HALO, KAK!
SORRY CAPSLOCK SEMUA KARENA AKU LAGI PANIK!
“AAAAAAAAARRRGGGHHH ...!”
Fian langsung meletakkan telunjuk di
depan bibirnya dan menghardikku. “Jangan berisik,” bisiknya. “Dan jangan
bergerak.”
Aku yang sedang meletakkan kedua tangan
di pipi langsung membeku. Mataku membelalak, mulutku menganga, persis bocah
menyebalkan di sampul film Home Alone. Jantungku berdegup kencang tetapi
aku hampir tak bisa menggerakkan kakiku.
Aku benar-benar mematung. Kalau aku
bergerak satu senti aja, rasanya seperti aku akan ditembak dari jauh. Dalam
kepalaku sudah muncul sebuah lagu ....
“Mugunghwa kkochi pieotseumnida
....”
“Ular ngerespons lewat vibrasi. Jadi ...,
jangan bergerak,” ungkap Fian, ke aku dan Ezel yang panik setengah mati di
sana.
Ezel otomatis membeku dengan wajah
pucat. Kedua tangannya menutup mulut. Matanya membelalak lebih bulat
dibandingkan mataku, menatap ular yang merayap di sekitarnya.
Oke. Kujelaskan dulu ularnya bagaimana.
Aku enggak paham ular-ularan—ular yang
sering kujinakkan dan ajak main biasanya bisa crot, crot, crot pas aku
belai. Ular di depan kami ini kayaknya bersembunyi di balik batu yang dijadikan
sandaran oleh Ezel. Batunya kan besar. Ada lubang kecil di belakangnya, yang
kata Fian mungkin itu rumahnya mamalia sekitar sini, atau memang tercipta
gara-gara aliran air yang berbelok ke delta—karena memang air sungai sesekali
keluar dari situ.
Ular itu besar dan panjang. Sumpah!
Kepalanya sebesar kakiku, dengan rahang yang kalau terbuka lebar, mungkin
kepalaku bisa masuk ke dalamnya. Diameter ular itu juga lebih besar
dibandingkan otot-otot Fian yang sudah paling besar di sekitar sini. Coraknya
sangat umum. Persis ular-ular raksasa yang sering kita lihat di berita TV ditemukan
di rumah-rumah warga. Ular itu merayap pelan di samping tubuh Ezel, bergerak
lurus seperti kereta api.
Tiba-tiba, ular itu berhenti untuk
melihat keadaan. Kepalanya berada tepat di samping kaki Ezel.
“Itu ular piton,” bisik Fian lagi, tanpa
mengalihkan pandangan dari sang ular. “Jangan buat gerakan mendadak. Oke? Kamu
bisa, Ezel?”
Ezel tidak bisa menjawab. Dia masih di
posisi yang sama. Matanya membelalak, tetapi dipenuhi air mata, dan air matanya
sudah mengalir ke pipi. Ezel tak bergerak sama sekali. Bahunya berguncang
kecil, tetapi dia mati-matian menahannya. Aku bisa melihat dada Ezel naik turun
mencari napas. Mungkin dia merasa sesak.
Ular itu diam saja di sana, menatap ke
arah kami.
Aku merasa ketakutan, lututku mulai
bergetar.
Fian melangkah pelan-pelan menghampiri
mereka. Gerakannya lambat sekali, dengan kedua tangan terbuka, kalau-kalau ular
itu menyergapnya.
Aku enggak tahu apakah ular itu bisa
bergerak cepat seperti anakonda dalam film-film. Tapi enggak bergerak pun,
rasanya horor banget. Mataku menyapu pandangan ke seluruh area. Cemas
jangan-jangan kami berada di sarang ular sedari tadi. Tiba-tiba saja corak
batang pohon besar di dekatku terlihat seperti ular.
“Tenang aja, Ezel,” bisik Fian, masih
berjalan pelan-pelan menghampiri mereka.
