(HD) 14A. Pure Top Gagah atau Rifaiju




Halo, Kak!

Sebelum kita ke bagian utama, oke, aku mau bahas dulu soal perasaanku kemarin.

Iya aku tahu, itu kebodohanku karena membuat Fian pelukan sama Ezel. Pengin banget aku menyalahkan Fian karena dia ngelakuin itu, tapi karena aku punya otak, aku harus berpikir logis bahwa itu semua terjadi karenaku. Bukan karena Fian. Akulah yang membuat itu terjadi. Bukan Fian. Sejak awal Fian enggak kepikiran meluk Ezel. Bacotkulah yang membuat Fian meluk Ezel.

Jadi kalau hari ini aku baper gara-gara itu, yang bego aku, sih.

Bukan Fian.

Dan begonya, aku baper.

Sepanjang berada di aula kan aku ngelihat Fian berkali-kali. Enggak selamanya ada di station-ku, tapi dia bolak-balik untuk ngecek situasi dan kondisi. Kadang kalau dia agak bebas dikit, dia bakal diam di station-ku, merhatiin aku melakukan inguinal hernia check.

Dan setiap kali Fian ada di sini, hal pertama yang terlintas dalam kepalaku adalah punggung itu.

Punggung lebar dan kekar. Memeluk tubuh Ezel yang lebih kecil.

Di atas kasur.

Pelukan dengan nyaman.

Aku geleng-geleng kepala lagi untuk mengenyahkan pikiran itu dari kepalaku. Tapi gesturku terlalu kentara, sehingga dr. Sigit (maupun Fian) menganggap aku menemukan yang aneh-aneh di kontol yang sedang kuperiksa.

Misalnya waktu aku sedang mengecek Andra, seorang calon taruna asal Riau, aku geleng-geleng kepala ketika meraba buah zakarnya. Tidak ada yang salah dengan buah zakar itu. Andra bertubuh bongsor, tingginya 180 cm, sudah nge-gym sejak SMA, ototnya lumayan jadi, empat tahun lagi kalau dia rajin work out badannya bakalan mirip Fian. Kontolnya mungil, sudah disunat, jembutnya banyak, dan biji pelernya besar. Enggak ada masalah, sumpah. Tapi di belakang Andra, ada Fian, mengamatiku. Lalu kepalaku teringat lagi adegan di kosan Ezel.

Aku geleng-geleng kepala untuk mengenyahkannnya.

Gelengan itu dilihat oleh dr. Sigit yang kebetulan ada di sampingku, sedang mengecek calon taruna bernama Zaga.

“Kenapa testisnya?” tanya dr. Sigit. Tangannya masih meraba-raba biji Zaga, tetapi kepalanya menoleh ke kontol Andra.

“Oh. Enggak apa-apa, Pak.” Aku menggelengkan kepala, tersenyum, dan kembali mengecek kontol Andra. Kuangkat batangnya yang lemas, kulihat area pangkal kontolnya yang mengerut.

Kupikir dr. Sigit memercayaiku. Ternyata dia masih bertanya, “Saya lihat kamu geleng-geleng kepala. Ada benjolan?” dr. Sigit melepaskan tangannya dari kontol Zaga, pindah mengecek kontol Andra.

Kini ada dua tangan di kontol Andra. Tangan dr. Sigit meraba-raba area bawah biji peler Andra, menekan-nekannya untuk mencari benjolan.

Pada saat yang sama, Fian menghampiri kami. Kepo dengan kontol Andra juga. “Kenapa?” tanyanya, sambil ikutan berjongkok di sampingku, lalu menatap kontol Andra dengan saksama.

Andra menelan ludah. Agak awkward kontolnya kini diamati tiga orang.

“Enggak apa-apa, kok. Enggak ada apa-apa,” akuku jujur.

“Tadi saya lihat kamu geleng-geleng kepala,” kata Fian.

Geleng-geleng supaya bayangan soal kamu sama Ezel itu enyah, Bang! Bukan gara-gara kontol Andra! Kontol calon taruna kekar dari Riau ini enggak kenapa-nap—

“Iya ada benjolan di sini,” kata dr. Sigit tiba-tiba.

