Bocah Titipan (5)



Part 5: Tono

 

Sejauh mana aku téh tahu soal dunia perhomoan?

Kalau dari segi durasi mah, enggak lama. Tapi dari segi experience, jujur aja aku belum cerita “semua” perjalanan aku dari Batam ke Weningmas. Kalau kamu kira aku téh cuma sama si sopir truk Sumatra itu? Lepat, Kang! (Lepat artinya tetot, alias salah! Bukan lontong isi daging yang dibungkus daun pisang.)

Sebelum mencapai Weningmas, aku bikin banyak cerita barengan laki-laki yang aku temuin sepanjang perjalanan. Akang pikir aku cuma naik truk aja pindah-pindah? Eits, henteu atuh Kang. Dari mulai perahu, bus, sedan mewah, pesawat terbang, semua kebagian. Dan semua melahirkan cerita bareng laki-laki. Cerita sentuhan antar pria.

Makanya, waktu aku bahas di Weningmas banyakan lakinya daripada perempuannya, aku téh udah enggak kaget lagi. Termasuk waktu Tono sering dianggap perempuan, atau kemungkinan dia suka sama aku si anak baru di kelas TGB.

Tono emang kayak banci. Tapi aku téh enggak masalah sama itu. Perjalanan aku dari Batam ke sini yang ngajarin aku ragam manusia, khususnya manusia homo. Atau maho. Jadi kalau siang ini Tono mendadak genit-genitan sama aku, ya aku mah biasa aja.

Seperti biasa, aku téh kan bawa makanan dari rumah buat bekal. Padahal sebenarnya mah aku téh dikasih uang jajan sama Pak Restu. Tapi itu téh buat ongkos kalau-kalau aku enggak pulang bareng sama Pak Restu. Dua minggu perjalanan itu ngajarin aku buat hemat-hemat uang. Makanya mendingan aku mah masak yang ada di dapur sehabis salat Subuh daripada jajan di kantin. Toh Pak Restu juga seneng-seneng aja aku masak buat dia. Udah kayak istri aja gimana. Masak sarapan, siapin bekal, panasin motor, beresin rumah, sampai nyiram tanaman juga.

Nah, karena bawa bekal, aku enggak keluar kelas dong buat jajan. Tapi 20 orang di kelas aku mah keluar semua. Kecuali Tono. Hari ini dia tiba-tiba datang ke meja aku.

“Jalu!” sapanya, berlagak cantik.

Dari kacamata lensa jenis apa pun, semua orang tahu Tono itu banci. Senyumnya lebar dan manis seperti Raisa. Kalau gembira (misal dengan benar menjawab pertanyaan dari guru), dia akan menari-nari di kursinya. Kedua pahanya, baik saat duduk maupun berjalan, selalu rapat. Seolah-olah di selangkangannya tidak ada kontol. Padahal aku mah yakin masih ada daging jadi di situ.

“Hei, Tono!” balas aku sambil ngacungin bekalku. Nasi, tahu, terung balado, telor ceplok, dan wortel rebus. “Mau?”

“Enggak usah. Aku juga bawa bekal sendiri.” Dari belakang tubuhnya, dia mengeluarkan kotak bekalnya sendiri. Warna pink, gambar Hello Kitty, isi makanannya nasi dan selusin potong nugget. “Kamu mau nugget aku?”

“Enggak usah. Aku udah banyak ini juga.”

Tono duduk di meja depanku, membalik tubuhnya ke belakang sehingga kami berhadapan. Dari yang kuperhatikan selama seminggu terakhir belajar di kelas TGB, Tono memang punya rutinitas baru: curi-curi pandang ke arahku. Sambil melihatku, sambil dia tersenyum manis. Aku enggak perlu baca buku apa pun untuk tahu bahwa si Tono téh lagi kasmaran ke aku. Dan aku, tenang aja Kang, udah enggak kaget lagi.

“Aku pengin belajar bareng kamu, Jal,” ungkap Tono setelah menyantap makan siangnya beberapa suap.

“Boleh. Mau belajar apa?”

