(HD) 15. Fingering Prostat Boti (Short Version)




Halo, Kak!

Kalau Kakak lupa sama detail kemarin atau enggak dengar ceritaku sama sekali, aku rekap dulu ya yang terjadi di pemeriksaan kesehatan akmil ini.

Sebanyak 50 calon taruna melakukan pemeriksaan kesehatan di aula. Aku memeriksa hampir setengah dari mereka di bagian kontol, biji peler, dan anusnya. Pemeriksaan kesehatan, kok. Enggak ada adegan ngewe atau apa gitu. Rata-rata semua kontolnya sehat tanpa penyakit kelamin atau masalah apa pun.

Ada yang ngaceng pas lagi dipegang-pegang kontolnya.

Ada yang ngaceng pas bool-nya di-fingering.

Malah, ada yang crot pas diperiksa.

Dari 50 orang itu, ada satu yang terindikasi hernia. Ada empat orang yang dicurigai varikokel—sehingga aku memeriksanya secara khusus dengan USG testis. Dan ada juga yang diduga kanker prostat. Satu calon taruna mengeluarkan urin ketika prostatnya kupijat di dalam bool. Gara-gara itu, dr. Sigit memerintahkan seluruh calon taruna untuk melakukan tes urin ulang, dengan proses kencing yang diobservasi oleh tenaga medis.

Sebanyak 9 orang otomatis gugur saat pemeriksaan kesehatan, sehingga hanya 41 orang yang melakukan pengambilan urin. Aku kebagian tugas mengobservasi proses kencing mereka, lalu mengumpulkan semua sampel urin untuk kubawa ke klinikku karena akan diperiksa kandungannya.

Salah satu dari 41 orang itu memohon-mohon kepadaku agar “dibantu”.

Namanya Davin Haidar Madhava. Sering mengompol saat tidur dan pipisnya terasa ngilu. Orangnya ganteng, seksi, dan oke banget. Awalnya aku menolak bantu dia, tapi ternyata dia kenal sama Xavier. Lalu, Xavier bilang aku membantunya, jadi Davin mengancamku kalau tidak mau membantu, dia akan membeberkan apa yang kulakukan bersama Xavier dalam pemeriksaan varikokel minggu lalu.

Aku panik, sih. Jujur aku kepikiran selama beberapa saat. Tapi besok aku bakal ketemu Davin lagi dalam pemeriksaan EPS (Expressed Prostatic Secretion), pemeriksaan dengan memasukkan telunjuk ke bool, memijat-mijat prostat, sampai keluar prostatic fluid dari lubang kontol.

Yes. Pemeriksaan macam begitu nyata adanya. Bukan karanganku yang homo dan doyan kontol semata. Prostatic fluid-nya akan digunakan untuk melihat kemungkinan prostatitis, abnormalitas sel darah putih, infeksi, dan lain sebagainya. Berkaitan dengan kesehatan reproduksi, tetapi karena dekat dengan kandung kemih, bisa berkaitan dengan kesehatan ginjal juga.  

Dr. Sigit memberikan tanggung jawab penuh kepadaku untuk melakukan “fingering” ke bool para calon taruna ini sampai mereka mengeluarkan cairan prostat. Persis kayak akun bokep Jepang di Twitter @Ken_Prostate (bukan endors!). Ketika prostat “dimainkan” keluarlah cairan dari lubang kontol dan itu nyata adanya.

(Eits! Enggak perlu nyobain sekarang juga ya, Kak! Fokus dulu baca ceritaku! Nanti aja mainin prostatnya!)

Jadi, aku akan membahas lebih lanjut soal ancaman Davin di pemeriksaan EPS-nya besok. Sore itu aku fokus pada penutupan hari ini saja.

Aku berjalan masuk ke aula, mengambil tas dan peralatanku, lalu menyusuri koridor yang memisahkan station dari klinik lain. Tanpa disangka, aku melihat Fian sedang mengobrol dengan seseorang dari puskesmas yang menangani HIV AIDS para calon taruna. (BTW, penderita HIV AIDS boleh mendaftar jadi tentara. Status HIV dicek untuk memastikan taruna-taruna ini mendapatkan terapi yang tepat andai mereka positif HIV.)

