Satu-satunya
yang menyelamatkanku adalah fakta bahwa Fian enggak mengecek Instagramnya
terlalu sering kayak aku dan jutaan manusia lain di planet ini yang haus atensi
dan validasi lewat media sosial. Begitu dia diajak berkeliling kamar-kamar
kosan Pak Guntur, Fian fokus dengan pekerjaannya dan mengambil gambar secara
profesional.
Nah,
keberuntunganku juga terjadi di sini.
Sembari
membuntuti Fian dan Pak Guntur keliling beberapa kamar yang kosong, perutku
mulas dan panik teringat pesan DM yang dikirim Deva ke Fian. Kepalaku berputar
keras mencari cara menjelaskan ke Fian tentang apa yang dimaksud Deva. Namun
kepalaku buntu. Aku enggak bisa menemukan alasan yang bagus.
Kemudian
kusadari, Fian memotret kosan menggunakan ponselnya sendiri. Dia mengambil
gambar kamar, lorong, jendela, langit-langit, halaman depan, semuanya pakai
kamera di ponselnya. Aku juga teringat dia memotret dua pemilik kosan
sebelumnya untuk bukti ke atasannya bahwa dia sudah melakukan survei.
Di
situlah otak kreatifku bekerja. Ketika Fian selesai dengan surveinya, aku
langsung menyerobot mereka dan menawarkan, “Kalau kufotoin gimana?”
“Apa?”
Fian menoleh. Tangannya sudah mengangkat untuk memotret Pak Guntur.
“Aku
aja yang fotoin, terus Abang foto bareng Pak Gunturnya.”
“Enggak
usah, Dek. Cukup foto pemilik kosan aja—“
“Gapapa
...,” potongku sembari merebut ponsel Fian. Kudorong tentara berbadan besar itu
ke Pak Guntur agar bisa kufotokan. “Buat bukti juga ke atasan kalau Abang hari
ini survei.”
“Enggak
perlu, sih—“
“Ck!
Aku hitung dari lima, ya!”
“Kebanyakan—“
“Limaaa
....”
Kuklik
home. Kugulir menu. Kucari aplikasi Instagram.
“Empat
....”
“Kelamaan,
Dek.”
Kubuka
Instagram.
“Bentar,
lagi nyari angle. Hehehe .... Tigaaa ...”
Kubuka
DM. Kulihat pesan dari Deva berada paling atas. Kutekan nama Deva cukup lama.
“Duaaa
....”
Muncul
pilihan Hapus. Kuhapus chat tersebut.
“Satu
setengah ....”
“Deeek
...,” panggil Fian, mulai tak sabar.
“Bentaaar
...! Lagi nyesuain angle. Satu tiga perempaaattt ....”
“Kok
naik hitungannya?”
Chat
dihapus. Masuk profil Deva. Block.
“Satu
....”
Buka
daftar aplikasi. Masuk ke kamera.
Cekrek!
“Sudah.”
Aku
lega bukan main setelah berhasil melakukan itu. Hasil fotonya juga bagus. Pak
Guntur ini mukanya rada-rada semringah. Entah dia nge-fans sama tentara
atau gimana, tapi di foto tampak gembira banget waktu ngangkat jempol barengan
Fian.
Ya
sudah, aku tak peduli.
Yang
penting aku sudah menghapus pertanyaan menyesatkan dari Deva dan membloknya
sekalian. Pak Guntur mengantar kami ke rumahnya lagi, tetapi di halaman
pembatas antara rumah Pak Guntur dan gedung kosan, Fian berhenti.
“Makasih
banyak, Pak. Nanti saya kabari lagi kelanjutannya gimana. Saya harus laporkan
dulu ke atasan saya untuk dapat konfirmasi lebih lanjut.”
“Baik,
baik, Pak Fian. Terima kasih banyak sudah datang kemari.”
“Sama-sama,
Pak. Kebetulan saya mau ketemu teman juga yang ngekos di sini. Jadi mungkin mau
mampir dulu sebentar.”
“Ooohhh
... ada teman, di sini? Siapa?”
“Ezelio,
Pak. Yang kamarnya di situ.” Fian menunjuk sebuah kamar di paling ujung gedung.
“Ya,
ya, ya! Anak baik itu Ezelio.” Entah mengapa aku merasa Pak Guntur terlihat
semakin gembira. Seperti orang yang sedang nge-fly. “Bayar kosan tepat
waktu. Periang. Anaknya asyik. Kreatif.”
Ini
Ezel yang sama bukan, sih?