Ezel tak bisa tenang. Kepalanya
geleng-geleng. Matanya berkaca-kaca. Kadang dia mengerjapkan mata dengan
ketakutan, tetapi ketika membukanya lagi, lalu melihat ular itu masih ada di
sampingnya, Ezel membelalak lagi.
“Ezel ... jangan banyak bergerak ...,”
bisik Fian.
Ezel bergerak. Kedua kakinya mencoba
menjauh dari kepala ular. Pelan-pelan, sih. Tapi menjauh. Kedua kaki itu juga
bergetar hebat.
“Ezel .... Tenang aja. Kakinya jangan dipindah—“
Kata-kata Fian terputus karena kepala
ular itu mulai naik dan merayap di atas kaki Ezel. Lidahnya melet-melet
menyentuh kaki telanjang Ezel.
“AAARGH!” Ezel berteriak, tetapi
suaranya hampir tak kedengaran. Seluruh tubuhnya berguncang hebat. Dari jarak
lima meter, aku bisa mendengar Ezel tersedu-sedu ketakutan.
“Ezel ...,” panggil Fian lagi, masih
berusaha mendekati Ezel pelan-pelan. “Tenang Ezel ....”
Fian sudah semakin dekat. Punggungnya
yang kekar menegang. Aku bisa melihat otot-otot Fian mengembang, tapi bukan
untuk flexing kayak anak-anak gym. Fian bersiap-siap jika harus
bertarung dengan ular itu dan menggunakan seluruh tenaganya.
Masalahnya .... Ini ular panjang banget,
Kak! Jauh lebih panjang dari “ularnya” Xavier!
Ketika ular itu naik ke atas kaki Ezel
yang cedera, tubuh bagian belakangnya perlahan-lahan mulai keluar. Lebar perut
ular itu gede banget. Sudah pasti tubuh si Ezel bisa masuk ke dalamnya! Yang
bikin sebal adalah, bagian belakang ular itu masih belum kelihatan, cuy!
Ularnya panjang banget!
Perkiraanku, ular ini sudah keluar
kira-kira dua meter, tapi belum ada tanda-tanda buntutnya kelihatan.
Lututku lemas, sumpah. Badanku juga
bergetar hebat. Enggak kebayang kalau ada di posisi Ezel sekarang. Mana dia
takut ular, kan? Ular mungil yang kami temui tadi saja Ezel bisa panik banget.
Lah ini ular siluman segede kereta api Whoosh malah muncul dari belakang Ezel.
“Ezeeelll ...,” panggil Fian lagi,
sembari melangkah lebih dekat ke arah Ezel, tetapi memutar agar tidak berada
dalam penglihatan si ular.
Ezel menjawab dengan tangisan. Kakinya
berguling ke samping, mencoba menjauh, tetapi ular itu sudah merayap di atas
kakinya. Kalau Ezel mengguncangnya, kemungkinan ularnya marah.
Lama-lama, badan ular yang tampaknya tak
pernah usai, keluar dan berkelok menghantam tubuh Ezel. Perut ular itu besar.
Di titik ini aku yakin banget kami bertiga bisa masuk ke dalamnya. Ezel
membelalak semakin bulat saat melihat perut yang besar itu. Mungkin karena
ketakutan, insting bertahan hidupnya muncul dan Ezel pun ....
Berguling ke samping, mencoba kabur.
Sayangnya, gerakan itu men-trigger
ular untuk langsung melilit kaki Ezel. Perut ular itu keluar lebih cepat
seperti mencari ujung lain tubuh Ezel agar bisa langsung diremasnya.
Dan Fian melemparkan dirinya ke arah
mereka.
“AAAAAARGH!”
Fian langsung mencekik leher ular itu.
Dia menginjak satu bagian di tubuh ular
itu ..., lalu menariknya menjauh dari Ezel.
Namun ular itu dengan kilat membelokkan
perutnya yang besar, mencoba menyambar kepala Ezel.
“AAAAAARGH ...!”
