Deg-degan? Sama.
Tapi tenang aja.
Ini semua tidak seperti yang
kaulihat, Kak!
Aaahhh ....
....
Fian masuk ke area periksa tapi
enggak pas bagian krusialnya. Gila aja. Bisa dipasung di landasan udara kalau
ketahuan kayak begitu. Sewaktu Fian masuk, dia ngobrol dulu sama Nadhif dan aku
bisa dengar.
Kejadiannya sebelum Davin nyipok
aku.
“Please .... Gue minta
tolong baik-baik,” bisik Davin sambil mendekat. “Gue rela ngasih hidup gue buat
elo, asal elo bantu gue lulus tes kesehatan ini, Kak ....”
Cup.
Tiba-tiba, Davin memagut bibirku.
Kakak udah tahu bagian ini. Aku berusaha menolak dengan enggak buka bibir, tapi
dia melumat bibirku seolah-olah lagi mau buka Chitato pake gigi.
Aku ketakutan. Kuremas kontol Davin
kuat-kuat supaya dia enggak nyaman. Satu tanganku mendorong tubuh Davin, tapi
aku hampir enggak bisa bergerak. Davin ini sebelum daftar jadi AU udah latihan
berat sepanjang SMA. Otot-ototnya besar, tegang, membulat, persis kayak kuli. Jadi,
badanku didorong sampe terdesak dan enggak bisa ngapa-ngapain. Kontolnya malah
disodok ke pahaku kayak dia mau merkosa aku.
Aku hampir teriak.
Tapi mulutku dibungkam oleh bibir
Davin.
Dan pada saat bersamaan, kisah
horor itu dimulai.
“Sudah beres?” Aku
mendengar Fian masuk ke station ini, bertanya ke petugas di luar.
“Siap, sisa satu,”
jawab Nadhif tegas.
“Masih di dalam?”
“Siap, masih.”
Lalu, langkah kaki sepatu bot Fian
mendekat ke arah bilik pemeriksaan.
Sebelum Fian benar-benar muncul,
aku mengerahkan sisa tenaga untuk mendorong Davin lebih kuat. Kuremas perut six
pack Davin dengan kedua tanganku, lalu menggunakan ulti Mobile Legend
dengan hero GayVers, kudorong dia mundur.
Alhamdulillah, berhasil.
“Ergh!” Kudesak tubuhku ke dinding
sementara tanganku mendorong ke arah berlawanan.
Davin mundur beberapa langkah ke
belakang. Kontolnya berayun kanan kiri, setengah ngaceng. Pantatnya
menabrak dipan pemeriksaan. Bahkan, menggesernya beberapa senti.
Pada saat itulah Fian melongokkan
kepala dari bilik dan menyapa, “Adek ...?”
“Oh! Hai! Ya! Hai!” Gelagapan, aku
langsung menghampiri mejaku dan pura-pura melakukan sesuatu. Jantungku rasanya
copot. Seluruh tubuhku merinding oleh rasa takut. Bisa kubilang, aku hampir
sesak napas karena panik.
“Masih lama?” tanya Fian, masuk ke
dalam area dan mengamati Davin memanjat naik ke atas dipan.
Davin langsung ke posisi merangkak,
nungging kayak boti siap disodomi.
“Ba ... baru mulai.” Kukenakan
sarung tangan dan kubawa pelumas ke atas dipan.
“Sejauh ini gimana?” Fian dengan
sengaja berdiri di ujung dipan. Tepatnya di depan bool Davin. Fian juga
mengamati bool itu sambil menyipitkan mata, seperti mengamati sesuatu.
“Aman.” Sebisa mungkin aku tidak
menoleh ke wajah Fian.
Tiba-tiba, Fian menampar pantat
Davin. “Kalau cebok tuh yang bener!” Plak!
“Siap, Pak,” jawab Davin.
