(HD) 10. Gila, luuu! Anjing, luuu! Gilaaa! Ya?!




HALO, KAK!

SORRY CAPSLOCK SEMUA KARENA AKU LAGI PANIK!

“AAAAAAAAARRRGGGHHH ...!”

Fian langsung meletakkan telunjuk di depan bibirnya dan menghardikku. “Jangan berisik,” bisiknya. “Dan jangan bergerak.”

Aku yang sedang meletakkan kedua tangan di pipi langsung membeku. Mataku membelalak, mulutku menganga, persis bocah menyebalkan di sampul film Home Alone. Jantungku berdegup kencang tetapi aku hampir tak bisa menggerakkan kakiku.

Aku benar-benar mematung. Kalau aku bergerak satu senti aja, rasanya seperti aku akan ditembak dari jauh. Dalam kepalaku sudah muncul sebuah lagu ....

“Mugunghwa kkochi pieotseumnida ....”

“Ular ngerespons lewat vibrasi. Jadi ..., jangan bergerak,” ungkap Fian, ke aku dan Ezel yang panik setengah mati di sana.

Ezel otomatis membeku dengan wajah pucat. Kedua tangannya menutup mulut. Matanya membelalak lebih bulat dibandingkan mataku, menatap ular yang merayap di sekitarnya.

Oke. Kujelaskan dulu ularnya bagaimana.

Aku enggak paham ular-ularan—ular yang sering kujinakkan dan ajak main biasanya bisa crot, crot, crot pas aku belai. Ular di depan kami ini kayaknya bersembunyi di balik batu yang dijadikan sandaran oleh Ezel. Batunya kan besar. Ada lubang kecil di belakangnya, yang kata Fian mungkin itu rumahnya mamalia sekitar sini, atau memang tercipta gara-gara aliran air yang berbelok ke delta—karena memang air sungai sesekali keluar dari situ.

Ular itu besar dan panjang. Sumpah! Kepalanya sebesar kakiku, dengan rahang yang kalau terbuka lebar, mungkin kepalaku bisa masuk ke dalamnya. Diameter ular itu juga lebih besar dibandingkan otot-otot Fian yang sudah paling besar di sekitar sini. Coraknya sangat umum. Persis ular-ular raksasa yang sering kita lihat di berita TV ditemukan di rumah-rumah warga. Ular itu merayap pelan di samping tubuh Ezel, bergerak lurus seperti kereta api.

Tiba-tiba, ular itu berhenti untuk melihat keadaan. Kepalanya berada tepat di samping kaki Ezel.

“Itu ular piton,” bisik Fian lagi, tanpa mengalihkan pandangan dari sang ular. “Jangan buat gerakan mendadak. Oke? Kamu bisa, Ezel?”

Ezel tidak bisa menjawab. Dia masih di posisi yang sama. Matanya membelalak, tetapi dipenuhi air mata, dan air matanya sudah mengalir ke pipi. Ezel tak bergerak sama sekali. Bahunya berguncang kecil, tetapi dia mati-matian menahannya. Aku bisa melihat dada Ezel naik turun mencari napas. Mungkin dia merasa sesak.

Ular itu diam saja di sana, menatap ke arah kami.

Aku merasa ketakutan, lututku mulai bergetar.

Fian melangkah pelan-pelan menghampiri mereka. Gerakannya lambat sekali, dengan kedua tangan terbuka, kalau-kalau ular itu menyergapnya.

Aku enggak tahu apakah ular itu bisa bergerak cepat seperti anakonda dalam film-film. Tapi enggak bergerak pun, rasanya horor banget. Mataku menyapu pandangan ke seluruh area. Cemas jangan-jangan kami berada di sarang ular sedari tadi. Tiba-tiba saja corak batang pohon besar di dekatku terlihat seperti ular.

“Tenang aja, Ezel,” bisik Fian, masih berjalan pelan-pelan menghampiri mereka.

Ezel tak bisa tenang. Kepalanya geleng-geleng. Matanya berkaca-kaca. Kadang dia mengerjapkan mata dengan ketakutan, tetapi ketika membukanya lagi, lalu melihat ular itu masih ada di sampingnya, Ezel membelalak lagi.

“Ezel ... jangan banyak bergerak ...,” bisik Fian.

Ezel bergerak. Kedua kakinya mencoba menjauh dari kepala ular. Pelan-pelan, sih. Tapi menjauh. Kedua kaki itu juga bergetar hebat.

