(SKS) Part 10.1 dan 10.2




“Gue enggak tahu.” Rama menatap bibir Saga penuh nafsu. “Gue enggak pernah main ama cowok. Yang mana pun gue oke.”

Rama menjilat bibir bawahnya, ingin sekali merasakan lagi bibir Saga yang hanya berjarak beberapa senti dari bibirnya.

Napas Saga makin berat. “Elo mau gantian?”

Sebelum menjawab pertanyaan itu, Rama mengajukan pertanyaan lain, “Kenapa elo ngelakuin ini, Ga?”

“Karena gue benci elo.” Saga mendengkus. “Jadi gue pengin nge-fuck elo, atau elo nge-fuck gue.” Saga mendengkus lagi, napasnya benar-benar memburu penuh nafsu. “Jawab sekarang, elo mau gantian?”

Rama tetap membalas dengan pertanyaan lain, “But do you want me, Ga? Do you really want me?

Setelah dengkusan mirip banteng, Saga menjawab, “Gue cuma pengin elo.” Saga mencaplok bibir Rama sekali lagi, mendesakkan hidungnya ke hidung Rama, sehingga bibir mereka tetap menempel meski sudah selesai bercumbu. “Elo mau gantian?”

Rama tersenyum lebar. Mata Rama sayu penuh nafsu. Dadanya berdebar-debar, seolah-olah jantungnya akan copot beberapa saat lagi. “O ... oke.”

Dan Saga pun memagut lagi bibir Rama dengan intens.

Kali ini tubuh mereka diputar agar saling menghadap. Saga melepas kancing kemeja Rama satu per satu. Rama pun melakukan hal yang sama. Tanpa melepaskan cumbuannya dari bibir Rama, Saga menguak kemeja Rama dan melucutinya. Rama belum selesai melepas kancing-kancing Saga, kedua tangannya terulur ke belakang agar kemejanya bisa lolos dari lengannya. Saga mendekap tubuh Rama yang setengah telanjang, membiarkan kedua tangannya menggerayangi punggung Rama. Rama tandas melepas kancing-kancing itu dan menguak dada Saga yang seksi.

Bedanya, Saga langsung melepas kemejanya sendiri, lalu membuang sembarang dengan jantan.

Hmmmppphhh ....

Bibir itu masih belum lepas hingga mereka berdua telanjang dada.

Saga melepaskan pagutan bibirnya. “Aaaaaahhh ....” Dia bangkit setengah, mendorong tubuh Rama hingga berbaring di atas sofa tak bersandaran itu. Dengan nafsu, seperti lelaki yang tak sabaran, dia membuka ikat pinggang dan kaitan celana Rama, lalu menarik celana panjang itu lepas dari kaki kawan sekamarnya.

Rama tak bisa berkutik. Ketika kakinya dinaikkan ke atas agar celananya bisa dilepaskan, Rama langsung melepas sempaknya secara inisiatif supaya dia telanjang sekalian. Kontol Rama yang ngaceng terkuak bebas. Precum membasahi area frenulum dan sekitar palkonnya.

Ada perasaan malu yang mendebarkan mendapati dirinya ditelanjangi Saga. Namun perasaan itu makin meningkatkan berahi Rama. Seakan-akan semua hawa nafsunya untuk Saga, yang selama ini ditabung dalam fantasi-fantasi liarnya saat coli, ditambah amarahnya, cintanya, rindunya, nafsunya kepada Saga, bergumul menjadi satu. Sehingga ketika celana panjang itu lepas dari kakinya, Rama bangkit dan mendorong Saga.

Rama melakukan hal yang sama. Dia lepas kaitan celana Saga, dia lucuti celana itu sekalian dengan sempaknya.

Kontol ngaceng Saga terkuak bebas.

Ngaceng-nya keras sekali.

Tuing! Tuing!

Seakan-akan dipancang dengan fondasi yang kokoh, hanya bergoyang kecil ketika Rama masih sibuk melepaskan celana Saga dari kakinya.

Saga yang malu melihat ukuran kontol ngaceng-nya masih belum mengalahkan kontol ngaceng Rama, langsung menutup kontolnya sendiri dengan kedua tangan. Lebih malu lagi karena kayaknya kontol Sagalah yang paling keras di ruangan ini. Seolah-olah, kontol Saga seperti sedang mengolok-olok dirinya.

Untuk mengatasi rasa malu itu, Saga langsung mendorong Rama ke sofa sebelah yang lebih besar, dengan sandaran punggung yang empuk.

“Aaargh!” Rama mengerang kecil.

Mereka berbaring di atas sofa itu, saling berhadapan, dan kembali bercumbu di bibir.

Hmmmmmmppphhh ....

Satu tangan Saga memeluk Rama, satu tangan lain terulur ke bawah, untuk memainkan bool Rama. Jari tengah Saga menggesek-gesek kerutan anus Rama dengan cepat, seakan-akan itu klitoris.

“Aaaaaahhh ....” Rama membelalak keenakan. Dia ingin membalas dengan memegang bool Saga juga, tetapi lengan Saga menghalangi. Yang akhirnya Rama lakukan adalah mencubit puting Saga, dan menarik-nariknya.

“Aaaaaargh ....” Saga mengerang kecil di tengah pagutan mulutnya.

Tubuh keduanya sama-sama meliuk merespons sentuhan dari satu sama lain. Rama menggerakkan panggulnya, agar bisa menggesek perineumnya ke pergelangan tangan Saga hingga terasa geli-geli nikmat. Saga membusungkan dadanya, membiarkan dada itu berguncang kecil karena putingnya dimainkan Rama.

Hmmmmmmppphhh ....

Merasa jari Saga nyaris masuk ke dalam lubang bool, Rama buru-buru melepas ciuman itu dan mendorong Saga menjauh. Rama menggeliat turun hingga wajahnya sejajar dengan dada Saga, lalu dia mengokop puting Saga dengan mulutnya.

“ANJIIINNNGGG! HMPH!” Saga mengentak kecil sambil menahan napasnya.

Satu tangan Saga mencoba terulur ke bawah, ingin menguasai bool Rama kembali, tetapi tangan itu tidak sampai. Yang bisa Saga lakukan hanya mendekap kepala Rama ke dadanya, lalu hidung Saga mengernyit kuat karena sensasi geli yang intens di putingnya. Ada setruman yang nikmat dan dingin tiap kali ujung lidah Rama menggelitik puncak puting Saga.

