Meski cuaca akhir tahun itu benar-benar buruk, banjir menghadang warga di Sumatra, Jakarta tetap menyambut Rama dengan hangat. Dia keluar dari area kedatangan Soekarno-Hatta International Airport sambil mendorong kopernya menuju jejeran taksi yang mangkal di depan gedung terminal. Cuaca mendung, belum hujan, tetapi hangat Jakarta mengingatkannya lagi pada nostalgia tumbuh besar di kota terpadat dunia ini.
“Kita langsung hotel, kan?” tanya Saga sambil melempar duffel
bag-nya ke bagasi taksi.
“Elo mau pulang dulu ke rumah?”
“Nope.”
“Lusa kita pulang ke rumah masing-masing.”
“Gue kan enggak akan pulang,” kata Saga seraya masuk ke dalam
jok penumpang. “Gue mendingan gelandangan bawah jembatan.”
Rama yang baru selesai memasukkan kopernya membuntuti. “Kenapa?”
“Muka gue masih bonyok. Entar banyak pertanyaan.”
“Mau gue tonjok dari kanan juga, biar imbang bonyoknya?”
“Babi!” Saga menampol wajah Rama sambil menggeser duduknya di
dalam mobil.
Rama terkekeh sambil ikutan duduk di dalam mobil. “Elo pulang
ke rumah gue aja.”
“Biar elo bisa nyepong gue, hm?”
Rama membelalak panik karena Saga menyebutkan kata itu. Dia
celingukan mencari sopir taksi yang kebetulan baru saja menutup pintu bagasi di
belakang. “Gue masih utang merkosa elo, Ga,” bisik Rama mengingatkan.
Lalu, Saga menyikut dada Rama sambil tergelak.
Sejauh ini, rencana “pertanggungjawaban saga” berlangsung
lancar. Rama tidak tahu apakah masalah ini akan selesai, atau tambah runyam. Yang
penting dia sudah bertanggung jawab membawa Saga ke Hesti, lalu membantu mereka
mencari win-win solution. Satu-satunya cara adalah ketemu langsung,
bukan dibahas di grup enggak jelas hingga bahasannya menyebar ke mana-mana. Saga
harus menghadapi dengan jantan anaknya sendiri, plus ibu dari anaknya. Hesti
juga harus mau berdiskusi dengan Saga, bukan hanya mengeluh merasa ditinggalkan
oleh Saga. Menurut Rama, yang punya rahim adalah Hesti. Ketika janin itu
terbentuk dan Saga tak bersedia bertanggung jawab, akan menjadi urusan Hesti
jika dia ingin melahirkan anak yang tak diinginkan itu. Kalau enggak mau repot
urusan anak kayak begini, ya jangan ngewe, jangan lupa pake kondom, atau
jangan takut aborsi.
Minggu malam, Saga mengantar Vina hingga ke hotelnya dan
mereka mengobrol banyak sepanjang perjalanan. Saga tidak memberi tahu apa saja
yang diobrolkan. Bahkan ketika barusan mereka duduk bersebelahan 100 menit di
dalam pesawat, Saga memilih molor dibandingkan mencurhatkan obrolannya bersama
Vina. Yang pasti, kira-kira pukul 12 malam, ketika Saga sudah kembali ke kosan
Rama, Saga mengirim WhatsApp yang isinya:
Thanks.
Dengan emoji senyum happy.
Rama ingin sekali membalas, tetapi dia putuskan untuk tidak
mencampuri urusan mereka. Malam itu Rama merasakan dua perasaan yang seharusnya
tidak muncul bersamaan. Rasa bahagia dan cemburu. Dia bahagia Saga bisa duduk
bersama Vina, dia juga cemburu Saga duduk dengan Vina.
Rama akhirnya tidur di kursi rumah sakit, memegang tangan
Indah sampai pagi, mendengarkan Indah berkali-kali memelas agar Rama jangan
pergi. Namun, pukul sebelas siang hari Senin, Rama tetap pergi. Ibunya Indah
diterbangkan langsung dari Jakarta, tiba dengan taksi ke rumah sakit, dan
langsung menemani Indah hingga observasi selesai. Rama sudah memastikan bahwa
biaya perawatan akan Rama bayarkan begitu dapat rilis dari rumah sakit nanti.
Sepulang dari rumah sakit, Rama menemukan Saga merokok di
depan kosan. Telanjang dada, hanya pake kolor belelnya, sambil memainkan
ponsel. Rama menyapanya dengan, “Abis mandi gue mau beli oleh-oleh buat
orang-orang di Jakarta. Elo mau ikut?”
Saga menggeleng sambil mengembuskan asap dari mulut dan
hidungnya. “Gue enggak bakal pulang ke rumah. Gue enggak perlu beli oleh-oleh.”
“Oke.” Rama manggut-manggut. “Kurang-kurangin rokoknya.
Ngerokok enggak bikin elo ganteng.”
Saga terkekeh. “Kenapa? Enggak jadi I love you-nya
kalau gue ngerokok?”
Rama hanya mengacungkan jari tengah ke wajah Saga, lalu masuk
ke dalam dan mandi.
Merenung dalam gelapnya kamar rumah sakit membuat Rama
merefleksi ulang semua kesalahannya selama ini. Semua “penipuan” yang dia
lakukan ke orang-orang, semua cinta palsu ke mantan-mantannya—termasuk ke pacar
yang sekarang—dan semua kepalsuan yang Rama paparkan ke seluruh dunia. Setelah
Indah tertidur, menjelang dini hari, Rama menangis dalam diam. Di kursi rumah
sakit. Menyesali semua perbuatannya. Mengutuk dirinya sendiri.
Meskipun dia lebih bahagia dan lega karena bisa menumpahkan
perasaannya kepada Saga lewat I love you, tetapi itu tak menghapus rasa
bersalah Rama. Hatinya tak tenang. Diam-diam Rama terpukul dan tertekan. Dia
bisa senyum di depan ibunya Indah, tetapi jantungnya berdebar-debar karena
kecemasan itu.
Ketika Rama mencari oleh-oleh Bali untuk keluarga dan temannya
di Jakarta, dia hampir tak bisa berkonsentrasi. Dia tak tahu harus membeli apa
untuk siapa. Dia berjalan berkeliling Krisna tanpa juntrungan. Mungkin hampir
dua jam. Sampai akhirnya dia tersadar dan buru-buru memasukkan apa pun yang
bisa dia bawa ke kopernya.
Selepas mengunjungi pusat oleh-oleh, Rama memutuskan untuk
pergi ke kampus dan mencari seorang kawan di angkatan FK-nya yang bisa dia
mintai bantuan. Rama akan mudik setidaknya sampai hari Minggu, dia akan
ketinggalan banyak kuliah. Jadi, dia mencari Gio pada jam-jam selesai kuliah
karena kawannya itu penerima salah satu beasiswa bergengsi. Sudah pasti Gio
anaknya cerdas meskipun kadang kalau ngomong di depan Rama terlihat kikuk dan awkward.
