(PPT) Part 16 Bag. B




Aku menelan ludah dan mengatakan sesuatu yang enggak kusangka akan keluar dari mulutku, apalagi di tengah suasana berduka seperti ini. “Gue sange. Gue pengin di-ewe. Ayo kita lanjutin yang tadi.”

Edvan melongo mendengar itu. Dia menurunkan headphone-nya pelan-pelan, mempertimbangkan tawaranku. Tak lama dari situ dia berkata, “Oke.”

Dan kami pun ….

....

ngewe

Oke. Jangan bayangkan sesuatu yang romantis. Bisa?

Karena ini enggak romantis. Enggak intim. Enggak penuh penghayatan. Enggak ada I love you I love you-an. Aku juga enggak sudi menyebut ini cinta satu malam. Cause no, I don’t love him.

Yang kucintai hanyalah Tino dan selalu Tino. Bukan Edvan atau yang lain. Ini adalah ungkapan gairah yang tak terbendung, di mana harusnya bisa kulakukan bersama Tino, tetapi situasi sedang tidak memungkinkan. Lalu Edvan ternyata available. Dan … voila! Kami ngewe.

Nih, kujelaskan dengan detail, saking ngewe ini enggak ada apa-apanya. It means nothing. 

Begitu Edvan bilang oke, aku langsung melepaskan kaus dan celanaku, menelanjangi diri. ­Edvan juga berdiri dan melorotkan celananya. Kontol ­Edvan menggantung setengah lemas di bawah jembutnya yang enggak lebat. Kalau kontolku sih udah ngaceng sedari tadi. Sejak aku lari dari kamar Tino, sampe sekarang belum turun-turun ngaceng-nya.

Karena ini ngewe berdasarkan nafsu, bukan rasa cinta, aku langsung mendorong Edvan agar duduk di tepi tempat tidur. Agak kasar malah kudorongnya, ala-ala boti agresif. Edvan melukiskan senyum sebelah, membuka pahanya sedikit, membiarkan kontol setengah ngaceng-nya terkulai di atas paha.

Babi. Anjing.

Kontol itu kok mendadak gede, ya?

Apa aku sedang berhalusinasi?

Perasaan tadi enggak seheboh ini ukurannya.

Masalahnya, aku jadi makin nafsu!

Aku berjongkok di depan Edvan, kulahap kontol itu ke dalam mulut dengan penuh nafsu. Kutelan hingga kepala kontol Edvan menyentuh kerongkonganku. 

Awalnya mudah, karena kontolnya masih ngaceng setengah. Tapi lama-lama, kontol itu mengeras, dan aku enggak bisa lagi menelan seluruh batang kontol hingga hidungku menyentuh jembut Edvan.

Kontol Edvan mengeras total setelah ku-sepong kira-kira tiga menit. Kontol itu memenuhi mulutku hingga aku tersedak dan ingin muntah. Ludahku berceceran keluar, melumuri pangkal kontol Edvan dan biji pelirnya yang kini mengembang bulat dipenuhi sperma.

“Aaaaaahhh ….” Edvan mendesah dengan nyaman sembari melempar kepalanya ke belakang. Satu tangannya memegang puncak kepalaku. Namun hanya mendarat di sana saja. Sesekali kulihat panggul Edvan naik turun, tapi tak kentara. Se­olah-olah dia sengaja mem-fuck mulutku.

Kontol itu enak. Asli. Kepala ama batangnya tuh pas. Kenyal dan kerasnya tuh pas. Aromanya juga laki banget. Setiap kali lidahku menyusuri kulit kontolnya, kudengar Edvan mendesah enak, bahkan badannya mengentak geli.

“Aaargh!”

Kulanjutkan menyepong kontol Edvan hingga beberapa menit ke depan. Gerakanku maju mundur. Melumuri setiap inci kulitnya dengan ludah. Lidahku menyusuri bagian-bagiannya yang sensitif, membuat kontol itu berkedut-kedut kayak mau crot. Lalu, aku mengulum kepala kontolnya. Kugelitik dengan ujung lidah. Kuisap kuat-kuat. “AAAAAARGH …,” Edvan sempat melolong kecil. Matanya membelalak sembari menatapku tak percaya. Lalu aku juga menikmati biji pelirnya yang menggembung besar, naik ke atas.

