(HD) 13. Aku Pengin Peluk Mas Raf Lagi




Halo, Kak!

Satu-satunya yang menyelamatkanku adalah fakta bahwa Fian enggak mengecek Instagramnya terlalu sering kayak aku dan jutaan manusia lain di planet ini yang haus atensi dan validasi lewat media sosial. Begitu dia diajak berkeliling kamar-kamar kosan Pak Guntur, Fian fokus dengan pekerjaannya dan mengambil gambar secara profesional.

Nah, keberuntunganku juga terjadi di sini.

Sembari membuntuti Fian dan Pak Guntur keliling beberapa kamar yang kosong, perutku mulas dan panik teringat pesan DM yang dikirim Deva ke Fian. Kepalaku berputar keras mencari cara menjelaskan ke Fian tentang apa yang dimaksud Deva. Namun kepalaku buntu. Aku enggak bisa menemukan alasan yang bagus.

Kemudian kusadari, Fian memotret kosan menggunakan ponselnya sendiri. Dia mengambil gambar kamar, lorong, jendela, langit-langit, halaman depan, semuanya pakai kamera di ponselnya. Aku juga teringat dia memotret dua pemilik kosan sebelumnya untuk bukti ke atasannya bahwa dia sudah melakukan survei.

Di situlah otak kreatifku bekerja. Ketika Fian selesai dengan surveinya, aku langsung menyerobot mereka dan menawarkan, “Kalau kufotoin gimana?”

“Apa?” Fian menoleh. Tangannya sudah mengangkat untuk memotret Pak Guntur.

“Aku aja yang fotoin, terus Abang foto bareng Pak Gunturnya.”

“Enggak usah, Dek. Cukup foto pemilik kosan aja—“

“Gapapa ...,” potongku sembari merebut ponsel Fian. Kudorong tentara berbadan besar itu ke Pak Guntur agar bisa kufotokan. “Buat bukti juga ke atasan kalau Abang hari ini survei.”

“Enggak perlu, sih—“

Ck! Aku hitung dari lima, ya!”

“Kebanyakan—“

“Limaaa ....”

Kuklik home. Kugulir menu. Kucari aplikasi Instagram.

“Empat ....”

“Kelamaan, Dek.”

Kubuka Instagram.

“Bentar, lagi nyari angle. Hehehe .... Tigaaa ...”

Kubuka DM. Kulihat pesan dari Deva berada paling atas. Kutekan nama Deva cukup lama.

“Duaaa ....”

Muncul pilihan Hapus. Kuhapus chat tersebut.

“Satu setengah ....”

“Deeek ...,” panggil Fian, mulai tak sabar.

“Bentaaar ...! Lagi nyesuain angle. Satu tiga perempaaattt ....”

“Kok naik hitungannya?”

Chat dihapus. Masuk profil Deva. Block.

“Satu ....”

Buka daftar aplikasi. Masuk ke kamera.

Cekrek!

“Sudah.”

Aku lega bukan main setelah berhasil melakukan itu. Hasil fotonya juga bagus. Pak Guntur ini mukanya rada-rada semringah. Entah dia nge-fans sama tentara atau gimana, tapi di foto tampak gembira banget waktu ngangkat jempol barengan Fian.

Ya sudah, aku tak peduli.

Yang penting aku sudah menghapus pertanyaan menyesatkan dari Deva dan membloknya sekalian. Pak Guntur mengantar kami ke rumahnya lagi, tetapi di halaman pembatas antara rumah Pak Guntur dan gedung kosan, Fian berhenti.

“Makasih banyak, Pak. Nanti saya kabari lagi kelanjutannya gimana. Saya harus laporkan dulu ke atasan saya untuk dapat konfirmasi lebih lanjut.”

“Baik, baik, Pak Fian. Terima kasih banyak sudah datang kemari.”

“Sama-sama, Pak. Kebetulan saya mau ketemu teman juga yang ngekos di sini. Jadi mungkin mau mampir dulu sebentar.”

“Ooohhh ... ada teman, di sini? Siapa?”

“Ezelio, Pak. Yang kamarnya di situ.” Fian menunjuk sebuah kamar di paling ujung gedung.

“Ya, ya, ya! Anak baik itu Ezelio.” Entah mengapa aku merasa Pak Guntur terlihat semakin gembira. Seperti orang yang sedang nge-fly. “Bayar kosan tepat waktu. Periang. Anaknya asyik. Kreatif.”

