(HD) 12. Nasi dan Telor Ceplok Pake Kecap




Halo, Kak!

Tenang aja. Aku masih selamat dan aman sentosa.

Aku enggak dijebloskan ke penjara oleh seorang tentara yang mendapati aku kaum LGBT yang patut dibinasakan.

Yang kulakukan memang keterlaluan. Orang lagi tidur, kontolnya malah kuciumi.

Belum kecium, sih. Baru juga puncak hidungku kena kepala kontolnya, itu pun masih terbalut celana pendek, aku ketangkap basah oleh yang punya kontol.

Waktu Fian menyapaku, pas hidungku masih nempel di kepala kontol itu, jantungku copot sih, Kak. Secara medis mungkin. Karena rasanya nyawaku lagi dicabut Tuhan. Seluruh badanku meremang, seolah-olah jiwaku ditarik keluar. Aku membeku dengan keringat dingin sebadan-badan. Dadaku udah bukan deg-degan lagi, tapi berhenti berdenyut.

Aku enggak tahu gimana ngejelasin ke Kakak situasinya seperti apa. Tapi dalam dua detik yang menegangkan itu, aku merasa malu bukan main.

Aku takut. Aku panik. Aku cemas. Aku udah ikhlas kalau aku ditangkap sama polisi karena ketahuan nyiumin kontol tentara.

Tapi alhamdulillahnya aku masih punya kekuatan untuk mengangkat kepala dan pura-pura celingukan.

“Lho ...?” Aku mengerjap-ngerjapkan mata. “Aku ... aku kenapa?”

Pura-puranya aku baru bangun juga. Terus aku enggak paham situasi.

Fian mengerutkan alisnya. “Adek tadi bangun terus kepalanya naik sampai situ.”

“A ... apa?!”

Nah, di sini jantungku berpacu. Keringat dingin langsung merembes keluar, Kak. Bajuku langsung basah.

“Adek mimpi buruk?” Fian tiba-tiba menarik bahuku agar berbaring lagi ke atas kasur. Tepat di sebelahnya.

Bahkan nih, gobloknya si Fian, dia meletakkan kepalaku di atas otot lengannya kekar itu—wajahku tepat di samping keteknya. Lalu Fian merangkulku lebih dekat, menarik badanku supaya nempel ke badannya.

“A ... aku ....” Aku enggak tahu harus ngomong apa. Suasana hatiku berubah dari panik dan cemas menjadi bingung dan merasa ... dibikin romantis.

Kepalaku menindih lengan kekar itu. Lengan kekar yang kokoh dan hangat. Lalu ketek yang aromanya manly itu menguar lagi ke hidungku. Hangat juga. Lalu ketika tubuhku ditarik mendekat, badanku digulingkan agar memunggungi Fian ....

... aku dirangkul dari belakang.

“Udah, tidur lagi aja,” bisik Fian di tengkukku. “Cuma mimpi aja yang barusan.”

Betul, Kak.

Aku berbaring lagi dengan nyaman sambil dipeluk Fian dari belakang.

Ketika seharusnya aku dirajam, diarak keliling kampung sambil telanjang karena aku LGBT, aku malah dipeluk dengan nyaman dan pahaku di-puk-puk-puk oleh satu tangan Fian yang terjulur ke bawah sana.

Aku memelotot bingung, sih. Sumpah.

Mana kontol Fian yang keras sekarang menempel ke pantatku.

Enggak dia gesek-gesek, tapi kontol ngaceng itu ada di sana!

Lalu Fian tidur lagi.

....

Ini aku curiga justru Fian yang lagi mengigau, sih. Ngelihat ada laki-laki lagi nyium kontolnya, dia malah meluk laki-lakinya sambil ngajak cuddling. Degup jantungku aja sampai dilema. Mau deg-degan karena ketahuan melecehkan kontol tentara, apa deg-degan karena dibikin paling romantis?

Aku masih syok selama beberapa menit. Tapi pelukan itu benar-benar nyaman. Fian merengkuhku dengan penuh perlindungan. Di depan mataku ada lengan Fian yang kulitnya kecokelatan dan urat-urat tampak muncul ke permukaan. Tubuhnya hangat dan bikin enak ke badanku. Lalu suara napas Fian di tengkukku kayak irama yang menenangkan.

Aku akhirnya tertidur enggak lama setelah Fian tidur.

Aku tidur dalam dekapan yang nikmat.


[ ... ]


Aku terbangun lagi kira-kira pukul tujuh pagi. Itu pun terbangun karena Fian membuka pintu dan masuk ke kamar. Aku mengangkat kepala. Kutemukan diriku terbaring sendirian di atas kasur. Kukucek mata sembari bangkit untuk duduk.

“Kalau masih ngantuk, tidur aja dulu,” kata Fian. Dia sudah mengenakan celana pendek selutut dan kaus berwarna gelap yang ngepas ke badannya. Ketika masuk kamar, Fian membawa kantung kresek entah isinya apa.

