(HD) 20. Kalau Cebok Tuh yang Bener! (Short Version)




Halo, Kak!

Deg-degan? Sama.

Tapi tenang aja.

Ini semua tidak seperti yang kaulihat, Kak!

Aaahhh ....

....

Fian masuk ke area periksa tapi enggak pas bagian krusialnya. Gila aja. Bisa dipasung di landasan udara kalau ketahuan kayak begitu. Sewaktu Fian masuk, dia ngobrol dulu sama Nadhif dan aku bisa dengar.

Kejadiannya sebelum Davin nyipok aku.

Please .... Gue minta tolong baik-baik,” bisik Davin sambil mendekat. “Gue rela ngasih hidup gue buat elo, asal elo bantu gue lulus tes kesehatan ini, Kak ....”

Cup.

Tiba-tiba, Davin memagut bibirku. Kakak udah tahu bagian ini. Aku berusaha menolak dengan enggak buka bibir, tapi dia melumat bibirku seolah-olah lagi mau buka Chitato pake gigi.

Aku ketakutan. Kuremas kontol Davin kuat-kuat supaya dia enggak nyaman. Satu tanganku mendorong tubuh Davin, tapi aku hampir enggak bisa bergerak. Davin ini sebelum daftar jadi AU udah latihan berat sepanjang SMA. Otot-ototnya besar, tegang, membulat, persis kayak kuli. Jadi, badanku didorong sampe terdesak dan enggak bisa ngapa-ngapain. Kontolnya malah disodok ke pahaku kayak dia mau merkosa aku.

Aku hampir teriak.

Tapi mulutku dibungkam oleh bibir Davin.

Dan pada saat bersamaan, kisah horor itu dimulai.

“Sudah beres?” Aku mendengar Fian masuk ke station ini, bertanya ke petugas di luar.

“Siap, sisa satu,” jawab Nadhif tegas.

“Masih di dalam?”

“Siap, masih.”

Lalu, langkah kaki sepatu bot Fian mendekat ke arah bilik pemeriksaan.

Sebelum Fian benar-benar muncul, aku mengerahkan sisa tenaga untuk mendorong Davin lebih kuat. Kuremas perut six pack Davin dengan kedua tanganku, lalu menggunakan ulti Mobile Legend dengan hero GayVers, kudorong dia mundur.

Alhamdulillah, berhasil.

“Ergh!” Kudesak tubuhku ke dinding sementara tanganku mendorong ke arah berlawanan.

Davin mundur beberapa langkah ke belakang. Kontolnya berayun kanan kiri, setengah ngaceng. Pantatnya menabrak dipan pemeriksaan. Bahkan, menggesernya beberapa senti.

Pada saat itulah Fian melongokkan kepala dari bilik dan menyapa, “Adek ...?”

“Oh! Hai! Ya! Hai!” Gelagapan, aku langsung menghampiri mejaku dan pura-pura melakukan sesuatu. Jantungku rasanya copot. Seluruh tubuhku merinding oleh rasa takut. Bisa kubilang, aku hampir sesak napas karena panik.

“Masih lama?” tanya Fian, masuk ke dalam area dan mengamati Davin memanjat naik ke atas dipan.

Davin langsung ke posisi merangkak, nungging kayak boti siap disodomi.

“Ba ... baru mulai.” Kukenakan sarung tangan dan kubawa pelumas ke atas dipan.

“Sejauh ini gimana?” Fian dengan sengaja berdiri di ujung dipan. Tepatnya di depan bool Davin. Fian juga mengamati bool itu sambil menyipitkan mata, seperti mengamati sesuatu.

“Aman.” Sebisa mungkin aku tidak menoleh ke wajah Fian.

Tiba-tiba, Fian menampar pantat Davin. “Kalau cebok tuh yang bener!” Plak!

“Siap, Pak,” jawab Davin.

