Halo, Kak.
Nyawaku masih melayang.
Aku lagi enggak ada di Bumi.
Ketika aku membuka pintu kamar kosan, lalu diomeli
habis-habisan oleh Xavier, aku enggak mendengarkan apa pun yang dilontarkan
bocah itu. Aku hanya masuk ke dalam. Duduk di tepi tempat tidurku. Meletakkan
ponsel di atas meja. Lalu menatap mejaku dengan tatapan kosong.
Xavier mondar-mandir mengomeliku, mengatakan bahwa aku ini
bloon meninggalkannya telanjang di dalam kamar ini, terkunci tanpa bisa keluar.
Aku enggak mendengar seluruh detail yang disemburkan Xavier, tetapi aku
menangkap beberapa poin penting, seperti misalnya dia hampir enggak bisa keluar
dari kolong kasurku karena kardus-kardusnya enggak bisa didorong, lalu dia
kejepit celah jendelaku sewaktu mencoba kabur dari sini, dan juga dia kebelet
pipis sehingga terpaksa pipis ke salah satu gelasku.
Gelasnya ada di atas meja. “Noh! Gue sampe kencing di situ,
anjing!”
Aku bahkan enggak peduli Xavier kencing di salah satu gelas
minumku. Aku hanya duduk di sana dengan tatapan kosong. Kepalaku masih memutar
ulang apa yang terjadi antara aku dan Fian di depan pintu kamar.
Aku masih bisa merasakan bibir itu.
Masih bisa menghidu aroma itu.
Masih bisa mengingat hangat napasnya, dan bagaimana bibir
tentara itu memagut bibirku dengan lembut.
“Woy!” Xavier melambaikan tangannya di depan wajahku.
Untuk sesaat, perhatianku kembali ke realita. Aku menoleh ke
arah Xavier. “Ya?”
“Elo pacaran sama si Fian itu?”
“A ... apa?”
“Gue lihat kalian ciuman! Anjir, lah!” Xavier menyugar
rambutnya sendiri, lalu menjambaknya dengan stres. “Bisa mampus gue kalau
ketahuan pernah ngentot ama elo!”
Aku menggelengkan kepala. “Bukan, kok .... Aku ..., aku bukan
pacarnya.”
“Terus kenapa kalian ciuman?”
Aku mengangkat bahu. “Aku juga enggak tahu ....”
“Tapi elo suka, kan?!”
Aku menelan ludah. Pelan-pelan, aku mengangguk.
“Ya wajar, sih! Tapi .... ARGH!” Xavier membanting ponselnya
ke atas tempat tidur. Dia berkacak pinggang sembari mengatur napasnya yang
ngos-ngosan. “Kagak mungkin gue saingan sama dia.”
Aku enggak mendengar kata-kata itu ya, Kak. Kata-kata itu
masuk ke telingaku, tetapi aku enggak memprosesnya dengan baik. Aku malah
melamun lagi. Seluruh kata-kata Xavier hanya bisa kutangkap sebagian.
“Serem gue ama dia ....
“... dan pas dia nyuruh baris ke semua siswa ....
“... wah anjir lah badannya tuh ....
“... rencana gue bisa kayak dia ....
“... lu lihat kan otot-ototnya ....
“... dari Sukabumi, lah ....
“... pokoknya pas dia ngasih surat itu ....
“... si Davin sepakat ama gue!”
Sumpah Kak aku enggak ngikutin sama sekali Xavier ngebacot
apa. Ceritanya lumayan panjang. Xavier sampai menutup pintu, menguncinya, lalu
celingukan di jendela memastikan tak ada yang mendengarkan kami di sini. Xavier
tutup tirainya rapat-rapat, lalu kembali mengoceh di depanku.
Sayangnya, aku enggak bisa berkonsentrasi.
Kepalaku masih diisi oleh bibir Fian.
Bibir yang mungkin sedang dinikmati Ida saat ini, tetapi momen
yang kurasakan bersama bibir itu nyata. Valid. Itu beneran terjadi.
“Tadi beneran terjadi, kan?!” kataku tiba-tiba.
“... dan kalau gue bisa deket ama elo ... eh, apa? Apa yang
beneran terjadi?”
“Tadi aku ciuman sama Bang Fian, kan?”
“Lah, iya! Emang elu kagak sadar?”
“Bibirku sentuhan ama bibirnya kan?”
“Iya, anjing! Bagian mana dari cipokan yang elu kagak paham,
hah?!” Xavier mendengus. “Dan gue cemburu ya. Camkan itu!”
Aku tersenyum kecil.
Kejadian itu nyata.
Ciuman itu nyata.
Xavier saksinya.
“Aku ... aku mau mandi dulu,” kataku setelah merasa puas. Aku
berdiri dan mengambil handuk di gantungannya.
“Lah, kan elu tadi udah mandi! Langsung ngewe ajalah
kita!”
Aku tak merespons kata-kata itu. Aku langsung pergi ke kamar
mandi untuk membersihkan area kontolku yang dipenuhi sperma.
