Hidupku berubah total sih setelahnya dan selama-lamanya. Pagi-pagi terbangun di kamar Tino, harusnya aku mandi dan pergi ke kampus buat bimbingan skripsi. Tapi aku malah nge-Whatsapp Dosen Pembimbing dan bilang, Pak, maaf, saya dapat tragedi dan kejadian luar biasa semalam. Hari ini saya belum bisa ikutan bimbingan skripsi. Mohon infonya untuk reschedule. Mohon maaf banget, Pak.
Tragedinya adalah straight
yang jadi cinta matiku di-prank bencong bernama Lidya.
Kejadian luar biasanya
adalah straight itu ngentot bool-ku.
Enggak bohong kan, Bro?
Aku terbangun di samping
Tino yang masih molor dengan lelap. Posisinya agak ke pinggir, dengan kedua
tangan terulur melewati kepala, dan ada mukaku tepat di atas salah satu
keteknya.
Lihat nih, bangun tidur aja
berasa bangun tidur di surga.
Ini kejadian super luar
biasa, Bro.
Kuciumin ketek Tino yang
baunya enak itu. Terus aku sadar Tino juga enggak pake celana jadi aku langsung
sepong kontolnya yang kebetulan sedang Pagi Kayu. Tapi aku baru ngeh
semalam habis nge-crot ini kontol kagak dibersihin dulu, langsung pada cuddle-an
dua-duanya. Jadi kontol Tino baunya rada-rada aneh campuran zaitun, pejuh, dan
… enggak usah dibahas.
Pfuh! Pfuh!
Aku ludah-ludahin ke atas
lantai. Aku cuddle-an lagi aja sepanjang pagi.
Kuisap nenen Tino. Kuendus
ketek Tino. Kuisap lagi nenennya. Kuendus lagi ketek Tino. Kuisap—
“ANJING!” Tino terbangun dan
langsung ngegeplak kepalaku. “Homo bangsat!”
“Jangan kasar-kasar, Mas,”
kataku dengan dramatis sambil memegang pipi. Padahal yang digeplak ubun-ubun.
“Aku masih istrimu!”
“Lu lagi ngapain, anjing?!”
Tino buru-buru merapatkan tangannya, menyilangkan tangan di depan dada
seakan-akan melindungi lengannya sendiri. Dia endus-endus bagian keteknya. “Lu
apain ketek gue?”
Aku tersenyum lebar seperti The
Cheshire Cat di kisah Alice in Ngondekland. “Fetish aku ketek.
Hehe.”
“What the fuck?!”
Tino buru-buru menjauh kayak jijik. “Kagak ada yang lain, Bro?”
“Ada. Kontol uncut
juga fetish-ku,” kataku, mencoba meremas kontol Tino yang memang uncut.
Namun Tino buru-buru menepis tanganku dan menutupnya dengan satu tangan. Aku
nyengir bete. Kemudian aku mengulurkan tanganku ke puting Tino. “Nenen
juga fetish-ku—”
“Enggak, enggak, enggak!”
Tino langsung melompat turun dari atas tempat tidur dan berlagak membersihkan
debu dari badannya. Badannya bergidik. “Homo gila, lu!”
“Gapapa. Yang penting aku
udah digauli kamu, Mas!” Aku menjulurkan lidah dan bangkit untuk duduk di atas
tempat tidur Tino. Aku bersandar ke dinding, memeluk lututku, sambil memainkan
kontolku yang ngaceng keras. Ini mah kerasnya karena pagi-pagi
berinteraksi dengan Tino sang personal trainer ganteng yang telanjang
bulat—bukan karena morning wood.
“Semua homo emang kayak
gini, ya?!” Tino mendengus sambil mengambil handuk dan melilit panggulnya
secara penuh.
“Enggak.” Aku berpikir
keras. “Si Enzo itu kayaknya homo yang sopan santun ramah tamah rajin menabung
dan bersahaja.”
“Enzo?!”
“Yang di depan sana, di
lantai bawah. Kamarnya sebelahan ama Mas Kevin yang bakal pindah ke Surabaya.”
Tino memelotot. “Dia … dia
homo?”
