(BT) Yang Tidak Terpilih Part 4




Apa yang terjadi jika pilihan lain yang menang?

Langsung aja, ya!

 

(1) Keluar dan berikan Jacob privacy

Pilihan voting ini membuat Jacob merasa dihormati (respected). Sehingga tema part ini adalah soal respect dan being protective.

Gio tidak berada dalam satu ruangan bersama Jacob selama Jacob coli. Jadi, pilihan part ini tidak akan me-reveal kontol Jacob.

Awalnya, Gio berkata bahwa silakan kalau Jacob mau coli, Gio enggak akan ganggu. Jadi, Gio pergi ke kamar mandi, pipis, lalu menunggu di ruang tamu dengan gelisah. Gio sange mendapati Jacob coli di dalam kamarnya, di atas kasurnya. Maka dari itu, Gio coli sendirian di ruang tamu.

Namun, Gio crot-nya cepat karena dia sudah menahan sange sejak lama. Setelah Gio crot, dia masih menunggu, sampai akhirnya ketiduran. Yang tidak Gio sadari, Jacob keluar dari kamar setelah dia juga crot, dia menemukan Gio ketiduran di sofa. Jacob bopong Gio ke atas tempat tidur, diposisikan dengan nyaman, lalu diselimuti.

Gio masih belum tahu ini hingga part berakhir, tetapi Jacob mengecup kening Gio sebelum dia sendiri tidur di sebelah Gio.

Di kampus, Rama mengajak Gio ngobrol hari Jumat, tetapi Rama tidak hadir (ini adalah momen Rama bertemu Vina). Gio sedih. Jacob mencoba menghibur Gio dengan menraktirnya es kelapa muda di pinggir pantai, meskipun uang Jacob juga pas-pasan.

Tidak ada adegan soal community outreach di sini. Adanya adalah adegan heart to heart antara Jacob dan Gio di pinggir pantai, soal Jacob berterima kasih karena Gio menghormatinya sewaktu Jacob butuh privacy. Jacob berjanji, ke depannya dia akan terus respect ke Gio.

Part langsung skip ke hari Senin di mana Rama akhirnya muncul (dalam kondisi babak belur karena adegannya berantem dengan Saga adalah Minggu sore). Ketika Gio sedang dijemput Jacob, Rama tiba-tiba muncul dan minta bantuan (sama seperti yang terbit di Part 5.3). Namun, Jacob mengintervensi sebentar sambil berkata, “Kalau mau ngobrol ama adek gue, respect waktu dia. Kalau udah janji mau ketemu hari Jumat, ya ketemu hari Jumat. Kalau enggak bisa ketemu, bilang! Bukan nge-ghosting!”

Gio bersedia membantu Rama, asalkan Jacob boleh ikut ke mana pun Gio pergi. Rama setuju, mereka pergi ke kafe, duduk berdua, Jacob ada di Starbucks yang sama, tapi duduk di meja berbeda. Di sini, Rama curhat (yang tidak bisa di-reveal di sini, dan hanya bisa di-reveal kalau voting Part 5.3 yang menang adalah “membantu Rama”).

Yang pasti, hasil curhat itu membuat Gio syok, dan Gio enggak mau pulang dulu. Bahkan, Gio sedang tidak ingin sendirian. Gio meminta Jacob menemaninya main ke bar pinggir pantai yang suaranya keras, agar Gio bisa “menenangkan diri”. Jacob terpaksa menurutinya meskipun Jacob sudah berkali-kali bilang sebaiknya pulang saja. Namun, demi Gio, Jacob menemani Gio ke sana, sekalian menjaganya.

Di bar, Gio mendapat musibah. Dia diraba-raba dan dilecehkan seorang bule yang sedang mabuk. Gio tak bisa berkutik dan orang-orang di sekitar situ cuma ketawa saja melihat Gio terpojok lalu dada dan pantatnya diremas-remas si bule laki-laki. Jacob yang baru saja dari toilet langsung menghajar bule itu. Terjadi perkelahian, Jacob menang.

Jacob akhirnya membawa Gio pulang dari titik itu.

Gio baper bukan main melihat aksi heroik Jacob.

Di rumah, Jacob minta maaf karena agak lama pergi ke WC. Soalnya, dia ketemu seorang talent scout di WC. Katanya Jacob bisa menjadi model. Si talent scout ini nyuruh Jacob datang ke hotelnya untuk casting. Katanya mau direkam dan dikirim ke agensi. Jacob happy banget karena dia akan dapat duit (bahkan si talent scout itu ngasih uang 200K waktu Jacob nunjukin perut ratanya ke dia). Jacob sudah membayangkan dia bisa mandiri secara finansial.

Ketika Jacob menunjukkan foto dirinya selfie dengan si talent scout, Gio baru menyadari bahwa talent scout itu adalah pemain bokep lokal Indonesia macam Rifaiju, Fay, Agay, Str8crot, dan lain-lain tapi pemain bokep ini fiktif buatan penulis, tetapi ceritanya semua homo di Indonesia hafal siapa dia.