Ada niatan juga untuk curhat ke Gio, ke orang yang bisa
mendengarkan cerita Rama tanpa konteks apa pun, tanpa berpihak ke siapa pun,
yang bisa bersikap netral, mungkin sekalian coming out kepada Gio kalau
memang perlu. So far, Gio tidak terlihat seperti orang yang cepu dan
bocor.
Sore itu Rama menemukan Gio baru saja dijemput kakaknya dan
Rama pun mengutarakan maksudnya ....
....
....
....
Sepulang dari menemui Gio, Rama kembali ke kosan untuk membereskan
koper dan tidur dengan sangat pulas. Dia terbangun pukul enam pagi dengan Saga
molor telanjang dada di sampingnya. Satu tangan Saga dilipat di belakang
kepala, pamer ketek dengan seksi, dan puting hitamnya tampak menggiurkan.
Rama mengangkat selimut yang menutupi perut Saga dan menemukan
Saga telanjang bulat.
Kontol Saga ngaceng morning wood di bawah sana.
“Enggak,” kata Rama ke diri sendiri.
Alih-alih menyepong kontol itu atau memainkan puting
Saga seperti tempo hari, Rama mengguncang tubuh kekasih hatinya itu. “Bangun!
Kita harus OTW bandara sejam lagi.”
Dan di sinilah mereka sekarang, di Jakarta, di dalam taksi,
menuju hotel tempat mereka menginap.
Kapan mereka akan bertemu Hesti?
Malam ini juga.
[ ... ]
Hotel yang Rama pesan berbintang lima. Lengkap dengan
fasilitas yang nyaman seperti spa, salon, dan restoran mewah. Lokasinya di
Jakarta pusat dengan harga per malam—paling murah—dua juta rupiah. Setiap
kamarnya memiliki bathtub, ranjang ukuran besar, common area
berupa jejeran sofa empuk, dan amenities yang superlengkap.
Ada alasan mengapa Rama menyewa kamar macam ini untuk dua
malam. Dia bukan mau berfoya-foya, melainkan berupaya menjadikan konsolidasi ini
sukses tanpa ada masalah-masalah baru ke depannya.
Rama mengundang Hesti untuk datang langsung ke hotel. Rama
bahkan memesankan GrabCar untuk Hesti karena lokasi rumahnya jauh. Hesti tiba
pukul tujuh malam di lobi hotel. Dia duduk menunggu di jejeran sofa besar yang
sangat megah. Ketika Rama turun ke lobi, Rama menemukan Hesti merasa
terintimidasi dengan mewahnya hotel. Hesti celingukan ke atas, ke langit-langit
yang tinggi dengan kandelir kristal raksasa, lalu orang-orang berseragam rapi,
aroma lemongrass yang menenangkan, meja berukir emas, dan jamuan welcome
drink yang Hesti tolak pada awalnya karena mengira harus bayar.
Rama berhasil membujuk Hesti datang ke hotel ini hanya dengan
berkata, “Gue lagi di Jakarta. Gue ada info soal Saga. Can we meet?” Di
situlah Hesti setuju. Termasuk ketika Rama bilang, “Boleh bawa adek bayinya
juga?”
Hesti jawab, “Aku seorang ibu, Ram. Aku akan bawa anakku ke
mana pun.”
“Good to know. Gue tunggu jam 7 di hotel. Kabari kalau
udah siap, entar gue pesenin GrabCar-nya.”
Di sinilah Hesti, duduk dengan kikuk sambil menggendong
anaknya. Mata Hesti diedarkan ke sana kemari mencari keberadaan Rama. Ketika
Hesti melihat Rama sedang berjalan dari arah lift ke arahnya, Hesti terkesiap
dan langsung berdiri.
Rama menghampiri Hesti dengan senyum. Dadanya berdebar-debar
melihat bayi dalam gendongan Hesti. Manusia yang lahir dari spermanya Saga,
batin Rama. Pemikiran itu membuat Rama merinding. Belum bertemu pun, Rama
merasa dekat dengan bayi itu. Mungkin karena ada bagian dari bayi itu yang
berasal dari orang yang Rama cintai.
Di tangan Rama terdapat kado berukuran besar yang dibungkus
kertas kado cantik berwarna merah, penuh gambar bintang. Isi kado itu peralatan
makan bayi premium.
Hesti melongo melihat Rama menyodorkan kado itu ke Hesti.
“Selamat ulang tahun, Pramudita!” sapa Rama dengan senyum
lebar ke bayi mungil dalam gendongan Hesti. “Lihat Om bawa apa ....” Rama
cengar-cengir menatap bayi perempuan itu sambil menggoyang kepalanya.
Pramudita, bayi perempuan dengan bandana telinga kucing di
kepala, terlihat penasaran dengan kado besar berwarna cerah dari Rama. Dia
mencoba menyambarnya, tetapi tangannya terlalu kecil untuk memegangnya.
Sang ibu masih terheran-heran dengan aksi Rama. Dia menerima
sodoran kado itu, tetapi wajahnya kebingungan. “Kamu ... dari mana kamu tahu
anakku besok ulang tahun?”
Rama menunjukkan wajah konyol dulu untuk menghibur Pramudita,
meski wajah itu masih berwarna ungu, dan ada plester menempel di pelipisnya.
Lalu Rama menjawab, “Kan di Bali gue ketemu Saga, Hes.”
“Jadi itu bener kamu?”
“Ya, bener. Itu gue. Yang enggak bener adalah gue pacaran ama
Saga. Entah dari mana kalian bikin kesimpulan melenceng kayak gitu cuma dari
foto blur macam itu.”
Hesti merundukkan pandangannya, merasa bersalah. “Maaf.”
“Ngngng ...!” Pramudita menggerung marah karena Hesti
tak kunjung memberikannya kado besar itu. Hesti akhirnya membiarkan kertas kado
yang disambar Pramudita disobek, lalu bayi itu mencabik-cabiknya dengan penuh
rasa penasaran.
“Aku ..., aku cuma bingung gimana ngehubungin Saga,” ungkap
Hesti kemudian. “Besok ulang tahunnya Dita. Aku enggak minta dia datang ke
sini. Aku pengin video call sama dia. Pengin nunjukin Dita udah kayak
gimana. Kalau dia enggak bisa kirim uang, gapapa. Tapi video call
sekaliii aja. Salahkah itu Ram?”
Suara Hesti terdengar seperti perempuan yang terluka. Meski
tak ada air mata, tetapi Rama bisa mendengar kerongkongan Hesti tercekat.
“Enggak salah,” balas Rama, menghela napas panjang. “Ayo ikut
gue.”