“Apa aja. Kayaknya kamu anak pintar.” Tono mengedikkan kepala untuk mengibas poni yang jatuh ke matanya.

“Enggak, kok. Aku anak biasa aja.” Aku tersenyum sambil menyuap makan siangku sendiri.

“Aku pengin jadi teman kamu, Jalu,” katanya.

“Semua orang di kelas ini teman aku. Jadi kamu juga teman aku, Tono.”

“Tapi aku kayak begini orangnya.” Tono agak murung, menyebutkan fakta bahwa dia yang paling cantik di antara semua laki-laki di kelas ini.

Gapapa,” balasku. “Berarti kamu unik. Beda dari yang lain.”

“Aaawww ....” Tono menggigit bibirnya sendiri karena kesenangan. Malah kata aku mah dia kayak lagi ejakulasi gara-gara pernyataan aku barusan.

“Kenapa?” tanyaku, agak terkekeh melihat reaksi salah tingkah banci innocent ini.

“Aku pengin belajar bareng kamu hari ini di rumah aku. Entar aku buatin spageti. Aku jago bikin spageti. Kamu suka spageti?”

“Aku belum pernah makan spageti.”

“Aaahhh!” Tono mendesah. “Ya udah, malam ini mau enggak main ke rumah aku? Enggak jauh kok dari sini. Di belakang pasar sana. Aku bikinin kamu spageti spesial pake sambal teri.”

Aku menerawang untuk mempertimbangkan tawaran itu. Enggak ada salahnya sih aku ikut Tono. Hitung-hitung berbaur dengan warga sedesa. Sudah seminggu lebih aku di sini, kehidupanku masih berpusar sekolah dan rumah Pak Restu aja. Main ke pantai pun aku belum sempat gabung sama pemuda-pemuda lokal. Sesekali aku main sendirian ke kebun, ngelihatin petani karet menyayat-nyayat batang pohon sampai getah karetnya keluar. Mau aku ajak ngobrol juga takut ganggu.

Ya udah. Meski Tono sejenis manusia dari dunia lain, kayaknya mah gapapa lah ya main sama Tono.

“Oke.” Aku tersenyum. “Tapi sampai jam limaan aja, ya. Sebab aku harus numpang mobil ikan yang mau ke laut entar malam.”

“Aku bisa anterin kamu naik motor ke rumah.”

“Enggak usah. Rumah aku jauh banget, dekat pantai. Sampai jam lima aja.”

“Oke. Nanti kita belanja dulu ya ke pasar. Hihihi.”

Oke, Kang. Itu baru cerita pertama untuk hari ini. Yaitu, aku bikin janji sama satu-satunya perempuan di kelas untuk main ke rumahnya dan belajar bareng (meski agendanya adalah makan spageti). Ada cerita kedua yang perlu kuceritain. Yaitu pas kami semua masuk lagi untuk pelajaran terakhir sehabis makan siang, lalu Satria curhat.

“Si bangsat malah suka sama aing, anjing!” keluhnya waktu kelas ditinggalkan guru agar kami semua mencatat kesimpulan di buku.

“Siapa?”

“Si Fahri Babi éta lah!” sungutnya. “Kan aing téh kirim video dia lewat Whatsapp, buat ngancam dia. Eh malah balas gini, coba. ‘Bapak tau kamu suka Bapak, Satria.’ Kan goblog, nya?! Belegug atau apa dia téh? Kapan aing suka sama dia?! Yang ada gé aing pengin ngegorok leher dia sampai putus! Terus aing sate kontol si Fahri Babi éta.”

Aku mah terkekeh kecil aja dengar curhatan Satria. Omong-omong, aing tuh artinya “saya” ya Kang. Siapa tahu Akang-Akang di sini ada yang bukan orang Sunda. Aku téh enggak bisa terjemahin aing jadi saya, nanti Satrianya malah jadi alim dan tak berdosa. Kalau pakai aing kan kesan preman anarkisnya dapet banget.

“Namanya juga lagi usaha, Sat. Dia lagi bujuk kamu buat enggak nyebarin videonya.”

