Sebagai calon dokter, Rama tahu persis ketek memiliki
kepadatan reseptor sentuhan yang tinggi. Refleks protektif (atau defense
reflex-nya) cukup kuat terhadap rangsangan tak terduga. Seseorang yang
sedang sadar pun akan merasa lebih geli ketika keteknya digelitik dibandingkan
puting atau pusarnya dimainkan.
Jadi, hal pertama yang harus Rama eliminasi adalah ketek—tak
peduli sebesar apa pun Rama ingin membenamkan wajahnya di sana.
Sisa pilihannya tinggal puting dan pusar. Bagian paling tidak
reaktif adalah pusar. Bagian ini jarang terlibat dalam refleks pertahanan. Sementara
puting perlu keberuntungan karena respons reaktifnya dipengaruhi faktor
individual. Kalau reseptor sensitivitas Saga tinggi, dia akan terbangun
seketika. Kalau rendah, maka Saga akan terus molor meski putingnya dimainkan
semalaman. Dan, tak ada cara lain untuk mengetahui apakah Saga sensitif atau tidak
selain melalui tes sentuhan langsung.
Rama mondar-mandir di kamarnya sendiri sembari terus mengamati
tubuh setengah telanjang itu. Dadanya berdebar-debar tak keruan. Perutnya
mulas. Persis momen pertama dan satu-satunya waktu Rama mencoba ketemuan dengan
seorang lelaki dari dating apps. Saking gugupnya, Rama kabur dan batal
bertemu lelaki itu. Makanya hingga hari ini riwayat ngewe-nya hanya
dengan cewek.
Rama menyugar rambutnya sembari mengurai dilema dalam kepala.
Puting? Pusar? Puting? Pusar?
Ngecek keberuntungan? Nikmatin yang
pasti-pasti aja? Ngecek keberuntungan? Nikmatin yang pasti-pasti aja?
Lalu, sebuah suara dalam kepalanya berkata, “Puting saja.”
Rama terkesiap dan berhenti mondar-mandir. Itu suaranya sendiri. “Kalau Saga
marah karena putingnya elo isap, Ram, ya udah. Dia bakal pergi dari sini dan
elo enggak perlu nampung dia yang gaje ini. Kalau dia enggak marah, it’s
your birthday present.”
Rama berjalan pelan-pelan menghampiri tempat tidurnya.
Dia berbaring hati-hati di area kosong yang cukup sempit itu.
Tubuhnya merosot ke bawah hingga kepalanya sejajar dengan
ketek Saga. Ketika menoleh, dada Rama berdebar lagi karena ketek beraroma cheesy
itu terlihat begitu dekat. Namun, matanya langsung tertuju pada puting susu Saga
yang seksi.
Kepala Rama mendekat pelan-pelan. Seperti harimau yang sedang
mengincar rusa.
Hingga akhirnya, puting itu berjarak beberapa belas sentimeter
saja dari bibir Rama.
Dari dekat, puting Saga terlihat menggiurkan. Areolanya
berwarna gelap. Pentilnya normal, tidak besar, tidak kecil. Pentil itu keluar,
tidak ada papilla mammae retracta. Ada beberapa helai rambut tumbuh di
sekitar areolanya.
Ketika hidung Rama berada makin dekat dengan puting Saga, dia
bisa menghidu aroma asin, cheesy, campur manis-manis sisa parfum yang
berpadu dengan testosteron.
Dari dekat, Rama bisa melihat perut Saga naik turun karena
bernapas dengan rileks sekali.
Mulut Saga menganga kecil, melantunkan dengkuran lelah.
Saga terbujur lelap.
Mungkin sudah masuk fase tidur yang dalam.
Maka dari itu, Rama pun mengokop puting Saga dengan bibirnya.
Lembut-lembut.
Hati-hati.
Hap.
Kembang api rasanya meletus berulang-ulang di dalam perut
Rama, seperti perayaan tahun baru yang semarak. Setelah empat tahun
mengidam-idamkan lelaki ini, Rama tak menyangka dia bisa mencicipi puting Saga.
Puting itu benar-benar asin karena sepanjang malam dialiri keringat. Ujung
lidah Rama mencicipi puncak puting berulang-ulang sembari matanya menatap ke atas,
ke wajah Saga yang terlelap. Seraya ujung lidahnya menari-nari di puncak puting
itu, Rama mengawasi pergerakan apa pun di wajah Saga.
Sejauh ini, tak ada reaksi apa pun.
Secara bertahap, Rama mulai mendesak puting itu dengan
lidahnya. Dia sapukan ujung lidahnya ke seluruh bagian areola, kemudian menyapu
naik turun di pentilnya yang lama-lama mengeras.
Puting itu bereaksi. Namun, Saga masih terlelap.
Tanpa melepaskan kokopannya, Rama memijat-mijat kontol ngaceng-nya
dari luar. Dia juga mulai mengisap puting itu lembut-lembut.
“Hmmmppphhh ....” Napas hangat Rama mulai berembus ke
atas dada Saga. Dia mulai khawatir napas hangatnya ini membangunkan Saga.
Maka dari itu, Rama mulai membuang mukanya ke arah lain untuk
mengambil napas. Dia akan menahannya setiap kali mengokop puting seksi itu dan
memainkannya.
