Aku tertidur sambil menunggu Tino mandi. Aku ingat, dia berada di dalam kamar mandi lamaaa sekali. Mungkin dua jam? Tiga jam? Aku sampai mengetuk pintu kamar mandi dan bertanya, “Bang, elo gapapa, kan?”
Tino menjawab. “Gapapa.
Elo tidur duluan aja di kasur gue. Gue pengin sendiri dulu.”
“Oke.”
Jadi aku menunggu sambil berbaring di atas tempat
tidurnya. Kudengar shower kamar mandi
mengucur tanpa henti. Mungkin juga kudengar isak tangis, tapi enggak begitu
jelas, sih. Bisa jadi Tino sedang menangis. Bisa jadi kuntilanak di pohon jambu
depan kosan yang menangis. Yang pasti Tino berada cukup lama di kamar mandi,
sampai-sampai aku ketiduran.
Aku terbangun tengah malam, entah pukul berapa. Lampu
kamar Tino sudah padam semua. Aku tidur memojok ke dinding. Kurasakan Tino
sudah berbaring di sampingku. Mungkin sudah tidur juga. Mungkin belum. Karena
aku tidak mendengar dia mendengkur.
Aku mencoba balik perlahan-lahan menghadap ke Tino.
Dalam gelap, kulihat mata Tino masih terbuka. Dia menatap langit-langit dengan
banyak pikiran bergelantungan di kepalanya.
“Belum tidur?” tanyaku.
Tino menggeleng.
“Sorry, ya,”
kataku tulus. “Mungkin sebaiknya gue enggak ngasih tahu soal prank itu
ke elo.”
“Enggak. Gue terima kasih karena elo udah ngasih tahu
gue.” Tino menarik napas panjang. “Gue udah buka Twitter dan nemu apa yang elo
maksud dengan prank.”
“Nanti kalau gue nemu penjualnya, gue bakal masuk dan
dapatin nomor telepon dia. Kita bisa lapor polisi, kok. Kan sekarang semua
nomor telepon terdaftar nomor KK-nya.”
“Iya, gue tahu. Gue juga bisa lapor polisi dan
ngehajar bajingan itu.”
“Gue siap bantu,” kataku.
“Thanks,”
balasnya.
Lalu kami terdiam selama beberapa saat.
Jujur saja, aku kembali sange sekarang. Pertama, tadi aku enggak sempat crot. Kedua,
Tino tidur telanjang bulat di sampingku. Aku mengangkat kepala dan bisa melihat
kontolnya ngaceng di bawah sana.
“Kenapa elo bugil, Bang?”
Cukup lama Tino memberi jeda, tetap dia akhirnya
menjawab, “Gue lagi marah,” katanya. “Gue lagi pengin bunuh orang. Tapi gue
juga lagi sange.”
Tino menoleh ke arahku.
“Ditambah lagi, gue bersyukur ada elo di sini tadi.
Gue berterima kasih karena elo udah ngasih tahu gue soal bajingan itu. Tapi gue
lagi nafsu pengin nyekik orang. Tapi sange
juga.”
“Terus Abang pengin nyekik gue?”
“Gue pengin ngentot elo.” Tino mendengus.
Anjir. “Serius?”
Tino mengangguk. “Boleh?”
Pake minta izin segala! Ya boleh, lah, anjir!
“Abang yakin, nih?” tanyaku sekali lagi. Benar-benar
memastikan. “Gue laki-laki nih, bang. Homo pula. Yang berarti, kalau Abang
perkosa, gue malah nikmatin, bukannya trauma.”
“Iya. Gue lagi nafsu banget, Bro. Gue pengin kontol
gue ngerojok lubang apa pun. Gue pengin marah. Pengin melampiaskan.”
“Tapi gue jangan dimutilasi ya Bang.”
“Bacot lu! Mau kagak? Kalau mau, nungging!” Tino
mendadak berdiri di samping tempat tidur.