“Abang dari mana?” tanyaku dengan suara parau.

“Dari bawah. Dari Dek Ida. Barusan Dek Ida pulang pagi-pagi, tapi langsung tidur karena semalaman enggak tidur. Jagain temennya.”

Sama Bang, aku juga enggak tidur semalaman gara-gara Abang.

Fian menutup pintu dan bergegas duduk ke atas tempat tidur. Dia menghela napas panjang sembari menoleh ke arahku. “Pulas banget tidurnya, pasti gara-gara capek naik gunung, ya?”

Mana ada, anjing.

“Kakiku pegal-pegal sih, Bang.” Aku baru menyadari, semua area tungkaiku terasa ngilu gara-gara hiking. Kunaikkan lutut sedikit aja, aku merasakan perih di seluruh otot paha.

“Gapapa, Adek istirahat dulu.” Fian menepuk bahuku lalu bergegas ke area ‘dapur’.

Sebenarnya kamar kosan ini enggak ada dapur, tetapi aku menyulap satu sudut kamarku dengan peralatan yang setara dengan dapur. Misalnya rice cooker, kompor kecil, kulkas, alat masak, itu kusimpan di area situ. Biasanya Ida mampir ke situ untuk bikin seblak sambil bergosip.

“Mau bubur, enggak?” kata Fian sambil membuka rice cooker. Terlihat kepulan uap menghambur keluar.

“Abang bikin bubur?”

“Yep.” Fian menoleh sembari cengar-cengir. “Sorry Abang lancang. Waktu Adek tidur, Abang sengaja bikinin bubur buat sarapan. Gapapa?”

“Gapapa, sih.” Aku lebih kepikiran soal yang lain. Yaitu aku tertidur di atas kasur, sementara Fian bikin bubur di situ.

Gimana kalau aku kentut sewaktu tidur tadi?

Lalu, suara kentutnya, BROT! BROT! BROT!

Mana semalam aku douching pula. Yang artinya area di bawah sana sedang kosong seperti ruko yang diincar Mixue. Kalau ruangannya bersih, berarti sound system-nya lagi kencang-kencangnya, dong?

Mukaku memerah karena malu.

“Kenapa, Dek? Enggak suka bubur, ya?” Fian dengan cemas menghampiriku.

“Oh? Bukan, bukan! Hehehe. Gapapa. Aku suka bubur, kok. Aku cuma kepikiran hal lain.”

Fian mengamatiku selama beberapa saat lalu menyimpulkan bahwa aku memang baik-baik aja. Dia menghampiri lagi area dapur untuk menuang bubur ke mangkuk dan menaburkan bawang daun ke atasnya. “Siang entar Abang mesti survei. Adek mau ikut enggak?”

“Survei ke mana?”

“Kosan.”

“Abang mau ngekos?”

“Enggak. Abang harus ngedata kosan-kosan sekitar sini buat nampung taruna baru di akmil. Asrama kita overcapacity, jadi selama bangunan barunya dibikin, tarunanya harus ditampung di kosan-kosan sekitar. Palingan cuma 5 – 6 bulan aja. Habis itu ke asrama.”

“Jadi Abang mau keliling nyari kosan?”

“Oh, udah ada datanya. Nanti tuh cuma mau foto sama deal harga aja sama yang punya kosan. Tapi hari ini cuma tiga doang, sih. Udah booking janji juga sama yang punya kosan.”

“Kalau kosanku ini ..., bisa enggak kira-kira—“

“Enggak,” jawab Fian seketika. Dia menyerahkan bubur buatannya ke tanganku dengan salah tingkah. “Di sini ..., enggak boleh.”

“Kenapa enggak boleh?”

“Karena ....” Fian menatap wajahku selama beberapa saat. “Karena ..., ngng ..., agak jauh aja, sih.” Dengan canggung Fian berbalik dan mengambil semangkuk bubur untuk dirinya sendiri.

Entah mengapa aku merasa bukan itu jawabannya.

Dan aku kecewa karena tarunanya tidak bisa ngekos di sini. Kan lumayan ya kalau lantai tiga ini dipenuhi calon-calon tentara. Pas lagi ngantre mandi aku bisa melihat tentara-tentara macho, ganteng, badan atletis, lagi telanjang dada dan ngantre juga.

“Jadi ... ummm ... siang entar mau ikut Abang?” tanya Fian, menghampiri kursiku dan duduk di atas sana sambil menyantap buburnya.

“Boleh. Semoga kakiku udah baikan.”

“Oh iya, satu lagi,” kata Fian, tanpa melihat ke wajahku. “Jangan bilang Dek Ida kalau Abang tidur di sini, ya?”

“Kenapa?”

“Gapapa.” Fian memalingkan wajahnya tanpa alasan yang jelas.

Dan tidak melanjutkan jawabannya.