“Hmmmppphhh.”
Sukses terlewati sepuluh menit memainkan puting Saga dengan
mulutnya dan lelaki itu tak bangun juga. Bahkan, posisi tidurnya masih sama,
desah napasnya masih sama, ekspresi wajahnya masih sama.
Di lain sisi, Rama mulai keenakan. Ya, dia baru saja crot
tanpa kendali sekitar dua jam lalu. Kontolnya masih terasa ngilu pascaejakulasi.
Namun, kontol itu tetap ngaceng keras sepanjang mengisap puting Saga dan
mungkin bisa crot lagi kalau Rama tetap memijatnya seperti ini.
Rama tak merasa bosan meski lidahnya sudah terasa sangat asin
oleh nenen pemain basket yang belum mandi sehabis bertanding. Sungguh, Rama tak
masalah dengan rasa asin pahit ini. Apalagi sepanjang dia mengisap puting itu,
wajahnya menghadap ketek lebat Saga yang seksi, sehingga kalau Rama tidak
mengawasi wajah Saga, dia akan mengamati ketek itu dengan penuh hasrat.
Pada satu momen, akhirnya Saga bereaksi. “Hmmmmmmhhh ....
Aaaaaahhh ....”
Kepalanya menoleh kecil. Alisnya bertaut kecil. Mulutnya
menganga kecil. Namun setelah itu ....
... ngorok lagi.
Rama jantungan sewaktu melihatnya. Dia langsung menjauhkan mulutnya
dari puting itu dan duduk dengan dada berdebar-debar. Sungguh, seperti
genderang mau perang. Bahu Rama berguncang ketakutan.
Takut ketahuan.
Namun, adrenalinnya benar-benar mengambil alih dirinya malam
itu. Meski hampir kepergok, Rama tetap mendekati tubuh Saga dan melanjutkan
isapan putingnya. Kali ini, Rama lebih nekat lagi.
Satu tangannya yang bebas memilin-milin puting Saga yang tak
terjamah.
Rama mencubit kecil dengan jempol dan telunjuknya, lalu
memilinnya pelan-pelan seperti memutar-mutar tangkai alang-alang yang tipis.
Rama tak berani mencubitnya terlalu intens. Kalau lengannya sudah pegal karena
sikunya melayang di atas perut Saga, Rama akan mengusap-usap puting kawannya
itu dengan jempol. Rama juga membasahi jempolnya terlebih dahulu dengan ludah sebelum
mengusap-usap puncak puting.
“Hmmmmmmhhh ....” Saga bereaksi lagi. Kedua alisnya
bertaut ke tengah selama beberapa detik. Dalam tidurnya, Saga mulai mendesah,
“Aaaaaahhh ....”
Setelah kondisi aman—Saga terlelap lagi—Rama kembali beraksi.
Lagi-lagi melakukan hal yang sama.
Mengisap puting.
Menyapu pentilnya dengan ujung lidah.
Mengepitnya dengan bibir.
Memilinnya dengan jari.
Mengusap-usapnya dengan jempol.
Satu kali Rama mengokop puting itu dan mencoba menariknya ke
atas. Pelan-pelan saja, tak perlu intens.
“HMMMMMMHHH ....” Desahan Saga mulai terdengar kentara.
Alisnya bertaut hebat.
Rama isap lagi pelan-pelan.
“Aaaaaahhh ....” Saga menurunkan satu tangannya. Kebetulan di
sisi sebelah sana, sehingga tidak mengenai tubuh Rama.
Rama lanjut memilin dan mengisap.
“AAAAAAAAAHHHHHH ....” Desahan Saga makin keras. Napasnya
mulai memburu. Kepala Saga menoleh ke arah lain. Tangan yang tadi turun tetiba
menggaruk-garuk puting yang dipilin Rama, sehingga Rama harus menarik tangannya
dulu. Setelah menggaruk, tangan itu kembali Saga letakkan di bawah kepalanya.
Rama berpacu dengan degup jantungnya sendiri.
Aktivitas ini sangat mendebarkan. Membuat Rama berkeringat
padahal dia tidak melakukan gerakan fisik yang ekstrem.
Setelah desahan yang cukup keras itu, Rama tak sengaja menoleh
ke celana jersey sang pebasket. Celana pendek dengan bahan mengilat yang
tipis, longgar, dan licin. Di area selangkangan Saga ....
... sudah membentuk tenda.
Kontol Saga ngaceng.
Rama membelalak tak percaya. Jendolan itu benar-benar
signifikan. Besar dan kelihatan keras. Bahkan, setiap kali rama mengisap puting
Saga, jendolan itu akan berkedut-kedut kecil. Seolah-olah merespons rasa nikmat
di puting.
Rama makin membara. Dia terpukau melihat jendolan kontol Saga.
Saking bergairahnya, tanpa sengaja Rama mengisap puting Saga
terlalu intens.
Dan isapan itu ....
“AAARGH!”
... membuat Saga terbangun.
“Anjing!” Saga langsung terduduk kaget sambil
mengerjap-ngerjapkan matanya. Kepalanya diguncangkan agar matanya beradaptasi
dengan cahaya ruang.
Rama hampir meninggal.
