(PPT) Part 17 Bag. A




Ini lebih mendebarkan dibandingkan berada di rumah hantu yang ada hantunya. Jantungku memukul-mukul dari dalam. Keringatku mengucur seperti spons yang diperas. 

“Kamu harus denger satu kabar ini! AAAAAAAAAAHHH …!”

Dari balik selimut, somehow aku bisa melihat siluet Romi dan Edvan di dalam ruangan. Enggak begitu jelas, tetapi aku bisa melihat pergerakan mereka. Aku mendapati Edvan langsung menarik sehelai handuk yang terbengkalai di dekat komputer, lalu melilitkannya ke pinggang dengan asal. Tangannya garuk-garuk kepala sembari menoleh kecil, seakan-akan memastikan aku tersembunyi dengan baik di bawah selimut. 

“Gue mau mandi, anjir! Udah sana keluar!”

“Eh, denger duluuu …!” sahut Romi, tiba-tiba duduk di tepi tempat tidur, tepat di depanku.

Aku hampir meninggal di situ. Pantat Romi menempel ke dadaku. Kalau dia mundur sesenti saja, dia akan menyadari bahwa gundukan selimut di belakangnya bukan berisi bantal guling, melainkan si Leo yang telanjang bulat dengan bekas sperma mengering di perutnya. 

“Ini kabar heboh yang bisa menggemparkan alam SEMESTAH!” seru Romi bersemangat. 

Kulihat Edvan masih berdiri awkward di depan meja komputernya. Pura-pura garuk kepala. Atau garuk ketek. Atau gosok-gosok kaki ke lantai.

Aku sampai harus menutup mulutku dengan tangan, padahal aku enggak ngomong apa-apa. Aku takut suara napasku terdengar oleh Romi. Seluruh ototku menegang dan kaku. Aku enggak boleh bergerak sama sekali. 

“Alam elu aja kali? Alam jin,” balas Edvan. 

Ish! Enggak, Sayaaang …. Ini tentang seseorang di Kosan Hamid! Yawlaaa … sampe sekarang aku merinding!” Romi menggetarkan tubuhnya, merasa perlu mempraktikkan apa itu merinding se­akan-akan Edvan enggak akan tahu. 

“Ya udah entar sore aja ceritanya. Gue lagi buru-buru.”

“Enggak bisa! Ini harus sekarang, Beeebbb …! Keburu enggak viral lagi.”

“Gue mesti pergi anjir! Mau mandi ini ….”

“Aku tungguin, pokoknya kamu harus dengar ceritaku!”

“Kagaaak …!” Edvan menghampiri Romi dan menariknya agar berdiri. “Gue mau pergi! Entar sore aja! Elu kagak bakal kerja emang?”

“Bentar ajaaa ...! Ini penting banget soalnya!”

Edvan udah kelihatan kesal. Dia berkacak pinggang sambil tetap memegangi handuknya dengan awkward. “Ya udah, dua menit. Lewat dari situ, gue tendang lu dari kamar.”

“Jadi semalam kan, aku lagi scroll Twitter …,” mulai Romi, akhirnya berdiri dan memeluk dirinya sendiri dengan gemas. “Terus tebak, aku nemu apa …?”

“Hah?”

“Tebak aku nemu apa …?”

“Duit?”

“Ih, bukan! Di Twitter! Aku nemu sesuatu di Twitter.”

“Ya nemu apaan? Kehormatan elo?”

Ck! Aku nemu Tino! TIIINNNOOOOOOOO …!” Romi setengah melolong.

“Dia punya Twitter?”

“Ih, bukan!” Romi menarik napas panjang, bersiap menyampaikan kabar berita terheboh sealam semesta. “MAS TINO DI-PRAAANNNKKK …! AAAAAAAAAARGH …!”

Aku memutar bola mata.

Sumpah, deh. Untuk ukuran manusia yang nge-subscribe banyak banget channel Telegram berisi prank cowok straight, aku heran kenapa Romi baru tahu soal Tino sekarang. Videonya udah leak sebulan yang lalu, anjing!