“Argh .... Aaargh .... Argh!” Dada Saga mengentak-entak kecil. Napasnya makin memburu. “Isap, Ram,” bisik Saga, dengan suara maskulin.

Rama mengisap puting itu kuat-kuat.

“AAAAAARGH!” Saga mengerang hingga bahunya naik karena tak tahan. Satu kakinya mengais-ngais permukaan sofa, seperti ingin melepaskan diri. Namun posisi Saga menempel ke sandaran sofa, sehingga dia terkunci. Dia tak bisa ke mana-mana selain menikmati isapan di putingnya yang intens. “Anjing, Ram! Anjing, Ram! Aaargh!”

Saga mendesis keenakan. Satu tangan Saga mulai mencakar punggung Rama. Kakinya menendang-nendang udara, minta dibebaskan.

Rama, di lain sisi, keenakan bukan main. Ini pembalasan dendam bagi Rama. Dia mengisap puting itu kuat-kuat, memeluk Saga di pahanya karena posisi tubuhnya lebih rendah, kemudian tangan yang mendekap paha Saga terulur ke bool Saga, dan memainkan kerutan anus yang sensitif.

“AAAAAARGH!” Saga berteriak. Panggulnya mencoba menjauh. Bahkan kerutannya dijepit-jepit agar jari Rama tidak bisa masuk.

Namun, Rama mendekap panggul itu makin erat, tanpa melepaskan mulutnya dari puting Saga.

Rasa puting itu asin dan pahit. Campuran keringat dan parfum. Rama paling suka dengan tekstur nenen Saga yang kenyal-kenyal keras. Mengingatkannya pada momen pertama Saga menginap di kosannya di mana Rama mengisap puting ini ketika Saga tidur.

“Udah, Ram, udah! Aaargh!” Saga mencoba mendorong tubuh Rama, tetapi Rama bergeming.

Saga membelalak merasakan bool-nya dimainkan jari Rama. Dia merasakan gelitik intens yang mendebarkan.

Saga belum pernah ditusuk di bool. Antisipasi pada sodomi itu membuat adrenalinnya meningkat, seperti seseorang yang takut naik roller coaster, tetapi dia akan naik roller coaster. Jantungnya bertalu-talu, punggungnya berkeringat dingin, napasnya terengah-engah.

Saga takut.

Namun, adrenalin itu mengundang Saga untuk nekat membiarkan jemari Rama masuk ke bool-nya.

Dari yang asalnya membelalak menatap langit-langit kamar hotel, Saga pun memejamkan matanya, mencoba fokus. Dia menahan napas. Kalau dia sanggup menggagahi puluhan perempuan, mencoblos mereka tanpa ampun, bahkan hingga mereka memelas berhenti dan memeknya berdarah-darah, seharusnya Saga juga berani menyambut jemari Rama di bool-nya.

HMMMPH!

Saga biarkan jari Rama masuk.

FUCK!

Wajah Saga mengernyit hebat. Gigi-giginya dipamerkan semua, menahan sensasi aneh yang menggelitik area bool-nya.

Aneh? Tentu.

Sakit? Sedikit.

Enak? Anehnya, iya.

Jari tengah Rama seakan-akan menyentuh satu saraf sensitif yang membuat jantung Saga makin berpacu.

“AAAAAARGH!”

Ditambah lagi Rama masih mengisap putingnya kuat-kuat, memberikan sensasi intens di area dada. Setelah mencoba melawan semua rasa takut itu, akhirnya Saga menyerah. Dia menarik napas panjang, membiarkan jari Rama mengobok-obok bool-nya.

Dari erangan kaget dan kesakitan, mulut Saga akhirnya melantunkan desahan. “Aaaaaahhh ....”

Rama mengangkat wajahnya. Rama tersenyum lebar. Dia mempelajari bahwa tiap kali jemarinya bergerak di dalam bool itu, Saga akan mengentak kecil, seperti digelitik hingga geli.

Melihat wajah keenakan Saga menambah nafsu Rama.

Rama memutuskan bangkit dari sofa, menghampiri tasnya sendiri untuk mengambil pelicin. Dia langsung lemparkan Monogatari ke tangan Saga. Rama juga mengangkat satu rentet kondom. “Mau pake ini?”

Sambil membuka botol Monogatari, Saga mengintip ke kondom yang ditunjukkan Rama. “Enggak,” jawab Rama. “Gue pengin nyodomi elo dengan brutal, Bro. Mau gue obrak-abrik bool elo.”

Fuck, seksi banget, batin Rama.

Rama tahu tak seharusnya dia melakukan seks tanpa kondom. Namun, ini Saga. Kapan lagi dia bisa disodomi (atau menyodomi) Saga? Membayangkan kulit kontol Saga menghantam rektumnya secara langsung, atau vice versa, terasa sangat mendebarkan. Jadi, Rama menjejalkan lagi kondom itu ke dalam tasnya.

Usai membalur kontolnya dengan pelicin, Saga duduk dengan nyaman di sofa. Dengan lagak belagu dia menepuk pahanya dua kali, memberi perintah agar Rama mendudukinya, lalu merentangkan kedua tangannya ke punggung sofa. Wajah Saga slengean.

Rama naik ke sofa, mengangkangi kedua paha Saga, lalu berjongkok untuk mengarahkan kontol Saga ke bool-nya. Ini akan menjadi pengalaman pertama Rama disodomi. Dadanya berdebar hebat, tetapi dia sudah menanti ini cukup lama. Ketika kepala kontol Saga mencium bool-nya, Rama menahan napas karena bergairah. Semua fantasi disodok Saga sejak SMA akan terkabul pada detik ini.

Rama merasakan kepala kontol itu kenyal, tapi keras. Ukurannya tidak sebesar Rama, tetapi entah mengapa kalau sudah mencium bool seperti ini, rasanya besar banget. Rama tarik napas panjang, Rama lemaskan bool-nya, Rama ikhlaskan keperawanannya.

Rasanya perih dan panas, tetapi Rama sudah bersabar bertahun-tahun menunggu Saga, sehingga rasa sakit sepedih apa pun tak akan menghalanginya. Dengan gagah Rama menurunkan pantatnya, hingga kontol Saga ....

CLEB!

... masuk seluruhnya ke bool Rama.