“Ke mana?”
Rama membawakan tas Hesti agar Hesti bisa membawa kado dari
Rama sambil menggendong anaknya. “Kita bicarain di kamar gue aja.”
Hesti tak punya pilihan lain selain membuntuti Rama ke lift.
Di dalam lift, perhatian Pramudita berganti dari kertas kado
berwarna cerah ke wajah Rama yang baru pertama dilihatnya seumur hidup. Bayi
itu mengulurkan tangan ke arah Rama dan meremas-remas udara.
“Eeehhh ... mau digendong?” tawar Rama, berbicara seperti anak
kecil. “Boleh aku gendong?”
“Siniin tas aku,” kata Hesti sambil mentransfer Pramudita ke
tangan Rama dan mengambil tasnya dari tangan Rama.
“Hellooo ...! Capa namanyaaa ...?” tanya Rama retorik
(karena sedari tadi Rama sudah tahu namanya) sambil membuat mimik-mimik konyol.
Dia menatap wajah Rama dengan penuh rasa penasaran, kemudian
terkekeh bertahap. “Hehe ... hehehe ....” Tangannya yang bantet mencoba
mencengkeram wajah Rama. “Hehehehe ....”
“Aduaduuuhhh ... cakiiittt ....” Rama mengernyit dan memberikan
ekspresi jenaka.
“Hehehehe ....” Pramudita tertawa lepas.
Hesti menatap anaknya dengan senyum kecil. “Dia jarang ketawa
kayak gitu, Ram,” gumamnya, tetapi tidak kedengaran Rama.
Yang Rama rasakan adalah sebuah kebahagiaan kecil karena dia
menggendong bayi yang mengalir darah Saga di dalamnya. Mendadak Rama sayang
pada bayi kecil ini.
“Kalau boleh tahu ..., kenapa mukamu biru-biru gitu, Ram? Kamu
kecelakaan?” tanya Hesti.
“Ciluk ... baaa ...!” Rama menoleh sejenak ke arah Hesti, “Ini
hasil karya bapaknya Dita. Ciluuukkk ... baaa ...!”
“Hehehehe ...!”
Ting!
Pintu lift terbuka. Hesti tidak bertanya lagi. Dari lift,
mereka berjalan menuju kamar Rama. Rama masih menggendong Pramudita sambil
membiarkannya menampar-nampar pipi Rama dengan tangan mungilnya yang
menggemaskan. Bayi itu juga mencoba mengelupas plester di pelipis Rama.
Menggunakan satu tangan, Rama membuka pintu lebar-lebar dan
masuk ke dalam dibuntuti Hesti. Ketika Rama tiba di depan kamar tidur ....
... Saga berdiri dari duduknya.
....
Saga sudah menunggu dengan cemas sedari tadi. Dia duduk di
tepi tempat tidur, dengan dada berdebar-debar, tak tahu apa yang harus
dilakukan jika anak itu muncul di hadapannya. Anak yang menurut Saga sudah
menghancurkan hidupnya, setidaknya satu setengah tahun terakhir, sejak Hesti
ketahuan mengandung. Haruskah Saga tonjok bayi itu sampai mampus? Haruskah dia
menerimanya dalam pelukan?
Ketika Rama dan Hesti masuk, Saga langsung melompat berdiri di
tengah ruangan dengan raut waspada.
Hesti menutup mulutnya dengan tangan, terkejut karena Saga
ternyata ada di sini.
Rama masih menggoyang gendongannya sambil terus menunjukkan
wajah lucu.
“Baaaaaa ...!”
“Hehehehe ....” Pramudita tak berhenti terhibur sejak dirinya
digendong Rama.
Rama membawa Pramudita ke jendela balkon untuk
memperlihatkannya gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang ada di sekitar
hotel mereka. Rama memberikan marakas mungil warna merah dan kuning cerah untuk
dimainkan Pramudita. Perhatian bayi itu langsung teralih ke marakas yang
berbunyi seperti gemerisik pasir jika digoyang-goyang. Rama akhirnya bisa
berbicara ke Saga dan Hesti.
“Silakan,” kata Rama. “Elo dari kemarin nyari Saga, orangnya
udah di sini. Terus elo Ga, dengerin dulu Hesti mau ngomong apa, jangan
langsung kabur.”
Hesti berjalan sedikit demi sedikit menghampiri Saga. Dia tak
berani menatap wajah Saga meski dirinya merindukan lelaki itu selama setahun
terakhir. Kali terakhir bertemu Saga pada awal-awal tahun, ketika Saga muncul
untuk satu jam saja di sebuah hotel dan menggendong Pramudita untuk kali
pertama.
“Hey ...,” sapa Hesti.
“Hey,” jawab Saga, menghela napas sambil membungkuk dan
memainkan ujung kakinya di atas karpet kamar hotel. Saga tak sudi melihat
Hesti. Saga masih benci kepada perempuan ini karena mempertahankan bayi itu. Dalam
kepalanya teringat lagi hari-hari penuh tekanan ketika Saga membujuk Hesti
untuk menggugurkan janin dalam kandungannya, mumpung belum membesar. Namun,
Hesti menolak semua usulan itu.
“Aku tahu kamu masih marah sama aku,” ungkap Hesti, berhenti
sekitar dua meter dari posisi Saga, tak berani mendekat. “Aku cuma mau bilang
..., aku ..., Dita besok ulang tahun yang pertama.”
“Iya tahu,” jawab Saga pendek, seperti tak peduli.
Saga tak akan pernah bisa melupakan hari yang menghancurkan
hidupnya.
Hari kelahiran Pramudita.
“Seperti janjiku ...,” lanjut Hesti, “... aku enggak akan
nuntut kamu lebih dari ini. Semua kiriman uang kamu aku pake buat Dita, enggak
pernah buat aku.”
“Bagus, lah.”
“Tahun depan, aku mulai kerja. Di pabrik. Soalnya Dita kan
udah setahun, jadi mama papaku yang nanti jagain. Insyaallah, aku berusaha buat
enggak tergantung sama uang kamu lagi.”
“Oke.” Saga terlihat tak nyaman.
“Aku kangen kamu, Ga.”
“Bukan urusan gue.”
Setetes air mata mengalir di pipi Hesti. Dia langsung
mengelapnya menggunakan satu tangan. Dengan suara tercekat, Hesti mencoba
berbicara lagi. “Dita kangen kamu.”
“Dia masih bayi, enggak kenal gue, enggak mungkin kangen ama
gue.”
Kata-kata itu menusuk hati, membuat air mata menetes lagi di
pipi Hesti. Cepat-cepat Hesti mengelapnya dengan lengan kemeja panjangnya.
