Halo, Kak!
Sama, aku juga sedih kayak Kakak. Udah
enggak ada lagi yang bisa kubanggakan sampai Kakak harus iri ke aku. Semuanya
terjadi begitu cepat dan menghempas. Ketika kupikir masa depanku begitu cerah,
badai tiba-tiba datang tanpa peringatan apa pun dari BMKG.
Aku tak bisa menceritakan apa pun selama
keesokan harinya karena aku hanya menangis penuh sesal di kosan. Aku kembali
malam itu juga menggunakan bus yang tujuannya ke kota lain, tapi kebetulan
melewati kotaku. Pukul dua dini hari aku turun dari bus di pertigaan antara
kota tempat tinggalku dan kota berikutnya. Tentu saja tidak ada ojol jam
segitu. Jadi, aku berjalan kaki dengan lesu menuju kosan.
Aku begitu sedih sampai-sampai air mataku
habis ketika aku tiba. Aku berjalan menunduk dan murung, berharap ada begal
yang menghampiriku lalu membegalku.
Rasanya ingin mati.
Namun, hingga pukul empat subuh, tidak ada
begal yang membegalku. Aku tiba di kosan dengan kaki yang terasa sakit dan
lemas. Hanya saja karena aku sedang sedih berat, aku tak memedulikan rasa sakit
di kaki.
Aku lanjut menangis di atas tempat tidurku
hingga tertidur.
Secara resmi aku dan Fian tak saling
mengenal lagi.
Foto profil Fian di Whatsapp sudah hilang.
Kemungkinan besar ....
... Fian sudah memblokku.
[ ... ]
“Mas Roh pucat.”
“Aku cuma capek aja, Zel. Gapapa.”
“Matanya juga besar.” Ezel memiringkan
wajahnya. “Disengat lebah, ya?”
Aku menggelengkan kepala. “Gapapa.”
“Ada banyak kerutan di pinggir matanya—“
“Jadi gimana barusan MRI-nya?” Dengan
segera kupotong pertanyaan Ezel dengan mengganti topik.
Sumpah, aku sedang tidak mood
membahas soal diriku. Aku tidak mood melakukan apa pun. Namun aku sudah
berjanji kepada Erick bahwa aku akan menemani Ezel hingga sembuh. Maka dari
itu, aku bersedia mengambil shift sore hari ini lalu pergi ke rumah
sakit pagi-pagi sekali untuk melakukan staging workup. Ini adalah
evaluasi staging kanker. Biasanya terdiri dari MRI di area panggul, CT
scan, atau pindai tulang, untuk menentukan ada di stage berapa
kankernya Ezel. Dengan begitu, dokter bedahnya akan tahu harus melakukan apa di
operasi nanti.
Kebetulan sekali dr. Yudis menyarankan
rumah sakit yang sama tempat Davin dirawat. Lokasinya agak jauh dari kosan
kami. Namun ketika kutawarkan rumah sakit yang lebih dekat dengan kosan, Ezel
malah memilih rumah sakit yang jauh itu.
“Gapapa, Mas Roh. Makin jauh dari Abang,
makin bagus. Aku enggak mau Abang tahu.”
Ya sudah, begitu aku mendapatkan surat
rekomendasi dari meja administrasi klinikku, aku dan Ezel menaiki GoCar menuju
rumah sakit itu. Ezel bersikeras tak mau menggunakan BPJS secara penuh. Selain
takut ketahuan keluarganya, pemeriksaan lewat BPJS butuh waktu cukup lama.
Setidaknya kita harus menunggu 1–2 minggu hingga benar-benar mendapat antrean
untuk MRI dan lain sebagainya. Operasi kankernya? Entah bulan kapan.
Aku tetap berencana mendaftarkan Ezel
melalui BPJS mendekati operasi nanti. Aku belum membicarakan ini dengan Ezel,
tapi kurasa dia harus setuju. Soalnya biaya operasi nanti tuh bakal mahal
banget. Secukup-cukupnya uang Ezel, kurasa ada baiknya menghemat uang itu
dengan BPJS.
Untuk pemeriksaan hari ini saja, setelah
kutelepon administrasi rumah sakitnya, bisa menghabiskan biaya 7 juta rupiah.
Hanya untuk pemeriksaan. Bukan pengobatan, ya. Dengan mudahnya Ezel bilang,
“Gampang, Mas Roh. Bayar aja. Masih kecil segitu mah.”