[ ... ]


Seluruh tungkaiku masih terasa pegal, tetapi aku bisa berjalan dengan nyaman—asalkan enggak banyak naik turun tangga. Pukul satu siang aku dibonceng Fian di motornya menuju satu tempat makan di pusat kota. Tempat makannya ramai, kami hampir enggak kebagian meja. Namun saat kami datang, beruntung sekali satu keluarga baru saja selesai makan sehingga meja yang berada di lantai dua, menghadap pegunungan yang kami daki kemarin, kosong. Kami duduk di sana sembari menatap pemandangan itu.

Nun jauh di sana, di salah satu sungainya, kami bertemu ular raksasa sepanjang lebih dari empat meter.

Makan siang itu damai aja sebenarnya. Fian menceritakan penerimaan taruna baru itu dan proses apa saja yang harus mereka lalui—khususnya di bidang medis. Namun setengah jalan kami menikmati makan siang, bahuku ditepuk seseorang.

“Hey, Rohmat!”

Aku menoleh dan menemukan ....

... Deva.

“Anjir! Lagi ngapain lu di sini?!” katanya sambil membuka tangan seperti ingin merangkulku.

Lagi bercocok tanam, jawabku dalam hati.

Kenapa yang warga +62 tuh merasa perlu menanyakan pertanyaan retoris macam begini? Kalau aku lagi duduk di restoran dengan piring yang masih kumakan kira-kira lagi ngapain akunya? Lagi nonton live Bunda Corlakah?

Hah?

Aku membalas rangkulan Deva dengan terpaksa. Mukaku langsung berubah awkward.

Deva mengulurkan tangannya dengan gagah ke arah Fian. “Deva!” katanya mengenalkan diri. Lalu tanpa izin, dia duduk di depan kami. “Penuh banget restonya. Gue duduk di sini aja, ya!” Kemudian Deva mengacungkan tangannya untuk meminta menu ke pelayan.

Fian masih syok. Dia melirikku seperti ingin meminta penjelasan.

Namun belum juga aku menjelaskan, Deva sudah menjelaskan duluan. “Gue temennya si Rohmat! Masa dia kagak pernah cerita soal gue, sih?! Anjir, lah! Hahaha .... Gue dulu deket ama si Rohmat. Sering makan bareng juga kayak elo begini. Biasa, kalau makanan di rumah tuh ... gimana, ya? Gue tuh kagak suka masakan si bibi, euy. Kayak dari kampung. Kalau ke resto, kan ... enak, ya. Banyak pilihannya. Ini juga gue barusan bingung mau makan di mana. Anjir. Mumet banget pengin makan cheeseburger, tapi cheeseburger yang gue suka ada di Bandung. Males banget anjir ke Bandung jam segini! Hahaha ... pasti macet pula entar di Pasteur. Makanya ya udah lah, mendingan gue makan ke sini aja, buat killing time. Katanya di sini iganya enak, ya? Oh elo mesen iga juga? Enak enggak—“

“Silakan, Pak. Ini menunya.” Seorang pelayan memotong pembicaraan Deva dan bersiap berbalik.

Namun Deva menahannya. “Bentar, bentar. Sini dulu.” Deva membuka menunya. “Ini apa?”

Pelayan itu mengerutkan alis sembari menunjuk gambar yang ditunjuk Deva. “Itu paket timbel usus sapi, Pak.”

“Ini apa?”

“Itu ... ngng ... itu iga bakar madu.”

“Oh ini iga yang enak itu? Oke. Kalau ini apa?”

“Itu ... itu garnish, Pak. Makanannya yang ini.”

Selama Deva menunjuk setiap gambar dan bertanya nama makanannya—padahal nama makanan sudah tertera di situ plus harga dan keterangannya—Fian menyenggolku.

“Siapa?” bisik Fian, masih menatap awas Deva di depan kami.

Aku malah menjawab. “Enggak kenal.”

“Dia tahu nama Adek.”

Aku menghela napas dengan kesal ke arah Deva. “Teman lama. Sorry.”

“Gapapa.”

“... kalau ini? Ini ya special dish-nya?”

“Bukan, Pak. Itu menu untuk takeaway.” Pelayan itu membalik lagi halaman menu ke bagian depan. “Special dish-nya untuk hari ini ada di iga bakar madu ini ..., lalu french scallop dengan cabe hijau—jadi ada perpaduan french sauce beurre blanc sama masakan padang balado cabe hijau, lalu ada bebek panggang mandarin—ini pake butter, bukan minyak babi, jadi halal.”

“Oke, oke, oke. Nice semua. Tampilannya juga bagus di gambar.” Deva manggut-manggut. Dia membolak balik lagi halaman menu mencari pilihannya, kemudian menunjuk salah satu menu, “Gue mau yang ini aja, deh.”

