“Gue enggak ada rencana lama-lama kuliah di Bali, Ga. Gue pengin selesai internship 2031, punya STR, lanjut spesialis sambil ngambil S2, jadi gue bakal ada di kamar ini, malam ini, buat belajar, enggak peduli elo mau kayang atau ngapain di atas kasur.”
Itu adalah kata-kata yang disampaikan Rama kepada Saga. Keputusan
ini dia ambil dengan sangat bijak. Pertama, dia seriusan enggak mau keteteran
kuliah kedokteran. Kedua, dia ingin melihat Saga ngewe. Tentu keinginan
terbesarnya adalah ngewe langsung dengan Saga, tapi itu bukan option
yang memungkinkan malam ini. Jadi Rama bersikap strategis saja dulu.
Saga tersenyum kecil. “Jadi gapapa kalau gue ....”
“It’s okay.” Rama mencoba tersenyum akrab. “Sex is
human’s basic need. Gue belajar itu di kampus. Asal jangan lupa kondom. Dan
kalau ada yang berantakan, please beresin lagi. Bolehkah?”
Saga mengacungkan jempol tanda sepakat. “Tapi elo enggak akan
keganggu, kan?”
“Pasti keganggu, but that’s okay.”
“Gue janji gue enggak berisik.” Saga menepuk bahu sambil
bergegas ke luar lagi. “Offer gue masih on. Kalau elo mau gabung,
gabung aja.”
“Hahaha. Enggak usah.” Rama kembali lagi ke bukunya.
“Atau kalau elo mau pegang ..., pegang aja. Remas-remas.
Enggak masalah.” Kemudian, Saga keluar untuk menemui Melinda.
What the fuck does that mean?! jerit Rama dalam hati. Siapa
yang bisa gue pegang-pegang?! Elo atau Melinda?
Rama mulai gelisah memikirkan statement sekilas dari
Saga barusan. Soalnya tak ada subjek di kalimat itu. Yang artinya, bisa jadi
Saga mengizinkan Rama pegang-pegang tubuh Saga. Tapi Rama yakin pasti maksud
Saga adalah pegang Melinda. Untuk apa Rama remas-remas Saga ketika ada Melinda
yang toketnya gede di sana?! Untuk apa juga Saga menawarkan dirinya
dipegang-pegang?
Kegelisahan itu belum terjawab hingga Saga dan Melinda masuk
ke dalam kamar dengan awkward. Saga mengunci pintu dan mencolek lengan
Rama.
“Ram. Si Melinda,” bisiknya.
Rama menoleh, menemukan Melinda sudah berdiri di belakangnya,
tersenyum cantik. “Oh, hai! Sorry gue enggak bisa pergi dari sini. Gue
mesti belajar buat kuis.”
“Aku sih gapapa,” kata Melinda sambil membungkuk. “Kalau Mas
mau gabung juga gapapa.” Lalu, terkekeh kecil.
Dengan canggung Rama balas terkekeh. “Hehehe. Thanks.
Gue skip dulu. Entar cewek gue marah.”
Melinda tiba-tiba membelai Rama di bahu, membuat Rama tak
nyaman. “Gapapa padahal. Aku enggak akan bilang-bilang pacar Mas.”
“Hehehe.” Rama makin merasa canggung. “Enggak apa-apa. Kalian
main aja. It’s okay. Aku pake headphone.” Buru-buru Rama balik
lagi ke bukunya, pura-pura membaca, sambil memasang AirPods Max—supaya
kelihatan serius belajar.
Rama bisa mendengar Saga berkata, “Yuk,” sambil menarik
Melinda ke tempat tidur.
Kosan itu tak sesederhana kamar studio dengan kamar mandi
dalam. Namun, ada divisi-divisi yang memisahkan common area, tempat
tidur, dan service area. Setelah membuka pintu, akan ada common area
yang isinya meja belajar, sofa dan meja kecil menghadap TV, lemari buku,
kumpulan koper Saga, rak sepatu, keranjang cucian, dan tempat sampah. Luasnya
kira-kira 3 x 4 meter. Masuk ke dalam dipisahkan oleh sebuah credenza
panjang yang menyambung dari meja belajar, terdapat tempat tidur ukuran queen
dengan dua nakas di kanan kiri, dan lemari pakaian di seberang tempat tidur.
Sebelahnya ada kamar mandi dan lorong menuju dapur di bagian belakang, yang
juga terhubung ke teras halaman belakang yang dipagari tinggi.
Kamar ini memang kamar paling besar di kosan ini. Kamar Saga
lebih sederhana dari ini. Hanya berupa kamar tidur, kamar mandi, dan dapur yang
bersesakan di depan lorong kamar mandi.
Karena ada dua “bagian” dalam satu ruangan besar ini, maka
lampu di langit-langitnya pun ada dua. Lampu di common area dan lampu di
atas tempat tidur. Saga mematikan lampu di atas kamar tidur, membuat area itu
remang-remang, tetapi enggak gelap juga karena lampu dari common area
cukup terang.
Dengan dada berdebar, Rama mencoba fokus pada bukunya. Posisi
duduk Rama menghadap tembok yang sejajar dengan kepala tempat tidur. Yang
artinya, lokasi tempat tidur ada di samping Rama. Pilihan meja untuk belajar
hanya dua: menghadap tembok atau menghadap kasur secara langsung. Tak ada
pilihan memunggungi mereka. Mati-matian Rama menahan diri untuk tidak melirik
ke samping dan menonton.
Namun, sulit sekali. Meski wajahnya menghadap buku, ekor
matanya aktif mengintip dua pezina di sebelahnya. Sampai-sampai kepala Rama
pusing karena matanya melirik ke samping terus.
“Jangan berisik ya entar,” bisik Saga ke Melinda.
“Iya enggak akan,” jawab Melinda.
“Kamu mau ke kamar mandi dulu?”
“Enggak usah. Hmmmppphh ....”
Mereka cipokan.
Decak decup bibir beradu lidah yang basah mengisi keheningan
kamar. Bahkan, meski Rama mengenakan AirPods Max yang ada noise cancellation-nya,
suara kecupan bibir itu masih terdengar jelas. Ya, Rama tak menyalakan lagu
mana pun, karena dia juga kepo mendengar permainan mereka. Dia tak menyangka
suara mereka bisa selantang ini masuk ke telinga Rama yang seluruh area cuping
telinganya sudah tertutup AirPods.
“Hmmmmmmppphhh ....”
Cup. Cup.
“Aaaaaahhh ....”
“Buka bajunya, Beb,” bisik Saga.
“Hmmmmmmppphhh .... Kamu jugaaahhh ....”
Kedua pezina itu masih berada di ujung tempat tidur sehingga
Rama belum bisa melihat sosok mereka. Rama kepo bukan main. Dia sudah
mengabaikan Harrison’s Principles of Internal Medicine di hadapannya.
