Halo, Kak!
Oke. Sekarang boleh iri lagi sama aku. Enggak
perlu iri sama si Ezel boti denial itu, kita fokus lagi ke rasa cemburu
Kakak karena Fian bakalan nginep di kamarku malam ini. Rasa cemburuku kepada Ezel
lenyap sudah. Kepalaku langsung diserang semua skenario sekasur bareng Fian di
dalam kamar.
“Aku ... aku enggak punya kasur lipat,”
kataku, dengan suara pelan. Ini lokasinya masih di parkiran kosanku. Masih
nunggu Fian ngeberesin barang-barangnya.
“Abang disuruh tidur di lantai
maksudnya?” Fian mengerutkan alis dengan bingung.
“Bu ... bukan. Maksud aku ... takutnya
..., takutnya Abang enggak mau sekasur sama aku—“
“Sekasur aja, lah. Kan kasurnya gede.”
Fian berjalan menghampiri tangga sambil merangkul bahuku.
Satu tanganku di depan kontol. Mencegah
Fian melihat tonjolan yang bukan bakat di bawah sana.
“Kecuali Adek yang keberatan buat
sekasur sama—“
“Oh, enggak, enggak, enggak!” sergahku
buru-buru. “Aku justru takut Abang enggak nyaman sekasur sama aku, yang
sama-sama laki-laki.”
Fian terkekeh. “Dek, Dek .... Jadi
tentara mah kita bisa tidur dempet-dempetan ama semua cowok di situ,
Dek. Udah kayak sarden! Hahaha .... Mandi aja bareng.”
“I ... iya.”
“Atau jangan-jangan, Adek yang enggak
nyaman Abang ikut tidur di kasur Adek?” Fian berhenti sebentar sebelum naik
tangga. Dia menunduk menatapku.
“Oh, enggak kok, enggak. Aku enggak
masalah. Kasurnya kan gede. Hehe.” Dengan canggung aku berbalik dan mendului
Fian menaiki tangga.
Bangsat. Kontolku kerasa ngilu. Tidur
barengnya belum, orgasmenya udah mulai.
Fian pake susuk apa sih sampe aku kayak
orang gila gini?!
Hingga masuk kamar, aku berjalan di
depan Fian agar tentara itu enggak melihat situasi selangkanganku. Begitu lampu
dinyalakan dan semua bawaanku diletakkan di atas lantai, aku langsung mengambil
handuk dan bergegas pergi ke kamar mandi. Badanku rasanya enggak nyaman. Basah,
lalu mengering, lalu lengket, lalu berlumpur karena kecebur sungai
berkali-kali.
“Aku mandi dulu, ya.”
“Abang juga mau mandi,” kata Fian
sembari mengaduk ranselnya untuk mengambil handuk.
Aku sudah tak melihat lagi Fian sejak
titik itu. Dadaku berdebar-debar karena overthinking akan sekasur ama
tentara kekar yang ganteng. Semalam aku sekasur sama Xavier, tapi rasanya
enggak kayak Fian. Dari segi spek juga beda banget. Fian ini spek Dewa. Kayak
kita main game, lalu kita ngadepin raja, dan kita terintimidasi
gara-gara hal itu.
Makanya yang kulakukan adalah buru-buru
mandi dan menggosok badanku. Kugunakan scrub agar berbusa banyak,
kupastikan semua dakiku terangkat. Aku juga luluran untuk memastikan enggak ada
kotor sama sekali. Tentunya aku douching—buat jaga-jaga. Meskipun aku
yakin banget enggak akan terjadi apa-apa antara aku dan Fian.
Tentara kekar itu mandi di kamar mandi
sebelahku. Aku bisa mendengar air dalam gayung disiram berkali-kali ke
tubuhnya. Bahkan aku bisa mendengar desahan, “Aaaaaahhh ...,” dari mulut Fian
setiap kali air itu menyiram tubuhnya. Suaranya macho dan seksi.
Kubayangkan air menyusuri lekuk-lekuk
tubuhnya yang kekar.
Lalu Fian mengusap tubuhnya dengan
tangan.
Menggosokkan sabun hingga berbusa.
Lalu dia membersihkan kontolnya ....
....
Sudah, sudah, sudah. Jangan berpikiran
macam-macam, Rohmat! Sebentar lagi kamu tidur sama dia!
