(HD) 28. Dalemin, Mas!




Halo, Kak!

Apa yang lebih parah dibandingkan pingsan dua kali karena seorang lelaki telanjang di depan kita padahal kita adalah seorang perawat yang sudah melihat ratusan kontol seumur hidup?

Yang lebih parah adalah ngaceng selama pingsan tersebut.

Awalnya aku enggak percaya seseorang bisa ngaceng selama pingsan. Soalnya kalau orang pingsan, tekanan darahnya turun. Yang artinya, semua jenis per-ngaceng-an bakalan batal.

Namun, gara-gara Fian bilang begitu, aku jadi meng-googling lagi soal itu. Tentu saja lewat Google Scholar, ya. Lewat jurnal-jurnal ilmiah. (Soalnya aku bukan netizen Konoha yang menyimpulkan argumen lewat judul artikel clickbait.)

Namanya reflexogenic erection yang diakibatkan oleh vasovagal syncope. Ketika sumsum tulang belakang tetap aktif, khususnya segmen S2 sampai S4, ereksi tetap terjadi meskipun tidak ada input dari otak, apalagi jika ada rangsangan seksual sebelumnya.

Atau bahasa netizennya:

Pingsan gara-gara sange dan kontol tetap ngaceng selama pingsan.

Which is apa yang terjadi kepadaku.

Aku sudah mengumpulkan rasa sange ini berhari-hari. Ketika aku sudah tak mampu membendungnya lagi karena terlalu excited, aku pingsan dan kontolku memilih untuk tetap berdiri tegak.

Mukaku memerah malu setelah membaca jurnal-jurnal itu. Fian masih ada di sampingku saat itu, membicarakan hal lain di luar pemeriksaan. Untungnya Erick keburu datang menjemputku jadi aku bisa terbebas dari Fian.

Sepanjang perjalanan menuju kosan Ezel, aku diam seribu bahasa. Aku melamun membayangkan apa yang Fian lakukan ketika aku terkapar pingsan (dengan kontol ngaceng). Apa dia menelanjangiku? Apa dia memainkan kontolku? Apa dia menyepong-ku? Lalu, aku terpikir, bagaimana Fian coli hingga crot ke dalam wadah steril? Aku membayangkan cara Fian mengocok kontolnya. Apakah pakai tangan kanan? Atau kiri? Apakah sambil dia gerepe-gerepe badanku? Apakah sambil berdiri? Sambil dimasukkan ke fleshlight? Di ruangan itu ada fleshlight, Kak. Sudah disiapkan oleh dr. Sigit barangkali ada yang membutuhkan.

Alhasil, sange-ku tak tersalurkan lagi. Aku makin ngaceng sepanjang dibonceng oleh Erick di motornya. Mana Erick ini juga ganteng. Muka ketutup helm pun, masih kerasa aura-aura gantengnya. Bahunya yang lebar dan tubuhnya yang tegap membuat keseksiannya meningkat berkali-kali lipat. Apalagi aku sudah melihat Erick telanjang bulat. Setiap motor melewati polisi tidur, aku selalu mendesah, “Aaah ...,” karena keenakan.

Sesampainya di kosan Ezel, kami bertemu Pak Guntur yang sedang menyiram tanaman di halaman depan rumahnya. Begitu Pak Guntur melihat wajahku, dia langsung menunduk malu dan menyiram ke arah lain. Aku mencoba tersenyum ramah kepadanya, tetapi kurasa dia tidak sempat melihatnya.

Kubuntuti Erick ke lantai dua. Ketika berjalan, cara melangkah Erick sok-sok ganteng. Which is sejak awal juga begini. Dadanya membusung, lengannya berayun, bahunya juga bergerak kecil. Untung memang wajahnya ganteng, jadi aku enggak komplain. Seenggaknya aku sekarang tahu bahwa dia memang senarsis itu secara kejiwaan. Jadi aku maklum.

“Woy, kebo!” sahut Erick sambil mengetuk pintu kamar Ezel. Tok! Tok! Tok! “Buka!”

Ah, okay. Aku memang punya 12 kakak di rumah. Tapi karena jarak kami berjauhan, belum pernah aku disapa seperti ini oleh kakak-kakakku. Ketika aku berumur 6 tahun, kakak terdekatku sudah di SMA dan sibuk dengan kehidupannya sebagai remaja. Sisa kakakku yang lain sudah menikah atau ngekos di luar kota untuk bekerja. Kakak-kakak yang masih tinggal di rumah sibuk dengan urusannya masing-masing. Kebanyakan dari mereka mengurung diri di kamar. Tahu-tahu muncul keluar pas lebaran atau paket Shopee mereka datang.

Bagaimana rasanya menjadi adik yang pintu kamarnya diketuk oleh lelaki ganteng lalu dipanggil kebo, ya?

“Woy!” Erick mencoba membuka pintu, tetapi pintu itu terkunci. “Buka, anjing! Mau gue santet, lu?!”

Hot banget, sih, marah-marah begitu. Harusnya yang barusan menyebalkan, tapi karena aku lagi sange, jadinya aku meleleh pengin jadi budaknya Erick.

“Bentaaar ...!” balas Ezel dari dalam kamar.

