Aku lagi OTW ke rumah sakit
sekarang. Bersama Erick. Namun, ketika sampai di rumah sakit, kami dihadang
satpam di depan karena ini bukan waktu kunjung pasien.
“Saya perawat, Pak,” kataku,
berusaha masuk.
“Perawat di sini?”
“Bukan, sih.”
“Enggak boleh masuk, Pak. Mohon
maaf,” kata satpamnya dengan sopan, sambil membungkukkan badan dan merapatkan
kedua tangan.
Akhirnya Erick yang menyahut, “Saya
anggota!” Lalu dia menunjukkan KTP-nya, yang mungkin ada tulisan tentara atau
apa gitu, sehingga akhirnya satpam itu berkata ...
“Oh, silakan, silakan. Silakan
masuk.” Satpam itu membukakan pagar, bahkan menunjukkan ke arah mana ruang
rawat inap Deva.
Deva dirawat di ruang VIP. Satu
kamar isinya hanya sendiri, dengan fasilitas lengkap seperti TV, kulkas, sofabed
untuk yang menunggu pasien, bahkan saluran Netflix gratis. Ketika aku tiba di
depan kamar, kuketuk pintu dan kulongokkan kepala ke dalam.
Ibunya Deva langsung menaikkan
kepala. “Siapa itu? Ayah, ya? Atau suster?”
Tanpa bermaksud berbohong, aku
menjawab, “Saya perawat.”
“Oh! Sini masuk, Mas. Ini tolong
benerin infusnya. Kok ngaco infusnya enggak ngalir-ngalir!”
“Tunggu di situ!” bisikku ke Erick
di luar.
“Iye! Sono cepet masuk!” Erick
mendorongku.
Aku masuk ke dalam ruangan dengan
sopan.
Ibunya Deva langsung mengenaliku.
“Eh, ini kan yang kemarin?”
“Iya, Bu. Saya temannya Mas Deva,”
kataku sopan sambil membungkukkan kepala.
“Ini teman Deva, Ma,” kata Deva
dengan senyum sebelah. “Someone special.”
“Samchan special?” ulang
ibunya enggak paham. “Katanya perawat?”
“Profesi saya memang perawat, Bu.
Tapi bukan di sini. Saya mau jenguk Mas Deva.”
“Ooohhh ....” Ibunya
manggut-manggut paham. “Sekalian ya, Mas. Itu kenapa infusnya enggak netes, ya?
Entar kalau anak saya mati, gimana?”
Ingin sekali aku memutar bola mata.
Anda pikir kelangsungan hidup anak Anda ada di tetesan infus ini, hah?!
Namun, karena aku sudah sering
menghadapi keluarga pasien yang begitu, aku bergegas mengecek selang infusnya.
Kutemukan memang tetesan infusnya dihentikan dengan sengaja. “Mungkin harus
disetop dulu, Bu. Nanti saya coba tanya ke perawat di sini ya pas pulang.”
“Oh, gitu? Emang boleh?”
“Kadang-kadang harus dihentikan,
Bu. Misalnya kalau kelebihan cairan, atau mau ada tindakan medis, atau gangguan
produksi urin. Jadi ini normal, Bu.”
“Enggak akan kenapa-napa, kan?”
“Udah lah, Maaahhh ...! Biarin
aja!” seloroh Deva kesal. “Deva baik-baik aja, kok.”
“Rugi dong kita udah bayar infusnya
tapi enggak dimasukin ke badan?! Malpraktek, nih! Kita kan enggak pake BPJS!
Masak kita diperlakukan kayak pasien BPJS?! Enak aja!”
Aku memutar bola mata. “Nanti saya
bantu tanyakan ke perawat di sini ya, Bu. Ada teman saya di sini. Memang kadang
harus disetop dulu supaya tubuhnya enggak kebanyakan cairan. Kalau kebanyakan
cairan, ginjal bisa rusak juga nanti.”
“Jadi infus bikin ginjal rusak?!”
“Keluar deh, Ma! Keluar! Mama nih
ganggu aja! Udah dibilangin gapapa, jangan ngeyel!”
Ibunya Deva hanya bisa mendengus.
Dia langsung menyambar dompetnya dan bergegas keluar. “Ya udah. Mama mau ke
depan dulu. Mau beli nasi kuning!”
“Lamain, ya! Jangan buru-buru!”
kata Deva.