Dilema voting: apakah Gio beri tahu saja bahwa mungkin casting itu hanyalah kedok untuk merekam Jacob telanjang sehingga Gio mencegah Jacob menghubungi si talent scout? Ataukah Gio biarkan Jacob ikut casting, karena siapa tahu itu casting betulan, dan siapa tahu mendatangkan uang banyak buat Jacob. Apalagi Jacob sedang butuh banget duit. Selain itu, Gio juga desperate ingin lihat kontol Jacob. Kalau video rekaman Jacob bocor kan, Gio jadi bisa melihat kontol itu.

 

(2) Persilakan, lalu Gio lanjut tidur

Pilihan voting ini membuat Gio menjadi orang yang pengecut dan insecure.

Adegan pertama hampir mirip dengan Rama belajar sambil Saga ngewe dengan Melinda. Gio berada di kasur yang sama, tidur membelakangi Jacob, tetapi Gio bisa merasakan kasur bergetar karena Jacob coli. Gio akan dibuat tersiksa oleh hawa nafsunya memfantasikan apa yang terjadi di belakangnya. Gio mendengar setiap desahan Jacob dengan jelas, erangan keenakannya, guncangan kasurnya, dan lenguhan Jacob yang jantan.

Namun, Gio menjadi orang yang pengecut. Dia sama sekali tidak berbalik. Gio diam pura-pura tidur padahal dirinya sangat bergairah. Pada akhirnya, Gio crot juga. Handsfree. Tepatnya ketika Jacob crot, Gio juga merasakan kontolnya melelehkan sperma. Setelah crot, mereka tidur. Dan Gio, di sepanjang part ini, belum melihat kontol Jacob.

Adegan Rama mengajak ke Starbucks hari Jumat ada, tetapi Gio menolaknya. Gio enggak sanggup berduaan dengan Rama di Starbucks. Lalu, ketika Rama tidak muncul hari Jumat ke kampus (again, karena Rama sengaja bolos untuk ketemu Vina yang sedang liburan), Gio merasa bersalah. Takutnya, Rama benar-benar butuh ditemani Gio, tapi Gio malah tolak. Gimana kalau Rama sedang kena mental breakdown?

Adegan community outreach ada, dan Gio juga ikut penanaman mangrove, tapi karena orangnya sedikit, Gio memutuskan untuk batal mengikuti program itu. Ini masih imbas dari karakter Gio yang berkembang menjadi pengecut. Bahkan, ada adegan beradu pendapat antara Gio dan Jacob di sini. Jacob tahu soal kegiatan itu. Jacob paham bahwa Gio malas ikut karena orangnya sedikit. Jacob sudah tawarkan untuk temani dan menjadi volunteer, tapi Gio tetap tolak. Berselisihlah mereka berdua.

Hari Senin, Gio melihat Rama babak belur, tetapi Gio tidak berani bertanya. Malah teman-teman yang lain yang mengerubungi sementara Gio menghindar karena merasa bersalah. Jangan-jangan gara-gara Gio tolak permintaan Rama itu maka Rama jadi dihajar orang.

Part ini menunjukkan Gio stres. Hampir sama kayak part stresnya Rama waktu dimasukin ke grup Cari Saga (superdrama). Gio menangis dan mengurung diri. Hal ini terendus oleh Julian sehingga Julian akhirnya mencoba mendesak Gio agar terbuka. Namun, Gio malah marah dan menghajar ayahnya. Marah Gio berasal dari fakta bahwa Gio diciptakan gay, lemah, pengecut, dan lain-lain.

Julian marah. Jacob juga marah. Jacob memutuskan untuk tidur satu kamar dengan Julian saja. Dia mengungsi, meninggalkan Gio sendirian. Kata-katanya lumayan menyakitkan.

“Gue enggak mau tidur di sebelah orang yang nonjok bokapnya sendiri. Orang yang enggak bersyukur bokapnya masih ada. Orang yang udah diajak ngobrol baik-baik, ditanya masalahnya apa, siapa tahu kita bisa bantu, eh malah ditonjok! Mulai besok gue ke Denpasar nebeng bapak elo. Malas boncengan ama orang yang pengecut. Yang munafik. At least ama bokap elo kalau gue nanya, dia bakal jawab. Malah siapa tahu gue ama dia mah bisa coli bareng, bukan pura-pura molor.”

Dilema voting: (1) Mengakui kepada Jacob soal semua perasaannya dengan risiko Julian (bapaknya) akan tahu juga, misal fakta bahwa Gio seorang gay. (2) Tetap menjadi pengecut dengan malah mencari kosan dekat kampus agar bisa jauh dari Jacob dan Julian. (3) Terbuka tetapi diplomatis (diatur apa saja yang diceritakan dan apa saja yang disembunyikan) sambil diam-diam menyimpan kamera di kamar Julian hanya untuk ngecek apakah Jacob bakal ngajak Julian coli bareng atau enggak.