Aku bisa mendengar sedikit suara gaduh dari dalam. Seperti orang yang sedang panik membereskan kamarnya dengan cara melempar segala hal ke lemari atau ke kolong kasur.

Ezel enggak lagi ngewe kayak kemaren, kan? Pak Guntur lagi nyiram tanaman kok di bawah.

Sorry ...,” kata Erick kepadaku, “emang rada lelet dia.”

Aku membalasnya dengan tersenyum.

Meskipun sebenarnya, aku tidak setuju dengan statement itu. Kurasa Ezel enggak lelet. Kurasa dia kurang bergaul aja, jadi dia enggak tahu caranya bersosialisasi. Terbukti pengembangan emosinya (suka sama Fian) dan seksualnya (ngewe ama Pak Guntur) terjadi dengan normal. He’s just lonely.

Mungkin Ezel sedang coli barusan. Lalu dia kaget kakaknya datang, sehingga dia harus membereskan semua dildo yang dia keluarkan ke atas kasur.

Cklek!

Tak lama pintu kamarnya terbuka dan Ezel menyambut dengan wajah sedikit kesal.

“Kan gue udah bilang mau ke sini! Elu molor, ya!” sapa Erick dengan ramah sambil nyelonong masuk ke dalam kamar.

Aku membuntuti di belakangnya. “Hai!”

Kucium aroma losion, aloe vera, dan minyak biji roseship bercampur satu di ruangan. Bahkan, kulihat masih ada sisa-sisa masker di pinggiran wajah Ezel.

Aaahhh .... Dia sedang skincare-an. Bukan coli.

Kuulurkan tangan dan kuhapus sisa skincare itu. Kurasa Ezel enggak mau ketahuan skincare-an di depan kakaknya yang tentara AU manly.

Ezel membelalak kecil ketika kubersihkan sisa masker di wajahnya. “Ma ... makasih.”

“Jangan baper,” bisikku sambil kemudian masuk ke dalam kamar.

Erick meletakkan helm full face-nya yang mahal di atas meja kemudian dia melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Belum satu menit berada di dalam kamar adiknya, Erick langsung ngomel-ngomel, “Itu cabut ajalah, anjing, buat apaan sih hook itu ada di situ, hah?!”

Buat ngewe ama Pak Guntur, Bang, jawabku dalam hati.

“Elo udah ngisi galon belum?”

Dengan takut Ezel menjawab, “Masih ada kok sedikit lagi.”

“Terus elo kagak ada cadangannya?! Gobloook! Anjing!”

Fuck. Kenapa malah jadi hot, sih?! Harusnya aku tuh sebal sama bully kayak Erick. Kenapa aku malah makin sange lihat dia marah-marah enggak jelas kayak begitu?!

Akan kupersingkat saja setengah jam yang kulalui setelah itu. Soalnya setengah jam itu berisi Erick ngomel-ngomel tentang gaya hidup Ezel yang madesu dan rentetan nasihat Erick tentang menjadi “laki-laki”. Enggak salah, sih. Ezel kan laki-laki. Nge-top-in yang punya kosan pula. Tapi kadang aku kasihan juga sih melihat dia dipermalukan di depan umum begitu.

Aku kan harusnya orang luar. Harusnya ini terjadi secara internal saja.

Namun Ezel hanya duduk di sudut tempat tidurnya, main hape, sesekali merespons, “Iyaaa ... iyaaa ...,” tetapi tak begitu memedulikannya. Antara Ezel sudah sangat kebal menghadapi Erick. Atau diam-diam dia jatuh cinta sama kakak kandungnya sendiri, sehingga omelan Erick terdengar seperti words of affirmation.

Pembicaraan mulai bisa ku-share kepadamu ketika aku sange banget melihat Erick.

Lelaki itu melepas jaketnya, menyisakan kaus PDL yang tadi dia pakai ke pemeriksaan. Karena kaus itu ngepas badan, otot-ototnya yang kekar atletis tercetak kentara. Aku bisa melihat jendolan putingnya, atau ketika Erick melipat tangan di belakang kepala, aku bisa melihat bisep trisepnya mengembang, dan sejumput bulu ketek halus mencuat dari balik lengan kausnya.

Lalu, dia mencomot salah satu celana pendek dari lemari Ezel, dan mengganti celana panjangnya dengan itu. Celana pendek itu agak ngepas di panggul Erick yang kekar. Aku langsung bisa melihat jendolan kontol Erick (yang bukan 22 cm).

Tubuhku terasa hangat. Kalau ada rahim, sudah pasti rahimku meleleh.

Rapelan rasa sange selama berhari-hari terakhir, memuncak lagi. Dengan iseng aku menggunakan kelemahan Erick untuk kepuasanku sendiri. Begitu ada kesempatan, aku langsung menyetir obrolan agar fokusnya berpusat ke Erick.

“... entar kalau elo nge-gym-nya bareng si Rohmat,” kata Erick—dia sedang membahas soal fitnes, di mana Ezel dipaksa gabung di tempat gym dekat sini bersamaku, “gue bisa bantu dapatin promo couple. Biar lebih murah. Gimana, Mat?”