Bahkan, saat aku membersihkannya, kontol itu ngaceng
lagi. Kali ini ngaceng-nya sambil terbayang-bayang bibir Fian. Keluar
dari kamar mandi, aku kelihatan kayak makhluk yang tak bernyawa. Soalnya
nyawaku sedang melayang entah ke mana.
Sekembalinya ke kamar, Xavier sudah bersiap untuk ngewe
denganku. Dengan kesal dia menutup pintu dan menguncinya. “Enggak mau tahu! Gue
udah nunggu elo di sini berjam-jam, gue harus jadi ngentot ama elo.”
Tapi enggak, Kak.
Aku enggak ngewe sama Xavier. Aku bantu ngocokin Xavier
sampai dia crot tapi enggak ada penetrasi. Aku crot juga karena
Xavier banyak bacot. Tapi sepanjang malam, ketika kami berdua tidur ....
... aku enggak bisa tidur.
Kepalaku berisi wajah Fian dan bagaimana kami berciuman. Momen
itu diputar berulang-ulang dalam otakku. Sampai pukul tiga pagi, aku tidak
merasa bosan. Aku malah senyum-senyum sendiri karena kegirangan. Aku meringkuk
dan menyilangkan tangan di depan dada. Sekujur tubuhku rasanya lemas.
Rasanya seperti dicipok cinta pertama pas lagi
naksir-naksirnya.
[ ... ]
Keesokan paginya aku berangkat ke klinik mengenakan jaket
bomber Fian. Aku turun sekitar pukul tujuh pagi, dan aku tak menemukan motor
Fian di sana. Berarti Fian sudah duluan ke lanud untuk menyiapkan acara hari
ini.
Tapi aku sempat ketemu Ida sewaktu mengantre mandi. Rambutnya
kusut. Mukanya semringah.
“Dower memek gue ...,” kata Ida sembari menggeliat di depan
pagar koridor lantai tiga. “Mau mandi aja dicium-ciumin dulu. Dibelai-belai
dulu. Digempur sama morning wood-nya diaaa ....”
“Hmmm ....”
“Ini baru dikeluarin, anjir. Berasa masih lowong terowongan
gue. Terowongan Casablanca! Masih kerasa .... Awww ....”
“Hmmm ....”
“Semalaman dihantam terus, sampe gue enggak sadarkan diri.”
“Kenapa enggak sekalian mati?”
Ida mendorong lenganku. “Sirik aja, lu!”
“Kagak!” Aku mendengus. “Kehidupan ngewe lu, bukan
urusan gue.”
“Gue pengin jadi istrinya, Mat. Yaolooo ..., perfect
banget.”
“Ah, jangan,” balasku, setengah cemburu. “Hidup dia yang perfect
bakal langsung ternodai kalau kawin ama lu.”
“Tapi dia butuh kasih sayang.”
“Ya gue juga!” sungutku.
“Kalau gue ama dia tuh, ya ... berasa disayaaannnggg ...
banget!”
Aku memutar bola mata.
“Gimana ya caranya supaya dia betah ama gue? Lo bantuin gue,
laaah ....”
“Enggaaak ....”
“Entar gue kasih produk lain buat lo jual. Bikini wax.
Buat cukur jembut.”
“Anjing!” Aku mendorong kepala Ida sampai dia hampir
terjungkal dari lantai tiga. “Lu kagak punya produk yang bener, apa?!”
“Ciwi-ciwi di klinik lu pasti butuh bikini wax,
anjir. Emang mereka mau, ngewe dalam kondisi lebat kayak gitu?!”
“Bukan urusan lu juga, anjing! Lagian kalau lu minta bantuan
gue, reward-nya jangan ngasih gue produk buat dijual, lah! Kasih gue
duit, kek!”
Atau kasih aku Fiannya secara utuh!
“Gue baper, tauuu ...!” kata Ida. Jarang-jarang dia kayak
begini. Biasanya ngewe dengan siapa pun, dia hanya akan memamerkan foto
kontol cowoknya yang dia foto diam-diam sambil tidur.
Anjir, lah. Sekarang aku jadi penasaran apakah Ida punya foto
kontol Fian yang difoto diam-diam sambil tidur?
“Kalau lihat dia tuh, bawaannya gue pengin ngangkang, mulu!”
“Anjing!” Aku menyurungkan lagi kepala Ida dengan harapan dia
jatuh ke bawah.
Namun Ida berpegangan dengan sangat kuat ke pagar sehingga dia
masih hidup. Pada saat yang sama, pintu salah satu bilik kamar mandi terbuka.
Sebelum Ida mencerocos lagi tentang kebaperannya, aku langsung berlari ke kamar
mandi itu dan menguncinya. Ida menggedor-gedor pintu dari luar, minta dia yang
duluan, karena dia yang datang pertama kali ke area kamar mandi itu. Tapi aku
enggak membukanya.