Ini Ezel yang sama bukan, sih?

“Iya, Pak. Kalau gitu saya pamit dulu ya, Pak. Mari.”

“Mari, mari. Silakan Pak Fian.”

Aku membuntuti Fian menuju lorong di salah satu bagian gedung. “Kenapa kita ketemu Ezel dulu?”

“Lihat dulu kondisinya,” kata Fian. “Kakaknya enggak bisa jenguk karena hari ini jaga. Takut kenapa-napa. Soalnya kemaren dia ketemu hal yang paling dia takutin.”

Aku enggak bisa komentar soal itu. Memang benar Ezel takut banget sama ular. Yang kecil saja bisa bikin dia gemetar, kemaren dia dipepet sama ular besar yang lebih panjang dari dirinya sendiri, dan Ezelnya lagi cedera. Bayangkan betapa menakutkannya hal itu.

Di luar nyebelinnya dia meluk badan Fian sepanjang jalan, sebenarnya aku berempati juga, sih. Aku sudah melihat cukup banyak rasa takut di wajah orang-orang yang masuk IGD untuk membuat rasa ibaku terlatih. Apa yang dialami Ezel itu sangat mengerikan. Rasanya enggak elok kalau aku ngambek gara-gara itu doang.

Memang aku enggak ngambek, kan? Begitu Fian lepas dari Ezel, aku tetap happy dibonceng Fian ke kosan, bahkan aku ngaceng waktu Fian bilang mau nginap. Artinya, sebel enggak sebel, aku paham apa yang dirasakan Ezel.

Makanya, aku juga enggak masalah ketika harus membuntuti Fian ke lantai dua, menuju kamarnya Ezel, menaiki anak tangga meskipun pahaku masih pegal-pegal. Kurasa Ezel perlu perhatian di saat-saat sulit begini. Kakaknya tukang ngomel. Enggak akan pernah membantu mental Ezel.

Tok, tok, tok.

“Ezel?” panggil Fian sembari mengetuk pintunya. Untuk beberapa saat, tak ada jawaban. “Ezel? Ini Bang Fian. Temennya Bang Erick.”

Ezel masih tak menjawab.

Fian mencoba membuka kenopnya, ternyata tak dikunci. Fian membuka pintunya dan melongokkan kepala masuk. “Ezel? Boleh Abang masuk?”

Aku sih belum mendengar jawaban apa-apa dari dalam. Tapi Fian sudah membuka sepatunya, lalu mengedikkan kepala ke arahku. “Ayo,” katanya.

Aku membuka sepatuku dan ikut ke dalam.

Ezel sedang meringkuk di sudut tempat tidurnya, memeluk lutut. Dia seperti orang yang semalaman diteror setan Insidious sehingga dirinya mojok di sudut, tak berani bergerak ke mana pun. Kamarnya lumayan rapi, kecuali beberapa hal berantakan yang kayaknya baru tercecer semalam setelah kepulangan Ezel.

Lelaki itu mengangkat kepalanya, mencoba tersenyum. Matanya bengkak.

“Mas ... Mas Raf.” Suaranya lirih.

Fian duduk di tepi tempat tidur lalu mengulurkan tangannya. Dia mengusap-usap lutut Ezel. “Gimana kondisinya?”

Ezel hanya menjawab dengan helaan napas. Dia merangkak pelan ke tepi tempat tidur sembari mengusap-usap lengannya sendiri.

Aku duduk di kursi belajarnya. Tersenyum seramah mungkin sambil mencoba memahami perasaannya. Ezel masih mengenakan kaus yang dia kenakan hiking kemarin. Hanya celananya saja yang sudah ganti. Kakinya masih dililit perban semalam. Dan aku penasaran, kenapa di langit-langit kamar Ezel (juga semua kamar yang tadi kami survei) ada dua hook besi?

Seakan-akan kamar ini sering digunakan untuk menggantung kambing guling.

“Ezel udah makan?” tanya Fian. Dia menarik kaki Ezel yang luka agar diluruskan di atas tempat tidur, kemudian Fian memeriksanya.

Ezel menggelengkan kepala.

“Sama sekali?” Fian mengerutkan alisnya.

“Aku ... belum makan dari ... kemaren siang.”

“Kok gitu? Kalau enggak bisa turun, kan bisa GoFood.”

“Gapapa.”