“Terus?” balas Edvan dengan wajah datar. Selain karena Edvan sudah tahu soal itu, kayaknya dia juga bukan tipe yang bakal heboh ngelihat tetangga kosannya VCS sama waria, lalu videonya disebar di Twitter.

Yawlaaa …! Tino, Beb! Tino! Yang kamarnya di ujung situ! Dekat tangga! Yang personal traineeer …! Dia VC EEESSS …! AAAAAARGH …!”

“Terus?”

“Kok kamu enggak heboh, sih?” Romi menggeplak lengan Edvan. “Itu Tino, anjeng! Cowok ganteng badan kekar yang akhir-akhir ini, enggak tahu kenapa, sering banget olahraga di depan sono. Tino, woy! Video dia ngocok kentinya, terus dia jilat-jilat ketek, terus dia nungging—AAAAAAHHH INDAH BANGET YAWLA—dan kentinyaaa … masih uncut pulaaa …. AAAAAAHHH …!”

“Terus?”

“Kamu enggak excited lihat kentinya, Tino?”

“Enggak, lah!” Edvan menggeplak kepala Romi. “Lagian gue juga pernah lihat. Biasa aja. Udah belum, sih? Gue mau mandi!”

“Ya kamu bayangin dong! Ternyata Tino yang baik itu, yang cowok baik-baik dan ganteng dan kekar dan, uuunnnccchhh … menggiurkaaannn …. Ternyata dia bisa ketipu bencong!”

“Ya udah, sih. Lagi sial aja berarti.”

“Aku harus ngasih tahu Leo!” sergah Romi yakin. Seolah-olah ini informasi penting yang bisa mengancam stabilitas nasional. “Ya. Aku harus ngasih tahu Leo! Dia perlu tahu soal ini!”

SUDAAAHHH …! jeritku dalam hati. SUDAH TAHUUUUUU, BANGSAAATTT …! Gue malah ada di lokasi pas si Tino di-prank!

“Ya udah kasih tahu aja entar sore. Jangan heboh pagi-pagi begini! Orang mau berangkat kerja.”

“Aku harus ngasih tahu by WhatsApp!” kata Romi, sembari mengeluarkan hape, lalu mengetik sesuatu. 

Tak lama dari situ ….

Drrrt …! Drrrt …! Drrrt …!

Ponselku, di atas meja, bergetar. Tanda ada WhatsApp masuk.

….

MAMPUS!

….

....

Jantungku copot, literally, udah enggak ada lagi di tempatnya. Aku membeku dengan muka pucat. Darah kayaknya udah berhenti ngalir di tubuhku. Seluruh badanku terasa merinding, kesemutan, dan lembap.

Aku udah pasrah kalau Romi misalnya—

“Dah! Udah ku-Whatsapp!”

Romi sama sekali enggak ngeh WhatsApp-nya terkirim ke sebuah ponsel di atas meja.

Goblok emang bencong yang satu ini. 

“Mamoru, aku kangeeennn ….” Romi tiba-tiba merajuk. Dia melemparkan dirinya ke tubuh ­Edvan, menghambur memeluk seperti anak kecil sudah lama tak bertemu ibunya.

“Apa sih, anjir?!” Edvan mencoba menghindar. 

“Aku pengin di-ebol sama kamu lagi ….”

“Enggak!”

Lagi?

Pleeease ….” Romi merengek. “Gara-gara lihat Tino, aku jadi sange, Beb!”

“Ya udah ngewe aja sama si Tino!”

Eh, jangaaannn …! teriakku dalam hati. Jangan kasih ide!

“Enggak mau! Kalau sama yang uncut tuh aku gampang crot. Sama kamu aja!”

“Kagak, ah, kagak! Gue mau pergi! Hus! Hus! Sana!”

Pleeease … aku pengin mainin titit kamuuu ….”

“Enggaaakkk …!”

Tapi dasar Romi banci persistent, dia dengan agresif langsung menarik handuk Edvan hingga lelaki itu telanjang bulat. Kontol Edvan kayaknya udah lemas sih. Dari terawangan selimut ini aku bisa lihat kontol itu berayun-ayun di bawah, bukan memantul-mantul kanan kiri kayak wiper

“Awas, ih!” Edvan, yang kukira jago bela diri karena selama ini kuanggap sebagai Tom Cruise di Mission Impossible, tak bisa berkutik dari Romi. 