Rama tak kuasa melihat itu semua, jadi Rama berbalik menghadap
jendela. Rama menahan dirinya dari emosi yang bergejolak. Selama beberapa saat,
Rama tak mendengar apa pun di belakangnya. Kemudian, Rama mendengar Hesti
memecah keheningan.
“Sorry kalau aku bikin repot Rama,” kata Hesti. “Aku
cuma pengin kamu ketemu Dita di ulang tahun besok. Lewat video call aja.
Enggak lebih.”
Saga memberi jeda sebelum menjawab, “Oke. Besok gue video
call.”
Rama memutar bola mata. “Elo udah di sini, Ga,” ungkap Rama
tanpa memutar badan. “Besok elo ngabisin waktu seharian sama Dita. Itu
perjanjian kita.”
“Kita enggak ada janji kayak gitu,” sergah Saga tak terima.
“Elo janji ke gue buat jadi orang yang lebih baik lagi.” Rama
menghela napas sebelum melanjutkan, “Besok elo bakal main ama Dita. Berdua. Quality
time.”
“Kita enggak pernah bahas itu,” tegas Saga, terdengar kesal.
“Benar, enggak pernah,” jawab Rama, sama menantangnya. Rama
menoleh ke belakang, ke arah Saga, “But you will do that.”
Saga terlihat sangat kesal. Ingin sekali Saga meninju lagi
Rama seperti selumbari, tetapi dia tak bisa melakukan itu dengan Pramudita
dalam gendongan Rama. Rahang Saga mengeras. Napasnya mulai mendengkus.
Tanpa mengatakan apa pun, Saga menyambar jaket dan ponselnya.
“Gue pergi.” Dia berlalu melewati Hesti, mengenakan sepatunya sekali injak,
lalu beranjak keluar dari kamar hotel. Saga bahkan menggebrak pintu hotel
dengan kesal.
GBRAAAKKK!
Hesti mengentak kaget. Kemudian, panik. “Dia ... dia pergi?”
Rama tersenyum kecil. Dengan percaya diri Rama berkata,
“Enggak. Besok dia bakal ada di sini buat celebrate the first anniversary-nya
Dita. Ya enggaaakkk ...?” Rama mencoba menggoyang tangan Pramudita sambil
menunjukkan ekspresi lucu, tetapi bayi itu kadung terpesona pada marakas yang
ada dalam genggamannya.
Rama berbalik ke arah Hesti dan berkata, “Balik lagi ke sini
besok. Bawa Dita. Gue butuh tiga jam buat Dita sama Saga quality time di
sini. Gue bakal bikin Saga spend time, meskipun dia enggak mau. Selama
tiga jam nunggu, gue udah siapin elo spa day di hotel. You need some
time alone with yourself, Hes, setelah setahun terakhir ngurus Dita. Jangan
sampe elo jadi gila ngegedein anak dari laki-laki berengsek macam Saga.”
Hesti duduk di tepi tempat tidur sambil mengelap lagi air mata
yang mengalir tak terkontrol di atas pipinya. Dia menenangkan napasnya sebelum
bertanya, “Kenapa ... hiks hiks ... kenapa kamu baik banget, Ram?”
Sambil mengguncang Pramudita, Rama menjawab, “Enggak, gue
bukan orang baik. Gue punya cara jahat gue sendiri.”
“Kamu enggak tahu rasanya ... rasanya cinta sama Saga ... dan
Saganya ....” Hesti menelan ludah terlebih dahulu. “Saganya cuma mau ... pake
kamu ... tapi dia sebenarnya ... enggak peduli.” Hesti menangis selama beberapa
menit setelah mengucapkan itu.
Rama hanya menjawab dengan suara pelan, “Oh trust me,
Hes .... I know.” Rama menatap Pramudita dengan senyum lebar dan mata
berkaca-kaca. “I know the feeling.”
[ ... ]
Seperti yang Rama yakini, Saga hadir pada hari ulang tahun
Pramudita keesokan harinya.
Ya, semalam Saga kabur—seperti normalnya Saga menghadapi
masalah. Saga pergi ke bar, minum-minum, pulang dini hari ke kamar hotel dalam
kondisi mabuk. Tampaknya Saga bertemu cewek di bar, Saga sange, tapi
ceweknya enggak bisa dibungkus buat di-ewe. Jadi, begitu nyampe kamar,
dalam kondisi mabuk total, Saga menelanjangi diri dan menyodorkan kontolnya ke
Rama.
Apa yang Rama lakukan saat itu?
“Tidur, Ga.”
Dia mendekap tubuh Saga, membantingnya ke atas tempat tidur,
dan menahannya tetap berbaring hingga Saga betulan tertidur karena lelah. Rama
tidak menyentuh Saga seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya.
Rabu pagi, pukul 9, Hesti datang bersama Dita. Saga yang masih
berbaring telanjang di atas tempat tidur terbangun ketika ibu dari anaknya itu
masuk ke dalam kamar. Saga tarik selimutnya menutupi dada, lalu membuang muka
dengan malu. Kepala Saga masih pusing akibat minuman keras.
Hesti tak mengatakan apa pun selain, “Pagi.” Lalu menunduk
patah hati melihat Saga yang dipuja-pujanya tak sudi melihat ke arah dirinya.
Rama yang sudah mandi dan ganteng, langsung bangkit dari sofa
dan berkata, “Mandi, Ga. Malu ama anak elo yang udah mandi, udah cantik, udah
siap party hari ini.” Rama juga melempar bantal sofa ke arah Saga, kena
ke dadanya.
“Fuck you,” balas Saga sambil mengacungkan jari tengah
ke Rama.
“Kita sarapan dulu, Hes. Gue udah pesen additional pax
buat elo,” ujar Rama sambil mengajak Hesti dan Pramudita keluar. “Kalau elo mau
makan, langsung turun aja, Ga!”
Kira-kira lima belas menit sebelum breakfast hotel
ditutup, Saga datang dengan penampilan rapi. Memakai celana jeans
panjang, kemeja yang lengannya digulung hingga siku, dan aroma maskulin dari
parfumnya. Wajahnya tetap ganteng, meski di pipi kirinya masih ada lebam-lebam
biru. Namun, yang membuat Saga makin ganteng adalah dia duduk satu meja dengan
Rama dan Hesti.
Saga tak mengobrolkan apa pun selama sarapan. Dia mengambil
makanannya, makan dengan tenang, mati-matian tak menatap ke arah Hesti.
Kebetulan, Rama aktif mengajak Hesti mengobrol sehingga Hesti tak perlu sakit
hati dipandang Saga seolah-olah dirinya menjijikkan. Satu hal yang pasti,
diam-diam Saga melirik ke arah Pramudita, penasaran dengan tingkah bayi itu.
Namun setiap Rama atau Hesti memergoki hal itu, Saga langsung mengalihkan
pandangannya ke arah lain.