“Kortisolnya lagi tinggi,” kataku, ikut campur. Fian menoleh dengan tertarik. “Kejadian kemarin trigger hormon adrenalin sama kortisolnya naik. Jadinya, pencernaan ditekan supaya enggak request makanan dulu. Badannya fokus untuk survive—meskipun situasinya sudah aman. Aku tebak, kamu semalam enggak bisa tidur, kan?”

Pelan-pelan Ezel mengangguk.

“Kortisolnya bikin Ezel awake semalaman. Kepalanya tuh mikir kalau bahaya masih ada di sini.” Kulihat Ezel mengangguk lagi menyetujui. “Hormonnya bagus buat anti-inflammatory. Jadi luka di situ bisa di-treat lebih ekstra sama badan Ezel sendiri, supaya enggak ada infeksi. Tapi kalau terus-terusan begini ya jelas enggak bagus, lah. Bisa nurunin imun tubuh, bisa jadi naik darah, naik berat badan. Perlu treatment yang bener buat nyeimbangin lagi hormonnya.”

“Makan termasuk treatment yang bener, kan?” tanya Fian, tapi matanya melirik ke Ezel.

“Iya, dong. Nutrisi yang baik itu dibutuhkan semua orang, kondisi apa pun.”

“Kamu ini dokter apa suster, sih?” Fian terkekeh kecil sambil menatap lagi ke arahku. Wajahnya terlihat kagum. “Emang yang begituan diajarin di keperawatan?”

“I ... iya,” jawabku malu.

Enggak. Yang barusan enggak diajarin. Itu aku nemu sendiri waktu aku belajar buat dapatin STR, siapa tahu pertanyaan macam begitu ditanyakan, atau dijadikan contoh kasus saat ujian.

“Oke kalau gitu, Abang mau beliin makan di warteg depan gang.” Fian tiba-tiba berdiri dan berjalan ke ranselnya.

“Enggak GoFood aja?” saranku.

“Lama.” Fian mengeluarkan peralatan medis dari ranselnya, lalu meletakkannya ke atas kasur. Itu adalah perban dan segala perlengkapan lain untuk merawat luka di kaki Ezel. “Kalau ke warteg depan kan tinggal beli dan bawa. Dek, kamu bisa bantu ganti perbannya Ezel, kan?”

“Enggak bisa. Di klinik aku kerjanya jadi satpam. Enggak ngurusin yang begini-begini,” candaku.

Fian menoleh dengan alis mengerut serius.

“Bercanda!” Aku terkekeh. Aku berdiri dan duduk di samping Ezel untuk membantunya mengganti perban. “Sejak kapan Abang bawa ini semua?”

“Baru beli semua itu. Pagi tadi. Begitu bangun, Abang langsung ke apotek dekat kosan Adek, terus ke Dek Ida, baru balik lagi ke kamar.” Fian mengambil uang dan membuka pintu. “Oke, Abang pergi ke warteg dulu. Rohmat entar bantu Ezel ganti perban, ya.”

Selepas kepergian Fian, selama sekitar lima menit, enggak ada pembicaraan apa pun antara aku dan Ezel. Aku sih sibuk melepas perban yang dibalut petugas medis di gunung, sementara Ezel menatapku dengan canggung. Aku juga jadi canggung.

“Semalam Mas Raf nginap di rumah Mas, ya?” tanya Ezel tiba-tiba.

“Hm?” balasku, sambil mengangkat kepala.

“Mas Raf ..., nginap di Mas?”

“Oh. Iya. Habis nganterin aku ke kosan, dia stay.” Enggak tahu kenapa ada kebanggaan kecil saat mengatakan itu. Pengin banget aku nambahin, Mas Raf juga telanjang lho Zeeelll ..., semalaman aku bisa cium keteknya, dan jam empat tadi, aku juga cium kontolnya!

Namun tentu aku tidak mengatakan itu.

Tapi mungkin semua itu terpancar di mukaku. Karena aku kelihatan senyum-senyum sendiri.

“Hubungan Mas sama Mas Raf tuh apa?”

“Kita ... ummm ... kita temenan aja.”

“Temenan kayak Mas Raf sama kakakku?”

“Yaaa .... Semacam itulah.”

Ezel manggut-manggut. “Pantesan bobo bareng.”

“Iya. Tentara kan kalau bobo sama tentara lain ya ... biasa aja.”

“Tapi Mas Raf manggil kamu Dek.”