“Ezel .... Tenang aja. Kakinya jangan dipindah—“

Kata-kata Fian terputus karena kepala ular itu mulai naik dan merayap di atas kaki Ezel. Lidahnya melet-melet menyentuh kaki telanjang Ezel.

“AAARGH!” Ezel berteriak, tetapi suaranya hampir tak kedengaran. Seluruh tubuhnya berguncang hebat. Dari jarak lima meter, aku bisa mendengar Ezel tersedu-sedu ketakutan.

“Ezel ...,” panggil Fian lagi, masih berusaha mendekati Ezel pelan-pelan. “Tenang Ezel ....”

Fian sudah semakin dekat. Punggungnya yang kekar menegang. Aku bisa melihat otot-otot Fian mengembang, tapi bukan untuk flexing kayak anak-anak gym. Fian bersiap-siap jika harus bertarung dengan ular itu dan menggunakan seluruh tenaganya.

Masalahnya .... Ini ular panjang banget, Kak! Jauh lebih panjang dari “ularnya” Xavier!

Ketika ular itu naik ke atas kaki Ezel yang cedera, tubuh bagian belakangnya perlahan-lahan mulai keluar. Lebar perut ular itu gede banget. Sudah pasti tubuh si Ezel bisa masuk ke dalamnya! Yang bikin sebal adalah, bagian belakang ular itu masih belum kelihatan, cuy!

Ularnya panjang banget!

Perkiraanku, ular ini sudah keluar kira-kira dua meter, tapi belum ada tanda-tanda buntutnya kelihatan.

Lututku lemas, sumpah. Badanku juga bergetar hebat. Enggak kebayang kalau ada di posisi Ezel sekarang. Mana dia takut ular, kan? Ular mungil yang kami temui tadi saja Ezel bisa panik banget. Lah ini ular siluman segede kereta api Whoosh malah muncul dari belakang Ezel.

“Ezeeelll ...,” panggil Fian lagi, sembari melangkah lebih dekat ke arah Ezel, tetapi memutar agar tidak berada dalam penglihatan si ular.

Ezel menjawab dengan tangisan. Kakinya berguling ke samping, mencoba menjauh, tetapi ular itu sudah merayap di atas kakinya. Kalau Ezel mengguncangnya, kemungkinan ularnya marah.

Lama-lama, badan ular yang tampaknya tak pernah usai, keluar dan berkelok menghantam tubuh Ezel. Perut ular itu besar. Di titik ini aku yakin banget kami bertiga bisa masuk ke dalamnya. Ezel membelalak semakin bulat saat melihat perut yang besar itu. Mungkin karena ketakutan, insting bertahan hidupnya muncul dan Ezel pun ....

Berguling ke samping, mencoba kabur.

Sayangnya, gerakan itu men-trigger ular untuk langsung melilit kaki Ezel. Perut ular itu keluar lebih cepat seperti mencari ujung lain tubuh Ezel agar bisa langsung diremasnya.

Dan Fian melemparkan dirinya ke arah mereka.

“AAAAAARGH!”

Fian langsung mencekik leher ular itu.

Dia menginjak satu bagian di tubuh ular itu ..., lalu menariknya menjauh dari Ezel.

Namun ular itu dengan kilat membelokkan perutnya yang besar, mencoba menyambar kepala Ezel.

“AAAAAARGH ...!”

Fian menjatuhkan tubuhnya ke belakang agar perut itu tidak mengambil kepala Ezel.

“BAWA EZEL PERGI DARI SINI! BAWA PERGI!” teriak Fian panik.

Aku tahu seharusnya itu ditujukan kepadaku, tetapi aku enggak berani. Kakiku terjerembab di atas delta yang berlumpur, hampir enggak bisa diangkat. Sama seperti Ezel, aku juga ketakutan dan hampir menangis.

“BAWA PERGI!” Fian menggulingkan tubuhnya agar ular itu melilit tubuhnya saja.

Dan benar, ular itu langsung mencoba meremas kepala Fian.

“AAAAAARGH ...!”

Ezel pingsan setelah berguling ke tepi air.

“BAWA PERGI!” teriak Fian sambil memelotot, dan pelipisnya dipenuhi urat.

Dengan panik, jantung bertalu-talu, keringat dingin di sekujur tubuh, aku melangkah menghampiri Ezel.