“Bentar dong, Bang. Gue pengin nyepong dulu.”
“Anjir, dasar homo lu, pake nyepong-nyepong segala.”
“Pan emang gue homo, Bang.”
“Bacot!” Namun Tino menurut juga. Dia kembali
berbaring di atas tempat tidur, membiarkanku menyepongnya.
Yes! Aku menyepong Tino. Seorang personal
trainer ganteng, kekar, yang jembutnya dia gunting rapi, tersisa sekitar
setengah senti.
Kontol Tino terasa enaaak banget. Aroma sabun. Mungkin
karena tadi dia mandi berjam-jam dan menggosok seluruh tubuhnya dengan sabun
untuk menghilangkan minyak. Kontol itu tebal. Memenuhi rongga mulutku. Kenyal
dan terasa lembut.
Aku mengintip ke atas untuk melihat reaksi Tino. Dia
sedang membaringkan kepalanya, mata terpejam, mulut menganga kecil, tampak
menikmati kulumanku.
Sayangnya, dia tak ingin berlama-lama. “Udah belum,
anjir?” tanyanya, agak kesal.
“Kenapa emang?” tanyaku, melepaskan kontol itu dari
mulut.
“Masa gue crot di mulut elo, anjir. Gue tuh
pengin ngehajar orang pake kontol gue. Gue pengin hantam bool elu! Cepet,
lah. Nungging! ”
“Bentaaar ...,” kataku, agak manja. Nyaris mirip
Lidya. Aku merangkak naik untuk mulai melumat puting susu Tino.
Kudengar desahan, “Aaahhh ...,” lolos dari mulut Tino.
Kurasa dia menikmatinya.
Aku mencengap puting Tino dengan seluruh mulutku,
mengisapnya kuat-kuat. Puting yang terekspos kumainkan dengan jari. Di dalam
mulut, kumainkan juga puncak putingnya dengan ujung lidahku. Lalu,
kugigit-gigit puting itu hingga Tino mengentak-entak keenakan.
Juga mengerang, “Aaah! Ah! Anjir! Aaah!” Tino
meringis. Hidungnya mengernyit, matanya terpejam kuat-kuat.
Aku seperti berada di awang-awang. Tak kusangka aku
bisa menikmati kontol dan puting Tino. Sesuatu yang kudambakan selama empat
tahun terakhir, akhirnya sebelum lulus kuliah aku bisa merasakannya dengan
nyata. Tak akan kusia-siakan kesempatan ini.
Jadi, kuangkat lengan Tino. Aku ingin memuja
ketiaknya.
“Ngapain lo?” sentak Tino tiba-tiba.
“Jilatin ketek, lah. Kayak perintah Lidya barusan.”
“Anjing! Jangan sebut nama itu!”
Aku dijitak oleh Tino. Namun Tino tetap mengizinkan
menikmati ketiaknya itu.
Aaahhh ...
Nikmatnya ketek Tino. Bulu keteknya menggelitik hidung
dan wajahku. Ketika kubenamkan seluruh muka ke ketek berpenampang lebar—karena
berotot dan kekar—kurasakan aroma maskulin yang menenangkan. Aku ingin sekali
membenamkan wajahku di ketek Tino selama-lamanya.
Aku sempat menjilati, menggigit-gigit bulu ketek itu
dan menariknya dengan gigiku. Tino meringis. Kadang bergidik geli. Tapi lebih
seringnya ngomel-ngomel.
“Cepetan nungging, anjir!”
“Iya, iya!”
Dasar cowok straight. Orientasinya ngentot
mulu. Enggak bisa gitu aku nikmatin dulu tubuh kekar ini?
Akhirnya, aku nungging sambil menyerahkan botol minyak
zaitun yang kuletakkan di atas meja. Kubiarkan Tino membalur kontolnya dengan
minyak itu, lalu melesakkan kontolnya ke pantatku. Tenang aja, aku memang bottom. Aku udah sering disodomi. Jadi
pantatku sudah paham kalau ada benda tumpul bernama kontol mengetuk pintu,
pasti pantatku membukakan pintunya.