Aku yang sedari tadi hanya diam saja mendengarkan Erick mengoceh, langsung menyahut dengan, “Entar kita di-train sama Bang Erick, enggak? Soalnya aku enggak punya budget buat sewa PT, sih.”

“Gampaaang. Anjir! Kayak ke siapa aja, lo.”

“Soalnya aku pengin hasilnya kayak Bang Erick. Enggak terlalu gede atau gimana gitu. Bagusan badan Bang Erick.”

“Bagus, ya?” Erick manggut-manggut kecil sambil merentangkan tangan untuk menguap, tapi sambil merentangkan tangan sambil flexing bisep trisepnya.

“Iya, siluet V-nya tuh bagus, gitu. Berbentuk. Enggak kayak Bang Fian yang bagian latsidoral-nya agak terlalu, you know ... berisi.”

“Ini maksudnya?” Erick duduk tegak dan memutar tubuhnya untuk mem-flexing otot sayapnya. “Emang bagusan gini.”

“Tapi punya Bang Fian lebih tebal. Lebih kekar,” komentar Ezel—yang akhirnya mengeluarkan suara setelah sekian lama.

“Yang ini lebih bagus shape-nya, Zel,” kataku.

“Lebih clean, kan?” kata Erick, memutar tubuhnya ke arah lain, untuk memamerkan otot sayap di sisi satunya.

Ezel mengamati flexing kakak kandungnya sendiri. “Tapi kalau Bang Fian tuh kelihatan kayak strong, gitu.”

“Yang Bang Erick ini kelihatan lebih sehat,” kataku.

“Elu emang enggak punya taste, anjir!” Erick sempat-sempatnya membungkuk dan menyurungkan kepala adiknya karena kesal. “Punya gue lebih sehat! Noh, dokter yang bilang gitu!” sambil menunjukku.

“Aku perawat—“

“Yang normal tuh yang kayak begini!” sahut Erick lagi, tak mengindahkan ralatanku. Erick bahkan melepaskan kausnya, sehingga dia bisa pamer langsung otot-otot kekarnya itu secara telanjang di depan Ezel. “Kita kan bukan bodybuilder, anjir. Mana bisa gue jadi atlet bodybuilding. Kagak bisa masuk pesawat jet yang sempit-sempit. Si Fian tuh, kalau kebablasan, bisa kegedean entar masuk pesawat.”

“Iya,” kataku. “Postur yang ini tuh bagus. Sepanjang hari ini kayaknya badan Bang Erick yang paling bagus.”

“Oya?”

Aku mengangguk yakin. “Jangan dibandinginlah ya sama calon-calon taruna kemarin. Jelas enggak ada yang bisa ngalahin badannya Bang Erick. Tapi setelah Abang kan akhirnya aku periksa Bang Fian tuh. Badannya emang sekel, gede, tebel, tapi Bang Fian agak kesulitan pas aku suruh tangannya megang tangan lain lewat punggung.”

“Kayak gini?”

Kebetulan banget Erick bisa memegang lengannya yang lain lewat belakang. Orang-orang dengan otot kekar macam Fian biasanya tak sanggup melakukan itu karena ototnya kegedean.

“Nah, itu!” Aku manggut-manggut percaya diri. “Menurutku badan Bang Erick paling sempurna dibandingkan yang kuperiksa seminggu terakhir.”

“Gitu, ya?” Erick senyum-senyum kecil dengan GR.

Ezel masih tak percaya. Kurasa karena dia jatuh cintanya sama Fian meskipun sange terhadap kakaknya, Ezel seperti ingin membantahku tetapi Ezel hanya sanggup terdiam mengamati kakaknya flexing ke sana sini memamerkan otot upper body-nya.

Oh. Salah.

Ternyata Ezel sedang ngaceng.

Aku melihat dia menarik bantal ke atas pangkuannya sambil mengamati tubuh kakaknya yang setengah telanjang tanpa henti.

“Dan setelah aku cek semua area genital yang kutanganin hari ini,” lanjutku. “I think we know yang mana yang the best.”

Erick membelalak kecil. Raut wajahnya cerah. “Gue, ya?”

“Masih harus ditanya lagi?” kataku. Enggak mau menjawab iya karena jawabannya bukan kontol Erick. Tapi aku pengin memanipulasinya untuk berpikir bahwa dialah yang terbaik.

“Iya, lah.” Erick manggut-manggut paham. “Punya si Fian tuh, menurut gue, yaaahhh ... lebai.”

“Harus diperiksa sih itu,” kataku. “Takutnya ada kelainan.”

“Tuh, kan. Bener dugaan gue!” Erick mendengus. “Kayaknya punya dia ada kelainan.”

Maybe?” Aku mengangkat bahu. “Punya Abang tuh sehat dari segi bentuk dan performa. Syarafnya masih berfungsi baik. Dorongan ejakulasinya juga sehat, Bang. Tadi waktu aku discuss laporanku sama dr. Sigit, punya Abang hasilnya bagus.”

Reus.

Tadi aku cuma mengumpulkan hasil laporanku ke ruangan sebelah, lalu aku melipir keluar karena sedang kepikiran soal ngaceng saat pingsan.

“Bagus, ya?” Suara Bang Erick mulai memelan. Dia tersenyum lebar, tapi dia terlihat cemas.