FUCK!” umpat Rama kesakitan. Dia mendesis sejenak, mencengkeram bahu Saga yang lebar, lalu tersenyum bahagia.

Soalnya, setelah masuk semua, rasanya enak.

“Enak?” tanya Saga sombong. Senyumnya terlukis sebelah.

Secara fisiologis, enggak enak. Rasanya seperti perih, ngilu, dan engap hingga ke dada. Rasanya juga aneh, seperti ada yang mengganjal di bagian bawah sana. Bahkan, ada rasa-rasa seperi ingin buang air selama beberapa saat.

Namun, karena ini kontol Saga, rasanya jadi sungguh nikmat. Otot-otot bool Rama melemas otomatis atas dasar pasrah kepada kekasih hatinya. Jadi meski dadanya engap, jantungnya tetap berdebar-debar seperti orgasme.

“Enak,” jawab Rama setelah jeda beberapa lama. Senyum Rama lebar. Kedua tungkainya pasrah tak berdaya. Kontol Rama ngaceng ke atas, menempel ke perutnya sendiri. Yang membuat semuanya manis adalah wajah Saga di depannya, memandangnya dengan angkuh dan jantan, seolah-olah Saga lelaki paling ganteng sedunia.

Memang paling ganteng sedunia, batin Rama. Setidaknya bagi Rama, tak ada yang lebih ganteng dari Saga.

“Goyang,” titah Saga berkuasa. Satu tangannya dia lipat ke belakang kepala sembari mengeraskan otot lengan agar bisep-trisepnya mengembang.

Rama mengulek kontol itu.

Pada saat bersamaan, keduanya mendesah, “AAAAAAHHH ....”

Rama memutar lagi panggulnya, kali ini kedua tangannya berpegangan pada puting Saga. Dia cubit puting itu, dia pilin-pilin, seraya pantatnya bergerak memutar searah jarum jam.

Hmmmmmmppphhh ....

Saga memejamkan matanya. Mulutnya menganga untuk melantunkan desahan-desahan.

“Aaaaaahhh ....”

Rama merasakan tekanan yang intens di bool-nya, menggelitik prostatnya hingga lutut Rama terasa lemas. Jembut Saga menggelitik perineum Rama. Biji pelirnya yang sensitif didesak oleh perut Saga.

Rama tak hanya memainkan puting Saga. Dia juga menggerayangi bagian tubuh yang lain seperti lengan-lengan Saga yang kekar, ketek Saga yang bulunya banyak, leher Saga yang kokoh, bahkan jempol Rama masuk ke mulut Saga, yang kemudian diisap oleh Saga dengan kuat.

Hmmmmmmppphhh ....

Tanpa menghentikan goyangannya, Rama membungkuk untuk mencumbu bibir Saga. Rama memegang kepala Saga dengan kokoh, seakan-akan tak ingin melepaskan ciuman itu selamanya. Rama gigit bibir Saga, mengundang Saga untuk melenguh kasar.

Eeeugh ....”

Tubuh keduanya lembap oleh keringat, mengilat hangat meski di luar tengah hujan deras.

Precum meleleh banyak sekali dari lubang kontol Rama, menetes ke atas perut Saga.

“Aaaaaarrrggghhh ....”

Saga akhirnya mendekap Rama, menggerayangi punggung Rama dengan kedua tangannya. Cumbuannya makin brutal, memaksa melesakkan lidahnya ke dalam mulut Rama.

Hmmmmmmppphhh ...!

Kedua tangan Saga turun ke pantat Rama, meremasnya kuat-kuat, lalu mengarahkan agar goyangan itu berubah naik turun setelah bermenit-menit mengulek. Kaki Saga yang menapak lantai berjinjit agar pahanya bisa menopang tubuh Rama. Soalnya ....

POK!

... Saga mau menggenjot Rama dalam posisi duduk begini.

“AAAAAAHHH ...!”

Saga menahan pantat Rama di ketinggian tertentu agar kontolnya bisa bergerak naik turun mengenaki bool Rama. “Anjiiiiiinnnggg ...!” umpat Saga bernafsu, melepaskan ciumannya. “FUCK YOU!

CUH!

Saga meludah ke bibir Rama, lalu mencumbu bibir itu selama beberapa saat sebelum akhirnya fokus mengentot Rama.

“Aaaaaargh ...! Fuck you, Ram!” Saga mendengkus. Panggulnya bergerak naik turun di atas sofa, dengan lihai menghantam bool Rama seperti menghantam memek cewek-ceweknya.

Lubang Rama benar-benar sempit, mengepit kontol Saga dengan nikmat.

POK ...! POK ...! POK ...!

Saga mencengkeram pinggang Rama dan mengatur pergerakan naik turun itu. Matanya menatap Rama penuh nafsu. Sesekali Saga meninju perut Rama, melampiaskan emosi.

FUCK YOU!

Rama tak berdaya. Tubuhnya lemas tanpa bisa melawan. Rama hanya sanggup menengadah sambil memejamkan mata menikmati sodokan kontol lelakinya. Rasa perih dan panas tadi hilang total. Tergantikan dengan rasa nikmat yang mengganjal dan bikin engap, seperti sedang di-massage dan ditekan kuat-kuat.

POK ...! POK ...! POK ...!

Karena dirinya seperti orang yang kerasukan, Rama sudah tak peduli ke mana tangannya harus mendarat. Kadang mencengkeram bahu Saga, kadang mencoba memilin puting Saga—tetapi Rama keenakan sehingga memilinnya hanya sebentar, kadang mencoba memainkan bulu ketek Saga—tetapi lagi-lagi Rama keenakan, dan ujung-ujungnya hanya berpegangan ke bahu Saga, menyerahkan seluruh tubuhnya untuk Saga.

Aroma maskulin Saga memabukkan Rama bagaikan poppers.

POK ...! POK ...! POK ...!

Lima menit kemudian, setelah ngentot sambil duduk yang intens, yang suara keprokannya mengalahkan hujan deras di luar, Saga tiba-tiba melambatkan entotannya.

Saga hampir keluar. Kontol Saga benar-benar nyaman dalam lubang sempit yang licin itu, sehingga prostatnya seakan-akan memanggil sperma agar bersiap keluar.

Tak lama, Saga berhenti. Dia menahan panggul Rama agar menindih tubuhnya lebih lama seraya Saga mengatur napas agar pejuhnya tidak crot-crot keluar.