Tentu saja Rama langsung berbalik memunggungi Saga, meringkuk
seperti orang yang sudah tidur sedari tadi. Mata Rama terpejam kuat. Hidungnya
mengernyit. Dadanya berdentum-dentum, membuat seluruh tubuh Rama merinding.
Keringat dingin mengalir di punggungnya.
Dalam kepanikan dan ketakutan itu, Rama bisa mendengar Saga
bicara dengan dirinya sendiri, “Apaan yang barusan, anjing ....” Suaranya
hampir berbisik.
Lalu, ada hening selama beberapa detik, entah apa yang Saga
lakukan di belakang sana. Rama pikir mungkin Saga akan turun dari tempat tidur
dan mandi. Atau membangunkan Rama. Atau apa pun. Namun, Saga malah berbaring
lagi. Kali ini tidur menyamping, memunggungi Rama.
Dan, Saga mendengkur lagi. Tertidur lelap.
Rama menenangkan dulu dirinya yang panik. Setelah dia yakin suasana
aman dan Saga terdengar lelap kembali, Rama pun menoleh ke belakang.
Benar dugaannya, Saga memunggungi Rama. Punggungnya yang
lebar, dengan lekukan garis tulang belakang yang seksi, tampak megah di depan
Rama. Satu lutut Saga dilipat ke perut, melindungi kontol Saga dari serangan
luar. Pantat Saga tercetak sempurna di balik celana jersey itu.
Satu suara mulai berkata dalam kepala Rama, “Sudah cukup.
Tidak perlu lanjut.”
Rama menurutinya.
Puting Saga tidak sepadan dengan kepergok sebagai lelaki gay.
Sebaiknya sekarang tidur saja. Mungkin sambil mencecap-cecap lidah, merasakan
lagi asin pahit keringat Saga yang masih tertinggal di dalam mulut Rama.
[ ... ]
Keesokan paginya, Saga masih tertidur ketika Rama terbangun.
Padahal, Rama bangun cukup telat, pukul 7. Hingga pukul 2 dini hari, Rama
hampir tak bisa tidur akibat sosok Saga di belakangnya. Masalahnya, Rama ada
kelas pukul 8 pagi. Maka dari itu, Rama
langsung melompat dan berlari ke kamar mandi.
Hingga Rama berangkat ke kampus, Saga masih belum bangun.
Lelaki itu malah membentangkan kedua tangan dan kakinya lebih lebar di atas
tempat tidur mengetahui Rama sudah tidak ada di atas tempat tidur lagi. Rama
ragu apakah dia harus membangunkan Saga atau tidak. Dia putuskan untuk mengabaikan
saja Saga pagi ini sambil meninggalkan sebuah pesan di atas kertas, yang dia
letakkan di atas koper Saga (dengan asumsi Saga akan membuka kopernya ini saat
mengambil pakaian).
Kalo keluar simpan kuncinya di sepatu gw yg
oren. Thx.
Sangka tak disangka, obrolan Rama dan Saga sebelum Rama mandi
semalam menjadi obrolan terakhir mereka berdua hingga tiga hari ke depan.
Sepulang dari kampus pukul 3 sore, Rama tak menemukan Saga di
kamarnya. Kunci juga sudah diletakkan di sepatu sneakers Rama yang
berwarna oranye. Artinya, Saga sedang pergi keluar. Pukul 4 sore, Rama pergi
lagi keluar untuk berkencan dengan Indah dan baru kembali kira-kira pukul 8
malam. Ketika Rama kembali, Saga masih belum pulang. Bahkan, ketika Rama tidur
pukul 11, tak ada tanda-tanda kepulangan Saga.
Namun, keesokan paginya, Rama menemukan Saga sudah tidur di
sampingnya. Lagi-lagi telanjang dada. Kali ini mengenakan kolor biru yang sudah
belel dan merosot hampir ke bawah, sampai-sampai belahan pantat Saga mengintip
dari tepiannya.
Tentu saja Rama tak membangunkan lelaki itu karena Rama harus
pergi ke kampus pagi-pagi. Pola yang sama terulang lagi: Rama tak bertemu Saga
ketika pulang ke kosan pukul tujuh malam. Dia tahu Saga baru saja pergi, karena
aroma kamar ini mulai tercampur parfum Saga yang maskulin. Pun di luar, di
sebuah asbak yang sudah disiapkan Saga, ada beberapa puntung rokok di dalamnya.
Ditambah lagi, lantai kamar mandi masih basah. Seolah-olah Saga pergi lima
menit sebelum kedatangan Rama.
Kebetulan itu hari Jumat. Rama menduga Saga mungkin berkencan
atau mabuk-mabukan di La Favela, atau Mexicola, atau Potato Head. Apa lagi
alasan anak muda dari Pulau Jawa yang kuliah di Bali selain mengincar
malam-malam penuh gemerlap di bar-bar tersohor ini? Kalau punya uang lebih,
mungkin ke Finns juga. Jadi, Rama tak menunggu Saga. Rama tidur lebih awal,
membiarkan pintu tak terkunci supaya Saga bisa masuk ketika pulang nanti.
Namun, pagi itu Saga tak ditemukan di atas tempat tidur.