Fian menjatuhkan tubuhnya ke belakang
agar perut itu tidak mengambil kepala Ezel.
“BAWA EZEL PERGI DARI SINI! BAWA PERGI!”
teriak Fian panik.
Aku tahu seharusnya itu ditujukan
kepadaku, tetapi aku enggak berani. Kakiku terjerembab di atas delta yang
berlumpur, hampir enggak bisa diangkat. Sama seperti Ezel, aku juga ketakutan
dan hampir menangis.
“BAWA PERGI!” Fian menggulingkan
tubuhnya agar ular itu melilit tubuhnya saja.
Dan benar, ular itu langsung mencoba
meremas kepala Fian.
“AAAAAARGH ...!”
Ezel pingsan setelah berguling ke tepi
air.
“BAWA PERGI!” teriak Fian sambil
memelotot, dan pelipisnya dipenuhi urat.
Dengan panik, jantung bertalu-talu,
keringat dingin di sekujur tubuh, aku melangkah menghampiri Ezel.
Langkah pertama, aku jatuh ke atas tanah
yang mulai basah. Lututku rasanya seperti jeli. Kenyal dan tidak bisa dipakai
untuk berdiri. Jadi, aku merangkak menghampiri Ezel.
Aku sudah menangis betulan. Mataku
waspada melihat tubuh ular besar yang melilit Fian. Rasanya seluruh tubuhku
kesemutan karena merinding. Kulihat sisik-sisik ular itu bergemerisik seperti
mencoba mengembang. Bagian bawah ular yang memiliki pola garis-garis terlihat
sangat menakutkan.
Ketika aku sampai ke depan Ezel, aku
enggak tahu harus membawa Ezel pergi ke mana.
“AAAAAARGH!” Fian masih bertarung dengan
ular itu, mencoba membebaskan diri dari belitannya yang kuat.
Kalau kubawa ke hutan, gimana kalau ada
ular lain yang bersarang di sana?!
Kalau kubawa ke sungai, gimana kalau ada
ular air yang berenang di dalamnya?!
“BAWA ... AAAAAARGH ...! BAWA .... PER
... GIII ...!”
Fian sedang berusaha melepaskan dirinya
dari belitan ular itu. Dengan tubuh telanjang dada, aku melihat otot-otot Fian
mengembang keras, mengeluarkan sisa tenaga yang dia punyai. Persis seperti
Captain America sewaktu menahan helikopter dari puncak sebuah gedung pencakar
langit. Otot-otot itu membulat, mengeras, lekukan-lekukannya tampak kentara,
dan wajah Fian ....
... wajah Fian seperti kesakitan.
Hidungnya mengernyit hebat.
Mulutnya menganga lebar sembari
menyerukan erangan, “AAAAAAAAARGH ...!”
Urat-urat di pelipisnya semakin bermunculan.
Kepalanya bergetar kecil seperti menahan
beban yang sangat berat—persis wajah semua atlet angkat besi saat mengangkat
beban terberatnya.
Kedua tangannya direntangkan, mencoba
menjauhkan lilitan ular besar itu.
Satu tangannya mencekik leher ular yang
besar kuat-kuat, sementara satu tangan yang lain meremas bagian perut ular yang
lebar, yang tidak teremas sama sekali.
Lalu satu bagian lain ular mencoba
melilit perut Fian yang seksi, yang otot six pack-nya tiba-tiba saja
mencuat keluar, mengilat oleh keringat.
Sekarang dia lebih mirip X-Men sewaktu
menahan antimatter itu bersama Deadpool.
“AAAAAARGH ...! BAWAAA ... PERGIIIIII
...!”
“Oh!” Aku mencoba mengangkat tubuh Ezel,
tetapi aku malah terjatuh ke belakang.
BYUR!