Oh, ada, ya?

Andra membelalak panik. Dia langsung menunduk ke bawah untuk ikut melihat.

“Sikap sempurna!” sergah Fian tegas.

Andra menangkat lagi kepalanya. Merapatkan lengan ke tubuh. Lalu menahan napas.

“Batuk!” titah dr. Sigit.

Uhk .... Uhk ....” Andra batuk dengan suara pelan.

“Yang keras!” kata dr. Sigit, sembari tangannya menekan area perineum, di bagian belakang biji peler, di garis menuju anus.

Uhhuk! Uhhuk! Uhhuk!” Andra batuk lebih keras, tapi dia mulai panik. Peluh mengalir di pelipisnya. Biji pelernya mengerut ke dalam, ketakutan.

Dr. Sigit meraba-raba lagi area selangkangan itu, lalu bertanya, “Pernah operasi?”

“Siap, belum pernah!” balas Andra.

Dr. Sigit menarik-narik kontol lemas Andra ke berbagai arah, mengecek untuk terakhir kali, lalu memutuskan bahwa selangkangan Andra baik-baik saja. “Aman.”

Andra mendesah lega.

Aku juga mendesah lega. Sumpah, aku takut dianggap sebagai nakes yang enggak kredibel karena memberikan diagnosa yang salah. Kalau performaku jelek, aku harus say goodbye ke kontol-kontol calon taruna ini. Dan kamu enggak akan tahu cerita lebih detailku, Kak.

Dr. Sigit kembali ke Zaga dan mulai melakukan prosedur lain.

Aku lanjut mengecek kontol Andra sembari mengangkat storyboard-ku. Kutekan-tekan area yang tadi dibilang ada benjolan menurut dr. Sigit, dan memang ada benjolan di situ. Tapi kayaknya itu benjolan yang normal, yang ada di semua biji peler seluruh dunia.

Yang jadi masalah adalah ....

... Fian masih jongkok di sampingku.

Dia berbisik, “Adek kenapa?”

“Enggak kenapa-napa.” Aku enggak berani menatap Fian. Mataku fokus ke kontol Andra saja. Kontol mungil, sudah disunat, palkonnya berwarna pucat, jembutnya lebat, bijinya besar, punggung yang kekar, memeluk Ezel, dengan nyaman—

Aku geleng-geleng kepala lagi.

“Tuh, kan. Kenapa geleng-geleng?”

“Gapapa, gapapa.” Aku berdiri dan berbalik untuk menghindari Fian. Niatnya mau pergi saja dari situ lalu mengisi form kesehatan Andra dari jarak tertentu.

Tapi dr. Sigit melihatku. “Mau ke mana? Coba kamu DRE ke dia.”

Fuck.

“Cek prostatnya. Kalau ada swelling, kamu tulis di situ.”

“I ... iya.”

DRE adalah Digital Rectal Examination. Mengecek bool lelaki menggunakan jari. Yang dicek adalah bagian prostat, yang ada di dalam bool, yang membuat semua boti keenakan sampai crot saat disodomi pure top gagah atau Rifaiju. (Atau EWReborn, tergantung Kakak favoritnya yang mana.) Kalau ditemukan benjolan, bengkak, atau kekakuan yang tidak umum, orangnya mungkin mengidap penyakit prostat seperti prostatitis, hyperplasia, atau parahnya kanker.

Aku bukannya enggak mau ngecek bool Andra. Dari awal aku mau banget, karena di batch ini, Andra yang paling kekar, sekel, tegap, tinggi, garang, gagah, dan “tentara tangguh” banget. Nyolok bool Andra bakalan bikin rahimku meleleh. Masalahnya adalah Fian masih ada di samping Andra.

Aku menarik napas dan menuang pelumas ke telunjukku (yang dibalut oleh medical glove warna biru). Kuperintahkan Andra untuk berbalik, membungkuk setengah (seperti rukuk), lalu menarik pantatnya ke arah berlawanan agar lubang bool-nya terekspos di depan mukaku.