Sedih banget sih denger itu. Soalnya gajiku
enggak nyampe 7 juta sebulan (maklum, aku hanyalah perawat klinik swasta). Ini boti
menghabiskannya dengan mudah hanya untuk scanning, yang sebenarnya bisa
gratis lewat BPJS.
Ya sudah. Kuturuti saja keinginan Ezel.
Pun, aku tak punya energi untuk mendebat atau membantunya secara lebih. Soalnya
aku sedang sedih. Mataku memang agak bengkak seperti disengat lebah. Sepanjang weekend
aku menangis di kamar sampai mataku kering dan aku harus meneteskan Insto agar
aku bisa menangis lagi.
Proses pemeriksaan pagi itu berlangsung
kira-kira 3 jam. Ezel mendapatkan suntikan radioaktif, melakukan CT scan,
dan barusan selesai melakukan MRI. Kami harus menunggu hingga setelah makan
siang untuk melakukan pindai tulang. Ketika Ezel keluar dari ruang MRI dia
menghampiriku dan menuduhku “pucat” barusan. Namun setelah kuganti topik, Ezel
pun merespons, “Katanya dia bukan dokter.”
“Yang tadi meriksa?” tanyaku, sambil
menemani Ezel menuju ruang ganti.
Ezel mengangguk. “Aku disuruh hubungi
dokter urologi aja, buat dibacain hasilnya. Tapi dia bilang gambar-gambarnya
bagus. Hasilnya jelas.”
“Mungkin dia radiografer aja. Ini baju kamu
di sini.”
“Mas Roh, ayo temani aku masuk.”
“Eh, ngapain?!”
“Aku malu.”
“Ini kan ruang tertutup!”
“Sini, masuk!” Ezel menarik tanganku.
Jadi, Kak, untuk melakukan MRI, pasien
harus telanjang. Kenapa? Karena mesin MRI itu menggunakan medan magnet,
sehingga enggak boleh ada logam atau benda apa pun yang mungkin tertarik oleh
magnetnya. Seluruh pakaian harus dilepaskan lalu pasien hanya mengenakan gaun
rumah sakit yang bagian belakangnya enggak dikancingkan. (Sedari tadi aku bisa
melihat pantat dan punggung Ezel yang telanjang.)
Aku ditarik masuk ke ruang ganti. Tirai
ditutup segera.
Ezel menatapku sambil menggigit bibirnya
dengan tatapan memelas. “Aku ... aku ....”
“Kenapa? Kamu kenapa?” Aku menatap Ezel
atas bawah.
“Tadi aku ....” Ezel menggaruk kepalanya
sejenak, lalu mulai melepaskan gaun rumah sakitnya.
Gaun itu langsung jatuh ke atas lantai,
menyisakan tubuh kurus Ezel yang telanjang bulat.
Di situlah aku langsung tahu maksud
Ezel—meski aku belum sepenuhnya yakin.
Kontol Ezel setengah ngaceng.
“Tadi aku ... berdiri .... Pas lagi di-scan.”
Aku menepuk jidatku sambil bersandar ke
dinding ruang ganti. Kuhela napas berat, lalu aku menggelengkan kepala. Hal
pertama yang kutanyakan adalah, “Terus tadi radiografernya minta ulang enggak?”
Ezel menggeleng. “Enggak usah, katanya.”
“Tapi dia tahu soal itu ngaceng?”
Ezel mengangguk. “Aku ... aku malu soalnya.
Mas Radiografernya ganteng. Terus pas dia pegang-pegang, aku enak. Suaranya
juga bagus. Kayak suara Mas Raf. Aku langsung keingatan Mas Raf. Jadi beberapa
menit di dalam mesin, aku ... aku berdiri itunya.”
Ezel menunduk sedih.
Kontol ngaceng bisa mengganggu hasil
MRI, apalagi kalau MRI-nya adalah area panggul. Tapi kalau radiografernya
bilang gapapa, ya sudah, aku percayakan saja kepada radiografernya. (Aku enggak
begitu paham, soalnya.)
“Ya udah kalau gitu sekarang pake bajunya.
Kita makan siang dulu sambil nunggu bone scan.”
Ezel menahan tanganku ketika aku bermaksud
keluar. “Tunggu dulu ....” Ezel setengah merengek.
“Apa lagi?”
“Bantuin aku dulu, Mas Roh ....”
“Bantu apa lagi?”
“Keluariiinnn .... Aku udah enggak
ketampung lagiii ....” Wajahnya benar-benar memelas. Kedua alisnya mengerut ke
tengah. Bibir bawahnya digigit hingga basah. “Dipegang Mas Roh tuh enak.”