Seharusnya Rama membaca tentang patofisiologi gagal jantung, menulis ulang di
buku, lalu membuka iPad dan mencari artikel tentang differential diagnosis
dyspnea. Namun satu-satunya jantung yang menjadi pusat perhatiannya kini
adalah jantungnya sendiri.
Jantung yang berdebar cepat karena high school crush-nya
sedang akan ngewe dengan perempuan di belakang sana.
“Aku suka banget otot kamu, Beb ...,” bisik Melinda. “Aku mau
pegang.”
“Nih.”
Glek. Rama menelan ludah. Rama juga mau pegang.
“Keras,” desah Melinda. “Kayak yang di bawah.”
“Yang di bawah juga boleh kalau mau dipegang.”
“Hmph!” Rama menahan napas. Sange-nya mulai
memuncak membayangkan kontol Saga dipegang dan diremas Melinda. Rama iri
sekali. Dia ingin melihat apa yang terjadi di belakang sana.
“Aaaaaahhh .... Keras banget. Hmmmppphhh ....”
“Yang di bawah udah kangen sama kamu, Beb. Hmmmppphhh ....”
Rama mulai menggila. Dia tak sanggup lagi membaca apa pun yang
ada di depannya. Orthopnea dan Paroxysmal Nocturnal Dyspnea
mendadak berubah menjadi Otonarhpe Prxsalmuoa Ncunlarto Dsnaepy, sesuatu
yang tak bisa Rama baca sama sekali. Seluruh isi buku Harrison itu terlihat
seperti bahasa Rusia. Bahkan tulisan tangannya sendiri juga mendadak berubah
menjadi tulisan Yunani. Satu-satunya yang Rama pahami adalah kecupan panas di
belakang sana.
Rama menyerah. Tak mungkin dia berkonsentrasi belajar materi
kedokteran dengan cinta sejatinya ngewe di ruangan yang sama. Pada
akhirnya, Rama putuskan untuk pura-pura belajar saja dan menikmati pertunjukan
di sebelahnya.
Rama menoleh ke belakang, ke atas meja yang memberi batas
antara common area dan tempat tidur. Ada ranselnya di situ. Dia
pura-pura mengambil buku dari dalam ransel, sambil matanya melirik ke arah Saga
dan Melinda.
Mereka masih berciuman. Keduanya sudah telanjang dada. Melinda
sudah melepas tank top dan branya, tetapi dia memunggungi Rama.
Pinggangnya lumayan berlipat-lipat. Saga sudah melepaskan celana panjangnya,
menyisakan sempak hitam model trunk. Satu tangan Melinda masuk ke dalam
sempak itu, meremas-remas kontol ngaceng Saga. Saga mengulurkan satu
tangannya ke balik celana kulot Melinda, meremas-remas pantat. Sementara satu
tangan yang lain meremas-remas payudara Melinda.
Meski hampir tertutup badan Melinda yang lebar, Rama bisa
melihat otot lengan Saga yang atletis kekar. Bahu Saga juga terlihat lebar
dengan selangka yang kokoh dan mengilat oleh lembap keringat. Wajah Saga juga terlihat
lebih ganteng. Tampak sange mencumbu Melinda.
Rama kembali ke mejanya setelah mengambil buku, lalu menyerong
sedikit ke samping sambil membuka-buka buku itu tanpa juntrungan. Itu buku
tentang endokrin, Dasar-Dasar Endokrinologi karya Alwi Shahab. Tidak ada
hubungannya dengan yang sedang Rama pelajari sedari tadi. Namun setidaknya,
dari sisi ini dia bisa melihat dari ekor matanya apa pun yang Saga dan Melinda
lakukan di atas tempat tidur.
Kontol Rama sudah ngaceng keras. Satu tangannya,
sembunyi-sembunyi memijat kontol ngaceng itu dari luar. Jantungnya yang
berdetak cepat mulai terasa dingin. Atau mungkin ini akibat keringat dingin
yang merembes di punggung Rama?
Cup. Cup. Cak. Cup.
“Hmmmppphhh ....”
“Aku mau nenen, Beb,” bisik Saga sambil membungkuk ke bawah.
“Sambil tiduran ajaaahhh ....” Melinda memanjat naik ke atas
tempat tidur sambil melepas celana kulot dan sempaknya. Melinda telanjang
total. Toketnya memang besar, jatuh ke samping karena berat. Dia berbaring di
tengah-tengah tempat tidur, beralaskan bantal, sejajar dengan posisi duduk
Rama, sehingga Rama bisa “melihatnya” dari sudut mata tanpa perlu melirik atau
menoleh.
Saga merangkak di atas tubuh Melinda, menindih tubuh perempuan
itu sambil kedua tangannya meremas dada Melinda. Masing-masing tangan
mengarahkan toket Melinda ke mulutnya secara bergantian. Kecup dada kiri, isap.
Kecup dada kanan, isap. Lidah menyapu puting Melinda yang hitam besar, kokop
lagi, dan isap. Pindah ke dada satu lagi, dan lakukan hal yang sama.
Saga terlihat seperti bocah yang bahagia dengan mainan
barunya. Senyumnya terkembang kecil setiap kali bibir itu melepaskan puting
Melinda. Lalu, dengan alis bertaut sange, bibir itu akan mencaplok lagi
sang pentil, mengisapnya seperti bayi.
“Aaaaaahhh ...!” Melinda mengerang sambil menggeliat kecil.
Bibir bawahnya digigit. “Hmmmmmmppphhh .... Isap terus, Beb.”
Saga mengisap nenen itu hingga pipinya cekung ke dalam.
Setelahnya puting itu dilepaskan agar Saga bisa mengambil napas sambil
tersenyum sange menatap wajah Melinda. Kemudian, Saga menjilati areola
Melinda dan menggigit puting itu dengan lembut. Matanya lekat menatap wajah
Melinda, seperti seorang suami yang benar-benar mencintai istrinya.
“AAAAAAAAARGH!” Melinda menjerit sambil melengkungkan
punggungnya ke atas. Kedua tangannya terulur ke atas, berpegangan ke kepala
ranjang, memamerkan ketek putih mulus dengan titik-titik bulu ketek yang mulai
tumbuh. “Jangan digigit, Beeebbb .... Entar aku kluaaarrrhhh .... AAAAAARGH!”
“Enak, Beb?” bisik Saga.
Melinda mengangguk. “Ampun, Beeebbbhhh .... Hmmmppphhh ....”
Rama terpaksa berhenti memijat kontolnya karena dia hampir
saja crot barusan. Rama orgasme hanya dengan melihat wajah happy dan sange
Saga saat menatap wajah Melinda. Ekspresi nafsunya ketika membabat setiap
puting hitam besar itu kanan dan kiri juga terlihat maskulin dan seksi.