Saat Ezel mengatakan itu, aku baru selesai melepas perban semalam dan sedang mengaplikasikan antiseptik di sekitar luka. Jadi aku tidak meresponsnya. Pun karena aku enggak tahu harus merespons apa.

“Boleh aku jujur sama Mas?” kata Ezel kemudian.

“Jujur enggak pernah dilarang, sih.” Aku berbalik untuk mengambil perban di belakangku.

“Aku gay.”

Ingin sekali aku berteriak, UDAH TAUUU! Tapi aku hanya tersenyum dan membuka plastik perban. “Oke.”

Gay itu artinya suka sama ... sesama jenis.”

I know, Bitch!

“Aku bilang ke Mas karena kayaknya Mas orang baik. Sama kayak Mas Raf. Kita baru ketemu kemaren tapi aku merasa aku bisa percaya sama Mas.” Ezel tersenyum lebar meskipun wajahnya masih kelelahan. “Kalau Mas mau benci aku karena aku gay ... gapapa.”

“Enggak, kok. Aku enggak akan benci cuma gara-gara itu doang,” balasku, sembari mulai melilit kaki Ezel dengan perban baru. In case Kakak bertanya-tanya, luka Ezel tuh panjang, jadi enggak mungkin ditempelin Hansaplast berjejer di sepanjang luka. Makanya cara terbaik adalah melilitnya dengan perban dan menggantinya secara berkala.

“Mas tenang aja,” lanjut Ezel. “Aku enggak akan suka sama Mas, kok. Aku punya tipe tersendiri.”

Anjeng.

Apa aku betot aja ini perbannya sampai kaki Ezel putus, hah?!

Aku juga enggak mengharapkan kamu suka sama aku, Bitch. Tapi enggak usah dikatakan secara gamblang juga!

“Aku ngomong gini karena aku ... kayaknya aku ... aku suka sama Mas Raf.”

Iya. Kelihatan.

“Aku iri sama Mas Roh, bisa temenan dekat sama Mas Raf. Bisa dipanggil adek juga.”

“Itu karena aku lebih muda, ya. Jadi dipanggil adek,” sergahku mengklarifikasi.

“Aku tahu, enggak mungkin aku bisa dapatin Mas Raf. Aku sadar, kok. Aku juga enggak minta yang muluk-muluk. Tapi kadang ... kadang aku cuma pengin dipeluk Mas Raf aja.” Ezel menghela napas dengan berat. “Semalam waktu aku ketakutan, terus aku peluk Mas Raf di jalan, itu ... itu bantu buat nenangin diriku.”

“Pelukan bisa mengeluarkan hormon oxytocin,” kataku, sambil memutar perban untuk melilit kaki Ezel. “Bisa nurunin kortisol, nurunin tekanan darah. Gapapa kok kalau kamu mau pelukan sama orang yang kamu sayang di saat-saat kayak begini.”

“Iya. Aku pengin peluk Mas Raf lagi.”

Sialan kamu Rohmat. Harusnya kamu enggak usah nyaranin kayak begitu barusan.

“Oke udah,” kataku, sambil menali dua ujung perban.

“Makasih.” Ezel tersenyum tulus.

Pengin banget aku menonjok muka Ezel karena kelakuannya kayak boti muna. Tapi aku enggak sejahat itu, dan aku enggak punya bukti kalau Ezel ini boti munafik. Mungkin dia memang polos aja. Mungkin dia gay yang tidak terekspos ke hal-hal gay di sekitar, jadinya dia merasa clueless dan ‘sendirian’. Aku enggak tahu sudah berapa lama Ezel ada di kota ini, tapi aku enggak pernah melihat dia di dating apps.

Ketika aku kembali duduk ke kursi, Fian muncul dengan sebungkus makanan dari warteg. “Udah diganti?” sapanya sembari menutup pintu kamar.

“Udah.”

Fian mengambil piring yang ada di salah satu sudut kamar Ezel, lalu menadahkan bungkusan nasi itu ke atasnya. Fian mengambil sendok dan berjalan menghampiri Ezel. “Mau makan sendiri atau disuapin?”

Ezel membelalak kecil karena pilihan ‘itu’ ditawarkan. “Aku ....” Ezel malah menoleh ke arahku.

“Suapin aja,” usulku. “Ezelnya masih capek kayaknya.”

“Oke,” jawab Fian dengan enteng. Dia duduk lebih dekat dengan Ezel, tepatnya di samping paha Ezel, kemudian mulai menyuapi boti itu sesendok makanan. “Semoga kamu suka terong, ya.”