“What the fuck?!”
Tapi aku melakukannya juga, Kak. Kulakukan
karena aku ingin segera makan siang. Sambil ngomel-ngomel, aku berdiri di
belakang tubuh telanjang Ezel, lalu satu tanganku menyusup ke depan dan
mengocok kontolnya, satu tangan lain memilin-milin putingnya. Makin aku ngomel
karena hal ini super-unnecessary, makin Ezel sange. Di telinga
Ezel kumaki-maki dia, “... harusnya kamu tahu diri, masa di tempat kayak gini
bisa sange?!” Ezel malah, “Aaahhh ...,” dengan tubuh menggelinjang
kecil.
Kurang dari semenit ....
CROT! CROT! CROT! CROT! CROT! CROT!
Kontol itu menembakkan pejuh ke dinding
ruang ganti.
Tubuh Ezel berguncang kecil, mendorongku ke
belakang, bahkan bersandar ke tubuhku.
Aku hanya memutar bola mata sambil menunggu
sensani-sensasi nikmat itu selesai mendera tubuh Ezel. Setelahnya kubantu
membersihkan pejuh dengan tisu, lalu menunggu di luar.
“Terima kasih, Mas Roh,” katanya setelah
dia berpakaian lengkap lalu berjalan menjejeriku ke koridor rumah sakit.
Ezel bahkan menggelendot ke lenganku.
“Iiihhh ...! Apaan, sih?” kataku sambil
membanting tangannya agar lepas. “Ini tempat umum! Emangnya kita pacaran?!”
“Maaf.” Ezel menunduk dan berjalan lemas di
sampingku. Tapi dia tersenyum.
Beginikah rasanya menjadi pure top
yang punya pacar boti manja? Repot juga ya kalau harus begini terus.
Kapan aku bisa dimanjanya dong kalau kayak gini?
Inilah mengapa aku ini vers ya, Kak.
Bukan bottom.
“Oh iya,” kataku teringat sesuatu, “habis
makan, aku mau ketemu teman yang dirawat di sini. Kamu mau ikut?”
Ezel tak punya pilihan lain. Sehingga, dia
mengangguk dan tersenyum.
[ ... ]
Ketika aku tiba di ruang rawat inap itu,
Davin sudah bangun dan kelihatan sehat. Dia berbaring diam menatap
langit-langit dengan pandangan kosong.
Xavier ada di sampingnya, asyik main Mobile
Legend sambil mencerocos tak keruan ke Davin.
“Gimana progresnya?” sapaku sambil menarik
kursi dan duduk di samping Xavier.
Davin tak menjawabku. Rahangnya malah
mengeras. Mungkin dia marah kepadaku karena aku menolongnya tetap hidup.
Mungkin dia memang benar-benar ingin mati.
“Bacot lu,” balas Xavier sambil menyikutku.
“Enggak usah sok-sok peduli.”
Ruang rawat inap itu kelas 1, tetapi ada
dua pasien di dalamnya—terpisahkan oleh satu tirai. Davin ditempatkan di
ranjang dekat jendela. Kebetulan ranjang di sebelah Davin sedang kosong.
Ezel masuk ke dalam ruangan sambil
mengedarkan pandangan. Dia melihat-lihat interior ruangan seolah-olah sedang
mencari properti untuk ditinggali. Ezel menghampiriku dan menarik bajuku untuk
mencari perhatian. “Nanti aku dirawat di sini juga?” bisiknya.
“Tergantung BPJS kamu kelas berapa.”
“Aku enggak akan pake BPJS,” tegas Ezel,
sambil mengamati infus dan peralatan life support yang kebetulan ada di
samping tempat tidur Davin.
Aku belum sempat menanggapi pernyataan
Ezel. Xavier telanjur menyikutku lagi. “Siapa, nih? Pacar baru, ya?”
“Ini temanku.”
Namun, Ezel membelalak kecil saat Xavier
mengira kami pacaran. Wajah Ezel bersemu merah. Senyumnya dikulum dan dia
bergegas duduk ke atas sebuah sofa kecil di depan ranjang yang kosong.
“Teman ngentot?” tanya Xavier lagi.
“Enggak, anjir!” Aku mencubit bibir Xavier
sambil mendorong kepalanya. “Kenapa sama kamu urusannya begitu terus, sih?!”
“Ya siapa tahu.” Xavier kembali sibuk ke
Mobile Legends-nya. Seraya bermain, dia juga berceloteh. “Tadi dokternya
datang.”