Deva terlihat babak belur—tapi
sudah tertangani. Ada bekas-bekas luka yang diperban. Dia enggak pakai baju
rumah sakitnya. Dia telanjang dada sehingga aku bisa melihat perban yang
dililit melintang secara diagonal dari bahu kanan ke pinggang kiri. Sudah seperti
selempang Puteri Indonesia. Padahal aku enggak ingat bagian mana dari hajaran
Fian yang harus membuatnya dibebat perban di bagian situ.
Yang pasti wajahnya jadi jelek,
sih. Mungkin rahangnya ada yang bergeser. Atau giginya lepas. Sudut-sudut mata
dan mulutnya berwarna ungu. Mata kirinya juga masih merah seperti orang yang
sakit mata—mungkin ada darah masuk kesana. Aku ingat betul sih tangan kanan
Fian menghantam wajah Deva di bagian situ.
Yang kusayangkan adalah tangannya
masih utuh. Tangan yang meremas kontol Fian seenaknya. Melecehkan seorang
tentara.
“Hey, Beb,” sapanya dengan senyum
kecil.
Belum juga aku sempat membalas,
pintu kamar terbuka dan Erick pun masuk.
Sebelum aku ngomel, Erick langsung
menjelaskan, “Disuruh masuk ama ibu-ibu yang keluar barusan!” Lalu Erick
berdiri di sudut ruangan, di samping TV, tepat di seberang tempat tidur Deva,
menatap Deva dengan ekspresi tak suka seperti predator yang bersiap membunuh.
“Tentara juga bukan?” bisik Deva.
Erick mendengarnya. “Jangan
macam-macam, ya,” sahut Erick dengan suara maskulin, tegas, dan menakutkan.
“Saya enggak takut ngambil nyawa orang.”
“Anjir ...,” balas Deva, setengah
berbisik. “Kayaknya top dominan.”
Aku langsung memberondong Deva
dengan pertanyaan tanpa basa-basi. “Kamu yang nyebarin video itu?”
“Ya kagak, lah.” Dia tersenyum
meremehkan. “Guenya aja jadi korban. Gimana caranya ngerekam? Ya Mas, ya?” Deva
melontarkan anggukan genit ke arah Erick di seberang ruangan. “Gue juga baru
tahu kalau gue viral di Lamtur.”
“Ck!” Aku mendengus kesal.
“Ibumu tahu kalau itu kamu?”
“Boleh kalau mau dikasih tahu
sekarang. Hehehe ....” Deva terkekeh dengan menyebalkan. Kepalanya miring
karena ingin melihat Erick di belakangku. “Mas dari skuadron mana, Mas? Bisa
nerbangin Hercules, enggak? Dulu saya juga pernah naik Hercules. Waktu itu—HMMMPPPHHH!“
Aku langsung mencubit kedua
bibirnya supaya dia enggak bicara ngalor-ngidul di luar topik. “Jangan bacot
dulu. Kamu tuh melakukan tindakan kriminal kemaren. Seharusnya kamu—“
“Oya?” Deva memenggal kata-kataku,
sembari menangkis tanganku dari mulutnya. “Bukannya tentaranya yang main hakim
sendiri?”
“Ya tentaranya enggak akan main
hakim sendiri kalau kamunya enggak macam-macam.”
“Tetap aja pelanggaran, anjir.
Enggak boleh tentara kayak gitu ke warga sipil. Itu artinya melanggar HAM.”
“Ya kagak, lah, goblok!” sahut
Erick kesal. “Pelanggaran HAM tuh nyulik aktivis pas 98, itu baru pelanggaran
HAM, anjing!”
Ya enggak perlu disebutin juga,
tolol! sahutku dalam hati sambil memutar
bola mata. Tentara macam apa sih ini, ngungkit-ngungkit aib instansi
sendiri?!
“Dev ...,” kataku, sambil
membungkuk lebih dekat dan bicara dengan suara lebih tenang, siapa tahu dia mau
luluh. “Salah enggak salah yang tentara itu lakukan kemaren—“
“Sebut nama aja, anjir. Hahaha.
Namanya Rafianto! Gue juga tahu!” sela Deva bangga.
“Dia melakukan itu untuk bela
diri,” lanjutku.
Namun Deva langsung menimpaliku.