Ya. Dari Romi yang banci. 

Mendadak Edvan tak berdaya. Dia terpojok ke dinding, enggak bisa ngapa-ngapain, membiarkan banci itu berjongkok di depan selangkangannya untuk menyepong kontolnya. Edvan bisa saja menendang Romi sampai keluar dari jendela, meluncur dan menghantam tiang pull up bar yang sering dipakai Tino untuk olahraga di depan sana. Edvan bisa saja mengambil satu benda di dekatnya lalu menghantam kepala Romi sampai tobat menjadi cowok straight alim calon penghuni surga. Edvan juga bisa saja memiting tangan Romi, memutar tubuhnya, melumpuhkannya, lalu menggulingkannya di atas tepung, mencelupkannya ke kocokan telur, dan menggorengnya menjadi tempura.

Edvan bisa melakukan itu semua.

Namun, dia malah diam terpojok di dinding. 

Memegang kepala Romi yang mulai menyepong kontolnya. Dan hanya mengeluh, “Kak, jangan Kak. Udah, ih.”

Kak? tanyaku dalam hati. Kenapa Romi dipanggil Kak? Memangnya Romi SPG?

Romi tak mendengarkan. Dia terus mencelupkan kontol lemas Edvan ke mulutnya, lalu mengisapnya, berharap kontol itu mengeras seperti beton. Namun, kontol itu kayaknya tetap lemas.

“Hmmm …,” kata Romi, sembari mengambil napas dan mengeluarkan kontol Edvan dari mulut. “Kayak rasa pelumas, ya.”

“Iya, gue semalam coli pake Durex! Udah sana!”

“Bentar, bentar!” Romi mengulum lagi kontol itu, seperti sedang mencicipi masakan, lalu mengeluarkannya lagi. “Tapi ada rasa lain. Selain ­Durex, kayak ada …. Hmmm …. Tumis kangkung?”

ENAK AJA! GUE ENGGAK MAKAN TUMIS KANGKUNG YA KEMAREN!

Aku hampir saja membuka selimut dan mengu­ak diriku untuk mengoreksi kata-kata Romi. Namun aku menahan diri, mengatur napas, sambil berdoa bahwa yang Romi rasakan itu adalah tahiku. 

Amin. 

“Udah, anjir! Gue kagak sange. Entar sore aja!” Edvan berusaha keras menyusupkan kedua tangannya ke ketek Romi, lalu dia membuat banci itu berdiri. “Entar aja, ya.”

Romi mendengus kesal. “Tapi aku lagi sange bangeeet ….”

“Biasanya juga lu nemu kontol pinggir jalan. Kenapa kagak nyari di luar aja, sih? Ke Blok M, sono. Sering banyak kuli yang butuh bool.”

“Enggak mau. Aku pengin yang kulitnya mulus kayak kamu. Atau kayak Tino.” Romi pun menjejakkan kakinya dengan manja, kemudian berbalik lesu. “Ya udah, aku ke kamar dulu. Kabari nanti ya kalau kamu available. Eh, ini gundukan apa, sih? Kok gede banget.”

Romi menghampiriku dan mengulurkan tangannya untuk menarik selimutku—

“JANGAN!” 


Dengan sigap, seperti Flash, Edvan langsung memeluk tubuh Romi dan mengangkatnya. Secara heroik Edvan juga melemparnya ke luar kamar.

“AAAAAARGH!”

Kenapa enggak kayak gitu aja sih dari tadi?!

Hampir saja aku ketahuan ngumpet telanjang bulat di kamar bujang!

BABI!

Setelah Romi berhasil diungsikan keluar, Edvan pun masuk lagi ke kamar dan mengunci pintunya. Dengan segera aku menyingkap selimut sembari duduk dengan tegak.

Kata-kata pertamaku adalah, “Jadi elo pernah ngewe ama si ROMI?!