Fffuuuuuuccckkk ...,” gumam Saga, setengah panik. Matanya memejam fokus. Tangannya mencengkeram panggul Rama kuat-kuat. Napas Saga ditahan.

Rama, dengan napas ngos-ngosan, mendorong dinding di belakang sofa. “Kenapa?” tanyanya.

Saga diam sejenak, mengenyahkan sensasi orgasme itu, kemudian dia membuka mata. “Ganti posisi,” katanya. Tak mau mengakui bahwa dia barusan hampir keluar.

Sebagai pembenci Rama nomor satu, dia tak mau kedapatan ejakulasi dini.

Apalagi ejakulasinya saat mengentot orang yang Saga benci. Itu sangat memalukan.

“Elo udah mau keluar?” todong Rama, dengan senyum puas.

“Enggak, lah!” Saga mendengkus. “Cowok kayak gue ... hoh ... hoh ... yang udah ngewe ribuan cewek ... hoh ... hoh ... enggak mungkin cepet keluar!”

Rama menyipitkan mata karena tak percaya.

“Elo berat, anjing!” kelit Saga, tetapi tak berani menatap wajah Rama. “Turun!”

Rama pun berjingkat dan menghempaskan tubuhnya ke samping Saga. Dia mengatur napasnya yang memburu sembari menoleh menatap kontol Saga.

Kontol itu masih sangat tegang dan keras. Basah dan mengilat. Berkedut-kedut minta dimasukkan ke lubang lagi. Warna kontolnya kemerahan.

Tanpa menunggu waktu lama, Rama pun berkata, “Sekarang giliran gue.”

“Anjing!” umpat Saga. Jantungnya berdebar-debar karena ngeri.

Sama seperti halnya Rama, ini akan menjadi pengalaman pertama Saga disodomi.


[ ... ]


Rama membawa Saga ke atas tempat tidur. Dia mendorong Saga hingga berbaring tepat di sebelah Pramudita yang masih saja molor dengan lelap meski sedari tadi Rama dan Saga sudah mendesah-desah keenakan.

Dengan bingung Saga bertanya, “Mau gimana?”

Rama tak menjawab. Dia malah mengangkat kedua kaki Saga ke atas. Memosisikan mereka dalam gaya misionaris.

Saga panik. “Ram ..., si tuyul ada di sebelah.”

“Lagi molor. Tenang aja.” Rama membalur kontolnya dengan pelumas.

Saga menoleh sejenak ke arah Pramudita, agak malu karena dirinya akan disodomi di depan anak pertamanya. Mana anak itu perempuan, pula. Ketika Saga bermaksud mengusulkan agar mencari lokasi lain, Rama sudah keburu mengarahkan kontolnya ke bool Saga.

Hmmmmmmph ....” Saga menahan napas sejenak, merasakan cincin anusnya dicium kepala kontol gemuk yang licin dan basah.

Prosesnya tak begitu lama. Saga memasrahkan seluruh dirinya kepada Rama, menutup wajah dengan kedua lengannya karena malu, membiarkan kedua kakinya mengawang di udara tanpa topangan, lalu menerima kontol gemuk Rama di dalam bool-nya.

Alih-alih merasa hina karena disodomi, Saga membalik perasaan rendah diri itu menjadi perasaan bangga karena sebagai lelaki straight gagah dia sanggup menahan perihnya disodomi kontol. Kalau boti-boti ngondek saja sanggup ditusuk kontol, apa alasannya Saga yang lebih manly dan gagah ini ketakutan bool-nya disodomi?

FUCK!” Saga mengumpat pelan, hampir berbisik, tak mau membangunkan Pramudita di sebelahnya.

Kontol Rama masuk hingga mentok. Batangnya merasakan lubang Saga yang hangat dan licin. Pangkal kontolnya tenggelam hingga jembut Rama beradu dengan perineum Saga yang sensitif.

Rama menatap kekasih hatinya itu meresapi sensasi intens kontol masuk pertama kali. Seluruh otot Saga menegang, tetapi kemudian melemas beberapa saat kemudian. Rama memegangi pergelangan kaki Saga, lalu mengarahkannya agar ditenggerkan ke bahu Rama. Kakinya menekuk tegang saat proses pencoblosan. Tapi setelah ditenggerkan, kaki itu mulai santai.

Rama tersenyum melihat kontol Saga masih saja ngaceng meski bool-nya sedang disodomi. Dia membelai kontol Saga dengan lembut, membuat Saga mengentak-entak kecil karena geli.

“Jangan dimainin,” pinta Saga, dengan sopan.

“Kenapa? Hampir keluar?”

Saga menjawab dengan menelan ludah. Rama bisa tahu dari gerakan jakun di leher Saga.

“Lepasin tangannya,” titah Saga.

“Enggak.”

Rama langsung menggenggam kontol Saga dengan tangannya yang masih licin oleh pelumas, di mana kontol Saga juga masih licin setelah barusan ngentot Rama. “Turunin tangannya atau gue kocok kontol elo.”

Saga hanya menghela napas pasrah. Rahangnya mengeras. Dia pun menurunkan kedua lengannya dari wajah.

“Simpan di bawah kepala.”

Mengerjapkan mata sekali, pelan-pelan Saga meletakkan kedua tangannya di bawah kepala, sehingga keteknya yang basah terekspos. Saga mencoba memalingkan wajahnya ke arah lain agar dia tak perlu melihat Rama, maupun Pramudita. Wajahnya tampak setengah bete.

Namun, itu hanya sementara. Begitu Rama menarik kontol gemuknya mundur, kemudian mendorongnya maju hingga perutnya menghantam paha Saga ....

POK!

... Saga menghirup napas panjang karena keenakan.

“Fffuuuck.”

Sembari memegangi paha Saga, Rama mengentot bool kekasih hatinya itu dengan nikmat. Bool Saga tidak memberikan perlawanan selama kontol Rama bergerak maju mundur. Rama mengamati bagaimana puting Saga bergerak naik turun sesuai hantaman di bool-nya. Atau kontol ngaceng Saga yang bergeming di pangkalnya, hampir tak bergerak saking kerasnya. Kontol itu benar-benar kemerahan, seolah-olah sebentar lagi crot. Ketika Rama tadi menggenggamnya, kontol Saga terasa hangat.

POK! POK! POK!