“Bela diri dari siapa, hah? Emang gue bisa apa? Gue bukan siapa-siapa. Warga
sipil lemah tak berdaya, enggak megang senjata, warga negara yang harus
dilindungi sama tentara—“
“Si Fian juga kagak bawa senjata,
anjing!” Erick mulai nafsu. Dia melangkah lebih dekat, tetapi aku langsung
mengangkat tangan agar dia tetap merapat ke tembok. “Kita mampusin sekarang
aja, lah.”
“Enggak gitu cara mainnya, Bang,”
sahutku dengan suara tinggi. “Ini orang emang kayak tahi. Makin kita obok-obok,
makin nyebar ke mana-mana tahinya.”
“Enak aja!” Deva mendengus sambil
melipat tangan di depan dada. “Elu kali yang tahi, ROHMAT! Diajak kerja sama,
malah sok-sok suci nolak tawaran gue.”
“Kamu tuh ngajak aku melakukan
pelecehan! Mana mau aku ngelakuin itu!”
“Munafik, anjing! Padahal elo juga
suka!”
“Mau kamu tuh apa, sih?” desakku.
“Enggak cukup muka bonyok gini buat kamu introspeksi diri, hm? Enggak mikir
gitu kalau yang kamu lakukan ini salah, Dev? Kalau kamu tuh udah ganggu orang
lain?”
Rahang Deva mengeras. Dia
tersinggung dan tak suka dengan kata-kataku. Namun dia tak bisa berbuat banyak.
Kayaknya bergerak sedikit, badannya terasa sakit. Jadi dia hanya menatapku
tajam, mencoba mencari kata-kata yang tepat ... eh aku ralat ... mencoba mencari
kalimat-kalimat panjang bak novel romance yang tepat untuk membalas
kata-kataku.
Setelah menatap selama beberapa
detik, dengan tatapan tajam, aku melihat pandangan itu melunak. Bahkan, agak
sedikit ada air mata menggenang di bola matanya. Lalu, dengan suara pelan, dia
berkata, “Gue mau elo.”
Aku menggelengkan kepala. “Kamu
enggak mau aku,” tegasku, dengan suara pelan juga. Bahkan, hampir berbisik.
Sedapat mungkin tidak kedengaran oleh Erick. “Kamu mau akses yang aku punya.
Akses ke something yang kamu suka.”
Deva sudah ingin membantah, tetapi
dia mengangkat kedua bahunya, “Iya itu juga, tapi gue beneran pengin elo.”
Aku menggelengkan kepala lagi.
“Enggak, Dev. Kamu enggak pengin aku,” bisikku. Membungkuk lebih dekat. “Tolong
pahami kalau kita enggak bisa dapatin semua yang kita inginkan.”
Deva enggak terima. “Oh, gue sih
bisa!” katanya, dengan suara lebih keras. “Gue bukan orang bego. Gue bisa bikin
kalian-kalian dipenjara. Mumpung videonya makin viral.”
Aku menoleh ke arah Erick dan
menemukannya terlihat marah. Amat, amat marah. Kedua alisnya mengerut ke
tengah. Kedua tangannya mengepal di samping tubuh. Rahangnya mengeras. Amarah
ini bahkan tak pernah muncul ketika dia marah-marah sama adiknya sendiri. Bisa
dibilang, nafsu membunuh itu benar-benar nyata. Seperti yang komentator di
video itu bilang, tentara punya superiority complex di mana pengendalian
emosinya benar-benar buruk dan tak terkontrol. Erick menunjukkan tanda-tanda
itu.
Terpancing oleh Deva yang memang
sengaja memancing emosi Erick keluar.
“Gue udah enggak takut mati,” kata
Deva congkak. “Udah hampir mati juga kemaren. Udah ngalamin near death
expedition.”
“Hah?”
“Kalau gue bikin konferensi pers,
ngasih tahu orang-orang kalo gue yang ada di video itu, yang dikeroyok ama
tentara-tentara itu, mampus kalian semua! Se-Indonesia benci ama kalian.
Ditangkapin kalian satu-satu ama polisi. Dipenjara di Polres!”
“Idiot atau apa sih ini makhluk?!”
sahut Erick, makin nafsu. “Lu pikir polisi bisa nangkapin tentara, hah?!”
“Dev!” sergahku, sebelum melantur
ke sana kemari, “kalau kamu orang baik—“
“Gue mah orang baik! Kalian nih
yang serakah!” potong Deva.