Kukulum kontol Edvan sembari satu tanganku mengocok kontol sendiri. Ketika kutengok ke bawah, anjir, precum-ku sudah meleleh banyak sekali. Sudah bahaya. Bisa crot tiba-tiba.

Jadinya, aku beranjak naik dan mendorong tubuh Edvan agar rebahan di atas tempat tidur. Lalu, aku mulai melumat puting Edvan. 

Lingkaran hitam nenen Edvan tuh enggak begitu besar, hampir tertutup oleh pentilnya yang lumayan besar. Bisa buat menyusu. Ketika aku memagut puting itu seperti bercumbu, Edvan langsung melotot lagi keenakan. “Fuck!” desahnya. Edvan bahkan mengangkat kedua tangannya ke atas, menutup mukanya dengan kedua tangan. Aku jadi bisa mengintip keteknya yang hampir tak ada bulunya. 

“Enak, Bro …,” desah Edvan. 

Dia mulai melemaskan lengannya, mengulurkannya melewati kepala, lalu kepalanya geleng kanan geleng kiri, menikmati dengan khidmat setiap isapanku di nenennya.

Aku menggigit lembut puting Edvan yang mengeras. Kutarik ke atas, lalu kugelitik dengan ujung lidahku. Edvan langsung mengentakkan badannya karena terkejut oleh rasa enak. Sempat dia menunduk menatap ke bawah, kemudian dia menengadah lagi sembari mendesah, “Aaaaaahhh ….” Setelahnya kujilati puting itu naik turun, dan juga memutar. Aku mencengap dan mengisapnya lagi. Memagutnya, mencumbunya. 

Puting yang nganggur kucubit-cubit dan kupetik seperti gitar. Kadang kutarik ke atas sampai tubuh Edvan bergetar. 

Jujur, Bro, nenennya terasa asin. Which is normal. Asin-asin maskulin gitu. Mungkin karena Edvan belum sempat mandi setelah seharian ngapa-­ngapain di luar. Aku benar-benar gemas pada puting Edvan sampai-sampai aku menggigitnya terlalu kuat.

“AAAAAARGH!” Edvan mendesis sembari tiba-tiba memegang kepalaku.

Sambil tersenyum, aku pindah ke puting satunya lagi dan mengulang apa yang sudah kulakukan di puting sebelumnya. Kulumat lagi puting itu, kupagut, kucumbu, kuisap, dan kugelitik dengan ujung lidah. 

Edvan tampak ngos-ngosan karena putingnya kubuat enak terus-terusan. Dadanya naik turun. 

Sambil melumat puting itu, sambil kupegang kontol Edvan dan ….

… kutemukan kontol itu makin keras dengan precum yang meleleh banyak. Dan mungkin karena aku tiba-tiba mengocoknya, Edvan tiba-tiba bangkit, menyusupkan kedua tangannya ke ketekku, lalu mengangkatku naik.

Prosesnya cepat sekali. Seperti di-take down oleh seorang polisi. Tiba-tiba saja tubuhku dibanting ke atas tempat tidur, diposisikan dengan nyaman. Lalu Edvan merangkak di atas tubuhku, dan dia pun melumat putingku.

“AAAAAARGH …!” Aku sampai membelalak saat merasakan putingku diisap Edvan dengan kuat. 

Aku enggak tahu apa yang menjadikannya berbeda. Entah karena Edvan seorang straight, entah karena beginilah straight kalau menyusu, entah karena Edvan memang selihai itu. 

Ketika Edvan memagut putingku, dia memainkan lidahnya ke pentilku dengan sangat nyaman. Gelitikannya memberikan efek kejut ke seluruh dadaku. Dingin dan menusuk. Pada saat bersamaan, geli dan menggigit. 

Aku sudah menyerah. Sungguh. 