[ … ]


Seperti dugaanku, Tino bisa masuk rumah duka. 

Emang, sih, keluarganya enggak mengharapkan Tino datang. Tapi mereka enggak bisa bikin “drama” di tempat ini. Selain karena itu enggak menghormati ahli kubur, juga ada tamu lain, teman-teman sang nenek, yang masih berduka di sini. Kalau mereka meributkan Tino, nanti orang-orang kepo. Ujung-ujungnya semua orang tahu bahwa Tino punya video coli yang tersebar bebas di internet. Yang malu ya sekeluarga. Almarhum pun pasti malu. 

Akhirnya, mereka hanya mendiamkan Tino sepanjang berada di rumah duka. Mereka tak sudi menoleh, membalas sapaan, berbicara, atau menganggap Tino bagian dari keluarga. Hanya Mei-Mei yang menyambut Tino dengan ikhlas. Mei-Mei menarik Tino ke dalam sejak kedatangannya, meninggalkanku di lorong dengan cengo. Mei-Mei membawa Tino ke depan peti Apoh, lalu menghalau semua orang yang akan menarik Tino.

Di situlah Tino punya sekitar lima menit untuk menemani neneknya. Tino berlutut di depan peti, menatap ke dalamnya, menangis dan merenung. Beberapa anggota keluarga Tino keluar dari ruangan, seolah-olah tak sudi satu ruangan dengan Tino. Sebagian tetap diam untuk memfoto Tino diam-diam. Mungkin mau disebarkan di grup WhatsApp bahwa pembuat malu keluarga datang juga ke persemayaman Apoh. 

Jadi, meski tadi hampir kepergok Romi di kamar Edvan, aku langsung bergegas ke kamarku. Aku membersihkan diri dengan cepat, lalu aku mampir ke kamar Tino. Dia sudah siap juga. Sedang menimang-nimang untuk datang ke rumah duka atau enggak.

“DATANG!” sahutku tegas. Kuseret dia untuk naik ke mobilku, dan kubawa ke rumah duka yang ambulansnya kulihat semalam. 

Di rumah duka, seperti yang sudah kuceritakan barusan, keluarganya tak bisa berkutik di depan orang lain. Tino memanfaatkan lima menitnya untuk berpamitan dengan sang nenek, sementara aku duduk di bangku paling belakang, merapatkan jaket hitam bling-bling shining shimmering splendid yang sialnya menjadi satu-satunya jaket hitam yang tersisa di lemariku. (Semua jaket hitamku yang lain sedang dicuci.)

Aku ada di sana seperti artis dangdut biduan mau konser. 

Tak apa. Toh hanya sebentar saja. Aku duduk dengan manis, paling pojok, paling dekat ke kudapan yang ditata di atas meja panjang. Aku mencomot kudapan yang tersaji untuk mengganjal perutku yang kosong. 

Kuambil sedikiiit ... saja. 

Kuambil kacang atom, kue putu, molen keju, risoles ayam, pastel, kue keranjang, lumpia, dan jeruk mandarin. Minumannya caoku cingcau hitam yang anehnya hampir ada di setiap meja.

Masing-masing kuambil dua.

Niatnya aku membawakan untuk Tino juga, yang sedang berpamitan di depan sana. Tapi ternyata lima menit itu lumayan lama, ya. Semua jatahnya Tino kuhabiskan juga sembari menunggu Tino kembali. 

Nah, sembari aku mengunyah semua kudapan itu, kusadari yang duduk di depanku adalah si banci Marcel itu. Dia mengenakan kemeja hitam dan celana warna senada yang ketat membungkus tungkainya yang kurus. Rambutnya diberi jel, disisir rapi ke kanan, tasnya Dior yang bentuknya tote—seperti keranjang belanja supermarket—yang warnanya hitam putih, bergambarkan ­Menara ­Eiffel. Itu pun aku bisa tahu kualitasnya KW super. Bukan ori. 

Marcel meletakkan tasnya di samping, dengan kancing tas terbuka. Aku bisa melihat di dalamnya ada alkitab, dompet, sunscreen, pelembap bibir, kacamata hitam, dan Okamoto 003 Platinum isi 10. Marcel duduk cukup anggun, melipat kaki seperti Miss Venezuela, lalu mengobrol dengan seorang perempuan berblazer hitam.