Nya tapi dia jadi ngajak ketemuan terus minta lanjutin yang kemarin. Kan goblog! Yeuh ....” Satria menunjukkan Whatsapp di bawahnya yang menampilkan chat dari Pak Fahri bahwa (1) dia siap menjaga rahasia Satria yang suka menyodomi, dan (2) dia mau kok diperlakukan seperti waktu itu lagi, dengan konteks bahwa ini rahasia mereka berdua. Satria mengerutkan alisnya keheranan. “Maksudna apa, coba? Aing suka nyodomi?! Sinting!”

Aku cuma senyum lebar aja. “Kalau kamu enggak suka sodomi, ya abaikan aja. Mungkin Pak Fahri emang sinting.”

“Emang!” sahut Satria tegas. “Makanya, harusnya dia téh kemaren dimusnahkan aja, jangan dikasih ampun.”

“Eits, jangan gitu, atuh. Jangan jadi orang jahat kayak Pak Fahri,” balasku, menenangkan Satria sambil menepuk bahunya. “Kalau menurut kamu Pak Fahri orang jahat, jangan nambah populasinya dengan kamu jadi jahat juga. Bener teu? Mending kamu jadi orang baik aja. Balas perbuatan jahat Pak Fahri ke adik kamu, atau ke kamu di WA barusan, dengan cara baik. Yang penting mempan.”

“Terus aing kudu kumaha mun si éta pengin ketemuan jeung aing? Aing mah enggak janji enggak akan bunuh dia.”

Aku tersenyum lebar. “Biar saya yang ngadepin dia,” kataku, mengedipkan satu mata ke Satria. “Biar saya yang ngasih pelajaran ke dia. Kalau dia ngajak kamu ketemuan, kamu WA saya aja. Kan Sabtu kemarin saya dibeliin hape murah sama Pak Restu, kamu juga udah saya kasih nomornya. Oke?”

Gapapa? Kamu sanggup emang ngadepin dia?”

Sambil merangkul Satria, kujawab, “Dia yang enggak akan sanggup ngadepin saya, Sat. Kamu mah nyantai aja.”

“Sebenernya sore ini si Fahri Babi ngajak ketemuan, sih. Tapi malam, sehabis dia ngajar di SMP. Aing enggak balas, da jijik pisan atuh. Rujit! Kamu ke mana entar pulang sekolah?”

“Saya diajak Tono ke rumahnya buat belajar bareng.”

“Ngapain kamu main sama si bencong?” Satria agak menjauh dengan ekspresi jijik.

Aku mah cekikikan kecil aja. “Dia mau bikinin aku spageti. Ya udah, aku mah kalau dapat makanan, terima-terima aja. Yang penting kenyang.”

“Dia téh adiknya Bang Raka. Hati-hati, ah.”

Aku ngerutin alis. “Siapa Bang Raka?”

“Preman pasar di depan situ! Masih muda, tapi udah mimpin berandalan sekitaran pasar. Dia téh kakaknya si Tono.”

“Oh.” Aku téh sebenernya enggak tertarik sama fakta itu. Lagian kan aku ke rumah Tono mau belajar bareng (dan makan spageti). Tapi kemudian Satria nambah info lain.

Cenah kontolna gede,” kata Satria. “Si Bang Raka mah udah terkenal ngewe cewek-cewek desa. Ukuran kontolna udah famous di antara orang-orang. Malah sering ngajak ngadu anak-anak, siapa yang paling gede kontolna.”

“Kamu pernah?”

Satria menggeleng. “Enggak pernah, lah. Takut. Kan dia preman.”

“Tapi ada yang pernah ngadu kontol sama si Bang Raka ini?”

Satria mengangkat bahu. “Enggak tahu juga. Enggak pernah lihat juga aing kontolna si Bang Raka kayak gimana. Tapi kalau banyak orang bilang bener, ya berarti bener kontolna gede. Ya pan udah gede juga. Udah mau tiga puluh tahun si Bang Raka téh. Pasti udah gede, lah.”

Satria ini enggak tahu ya ukuran kontol enggak dipengaruhi usia? Memangnya kontol Pak Fahri berukuran jumbo, hah? Umurnya udah 30 lebih Pak Fahri téh. Setengah punya aku aja kayaknya enggak.