Aku mengecek bool-nya. Tidak
ada kotoran apa pun kecuali setitik sobekan tisu yang nyangkut di antara bulu bool
Davin. Aku membelalak kagum melihat bool itu. Bool Davin adalah
tipe bool yang bikin aku pengin jadi top saja. Kulitnya mulus, pantatnya
menggembung bulat agak montok, enggak ada hiperpigmentasi di lipatan paha
(selangkangan hitam), dan cincin anusnya masih perawan. Enggak ada ambeien
juga. Bulu bool-nya tumbuh rapi di sepanjang belahan pantat, turun ke
sekitar cincin anus, tapi enggak berlanjut ke perineum. Aku yakin semua top
ikhlas me-rimming bool macam begini semalaman.
Aku mengambil tisu yang nyangkut
itu. Kemudian, melakukan pemijatan ke area sekitar cincin anus.
Fian membelalak kecil melihat
adegan itu. Seakan-akan dia baru melihatnya pertama kali.
“Sedari tadi kayak gini?” tanyanya,
dengan suara pelan.
Aku mengangguk. “Kirain ... tahu.”
“Tahunya yang kemaren aja. Sambil
berdiri. Enggak tahu kalau sekarang harus gini posisinya.”
Kulumuri dua jariku dengan pelumas,
lalu kumasukkan keduanya ke bool Davin tanpa aba-aba.
“ARGH!” Davin mengerang sambil agak
maju ke depan. Otot pantatnya menegang. “AAARGH!”
“Tahaaan!” sahut Fian dengan
intonasi galak. “Kalau gini aja nangis, gimana di medan perang, hah?!”
“Si ... siap!” Davin meringis
kesakitan, pelan-pelan memundurkan lagi pantat, membiarkan kedua jariku masuk
ke dalam bool-nya sampai mentok. Davin menahan napas. Dan mendesis. “Hmph!”
Yang salah sebenarnya aku, sih.
Harusnya aku minta izin dulu untuk memasukkan jari ke bool pasien. Lalu
aku menjelaskan ini tuh apa, kenapa begitu, apa yang akan kulakukan di dalam bool,
bla bla bla, dan lain sebagainya. Aku mengabaikan prosedur itu karena (1) aku
masih gugup di depan Fian, masih bertanya-tanya apakah Fian memikirkan yang
aneh-aneh antara aku dan Davin. Dan, (2) aku marah bukan main pada Davin karena
dia menciumku tiba-tiba. Enggak peduli bool-nya semulus dan secakep ini.
Yang Davin lakukan adalah pemerkosaan.
Aku enggak bisa melaporkan ini
kepada Fian, khawatir Davin membocorkan apa yang kulakukan terhadap Xavier di
pemeriksaan varikokelnya. Yang bisa kulakukan hanyalah diam dengan dada
berdebar-debar. Aku fokus mengecek bagian dalam bool Davin yang ....
“ARGH!” Davin mengerang kecil.
“Enggak usah jerit-jerit kayak
putri.” Fian menghardik seperti senior yang menyeramkan. Suaranya menggelegar
jantan bikin kita pengin menyerahkan diri.
Sehingga, aku yang sedang mengecek bool
Davin malah ikut ketakutan. Seluruh trauma di-bully senior waktu SMP
atau SMA karena aku lemah kayak boti langsung berkelebat dalam kepalaku.
“ARGH!” Davin mengerang lagi.
Aku berhenti mengobok-obok prostat
itu sejenak.
Ada alasan mengapa Davin mengerang
seperti.
Kayaknya ....
....
Kayaknya prostat Davin agak
bengkak.
Selama sisa waktu yang kupunya, aku
berhasil mengambil cairan prostat Davin, bahkan membantu mengocok kontolnya
hingga crot. Agak susah dan lama mendapat ejakulasi itu karena Fian ada
di ruangan yang sama.
Kontol Davin lemas dikit, Fian
menggertak, “Kontol lemas gitu kamu berharap masuk AU?”
Davin yang tertekan makin enggak
bisa mengereksikan kontolnya. Aku paham, sih. Tubuhnya telanjang, kontolnya
dikocok seorang perawat laki-laki, lalu calon seniornya di militer ada di
ruangan yang sama, menatapnya dengan tajam dan intimidatif.