Aku mengangguk mantap. “Perlu kusebutin kenapa punya Bang Erick hasilnya paling oke dibanding yang lain?”

“Enggak usaaahhh ...,” kekeh Bang Erick malu. “Kasihan si Ezel. Entar makin jomplang dari gue.”

Namun aku tetap menyebutkannya. Kusampaikan serentetan puja-puji yang enggak relevan ke pemeriksaan tadi, tetapi tetap terdengar seperti nyata dan serius—bahkan kubanding-bandingkan dengan yang lain.

“Salurannya sehat, enggak ada luka. Perawatannya bersih.

“Prostatnya juga oke. Hasil dari prostatic liquid-nya jernih. Tanda-tanda prostat yang sehat.

“Dari segi ukuran testis juga perfect, Bang. Punyanya Bang Andry itu agak besar—harus diperiksa.

“Lalu sensitivitas syaraf juga masih oke banget. Mantap. Siapa pun yang jadi istri Abang entar, bakalan maknyus sama performa Abang.

“Belum lagi lingkar glans-nya, corona glans, yang bakal menyentuh G-spot di os serviks yang eksternal di vagina perempuan, ukurannya tuh pas banget untuk menyentuh syaraf-syaraf di sekitar serviks. Ini bisa bikin pasangan menjerit keenakan, sih. Enggak semua orang punya genital kayak Bang Erick. Mana ukurannya juga, waduuuuhhh ... 22 senti, kan?”

Ezel menelan ludah dan membelalak kecil mendengarnya.

“Pas tadi aku cek frenulumnya, respons syarafnya sehat banget. Siapa pun yang sama Abang bakal puas, sih.”

“Gitu, ya?”

Erick keok.

Sama seperti Ezel, lama-lama Erick menarik bantal terdekat dan meletakkannya di atas pangkuan.

Erick ngaceng lagi, Kak.

Ngaceng karena kupuja-puji.

Saking keoknya, lama-lama dia berkata, “Udah, Mat. Udah. Hehehe. Iya gue paham. Hasil pemeriksaan gue bagus.”

“Aku kagum soalnya, Bang. Jarang aku nemu kasus yang bagus kayak begini. Tadi aja dari lima orang, kupikir Bang Fian atau Bang Andry bakalan oke banget, tapi ternyata ... yah ..., susah berdiri.”

“Si ... siapa yang susah berdiri?” Erick menelan ludah.

“Yang tadi terakhir.”

Erick membelalak girang. “Punya ‘dia’ enggak berdiri?”

“Enggak.” Aku menggelengkan kepala.

Dan aku enggak bohong ya, Kak. Sepanjang aku “sadar” di ruangan itu, aku tidak melihat kontol Fian ngaceng.

Kulihat Erick merasa sangat bangga akan kontolnya. Saking bangganya, dia menekan bantal di atas pangkuannya kuat-kuat. Kayaknya dia mau crot gara-gara kebanyakan kupuji. Wajahnya memerah.

“Udah, udah, udah. Ganti topik! Jangan bahas gue mulu!” Erick terkekeh malu-malu.

“Oh, Abang enggak mau dengar apa kata dr. Sigit soal Abang waktu tadi kami baca hasil laporannya? Dr. Sigit bahas juga soal performa Abang di pesawat katanya. Performanya bagus-bagus. Katanya—“

“Udah, udah, udah!” Satu tangan Erick terulur ke arahku, menampakkan telapak tangannya agar aku setop. Satu tangan yang lain menekan bantal untuk mencegah kontolnya crot. Erick kelihatan gelisah dan sange pada waktu bersamaan. “Enggak usah dibahas.”

Aku sudah membuka mulut, tetapi Erick langsung memotongku.

“Mending elo periksa si Ezel sekarang.”

“Apa?!” sahutku dan Ezel bersamaan. Kami saling menoleh selama beberapa saat, kemudian melihat ke arah Erick lagi.

“Mat! Periksa si Ezel kayak elo meriksa gue tadi!”

“U ... untuk apa?”

“Enggak.” Ezel menggelengkan kepalanya.

“Gue bayar!” sahut Erick sambil pelan-pelan turun dari tempat tidur. Bantalnya masih dia tempel ke area selangkangan. “Pokoknya, elo periksa si Ezel. Di pantatnya. Cek, siapa tahu ... siapa tahu dia ada kelainan.”

“Apa?”

“Pokoknya periksa! Udah!” Erick memungut kausnya yang teronggok di tepi ranjang. Lalu dia berjalan menyamping seperti kepiting menuju pintu keluar.

Itu semua masih dengan bantal menutupi area selangkangannya.

Erick panik, salah tingkah, sange, dan gelisah.

“Aku enggak bawa peralatan apa pun,” kataku. “Enggak ada sarung tangan—“

“Gue ada!” sahut Erick seketika. “Cek tas gue yang kecil itu. Gue ada sarung tangan medis.”

“Bekas apa baru?”

“Ada bedanya?”

“Ya ada, dong—“

“Gapapa pake aja! Periksa si Ezel!”

“Aku enggak mau!” sahut Ezel panik.

