(HD) 33. Mau Sok Laki, Hah?!




Halo, Kak!

Aku kena mental.

Kata-kata Xavier dan Ezel merasuk ke batinku.

Apakah aku orang yang setia?

Ataukah aku orang yang “mumpungan”? Mumpung belum jadian, lalu aku ngewe sana-sini memuaskan diri?

Ya, kurasa selama ini aku orang yang mumpungan. Aku tidak tumbuh dengan mimpi bahwa suatu hari aku akan menikahi lelaki impianku dan membina rumah tangga bersama-sama. Dalam kepalaku, aku akan bekerja seperti lelaki dewasa pada umumnya, lalu menikahi perempuan, mencicil rumah, mempunyai anak, membesarkan anak, lalu tua, lalu mati. Formatnya sama persis seperti yang orang tuaku lakukan dan tanamkan kepada anak-anaknya.

Aku tidak punya kesempatan untuk bermimpi bahwa aku bisa membangun sebuah hubungan yang suci dengan orang yang kuinginkan.

Dengan seorang lelaki.

Sejak kecil, sejak tahu aku homoseksual, aku mencoba “survive” dengan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. Alasannya, karena kesempatan-kesempatan itu enggak tersedia bebas layaknya cowok-cowok heteroseksual. Kalau ada lelaki yang tiba-tiba menyodorkan kontolnya menyuruhku nyepong, kemungkinan besar aku akan me-nyepong-nya, tak peduli bagaimana pun bentukan muka atau badannya. Mengapa? Karena belum tentu aku bisa mendapatkannya.

Di negara ini, aku tak bisa bermimpi bebas. Aku tak bisa bermimpi setia pada seorang lelaki karena aku akan punya masa depan cerah dengan lelaki itu. Siapa pun lelaki yang akan bersamaku, misal kami sama-sama mencintai, suatu hari laki-laki itu akan pergi meninggalkanku untuk menikahi perempuan.

Atau aku yang akan meninggalkannya karena aku akan menikahi perempuan.

Jadi untuk apa aku setia?

Toh hubungan asmara lelaki gay di sini tak ada yang abadi. Pada akhirnya, semua akan putus karena tuntutan society.

Salahkah jika aku mencicipi berbagai lelaki sebelum aku jadian sama Fian?

Apakah aku akan tetap keluyuran dengan semua lelaki begitu aku jadian sama Fian? Of course not. Kalau aku betulan bisa mendapatkan Fian, membuat status pacaran, mengklaimnya sebagai milikku, aku enggak akan keluyuran ke mana pun. Aku jamin. Bahkan aku percaya, Kakak akan melakukan hal yang sama. Dengan bentukan Fian yang sesempurna itu, kejantanan Fian yang begitu, ke-manly-an Fian, kontol Fian, dan segala-galanya soal Fian, opsi selingkuh enggak akan pernah berani muncul.

Tapi apakah itu 100% terjamin atau itu hanya perasaanku saat ini saja?

Toh sejak aku kenal Fian, setidaknya aku sudah ngewe dengan empat orang berbeda. Tidak ada satu pun dari orang ini adalah Fian.

Kalau sikapku saja sudah seliar ini sebelum bersama Fian, apa kabarnya setelah aku menjadi pacar Fian?

Padahal hubunganku dengan Fian berprogres. Aku bukan sedang bertepuk sebelah tangan. Fian seorang demiseksual yang ngaceng hanya dengan orang yang dicintainya. Dua malam lalu, kontol itu ngaceng di depanku. Kebetulan saja situasi kehidupan nyata kami mengulur-ulur waktu hingga kami akhirnya bisa bersama.

Tak bisakah aku bersabar bersama waktu hingga Fian bisa kumiliki?

Toh, terbukti, kan ..., ngewe dengan siapa pun, tak ada yang bisa mengalahkan Fian.

Tak ada tubuh, kontol, maupun wajah yang bisa mengalahkan Fian. Tidak Xavier, tidak Bondan, tidak Pak Guntur, tidak Erick. Fian tetap lebih baik dari mereka.

Plus, Fian tidak melihat seks sebagai sesuatu yang transaksional.

Tidak seperti Xavier yang ngewe karena ingin hasil tes varikokelnya negatif.

Tidak seperti Bondan yang minta disembuhkan penyakit gampang sange-nya, tapi lama-lama ketagihan dan hanya menganggapku sebagai mesin seks saja.

Tidak seperti Erick yang ngewe karena ingin aku menjaga adiknya.

Fian tidak membutuhkanku untuk melakukan apa pun untuknya. Fian tidak menukar seks untuk keuntungannya.

Kata-kata Fian masih terngiang jelas dalam kepalaku.

“Boleh enggak Abang yang nikmatin Adek malam ini?”

Dia menginginkan aku karena aku. Bukan karena sesuatu yang bisa menguntungkannya.

Aku menangis sih Kak pulang dari kosan Ezel. Aku merasa bersalah karena sudah melakukan itu kepada Fian. Memang, Fian enggak tahu. Memang Fian enggak bisa menuntut apa pun karena kami belum ada hubungan eksklusif. Namun kata-kata Xavier sebenarnya ....

... ada benarnya.

Kalau aku serius menyukai Fian, kenapa aku tidak membuktikan bahwa aku siap menyukainya. Siap menawarkan bahwa diriku adalah satu-satunya, dan aku akan setia kepadanya.

....

Fian masih belum dapat kuhubungi hingga Sabtu pagi. Aku sudah mengiriminya ratusan pesan WhatsApp. Tak ada satu pun yang terbalas. Tapi Bondan bilang, situasi di Halim lumayan genting. Kalau Fian pegang hape, dia akan memprioritaskan kontak dengan pihak-pihak penting. Pihak yang akan menyelesaikan konflik internal ini sesegera mungkin. Bondan juga bilang banyak dari WhatsApp-nya tidak dibalas Fian. Katanya, Fian membalas hanya kalau berkaitan dengan pekerjaan saja.

Bondan juga menambahkan, situasi Fian lagi enggak bagus. Berita soal Fian menghajar Deva itu sudah bocor ke jenderal tertinggi. Kemungkinan besar Fian menghindari WhatsApp-an dengan orang-orang yang berpotensi memperburuk situasi itu.

Termasuk aku.

Aku paham.

Aku sungguh paham.

Namun aku tidak tahan.

Pagi itu aku menemukan diriku menaiki Gojek meninggalkan kosan menuju travel terdekat.

Aku akan pergi ke Jakarta.

Aku akan menemui Fian di sana.

Aku akan meminta maaf kepadanya.

