(BT) Yang Tidak Terpilih Part 3


 


Apa yang terjadi jika pilihan lain yang menang?

Hasil voting-nya sangat dominan, bahkan mengalahkan yang 58%, jadi kita tidak akan melakukan pemilu dua putaran yes. Wkwkwk. To the point saja, apa yang akan terjadi jika pilihan lain yang menang? Sejujurnya, not much. Aku cuma mau tahu saja para pembaca leaning toward ke Jacob yang masih misterius atau ke Rama yang sweet so sweet (yang bucin ke Saga wkwkwkw).

 

(1) Naik mobil bareng Rama

Sama seperti yang terbit di Part 4, mereka enggak langsung ke rumah Gio. Jacob sih pulang dengan motor Gio ke rumah, tapi Rama dan Gio melipir dulu ke sebuah pantai di daerah Gianyar. Mereka nongkrong di kafe pinggir pantai untuk mengobrol. Di sini, Rama curhat beberapa hal soal percintaan. Karena Gio tahunya pacar Rama adalah Indah, Gio mengira Rama membahas Indah. (Tapi kita yang baca cerita tahu persis ini soal Saga.)

Nama Saga tidak di-mention, nama Indah pun sebenarnya tidak di-mention. Tapi setiap Gio mengonfirmasi apakah Rama membahas soal Indah, Rama hanya manggut-manggut saja. Adegan melihat ke lautan lepas dengan wajah sedih dilakukan oleh Rama. Di sini, Gio menyadari bahwa Rama hanyalah manusia biasa. Rama juga ternyata punya masalah meskipun kehidupannya terlihat sempurna.

Relasi antara Gio dan Rama makin dekat. Makin membuat “dinding” antara Gio dan Jacob.

Soalnya, ketika Gio akhirnya pulang ke rumah, Jacob sudah menunggunya dengan cemas. Gio merasa bersalah ke Julian karena berangkat bareng Gio, tetapi pulang sendirian. Mereka berdua agak beradu argumen, yang akhirnya dilerai oleh Julian, mengatakan bahwa sejauh Gio pulang dengan aman, ya sudah tidak apa-apa.

Akan ada adegan romantis dan intim di atas kasur, ketika Gio dan Jacob mau tidur. Jacob minta maaf karena sudah marah, Jacob cuma trauma aja dikira sebagai anak yang enggak bertanggung jawab dan enggak punya masa depan. Soalnya Julian benar-benar “nitipin” Gio waktu minta izin main ke Denpasar paginya. Gio juga minta maaf karena sudah memilih naik mobil Rama, dengan alasan Gio masih pusing akibat pingsan. Jacob memahami ini. Jacob menjanjikan Gio untuk menyervis motornya ke bengkel esok hari, sehingga mereka sepakat untuk Jacob mengantar Gio ke kampus besok.

Pilihan voting muncul keesokan harinya ketika Gio terlambat bangun, Jacob juga terlambat bangun. Waktu mereka benar-benar mepet sementara mereka harus mandi. Tiba-tiba Jacob mengajukan usul, “Gimana kalau kita mandi bareng? Biar barengan selesainya, bisa langsung berangkat?”

Pilihan voting-nya: (1) mandi bareng; (2) Jacob saja yang mandi, Gio tidak mandi; (3) Gio saja yang mandi, Jacob enggak usah mandi; (4) tidak ada yang mandi, mereka berdua langsung berangkat.

 

(3) Naik angkutan umum sendirian

To be honest, sebenarnya ini pilihan paling romantis. Wkwkwk. Soalnya ketika Gio bingung harus ikut yang mana, Gio berlari keluar dan menaiki TMD yang kebetulan lewat. Lalu, baik Jacob maupun Rama, mengejarnya. Jacob pake motor, Rama pake mobil. Mereka berdua membuntuti bus TMD hingga Gio turun di sebuah tempat di area Sanur.

Setelah berhasil menemukan Gio, akhirnya Gio minta maaf dan mengaku bingung harus gimana. Dia mengaku kedua pilihan itu masuk akal buat Gio. Ujung-ujungnya, Jacob menyarankan Gio untuk santuy dulu di pantai sampai akhirnya dia tahu mau pulang sama siapa. Mereka bertiga duduk-duduk di Pantai Sanur, menatap ke laut, sambil membicarakan apa yang terjadi kepada Gio. Namun, Gio masih berkelit ke sana kemari, menghindar dari jawaban yang sebenarnya dia rasakan di hati.

Di sini, Giolah yang menatap sedih ke lautan lepas. Dan gara-gara murung tersebut, Jacob dan Rama berebutan untuk membuat Gio nyaman. Misal, Rama membelikan minuman mahal, Jacob memijat bahu Gio, Rama membelikan camilan mahal dan menyuapkannya ke Gio, Jacob melakukan sulap yang gagal dengan tujuan membuat Gio tertawa. Keduanya benar-benar perhatian dan berkompetisi membuat Gio terhibur.

Gio pun terhibur. Tapi Gio masih belum bisa memilih.

Akhirnya, Gio pulang sama bapaknya. Dia telepon Julian, minta jemput, dan Julian pun jemput.

Di rumah, Jacob minta maaf kalau bikin Gio enggak nyaman di depan teman Gio. Mereka melakukan pillow talk sebelum tidur dan di sinilah terjadi percakapan di mana Jacob yakin Gio kayaknya suka sama Rama. Tanpa perlu membahas orientasi seksual, Jacob berkata, “Kalau Adek emang suka dia, it’s okay, Dek. Hidup terlalu pendek untuk nurutin semua kata orang. Kadang-kadang, hati kitalah yang justru perlu kita dengerin.” Penerimaan ini membuat Gio merasa sangat nyaman. Masalahnya, setelah Jacob bicara gitu, Gio malah jatuh hati ke Jacob, bukan ke Rama lagi.

Ending-nya terjadi di kebun. Beberapa hari kemudian, Gio dan Jacob sedang di kebun Julian, tetapi Julian sedang ke distributor memberikan hasil panennya. Terjadi insiden ketika Jacob sedang mandi di tukad dekat kebun, Jacob sengaja membuka celananya agar kontolnya bisa dibersihkan, lalu seekor ikan mematuk kontolnya hingga berdarah. Jacob langsung meminta tolong Gio sebagai mahasiswa kedokteran untuk menolongnya.

Pilihan voting: (1) Gio tolong semampunya meski ilmu belum cukup, ditolong di tempat seadanya; (2) Gio bawa Jacob ke klinik terdekat untuk ditolong oleh orang yang punya kompetensinya.

 

Sekali lagi, bisa dilihat dengan jelas betapa bergesernya jalan cerita jika pemenang voting-nya berbeda. Maka dari itu, ayo pertimbangkan baik-baik setiap voting yang muncul. Soalnya, nasib Gio benar-benar ada di tanganmu, Wahai Pembaca! Silakan pikirkan secara logika masing-masing, apa yang akan terjadi jika kamu memilih satu pilihan voting.

 

Salam,

Matheus Axilla.


Part 2 | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Voting yang Tidak Terpilih | Part 4

Komentar