Nah, perawat yang mengobrol bersama Fian itu laki-laki. Tapi kelihatan kayak boti.

Enggak ngondek, tapi radarku kencang banget meyakini dia pasti homo.

Yang membuatku semakin yakin adalah ....

... ketika aku menghampiri Fian, lelaki itu memegang tangan Fian dan mencengkeramnya selama beberapa saat. Dia tertawa-tawa, tetapi tak melepaskan tangan Fian.

Aku menghentikan langkahku.

Aku cemburu.

Cemburunya sama seperti saat melihat Fian memeluk Ezelio. Tubuhku terasa panas. Jantungku berdebar-debar dengan tidak nyaman. Aku mencoba menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Namun napasku pun terasa panas di atas mulut.

Aku mencoba berjalan mendekati mereka, tetapi langkahku terhenti.

“Mas Rohmat! Mau ke mana?”

Dr. Sigit menahanku.

Beliau tiba-tiba muncul di depanku, menghalangi pandanganku dari Fian dan boti itu.

“Oh ... eh?” Aku gelagapan.

“Jangan dulu pulang, Mas. Sini. Kita evaluasi dulu check up hari ini.” Tiba-tiba dr. Sigit menarikku kembali ke station kami.

Aku yang masih terpana hanya bisa membuntuti sang dokter militer. Aku sempat menoleh ke belakang, ke arah Fian dan perawat dari puskesmas. Namun semakin aku memandangnya, semakin sakit hatiku. Jadi aku memejamkan mata dan masuk ke dalam station dengan buru-buru. Aku duduk di depan meja yang ditumpuki data-data para calon taruna hari ini. Semua sampel yang harus kubawa ke klinik sedang dimasukkan oleh dua orang taruna ke dalam kontainer yang bisa menjaga suhu tetap sama.

“Kamu tuh perawat, kan?” tanya dr. Sigit sembari duduk dan membuka beberapa dokumen untuk ditandatangani.

“Iya, Pak. Sudah ada STR juga.”

“Iya, saya sudah lihat.” Dr. Sigit menandatangani dulu satu formulir rekam medis salah satu calon taruna. “Tapi cita-cita kamu ... jadi dokterkah?”

Aku terkekeh. “Kalau cita-cita sih, iya. Tapi uangnya enggak sanggup, Pak. Hehehe. Ibu bapak cuma bisa biayain sekolah keperawatan aja.”

“Saya amati cara kamu menganalisa pasien ...,” tanda tangan dokumen, “... enggak kayak perawat biasanya. Kamu paham istilah medis ....” tanda tangan dokumen.

“Sebagai perawat kita harus paham istilah medis kan, Pak?”

“Ya, iyalah! Hahaha .... Maksud saya ...,” tanda tangan dokumen, “... kamu menganalisa pasien kayak dokter. Biasanya perawat kan cuma menganalisa ...,” tanda tangan dokumen, “... yang umum-umum aja. Kamu ngerti istilah medis yang spesifik ...,” tanda tangan dokumen, “... yang biasanya cuma dokter sp.KK aja yang tahu ...,” tanda tangan dokumen, “... atau urologi. Kamu juga bisa nemu prostat yang ...,” tanda tangan dokumen, “... ukurannya lain.”

“Oh, saya memang dapat pelatihan untuk itu, Pak. Di klinik, saya diharusin serba bisa. Hehe. Jadi udah lumayan sering gantiin dokter buat ngambil sampel atau diagnosa umum—tapi tetep dokternya kok yang ngasih statement. Saya cuma bantuin.”

“Pantas kamu dipuji-puji dr. Lusi ...,” tanda tangan dokumen, “... saya nanya ke beliau, ‘Rohmat bisa ini, enggak ...?’” tanda tangan dokumen, “... dr. Lusi bilang, ‘Bisa, Pak. Apa pun bisa. Ikut operasi juga udah jago.’”

Manager sialan.

Aku memang pernah mengikuti beberapa operasi bedah sebagai perawat—sebagai orang yang disuruh ini itu oleh dokter bedahnya. Tapi konteksnya latihan dan koas. Belum ‘jago’ juga.

“Makanya saya suruh kamu EPS besok ...,” lanjut dr. Sigit, sambil tetap menandatangani dokumen.