Aku akan menemui Fian lima menit saja, memastikan dia baik-baik saja, lalu mendukungnya agar masalah ini cepat selesai. Kalau Fian tak bisa menghubungiku lagi setelahnya, aku akan sangat-sangat paham dan maklum. Begitu aku mendapat konfirmasi bahwa penelitian dr. Sigit hari ini ditunda gara-gara masalah kerusuhan kemarin, aku langsung membukukan travel pukul sepuluh pagi.

Tunggu aku di Jakarta, Fian.


[ ... ]


Perjalananku ke Jakarta membutuhkan waktu empat jam. Aku menaiki travel yang bisa berhenti di mana saja sesuai request. Aku minta berhenti di depan UKI, sebelum travelnya melanjutkan ke destinasi terakhir, yaitu Pasar Festival. Dari UKI, bandara Halim sudah sangat dekat sehingga aku memesan Gojek menuju bandara militer itu.

Sayangnya aku lupa bahwa selain militer, bandara ini juga digunakan untuk komersial. Aku harus turun di gerbang masuk dan berjalan kaki menuju terminal. Kemudian kusadari bahwa tak mungkin Fian ada di wilayah ini. Areanya orang-orang militer justru ada di bagian lain landasan udara.

Jam sudah menunjukkan pukul dua siang ketika aku tiba di bandara. Aku tak tahu cara mengakses area khusus militer, sehingga aku mondar-mandir dulu di area terminal penumpang untuk mencari makan. Harga restoran franchise di sini berkali-kali lipat dibandingkan harga di luar bandara. Sehingga, aku memilih datang ke sebuah restoran padang karena berpikir harganya pasti bakal murah. Misal lebih mahal pun, paling berapa, sih?

Ketika kubayar, nasi rendang dengan es teh manis harganya 120 ribu.

Mampus.

Aku bisa makan 3–4 hari dengan harga segitu.

Ya sudahlah, aku lanjut menunggu di area terminal keberangkatan, bersikap seolah-olah bakal terbang dengan pesawat seperti penumpang lain. Aku tahu Fian tak akan membalasku, tetapi aku tetap me-Whatsapp-nya.

Aku di halim. Abang ada waktu buat ketemu?

Kupandangi chat WhatsApp-ku selama lima menit. Sesuai dugaan, tak ada balasan apa pun dari Fian.

Aku kembali duduk di salah satu kursi tunggu dan menghela napas panjang.

Aku tahu ini impulsif. Aku tidak pernah paham apa sebenarnya karakter diriku yang akurat. Semua keterangan dari zodiak soal aku tuh enggak pernah 100% tepat. Kadang aku dibilang impulsif, kadang aku dibilang terencana. Kenyataannya memang kadang aku impulsif, kadang aku terencana.

Hari ini aku benar-benar impulsif. Aku terbawa perasaan. Hari Jumat kemarin adalah hari yang men-trigger emosiku. Aku harus menangani orang yang mencoba bunuh diri, kemudian menemani orang yang kena kanker dan sudah tak punya semangat untuk hidup lagi. Pada saat bersamaan aku merasa bersalah karena telah berkelana liar bersama laki-laki lain ketika aku yakin aku mencintai Fian.

Dua dari kelanaku main sama laki-laki lain tuh barengan sobatnya Fian, pula.

Kan bangsat ya aku ini.

Bayangkan perasaan mencelos yang kurasakan di dada ketika menyadari bahwa mungkin Fian tersakiti. Mungkin Fian serius tak ingin aku dekat-dekat sama Bondan karena Fian ingin memilikiku seutuhnya. Namun aku, dua malam lalu, masih cuddle dan membantu Bondan untuk crot. Bahkan, aku menikmati momen menjilati ketek Bondan ketika aku kena hukuman dari permainan uno.

Jika hal-hal macam begitu saja mudah kulakukan tanpa rasa bersalah, apa kabar nanti ketika aku dan Fian sudah bersama?

Pagi tadi aku masih merasa wajar jika aku pergi ke Jakarta tanpa pikir panjang. Aku akan bertemu Fian dan mengakui semuanya, sambil mengatakan kepadanya bahwa aku tak akan main dengan siapa pun lagi, aku akan putus kontak dengan Bondan, bahwa hatiku hanya untuk Fian, sehingga aku di sini akan bersabar menunggu Fian hingga dia selesai dengan urusannya.

Aku sudah membayangkan Fian tersenyum gembira mendengar itu. Kami akan berciuman sembunyi-sembunyi di bandara ini. Entah di mana. Oh, mungkin di sana. Di bawah pohon itu. Dekat satu mobil Avanza yang parkir menghadap ke utara. Kurasa tak akan ada yang mengintip kami di sana. Kami akan saling memeluk dan Fian akan berkata, “Malam ini, mau tidur sama Abang lagi? Di barak yang ada di sini?”

Lalu aku akan menjawab, “Hantunya apa di barak sini?”

Fian jawab, “Hantunya suster ngesot korban perang yang kakinya buntung karena kena granat.”

Lalu aku akan tersenyum dan menjawab, “Selama sama Abang, aku siap ketemu hantu perawat mana pun di setiap barak.”

Dan kami berciuman lagi.

Lalu malamnya, kami ngewe.

Namun kenyataannya, siang itu, aku malah me-WhatsApp Bondan.

Aku ada di halim

Bondan membalas pesan WhatsApp-ku dengan segera.

Goblok lu! Ngapain?!

Aku pgn ktmu bang fian. Aku pgn ngobrol sama dia

Lalu, Bondan meneleponku. “Elo ngapain di situ, anjing?!”

“Aku ... aku mau ketemu Bang Fian sebentar aja. Aku tadinya mau nanya—“

“Pulang,” titah Bondan tanpa basa-basi. “Jangan nyamperin si Fian ke sono, anjing!”

“Aku cuma mau ngobrol bentar aja, Bang.”

“Enggak akan bisa. Lagi disidang, dia!”

“Lima menit. Habis itu aku pulang.”

“Elo tuh lagi diawasin, anjir! Masalah ama si Deva itu ada kaitannya ama elo. WhatsApp elo bisa disadap, background hidup elo dicek, telepon kita sekarang aja bisa jadi lagi direkam. Si Fian nambah-nambah masalah waktu mukulin si Deva. Harusnya elo stay aja di kosan. Diam. Enggak usah keluyuran!”

Rasanya jantungku berhenti berdetak saat mendengar itu. Kalau benar perangkat komunikasiku disadap, apakah penyadapnya kini sudah tahu semuanya?

“Elo kenapa kagak bisa sabar, sih?! Baru juga Rabu kemaren elo ketemu dia, kan?”