Aku masuk ke dalam air sungai, terbawa
hanyut sejauh beberapa meter, tetapi berhasil naik lagi ke permukaan dan
merangkak dengan lutut lemas menghampiri Ezel. Aku mencoba menarik Ezel ke arah
air, tapi setelah itu bingung harus menyeretnya ke mana lagi. Enggak mungkin
dibawa ke dalam air. Nanti hanyut juga kayak aku barusan!
“AAAAAARGH ...!” Fian masih berjuang
keras keluar dari lilitan ular.
Sungguh, ular itu lambat. Tapi ular itu
besar dan kuat. Fian enggak bisa kabur begitu saja, karena sekarang kakinya
mulai dililit bagian lain sang ular yang entah datang dari mana.
“ADEEEKKK ...!” panggil Fian. “ARGH!”
Lilitan di perut ular tampak kencang. Seluruh wajah Fian merah. “BAWAAA ...
PEEERRR ... GIII ...!”
“Bangun, Ezel! Bangun!” Aku mengguncang
tubuh boti itu.
Dan Ezel beneran bangun! Dia membuka
matanya, kemudian celingukan.
“Ayo kita pergi!” kataku.
Namun Ezel malah geleng-geleng kepala
sembari menangis lagi.
“AAAAAARGH!” Sekarang seluruh tubuh Fian
memerah. Kulitnya terlihat basah, urat-uratnya bermunculan hampir di banyak
tempat. Jangan tanya lagi soal ototnya. Kalau ada juri body contest di
sini, Fian otomatis menang.
Aku tak tahu bagaimana cara
menyelamatkan Fian, tetapi sedari tadi aku disuruh membawa Ezel pergi, jadi aku
tarik lagi saja boti itu ke dalam air. Sewaktu Fian menggendongku tadi,
ada bagian air yang dangkal di pinggir sungai, yang tidak terlalu deras
alirannya. Jadi aku mendorong Ezel ke—
“AAAAAARGH!” Ezel yang menjerit
sekarang.
Akhirnya ekor ular panjang itu keluar
dari sarangnya, kemudian bergerak ke arah kami dan ....
... membelit kaki Ezel.
Bukan kaki yang cedera, tetapi buntut
ular itu benar-benar melilit pergelangan kaki Ezel.
Hal pertama yang kulakukan adalah
menarik tubuh Ezel ke arah air. Sayangnya tanganku licin, sehingga aku malah
terlempar ke belakang, berguling dan masuk ke dalam air, BYUUURRR ...! Lalu
aku hanyut lagi dengan alirannya.
Kali ini aku hanyut agak jauh
dibandingkan sebelumnya. Namun aku berhasil berpegangan ke salah satu akar
pohon yang melintang, kemudian aku menarik tubuhku ke tepi, dan merangkak lagi
seperti bayi menghampiri Ezel.
Boti itu sedang ketakutan, menangis, dan
menjerit-jerit sembari menendang-nendang kakinya. Dia menarik tubuhnya ke arah
air meski tak ada progres apa pun.
“API! API!”
Kudengar Fian meneriakkan kata-kata itu.
“API!”
Aku melihat ke api unggun yang
kelihatannya masih menyala. Aku tidak tahu maksud Fian apa, tetapi aku
berpikir, oh mungkin kita harus membakar ular raksasa ini. Jadi sambil
merangkak menghampiri Ezel, aku mampir sebentar untuk menaburkan dedaunan
kering ke api unggun itu, supaya apinya membesar.
Enggak besar-besar banget, sih. Agak
lama untuk api itu berkobar. Apalagi aku sudah kehabisan dedaunan kering,
sehingga aku memutuskan berjalan ke arah Ezel untuk membantunya.
Aku enggak pernah menyentuh ular macam
begini dan enggak akan pernah mau menyentuhnya. Tapi aku tahu, aku enggak punya
pilihan lain selain membuka lilitan ekor ular di kaki Ezel untuk
membebaskannya. Aku enggak tahu piton jenis ular apa, tetapi melihat ular itu
sedari tadi hanya melilit dan tidak menyergap secara agresif seperti ular
kobra, kusimpulkan dia tak punya bisa.