“Jangan ngebantah, anjing!” sergah Erick marah. “Elo harus nurut! Gue kakak elo! Paham?!”

“Tapi ....”

“Gue sekarang mau keluar. Mau beli galon. Sama camilan. Pokoknya begitu gue balik ... si Rohmat harus meriksa elo. Oke?!”

Aku hanya bisa diam membeku, sih. Aku enggak tahu harus menjawab apa lagi.

Ezel juga sama.

“Kalau elo enggak mau diperiksa,” kata Erick, sambil menunjuk Ezel, “gue suruh elo ngekos di kosan gue, tinggal barengan tentara-tentara. Gue suruh elo tidur di kasur lipat. Sekamar ama gue ama si Fian. Mau lo?!”

Jelas mau lah. Anjing. Yang bener aja kalau ngasih ancaman! Si Ezel kan naksir Fian!

“Pokoknya ..., periksa!” Erick akhirnya tiba di depan pintu setelah berjalan menyamping dengan awkward dan salah tingkah. Dia buka pintu, dia lempar bantal yang sedari tadi menutupi selangkangannya, lalu dia kabur keluar sambil menutup pintu dengan bantingan keras.

JBLAG!

Selama sepersekian detik aku bisa melihat kontol Erick ngaceng di balik celana pendek itu.

Erick ganti ke celana pendek karena celana dalamnya dipenuhi sisa sperma sehabis penelitian. Sehingga dia enggak pake apa-apa lagi di balik celana pendek itu. Yang artinya kalau ngaceng, bakal membentuk tenda. Dan tendanya barusan kelihatan kentara.

Kudengar Erick berlari di koridor. Mungkin sambil mengenakan kausnya—karena dia keluar dalam kondisi setengah telanjang. Dia meninggalkanku berdua dengan Ezel di mana aku harus mengecek bool Ezel.

Selama beberapa detik, aku dan Ezel hanya bisa berpandangan.

“Kalau kamu enggak mau, gapapa,” kataku. “Kita bisa pura-pura ngecek. Entar aku bilang ke Bang Erick—“

“Enggak usah. Periksa aja,” balas Ezel dengan lemas.

Are you sure?

Ezel mengangguk lemas. “Aku enggak mau Bang Erick makin marah.”

“Kita enggak ada sarung tangan medis, Zel.”

Sebenarnya lebih ke aku yang enggak mau, sih. Bukan soal sarung tangan juga. Ngapain aku tiba-tiba ngecek bool kompetitorku? I know, Ezel enggak punya kans untuk mendapatkan Fian. Tapi kan enggak segitunya.

“Aku ada,” kata Ezel tiba-tiba sambil turun dari tempat tidur dan membuka lemarinya.

What?! Ngapain kamu punya yang begitu?”

Ezel membungkuk di bagian bawah lemari, menarik sesuatu dari sebuah kotak yang dia sembunyikan rapi-rapi. “Aku sama Pak Guntur pernah main dokter-dokteran. Jadi aku beli ini di apotek.”

“Dokter-dokteran?!”

“Pak Guntur jadi pasien, aku jadi dokter, terus aku periksa Pak Guntur, ternyata burungnya harus kuperiksa, jadi aku pake sarung tangan, lalu pake lubricant—“

“Udah, udah, enggak perlu didetailin!”

Namun Ezel masih sempat menyelesaikannya. “Diagnosisnya burung Pak Guntur kecil, harus kubikin besar, jadi aku kocokin, sambil aku sepong ....”

Anjing. Role play yang absurd!

Untungnya cerita itu selesai sampai situ karena Ezel sudah menemukan sekotak sarung tangan medis baru yang belum terpakai. Dia serahkan sepasang kepadaku, lalu menyembunyikan lagi sisanya di tempat semula. Bahkan, dia langsung melepas celananya hingga telanjang.

Kontolnya sudah ngaceng.

“Maaf,” katanya lemas. “Tadi aku terangsang dengar kalian bahas soal pemeriksaan.”

“Gapapa.”

“Aku senang banget kalau Bang Erick dipuja-puji.”

“Hah?”

“Aku senang lihat mukanya bangga kayak begitu. Aku bisa terangsang kalau begitu.”

Astaga! Cocok banget ternyata kalian berdua. Kalau sama-sama incest, bisa langsung kawin! Apa perlu kumasukkan kisah kalian ke grup Facebook Fantasi Sedarah?

Ezel memanjat naik ke atas tempat tidur. Dengan awkward dia nungging di depanku. Padahal, aku belum menjelaskan dia harus ngapain. Kontolnya beneran ngaceng keras dengan precum membasahi seluruh area kepala kontolnya.

Dengan terpaksa aku mengenakan sarung tangan medis dan melumuri jariku dengan Monogatari yang disodorkan Ezel juga.

“Jadi hari ini ... Mas meriksa ... Bang Fian sama abangku?” tanya Ezel dengan suara pelan.

“Iya,” balasku.

“Gimana rasanya?”

“Rasanya apa? Aku kan cuma meriksa mereka aja secara medis.”

“Tapi mereka ... telanjang, gitu?”

“Iyalah. Telanjang bulat.”