 

(3) Tawarkan bantuan kepada Jacob

Pilihan voting ini membuat Jacob seenaknya terhadap Gio.

Untuk adegan coli-nya, Gio menawarkan ngocokin kontol Jacob dan Jacob mempersilakan. Pertama, Gio kocok saja sambil berbaring di samping Jacob. Lama-lama, Gio memainkan puting Jacob dengan mulutnya (seperti di Part 5.1). Makin ke sana, makin turun mulut Gio. Ujung-ujungnya, Gio menyepong kontol Jacob sampai crot.

Bedanya dengan part 5.1, di sini adegan tersebut dibahas malam itu juga. Jacob langsung menuduh Gio gay dan Gio tak berkutik. Akhirnya Gio come out. Gio ceritakan kenapa Gio bisa gay dan bahwa Rama merupakan gebetannya di kampus. Jacob mendengarkan dengan saksama sambil menekankan bahwa dirinya straight, tapi dia akan tetap support Gio apa pun orientasi seksualnya.

Meski kedengarannya indah, sebenarnya ini awal jahatnya Jacob kepada Gio. Misal, sepanjang minggu itu, motor Gio dikuasai Jacob. Jacob tidak bisa mengantar Gio ke kampus dengan rajin, tidak bisa pula menjemputnya setiap hari. Jacob melamar kerjaan ke kafe dan membutuhkan motor Gio secara mobile. Kalau dia berangkatnya jam 11, sementara Gio jam 9, Gio akan disuruh berangkat naik umum saja. Sehingga Gio harus ngeteng antara gojek dan TMD menempuh durasi yang lebih lama lagi dari biasanya.

Pada hari Kamis, ketika Rama mengajak Gio ke Starbucks, Rama melakukannya di depan Jacob. Kebetulan Jacob sedang bisa jemput, jadi Jacob ada di sana. Belum juga Gio bilang iya, Jacob langsung menyerobot bahwa Gio harus diantar pulang. Soalnya Jacob masih butuh motornya setelah mengantar Gio.

Gio akhirnya menurut saja. Gio menolak tawaran ke Starbucks bersama Rama.

Adegan community outreach ada juga di sini, tetapi pada saat bersamaan (hari Minggu), Jacob meminta Gio membantunya menghafalkan kandungan menu di kafe yang sedang dilamarnya. Ya, di sini terjadi hari Minggu, bukan hari Senin seperti di Part 5.3. Gio pun menuruti keinginan Jacob. Sama seperti pilihan dua, Gio kehilangan kesempatan mengumpulkan jumlah community outreach.

Pada hari Senin, TIDAK ADA adegan Rama babak belur di depan Gio. Soalnya hari Kamis Gio menolak Rama, jadi Rama tidak merasa Gio bisa dicurhati. Sehingga, storyline itu tidak beririsan. Urusan Rama babak belur baru diketahui Gio setelah ending Sekosan.

Puncak dilema di pilihan voting ini ada pada saat mereka coli bareng lagi. Kebetulan Julian harus dinas mewakili sekolahnya ke Surabaya, sehingga yang ada di rumah hanya Gio dan Jacob saja. Jacob sange. Dia sudah tahu Gio gay dan dia bisa memanfaatkan Gio untuk kepuasan seksualnya. Jacob ngajak Gio ngocok bareng, Gio tentu saja menerima dengan senang hati, bahkan ketika Jacob meminta Gio nyepong pun, Gio menyepong-nya dengan gembira.

Namun, lama-lama Jacob jadi terlalu buas. Dia mengentot mulut Gio hingga Gio tersedak dan hampir muntah. Sepong-an itu tidak begitu nikmat karena Jacob terlalu memaksa. Ketika Gio minta jeda dulu, Jacob tak terima. Tubuh Gio dibalikkan, dibuat nungging, lalu Gio diperkosa.

Gio disodomi, dengan modal ludah.

Gio protes, menyarankan Jacob pake pelumas saja, ada di kamar. Tapi Jacob udah kebelet sange, pengin crot.

Dilema voting: (1) Sodomi batal karena Jacob enggak mau pake pelumas; atau (2) sodomi lanjut dengan pelumas ludah Jacob, yang artinya Gio melakukan seks yang sangat tidak safe, yang berpotensi melukai bool-nya.

 

Oke, jangan lupa untuk voting Part 5. Seperti biasa kuingatkan lagi, setiap pilihan voting itu sebenarnya bisa diprediksi dengan logis. Jadi aku enggak semena-mena bikin storyline dari setiap voting. Ketika sebuah voting terdengar masuk akal untuk storyline yang baik, maka storyline yang baik kemungkinan muncul.

Salam,

Matheus Axilla

Komentar