Pelayan itu mengeluarkan nota kecilnya lalu mencatat. “Oke ... nasi dan telor ceplok pake kecap satu, ya.”

“Sama es teh manis.” Deva menyerahkan lagi menunya kepada pelayan, lalu terkekeh sambil menoleh ke arahku. “Biasa, lah, Rohmat, gue lagi diet. Enggak bisa makan banyak.”

“Mohon ditunggu ya, Pak.” Pelayan itu pun pergi meninggalkan meja kami.

“Eh, sorry, Bro. Tadi nama elo siapa?” tanya Deva sembari mulai bersandar ke kursi dan ikutan melihat pemandangan gunung di depan kami.

“Rafian—“

“Gue pernah ke gunung itu, tuh,” kata Deva tiba-tiba, memotong Fian. Deva menunjuk gunung terbesar dari rangkaian gunung yang kudaki kemarin. “Gila, curam banget coy naiknya. Udah kayak Veddriq Leonardo gue di situ. Set! Set! Set!” Deva mempraktikkan gerakan Spiderman merangkak di dinding. “Tapi worthy banget, anjir! View-nya bagus. Elo pernah ke sana enggak?”

Fian, agak ragu karena tidak tahu Deva bertanya ke siapa, memutuskan untuk menjawab, “Yep. Kemaren saya hiking ke sana.” Fian menunjuk gunung paling kecil di situ, gunung yang kami daki kemarin. Namun Deva tidak melihat.

Kemungkinan besar tidak mendengarkan juga.

“Gue tiga jam lah nyampe ke puncak yang ono, tuh!” Deva menunjuk gunung paling tinggi. “Bolak balik sehari. Gampang lah di situ mah, enggak kayak di Semeru.”

Aku sudah membuka mulut untuk menantang pernyataan itu, karena aku mendaki gunung paling kecil di situ saja bisa berjam-jam—ditambah drama kecemplung di sungai dan ketemu ular segala. Gimana ceritanya gunung yang paling besar di situ didaki cuma tiga jam? Naik lift, lu?!

Namun Fian menyenggolku sembari menggelengkan kepalanya. “Enggak usah,” bisiknya.

“Jadi gini, Rohmat, seni naik gunung tuh enggak bisa dinikmatin semua orang. Elo mungkin enggak akan bisa naik gunung sih, badan elo kan kecil, ya. Kurang cocok buat ada di tempat-tempat kayak gitu. Biasanya gampang kerasukan. HAHAHA!” Deva mendamprat lengan Fian yang kekar, sok-sok akrab ngebercandain aku, ala-ala cowok superior yang menganggap aku adalah cowok lemah yang pantas di-bully. “Elu kalau mau naik gunung, mesti strong dulu, Rohmat. Entar di sana elu mesti manjat-manjat batu, ngelompatin sungai, manjat pohon, merangkak di gorong-gorong. Wah! Total body knock out, anjir. Elu harus rajin olahraga dulu. Harus rajin nge-gym. Kayak si Abang ini. Siapa namanya?”

Fian dengan sabar menjawab, “Rafianto.”

“Nah, kayak si Bang Subyanto ini. Otot lu harus gede kayak gini, nih ....” Deva meremas-remas lengan Fian yang kekar. Agak lama meremas-remasnya. Kayaknya dia terpukau dengan otot kokoh Fian, sampai-sampai jeda waktu cuap-cuap Deva, yang biasanya enggak lebih dari sedetik, ini sudah sepuluh detik Devanya masih sibuk meremas Fian. Meremas lengan bisep trisep, dari atas, ke bawahnya, terakhir bahkan dia meremas dada Fian. “Kayak gini ...,” tutupnya dengan suara pelan. Wajahnya berubah sendu. Entah iri, entah pengin punya otot kayak Fian, entah pengin menikmati otot Fian.

Aku menghela napas. “Iya,” balasku singkat.

Deva kayaknya minder dengan topik soal otot. Sebab tiba-tiba dia mengganti topik, “Eh, Bro ... Elu pernah naik kereta api Whoosh, enggak?”

Ada obrolan panjang terjadi di antara kami selama kira-kira satu jam. Aku rasa aku enggak perlu menceritakannya ke Kakak.

Ya enggak?

Isinya Deva cuap-cuap ke sana kemari sementara aku dan Fian menghabiskan makan siang kami. Aku agak malu sih dengan situasi ini. Semoga Kakak masih ingat alasan kenapa aku enggak tertarik menceritakan dengan rinci apa yang Deva obrolkan. Selain aku bingung bagaimana menyaringnya, Deva kalau ngomong selalu panjang dan selalu berpusat ke dirinya sendiri. Aku enggak tahu apa yang ada dalam pikirannya ketika melihat aku duduk sama cowok ganteng yang kekar, yang rambutnya cepak ala-ala militer. Satu hal yang pasti, Deva merasa ‘superior’ dan punya teman superior untuk mem-bully-ku.