OH, PASTI SUKA BANGET! jawabku dalam hati, sambil mendengus kecil. Mau itu terong balado atau terong tentara, pasti dia demen!

Jujur, aku enggak sanggup melihat pemandangan itu, Kak. Jadi aku berdiri dan pergi ke kamar mandi kamarnya Ezel. Aku menutup pintu dan membiarkan Fian menyuapi Ezel berduaan saja di dalam kamar.

Hatiku agak panas sih rasanya. Aku tahu aku bukan siapa-siapanya Fian, tapi aku enggak bisa melihat Fian begitu baiknya ke Ezel, beliin makanan, beliin perban pagi-pagi (yang artinya dia tahu dia mau ke sini dan bantu ganti perban itu), lalu sekarang nyuapin Ezel makanan. Kemungkinan memang Fian orangnya sebaik itu. Mungkin dia akan melakukan hal yang sama kalau aku yang ada di posisi Ezel. Tapi tetap aja ....

... aku enggak bisa ngadepin itu.

Aku duduk di toilet sembari menghirup napas panjang-panjang untuk menenangkan diriku. Untung kamar mandi Ezel ini bersih dan wangi. Jadi aku bisa merasa tenang. Kualihkan pikiran dengan nge-scroll Tiktok, melupakan apa pun yang terjadi di dalam sana.

Aku baru keluar dari kamar mandi kira-kira lima belas menit kemudian. Mereka lagi ngobrolin topik yang aku enggak ngikutin. Makanan Ezel sudah hampir habis. Malah, waktu aku keluar, itu suapan terakhir untuk Ezel. Begitu aku duduk di kursi yang tadi, Fian berdiri untuk merapikan bungkusan makanan, membuangnya ke tempat sampah.

Fian mengulurkan segelas air putih ke Ezel sembari dia duduk lagi di dekatnya. “Habis ini tidur, ya,” saran Fian.

Ezel menyodorkan lagi air putih yang sudah diminumnya setengah, lalu mengangguk. “Iya.”

“Bisa, kan?”

“Mudah-mudahan.”

“Abang temenin sampai Ezel tidur. Abang baru pulang kalau Ezel udah bobo. Gapapa kan, Dek?” Ezel menoleh ke arahku.

“Gapapa.” Aku tersenyum tegar.

Ezel berbaring di atas tempat tidurnya, lalu berguling membelakangi kami sambil memeluk gulingnya. Fian menepuk-nepuk pahanya dengan lembut, penuh kasih sayang, seperti seorang ayah yang sedang menidurkan anak-anaknya. Setelah itu Fian mengambil hape-nya dan menunggu Ezel tidur sambil membaca Whatsapp.

Aku kepikiran satu ide, sih.

Ide buruk buatku.

Tapi akan membantu Ezel dalam kondisi kayak begini.

Aku akan mengutuk diriku sendiri karena melakukan ini. Mungkin aku akan menjedotkan kepalaku ke dinding kamar begitu pulang ke kosan nanti.

Tapi aku enggak bisa menahan diri.

Rasa empatiku sedang membara dengan brutal dan aku enggak suka situasi ini.

Tapi aku tahu ..., aku harus melakukan ini. Karena apa?

Karena aku orang baik.

Aku menarik napas panjang kemudian menyambar tangan Fian dan menariknya ke pojokan. Jantungku berdebar-debar. Bukan karena pegangan tangan, tetapi apa yang akan kukatakan kepada Fian setelah ini.

“Peluk Ezelnya sampai tidur, Bang,” bisikku.

Fian mengerutkan alisnya. “Buat apa?” Fian menoleh ke arah Ezel.

Aku menelan ludah. “Pelukan bisa release oxytocin yang nantinya nurunin kortisol sama tekanan darah Ezel. Bisa bantu mengalirkan darah ke jantung lebih baik, sehingga luka cepat sembuh dan stres berkurang. Dia enggak akan bisa tidur kalau dia merasa enggak aman. Kalau Abang peluk dia, dia bakal ada di safe zone yang bantu dia tidur lebih cepat. Kalau ditinggalin sendiri kayak begitu ..., tubuhnya bakal terus mikir dia masih dalam bahaya. Bisa tidur pun, tidurnya enggak akan berkualitas.”

Pelukan juga men-trigger dopamine (hormon kenikmatan) dan serotonin (hormon kenyamanan). Yang biasanya men-trigger rangsangan seksual dan rasa ....