Langkah pertama, aku jatuh ke atas tanah yang mulai basah. Lututku rasanya seperti jeli. Kenyal dan tidak bisa dipakai untuk berdiri. Jadi, aku merangkak menghampiri Ezel.

Aku sudah menangis betulan. Mataku waspada melihat tubuh ular besar yang melilit Fian. Rasanya seluruh tubuhku kesemutan karena merinding. Kulihat sisik-sisik ular itu bergemerisik seperti mencoba mengembang. Bagian bawah ular yang memiliki pola garis-garis terlihat sangat menakutkan.

Ketika aku sampai ke depan Ezel, aku enggak tahu harus membawa Ezel pergi ke mana.

“AAAAAARGH!” Fian masih bertarung dengan ular itu, mencoba membebaskan diri dari belitannya yang kuat.

Kalau kubawa ke hutan, gimana kalau ada ular lain yang bersarang di sana?!

Kalau kubawa ke sungai, gimana kalau ada ular air yang berenang di dalamnya?!

“BAWA ... AAAAAARGH ...! BAWA .... PER ... GIII ...!”

Fian sedang berusaha melepaskan dirinya dari belitan ular itu. Dengan tubuh telanjang dada, aku melihat otot-otot Fian mengembang keras, mengeluarkan sisa tenaga yang dia punyai. Persis seperti Captain America sewaktu menahan helikopter dari puncak sebuah gedung pencakar langit. Otot-otot itu membulat, mengeras, lekukan-lekukannya tampak kentara, dan wajah Fian ....

... wajah Fian seperti kesakitan.

Hidungnya mengernyit hebat.

Mulutnya menganga lebar sembari menyerukan erangan, “AAAAAAAAARGH ...!”

Urat-urat di pelipisnya semakin bermunculan.

Kepalanya bergetar kecil seperti menahan beban yang sangat berat—persis wajah semua atlet angkat besi saat mengangkat beban terberatnya.

Kedua tangannya direntangkan, mencoba menjauhkan lilitan ular besar itu.

Satu tangannya mencekik leher ular yang besar kuat-kuat, sementara satu tangan yang lain meremas bagian perut ular yang lebar, yang tidak teremas sama sekali.

Lalu satu bagian lain ular mencoba melilit perut Fian yang seksi, yang otot six pack-nya tiba-tiba saja mencuat keluar, mengilat oleh keringat.

Sekarang dia lebih mirip X-Men sewaktu menahan antimatter itu bersama Deadpool.

“AAAAAARGH ...! BAWAAA ... PERGIIIIII ...!”

“Oh!” Aku mencoba mengangkat tubuh Ezel, tetapi aku malah terjatuh ke belakang.

BYUR!

Aku masuk ke dalam air sungai, terbawa hanyut sejauh beberapa meter, tetapi berhasil naik lagi ke permukaan dan merangkak dengan lutut lemas menghampiri Ezel. Aku mencoba menarik Ezel ke arah air, tapi setelah itu bingung harus menyeretnya ke mana lagi. Enggak mungkin dibawa ke dalam air. Nanti hanyut juga kayak aku barusan!

“AAAAAARGH ...!” Fian masih berjuang keras keluar dari lilitan ular.

Sungguh, ular itu lambat. Tapi ular itu besar dan kuat. Fian enggak bisa kabur begitu saja, karena sekarang kakinya mulai dililit bagian lain sang ular yang entah datang dari mana.

“ADEEEKKK ...!” panggil Fian. “ARGH!” Lilitan di perut ular tampak kencang. Seluruh wajah Fian merah. “BAWAAA ... PEEERRR ... GIII ...!”

“Bangun, Ezel! Bangun!” Aku mengguncang tubuh boti itu.

Dan Ezel beneran bangun! Dia membuka matanya, kemudian celingukan.

“Ayo kita pergi!” kataku.

Namun Ezel malah geleng-geleng kepala sembari menangis lagi.

“AAAAAARGH!” Sekarang seluruh tubuh Fian memerah. Kulitnya terlihat basah, urat-uratnya bermunculan hampir di banyak tempat. Jangan tanya lagi soal ototnya. Kalau ada juri body contest di sini, Fian otomatis menang.

Aku tak tahu bagaimana cara menyelamatkan Fian, tetapi sedari tadi aku disuruh membawa Ezel pergi, jadi aku tarik lagi saja boti itu ke dalam air. Sewaktu Fian menggendongku tadi, ada bagian air yang dangkal di pinggir sungai, yang tidak terlalu deras alirannya. Jadi aku mendorong Ezel ke—

“AAAAAARGH!” Ezel yang menjerit sekarang.