Tapi ya udah, Kang. Sampai situ cerita yang kedua. Kita sekarang masuk cerita ketiga. Yaitu, pas aku main ke rumah Tono yang enggak jauh-jauh amat dari pasar.

Tono bawa motor Mio warna pink yang ramping dan sangat feminin. Aku dibonceng sama Tono. Bannya langsung agak-agak kempes karena badanku gede. Tapi gapapa kata Tono. Dia sih asyik-asyik aja punggungnya bisa nyender ke badanku di belakang dia. Aku nyantai-nyantai aja kalau dia mau nyender kayak cewek manja-manjaan. Toh sekarang motivasiku ke rumah Tono udah nambah. Bukan sekadar makan spageti dan nyari network semata.

Tapi karena Bang Raka.

Aku pengin lihat segede apa kontol preman Weningmas itu.

Rumah Tono enggak jauh dari pasar. Masuk ke jalan kecil yang kanan kirinya pesawahan, tiba di rumah dua lantai yang ada kolom-kolom marmer di depannya. Tampak jelas Tono orang berada. Halaman depannya juga luas. Setelah belanja bahan-bahan bikin spageti di pasar tadi, akhirnya kami berdua masuk ke dalam.

Dengan cantik Tono bilang, “Kamu tunggu di kamar aku aja, Jalu. Aku aja yang masak spagetinya.”

“Enggak perlu aku temenin?”

“Hihihi.” Tono cekikikan kecil sambil menutup mulutnya. Dia bahkan menepuk lenganku dengan manja. “Kamu ini, ih! Enggak usah atuh. Aku aja yang masak. Masa kamu ikutan masak. Kamu tunggu di kamar aku aja.”

“Aku jadinya enggak enak kalau aku enggak bantuin kamu.”

“Iiihhh ... apa sih kamu ini!” rengek Tono dengan genit sambil malu-malu menatap wajah aku. Dia juga memukul lenganku dengan pelan, pas banget di bagian trisep yang kencang dan keras itu. “Udah aku aja, yah? Kamu tunggu di kamar aja!”

“Kalau kamu butuh pindahin kulkas, masang gas, benerin genteng, atau kolam renang, aku bisa diperbantukan.”

Tono semakin uring-uringan manja. “Iya aku tahu kamu bisaaa ...,” raungnya, sambil mencubit lengan atasku dengan keras. Tapi cubitan itu enggak kerasa apa-apa, karena ototku memang kencang hasil nguli di Batam. “Tuh, kan ototnya aja macho. Tapi gapapa ini mah, suwer, deh. Aku aja yang masak. Kamu tunggu aja di kamar, ya.”

Karena enggak akan selesai-selesai, ya sudah aku menyerah saja. “Oke.”

Ketika kami masuk ke rumah, orangtua Tono sedang tak ada. Ayahnya bekerja di pemerintahan Kabupaten Sukabumi, ibunya menjadi guru. Tono anak bungsu dari empat bersaudara. Dua kakaknya yang lain (selain Bang Raka) sudah menikah dan pindah ke ibu kota. Tinggal Bang Raka sang preman yang masih ada di rumah ini karena orangnya malas bekerja, pendidikannya enggak tinggi, dan hobinya pamer kontol. Tono cerita itu semua ketika kami belanja bahan bikin spageti, yang artinya itu mengonfirmasi kata-kata Satria.

Tono téh enggak jelek ya, Kang. Cuma ngasih tahu aja ini mah. Tono téh sekadar banci yang gemulai aja. Kalau dia diam jadi Patung Pancoran, Tono pasti ganteng dan macho. Nah, karena Tono aja ganteng, kemungkinan besar Bang Raka juga lumayan enggak, sih?

Aku akhirnya lihat penampakan preman pasar itu pas masuk ke dalam rumah. Bang Raka lagi masuk rumah dari halaman belakang. Dia cuma pake celana pendek jins aja, sisanya telanjang. Di lengan atas, dada, dan perut bagian kirinya ada tato. Jenis-jenis tato kampung gitu, lah. Yang warnanya hijau. Badan Bang Raka lumayan besar, meski aku masih lebih jangkung daripada dia. Rambutnya juga pendek, mengacaukan fantasi aku bahwa preman pasti rambutnya jabrik, atau botak sekalian.