Rencananya, aku mau mandi lebih cepat
supaya aku bisa masuk kamar lebih dulu. Tapi, aku kelamaan douching
sehingga ketika aku keluar, kamar mandi sebelah sudah kosong. Dengan jantung
berdebar aku berjalan ke kamarku handukan saja. Aku enggak bawa baju ganti
waktu ngambil handuk tadi.
Sewaktu aku tiba di depan kamar, pintu
terbuka lebar. Fian sudah berada di dalam dan sedang membereskan ranselnya. Dia
mengeluarkan beberapa barang ke atas lantai, lalu mengatur sesuatu di dalamnya.
Fian setengah telanjang. Dia hanya pakai
celana boxer tipis warna putih ala-ala tentara. Yang bagian depannya
dikancing. Tahu, kan? Yang kalau jongkok kayak begitu, area yang tidak
terkancing langsung menganga lebar menampilkan apa pun yang ada di baliknya.
Nah, kancing celana pendek Fian juga
gitu. Aku enggak bisa melihat dengan jelas apa yang kelihatan dari luar, tapi
begitu tahu ada bukaan di antara kancing-kancing itu, aku langsung melempar
pandangan ke arah lain.
Sepenglihatanku, area situ berwarna
gelap.
Bisa jadi gelap karena gelap.
Bisa jadi itu jembut Fian yang lebat.
Udah. Aku enggak mau berspekulasi.
Aku langsung membuka lemariku lalu
bersembunyi di balik pintunya. Aku mengenakan pakaian tidurku, berupa celana
pendek hot pants longgar kayak Fian juga—tapi punyaku ada motifnya, dan
aku pake celana dalam di baliknya. Aku pakai kaus lengan pendek, meskipun
biasanya aku pake kaus lekbong. Aku agak minder kalau ketekku harus
terekspos dan saingan sama keteknya Fian yang kinclong dan glowing.
Aku juga memastikan sempakku ketat
banget supaya kontol ngaceng-ku ini enggak “menonjol” di balik celana
pendek.
“Adek tidur sebelah mana biasanya?” tanya
Fian sembari keluar dari kamarku sebentar untuk menjemur handuknya di pagar
lorong.
“Bisa di mana aja,” jawabku, tanpa
melihat ke arah Fian.
Aku memanjat naik ke atas tempat tidur,
lalu berbaring menghadap dinding. Sengaja kulakukan itu agar aku tak perlu
melihat badan sempurna itu masuk ke kamar hanya dengan kolor saja. Dadaku masih
berdebar-debar, cuy. Kontol mah sudah pasti ngaceng.
Sumpah aku enggak tahu apa yang sedang
kualami ini. Melihat badan telanjang Fian tuh bukan sekali dua kali. Melihat
badan tentara juga bukan yang pertama. Malam kemarin, secara harfiah, aku ngewe
sama calon tentara. Tapi Fian ini terasa beda. Ada aura yang bikin aku enggak
sanggup buat ngelihatin ke badannya itu.
Cklek!
Pintu kamarku ditutup dan dikunci.
“Lampunya matiin?” tanya Fian.
“Bo ... boleh.”
“Adek pake lampu tidur?”
“Pake.” Aku berguling ke sisi tempat
tidur satunya lagi, mati-matian tidak melirik ke arah Fian. Kunyalakan lampu
tidur yang memang ada di situ, kemudian aku berguling lagi memunggungi Fian.
Ctrek.
Lampu tidur menyala, lampu kamar
dimatikan.
Bisa kurasakan, area kasur di belakangku
dinaiki Fian. Hangat tubuh Fian juga terasa sampai ke kulitku. Hangatnya
segar—karena Fian habis mandi. Lalu selimutku bergerak-gerak kecil karena Fian
menyusup masuk ke dalamnya.
“Aaaaaahhh ....” Fian mendesah lega
sembari menyesuaikan bantalnya. “Adek udah ngantuk?”
Aku menelan ludah. “Lu ... lumayan.”
“Besok ke mana, Dek?”
Bangsat. Kenapa malah ngajak ngobrol,
sih?! Kenapa enggak molor langsung aja?!
Mana suaranya seksi pula. Suara cowok
dewasa yang nge-bass, mature, dan dalam.