Aku menelan ludah. “Aku ... aku cuma ....”

Aku tak bisa melanjutkan kata-kataku.

Bondan berdecak kesal di ujung sana. Napasnya berat. Mungkin dia sedang memelotot dan membayangkan mencekikku sampai mampus.

“Pulang,” ulang Bondan sekali lagi, kali ini suaranya lebih tenang. “Elo lihat sendiri, elo ngalamin sendiri, kita di sini lagi ada masalah internal. Med check aja bakal kita tunda sampe habis pembukaan, yang penting siswa-siswa baru kagak ngelihat aslinya internal kita kayak gimana. Pembukaan kagak bisa diundur karena semua orang tua calon siswa udah pada booking hotel, booking pesawat, mereka bakal hadir di acara pembukaan. Semua ini gara-gara apa?

“Gara-gara si Fian ngehantam si Deva kemaren. Masalah internal yang bikin kita goyah nih, ya ..., sekarang makin goyah lagi gara-gara tambahan masalah dari si Fian. Inteligence internal mulai ngawasin semua orang yang relate ama Fian ama si Deva. Khususnya elo.

“Jadi tolong jangan macam-macam dulu lah, Mat. Di sini aja sih ... temenin gue nyelesaiin laporan. Enak, kok.”

Ck!” Aku berdecak kecil. “Salah satu tujuanku ke Halim buat minta maaf karena aku enggak setia sama Bang Fian. Dia enggak suka aku dekat sama Abang, tapi aku masih aja dekat sama Abang.”

“Jiiiaaahhh .... Malah nambah beban si Fian aja ini anak.” Bondan menggeram gemas. “Entar aja, lah, kalau mau drama. Biarin kita beresin masalah gede ini dulu, baru elo bebas buat ngomong apa pun sama dia. Sekarang tuh dia lagi stres. Lagi banyak tekanan. Lagi dipojokin ama semua orang. Kalau dia enggak balas WhatsApp elo, berarti dia lagi ngelindungin elo. Bukan lagi main ama orang lain kayak elo.”

Aku menelan ludah. Aku ingin sekali menepis semua pernyataan itu, tetapi hati kecilku berkata mungkin Bondan ada benarnya.

“Dan elo juga, haduuuhhh ... iye gue tahu elo udah dari sononya begini. Tapi udahlah ..., terima kenyataan kalau tentara tuh kagak mungkin langgeng ama elo. Tentaranya cinta mati ama elo pun, enggak akan pernah lanjut hubungannya. Entar-entarnya kawin ama cewek juga. Elo bakal ditinggalin. Enggak usah punya mimpi muluk-muluk.

“Noh, anak-anak AL yang sering digosipin homo aja ujung-ujungnya membina rumah tangga dengan normal. Mau cinlok bertahun-tahun juga tetep kawin ama perempuan.”

Entah kenapa kepalaku langsung membayangkan Daddy Ryuji.

“Jangan terlalu baper,” lanjut Bondan, untuk kali terakhir. “Kalau ada tentara yang suka ama elo, yang rela main ama elo, nikmatin aja. Have fun. Tapi enggak usah dibawa ke hati.

“Nanti elo bakal sakit hati. Bakal patah hati.

“Yang normal aja sering disakitin, cewek-ceweknya ditinggalin, diselingkuhin ..., apa lagi elo, Mat!”

Percakapan telepon itu akhirnya ditutup dengan ajakan Bondan untuk pulang. Aku tak tahu harus merespons apa sehingga aku hanya mengiakan, tetapi belum tahu apakah akan benar-benar pulang atau tidak. Aku sudah mengecek ke travel, pemberangkatan terakhir pukul 8 malam. Sekarang memang masih sore, tetapi aku masih berharap Fian memberiku kabar atau apa pun, meskipun kabarnya adalah menyuruhku pulang.

Aku masih duduk di bandara sekitar lima belas menit setelah telepon dengan Bondan usai. Hatiku sudah tertohok kata-kata Bondan. Apa yang dikatakannya benar. Untuk apa sih aku mengejar kesucian cinta bersama orang seperti Fian? Seiyanya Fian gay, seiyanya Fian ally, seiyanya Fian mencintaiku, kami tak akan pernah punya masa depan bersama.

Daddy Ryuji saja yang kekasih prianya meninggal dunia tetap menikahi perempuan. Dia bisa saja memilih untuk melajang seumur hidupnya. Apalagi ternyata dia masih punya “hasrat” itu.

Apakah seharusnya hasratku kepada Fian kubatasi sampai “have fun” saja?

Negara ini bukan negara yang akan mendukung kebahagiaanku. Jadi untuk apa aku berkorban sebegini besarnya mengejar sebuah hubungan sempurna dan suci bersama lelaki yang sangat kuidam-idamkan? Seharusnya bersama Fian sekadar menikmati tubuhnya yang sempurna, kontolnya yang luar biasa, dan wajahnya yang indah dipandang mata.

Titik.

Tak perlu aku sok-sokan berkorban seperti istri, knowing the fact that Fian pun bahkan bukan seorang gay.

Apa aku pulang saja?

Tepat ketika aku memutuskan untuk pulang, sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponselku.

Dari Fian.

Knp ade ksini? Lg dmn skrg? Abg ga bisa ktmu ade

Aku yang seharusnya sudah mantap untuk pulang langsung membalas pesan itu dengan kilat.

Aku msh dibandaranya. Aku pgn bgt ktmu abg.

Fian memberi jeda sekitar sepuluh menit sebelum akhirnya membalas.

Harusnya ade ga ksini. Abg ga bisa ktmu ade skrg.

Dan aku, yang seharusnya suportif dengan bilang, “Gapapa, aku pulang lagi aja. Maaf merepotkan. Kita ngobrol di rumah saja ya.” Malah membalas seperti ini:

5 menit aja. Bisakah? Aku udh jauh2 k sini lo bang. Naik travel 4 jam. Aku cm minta 5 menit aja. Ga bisakah?

Menurutku itu enggak adil karena Fian tidak memintaku untuk datang ke sini. Aku ada di sini atas kemauanku sendiri, tetapi sekarang aku menuntutnya untuk memenuhi keinginanku, dengan cara membuatnya merasa bersalah. Seolah-olah ini salahnya Fian aku harus naik travel sampai empat jam ke Jakarta.

Bagus.

Rohmat yang bukan siapa-siapa ini sekarang sudah jago gaslighting.

Ke tentara elite, pula.