Aku seperti boti tak berdaya. Aku hanya bisa mengangkat kedua tanganku ke atas kepala, lalu menyembunyikan wajahku di lengan yang agak kurus.

“AAAAAAHHH …!” desahku, sembari menggigit bibir bawah. “Anjiiiinnnggg …. Enak banget anjiiinnnggg ….”

Aku merem melek. Sumpah. 

Edvan memainkan putingku seakan-akan itu benda paling berharga di dunia. Penuh komitmen, Edvan memagutnya seperti ikan sedang bernapas di air. Ujung lidahnya menari-nari di bagian sensitif pentilku, membuatku melengkungkan punggung ke atas karena keenakan, lalu kedua tanganku mencengkeram erat kepala ranjang.

FUUUCCCKKK …! ANJING!” Aku mengumpat sembari memelotot. Ini enak banget, BABI! “AAAAAAHHH …!”

Edvan menjulurkan tangannya ke atas untuk membekap mulutku. “Jangan keras-keras, Bro. Entar yang sebelah bangun.”

Aku langsung teringat bahwa kamar sebelah Edvan penghuninya adalah Romi. Bahaya kalau sampai dia bangun dan minta bergabung. Jadi aku mengangguk dan mendesah lebih pelan.

“Aaaaaahhhhhh ….” Desahanku mulai terdengar seperti napas yang tertahan. “Ampuuunnn ….”

Ketika Edvan berpindah ke putingku yang satunya lagi, aku menyerah.

Sumpah.

Aku langsung lemas keenakan. Precum-ku banjir ke atas perut. Seluruh tubuhku lembap merembeskan keringat, sembari aku menguarkan aroma badanku yang hangat. 

Edvan masih saja asyik nenen di putingku seperti straight kalau menyusu ke toket cewek. Dia remas dan rekatkan dua putingku ke tengah-tengah,  seperti menempelkan dua toket cewek. Goblok ya lu, Bro! Ini toket laki, WOY!

Dia menjilat putingku kanan-kiri, dengan penekanan yang membuat tubuhku bergidik saat ujung lidahnya tepat berada di puncak puting. 

“Babi …,” umpatku sembari menggelengkan kepala. “Udah, Bro. Udah ….”

Edvan pun berhenti dan menegakkan kepalanya. Aku mengatur napasku yang memburu. Mataku kosong menatap langit-langit, kepalaku masih tak percaya bisa merasakan dinenen dengan sangat nikmat dari seorang cowok straight

“Udah hampir mampus, lu?” tanya Edvan, sambil terkekeh.

Dengan sebal aku menjawab. “Iya! Dasar goblok lu!”

Edvan melepaskan dekapannya ke tubuhku, lalu bangkit dan berjalan ke lemari. Aku menatapnya sambil mengatur napasku. Kulihat kontol ­Edvan sudah mengacung tegak. Berkedut-kedut dan bergoyang kanan-kiri seperti wiper mobil. ­Edvan merogoh sesuatu dari dalam lemarinya, lalu mengeluarkan pelumas merek Durex. 

“Gue masuk, ya?” tanyanya sembari kembali menghampiri ranjang, lalu berdiri di sampingku. Kontolnya yang keras dan bergoyang kanan kiri itu berhenti tepat di depan wajahku, memantul dengan menggoda.

Tentu aku menyepong-nya dulu sesaat, kemudian aku mengangguk. “Iya. Langsung aja.”

Karena aku tahu ini hanyalah “fun” tanpa perasaan, aku langsung ngangkang di atas tempat tidur, mengangkat kedua kakiku, melipat betis, dan kutahan lipatan lutut dengan tanganku. Kuusahakan mengangkat pantatku tinggi-tinggi agar Edvan bisa langsung masuk.

Lelaki itu, sama seperti semua lelaki straight bajingan, langsung berlutut di depan pantatku dan melumuri kontolnya dengan pelumas. 

Enggak ada basa-basi dulu kayak fingering satu jari, dua jari, tiga jari, rimming, dan lain sebagainya.