“Terus?”
“Udah mendingan.” Jeda sejenak karena
Xavier sibuk membunuh musuh. “Besok ambil darah lagi. Kalau hasilnya bagus
....” Main dulu sejenak. “Nanti boleh pulang.”
“Oke. Semoga hasilnya bagus.”
“Gue enggak akan ambil AU-nya,” ujar Xavier
kemudian, out of context.
“Kok, gitu?”
“Kalau si Davin kagak masuk, ngapain gue
masuk?”
Aku benar-benar tak bisa mendebat Xavier
saat ini, apalagi suasana hatiku juga sedang buruk, sehingga aku hanya
menjawab, “Oke.”
“Kata dokternya ...,” sambung Xavier lagi,
“... si Davin kena kanker prostat.”
“Apa?”
Ezel yang merasa senasib sepenanggungan,
langsung menyahut, “Oh, kena kanker juga?”
Xavier mendongak sejenak dari ponselnya,
tetapi kemudian menjawab sambil bermain lagi, “Komunitas kanker, kalian? LGBT
kanker.”
Aku mendorong bahu Xavier dengan kesal.
“Jangan ngawur. Baru juga Davin masuk Jumat kemaren, masa iya ada vonis
kanker.”
“Lu cek aja, noh!” Bibir Xavier yang seksi
itu mengerucut ke arah nakas di samping Davin. “Ada suratnya.”
Sambil beranjak bangkit untuk mengambil
suratnya, aku berkata, “Menentukan kanker atau enggak itu butuh berhari-hari.
Butuh examination. Apalagi kalau kankernya di prostat.”
Aku membaca surat itu. Ini adalah hasil tes
yang kuorder Jumat lalu saat membawa Davin ke rumah sakit. Diam-diam aku
meminta rumah sakit untuk memeriksa prostatnya. Kutemukan PSA Davin juga cukup
tinggi, tetapi tidak setinggi PSA-nya Ezel. Kesimpulan diagnosisnya adalah ....
Prostatitis akut bakterial.
“Bener dugaanku,” gumamku kecil.
“Prostatitis. Tapi aku enggak nyangka penyebabnya bakterial.”
“Emang udah parah, sih. Udah akut!” sahut
Xavier sambil merinding. “Berarti udah kanker.”
“Ini bukan kanker,” tegasku. “Akut itu
artinya tiba-tiba—“
“Tolol lu, anjing!” sanggah Xavier sambil
tertawa mengejek. “Di mana-mana akut tuh parah, woy!”
Aku menarik napas untuk menenangkan diriku.
Sungguh aku sedang tidak mood untuk berdebat, jadi aku hanya diam
membaca ulang hasil pemeriksaan Davin hingga kepalaku dingin.
Semoga Kakak bukan orang yang kayak Xavier,
ya. Semoga Kakak tahu bahwa “akut” tidak selalu sama dengan “parah”. Akut itu
bisa jadi parah, bisa jadi tidak. Yang perlu diperhatikan adalah penggunaannya.
Dalam dunia medis, ada dua istilah yang
sering disalahgunakan penggunaannya oleh orang Indonesia. Misalnya, oleh Xavier
tadi. Mendengar akut, mendadak kepikirannya “parah”. Akut adalah kondisi
kesehatan yang muncul secara tiba-tiba. Yang tadinya enggak ada, menjadi ada.
Yang asalnya hari ini sehat enggak ada benjolan, eh besok tiba-tiba muncul
benjolan. Itu akut.
Lawannya akut adalah kronis. Yaitu, kondisi
kesehatan yang terjadi dalam waktu lama. Sejak lima tahun lalu hingga hari ini,
misal, Kakak punya benjolan di kontol. Diobatin bagaimana pun, benjolannya
enggak kempes-kempes. Itu artinya kronis.
Soal parah enggak parahnya, bukan dilihat
dari kata “akut”-nya, tetapi dari indikator-indikator yang ditentukan melalui
tes laboratorium atau pemeriksaan lain. Makanya kanker aja ada stadium satu,
dua, tiga, dan empat. Bukan stadium akut atau enggak akut.
Tapi ya sudahlah. Energiku sudah terkuras
dalam dua hari terakhir, tidak perlu aku mencoba meluruskan pandangan ngaco
Xavier. Anggap saja Xavier berzodiak Taurus, sehingga personality-nya
batu, enggak bisa diubah pendiriannya.