Aku meringkuk menempelkan pahaku ke
perut. Tentunya untuk menutupi kekerasan di area selangkangan.
“Belum tahu.”
“Tapi libur, besok?”
“Libur.”
“Good.” Fian mendesah,
bergerak-gerak kecil, tapi enggak tahu ngapain karena aku masih membelakangi.
Mungkin meletakkan tangan di belakang kepala? “Abang juga libur besok. Soalnya
minggu depan mulai sibuk lagi sama penerimaan peserta didik. Adek datang ke lanud
hari Selasa, kan?”
“I ... iya.”
“Semoga Adek enggak eneg, ya. Hehehe.”
“Eneg kenapa?”
“Yaaa ... ngelihatin burung seharian.
Burung cowok, Dek. Hahaha.”
Mana mungkin aku eneg, Baaannnggg ...!
Yang ada juga aku crooottt ...!
“Murungkut di bawah jembut ....
Adek tahu murungkut?”
“Tahu.”
“Menciut kecil, ngegantung di bawah bulu-bulu
lebat. Cuma kelihatan kepalanya doang. Sebagian malah ngumpet di balik
jembutnya. Hahaha. Tegang, mereka. Enggak ada yang malu. Tapi tegang, takut ada
yang salah di badan mereka, terus gagal jadi taruna. Beberapa ada yang saking
tegangnya, malah berdiri, Dek. Hahaha ....”
Kenapa malah dijelasin detail sih,
Bang?!
“Apalagi pas ama klinik deket pabrik
konstruksi, tahu?”
“He-em.”
“Itu mereka ngirim petugas medisnya
cewek-cewek, Dek. Jadi pas diperiksa burungnya, pada berdiri semua. Hahaha.
Kocak.”
“Gagal enggak kalau berdiri?”
“Ya enggak, lah. Nanti juga ada tesnya
harus bisa berdiri.”
“Ada?” Aku tidak tahu kalau ereksi jadi
bagian dari medical check up.
“Ada,” jawab Fian. “Buat ngecek siapa
yang impoten, siapa yang enggak. Spermanya aja dikeluarin, terus dites di lab.”
Aku mengerutkan alis. “Serius?!”
“Iya, Dek. Ngecek kesuburan. Yang
disunat aja bisa disunat di tempat, Dek. Abang juga dulu gitu, waktu tes
kesehatan di Halim, sampai harus ‘dikeluarin’.”
“Jadi ... mereka harus ... ngocok?”
“Ya enggak, lah. Mereka dikocokin.”
“Hah?! Sama siapa?”
“Ya sama petugas medis yang ngecek. Sama
Adek. Sama petugas lain .... Emang Bu Lusi enggak ngasih tahu soal itu?”
Aku masih syok. Bu Lusi enggak ngasih
tahu soal ini. Kupikir hanya medical check up biasa saja. Enggak sampai
tes kesuburan. Ya memang di klinikku ada dokter androloginya, lengkap dengan
laboratorium untuk mengecek kesehatan sekual laki-laki. Tapi selama aku kerja
di situ, hampir enggak ada orang yang datang ke klinik untuk ngecek kesehatan
sperma. Kalau sel telur di rahim sih banyak, buat ibu hamil. Itu pun langsung ke
ginekolognya. Sementara androlog di klinikku praktiknya cuma dua kali seminggu,
sisanya dia di Jakarta sama Bandung. Saking jarangnya aku ketemu dokter
andrologi ini, aku menganggap kami enggak punya divisi untuk kesehatan seksual
laki-laki. Kalau ada pasien yang bermasalah sama kontol, aku langsung rujuk ke
dokter urologi saja.
“Kita pilih klinik Adek kan karena
kelengkapan alat tesnya, Dek,” lanjut Fian. “Enggak semua klinik di kota ini
ada androlognya. Kita biasanya pakai urolog, yang memang sama aja. Tapi pas
tahu klinik Adek punya CASA, punya hemocytometer, punya centrifuge
juga, ya kita langsung approach-lah kemaren.”
CASA adalah Computer-Assisted for
Sperm Analysis. Alat untuk ngecek pejuh. Hemocytometer juga
sama—tapi ini manual. Alat-alat ini memang ada di klinikku, tapi aku enggak
pernah menyentuh mereka dan enggak tahu cara pakainya. Biasanya dipake sama dr.