Gapapa. Memang lelaki straight se-to the point itu. Menurutku itu seksi. Sama seperti Tino saat kali pertama meng-ebol-ku. Dia juga langsung masuk, hantam, dan crot. Aku langsung menarik napas panjang ketika Edvan menempelkan kepala kontolnya ke cincin anusku. Aku sudah pasrah dan berserah. Lebih berserah dibandingkan umat beragama yang paling religius sekalipun. Apa pun yang terjadi, rasa sakit apa pun yang perlu kudera, akan kuhadapi dengan nikmat.

Kepalaku langsung berkelana ke kali terakhir aku pup. Atau makan. Atau douching. Memastikan aku enggak ngasih gift ke kontolnya Edvan ketika dia meng-ebol-ku. Harusnya aman. Atau kalau enggak aman, kuharap dia enggak masalah dengan apa pun yang terjadi di sana.

Sumpah sange-ku sudah enggak ketampung. Aku pengin banget ada kontol masuk ke bool-ku. Memenuhi setiap rongganya dengan batang berkulit lembut dan kenyal, lalu—

“AAAAAARGH …!”

Kontol Edvan tiba-tiba masuk dan melesak hingga mentok.

CLEB!

ANJIIIIIINNNGGG …!

SETAN EMANG INI COWOK!

UNTUNG GANTENG, ANJING!

“AAAAAAAAARGH …!”

“Sakit?” tanya Edvan, dengan muka bego planga-plongo. 

“Kagaaakkk …!”

Dan emang enggak, Babi!

Ketika kontol itu masuk sampai penuh, aku seperti dihantam sesuatu yang nyamaaaaaannn … banget! Seperti area selangkanganku tuh dipeluk, dicengkeram, oleh sesuatu yang enak, seperti dijaga, dirawat, dibikin bahagia, dibikin ….

“Elu … tremor?” Edvan membelalak sambil melihat panggulku. “Apa gue … apa gue keluarin?”

“Ya jangan anjing! AAAAAARGH!”

Panggulku bergetar di luar kendali.

Kenapa?

Karena keenakan, BANGSAT!

Badanku langsung lemes, anjiiirrr …. Pengin nangis kayak boti. Sumpah. Tiba-tiba aja seluruh badanku kayak dikuasai sama Edvan, padahal yang Edvan lakukan cuma nusuk bool-ku pake kontol kerasnya. Tahu-tahu panggulku bergetar tanpa bisa kukontrol. Yang bisa kurasain apa? Rasa nyaman, geli-geli kesemutan, anget, enak, udahlah ….

Aku cuma bisa mengulurkan tangan melewati kepala, pamer ketekku kayak semua boti yang di-ebol Rifaiju. Udah enggak bisa ngapa-ngapain lagi, Bro.

POK! POK! POK! POK! POK!

Mana si Edvan meng-ebol-ku kayak straight ngewe-in memek. Enggak ada ampun-ampunnya. Edvan maju-mundurin kontolnya di dalam bool-ku kayak mesin. 

Hantam! Hantam! Hantam! 

Pangkal kontolnya menghantam perineumku udah kayak tepuk tangan. Edvan membungkuk, kedua tangannya di samping tubuh, setengah memelukku. Tapi pandangan dia ke bawah, ke kontolnya sendiri. Kayak bangga sama kontolnya berhasil ngewe bool-ku.

Sekalinya dia ngangkat kepala buat lihat wajahku, dia cuma bilang, “Enak?”

“Bacot!” balasku, sambil merem melek dan ngos-ngosan.

Badanku udah keringatan sebadan-badan. Udah enggak punya tenaga buat bergerak. Udah enggak bisa mainin nenennya Edvan yang menggoda itu. Lemes, Bro. Anjing.

POK! POK! POK! POK! POK!

Aku coba buat ngangkat kepala dan melihat kondisi kontolku di TKP.

….

Mengenaskan!

Kontolku ngaceng keras. Kemerahan. Batangnya naik turun memantul-mantul ngikutin genjotan kontol Edvan di bool-ku. Dari lubang kontolku keluar precum kayak keran bocor. 

