Tenang
aja. Aku masih selamat dan aman sentosa.
Aku
enggak dijebloskan ke penjara oleh seorang tentara yang mendapati aku kaum LGBT
yang patut dibinasakan.
Yang
kulakukan memang keterlaluan. Orang lagi tidur, kontolnya malah kuciumi.
Belum
kecium, sih. Baru juga puncak hidungku kena kepala kontolnya, itu pun masih
terbalut celana pendek, aku ketangkap basah oleh yang punya kontol.
Waktu
Fian menyapaku, pas hidungku masih nempel di kepala kontol itu, jantungku copot
sih, Kak. Secara medis mungkin. Karena rasanya nyawaku lagi dicabut Tuhan.
Seluruh badanku meremang, seolah-olah jiwaku ditarik keluar. Aku membeku dengan
keringat dingin sebadan-badan. Dadaku udah bukan deg-degan lagi, tapi berhenti
berdenyut.
Aku
enggak tahu gimana ngejelasin ke Kakak situasinya seperti apa. Tapi dalam dua
detik yang menegangkan itu, aku merasa malu bukan main.
Aku
takut. Aku panik. Aku cemas. Aku udah ikhlas kalau aku ditangkap sama polisi
karena ketahuan nyiumin kontol tentara.
Tapi
alhamdulillahnya aku masih punya kekuatan untuk mengangkat kepala dan pura-pura
celingukan.
“Lho
...?” Aku mengerjap-ngerjapkan mata. “Aku ... aku kenapa?”
Pura-puranya
aku baru bangun juga. Terus aku enggak paham situasi.
Fian
mengerutkan alisnya. “Adek tadi bangun terus kepalanya naik sampai situ.”
“A
... apa?!”
Nah,
di sini jantungku berpacu. Keringat dingin langsung merembes keluar, Kak.
Bajuku langsung basah.
“Adek
mimpi buruk?” Fian tiba-tiba menarik bahuku agar berbaring lagi ke atas kasur.
Tepat di sebelahnya.
Bahkan
nih, gobloknya si Fian, dia meletakkan kepalaku di atas otot lengannya kekar
itu—wajahku tepat di samping keteknya. Lalu Fian merangkulku lebih dekat,
menarik badanku supaya nempel ke badannya.
“A
... aku ....” Aku enggak tahu harus ngomong apa. Suasana hatiku berubah dari
panik dan cemas menjadi bingung dan merasa ... dibikin romantis.
Kepalaku
menindih lengan kekar itu. Lengan kekar yang kokoh dan hangat. Lalu ketek yang
aromanya manly itu menguar lagi ke hidungku. Hangat juga. Lalu ketika
tubuhku ditarik mendekat, badanku digulingkan agar memunggungi Fian ....
...
aku dirangkul dari belakang.
“Udah,
tidur lagi aja,” bisik Fian di tengkukku. “Cuma mimpi aja yang barusan.”
Betul,
Kak.
Aku
berbaring lagi dengan nyaman sambil dipeluk Fian dari belakang.
Ketika
seharusnya aku dirajam, diarak keliling kampung sambil telanjang karena aku
LGBT, aku malah dipeluk dengan nyaman dan pahaku di-puk-puk-puk oleh
satu tangan Fian yang terjulur ke bawah sana.
Aku
memelotot bingung, sih. Sumpah.
Mana
kontol Fian yang keras sekarang menempel ke pantatku.
Enggak
dia gesek-gesek, tapi kontol ngaceng itu ada di sana!
Lalu
Fian tidur lagi.
....
Ini
aku curiga justru Fian yang lagi mengigau, sih. Ngelihat ada laki-laki lagi
nyium kontolnya, dia malah meluk laki-lakinya sambil ngajak cuddling. Degup
jantungku aja sampai dilema. Mau deg-degan karena ketahuan melecehkan kontol
tentara, apa deg-degan karena dibikin paling romantis?
Aku
masih syok selama beberapa menit. Tapi pelukan itu benar-benar nyaman. Fian
merengkuhku dengan penuh perlindungan. Di depan mataku ada lengan Fian yang
kulitnya kecokelatan dan urat-urat tampak muncul ke permukaan. Tubuhnya hangat
dan bikin enak ke badanku. Lalu suara napas Fian di tengkukku kayak irama yang
menenangkan.
Aku
akhirnya tertidur enggak lama setelah Fian tidur.
Aku
tidur dalam dekapan yang nikmat.
[
... ]
Aku
terbangun lagi kira-kira pukul tujuh pagi. Itu pun terbangun karena Fian
membuka pintu dan masuk ke kamar. Aku mengangkat kepala. Kutemukan diriku
terbaring sendirian di atas kasur. Kukucek mata sembari bangkit untuk duduk.
“Kalau
masih ngantuk, tidur aja dulu,” kata Fian. Dia sudah mengenakan celana pendek
selutut dan kaus berwarna gelap yang ngepas ke badannya. Ketika masuk kamar,
Fian membawa kantung kresek entah isinya apa.