Setengah menangis aku memegang ekor ular
itu dan mencoba melepaskannya dari kaki Ezel.
Licin banget, ya Tuhan.
Permukaan kulitnya menggelikan.
Dan kuat banget ular ini.
Aku berhasil melepaskannya meskipun aku
merasa panik dan ketakutan.
Namun sialnya, ekor ular itu kini
melilit pergelangan tanganku!
“AAAAAARGH!”
Aku menjerit ketakutan. Aku berusaha
melepaskan lilitan itu dengan tangan satunya lagi, tetapi aku gagal.
Belitannya kuat banget, Kaaakkk ...!
Padahal ini cuma ekornya! Apa kabar Fian
di situ yang bertarung melawan seluruh tubuh sang ular!
Aku mulai goyah. Aku menangis dan
mencoba menarik ekor ular itu ke arah berlawanan.
Kurasakan Ezel membeluk tubuhku dengan
ketakutan, menyembunyikan wajahnya di balik punggungku.
Aku memeluk kepala Ezel sembari aku
memejamkan mata.
Sembari aku menarik tanganku agar lepas.
Sembari aku berdoa.
Sembari aku menangis.
Sembari aku mendekap Ezel kuat-kuat
dengan tubuh berguncang.
“Kita mati .... Kita mati .... Kita mati
...,” gumam Ezel berulang-ulang.
“Enggak, kita enggak akan mati!”
balasku, setengah berteriak.
“Kita mati .... Kita akan mati .... Kita
akan mati—“
“Kita enggak akan mati!” hardikku, masih
ketakutan. “Kita masih hidup!”
“Kita akan mati .... Kita mati!”
“Enggak akan!” Aku menarik napas panjang
sembari mendekap kepala Ezel kuat-kuat. “Sekarang ikuti kata-kataku!”
Ezel mengangguk patuh.
“Ashaduuu ....”
“Ashadu ....”
“Alaa ....”
“... ala ....”
“Ilaa ....”
“... ila ....”
“Hailal—“
“DI SANA!”
Kata-kataku terpotong ketika aku
mendengar suara seseorang yang bukan Ezel bukan Fian, menggema di sekitar kami.
Aku mengangkat kepala dan melihat ....
... serombongan tim penolong muncul di
atas perahu karet berwarna oranye terang.
Ada dua perahu karet yang muncul.
Masing-masing perahu karet menampung empat orang laki-laki. Sebagian di
antaranya aku kenal. Ada Erick, kakaknya Ezel. Ada Bondan. Ada juga penjaga
hutan yang kami temui di pos awal tadi.
“TOLOOONNNGGG ...!” Aku langsung
berteriak sembari melambaikan tangan ke atas. Kulepaskan kepala Ezel dari
dekapanku, dan kepala Ezel langsung jatuh ke atas air, tetapi Ezel bangkit lagi
dan kembali memelukku.
Aku enggak perlu cerita detailnya ya,
Kak.
Intinya ....
... kami bertiga selamat malam itu.
[ ... ]
Badan kami.
Hatiku sih enggak selamat.
Huhuhu.
Ezel memeluk Fian terus-terusan selama
evakuasi.
Oke, singkat cerita, rombongan
penyelamat itu datang dan langsung mencerna situasi. Empat orang nyamperin Fian
dan membantunya melepaskan lilitan sang ular yang kuaaattt ... banget itu. Dua
orang melepaskan lilitan buntut ular di kakiku. Entah gimana caranya, mereka
berempat berhasil menggotong ular sepanjang 6 meter itu (penjaga hutan yang
bilang begini), ke area lain, seraya kami semua menyelamatkan diri.
Fian menghampiri kami dengan tubuh nge-pump
kayak habis nge-gym. Badannya basah total oleh keringat. Lalu, sorotan
cahaya matahari tenggelam yang keemasan menyinari tubuhnya yang seksi, mempertegas
lekukan-lekukan kekar yang kokoh itu. Fian bermaksud melihat gimana kondisi
kami. Tapi belum juga ngomong apa-apa, Ezel langsung menghambur ke pelukan Fian.