Aku mengecek bool-nya. Tidak ada kotoran apa pun kecuali setitik sobekan tisu yang nyangkut di antara bulu bool Davin. Aku membelalak kagum melihat bool itu. Bool Davin adalah tipe bool yang bikin aku pengin jadi top saja. Kulitnya mulus, pantatnya menggembung bulat agak montok, enggak ada hiperpigmentasi di lipatan paha (selangkangan hitam), dan cincin anusnya masih perawan. Enggak ada ambeien juga. Bulu bool-nya tumbuh rapi di sepanjang belahan pantat, turun ke sekitar cincin anus, tapi enggak berlanjut ke perineum. Aku yakin semua top ikhlas me-rimming bool macam begini semalaman.

Aku mengambil tisu yang nyangkut itu. Kemudian, melakukan pemijatan ke area sekitar cincin anus.

Fian membelalak kecil melihat adegan itu. Seakan-akan dia baru melihatnya pertama kali.

“Sedari tadi kayak gini?” tanyanya, dengan suara pelan.

Aku mengangguk. “Kirain ... tahu.”

“Tahunya yang kemaren aja. Sambil berdiri. Enggak tahu kalau sekarang harus gini posisinya.”

Kulumuri dua jariku dengan pelumas, lalu kumasukkan keduanya ke bool Davin tanpa aba-aba.

“ARGH!” Davin mengerang sambil agak maju ke depan. Otot pantatnya menegang. “AAARGH!”

“Tahaaan!” sahut Fian dengan intonasi galak. “Kalau gini aja nangis, gimana di medan perang, hah?!”

“Si ... siap!” Davin meringis kesakitan, pelan-pelan memundurkan lagi pantat, membiarkan kedua jariku masuk ke dalam bool-nya sampai mentok. Davin menahan napas. Dan mendesis. “Hmph!

Yang salah sebenarnya aku, sih. Harusnya aku minta izin dulu untuk memasukkan jari ke bool pasien. Lalu aku menjelaskan ini tuh apa, kenapa begitu, apa yang akan kulakukan di dalam bool, bla bla bla, dan lain sebagainya. Aku mengabaikan prosedur itu karena (1) aku masih gugup di depan Fian, masih bertanya-tanya apakah Fian memikirkan yang aneh-aneh antara aku dan Davin. Dan, (2) aku marah bukan main pada Davin karena dia menciumku tiba-tiba. Enggak peduli bool-nya semulus dan secakep ini. Yang Davin lakukan adalah pemerkosaan.

Aku enggak bisa melaporkan ini kepada Fian, khawatir Davin membocorkan apa yang kulakukan terhadap Xavier di pemeriksaan varikokelnya. Yang bisa kulakukan hanyalah diam dengan dada berdebar-debar. Aku fokus mengecek bagian dalam bool Davin yang ....

“ARGH!” Davin mengerang kecil.

“Enggak usah jerit-jerit kayak putri.” Fian menghardik seperti senior yang menyeramkan. Suaranya menggelegar jantan bikin kita pengin menyerahkan diri.

Sehingga, aku yang sedang mengecek bool Davin malah ikut ketakutan. Seluruh trauma di-bully senior waktu SMP atau SMA karena aku lemah kayak boti langsung berkelebat dalam kepalaku.

“ARGH!” Davin mengerang lagi.

Aku berhenti mengobok-obok prostat itu sejenak.

Ada alasan mengapa Davin mengerang seperti.

Kayaknya ....

....

Kayaknya prostat Davin agak bengkak.

Pemeriksaan itu berlangsung agak lama karena Davin adalah orang terakhir di batch ini. Masih ada setengah jam lagi menuju break. Aku agak cemas dengan penemuanku soal ukuran prostat Davin, tapi aku enggak bisa melakukan apa pun yang mencurigakan. Takutnya Fian bertanya-tanya.

Selama sisa waktu yang kupunya, aku berhasil mengambil cairan prostat Davin, bahkan membantu mengocok kontolnya hingga crot. Agak susah dan lama mendapat ejakulasi itu karena Fian ada di ruangan yang sama.