Sesampainya di lanud, suasana terlihat lebih ramai
dibandingkan sebelumnya. Di halaman depan, berbaris puluhan calon taruna
mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Ada perempuannya, pula. Kata tentara
yang menjemputku dari klinik, mereka sudah melewati tes kesehatan dan akan
mengikuti tes kesamaptaan jasmani.
Truk tentara yang kutumpangi langsung berhenti di depan aula.
Lima puluh calon taruna yang akan melaksanakan tes kesehatan hari ini berbaris
dengan rapi di satu sisi. Di sisi lain, berbaris 40 calon taruna kemarin yang
hari ini akan kuambil cairan prostatnya. Ternyata, bukan hanya cairan prostat
saja yang akan diambil. Mereka juga akan melakukan tes psikologi dan litpers
tertulis hari ini. Kloter dibagi empat. Sehingga aku bisa mengambil break
setiap kira-kira dua jam. (Tergantung secepat apa aku mengeluarkan cairan
prostat itu dari kontol mereka.)
Aku turun dan mengarahkan para taruna itu untuk membawa
kontainer kriopreservasi ke bilikku. Kontainer ini berisi wadah steril dan
sebuah perangkat untuk menyimpan sperma, sekaligus cairan prostat, agar nanti
bisa diteliti oleh dokter di klinikku secara lebih lanjut. Setiap cairan itu
akan diawetkan untuk sementara pada suhu di bawah 75˚ C. Kalau mau lebih lama
lagi akan dibekukan dengan nitrogen cair dan cryoprotective agent agar
spermatozoanya tidak rusak. Tapi berhubung dokternya akan mengecek setiap cairan
ini dalam satu minggu ke depan, aku tidak perlu membekukannya sejauh itu.
Soalnya, operational cost-nya tinggi juga. Diam-diam klinikku memberikan
invoice yang menyebutkan nitrogen cair ke lanud, padahal kami tidak
benar-benar menggunakannya.
Yah, namanya juga sebuah perusahaan swasta yang sedang mencari
cuan.
Tolong jangan bilang-bilang Fian maupun semua tentara di sini,
apalagi sampai bilang ke Kemenhan, bahwa kami melakukan ini, ya. Please.
Klinikku butuh duit untuk menggaji karyawannya. Waktu dr. Sigit dengan
gila-gilanya keidean mengecek cairan prostat calon taruna, klinikku menyanggupi
sambil menawarkan program diskon.
Padahal harga aslinya jauh di bawah program diskon itu.
Sepanjang perjalanan aku agak deg-degan dikelilingi tentara
yang kepo sama kontainer kriopreservasiku. Takutnya mereka bertanya macam-macam
soal isinya apa, lalu aku keceplosan mengatakan di dalamnya tidak ada nitrogen
cair seperti dalam invoice.
Tapi ternyata pertanyaan yang muncul dari salah satu tentara
malah begini, “Ini tuh buat meras susu sapi ya, Mas? Yang di Harvest Moon?”
Bentuk kontainernya memang seperti tabung gas besar warna
abu-abu. Hampir seperti kaleng untuk memerah susuh yang ada di Harvest Moon.
Namun dengan sabar aku menjawab, “Ini isinya wadah steril buat
ambil sampel, sama nitrogen cair yang mahal itu, Pak. Yang buat jaga sampelnya supaya
enggak rusak. Semua yang ada di invoice ada di sini, kok. Bener!”
“Ooohhh ....” Si tentara manggut-manggut, sambil masih kepo
dengan kotak itu. “Tapi kalau dipake buat nyimpan susu yang diperas ... itu
bisa?”
SAKAREPMU!
Seluruh kontainer itu langsung dibawa ke bilikku dengan
hati-hati oleh para taruna. Aku memerintahkan mereka meletakkannya di satu
sudut sementara aku menyiapkan segala jenis peralatan yang kubutuhkan. Tisu
basah, pelumas, sarung tangan, wadah-wadah steril, lap, antiseptik, pispot, dan
lain-lain.
Dr. Sigit masuk ke bilikku sebelum acara dimulai. “Pagi, Mas.
Sudah siap semuanya?’
“Oh, sudah, Pak.”
“Temannya ada yang ikut?”
“Hari ini shift di klinik lagi sepi, Pak. Jadi saya aja yang
ambil sampelnya.”
“Oooh ... ya udah. Toh kemaren juga kamu bisa ambil sampe
sendiri, kan. Saya tempatin anak buah di sini, ya.” Dr. Sigit memanggil Nadhif
yang kemaren aku pijat prostatnya sampai crot dan satu orang tentara
lain bernama Wandi. Mereka berdua langsung ditugaskan menungguku di bilik ini
dan bersiap mematuhi perintah, kapan pun kubutuhkan.
“Tapi kalian tunggu di sebelah situ aja. Enggak perlu ngintip
ke dalam. Ya?” titah dr. Sigit.
“Siap, Komandan.”