Yang paling memuaskan bagi Rama adalah melihat wajah Saga merem melek menerima sodomi itu. Ya, alisnya mengerut ke tengah, seperti orang yang marah. Namun mulut menganga kecil itu tak akan memperdaya siapa pun bahwa Saga menikmati setiap hujaman kontol Rama di lubang bool-nya.

Belum lagi erangan-erangan tertahan yang Saga lantunkan pelan-pelan, “Aaargh! Aaargh! Aaargh ...!”

Sesekali hidung Saga mengernyit. Sesekali wajahnya tampak lega. Sesekali Saga meringis. Sesekali Saga menutup lagi wajahnya dengan lengan karena malu diperhatikan Rama terus-menerus.

“Lepasin tangannya.”

Dengan rahang mengeras, Saga melipat lagi tangannya ke bawah kepala.

Apakah tempat tidurnya berguncang? Ya, berguncang. Namun karena kasurnya bagus, memiliki motion isolation, guncangannya tidak sampai mengganggu Pramudita. Bayi itu hanya bergetar kecil akibat guncangan tubuh ayahnya disodomi Rama. Sesekali dia menggerakkan tangannya, tetapi tidak sampai terbangun.

POK ...! POK ...! POK ...!

Rama mulai merasakan kontolnya nyaman. Dia menurunkan kedua kaki Saga dari bahunya, memosisikannya agar memeluk tubuh Rama. Dia mau membungkuk untuk menikmati tubuh Saga. Rama memanjat naik ke atas tempat tidur, menaikkan lututnya ke atas tepi tempat tidur, lalu merunduk untuk mencumbu bibir Saga.

Tentu saja Saga enggan pada awalnya. Gengsi Saga tinggi ketika tubuhnya dikuasai seperti itu, lalu bibirnya harus dicipok juga. Ingin Saga adalah dia yang menguasai Rama, karena dialah yang benci teramat sangat kepada Rama. Namun, rasa bencinya itu benar-benar bertransformasi menjadi hawa nafsu. Sehingga tak lama setelah Rama mencoba mencumbunya, Saga menyerah juga.

Saga memasrahkan dirinya, kedua kaki melingkari tubuh telanjang Rama, tangan di bawah kepala, keteknya yang basah terekspos, bibirnya dilumat Rama, dan mulutnya dicumbu Rama dengan brutal. Ujung-ujungnya Saga keenakan juga. Desahan-desahan manly mulai meluncur dari mulutnya. Berembus bersama napasnya yang berat. Mengenai wajah Rama dengan hangat.

Hmmmppphhh ....

“Aaaaaahhh ....”

Fuuuckhhh ....

POK ...! POK ...! POK ...!

Rama mengangkat wajahnya sambil tersenyum sebelah. Dia puas melihat ekspresi keenakan itu.

“Enggak usah ngetawain,” bisik Saga sambil menelan ludah.

“Ketagihan ya?”

“Enggak.” Lalu Saga memalingkan wajahnya.

Rama mengambil kesempatan itu untuk melumat leher dan tubuh Saga yang lain. Dia mengendus, menjilat, mencaplok, dan mengisap dengan mulutnya. Dari leher turun ke dada, bergeser ke puting, lalu tentu menikmati ketek Saga dengan menjilatinya naik turun meski ketek itu basah oleh keringat. Semua Rama lakukan sambil tetap menghantamkan kontolnya ke bool Saga.

Pada satu momen, ketika sedang asyik menjilati ketek Saga, Rama mendapati Saga menoleh ke arahnya. Namun, ketika Rama balas menoleh, dia menyadari Saga bukan sedang melihat ke arahnya, melainkan ke arah Pramudita. Rama menegakkan tubuhnya, mendorong kedua tangan ke atas ranjang, memberi ruang kepada Saga untuk mengamati anak kandungnya terlelap dengan damai.

She’s beautiful,” bisik Rama, menoleh juga ke arah Pramudita.

Saga tak menjawab. Dia masih terpana pasrah membiarkan tubuhnya berguncang oleh sodomi sementara tatapannya terlihat sedih. Meski napasnya terengah-engah, pandangan Saga ke anaknya tampak penuh kasih sayang.

She will love you like I do,” tambah Rama.

“Gue enggak pantas ... aaahhh ... jadi bapaknya ....”

“Betul,” balas Rama, POK! POK! POK! “Tapi elo masih punya waktu ... buat jadi pantas ....”

“Harusnya gue dimampusin .... Biar gue ... biar gue enggak ... bikin kesalahan-kesalahan ... kayak dia lagi .... Aaaaaargh ....”

“Nih, bool-nya lagi gue mampusin.” Rama terkekeh sambil terus menggenjot bool itu. Rama membungkuk sejenak untuk mengisap puting Saga, atau menjilat ketek Saga, atau mengendus leher Saga, hingga kekasih hatinya itu menatap Rama dengan tatapan sayu.

Untuk kali pertama hari ini, meski gengsinya masih tinggi, Saga akhirnya menyerah. Dia mengaku, “Gue udah mau keluar.” Satu tangannya turun untuk mengocok kontol, tetapi Rama menepisnya. “Gue udah mau keluar.”

“Biarin aja keluar sendiri.” POK! POK!

“Kontol elo enak, Ram,” aku Saga, merendahkan martabatnya.

I know.” Rama mengedipkan sebelah mata. “Si Vina nge-fans ama kontol gue.”

“BANGSAT!” Saga menghardik dengan suara lantang, benar-benar kesal karena Rama menyebut nama itu.

Pramudita sempat terbangun sejenak. Tubuhnya menggelinjang kaget, seperti orang dewasa yang mimpi jatuh dari ketinggian. Kemudian sedetik kemudian, Pramudita tidur lagi.

Namun, dia mengulet dulu.

Dan berguling.

Dan karena pusat gravitasi kasur itu ada di Saga yang sedang dientot, Pramudita berguling ke arah mereka.

“Bangun, Ram! Si tuyul bangun!” bisik Saga panik. Dia menegakkan tubuhnya dengan menopang ke siku.

“Enggak. Dia masih tidur.”

Dengan nalurinya sebagai ayah, Saga menangkap bergulingnya Pramudita hingga menabrak ke tubuhnya sendiri. Benar, bayi itu masih tidur. Tapi kini dia ada di bawah ketek bapaknya sendiri. Satu tangan Pramudita meremas dada Saga dengan kuat.

Sialnya, pada momen itu, Saga mencapai puncaknya.