Durasi Saga nenen ke Melinda berlangsung cukup lama. Sayangnya
Saga masih mengenakan sempak. Sehingga, meskipun Rama berkali-kali menoleh ke
buku di sampingnya sambil melirik ke arah mereka, Rama belum melihat pantat
atau kontol Saga.
Satu momen, saat Rama pura-pura membaca dari Dasar-Dasar
Endokrinologi lalu mencatat ngasal di catatannya, Melinda menoleh ke arah
Rama. Perempuan itu tersenyum ganjen, “Sini, Maaassshhh ....”
Rama hampir jantungan karena pada saat yang sama dia juga
sedang melihat ke arah mereka. Lalu, karena Rama ingat dia sedang memakai headphone
dengan asumsi ada lagu yang diputar di sini, Rama membuka satu headphone-nya
dan mengangkat alis, “Kenapa?”
Saga menoleh ke arah Rama. Tersenyum sambil tetap mengulum
puting Melinda.
“Sini gabuuunghhh .... Jangan belajar teruuussshhh ...,” balas
Melinda, mengedipkan sebelah mata. “Nenenku ada duaaahhh .... Kalian bisa
kenyot satu-satu.”
“Ahahaha .... Silakan aja, Mbak. Gapapa. Biar Mas Saga bisa
dapat dua.”
Saga melepaskan kulumannya dari satu nenen. Area sekitar
bibirnya basah seperti halnya area sekitar areola Melinda. “Mau, Ram?”
Mau, tapi maunya nenen kamu, Saga, balas Rama dalam hati.
“Lanjut aja, Bro!” Rama mengacungkan dua jempol sambil tersenyum
lebar. Rama kembali (pura-pura) membaca buku endokrin di sampingnya, lalu
menulis. Dia juga mengenakan lagi headphone-nya. Rama masih mendengar
Melinda memelas, “Sini aja, Maaassshhh .... Brick duluuuhhh ....”
BREAK, anjeng! umpat Rama dalam hati. Brick! Brick! Lu
pikir lu Tessa Mariska, hah?! You briiick my hart brick my hof?!
Rama tak merespons panggilan itu karena asumsinya “lagu” di AirPods
Max Rama kembali membisingi telinga. Toh Melinda juga sudah kembali keenakan
nenennya dikenyot Saga. “Aaaaaahhh ....”
Sungguh, Rama iri.
Rama juga ingin nenennya dikenyot antusias dan brutal oleh
Saga. Rama ingin di dadanya ada wajah Saga yang sedang melumat tetek Rama,
mengisap bergantian puting Rama, sambil bertanya, “Enak, Ram?” Lalu ketika Rama
mengangguk, Saga akan menarikan lidahnya dengan liar di puting Rama, hingga
basah, hingga Rama menggeliat keenakan.
“Hmmmmmmppphhh ....”
Tak lama setelah interaksi itu, akhirnya Saga turun ke perut
Melinda. Saga mulai menjilati memek Melinda dengan lembut.
Melinda menjerit tertahan. “AAAAAAHHH ....” Matanya teler
menatap langit-langit. Kedua dadanya jatuh lagi ke pinggir. “Jilat, Beeebbbhhh
.... Teruuussshhh ....”
Memek itu berjembut lebat. Kelihatan kontras dengan warna
kulit Melinda di sekitarnya. Meski lebat, Saga tetap menjilatinya dengan
brutal. Dia mengokop seluruh bagian memek, membenamkan hidungnya di jembut itu.
Kemudian, kepalanya turun dan mulai menyapukan lidahnya dari bawah ke atas.
Setiap kali lidah Saga menyentuh klitoris Melinda, cewek binal itu berguncang seperti kesetrum.
“Aaargh!” Matanya membelalak kecil, sebelum akhirnya teler
lagi. Lalu ketika lidah Saga mengenai lagi klitoris itu, Melinda akan
membelalak lagi sambil mengerang, “Aaaaaargh!”
Saga terlihat sangat bernafsu. Saga tak peduli bahwa perempuan
di depannya ini enggak grooming sama sekali dengan area kewanitaannya.
Saga menjilati area selangkangan itu dari bawah, dari bool Melinda, naik
ke vagina, naik ke labia mayor, lalu lidahnya melesak ke dalam hingga
menggelitik labia minor dan Melinda terpaksa meremas bantal di sampingnya
sambil menengadah ke belakang—seperti orang yang kesurupan, lalu berteriak,
“AAAAAAHHHHHH ...!” Kemudian, lidah Saga yang basah itu menyusuri setiap labia
memek Melinda naik turun, membuat Melinda berguncang kecil, sebelum akhirnya
lidah itu naik ke uretra dan lagi-lagi mendesak ke dalam, membuat Melinda
menggelinjang kecil. The best adalah ketika ujung lidah Saga memainkan
klitoris hingga Melinda minta ampun, lalu naik dan meraup jembut lebat Melinda
dengan mulutnya, seperti sedang meraup mi keriting langsung dari mangkuknya.
Tampaknya jilmek itu enak karena tak lama setelah gelitik di
area labia mayor dan minor itu terjadi squirt kecil dari memek Melinda.
Hanya satu semburan saja.
Cyuuuur!
“AAAAAARGH!” Setengah tubuh Melinda sampai naik, sampai
kepalanya menggantung di atas bantal. Melinda benar-benar keenakan.
Cairan squirt itu menyembur dari uretra ke wajah Saga.
Menyemprot bening membasahi area pipi dan telinga. Saga tersenyum bangga.
Bukannya jijik karena wajahnya basah oleh cairan squirt, Saga lanjut
menjilmek Melinda.
Kebetulan Rama sedang menoleh ke buku endokrin. Jadi, Rama
melihat semua adegan itu. Rama langsung membasahi bibir bawahnya.
Rama ingin dibikin squirt juga.
Pasti enak banget itu jilmeknya, batin Rama.
Rama tahu, squirt tidak terjadi ke semua perempuan. Perlu
menyentuh G-spot khusus hingga cairan bening itu menyemprot keluar.
Bayangkan betapa liar, brutal, dan terampilnya ujung lidah Saga menggelitik
memek Melinda. Bayangkan jika lidah itu menjilati tubuh Rama di lubang mana
pun.
Rama menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya. Dia
kembali ke meja depan, tetapi tak sanggup menahan kepo. Jadi dia menoleh lagi
ke buku endokrin sambil mengintip apa yang Saga lakukan dengan memek Melinda.
Wajah Saga terbenam di memek itu. Naik turun, menggelitik
area-area sensitif Melinda dengan hidungnya, sementara sang lidah masih
menari-nari dengan liar, menjulur panjang keluar, mencoba melesak masuk ke
dalam mencari-cari harta karun.