Bilik itu cukup luas. Ada dua meja besar di dekat pintu masuk,
dengan tiga kursi kosong. Semua peralatanku diletakkan di satu meja, sementara
meja satu lagi berisi dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Wandi yang akan mengisi
dokumen itu untuk penyesuaian data. Nadhif yang akan berjaga dan melucuti para
calon taruna.
Setengah dari bilik itu disekat oleh partisi tirai yang
tinggi. Sehingga, privacy calon taruna terjaga. Di balik tirai itu ada
satu ranjang pasien yang berkasur tipis. Mungkin diambil dari barak akmil di
sini. Permukaan kasurnya dari bahan sintetis, sehingga mudah dilap jika banyak
cairan menetes atau berceceran ke atasnya.
“Kalau memungkinkan, Mas bisa langsung ambil spermanya saja,
ya,” kata dr. Sigit. “Kalau enggak berhasil keluar dalam sepuluh menit, gapapa.
Nanti mereka tetap akan diambil sampel spermanya dengan cara biasa. Antara kita
bikin sesi khusus untuk itu, atau Mas bisa rujuk ke klinik Mas untuk ngambil
sperma. Kasih ke saya aja rekomendasinya. Entar saya yang tanda tangan. Cuma
kalau Mas berhasil dapatin spermanya hari ini juga ..., kita bisa hemat waktu
aja.”
“Baik, Pak. Saya usahakan, ya.”
“Kalau perlu lihat film porno juga kasih aja. Mas punya, kan?”
Ya punya, sih. Tapi isinya laki disodomi laki, Pak.
Supaya lancar, aku tetap mengangguk. “Insyaallah bisa saya
carikan, Pak.”
“Atau suruh si Nadhif aja, nih. Kamu sering onani pake film
porno enggak?”
Nadhif yang sedang berdiri dengan damai di belakang dr. Sigit,
langsung memerah. Dia jadi bulan-bulanan sang dokter sejak kemarin.
Dicolok-colok anus sampai crot, lah. Ditodong soal bokep, lah. Wajar
kalau Nadhif hanya terkekeh malu sambil menyenggol Wandi di sebelahnya.
Wandi yang menjawab, “Tenang, Komandan. Koleksi si Nadhif
mantap-mantap.”
“Enggak, woy!” Dengan salah tingkah Nadhif memukul lengan
Wandi. Mukanya memerah malu. “Enggak, Komandan. Enggak ada. Tapi kalau
diperlukan, nanti saya bantu Mas Rohmat.”
“Ya sudah. Tolong support Mas Rohmat di sini. Nanti
sekali dua kali saya ke sini untuk memantau.”
Selepas kepergian dr. Sigit, aku kembali membereskan station-ku.
Kutarik satu meja kecil dari ruangan lain—dibantu oleh Nadhif—agar aku bisa
meletakkan barang-barang yang siap pakai. Soalnya kalau crot kan harus
seketika ditampung, enggak bisa diatur keluarnya kapan. Jadi wadah sterilnya
pun harus siap sedia.
Nah, ketika beres-beres itu, Fian datang ke bilikku.
“Pagi!” sapanya. Dia masuk sendirian, mengenakan seragam
tentara loreng-loreng. Lengkap dengan sepatu bot tinggi, lengan kemeja
dilinting hingga ke siku, dan sabuk yang besar. Fian tampak gagah dan tampan.
Senyumnya juga ganteng.
Malu-malu, tapi dia lebih bisa menguasai dirinya.
Kalau aku sih salah tingkah. Sewaktu Fian menyapa barusan, aku
enggak berani menatap wajahnya. Bukan karena aku marah, melainkan aku malu.
Mukaku kayaknya memerah. Aku mengatur wadah steril berulang kali di atas meja
karena aku enggak tahu harus ngapain sekarang.
“Udah siap semua?” tanya Fian.
“Ini ... lagi disiapin.” Aku menahan diri agar tidak tersenyum
gembira, tetapi bibirku malah berkedut-kedut kayak yang penyakitan.
“Ada yang kurang?”
“Enggak ada.”
“Ditemenin siapa ini?” Fian menoleh dan melihat Nadhif maupun
Wandi berdiri tegap di belakangnya, dengan sikap sempurna. “Jagain Mas Rohmat,
ya.”
“Siap, Komandan,” balas keduanya berbarengan, dengan suara
tegas dan lantang.
“Kalau ada calon siswa yang kurang ajar, kalian hantam aja.”
“Siap.”
“Pastikan semuanya sesuai prosedur. Jangan sampai ada yang
macam-macam. Lapor ke saya kalau ada yang nyeleneh. Paham?”
“Siap, paham!”
Fian lalu menarikku ke balik tirai agar dapat berbicara dengan
lebih private. “Semua aman kan, Dek?”
“Aman, Bang.” Aku masih belum bisa menatap wajah ganteng itu,
karena nanti kelihatan naksir banget. Ingin sekali aku bertanya soal ciuman
semalam, tapi kayaknya enggak mungkin aku membahas itu di sini. Malu juga.