“Haaa!” Ezel terkesiap. Napasnya tiba-tiba memburu. Tampaknya dia lebih sange dibandingkan sebelumnya. “Mas ... Mas lihat burung ... mereka berdua?”

“Aku harus ngumpulin sperma mereka, Zel. Jelas aku harus lihat genital mereka berdua. Buka pahanya lebar-lebar ....”

Ezel membuka pahanya lebih lebar. Biji pelernya mengerut penuh dengan kontol ngaceng total, menempel ke perutnya sendiri. Bool Ezel ini ....

... hmmm ....

... kayaknya udah disodok kontol beberapa kali. Soalnya kerutannya enggak sesempurna kerutan bool Fian. Mungkin ada luka bekas ditusuk.

“Punya Bang Fian ... kelainan, ya?” tanya Ezel lagi.

“Enggak.”

“Besar?”

“Aku enggak bisa jawab itu, Zel. Itu rahasia.”

“Oh.” Namun Ezel belum puas. “Punya abangku ... bener 22 cm?”

“Bukannya kamu pernah nyepong punya abangmu itu, hah?”

Ezel tersentak kecil karena terkejut. “Tapi kan sudah lama. Mungkin sekarang sudah tumbuh.”

Dengan iseng kujawab saja, “Iya. Dua puluh dua senti.”

“Panjang banget pasti ....”

“Tarik napas, ya. Aku mau masukin jariku ke dalam anusmu. Dilihat dari kerutannya, ada riwayat sodomi sih di sini.”

“Hehehe. Iya. Tapi jangan bilang-bilang Bang Erick.”

Aku tak meresponsnya. Aku langsung memasukkan telunjukku dan memeriksa area bagian dalam anus Ezel. Kulakukan dengan profesional ya, Kak. Bukan dalam konteks memuaskan bool seorang boti.

Namun tampaknya Ezel keenakan. Soalnya, reaksi Ezel seperti ini, “Aaaaaahhh .... aaahhh ... AAARGH! Dalemin, Mas! Aaaaaargh ... Lagi, Mas.”

“Aku bukan lagi fingering, woy.”

“Enak, Mas.” Ezel menoleh ke belakang agar bisa menatapku. Seakan-akan dia memang sange terhadapku. Ezel bahkan menggigit bibir bawahnya dengan genit. “Kalau dua jari, boleh Mas?”

“Enggak,” tegasku.

Aku menggerakkan telunjukku untuk memeriksa prostat Ezel.

Kemudian aku terdiam beberapa saat, dan aku menggerakkan lagi untuk memastikan.

Gini, Kak. Aku enggak benci Ezel. Kurasa Ezel adalah seorang homo menarik yang kalau aja punya sedikit lebih banyak energi, bisa laku di antara para homo di kota ini. Mau dia jadi top atau bottom terserah. Dari segi personality juga dia orang yang baik sebenarnya. Bukan orang yang kurang ajar seperti Deva, atau maksa seperti Deva, atau genit seperti Deva, atau menyebalkan seperti Deva. Kebetulan saja dia suka sama Fian, dan aku suka sama Fian, jadi aku selalu merasa tersaingi.

Dalam situasi normal, aku akan menikmati fingering ke bool Ezel. Mungkin kalau aku enggak kenal Ezel, misalnya aku menemukan dia di aplikasi, lalu aku datang ke sini karena kami janjian untuk ngewe, sudah pasti aku akan menikmati seks bareng Ezel. Aku akan mem-fingering-nya dan menikmati wajah sange Ezel yang gigit-gigit bibir bawah kayak sekarang.

Namun saat ini, aku enggak bisa melakukan itu.

Aku melakukan fingering ke prostat Ezel dan aku menemukan sebuah anomali.

“Aaaaaahhh .... Mas! Jangan di situ terus, Mas! Aku mau keluar ....”

“Ini sakit enggak Zel?”

Ezel mengangguk. “Tapi terusin, Maaasss .... Aaaaaahhh ....”

“Rada ngilu enggak di sini?”

Ezel mengangguk lagi. “Terus, Mas .... Aku mau keluar.”

“Yang kamu rasakan sekarang ....”

CROOOTTT ...! CROOOTTT ...! CROOOTTT ...! CROOOTTT ...!

Ezel malah ejakulasi.

“AAAAAARGH!” Dia tiba-tiba melolong panjang sambil meremas seprainya kuat-kuat. Kepalanya mendongak ke atas dengan kedua bola mata berputar ke belakang. Bahunya naik dan menegang. Punggungnya melengkung ke bawah, sementara dadanya membusung ke depan. Kedua kakinya menekuk lurus.

Orgasme dan ejakulasi itu terasa intens bagi Ezel.

“AAAAAARRRGGGHHH ...!!!” Ezel tak berhenti melolong keenakan.

Air mata dan liur sampai menetes ke atas ranjangnya.

Seluruh tubuhnya mengerut ke tengah, seakan-akan tak sanggup menahan sensasi yang menderanya. Tubuh itu pun berguncang kecil seperti gempa.

Dan ini belum semenit sejak aku memasukkan jariku ke dalam bool-nya.

Aku mengeluarkan jemariku dari bool Ezel sambil melepaskan sarung tangan. Raut wajahku belum berubah.