“Kalau kamu tampil ke publik,”
sergahku lagi, “semua orang bakal tahu kamu siapa. Setahuku, orang-orang di
negara ini juga enggak suka sama orang-orang yang ‘belok’ kayak kamu. Lebih
dibenci malah dibandingin tentara. Kamu enggak akan menang, Dev. Enggak akan
ada yang bersimpati, apalagi kalau orang-orang tahu apa alasan Bang Fian
ngehajar kamu kemaren.”
“Halah! Enggak ada buktinya juga,
kok. Hahaha. Sementara kalian kan ada buktinya! Kalau gue ... mana buktinya gue
ngelecehin? HAHAHA ...!”
Bangsat. Benar juga yang dia
bilang.
“Bisa aja gue bilang, kalian yang
mau lecehin gue, terus gue nolak, terus gue dihajar. Hahaha ....”
“Enggak ada bukti tentara-tentara
ini mau ngelecehin kamu—“
“Makanya!” sahut Deva bangga.
Dagunya terangkat, merasa menang jackpot. “Elo enggak punya bukti
pelecehan, jadi gue juga bisa ngarang-ngarang cerita supaya kalian mampus
semua.”
“Apa mau kamu?” todongku tegas
kemudian.
“Elo tahu gue mau apa, Rohmat.
Enggak usah pura-pura.”
“Enggak, aku enggak tahu.”
Deva menyambar tanganku dan
menarikku mendekat. Wajahku hampir menabrak wajahnya yang bonyok, tetapi
perutku tertahan oleh rel samping ranjang Deva yang kebetulan sedang dinaikkan
ke atas.
Di telingaku dia berbisik, “Gue
pengin milikin si Fian sehariii ... aja. Pacaran ama dia. Nge-date. Ngewe.
Cuddle. Cipokan. Kalau elo bisa ngabulin itu ..., gue janji gue enggak
akan perpanjang masalah ini.”
Aku langsung menoleh ke arah Deva.
Kulihat matanya berair.
Dia seingin itu menikmati Fian.
Seolah-olah itu impian terbesarnya sepanjang hidup. Seolah-olah memiliki Fian
sama dengan naik haji.
“Gue tahu dia straight. Kita
enggak bisa ngubah itu. Tapi dia tuh perfect, Rohmat,” bisik Deva
kemudian, menatapku lagi dengan pandangan memelas, seolah-olah hanya akulah
yang bisa mengabulkan keinginannya yang nyaris mustahil ini. “Dia itu tipe gue.
Mukanya. Badannya. Suaranya. Senyumnya. Pekerjaannya. Enggak ada yang lebih perfect
dari dia. Gue love at first sign ama dia waktu kita makan di kafe. Gue
enggak bisa berhenti mikirin dia.”
Aku menggelengkan kepala. “Itu
enggak mungkin, Dev .... Setelah apa yang kamu lakukan ke dia, mana mau dia
ngelakuin itu ke kamu.”
“I know,” kata Deva.
“Makanya kalau elo berhasil ngasih gue itu, gue janji bakal tutup mulut. Tapi
kalau enggak ....” Deva menaikkan lagi suaranya agar Erick juga ikutan
mendengar, “... gue bakal kontak Lamtur, supaya isu kalian diperpanjang, kalau
perlu melibatkan pihak berwenang. Gue bakal bikin semua orang makin benci ama
kalian. Gue tahu posisi gue kuat. Kita warga negara Indonesia kedudukannya
lebih tinggi dari kalian para tentara. Kita ini yang gaji kalian. Kalian itu
yang kita bayar buat melindungi kita. Bukan justru kalian yang jadi tukang
jagalnya!
“Camkan ini!” tegas Deva. “Gue
enggak takut mati. Meskipun mati, gue tahu gue masih punya power. Masih
punya suara. Keluarga gue ada yang anggota DPR. Bokap gue pengusaha di kota
ini. Saudara gue nyobatan sama Herman Zaki, calon walikota nomor kosong dua.
Gue juga punya sepupu di polisi. Follower Tiktok gue udah 1,2K! Kalau
gue sampe kenapa-napa, mereka pasti nge-back up gue buat mampusin kalian
semua.”
[ ... ]
“Apa yang dia minta?”
Pertanyaan itu diajukan Erick
berulang-ulang sejak kami meninggalkan rumah sakit. Aku terus-menerus berkelit
dengan bilang, “Nanti aja.” Kutunjukkan wajah gusar karena aku memang gusar.
Mungkin Erick menangkap raut mukaku yang gelisah.