Amir, androlog yang datang dua kali seminggu itu, misal dia bawa sampel dari
Jakarta atau Bandung, lalu ngetesnya di klinikku—supaya dia kebagian “profit”.
“Aku ... aku belum pernah pake CASA sama
hemocytometer—“
“Ya kan bukan Adek yang ngeceknya entar.
Hahaha ....” Fian tiba-tiba nge-puk-puk-in kepalaku. “Tugas Adek bawa
sampelnya semua di inkubator, nanti di klinik bakal ada petugas khusus. Bu Lusi
bilang, dokter androloginya bakal ada di klinik Adek sepanjang MCU. Jadi
diagnosanya cepat. Sama aja kayak sampel-sampel yang lain, Dek. Sampel urin
sama darah juga Adek cuma bawa aja.”
Aku mengangguk paham. Sebab yang itu sih
udah di-brief sama Bu Lusi.
“Entar diantar kok pake mobil tentara.
Hehehe. Abang temenin dari lanud ke klinik pas bawa inkubator sama semua
sampel. Tenang aja.”
Bukan soal itu sih, Baaannnggg ....
Soal harus ngocokin calon tentaranya!
“Kenapa harus sampe tahu kesuburan juga,
Bang?” tanyaku.
“Soal itu Abang enggak tahu. Mungkin
ngabisin anggaran, mungkin memang perlu untuk kemiliteran. Pangkat Abang belum
setinggi itu buat tahu proses penerimaan peserta didik ini, kenapa harus begini
atau kenapa harus begitu. Abang cuma dapat tugas buat handle MCU aja.
Ada juga anggota lain yang ngurus acara pembukaan, misalnya. Ada yang latihan
terbang atau parasut buat upacara.”
“Terus kenapa mereka enggak ngocok
sendiri?” Aku masih belum mau berpindah dari topik itu karena aku enggak paham
kenapa aku harus ngocokin. Soalnya aku cemas, takutnya aku ngocokin kontol
orang, yang crot malah kontolku.
“Lama. Katanya malah sibuk lihatin
bokep, nge-scroll, tapi lupa harus ngeluarin sperma ke wadahnya. Kalau
dikocokin ama orang lain kan kepaksa harus buru-buru dikeluarin. Geli aja, Dek,
burung kita terus dipegang laki-laki lain. Hahaha ....”
“Jadi ... harus laki-laki?”
“Iya. Kalau perempuan mah bahaya.
Malah pengin dinikmatin dulu. Dulu pernah kejadian soalnya. Udah gitu malah
makin kacrut karena merekanya sengaja dilama-lamain keluarnya.”
“Terus kalau enggak keluar gimana?”
“Ya cari cara lain sampe keluar. Adek
bisa sepong, misalnya.”
Aku membelalak.
“Hahaha .... Bercanda, Dek. Bercanda.”
GOBLOK KAMU, FIAN!
Aku sudah setuju banget padahal barusan!
“Jangan ya Dek, ya,” kata Fian sembari
menepuk-nepuk lagi kepalaku. “Kasihan kalau di-sepong, takut berubah
orientasinya. Dan takut spermanya kecampur ludah juga. Enggak steril dong
entarnya.”
Oh jadi bukan takut rahangku pegal
karena nyepong sepeleton calon tentara, hah?!
Aku masih belum bisa membayangkan harus
ngocokin kontol para calon tentara ini. Jujur aja, aku enggak pernah dapat
pelatihan untuk ini. Kalau melihat video orang coli di klinik fertilitas
sih sering. Tapi itu video edukasi dan orangnya ngocok sendiri. Bukan
dikocokin.
“Abang juga dulu dikocokin.”
Eh, si ganteng ini malah nyerita
versinya sendiri. Sialan.
“Kita dikasih tahu buat enggak ejakulasi
seminggu. Enggak boleh coli. Biar spermanya sehat,” lanjut Fian. “Terus
pas harus dikeluarin, Abang mesti baring di dipan, telanjang, burung Abang
dikocokin sama dokter gitu.”
Aku menelan ludah.
Di dunia ini ada orang yang seberuntung
itu bisa ngocokin kontol Fian.
“Tapi, sibuk main hape dianya.