Memeluk tubuh Fian dengan erat.
Dan enggak dilepas sampai kami tiba di
salah satu pos di hilir, di mana semua orang lain sudah menunggu kami dengan
motor-motor yang dibawa.
Kakak kandung sebenarnya malah
ngomel-ngomel ketika kami berhasil mengevakuasi diri dari delta itu. “Gila,
luuu! Anjing, luuu! Gilaaa! Ya?! Emang enggak punya otak lu! Jalan ke pinggir
sampe jatuh ke sungai! Anjing, lu! Gilaaa!” Bahkan, Erick mencoba mendamprat
muka Ezel.
Namun Fian melemparkan badannya ke
tengah-tengah, sehingga Erick tidak menghantam adiknya. “Udah, udah, Rick.
Udah. Enggak apa-apa.” Yang kena hantam justru petugas penyelamat yang sedang mengecek
luka Ezel.
“Niat gue baik, anjing! Ngajak elu naik
gunung supaya lu jadi laki! Gila, luuu! Anjiiing ...!” Erick enggak berhenti
mencerocos memarahi adiknya, sampai-sampai mereka harus dipisahkan di dua
perahu karet itu.
Fian di perahu pertama bersama Ezel, di
mana Ezel memeluk Fian terus-menerus sembari menangis. Sementara aku ada di
perahu karet yang ada Ericknya, yang sepanjang perjalanan ngomel-ngomel sendiri
menjelek-jelekkan adiknya. Saking bacotnya, aku sampai menghitung berapa banyak
Erick mengatakan gila, anjing, lu, dan ya. Jumlah semuanya di atas 30. Paling
banyak kata, “Ya!”
Oke, back to ular, kebetulan di
perahuku ada si penjaga hutan tadi. Setelah kujelaskan dengan detail seluruh
kronologinya, dia menjelaskan bahwa kami bertiga tadi menunggu di sarang sang
ular. Tepat di balik batu itu, ada lubang di mana terdapat telur-telur ular
piton yang sedang dierami. Normalnya, ular itu akan menunggu telurnya sampai
pecah, tetapi sang induk merasa terganggu dengan “heat” yang tiba-tiba
muncul di sekitar sarangnya. Heat apa?
Api unggun.
Api itu mengundang ular untuk keluar dan
mencari tahu. Sayangnya, ketika Ezel berguling, ular itu waspada dan membela
diri. Di situ Fian masuk untuk menjauhkan sang ular dari Ezel, tapi jadinya
ular itu menganggap Fian bahaya.
Sang penjaga hutan sudah meletakkan ular
ke tempat yang aman, tidak jauh dari telurnya. Bahkan, dia sempat mengecek
jumlah telurnya berapa, memastikan tak ada telur yang terkoyak, rusak, atau
dicuri mamalia lain. Setelah semuanya aman, mereka melompat ke dalam perahu dan
pergi dari situ.
“Orang-orang dari konservasi sering ke
delta situ. Mastiin si ular aman dan enggak diganggu pendaki. Awalnya bukan di
situ. Itu baru kita pindahin ke situ karena ada pendaki yang ganggu si ular
bulan kemaren.”
Aku enggak paham kenapa ada orang yang
malah mindahin ular yang sedang mengerami telur ke tempat yang aman ketika kita
punya kesempatan untuk memusnahkan telur-telur itu.
Tapi ya sudah. Intinya, sesampainya di
pos hilir, pelukan itu belum lepas juga. Ketika kaki Ezel diobati oleh petugas
medis setempat, Ezel masih belum mau melepaskan pelukannya.
Aku cemburu. Aku enggak akan munafik.
Sumpah.
Setelah Ida menikmati Fian secara
terang-terangan di depanku, sekarang ada satu boti yang menduluiku
memeluk Fian.