Buru-buru aku menekan lama pesan WhatsApp itu dengan niatan menghapusnya. Namun Fian sudah keburu typing. Tak lama, Fian membalas ....

Ok. Nanti mlm abg ksitu. Ade tunggu dsitu, jgn kmana-mana.


[ ... ]


Aku menunggu hingga pukul 7.45. Sisa lima belas menit sebelum travel terakhir berangkat ke kota tempat tinggalku. Aku sudah menonton ribuan orang keluar masuk untuk bepergian dari dan/atau ke kota lain. Area keberangkatan sudah sepi. Penerbangan terakhir untuk hari ini sudah berangkat ke Surabaya. Maskapainya Batik Air. (Aku tahu karena ada TV yang menayangkan informasi itu.) Sudah sebelas sopir taksi yang menghampiriku dan menawarkan jasanya. Dua petugas bandara sudah menghampiriku untuk bertanya, “Penerbangan ke mana?”

Dan aku hanya bisa menjawab, “Lagi mau jemput saudara.”

Mungkin mereka melihatku seperti orang linglung bolak-balik di area luar terminal.

Beberapa menit lewat pukul 8 malam, akhirnya Fian muncul. Dia mengenakan celana biru donker khas seragam pesiar prajurit TNI AU, tetapi atasannya adalah kaus putih polos yang sangat tipis, yang kelihatannya setengah basah, karena lekukan otot Fian bisa terlukis sempurna pada kaus itu. Fian mengenakan sepatu pantofel hitam. Di tangannya disampirkan jas biru tua, kemeja putih, dan dasi.

Wajahnya terlihat lelah. Dia tidak tersenyum gembira saat menemukanku duduk di salah satu kursi tunggu. Jalannya tetap tegak seperti perwira. Hak sepatunya berkelotak di sepanjang area Keberangkatan yang mulai sepi. Dia sempat menyapa seorang petugas bandara yang sedang berjaga di pintu keberangkatan, tetapi senyumnya terlihat begitu lemah.

Aku berdiri dan berjalan maju untuk menyambutnya.

Fian menunduk lesu. Seolah-olah dia belum tidur satu minggu hingga kulit wajahnya terlihat pucat. Keringat menetes dari pelipisnya.

Seberat itukah “sidang” yang dijalani Fian?

Lelaki itu terlihat seperti baru saja di-bully banyak orang dan tak bisa berbuat apa-apa kecuali tertunduk diam, tanpa suara, tanpa kesempatan untuk membela diri.

“Jangan di sini,” katanya, sambil terus berjalan melewatiku.

Aku membuntutinya dari belakang. Aroma tubuh Fian tercium hangat dan cheesy. Aroma orang yang berkeringat sepanjang hari, bukan karena olah raga, melainkan tegang dan gugup.

Aku tak bisa menahan diriku untuk mengagumi Fian yang dalam kondisi lelah mental pun terlihat ganteng. Dari belakang, celana biru panjang itu membungkus bokongnya dengan sempurna. Bulat pulen, membalut tungkai kekar dengan ketat.

Tak ayal aku merasa sedikit bersalah telah merepotkannya dengan datang ke sini.

Fian tak mengatakan apa-apa selain menduluiku menuju sebuah masjid di utara terminal, melewati lapangan parkir mobil. Di tangga masjid, dia sempat bertanya, “Sudah salat?”

Aku tidak pernah melihat Fian salat. Mungkin memang saat dia salat, akunya tidak di situ. Dan aku jelas-jelas tidak pernah salat meskipun namaku Rohmat. “Belum.”

“Mau salat bareng?”

Aku mengangguk.

Kubuntuti Fian ke area wudu. Kami melakukan wudu sama-sama, lalu melaksanakan salat Isya berjamaah. Fian yang ikamah, Fian juga yang menjadi imam. Suaranya begitu dalam dewasa ketika dia mengumandangkan takbir.

“Allaaahu akbar.”

Posisi berdirinya tegap. Bokongnya tetap terlihat pulen menggemaskan. Trisepnya tampak kokoh dilihat dari samping—soalnya posisi berdiriku di samping kanan Fian, tapi agak mundur ke belakang. Aroma maskulin menguar dengan sangat enak dari tubuh Fian yang kelelahan.

“Bismillahirrahmanirrahim ....” Lalu Fian membacakan Al Fatihah dengan lantang. Lantunan ayat-ayat sucinya terdengar merdu. Aku terlena seolah-olah sedang mendengarkan seseorang mengaji. Saking terpesonanya, aku sama sekali tidak salat. Aku hanya berdiri di sana, mengamati sosok Fian diam-diam dari samping, lalu tersenyum bangga karena aku pernah menikmati tubuh ini, meski belum seutuhnya.

Aku ngaceng, Kak.

Ya Tuhan.

Aku malah sange melihat Fian tampil religius begini. Seperti seorang imam. Seorang pemimpin. Tahu-tahu, ketika Fian rukuk dan pantat itu menggembung lebih bulat, kontolku naik.

Ya sudah lah, ya. Orang aku juga jarang salat. Seharian ini menunggu Fian sampai malam di bandara, aku baru tahu di sini ada masjid. Alih-alih salat atau menunggu Fian sambil mengaji, aku malah menggulir TikTok.

Sepanjang melakukan salat Isya, kontolku ngaceng tanpa henti. Diimami Fian membuatku merasa ingin mengenakan mukena. Ketika kami tiba di rakaat keempat, aku kecewa. Rasanya aku masih ingin salat lagi, yang penting diimami Fian. Padahal biasanya aku benci trio empat rakaat ini (Zuhur, Asar, Isya) karena rakaatnya banyak.

Selesai salat Isya, Fian masih melakukan wirid untuk beberapa menit. Dia menghela napas dan melorotkan bahunya dengan lelah. Seolah-olah, salat Isya barusan adalah satu-satunya kesempatan dia untuk rehat dari semua tekanan yang ada.

Fian pun menoleh ke belakang dan menatapku dengan pandangan sayu—seperempat kelopak matanya tertutup, seakan-akan dia ingin sekali tidur. “Ayo kita ngobrol di luar,” katanya pelan.

Aku mengangguk patuh dan lagi-lagi membuntutinya ke luar masjid. Kutunggu dia mengenakan lagi sepatu pantofelnya, bahkan mengenakan kemeja putihnya—tanpa mengancingkannya. Seutas dasi dia kalungkan ke leher, tetapi dia longgarkan. Jas biru tua dengan berbagai emblem atau lencana tetap dia sampirkan di lengannya, tidak dipakai.

Aku tahu ini Pakaian Dinas Upacara TNI AU. Ini seragam sakral yang tidak bisa dikenakan sambil mengobrol bersama lelaki homo untuk membahas topik-topik perhomoan.