Kontol Davin lemas dikit, Fian menggertak, “Kontol lemas gitu kamu berharap masuk AU?”

Davin yang tertekan makin enggak bisa mengereksikan kontolnya. Aku paham, sih. Tubuhnya telanjang, kontolnya dikocok seorang perawat laki-laki, lalu calon seniornya di militer ada di ruangan yang sama, menatapnya dengan tajam dan intimidatif.

Fian sampai marah ke Davin karena gagal ereksi. Kata Fian, ngaceng adalah hal simpel yang seharusnya anak muda macam Davin bisa lakukan dengan mudah. Energi dan libido remaja masih tinggi. Kontol masih sensitif dan masih berkembang.

“Atau jangan-jangan kamu impoten?!” tuduh Fian.

“Siap, tidak!” balas Davin, setengah ngeri.

“Oke, kita buktikan. Kalau perawat ini bisa bikin kemaluan saya berdiri dengan cara yang sama yang dia lakukan ke kamu, maka kesimpulannya kamu yang impoten!”

Ya. Fian hampir membuka celananya di depanku. Dia ingin menunjukkan bahwa kemampuanku bikin lelaki ngaceng harusnya enggak dipertanyakan. Soalnya aku “perawat medis berpengalaman untuk vitalitas laki-laki” (entah Fian dapat istilah itu dari mana). Namun aku tak sanggup melihat kontol Fian pada saat-saat seperti ini, jadi aku menyetopnya.

Toh akhirnya setelah dituduh impoten, Davin mulai fokus me-ngaceng-kan kontolnya, hingga akhirnya beneran ngaceng dan crot.

Masalahnya ....

... setelah crot ....

... Davin ngompol.

Ompolnya hampir saja mengenai Fian kalau aku tidak segera menegakkan kontol itu ke atas. Fian makin menyangsikan kompetensi Davin mengikuti pendidikan di AU.

“Gitu aja kamu ngompol?” tanya Fian dengan suara tegas.

“Siap ... maaf ... saya kelepasan,” balas Davin, dengan suara pelan.

Davin turun dari dipan. Berdiri tegak dengan sikap sempurna. Kontol masih ngaceng ke atas. Dan air kencing masih meleleh keluar beberapa tetes dari lubang kontolnya.

Aku mengambil tisu, membersihkan sisa-sisa kencing itu. Aku juga mengambil lap untuk mengelap tubuh Davin yang basah oleh air kencing dan sperma-sperma yang tak tertampung.

“Jadi kalau kamu bersenggama dengan istrimu nanti ..., kamu akan mengencingi dia?” tanya Fian lagi. Pertanyaannya agak intimidatif. Pun galak. Lagi-lagi aku ketakutan saat mendengar nada bicaranya.

“Siap, tidak.”

“Baru dikocokin kamu udah ngompol.” Fian menghela napas. “Nerbangin jet tempur, vertikal ke atas, dapat G-force sampai 5G ... kamu mau ngompol juga?”

“Siap, tidak.”

“Atau jangan-jangan kamu bakal berak di celana?”

“Siap, tidak.”

“Masuk AD aja, lah. Selangkangan lemah begitu mana bisa bawa jet tempur pas lagi perang. Masuk AL pun kayaknya muntah-muntah di atas kapal—“

“Bang ....” Aku menyenggol Fian agar dia berhenti menekan Davin seperti ini.

Meskipun, kayaknya, pendidikan militer bakal jauh lebih menekan dibandingkan perundungan Fian sekarang. Tapi aku enggak tega. Sumpah. Aku enggak jago bully orang. Orang-orang yang ku-bully biasanya orang-orang terdekatku, yang aku udah nyaman untuk minta maaf kalau-kalau bully-anku kelewatan. Ida misalnya. Aku sering bully dia karena aku tahu kami berdua bestie dan aku bisa minta maaf langsung misal dia tersinggung.

Melihat Davin yang belum jadi taruna saja sudah ditekan seperti ini, rasanya aku ingin menangis.

Ya Allah ....