Erick mengantarku ke kosan agar aku
bisa beristirahat. Namun di depan pagar, dia masih sempat mengulang pertanyaan
itu.
“Kenapa elo kagak mau bilang, sih?
Dia minta apa?”
“Gimana kalau kita bahas nanti aja
sama Bang Fian? Abang jadi kan jemput aku entar malam, terus kita ke lanud?”
“Ya tapi dia minta apa?”
“Wuih, gila, jaketnya bagus banget,
Bang—“
“Gue perkosa juga elo, kayak si
Deva!” Erick mendengus kesal. Lalu, melipat tangannya di depan dada.
Aku menghela napas. Aku enggak tahu
apakah perlu mengatakan yang sebenarnya atau enggak. Sepanjang jalan aku
membayangkan berbagai skenario jika aku menceritakan permintaan sebenarnya. Aku
khawatir para tentara ini akan membinasakan Deva begitu tahu Deva adalah homo
biadab yang pengin ngewe dan pacaran ama Fian. Tapi yang lebih
menakutkan adalah persoalan “homo-homoan” ini merembet ke mana-mana hingga
mungkin menguak identitas yang kusembunyikan sepanjang hidupku.
Alhasil, aku agak-agak berbohong ke
Erick. “Deva pengin sparring ama Bang Fian.”
“HAH?!” Erick melongo, setengah
terkekeh. “Yang bener, anjing?!
Aku mengangguk. “Tapi tempat dia
yang tentukan. Sparring-nya dia yang tentukan. Dan Fian harus kalah di sparring
itu. Enggak boleh menang.”
“Gilaaa looo!” Erick memukul setang
motor. “Goblok atau apa dia? Apa-apaan itu?! Gilaaa ...!”
Aku mengangkat bahu. “Nanti kita
bicarakan aja sama Bang Fian.”
“Tapi dia kagak mungkin menang
lawan si Fian!”
“Ya makanya, syaratnya adalah Bang
Fian harus kalah. Dalam sparring itu, Bang Fian mungkin enggak boleh
ngapa-ngapain.”
“Anjing, looo!” Erick mendengus.
Aku mengusap-usap lengannya.
Mencoba menenangkannya. Otot bisep itu tegang karena amarah. Alis Erick bertaut
emosi. “Udah, jangan marah-marah dulu. Nanti ototnya nyusut. Udah bagus ini
ototnya.”
Erick menangkisku sebal. “Kagak
mungkin nyusut, anjing!”
“Aku tenaga medis, lho.”
Erick membeku sejenak. Menatapku
dengan tatapan tak percaya. “Emang iya?”
Iya. Aku tenaga medis. Tapi aku
tahu maksud Erick bukan itu. “Pernah merhatiin enggak kenapa otot Bang Erick
enggak segede Bang Fian?”
“Karena gue latihannya tepat?”
“Karena Bang Erick marah-marah
mulu. Apalagi ke si Ezel. Jadi ototnya nyusut. Udah, ah. Aku mau istirahat
dulu. Jemput aku aja entar malam buat ke lanud.”
Aku berbalik dan masuk ke dalam
kosan. Sebelum melaju, kulihat Erick meremas-remas dulu masing-masing bisep dan trisepnya.
Kelihatannya dia hampir percaya bahwa marah-marah bisa menyusutkan otot.
Setelah menjenguk Deva di rumah
sakit, rencananya aku akan beristirahat di kosan dan membersihkan diri. Erick
pergi ke kosan Ezel, karena lokasinya dekat dari sini. Nanti malam, Erick akan
menjemputku lagi untuk mengajakku ke lanud bertemu Fian. Kami akan membicarakan
ini secara tatap muka. Kenapa harus malam? Karena sore sampai ke malam Fian
harus mengikuti meeting untuk menyelesaikan masalah internalnya—yang
sampai sekarang aku enggak tahu apa. (Si boti Lexa itu lebih tahu dariku
soal ini, jadi kalau Kakak penasaran masalahnya apa, tanya ke dia saja, ya.)
Selama berada di kosan, aku mandi
dan beristirahat di dalam kamar. Aku rebahan sambil memikirkan bagaimana
menyelesaikan masalah Fian ini. Ingin sekali aku setuju pada ide Erick bahwa kita perlu memusnahkan Deva sampai
meninggal dan lenyap dari muka bumi. Namun itu hanya akan memunculkan masalah
baru. Keluarganya se-attach itu dengan Deva, sehingga kalau terjadi
sesuatu kepada Deva, TNI AU bisa jadi sasaran empuknya.