Pukul 11, akhirnya mereka semua meninggalkan restoran. Rama
menggendong Pramudita sepanjang waktu, hampir tak menemukan penolakan dari bayi
itu. Seolah-olah Pramudita kenal dengan Rama sejak lahir dan merasa nyaman
berada dalam gendongannya. Pun, Rama begitu aktif menghibur sang bayi hingga
membuat restoran hotel dipenuhi tawa mungil yang menggemaskan.
“Elo mau ke mana?” tanya Rama ketika Saga tiba-tiba berjalan
lurus melewati lift.
Saga menjawab dengan gestur dua jarinya di bibir, artinya mau
merokok. Saga berjalan tegap ke luar area lobi, tanpa menoleh, entah mau
merokok di mana.
“Saga ... enggak akan gabung?” tanya Hesti sambil terus
menatap kepergian Saga di lobi. Wajahnya terlihat kecewa.
“Sabar, Hes. Gue yakin sarapan barusan aja berat buat dia.
Mungkin dia mau ambil napas dulu.”
“Aku tadi lihat Saga curi-curi pandang ke Dita.”
“Ya. Gue juga lihat.” Ting! Pintu lift terbuka. “Give
him some time. Enggak usah dipaksain. Ayo.”
Sesampainya di kamar hotel, mereka masih harus menunggu hingga
pukul 12 sebelum Hesti dapat jadwal massage, hair spa, dan facial
di hotel. Ini adalah hadiah pribadi Rama khusus untuk Hesti. Rama tak punya
kewajiban untuk melakukan itu, tetapi entah mengapa Rama merasa perlu berterima
kasih kepada Hesti karena telah memastikan anaknya Saga tumbuh dengan proper
meski banyak keterbatasan. Rama bisa berempati pada perjuangan Hesti, apalagi
Rama tahu Hesti memiliki satu kesamaan dengan dirinya:
Cinta mereka kepada Saga bertepuk sebelah tangan.
Pramudita merupakan satu-satunya bagian dari Saga yang bisa
mengapresiasi kehadiran Rama, jadi kepada Hesti dan Dita sajalah Rama akan
fokus memberikan kasihnya hari ini.
“Aku mau bikin video di grup, ngasih tahu kalau Saga udah
ketemu, dan kamu bantu aku buat ketemu,” kata Hesti setelah mengganti popok
Pramudita.
“Ah, thanks,” balas Rama, mengintip dari belakang. “Sekalian
bilang ke grup, misal gue gay ..., kayaknya bukan Saga yang bakal gue
pacarin.”
“Hahaha ....” Untuk kali pertama Hesti terkekeh lepas di depan
Rama.
“Orangnya cuek kayak gitu ..., kabur mulu kalau ditodong ...,
mendingan gue pacaran sama si Wanto.”
“Hahaha ... anjiiirrr ....” Hesti cengar-cengir sambil
menggendongkan Pramudita ke pelukan Rama.
“Lagian, gue enggak suka orang yang ngerokok, yang
mabuk-mabukan, yang hidupnya berantakan .... Hellooo Ditaaa ...! Mau marakas?”
Rama langsung memasang senyum lebar ketika Pramudita ada dalam gendongannya. Pada
saat yang sama, Hesti menyambar ponselnya dan duduk di sofa paling dekat
jendela. Lalu, Rama bergegas ke meja untuk mengambil mainan marakas semalam.
Di atas meja, di samping marakas, bungkus rokok Saga
tergeletak bebas. Rama teringat bahwa Saga tidak membawa bungkus yang lain
selain ini. Apakah Saga membeli rokok yang baru di luar sana?
Ataukah ... Saga hanya mencari alasan agar tidak merayakan
ulang tahun Pramudita di kamar ini? Saga melipir kabur hingga Hesti dan anaknya
ini pulang dari sini?
Untuk kali pertama dalam hidupnya Rama berharap Saga keluar
hotel untuk merokok.
Semoga dia bukan mau kabur, batin Rama.
Soalnya, meski yang Rama katakan tadi benar, bahwa dirinya
enggak suka orang yang merokok, mabuk-mabukan, atau berantakan, kalau hatinya
yang memutuskan, Rama tak bisa berbuat apa-apa. Bertahun-tahun Rama mencintai
sosok yang Rama deklarasikan tak suka kelakuannya.
“Halo, Teman-Teman. Ini aku, Hesti, makasih banyak kemarin
sudah bantu aku cariin Saga. Alhamdulillah, hari ini ....” Hesti membelokkan
kamera ponselnya ke arah Rama yang sedang menggendong Pramudita, “... itu bukan
Saga, itu Rama. Tapi Rama bawa Saga ke Jakarta buat ketemu aku sama Dita. Jadi
mulai sekarang, aku minta bantuannya untuk enggak gosipin yang aneh-aneh lagi
soal Rama, ya ....”
Kira-kira lima menit sebelum pukul 12, kue ulang tahun Pramudita
diantar pelayan hotel ke kamar. Sayangnya, Pramudita tertidur. Jadi, Rama dan
Hesti tak bisa merayakannya.
“Gapapa gue jagain Dita di sini,” kata Rama, menyusun bantal
di sekitar Pramudita. “Mending sekarang elo ikut mbaknya ke lantai dua. Jadi entar
jam tiga bisa langsung ke sini. Kalau Dita udah bangun, kita tiup lilinnya
entar pas elo udah selesai.”
“Beneran, Ram?” Hesti tampak sedikit ragu.
“Iya, bener. Asal elo enggak jauh-jauh dari hape. Jadi
kalau gue butuh elo, gue bisa nelepon.”
Hesti menganggukkan kepala. Dia menatap Pramudita yang tidur
dengan damai di atas tempat tidur, kemudian dia bergegas memeluk Rama.
“Makasih, ya.” Hesti meneteskan air mata, tetapi dia langsung mengelapnya
dengan tangan.
“You’re welcome. Ayo sana. Pijat dulu. Dita aman ama
gue.”
“Iya. Makasih banyak.”
Hesti pun pergi meninggalkan ruangan.
....
Hanya berselang dua menit sejak kepergiannya, pintu kamar
terbuka.
Saga masuk.
Saga berjalan ke tempat tidur, berdiri di ujungnya, menatap
Pramudita dengan tatapan yang tak bisa Rama petakan, lalu Saga bergumam dengan
suara pelan, “Happy birthday.”
[ ... ]
Meski berada di lantai 7, kamar itu tetap memiliki balkon
pribadi seperti lantai-lantai di bawahnya. Areanya secukupnya, diisi oleh pot
tanaman, dua kursi, dan satu meja di antaranya. Kamar ini menghadap ke jejeran
bangunan tinggi Jakarta pusat yang tampak menjulang dan gagah. Sayangnya langit
mendung, sehingga latar gedung-gedung itu berwarna kelabu.