... jangan-jangan aku memang boti.

Fian melirik ke arahku dan kayaknya luluh. Dia menarik napas panjang, kemudian mengangguk kecil. “Oke. Sekarang kamu bantu dia membersihkan kencingmu itu dalam satu menit. Saya tunggu kamu di sebelah untuk push up dua puluh. Paham?”

“Siap, paham.”

Fian keluar dari area periksa tanpa berkata apa pun. Dia mengajak Nadhif dan Wandi berbicara, tetapi aku tak begitu bisa mendengarnya. Soalnya, seisi aula mendadak berisik karena setiap station sudah memulai break mereka.

Davin membantuku mengelap dipan yang basah oleh kencingnya. Aku masih membantunya mengelap pantat yang masih basah.

Di tengah keheningan canggung itu aku berbisik pelan, “Periksain yang bener prostatmu.”

Davin berhenti mengelap. Dia menarik napas panjang, menunduk menatap dipan. “Jadi ..., benar?”

“Aku enggak tahu penyakitnya apa, tapi kamu harus periksa.”

Davin menoleh dengan tatapan memelas. Dia berbisik pelan sekali dengan mata berkaca-kaca. “Lu bisa bantu, kan?”

Aku hanya terdiam sembari lanjut mengelap pantat seksi itu hingga kering. Aku menggelengkan kepala.

Please ....”

“Ngompol barusan juga bagian dari ‘masalah’ itu,” bisikku. “Prostatmu mendesak kantung kemih sehingga bisa kebablasan kencing setelah ejakulasi.”

Ck!” Davin berdecak sembari menjambak kepalanya sendiri. “Please ....”

Aku menggelengkan kepala lagi. “Aku enggak bisa menjatuhkan reputasi klinikku. Kamu harus sembuh dulu.”

“Enggak ada waktu lagi!” desis Davin, hampir menangis. Dia membungkuk ke arah dipan dan menjadikan lengan depannya sebagai tumpuan. Napasnya terengah-engah. “Gue enggak bisa operasi dulu.”

“Belum tentu operasi,” balasku. “Aku enggak tahu penyakitmu apa, tapi ada kemungkinan besar ini prostatitis. Tapi, again, aku bukan dokter. Barusan cuma diagnosa sotoyku lewat apa yang kuamati. Kamu harus tetap ke dokter, cek lab, lakukan treatment-nya. Kalau bener prostatitis, paling kamu cuma perlu minum antibiotik.”

Davin tak merespons. Dia menghela napas panjang. Bahunya berguncang, seperti ingin menangis.

Aku bisa melihat impiannya hancur di depan mata.

Semua gara-gara prostatnya.

Masalahnya, apa yang dikatakan Fian, benar. Kalau dia masuk AU dan harus menerbangkan jet tempur dengan tekanan gravitasi sebesar itu ..., bisa jadi bukan hanya ngompol. Bisa jadi dia berak juga. Ini alasan utama mengapa pemeriksaan kesehatan di AU benar-benar penting. Soalnya alutsista yang digunakan lumayan sensitif pada kesalahan. Dr. Sigit kemarin bilang, dalam dunia dirgantara, tidak ada toleransi untuk kesalahan. Salah pencet dikit, bisa hancur segala-galanya.

Area perut adalah area core. Area pusat manusia. Sewaktu Kakak naik roller coaster di Dufan, area perut jadi mulas, kan? Karena setiap pergerakan kita berpusatnya ke sana. Padahal, prostat dan area selangkangan ini ada di perut. Begitu ada masalah prostat sedikit saja, atau varikokel deh, itu bisa mengganggu performa.

Sorry,” kataku, sambil menutup pembicaraan itu. “Saranku periksain dulu, ambil treatment yang bener, semoga hasil prostatic liquid-nya enggak ada yang aneh-aneh.”

Davin hanya berdiri tegak tanpa menoleh ke arahku.

“Sana. Push up dulu. Biar aku yang beresin ini semua.”