Harusnya aku diam saja dan nikmati.
“Cukup enggak tidurnya?”
“Cukup.”
Cukup dikit maksudnya. Sebab semalaman
malah mikirin kamu, Bang. Mikirin bibir kamu.
Dan barusan aku melirik sedikit ke bibir Fian.
Anjay.
Pengin kucipok lagi.
“Sorry Abang enggak bisa berangkat bareng Adek tadi
pagi.”
“Gapapa. Kan aku baru berangkat jam tujuh juga.”
“Soalnya Abang juga pulang ke rumah semalam. Abang enggak jadi
nginap di kamar Dek Ida.”
Aku menoleh seketika. “Abang enggak nginap?”
Dia menggelengkan kepala. “Enggak jadi. Abang semalam ngobrol
sama Bondan. Mastiin dia enggak ngapa-ngapain Adek semalam. Makanya Abang
pulang.”
Aku menyipitkan mata. Aku enggak begitu peduli pada topik
Bondan. “Terus kalau Abang semalam enggak nginap di kamar Ida ....”
“Oh, ada temannya Dek Ida yang nemenin. Gara-gara Abang
pulang, Dek Ida ngambek, jadi dia nelepon temennya buat nginap bareng.”
Aku masih membeku dan menyipitkan mata menatap wajah ganteng
itu.
Terus ....
... siapa yang dibahas si Ida pagi tadi, dong?
Yang bikin memek Ida dower?
Itu bukan Fian?!
“Kalau ada yang macam-macam,” kata Fian, sambil celingukan
melewati sekat tirai. “Adek lapor aja ke Abang.”
Aku masih belum mencerna statement itu karena aku
penasaran siapa yang dibahas Ida pagi tadi. Setelah dipikir-pikir, Ida memang
bilang dirinya masih digempur oleh morning wood si cowok ini sebelum
naik ke atas untuk mandi. Sementara Fian sudah harus ke lanud jam enam pagi.
Ada kemungkinan, yang Ida baperin tuh bukan si Fian!
“Dek?” Fian melambaikan tangan di depan wajahku.
“Oh? Iya. Iya.” Aku mengangguk, masih tak berani menatap Fian.
“Seperti kemaren, Abang bakalan sibuk keliling. Tapi nanti
Abang mampir ke sini beberapa kali. Udah di-briefing soal pembagiannya,
kan?”
“Sudah, Bang. Ada empat kloter.”
“Iya. Tiap dua jam Adek istirahat dulu. Toh merekanya lagi ada
di tes yang lain.”
“Iya, Bang.”
Fian menghela napas. Membiarkan jeda di antara kami berdua.
Mungkin dia ingin mengatakan sesuatu soal tadi malam, tetapi Fian tidak
seberani itu untuk memulainya. Jadi Fian hanya celingukan ke sana kemari,
pura-pura mengecek situasi. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana,
terlihat gugup.
Aku apalagi.
Enggak usah nanya kondisiku, yes. Aku menunduk sambil
pura-pura mengatur wadah steril ke sana kemari tanpa juntrungan. Mukaku memerah
karena malu-malu kucing. Kontolku sudah pasti ngaceng di balik celana.
Rasanya ngilu. Soalnya, semalam aku crot dua kali. Fian ini pakai baju
tentara saja bikin homo kayak aku klepek-klepek. Kalau dia bugil dan ngajak ngewe,
apakah nyawaku masih intact di body ini?
Fian yang sedang menyapu pandangan ke sekeliling menemukan
jaket bombernya disampirkan di atas kursi. “Itu ....”
“Kenapa Bang?”
Fian tersenyum agak lebar, lalu menggelengkan kepala. “Gapapa.
Kalau gitu, Abang keliling dulu, ya.”
“Iya, Bang.”
Yaaahhh ... cipokan semalam enggak dibahas.
Tapi gapapa. Yang penting cipokannya real.
Selepas kepergian Fian, aku memulai hariku dengan mood
yang sangat baik. Kuatur semua peralatanku dengan penuh semangat. Kulakukan stretching
dengan jari-jariku supaya aku bisa fingering para calon taruna ini
dengan lebih baik. Kubaca lagi semua indikasi gangguan prostat dari sebuah
jurnal, siapa tahu aku membutuhkannya. Aku tahu aku tak punya hak dan kapasitas
untuk mendiagnosa. Tapi kalau aku menemukan anomali, kan aku bisa mengabarkannya
ke dr. Sigit untuk ditindaklanjuti.
Di titik itu aku mulai mempertimbangkan, apakah sudah
terlambat bagiku untuk mengikuti pendidikan sebagai dokter?
Tentu saja aku akan mengambil spesialisasi.
Kulit dan kelamin, kemungkinan.
Dan klinik yang kujadikan tempat praktek hanya menerima lelaki
yang masih muda.
Hahaha.
Mimpi saja kamu, Rohmat!
Memangnya kamu punya duit buat kuliah lagi—
“Pak?” Nadhif menyela lamunanku. “Batch pertama sudah
siap.”