Tentu saja mereka ngomongin Tino.

“Enggak malu ya dia?” kata si cewek.

Marcel mengibaskan tangan di udara. “Enggak, laaah. Ngocok depan kamera aja enggak malu, nga­pain malu datang ke sini? Paling mau pick me.” 

Perempuan itu terkekeh. “Emang enggak ada lagi ya perempuan yang mau ama dia, sampe katanya VCS sama waria?”

“Ah, banyak kok yang mau ama dia. Dianya aja kali yang suka wanita jadi-jadian. Hahaha.”

Dari caranya Marcel memandang Tino, kayaknya si Marcel juga mau sama Tino. 

“Untung kamu udah kawin, Ko,” lanjut perempuan itu. “Kita malah sempat mikirnya Koko yang menyimpang.”

Memang menyimpang, batinku.

Marcel mendorong bahu si perempuan dengan jemarinya yang lentik. “Kurang ajaaar …!” sahutnya, sambil memelotot, terkikik, dan mengedikkan kepala. “Emangnya aku LGBT? Aku udah punya istri, keleeeuuus. Si Tino tuh, sampe sekarang belum kawin-kawin.”

“Istrinya Koko di mana?”

“Lagi mau ngambil snack, Shay. Takutnya ­yang di meja kurang.”

“Koko tuh gimana sih kok bisa nemu video Ko Chris di Twitter?”

“Ya enggak sengajaaa …,” sahut Marcel sambil memutar bola mata. “Aku lagi ngurusin kerjaan gitu. Tahu, lah. Harus ngurus ad sense, nge-tweet, bla-bla-bla …,” sambil mengibaskan tangan beberapa kali. “Eh tahunya ada yang nge-retweet! Aku cek videonya, kok kayak yang kenaaalll … gitu. Aku tonton berulang-ulang, baru ngeeehhh …. Ya ampun! Ini kan si Chris!”

Situ nonton berulang-ulang sambil coli atau ­gimana?! 

Aku udah pengin nonjok ini bencong dari tadi. 

“Terus langsung ngasih tahu Ci Clara?”

“Enggak, dooong …! Aku kasih lihat dulu istri aku. Takutnya aku salah oraaang, gitu. Tapi istri aku bilang, iya kok, ini kayaknya Ko Chris. Langsung, lah! Aku WhatsApp tuh semuanya. Si Clara, si Stephanie, Grace, Christine, sama Ci Jess, sama Ci Michelle. Heboh lah tuh kita langsung bikin grup! Ini kalau bukan gara-gara aku nih, bisa kesebar makin luas nih ke luar. Makanya aku langsung hubungin mereka. Maraaahhh banget si Clara. Sampe banting-banting kursi! Serem, boookkk ….”

Perempuan itu terkesiap ngeri. “Tapi akhirnya enggak kesebar luas, kan?”

“Ya enggak tahu. Mungkin orang-orang sebagian udah ada yang tahu.”

Perempuan di sebelah Marcel merinding ngeri. “Kok bisa-bisanya Ko Chris enggak punya malu gitu, ya?”

“Bangeeettt … heran aku juga.” Marcel bergidik mengangkat bahunya. Seperti jijik. “Mana dia jilat-jilat ketek jugaaa …. Kamu nonton, kan?”

“Jilat-jilat ketek?”

“Iyaaa …! Ada di menit ketiga. Menit tiga nol delapan, lah. Dia jilat-jilat keteknya, dooong! Ngapaiiinnn … coba?”

Kok detail, Pak? Aku aja enggak tahu jilat ketek ada di menit keberapa!

Perempuan di sebelah Marcel terkesiap dan menutup mulutnya dengan ngeri. “Aku enggak lihat yang jilat-jilat ketek itu, Ko. Begitu lihat itu Ko ­Chris yang begitu, aku langsung back. Hiii …! Malu anjir, kita kenal soalnya!”