“... iya nih si Rohmat ini emang seleranya ... yah, so-so, lah. Maklum, enggak pernah ke mana-mana. Dulu waktu gue masih sering hangout ama si Rohmat, pas gue kagak sibuk ama kerjaan kayak sekarang nih, kita sering main ke mal, kan!” Deva menampar lenganku dengan punggung tangannya. “Terus pas gue tanya, ‘Eh, mana baju yang menurut elo bagus?’ Terus dia jawab, ‘Itu yang kembang-kembang.’ HAHAHA! Yang kembang-kembang, coba?! Anjir! Emangnya mau ke kondangan?!”

Itu adalah jawaban Deva dari pertanyaan Deva sendiri tentang outfit yang bagus untuk datang ke Pilkada 2024 yang akan diadakan serentak sebentar lagi.

Enggak perlu tanya kenapa kami bisa sampai bahas outfit ke Pilkada.

Secara teknis aku memang enggak tahu jawabannya kenapa Deva bisa membahas ke arah sana.

Tapi in my defense, baju kembang-kembang yang kubilang bagus tuh kemeja floral yang longgar, yang biasa dipake ke pantai. Konteks pertanyaan waktu itu adalah Deva nanyain kemeja apa yang santai dan casual, ya aku jawab kemeja kembang-kembang itu. Sudah jelas kemeja itu bukan untuk pergi ke kondangan.

Fian menenggak soda kalengnya, lalu menoleh ke arahku, “Favoritmu baju kembang-kembang?”

“Bener!” Deva menyahut dengan percaya diri. “Ampuuunnn ..., ampun. Udah gue bilang mendingan pake yang branded aja. Gue punya. Sampe gue kadang ngasih pinjam juga, sih. Biar menarik, gitu. Ya enggak? Gue kalau belanja biasanya ke Jakarta ama ke Bandung. Enggak ada pilihan lain lagi. Ke Jakarta kalau gue pengin beli yang branded internasional. Ke Bandung kalau mau support lokal UMKM. Baju-baju mereka juga bagus, anjir. Gue ke Bandung tuh ke distro-distro anak muda, ke Cimol, udah gitu kalau habis belanja bisa langsung wisata kuliner! Hadeuh, mantap! Gue paling suka di Bandung tuh ... apa ya ... apa sih itu ...? Bentar .... Batagor Haji Isan! Beuh, maknyus! Itu gue kalau udah mesan batagor itu ....”

Oke, Kak. Aku setop aja sampai situ karena aku enggak mau ngabisin waktu Kakak dengerin Deva ngomong. Waktu Kakak hanya boleh habis untuk mencemburui fakta bahwa aku sama Fian nge-date siang ini. Toh sisa obrolan Deva juga gitu-gitu aja.

Paham lah, ya?

Intinya, begitu makanan dan minumanku kami habis (kami tuh maksudnya aku sama Fian), aku menyenggol paha Fian di bawah meja. Aku mengedikkan kepala diam-diam ke arah pintu keluar, memberi kode bahwa aku pengin pergi dari sini.

Fian yang mungkin belajar kode morse dan body language di akademinya, memahami maksudku. Tiba-tiba dia melihat layar ponselnya, menyalakannya tanpa membuka kunci, lalu pura-pura membaca notifikasi Whatsapp yang ada di sana. “Oh, kita harus berangkat,” kata Fian sembari berdiri dengan gagah, enggak peduli Deva sedang mencerocos di tengah-tengah kalimatnya.

“... dan menurut gue, garam sama jahe tuh paling enak dibalurin ke kaki yang—eh, mau berangkat ke mana, Bro?” tanya Deva, akhirnya berhenti bicara.

Fian bangkit dari kursi sembari menarik jaket bomber-nya dari sandaran. “Ada kerjaan. Ini mau minta tolong Rohmat buat bantuin.”

“IYA!” sahutku bersemangat. Senang banget akhirnya obrolan ini berakhir. “Aku mau survei!”

“Ooohhh ... survei.” Deva manggut-manggut, tapi masih duduk. Mungkin akhirnya dia akan menghabiskan nasi dengan telor ceplok dikecapin itu? Santapannya belum habis soalnya. Kebanyakan ngomong ke sana kemari. “Gue juga di kantor sering survei. Terakhir kali gue survei—“

“Kita pergi dulu, ya,” kata Fian, memotong Deva tanpa ampun sembari menarik bahuku pergi, hampir merangkulku.

“Oh ... oke.” Deva kebingungan. “Ini ... jadi makanannya siapa yang—“

“Saya bayarin,” kata Fian, tersenyum lebar sembari meremas ujung bahuku.

“Ooohhh ... ya udah. Gue juga bisa bayarin sebenarnya—“

“Gapapa. Saya aja. Mari, Mas.”

“Oke, Bro. Jaga adek gue baek-baek, ya!” Deva melompat berdiri dan tiba-tiba memelukku.