Kami berjalan ke sebuah area gelap di lapangan parkir tersebut. Hampir tak ada mobil di sekitar kami. Fian membawaku ke bawah salah satu pohon yang disinari oleh lampu dari masjid saja, sehingga terlihat remang-remang.

“Abang enggak punya waktu banyak. Ini cuma break salat aja. Habis ini harus meeting lagi sama yang lain. Abang cuma punya lima menit. Silakan.”

Nah, enggak tahu kenapa, aku snap di situ, Kak.

Entah, ya. Mungkin rangkuman berbagai faktor, seperti: perjalanan jauh, menunggu sangat lama di bandara tanpa bisa ke mana-mana karena menunggu kabar dari Fian, dan perut lapar karena aku menghindari makan di tempat terkutuk yang nasi padangnya saja 120 ribu, aku malah membalas Fian dengan kesal.

“Ya udah deh enggak usah kalau cuma lima menit doang mah.” Aku melipat tangan di depan dada. “Kalau memang enggak bisa ngobrol, enggak usah janjiin ngobrol dari awal.”

I did,” jawab Fian, mulai defensif. Di bawah penerangan minim itu aku bisa melihat alisnya mengerut heran, kaget, dan sama-sama kesal. “Di WhatsApp Abang bilang enggak bisa ngobrol, kan?”

“Ya kalau gitu enggak usah ngeiyain ketemu malam-malam, dong. Yang tegas, enggak bisa ketemu. Jadi aku enggak perlu nunggu sampai gelap gini, sampai travel buat pulang udah enggak ada. Ngapain aku ngabis-ngabisin waktu di sini kalau cuma buat ngobrol lima menit?”

“Adek sendiri yang bilang cuma butuh lima menit!” sahut Fian, tak percaya.

“Ya itu tadi! Pas masih siang. Pas aku masih bisa pulang. Kalau aku harus nunggu berjam-jam kayak gini, sampai malam, kupikir Abang mau ngajak aku tidur bareng atau apa, jadi aku punya waktu lebih banyak sama Abang. Tahu begini mah aku pulang aja!”

What?!” sergah Fian, setengah menghardik.

Alih-alih mengakui bahwa aku lebai bersikap seperti itu, alih-alih mensyukuri bahwa aku akhirnya bisa ketemu tentara ganteng ini lagi, aku malah memperparah situasi dengan melanjutkan rasa kesalku. “Abang tuh tiba-tiba pergi dan enggak ngasih kabar sama sekali. Abang bawa aku ke lobi yang ternyata ada kerusuhan. Kalau aku kenapa-napa gimana?!”

“Abang udah suruh Adek tunggu di barak—“

“Ya mikir aja kali, ngapain aku nunggu di barak kalau ujung-ujungnya Abang tiba-tiba ke Jakarta malam itu juga?! Mana enggak ngasih kabar apa pun pula. Mau bikin aku nunggu sampai mati di barak yang banyak hantu itu?!”

“Abang enggak tahu bakal ada kerusuhan, Abang enggak tahu harus ke Jakarta saat itu juga,” sela Fian membela diri. “Waktu Abang dibawa ke hangar, tiba-tiba lobi udah rame sementara Abang harus pergi ke Halim. Abang dikasih tahu masalah si Deva itu udah bocor ke atasan. Untuk ngelindungin Adek, Abang enggak kontakan dulu sama Adek. Abang kasih tahu ke si Bondan soal itu—mengingat Adek deket banget sama dia akhir-akhir ini.”

Suara Fian terdengar bergetar. Ada amarah yang tertahan berkumpul di pita suaranya.

Alih-alih menenangkan keadaan, aku malah membalas dengan amarah yang sama. “Kenapa bawa-bawa Bang Bondan, sih?! Mau sampai kapan cemburu sama dia?! Kalau emang kita jangan dulu kontakan, kasih tahu aku in person. WA aku dan jelaskan semuanya. Aku pasti ngerti, kok! Pasti ngerti! Aku enggak bego!”

“Apa bagian dari enggak bisa kontak Adek yang Adek enggak ngerti, hah?!”

“Apa bagian dari aku cemas sama Abang, yang Abang enggak ngerti, HAH?!” balasku, tak mau kalah. “Aku dikurung di lanud, di tengah kerusuhan, besok paginya aku nanganin korban, aku ikut operasi, sampai ada yang meninggal di depan mataku, tapi secuil kabar dari Abang aja enggak ada. Enggak ada! Enggak bisa mikir logiskah betapa aku cemas sama situasi Abang kemaren?!”

Aku tak tahu argumen itu berasal dari mana. Aku memang merasa cemas, tetapi kurasa kecemasanku biasa-biasa saja. Aku masih bisa menikmati flirting dengan Bondan, main Uno, bahkan ngewe intens dengan Erick. Namun semua keresahan itu meluncur dari mulutku seolah-olah itu kenyataan yang terpendam, yang ku-deny sepanjang waktu.

Mungkin memang aku secemas itu tetapi aku tak mau mengakuinya.

Mungkin ngewe intens dengan Erick hanyalah caraku untuk menghindari cemasnya hati pada kondisi Fian.

Mungkin yang keluar dari mulutku adalah apa yang bersembunyi dalam hatiku selama ini, yang berhari-hari terakhir kupendam agar tidak muncul ke permukaan.

“Kalau emang Abang serius enggak suka aku dekat sama Bang Bondan, enggak usah ngasih info ke dia. Kasih ke yang lain. Ke Bang Erick, kek. Bang Andry, kek. Siapa pun yang bukan Bang Bondan!”

“Karena Bondan gantiin Abang di koordinasi med check. Abang masih punya alasan kontak dia bahas report med check dibandingin yang lain!” balas Fian. Suaranya agak menggeram. Fian menatapku dengan tajam di bawah kegelapan.

“Ya udah! Tahu cuma Bang Bondan yang bisa koneksiin aku sama Abang, enggak usah sok-sok cemburu gitu. Terima aja kalau aku harus ketemu dia buat dapat info soal Abang. Terima aja kalau Bang Bondan emang segatal itu sama aku. Rayu-rayu aku—“

“Apa?!”

“Halah, Abang juga tahu kan dia orangnya kayak gimana?”

“Dia ngapain Adek?”

“Enggak perlu kujelasin! Kalau emang Abang tahu si Bang Bondan gimana, Abang juga tahu jawabannya apa—“

“ANJING!” sela Fian sambil menghantam pohon di dekat kami dengan tinjunya.

BUUUKKK!