“Oh!” Aku melompat dari kursiku. “Langsung masuk semuanya?”
“Enaknya gimana, Pak?”
“Kalau satu-satu aja gimana?”
“Bisa, Pak.”
“Terus yang lainnya?”
“Mereka nunggu di luar. Saya akan antar koordinasikan keluar
masuk.”
“Oke, kalau gitu. Boleh. Masuk aja yang pertama.”
Prosesnya berjalan lancar. Semuanya
bisa kuambil cairan prostatnya, meskipun ada juga yang butuh waktu lebih lama
untuk mengeluarkan cairan. Sebagian besar dari mereka juga ejakulasi. Crot-crot-crot.
Kutampung spermanya ke dalam wadah steril dan kumasukkan ke dalam kontainer.
Calon taruna yang tidak berhasil kuperah kontolnya hingga mengeluarkan air mani
kuberikan surat rujukan ke klinik, atau menunggu instruksi selanjutnya dari
koordinator acara terkait pemeriksaan sperma.
Para calon taruna ini takjub karena
bool mereka terasa enak saat dicolok-colok jari. Mereka adalah
orang-orang konservatif yang percaya bahwa sodomi itu dosa besar, sehingga
memasukkan apa pun ke bool akan terasa menyakitkan. Ada dari mereka yang
tersenyum lebar seperti orang nge-fly sewaktu prostatnya kupijat dengan
lembut. Orang itu merasa tercerahkan dan kayaknya akan mulai rajin mencolok
duburnya hingga merasa keenakan.
Paling epik adalah Yudi. Calon
taruna yang crot dua kali sewaktu kuperiksa kemarin. Dia crot dua
kali lagi di pemeriksaan ini. Tapi crot-nya tak terkontrol sehingga
sampel spermanya tak berhasil kutampung ke dalam wadah steril. Alhasil, dia
harus melakukan pengambilan sampel ulang. Dan anehnya, dia request
diambilnya olehku.
Enak, katanya. Dia pengin aku
menyentuh tubuhnya lagi karena dia merasakan kenikmatan yang belum pernah dia
dapatkan sebelumnya.
Bau-baunya bakal jadi homo nih ke
depannya.
Begitu Yudi keluar dari bilik
pemeriksaan, kontolnya masih ngaceng dan memerah. Aku langsung
membersihkan kekacauan yang dihasilkan Yudi. Soalnya, selain crot dua
kali, dia juga terkencing-kencing karena keenakan. Keringatnya menempel di
dipan. Sehingga aku harus mengelap dan membereskannya terlebih dahulu sebelum calon
taruna berikutnya datang. Kebetulan Yudi adalah peserta kesembilan, sehingga
orang berikutnya akan menjadi peserta terakhir di batch ini sebelum aku
mendapatkan break pertama.
Namun langkahku sempat terhenti
sejenak ketika aku melihat ....
... Davin telanjang di depanku.
Davin adalah calon taruna yang
kemarin sore kencing terakhir sewaktu sampel urin diambil. Aku yang
menanganinya. Dia memelas-melas kepadaku untuk menukar hasil kencing Davin
dengan kencingku. Dia merasa ada masalah dengan selangkangannya, tetapi dia tak
bisa mengambil risiko gagal diterima AU. Dia punya ide menukar kencingnya
dengan kencingku karena dia adalah kawan baik Xavier.
Dan Xavier, si remaja bloon itu,
mengatakan soal aku menggantikan hasil diagnosa testis Xavier, dengan diagnosa
testisku sendiri.
Davin sempat mengancamku, kalau
tidak membantunya, dia akan membocorkan apa yang kulakukan bersama Xavier tempo
hari.
Namun kemarin aku tidak mengikuti
permintaannya. Aku tetap memaksanya kencing dan mengumpulkan sampel urin itu
bersama yang lain. Aku mengabaikannya. Aku ketakutan dan panik, tetapi aku
menenangkan diriku berkali-kali bahwa Davin tak akan bisa melakukan itu.
Davin tak punya bukti.
Xavier juga tak punya bukti.
Tak ada yang punya bukti bahwa aku
menggantikan Xavier untuk tes USG testis itu.
Namun tetap saja, aku keder ketika
melihat Davin berdiri telanjang di depanku. Wajahnya tenang dan terkontrol. Dan
jangan lupa, ganteng. Menurutku, Davin adalah calon taruna terganteng di batch
pertama ini. Badannya atletis sempurna. Ototnya belum kekar banget karena dia
kan masih muda, masih 18 tahunan saja. Tapi otot itu kalau difoto dengan angle
yang bagus, kelihatan kayak body model-model di Eropa.
Kontolnya?
Menggiurkan. Ukurannya normal.
Disunat rapi. Dengan jemput yang lebat, tapi area tumbuhnya enggak luas. Hanya
sekitar pangkal kontolnya saja. Kayak kontol anak SMP. Mana tubuh Davin mulus,
pula. Belum banyak cacat atau luka.