Ya, memang, aku yang nyukur ketek Fian
sampai mulus begitu. Sampai kinclong terkena sinar matahari sore waktu Fian
membentangkan tangan menjauhkan ular dari badannya. Ketek itu basah, mulus,
berwarna keemasan, dan ototnya menegang dengan seksi. Tapi meski aku hampir
melihat Fian telanjang ....
... aku belum pernah memeluk Fian selama
itu!
AAAAAARGH!
GILA, LUUU ...! ANJING, LUUU ...! GILAAA
...! YA!
Memeluk di motor waktu kami berangkat
pagi tadi tuh beda, ya! Memeluknya Ezel tuh dalam kondisi Fian setengah
telanjang, badannya basah oleh keringat, dan ototnya lagi nge-pump!
GILAAA, LUUU ...!
Dan apa yang makin gila lagi? Ezel masih
memeluk Fian sampai kosan.
Jadi, karena Erick ngamuk-ngamuk sama
Ezel berkat kejadian ini, Ezel menangis ketakutan dan enggak mau pulang
dibonceng Erick. Akhirnya gimana? Akhirnya ya Fian yang membonceng Ezel sampai
kosan, dibuntuti aku yang dibonceng Erick, yang sepanjang perjalanan ke kota
masih belum selesai ngomel-ngomel ke Ezel.
Sejauh ini:
Gila 157 kali.
Anjing 112 kali.
Lu 210 kali.
Ya 189 kali.
Begitu Ezel di-drop di kamarnya,
Fian melarang Erick masuk ke kamar sang adik.
“Udah, udah, lu langsung ke lanud
sekarang. Biarin adik lu istirahat. Kakinya juga masih cedera,” kata Fian,
sembari pake baju.
Yep. Fian enggak pake baju dari gunung
sampai kosan Ezel. Kan, WHAT THE FUCK?!
Ezel enggak mau melepaskan pelukannya
dari tubuh seksi kekar berotot itu. Ditarik bagaimana pun, Ezel malah nangis
dan kejang-kejang. Alhasil, Fian mengambil jaketnya, memakaikannya
terbalik—bagian punggung di depan. Kemudian berkendara pulang. Jadi sepanjang
perjalanan, Ezel tuh nempel ke punggung telanjang Fian, wajahnya terbenam di
punggung kekar sang tentara. Kedua tangannya mendekap perut Fian di depan, erat
banget sampai Fian terlihat sesak napas.
Nah, di situ aku iri, Kak.
AKU IRI!
HUH!
Ternyata begini rasa iri yang sering
Kakak rasakan ke aku.
Beneran deh, enggak enak banget!
Aku cemburu!
Aku cemburu bukan main melihat Fian
membonceng Ezel sambil pelukan. Apalagi Erick nyetir di belakang mereka. Jadi
sepanjang jalan aku melihat si Ezel tuh lagi nemplok ke punggung Fian. Si Erick
enggak mau nyusul mereka karena Erick butuh ngomel-ngomel sambil nyetir, sambil
mengacungkan jari tengah ke sang adik di depannya.
Yang masuk ke kamar Ezel pun Fian. Erick
dilarang ikut. Sempat berantem mereka berdua, tapi karena ada Ezel di situ,
Erick pun menyerah. Dia mondar-mandir di depan motornya dengan gusar, masih
ngomel-ngomel soal Ezel.
Cukup lama Fian mengantar Ezel ke kamar.
Dia kembali kira-kira sepuluh menit kemudian. (Itu tuh lama ya by the way.)
Masih telanjang dada dan langsung mengenakan jaketnya dengan benar.
“Si Ezel udah istirahat,” kata Fian,
merangkul Erick dan membawanya ke motor. “Lu bisa balik ke lanud sendiri, kan?”
“Gue kagak bakal ke lanud!” Erick
menepis rangkulan Fian, sikutnya hampir menghantam wajah Fian.
“Kan lu jaga besok!”