Ini mah ganteng. Sumpah, Kang. Bang Raka kayak pemuda ganteng mahasiswa dengan rambut tercukur rapi ala PNS, alis tebal, hidung besar, dan muka garang yang seksi. Bedanya kulit Bang Raka agak-agak gelap dibandingkan Tono. (Tapi kan Tono perempuan, bisa jadi dia skincare-an setiap malam.)

(Tapi kan, Akang-Akang di sini mah ngelihat cowok macho kulit gelap juga gapapa, kan Kang? Ngaku!)

“Siapa?” tanya Bang Raka galak.

“Teman aku, lah! Anak baru di sekolah,” balas Tono sambil memutar bola mata dan menarikku ke tangga melingkar menuju lantai dua. “Aku mau bikin spageti. Jangan ganggu! Dan, jangan ganggu teman aku!” Dengan angkuh Tono menarikku menyusuri tangga.

“Anjing!” umpat Bang Raka sambil geleng-geleng kepala.

Bang Raka juga membuntuti kami di belakang. Bedanya, aku masuk ke kamar Tono yang berada dekat tangga. Bang Raka masuk ke kamar di ujung lorong, kamarnya sendiri. Di kamar Tono yang superrapi, wangi cologne perempuan, dan jejeran tas kertas Bodyshop dan Zara di atas lemari, aku diminta duduk di atas tempat tidurnya. Di seberang tempat tidur ada satu meja rias yang dipenuhi botol-botol perawatan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Losion, minyak untuk bayi, toner, serum, pelembap, kotak makeup, dan apa pun benda-benda cewek yang aku enggak tahu namanya.

“Kamu tunggu di sini. Enggak boleh ke bawah sebelum aku panggil buat makan spagetinya!” titah Tono sambil mengedipkan satu mata.

“Berapa menit aku nunggu?”

“Satu jam, lah.”

Aku ngerutin alis. “Kok lama banget?”

“Ya kan aku enggak pake spageti instan, Sayang. Ups, maaf aku bilang sayang. Hihihi.” Tono cekikikan dulu sebentar. “Tadi kan aku beli bahan dari awal. Tepung, daging, ikan teri, semuanya aku bikin pake racikan resep rahasiaku yang bisa kamu tonton di channel Youtube aku.”

Resep rahasia ... di channel Youtube? Di mana bagian rahasianya?

“Aku harus bikin dulu pastanya, lalu aku harus bikin sausnya, lumayan ribet deh. Udah kamu tunggu di sini aja. Aku nyalain laptop, ya,” ujar Tono sambil menyalakan komputernya. “Kamu kalau mau nonton drakor sambil nunggu aku boleh, lho. Ini udah tersambung Wi-Fi.”

“Drakor?” Aku ngerutin alis karena enggak paham.

Yaolo, lupa. Kamu kan macho,” gumam Tono sambil cekikikan lagi. “Ya nonton apa pun deh dari Youtube. Kamu tonton aja sambil nungguin aku. Oke, oke?”

Aku mengangkat bahu. “Oke.”

“Kamu boleh pegang semua barang di kamarku, kok. Suwer deh. Kalau bisa pegang yang lama, ya! Hihihi .... Oke, aku ke bawah dulu.”

Lalu pintu pun ditutup.

....

Apa aku nonton drakor atau Youtube? Atau menyentuh semua barang-barang Tono? Ya enggak atuh, Kang. Begitu aku yakin si Tono udah ada di bawah, di dapur, sibuk mengubah tepung jadi mi spageti, aku keluar kamarnya dia. Aku tetep nyalain sih drakor di laptopnya, pasang volume agak lumayan supaya Tono ngiranya aku beneran nonton. Tapi sebenernya aku téh keluar dan menghampiri kamar Bang Raka.

Sebelum keluar, aku ambil sebuah benda dari kamar Tono yang mungkin akan berguna nanti. Yaitu, baby oil.