... cinta.

Namun aku tidak mengatakan bagian itu.

Fian terlihat enggak nyaman dengan ideku. “Adek yakin?”

Aku mengangguk percaya diri. “Banyak pasien yang kondisinya membaik sewaktu keluarganya nemenin di rumah sakit, lalu melukin mereka secara berkala selama perawatan. Ada risetnya.”

Aku enggak bohong, Kak. Di salah satu studi Psychosomatic Medicine, yang diterbitkan tahun 2010, menemukan bahwa social support kayak pelukan bisa menurunkan stres dan meningkatkan imun tubuh, yang mempercepat penyembuhan pasien rumah sakit.

Fian menoleh lagi ke arah Ezel. “Kenapa enggak Adek aja yang peluk?”

“Badan Abang lebih gede dariku. Lebih banyak ... hormon ... oxytocin yang Abang keluarkan, yang bantu dia lebih cepat sembuh.”

Nah, yang barusan aku berbohong.

Jawaban yang benar adalah karena Ezel sukanya sama kamu, Bang, bukan sama aku.

Fian menelan ludah. Dia menatap Ezel dan aku berkali-kali, seperti menimang-nimang apakah perlu melakukan hal ini.

“Gapapa,” bisikku. “Peluk aja. Aku enggak akan ngomong ama siapa-siapa, kok. Enggak akan ngomong sama Mas Erick juga.”

Fian tetap butuh waktu beberapa saat untuk memutuskan.

“Oke,” kata Fian akhirnya. Dia menarik napas panjang. Tubuhnya berbalik pelan seraya kakinya melangkah lebih dekat ke tempat tidur.

Perlahan-lahan, Fian memanjat naik dan memosisikan tubuhnya di belakang Ezel.

“Zel ...?” panggilnya pelan.

“Ya, Mas?” Ezel menoleh. Masih belum tidur.

“Kalau Abang peluk, supaya kamu cepat tidur, boleh?”

Ezel membelalak. Dia tak menjawab apa-apa. Tapi jelas banget dia mau. Apalagi ketika Fian tiba-tiba menyusupkan satu tangannya yang kekar itu ke bawah kepala Ezel, lalu Fian merapatkan tubuh Ezel ke tubuhnya yang besar, lalu tangannya mendekap perut Ezel dengan erat, Ezel tidak komplain.

Keduanya spooning dengan nyaman sambil membelakangiku.

Tanganku mulai bergetar.

Aku enggak bisa melihat ini di depanku.

“Bang ...,” bisikku.

Fian menoleh cepat. “Kenapa, Dek?”

“Aku ... aku ada telepon dari Geca, temenku di klinik. Aku keluar bentar, ya.”

“Oke.” Fian pun kembali memeluk Ezel.

Aku keluar dari kamar itu, menutup pintunya dengan rapat. Aku berjalan di sepanjang lorong kosan Ezel, berhenti di tangga, lalu duduk dengan napas yang memburu.

Aku cemburu, tetapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak bisa membuka ponsel karena tanganku gemetar. Aku tak bisa menahan air mataku untuk menetes keluar.

Ikhlasin aja, Mat, kataku kepada diriku sendiri. Ingat bahwa kamu bukan siapa-siapanya Fian.

Kamu. Bukan. Siapa-siapanya. Fian.

Kamu enggak berhak untuk mencegah Ezel mendapatkan apa yang dia butuhkan.

Kamu enggak berhak untuk cemburu kepada siapa pun.


[ ... ]


Awal pekan itu kumulai dengan kesedihan, tetapi aku berusaha untuk tidak berlarut-larut. Kepalaku terus-menerus berputar ke siluet Fian memeluk Ezel dari belakang, sehingga aku mengguncang kepalaku berkali-kali agar imaji itu pergi. Senin malam kepalaku pusing seperti vertigo gara-gara aku kebanyakan menggelengkan kepala. Bahkan aku menggelengkan kepala pada saat-saat yang tidak tepat.

“Jadi nanti dokternya akan kasih rujukan ke RS ya Pak?”

“Iya, Bu,” jawabku sambil geleng-geleng kepala.

“Rujukannya bisa dipake buat ke spesialis?”

“Bisa, Bu,” jawabku, menggelengkan kepala lagi.

Pasien itu menyipitkan matanya karena bingung, “Sebenarnya untuk sakitku ini, bisa pake BPJS, kan?”