Fian sampai marah ke Davin karena
gagal ereksi. Kata Fian, ngaceng adalah hal simpel yang seharusnya anak
muda macam Davin bisa lakukan dengan mudah. Energi dan libido remaja masih
tinggi. Kontol masih sensitif dan masih berkembang.
“Atau jangan-jangan kamu impoten?!”
tuduh Fian.
“Siap, tidak!” balas Davin,
setengah ngeri.
“Oke, kita buktikan. Kalau perawat
ini bisa bikin kemaluan saya berdiri dengan cara yang sama yang dia lakukan ke
kamu, maka kesimpulannya kamu yang impoten!”
Ya. Fian hampir membuka celananya
di depanku. Dia ingin menunjukkan bahwa kemampuanku bikin lelaki ngaceng
harusnya enggak dipertanyakan. Soalnya aku “perawat medis berpengalaman untuk
vitalitas laki-laki” (entah Fian dapat istilah itu dari mana). Namun aku tak
sanggup melihat kontol Fian pada saat-saat seperti ini, jadi aku menyetopnya.
Toh akhirnya setelah dituduh
impoten, Davin mulai fokus me-ngaceng-kan kontolnya, hingga akhirnya
beneran ngaceng dan crot.
Masalahnya ....
... setelah crot ....
... Davin ngompol.
Ompolnya hampir saja mengenai Fian
kalau aku tidak segera menegakkan kontol itu ke atas. Fian makin menyangsikan
kompetensi Davin mengikuti pendidikan di AU.
“Gitu aja kamu ngompol?” tanya Fian dengan suara tegas.
“Siap ... maaf ... saya kelepasan,” balas Davin, dengan suara
pelan.
Davin turun dari dipan. Berdiri tegak dengan sikap sempurna.
Kontol masih ngaceng ke atas. Dan air kencing masih meleleh keluar
beberapa tetes dari lubang kontolnya.
Aku mengambil tisu, membersihkan sisa-sisa kencing itu. Aku
juga mengambil lap untuk mengelap tubuh Davin yang basah oleh air kencing dan
sperma-sperma yang tak tertampung.
“Jadi kalau kamu bersenggama dengan istrimu nanti ..., kamu
akan mengencingi dia?” tanya Fian lagi. Pertanyaannya agak intimidatif. Pun
galak. Lagi-lagi aku ketakutan saat mendengar nada bicaranya.
“Siap, tidak.”
“Baru dikocokin kamu udah ngompol.” Fian menghela napas.
“Nerbangin jet tempur, vertikal ke atas, dapat G-force sampai 5G ...
kamu mau ngompol juga?”
“Siap, tidak.”
“Atau jangan-jangan kamu bakal berak di celana?”
“Siap, tidak.”
“Masuk AD aja, lah. Selangkangan lemah begitu mana bisa bawa
jet tempur pas lagi perang. Masuk AL pun kayaknya muntah-muntah di atas kapal—“
“Bang ....” Aku menyenggol Fian agar dia berhenti menekan
Davin seperti ini.
Meskipun, kayaknya, pendidikan militer bakal jauh lebih
menekan dibandingkan perundungan Fian sekarang. Tapi aku enggak tega. Sumpah.
Aku enggak jago bully orang. Orang-orang yang ku-bully biasanya
orang-orang terdekatku, yang aku udah nyaman untuk minta maaf kalau-kalau bully-anku
kelewatan. Ida misalnya. Aku sering bully dia karena aku tahu kami
berdua bestie dan aku bisa minta maaf langsung misal dia tersinggung.
Melihat Davin yang belum jadi taruna saja sudah ditekan
seperti ini, rasanya aku ingin menangis.
Ya Allah ....
... jangan-jangan aku memang boti.
Fian melirik ke arahku dan kayaknya luluh. Dia menarik napas
panjang, kemudian mengangguk kecil. “Oke. Sekarang kamu bantu dia membersihkan
kencingmu itu dalam satu menit. Saya tunggu kamu di sebelah untuk push up
dua puluh. Paham?”