“Abang
dari mana?” tanyaku dengan suara parau.
“Dari
bawah. Dari Dek Ida. Barusan Dek Ida pulang pagi-pagi, tapi langsung tidur
karena semalaman enggak tidur. Jagain temennya.”
Sama
Bang, aku juga enggak tidur semalaman gara-gara Abang.
Fian
menutup pintu dan bergegas duduk ke atas tempat tidur. Dia menghela napas
panjang sembari menoleh ke arahku. “Pulas banget tidurnya, pasti gara-gara
capek naik gunung, ya?”
Mana
ada, anjing.
“Kakiku
pegal-pegal sih, Bang.” Aku baru menyadari, semua area tungkaiku terasa ngilu
gara-gara hiking. Kunaikkan lutut sedikit aja, aku merasakan perih di seluruh
otot paha.
“Gapapa,
Adek istirahat dulu.” Fian menepuk bahuku lalu bergegas ke area ‘dapur’.
Sebenarnya
kamar kosan ini enggak ada dapur, tetapi aku menyulap satu sudut kamarku dengan
peralatan yang setara dengan dapur. Misalnya rice cooker, kompor kecil,
kulkas, alat masak, itu kusimpan di area situ. Biasanya Ida mampir ke situ
untuk bikin seblak sambil bergosip.
“Mau
bubur, enggak?” kata Fian sambil membuka rice cooker. Terlihat kepulan
uap menghambur keluar.
“Abang
bikin bubur?”
“Yep.”
Fian menoleh sembari cengar-cengir. “Sorry Abang lancang. Waktu Adek
tidur, Abang sengaja bikinin bubur buat sarapan. Gapapa?”
“Gapapa,
sih.” Aku lebih kepikiran soal yang lain. Yaitu aku tertidur di atas kasur,
sementara Fian bikin bubur di situ.
Gimana
kalau aku kentut sewaktu tidur tadi?
Lalu,
suara kentutnya, BROT! BROT! BROT!
Mana
semalam aku douching pula. Yang artinya area di bawah sana sedang kosong
seperti ruko yang diincar Mixue. Kalau ruangannya bersih, berarti sound
system-nya lagi kencang-kencangnya, dong?
Mukaku
memerah karena malu.
“Kenapa,
Dek? Enggak suka bubur, ya?” Fian dengan cemas menghampiriku.
“Oh?
Bukan, bukan! Hehehe. Gapapa. Aku suka bubur, kok. Aku cuma kepikiran hal
lain.”
Fian
mengamatiku selama beberapa saat lalu menyimpulkan bahwa aku memang baik-baik
aja. Dia menghampiri lagi area dapur untuk menuang bubur ke mangkuk dan
menaburkan bawang daun ke atasnya. “Siang entar Abang mesti survei. Adek mau
ikut enggak?”
“Survei
ke mana?”
“Kosan.”
“Abang
mau ngekos?”
“Enggak.
Abang harus ngedata kosan-kosan sekitar sini buat nampung taruna baru di akmil.
Asrama kita overcapacity, jadi selama bangunan barunya dibikin,
tarunanya harus ditampung di kosan-kosan sekitar. Palingan cuma 5 – 6 bulan
aja. Habis itu ke asrama.”
“Jadi
Abang mau keliling nyari kosan?”
“Oh,
udah ada datanya. Nanti tuh cuma mau foto sama deal harga aja sama yang
punya kosan. Tapi hari ini cuma tiga doang, sih. Udah booking janji juga
sama yang punya kosan.”
“Kalau
kosanku ini ..., bisa enggak kira-kira—“
“Enggak,”
jawab Fian seketika. Dia menyerahkan bubur buatannya ke tanganku dengan salah
tingkah. “Di sini ..., enggak boleh.”
“Kenapa
enggak boleh?”
“Karena
....” Fian menatap wajahku selama beberapa saat. “Karena ..., ngng ...,
agak jauh aja, sih.” Dengan canggung Fian berbalik dan mengambil semangkuk
bubur untuk dirinya sendiri.
Entah
mengapa aku merasa bukan itu jawabannya.
Dan
aku kecewa karena tarunanya tidak bisa ngekos di sini. Kan lumayan ya kalau
lantai tiga ini dipenuhi calon-calon tentara. Pas lagi ngantre mandi aku bisa
melihat tentara-tentara macho, ganteng, badan atletis, lagi telanjang
dada dan ngantre juga.
“Jadi
... ummm ... siang entar mau ikut Abang?” tanya Fian, menghampiri
kursiku dan duduk di atas sana sambil menyantap buburnya.
“Boleh.
Semoga kakiku udah baikan.”
“Oh
iya, satu lagi,” kata Fian, tanpa melihat ke wajahku. “Jangan bilang Dek Ida
kalau Abang tidur di sini, ya?”
“Kenapa?”
“Gapapa.”
Fian memalingkan wajahnya tanpa alasan yang jelas.
Dan
tidak melanjutkan jawabannya.