“Eeehhh … Ada Ci, si Chris jilat-jilat ketek. Aku punya full version-nya. Entar ku-WhatsApp-in deh, yaaa ….”

“Buat apaaa jilat-jilat ketek!” Perempuan itu hampir menangis karena enggak paham. Dia melirik berkali-kali ke arah Tino di depan peti semayam, lalu menoleh ke Marcel, lalu ke Tino lagi, sambil menunjukkan ekspresi jijik. 

“Yaaa … fetish dia kali jilat-jilat ketek,” kata ­Marcel, sambil mengusap-usap lehernya sendiri dan menatap Tino dengan pandangan mupeng. “Kamu berarti enggak nonton sampe dia nungging-nungging gitu?”

“Dia nungging-nungging?!” Mata perempuan itu membelalak bulat. Suaranya agak keras sedikit, sehingga dua atau tiga orang di depan kami menoleh kecil. Perempuan itu langsung menutup mulutnya. “Tuhan Yesus …! Maksudnya nungging-nungging tuh … dia lihatin pantatnya? Ke kamera?”

BUKAN, MBAK. NUNGGING-NUNGGING TUH DIA MASUKIN JEMPOL KAKI KE IDUNGNYA.

YA IYALAH NUNJUKIN PANTAT! ANJING!

INI KELUARGA CINA EMANG SE-IGNORANT ITU, APA BENERAN POLOS, SIH?!

“Udah, deh. Entar aku kirim videonya. Punyaku sebelas menit. Aku dapat dari grup Telegram gitu, Ci. Kamu tonton sendiri. Atau entar bareng aku nontonnya.”

“Kok bisa sampe kayak gitu, ya?” Perempuan itu menoleh lagi ke arah Tino, kali ini memandang Tino dengan pandangan kasihan. “Aku tahu hidup dia tuh sulit waktu kecil dulu, tapi …. Tapi aku enggak nyangka bisa kayak begini.”

“Ya mungkin trauma, Ciii. Yang LGBT-LGBT gitu kan biasanya gara-gara traumaaa.”

“Emang dia jadi korban juga?”

“Ci Clara sih yang jadi korbaaan. Aku enggak tahu si Chris jadi korban juga atau enggak.”

Eh? Tunggu. Mereka sedang bahas apa?

“Kalau ngelihat dari apa yang dialami Ko Chris dulu …. Eh, anjir! Dia ke sini!” Perempuan itu enggak jadi cerita.

Tino menegakkan tubuh, mengusap wajah, mengelap air matanya, lalu menatap ke arahku.

Yang kayaknya dikira menatap ke Marcel dan perempuan itu.

Kedua manusia di depanku ini panik. Mungkin karena sedari tadi mereka ngomongin Tino, lalu hal pertama yang Tino lakukan setelah selesai berdoa untuk neneknya adalah melihat ke arah sini. Mereka langsung kelabakan.

Aku juga, anjir. Aku panik dan kelabakan. Mungkin karena aku merasa aku terlibat dalam talkshow gibah barusan.

Tapi saking paniknya, aku malah membuang semua sampahku ke dalam tote bag Dior punya Marcel. Kulemparkan bungkus plastik bekas risol, kulit jeruk, kertas penampung molen, bahkan cup plastik bekas caoku cingcau hitam, ke dalam tas itu seperti lemparan bola basket. 

Ajaibnya masuk semua. 

Lalu, karena Marcel panik melihat Tino berjalan ke arah kami, dia buru-buru mengambil tasnya tanpa melihat bahwa isinya sekarang dipenuhi sampah. Marcel dan perempuan itu segera pergi dari bangku panjang di depanku, mengambil titik keluar di bagian lain karena Tino mulai masuk ke area bangkuku.

HUH, RASAKAN!

Sebelum Tino menghampiriku, keduanya sudah melipir keluar dari ruang semayam. 

Semua mata masih memandang ke mana Tino pergi. Namun Tino mengabaikannya. Tino mengangguk ke arahku dan hanya berkata. “Yuk.”


[ … ]

Bersambung ....


Part 16 Bag. B | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Prank Personal Trainer | Part 17 Bag. B

Komentar