Sudah satu jam sejak Hesti memulai sesi relaksasinya dan Saga
duduk di balkon ini untuk merenung. Pramudita masih tidur. Sempat terbangun,
tetapi Rama berhasil menidurkannya lagi.
Usai mengatakan happy birthday, Rama langsung mendesak
Saga, “Cium anakmu itu.”
“Enggak usah.”
“Cium keningnya.”
“Enggak.”
“Belum tentu elo ketemu dia lagi habis ini. Cium keningnya.”
Saga ragu. Dia menghela napas panjang sambil mengusap-usap
dagunya, lalu mondar-mandir dengan resah mempertimbangkan perintah Rama.
Sesekali Saga melirik ke arah Rama yang berdiri bersandar ke meja TV, mengamati
Saga dengan serius.
Dan akhirnya, Saga mengecup kening Pramudita. Sebentar saja.
Saga berlutut di samping tempat tidur, mengamati bayi itu lebih
dekat. Saga tampak terpukau dan terguncang. Saga meremas bantal-bantal yang
melindungi Pramudita, bahunya bergetar seperti orang yang menahan tangis.
“I hate you,” gumam Saga ke bayi itu.
Rama menimpali dengan, “Mau gendong dia?”
Saga menggelengkan kepala. Rama tak mengatakan apa pun lagi
hingga Saga puas menumpahkan emosinya kepada sang bayi—meskipun emosi itu
adalah kebencian. Setidaknya kebencian itu tumpah, tidak ditampung dan
dijejalkan dalam hati Saga terus-menerus. Rama hanya bisa berdiri di belakang
Saga, menjaga bayi itu kalau-kalau Saga berusaha membunuhnya.
Namun, tidak. Saga malah menyusupkan tangannya ke bawah tubuh
Pramudita, mengangkatnya, lalu menggendongnya ke dada.
Selama lima menit yang penuh kasih, Saga mendekapnya sambil
menangis.
....
Dekapan itu usai karena Pramudita tiba-tiba bangun.
“HUUUEEEEEEKKK ...!”
“Ram! Ram! Ram! Bunyi Ram!” Saga panik dan berusaha
melemparkan bayi itu ke Rama.
Buru-buru Rama menyambar Pramudita dari gendongan Saga. “Ini
bukan bola basket, woy!” Dan Rama pun meninabobokan Pramudita hingga tertidur
lagi.
Saga yang stres langsung duduk di balkon, meredakan tangisnya
dan merenung.
Rama mengembalikan Pramudita ke atas tempat tidur seperti
semula. Dia bergabung beberapa saat kemudian, duduk di sebelah Saga tanpa
mengatakan apa pun.
Hingga satu jam lamanya.
....
Hujan deras turun tak lama setelahnya. Angin meniupkan
titik-titik air ke balkon, menyiram Rama dan Saga yang sedari tadi duduk
terdiam dalam pikiran masing-masing. Rama akhirnya bangkit dan mengedikkan
kepala, “Masuk aja, yuk.”
Saga menuruti ajakan itu tanpa mengatakan apa pun. Dia masuk
ke dalam, duduk di satu sofa tanpa sandaran yang berada di samping tempat
tidur, menghadap ke Pramudita yang masih saja tertidur dengan pulas.
Setelah menutup pintu balkon, Rama duduk di samping Saga.
Duduk menempel karena sofa itu tidak terlalu besar. Rama rangkulkan lengannya
ke bahu Saga, menepuk-nepuk ujung pundak Saga dengan penuh sayang. Rama bisa
merasakan tubuh Saga dingin. Entah karena cuaca di luar, entah karena hatinya
dingin
“Sejak kapan elo suka gue?” tanya Saga dengan suara kecil,
hampir tak kedengaran karena suara hujan deras di luar.
Rama melepaskan rangkulannya dan sama-sama menumpukan siku ke
atas paha, seperti Saga. “Dari kelas sepuluh.”
“Kenapa suka gue?”
Rama mengingat-ingat. Dengan suara sama pelan, dia menjawab,
“Kelas sepuluh sih karena ... elo ganteng? Kelas sebelas gue enggak tahu
kenapa.” Rama mengangkat bahunya. “Elo gagal gue usir dari kepala gue.” Rama
menghela napas. “Sampe sekarang.”
“Setelah elo lihat berengseknya gue, elo masih suka gue?” Saga
mengajukan pertanyaan itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Pramudita. Rahang
Saga mengeras. Kedua tangannya mengepal, menopang mulut dan hidungnya seperti
orang yang sedang tertekan.
“Ya,” jawab Rama, ikutan melihat bayi di depan mereka. “Di
luar gantengnya elo, seksinya elo ..., sisanya gue benci. Tapi kebencian itu
enggak cukup buat bikin gue benci elo. And I don’t know how to explain that
either, Ga. I wish I knew the answer.”
Saga tak mengatakan apa-apa lagi selama beberapa saat sebelum
akhirnya dia berkata, “Elo orang paling gue benci di dunia ini, Ram.”
Rama hanya tersenyum kecil dan mengangkat bahu. Rama
menanyakan pertanyaan yang sama. “Sejak kapan?”
“Dari kelas sepuluh.”
“Kenapa benci gue?”
“Elo juga tahu jawabannya.” Saga menghela napas panjang.
“Semua orang muji elo. Semua orang suka elo. Cewek-cewek ngomongin elo. Gue
nge-fuck si Hesti aja yang dia bahas malah elo.”
Rama mengerutkan alisnya bingung. “Kayaknya dia lebih suka
sama elo, Ga—“
“Itu sekarang. Soalnya gue punya anak sama dia. Dulu
cewek-cewek naksirnya elo.”
“Elo lebih playboy dari gue,” sanggah Rama. “Elo
populer di kalangan cewek. Semua cewek mau ama elo—“
“Mereka cuma mau ngewe,” penggal Saga. “Enggak ada yang
mau pacaran ama gue.”
“Emang elo mau pacaran?”
“Not anymore.” Saga mendengkus jijik.
“At least orang yang elo mau bisa ngewe ama elo.
Orang yang gue mau ....” Rama mendesah kecil sambil melirik ke arah Saga.
“Orang yang gue mau duduk di sebelah gue sekarang.”
“Puncak gue benci elo,” lanjut Saga, mengabaikan statement
Rama, “waktu elo macarin Vina. Gue benci sebenci-bencinya ama elo.” Saga
mengatur napasnya agar lebih tenang. “Gue nge-gym, pake samsak, gue print
foto elo, gue tonjok muka elo sampe gue puas.”
Rama hanya terkekeh kecil. “Well ..., in my case ...,
gue print foto elo, gue crot ke muka elo. Hahaha ....”