Kopernya terbuka dan pakaiannya berceceran sembarang di atas lantai. Sepertinya
Saga sempat pulang, mengganti bajunya, tetapi pergi lagi dengan terburu-buru.
Handuknya tersampir di sandaran kursi dalam kondisi masih lembap.
Mungkin weekend-an di luar, misal ke Nusa
Penida atau Amed, pikir Rama.
Berhubung ini hari Sabtu, Rama santai-santai dulu pagi itu.
Membalas WhatsApp dari Indah dan membukukan janji untuk makan siang di Living
World lewat tengah hari. Namun, lama-lama Rama tak tahan dengan kamarnya yang
berantakan. Dia akhirnya bangkit dan mulai membereskan kekacauan itu.
Rama foto koper Saga yang berantakan, lalu dia kirim fotonya
melalui WhatsApp. Sorry klo gue lancang. Gue beresin ya baju2nya. Mumpung
gue mau ke laundry, sekalian gue bawa baju lo. Kalo lo keberatan, kabari dalam
5 mnt.
Tidak ada kabar apa pun dalam lima menit. Bahkan hingga 30
menit berikutnya. Alhasil, Rama membereskan kekacauan itu. Dia endus semua baju
yang berserakan. Yang baunya enggak enak, Rama kategorikan baju kotor. Yang tak
ada aroma, atau masih tersisa aroma penatu (laundry), Rama lipat dengan
lebih rapi dan dia letakkan di sebuah ruang rak kecil lemari bukunya. Kira-kira
80% dari seluruh pakaian itu kotor sehingga Rama mengangkut semuanya ke penatu.
Sekembalinya dari penatu, Rama langsung beres-beres kamar.
Secinta mati apa pun Rama kepada Saga, Rama harus mengakui bahwa pujaan hatinya
itu jorok bukan main. Misal, meninggalkan gelas bekas minum sembarangan,
membiarkan lantai kamar becek habis dari kamar mandi, lupa nge-flush, membuka
botol peralatan mandi Rama (yang Saga gunakan tanpa minta izin) lalu lupa
menutupnya lagi, melempar kaleng-kaleng bir kosong ke tempat sampah seakan-akan
melakukan three-point shoot dalam pertandingan basket, tetapi tak semua
dari kaleng itu masuk ke tempat sampah—soalnya kalengnya memantul keluar lagi.
Dan kalau sudah terlempar keluar, kalengnya tidak dimasukkan dengan cara normal
ke dalam tempat sampah.
Rama tak mengeluh. Sungguh. Dia senang-senang saja membereskan
kekacauan yang dilakukan Saga. Malah, Rama merasa bahagia bisa melakukannya.
Ketika Rama menggeser koper-koper Saga ke tempat yang lebih
rapi (agar kamar ini terasa luas lagi), ada satu sempak kotor Saga yang
tercecer di balik koper. Rama tak melihat sempak ini tadi, jadi dia tak
memasukkannya ke penatu. Namun, bukannya memasukkan sempak bekas pakai itu ke
keranjang cucian, Rama malah duduk di tempat tidur sambil meraba-rabanya dengan
penuh gairah.
Ya, membereskan kekacauan Saga di kamar membuat Rama sange—entah
apa justifikasinya. Mungkin ada perasaan seperti “melayani” Saga yang membuat
Rama berdebar-debar? Entahlah. Yang pasti, saat melihat sempak itu, Rama
langsung kepikiran untuk coli. Sudah beberapa hari ini Rama belum coli
gara-gara Saga—model utama fantasi coli-nya—tinggal bersamanya.
Dengan kilat, Rama mengunci pintu kamar, melorotkan celananya,
lalu melompat ke atas tempat tidur. Dia bekapkan sempak bekas pakai Saga,
menghidu aroma khas selangkangan, sambil satu tangannya mengocok kontol.
“Anjiiiiiinnnggg ..., Sagaaa .... Hmmmmmmmppphhh ....
Anjiiinnnggg ....” Napas Rama memburu. Matanya terpejam, membayangkan lagi
seluruh ketelanjangan dada Saga di kamar ini, sembari mengingat-ingat nikmatnya
puting Saga di mulutnya. “Fuck you, Sagaaa .... Hmmmmmmppphhh ....
Kontol elo enak, Gaaaaaa .... Buat gue ya kontolnya .... Hmmmmmmppphhh ....
Kontol elo punya gue sekarang, Gaaaaaa .... Aaaaaargh ....”
CROT! CROT! CROT! CROT! CROT!
Masturbasi itu terasa sangat nikmat. Selama beberapa puluh
menit berikutnya, Rama hanya rebahan saja di atas tempat tidur, membiarkan
sempak Saga terhampar di atas wajahnya. Kalau tidak ada janji jalan-jalan ke
mal dengan Indah, mungkin Rama sanggup mengendus sempak itu sampai sore.
Malam harinya, sepulang dari Living World, Saga masih belum
pulang. Padahal Rama pulang pukul 11 malam setelah mengantar Indah ke kosannya.
Rama langsung mandi dan bergegas tidur.
Pukul 2 dini hari, Rama terbangun.
Saga sudah pulang.
[ ... ]
“Bro?” Sapaan itu yang membangunkan Rama.
Dia menoleh dan menemukan Saga sudah berbaring di sebelahnya.