Davin pun pergi keluar area pemeriksaan dengan tatapan mata seolah-olah dia sudah mati. Sudah tak ada jiwa di dalam tubuh itu.


[ ... ]


Alasan Fian menghampiriku ke station ialah untuk menjemputku dan mengajak break bareng.

“Galak banget, sih,” komentarku sembari membereskan barang-barang di ruang pemeriksaan.

“Apanya, Dek?”

“Kasihan dia. Tertekan.”

Fian terkekeh kecil. “Adek tahu kan di akmil bakal lebih stres daripada itu?”

Aku menghela napas. “Iya, tahu. Tapi dia belum keterima aja udah digalakin kayak begitu.”

“Kalau sekarang aja dia udah keok, mendingan dia tahu sekarang daripada tahunya pas udah di pendidikan. Ngabis-ngabisin duit negara kalau ujung-ujungnya menyerah juga.”

Aku tak bisa mendebatnya. Kurasa Fian benar dengan semua itu. Aku enggak mau negaraku mempekerjakan prajurit yang enggak bisa menghadapi tekanan mental. Apalagi prajurit yang punya penyakit dalam.

Jadi, aku memutuskan tak akan membantu Davin. Aku akan menyerahkan sampel cairan prostat dan sperma ini apa adanya. Kalau dalam cairan prostat Davin ada mikroorganismenya, maka Davin kemungkinan prostatitis. Hal pertama yang harus Davin lakukan adalah mengobatinya sampai sembuh. Bukan mendaftar ke Angkatan Udara.

“Aku udah siap,” kataku. “Emang aku mau diajak ke mana?”

“Sekitar sini, lah.” Fian bangkit dan menduluiku keluar dari station. “Adek belum dikasih konsumsi, kan?”

“Belum.”

“Ya udah, kita ambil di depan aja. Biar mereka yang jaga di sini.” Fian menunjuk Nadhif dan Wandi dengan dagunya.

Suasana di aula itu cukup ramai karena setiap station sudah selesai dengan sesi pertama. Setiap petigas medis bersiap untuk melakukan break. Aku melihat dr. Sigit masih melakukan pemeriksaan ke lima calon taruna di bilik kemarin. Station cek buta warna sudah sepi, petugasnya sedang asyik berkumpul sambil makan gorengan.

Break pertama ini agak lama—hampir kayak makan siang,” terang Fian seraya berjalan di depanku dengan tegap, gagah, dan menjulang. “Soalnya mau ada gladiresik di depan sana. Jadi sebagian orang disuruh ke sana dulu. Kita baru mulai lagi jam 11-an entar.”

Mood-ku sudah membaik. Aku sudah melupakan pelecehan Davin di ruang pemeriksaan dan memoriku kembali ke kejadian semalam saat Fian menciumku. Sampai detik ini kami belum membahasnya lagi. Fian juga enggak ngomong apa pun yang nyerempet ke arah sana.

Emang kayak gini ya cowok straight?

Nyipok orang seenaknya, lalu enggak mau bahas?

Mungkin ini alasan kenapa kita cowok gay jangan pernah jatuh cinta sama cowok straight.

Soalnya, meskipun nyebelin, cowok straight bisa tetep bikin hati berbunga-bunga.

Kayak aku, sekarang. Senyumku lebar melihat punggung kekar Fian dari belakang. Tangannya berayun dengan maskulin, enggak ada ngondek-ngondeknya. Sepatu bot Fian berkelotak garang di dalam aula. Beberapa taruna yang masih muda memberikan hormat ke Fian dan Fian membalasnya dengan penuh karisma.

Aku bangga sekali pernah dicipok lelaki ini.

Apalagi aku yakin ..., mungkin aku satu-satunya lelaki yang dicipok Fian. Sisanya pasti perempuan kayak Ida, atau mantan-mantannya Fian.