Tubuh Melinda berguncang tanpa henti. Bergetar. Mulutnya
melantunkan desahan secara stakato, “Aah-aah-aah-aah-aah-aah-aah
....”
Lalu, Melinda menoleh dan memergoki Rama menatap ke memeknya.
“Sini, Maaassshhh ....”
Rama terkejut. Dia langsung menunduk membaca buku endokrin
lagi.
“Gabung, Maaassshhh ...,” panggil Melinda lagi.
Rama tak sengaja menoleh. Dia mengangguk sopan. “Enggak, Mbak.
Makasih. Hehehe.”
“Belajar muluuuhhh .... Hmmmppphhh .... Belajar apa,
sih?”
Rama mengangkat bukunya, lalu menjawab, “Ini ... tentang
entotin.”
Eh, GOBLOK!
Buru-buru Rama meralat, “ENDOKRIN! Maksudnya, endokrin! Ya!
Endokrin!” Rama menaikkan bukunya dengan salah tingkah.
Melinda mendesah sambil terkekeh. “Hmmmhhh ... hahaha
.... Mas Rama lucu bangeeettthhh .... Kenapa enggak mau gabung, siiihhh ....”
“Udah punya pacar,” balas Rama lagi, sambil garuk-garuk
kepala.
Saga yang sedari tadi asyik melumat memek Melinda, juga
mengangkat wajahnya dari memek itu, menoleh ke arah Rama sejenak sambil tertawa
kecil. Namun, Saga tak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatap wajah Rama sambil
terus menyapukan lidahnya ke selangkangan Melinda.
“Kalau enggak mau jilat akuuuhhh ...,” kata Melinda lagi,
“kamu jilat pantat Mas Saga ajaaahhh ....”
“Hahaha ....” Baik Rama maupun Saga tergelak canggung.
Sungguh, sangat, awkward.
“Kemarin kamu suka aku jilatin pantatnya, Maaassshhh,” kata Melinda.
“Ya kan Rama lagi belajar, Beb. Jangan diganggu.”
“Gapapa, biar Mas Rama bisa gabung.”
“Ssshhh ..., ah. Jangan gitu.” Saga kembali menjilati memek
Melinda dengan brutal agar Melinda tutup mulut. Jilatan memek itu ampuh karena
Melinda langsung mengerang keenakan dan melupakan kata-katanya.
“AAAAAARRRGGGHHH ...!”
Rama pun sudah kembali lagi ke meja depan dengan dada
berdebar-debar.
What the fuck?!
Apakah Rama mau menjilati pantat Saga?
Sangat. Sangat. Sangat. Mau.
Sebagai gay yang belum tahu posisinya top atau bottom,
Rama akan mau melakukan apa pun kepada tubuh Saga. Menjilati seluruh tubuh
telanjang itu? Mau. Menjilati lubang anusnya meski itu tempat defekasi? Tetap
mau. Rama sudah selemah itu kepada Saga, sudah tak akan ada yang membuatnya
jijik lagi.
Bayangkan Rama menjilati bool Saga, menjilati area
kerutan anusnya dengan ujung lidah Rama, menggelitik hingga Saga berguncang
kecil dan minta ampun. Itu akan menjadi hal paling membahagiakan dalam hidup
Rama.
Dada Rama bergemuruh seperti badai seraya dia pura-pura
mencatat kalimat secara acak dari buku Harrison. Kontolnya terasa keras sekali,
mendesak minta keluar dari sempaknya. Rama meremas-remas pulpennya
berkali-kali, hampir kesulitan menulis. Napasnya mulai tak teratur.
Selama beberapa waktu Rama mencoba mengenyahkan fantasi me-rimming
bool Saga. Tahu-tahu, ketika menoleh lagi ke buku endokrin, posisi tubuh
dua pezina itu sudah berubah.
Saga berbaring di atas tempat tidur, kepalanya di atas bantal.
Kedua tangan Saga di belakang kepala, memamerkan keteknya yang berbulu lebat. Melinda
tengkurap menindih perut saga. Dia sedang melumat tetek Saga menggunakan
lidahnya.
“Aaaaaahhh ....” Saga mendesah keenakan. Matanya terpejam,
menikmati lumatan Melinda dengan khidmat. Mulut Saga menganga kecil, pipinya
masih lembap basah, bulu keteknya sempat bergoyang oleh angin dari AC. “Hmmmmmppphhh
....”
Setelah sedari tadi Melinda yang berisik karena mendesah dan
mengerang, ruangan terdengar lebih sunyi karena mulut Melinda sibuk dengan
nenen Saga. Hanya terdengar desahan Saga yang lebih reserved, dewasa,
berat, dan maskulin. Sesekali Saga berkata, “Gigit, Beb .... Hmmmppphhh ...,”
atau mengerang dan mendesis, “Terus .... Aaaaaargh .... Anjiiinnnggg ....”
Saga menggigit bibir bawahnya hampir sepanjang waktu. Sesekali
satu tangannya mengusap kepala Melinda dengan lembut. Tubuh itu terlihat
mengilat.
Rama masih iri kepada Melinda, tetapi kalau Melinda tiba-tiba
berkata, “Sini, gabung, nenen Mas Saga ada dua, kita isap bareng, masing-masing
dapat satu,” mungkin Rama akan mengangguk setuju. Enggak masalah kalau ada perempuan
lain sedang mengisap tetek Saga di sebelah wajah Rama. Yang penting Rama bisa
mengisap tetek pujaan hatinya itu.
Sayangnya, sepanjang Melinda mengisap nenen Saga, tak ada lagi
interaksi bersama Rama. Saga fokus pada perempuan di depannya, tak sekali pun
menoleh ke Rama, meskipun Rama sudah duduk menyerong ke arah mereka sambil
membuka-buka buku endokrin. Ketika Rama dengan sengaja menonton mereka berdua
sambil mengangkat buku Dasar-Dasar Endokrinologi-nya, Saga tidak
terlihat ngeh bahwa Rama sedang menatap ke arahnya.
Tahu-tahu, Melinda turun ke bawah dan bersiap untuk menyepong
Saga.
“Aku mau isap,” bisik Melinda.
“Iya, Beb. Isap sepuasmu,” balas Saga.
Lalu, Melinda pun menarik turun sempak Saga yang sedari tadi
menyembunyikan jendolan kontol ngaceng, dan keluarlah ....
Drrrttt ...! Drrrttt ...! Drrrttt ...!
Rama terlonjak kaget. Saga dan Melinda juga menoleh ke arah
Rama.
Indah meneleponnya.