Telanjang dada dan siap tidur. Dari aroma sabun Rama yang pekat, dia tahu Saga
baru saja mandi. Kulitnya terasa lembap.
“Oi! Ngapa?” Rama berbalik agar sama-sama telentang seperti
Saga.
Berbaring sebelahan, keduanya menatap langit-langit kamar
dalam kesunyian malam. Saga melipat satu tangannya ke bawah kepala, dan
kebetulan itu lengan yang ada di sebelah Rama, sehingga ketek Saga terekspos
tepat di sebelah wajah Rama. Maka dari itu, Rama tak berani menoleh. Takut sange
melihat ketek itu.
“Makasih udah beresin baju-baju gue,” balas Saga, dengan
sangat rileks dan santai.
“Iya,” jawab Rama seadanya. Seperti biasa, kalau mengobrol
dengan Saga, Rama merasakan dadanya berdebar, perutnya mulas, punggungnya
berkeringat dingin.
“Makasih juga udah nampung gue di sini.”
“Aman.”
“Gue masih belum dapat kosan sampe hari ini.”
“Santai aja. Kamar gue ini paling gede dibandingin semua kamar
di sini.”
“Gue kagak enak ama elo, Ram,” lanjut Saga. “Tiba-tiba
ngerepotin elo, terus gue belum ngobrol ama elo.”
“Ya udah. Ini kan lagi ngobrol.”
“Soalnya, gue juga belum tahu kapan gue bisa pindah.”
“Iya santai aja, Ga.”
“Gue lagi ada financial situation,” katanya. “Gue
enggak bisa cerita detailnya, tapi mungkin duit gue cuma cukup buat sehari-hari
aja. Belum bisa bayar kosan.”
Rama menelan ludah. “Oke.”
“Apa nih yang bisa gue lakuin buat bayar bagian kosan gue ke
elo?” Saga menoleh serius.
Rama malah GR karena dipandang dari samping. Mana wajah
ganteng itu berada di samping lengan kekar sang pebasket yang bulu-bulu
keteknya berdiri seksi dengan lebat. Rama tak bisa berkata apa-apa lagi selain,
“Enggak apa-apa. Bulan pertama dari gue aja. Soalnya gue udah bayar ke Pak
Wayan buat bulan ini.”
Pak Wayan adalah pemilik kosan ini.
Saga tampaknya masih merasa tak enak. “Elo mau main ama cewek
bule enggak, Ram? Gue ada kenalan cewek Rusia, dia suka lokal kayak kita. Gede
teteknya, enak diremas-remas. Gue bisa bawa dia ke sini buat gantiin biaya gue
ngerepotin elo—“
“Enggak, enggak, enggak!” sergah Rama buru-buru, sebelum Saga
menyelesaikan kalimatnya. “Gue udah punya cewek, anjing! Udah, enggak apa-apa.
Elo fokus ama diri elo aja, Ga. Sampe elo bisa get back lagi, elo bisa
tinggal di sini.”
“Atau mau yang lokal Bali?”
“Enggaaakkk!” Rama menyikut Saga. Kena ke dada Saga.
“Aaawww!” Saga meringis sambil terkekeh kemudian. “Serius,
Bro?”
“Serius.”
“Elo emang kagak pernah main di belakang cewek elo, hah?”
“Enggak.”
“Di Bali padahal ini.”
“Ya gue beda ama elo, Ga.”
“Sayang banget, Ram. Di sini hampir semua ceweknya bisa
dipake.”
“Ya gue sih enggak mau.”
Saga manggut-manggut. Selama beberapa menit kemudian, Saga
masih menceritakan gambaran besar kehidupannya di luar ngampus di Jurusan
Pendidikan Olahraga. Isinya sesuai dugaan Rama selama ini. Clubbing,
mabuk-mabukan di bar, ngewe ama cewek, and repeat. Kegiatan
positif seperti kuliah atau latihan basket terdengar membosankan bagi Saga.
Akhirnya obrolan itu diakhiri dengan Saga bertanya sekali lagi
kepada Rama, “Kalau elo mau gue do something buat elo, bilang aja, Bro.”
Rama yang mulai jengah akhirnya berkata, “Ada sebenarnya.”
“Apa?”
“Tolong kaleng birnya dimasukin ke tempat sampah, Ga. Jangan
berserakan di lantai.”
“Siap, Bro!” Saga mengangkat kepalan tangannya di udara,
mengarah ke Rama, seperti akan meninju.
Rama terpaksa membalas tinjuan itu sebagai tanda sepakat.
Namun, sebelum Rama menyebutkan permintaan lain seperti botol sabun, kaki
becek, flush, dan lain-lain, Saga tiba-tiba berbalik memunggungi Rama
dan berkata, “Good night.”
Sang pujaan hati langsung molor. Menukar ngekos di kamar Rama
dengan tugas membuang kaleng bir ke tempat sampah saja.
[ ... ]
Meski sepanjang Minggu pagi mereka berdua ada di dalam kamar,
keduanya tetap tak mengobrol. Sama seperti masa-masa SMA ketika mereka berada
dalam ruang kelas yang sama, tetapi tak berinteraksi sekali pun kecuali
benar-benar penting. Saga sibuk dengan ponselnya. Rama sibuk dengan laptopnya,
mengerjakan salah satu tugas kampus.