“Bukan cuma homo. Dia Putri
Solo juga kayaknya. Lemah lembut banget orangnya. Ngewe sama dia
kayaknya mesti luluran dulu pake Mustika Ratu.”
Tino menelan ludah. “Fuck,”
gumamnya.
“Apa?”
“Pantesan … pantesan muka
dia merah waktu gue minta tolong bawain kasur ke kamar kosong di bawah, disuruh
Pak Hamid. Cuma dia yang ada di kosan waktu itu.”
“Lu pake baju enggak, Bang?”
“Kagak. Gue koloran doang.”
“Ya iya! Dia mana kuat lihat
Abang bugil gitu. Lihat Mas Kevin aja mimisan.”
“Gue kira … gue kira dia
lagi demam,” gumam Tino sambil menarik kursi dan duduk di atasnya dengan wajah
syok. Pahanya agak terbuka, jadi meski pakai handuk, dari seberang kamar, aku
bisa melihat kontolnya di balik handuk itu. Terkulai di antara dua pahanya.
“Terus …, terus siapa lagi yang homo di sini?”
Aku mengangkat bahu. “Si
Romi mah Abang juga pasti udah nebak, kan?”
“SI ROMI JUGA?!”
Aku terkejut mendengar
reaksi itu. Saking terkejut dan syoknya, kulempar bantal ke arah Tino. “Yang
bener aja, Anjeng! Abang kan PT! Emangnya yang bencong kayak si Romi kagak ada
di tempat gym, hah?!”
Tino mengusap wajahnya.
Syok. “Emang bencong udah pasti homo?”
“Bencong aja makhluk yang
merasa dirinya perempuan terjebak di tubuh laki-laki. Udah jelas mereka sukanya
laki-laki!” Aku memutar bola mata. “Gay radar Abang mesti
dibenerin. Bahaya kerja jadi PT di tempat gym, tapi kagak bisa bedain
mana homo mana bukan.”
Tino mengatur napasnya yang
memburu gara-gara informasi yang tampaknya baru buat dia. Padahal aku kira dia
udah terbiasa dengan bencong-bencong di tempat gym. Come on,
mitos bahwa cowok yang nge-gym tuh gay bukan muncul tanpa alasan.
Memang banyak banget homo yang nge-gym. Mau dibantah kayak gimana lagi,
sih?
Pantas Tino nganggap suara
bencong Lidya seksi. Serak-serak bikin horny.
Goblok! Jelas-jelas suara si
Lidya serak-serak berserakan.
Ilmu batin Tino terkait
homoseksualitas tumpul banget. Kayak kepala kontolnya yang keras, tapi malah
bikin enak bool-ku.
“Please bilang, klien
yang Abang train itu ada perempuannya,” kataku.
Tino menoleh ke arahku.
Pandangan matanya kayak beku sebentar. Kayak ngeri. Dia lalu nelan ludah.
“Enggak,” jawab Tino pelan. “Cowok … semua.”
Aku menepuk jidat. “Tapi
pada macho, kan? Enggak ngondek?”
“Gue … gue kagak tahu soal
itu. Yah, ada yang gelagatnya kayak perempuan, tapi kan … tapi kan ini buat work
out aja, Bro. Masa gue mikir ke sana kemari?!”
“Work out mana yang
mereka sering ulang-ulang? Disalah-salahin? Biar Abang jadi spotter
terus?”
“Yaaah … banyak. Misalnya
….” Tino nelan ludah lagi. Seakan-akan baru menyadari sebuah mimpi buruk yang
selama ini menghantuinya, tapi dia enggak sadar bahwa itu mimpi buruk. “Barbell
… barbell squats.” Suara Tino mendadak bergetar. Kayak mau nangis.
Dia bener-bener baru
menyadari sebuah fakta mencengangkan yang selama ini terjadi kepada dirinya,
tetapi dirinya terlalu bodoh untuk menganalisanya.
“Bench … bench press ….”
Suaranya udah setengah menangis.
Aku terkekeh.
“Cable … cable ….”
Tino enggak sanggup melanjutkannya. Dia langsung menutup kedua mukanya sambil
menangis dan berteriak, “ANJEEEEEENNNGGG …! BANGSAAAAAATTT …!”
Aku ngakak di situ. Miris,
tapi ngakak.