“Sorry,” kata Rama sambil menyambar ponsel dan berlalu
ke luar kamar. Rama menutup pintu dan merasa kesal sekali gara-gara panggilan
telepon ini. Sebelum mengangkatnya, Rama sempat mengerang kesal. “Argh!”
Napasnya memburu.
Hampir saja Rama melihat kontol Saga barusan!
HAMPIIIRRR ... saja!
“Halo!” sapa Rama geram sambil mondar-mandir di depan pintu
kamarnya, mengatur napas.
“Halo, Yaaannnggg .... Kamu lagi apa?”
“Lagi belajar buat tugas tutorial. Kenapa?”
“Kangeeennn .... Hehehe ....”
Anjing! Bener, ya, punya cewek tuh ganggu!
Nyusahin! Enggak pentiiinnngg ...!
“Oke.” Rama menenangkan dirinya sambil menumpukan satu tangan
ke pagar depan kamar. Kalau saja bukan karena personal branding sebagai
cowok straight yang punya cewek, Rama tak akan melanjutkan hubungannya
dengan Indah. Sejak awal dia tak pernah mencintai Indah. Kebetulan saja Indah
gampang dikelabui dan tampilan fisiknya memang indah: rambut panjang, wajah
cantik, manis, tubuh langsing seperti idol Korea, kulit putih, dan cara
berpakaiannya tidak memalukan.
“Kamu kangen aku enggaaakkk ...?”
Enggak, jawab Rama dalam hati. Namun di telepon
dia menjawab, “Iya.”
“Ih, kok kayak yang bete jawabnya?!”
“Enggak bete,” kelit Rama sambil menarik napas panjang. “Aku cuma
lagi belajar aja. Lagi ngafalin. Kaget kamu nelepon.”
“Oh, jadi aku ganggu, ya?”
MENURUT ELO?!
“Enggak,” jawab Rama.
“Kalau enggak ganggu, kenapa kamu
kedengaran bete, sih?”
“Aku enggak bete,” balas Rama, agak tegas.
“Kamu di kosan apa lagi di luar?”
“Di kosan. Tapi di luarnya.”
“Ih, ngapain? Kenapa enggak di dalam?”
“Cari udara segar. Dari tadi depan buku terus.”
“Ooohhh .... Aku tuh udah lama enggak ke
kosan kamu. Besok aku ke kosanmu, yaaa ....”
“Mau ngapain?”
“Ya main aja. Kayak dulu.”
“Kosanku jauh dari kampus kamu.”
“Ya gapapaaa .... Kok kamu kayak enggak
pengin aku main ke situ, sih?”
“Ya silakan aja kalau mau.” Rama mulai cemas karena dia belum
cerita sama sekali soal kepindahan Saga ke kamarnya. Tentu saja Indah tak akan
keberatan dengan kehadiran Saga, karena Saga seorang lelaki. Tapi Indah mungkin
akan marah kalau dia tahunya belakangan, bukan dari awal.
“Besok, ya?”
“Ih, jangan. Habis kuliah aku mesti kerja kelompok buat
presentasi kasus hipertiroidisme. Aku pasti pulang malam.” Tentu saja itu
bualan semata.
“Ya aku nginep aja di tempat kamu.”
“Eh, jangan!” sergah Rama, mulai panik. Dia mulai
mondar-mandir depan pintu kamar sambil mencari-cari alasan. “Temenku ada yang
mau nginap habis kerja kelompok. Biar ke kampusnya barengan. Kita presentasi
urutan pertama soalnya.”
“Cewek apa cowok?”
“Ya masa cewek, sih?!” Rama mendengus. “Temenku cowok. Entar
aku fotoin kalau perlu.”
“Oke!” Indah cekikikan kecil. “Aku mau cerita.
Hari ini Devika kan enggak masuk kelas, ya. Terus aku susul ke kosannya sama
Kashya, tahu enggak ternyata dia lagi ngapain di kosannya?”
Dan Indah pun mulai mencerocos soal pengalamannya hari ini
yang sangat tidak kontributif dalam kehidupan Rama. Lelaki itu hanya bisa
terduduk lesu di kursi depan kamar yang biasa Saga gunakan untuk merokok. Rama
menggelengkan kepalanya, agak kesal mendengarkan cerita enggak penting itu. Mau
disela, takut marah. Enggak disela, bisa sampe malam ceritanya. Bisa-bisa
Melinda hamil dan melahirkan bayinya baru cerita Indah selesai.
“... aku tuh enggak tahu kalau dia tuh
kenal sama si Devika. Kamu ingat kan aku pernah cerita soal Danan?”
“Hm.”
“Kayaknya kita pernah ketemu sama Danan
deh, waktu kamu jemput aku di gerbang, terus ada yang ngasih buku ke aku. Yang
pake jaket item! Nah, itu Danan! Inget, enggak?”
“Hm.”
“Jadi si Danan tuh, sama si Devika ....”
Rama hanya bisa menoleh ke arah kamar kosannya dengan
nelangsa. Ada jendela di samping pintu kamar kosannya, tetapi jendela itu
tertutup tirai dari dalam. Rama mencoba mencari celah untuk mengintip ke dalam,
tetapi dia tak menemukan celah apa pun. Pintu juga sudah Rama tutup rapat tadi.
Rama bahkan sempat memanjat naik ke atas kursi, ingin melihat dari atas, tetapi
sama-sama tak kelihatan.
Rama menempelkan telinganya ke pintu sambil menjauhkan headphone-nya
dari kuping. Dia masih mendengar suara Saga dan Melinda mendesah-desah, entah
sedang ngapain. Yang pasti Melinda sedang nyepong sih dan Rama pengin
banget melihat kontol Saga di-sepong. Tapi gimana caranya?
Setelah mondar-mandir mencari celah untuk mengintip, dia
menemukan tirai di bagian atas kanan, jauh dari pintu, ternyata tidak tertutup
rapat. Rama menggeser kursi dan memanjat naik. Dia mengintip ke dalam kamarnya
sendiri. Agak kesulitan, tapi Rama bisa melihat siluet Saga dari sana.
Kepala Saga, sedang menatap Melinda, bersandar ke kepala
tempat tidur, tampak keenakan. Namun, hanya sampai situ saja. Dada Saga bahkan
tidak bisa terlihat.
Rama benar-benar kesal. Indah masih saja mencerocos di
telepon. Satu-satunya cara untuk melihat kontol Saga adalah menghentikan
sambungan telepon ini lalu masuk ke dalam.
“... kan aku tuh enggak mungkin ya bilang
gitu ke Danan! Ya memang sih aku enggak suka sama si Devika, apalagi
kalung-kalung dia itu—“
“Yang? Yang! Batere hape-ku habis nih. Sorry,”
penggal Rama tegas. “Kita tutup dulu ya. Entar aku telepon kamu.”
“Ya kamu cas aja lah sekarang. Jadi
teleponnya bisa lanjut.”