Tahu-tahu, Saga mandi pukul 11 siang dan berangkat pergi.
“Cabut dulu, Bro,” ujar Saga setelah mengikat tali sepatu. Dia mencolek Rama di
bahu sambil bergegas keluar.
“Oh, iya. Hati-hati.”
Dan hilang lagi deh kekasih hatinya itu. Rama hanya bisa
mengintip dari balik tirai jendela kamarnya, memastikan Saga sudah naik ke
motor, melaju pergi, supaya Rama bisa mengunci pintunya, kemudian ....
... coli lagi.
Rama ambil sempak terbaru bekas pakai Saga yang ada di
keranjang kotor. Dia endus-endus dengan nikmat, dia jilati bagian penampung
kontolnya, sambil satu tangannya ngocok sampai crot.
Hidupnya benar-benar bahagia.
Pukul empat sore, Rama ada janji nonton film bersama Indah di
IMAX-nya Icon Mall Sanur. Dia mandi dan bersiap-siap. Ketika Rama keluar dari
kamar mandi, ternyata Saga sudah pulang.
Saga ada di depan pintu kamar. Pintu sudah terbuka sedikit
dengan handel masih Saga pegang, karena pintunya sedang dibuka. Namun, dia
berbisik-bisik dengan seseorang di luar. Ketika Saga membuka pintu dan
menemukan Rama baru keluar dari kamar mandi, handukan saja, Saga terkejut. “Eh.
Sorry.”
Saga menutup lagi pintunya. Bisik-bisik lagi dengan tamunya di
luar. Kemudian, Saga menyelinap masuk ke dalam kamar. Senyumnya begitu ramah,
seperti orang yang memiliki maksud terselubung.
Rama sedang memilih pakaian di lemarinya ketika Saga bertanya,
“Eh, Ram ..., elo mau keluar?” Suara Saga lumayan pelan.
Rama mengangguk sambil mengenakan sempak ke balik handuknya.
“Gue mau ke ICON ama cewek gue. Mau nonton.”
“Ah, okay.” Saga menggosok tengkuknya, sambil
tersenyum. “Gue pake ya kamarnya. Hehehe.”
“Mau main, ya?”
“Entar gue beresin, kok.”
“Pake kondom,” titah Rama sambil mengambil celananya.
“Iya, pasti pake.” Dengan canggung Saga memasukkan kedua
tangannya ke dalam saku celana. Dia menunggu Rama mengenakan pakaiannya. “Elo
punya kondom kan, Bro?”
Si anjeng, umpat Rama dalam hati.
Namun, karena Saga adalah pujana hatinya, tentu saja Rama
langsung menghampiri laci dekat meja kerjanya, kemudian mengeluarkan kondom
yang Rama simpan baik-baik selama ini. Kondom premium Okamoto 003. “Mau
sekalian pake pelicin?”
“Wah, boleh tuh. Hehehe.” Saga menghampiri Rama dan menerima
juga Monogatari yang hampir tak pernah dipakai Rama karena ngewe-nya
super-jarang. Pun, biasanya cewek-cewek yang ngewe dengan Rama basah
total setiap ngewe. Rama punya pelicin ini sebagai jaga-jaga kalau memek
lawan mainnya terlalu kesat.
Setelah memberikan kondom dan pelicin, Rama kembali mengenakan
pakaiannya. Saga berlalu keluar, menutup pintu, lanjut mengobrol dengan
perempuan yang diajaknya kemari. Setelah Rama mengenakan sepatu dan bergegas
keluar, Saga menyetopnya.
“Kenalin, Ram. Ini Melinda.”
“Halooo! Melinda,” sapanya sambil mengulurkan tangan.
Cewek itu agak berisi. Payudaranya lumayan besar. Panggulnya
juga besar. Terlihat cukup manis, tetapi dia bukan tipenya Rama. (Fakta bahwa
Melinda perempuan saja sudah bukan tipenya Rama.) Melinda mengenakan tank top
dan hot pants yang ngepas badan. Rambutnya dicat pirang, tetapi
ujung-ujungnya sudah rusak dan bercabang. Makeup-nya lumayan tebal
dengan warna eye-shadow kontras dengan warna tank top-nya.
Antara cewek ini pelacur, atau cewek ini Saga temukan keliaran
di bar dan bisa dientot cuma-cuma.
Rama membalas sapaan Melinda dan menyebutkan nama juga.
“Rama.”
“Ini temen gue, Ram. Dia lagi liburan di sini.”
“Oh. Oke. Gue berangkat dulu, ya.” Rama tersenyum ramah,
membungkuk sopan, lalu berlalu.
“Iya. Hati-hati di jalan!” Saga pun membawa Melinda masuk
kamar Rama.
Ketika Rama menoleh ke belakang, pintu kamarnya sudah
tertutup. Bahkan, Rama dapat mendengar suara cekrek kunci pintu diputar.
Rama menghela napas Panjang. Dia tak tahu apa yang harus dia rasakan. Apakah
sebal karena kasurnya dipake ngewe oleh Saga? Ataukah senang karena
kasurnya dipake ngewe oleh Saga?