Ezel langsung terguling lemas ke atas tempat tidur. Karena ejakulasinya intens, spermanya crot ke dada dan lehernya, lalu menempel di situ. Ezel ngos-ngosan. Terkulai tak berdaya dengan sperma berceceran di mana-mana.

Otomatis aku berdiri dan mengambil tisu banyak-banyak untuk membersihkannya. Hingga aku membersihkan seluruh kekacauan itu, termasuk membuang sarung tangan dan tisu ke tempat sampah, lalu mengembalikan pelumas ke bagian bawah lemari tempat Ezel menyembunyikan barang-barang seksualnya, Ezel masih terkapar tak berdaya. Matanya masih merem melek. Napasnya masih memburu. Kontolnya masih ngaceng dan mengeluarkan sperma dari uretranya.

Bahkan, aku membawakan celana pendek Ezel dan mencoba memasangkannya ke tungkai Ezel. Namun dia dengan otomatis langsung menariknya sendiri.

“Enak banget yang barusan,” desah Ezel sambil menatapku dengan mata berbinar-binar.

Please jangan baper,” kataku tegas. “Kita harus ngobrol something yang serius.”

“Apaaa?”

“Duduk.”

Ezel bangkit dan duduk bersandar ke tembok. Kedua alisnya masih mengerut ke tengah, tanda dia masih keenakan oleh ejakulasi tadi.

“Ada kelainan di prostatmu,” kataku straight to the point.

Ezel membeku pelan. “Kelainan?”

“Aku harap aku salah, tapi prostatmu lebih besar dari biasanya.”

Raut wajah Ezel langsung berubah. Dia menarik tubuhnya dari dinding dan duduk lebih tegak.

“Boleh aku nanya beberapa pertanyaan?” tanyaku.

Ezel menelan ludah.

“Aku bukan dokter, tapi aku pernah lihat dokter urologi nanyain ini ke pasiennya waktu aku ada di ruangan yang sama. Malam-malam kamu sering pipis enggak?”

Ezel mengangkat bahunya. “Kadang-kadang. Tapi mungkin ... mungkin karena aku kedinginan. Aku sering pasang AC. Jadi aku sering pipis.”

“Susah mulai pipis atau susah berhentiin pipis, enggak?”

Ezel mengelengkan kepalanya. “Kayaknya ... kayaknya normal-normal aja.”

“Tapi kencang semburannya?”

Ezel mengangguk.

“Anyang-anyang gimana?”

“Apa itu anyang-anyang?”

“Perasaan kayak mau pipis, atau pipis belum selesai, tapi kalau coba dikeluarin pun, enggak ada yang keluar.”

Ezel mengingat-ingat. Dia meresponsku dengan menundukkan kepala. Dia langsung memainkan jemarinya di atas lipatan betis.

Kuanggap itu sebagai iya.

“Tadi aku cek, spermamu putih bersih. Enggak ada blood-nya. Semoga itu pertanda bagus. Tapi aku nemu ukuran prostatnya lebih besar dari biasa. Kemungkinan asimetris juga. Tapi kalau kamu ada riwayat seks anal, bisa jadi itu cuma benjolan hemoroid. I’m not so sure. Sebaiknya kamu periksain ini ke dokter, Zel—“

Please jangan bilang-bilang Bang Erick!” kata Ezel tiba-tiba. Dia menyambar pergelangan tanganku, lalu meremasnya kuat-kuat. Wajahnya ketakutan. “Please jangan bilang siapa-siapa.”

Aku terdiam sejenak sebelum merespons. “Kamu ... sudah tahu soal ini sejak lama?”

Ezel mengangguk pelan.

“Kenapa kamu enggak periksain?”

Ezel menggelengkan kepala. “Aku ... takut.”

“Bukannya itu enggak nyaman, Zel?”

“Cuma kadang-kadang aja.”

“Gimana kalau itu kanker?’

Ezel malah tersenyum, tetapi air matanya mengalir ke pipi. “Enggak mungkin, kok—“

“Enggak mungkin gimana?!” sergahku. “Itu perlu diperiksa.”

Please jangan bilang ke Bang Erick soal ini. Please!

“Ya tapi kamu harus periksa, Zel.”

“Enggak apa-apa. Enggak usah.”

“Periksa! Ayo, nanti aku temenin. Oke?”

Ezel masih menggelengkan kepala. “Enggak apa-apa, Mas. Aku enggak apa-apa.”

“Jangan gitu, Zel. Kalau itu beneran kanker, itu bisa berbahaya. Bisa fatal. Apalagi kalau enggak di-treat segera.”

Ezel lagi-lagi tersenyum.

Senyum yang disertai air mata mengalir di kedua pipi.

Aku langsung menembaknya, “Gimana kalau kamu mati gara-gara ini?!”

Dan Ezel masih menjawabku dengan senyumannya.

Seolah-olah dia ingin berkata, “Iya, gapapa, mati saja.”

Obrolan itu harus terpotong karena Erick menghambur masuk ke dalam kamar secara tiba-tiba. “Elo udah lihat IG?!”