“I know. Tapi seriusan, Yang, aku harus belajar buat
tutorial. Can I have my time?”
Indah terdiam di seberang telepon. Dia menghela napas. “Ya
udah. Tapi nanti kalau udah selesai belajarnya, telepon aku, ya?”
“Oke.”
Klik!
Dengan bersemangat, Rama langsung melompat ke pintu dan
membukanya. Dia menyelinap masuk lalu berjalan ke mejanya yang berada di
samping tempat tidur sambil berharap bisa melihat kontol Saga di-sepong
Melinda.
Tapi apa yang Rama lihat?
“Aaaaaahhh .... Aaaaaahhh ...!” Melinda sedang menduduki Saga.
Kontol Saga sudah ada di dalam memek Melinda.
FFFUUUUUUCCCKKK ...!!!
Rama kembali ke kursinya dengan perasaan sedikit marah.
Bahkan, ketika Saga menyapanya, “Siapa, Ram?” Rama menjawab dengan ketus.
“Cewek gue.”
Sambil Saga meremas-remas dada Melinda di depannya, dia masih
bertanya, “Berantem kalian?”
“Enggak.”
“Ayo sini Mas Ramaaahhh ...,” panggil Melinda sambil
menggoyang panggulnya. “Gabung sama kita ajaaahhh ....”
Gue pengin lihat kontol si Saga, anjing!
Kenapa elo dudukin?! FUCK!
“Gapapa. Kalian lanjut aja. Gue mau beresin catatan dulu.”
Kenyataannya, amarah itu tidak berlangsung lama. Begitu Rama
bisa melihat sosok Saga lagi, berbaring telanjang bulat, diduduki perempuan,
Rama kembali happy. Sange-nya memuncak lagi. Matanya kembali melirik ke
arah lelaki pujaannya, sambil berulang kali membuka-buka halaman Dasar-Dasar
Endokrinologi demi bisa mengintip apa yang mereka lakukan.
Posisi diduduki itu hanya berlangsung lima menit saja sejak
Rama masuk ke dalam kamar. Tak ada gerakan lain selain Saga menatap Melinda
dengan wajah mupeng sambil tangannya meremas-remas dada Melinda tanpa henti,
membiarkan pentilnya ada di antara dua celah jarinya, lalu dikepit-kepit hingga
Melinda mengerang keenakan. Kedua paha Melinda dirapatkan, sehingga Rama tak
punya kesempatan melihat sedikit saja batang kontol Saga.
Rasa sange membuat Rama haus. Dia akhirnya beranjak
dari kursi untuk mengambil air dari dispenser. Sambil menunggu air memenuhi
gelasnya, Rama bisa mendengar Saga berkata, “Ganti posisi, Beb.” Sewaktu Rama
berbalik, mereka memang sudah berganti posisi.
Berdiri.
Tepat di depan meja Rama.
Pantat Saga yang seksi hanya berjarak lima senti dari buku
endokrin itu.
Melinda merangkak seperti kodok di atas tempat tidur, tepat di
tepiannya. Saga berdiri di atas lantai, memasukkan kontolnya ke memek Melinda. Keduanya
memunggungi Rama. Namun, tubuh Saga benar-benar dekat dengan meja Rama. Pantat
itu benar-benar dekat dengan buku Rama.
PLOK! PLOK! PLOK!
“Aaaaaargh .... Aaaaaargh .... Aaaaaaargh ....” Erangan Saga
terdengar jantan.
“Hmmmhhh ... aaahhh .... hmmmppphhh .... Yang dalam,
Mas.” Desahan Melinda terdengar melengking.
Perut Saga dan pantat Melinda beradu berkali-kali, saling
menampar.
PLOK! PLOK! PLOK!
Rama, di belakang Saga, hampir meninggal.
Rama duduk membeku menatap pantat itu. Kedua paha Saga rapat,
sehingga Rama tetap tak bisa melihat apa pun yang ada di depan tubuh Saga.
Namun, belahan pantat itu benar-benar dekat. Bulu-bulu halus tumbuh di
antaranya. Kulitnya kecokelatan sempurna. Tidak ada bekas luka. Seluruh kulit
dari punggung hingga ke pantat terlihat mengilat oleh peluh.
Otot pantat Saga menegang beberapa kali, membentuk cekungan ke
dalam.
Punggung Saga terlihat lebar dan kokoh. Ototnya seperti
mengembang.
Dari belakang sini, meski kedua tangan Saga sedang sibuk
memegang pinggang Melinda, Rama bisa melihat sejumput bulu ketek Saga mencuat
keluar dari lipatan lengan. Ketek itu basah. Satu tetes keringat mengalir dari
ketek Saga ke pinggangnya.
PLOK! PLOK! PLOK!
Tanpa sengaja, karena genjotan Saga terlalu brutal, pantat itu
menghantam meja di belakangnya.
DUG!
“Sorry,” balas Saga, menoleh sejenak, tetapi lanjut
lagi mengentot menatap punggung Melinda.
“That’s okay,” balas Rama. Kembali merapikan bukunya di
atas meja.
Entah mengapa, tiba-tiba Rama sengaja memajukan buku Dasar-Dasar
Endokrinologi-nya lebih jauh melebihi batas meja. Lembaran-lembaran
kertasnya melambai sedikit karena tekanan udara yang tercipta dari gerakan
ekstrem maju-mundur pantat di depannya.
Napas Rama hampir sesak karena sange. Pemandangan ini
benar-benar seksi.
DUK!
Pantat itu mengenai buku Rama.
Saga menoleh ke belakang.
Kali ini Rama yang meminta maaf. “Oh, sorry,” sambil
menarik bukunya lebih dekat ke arahnya, lalu pura-pura membaca lagi.
Saga memalingkan lagi mukanya ke depan.
Dan Rama lagi-lagi memajukan bukunya mendekati pantat seksi
itu.
PLOK! PLOK! PLOK!
Jantung Rama berdetak berat seperti bedug yang ditabuh, dengan
tempo yang entah mengapa terasa pelan.
DUG ...! DUG ...! DUG ...!
Detak jantung ini membuat seluruh tubuh Rama lemas. Perutnya
mulas. Punggungnya berkeringat dingin. Kali ini bukan karena mengobrol dengan
Saga, melainkan mendapati pantat itu hanya berjarak satu jangkauan tangannya
saja.
Mata Rama terpaku pada pantat menggembung itu. Telinga Rama
rasanya tuli pada ingar-bingar dunia. Yang ada dalam fokusnya adalah pantat
Saga yang seksi. Pantat yang bergerak maju mundur dan ototnya menegang
berkali-kali.
Duk!
Kena lagi ke buku. Saga masih menoleh ke belakang satu kali.
