengetuk pintu adalah aku, menurutku agak di luar nurul. Maksudnya, meski dia bawa cewek, dan mereka lagi ngewe, Tino pasti bakal lari telanjang ke pintu buat nyapa aku atau ngusir aku, tanpa perlu repot-repot pake baju dulu.

Siapa gerangan cewek yang berhasil bikin dia pake baju dulu demi menemuiku?

“Karena … baru ketemu tadi, kan? Entar gue cerita, deh. Oke? Lu udah makan?”

Aku terdiam sejenak. “Udah.”

Tino menoleh dulu ke belakang, ke kamarnya, lalu dia menoleh lagi ke arahku. “Entar gue ke kamar lu ya, Bro? Sip?”

Terpaksa aku mengangguk saja. “Oke, Bang.”

“Oke. See you. Bye.” Tino pun menutup pintu kamarnya.

Hmmm …, bukan aku mau bersikap lebai, tapi … tapi kayaknya kok ada yang disembunyikan Tino dariku, ya?


[ … ]


Komentar