Bukan cuma aku, sih. Dia juga memeluk Fian dengan gestur kayak dua cowok straight yang bersahabat baik yang harus pelukan kalau berpamitan. Tapi Deva meluk Fiannya agak lama.

“Oke,” balas Fian, agak mendorong tubuh Deva agar lepas. “Sampai jumpa lagi, ya.”

Aduh kalau bisa jangan, deh.

“Iya, Mas! Sampai jumpa lagi!” balas Deva dengan gembira. Dan entah mengapa dia harus mengulangnya lagi, “Pokoknya jagain adek gue, ya! Bukan adek kandung, tapi kita deket banget dulu.”

Di depan semua tamu restoran.

Rahangku mengeras dan udah kesal banget. Jujur, aku enggak menikmati makan siang itu. Sejak kedatangan Deva, hariku berubah drastis. Memang, ada bagusnya, tapi tetap aja aku kesal bukan main.

Apa bagusnya? Bagusnya adalah aku bisa berhenti overthinking.

Sejak bangun tidur pagi tadi, lalu makan bubur dan bla bla bla, hatiku agak cemas dengan kejadian pukul empat dini hari waktu aku menempelkan hidungku ke kontol Fian. Fian enggak pernah membahasnya lagi sampai detik ini dan itu bikin aku tersiksa.

Kehadiran Deva bisa membuatku melupakan itu semua. Semoga permasalahan itu akan lenyap begitu saja dan Fian tak mengingat satu pun kejadian pukul empat dini hari tadi. Aku berjanji, ya Tuhan, spesial ke Fian aku enggak akan mengulangi lagi hal-hal kayak tadi. Aku enggak akan melecehkannya saat tidur—seperti yang pernah kulakukan ke sepupuku dan beberapa orang lain. Aku akan menghormati Fian meskipun statusku sama dia enggak akan pernah jelas.

Setelah membayar makanan kami (termasuk Deva), Fian langsung mengajakku ke motornya di parkiran. Fian sempat bertanya singkat sambil mengenakan helm.

“Siapa sih itu?” tanyanya. Ada nada enggak suka dalam kata-kata Fian.

Aku mengangkat bahu. “Orang gila. Udah enggak usah dipikirin.”

“Serius, Dek. Siapa itu?” Fian menaikkan sebelah alisnya sembari memasang jaket bombernya ke badan.

“Teman lama aja, Bang. Orangnya emang nyebelin. Maaf, ya.”

“Bukan kakak?”

“Ih, bukan!”

“Tadi katanya suruh jagain Adek sambil bilang ‘adek’.”

NO!” sergahku. “Aku sama dia enggak ada hubungan apa-apa. Cuma teman aja. Dia emang nyebelin orangnya. Abang juga lihat sendiri kan kayak gimana dia orangnya?”

Fian membuka mulutnya untuk membantah, tetapi dia setuju juga. Fian mengangguk kecil lalu naik ke atas motor. Dalam perjalanan ke kosan pertama, aku mendapatkan Whatsapp dari Deva.

Itu Supriyanto tentara bukan? Dandanannya ky tentara. Cakep bgt! Gw suka.

Aku memutar bola mata sembari mengetik pesan balasan. Jujur agak susah membalasnya, karena motor Fian tuh motor gede yang mengharuskan penumpangnya memeluk dengan mesra tubuh sang pengemudi—seperti yang dilakukan Ezel dari gunung sampai ke kosannya.

Rafianto, balasku. Iya tentara.

Tak lama, Deva membalas, Ajak mainlah! Dia belok jg kagak? Gw pgn bahas soal kita tp takutnya dia kga belok. Ntar malah gw yg digebukin.

Harusnya kamu digebukin, sih. Bisa-bisanya aku lupa kalau Fian bisa ngegebukin Deva sampai mampus. Ular piton segede kereta Whoosh aja sama dia dilawan.

Ga belok, balasku lewat Whatsapp. Mau ajak main kemana emg?

Main b3 lah anjir. Wkwkwk. 3S! Kyk wktu kita ama tentara itu.

Ga boleh, balasku sambil memutar bola mata.

“Oke, di sini tempatnya.” Fian menepikan motor di sebuah kosan yang lumayan bagus. Kosannya lumayan besar dan berada di tengah-tengah kompleks perumahan. Jaraknya dari lanud kira-kira dua puluh menit.

Aku membuntuti Fian masuk ke dalam, tetapi penjaganya menyuruh kami duduk di teras depan karena yang punya kosan sedang dalam perjalanan ke sini. Sambil duduk, ingin rasanya membaca lagi pesan Whatsapp Deva, tetapi Fian sedang duduk di sebelahku. Jadi, aku membuka Instagram saja.

“Abang enggak punya Instagram?” tanyaku basa-basi.

“Punya,” jawab Fian.