“Anjing! ANJING!” bisik Saga, sambil memelotot. “Gue mau keluar!”

Saga pun menurunkan satu tangannya untuk mengocok, tapi seperti biasa, Rama menepisnya. Rama membungkuk, menahan tangan Saga ke atas dan menguncinya. (Tangan Saga yang satunya lagi tak bisa mencapai kontolnya karena keteknya sedang disundul oleh kepala Pramudita.) Wajah Saga panik. Dia mengangkat kepala menatap kontolnya dengan ngeri.

“Gue juga mau keluar,” kata Rama.

“Ram, Ram, Ram! Entar kena ke si tuyul!”

“Namanya Dita,” ungkap Rama. “Sebut namanya yang bener.”

Saga menelan ludah, sekali lagi harus menghancurkan gengsinya. Setelah disodomi orang yang dibencinya, dia harus mengakui anak kandungnya. Namun, Saga benar-benar sudah di ujung. Tangannya ditahan Rama sehingga tak bisa mengarahkan kontol ke titik lain agar semburannya tidak kena sang anak.

“Entar kena si Dita!” bisik Rama panik.

Rama tersenyum mendengar Saga menyebut nama anaknya sendiri. Yang Rama lakukan adalah membungkuk, memeluk tubuh Saga, lalu mencumbunya. Kontolnya tak berhenti menggenjot bool Saga, bahkan genjotannya makin cepat.

POK! POK! POK! POK! POK!

Saga pasrah. Seluruh tubuhnya terkunci dan tertindih. Dia tak mau menggerakkan apa pun, khawatir anaknya bangun dan melihat bapaknya sendiri sedang dientot laki-laki lain. Jadi, Saga melepaskan semua yang ada di tubuhnya. Termasuk ....

CROT! CROT! CROT! CROT! CROT!

... pejuhnya.

Yang untungnya tidak menyembur ke mana-mana karena tertahan oleh perut Rama yang menindihnya.

HMPH! FUCK! AAARGH!” Semua erangan Saga harus ditahan. Selain tak ingin membangunkan Pramudita, pun karena mulutnya sedang dicumbu oleh Rama.

Kontol Saga menyemburkan sperma dengan sangat nikmat. Mata Saga membelalak, tak menyangka ejakulasi ketika bool sedang dihantam bisa seenak ini. Sensasinya beda dari ejakulasi biasa.

Entotan itu masih berlangsung selama beberapa detik hingga akhirnya Rama tiba-tiba berhenti dan menancapkan kontolnya secara full ke bool Saga.

HMPH!” Rama menahan napas. Seluruh tubuh Rama tegang.

Di dalam bool Saga ....

CROT! CROT! CROT! CROT! CROT!

... Rama sedang ejakulasi.

“Aaaaahhh ....” Sama seperti Saga, Rama juga tidak mengeluarkan suara erangan keras, khawatir Pramudita terbangun. Dia memagut bibir bawah Saga dengan gemas, mengembuskan napas hangatnya ke wajah Saga, lalu melepaskan segala kenikmatan itu di dalam bool Saga.

Setelah ejakulasinya reda, Rama mengangkat wajah dan tubuhnya. Dia menatap sejenak Pramudita yang masih ndusel di bawah ketek Saga. Rama terkekeh kecil.

“Bentar lagi elo suka ketek bapak elo, Dit. Kayak gue. Hahaha.”

Plak!

Saga menjiplak kepala Rama. “Lepasin, anjing!”

“Iyaaa ....”

Rama pun melepaskan kontolnya dari bool Saga. Sambil terkekeh puas, Rama berjalan ke kamar mandi dan berkata, “Gue mau berendam di bathtub, Ga. Mau ikut?”

Saga tak menjawab. Rama tak langsung mengonfirmasi. Rama masuk ke kamar mandi, mengucurkan air hangat ke bathtub, dan menuang bath bomb. Dia membersihkan kontolnya yang basah oleh pelumas dengan air dari shower, lalu memutuskan kalau Saga tak mau berendam bersamanya di bathtub, ya sudah Rama mandi sendirian saja.

Setelah air di bathtub terisi setengah dan kontol Rama sudah dibersihkan, Rama ke kamar lagi untuk menanyakan apakah Saga ingin berendam bareng dengannya di bathtub atau enggak.

Rama kaget ketika menemukan ....

... Saga sedang menggendong Pramudita.

Telanjang bulat. Menghadap jendela. Mendekapnya penuh sayang.

Bahkan, mencium keningnya.


[ ... ]


Air hangat dalam bathtub meluap ke atas lantai bersama busa sabun yang menggumpal, soalnya Saga ikut masuk ke dalamnya.

Setelah puas menimang Pramudita, Saga berhasil meletakkan lagi bayi itu tanpa membangunkannya, kemudian bergabung bersama Rama seraya mengelap sesuatu di mata.

“Yuk!” katanya pendek. Saga masuk duluan ke kamar mandi, bahkan masuk duluan ke dalam bathtub. Tanpa mencuci apa pun, atau mengeluarkan pejuh Rama yang seharusnya masih ada dalam bool Saga, dia langsung mencelupkan diri ke dalam bathtub dan berendam.

Saga bersandar ke dinding bathtub, merebahkan kepalanya ke atas, melamun menatap langit-langit, dan menyenderkan lengannya di sepanjang dinding bathtub.

Terpaksa Rama masuk belakangan sehingga dia ada di pihak yang duduk di depan Saga, di antara paha Saga, bersandar ke dada Saga.

Mereka diam saja di sana selama beberapa menit. Melamun. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Membiarkan busa-busa lenyap perlahan-lahan. Kepala Rama rebahan di atas bahu Saga. Sesekali Saga menolehkan wajahnya ke Rama, lalu mengecup pelipis Rama dengan lembut—tidak ingat bahwa barusan dia berhubungan seks dengan Rama atas dasar benci.

Setelah terdiam dalam senyap, Saga akhirnya memecah kesunyian dengan menggerakkan tangannya, menciptakan riak air bergemericik, lalu mendekap tubuh Rama yang menindihnya.

“Berapa lama lagi si Hesti dipijat?”

Rama mengangkat bahu. “Mungkin setengah jam lagi?” Rama meletakkan kedua tangannya ke pinggiran bathtub.

Tiba-tiba, Saga membelai lengan Rama dengan lembut, seakan-akan mereka pacaran.