“Siap, paham.”
Fian keluar dari area periksa tanpa berkata apa pun. Dia
mengajak Nadhif dan Wandi berbicara, tetapi aku tak begitu bisa mendengarnya. Soalnya,
seisi aula mendadak berisik karena setiap station sudah memulai break
mereka.
Davin membantuku mengelap dipan yang basah oleh kencingnya.
Aku masih membantunya mengelap pantat yang masih basah.
Di tengah keheningan canggung itu aku berbisik pelan,
“Periksain yang bener prostatmu.”
Davin berhenti mengelap. Dia menarik napas panjang, menunduk
menatap dipan. “Jadi ..., benar?”
“Aku enggak tahu penyakitnya apa, tapi kamu harus periksa.”
Davin menoleh dengan tatapan memelas. Dia berbisik pelan
sekali dengan mata berkaca-kaca. “Lu bisa bantu, kan?”
Aku hanya terdiam sembari lanjut mengelap pantat seksi itu
hingga kering. Aku menggelengkan kepala.
“Please ....”
“Ngompol barusan juga bagian dari ‘masalah’ itu,” bisikku.
“Prostatmu mendesak kantung kemih sehingga bisa kebablasan kencing setelah
ejakulasi.”
“Ck!” Davin berdecak sembari menjambak kepalanya
sendiri. “Please ....”
Aku menggelengkan kepala lagi. “Aku enggak bisa menjatuhkan
reputasi klinikku. Kamu harus sembuh dulu.”
“Enggak ada waktu lagi!” desis Davin, hampir menangis. Dia
membungkuk ke arah dipan dan menjadikan lengan depannya sebagai tumpuan.
Napasnya terengah-engah. “Gue enggak bisa operasi dulu.”
“Belum tentu operasi,” balasku. “Aku enggak tahu penyakitmu
apa, tapi ada kemungkinan besar ini prostatitis. Tapi, again, aku bukan
dokter. Barusan cuma diagnosa sotoyku lewat apa yang kuamati. Kamu harus tetap
ke dokter, cek lab, lakukan treatment-nya. Kalau bener prostatitis,
paling kamu cuma perlu minum antibiotik.”
Davin tak merespons. Dia menghela napas panjang. Bahunya
berguncang, seperti ingin menangis.
Aku bisa melihat impiannya hancur di depan mata.
Semua gara-gara prostatnya.
Masalahnya, apa yang dikatakan Fian, benar. Kalau dia masuk AU
dan harus menerbangkan jet tempur dengan tekanan gravitasi sebesar itu ...,
bisa jadi bukan hanya ngompol. Bisa jadi dia berak juga. Ini alasan utama
mengapa pemeriksaan kesehatan di AU benar-benar penting. Soalnya alutsista yang
digunakan lumayan sensitif pada kesalahan. Dr. Sigit kemarin bilang, dalam
dunia dirgantara, tidak ada toleransi untuk kesalahan. Salah pencet dikit, bisa
hancur segala-galanya.
Area perut adalah area core. Area pusat manusia.
Sewaktu Kakak naik roller coaster di Dufan, area perut jadi mulas, kan?
Karena setiap pergerakan kita berpusatnya ke sana. Padahal, prostat dan area
selangkangan ini ada di perut. Begitu ada masalah prostat sedikit saja, atau
varikokel deh, itu bisa mengganggu performa.
“Sorry,” kataku, sambil menutup pembicaraan itu.
“Saranku periksain dulu, ambil treatment yang bener, semoga hasil prostatic
liquid-nya enggak ada yang aneh-aneh.”
Davin hanya berdiri tegak tanpa menoleh ke arahku.
“Sana. Push up dulu. Biar aku yang beresin ini semua.”
Davin pun pergi keluar area pemeriksaan dengan tatapan mata seolah-olah
dia sudah mati. Sudah tak ada jiwa di dalam tubuh itu.