“Iya,
Pak. Kalau gitu saya pamit dulu ya, Pak. Mari.”
“Mari,
mari. Silakan Pak Fian.”
Aku
membuntuti Fian menuju lorong di salah satu bagian gedung. “Kenapa kita ketemu
Ezel dulu?”
“Lihat
dulu kondisinya,” kata Fian. “Kakaknya enggak bisa jenguk karena hari ini jaga.
Takut kenapa-napa. Soalnya kemaren dia ketemu hal yang paling dia takutin.”
Aku
enggak bisa komentar soal itu. Memang benar Ezel takut banget sama ular. Yang
kecil saja bisa bikin dia gemetar, kemaren dia dipepet sama ular besar yang
lebih panjang dari dirinya sendiri, dan Ezelnya lagi cedera. Bayangkan betapa
menakutkannya hal itu.
Di
luar nyebelinnya dia meluk badan Fian sepanjang jalan, sebenarnya aku berempati
juga, sih. Aku sudah melihat cukup banyak rasa takut di wajah orang-orang yang
masuk IGD untuk membuat rasa ibaku terlatih. Apa yang dialami Ezel itu sangat
mengerikan. Rasanya enggak elok kalau aku ngambek gara-gara itu doang.
Memang
aku enggak ngambek, kan? Begitu Fian lepas dari Ezel, aku tetap happy
dibonceng Fian ke kosan, bahkan aku ngaceng waktu Fian bilang mau
nginap. Artinya, sebel enggak sebel, aku paham apa yang dirasakan Ezel.
Makanya,
aku juga enggak masalah ketika harus membuntuti Fian ke lantai dua, menuju
kamarnya Ezel, menaiki anak tangga meskipun pahaku masih pegal-pegal. Kurasa
Ezel perlu perhatian di saat-saat sulit begini. Kakaknya tukang ngomel. Enggak
akan pernah membantu mental Ezel.
Tok,
tok, tok.
“Ezel?”
panggil Fian sembari mengetuk pintunya. Untuk beberapa saat, tak ada jawaban.
“Ezel? Ini Bang Fian. Temennya Bang Erick.”
Ezel
masih tak menjawab.
Fian
mencoba membuka kenopnya, ternyata tak dikunci. Fian membuka pintunya dan
melongokkan kepala masuk. “Ezel? Boleh Abang masuk?”
Aku
sih belum mendengar jawaban apa-apa dari dalam. Tapi Fian sudah membuka
sepatunya, lalu mengedikkan kepala ke arahku. “Ayo,” katanya.
Aku
membuka sepatuku dan ikut ke dalam.
Ezel
sedang meringkuk di sudut tempat tidurnya, memeluk lutut. Dia seperti orang
yang semalaman diteror setan Insidious sehingga dirinya mojok di sudut, tak
berani bergerak ke mana pun. Kamarnya lumayan rapi, kecuali beberapa hal
berantakan yang kayaknya baru tercecer semalam setelah kepulangan Ezel.
Lelaki
itu mengangkat kepalanya, mencoba tersenyum. Matanya bengkak.
“Mas
... Mas Raf.” Suaranya lirih.
Fian
duduk di tepi tempat tidur lalu mengulurkan tangannya. Dia mengusap-usap lutut
Ezel. “Gimana kondisinya?”
Ezel
hanya menjawab dengan helaan napas. Dia merangkak pelan ke tepi tempat tidur
sembari mengusap-usap lengannya sendiri.
Aku
duduk di kursi belajarnya. Tersenyum seramah mungkin sambil mencoba memahami
perasaannya. Ezel masih mengenakan kaus yang dia kenakan hiking kemarin. Hanya
celananya saja yang sudah ganti. Kakinya masih dililit perban semalam. Dan aku
penasaran, kenapa di langit-langit kamar Ezel (juga semua kamar yang tadi kami
survei) ada dua hook besi?
Seakan-akan
kamar ini sering digunakan untuk menggantung kambing guling.
“Ezel
udah makan?” tanya Fian. Dia menarik kaki Ezel yang luka agar diluruskan di
atas tempat tidur, kemudian Fian memeriksanya.
Ezel
menggelengkan kepala.
“Sama
sekali?” Fian mengerutkan alisnya.
“Aku
... belum makan dari ... kemaren siang.”
“Kok
gitu? Kalau enggak bisa turun, kan bisa GoFood.”
“Gapapa.”