“Kagak. Gue mau bolos.”
“Tapi lu jangan ganggu adik lu dulu, ya.
Kasihan dia. Omelin entar aja kalau udah baikan—“
“Bukan urusan lu!” Erick akhirnya
mengambil helm dan melaju meninggalkan kosan itu entah ke mana.
Fian hanya bisa geleng-geleng kepala
sembari menarik ritsleting jaketnya ke atas lalu mengedikkan kepala ke arahku.
“Ayo, Dek. Kita pulang.”
Aku cemberut sebenarnya. Aku masih
“panas” gara-gara Ezel memeluk Fian selama itu. Tapi ketika kami tinggal
berduaan aja, ketika Fian benar-benar “milikku”, rasa cemburu itu lumer.
Sekarang aku bisa bikin Kakak iri lagi
kepadaku.
HAHAHAHAHAHA ...!
Sepanjang pulang, aku dibonceng oleh
Fian sembari aku memeluknya dari belakang. Enggak lama, sih. Karena kosan Ezel
kan dekat dengan kosanku. Hanya beberapa ratus meter saja. Jalan kaki pun,
kalau dari tadi aku jalan kaki waktu Fian mengantar Ezel ke kamar, aku sudah
akan selesai mandi dan skincare-an di kamarku.
Wajahku tetap cemberut, tapi jujur rasa
cemburuku mulai pudar. Aku masih kesal sama si boti itu, tapi aku tahu
..., yang terakhir barengan sama Fian hari ini adalah aku. Bukan dia. Jadi akulah
yang sebenarnya “menang”.
Cuma tetap aja, aku mengungkapkan
kekesalanku.
“Mesra banget ama si Ezel,” kataku,
begitu kami hampir sampai di kosanku.
“Hah?”
“Mesra banget pelukan sama Ezel
sepanjang jalan.”
“Lho, Adek tahu kan kalau Ezel
perasaannya lagi—“
“Ya, ya, ya,” selaku sembari mendengus
kesal.
Kebetulan motor sudah tiba di depan
gerbang kosanku. Barusan aku sengaja bilang begitu karena tahu kami sudah
hampir sampai. Sehingga, aku bisa langsung pergi ke kamar sementara Fian pergi
ke lanud. Aku akan menyiksa Fian dengan pernyataanku barusan, dengan harapan
Fian akan kepikiran sepanjang perjalanan pulang, lalu dia enggak bisa tidur,
dia merasa bersalah kepadaku, lalu dia akan meneleponku untuk meminta maaf,
lalu aku enggak mengangkat teleponnya karena lagi ngambek, aku juga enggak
membalas Whatsapp-nya, lalu Fian akan datang besok pagi sambil bawa bunga, dan—
Eh, kok motornya malah masuk ke dalam
kosanku?
“Kenapa masuk?” tanyaku ketika melihat
Fian membuka pagar dengan roda depan motornya, lalu melajukan kendaraan besar
ini ke dalam. Ke area parkiran.
“Mau parkir, lah. Masa parkir di luar
kosan?”
Aku membelalak. “Abang ... Abang mau
nginap di kosan Mbak Ida?”
“Enggak,” jawab Fian sembari mematikan
motor dan menurunkan standar dengan kakinya. Dia juga melepas helm dan menoleh
ke belakang. “Dek Ida lagi nemenin temannya yang di rumah sakit kemarin.
Kamarnya dikunci.”
Fian turun dari motornya. Aku pun
melompat turun sembari membelalak kecil.
“Abang mau tidur sama Adek aja malam
ini. Kalau boleh.”
Aku mematung lagi. Seperti saat melihat
ular tadi.
“Boleh kan, Dek?”
Aku semakin membelalak. Fian melepas
ritsleting jaketnya, menguak abdomen dan torso yang berlekuk-lekuk kekar.
“Dek? Halo, Dek?”
Oh ... sial.
....
Aku ngaceng.
Komentar
Posting Komentar