Tubuh Paman yang Bikin Deg-Degan (3)

Part 3: Gue Belai-Belai

 

Kiko tahu, satu-satunya cara mengatasi rasa gelisah itu, adalah dengan menelepon sahabatnya, Gilbert. Dia teman kutu bukunya. Gilbert dan Kiko menghabiskan banyak waktu di perpustakaan membaca buku-buku ilmiah atau mendebatkan beragam kemungkinan teori posibilitas dan dualisme. Kiko tahu Gilbert bisa diandalkan. Dan Kiko juga yakin Gilbert bukan homo. Jadi, Kiko harus berhati-hati.

“Oi, Kiko!” sapa Gilbert di layar ponsel. Kiko melihat Gilbert sedang duduk di depan komputernya. Ponsel diletakkan di samping monitor, tiga jari kiri Gilbert berada di tuts A, S, dan D. Berarti Gilbert sedang main game online.

“Lo lagi ngapain?”

Jeda sejenak karena Gilbert sedang berusaha membunuh sesuatu dalam game. “Biasa.” Lalu suara tembakan terdengar. “Ngapa?”

“Gue mau nanya sesuatu, nih.”

“Soal kajian kita kemarin? Soal teori relativitas dan fenomena kuantum? Kan, ada dua postulat Einstein yang udah kita bahas. Lo mau nanya soal—”

“Bukan. Bukan soal itu,” potong Kiko segera. “Ini soal lain ….”

Jeda sejenak karena Gilbert sedang sibuk menembak. Setelah tenang, Gilbert bertanya. “Soal apa?”

Kiko jelas nggak bisa mengatakan soal Reza. Atau soal dirinya homo. Atau mengapa tubuhnya bereaksi aneh melihat cowok telanjang. Bisa-bisa Gilbert nggak mau jadi temannya lagi, karena Gilbert sama jenisnya dengan Kiko, yaitu: laki-laki.

Jadi, Kiko mencari cara lain. “Soal kucing.” Entah apa yang membuat Kiko mengatakan itu. Namun hanya itu yang terlewat. Terpaksa, Kiko menganalogikan semampunya. Yang dimaksud kucing adalah Reza, pamannya.

“Kucing?” ulang Gilbert sambil menoleh ke arah kamera. “Lo punya kucing?”

“Nggak. Nggak punya. Maksud gue, belum.”

“Lo mau punya kucing?”

“Gue … gue pengin punya kucing.” Atau dalam kamus Kiko sekarang, aku pengin punya tubuh Abang Reza yang indah dan memesona itu.

“Kenapa lo pengin punya kucing?”

“Gue pengin … gue pengin … ya gue pengin ngerawat aja.” Kiko menelan ludahnya. “Gue pengin merawat kucing ini di kamar gue. Gue belai-belai, gue elus-elus setiap hari …. Bulu-bulunya gue mainin.”

Wow. Bahkan dengan analogi seperti itu pun Kiko tetap horny. Tentu saja yang dia maksud bukan bulu kucing, melainkan bulu ketek itu. Or better … bulu jembut sang paman.

Oh, shit. Kiko merasakan sebuah gejolak dan dorongan kuat dari pangkal kontolnya sekarang. Kiko membungkuk dan menjepit pahanya kuat-kuat. Beruntung, dia sedang duduk di meja belajar juga, jadi Gilbert nggak akan bisa melihatnya di video call.

Random amat sih lo!” komentar Gilbert sambil geleng-geleng kepala. Dia kembali sibuk dengan jemarinya di keyboard. “Ini kepingin mendadak atau gimana?”

“Udah dari dulu,” jawab Kiko. Tepatnya ketika Papa mulai sering meminta Reza menginap untuk menjaga rumah.

“Terus kenapa nanya ke gue?”

“Karena elo … elo ….” Kiko teringat Gilbert punya kucing di rumahnya. Bukan punya Gilbert, melainkan adiknya, tetapi ada kucing di rumah Gilbert. “Elo punya kucing di rumah.”

“Punya si Gina itu, bukan punya gue.”

I know. Tapi pasti elo tahu, kan beberapa pertanyaan soal kucing?”

Gilbert mengerutkan alisnya sambil menoleh sejenak ke arah Kiko. Ooo … kay. Weird, sih, coming from you. Tapi iya, gue tahu lah cara ngurus kucing. Apa yang mau elo tanyain?”

“Gimana caranya … memiliki kucing?”

Gilbert menyemburkan tawa. “Maksud lo apaan, sih Ko?” Gilbert sampai memegang perutnya.

“Kucingnya liar. Gimana cara ngejinakinnya? Maksudnya, kucingnya udah di rumah gue, nggak galak ke gue. Tapi gimana caranya gue bikin dia nurut sama gue.”

“Ya tunjukin aja lah, kalau elo adalah majikan di rumah itu. Bukan sebaliknya.”

“Maksud lo?”

“Bentar.” Gilbert menyerang dulu sesuatu dalam game-nya. Jeda sejenak itu membuat Kiko semakin gelisah. “Kucing dikenal sebagai hewan narsis. Kucing merasa dirinya raja di dunia ini.”