“Kortisolnya
lagi tinggi,” kataku, ikut campur. Fian menoleh dengan tertarik. “Kejadian
kemarin trigger hormon adrenalin sama kortisolnya naik. Jadinya,
pencernaan ditekan supaya enggak request makanan dulu. Badannya fokus
untuk survive—meskipun situasinya sudah aman. Aku tebak, kamu semalam
enggak bisa tidur, kan?”
Pelan-pelan
Ezel mengangguk.
“Kortisolnya
bikin Ezel awake semalaman. Kepalanya tuh mikir kalau bahaya masih ada
di sini.” Kulihat Ezel mengangguk lagi menyetujui. “Hormonnya bagus buat anti-inflammatory.
Jadi luka di situ bisa di-treat lebih ekstra sama badan Ezel sendiri,
supaya enggak ada infeksi. Tapi kalau terus-terusan begini ya jelas enggak
bagus, lah. Bisa nurunin imun tubuh, bisa jadi naik darah, naik berat badan.
Perlu treatment yang bener buat nyeimbangin lagi hormonnya.”
“Makan
termasuk treatment yang bener, kan?” tanya Fian, tapi matanya melirik ke
Ezel.
“Iya,
dong. Nutrisi yang baik itu dibutuhkan semua orang, kondisi apa pun.”
“Kamu
ini dokter apa suster, sih?” Fian terkekeh kecil sambil menatap lagi ke arahku.
Wajahnya terlihat kagum. “Emang yang begituan diajarin di keperawatan?”
“I
... iya,” jawabku malu.
Enggak.
Yang barusan enggak diajarin. Itu aku nemu sendiri waktu aku belajar buat
dapatin STR, siapa tahu pertanyaan macam begitu ditanyakan, atau dijadikan
contoh kasus saat ujian.
“Oke
kalau gitu, Abang mau beliin makan di warteg depan gang.” Fian tiba-tiba
berdiri dan berjalan ke ranselnya.
“Enggak
GoFood aja?” saranku.
“Lama.”
Fian mengeluarkan peralatan medis dari ranselnya, lalu meletakkannya ke atas
kasur. Itu adalah perban dan segala perlengkapan lain untuk merawat luka di
kaki Ezel. “Kalau ke warteg depan kan tinggal beli dan bawa. Dek, kamu bisa
bantu ganti perbannya Ezel, kan?”
“Enggak
bisa. Di klinik aku kerjanya jadi satpam. Enggak ngurusin yang begini-begini,”
candaku.
Fian
menoleh dengan alis mengerut serius.
“Bercanda!”
Aku terkekeh. Aku berdiri dan duduk di samping Ezel untuk membantunya mengganti
perban. “Sejak kapan Abang bawa ini semua?”
“Baru
beli semua itu. Pagi tadi. Begitu bangun, Abang langsung ke apotek dekat kosan
Adek, terus ke Dek Ida, baru balik lagi ke kamar.” Fian mengambil uang dan
membuka pintu. “Oke, Abang pergi ke warteg dulu. Rohmat entar bantu Ezel ganti
perban, ya.”
Selepas
kepergian Fian, selama sekitar lima menit, enggak ada pembicaraan apa pun
antara aku dan Ezel. Aku sih sibuk melepas perban yang dibalut petugas medis di
gunung, sementara Ezel menatapku dengan canggung. Aku juga jadi canggung.
“Semalam
Mas Raf nginap di rumah Mas, ya?” tanya Ezel tiba-tiba.
“Hm?”
balasku, sambil mengangkat kepala.
“Mas
Raf ..., nginap di Mas?”
“Oh.
Iya. Habis nganterin aku ke kosan, dia stay.” Enggak tahu kenapa ada
kebanggaan kecil saat mengatakan itu. Pengin banget aku nambahin, Mas Raf
juga telanjang lho Zeeelll ..., semalaman aku bisa cium keteknya, dan jam empat
tadi, aku juga cium kontolnya!
Namun
tentu aku tidak mengatakan itu.
Tapi
mungkin semua itu terpancar di mukaku. Karena aku kelihatan senyum-senyum
sendiri.
“Hubungan
Mas sama Mas Raf tuh apa?”
“Kita
... ummm ... kita temenan aja.”
“Temenan
kayak Mas Raf sama kakakku?”
“Yaaa
.... Semacam itulah.”
Ezel
manggut-manggut. “Pantesan bobo bareng.”
“Iya.
Tentara kan kalau bobo sama tentara lain ya ... biasa aja.”
“Tapi
Mas Raf manggil kamu Dek.”
Saat
Ezel mengatakan itu, aku baru selesai melepas perban semalam dan sedang
mengaplikasikan antiseptik di sekitar luka. Jadi aku tidak meresponsnya. Pun
karena aku enggak tahu harus merespons apa.