Merekayasa sebuah kejadian supaya
Deva seolah-olah kecelakaan mobil, misalnya, sempat dibahas Erick di perjalanan
pulang barusan. Namun terlalu banyak risiko yang membuntuti. Pun, aku tak mau
para tentara ini menjadi apa yang orang-orang Indonesia katakan soal mereka:
otoriter, kejam, dan pembunuh.
Aku sudah cukup bergaul dengan
mereka untuk tahu bahwa mereka manusia biasa. Kalau mereka otoriter, mungkin
itu sistemnya saja yang memaksa dan membentuk mereka seperti itu. (Atau mungkin
mewajibkan mereka seperti itu, meskipun mereka tidak mau.) Ada tentara yang
sebenarnya baik-baik saja. Yang hanya ingin membela negara tanpa perlu
merundung warga negaranya sendiri.
Saking gelisahnya, aku enggak coli.
Padahal penginnya aku crot sebelum hasrat seksual ini membuat organ
seksualku kena kanker karena sange-nya enggak tersalurkan berhari-hari.
Aku malah menggulir setiap berita soal Fian memukuli Deva. Makin sini makin
terlihat titik terang bahwa kejadian itu terjadi di kota ini, di GOR itu, dan
oknum tentaranya adalah angkatan udara. Belum ada kabar siar apa pun yang
menyatakan bahwa itu Fian maupun Deva. Namun dengan kekuatan investigasi
netizen Indonesia yang supercanggih, mungkin nama-nama itu akan terkuak dalam
waktu dekat.
Aku ketiduran sekitar pukul lima
sore. Terbangun pukul delapan malam ketika Erick meneleponku untuk menanyakan
apakah aku sudah siap dijemput. Aku minta waktu dua puluh menit untuk mandi dan
mengganti baju. Kemudian aku menunggu di pinggir jalan hingga Erick muncul dan
membawaku ke lanud.
Waktu terasa berjalan begitu cepat.
Tahu-tahu aku berkumpul bersama Fian di salah satu barak militer yang sudah
lama tidak dipakai. Ini adalah barak tempat tinggal Fian selama diskors di
sini. Lokasinya agak di ujung, jauh dari mana-mana. Aku harus berjalan melewati
cukup banyak lapangan hingga ke ujung landasan, menyusuri rentetan
pesawat-pesawat kecil yang terparkir entah karena rusak atau sedang diperbaiki.
Ada tiga barak berjejer dan semuanya gelap tak berlampu. Satu bangunan untuk
kamar mandi bersama berdiri tak jauh dari tandon air. Aku diajak masuk ke barak
paling dekat dengan kamar mandi. Erick menyalakan lampu dan langsung duduk di
satu kursi besi di seberang ruangan.
Seperti yang pernah kulihat di
video tidurnya Fian, barak ini bentuknya memanjang dengan jejeran
ranjang-ranjang diatur berhadapan. Jarak antar ranjang yang berhadapan mungkin
3 atau 4 meter, cukup luas untuk berjalan di antaranya. Kutaksir ada sekitar sepuluh
pasang bunk bed yang berjejer berhadapan dan berpasangan. Di setiap
ujung bunk bed ada lemari kayu yang diatur berhadapan. Artinya, kalau
kita duduk di satu ranjang, kita tidak akan bisa melihat ranjang di seberang,
karena pemandangannya tertutup lemari tinggi.
Di bunk bed paling ujung,
terdapat beberapa peralatan tidur yang tersusun rapi. Sarung, kaus putih,
celana, peralatan mandi, hingga selimut, terlihat menumpuk. Kurasa ini adalah
barang-barangnya Fian.
“Kenapa Bang Fian milih di ujung,
sih?” tanyaku sambil duduk di atas tempat tidur itu.
Erick hanya mengangkat bahu.
“Suka-suka dia, lah.”
Aku mengedarkan pandangan ke
seluruh ruangan. Ranjang-ranjang yang lain terlihat sepi dan dingin. Sebagai
manusia normal, aku enggak akan berani tinggal di sini sendiri. Aku paling
benci tidur di kamar yang kasurnya lebih dari satu, lalu satu kasur yang tersisa
tak ada yang meniduri—makanya aku selalu memilih double bed kalau
menginap di hotel sendiri. Takutnya, tiba-tiba, ada sesuatu yang meniduri
ranjang yang kosong itu. Kan serem ya, Nek. Jadi bayangkan menjadi Fian, tidur
di ruangan berkasur 40, dan 39 di antaranya kosong tanpa manusia.