Yang kulakukan adalah berkata ke Davin,
“Prostatitis ini bisa sembuh total asalkan minum antibiotik dengan disiplin.
Jadi, jangan bolos ya minum antibiotiknya.”
Tentu saja Davin tidak meresponsku. Malah,
dia memalingkan mukanya ke arah lain. Tak mau melihatku bahkan dari sudut
matanya.
“Oh, iya, itu ada antibiotiknya,” kata
Xavier, menunjuk lagi ke arah nakas dengan bibirnya. “Sekalian deh, elo
bilangin gih, infusnya udah mau abis.”
Aku melihat ke botol infus yang tergantung
dan memang sudah mau habis. Namun, masih ada cairan yang terkumpul di bagian
bawahnya.
“Elu pencet itu aja, dah. Entar
susternya nongol sendiri.” Xavier menunjuk ke tombol pemanggil perawat.
“Aku ke station perawat aja, deh,”
kataku tiba-tiba.
“Ngapain, anjir?! Itu pencet aja itu di
situ!”
Aku mengabaikan Xavier. Aku bergegas keluar
ruangan sambil berkata, “Tunggu bentar ya, Zel.” Kuhampiri station-nya
para suster di pintu masuk bangsal. Niatku adalah bertanya, apakah Davin
diberikan antibiotiknya lewat infus atau oral? Melihat semangat hidup Davin
yang seperti itu, aku ragu dia mengonsumsi antibiotiknya dengan rajin.
Namun, ketika aku tiba di station
itu, aku dikejutkan oleh kehadiran seseorang.
Bahkan, sosok itu menyapaku terlebih
dahulu.
“Loh?! Mamat! Ngapain di sini?”
Fariq Alexander Kevin.
Atau lebih ingin dipanggil Lexa.
Aku terdiam sejenak karena kaget. Aku yakin
betul Lexa bekerja di puskesmas, bukan di rumah sakit. Lexa mengenakan pakaian
perawat. Tapi memang sih, seragamnya beda total dengan seragam rumah sakit ini.
Mumpung aku masih membelalak terkejut, Lexa
inisiatif menjawab rasa penasaranku terlebih dahulu. “Gue lagi ngantar pasien
gue yang dirujuk ke sini. Udah agak tua, jadi mesti di-assist dari
rumahnya. Elo juga?” katanya, sambil merapat ke meja perawat yang tinggi, lalu
menulis sesuatu di formulir.
“Aku ... aku lagi jenguk teman.”
“Ooohhh ... kirain.” Lexa menyelesaikan
dulu formulirnya, kemudian berbalik ke arahku. “Besok elo datang jam berapa?”
“Besok?”
“Kan kita harus kumpul, Say. Pengarahan
buat med check yang tertunda. Elo enggak dikabarin sama Sir Bondie.”
“Hah? Siapa itu Sir Bondie?”
“Elah! Yang koordinatorin med check,
anjir. Temennya si Fian.”
BONDAN, anjing, namanya! Kenapa jadi Sir
Bondie?!
Tapi, again, aku enggak punya cukup
energi untuk marah-marah. “Aku belum tahu kabar terbaru.”
“Gue juga baru di-WA barusan. Belum nyampe
kali WA-nya ke elo. Perkiraan gue sih ..., kita lanjut ngecek lagi—sisanya nih
ya—mungkin dua atau tiga minggu lagi.” Lexa mengangkat bahu. “Internal mereka
lagi kena puting beliung. Everything is postponed.”
“Oke.” Aku tak merespons apa-apa lagi. Aku
celingukan menatap seisi station perawat itu. Ada satu perawat yang
sedang berdiri menerima telepon, dan satu lagi sedang memasukkan data ke
komputer.
Lexa mengamatiku dengan wajah miring. Dia
tersenyum lebar, tetapi senyumnya terlihat seperti kasihan. “I just heard,”
katanya, penuh simpati.
“Heard apa?”
“Soal kamu sama Fian.”
Aku membelalak kecil. “Ma ... maksud?”
“Gue ama Fian tuh udah deket banget, Shay.
Kalau ada apa-apa dia pasti cerita ama gue. Harapan gue sih, gue bisa jadi
istri yang soleha buat Fian. Tapi apa daya, Fiannya kagak suka gue. Hahaha ....
Tapi gue pikir, kirain dia bakal ama elo, Cong. Eh ternyata, kalian kandas
juga.” Lexa terkekeh kecil sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Aku menelan ludah. “Fian ... Fian cerita
apa?”