“Gue enggak bisa lupain dia,” ungkap Saga. “Gue kecewa berat
lihat Vina pacaran ama orang yang gue benci. Makin kecewa pas sekarang tahu,
ternyata elo homo. Harga diri gue sebagai cowok keinjak-injak.”
“Hahaha ....” Rama hanya terkekeh ringan.
Saga menoleh sejenak ke Rama. Ada senyum kecil di situ,
sebelum akhirnya Saga memandangi lagi anaknya.
“Kelas dua belas, posisi elo kegeser ama si Hesti,” lanjut
Saga. “Gue benci dia karena enggak mau aborsi. Dia cewek paling bebal yang
pernah gue temuin. Pas ngewe aja nagih-nagih, tapi giliran kebablasan,
malah pengin lahirin anaknya. Kan, tolol! Look at us now!
“Look at her!” Saga menunjuk Pramudita sambil menoleh
ke Rama. “Itu bayi enggak punya dosa apa-apa tapi lahir dari orang tua yang
berengsek. Coba bayangin, begitu anak itu gede dan nyadar kelakuan ibu bapak
kandungnya kayak gimana?!”
Rama hanya mengusap-usap punggung Saga untuk menenangkannya.
Rama tak tahu harus mengatakan apa, jadi dia manggut-manggut saja. Untuk
sesaat, mereka membiarkan riuhnya hujan di luar mengisi kekosongan di dalam
kamar. Aroma minyak telon bayi menguar di sekeliling mereka, memberikan
perasaan yang tenang dan aman.
Namun, Saga tetap mendengus kesal. Dia melanjutkan
nostalgianya, “Gue denger elo diterima di kampus di Bali. Gue enggak tahu kalau
kita punya options buat kuliah sampe Bali. Gue pikir Bali cuma buat
liburan. Tahu elo ke Bali, gue juga sengaja cari kampus di Bali. Bukan buat
ngekorin elo, tapi gue perlu kabur dari Jakarta. Gue benci semua yang ada di
Jakarta.”
“Tapi nama elo enggak ada di PDDikti, Ga,” ungkap Rama
teringat akan hal itu.
“Gue belum beresin registrasi. Kampus gue emang kacrut. Begitu
udah bayar, langsung dianggap mahasiswa. Registrasi bisa sampe tahun keempat.”
Saga menghela napas lagi. “Dan emang gue sengaja enggak mau nama gue masuk
PDDikti sampe tahun keempat. Gue enggak mau ada orang yang nyari gue ke Bali.”
“Yet, you find kosan yang satu gedung sama kosan gue,”
sindir Rama sambil terkekeh.
“Entah.” Saga mengusap rambutnya sejenak. “Makin gue benci
elo, makin gue pengin dekat ama elo. Biar bisa nonjok elo kayak kemaren.”
Saga pun menoleh menatap Rama.
Dada Rama berdebar-debar ditatap seperti itu. Situasi ini
terlalu intim. Rama sampai tak berani menoleh balik. Rama menunduk menatap
kaki-kakinya, tetapi dia bisa merasakan wajah Saga tetap terarah kepadanya.
“Makin deket ke ulang tahun itu bocah, Hesti makin bacot,”
lanjut Saga. “Gue akhirnya transfer dia duit, pake duit kosan, biar dia
mingkem. Tapi terpaksa ..., gue harus nebeng di kosan orang yang gue benci.”
Rama terkekeh mendengar skenario itu. Rama melirik sebentar ke
sebelah dan menemukan Saga masih saja menatapnya dari samping. Pipi Rama mulai
memanas GR. Belum pernah dirinya ditatap Saga selama ini.
“Gue hindarin elo tiap hari, gue pulang pas elo udah molor,
gue pergi pas elo udah pergi, semua demi enggak ngobrol ama elo.”
“Yeah ....”
“Dan apa yang terjadi sama gue?”
“Apa?” Rama menoleh.
Namun, Saga malah menunduk ke bawah. “Gue sange.”
“What?”
“Gue yakin gue bukan homo kayak elo, tapi tiap lihat elo ...,
di kosan ..., gue sange.”
“What do you mean, Ga?”
Saga mengangkat bahu. “Elo yang calon dokter. Bisa jelasin
enggak, kenapa gue yang pengin nonjok muka ganteng elo itu, pas di-sepong
ama elo, gue ..., gue ngaceng?” Saga menelan ludah. Kalimat itu
diutarakan dengan nada malu. Saga bahkan memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Elo mainin kontol gue di motor ..., gue keluar juga. Gue jijik ama diri gue
sendiri.”
“Apa ini pernah ... kejadian sama cowok lain?”
“Enggak,” jawab Saga tegas. “Gue main ama si Riki, bukan si
Riki yang bikin gue ngaceng. Gue pernah threesome berapa kali ama
bule, di Bali, bukan cowoknya yang bikin gue ngaceng.
“Tapi kalau elo udah lancang ke gue ....” Saga menarik napas
panjang. “Gue enggak tahu gimana ngejelasinnya. Elo tahu?” Saga menyenggol siku
Rama.
Dengan jujur, Rama menggelengkan kepala. “Yang gue tahu, marah
dan sange itu ngaktifin sistem saraf simpatik yang sama. Adrenalin juga
sama-sama naik. Tapi gue enggak tahu korelasinya.”
“Ada kebanggaan di gue waktu lihat elo nyepong gue.”
Saga tersenyum sebelah. “Orang yang dipuji-puji satu SMA nih, yang sempurna,
ternyata suka kontol gue. Wah ... makin ngaceng gue, Ram.”
“Fuck you,” balas Rama sambil terkekeh.
“Makin elo nafsu ama gue, makin rendah nilai elo di mata gue,
tapi gue makin nafsu ama elo.”
Rama mengerutkan alisnya.
“Makin gue benci elo, makin gue pengin ngehajar elo,” sambung
Saga. “Tapi ngehajar dengan cara ... you know ... cara yang lain.”
“Apa itu alasannya elo cium gue kemaren, Ga? Abis elo nonjok
gue?”
Saga menelan ludah. Dengan berat hati dia menjawab, “Ya.” Saga
menunduk lagi menatap kaki-kakinya sendiri. “Hati gue sakit gara-gara elo. Hati
gue makin sakit lihat elo ditonjok sampe bonyok. Makin-makin sakit waktu tahu
..., guelah yang nonjok elo.”
Rama hanya bisa terdiam sambil memainkan jemarinya tanpa
juntrungan. Rama tak merespons. Rama menunduk menatap jari-jarinya sendiri.
Rama yang “sempurna” ini pun tak tahu jawaban dari anomali hati yang dirasakan
Saga.
Pada momen perkelahian berujung ciuman itu Rama muak bukan
main kepada Saga. Namun ketika Saga mencium bibirnya, rasa cinta Rama kembali
mendera seperti bertahun-tahun ke belakang. Rama tak bisa membenci Saga. Rama
mencintai Saga.