Fian muncul kira-kira sepuluh menit
kemudian. Berdua bersama Andry. Wajah Fian terlihat lelah. Dia mengenakan
seragam lorengnya secara lengkap. Sehingga ketika tiba di kasurnya, dia
langsung melepas seragam dan menggantungnya ke lemari.
“Sorry,” sapanya. Secara
khusus dia tersenyum ke arahku dan menyapa, “Hai.”
“Halo,” balasku.
“Beres, lu?” tanya Erick tanpa
mengangkat wajah dari ponselnya.
“Barusan ada temuan baru,” kata
Fian, sembari melepas ikat pinggangnya. “Tapi kita diintervensi sama tim dari
Husein dan Adisoemarmo. Jadi kita enggak bisa ngasih argumen banyak.”
“Ngapain mereka ke sini?” Erick
meludah.
“Ooohhh ... Casa 235 yang di tarmac
tuh punya mereka?” Andry membelalak.
Fian mengangguk. “Landing 1350
tadi. Barengan sama satu Rafale dari Solo.”
“Ngapain anjir bawa Rafale ke
sini?!”
“Ya pamer, laaah .... Apa lagi?”
Erick mendengus sambil menampilkan senyum sebelah yang merendahkan. “Waktu
Prabowo terima jet-jet baru itu, kan langsung dikirim ke Solo semua.”
Fian melepas celananya, menampilkan
celana bokser putih khas cowok-cowok militer di seluruh dunia. Kini dia hanya
mengenakan kaus putih dan celana putih itu saja. Dia duduk di sampingku di atas
tempat tidur. Satu tangannya sempat menepuk kakiku dengan lembut. “Mereka
ngancam, kalau sampai kita intervensi persoalan ini, mereka bakal ngasih memo
ke Kemenhan.”
“Bangsat!”
“Udah, udah.” Fian mengangkat
tangannya. “Saya muak bahas itu terus dari kemarin. Bisa kita fokus ke masalah
hari ini? Soalnya kalau mereka sampai tahu orang di video itu saya ..., posisi
tim kita di sini makin lemah.”
Erick menghela napas sambil menoleh
ke arahku. Dia mengedikkan kepala seolah-olah bertanya, “Siapa yang mau
cerita?” Andry menarik kursi dari tempat lain dan mendudukinya di samping
Erick.
“Dia ngajak elo sparring,”
kata Erick to the point. “Kalau enggak, dia bakal viralin nama elo.”
Lalu, aku dan Erick secara
bergantian menceritakan apa yang kami alami hari ini. Mulai dari viralnya video
itu di internet hingga ancaman dari Deva. Aku masih melanjutkan bualanku soal
Deva mengajak berantem, karena toh sama saja ujung-ujungnya. Kalau aku punya
waktu berduaan dengan Fian, aku akan menjelaskan permintaan Deva yang
sebenarnya.
Fian mendengarkan dengan saksama
ceritaku dan Erick. Dia tak banyak berkomentar. Matanya terlihat lelah. Bahunya
terlihat tegang. Berkali-kali Fian menunduk menatap ujung kakinya sendiri
sembari memainkan jempol dan telunjuknya.
Fian terlihat tenang. Dia tidak
seperti Fian yang membabi buta menghajar Deva di parkiran GOR. Dia mengatur
napasnya dengan baik. Mengatur emosinya hingga terkontrol. Entah karena dia
sedang lelah oleh urusan lain. Atau sejatinya dia memang orang yang tenang—kejadian
di GOR hanya kelepasan saja.
Setelah ceritaku dan Erick selesai,
Fian menatap kami satu per satu dan berkata, “Sorry. Gara-gara saya,
kita jadi kena masalah begini.”
“Kagak usah minta maaf. Emang
orangnya bangsat!” Erick mendengus sambil melempar kaus putih Fian yang sejak
awal disampirkan di punggung kursi besi itu. “Gue udah ketemu orangnya tadi.
Gue salut lu kagak bunuh dia kemaren.”
“Dia predator, Yan. Orang kayak
gitu harus dibikin punah,” tambah Andry.