“Ada, deh. Itu kan curhatan dia ke gue. Ya
masa gue ceritain ke elo—mana isi curhatannya soal elo! Hahaha .... BM, lu.”
Ada sedikit rasa cemburu mendengar hal
tersebut. Aku cemburu karena Lexa bisa mengobrol dengan bebas bersama Fian,
sementara aku sudah seperti tak kenal lagi. Rasa cemburu ini makin menjadi
setelah kusadari Fian lebih “percaya” Lexa untuk masalah-masalah yang sedang
dihadapinya. Sampai hari ini aku saja masih belum tahu detail skandal internal
di instansinya Fian, tetapi Lexa kelihatannya binge-watching setiap
perkembangan isu tersebut dengan mudah.
“Tapi lagian elo emang tolol juga, sih,”
kata Lexa. Dia mencolek lenganku dengan gemas. “Kalau gue sih enggak akan
nyamperin ke Halim, anjir. Ngerepotin dia aja.”
“Aku cuma butuh kejelasan—“
“Elo cuma enggak percaya sama dia,” sela
Lexa dengan segera. “Elo enggak percayain dia buat nyelesaiin masalahnya
sendiri.”
“Aku ditinggalin gitu aja di tengah-tengah
kerusuhan. Aku cuma mau tahu kabar dia—“
“Kan temen-temennya udah ngabarin dia
baik-baik aja. Enggak usahlah intervensi terlalu dalam sama urusan-urusan
mereka.” Lexa melambaikan tangannya dengan santai seolah-olah masalah ini
seharusnya sepele. Seorang perawat menghampiri meja dan Lexa menyerahkan dulu
formulir yang barusan diisinya. “Tekanan yang dihadapi Fian tuh gede, Shay.
Urusan cinta-cintaan mah, haduh, besok lagi aja kalau Rifaiju udah
ngeluarin video baru. Elo tuh harusnya lebih peka dan toleran. Enggak perlu
maksain perasaan elo diterima di semua tempat. Yang Fian butuhkan tuh cuma elo support
dia di tengah krisis ini.”
“Yang kulakukan selama ini justru support
dia,“ sergahku tak terima.
“Dengan cara ganggu dia pas lagi hearing
militer?” Lexa memiringkan wajahnya sambil tersenyum lebar. Nada sarkasme
terasa pekat meluncur dari mulutnya.
“Aku enggak tahu itu lagi hearing
militer.”
“Oya? Sir Bondie bilang dia udah
berkali-kali ngasih tahu elo, tapi elo ngeyel. Bener enggak sih?”
Oh my God, benci banget aku sama nama Sir
Bondie itu.
Bondan aja, anjing! BONDAN!
Perawat yang tadi memproses formulir Lexa
menyodorkan lagi dokumen ke atas meja. Sebelum Lexa benar-benar pergi, dia
sempat berkata, “Tapi buat gue sih ..., it’s a bless. Thank you so much
lhooo ..., udah bersikap tolol kemaren. Thank you udah bikin jarak sama
Bang Fian. It meeeaaannns ....
“... he’s available now.”
[ ... ]
Bersambung ....
33. Mau Sok Laki, Hah?! | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | Part 34B
Halo,
Kak!
Seperti
biasa, kalau aku menerbitkan something free, maka akan ada something berbayar
yang terbit, ya! Kali ini, yang terbitnya adalah Spinoff Pembaca Halo, Dek!
Silakan cek speknya di bawah. Kalau Kakak suka dengan idenya, silakan hubungi
aku untuk melakukan pembelian, ya!
Judul: Tektara
Isi: 26.000 kata dan 220 halaman
Harga: Rp50.000,-
Tokoh: Ezel dan tiga tentara tokoh utama
Halo, Dek!
Adegan
intim: oral,
anal, armpit worship
Top: Tiga tentara tokoh utama
Bottom: Ezel
Timeline: Lima bulan setelah Ezel pacaran
dengan Fian.
Universe: alternatif baru
Blurb:
Setelah operasi prostat, Ezel ternyata mengidap kanker otak Stadium IV. Kanker ini tidak bisa disembuhkan. Hidup Ezel hanya berkisar 3 bulan saja. Untuk menggunakan sisa hidup Ezel sebaik-baiknya, Erick menghadiahi Ezel kencan dengan tiga orang tentara, masing-masing satu hari, dan setiap tentara wajib memberikan keteknya ke Ezel. Siapa saja tentara ini?

Komentar
Posting Komentar