Rama sih kesengsem bukan main diperlakukan seperti itu. Lengannya geli, tapi rasanya nyaman banget. Apalagi sedari tadi dia rebahan di atas tubuh telanjang Saga, menindih kontolnya di bawah sana, didekap, dikecup-kecup kecil, sekarang lengannya dibelai-belai. Makin jauh Rama dari ilfeel kepada Saga yang super-red-flag ini.

“Dari mana elo biayain semua ini, Bro?” bisik Saga. “Ini semua enggak murah. Elo enggak akan dapat apa-apa dari sini. Elo enggak akan dapat gue juga.”

I did this because I love you.” Rama menatap kamar mandi hotel yang tampak mewah, bersih, elegan, dan mahal. Keramik dan marmer di mana-mana. Shower-nya berdindingkan kaca. Ada pot-pot bunga tropis seperti di vila-vila Bali. Dan, aromanya khas. “Gue punya tabungan. Lumayan banyak. Tapi buat bayar semua ini, gue mau klaim ke bokap nyokap pas pulang ke rumah besok.”

“Klaim?”

“Iya. Bilang aja gue dibegal di Bali. Duit gue diambil begal. Orang tua gue tipe yang gampang khawatir. Kalau gue unsafe sedikit aja ..., another reason kenapa gue discreet ..., mereka bisa ngelakuin apa pun. Literally anything.

“Jadi ..., tiap gue butuh apa pun, enggak susah buat mereka gelontorin duit. Malah, kalau gue bilang itu tabungan gue, mereka bakal appreciate gue punya financial management yang oke. Mereka pasti support buat ganti semua biaya ini. So I’m fine.”

“Duit buat bayar semua ini bisa gue pake buat kuliah gue .... Atau ngebiayain si Dita,” gumam Saga.

I know. Tapi gue enggak akan ngasih gitu aja ke elo.” Rama menoleh ke Saga. Wajah mereka benar-benar dekat, bahkan hidung Rama menempel ke dagu Saga. “Niat gue satu, bantu elo nyelesaiin masalah ini.”

“Buat apa?”

“Buat elo.”

“Tapi elo enggak akan dapat apa-apa.”

“Gue dapat damainya, karena orang yang gue cintai, at least problem-nya ngurang satu.”

Thanks, tapi .... Tapi problem-nya belum berkurang,” ungkap Saga. “Gue tetap benci tuyul itu. Gue tetep benci Hesti. Gue tetep benci situasi gue ini.”

“Elo benci gue, tapi elo malah ngewe gue. Bikin gue bahagia.” Rama menoleh. “If that’s what it takes to make Hesti and Dita happy, ya udah kita mulai dari benci dulu, Ga. Yang penting udah ngambil first step-nya. One day, Dita yang elo benci itu, bakal happy karena elo do something unimaginable buat dia.

Just like what you did to me today, Ga.

Saga tak merespons. Rama bisa melihat jakun Saga bergerak, artinya Saga menelan ludah. Saga kembali menatap kosong ke langit-langit. Rama pun kembali merebahkan kepalanya di bahu itu. Dia menoleh agar bisa mengendus leher Saga yang belum terkena basah air maupun sabun, sehingga masih beraroma jantan, sisa keringat pas ngewe tadi.

“So, ke depannya kita gimana?” tanya Rama kemudian.

“Gue enggak akan pacaran ama elo,” jawab Saga tegas, tanpa basa-basi.

Jawaban itu mengecewakan hati Rama, tetapi dia tetap berkata, “That’s fair. Toh gue juga udah survive hampir empat tahun suka ama elo tanpa pacaran. Ada status enggak ada status, enggak akan ada bedanya.” Rama tersenyum lebar tanpa menunjukkan gigi. “I’m still gonna love you.

“Tapi I ... hate you.” Saga mengacungkan jari tengahnya ke depan wajah Rama, setelahnya tangan itu membelai kembali lengan Rama. “Fuck you, dasar bencong.”

Alih-alih tersinggung, Rama malah terkekeh, “Hahaha ....”

Dipanggil bencong oleh kekasih hati, sambil cuddling di bathtub, lalu lengan dibelai-belai sih jelas bukan penghinaan. Yang ada malah Rama makin sayang.

“Jadi ... elo bakal tetep ngekos di kosan gue?” tanya Rama.

“Ya,” jawab Saga pendek.

“Oke. Rules tetap berlaku,” balas Rama. “Ngerokok di luar kamar, botol sabunku tutup lagi kalau udah dipake, kalau bisa piring dan gelas langsung dicuci kalau udah dipake, silakan ambil kondom dan pelumas sesuka hati, apa pun itu yang mengarah ke safe sex, aku approve.”

Rama mengingat-ingat lagi.

“Kalau mau ngewe depan gue, kasih tahu aja. Paling gue nontonin sambil megang-megang biji elo. Hahaha.”

Saga tersenyum kecil, ikutan terkekeh oleh candaan itu. Namun meski dia tersenyum, tetap saja dia berkata, “Gue bakal tinggal di kosan elo, dan gue bakal benci elo tiap hari.”

Rama membalas, “Gue bakal cinta elo tiap hari.”

“Gue bakal bikin elo bete dengan biarin semua tutup botol kebuka,” tantang Saga. Dia menunduk dan menoleh menatap Rama. Ekspresinya angkuh.

Rama membalas tatapan itu meskipun jarak mereka dekat sekali. Rama dapat melihat sisa-sisa memar di wajah Saga, yang sepanjang berhubungan seks tadi tampaknya terabaikan dalam gairah seks yang panas. “Dan gue bakal tutup semua botol itu sambil coli ngebayangin elo seobsesif itu ke gue, sampe-sampe elo sengaja bukain semua tutup botol buat godain gue.”

“Anjing.” Saga mendengkus. “Gue bakal tidur pake baju. Biar elo kecewa.”

“Mumpung elo udah tahu gue gay, gue bakal langsung isap nenen elo pas elo molor. Kali ini gue enggak bakal bingung lagi mau mainin yang mana. Gue bakal mainin ketek elo juga, atau perut elo, pas elo tidur.”

“Hahaha!” Saga malah tertawa. “Gue bakal ganggu elo pas lagi belajar. Gue bakal bawa cewek, terus gue bilang gue mau ngewe.”