“Bisa kok, Bu. Bisa pake BPJS,” kataku, menggelengkan kepala.

Itu ngasih mixed signal banget. Akhirnya Geca takeover kerjaanku dan aku disuruh istirahat dulu. Geca bilang, “Minum kopi, gih. Takutnya otak lu koclak. Besok kan lu tugas ke luar.” Aku melipir ke ruang istirahat karyawan, duduk sendiri, merenung, lagi-lagi membayangkan sosok Fian memeluk Ezel di atas kasur.

Selasa pagi aku sudah lebih mendingan karena aku akan pergi ke akmil yang ada di lanud. Aku tetap pergi ke klinik untuk mengambil peralatan dan kontainer pengambilan sampel. Sebuah truk TNI yang warna hijau lumut itu menjemputku di klinik dan aku pergi ke lanud sama-sama dari situ.

Sesampainya di lanud, aku dibawa ke sebuah ruangan luas seperti GOR yang di dalamnya terdapat banyak sekali dinding-dinding sekat dari triplek. Banyak tentara mempersiapkan proses pemeriksaan kesehatan itu. Ada petugas medis dari klinik lain sedang bersiap-siap. Misalnya, untuk tes kesehatan mata, kayaknya itu dari klinik dekat SMA 3, di perbatasan kota. Mereka sedang menyiapkan snellen chart dan memasang komputer untuk pemeriksaan mata. Ada juga klinik lain yang membawa masuk sebuah truk khusus pemeriksaan rontgen.

Aku diantar hingga ke ujung, ke tempat di mana Fian sedang menginstruksikan juniornya untuk menata area dari klinikku seperti kesepakatan.

“Hey!” sapa Fian sembari tiba-tiba mengangkat satu lengannya, merangkul bahuku, lalu membawaku ke area itu. “Sini ..., Abang mau kenalin dulu ke volunteer Adek di sini.”

Pagi itu benar-benar sibuk. Aku bersyukur karena aku enggak perlu teringat lagi momen Fian berpelukan, meskipun Fian bolak-balik menghampiri station-ku. Ada empat tentara lain yang siap mendengarkan instruksiku apa pun itu. (Fian yang menyuruh mereka begitu, “Di pos ini, Mas Rohmat in charge untuk semuanya. Pokoknya apa pun yang Mas Rohmat ini bilang, kalian ikuti perintahnya. Paham?!” Mereka jawab, “Paham!” Dengan suara tegas dan macho. Yang artinya kalau aku suruh mereka, “Buka celana dong, aku pengin nyepong kontol kalian!” Mereka wajib buka celana.)

Tapi enggak, kok. Tenang aja. Aku enggak akan melakukan itu. Aku juga sibuk membaca manual yang diberikan Fian tentang apa saja yang akan kulakukan di sini. Ada satu dokter militer yang juga menghampiri station-ku dan memberikan briefing apa saja yang harus kulakukan.

“Hari ini kita harus periksa lima puluh orang. Besok lima puluh juga. Seterusnya begitu,” kata dr. Sigit, si dokter militer itu. “Saya pengin kamu fokus ke beberapa hal ini. Dari jam delapan sampai makan siang, semuanya harus melalui tiga tes yang pertama ini, ya. Hernia, testis, sama screening visual untuk IMS. Kamu bisa, kan?”

Aku mengangguk. “Bisa, Pak.” Dan aku jujur. Aku pernah melakukan inguinal hernia check (mengecek apakah ada jaringan di bagian dalam yang mengganggu otot abdominal), testicular check (mengecek benjolan, memar, atau apa pun yang mencurigakan—misalnya varikokel kayak Xavier kemarin—khusus di bagian testis), dan juga STI screening, atau pengecekan infeksi menular seksual secara visual. Jika aku menemukan sesuatu yang mencurigakan aku harus membawa calon tarunanya ke dr. Sigit untuk dibuatkan rekomendasi pemeriksaan lebih lanjut melalui lab.

Aku juga harus menandatangani surat pernyataan bahwa semua penilaianku akan objektif berdasarkan kode etik dan kaidah-kaidah medis yang berlaku, dan aku bertanggung jawab penuh atas semua laporanku. Yang artinya aku enggak bisa pura-pura nyepong kontol si tarunanya cuma buat ngecek apakah ada hernia atau enggak.

Aku tahu kamu akan melakukan itu, Kak.

Ngaku aja!