Oke, buat kamu-kamu jenis
homo divisi boti yang enggak nge-gym, semua yang disebutkan Tino
adalah sebagian dari work out yang kalau dibantuin sama PT (yaitu Tino)
bisa dapat benefit yang ena-ena.
Barbell squats, misal. Itu gerakan simple, kamu naik turun dari berdiri ke
posisi jongkok, lalu berdiri lagi, lalu jongkok lagi, terus begitu sampai
repetisi selesai. Paham sampai sini? Lalu di bahu kamu, ada barbel panjang yang
melintang dengan berat seenggaknya 20 kg tanpa pelat. Begitu dikasih pelat di
kanan kirinya, ya makin berat. Bisa sampe 100 kg kalau sanggup. Nah, kalau kamu
merasa terlalu berat, biasanya ada yang namanya spotter. Yaitu orang
lain yang bantuin kamu melakukan berdiri-jongkok-berdiri-jongkok sambil
pegangin barbel itu, supaya kamu bisa melewati work out-nya. Kadang si spotter
ini ikutan berdiri-jongkok juga sama kamu.
Dan dia berdiri di belakang
kamu.
Yang artinya, bool
kamu bakal nempel ke kontol dia.
Nempel sepanjang
berdiri-jongkok-berdiri-jongkok itu.
Bareng-bareng tuh kalian
naik turun.
Sekarang bayangin, si spotter-nya
orang kayak si Tino ini.
Enggak heran boti-boti
ini bakal sengaja disalah-salahin di work out ini, biar bisa terus
gesekin bool mereka ke selangkangan Tino. Berulang-ulang naik-turun,
pura-pura failure, minta ulang, dan minta si Tino jadi spotter
lagi di belakang.
Itu baru barbell squats.
Kalau lagi bench press,
kepala kamu ada di bawah selangkangan Tino. Literally. Kalau Tino pake
celana pendek yang longgar, kamu bisa aja ngintip ke celah antara celana ama
paha, buat lihat bagian dalam si Tino kayak gimana.
Paham kan kenapa si Tino
menjerit murka kayak barusan?
Selama ini dia dilecehkan
sama klien-kliennya yang boti, yang sengaja work out-nya kagak
bener, biar Tino jadi spotter mereka, lalu mereka bersentuhan, dan lain
sebagainya.
“HOMO BANGSAAAAAATTT …!”
Tino masih berteriak-teriak pagi itu.
Aku cuma tiduran aja sambil
menatap ke bukaan paha Tino, tepatnya ke kontol Tino yang terkulai di antara
dua paha itu. Nungguin si Tino selesai ama frustrasinya.
“Udah?” tanyaku, beberapa
menit kemudian. Posisiku lagi ngocokin kontol sambil lihatin kontol Tino.
“Gue enggak mau bahas!”
Rahang Tino mengeras. Dia murka banget sama semua homo seluruh dunia. Semoga
aku enggak termasuk di dalamnya. “Bangsat emang semua homo di sini!”
“Makanya jangan
ganteng-ganteng jadi orang. Jelekin aja dikit muka lu, Bang. Kalau ada jerawat,
dipiara. Ada kontener lewat, Abang tabrakin badan Abang. Biar jelek. Jadi
homo-homo enggak nyamperin Abang.”
“Kalau ada UU di Indonesia
tentang legalitas membunuh WNI yang homo, elu yang gue bunuh pertama, anjing!”
Tino melempar lagi bantal yang tadi kulempar ke arahnya. Dia langsung menyugar
rambutnya, lalu menjambaknya sambil berteriak, “AAAAAARGH!”
Aku geleng-geleng kepala dan
akhirnya berhenti ngocok kontolku. Kayaknya enggak etis terus-terusan
ngebercandain Tino kayak gini. He’s been nice to me setelah tahu aku ini
homo. Jadi aku turun dari kasur dan pake celana. Terus kusamperin Tino, kupeluk
badan telanjang dia yang seksi.
Semarah-marahnya Tino ama
semua homo, dia enggak marah sama aku.
Haleluya.
Dia biarin aku meluk
badannya. Dia juga ngusap-ngusap tanganku yang kini mendekap lengan berototnya.