Kemudian, memalingkan muka.
Rama menarik lagi bukunya sesaat, lalu mendorong lagi buku itu
maju.
Setelah beberapa genjotan ....
Duk!
Kena lagi. Tapi kali ini Saga tak menoleh, dia masih fokus
menggenjot memek Melinda. Saga sedang menjambak rambut Melinda, membuat kepala
perempuan itu mendongak ke atas.
Dari belakang, trisep Saga mengembang keras, terlihat sangat
tangguh. Lekukan garis tulang belakangnya juga terlihat menegang, seperti orang
yang sedang mengangkat beban berat. Kepala Saga agak condong ke arah Melinda,
benar-benar fokus.
Dengan nekat, Rama mengulurkan tangannya ke pantat Saga.
PLOK! PLOK! PLOK!
Rama tak bisa menahan dirinya lagi. Jemarinya menyusuri ujung
buku Dasar-Dasar Endokrinologi hingga melebihi bagian kertas terluar.
Telunjuknya mengacung ke depan, seperti gerakan attahiyat. Ujung
telunjuknya benar-benar dekat dengan pantat Saga.
PLOK! PLOK! PLOK!
Rama bisa merasakan hangat pantat itu dari ujung jarinya.
PLOK! PLOK! PLOK!
Rama bisa merasakan empuk pantat itu meski belum menyentuhnya.
Hingga akhirnya ....
DUK!
Pantat itu menghantam telunjuk Rama.
PLOK! PLOK! PLOK!
Saga menoleh ke belakang, merasa heran dengan sensasi baru di
pantatnya. Saga memergoki Rama sedang mengulurkan tangannya ke pantat Saga. Dia
melihat pose itu selama dua detik, lalu lanjut mengentot Melinda.
PLOK! PLOK! PLOK!
Rama kena serangan jantung. Ketika wajah itu menoleh ke
belakang dan melihat telunjuknya, Rama langsung membeku panik. Wajah Rama
memucat seketika. Kepalanya menyuruh Rama untuk menarik tangan dari situ,
tetapi Rama malah diam.
Tubuhnya tak bisa bergerak. Kulitnya berkeringat dingin.
Jantungnya berdentum-dentum.
Duk!
Lalu pantat itu mengenai telunjuk Rama lagi.
PLOK! PLOK! PLOK!
Dan berulang lagi hingga empat kali.
Duk!
Duk!
Makin sini makin mundur.
Duk!
PLOK! PLOK! PLOK!
Duk!
Telunjuk yang sedang ngaceng ke depan itu kini
menusuk-nusuk pantat Saga yang empuk.
Seolah-olah sengaja.
Seolah-olah Saga memang tak masalah telunjuk itu mengenai
pantatnya.
Malah, entah Rama berhalusinasi atau apa, pantat itu agak
bergeser agar telunjuk Rama bisa ke bagian tengah pantat, bukan di bagian
pipinya. Lalu, paha Saga agak membuka sedikit. Punggung Saga membungkuk ke
depan karena sedang meremas dada Melinda. Dan karena terbuka, untuk kali
pertama, Rama bisa melihat kerutan lubang bool Saga, dan juga biji peler
Saga dari belakang.
Biji peler bulat. Berbulu. Menggantung di bawah selangkangan.
Maju mundur mengikuti gerakan panggul Saga menggenjot memek Melinda.
Napas Rama memburu. Sungguh. Jantungnya berdentum sangat keras
sampai-sampai dentumannya menggetarkan kepalanya.
Dan Rama, entah dikuasai jin apa, mengulurkan tangannya lebih
jauh ke bawah selangkangan Saga.
Melewati bool berbulu itu.
Menyusup di antara celah paha yang sempit.
Paha yang ketika disusupi tangan Rama, yang harusnya terkejut
dan mengepit karena ada tangan menyusup di antaranya, tiba-tiba membuka lebih
lebar.
Saga menurunkan tubuhnya, agak mengangkang, membiarkan tangan
Rama ....
... memetik biji peler itu.
Fuck.
Rama hampir pingsan.
Kini dia menangkup biji peler bulat itu di atas telapak
tangannya.
....
Rama menggenggam biji peler yang bergerak maju mundur itu
dengan lembut, seperti memegang anak kucing yang imut dan rapuh.
Rama meremasnya lembut.
Kira-kira dua detik kemudian, Saga mendesah keenakan,
“Aaaaaahhhhhh ....”
Saga seperti terkejut. Soalnya sedari tadi dia menggeram macho
sambil menggenjot. “ERGH! ERGH! ERGH!” Ketika “aaahhh” itu muncul rasanya
seperti oasis yang nikmat.
Namun, Saga langsung membalik tubuh Melinda hingga telentang,
mendorongnya lebih ke tengah, dan Saga pun naik ke atas tempat tidur untuk mengewe
Melinda dalam posisi misionaris.
Biji peler itu harus lepas dari genggaman tangan Rama.
Jaraknya sudah lebih jauh.
Saga mengangkang seperti kodok di atas kasur. Menciumi bibir
Melinda, mendekapnya, membiarkan pantatnya terekspos ke depan muka Rama.
Dari kursinya, Rama bisa melihat pantat bulat itu masih asyik
menggenjot maju mundur, biji peler bulat itu masih menghantam memek Melinda.
Seperti melihat pantat kucing jantan dari belakang.
Rama masih membeku di kursinya. Sekalinya bisa bergerak, dia
duduk tegak menghadap ke mejanya semula, menatap telapak tangannya yang baru
saja menggenggam biji peler Saga. Ini adalah sebuah kejadian yang tak pernah
Rama bayangkan bisa terjadi. Sosok yang selama ini hanya ada dalam fantasinya,
kini biji pelernya bisa Rama sentuh.
Rama benar-benar terpukau. Dia bahkan tak merasa perlu menoleh
lagi ke atas kasur untuk menonton mereka ngewe. Dia masih tak percaya
dengan apa yang dia dapatkan barusan.
....
Tak lama sejak posisi berganti misionaris, Saga akhirnya
orgasme dan ejakulasi. Prosesnya sederhana tanpa erangan-erangan berlebihan.
Tahu-tahu Saga crot di dalam kondomnya dan dia menarik kontolnya keluar
dari memek Melinda.
Kejadiannya cepat setelah itu.
Saga dan Melinda mandi bareng.
Saga dan Melinda mengenakan pakaian.
Saga membereskan kekacauan di atas kasur sambil menunggu
Melinda mengenakan pakaiannya.
Saga menawarkan minum untuk Melinda dan berbicara sebentar.
Tahu-tahu Saga menepuk bahu Rama dan berkata, “Ram, gue
ngantar Melinda dulu.”