Pintu kamar Bang Raka kebuka dikit. Aroma apak kamar cowok yang urakan langsung kecium dari luar. Bang Raka lagi nelepon seseorang.

“Bukan gitu, Neng ... haduh, Aa téh beneran enggak bisa—eh eh eh, bentar dulu. Biar Aa jelasin dulu ... iya, Neng dengerin dulu. Aa téh pengin pisan nemenin Neng ka Bogor buat pamer depan temen-temen kuliah, da emang Aa yang paling ganteng di Weningmas, tapi Aa beneran ada acara hari itu. Suwer samber kuntilanak deh, Neng. Suwer! Aa bukan ... eh eh Neng, atuh jangan ngambek atuh, Aa téh, kan—yaaahhh ... ditutup.”

Bang Raka menatap ponselnya sambil garuk-garuk kepala bingung. Siapa pun yang dia telepon, atau apa pun yang dia bahas, tidak berakhir sesuai keinginannya.

Aku dengan kurang ajar membuka pintu kamar. “Samlekum, A!” sapaku dari ambang pintu. Kepalaku melongok ke dalam. “Wih, keren euy kamarna!” Kuedarkan pandangan ke seluruh kamar.

Kamarnya jelek dan enggak banget, Kang. Masih mending kamar Tono ke mana-mana. Tapi kan aku mesti muji-muji ini preman.

Nya keren atuh!” balas Bang Raka sombong. “Masa kamar orang paling ganteng enggak keren.”

“Saya boleh masuk enggak, A?”

“Mau ngapain kamu téh? Bukannya kamu sama si Tono?”

Aku tersenyum sambil masuk dan duduk di atas lantai, tepat di depan Bang Rakanya. Preman itu juga duduk di lantai, bersandar ke tempat tidur yang berantakan, yang seprainya entah sudah di mana. Kedua tangan Bang Raka digantungkan ke pinggiran tempat tidur. Posisinya slengean seperti preman.

Ya memang preman, sih.

Tapi Bang Raka ini rada-rada berotot. Mungkin pernah nge-gym, lalu sisa-sisa ototnya masih tercetak di balik tubuhnya yang kini agak-agak berisi. Perutnya juga agak buncit, di mana aku mah yakin itu gara-gara kebanyakan minum bir. (Di kolong kasur sana ada beberapa botol bir kosong.) Tapi tetep aja, bahu, dada, sama lengannya mah berotot, Kang. Tetep ganteng dan gagah.

“Saya nge-fans sama Aa,” bualku gombal.

“Emang harusnya gitu.” Bang Raka ngangkat dagunya sedikit. “Terus kamu ke sini mau minta apa? Mau gabung di geng saya?”

“Ah, saya mah enggak pantas gabung di gengnya Aa. Masih sekolah juga sayanya. Entar A, kalau udah rada gedean.”

“Bagus! Sekolah dulu yang bener. Harus jadi orang pintar,” saran Bang Raka dengan sangat bijak.

Sekaligus hipokrit.

“Terus, rék naon kamu ke sini, hah?”

Aku tersenyum lebar sambil menunduk dengan sopan, khas orang Sunda. “Saya téh denger kabar dari banyak orang soal kehebatan Aa. Kalau boleh mah, saya pengin lihat, A. Saya penasaran.”

“Oh, soal kontol?” tebaknya dengan sangat tepat.

Aku hanya terkekeh saja. Mengiakan.

Bang Raka menatapku sejenak, dari atas sampai bawah. Seolah-olah dia menimang-nimang sesuatu. “Kamu ganteng juga,” ujarnya, menyipitkan mata. “Ganteng nomor dua setelah saya, lah. Berarti kamu bisa gantiin saya.”

“Gantiin?”

“Salah satu kabogoh saya, si Mira, harus ke kondangan di Bogor. Terus saya diajak, tapi saya enggak bisa ikut.”

“Kenapa enggak bisa, A?”

“Sebab si Neneng, kabogoh saya yang lain, ngajak ewean pas hari kondangan éta. Pas pisan! Masa iya saya sekip si Neneng? Montok kitu si Neneng téh! Kalau kamu bisa gantiin saya nemenin si Mira, bagus!”