Kubisikin ke telinganya. “Sorry
gue bercanda mulu.” Aku kecup ubun-ubunnya. Kulanjutkan dengan suara lembut,
“Enggak semua homo jahat, kok. Sebagian homo bakal tetap respect ama
Abang, enggak akan curi-curi kesempatan meskipun Abang gantengnya enggak
ketulungan. Si Romi mungkin bakal merkosa Abang. Tapi si Enzo enggak akan. Gue
juga enggak akan.
“Gue bakal jadi orang yang
paling ngehormatin Abang, dan melindungi Abang dari homo-homo setan yang ada di
sekitar kita.” Kudekap tubuh Tino lebih erat lagi dan aku beneran tulus dengan
kata-kataku itu. Aku jujur.
Aku sayang sama Tino. Aku
cinta sama dia. Awalnya cuma cinta monyet karena aku tahu dia straight,
tapi setelah dia nge-fuck aku semalam … MUAHAHAHAHA …, cintaku bersemi
seperti pohon-pohon sakura di Jepang pada bulan April.
Atau September.
Aku enggak tahu bulan yang
mana, pokoknya yang orang-orang Jepang piknik di bawah pohon sakura gitu, lah.
Yang sejalan-jalan warnanya pink semua sama bunga sakura bermekaran.
Surganya para boti pokoknya.
Tino menyenderkan kepalanya
ke dadaku. Dia lebih tenang sekarang. “Thanks,” bisiknya.
Kudekap Tino lebih erat.
“Jangan khawatir, Bang. Gue udah janji buat nyelesaiin masalah Abang semalam.
Gue bakal cari si Lidya bencong itu, dan kita bakal bikin perhitungan sama
dia.”
Tino mengangguk kecil.
“Enggak akan gue biarin
Abang disentuh dengan tidak senonoh sama homo lain selain aku. I promise you,
Bang. Masih banyak homo yang baik, kok.”
“Gue tahu.” Tino mengecup
dadaku sejenak. “Elo salah satunya.”
Kami terdiam selama beberapa
menit di situ. Enggak ngapa-ngapain. Cuma berpelukan dalam diam. Memandang apa
pun di depan kami dengan tatapan kosong.
Aku menikmati dekapan itu.
Rasanya hangat dan penuh kasih sayang. Dan aku enggak peres, ya.
Beneran, aku sayang banget sama Tino. Empat tahun aku tetanggaan sama dia, aku
sayang bukan main sama personal trainer ini. Aku udah berhasil mengubah
semua rasa cemburuku setiap dia ngewe ama perempuan dan aku udah
melewati itu semua dengan dewasa dan bijaksana.
Jadi kalau ada bencong atau
homo mana pun yang mencoba menyakiti Tino, gue enggak bakal ragu buat bunuh
orang.
Sumpah.
He’s mine.
“Jadi …,” kata Tino, memecah
keheningan kira-kira sepuluh menit kemudian. “Siapa lagi di kosan ini yang
homo?”
Aku mengingat-ingat dulu.
Kebanyakan sih enggak homo, tapi aku tahu satu lagi yang homo. Dua malah.
“Mas Akbar sama Lanang itu
juga homo,” jawabku.
Tino langsung menoleh dan
mendongak ke arahku. Matanya membelalak terkejut. “Yang kamarnya di depan entuh?!
Yang sering panahan di lapangan parkir?! Yang alim kayak ustaz itu, kan?! Yang
guru SMP juga?!”
“Ada berapa pasangan yang
namanya Akbar sama Lanang di kosan ini, HAH?!”
“Anjing! Beneran, Bro?!”
Aku langsung mencubit nenen
Tino dengan gemas hingga Tino menjerit kesakitan, “Aw! Aw! Aw!” dan mencoba
menjauhiku sambil menangkis tanganku.
“Mereka tinggal bareng,
anjir! Kurang homo apa lagi, hah?!” Aku mendengus gemas. “Gue entot juga lu
Bang biar radar lu makin terasah! Heran …, masih ada aja cowok yang enggak bisa
bedain mana gay mana bukan!”
[ … ]
Part 4 | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Prank Personal Trainer | Part 5 (Bag. B)
Komentar
Posting Komentar