Tinjuan itu keras sekali. Pohon sampai berguncang kecil. Beberapa daun dan bebungaan pohon berjatuhan ke bawah seperti tetes air hujan.

Aku terlonjak kaget, tetapi itu tak menurunkan amarahku kepada Fian. Aku malah menyahut, “Apaan sih, nonjok-nonjok pohon segala?! Mau sok laki, hah?! Jadi apa-apa itu harus nonjok, hah?! Nonjok orang? Nonjok pohon? Nonjok si Deva sampai koma?!”

Fian mendengus marah. Dia menatapku dengan tajam. Bahunya naik turun karena dia mengatur napas yang memburu. Di bawah penerangan minim, dia kelihatan seperti Wolverine botak dengan badan kekar yang ditahan-tahan supaya tidak bertransformasi menjadi monster mematikan.

Fian tak membalasku dengan kata-kata apa pun. Dia juga tak menonjok lagi pohon di samping kami. Dia tunggu amarahnya sampai reda. Tangannya masih mengepal kuat di bawah, yang mungkin kalau ditonjokkan ke mukaku, aku langsung titik.

Setelah beberapa saat menenangkan diri, Fian pun berkata dengan lebih pelan, “Abang memang enggak akan pernah baik buat Adek.”

“Yang perlu dikontrol tuh emosinya.”

“Ya, betul!” balas Fian, dengan nada penuh sarkasme. “Enggak kayak Bondan yang lebih terkontrol. Yang lebih baik hati. Lebih ceria. Lebih ganteng dari Abang.”

“Ngomong apa, sih?!” Aku mendengus.

“Adek sukanya yang kayak gitu, kan?” Fian tersenyum sebelah. “Lebih suka yang gemoi, yang enak dipeluk, yang jelas orientasinya straight. Yang jago flirting. Jago modus. Jago bikin enak.”

Semua yang dikatakan Fian benar, tapi kan bukan begitu konsepnya. Jadi aku berkelit, “Enggak!”

“Yang kalau mau enak-enak lebih masuk akal. Enggak akan nyakitin Adek. Karena ukurannya pas!”

“Abang ngomongin kontol?!” semprotku marah. “Abang pikir aku suka seseorang karena ukuran penisnya, hah?!”

Exactly!” balas Fian. “Ukuran enggak penting, yang penting orangnya!”

“Maksudnya apa sih banding-bandingin diri sendiri sama Bang Bondan?! Kalau aku suka Bang Bondan, aku enggak akan di sini! Capek-capek datang ke sini, berharap bisa ketemu lima menit aja karena kangen, tapi begitu ketemu malah disentak-sentak kayak gini! Ngabisin waktu aja!”

“Yep! Abang emang ngabisin waktu Adek. Mendingan di lanud, kan?! Bisa cuddle-an sama si Bondan, enggak ada yang ganggu!”

“Jaga kata-kata Abang!”

“Atau siapa itu yang calon taruna itu, hah?!” Fian mendengus. “Si Verdian! Yang Adek periksain di klinik.”

“Apa hubungannya sama dia?!”

“Ngaku aja, Dek ...! Itu jaket bukan nemu di aula! Itu jaket ketinggalan di situ karena Adek habis pacaran ama dia, kan?”

“Enggak!”

“Adek juga ciuman sama dia, kan?! Jangan dikira Abang enggak lihat waktu kalian mesra-mesraan di balik tembok!”

Dadaku bergemuruh. Aku panik, ketakutan, sekaligus marah besar karena Fian menuduhku seperti itu.

“Adek pikir Abang diam aja, hm? Bisa dibodoh-bodohin?” hardik Fian, dengan emosi memuncak. “Abang tahu Adek deket sama dia. Abang tahu, orang kayak dia lebih mungkin jadi pacar Adek dibandingkan Abang. Kalian seumuran, kalian sepantaran, kalau ngobrol nyambung ..., dia masih muda, badannya putih, mukanya ganteng, apa lagi? Kontolnya panjang. Abang udah lihat karena Abang yang ngawasin dia waktu med check. Waktu Abang rekomin dia ke klinik Adek, pura-pura varikokel, padahal enggak .... Ternyata benar ..., Adek sukanya sama yang begitu!”

“Pura-pura?!”

“Ya! Pura-pura. Dia lolos seleksi dari awal, tapi Abang tahu, berondong kayak dia pasti bikin Adek kepincut, dan ternyata bener .... Kalian jadi intim sehabis itu—“

PLAAAKKK ...!!!

Aku menampar pipi Fian dengan keras.

“Aaawww ...!”

Yang berteriak “aw” itu aku ya, Kak. Bukan Fian. Soalnya pipi Fian keras banget. Waktu aku menampar wajahnya, aku seperti menampar tembok. Telapak tanganku langsung kesemutan. Sementara Fian tetap berdiri tegak, hanya wajahnya saja yang menoleh ke samping.

Dengan penuh nafsu aku menghardiknya, “Jadi aku cuma eksperimen, hah?! Aku cuma buat dimainin?!”

Fian masih belum menoleh lagi ke depan.

Dia bahkan tidak menyentuh pipinya yang mungkin sedang hangat karena kutampar keras.

Fian menunduk beberapa saat, lalu mendongak menatapku dengan rahang mengeras. Matanya berkaca-kaca, tetapi tatapannya masih terlihat marah. “Maaf,” katanya pelan.

Pandanganku kabur seketika. Aku menangis.

“Aku tahu aku bukan orang yang hebat. Aku bukan perempuan cantik. Aku bukan laki-laki ganteng. Badanku kurus, badanku pendek, aku enggak punya keahlian. Tapi aku juga manusia yang punya hati. Aku bukan objek eksperimen buat ngecek apakah aku pantas buat Abang atau enggak. Aku tahu dari awal ..., aku enggak pantas buat Abang—“

“Jangan bilang begitu ....”

“Abang suka cowok pun, aku bukan orang yang tepat buat Abang. Aku enggak setara sama Abang. Aku enggak sepantaran. Aku enggak paham sama istilah-istilah teknik kalian yang jago nerbangin jet tempur! Aku cuma warga sipil biasa yang kerja jadi perawat, itu pun di klinik swasta!”

“Dek ....”

“Aku cuma lelaki homo enggak laku, yang kalau mau have fun, aku harus buka aplikasi, aku harus ketemu stranger, lalu aku ngewe sama mereka, lalu setelah itu udah ... aku lupa sama orangnya dan hidupku lanjut lagi dengan membosankan. Aku memang enggak spesial. Aku enggak pantas jalan sama tentara elite kayak Abang ..., tentara yang dipuji-puji atasan ..., yang badannya paling kekar, paling disirikin ama tentara lain, paling penting sampe-sampe masalah internal pun harus Abang yang nanganin!”