Akhirnya ekor ular panjang itu keluar dari sarangnya, kemudian bergerak ke arah kami dan ....

... membelit kaki Ezel.

Bukan kaki yang cedera, tetapi buntut ular itu benar-benar melilit pergelangan kaki Ezel.

Hal pertama yang kulakukan adalah menarik tubuh Ezel ke arah air. Sayangnya tanganku licin, sehingga aku malah terlempar ke belakang, berguling dan masuk ke dalam air, BYUUURRR ...! Lalu aku hanyut lagi dengan alirannya.

Kali ini aku hanyut agak jauh dibandingkan sebelumnya. Namun aku berhasil berpegangan ke salah satu akar pohon yang melintang, kemudian aku menarik tubuhku ke tepi, dan merangkak lagi seperti bayi menghampiri Ezel.

Boti itu sedang ketakutan, menangis, dan menjerit-jerit sembari menendang-nendang kakinya. Dia menarik tubuhnya ke arah air meski tak ada progres apa pun.

“API! API!”

Kudengar Fian meneriakkan kata-kata itu.

“API!”

Aku melihat ke api unggun yang kelihatannya masih menyala. Aku tidak tahu maksud Fian apa, tetapi aku berpikir, oh mungkin kita harus membakar ular raksasa ini. Jadi sambil merangkak menghampiri Ezel, aku mampir sebentar untuk menaburkan dedaunan kering ke api unggun itu, supaya apinya membesar.

Enggak besar-besar banget, sih. Agak lama untuk api itu berkobar. Apalagi aku sudah kehabisan dedaunan kering, sehingga aku memutuskan berjalan ke arah Ezel untuk membantunya.

Aku enggak pernah menyentuh ular macam begini dan enggak akan pernah mau menyentuhnya. Tapi aku tahu, aku enggak punya pilihan lain selain membuka lilitan ekor ular di kaki Ezel untuk membebaskannya. Aku enggak tahu piton jenis ular apa, tetapi melihat ular itu sedari tadi hanya melilit dan tidak menyergap secara agresif seperti ular kobra, kusimpulkan dia tak punya bisa.

Setengah menangis aku memegang ekor ular itu dan mencoba melepaskannya dari kaki Ezel.

Licin banget, ya Tuhan.

Permukaan kulitnya menggelikan.

Dan kuat banget ular ini.

Aku berhasil melepaskannya meskipun aku merasa panik dan ketakutan.

Namun sialnya, ekor ular itu kini melilit pergelangan tanganku!

“AAAAAARGH!”

Aku menjerit ketakutan. Aku berusaha melepaskan lilitan itu dengan tangan satunya lagi, tetapi aku gagal.

Belitannya kuat banget, Kaaakkk ...!

Padahal ini cuma ekornya! Apa kabar Fian di situ yang bertarung melawan seluruh tubuh sang ular!

Aku mulai goyah. Aku menangis dan mencoba menarik ekor ular itu ke arah berlawanan.

Kurasakan Ezel membeluk tubuhku dengan ketakutan, menyembunyikan wajahnya di balik punggungku.

Aku memeluk kepala Ezel sembari aku memejamkan mata.

Sembari aku menarik tanganku agar lepas.

Sembari aku berdoa.

Sembari aku menangis.

Sembari aku mendekap Ezel kuat-kuat dengan tubuh berguncang.

“Kita mati .... Kita mati .... Kita mati ...,” gumam Ezel berulang-ulang.

“Enggak, kita enggak akan mati!” balasku, setengah berteriak.

“Kita mati .... Kita akan mati .... Kita akan mati—“

“Kita enggak akan mati!” hardikku, masih ketakutan. “Kita masih hidup!”

“Kita akan mati .... Kita mati!”

“Enggak akan!” Aku menarik napas panjang sembari mendekap kepala Ezel kuat-kuat. “Sekarang ikuti kata-kataku!”

Ezel mengangguk patuh.

“Ashaduuu ....”

“Ashadu ....”

“Alaa ....”

“... ala ....”

“Ilaa ....”

“... ila ....”

“Hailal—“

“DI SANA!”

Kata-kataku terpotong ketika aku mendengar suara seseorang yang bukan Ezel bukan Fian, menggema di sekitar kami. Aku mengangkat kepala dan melihat ....