Andra melakukannya dengan patuh. Dia nungging, menguak bool, menampilkan kerutan cincin anus yang perawan tanpa pernah disodok kontol lain, dan bulu-bulu bool yang cukup lebat di sepanjang garis pantat.

Aku berjongkok di depan pantatnya, lalu memasukkan telunjukku ke dalam bool Andra, meraba-raba bagian dalamnya mencari prostat di mana.

“Aaargh!” Andra meringis kecil. Tidak terbiasa bool-nya dimasuki sesuatu dari luar.

“Kalau Adek enggak enak badan, istirahat dulu aja,” bisik Fian. Masih ada di sebelahku.

“Aku baik-baik aja,” kataku, tanpa menoleh.

“Kepala Adek lagi pusing?”

“Enggak.”

Kira-kira bool Fian sama kayak bool Andra enggak, ya?

Badannya kan mirip-mirip, nih. Apa bool Fian juga sehangat, sempit, dan padat ini?

Eh, goblok kamu, Rohmat! Malah mikir ke arah sana.

Fian ikutan menatap bool Andra yang sedang kucolok-colok. Lalu dia menoleh lagi ke wajahku beberapa saat setelahnya. Fian menghela napas. Mungkin akhirnya dia menyerah.

“Ya udah ..., Abang ...,” kata-kata Fian terjeda sejenak, karena Fian pun bingung mau bicara apa, “Abang ke station lain dulu.”

“Iya.”

“Tapi kalau Adek ada apa-apa, bilang ke Abang, ya.”

“Iya.”

Fian pun berdiri dan pergi dari station-ku.

Jujur, aku merasa lega. Aku enggak bisa mendeskripsikan yang kurasakan soal Fian. Dengan seorang calon taruna yang badannya hampir mirip Fian, lalu telanjang, lalu kontol dan bool-nya kuraba-raba sedari tadi, membuatku sange melihat Fian. Tapi pada saat bersamaan, aku masih cemburu pada pelukan Fian ke Ezel—yang disebabkan olehku sendiri.

Kakak paham kan maksudku?

Rasanya pengin marah ke Fian, tapi aku enggak berhak marah.

Rasanya pengin melupakan adegan itu, tapi aku enggak bisa mengenyahkannya sedetik pun.

Dan aku geleng-geleng kepala lagi.

“Ada benjolan?” tanya dr. Sigit.

“Oh!” Aku menelan ludah. “Enggak ada, Pak.”

Aku masih memainkan bool itu di bagian prostatnya untuk terakhir kali. Mungkin kira-kira satu menit. Kupijat-pijat prostat Andra sembari aku melamun. Sembari aku berkontemplasi pada apa yang terjadi dua hari ini. Aku menarik napas panjang, memerintahkan diriku sendiri untuk berhenti cemburu. Berhenti memikirkan adegan itu.

Aku harus fokus pada pekerjaanku. Ini adalah pekerjaan yang diinginkan semua homo seluruh dunia. Mengecek kontol dan bool para calon taruna. Menarik-naik kontol lemas itu ke sana kemari. Memutar-mutar telunjuk di dalam bool. Menangkup biji peler seakan-akan mau memetik mangga. Dan lain sebagainya. Seharusnya aku menikmatinya dan mensyukurinya.

Dan kepalaku malah memikirkan Fian dan Ezel?!

Benar-benar goblok kamu, Rohmat!

....

....

....

Oh, ya ampun. Aku kelamaan meraba prostat Andra!

Aku mengeluarkan jemariku dan melepas sarung tangan itu seketika, lalu membuangnya ke dalam tempat sampah. Sembari mengangkat storyboard, aku berkata ke Andra, “Balik, Mas.”

Andra agak ragu. Dia berbalik ke depan. Menghadapku. Bahunya agak condong ke depan. Seolah-olah Andra malu untuk tampil ke depan lagi.

....

Oh, pantas.

Kontolnya ngaceng ternyata.

Wajah Andra memerah karena malu. Dia menelan ludah. Dia bersikap kikuk. Sikap sempurna, tapi bahunya agak naik, dadanya agak ke depan.