Satu tangan di burung Abang, satu tangan megang hape. Abangnya fokus aja
biar cepet keluar. Ngebayangin yang seksi-seksi, sampe akhirnya keluar, terus
ditampung sama si dokternya.”
Ya Tuhaaannn ....
Kontolku ngilu.
Huhuhu.
Pengin nangis sumpah, Kak.
Kok bisa adegan Fian dikocokin pas tes
kesehatan kelihatan seksi banget di kepalaku? Ada apa dengan diriku? Kenapa
yang begitu aja bikin aku terangsang?! Huhuhu ....
“Oh iya, kemaren tuh yang cek varikokel
ke Adek, udah selesai belum?”
Elah. Malah ganti topik!
Aku masih ngebayangin diriku sebagai
dokter yang ngocokin kontol Fian, soalnya!
“Xavier?” tanyaku balik.
“Xavier? Bukan. Namanya Verdian.”
“Iya. Nama lengkapnya Verdian Arshaka
Xavier. Kemarin dia udah datang dan tes USG.”
“Aman? Ada varikokelnya?”
Aku menelan ludah. “Hasilnya sih ...
enggak ada.”
“Oke.” Fian menghela napas. “Abang pikir
ada jendolannya di bawah skrotum. Waktu Abang ngecek, kayak ada yang ganjal,
gitu.”
“Iya. Ada, kecil. Tapi mungkin ...
mungkin bukan.”
“Iya. Yang lain juga ada yang gitu. Yang
ada jendolan, tapi ternyata cuma kista. Cuma ada satu yang aneh waktu si Abang
ngecek zakarnya si Verdian ....”
“Apa?”
“Burungnya berdiri, Dek!”
Tahu, Bang. Kemarin malam udah kutes
dengan praktik langsung, burungnya berdiri kalau di-sepong, meskipun
yang nyepong-nya laki-laki.
“Tiga minggu kayaknya si Verdian nahan
enggak onani. Sekalinya dipegang orang, langsung keenakan. Hehehe .... Yang
lain juga biasanya gitu, tapi kalau dipegang burungnya, bukan bijinya.”
Bukan gara-gara itu sih, balasku dalam hati. Karena
Xavier emang suka aja sama laki-laki gara-gara dibikin trauma bapaknya sendiri.
Kami terdiam sebentar selama beberapa
saat. Membiarkan keheningan malam menyesapi ruangan.
“Ya udah, Dek. Udah malam. Kita tidur,
ya.”
“Iya, Bang. Selamat malam.”
“Makasih ya udah nemenin Abang hiking,
meskipun ending-nya di luar dugaan.”
“Iya. Sama-sama, Bang.”
“Semoga Adek enggak kapok.”
“Aku kapok sih, Bang. Enggak mau naik
gunung lagi.”
“Oh, bukan. Semoga enggak kapok main
sama Abang.”
Enggak akan pernah kapok sih itu
mah, jawabku
dalam hati. “Aku yang harusnya bilang gitu. Gara-gara aku, Abang harus ngelawan
ular segede itu.”
“Ah, udah biasa itu mah. Kita
pernah diceburin ke laut, kok. Tangan sama kaki keikat, harus bisa melepaskan
diri sendiri. Di hutan juga diajarin bunuh ular buat survive. Dari awal
Abang udah tahu, ular itu cuma bela diri doang. Bukan mau makan kita. Misal
kita diremukkan juga enggak akan ditelan. Kan tugas dia jaga telur aja.”
“Iya. Tapi tetep aja nyeremin, Bang.
Ularnya gede.”
“Ada yang lebih gede dari ular itu kok,
Dek.”
Aku langsung membelalak mendengarnya.
Yang kubayangkan adalah ....
... “ular”-nya Fian.
Jangan-jangan “ular”-nya Fian gede, tebal,
kokoh, panjang, berbisa ....
“A ... apa yang ... lebih gede tuh, Bang
...?” tanyaku dengan dada berdebar.
“Green anaconda, Dek. Itu bisa
sampe sembilan meter panjangnya, sama kayak lima orang dewasa dijejerin.
Beratnya bisa sampe 200 – 300 kilo. Udah pasti langsung nelen kita, sih. Kalau
yang tadi mah paling ... yah, 5 – 6 meter aja, lah.”
Yaelah. Kukira kontolmu Bang yang gede.