Aku udah kebas di area bawah sana. Udah enggak bisa ngerasain apa-apa lagi kecuali satu perasaan enak yang membahagiakan. Perasaan pertama kali jatuh cinta sama kontol. Waktu masih kecil, masih SD, waktu aku terpukau ngelihat cowok dewasa telanjang bulat, nah perasaannya sama kayak gitu. Aku dibawa bernostalgia sama kebahagiaan tanpa beban yang cuma kumiliki waktu aku masih kecil. 

POK! POK! POK! POK! POK!

Dalam kepalaku tuh cuma ada perasaan nikmat, secara psikologis, bahwa yang ada dalam tubuhku sekarang adalah kontol seorang lelaki atletis ganteng bernama Edvan. Lelaki yang dulu sempat kugebet sebelum aku cinta mati sama Tino. Fakta bahwa kejantanan lelaki ganteng ini ada di dalam tubuhku, sedang mencari kenikmatan …, itu tuh rasanya enak banget, gitu.

Aku tuh seperti melayang. Lemas. Aku pasrah. Aku menikmati setiap gerakan batang kontol ­Edvan yang ….

“Kenapa berhenti?” tanyaku, mendapati Edvan tiba-tiba enggak bergerak sama sekali.

Edvan sedang menunduk menatap ke bawah. “Elo … elo udah keluar?”

Au mengangkat kepala.

Babi.

Aku udah crot.

Enggak crot, sih. Maksudnya, air maniku meleleh keluar seperti lahar gunung berapi. Tahu-tahu sudah banjir cairan kental berwarna putih di atas perutku. Dan masih keluar.

Dan aku merasa keenakan. Sumpah. Enggak ada sensasi mengentak-entak crot, tetapi cara keluar meleleh seperti itu pun ternyata nikmat. 

Sorry …,” kataku sambil meringis malu.

“Gapapa, gue juga udah mau keluar,” bisik ­Edvan. Dia tiba-tiba membungkuk dan menggerakkan lagi kontolnya di dalam bool-ku.

POK! POK! POK! POK! POK!

Benar, sih, enggak lama dari situ, ritme genjotan kontol Edvan berubah cepat, diikuti dengan Edvan tiba-tiba menghantamkan kontolnya lebih dalam di bool-ku. Seperti dia sedang menanam sesuatu. Muka planga-plongo Walikota Solonya pun terpancar lagi. Dia menatapku seperti orang yang kebingungan.

“Kenapa?” tanyaku.

Belum dijawab. Edvan masih menunduk menatap ke bawah, ke arah selangkangan kami. Lalu menghantam kecil. Lalu diam. Lalu aku bisa merasakan kontolnya mengentak-entak kecil di dalam bool-ku. Sedang menyemprotkan sperma.

“Kenapa, ih?”

Edvan masih planga-plongo. Masih dipantengin tuh kontolnya yang tertanam di bool-ku. Setelah agak lamaan, baru dia mengangkat kepalanya. “Enak, anjir.”

Aku memutar bola mata. 

Seks pun selesai.

Oke? Tuh, sudah kuceritakan dengan detail. 

Poinku adalah, ini hanyalah seks tanpa perasaan, yang no string attached, no feeling, hanya sebagai pemuas nafsu seksual yang membuncah malam ini. 

Edvan sange gara-gara Fina. Aku sange gara-gara Tino. Aku punya bool. Edvan punya kontol. Edvan masukin kontolnya ke bool. Pok-pok-pok! Crot. Selesai. Sudah. Itu saja. 

Edvan berguling sambil mengeluarkan kontolnya, lalu rebahan di sampingku seraya mengatur napasnya. Wajahnya masih cengo menatap langit-­langit. Kayak masih enggak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. 

Aku menjulurkan tangan ke meja kecil di samping untuk mengambil tisu. Kucabut banyak-banyak, lalu kusumpalkan ke bool-ku. Setelahnya, aku mengambil tisu lagi, lalu kutaruh di atas perutku, agar menyerap spermaku yang sudah berubah bening. Aku masih mengambil tisu lagi beberapa lembar, setelahnya aku mengelap kontol Edvan yang basah dan mengilap. 