Aku mengerutkan alis. Aku ingin sekali membantahnya, karena aku sudah menghabiskan berjam-jam di setiap kesempatan untuk mencari IG Fian, tetapi tak pernah berhasil menemukannya. Aku juga mengecek following-nya Xavier—karena aku dan Xavier sudah mutualan—demi mencari IG Fian.

Nihil.

“Tapi Abang enggak aktif. Fotonya juga cuma lima. Dulu bikin Instagram buat janjian ama temen-temen SMA aja. Kadang mereka ngehubunginnya lewat DM IG, bukan lewat Whatsapp. Jadi, ya ..., Abang pake IG buat DM-an aja.”

“Apa namanya?”

“Sini.” Fian menarik ponselku lalu mencari nama IG-nya di penelusuran.

Aku agak deg-degan, karena Deva kan sedang aktif me-Whatsapp-ku. Takutnya notifikasi pesan dari Deva muncul, lalu dia berkata hal-hal tak senonoh soal Fian ketika Fian lagi pegang hape-ku.

Untungnya enggak ada.

Dan ternyata nama akun IG Fian adalah User5683480XXX. (Kusensor ya, takutnya Kakak nge-search IG-nya Fian.) Profil picture-nya kosong. Tapi, akun itu punya lima foto yang semuanya adalah foto Fian sejak menjadi taruna dan tentara, dengan foto ala-ala cowok straight, berdiri di tengah, tanpa ekspresi, dengan latar yang menceritakan segalanya. Misal, latar di depan pesawat tempur, latar di depan gedung militer apalah itu, latar di depan gedung akademinya. Di semua foto itu dia berdiri tegap, kayak orang-orang zaman purba yang enggak tahu caranya difoto. Hanya ada satu yang seenggaknya dia berpose sedikit.

Yaitu pose ngasih jempol.

Anjir.

Cowok straight tulen jangan-jangan.

Ya memang sih, dari awal juga semua tampilan dan energinya cowok straight tulen. Fakta dia tidurnya sama si Ida juga harus kubantah gimana lagi, sih? Ini malah bikin aku makin kepikiran soal jam empat dini hari tadi.

Aku benar-benar berdoa Fian enggak ingat kejadian itu sama sekali.

“Adek bakal follow enggak nih?” tanya Fian sambil menyerahkan lagi ponselku.

“Ya follow, lah!” Kuklik Ikuti.

Fian mengeluarkan ponselnya dan membuka Instagram. Dia juga mem-follow-ku lewat notifikasi siapa yang baru mem-follow-nya. Ada seribu follower di akun Fian. Yang kuasumsikan mereka semua nge-follow karena kenal, bukan karena Fian punya konten nge-gym seksi sambil shirtless dan pamer ketek.

“Kenapa namanya user dan angka-angka?” tanyaku.

Fian terkekeh. “Supaya enggak dicari orang.”

“Maksudnya?”

Fian mengangkat bahu. “Kalau namanya Rafianto, entar orang-orang nyari, terus nge-follow, terus entar jadi rame. Apalagi musim peserta didik baru gini, pada kepo nge-DM-in Abang di IG. Bikin malas aja yang gitu, tuh.”

“Oh. Oke.”

Aku enggak mendebatnya.

Kemungkinan besar memang dia cowok straight.

Cowok straight yang enggak terpuruk maskulinitasnya dengan pelukan dari Ezel, dengan tidur telanjang bareng laki-laki lain, dengan maksa si suster ini meluk ke badannya waktu ngebonceng ke gunung kemarin.

Aku enggak bisa mengajak Fian mengobrol lagi karena si pemilik kosan itu muncul menghampiri kami. Fian mengobrol sebentar, masuk, dan melihat-lihat. Aku juga begitu. Aku mulai melupakan soal seksualitas Fian yang membingungkan dan fokus menemani Fian melakukan surveinya.

Di kosan kedua, semua berjalan lancar. Pemilik kosannya sudah menunggu di depan sehingga kami langsung mengobrol dan melihat-lihat setiap kamarnya. Aku mulai sibuk meladeni Deva yang kayaknya horny melihat Fian. Dia membahas Fian terus-terusan lewat Whatsapp. Bahkan ketika kukatakan berkali-kali, Dev! Mas Fian itu lurus, enggak belok kayak kita! Please stop mikir yang aneh-aneh sama dia.

Tapi Deva malah berargumen, Enggak ada yang namanya lelaki lurus, Rohmat. Yang ada adalah lelaki straight yang belum merasakan nikmatnya kontol. Begitu dia tahu rasanya, beuh, pasti dia nagih.

Emang sinting ini orang! Untung aku enggak pernah jadi pacarnya secara resmi. Aku ingin sekali mengabaikan Deva tapi saat ini dia satu-satunya yang bisa membuatku entertained. Aku gabut banget membuntuti Fian lihat-lihat kamar kosan. Selain itu, aku juga menikmati reaksi Deva yang ngebet banget pengin mencicipi Fian. Aku merasa bangga bisa tidur di samping Fian dan mencium kontolnya pake hidungku. Deva mana bisa ada di posisi ini.