... serombongan tim penolong muncul di atas perahu karet berwarna oranye terang.

Ada dua perahu karet yang muncul. Masing-masing perahu karet menampung empat orang laki-laki. Sebagian di antaranya aku kenal. Ada Erick, kakaknya Ezel. Ada Bondan. Ada juga penjaga hutan yang kami temui di pos awal tadi.

“TOLOOONNNGGG ...!” Aku langsung berteriak sembari melambaikan tangan ke atas. Kulepaskan kepala Ezel dari dekapanku, dan kepala Ezel langsung jatuh ke atas air, tetapi Ezel bangkit lagi dan kembali memelukku.

Aku enggak perlu cerita detailnya ya, Kak.

Intinya ....

... kami bertiga selamat malam itu.


[ ... ]


Badan kami.

Hatiku sih enggak selamat.

Huhuhu.

Ezel memeluk Fian terus-terusan selama evakuasi.

Oke, singkat cerita, rombongan penyelamat itu datang dan langsung mencerna situasi. Empat orang nyamperin Fian dan membantunya melepaskan lilitan sang ular yang kuaaattt ... banget itu. Dua orang melepaskan lilitan buntut ular di kakiku. Entah gimana caranya, mereka berempat berhasil menggotong ular sepanjang 6 meter itu (penjaga hutan yang bilang begini), ke area lain, seraya kami semua menyelamatkan diri.

Fian menghampiri kami dengan tubuh nge-pump kayak habis nge-gym. Badannya basah total oleh keringat. Lalu, sorotan cahaya matahari tenggelam yang keemasan menyinari tubuhnya yang seksi, mempertegas lekukan-lekukan kekar yang kokoh itu. Fian bermaksud melihat gimana kondisi kami. Tapi belum juga ngomong apa-apa, Ezel langsung menghambur ke pelukan Fian.

Memeluk tubuh Fian dengan erat.

Dan enggak dilepas sampai kami tiba di salah satu pos di hilir, di mana semua orang lain sudah menunggu kami dengan motor-motor yang dibawa.

Kakak kandung sebenarnya malah ngomel-ngomel ketika kami berhasil mengevakuasi diri dari delta itu. “Gila, luuu! Anjing, luuu! Gilaaa! Ya?! Emang enggak punya otak lu! Jalan ke pinggir sampe jatuh ke sungai! Anjing, lu! Gilaaa!” Bahkan, Erick mencoba mendamprat muka Ezel.

Namun Fian melemparkan badannya ke tengah-tengah, sehingga Erick tidak menghantam adiknya. “Udah, udah, Rick. Udah. Enggak apa-apa.” Yang kena hantam justru petugas penyelamat yang sedang mengecek luka Ezel.

“Niat gue baik, anjing! Ngajak elu naik gunung supaya lu jadi laki! Gila, luuu! Anjiiing ...!” Erick enggak berhenti mencerocos memarahi adiknya, sampai-sampai mereka harus dipisahkan di dua perahu karet itu.

Fian di perahu pertama bersama Ezel, di mana Ezel memeluk Fian terus-menerus sembari menangis. Sementara aku ada di perahu karet yang ada Ericknya, yang sepanjang perjalanan ngomel-ngomel sendiri menjelek-jelekkan adiknya. Saking bacotnya, aku sampai menghitung berapa banyak Erick mengatakan gila, anjing, lu, dan ya. Jumlah semuanya di atas 30. Paling banyak kata, “Ya!”

Oke, back to ular, kebetulan di perahuku ada si penjaga hutan tadi. Setelah kujelaskan dengan detail seluruh kronologinya, dia menjelaskan bahwa kami bertiga tadi menunggu di sarang sang ular. Tepat di balik batu itu, ada lubang di mana terdapat telur-telur ular piton yang sedang dierami. Normalnya, ular itu akan menunggu telurnya sampai pecah, tetapi sang induk merasa terganggu dengan “heat” yang tiba-tiba muncul di sekitar sarangnya. Heat apa?

Api unggun.

Api itu mengundang ular untuk keluar dan mencari tahu. Sayangnya, ketika Ezel berguling, ular itu waspada dan membela diri. Di situ Fian masuk untuk menjauhkan sang ular dari Ezel, tapi jadinya ular itu menganggap Fian bahaya.