Para calon taruna ini dibagi ke dalam beberapa kelompok yang secara bersamaan melakukan tes kesehatan berbeda. Selesai di satu station, mereka akan pindah ke station lain untuk melakukan tes kesehatan berikutnya. Akan ada tes kesehatan yang prosesnya lama, ada yang sebentar. Misalnya rontgen itu bentar banget pengambilan tesnya. Hasilnya langsung jadi, pula. Tapi untuk pengambilan darah bisa agak lama karena harus mencari dulu pembuluhnya.

Di titik ini, aku sudah melupakan kejadian di kosan Ezel. Adrenalinku juga berpacu dengan dopamine dan serotonin ketika melihat cowok-cowok gagah dari kemiliteran yang bolak-balik di dalam aula. Sudah begitu, mereka ramah kepadaku. Empat tamtama yang disuruh mengabdi padaku juga bersikap sopan, enggak ada yang songong seperti sterotipe tentara yang sering kita dengar.

Lalu pukul sembilan, beberapa kelompok taruna itu masuk ke ruangan, mengenakan kaus putih dan celana pendek putih saja. Berbaris rapi, rambut mereka pendek, tetapi belum digunduli. Badan mereka atletis semua. Enggak ada yang terlalu kurus, atau gemuk. Satu kelompok masuk ke station pertama, kedua, dan seterusnya.

Hingga akhirnya, Fian muncul membawa serombongan calon taruna di belakangnya. Mendatangi station-ku. Fian tampak ganteng dengan seragam militer loreng-loreng yang ngepas badannya, membentuk kekarnya otot tubuh Fian. Dia tersenyum sebentar kepadaku, kemudian memerintahkan lima orang di belakangnya untuk berbaris rapi dengan sikap sempurna.

“Ini datanya, Pak,” kata Fian, menyerahkan papan storyboard ke dr. Sigit. Setelah dr. Sigit menerimanya, Fian menghampiriku. Setengah berbisik dia mencolek lenganku. “Good luck.”

“Makasih, Bang.”

Aku menarik napas dan berdiri di belakang dr. Sigit.

“Buka semuanya,” kata dr. Sigit dengan tegas.

Kelima calon taruna itu melepas kaus dan celana putih mereka, hingga tak ada apa pun menempel lagi ke tubuh atletis itu. Para “bawahanku” langsung mengumpulkan pakaian mereka ke keranjang, lalu menutup sebuah tirai portable di partisiku, agar tidak ada yang melihat ke arah sini—karena peserta di sini telanjang total.

Jantungku langsung berdebar kencang, Kak.

Aku excited.

Di depanku, lima calon tentara sedang telanjang bulat dengan sikap siaga. Kulit mereka kecokelatan. Dada mereka bidang—ada belahan kekarnya. Perut mereka rata. Lengan mereka mengembang, karena sering pull up sebelum mendaftar ke sini. Dan tentunya ....

... kontol mereka mungil sekali.

Menggantung lemas di bawah jembut yang belum dicukur. Menciut kecil, seolah-olah ketakutan—hampir tenggelam di balik jembut mereka sendiri. Hanya kelihatan kepala kontolnya saja yang berwarna pucat. Testis-testis mereka tampak besar dan penuh—mungkin karena mereka tahu akan ada tes sperma di sini dan mereka perlu memastikan sperma-sperma itu sehat kalau ingin diterima sebagai tentara.

“Kamu mulai dari sebelah sana,” kata dr. Sigit sambil menyerahkan satu form untuk satu peserta. “Saya ambil yang ini. Kalau ada apa-apa, tanya saya aja.”

“Baik, Pak.”

Aku menghampiri calon taruna paling ujung. Namanya Rahmat Alfarizy.

What the fuck, namanya hampir sama. Wkwkwk. Gapapa. Aku berdiri di depan Rahmat dan menyapanya, “Selamat pagi Mas Rahmat, saya izin sentuh untuk periksa, ya.”

“Siap,” balas Rahmat tegas.

Aku pun menyambar kontol Rahmat, meremas biji pelernya, dan mulai meraba-raba area selangkangan untuk mengecek adanya hernia.

Oke, Kak. Ini yang Kakak tunggu-tunggu sejak awal. Ini adalah awal dari petualangan menakjubkanku mengecek selangkangan para calon taruna.

Tapi ..., hmmm .... Aku ceritakan detailnya enggak, ya ...?


[ ... ]


Komentar