Kontolnya keras dan mengentak-entak kecil.

Bahkan nih, ya ... aku enggak lebai, Kak ... bahkan lubang kontolnya mengeluarkan precum.

....

Ukuran kontolnya normal.

Kakak jangan bayangin kontol tebal, gemuk, dan panjang. Normal aja.

Udah, udah.

Aku mau mencatat dulu di storyboard-ku.


[ ... ]


Andra adalah batch keempat di station-ku. Setelah batch-nya Andra dan Zaga memakai lagi kaus dan celana pendek, mereka keluar dipimpin seorang taruna, kemudian batch kelima sudah muncul di depan, menunggu. Fian lagi-lagi yang membawa mereka ke sini.

Ketika lima orang itu masuk ke dalam, Fian sempat menghampiriku. Dia menarikku ke sudut station, membiarkan anak buahnya yang memerintahkan batch kelima untuk menelanjangi diri. Kemudian Fian bertanya, “Abang ada salah sama Adek?”

Aku terkejut ditanyai seperti itu.

Ada, sih, Bang. Abang ada salah yang kesalahannya disebabkan olehku.

Jadi aku enggak akan ngomong itu ke Abang.

“Enggak ada.”

“Adek kayak ngehindarin Abang—“

“Lho, ini aku berdiri di depan Abang, ngobrol sama Abang. Ngehindarin gimana?”

“Kayak enggak mau lihat Abang dari tadi.”

“Karena aku lagi kerja, kan?”

Fian sudah membuka mulutnya untuk mendebat, tetapi mengurungkannya.

“Mas Rohmat?” panggil dr. Sigit. “Sudah siap?”

Kelima orang di Batch 5 itu sudah berbaris rapi dan telanjang bulat. Tirai juga sudah ditutup.

“Aku ... aku mau ke sana dulu,” kataku, setengah menunduk.

Fian tiba-tiba berkata, “Oke, kalau Adek merasa terganggu, Abang enggak akan ke sini dulu sampai selesai. Gapapa?”

Apa-apa.

Tapi gapapa juga.

Dan aku memilih untuk mengangguk saat itu. “Iya, gapapa.”

Fian pun pergi keluar. Tak pernah muncul lagi hingga batch terakhir selesai kuperiksa.

Ya sudah, kita fokus ke kerjaanku aja, ya Kak. Aku tahu Kakak di sini bukan buat Fian banget, kan? Aku tahu Kakak di sini karena menunggu-nunggu episode hidupku yang ini. Spesifik di bagian aku melakukan pengecekan kontol ke calon tentara. Jadi mari kita kesampingkan dulu Fian untuk sementara.

Proses pemeriksaan kelamin ini kesannya menggairahkan dan mendebarkan banget, apalagi bagi gay kayak kita, tapi sebenarnya di lokasi pemeriksaan, aku enggak merasakan sange sesering yang kukira. Tadinya kupikir kontolku bakal ngaceng terus sepanjang hari, bakal melelehkan liur dari sudut bibir karena bisa memainkan kontol cowok-cowok straight calon taruna. Namun kenyataannya, biasa saja. Makin sini makin membosankan, malah. Cuma di batch-batch awal aja aku meriksa kontolnya agak lama. Makin sana pemeriksaanku jadi seadanya. Aku lihat, aku raba, aku terawang. Lalu, aku catat.

Jadi kalau ada yang punya hernia di batch-batch akhir, bisa jadi mereka lolos pemeriksaan karena aku (maupun dr. Sigit) sudah lelah mengecek kontol.

Tapi tenang aja, aku akan tetap menjelaskan highlight hari ini untukmu, Kak. Hitung-hitung hiburan supaya kita enggak teringat lagi soal Fian dan Ezel.

Di next part, ya!


[ ... ]


13. Aku Pengin Peluk Mas Raf Lagi | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 15. Fingering Prostat Boti (Short version)


Catatan:

Part 14B tidak tersedia gratis. Hanya bisa dibaca melalui PDF.

Dapatkan PDF-nya di sini.


Komentar