[
... ]
Seluruh
tungkaiku masih terasa pegal, tetapi aku bisa berjalan dengan nyaman—asalkan
enggak banyak naik turun tangga. Pukul satu siang aku dibonceng Fian di
motornya menuju satu tempat makan di pusat kota. Tempat makannya ramai, kami
hampir enggak kebagian meja. Namun saat kami datang, beruntung sekali satu
keluarga baru saja selesai makan sehingga meja yang berada di lantai dua,
menghadap pegunungan yang kami daki kemarin, kosong. Kami duduk di sana sembari
menatap pemandangan itu.
Nun
jauh di sana, di salah satu sungainya, kami bertemu ular raksasa sepanjang lebih
dari empat meter.
Makan
siang itu damai aja sebenarnya. Fian menceritakan penerimaan taruna baru itu
dan proses apa saja yang harus mereka lalui—khususnya di bidang medis. Namun
setengah jalan kami menikmati makan siang, bahuku ditepuk seseorang.
“Hey,
Rohmat!”
Aku
menoleh dan menemukan ....
...
Deva.
“Anjir!
Lagi ngapain lu di sini?!” katanya sambil membuka tangan seperti ingin
merangkulku.
Lagi
bercocok tanam, jawabku dalam hati.
Kenapa
yang warga +62 tuh merasa perlu menanyakan pertanyaan retoris macam begini?
Kalau aku lagi duduk di restoran dengan piring yang masih kumakan kira-kira
lagi ngapain akunya? Lagi nonton live Bunda Corlakah?
Hah?
Aku
membalas rangkulan Deva dengan terpaksa. Mukaku langsung berubah awkward.
Deva
mengulurkan tangannya dengan gagah ke arah Fian. “Deva!” katanya mengenalkan
diri. Lalu tanpa izin, dia duduk di depan kami. “Penuh banget restonya. Gue
duduk di sini aja, ya!” Kemudian Deva mengacungkan tangannya untuk meminta menu
ke pelayan.
Fian
masih syok. Dia melirikku seperti ingin meminta penjelasan.
Namun
belum juga aku menjelaskan, Deva sudah menjelaskan duluan. “Gue temennya si
Rohmat! Masa dia kagak pernah cerita soal gue, sih?! Anjir, lah! Hahaha ....
Gue dulu deket ama si Rohmat. Sering makan bareng juga kayak elo begini. Biasa,
kalau makanan di rumah tuh ... gimana, ya? Gue tuh kagak suka masakan si bibi, euy.
Kayak dari kampung. Kalau ke resto, kan ... enak, ya. Banyak pilihannya. Ini
juga gue barusan bingung mau makan di mana. Anjir. Mumet banget pengin makan cheeseburger,
tapi cheeseburger yang gue suka ada di Bandung. Males banget anjir ke
Bandung jam segini! Hahaha ... pasti macet pula entar di Pasteur. Makanya ya
udah lah, mendingan gue makan ke sini aja, buat killing time. Katanya di
sini iganya enak, ya? Oh elo mesen iga juga? Enak enggak—“
“Silakan,
Pak. Ini menunya.” Seorang pelayan memotong pembicaraan Deva dan bersiap
berbalik.
Namun
Deva menahannya. “Bentar, bentar. Sini dulu.” Deva membuka menunya. “Ini apa?”
Pelayan
itu mengerutkan alis sembari menunjuk gambar yang ditunjuk Deva. “Itu paket
timbel usus sapi, Pak.”
“Ini
apa?”
“Itu
... ngng ... itu iga bakar madu.”
“Oh
ini iga yang enak itu? Oke. Kalau ini apa?”
“Itu
... itu garnish, Pak. Makanannya yang ini.”
Selama
Deva menunjuk setiap gambar dan bertanya nama makanannya—padahal nama makanan
sudah tertera di situ plus harga dan keterangannya—Fian menyenggolku.
“Siapa?”
bisik Fian, masih menatap awas Deva di depan kami.
Aku
malah menjawab. “Enggak kenal.”
“Dia
tahu nama Adek.”
Aku
menghela napas dengan kesal ke arah Deva. “Teman lama. Sorry.”
“Gapapa.”
“...
kalau ini? Ini ya special dish-nya?”
“Bukan,
Pak. Itu menu untuk takeaway.” Pelayan itu membalik lagi halaman menu ke
bagian depan. “Special dish-nya untuk hari ini ada di iga bakar madu ini
..., lalu french scallop dengan cabe hijau—jadi ada perpaduan french
sauce beurre blanc sama masakan padang balado cabe hijau, lalu ada bebek
panggang mandarin—ini pake butter, bukan minyak babi, jadi halal.”
“Oke,
oke, oke. Nice semua. Tampilannya juga bagus di gambar.” Deva manggut-manggut.
Dia membolak balik lagi halaman menu mencari pilihannya, kemudian menunjuk
salah satu menu, “Gue mau yang ini aja, deh.”
Pelayan
itu mengeluarkan nota kecilnya lalu mencatat. “Oke ... nasi dan telor ceplok
pake kecap satu, ya.”