“Boleh
aku jujur sama Mas?” kata Ezel kemudian.
“Jujur
enggak pernah dilarang, sih.” Aku berbalik untuk mengambil perban di
belakangku.
“Aku
gay.”
Ingin
sekali aku berteriak, UDAH TAUUU! Tapi aku hanya tersenyum dan membuka plastik
perban. “Oke.”
“Gay
itu artinya suka sama ... sesama jenis.”
I
know, Bitch!
“Aku
bilang ke Mas karena kayaknya Mas orang baik. Sama kayak Mas Raf. Kita baru
ketemu kemaren tapi aku merasa aku bisa percaya sama Mas.” Ezel tersenyum lebar
meskipun wajahnya masih kelelahan. “Kalau Mas mau benci aku karena aku gay
... gapapa.”
“Enggak,
kok. Aku enggak akan benci cuma gara-gara itu doang,” balasku, sembari mulai
melilit kaki Ezel dengan perban baru. In case Kakak bertanya-tanya, luka
Ezel tuh panjang, jadi enggak mungkin ditempelin Hansaplast berjejer di
sepanjang luka. Makanya cara terbaik adalah melilitnya dengan perban dan
menggantinya secara berkala.
“Mas
tenang aja,” lanjut Ezel. “Aku enggak akan suka sama Mas, kok. Aku punya tipe
tersendiri.”
Anjeng.
Apa
aku betot aja ini perbannya sampai kaki Ezel putus, hah?!
Aku
juga enggak mengharapkan kamu suka sama aku, Bitch. Tapi enggak usah dikatakan
secara gamblang juga!
“Aku
ngomong gini karena aku ... kayaknya aku ... aku suka sama Mas Raf.”
Iya.
Kelihatan.
“Aku
iri sama Mas Roh, bisa temenan dekat sama Mas Raf. Bisa dipanggil adek juga.”
“Itu
karena aku lebih muda, ya. Jadi dipanggil adek,” sergahku mengklarifikasi.
“Aku
tahu, enggak mungkin aku bisa dapatin Mas Raf. Aku sadar, kok. Aku juga enggak
minta yang muluk-muluk. Tapi kadang ... kadang aku cuma pengin dipeluk Mas Raf
aja.” Ezel menghela napas dengan berat. “Semalam waktu aku ketakutan, terus aku
peluk Mas Raf di jalan, itu ... itu bantu buat nenangin diriku.”
“Pelukan
bisa mengeluarkan hormon oxytocin,” kataku, sambil memutar perban untuk melilit
kaki Ezel. “Bisa nurunin kortisol, nurunin tekanan darah. Gapapa kok kalau kamu
mau pelukan sama orang yang kamu sayang di saat-saat kayak begini.”
“Iya.
Aku pengin peluk Mas Raf lagi.”
Sialan
kamu Rohmat. Harusnya kamu enggak usah nyaranin kayak begitu barusan.
“Oke
udah,” kataku, sambil menali dua ujung perban.
“Makasih.”
Ezel tersenyum tulus.
Pengin
banget aku menonjok muka Ezel karena kelakuannya kayak boti muna. Tapi
aku enggak sejahat itu, dan aku enggak punya bukti kalau Ezel ini boti
munafik. Mungkin dia memang polos aja. Mungkin dia gay yang tidak
terekspos ke hal-hal gay di sekitar, jadinya dia merasa clueless
dan ‘sendirian’. Aku enggak tahu sudah berapa lama Ezel ada di kota ini, tapi
aku enggak pernah melihat dia di dating apps.
Ketika
aku kembali duduk ke kursi, Fian muncul dengan sebungkus makanan dari warteg. “Udah
diganti?” sapanya sembari menutup pintu kamar.
“Udah.”
Fian
mengambil piring yang ada di salah satu sudut kamar Ezel, lalu menadahkan
bungkusan nasi itu ke atasnya. Fian mengambil sendok dan berjalan menghampiri
Ezel. “Mau makan sendiri atau disuapin?”
Ezel
membelalak kecil karena pilihan ‘itu’ ditawarkan. “Aku ....” Ezel malah menoleh
ke arahku.
“Suapin
aja,” usulku. “Ezelnya masih capek kayaknya.”
“Oke,”
jawab Fian dengan enteng. Dia duduk lebih dekat dengan Ezel, tepatnya di
samping paha Ezel, kemudian mulai menyuapi boti itu sesendok makanan. “Semoga
kamu suka terong, ya.”