Aku tak merespons Fian lagi. Aku hanya
fokus membayangkan kontol Fianlah yang dimaksud dengan green anaconda.
Di titik ini, aku berharap bisa crot secara otomatis, handsfree,
hanya dengan memahami fakta bahwa Fian tidur setengah telanjang di belakangku.
Kemudian setelah itu aku akan tidur dan melewati malam ini dengan damai.
“Oke. Kebanyakan ngobrol kita,” kata
Fian. Dia menepuk bahuku. “Met tidur ya, Dek.”
“Iya, Bang.”
Aku pun memejamkan mata sembari menikmati
kehangatan tubuh telanjang Fian di belakangku, lalu berharap bisa tidur atau crot
tanpa dikocok.
[ ... ]
Tapi aku enggak bisa tidur.
Bangsat.
Dan aku pegal berada di posisi yang sama
menghadap dinding terus-menerus. Aku enggak mau berbalik ke belakang untuk
meregangkan otot. Aku enggak mau melihat siluet Fian yang seksi.
Jadinya, setiap setengah jam, aku
terbangun. Aku bisa tidur, tapi enggak tenang. Aku sempat telentang supaya
setengah badanku enggak kesemutan gara-gara tidur menyamping di posisi yang
sama, tapi kepalaku tetap menghadap dinding.
Pukul empat pagi, aku menyerah.
Aku tahu itu pukul empat pagi karena aku
mengecek hape-ku berkali-kali setiap aku terbangun. Di bangunku yang
kali ini, aku enggak bisa tidur lagi. Mendadak aku segar banget enggak ada
ngantuk-ngantuknya.
Fian tertidur lelap di sampingku. Dia
enggak mendengkur—pasti karena tubuhnya sehat dan prima. Sesekali Fian berbalik
ke kanan dan kiri, sesekali menghela napas panjang. Tapi aku tahu dia tidur.
Napasnya pelan dan teratur.
Untuk kali pertama, kepalaku berbalik ke
belakang, menghadap Fian.
....
Aku menelan ludah.
Fian seksi banget.
Fian tidur telentang dengan kedua tangan
di belakang kepala, memamerkan keteknya yang mulus tanpa bulu. Aroma tubuhnya
yang maskulin menguar dari ketek itu. Hangat dan agak manis.
Aku bisa melihat dengan jelas karena
pupilku sudah beradaptasi dengan keremangan kamar. Jadi, tubuh telanjang itu
terlihat vivid. Lekukan ototnya. Busungan dadanya. Kotak-kotak perutnya.
Bahkan, gelapnya warna puting Fian terlihat kontras. Puting itu ada di dada
kekar yang diafragmanya bergerak naik turun dengan konstan.
Hidungku hanya berjarak beberapa senti
dari kulit telanjang itu. Hidungku bisa mencium aroma tubuh Fian yang laki
banget, natural tanpa diolesi skincare boti.
Aku menghabiskan setengah jam mengamati
Fian yang terlelap dalam damai. Mengamati kekar lengannya yang dilipat ke atas.
Entah apa yang terjadi, kayaknya
hidungku makin dekat dengan tubuh Fian.
Mungkin tubuh Fian secara ajaib mendekat
ke hidungku.
Atau hidungku yang mendekat ke tubuh
Fian.
Entahlah.
Tapi aku yakin banget, puncak hidungku
kok deket banget sama keteknya Fian.
Dan aku nyaman banget, ya Tuhan.
Kehangatan tubuh Fian bikin aku rileks, damai, dan tenang. Aroma tubuhnya bikin
aku merasa safe. Ritme napas Fian seperti musik meditasi yang
menenangkan.
Mungkin memang aku yang menggeser
tubuhku lebih dekat ke Fian.
Enggak masalah. Namanya juga orang
sedang tidur. Pasti guling-guling ke sana kemari, tanpa sadar hidung kita
nempel ke tubuh orang yang tidur di sebelah. Itu masuk akal, kan?
Jadi aku menempelkan hidungku ke bawah
ketek Fian.
Hmmmm ....
Astaga. Pengin crot rasanya.
Aromanya enak banget.
Aroma cowok yang memikat.
Ini kalau aku penjahat kelamin, pasti
aku udah ngangkat kepala lalu ngejilat ketek ini, ya Tuhan.