“Emang Miranya gapapa?”

“Si Mira mah cuma butuh sosok lalaki ganteng hungkul. Dia mah enggak butuh sayanya. Dia butuh lalaki buat dipamerin ke temen-temennya. Karena saya yang paling ganteng, ya saya yang diajakin. Kamu mau gantiin saya teu?”

Aku menarik napas sambil mempertimbangkan tawaran itu. “Hmmm ... boleh aja, sih A. Tapi ada syaratnya, boleh?”

“Anjing, pake syarat-syarat sagala. Mentang-mentang kamu orang ganteng nomor dua!” Bang Raka mendengus. “Syarat apa?”

Aku tersenyum lebar. “Saya téh kagum sama itunya Aa. Orang-orang ngomongin terus soal kanjutna Aa. Kan saya jadi penasaran segede apa.”

“Harus!”

“Nah, saya pengin ngadu kanjut saya sama kanjut Aa. Kalau punya Aa memang lebih gede dari saya, entar saya yang nemenin Teh Mira ke kondangan.”

“Kamu téh nantang?!” Bang Raka tertawa keras. Bahunya berguncang dengan nada meremehkan. “Jangan sok-sok nantang saya, anjing! Mun kamu kalah, kamu modar.”

“Jangan atuh, A. Kan saya téh nge-fans sama Aa.”

“Terus kalau kamu yang lebih gede, meskipun teu mungkin, kamu mau minta apa, hah?”

Aku tersenyum lagi. Menatap wajah Bang Raka penuh agenda tersembunyi. “Ah, saya mah udah ketemu A Raka udah seneng saya mah. Ada sih yang saya pengin, tapi iseng-iseng aja. Lagian pasti saya kalah dari A Raka.”

“Iya apa yang kamu pengin téh?”

Aku narik napas sambil garuk-garuk kepala yang enggak gatal. Ngasih kesan aku agak malu-malu nyebutinnya. “Gimana, ya. Enggak usahlah, pasti saya mah kalah.”

“Heh! Buru ngomong! Apa yang kamu pengin, hah?” Bang Raka jadi kesal sendiri.

“Kalau enggak juga enggak usah diturutin kok, A. Ini mah heureuy aja. Bercanda.”

BUK! Bang Raka memukul ranjang di belakangnya. “Ribet, manéh! Mun saya kalah, kamu pengin apa? Bilang!”

“Saya pengin masukin jari saya ke bujur Aa.”

(Omong-omong, bujur tuh pantat ya, Kang. Bukan garis melintang dari atas ke bawah.)

Bang Raka memelotot selama tiga detik, kemudian ngakak keras. “ANJING!” umpatnya. “Hahaha ... sia homo?!”

Aku garuk-garuk kepala sambil ikut tertawa. “Sebenernya, saya téh suka bujur cewek, A. Suka pengin masukin jari ke bujur cewek. Apalagi yang montok. Tapi cewek suka enggak ada yang mau. Siapa tahu saya bisa cobain di bujur Aa. Hehehe.”

“Ya emang bujur cewek téh seksi! Saya gé sok hayang pisan masukin kontol ke bujur cewek! Tapi kasihan atuh ceweknya.”

“Ya makanya, A. Kalau saya menang—tapi kayaknya enggak akan sih, pasti Aa yang menang—saya pengin coba masukin jari saya ke bujur Aa. Tapi kalau Aa enggak mau juga gapap—”

“Kenapa enggak ke si Tono aja?” potong Bang Raka, masih agak-agak ngakak. “Pan adik saya téh bencong. Pasti mau bujurnya dimasukin curuk kamu!”

Aku ikut tertawa. “Ah, enggak menantang. Kalau saya bisa sama cowok paling ganteng di Weningmas mah, kenapa saya sama Tono. Bener enggak, A?”

“Bener! Bener!” Bang Raka manggut-manggut setuju. Kemudian, Bang Raka berdiri dan mulai melorotkan celananya. “Sok, mana punya kamu!”


[ ... ]

< Sebelumnya | Berikutnya >

Komentar