Kontol Davin kayaknya sudah ngaceng
setengah. Kontol itu menggantung cukup panjang ke bawah. Buah zakarnya tampak
besar. (Masih lebih panjang kontol Xavier.) Kepala kontolnya bulat dan besar.
Berwarna pink terang.
Davin menatapku dengan serius.
Aku menyambutnya dan langsung
menyebutkan prosedur yang akan kami lakukan di sini. Sengaja aku bersikap
profesional, seolah-olah aku lupa pada permintaan Davin kemarin sore. Davin
tidak memberikan banyak respons. Dia hanya mengangguk dan mengafirmasi berbagai
pertanyaanku.
Dalam tempo kilat, kami pun masuk
ke dalam bilik pemeriksaan. Kupikir dia sudah melupakan kejadian kemarin,
tetapi aku salah.
“Kak, tolong gue, please.” Itu
kata-kata pertamanya ketika kami hanya berdua saja di bilik pemeriksaan. Suaranya
hampir berbisik. Davin menoleh ke belakang, memastikan Nadhif dan Wandi tak
bisa mendengarnya.
Aku juga melongokkan kepala ke
balik sekat tirai. Lalu, aku menggelengkan kepala. “Sampel urin kemarin sudah
dikirim ke lab. Saya enggak bisa bantu apa-apa.”
“Hasilnya gimana?”
Aku menggelengkan kepala. “Saya
bukan orang yang meriksanya, Mas. Petugas lab yang periksa. Saya cuma ambil
sampel aja.”
“Ck!” Davin menyugar
rambutnya dengan pasrah, kemudian menjatuhkan pantatnya ke atas dipan. Dia
menghela napas panjang. Wajahnya tampak sedih. “Gue takut ada apa-apa.”
Aku iba, tetapi aku beneran tak
bisa melakukan apa-apa. Yang bisa kulakukan hanyalah menenangkannya. “Harusnya
enggak ada masalah apa-apa, Mas. Kalau ada yang mencurigakan juga ..., dari
pemeriksaan narkoba udah bakal ketahuan.”
Davin terlihat cemas. Dia menatapku
dengan tatapan memelas, sembari tiba-tiba mengocok kontolnya sendiri. “Kalau
yang sekarang gimana?”
“Gimana apanya?”
“Kakak bisa bantu gue?”
“Maksudnya gimana?”
“Gantiin gue?”
Aku menggelengkan kepala secara
otomatis. “Enggak bisa,” kataku. Dalam kepalaku, terbayang kata-kata Fian
semalam bahwa aku harus bersikap jujur dalam pemeriksaan. Menjadi TNI AU itu
membutuhkan kesempurnaan yang tinggi. Membutuhkan inteligensia dan kesiapan
fisik yang jauh di atas rata-rata warga sipil. Setiap tes ini ada maksudnya. Punya
cacat sedikit di kontol bisa memengaruhi performa sang tentara di medan perang.
“Please. Gue bayar!”
Aku menggelengkan kepala lagi.
“Bukan soal uang, Mas.”
“Sumpah, gue rela ngelakuin apa pun
ama elo. Gue tahu elo belok. Gue enggak masalah buat ngelayanin nafsu lo. Yang
penting lo bantuin gue!”
Kok aku tersinggung ya mendengar
itu? Bukannya bersimpati, aku makin enggak mau membantu Davin kalau orientasi
seksualku direndahkan seperti itu. Kesannya aku lemah banget urusan kontol.
Enggak tahu aja dia aku bisa menahan rasa sange sejak siang hingga
malam, bertemu tentara-tentara seksi, tetapi aku menguasai diriku.
Pun, menurutku, banyak yang jauh
lebih menarik dari Davin. Memang si Davin ini berondong ganteng yang bikin homo
mana pun meleleh, tapi aku masih bisa menikmati lelaki straight ganteng
lainnya kalau aku mau. Yudi yang barusan crot dua kali saja lebih
menarik dibandingkan Davin—soalnya Yudi terlihat maskulin banget. Atau Bondan,
deh. Meskipun enggak seganteng Davin, tapi muka sangarnya, badan gemoy
kekarnya, atau sikap kasarnya, itu bikin aku meleleh dan klepek-klepek.
Dan ini belum nyebutin soal Fian,
ya.
Davin jelas kalah telak dari Fian.
Jadi, enggak ada alasan buatku
membantu Davin hanya demi menikmati tubuh Davin.
“Enggak,” kataku, sembari memasang
sarung tangan medis. “Baring, Mas.”
Davin tak mau berbaring. Dia malah
melompat turun dan berdiri menghadapku. Tubuhnya menjulang, lebih tinggi
dariku. Tiba-tiba Davin menyambar tanganku, lalu mengarahkannya ke kontol
Davin. Aku dipaksa menggenggam kontol itu.