Mendekati pukul empat sore, Fian mengajakku ke kosan ketiga. Yang ternyata adalah kosannya Ezel! Aku baru saja dari sini semalam. Menunggu di luar pagar, ditemani Erick yang marah-marah sendiri.

“Ini ... ini juga?” tanyaku ketika Fian membuka pagar kosan dan langsung membawa motornya masuk ke carport. Bedanya, Fian tidak nyelonong pergi ke belakang rumah pemiliknya, seperti ketika dia mengantar Ezel semalam.

“Iya. Ini juga.” Fian membaca ponselnya. “Ini masuk ke list. Nanti Abang hubungi ... ngng ... Pak Guntur.”

Fian duduk di kursi teras untuk me-Whatsapp Pak Guntur, sembari mengotak-atik aplikasi lain di hape-nya. Aku duduk di kursi teras juga, tapi agak berseberangan, sehingga Fian enggak bisa melihat apa yang ada di hape-ku. Soalnya aku lagi mau ngobrol sama Deva. Memamerkan Fian.

Gw sih yakin kontolnya GEDE! Sluuurrp! Aaahhh ... nikmat anjir, kata Deva di Whatsapp.

Aku senyum-senyum sendiri. Dengan lagak sok suci, aku membalas, Sori Mas aku gamau bahas yg begitu. Ga sopan. Mas Fian ini teman baikku.

Halah, lu juga demen, kan!

Ya iyalah, anjeng! Siapa juga yang enggak demen sama si Fian?!

Gw mau cari IG dia, lanjut Deva di Whatsapp.

Dengan senyum sebelah aku membalas, Good luck. Semoga bisa nemu.

“Halooo ...! Maaf tadi saya lagi beres-beres di belakang.” Pak Guntur muncul di pintu depan dan langsung menyapa Fian. “Ini yang dari lanud, ya?”

“Iya, Pak.” Fian langsung melompat berdiri dan menyambutnya. Mereka langsung mengobrol soal kosan, sehingga aku tak mengindahkannya lagi.

Aku membuka IG Fian lagi, untuk memastikan Deva enggak nemu akun itu. Begitu hasil search-nya muncul, aku terkejut ketika melihat akun Fian sudah dipasangi profile picture, padahal satu jam yang lalu waktu kami masih di kosan pertama, akun itu enggak ada profile picture. Sampe barusan pun, sebelum nyampe sini, akun itu enggak ada PP-nya. (Ya! Aku ngecek akun Fian setiap lima menit sekali! Enggak boleh?!)

Tubuhku langsung membeku saat melihat foto yang Fian pasang di profile picture-nya adalah ....

... foto Fian sendiri. Di pantai. Dengan satu tangan membentuk tanda V (peace). Senyum lebar ganteng yang happy dan mamerin gigi. Tampak sangat approachable dan fun.

Dan Fian mengenakan kemeja kembang-kembang yang kasual dengan tiga kancing teratasnya dibuka.

Kemeja kembang-kembang.

Kemeja yang siang tadi sempat dibahas di restoran bersama—

Deva membalas Whatsapp-ku, Nemu. Gw udah follow.

Ga mungkin! balasku buru-buru. Tapi aku juga mengecek ke IG Fian untuk melihat apakah benar ....

Anjing! Benar. Di sana tertulis akun Fian followed by Deva.

Gw mutualan ma si tentara yg wkt itu fun ama kita. Dia follow elu. Jd yg rekomendasi di akun dia ya si Fian sbb si Fian follow elu. Hahaha. Gw DM ah!

Jangan! balasku panik. Mas mau DM apa sih?

“Dek? Mau ikut masuk?” tanya Fian, sembari mengedikkan kepalanya ke arahku.

“Oh! I ... iya.” Aku membuntuti Fian dan Pak Guntur masuk ke area kosan Ezel. Gedung kosan itu lumayan besar di belakang rumah Pak Guntur. Dua lantai dan tampak bersih maupun modern. Kemungkinan besar kamar mandinya di dalam.

Namun aku sedang cemas dengan apa yang Deva akan lakukan ke Fian. Feeling-ku enggak enak.

Gw udah DM dia, kata Deva. Dia juga mengirimku sebuah foto.

Foto screenshot percakapan dia dan Fian di DM Instagram. Deva terang-terangan berkata, Hei Bro! Ini gw yg td! Hehehe ..!! Dikasih tahu ROHMAT IG-nya yang ini. Boleh kenalan lbh lanjut ga bro?! Cocok nih kyaknya kita kalau hangout brg kayak td. ROHMAT bilang pnya lu gede. WKWKWKKW. Candaaa ... balas ya!

Mampus aku.


[ ... ]


Komentar