Rama yang sepanjang durasi itu melamun tak percaya, langsung
tersadarkan. Tubuhnya melonjak kaget, lalu kepalanya menoleh. “Oh! Ya, ya.
Hati-hati.”
“Makasih banyak ya Mas Ramaaa ....” Melinda membelai bahu Rama
dengan ganjen.
“I ... iya. Hehe.”
Dan, keduanya pun pergi.
Rama tak berani melihat wajah Saga. Rama tak berani menatap
mata pujaan hatinya, takut terbaca bahwa Rama menikmati momen menangkup biji
peler Saga barusan.
Sepeninggal Saga dan Melinda, Rama masih tak bisa melanjutkan
belajarnya.
Dia duduk termenung di kursinya ....
... menatap telapak tangannya sendiri yang masih bisa
merasakan lembut dan licin kulit testis Saga yang berbulu.
[ ... ]
Tanpa Rama sangka, Saga kembali kira-kira setengah jam
kemudian. Rama yang niatnya mau coli selama Saga mengantar Melinda
pulang, belum sempat melakukan apa pun. Tahu-tahu dia mendengar Saga membuka
pintu kamar, melepaskan sepatu, menyimpan tas pinggangnya, lalu duduk di luar
untuk mengisap rokok.
Setelah merokok, Saga masuk dan mandi kembali. Agak lama. Aroma
sabun Rama sampai menguar ke kamar.
Di titik itu, Rama sudah bisa menguasai dirinya. Napasnya
sudah tenang. Detak jantungnya sudah teratur. Rama masih belum tahu apa
pendapat Saga soal dirinya memegang biji peler tadi, tetapi Rama tidak berani
memikirkannya sekarang. Rama kembali fokus ke belajarnya yang tertunda, mencoba
melupakan kejadian tadi sebisa mungkin.
Saga keluar dari kamar mandi hanya melilitkan handuk di
pinggang. Sisanya telanjang dengan titik-titik air lembap masih menempel di
kulitnya yang kecokelatan. Lelaki itu mengelap kepalanya yang basah dengan
handuk lain, kemudian mengenakan celana tidurnya yang sudah belel.
Rama pikir Saga akan langsung naik ke tempat tidur untuk beristirahat.
Namun, Saga malah menghampiri Rama dan berdiri di belakang kursinya.
“Thanks, Bro,” bisik Saga.
Rama menelan ludah. Dia merasaka lagi gugup yang bikin mulas
itu. “Oh. Iya.”
“Sorry kalau gue bikin elo enggak fokus.” Saga memijat
satu bahu Rama dengan lembut.
“Gapapa.”
“Gue yakin elo keganggu,” bisiknya lagi.
Rama hanya terkekeh kecil. “Hehehe .... Ya udah, sih.”
Lalu, terdapat keheningan selama beberapa detik sebelum
akhirnya Saga berkata, “Kalau gue bantu elo, gimana?”
“Bantu apa?”
“Bantu keluarin.”
“Keluarin apa?”
“Keluarin punya elo.”
Rama membeku lagi. Seluruh tubuhnya benar-benar tegang.
Matanya membelalak bulat, tetapi Saga tak bisa melihatnya karena Rama
membelakanginya. “Nga ... ngapain?”
“Supaya elo enggak tegang,” balas Saga. Lelaki itu tiba-tiba
meletakkan dagunya di puncak kepala Rama. Kedua lengannya terulur di atas bahu
Rama. Menjuntai ke atas perut Rama. “Elo udah baik banget ama gue. Tapi dari
kemarin gue lihat elo belajar mulu. Kagak ada santainya. Diajakin main ama si
Melinda enggak mau.”
“Gue emang harus ... belajar, Ga.” Rama menelan ludah lagi. Jantungnya
kembali bertalu-talu. Rama menatap dua lengan kekar yang kini terulur di depan
dada dan perutnya.
“Gue pengin bantu elo rileks.” Tiba-tiba satu tangan Saga
turun ke kontol Rama dan membelainya. Kontol itu sedang ngaceng—tentu
saja. “Tuh, kan. Keras. Gue tahu elo tadi pengin gabung, tapi elo setia ama
cewek elo, dan elo harus belajar.”
Rama tak merespons apa pun. Dadanya berdebar-debar cepat. Napasnya
memburu.
“It’s okay, gue bisa bantuin. Gue ikhlas ngocokin. Yang
penting elo bisa rileks.”
Rama tak percaya mendengar pertanyaan itu. Dalam hatinya dia
mengulang-ulang pertanyaan yang sama. Apa ini mimpi? Apa ini mimpi? Apa ini
mimpi?
Namun yang keluar dari mulut Rama malah, “Jangan ngadi-ngadi,
Ga. Udah, enggak usah.” Lalu, untuk menguatkan penolakannya, Rama menambahkan,
“Gue kalau ngocok harus sambil tetek gue diisap.”
“Gue bisa ngocok sambil ngisep tetek elo.”
“Gue laki-laki, Ga.”
“Gue bukan homo, tapi gue enggak masalah,” balas Saga. “Gue
tahu elo juga bukan homo, tapi percaya sama gue, Ram .... Kadang ama cowok bisa
lebih enak.”
Rama menelan ludah lagi. “Enggak mungkin.”
“Cobain aja dulu,” bisik Saga.
“Cobain gimana? Gue enggak tahu. Gue enggak pernah!” sergah
Rama buru-buru. Dan jujur. Secara teknis memang Rama tak pernah main sama cowok
meskipun dia gay.
“Terserah, elo mau nyobain yang mana?” bisik Saga. “Mau
dikocokin sambil tetek dimainin, kayak yang elo bilang barusan ....
“Mau gue kocokin dari belakang, sambil pelukan, sambil gue
jilatin kalau perlu ....
“Mau sixty nine ...?
“Mau yang mana? Semuanya gue bisa.”
What the fuck?!
Ini beneran apa mimpi, sih?! Ini seriusan?
SERIUS?!
Rama mendongak pelan-pelan ke atas, menatap wajah Saga yang
ada di atasnya. Wajah lelaki itu terlihat serius.
“It’s okay, Ram. Gue enggak akan bilang cewek elo. Dan
kalau elo takut jadi homo setelah ini, gue jamin Ram .... Elo enggak akan jadi
homo. Elo bisa tetep normal. Gue pernah iseng-iseng begini ama si Riki, teman
kelas kita dulu. Sampe sekarang gue ama si Riki normal-normal aja. Enggak
berubah.
“Elo mau gue bantuin kayak gimana, Ram?” tanya Saga kali
terakhir sambil terus memijat kontol ngaceng Rama dari luar celana.
Apa yang harus Rama pilih?!
[ ... ]
Voting
masih berlangsung hingga 11 Januari 2026 pukul 23.59 WIB
Part 2 | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Sekosan | Part 4
Komentar
Posting Komentar