Banget, batin Kiko. Maksudnya, Reza. Cowok itu berpikir dia paling ganteng dan menguasai dunia ini. Semua cewek takluk di tangan Reza.

“Elo mesti pastiin, hidup dia tergantung di tangan lo.”

“Maksudnya?”

“Yaaa … kurung dia, kek. Bikin dia sadar rumahnya di rumah lo. Bikin dia paham, makanan dia cuma datang dari elo. Minum dia cuma dari elo. Keselamatan hidup dia cuma di elo. Dan cuma elo yang bisa buka pintu, jadi dia bergantung banget ama elo. Ujung-ujungnya, itu kucing pasti cuma nurut ama elo. Paham nggak?”

Kiko mengangguk. Namun belum begitu yakin bisa diaplikasikan ke kucing yang Kiko maksud.

“Lo mesti jadi raja di rumah elo sendiri. Kucing itu hewan teritori. Elo mesti nunjukin, elolah yang punya teritori. Jadi, dia nurut.”

“O-oke.” Kiko menelan ludah.

“Kucingnya jantan apa betina?”

“Jantan.”

Gilbert terkekeh kecil. Good luck aja, deh. Kucing jantan spraying di mana-mana. Pokoknya, sekali lagi pastiin, hidup itu kucing ada di tangan elo. Jangan sebaliknya.”

“Bisa gitu ya Gil?”

Gilbert mengangguk yakin. “Setelah elo bikin dia paham elo raja di rumah, elo apain juga bisa. Elo belai-belai perutnya, kepalanya, bulunya, semua oke. BTW, gue lagi tanggung banget, nih. Gue sambung lagi entar gimana?”

“Boleh, boleh. Sorry gue ganggu. Thanks banget infonya, Gil.”

Kiko menyimpulkan saran Gilbert dapat dicoba. Malah dia yakin, Reza nggak akan serumit kucing betulan. Ada berbagai cara untuk menunjukkan rumah ini adalah teritorinya Kiko, dan dia bisa membuat Reza paham pamannya itulah yang harus mengikuti kata-katanya.

Kiko menyembunyikan seprai dan celana dalam Reza ke dalam lemarinya. Akan dia nikmati kapan-kapan kalau luang. (Apalagi bau dan bekas basahnya itu.) Dia berencana memasang seprai baru di atas tempat tidur ayahnya sekarang. Jadi, Kiko turun ke bawah sambil mengambil seprai baru dari tumpukan di belakang. Tak ada tanda-tanda Reza di rumah.

Kiko sudah setengah jalan memasang seprai baru ketika pandangannya tertuju pada lukisan di kamar orangtuanya. Dipandanginya lukisan itu lama, seulas senyum tersungging di bibir Kiko. Dia punya ide.

Pukul tujuh malam, Reza menghambur masuk ke dalam rumah sambil menenteng sebotol bir yang tinggal setengah. Reza sedang menelepon ceweknya—entah yang mana—lalu mengakhiri pembicaraan itu. “Iya, Sayang. Aku udah sampe rumah, nih. He-eh. Kamu jangan lupa mamam, ya. Hihihi.”

Kiko memutar bola mata.

“Muach. Muach. Muach.” Telepon itu pun ditutup dan Reza kembali menjadi cowok macho sok ganteng. Dia berjalan menghampiri Kiko di ruang tengah sambil menenggak minumannya. “Elah, tumben lo Bro ada di bawah. Biasanya kalau gue datang, lo ngumpet di kamar.”

Kiko hanya tersenyum sambil memandang TV di depannya. TV yang nggak dia tonton sama sekali.

“Oh, iya, Bro. Minjem dua ratus, lah,” ujar Reza sambil menghempaskan tubuh ke samping Kiko. Dia melingkarkan tangannya yang memegang bir ke bahu Kiko. “Mau?” Botol bir itu digoyangnya.

Kiko menggeleng.

“Yoh. Gue pengin beli headset baru. Yang kemarin rusak. Dua ratus aja, lah. Cincay lah buat elo mah.” Reza memaksa meminum birnya meski lengannya masih merangkul Kiko. Jadi, di depan wajah Kiko kini, ada wajah Reza menenggak bir. “Aaahhh ….”

“Nggak,” kata Kiko tegas.

Reza terkesiap. “Wadaw …. Yang pertama nih elo bilang nggak. Lo udah nggak nge-fans gue lagi?”

Kiko tersenyum. “Masih.”

“Terus?” Reza menaikkan alisnya dua kali sambil menadahkan tangannya yang bebas.

Dengan rasa percaya diri tinggi, karena Kiko sudah merencanakan ini semua, termasuk segala jenis negosiasi yang mungkin keluar (seperti teori probabilitas yang senang dipelajarinya), Kiko pun berkata, “Aku kasih pinjam uang dua ratus ribu, kalau Bang Reza nunjukin titit Abang ke aku.”


[ ... ]


< Sebelumnya | Berikutnya >

Komentar