“Bukan begitu maksud Abang ....”

“Aku cuma bencong yang ngelihat Abang dikit, kontolku NGACENG! Lihat otot Abang dikit, kontolku NGACENG! Lihat Abang rukuk pas salat, NGACENG! Syahwatku lemah, sampe-sampe ketemu semua teman Abang, akunya ngaceng dan ngaceng. Seumur hidupku aku enggak ditakdirkan ketemu orang-orang hebat kayak Abang! Ketemu lelaki-lelaki jantan ..., yang nerbangin pesawat jet ..., yang normal ..., yang macho! Enggak! Seumur hidup harusnya aku enggak beririsan jalan hidup sama Abang ....”

“Dek ....”

“Tapi aku juga manusia, Bang!” sergahku tak mau berhenti. Tangisanku memenuhi air mata, aku sudah tak bisa melihat sosok Fian lagi di depanku. Pipiku basah. Suaraku bergetar. Tenggorokanku tercekat. Bahuku berguncang. “Aku bukan eksperimen tentara! Aku bukan kelinci percobaan buat ngetes suka yang ganteng dan kontolnya panjang atau enggak! Aku juga berharap punya cowok yang lihat aku karena orangnya cinta aku. Yang mikirin aku. Yang mau sama aku apa adanya. Yang percaya sama aku!

“Abang memang tempatnya kesempurnaan, sementara aku cuma lelaki yang penuh keabnormalan! Mungkin di mata Abang, aku cuma warga sipil biasa yang lemah, yang bisa diperdaya, yang bakalan tunduk sama kontol Abang, sama otot-otot Abang, yang akhirnya dijadiin eksperimen ....

“Mungkin memang benar apa kata semua orang ....

“Lelaki gay macam aku mestinya musnah.

“Mestinya aku mati aja!”

Fian tiba-tiba menarik kerah bajuku.

Dia mengangkat tubuhku hingga kaki-kakiku menggantung di udara.

Aku terkejut dan merasa sesak. Ketekku terasa sakit karena lengan bajuku ditarik kuat ke atas.

“Setop!” jerit Fian.

Namun jeritan itu terdengar seperti bisikan.

Seperti seseorang yang ingin sekali berteriak, tetapi suara yang keluar terdengar kecil sekali.

Fian menarikku sangat dekat ke tubuhnya. Wajah kami hampir beradu, tetapi kami bukan akan berciuman. Urat di pelipis Fian bermunculan. Embusan napasnya terasa panas ke wajahku. Fian tampak sangat marah mendengar kata-kataku. Namun dia tahu, dia tak bisa marah kepadaku. Dia tak ingin marah.

Soalnya dia berkata, “Abang cinta Adek,” katanya.

Napasnya ngos-ngosan. Matanya berkaca-kaca. Rahangnya makin mengeras. Suaranya terdengar tertahan.

“Abang cinta Adek di hari Abang ketemu Adek, lalu Dek Ida ngasih tahu Adek suka sama lelaki.

“Abang makin yakin sama Adek waktu Abang ketemu Adek lagi di hari yang sama ..., di klinik ..., waktu Abang merasa nyaman ada di samping Adek.

“Waktu Abang tahu, Adek enggak akan kayak semua perempuan yang deketin Abang ....

“Abang tahu ..., Adek bakal jadi jawaban dari masalah Abang ....”

Aku mendorong Fian.

Dia melepaskan tangannya dari kerah kausku.

Masing-masing dari kami mundur satu langkah menjauh.

Aku tak tahu harus membalas apa, aku hanya menunduk menatap ujung sepatu Fian sambil mengatur tangisanku yang tak mau reda.

Fian juga diam saja di depanku. Sama-sama menenangkan dadanya yang bergemuruh. Menahan air mata mengalir ke pipinya.

“Abang tahu ..., Abang enggak sempurna,” kata Fian, dengan nada suara yang lebih baik. “Abang tahu ..., Abang ngelakuin banyak kesalahan ke Adek. Abang bikin masalah. Abang bikin masalah yang kecil, jadi gede. Masalah yang nyerang Abang sendiri sampai Abang stres enggak bisa tidur!

“Hari ini Abang ikut sidang kehormatan perwira untuk pengadilan internal Abang di sini, hearing militer. Abang enggak tahu nasib Abang ke depannya gimana. Apa mutasi. Apa dipecat. Apa penjara militer.”

Aku menangis mendengar kata itu.

“Dan seharian ini, tahu Adek datang ke sini, Abang sedih .... Abang malah ngerepotin Adek. Kalau aja Abang bisa jaga emosi, enggak main hakim sendiri, kita enggak perlu kayak gini, Dek. Enggak perlu Abang abaikan WhatsApp-WhatsApp dari Adek. Tapi semua harus terjadi karena kesalahan Abang sendiri.”

“Kita bisa selesaiin ini bareng-bareng,” kataku akhirnya, di tengah isak tangis.

“Enggak,” kata Fian sambil menggelengkan kepala. “Sejak awal harusnya kita ....

“... kita enggak ketemu.

“Harusnya kita enggak mencapai titik ini.

“Harusnya Abang enggak dengerin kata hati Abang buat coba kenal Adek.”

Aku menggelengkan kepala tak setuju. “Dengerin aku dulu, Bang. Kita masih bisa selesaiin masalah Deva itu. Semua ini juga gara-gara aku! Akulah yang bawa dia ke Abang, sehingga Abang kena masalah ini.”

“Semua masalah ini muncul karena sikap impulsif Abang yang enggak bisa jaga emosi. Semua amarah yang Abang simpan dari masa lalu, yang Abang coba kubur dengan jadi perwira ..., ternyata semuanya masih ada ..., dan masih Abang lampiaskan ke orang.

“Abang enggak berhasil ....”

Fian mengerjapkan matanya, lalu dia mencubit area di atas hidung, di antara mata. Dia juga menarik napas panjang, menjaga agar tenggorokannya tidak tercekat.

“Mungkin enggak seharusnya kita terus ketemu, Dek ....”

“Enggak mauuu ...,” rengekku. “Bukan begini harusnya kita selesaiin masalah.”

“Abang enggak mau narik Adek ke masalah yang lebih besar.”

Aku menggelengkan kepala. “Kita masih bisa selesaiin masalah ini sama-sama, Bang. Aku udah tahu cara ngadepin Deva.”