Edvan hanya berbaring saja, tak berbuat apa-apa. Kontolnya masih ngaceng dengan keras. Kontol itu kemerahan di bagian kepalanya. Basah mengilat-ngilat.

Aku mengelapnya dengan tisu hingga agak kering. Setelah ini aku bisa ke kamar mandi untuk bersih-bersih, tapi aku memilih untuk menarik selimut, dan memeluk Edvan.

Aku ndusel-ndusel di ketek Edvan yang bulunya dikit (yang bikin aku bete, karena aku terbiasa dengan Tino yang bulu keteknya banyak). Kuhirup aroma keringat dan badannya yang maskulin abis, coooyyy …. Kuendus dan kucumbu tubuh indah itu, sembari aku bilang, “This will never happen again.

Edvan mengerutkan alisnya. Dia menoleh ke bawah, ke arahku, sembari mengerutkan alisnya. “Whyyy …?

Aku yang kini nenen ke putingnya, menggelengkan kepala. “Ini cuma selingan aja. Cuma gara-gara gue sange, elo sange, lalu kita ngewe. That’s it.”

“Ya next time kalau elo ama gue sange lagi—”

“Enggak ada next time!” selaku tegas. “This is the last time!

“Yakin lu?”

“Yakin!” Aku mendengus. “Gue satu-satunya gay yang diciptakan untuk Tino. Jadi gue harus setia ama Tino. Dan elo—”

“Kalau setia, ngapain elo main ama gue?” Edvan menyelaku dan membuat lidahku kelu.

“Ya kan keadaan darurat aja! Lagian mana bisa gue main ama Tino sekarang. Dia lagi berkabung. Dia lagi sedih. Lagi terpuruk. Egois kalau gue maksa ngewe ama dia.”

“Ya ini juga egois elunya, tetep ngewe ama orang ketika si Tino lagi butuh ditemenin.”

Aku membuka mulutku untuk membantah, tetapi aku menutupnya lagi. 

Bangsat.

Edvan ada benarnya. 

Karena aku tak punya balasan yang dahsyat untuk melawan Edvan, akhirnya aku diam saja. Aku endus-endus lagi ketek Edvan, membuatnya tergelitik geli, “HAHAHA! ANJING! LEPASIN, WOY! GELI!” Supaya Edvan melupakan apa yang baru saja kukatakan. 

Dia lupa sih. 

Ujung-ujungnya, dia mendekap kepalaku ke keteknya sampai aku sulit bernapas. Lalu aku menaikkan kepalaku untuk mencari udara. Kemudian Edvan memanfaatkan kesempatan itu untuk memelukku dengan erat, mengepitkan keteknya di leherku, sehingga aku enggak punya celah lagi untuk menggelitikinya. 

Ya sudah, aku juga balas memeluknya. Kami berpelukan dalam waktu yang cukup lama. Aku merasa nyaman merebahkan kepalaku di bahunya, mengendus lehernya yang sempat berkeringat. 

Thanks,” kataku, setelah beberapa saat. “Barusan nyaman banget.”

“Yoi,” balas Edvan, sembari mengusap-usap bahuku. 

“Tapi gue seriuuusss …,” rengekku. “Ini cuma terjadi malam ini aja, ya? Please. Gue enggak mau terlalu nyaman ama elo.”

“Iyaaa ….” Edvan terkekeh. 

“Lagian elo juga bukan homo, kan?”

“Bukan, anjir!”

“Ya udah. Jangan sok-sokan minta nambah. Gue paham elo lagi sange aja gara-gara si Fina. Makanya elo bisa ngewe gue. Tapi next time mungkin elo lagi enggak sange, eh guenya malah sange ama elo. Kan bahaya.”

“Iya gue paham. Elo tenang aja.”

“Gue masih pengin meluk elo.”

“Ya udah sih … peluk aja.”

Kami berpelukan dengan erat.

….

Hingga kami ketiduran.

….