Jujur, aku rapopo kalau selamanya enggak bisa miliki Fian. Toh, Fian kayaknya straight. Kalau aku hanya dijadikan pelampiasan saja, misal Fian lagi pengin ngewe ama cowok, kayak yang dilakukan Xavier, aku ikhlas lillahi ta’ala menjadi boneka seksnya. Jadi top maupun bottom aku enggak akan nolak. Aku enggak akan sok-sok konservatif dengan merasa HARUS jadi bottom karena Fian badannya gede, kekar, macho, dan straight. Menurutku kalau Fian lagi pengin ditusuk, aku akan tusuk Fian dengan puas. Enggak peduli kalau hal itu melanggar norma di dunia per-gay-an bahwa orang macam aku harusnya jadi boti saja.

Intinya, aku akan mensyukuri kebersamaanku bersama Fian. Aku harap aku bisa begini terus sama Fian. Berada di circle-nya Fian. Disayangi seolah-olah aku adiknya. Dicemburui karena Bondan mendekatiku.

Aku akan melakukan apa pun untuk meyakinkan Fian, bahwa it’s okay kalau dia mau menciumku lagi. Aku enggak masalah jika aku harus—

“Heeeyyy ... Abaaang!”

Boti puskesmas itu tetiba muncul dari station-nya dan menghampiri kami.

Aku sampai berhenti melangkah karena terkejut. Fian juga berhenti melangkah. Dia menyambut boti itu dengan ramah.

“Aman?” sapa Fian.

“Aman, Bang. Non-reaktif semua.” Lelaki itu lebih tinggi sedikit dariku. Badannya mungkin atletis karena nge-gym. Kulitnya juga mulus. Pasti skincare-nya mahal. Bisa jadi kamar kosan dia ada AC-nya. Aku suka sepatunya, tapi karena aku enggak suka orangnya, aku jadi benci sepatunya. Dia mengenakan seragam perawat di puskesmasnya. Aku bisa membaca lanyard-nya bertuliskan:

Fariq Alexander Kelvin.

FAK. Nama dia aja bagus. Ada huruf Q, X, dan V.

Begitu dia mendekat, aku yakin alisnya disulam.

Fariq ini boti yang kemarin kulihat memegang lengan Fian dengan manja sambil ngobrol entah apa. Aku tahu Fian enggak punya cowok. Aku tahu boti mana pun masih berhak untuk modus ke Fian, termasuk Ezelio yang enggak punya semangat hidup itu. Tapi aku enggak suka melihat boti ini terang-terangan menggoda Fian.

“Masih berapa lagi yang VCT?”

“Baru setengahnyaaa ...,” jawab Fariq sambil berdiri di depan kami dan memiringkan kepalanya menatapku. “Siapa ini?” Fariq membaca lanyard-ku. “Oh.”

Oh?

OH?!

Namaku ada enam huruf, ya. ROHMAT. Bukan cuma OH aja. Masih ada R, M, A, dan T!

Aku enggak menyalami dia karena dia pun enggak mengulurkan tangannya. Jadi aku hanya menjawab, “Oh,” juga.

Namun Fariq tetap menyapaku dengan ramah. “Halo, aku Lexa!”

What the fuck?!

Di antara Fariq Alexander Kelvin dia memutuskan untuk mengambil nickname LEXA?! Kurang boti apa orang ini, hah?!

“Mat,” kataku mengenalkan diri. Memangnya kamu aja yang bisa seenaknya ngambil beberapa huruf dari namamu?!

“Rohmat station-nya di sana,” Fian menunjuk ke station yang memang agak terisolasi, di belakang station-nya dr. Sigit. “Ngecek prostat.”

Fariq membelalak diiringi senyum sebelah. Dia paham apa yang kukerjakan. “Wah, asyik, nih!”

“Kalau Lexa ini ....” Fian mencoba mengenalkannya.

Namun Fariq tahu-tahu mengulurkan tangan mengajakku bersalaman dan menyelesaikan kalimat Fian, “... mantannya Mas Fian.”


[ ... ]


19. Ini Burung Lo Naek, Nih! (Short Version) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 21. Masa Pacaran sama Laki-Laki?!

Komentar