“Sama
es teh manis.” Deva menyerahkan lagi menunya kepada pelayan, lalu terkekeh
sambil menoleh ke arahku. “Biasa, lah, Rohmat, gue lagi diet. Enggak bisa makan
banyak.”
“Mohon
ditunggu ya, Pak.” Pelayan itu pun pergi meninggalkan meja kami.
“Eh,
sorry, Bro. Tadi nama elo siapa?” tanya Deva sembari mulai bersandar ke
kursi dan ikutan melihat pemandangan gunung di depan kami.
“Rafian—“
“Gue
pernah ke gunung itu, tuh,” kata Deva tiba-tiba, memotong Fian. Deva menunjuk
gunung terbesar dari rangkaian gunung yang kudaki kemarin. “Gila, curam banget coy
naiknya. Udah kayak Veddriq Leonardo gue di situ. Set! Set! Set!” Deva
mempraktikkan gerakan Spiderman merangkak di dinding. “Tapi worthy
banget, anjir! View-nya bagus. Elo pernah ke sana enggak?”
Fian,
agak ragu karena tidak tahu Deva bertanya ke siapa, memutuskan untuk menjawab,
“Yep. Kemaren saya hiking ke sana.” Fian menunjuk gunung paling kecil di
situ, gunung yang kami daki kemarin. Namun Deva tidak melihat.
Kemungkinan
besar tidak mendengarkan juga.
“Gue
tiga jam lah nyampe ke puncak yang ono, tuh!” Deva menunjuk gunung
paling tinggi. “Bolak balik sehari. Gampang lah di situ mah, enggak
kayak di Semeru.”
Aku
sudah membuka mulut untuk menantang pernyataan itu, karena aku mendaki gunung
paling kecil di situ saja bisa berjam-jam—ditambah drama kecemplung di sungai
dan ketemu ular segala. Gimana ceritanya gunung yang paling besar di situ
didaki cuma tiga jam? Naik lift, lu?!
Namun
Fian menyenggolku sembari menggelengkan kepalanya. “Enggak usah,” bisiknya.
“Jadi
gini, Rohmat, seni naik gunung tuh enggak bisa dinikmatin semua orang. Elo
mungkin enggak akan bisa naik gunung sih, badan elo kan kecil, ya. Kurang cocok
buat ada di tempat-tempat kayak gitu. Biasanya gampang kerasukan. HAHAHA!” Deva
mendamprat lengan Fian yang kekar, sok-sok akrab ngebercandain aku, ala-ala
cowok superior yang menganggap aku adalah cowok lemah yang pantas di-bully.
“Elu kalau mau naik gunung, mesti strong dulu, Rohmat. Entar di sana elu
mesti manjat-manjat batu, ngelompatin sungai, manjat pohon, merangkak di
gorong-gorong. Wah! Total body knock out, anjir. Elu harus rajin
olahraga dulu. Harus rajin nge-gym. Kayak si Abang ini. Siapa namanya?”
Fian
dengan sabar menjawab, “Rafianto.”
“Nah,
kayak si Bang Subyanto ini. Otot lu harus gede kayak gini, nih ....” Deva
meremas-remas lengan Fian yang kekar. Agak lama meremas-remasnya. Kayaknya dia
terpukau dengan otot kokoh Fian, sampai-sampai jeda waktu cuap-cuap Deva, yang
biasanya enggak lebih dari sedetik, ini sudah sepuluh detik Devanya masih sibuk
meremas Fian. Meremas lengan bisep trisep, dari atas, ke bawahnya, terakhir
bahkan dia meremas dada Fian. “Kayak gini ...,” tutupnya dengan suara pelan.
Wajahnya berubah sendu. Entah iri, entah pengin punya otot kayak Fian, entah
pengin menikmati otot Fian.
Aku
menghela napas. “Iya,” balasku singkat.
Deva
kayaknya minder dengan topik soal otot. Sebab tiba-tiba dia mengganti topik,
“Eh, Bro ... Elu pernah naik kereta api Whoosh, enggak?”
Ada
obrolan panjang terjadi di antara kami selama kira-kira satu jam. Aku rasa aku
enggak perlu menceritakannya ke Kakak.
Ya
enggak?
Isinya
Deva cuap-cuap ke sana kemari sementara aku dan Fian menghabiskan makan siang
kami. Aku agak malu sih dengan situasi ini. Semoga Kakak masih ingat alasan
kenapa aku enggak tertarik menceritakan dengan rinci apa yang Deva obrolkan.
Selain aku bingung bagaimana menyaringnya, Deva kalau ngomong selalu panjang
dan selalu berpusat ke dirinya sendiri. Aku enggak tahu apa yang ada dalam
pikirannya ketika melihat aku duduk sama cowok ganteng yang kekar, yang
rambutnya cepak ala-ala militer. Satu hal yang pasti, Deva merasa ‘superior’
dan punya teman superior untuk mem-bully-ku.