Emang goblok sih akunya. Terlalu nyaman berpelukan after sex dengan Edvan, lalu aku merasa kelelahan, lalu aku beneran tertidur di atas tempat tidur itu, tanpa sempat bersih-bersih dulu. Edvan juga goblok, enggak ngebangunin aku lalu kami mandi, atau apa gitu, supaya aku bisa pulang ke kamarku sendiri.

Tahu-tahu aku terbangun pagi harinya dalam kondisi masih memeluk Edvan—seperti di film-film. 

Literally. Di depan mukaku tuh keteknya Edvan. Satu tanganku masih merangkul perut Edvan. Dan si Edvan pun masih molor di sampingku, telentang, agak menjauh, tapi masih dalam jangkauan. Kami berdua masih telanjang. Kontol Edvan ngaceng karena morning wood. Kontolku ngaceng karena melihat kontol Edvan. Lalu sewaktu aku setengah bangkit untuk mengucek mata, Edvan terbangun.

Dia menoleh. Membuka matanya. Mengerjap-ngerjap. Lalu tersenyum lebar. “Morniiinnnggg …!” Dia menguap lebar.

“Kenapa kita sampe ketiduran, anjing?!” Aku mendengus. “Harusnya gue pulang semalam!”

“Elu baper ama gue, kali!” Edvan terkekeh.

Aku menggeplak kontol ngaceng-nya. PLAK! “Enak aja!”

“ARGH!” Edvan meringkuk kesakitan sebentar, sebelum akhirnya dia bangkit dan turun dari tempat tidur. 

“Gue mau pipis!” Edvan berjalan cepat ke kamar mandi dengan kondisi kontol masih keras dan berayun kanan kiri. 

Aku menarik selimut menutupi tubuhku sembari menunggu Edvan kencing di dalam sana. Kencingnya agak lama, dan agak susah kayaknya. Mungkin harus nungging dikit karena kontolnya masih keras. 

Aku sedang menimang-nimang untuk memakai baju apa ke rumah duka hari ini. Karena dalam bayanganku, aku akan menemani Tino pergi ke rumah duka. Pasti harus pergi. Masa iya keluarganya enggak ngizinin Tino ketemu neneknya untuk kali terakhir? Okelah di rumah bisa bikin drama. Kalau di tempat umum kan pasti enggak mungkin. Jadi aku akan membantu Tino menemui neneknya sebelum benar-benar disemayamkan. 

Edvan pun keluar dari kamar mandi sambil menggeliat dan mengelap kakinya ke keset. Kontolnya masih ngaceng, anjing.

“Lu mau ngewe lagi? Keras banget, babi!” komentarku.

Edvan menatap kontol di bawahnya. Memain-main­kannya dengan cara menarik kepalanya turun, lalu melepaskannya, sehingga Tuing! Tuing! Kontol itu memantul ke atas. “Elo mau lagi?”

“Eits! Enggak, ya! Enggak boleh! Seperti yang kubilang semalam, yang kita lakukan ini—”

“MAMORUUU …!”

Pada saat bersamaan, kuntilanak dari kamar sebelah muncul.

Yep.

….

Sebuah tragedi.

….

Romi tiba-tiba memanggil dari luar dan membuka pintu kamar Edvan untuk masuk.

Somehow, Romi bisa langsung masuk. Entah Romi punya kuncinya. Entah semalam aku lupa menguncinya.

Yang kutahu, aku langsung menarik selimut dan bersembunyi di dalamnya sambil meringkuk.

“Kamu harus denger satu kabar heboh ini! AAAAAAHHH …!” 

Aku enggak tahu apakah Romi melihatku menarik selimut atau enggak.

Kedengarannya, sih dia enggak curiga ada gundukan selimut segede manusia di atas tempat tidur ­Edvan.

Tapi aku kayaknya sempat mati suri deh barusan. Jantungku copot.

Degupannya sampai kedengaran ke telingaku sendiri.

DEG!

DEG!

DEG!

Mati aku. Mati aku. Mati aku!

Romi pun berkata ....



[ ... ]

Bersambung ....

Komentar