[ ... ]
Alasan Fian menghampiriku ke station ialah untuk
menjemputku dan mengajak break bareng.
“Galak banget, sih,” komentarku sembari membereskan
barang-barang di ruang pemeriksaan.
“Apanya, Dek?”
“Kasihan dia. Tertekan.”
Fian terkekeh kecil. “Adek tahu kan di akmil bakal lebih stres
daripada itu?”
Aku menghela napas. “Iya, tahu. Tapi dia belum keterima aja
udah digalakin kayak begitu.”
“Kalau sekarang aja dia udah keok, mendingan dia tahu sekarang
daripada tahunya pas udah di pendidikan. Ngabis-ngabisin duit negara kalau
ujung-ujungnya menyerah juga.”
Aku tak bisa mendebatnya. Kurasa Fian benar dengan semua itu.
Aku enggak mau negaraku mempekerjakan prajurit yang enggak bisa menghadapi
tekanan mental. Apalagi prajurit yang punya penyakit dalam.
Jadi, aku memutuskan tak akan membantu Davin. Aku akan
menyerahkan sampel cairan prostat dan sperma ini apa adanya. Kalau dalam cairan
prostat Davin ada mikroorganismenya, maka Davin kemungkinan prostatitis. Hal
pertama yang harus Davin lakukan adalah mengobatinya sampai sembuh. Bukan
mendaftar ke Angkatan Udara.
“Aku udah siap,” kataku. “Emang aku mau diajak ke mana?”
“Sekitar sini, lah.” Fian bangkit dan menduluiku keluar dari station.
“Adek belum dikasih konsumsi, kan?”
“Belum.”
“Ya udah, kita ambil di depan aja. Biar mereka yang jaga di
sini.” Fian menunjuk Nadhif dan Wandi dengan dagunya.
Suasana di aula itu cukup ramai karena setiap station
sudah selesai dengan sesi pertama. Setiap petigas medis bersiap untuk melakukan
break. Aku melihat dr. Sigit masih melakukan pemeriksaan ke lima calon
taruna di bilik kemarin. Station cek buta warna sudah sepi, petugasnya
sedang asyik berkumpul sambil makan gorengan.
“Break pertama ini agak lama—hampir kayak makan siang,”
terang Fian seraya berjalan di depanku dengan tegap, gagah, dan menjulang.
“Soalnya mau ada gladiresik di depan sana. Jadi sebagian orang disuruh ke sana
dulu. Kita baru mulai lagi jam 11-an entar.”
Mood-ku sudah membaik. Aku sudah melupakan pelecehan
Davin di ruang pemeriksaan dan memoriku kembali ke kejadian semalam saat Fian
menciumku. Sampai detik ini kami belum membahasnya lagi. Fian juga enggak ngomong
apa pun yang nyerempet ke arah sana.
Emang kayak gini ya cowok straight?
Nyipok orang seenaknya, lalu enggak mau bahas?
Mungkin ini alasan kenapa kita cowok gay jangan pernah
jatuh cinta sama cowok straight.
Soalnya, meskipun nyebelin, cowok straight bisa tetep bikin
hati berbunga-bunga.
Kayak aku, sekarang. Senyumku lebar melihat punggung kekar
Fian dari belakang. Tangannya berayun dengan maskulin, enggak ada
ngondek-ngondeknya. Sepatu bot Fian berkelotak garang di dalam aula. Beberapa
taruna yang masih muda memberikan hormat ke Fian dan Fian membalasnya dengan
penuh karisma.
Aku bangga sekali pernah dicipok lelaki ini.
Apalagi aku yakin ..., mungkin aku satu-satunya lelaki yang
dicipok Fian. Sisanya pasti perempuan kayak Ida, atau mantan-mantannya Fian.