“...
iya nih si Rohmat ini emang seleranya ... yah, so-so, lah. Maklum,
enggak pernah ke mana-mana. Dulu waktu gue masih sering hangout ama si
Rohmat, pas gue kagak sibuk ama kerjaan kayak sekarang nih, kita sering main ke
mal, kan!” Deva menampar lenganku dengan punggung tangannya. “Terus pas gue
tanya, ‘Eh, mana baju yang menurut elo bagus?’ Terus dia jawab, ‘Itu yang
kembang-kembang.’ HAHAHA! Yang kembang-kembang, coba?! Anjir! Emangnya mau ke
kondangan?!”
Itu
adalah jawaban Deva dari pertanyaan Deva sendiri tentang outfit yang
bagus untuk datang ke Pilkada 2024 yang akan diadakan serentak sebentar lagi.
Enggak
perlu tanya kenapa kami bisa sampai bahas outfit ke Pilkada.
Secara
teknis aku memang enggak tahu jawabannya kenapa Deva bisa membahas ke arah
sana.
Tapi
in my defense, baju kembang-kembang yang kubilang bagus tuh kemeja
floral yang longgar, yang biasa dipake ke pantai. Konteks pertanyaan waktu itu
adalah Deva nanyain kemeja apa yang santai dan casual, ya aku jawab
kemeja kembang-kembang itu. Sudah jelas kemeja itu bukan untuk pergi ke
kondangan.
Fian
menenggak soda kalengnya, lalu menoleh ke arahku, “Favoritmu baju
kembang-kembang?”
“Bener!”
Deva menyahut dengan percaya diri. “Ampuuunnn ..., ampun. Udah gue bilang mendingan
pake yang branded aja. Gue punya. Sampe gue kadang ngasih pinjam juga,
sih. Biar menarik, gitu. Ya enggak? Gue kalau belanja biasanya ke Jakarta ama
ke Bandung. Enggak ada pilihan lain lagi. Ke Jakarta kalau gue pengin beli yang
branded internasional. Ke Bandung kalau mau support lokal UMKM.
Baju-baju mereka juga bagus, anjir. Gue ke Bandung tuh ke distro-distro anak
muda, ke Cimol, udah gitu kalau habis belanja bisa langsung wisata kuliner! Hadeuh,
mantap! Gue paling suka di Bandung tuh ... apa ya ... apa sih itu ...? Bentar
.... Batagor Haji Isan! Beuh, maknyus! Itu gue kalau udah mesan
batagor itu ....”
Oke,
Kak. Aku setop aja sampai situ karena aku enggak mau ngabisin waktu Kakak
dengerin Deva ngomong. Waktu Kakak hanya boleh habis untuk mencemburui fakta
bahwa aku sama Fian nge-date siang ini. Toh sisa obrolan Deva juga
gitu-gitu aja.
Paham
lah, ya?
Intinya,
begitu makanan dan minumanku kami habis (kami tuh maksudnya aku sama Fian), aku
menyenggol paha Fian di bawah meja. Aku mengedikkan kepala diam-diam ke arah
pintu keluar, memberi kode bahwa aku pengin pergi dari sini.
Fian
yang mungkin belajar kode morse dan body language di akademinya, memahami
maksudku. Tiba-tiba dia melihat layar ponselnya, menyalakannya tanpa membuka
kunci, lalu pura-pura membaca notifikasi Whatsapp yang ada di sana. “Oh, kita
harus berangkat,” kata Fian sembari berdiri dengan gagah, enggak peduli Deva
sedang mencerocos di tengah-tengah kalimatnya.
“...
dan menurut gue, garam sama jahe tuh paling enak dibalurin ke kaki yang—eh, mau
berangkat ke mana, Bro?” tanya Deva, akhirnya berhenti bicara.
Fian
bangkit dari kursi sembari menarik jaket bomber-nya dari sandaran. “Ada
kerjaan. Ini mau minta tolong Rohmat buat bantuin.”
“IYA!”
sahutku bersemangat. Senang banget akhirnya obrolan ini berakhir. “Aku mau
survei!”
“Ooohhh
... survei.” Deva manggut-manggut, tapi masih duduk. Mungkin akhirnya dia akan
menghabiskan nasi dengan telor ceplok dikecapin itu? Santapannya belum habis
soalnya. Kebanyakan ngomong ke sana kemari. “Gue juga di kantor sering survei.
Terakhir kali gue survei—“
“Kita
pergi dulu, ya,” kata Fian, memotong Deva tanpa ampun sembari menarik bahuku
pergi, hampir merangkulku.
“Oh
... oke.” Deva kebingungan. “Ini ... jadi makanannya siapa yang—“
“Saya
bayarin,” kata Fian, tersenyum lebar sembari meremas ujung bahuku.
“Ooohhh
... ya udah. Gue juga bisa bayarin sebenarnya—“
“Gapapa.
Saya aja. Mari, Mas.”
“Oke,
Bro. Jaga adek gue baek-baek, ya!” Deva melompat berdiri dan tiba-tiba
memelukku.