Aku cuma bisa mendongak, sambil tetap
menempelkan hidung dan bibirku ke bawah ketek Fian yang kulitnya hangat itu.
Mataku membuka. Di depan mataku adalah permukaan ketek Fian yang mulus. Yang
ada titik-titik hitam bekas buku-bulunya dicabut pake sugar wax. Ini
bagian yang sensitif. Yang kayaknya ....
AH!
... pasti gemesin misal kita gelitikin
pake lidah.
Aku sange bukan main, Kak.
Pengin banget ngocok kontolku sendiri.
Pengin crot.
Sedari tadi pengin crot, tapi
enggak bisa.
Kira-kira kontol Fian gimana, ya?
....
Aku mengangkat kepala untuk melihat ke
bawah perut Fian—
WHAT THE FUCK!
Kontolnya lagi ngaceng!
....
Aku sampai membeku, Kak. Kepalaku naik,
mataku melotot, aku enggak bisa bergerak. Kontol itu ngaceng dan naik ke
atas, mendesak celana pendeknya, sampai membentuk tenda!
Literally tenda! Seperti yang dibahas di
cerita-cerita Wattpad! Ini kita beneran bisa camping di balik celana
Fian, Kak.
Pengin nangis rasanya.
Huhuhu ....
Dari ukurannya sih ....
....
Ya Tuhan ....
Apakah orang yang pernah menyentuh
kontol Fian sama dengan sedang masuk surga?
Betapa beruntungnya Ida.
Mungkin aku harus berhenti bersikap
jahat ke Ida. Mungkin harusnya aku memaafkan Ida atas semua kesalahannya, agar
aku bisa kebagian rezekinya Ida.
Yaitu, kontolnya Fian!
....
Aku menelan ludah berkali-kali.
Jantungku berdebar-debar tanpa henti. Napasku mulai ngos-ngosan. Aku enggak
tahu gimana caranya ngadepin kontol ngaceng yang berhasil bikin tenda
kayak begitu.
Maksudku, ukuran kontolku tuh bukan yang
normal ya, Kak. Tapi kalau ngaceng tuh ya tetep aja tergeletak di atas
perutku. Enggak naik ke atas sampe bikin tenda kayak gitu!
....
Aku yang mulai bernafsu, akhirnya
bergerak pelaaannn ... sekali, menuju kontol Fian. Aku merayap seperti ular
besar di delta sungai tadi. Semakin wajahku dekat dengan kontol itu, semakin
dadaku dag dig dug duer daia! Dadaku sudah naik setengah, memastikan
tidak ada bagian tubuhku yang menyentuh tubuh Fian.
Tak lama, hidungku hanya berjarak
beberapa senti dari morning wood-nya Fian. Aku membelalak takjub melihat
perkemahan di depanku. Mataku semakin memelotot ketika melihat di puncak tenda,
ada cetakan antara kepala kontol dan batangnya.
Kamu paham kan, Kak?
Kelihatan ... indah sekali.
Padahal semua kontol sama, tapi punya
Fian ini ....
... aku enggak bisa menjelaskannya.
Yang pasti—
Oh! Kontolnya berkedut-kedut barusan!
Aku membelalak takjub dengan senyum
lebar. Merasa senang sekali, seperti melihat sesosok makhluk yang
bergerak-gerak untuk menunjukkan bahwa dia hidup.
Lama kelamaan, hidungku semakin dekat
dengan kontol Fian. Aku hampir bisa merasakan aroma kontol tentara itu dan
hangatnya area selangkangan ini. Kontol itu berkedut lagi sekali, membuatku
semakin menyosorkan wajah ke arah sana.
Aku bisa mencium wangi lembap jembutnya
di dalam sana.
Dadaku semakin berdebar ketika mataku
bisa melihat ....
... siluet batang kontol Fian di balik
rongga kancing celana yang tidak tertutup.
Aku membelalak melihat batang cokelat
itu tampak begitu mulus.
Napasku memburu.
Hidungku semakin dekat ....
Aroma kontol Fian semakin kuat ....
Dan tak lama kemudian ....
... hidungku menyentuh kontol itu—
“Dek? Lagi ngapain?”
....
....
....
....
....
....
....
Mampus.
Fian bangun.
Komentar
Posting Komentar