OH,
PASTI SUKA BANGET! jawabku dalam hati, sambil
mendengus kecil. Mau itu terong balado atau terong tentara, pasti dia demen!
Jujur,
aku enggak sanggup melihat pemandangan itu, Kak. Jadi aku berdiri dan pergi ke
kamar mandi kamarnya Ezel. Aku menutup pintu dan membiarkan Fian menyuapi Ezel
berduaan saja di dalam kamar.
Hatiku
agak panas sih rasanya. Aku tahu aku bukan siapa-siapanya Fian, tapi aku enggak
bisa melihat Fian begitu baiknya ke Ezel, beliin makanan, beliin perban
pagi-pagi (yang artinya dia tahu dia mau ke sini dan bantu ganti perban itu),
lalu sekarang nyuapin Ezel makanan. Kemungkinan memang Fian orangnya sebaik
itu. Mungkin dia akan melakukan hal yang sama kalau aku yang ada di posisi
Ezel. Tapi tetap aja ....
...
aku enggak bisa ngadepin itu.
Aku
duduk di toilet sembari menghirup napas panjang-panjang untuk menenangkan
diriku. Untung kamar mandi Ezel ini bersih dan wangi. Jadi aku bisa merasa
tenang. Kualihkan pikiran dengan nge-scroll Tiktok, melupakan apa pun
yang terjadi di dalam sana.
Aku
baru keluar dari kamar mandi kira-kira lima belas menit kemudian. Mereka lagi
ngobrolin topik yang aku enggak ngikutin. Makanan Ezel sudah hampir habis.
Malah, waktu aku keluar, itu suapan terakhir untuk Ezel. Begitu aku duduk di
kursi yang tadi, Fian berdiri untuk merapikan bungkusan makanan, membuangnya ke
tempat sampah.
Fian
mengulurkan segelas air putih ke Ezel sembari dia duduk lagi di dekatnya. “Habis
ini tidur, ya,” saran Fian.
Ezel
menyodorkan lagi air putih yang sudah diminumnya setengah, lalu mengangguk.
“Iya.”
“Bisa,
kan?”
“Mudah-mudahan.”
“Abang
temenin sampai Ezel tidur. Abang baru pulang kalau Ezel udah bobo. Gapapa kan,
Dek?” Ezel menoleh ke arahku.
“Gapapa.”
Aku tersenyum tegar.
Ezel
berbaring di atas tempat tidurnya, lalu berguling membelakangi kami sambil
memeluk gulingnya. Fian menepuk-nepuk pahanya dengan lembut, penuh kasih
sayang, seperti seorang ayah yang sedang menidurkan anak-anaknya. Setelah itu
Fian mengambil hape-nya dan menunggu Ezel tidur sambil membaca Whatsapp.
Aku
kepikiran satu ide, sih.
Ide
buruk buatku.
Tapi
akan membantu Ezel dalam kondisi kayak begini.
Aku
akan mengutuk diriku sendiri karena melakukan ini. Mungkin aku akan menjedotkan
kepalaku ke dinding kamar begitu pulang ke kosan nanti.
Tapi
aku enggak bisa menahan diri.
Rasa
empatiku sedang membara dengan brutal dan aku enggak suka situasi ini.
Tapi
aku tahu ..., aku harus melakukan ini. Karena apa?
Karena
aku orang baik.
Aku
menarik napas panjang kemudian menyambar tangan Fian dan menariknya ke pojokan.
Jantungku berdebar-debar. Bukan karena pegangan tangan, tetapi apa yang akan
kukatakan kepada Fian setelah ini.
“Peluk
Ezelnya sampai tidur, Bang,” bisikku.
Fian
mengerutkan alisnya. “Buat apa?” Fian menoleh ke arah Ezel.
Aku
menelan ludah. “Pelukan bisa release oxytocin yang nantinya nurunin
kortisol sama tekanan darah Ezel. Bisa bantu mengalirkan darah ke jantung lebih
baik, sehingga luka cepat sembuh dan stres berkurang. Dia enggak akan bisa
tidur kalau dia merasa enggak aman. Kalau Abang peluk dia, dia bakal ada di safe
zone yang bantu dia tidur lebih cepat. Kalau ditinggalin sendiri kayak
begitu ..., tubuhnya bakal terus mikir dia masih dalam bahaya. Bisa tidur pun,
tidurnya enggak akan berkualitas.”
Pelukan
juga men-trigger dopamine (hormon kenikmatan) dan serotonin (hormon
kenyamanan). Yang biasanya men-trigger rangsangan seksual dan rasa ....