Bukan
cuma aku, sih. Dia juga memeluk Fian dengan gestur kayak dua cowok straight
yang bersahabat baik yang harus pelukan kalau berpamitan. Tapi Deva meluk
Fiannya agak lama.
“Oke,”
balas Fian, agak mendorong tubuh Deva agar lepas. “Sampai jumpa lagi, ya.”
Aduh
kalau bisa jangan, deh.
“Iya,
Mas! Sampai jumpa lagi!” balas Deva dengan gembira. Dan entah mengapa dia harus
mengulangnya lagi, “Pokoknya jagain adek gue, ya! Bukan adek kandung, tapi kita
deket banget dulu.”
Di
depan semua tamu restoran.
Rahangku
mengeras dan udah kesal banget. Jujur, aku enggak menikmati makan siang itu.
Sejak kedatangan Deva, hariku berubah drastis. Memang, ada bagusnya, tapi tetap
aja aku kesal bukan main.
Apa
bagusnya? Bagusnya adalah aku bisa berhenti overthinking.
Sejak
bangun tidur pagi tadi, lalu makan bubur dan bla bla bla, hatiku agak cemas
dengan kejadian pukul empat dini hari waktu aku menempelkan hidungku ke kontol
Fian. Fian enggak pernah membahasnya lagi sampai detik ini dan itu bikin aku tersiksa.
Kehadiran
Deva bisa membuatku melupakan itu semua. Semoga permasalahan itu akan lenyap
begitu saja dan Fian tak mengingat satu pun kejadian pukul empat dini hari
tadi. Aku berjanji, ya Tuhan, spesial ke Fian aku enggak akan mengulangi lagi
hal-hal kayak tadi. Aku enggak akan melecehkannya saat tidur—seperti yang
pernah kulakukan ke sepupuku dan beberapa orang lain. Aku akan menghormati Fian
meskipun statusku sama dia enggak akan pernah jelas.
Setelah
membayar makanan kami (termasuk Deva), Fian langsung mengajakku ke motornya di
parkiran. Fian sempat bertanya singkat sambil mengenakan helm.
“Siapa
sih itu?” tanyanya. Ada nada enggak suka dalam kata-kata Fian.
Aku
mengangkat bahu. “Orang gila. Udah enggak usah dipikirin.”
“Serius,
Dek. Siapa itu?” Fian menaikkan sebelah alisnya sembari memasang jaket
bombernya ke badan.
“Teman
lama aja, Bang. Orangnya emang nyebelin. Maaf, ya.”
“Bukan
kakak?”
“Ih,
bukan!”
“Tadi
katanya suruh jagain Adek sambil bilang ‘adek’.”
“NO!”
sergahku. “Aku sama dia enggak ada hubungan apa-apa. Cuma teman aja. Dia emang
nyebelin orangnya. Abang juga lihat sendiri kan kayak gimana dia orangnya?”
Fian
membuka mulutnya untuk membantah, tetapi dia setuju juga. Fian mengangguk kecil
lalu naik ke atas motor. Dalam perjalanan ke kosan pertama, aku mendapatkan
Whatsapp dari Deva.
Itu
Supriyanto tentara bukan? Dandanannya ky tentara. Cakep bgt! Gw suka.
Aku
memutar bola mata sembari mengetik pesan balasan. Jujur agak susah membalasnya,
karena motor Fian tuh motor gede yang mengharuskan penumpangnya memeluk dengan
mesra tubuh sang pengemudi—seperti yang dilakukan Ezel dari gunung sampai ke
kosannya.
Rafianto,
balasku. Iya tentara.
Tak
lama, Deva membalas, Ajak mainlah! Dia belok jg kagak? Gw pgn bahas soal
kita tp takutnya dia kga belok. Ntar malah gw yg digebukin.
Harusnya
kamu digebukin, sih. Bisa-bisanya aku lupa kalau Fian bisa ngegebukin Deva
sampai mampus. Ular piton segede kereta Whoosh aja sama dia dilawan.
Ga
belok, balasku lewat Whatsapp. Mau ajak
main kemana emg?
Main
b3 lah anjir. Wkwkwk. 3S! Kyk wktu kita ama tentara itu.
Ga
boleh, balasku sambil memutar bola mata.
“Oke,
di sini tempatnya.” Fian menepikan motor di sebuah kosan yang lumayan bagus.
Kosannya lumayan besar dan berada di tengah-tengah kompleks perumahan. Jaraknya
dari lanud kira-kira dua puluh menit.
Aku
membuntuti Fian masuk ke dalam, tetapi penjaganya menyuruh kami duduk di teras
depan karena yang punya kosan sedang dalam perjalanan ke sini. Sambil duduk,
ingin rasanya membaca lagi pesan Whatsapp Deva, tetapi Fian sedang duduk di
sebelahku. Jadi, aku membuka Instagram saja.
“Abang
enggak punya Instagram?” tanyaku basa-basi.
“Punya,”
jawab Fian.