Aku dan Ezel terlonjak kaget. Erick membuka pintu lebar-lebar sambil mengulurkan ponselnya dan menunjukkan sebuah unggahan dari Lambe Turah. Dia terlihat cemas. Bajunya ternyata kebalik tetapi Erick tidak memedulikannya. (Kontolnya sudah tidak ngaceng.)

Aku menatap layar itu dengan saksama.

Di layar ada video yang agak buram, tetapi aku langsung mengetahui video apa itu.

Soalnya ....

... soalnya aku ada di dalam video itu.

“Gue di-WhatsApp si Andry soal ini,” kata Erick, menarik hape-nya padahal aku belum menonton video itu secara keseluruhan.

Jadinya, aku mengambil ponsel untuk melihatnya dari akun Instagramku sendiri.

Itu adalah video Kamis malam ketika Fian menghajar Deva hingga babak belur.

Judul beritanya, Oknum Tentara Main Hakim Sendiri ke Warga Sipil.

“Videonya enggak jelas, tapi ini bisa jadi preseden buruk buat tentara,” kata Erick, seraya membaca satu per satu komentar netizen yang tentunya tak ada satu pun berpihak kepada tentara. “Nama kita makin jelek. Anjing, lah! Bangsat!”

Video itu diambil oleh seseorang yang sedang dibonceng Gojek. Videonya hanya 10 detik, tetapi bisa menangkap kira-kira 5 detik adegan Fian menghajar Deva di bawah pohon. Namun, karena remang-remang, hanya diterangi lampu jalanan saja, gambarnya agak buram. Kurasa wajah Fian, termasuk wajahku, tidak terlihat jelas di situ. Yang terlihat jelas adalah seragam tentara yang dikenakan beberapa tentara itu saat sedang berlari untuk melerai Fian dari Deva.

Dan karena berlari, kesannya kayak sekelompok tentara bermaksud mengeroyok seorang warga sipil tak berdosa di video. Padahal yang berlari adalah Daddy Ryuji sewaktu dia hendak menghentikan Fian.

Adegan Deva meremas kontol Fian sama sekali tidak terekam karena perekamnya belum lewat di lokasi ketika kejadian terjadi.

Aku duduk dengan lemas di atas kursi.

Ezel masih celingukan bingung. “Kenapa, sih? Ada apa, sih?” Dia membuka Instagramnya sendiri. “Ini siapa, sih?”

Dengan gusar, Erick langsung menelepon beberapa temannya, “Elo udah lihat videonya?!”

Berita itu sudah di-like kebih dari 10K, meskipun baru diunggah beberapa jam lalu. Komentarnya lebih dari seribu. Aku mengklik kolom komentar tetapi hanya sanggup membaca satu gulir pertama karena tak sanggup melihat semua hinaan dan tuduhan salah alamat yang dilayangkan ke para tentara di video itu. Semua yang berkaitan dengan militer Indonesia pada masa lalu, langsung dikait-kaitkan ke video. Soal HAM. Soal kesemena-menaan tentara. Soal keangkuhan tentara. Emosi yang tidak stabil. Superiority complex. Tahun 1998. G30SPKI. Dan lain sebagainya yang sama sekali enggak ada hubungannya dengan video itu.

Yang, somehow, many times ada benarnya. Tapi kan untuk konteks video tersebut, bukan begitu kejadiannya!

Ingin sekali aku memberi tahu semua orang ini bahwa yang jelas-jelas salah di sini adalah Deva!

Deva penjahatnya!

Aku langsung meletakkan ponsel ke atas meja. Rasanya emosiku ikutan terbakar. Namun bukan ke tentara, melainkan ke para komentator yang tidak tahu apa-apa ini, tetapi berlagak seperti tahu segalanya. Jantungku berdebar-debar. Kepalaku dipenuhi pertanyaan, sejauh mana orang-orang melihat bahwa tentara yang menghajar itu adalah Fian dan yang dihajar adalah Deva?

Apakah keluarga Deva akhirnya tahu bahwa korban dalam video itu adalah Deva?

Apakah keluarga Deva justru orang yang menyebarkan ini semua ke internet agar viral?

Akan sejauh mana orang-orang berspekulasi atas potongan video 10 detik yang sebenarnya tak mewakili keutuhan cerita?

Erick mondar-mandir di kamar Ezel dengan cemas. Dia ngomel-ngomel entah kepada siapa di telepon.

Aku menarik napas agar merasa lebih tenang. Kulihat Ezel masih kebingungan melihat video yang ada di Lambe Turah itu. Dia masih sibuk membaca kolom komentarnya, mungkin. Atau mengulang-ulang video untuk melihat apakah dia mengenali siapa pun yang ada di video itu.

Harusnya dia kenal. Soalnya Erick berlari paling cepat untuk menahan tubuh Fian.

Drrrttt ...! Drrrttt ...!

Ponselku bergetar.

Aku langsung menyambarnya dan mengira Fian sudah melihat keviralan itu dan bermaksud menghubungiku. Namun itu bukan Fian.

Itu Deva.

Dia me-Whatsapp-ku.

Isi pesannya:

Sini dong beb. Kok lo g tengok gw sih di rs. Mau gw viralin jg lo?


[ ... ]


27. Bool Dewa (Short Version) | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 29. Hilih, Kintil! (Short Version)

Komentar