Rasanya sakit pada awalnya. Seperti biasa. Namun aku
bisa menenangkan diriku lebih cepat dari biasanya.
Kenapa? Karena ini adalah kontol Tino. Kontol yang
sudah kuidam-idamkan bertahun-tahun. Jadi rasa sakit apa pun yang muncul
gara-gara kontol Tino, aku akan menoleransinya dengan mudah. Buktinya, lima
detik kemudian, rasa sakit karena ditusuk itu lenyap seketika. Berganti oleh
rasa nikmat.
“Aaahhh ....” Kudengar diriku mendesah keenakan.
Memang enak, anjir.
Kontol itu bergerak penuh nafsu di dalam sana.
Menggenjotku seperti mesin cor sedang membor tanah untuk membuat lubang.
POK!
POK! POK! POK! POK!
Suara pok-poknya pun lebih cepat dan keras
dibandingkan cewek yang waktu itu di-ewe Tino di kosan ini. Paha Tino
menghantam pahaku cukup kuat. Rasanya seperti sedang di-spanking.
Kontol Tino yang tebal terasa seperti benda yang
mengganjal di dalam perutku, mencoba mengobok-obok bagian dalamnya. Batang
kontol itu menggelitik prostatku. Sehingga kontolku tetap ngaceng keras,
melelehkan precum ke atas tempat
tidur.
Ya Tuhan, kenapa enak banget dientot cowok straight?
Biasanya aku enggak pernah merasakan seperti ini kalau
dientot cowok homo, semaskulin apa pun mereka. Mengapa cowok straight
punya nilai lebih?
“Argh! Argh! Argh!” Desahanku mulai mengikuti ritme
genjotan Tino.
Aku pasrah. Sumpah.
Apalagi ketika Tino tiba-tiba membalik tubuhku,
telentang di atas tempat tidur. Kakiku teracung ke udara sekarang. Kutenggerkan
ke bahu Tino yang lebar dan kokoh. Sementara, Tino lanjut menggenjotku.
Dia kelihatan ganteng tampak depan dan tampak horny seperti ini. Aku betulan pasrah,
tak berdaya, tak sanggup melakukan apa pun.
“Gue pengin nyekik elo, boleh?” tanya Tino.
“Boleh,” jawabku jujur.
Diapain pun aku mau, Bang.
Tino mencekikku. Aku agak sesak napas, tapi anehnya,
aku menyukainya. Dia tidak benar-benar menghambat jalan udaraku. Rasanya
seperti ada kucing sedang tiduran di atas leherku. Dan kucing itu memeluk
leherku dengan erat.
Lalu, kudengar Tino mengumpat-umpat kecil. “Dasar
bajingan. Anjing! Brengsek! Sialan! Mati lo!”
Kuasumsikan itu ditujukan ke “Lidya” yang malam ini
menipunya. Jadi, aku membiarkannya. Kudengar makian itu terus ditujukan
kepadaku. Mata Tino juga nyalang menatap tubuhku. Namun, seraya memaki, seraya
genjotannya berpacu lebih cepat.
Tino tampak semakin bernafsu.
“ANJING! SIALAN LO LIDYA! BENCONG! ANJING! ARGH! ARGH!
ARGH!”
Tuh, kan. Makian itu untuk Lidya.
Genjotan Tino benar-benar cepat dan menusuk. Batang
kontolnya dijejalkan dalam-dalam ke tubuhku, membuat pantatku terasa sangat
pegal. Rasanya, seolah-olah, kontol Tino membesar di dalam sana. Karena kontol
itu berhasil menekan prostatku, memancingku untuk ejakulasi.