...
cinta.
Namun
aku tidak mengatakan bagian itu.
Fian
terlihat enggak nyaman dengan ideku. “Adek yakin?”
Aku
mengangguk percaya diri. “Banyak pasien yang kondisinya membaik sewaktu
keluarganya nemenin di rumah sakit, lalu melukin mereka secara berkala selama
perawatan. Ada risetnya.”
Aku
enggak bohong, Kak. Di salah satu studi Psychosomatic Medicine, yang
diterbitkan tahun 2010, menemukan bahwa social support kayak pelukan
bisa menurunkan stres dan meningkatkan imun tubuh, yang mempercepat penyembuhan
pasien rumah sakit.
Fian
menoleh lagi ke arah Ezel. “Kenapa enggak Adek aja yang peluk?”
“Badan
Abang lebih gede dariku. Lebih banyak ... hormon ... oxytocin yang Abang
keluarkan, yang bantu dia lebih cepat sembuh.”
Nah,
yang barusan aku berbohong.
Jawaban
yang benar adalah karena Ezel sukanya sama kamu, Bang, bukan sama aku.
Fian
menelan ludah. Dia menatap Ezel dan aku berkali-kali, seperti menimang-nimang
apakah perlu melakukan hal ini.
“Gapapa,”
bisikku. “Peluk aja. Aku enggak akan ngomong ama siapa-siapa, kok. Enggak akan
ngomong sama Mas Erick juga.”
Fian
tetap butuh waktu beberapa saat untuk memutuskan.
“Oke,”
kata Fian akhirnya. Dia menarik napas panjang. Tubuhnya berbalik pelan seraya
kakinya melangkah lebih dekat ke tempat tidur.
Perlahan-lahan,
Fian memanjat naik dan memosisikan tubuhnya di belakang Ezel.
“Zel
...?” panggilnya pelan.
“Ya,
Mas?” Ezel menoleh. Masih belum tidur.
“Kalau
Abang peluk, supaya kamu cepat tidur, boleh?”
Ezel
membelalak. Dia tak menjawab apa-apa. Tapi jelas banget dia mau. Apalagi ketika
Fian tiba-tiba menyusupkan satu tangannya yang kekar itu ke bawah kepala Ezel,
lalu Fian merapatkan tubuh Ezel ke tubuhnya yang besar, lalu tangannya mendekap
perut Ezel dengan erat, Ezel tidak komplain.
Keduanya
spooning dengan nyaman sambil membelakangiku.
Tanganku
mulai bergetar.
Aku
enggak bisa melihat ini di depanku.
“Bang
...,” bisikku.
Fian
menoleh cepat. “Kenapa, Dek?”
“Aku
... aku ada telepon dari Geca, temenku di klinik. Aku keluar bentar, ya.”
“Oke.”
Fian pun kembali memeluk Ezel.
Aku
keluar dari kamar itu, menutup pintunya dengan rapat. Aku berjalan di sepanjang
lorong kosan Ezel, berhenti di tangga, lalu duduk dengan napas yang memburu.
Aku
cemburu, tetapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak bisa membuka ponsel
karena tanganku gemetar. Aku tak bisa menahan air mataku untuk menetes keluar.
Ikhlasin
aja, Mat, kataku kepada diriku sendiri. Ingat
bahwa kamu bukan siapa-siapanya Fian.
Kamu.
Bukan. Siapa-siapanya. Fian.
Kamu
enggak berhak untuk mencegah Ezel mendapatkan apa yang dia butuhkan.
Kamu
enggak berhak untuk cemburu kepada siapa pun.
[
... ]
Awal
pekan itu kumulai dengan kesedihan, tetapi aku berusaha untuk tidak
berlarut-larut. Kepalaku terus-menerus berputar ke siluet Fian memeluk Ezel
dari belakang, sehingga aku mengguncang kepalaku berkali-kali agar imaji itu
pergi. Senin malam kepalaku pusing seperti vertigo gara-gara aku kebanyakan
menggelengkan kepala. Bahkan aku menggelengkan kepala pada saat-saat yang tidak
tepat.
“Jadi
nanti dokternya akan kasih rujukan ke RS ya Pak?”
“Iya,
Bu,” jawabku sambil geleng-geleng kepala.
“Rujukannya
bisa dipake buat ke spesialis?”
“Bisa,
Bu,” jawabku, menggelengkan kepala lagi.
Pasien
itu menyipitkan matanya karena bingung, “Sebenarnya untuk sakitku ini, bisa
pake BPJS, kan?”