“Deva itu urusan Abang, Dek. Abanglah yang bikin dia babak belur. Abang juga yang harus tanggung jawab sama itu. Enggak sepatutnya Abang ngerepotin semua orang gara-gara tindakan yang Abang lakukan—“

“Bang Erick bersedia gantiin Abang!” sahutku dengan panik. “Aku udah diskusi sama Bang Erick. Dia bersedia gantiin posisi Abang, pacaran sama si Deva, ngewe sama si Deva, yang penting Abang bisa fokus selesaiin masalah yang lebih gede—“

“Enggak, enggak, enggak,” sergah Fian sambil menggelengkan kepala. Kedua tangannya terangkat. “Enggak ada kewajibannya si Erick bantuin Abang. This is my problem. Not yours. Not his. Not everyones. Abang yang akan nyelesaiin ini semua.”

“Enggak perluuu!” sahutku. “Abang bisa fokus sama urusan Abang di TNI, biarkan masalah Deva ini jadi urusanku. Aku sama Bang Erick bisa bantu gantiin Abang. Sejak awal juga aku yang bawa dia ke dalam masalah ini. Ini tanggung jawabku, Bang!”

“Abang yang ngehajar dia, paham?”

“Abang cuma bela diri aja, Bang. Dia ngelecehin aku, ngelecehin Abang, sudah sewajarnya Abang hajar dia. Tolong kasih kesempatan buat aku nyelesaiin masalah ini, Bang!”

Fian masih menggelengkan kepala. Dia menghela napas panjang. “Abang udah kontakan sama Deva.”

“Apa?!”

“Abang sudah bilang iya.”

Please bilang itu bohong!”

Fian menggelengkan kepala. “Abang sama Deva udah nentuin tanggal. Abang sudah minta izin juga ke atasan. Ke pati-pati. Apa pun keputusan sidang internal nanti, Abang akan minta satu hari cuti. Abang akan pakai untuk ketemu Deva. Mau di sini, mau di sana, di mana pun dia mau, Abang siap. Kami sudah diskusi dari kemarin.”

“Enggak, enggak, enggak! Jangan begitu! Aku enggak mau Deva sampai nyentuh Abang!”

“Terus Adek lebih ikhlas Deva nyentuh si Erick?” Fian menatapku dengan pandangan tak percaya. “It’s been done. Abang akan bertanggung jawab, Abang akan penuhi permintaan Deva.

“Ini urusan Abang sama Deva. Bukan urusan Adek.

“Yang perlu kita lakukan sekarang ....

“Suka enggak suka ....

“Kita harus berhenti sampai sini aja, Dek.

“Kalau hubungan kita malah bikin masalah makin gede ....

“Abang ikhlas mendam perasaan Abang ke Adek, buat diri Abang sendiri aja ....”

“Aku enggak mau kayak gitu, Bang ....” Aku merengek seperti anak kecil.

“Mulai malam ini ....

“Kita enggak saling kenal lagi. Oke?”

Aku menggelengkan kepala tak setuju. Aku mencoba untuk menyanggah, tetapi hanya isak tangis yang meluncur keluar dari mulutku.

Thanks udah ngisi hari-hari Abang. Meskipun singkat, Abang bersyukur bisa kenal Adek kemaren. Abang enggak menyesal, pernah dibikin deg-degan sama Adek, dibikin cemburu, dibikin happy, dibikin kesengsem.

“Maaf kalau Abang malah bikin Adek eksperimen semata.

“Tapi dari hari pertama ..., Abang tahu, perasaan Abang ke Adek ....

“Enggak pernah salah.”

Fian lalu meninggalkanku di bawah pohon itu. Dia berjalan tegap dengan satu tangan ditekuk karena jas biru PDU-nya disampirkan di sana. Selama beberapa meter pertama satu tangannya mengusap-usap sesuatu di wajahnya. Aku tak bisa melihatnya, karena Fian memunggungiku. Mungkin Fian mengusap air matanya.

Aku mengamati punggung itu berjalan menyusuri lapangan parkir bandara yang mulai lengang. Bahu lebar yang dibungkus kemeja putih. Pantat pulen yang terbungkus sempurna oleh celana biru panjang. Sosok tinggi besar, kekar, maskulin, yang malam ini air matanya harus tumpah gara-gara tingkah konyolku.

Punggung Fian yang lebar itu menjadi kali terakhir aku menatap sosoknya.

Malam ini, hubungan kami ..., hubungan yang secara resmi tak pernah terbentuk ....

... harus berakhir.


[ ... ]

Bersambung ....


32. Gue Sayang Elo Soalnya | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 34A. Kurang Dari Semenit


Seperti biasa, bersamaan dengan penerbitan cerita gratis, aku juga menerbitkan cerita berbayar.



Ini adalah novel yang tayang secara interaktif di Wattpad dan sudah menamatkan ceritanya. Cerita ini juga diunggah ke Blogspot, Substack, dan Archive of Our Own. Yang dijual ini adalah versi PDF-nya untuk pembaca yang ingin mendukung Penulis, menjajani Penulis supaya bisa terus membuat cerita gratis, sekaligus tetap membaca cerita kesayangan ini secara offline.

Adakah perbedaannya dengan yang sudah tayang secara gratis di internet? ADA.

1. Ada prolog (24 halaman)

2. Ada epilog (34 halaman)

3. Ada sedikit tambahan (extension) dari mainnya Rama dan Saga di hotel

Full PDF ini juga ada versi adegan seks yang kalah di voting, yaitu Muscle Bottom (Rama top Saga bottom) dan Muscle Top (Rama bottom Saga top).

Berikut spesifikasinya:

Judul: Sekosan

Tipe: 

Flip-Flop (551 halaman) Rp30.000,-

Muscle Bottom (558 halaman) Rp30.000,-

Muscle Top (556 halaman) Rp30.000,-

 

Setiap pembelian dua versi (total Rp60.000,-), ada DUA JENIS bonus, pembeli harus PILIH SALAH SATU: 

1. Mengklaim satu versi yang lain secara gratis, ATAU

2. Mendapat potongan Rp10.000,-, sehingga dua versi itu totalnya hanya Rp50.000,-.

Artinya, Pembaca TIDAK PERLU BAYAR Rp90.000,- untuk mendapatkan ketiganya. (Toh, perbedaannya hanya di bagian seks saja, Part 10.1 dan part 10.2, sisanya sama semua.)

 

Untuk sementara pembelian hanya bisa dilakukan melalui WhatsApp, email, dan Telegram.

Lynkid sedang diverifikasi, belum tentu di-approve, jadi hubungi Penulis untuk pembelian apa pun.

 

Komentar