Itulah alasan I love you mengudara kali pertama setelah
ciuman itu.
“Terus sekarang,” kata Rama akhirnya, “elo benci gue atau
gimana?”
“Sekarang gue lagi muak ama elo. Gue pengin bunuh elo,” balas
Saga dengan suara bergetar. Dia membiarkan lebatnya hujan di luar
merepresentasikan amarahnya. “Persetan sama arrangement ulang tahun ini.
Fuck you, Ram!”
“Sorry.”
“Mati-matian gue ngehindarin Hesti, malah elo bawa gue ke
sini, ketemu tuyul yang ngancurin hidup gue!” Saga mendengkus makin marah. Dia
melempar satu topi bayi yang kebetulan tercecer di atas sofa, di sampingnya, ke
arah Pramudita. Namun, topi itu jatuh ke atas lantai. “Fuck you!”
Lagi-lagi, Rama hanya bisa terdiam. Rama masih menunduk
menatap kosong jemarinya yang bermain-main di antara kedua lututnya. Rama tak
bisa merespons. Rama tak tahu harus merespons apa. Rama tenggelam dalam rasa
bersalahnya sendiri. Ada perasaan menyesal sudah memaksakan diri menyelesaikan
masalah antara Saga dan Hesti. Bagaimana jika ini bukan keputusan yang bijak?
Bagaimana jika Saga memang seharusnya lenyap dari hidup
Pramudita agar bayi tak berdosa itu tak perlu tahu seberengsek apa bapaknya?
....
....
....
Di tengah kesunyian kamar, tiba-tiba Rama merasakan dorong
lembut dari lutut Saga. Lutut itu menempel samping-ke-samping dan saling menekan.
Namun saat ini, rasanya Saga sengaja mendorong lutut Rama agar pahanya merapat.
“Kenapa?” tanya Rama, menoleh.
Rama menemukan Saga justru sedang memalingkan wajahnya ke arah
lain, membelakangi Rama. Rama melihat rahang Saga mengeras, gesturnya cemas,
dan lututnya masih mendorong ke samping.
“Apa?” tanya Rama sekali lagi.
Saga tak menjawab. Pun, tak menoleh.
Satu tangan Saga yang terdekat tiba-tiba terbuka di atas
pahanya sendiri. Tangan itu pelan-pelan bergeser ke atas paha Rama.
Telapak tangan yang terbuka.
Rama bingung. Dia menatap tangan dan tengkuk Saga bergantian.
Kemudian, Rama coba genggam tangan Saga dan Saga pun membalas genggamannya.
Masing-masing jemari mereka saling menyusup di antara celah-celah jari, lalu
saling merapatkan dan menguatkan. Rama meremasnya erat. Saga balas meremas
erat.
Saga sudah mengembalikan pandangannya ke depan, tetapi belum
berani menatap Rama. Dari samping, Rama bisa menyimpulkan Saga ingin mengatakan
sesuatu, tetapi dia malu mengatakannya.
Tiba-tiba, tangan Rama ditarik Saga ke atas pahanya.
Lalu bergeser lagi, mendekati selangkangannya.
Dan akhirnya ....
... ke kontolnya.
Kontol itu keras di balik celana Saga.
Rama membelalak kecil. Dadanya berdebar-debar merasakan
tekstur batang keras yang diidamkannya bertahun-tahun—meski dari luar celana.
Batang itu bahkan berkedut dua kali, seakan-akan memanggil. Rama menatap area
kontol dan wajah Saga bergantian.
“Elo lagi benci ama gue, Ga?”
“Sangat,” jawab Saga dengan rahang mengeras, dan masih malu
untuk menoleh ke arah Rama.
“Oke.” Rama manggut-manggut. Dia menarik napas panjang dan
berkata, “Tapi sorry, gue enggak mau kalau ini cuma jadi meaningless
sex. Gue cinta elo karena bagus dan jeleknya elo. Kalau gue enggak bisa ngewe
ama elo seumur hidup, itu bisa gue hadepin. Bertahun-tahun terakhir gue enggak
pernah ngewe ama elo. Tapi kalau kita ngewe cuma buat—“
“Elo biasanya top atau bottom?” sergah Saga di
tengah-tengah kalimat Rama.
“Gue ... gue enggak bisa, Ga,” jawab Rama dengan berat. “Gue
baru mau main ama elo kalau elo emang care ama gue—“
“Elo top atau bottom?” sergah Saga lagi,
rahangnya makin keras. Suaranya juga tegas.
Rama terkesiap kecil. Dia mengambil momen sejenak untuk
mencerna, apakah ini hanya seks tak berarti seperti yang Saga lakukan ketika
mabuk tempo hari, ataukah Saga seingin itu bersetubuh dengan Rama? Soalnya,
jika Saga hanya merasa kasihan Rama tak bisa ngewe dengan orang yang
dicintainya, Rama tak butuh itu.
“Why?” tanya Rama. “Buat apa elo nanya itu? Kalau kita
sama-sama top, ngewe-nya enggak jadi?”
“Kalau elo top, gue jadi bottom. Begitu pun
sebaliknya. Elo top atau bottom?” Tangan Saga makin ditekan ke
selangkangannya, membuat punggung tangan Rama makin merasakan kerasnya kontol Saga.
Dengan dada berdebar-debar, setengah ingin menikmati Saga,
setengah menolak demi harga dirinya sendiri, Rama berkata, “Again, gue
enggak mau ngelakuin apa pun kecuali elo emang care sama gue, emang elo
mau sama gue, bukan cuma sange terus—“
Kata-kata Rama terhenti karena tiba-tiba genggaman tangan itu
lepas dan tangan Saga menyambar kepala Rama, untuk kemudian ditarik mendekat ke
wajah Saga.
Lelaki berengsek itu mencumbu Rama, mengunci bibirnya, dengan
pagutan mulut yang liar.
“Hmmmmmmppphhh ....”
Saga mendengkus, melumat mulut Rama dengan buas, mengembuskan
napas hangatnya ke wajah Rama, dan membuka matanya sepanjang bercumbu. Mata
Saga ditujukan ke mata Rama. Menatap dengan penuh nafsu. Tatapan menginginkan.
Dan tatapan Saga itu sayu.
Saga memelas mengharapkan sentuhan dari Rama.
“Hmmmph ....”
Saga melepaskan cumbuan itu. Dia menunduk dan bertanya sekali
lagi, “Elo top atau bottom?”
Masih syok, sekaligus tersanjung, Rama pun menjawab ....
[ ... ]
Bersambung ....
Voting masih berlangsung hingga 18 Maret 2026 pukul 23.59 WIB
Part 9.1 | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Sekosan | Part 10.1 dan 10.2
Komentar
Posting Komentar