Sang penjaga hutan sudah meletakkan ular ke tempat yang aman, tidak jauh dari telurnya. Bahkan, dia sempat mengecek jumlah telurnya berapa, memastikan tak ada telur yang terkoyak, rusak, atau dicuri mamalia lain. Setelah semuanya aman, mereka melompat ke dalam perahu dan pergi dari situ.

“Orang-orang dari konservasi sering ke delta situ. Mastiin si ular aman dan enggak diganggu pendaki. Awalnya bukan di situ. Itu baru kita pindahin ke situ karena ada pendaki yang ganggu si ular bulan kemaren.”

Aku enggak paham kenapa ada orang yang malah mindahin ular yang sedang mengerami telur ke tempat yang aman ketika kita punya kesempatan untuk memusnahkan telur-telur itu.

Tapi ya sudah. Intinya, sesampainya di pos hilir, pelukan itu belum lepas juga. Ketika kaki Ezel diobati oleh petugas medis setempat, Ezel masih belum mau melepaskan pelukannya.

Aku cemburu. Aku enggak akan munafik. Sumpah.

Setelah Ida menikmati Fian secara terang-terangan di depanku, sekarang ada satu boti yang menduluiku memeluk Fian.

Ya, memang, aku yang nyukur ketek Fian sampai mulus begitu. Sampai kinclong terkena sinar matahari sore waktu Fian membentangkan tangan menjauhkan ular dari badannya. Ketek itu basah, mulus, berwarna keemasan, dan ototnya menegang dengan seksi. Tapi meski aku hampir melihat Fian telanjang ....

... aku belum pernah memeluk Fian selama itu!

AAAAAARGH!

GILA, LUUU ...! ANJING, LUUU ...! GILAAA ...! YA!

Memeluk di motor waktu kami berangkat pagi tadi tuh beda, ya! Memeluknya Ezel tuh dalam kondisi Fian setengah telanjang, badannya basah oleh keringat, dan ototnya lagi nge-pump!

GILAAA, LUUU ...!

Dan apa yang makin gila lagi? Ezel masih memeluk Fian sampai kosan.

Jadi, karena Erick ngamuk-ngamuk sama Ezel berkat kejadian ini, Ezel menangis ketakutan dan enggak mau pulang dibonceng Erick. Akhirnya gimana? Akhirnya ya Fian yang membonceng Ezel sampai kosan, dibuntuti aku yang dibonceng Erick, yang sepanjang perjalanan ke kota masih belum selesai ngomel-ngomel ke Ezel.

Sejauh ini:

Gila 157 kali.

Anjing 112 kali.

Lu 210 kali.

Ya 189 kali.

Begitu Ezel di-drop di kamarnya, Fian melarang Erick masuk ke kamar sang adik.

“Udah, udah, lu langsung ke lanud sekarang. Biarin adik lu istirahat. Kakinya juga masih cedera,” kata Fian, sembari pake baju.

Yep. Fian enggak pake baju dari gunung sampai kosan Ezel. Kan, WHAT THE FUCK?!

Ezel enggak mau melepaskan pelukannya dari tubuh seksi kekar berotot itu. Ditarik bagaimana pun, Ezel malah nangis dan kejang-kejang. Alhasil, Fian mengambil jaketnya, memakaikannya terbalik—bagian punggung di depan. Kemudian berkendara pulang. Jadi sepanjang perjalanan, Ezel tuh nempel ke punggung telanjang Fian, wajahnya terbenam di punggung kekar sang tentara. Kedua tangannya mendekap perut Fian di depan, erat banget sampai Fian terlihat sesak napas.

Nah, di situ aku iri, Kak.

AKU IRI!

HUH!

Ternyata begini rasa iri yang sering Kakak rasakan ke aku.

Beneran deh, enggak enak banget!

Aku cemburu!

Aku cemburu bukan main melihat Fian membonceng Ezel sambil pelukan. Apalagi Erick nyetir di belakang mereka. Jadi sepanjang jalan aku melihat si Ezel tuh lagi nemplok ke punggung Fian. Si Erick enggak mau nyusul mereka karena Erick butuh ngomel-ngomel sambil nyetir, sambil mengacungkan jari tengah ke sang adik di depannya.

Yang masuk ke kamar Ezel pun Fian. Erick dilarang ikut. Sempat berantem mereka berdua, tapi karena ada Ezel di situ, Erick pun menyerah. Dia mondar-mandir di depan motornya dengan gusar, masih ngomel-ngomel soal Ezel.