“Tapi saya enggak seharusnya
ngelakuin itu kemarin. Sekarang masalah kita nambah satu gara-gara ini. Kalau
memang dia minta itu ..., saya siap ngadapin dia.”
“Gue sih kagak ikhlas,” kata Erick.
“Kalau ini bisa nyelesaiin masalah,
saya ikhlas.” Fian menoleh ke arahku sejenak.
“Tapi kamu harus kalah, Yan.” Andry
mengingatkan. “Kalau dia nyerang bagian-bagian vitalmu, gimana?”
“Nanti kita cari cara ngatasin itu.
Yang penting, untuk sekarang, kita bikin dia yakin dulu kalau saya bersedia
nurutin perintahnya.”
Tak ada lagi yang bisa mendebat
Fian di titik itu. Erick menyerah untuk meyakinkan Fian agar mampusin Deva.
Ajak sparring ke gunung, lalu biarkan Deva hanyut di sungai dan dililit
ular besar yang kemarin sampai mati. Atau suruh si Rohmat pura-pura jadi
perawat ke rumah sakit itu, malam-malam pas Deva tidur, lalu masukin sianida ke
infusannya. “Atau, oh! Suruh si Rohmat pemeriksaan anus ke dia, tapi instead
of pake jari, si Rohmat ngobok-ngoboknya pake linggis. Gimana?!”
Erick ini seorang psycho
atau apa, sih?
Dan kenapa harus aku yang melakukan
kejahatan-kejahatannya?!
Untungnya kejiwaan Fian sehat,
sehingga Fian menolak mentah-mentah ide itu. Fian hanya terkekeh dan berkata, “Let
me face him, Rick. Ini urusan saya sama dia. But thanks for the ideas.”
Akhirnya, obrolan bisa beralih ke
topik lain, dan waktu pun bergulir hingga waktunya aku pulang. Erick berdiri
dari kursinya untuk meregangkan otot. “Ya udah. Gue antar si Rohmat pulang.
Yuk!”
Fian menoleh ke arahku dan menepuk lenganku dua kali. “Thanks
udah ke sini.”
“Sama-sama.” Aku turun dari tempat tidur dan mengenakan lagi
sepatuku. Setelah mengumpulkan semua barangku, kami berjalan menyusuri koridor
yang disusun bunk bed di barak.
Erick dan Andry berjalan di depan. Aku dan Fian di belakang.
Sehingga, sepanjang menyusuri lorong yang gelap itu, Fian menyambar tanganku
dan menggenggamnya dengan erat. Genggaman itu baru dia lepaskan ketika kami
tiba di ambang pintu.
Genggaman tangan Fian terasa hangat dan menggelitik jiwaku.
Membuatku tersenyum mesem-mesem seperti ABG yang sedang kasmaran. Dia tidak
menciumku seperti kemarin-kemarin. Namun, gestur itu sama sejuk dan nyamannya
seperti bercumbu.
Aku tiba di kosanku sebelum tengah malam. Hal pertama yang
kulakukan adalah coli sampai crot. Dan untuk kali pertama dalam
hidupku, aku tidak coli sambil buka Twitter, Telegram, atau
boyfriend.tv.
Aku menelanjangi diriku, menyentuh tubuhku dengan lembut di
bagian-bagian yang enak, sembari membayangkan itu adalah jemari Fian yang
hangat dan besar.
Lalu tanpa aku menyentuh kontolku sendiri ....
CROOOTTT ...! CROOOTTT ...! CROOOTTT ...!
Spermaku meluncur sukarela tanpa perlu kukocok.
Tubuhku menggelinjang cukup kuat hingga punggungku melengkung
ke atas dan seluruh tubuhku hangat oleh keringat. Ini salah satu coli
ternikmat yang pernah kurasakan. Dan modal fantasiku adalah sosok Fian
mencumbuku dan menyentuhku.
Aku pun tidur dengan damai setelahnya.
[ ... ]
28. Dalemin, Mas! | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 30. Lihat Burung Abang
Catatan:
Di Part 29 Extended Version (versi lengkap), Rohmat tidak pulang ke kosan. Dia menginap di barak, menemani Fian mandi, cuddle dengan Fian, sampai Rohmat crot dalam pelukan Fian.
Untuk mendapatkan versi lengkapnya, silakan beli di sini atau hubungi Penulis lewat WhatsApp, email, atau Telegram.
Komentar
Posting Komentar