Aku
mengerutkan alis. Aku ingin sekali membantahnya, karena aku sudah menghabiskan berjam-jam
di setiap kesempatan untuk mencari IG Fian, tetapi tak pernah berhasil
menemukannya. Aku juga mengecek following-nya Xavier—karena aku dan
Xavier sudah mutualan—demi mencari IG Fian.
Nihil.
“Tapi
Abang enggak aktif. Fotonya juga cuma lima. Dulu bikin Instagram buat janjian
ama temen-temen SMA aja. Kadang mereka ngehubunginnya lewat DM IG, bukan lewat
Whatsapp. Jadi, ya ..., Abang pake IG buat DM-an aja.”
“Apa
namanya?”
“Sini.”
Fian menarik ponselku lalu mencari nama IG-nya di penelusuran.
Aku
agak deg-degan, karena Deva kan sedang aktif me-Whatsapp-ku. Takutnya
notifikasi pesan dari Deva muncul, lalu dia berkata hal-hal tak senonoh soal
Fian ketika Fian lagi pegang hape-ku.
Untungnya
enggak ada.
Dan
ternyata nama akun IG Fian adalah User5683480XXX. (Kusensor ya, takutnya Kakak
nge-search IG-nya Fian.) Profil picture-nya kosong. Tapi, akun
itu punya lima foto yang semuanya adalah foto Fian sejak menjadi taruna dan
tentara, dengan foto ala-ala cowok straight, berdiri di tengah, tanpa
ekspresi, dengan latar yang menceritakan segalanya. Misal, latar di depan
pesawat tempur, latar di depan gedung militer apalah itu, latar di depan gedung
akademinya. Di semua foto itu dia berdiri tegap, kayak orang-orang zaman purba
yang enggak tahu caranya difoto. Hanya ada satu yang seenggaknya dia berpose
sedikit.
Yaitu
pose ngasih jempol.
Anjir.
Cowok
straight tulen jangan-jangan.
Ya
memang sih, dari awal juga semua tampilan dan energinya cowok straight
tulen. Fakta dia tidurnya sama si Ida juga harus kubantah gimana lagi, sih? Ini
malah bikin aku makin kepikiran soal jam empat dini hari tadi.
Aku
benar-benar berdoa Fian enggak ingat kejadian itu sama sekali.
“Adek
bakal follow enggak nih?” tanya Fian sambil menyerahkan lagi ponselku.
“Ya
follow, lah!” Kuklik Ikuti.
Fian
mengeluarkan ponselnya dan membuka Instagram. Dia juga mem-follow-ku
lewat notifikasi siapa yang baru mem-follow-nya. Ada seribu follower
di akun Fian. Yang kuasumsikan mereka semua nge-follow karena kenal,
bukan karena Fian punya konten nge-gym seksi sambil shirtless dan
pamer ketek.
“Kenapa
namanya user dan angka-angka?” tanyaku.
Fian
terkekeh. “Supaya enggak dicari orang.”
“Maksudnya?”
Fian
mengangkat bahu. “Kalau namanya Rafianto, entar orang-orang nyari, terus nge-follow,
terus entar jadi rame. Apalagi musim peserta didik baru gini, pada kepo nge-DM-in
Abang di IG. Bikin malas aja yang gitu, tuh.”
“Oh.
Oke.”
Aku
enggak mendebatnya.
Kemungkinan
besar memang dia cowok straight.
Cowok
straight yang enggak terpuruk maskulinitasnya dengan pelukan dari Ezel,
dengan tidur telanjang bareng laki-laki lain, dengan maksa si suster ini meluk
ke badannya waktu ngebonceng ke gunung kemarin.
Aku
enggak bisa mengajak Fian mengobrol lagi karena si pemilik kosan itu muncul
menghampiri kami. Fian mengobrol sebentar, masuk, dan melihat-lihat. Aku juga
begitu. Aku mulai melupakan soal seksualitas Fian yang membingungkan dan fokus
menemani Fian melakukan surveinya.
Di
kosan kedua, semua berjalan lancar. Pemilik kosannya sudah menunggu di depan
sehingga kami langsung mengobrol dan melihat-lihat setiap kamarnya. Aku mulai
sibuk meladeni Deva yang kayaknya horny melihat Fian. Dia membahas Fian
terus-terusan lewat Whatsapp. Bahkan ketika kukatakan berkali-kali, Dev! Mas
Fian itu lurus, enggak belok kayak kita! Please stop mikir yang aneh-aneh sama
dia.
Tapi
Deva malah berargumen, Enggak ada yang namanya lelaki lurus, Rohmat. Yang
ada adalah lelaki straight yang belum merasakan nikmatnya kontol. Begitu dia
tahu rasanya, beuh, pasti dia nagih.
Emang
sinting ini orang! Untung aku enggak pernah jadi pacarnya secara resmi. Aku
ingin sekali mengabaikan Deva tapi saat ini dia satu-satunya yang bisa
membuatku entertained. Aku gabut banget membuntuti Fian lihat-lihat
kamar kosan. Selain itu, aku juga menikmati reaksi Deva yang ngebet banget
pengin mencicipi Fian. Aku merasa bangga bisa tidur di samping Fian dan mencium
kontolnya pake hidungku. Deva mana bisa ada di posisi ini.