“Silakan.” Rama menyunggingkan senyum sebelah. “Gue enggak akan bingung lagi. Mau gue lanjut belajar, gue gabung threesome ama elo, gue kasih uang biar elo ke OYO, atau gue ke kafe biar elo ngewe berdua aja di kamar, silakan. Enggak masalah.”

“Enggak mungkin elo milih ke kafe,” sindir Saga pongah. “Paling kalau gue tawarin ngocok kontol elo, elo milih enam sembilan lagi.”

“Betul. Enggak salah. Gue bakal pilih 69 lagi. Tapi gue juga enggak masalah kalau gue cuma dikocok sambil mainin tetek, atau dikocok sambil dipeluk, atau who knows gue tolak elo dan milih tidur.”

“Kagak, kagak mungkin molor lo!” Saga terkekeh percaya diri. Dia mengangkat tangannya tiba-tiba, memamerkan keteknya. “Begitu gue pamerin ini ....” Saga jilat keteknya tiga kali dengan sangat menggoda. “Elo enggak akan pernah nolak gue.”

Rama menatap ketek yang basah itu dengan mupeng. “Enggak salah, sih. Gue bakal jaga itu ketek enggak dicukur. Tapi kalau elo mulai ngeselin, gue enggak akan ragu lagi buat ambil shaver, terus gundulin ketek elo.”

“Enggak mungkin, elo suka ketek gue.”

“Betul. Dan gue suka jembut elo.” Rama mengangkat dagunya dengan bangga. “Sekarang gue enggak akan ragu lagi buat cukur jembut elo, atau ketek elo, enggak akan gue cegah elo lagi.”

“Anjing, freak!” hardik Saga ....

... sambil tiba-tiba memagut bibir Rama, mencumbunya, lalu melepaskannya.

CUH!

Saga meludahi bibir Rama, lalu mencumbunya lagi.

Rama hanya terkekeh melihat gemasnya Saga kepada dirinya. Mereka bertatapan selama beberapa saat. Pandangan mereka tajam, kuat, saling menyombongkan diri, saling bertarung siapa yang paling kuat, sang pembenci atau sang pencinta.

Dan sang pembenci membuka diskusi lagi, “Kalau gue tetep ngekos di kamar elo, entar elo ngenalin gue ke si Indah sebagai apa, hm? Kan gue enggak bakal jadi cowok elo.”

“Bebas.” Rama mengangkat bahu. “At this point, gue pacaran enggak pacaran ama elo, Indah bakal sange ama elo. Dia enggak akan peduli sama status hubungan kita. Mau gue kenalin elo ke Indah apa adanya, atau gue enggak jujur sepenuhnya, atau gue sembunyiin elo supaya Indah enggak nemu elo, enggak akan ngubah apa pun. Elo bakal tetap ngewe sama Indah buat nunjukin keperkasaan elo di depan gue. Meski sayangnya ....

“Gue enggak akan impressed, soalnya sejak awal gue cinta elo. Bukan cinta Indah,” lanjut Rama. “Serah kalau kalian mau ngewe. Bebasss.”

Saga tersenyum sebelah mendengarnya. Kelihatan jelas, dalam kepala Saga, rencana untuk ngewe dengan Indah mulai tersusun dengan baik. Soalnya pacar Indah sudah memberi izin.

“Terus, gimana sama grup itu?” tanya Saga tiba-tiba. “Mau elo urus?”

“Grup Cari Saga?” Rama terkekeh. “Kan elonya udah ketemu. Kenapa harus dicari lagi?”

“Nama elo jelek di grup itu gara-gara gue.”

“Tapi gara-gara elo, gue sekarang ada di bathtub, cuddle ama elo, dicipok ama elo, ngewe ama elo. Kalau grup itu bikin ulah lagi, antara gue kasih tahu elo dan cari solusi sama-sama, atau gue selesaiin sendiri aja. Gue udah cukup ama mereka. Gue enggak perlu nyari validasi apa pun lagi. Gue udah dapatin apa yang gue mau.

“Gue udah dapatin elo.” Rama tersenyum kecil, penuh memori. “Hidup gue lebih ringan sekarang.”

“Elo enggak akan balas dulu orang-orang di grup?”

Rama menggelengkan kepala. “Percuma. Mau gue marah-marah di grup, atau gue blok orang-orang itu, enggak akan ngembaliin apa pun. Semua udah terjadi.”

Saga manggut-manggut paham. Dari yang asalnya ingin menekankan rasa bencinya ke Rama, dia malah makin memahami teman sekosannya itu. Saga kembali membelai lengan Rama, memberi waktu sejenak untuk mencerna, kemudian mengecup lagi pelipis Rama dengan lembut.

Fuck you,” bisik Saga kemudian. Dikatakan dengan penuh cinta. “Harusnya kita enggak pernah sekosan.”

“Kenapa?”

“Takutnya gue jadi I love you ke elo.”

Rama tersenyum dalam beku mendengar itu. Senyum yang begitu membahagiakan hati, sanggup membuat jantungnya serasa berhenti berdetak, tetapi dirinya tak mau dikelabui oleh harapan palsu.

Dengan bijak Rama menimpali, “Who knows when that ‘time’ comes ..., the Bluetooth device is connected successfully.”

“Kenapa jadi Bluetooth, anjing!” Saga mencubit hidung Rama dan menggoyang-goyang wajah kawan SMA-nya itu.

Sambil terkekeh, Rama menjelaskan, “Bluetooth kan soal koneksi. Kalau elo beneran I love you ke gue ....

“... berarti koneksinya tersambung successfully. Seperti Bluetooth.”

Saga tersenyum kecil dan memeluk Rama secara tiba-tiba. Pelukan itu hangat. Meskipun setelahnya dia tetap berkata, “Kita enggak bakal pacaran, Ram. Jangan ngimpi.”

“Hahaha. Iya, Ga. Gue paham. Harapan gue cuma satu, sih ....

“... tetep bisa cinta sama elo.”

Saga mengecup kening Rama dan berkata, “Gue harap gue bisa benci elo selamanya.”

I love you.”

Fuck you.

“Jadi elo top atau bottom, Ga?”

Saga malah terkekeh dan meludah lagi dengan jantan ke bibir Rama. CUH! Kemudian, dia memagut bibir itu penuh nafsu. “Fuck you,” bisik Saga di tengah-tengah cumbuan yang romantis itu.

Mereka saling memagut bibir hingga air di dalam bathtub berubah dingin.

 

TAMAT


Part 9.2 | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Sekosan

Komentar