Cukup lama Fian mengantar Ezel ke kamar. Dia kembali kira-kira sepuluh menit kemudian. (Itu tuh lama ya by the way.) Masih telanjang dada dan langsung mengenakan jaketnya dengan benar.

“Si Ezel udah istirahat,” kata Fian, merangkul Erick dan membawanya ke motor. “Lu bisa balik ke lanud sendiri, kan?”

“Gue kagak bakal ke lanud!” Erick menepis rangkulan Fian, sikutnya hampir menghantam wajah Fian.

“Kan lu jaga besok!”

“Kagak. Gue mau bolos.”

“Tapi lu jangan ganggu adik lu dulu, ya. Kasihan dia. Omelin entar aja kalau udah baikan—“

“Bukan urusan lu!” Erick akhirnya mengambil helm dan melaju meninggalkan kosan itu entah ke mana.

Fian hanya bisa geleng-geleng kepala sembari menarik ritsleting jaketnya ke atas lalu mengedikkan kepala ke arahku. “Ayo, Dek. Kita pulang.”

Aku cemberut sebenarnya. Aku masih “panas” gara-gara Ezel memeluk Fian selama itu. Tapi ketika kami tinggal berduaan aja, ketika Fian benar-benar “milikku”, rasa cemburu itu lumer.

Sekarang aku bisa bikin Kakak iri lagi kepadaku.

HAHAHAHAHAHA ...!

Sepanjang pulang, aku dibonceng oleh Fian sembari aku memeluknya dari belakang. Enggak lama, sih. Karena kosan Ezel kan dekat dengan kosanku. Hanya beberapa ratus meter saja. Jalan kaki pun, kalau dari tadi aku jalan kaki waktu Fian mengantar Ezel ke kamar, aku sudah akan selesai mandi dan skincare-an di kamarku.

Wajahku tetap cemberut, tapi jujur rasa cemburuku mulai pudar. Aku masih kesal sama si boti itu, tapi aku tahu ..., yang terakhir barengan sama Fian hari ini adalah aku. Bukan dia. Jadi akulah yang sebenarnya “menang”.

Cuma tetap aja, aku mengungkapkan kekesalanku.

“Mesra banget ama si Ezel,” kataku, begitu kami hampir sampai di kosanku.

“Hah?”

“Mesra banget pelukan sama Ezel sepanjang jalan.”

“Lho, Adek tahu kan kalau Ezel perasaannya lagi—“

“Ya, ya, ya,” selaku sembari mendengus kesal.

Kebetulan motor sudah tiba di depan gerbang kosanku. Barusan aku sengaja bilang begitu karena tahu kami sudah hampir sampai. Sehingga, aku bisa langsung pergi ke kamar sementara Fian pergi ke lanud. Aku akan menyiksa Fian dengan pernyataanku barusan, dengan harapan Fian akan kepikiran sepanjang perjalanan pulang, lalu dia enggak bisa tidur, dia merasa bersalah kepadaku, lalu dia akan meneleponku untuk meminta maaf, lalu aku enggak mengangkat teleponnya karena lagi ngambek, aku juga enggak membalas Whatsapp-nya, lalu Fian akan datang besok pagi sambil bawa bunga, dan—

Eh, kok motornya malah masuk ke dalam kosanku?

“Kenapa masuk?” tanyaku ketika melihat Fian membuka pagar dengan roda depan motornya, lalu melajukan kendaraan besar ini ke dalam. Ke area parkiran.

“Mau parkir, lah. Masa parkir di luar kosan?”

Aku membelalak. “Abang ... Abang mau nginap di kosan Mbak Ida?”

“Enggak,” jawab Fian sembari mematikan motor dan menurunkan standar dengan kakinya. Dia juga melepas helm dan menoleh ke belakang. “Dek Ida lagi nemenin temannya yang di rumah sakit kemarin. Kamarnya dikunci.”

Fian turun dari motornya. Aku pun melompat turun sembari membelalak kecil.

“Abang mau tidur sama Adek aja malam ini. Kalau boleh.”

Aku mematung lagi. Seperti saat melihat ular tadi.

“Boleh kan, Dek?”

Aku semakin membelalak. Fian melepas ritsleting jaketnya, menguak abdomen dan torso yang berlekuk-lekuk kekar.

“Dek? Halo, Dek?”

Oh ... sial.

....

Aku ngaceng.


[ ... ]


Komentar