“Ini buat elo, asal elo mau bantu
gue.” Kata-kata Davin terdengar intimidatif. Ada rasa panik tercampur dalam
nada suaranya. “Gue kasih kontol gue buat elo, asal elo bisa bantu gantiin gue
di tes ini, Kak.”
Kontol itu masih setengah kenyal
dan keras. Rasanya hangat dan lembut.
Jantungku berdebar-debar
merasakannya.
Sejenak, aku tertarik untuk
mengiakan tawaran itu. Namun tekadku lebih kuat untuk menolaknya. “Enggak
bisa,” jawabku, sembari menggelengkan kepala dan mencoba melepaskan tanganku
dari kontol itu. Namun Davin memaksaku tetap menggenggamnya. “Saya enggak bisa
bantu.”
“Please ....” Davin
tiba-tiba memegang kontolku.
Kontol yang ngaceng, karena
sedari tadi aku mainin bool calon taruna dan melihat kontol-kontol
lelaki straight ini.
“Enggak.”
“Ini burung lo naek nih!”
Aku menelan ludah. “Jawabannya
tetap enggak.”
“Kalau lo enggak bantu gue ...,”
Davin berjalan semakin dekat, sehingga aku terdorong ke dinding bilik. Aku
terpojok. Tanganku masih dipaksa menggenggam kontolnya yang lama-lama mengeras.
“... gue bakal kasih tahu orang-orang kalau lo ngebantuin si Verdian sama hasil
USG-nya.”
Aku menggelengkan kepala. “Kamu ini
ngomong apa? Saya enggak ada bantu Verdian sama sekali.”
“Kakak pikir gue enggak tahu soal
itu?” Mata Davin berkaca-kaca. Antara dia marah, panik, cemas, dan tak sabar.
“Kakak pikir gue enggak tahu apa yang elo udah lakuin sama Xavier?!”
Aku menelan ludah. Setengah ketakutan.
Dan karena ketakutan, aku meremas kontol Davin lebih kuat sebagai pertahanan
diri. Davin tidak terganggu dengan remasan tanganku di kontolnya. Dia malah
makin maju, makin mendorongku ke dinding. “Enggak ada bukti saya membantu
Verdian,” bisikku, mencoba menantangnya, sekaligus bertahan.
“Gue ngerekam waktu si Verdi bilang
soal itu ke gue.”
Bangsat!
“Gue bisa kasihin ke otoritas sini.
Elo bisa dianggap memalsukan dokumen!”
“Enggak.” Aku tetap menggeleng
dengan tegas. Pun meremas kontol itu lebih kuat, seperti ingin
menghancurkannya. “Kamu enggak bisa melakukan itu.”
“Atau gue kasih lihat chat
elo ama si Verdian di aplikasi homo?! Chat yang ada foto lo?”
FUCK!
“Bantu gue sekarang, atau gue
sebarin soal ini ke semua calon taruna. Supaya mereka tahu bejatnya Kakak tuh
kayak gimana,” ancam Davin.
Jujur, aku mulai termakan oleh
ancaman itu.
Perutku mulas.
Aku mulai ketakutan dan panik.
Hubunganku baik dengan semua calon
taruna yang kuperiksa. Aku tak ingin mereka mengetahui bahwa aku ini homo, lalu
mereka merasa tak nyaman karena selama ini diperiksa olehku. Aku tak mau Yudi
memandangku dengan hina lalu dia menolak diperiksa olehku di klinik dua hari ke
depan.
Tanganku mulai bergetar ketakutan.
“Oke?” tegas Davin. “Bantu gue,
maka Kakak bakal selamat di sini. Nama baik Kakak gue jaga baik-baik.”
Aku menelan ludah. Rasanya ingin
menangis.
“Gue bisa ngasih apa pun yang lo
butuhin, Kak. Apa pun yang enggak bisa dikasih laki-laki lain.” Davin mendengus
di depan wajahku. Wajahnya menyosor wajahku semakin dekat.
Aku tak bisa berkutik lagi.
Kepalaku sudah menempel ke dinding. “Enggak,” gumamku ketakutan.
Cup.
Tiba-tiba
....
...
Davin memagut bibirku.
Dia
mengecupku.
Mencumbuku.
Melesakkan
bibirnya ke mulutku.
Tentu
saja aku menutup mulutku agar lidah itu tidak masuk, tetapi Davin tetap melumat
bibirku dan mendorong lidahnya ke dalam.
Aku
tidak merasakan nikmat sih, Kak.
Yang
ada aku malah ketakutan.
Satu
tanganku meremas kontol Davin kuat-kuat agar dia tak nyaman. Satu tanganku
mencoba mendorong tubuh Davin. Namun semua usahaku tak berhasil membuatnya
berhenti memerkosaku.
Ciuman
itu berlangsung cukup lama hingga sebuah hal paling horor terjadi di situ.
“Adek ...?”
Fian muncul di belakang kami.
[ ... ]
18C. Maaf Udah Gangguin Adek | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 20. Kalau Cebok Tuh yang Bener! (Short Version)
Komentar
Posting Komentar