Aku pun menyemburkan sperma. Tanpa bisa kurasakan
nikmatnya pompaan sperma keluar seperti yang kurasakan saat coli. Namun
orgasme itu tetap terasa nikmat. Malah, lebih nikmat dibandingkan coli
biasa. Spermaku meleleh begitu saja. Memenuhi dada dan perutku.
Nyawaku seperti dicabut dan dibawa melayang ke surga.
Tubuhku lemas. Jantungku berpacu kencang. Aku tak berdaya. Aku dibuat nikmat
senikmat-nikmatnya.
Kulihat tubuh Tino juga menggelinjang hebat. Dia
orgasme juga. Kontolnya dilesakkan semakin dalam ke tubuhku, sampai mentok, seolah-olah
sedang memompa spermanya agar masuk ke tubuhku semua.
Kemudian, Tino limbung dan merangkak di atas tubuhku.
Napasnya memburu hebat. Keringat mengucur dari seluruh tubuhnya, membuatnya
tampak mengilap. Bahkan, setetes keringat jatuh dari dagunya ke atas dadaku.
Tino ngos-ngosan. Kontolnya masih di dalam tubuhku.
“Enak, Bang?” tanyaku sambil tersenyum lebar.
“Bacot, lu. Awas kalau lo bilang orang-orang gue ngewe
elo!” sergah Tino sambil memegang daguku dan menekannya. Persis preman sedang
merundung korbannya.
“Kalau gue bilang-bilang, kenapa emang Bang?”
“Gue bikin lu modar, anjir!” PLAK! Aku ditampar Tino.
Tapi aku malah terkekeh senang. Rasanya nikmat
ditampar Tino barusan.
“Eeeh, si anjing malah ketawa! Kagak bakal gue
keluarin ini kontol dari bool elo!”
“Ya udah, tetep masukin aja, Bang!” Kujulurkan
lidahku.
Tino memang tidak mengeluarkannya. Dia malah
menyusupkan lengannya ke bawah tengkukku, lalu menarikku berguling, sehingga
posisi kami tukaran sekarang. Tino ada di bawah, aku berbaring di atasnya.
Menindih tubuhnya yang kekar. Dalam kondisi kontol tebal Tino masih saja ada di
dalam pantatku. Karena memang kontol itu, anehnya, masih saja ngaceng.
Tino mengatur napasnya setelah orgasme hebat barusan.
Dia melipat satu tangan ke belakang kepala, satu tangan lagi dia simpan di atas
pantatku. Meremasnya. Aku merebahkan kepalaku di atas dada Tino. Merasakan
aroma keringat Tino yang jantan. Lalu, kumainkan bulu ketek Tino, karena
sekarang bulu ketek itu ada di depan mataku.
Kami terdiam selama beberapa menit dalam posisi yang
sama. Kelelahan.
“Makasih,” bisikku akhirnya.
“Hm,” kata Tino, malas-malasan.
“Makasih karena gue dibolehin nonton elo VCS, Bang.
Makasih karena ujung-ujungnya, elo ngewe gue, Bang. Udah jadi impian gue
pengin digagahin ama elo, Bang.”
“Bacot anjing!” Tino meremas pantatku kuat-kuat, lalu
menamparnya dengan keras. PLAK!
“Tidur sono!”
“Iya. Tapi gue pengin tidur di atas badan Abang kayak
gini.”
“Lah ini elo udah tidur di atas badan gue! Jangan
bloon, anjir.”
“Iyaaa!”
Kututup petualangan gairahku malam itu dengan tidur di
atas tubuh kekar Tino. Kontolnya masih ada di dalam pantatku, agak melemas, dan
mungkin sebentar lagi akan meluncur keluar. Namun aku tak peduli. Aku hanya
ingin begini untuk waktu yang lama.
....
“Makasih udah ada di sini.” Kudengar kalimat itu
meluncur dari mulut Tino beberapa menit kemudian. Pelan sekali. Nyaris tak
terdengar. Namun aku mendengarnya.
Sama-sama, Tino.
Komentar
Posting Komentar