“Bisa
kok, Bu. Bisa pake BPJS,” kataku, menggelengkan kepala.
Itu
ngasih mixed signal banget. Akhirnya Geca takeover kerjaanku dan
aku disuruh istirahat dulu. Geca bilang, “Minum kopi, gih. Takutnya otak lu koclak.
Besok kan lu tugas ke luar.” Aku melipir ke ruang istirahat karyawan, duduk
sendiri, merenung, lagi-lagi membayangkan sosok Fian memeluk Ezel di atas
kasur.
Selasa
pagi aku sudah lebih mendingan karena aku akan pergi ke akmil yang ada di
lanud. Aku tetap pergi ke klinik untuk mengambil peralatan dan kontainer
pengambilan sampel. Sebuah truk TNI yang warna hijau lumut itu menjemputku di
klinik dan aku pergi ke lanud sama-sama dari situ.
Sesampainya
di lanud, aku dibawa ke sebuah ruangan luas seperti GOR yang di dalamnya
terdapat banyak sekali dinding-dinding sekat dari triplek. Banyak tentara
mempersiapkan proses pemeriksaan kesehatan itu. Ada petugas medis dari klinik
lain sedang bersiap-siap. Misalnya, untuk tes kesehatan mata, kayaknya itu dari
klinik dekat SMA 3, di perbatasan kota. Mereka sedang menyiapkan snellen
chart dan memasang komputer untuk pemeriksaan mata. Ada juga klinik lain yang
membawa masuk sebuah truk khusus pemeriksaan rontgen.
Aku
diantar hingga ke ujung, ke tempat di mana Fian sedang menginstruksikan
juniornya untuk menata area dari klinikku seperti kesepakatan.
“Hey!”
sapa Fian sembari tiba-tiba mengangkat satu lengannya, merangkul bahuku, lalu membawaku
ke area itu. “Sini ..., Abang mau kenalin dulu ke volunteer Adek di
sini.”
Pagi
itu benar-benar sibuk. Aku bersyukur karena aku enggak perlu teringat lagi
momen Fian berpelukan, meskipun Fian bolak-balik menghampiri station-ku.
Ada empat tentara lain yang siap mendengarkan instruksiku apa pun itu. (Fian
yang menyuruh mereka begitu, “Di pos ini, Mas Rohmat in charge untuk
semuanya. Pokoknya apa pun yang Mas Rohmat ini bilang, kalian ikuti
perintahnya. Paham?!” Mereka jawab, “Paham!” Dengan suara tegas dan macho. Yang
artinya kalau aku suruh mereka, “Buka celana dong, aku pengin nyepong
kontol kalian!” Mereka wajib buka celana.)
Tapi
enggak, kok. Tenang aja. Aku enggak akan melakukan itu. Aku juga sibuk membaca
manual yang diberikan Fian tentang apa saja yang akan kulakukan di sini. Ada
satu dokter militer yang juga menghampiri station-ku dan memberikan briefing
apa saja yang harus kulakukan.
“Hari
ini kita harus periksa lima puluh orang. Besok lima puluh juga. Seterusnya
begitu,” kata dr. Sigit, si dokter militer itu. “Saya pengin kamu fokus ke
beberapa hal ini. Dari jam delapan sampai makan siang, semuanya harus melalui
tiga tes yang pertama ini, ya. Hernia, testis, sama screening visual untuk
IMS. Kamu bisa, kan?”
Aku
mengangguk. “Bisa, Pak.” Dan aku jujur. Aku pernah melakukan inguinal hernia
check (mengecek apakah ada jaringan di bagian dalam yang mengganggu otot
abdominal), testicular check (mengecek benjolan, memar, atau apa pun
yang mencurigakan—misalnya varikokel kayak Xavier kemarin—khusus di bagian
testis), dan juga STI screening, atau pengecekan infeksi menular seksual
secara visual. Jika aku menemukan sesuatu yang mencurigakan aku harus membawa
calon tarunanya ke dr. Sigit untuk dibuatkan rekomendasi pemeriksaan lebih
lanjut melalui lab.
Aku
juga harus menandatangani surat pernyataan bahwa semua penilaianku akan
objektif berdasarkan kode etik dan kaidah-kaidah medis yang berlaku, dan aku
bertanggung jawab penuh atas semua laporanku. Yang artinya aku enggak bisa
pura-pura nyepong kontol si tarunanya cuma buat ngecek apakah ada hernia
atau enggak.
Aku
tahu kamu akan melakukan itu, Kak.
Ngaku
aja!