Fakta bahwa Saga ngewe di atas tempat tidurnya cukup memenuhi
kepala Rama. Sepanjang menonton film, Saga hampir tak memerhatikan apa yang ada
di layar. Dia sedang mengira-ngira apa yang dilakukan Saga bersama Melinda di
kamarnya.
Apakah mereka melakukan doggy style? Melinda merangkak
seperti anjing, lalu Saga mengentotnya dari belakang?
Apakah mereka melakukan gaya misionaris? Melinda berbaring di
kasur, lalu Saga mengentotnya sambil berlutut dan membungkuk mengenyot tetek
Melinda?
Apakah mereka melakukannya sambil berdiri? Kontol Saga
menyusup di antara paha Melinda, kepala kontolnya masuk ke memek Melinda, lalu
bergerak maju mundur dientot dari belakang. Kedua tangan Saga terulur ke depan,
meremas-remas payudara Melinda yang besar.
Lalu, Saga mendesah, “Aaahhh ....” Sambil menciumi tengkuk
Melinda dengan nikmat.
Bool Saga meliuk-liuk maju mundur dengan
konstan. Kepalanya kontolnya mendesak-desak memek Melinda tanpa ampun.
Batangnya dijepit kuat-kuat oleh paha Melinda. Pantat Saga bulat menegang
karena dia mengentot Melinda dengan brutal.
“Enak, hm?! Kamu suka? Mau aku genjot sampe kamu lemas, hah?!
Eeeeeergh! Mauuu? HMMMPPPPH! AAAAAAARGH!” Suara desahan Saga terdengar menggeram,
seperti monster. Tampak sangat bernafsu dan intens. Kedua tangan Saga
meremas-remas dada Melinda seperti ingin memecahkan balon. Kontol Saga makin
keras dan tegang menghantam mulut memek Melinda. Membuat Melinda mengerang
keenakan.
“Hmmmmmm .... Aaaaaahhh ....”
“Kamu kenapa, Yang?”
FUCK!!!
Rama baru saja mendesah sambil memijat-mijat kontolnya
sendiri. Itu bukan suara Melinda! Itu suaranya sendiri!
“Gapapa.” Rama duduk lagi dengan tegak, menelan ludah, sambil
menyilangkan kedua pahanya, menyembunyikan ngaceng kontolnya. Keringat langsung
mengalir di pelipis, tengkuk, dan punggungnya.
“Kamu horny?” bisik Indah.
Rama menggelengkan kepala. “Enggak, Yang. Udah, sana. Nonton
lagi.”
“Kok bisa horny, sih?!”
“Enggak. Aku enggak horny. Ssshhh .... Jangan
berisik. Entar orang lain keganggu.”
“Kita lagi nonton film horor lho, Yang! Kok kamu horny?”
Kencan di bioskop itu hampir menjadi tragedi bagi Rama. Indah
bete karena Rama kayak yang sange sepanjang nonton. Terpaksa Rama
mentraktir Indah cheesecake di seberang Icon Mall, di sebuah gang kecil.
Mood-nya berubah baik dan Indah tak mengungkit lagi soal “horny”
saat menonton film horor tadi.
Meskipun begitu, tetap saja yang ada dalam kepala Rama adalah
sosok Saga, telanjang bulat, sedang ngewe dengan Melinda.
Sekembalinya Rama ke kosan setelah mengantar Indah, kira-kira
pukul 11 malam, Saga tak ada di kamar. Namun, becek di depan kamar mandi terasa
masih baru, mungkin dia baru meninggalkan kamar ini tak lama sebelum kedatangan
Rama.
Yang membuat Rama berdebar-debar adalah apa yang ada di atas
meja samping tempat tidur.
Kondom bekas pakai.
Terikat di bagian atas, dengan sperma yang sudah berubah
bening di dalamnya.
Kondom ini membungkus kontol Saga beberapa saat lalu.
Dan cairan ini pasti spermanya Saga.
Jantung Rama berdetak sangat kencang.
Meski seharusnya kondom ini menjijikkan, tetapi batas
kejorokan itu tampaknya sudah pudar bagi Rama jika menyangkut Saga. Rama
mengunci pintu kamarnya, melorotkan celana, lalu coli lagi untuk kali
kedua hari ini.
Kali ini sambil mengendus-endus kondom bekas pakai Saga.
Dan menuang sperma bening itu ke wajahnya.
CROT! CROT! CROT! CROT! CROT!
[ ... ]
Seperti hari-hari sebelumnya, Rama tak bertemu lagi dengan
Saga kecuali pada pagi hari di mana Saga sedang terlelap telanjang dada di
sampingnya. Senin malam, ketika Rama pulang ke kosannya dari kampus, Saga sudah
tak ada di sana. Berhubung ini sudah menjadi rutinitas, Rama mengabaikannya.
Hari Selasa Rama tidak ada kuliah, tetapi dia pergi ke
Starbucks Sudirman untuk mengerjakan tugas bersama temannya. Pulang dari
Starbucks, Rama menjemput Indah untuk makan malam. Dia baru kembali ke kosan
lewat Isya untuk kembali melanjutkan tugasnya.
Kira-kira pukul 10 malam, Saga muncul.
Bersama Melinda.