Mendekati
pukul empat sore, Fian mengajakku ke kosan ketiga. Yang ternyata adalah
kosannya Ezel! Aku baru saja dari sini semalam. Menunggu di luar pagar,
ditemani Erick yang marah-marah sendiri.
“Ini
... ini juga?” tanyaku ketika Fian membuka pagar kosan dan langsung membawa
motornya masuk ke carport. Bedanya, Fian tidak nyelonong pergi ke
belakang rumah pemiliknya, seperti ketika dia mengantar Ezel semalam.
“Iya.
Ini juga.” Fian membaca ponselnya. “Ini masuk ke list. Nanti Abang
hubungi ... ngng ... Pak Guntur.”
Fian
duduk di kursi teras untuk me-Whatsapp Pak Guntur, sembari mengotak-atik
aplikasi lain di hape-nya. Aku duduk di kursi teras juga, tapi agak
berseberangan, sehingga Fian enggak bisa melihat apa yang ada di hape-ku.
Soalnya aku lagi mau ngobrol sama Deva. Memamerkan Fian.
Gw
sih yakin kontolnya GEDE! Sluuurrp! Aaahhh ... nikmat anjir,
kata Deva di Whatsapp.
Aku
senyum-senyum sendiri. Dengan lagak sok suci, aku membalas, Sori Mas aku
gamau bahas yg begitu. Ga sopan. Mas Fian ini teman baikku.
Halah,
lu juga demen, kan!
Ya
iyalah, anjeng! Siapa juga yang enggak demen sama si Fian?!
Gw
mau cari IG dia, lanjut Deva di Whatsapp.
Dengan
senyum sebelah aku membalas, Good luck. Semoga bisa nemu.
“Halooo
...! Maaf tadi saya lagi beres-beres di belakang.” Pak Guntur muncul di pintu
depan dan langsung menyapa Fian. “Ini yang dari lanud, ya?”
“Iya,
Pak.” Fian langsung melompat berdiri dan menyambutnya. Mereka langsung
mengobrol soal kosan, sehingga aku tak mengindahkannya lagi.
Aku
membuka IG Fian lagi, untuk memastikan Deva enggak nemu akun itu. Begitu hasil search-nya
muncul, aku terkejut ketika melihat akun Fian sudah dipasangi profile
picture, padahal satu jam yang lalu waktu kami masih di kosan pertama, akun
itu enggak ada profile picture. Sampe barusan pun, sebelum nyampe sini,
akun itu enggak ada PP-nya. (Ya! Aku ngecek akun Fian setiap lima menit sekali!
Enggak boleh?!)
Tubuhku
langsung membeku saat melihat foto yang Fian pasang di profile picture-nya
adalah ....
...
foto Fian sendiri. Di pantai. Dengan satu tangan membentuk tanda V (peace).
Senyum lebar ganteng yang happy dan mamerin gigi. Tampak sangat approachable
dan fun.
Dan
Fian mengenakan kemeja kembang-kembang yang kasual dengan tiga kancing
teratasnya dibuka.
Kemeja
kembang-kembang.
Kemeja
yang siang tadi sempat dibahas di restoran bersama—
Deva
membalas Whatsapp-ku, Nemu. Gw udah follow.
Ga
mungkin! balasku buru-buru. Tapi aku
juga mengecek ke IG Fian untuk melihat apakah benar ....
Anjing!
Benar. Di sana tertulis akun Fian followed by Deva.
Gw
mutualan ma si tentara yg wkt itu fun ama kita. Dia follow elu. Jd yg
rekomendasi di akun dia ya si Fian sbb si Fian follow elu. Hahaha. Gw DM ah!
Jangan!
balasku panik. Mas mau DM apa sih?
“Dek?
Mau ikut masuk?” tanya Fian, sembari mengedikkan kepalanya ke arahku.
“Oh!
I ... iya.” Aku membuntuti Fian dan Pak Guntur masuk ke area kosan Ezel. Gedung
kosan itu lumayan besar di belakang rumah Pak Guntur. Dua lantai dan tampak
bersih maupun modern. Kemungkinan besar kamar mandinya di dalam.
Namun
aku sedang cemas dengan apa yang Deva akan lakukan ke Fian. Feeling-ku
enggak enak.
Gw
udah DM dia, kata Deva. Dia juga mengirimku
sebuah foto.
Foto
screenshot percakapan dia dan Fian di DM Instagram. Deva terang-terangan
berkata, Hei Bro! Ini gw yg td! Hehehe ..!! Dikasih tahu ROHMAT IG-nya yang
ini. Boleh kenalan lbh lanjut ga bro?! Cocok nih kyaknya kita kalau hangout brg
kayak td. ROHMAT bilang pnya lu gede. WKWKWKKW. Candaaa ... balas ya!
Mampus
aku.
Komentar
Posting Komentar