Para
calon taruna ini dibagi ke dalam beberapa kelompok yang secara bersamaan
melakukan tes kesehatan berbeda. Selesai di satu station, mereka akan
pindah ke station lain untuk melakukan tes kesehatan berikutnya. Akan
ada tes kesehatan yang prosesnya lama, ada yang sebentar. Misalnya rontgen itu
bentar banget pengambilan tesnya. Hasilnya langsung jadi, pula. Tapi untuk
pengambilan darah bisa agak lama karena harus mencari dulu pembuluhnya.
Di
titik ini, aku sudah melupakan kejadian di kosan Ezel. Adrenalinku juga berpacu
dengan dopamine dan serotonin ketika melihat cowok-cowok gagah dari kemiliteran
yang bolak-balik di dalam aula. Sudah begitu, mereka ramah kepadaku. Empat
tamtama yang disuruh mengabdi padaku juga bersikap sopan, enggak ada yang
songong seperti sterotipe tentara yang sering kita dengar.
Lalu
pukul sembilan, beberapa kelompok taruna itu masuk ke ruangan, mengenakan kaus
putih dan celana pendek putih saja. Berbaris rapi, rambut mereka pendek, tetapi
belum digunduli. Badan mereka atletis semua. Enggak ada yang terlalu kurus,
atau gemuk. Satu kelompok masuk ke station pertama, kedua, dan
seterusnya.
Hingga
akhirnya, Fian muncul membawa serombongan calon taruna di belakangnya.
Mendatangi station-ku. Fian tampak ganteng dengan seragam militer
loreng-loreng yang ngepas badannya, membentuk kekarnya otot tubuh Fian. Dia
tersenyum sebentar kepadaku, kemudian memerintahkan lima orang di belakangnya
untuk berbaris rapi dengan sikap sempurna.
“Ini
datanya, Pak,” kata Fian, menyerahkan papan storyboard ke dr. Sigit.
Setelah dr. Sigit menerimanya, Fian menghampiriku. Setengah berbisik dia
mencolek lenganku. “Good luck.”
“Makasih,
Bang.”
Aku
menarik napas dan berdiri di belakang dr. Sigit.
“Buka
semuanya,” kata dr. Sigit dengan tegas.
Kelima
calon taruna itu melepas kaus dan celana putih mereka, hingga tak ada apa pun
menempel lagi ke tubuh atletis itu. Para “bawahanku” langsung mengumpulkan
pakaian mereka ke keranjang, lalu menutup sebuah tirai portable di
partisiku, agar tidak ada yang melihat ke arah sini—karena peserta di sini
telanjang total.
Jantungku
langsung berdebar kencang, Kak.
Aku
excited.
Di
depanku, lima calon tentara sedang telanjang bulat dengan sikap siaga. Kulit
mereka kecokelatan. Dada mereka bidang—ada belahan kekarnya. Perut mereka rata.
Lengan mereka mengembang, karena sering pull up sebelum mendaftar ke
sini. Dan tentunya ....
...
kontol mereka mungil sekali.
Menggantung
lemas di bawah jembut yang belum dicukur. Menciut kecil, seolah-olah
ketakutan—hampir tenggelam di balik jembut mereka sendiri. Hanya kelihatan
kepala kontolnya saja yang berwarna pucat. Testis-testis mereka tampak besar
dan penuh—mungkin karena mereka tahu akan ada tes sperma di sini dan mereka
perlu memastikan sperma-sperma itu sehat kalau ingin diterima sebagai tentara.
“Kamu
mulai dari sebelah sana,” kata dr. Sigit sambil menyerahkan satu form
untuk satu peserta. “Saya ambil yang ini. Kalau ada apa-apa, tanya saya aja.”
“Baik,
Pak.”
Aku
menghampiri calon taruna paling ujung. Namanya Rahmat Alfarizy.
What
the fuck, namanya hampir sama. Wkwkwk.
Gapapa. Aku berdiri di depan Rahmat dan menyapanya, “Selamat pagi Mas Rahmat,
saya izin sentuh untuk periksa, ya.”
“Siap,”
balas Rahmat tegas.
Aku
pun menyambar kontol Rahmat, meremas biji pelernya, dan mulai meraba-raba area
selangkangan untuk mengecek adanya hernia.
Oke,
Kak. Ini yang Kakak tunggu-tunggu sejak awal. Ini adalah awal dari petualangan
menakjubkanku mengecek selangkangan para calon taruna.
Tapi
..., hmmm .... Aku ceritakan detailnya enggak, ya ...?
Komentar
Posting Komentar