Namun, sebelum Melinda masuk, Saga menyuruhnya menunggu di
luar. Setelahnya, Saga menyelinap ke dalam kamar, menutup pintu pelan-pelan,
dan menghampiri Rama yang sedang membaca di meja belajar.
“Bro, lagi sibuk?” tanyanya, setengah berbisik.
“Besok gue kuis. Gue mesti ngafalin materinya malam ini.”
“Oooh.” Saga menggosok-gosok tengkuknya, dengan salah tingkah
mencoba mencari cara mengutarakan maksudnya.
Rama yang sudah paham maksud Saga, langsung menyergahnya, “Gue
enggak bisa pergi dari sini. Gue mesti belajar, Ga. Sorry.”
“Eh, gue bukan mau ngusir elo, Ram. Hehehe. Santuy aja,
santuy ....” Saga menepuk-nepuk bahu Rama.
“Lo pasti mau main lagi, kan?”
“Bener sih bagian itunya. Tapi ada tapinya.”
Rama memutar kursinya menghadap Saga. “Apa?”
Saga celingukan dulu ke luar. Dengan ragu, Saga mencoba
menjelaskan niatnya. Suaranya hampir berbisik, sehingga Rama mesti mendekat
agar bisa mendengarnya. “Gue mau main lagi ama si Melinda di sini.”
“Terus?”
“Elo enggak usah pergi dari sini. It’s okay.” Saga
menoleh dulu ke luar, memastikan Melinda tak mendengar. “Tapi terserah elo,
sih. Enaknya elo aja gimana.”
“Ini udah jam 10. Kalau harus keluar, gue enggak tahu mesti
keluar ke mana.”
“Eh, jangan, jangan. Enggak usah keluar,” sergah Saga segera,
sambil memegang kedua bahu Rama. “Si Melinda suka elo. Dia pengin main ama elo
juga.”
“Enggak. Gue enggak mau. Gue udah punya cewek.”
“Udah gue jelasin ke dia. Tapi gini aja, deh. Pertama ....”
Saga menjelaskan pilihan yang bisa dia berikan. Dia mengambil napas panjang sebelum
menyampaikannya. “Kalau elo enggak keberatan, gue ama dia mau main di kasur,
elo bisa tetep belajar di sini. Gue janji, gue bakal pake kondom, terus gue
enggak bakal berisik. Gue enggak bakal ganggu elo. Kalau perlu pake selimut,
gue pake selimut deh ama dia.
“Kedua ..., elo bisa gabung ama gue, kita bisa threesome.
Tapi tenang aja, gue enggak bakal nyentuh elo. Malah mungkin gue pake dulu si
Melinda bentar, sepuluh menit, habis itu elo bisa pake dia semaleman, terserah
elo. Gue bisa langsung cabut begitu gue udah crot. Jadi elo enggak perlu
nunggu lama dan kita enggak perlu main bareng—takutnya elo awkward.
“Atau ketiga ....” Saga menelan ludah, agak berat dan malu
mengatakan ini di depan Rama. “Gue pinjam duit buat nyewa hotel deket sini,
supaya gue bisa main ama dia tanpa gangguin elo. Gue janji, gue lunasin begitu
bonyok gue transfer uang bulanan. Gimana?”
Rama hanya bisa membeku mendengar tiga pilihan itu. Sungguh
semuanya pilihan yang sulit.
Membiarkan mereka ngewe sambil Rama lanjut belajar?
Memangnya Rama bisa berkonsentrasi penuh ketika lelaki idamannya ngewe
dua meter darinya? Tidak mungkin.
Gabung bersama mereka, meskipun harus menunggu sepuluh menit
menunggu Saga crot di memek Melinda, lalu Rama bisa mengentot Melinda
sesuka hati? What the fuck?! Rama saja tidak menyukai Melinda. Yang ada
juga Rama pengin ngentot Saga.
Memberikan uang ke Saga supaya mereka pergi dari sini? Itu
terdengar seperti ide paling masuk akal, tapi apakah Rama mau melewatkan Saga ngewe
begitu saja? Setelah bertahun-tahun memfantasikan ngewe dengan Saga,
sekarang orangnya bakal ngewe di depan Rama, masa iya Rama usir keluar?
Apa yang harus Rama pilih?
Apa mending Rama saja yang pergi dari sini, mencari kafe 24
jam, lalu fokus pada belajarnya?
[ ... ]
Voting sudah selesai.
Hasil voting terlampir di bawah.
Part 1 | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Sekosan | Part 3
Hasil voting:
Jumlah
pemilih: 87 orang
Sebanyak
66% (57 orang) pilih “Lanjut belajar, biarkan mereka main di kasur”
Sebanyak
26% (23 orang) pilih “Gabung, meskipun nanti Saga pergi di tengah-tengah”
Sebanyak
2% (2 orang) pilih “Kasih uang supaya mereka main di luar”
Sebanyak
6% (5 orang) pilih “Cari kafe 24 jam supaya belajar bisa fokus”
Belum
ada pembaca yang menggagalkan voting lewat jalur eksklusif.
Maka
dari itu, Part 3 akan mengikuti suara terbanyak. Klik di sini untuk melihat alternatif cerita yang tidak terpilih.

Komentar
Posting Komentar