Jujur, aku rapopo kalau selamanya enggak bisa miliki
Fian. Toh, Fian kayaknya straight. Kalau aku hanya dijadikan pelampiasan
saja, misal Fian lagi pengin ngewe ama cowok, kayak yang dilakukan
Xavier, aku ikhlas lillahi ta’ala menjadi boneka seksnya. Jadi top
maupun bottom aku enggak akan nolak. Aku enggak akan sok-sok konservatif
dengan merasa HARUS jadi bottom karena Fian badannya gede, kekar, macho,
dan straight. Menurutku kalau Fian lagi pengin ditusuk, aku akan tusuk
Fian dengan puas. Enggak peduli kalau hal itu melanggar norma di dunia per-gay-an
bahwa orang macam aku harusnya jadi boti saja.
Intinya, aku akan mensyukuri kebersamaanku bersama Fian. Aku
harap aku bisa begini terus sama Fian. Berada di circle-nya Fian.
Disayangi seolah-olah aku adiknya. Dicemburui karena Bondan mendekatiku.
Aku akan melakukan apa pun untuk meyakinkan Fian, bahwa it’s
okay kalau dia mau menciumku lagi. Aku enggak masalah jika aku harus—
“Heeeyyy ... Abaaang!”
Boti puskesmas itu tetiba muncul dari station-nya
dan menghampiri kami.
Aku sampai berhenti melangkah karena terkejut. Fian juga
berhenti melangkah. Dia menyambut boti itu dengan ramah.
“Aman?” sapa Fian.
“Aman, Bang. Non-reaktif semua.” Lelaki itu lebih tinggi
sedikit dariku. Badannya mungkin atletis karena nge-gym. Kulitnya juga
mulus. Pasti skincare-nya mahal. Bisa jadi kamar kosan dia ada AC-nya.
Aku suka sepatunya, tapi karena aku enggak suka orangnya, aku jadi benci
sepatunya. Dia mengenakan seragam perawat di puskesmasnya. Aku bisa membaca lanyard-nya
bertuliskan:
Fariq Alexander Kelvin.
FAK. Nama dia aja bagus. Ada huruf Q, X, dan V.
Begitu dia mendekat, aku yakin alisnya disulam.
Fariq ini boti yang kemarin kulihat memegang lengan
Fian dengan manja sambil ngobrol entah apa. Aku tahu Fian enggak punya cowok.
Aku tahu boti mana pun masih berhak untuk modus ke Fian, termasuk Ezelio
yang enggak punya semangat hidup itu. Tapi aku enggak suka melihat boti
ini terang-terangan menggoda Fian.
“Masih berapa lagi yang VCT?”
“Baru setengahnyaaa ...,” jawab Fariq sambil berdiri di depan
kami dan memiringkan kepalanya menatapku. “Siapa ini?” Fariq membaca lanyard-ku.
“Oh.”
Oh?
OH?!
Namaku ada enam huruf, ya. ROHMAT. Bukan cuma OH aja. Masih
ada R, M, A, dan T!
Aku enggak menyalami dia karena dia pun enggak mengulurkan
tangannya. Jadi aku hanya menjawab, “Oh,” juga.
Namun Fariq tetap menyapaku dengan ramah. “Halo, aku Lexa!”
What the fuck?!
Di antara Fariq Alexander Kelvin dia memutuskan untuk
mengambil nickname LEXA?! Kurang boti apa orang ini, hah?!
“Mat,” kataku mengenalkan diri. Memangnya kamu aja yang bisa
seenaknya ngambil beberapa huruf dari namamu?!
“Rohmat station-nya di sana,” Fian menunjuk ke station
yang memang agak terisolasi, di belakang station-nya dr. Sigit. “Ngecek
prostat.”
Fariq membelalak diiringi senyum sebelah. Dia paham apa yang
kukerjakan. “Wah, asyik, nih!”
“Kalau Lexa ini ....” Fian mencoba mengenalkannya.
Namun Fariq tahu-tahu mengulurkan tangan mengajakku bersalaman
dan menyelesaikan kalimat Fian, “... mantannya Mas Fian.”
[ ... ]
19. Ini Burung Lo Naek, Nih! (Short Version) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 21. Masa Pacaran sama Laki-Laki?!
Komentar
Posting Komentar