Kebetulan, itu adalah dokumen terakhir. Dokumen itu dimasukkan ke dalam tas dan diserahkan ke dua taruna yang tadi membereskan kontainer. Dr. Sigit mengirim dokumen itu ke pihak berwenang di akmil. Setelahnya dia mengambil air minum dan duduk mengobrol menghadapku.

“Jarimu peka. Visualmu bagus. Fokusmu juga bagus. Ada yang sekresi urin, kamu langsung notice.”

Fokus ndasmu. Aku fokus karena ada kontol di situ, Pak. Aku fokus ke kontol. Jadi kalau kontolnya ngompol, ya aku langsung notice.

“Saya puas sama bantuan kamu hari ini. Saya yakin kamu punya bakat khusus buat mendeteksi kelainan di area prostat. Enggak semua perawat—atau dokter—punya kemampuan ini. I mean ..., itu kan saluran pembuangan ya. Kebanyakan orang jijik duluan. Dokter-dokter yang dulu pernah koas ama saya, waduh, manja banget! Disuruh masukin jari ke rektum, DRE bentar, kagak mau! Parah, lah .... Mau jadi dokter tapi DRE aja enggak ikhlas. Sementara kamu ....” Dr. Sigit mengacungkan jempol ke arahku, “... ngecek rektum orang kayak dokter profesional! Hahaha.”

“Hehehe ....” Bukan profesional, Pak. Kebetulan aja bool-nya milik para calon taruna yang ganteng, gagah, straight, dan manly. Ku-rimming sekalian juga aku mau, Pak.

“Jadi ...,” lanjut dr. Sigit menyimpulkan, “... mendingan kamu dikasih tanggung jawab EPS aja sekalian, karena kesehatan reproduksi calon taruna juga penting. Kamu notice kan testis mereka besar-besar hari ini?”

“Iya, Pak.”

“Kalau sekadar belum ejakulasi sih aman. Kalau ada infeksi, gimana?” Dr. Sigit mengangkat alisnya. “Saya juga ngobrol sama bagian IMS. Dari 50 yang periksa hari ini, ada tujuh yang positif HIV.”

Aku terperangah. “Tujuh?”

“Yes. Kebangetan, itu. Lima dari mereka masih lanjut besok. Kamu juga bakal ketemu ama mereka. Datanya udah dipisahin, jadi kalau kamu mau ambil PrEP dari sekarang, atau kalau tadi ada kontak darah, bisa ambil PEP langsung.”

“Saya sudah ambil PrEP Pak, dari kemarin. Prosedur klinik soalnya.”

“Oh ya udah. Bagus. Besok juga, pas EPS, jangan lupa siapin sarung tangan per pasien, ya.”

“Pasti, Pak. Saya sudah kontak teman saya di klinik untuk bawa medical gloves buat besok.”

“Nah, gara-gara data itu, plus tadi yang dicurigai prostatitis, saya langsung bawa isu ini ke koordinator. Komandan izinin kita buat EPS. Biar sekalian diperiksa semua kesehatan reproduksinya. Kebetulan klinik kamu ngasih diskon buat check up-nya. Budget-nya masuk. Jadi maaf nih ya, kalau tiba-tiba kita berubah rencana gini.”

“Iya Pak, gapapa.” Aku tersenyum pasrah.

“Besok ..., saya kasih waktu, per orangnya, maksimal sepuluh menit. Kan cuma 41 orang juga, kan?”

“Iya.”

“Logikanya, semua bisa selesai sekitar 6 – 7 jam. Which is seharian. Tapi ..., bisa enggak nih, sepuluh menit kamu dapatin cairan dari prostat mereka?”

Aku menelan ludah. “Hmmm ... saya enggak bisa janji, Pak. Hehehe ....”

“Pernah tapi, kan?”

“Pernah, Pak. Waktu pendidikan, koas, praktik, di klinik juga pernah.”

Tapi paling baru 5 – 6 kali aku melakukan itu dalam konteks pemeriksaan medis.

Kalau dalam konteks ngewe ..., aku sudah lebih dari 20 kali fingering prostat boti sampai prostatic fluid plus precum mereka meleleh bagaikan genteng bocor. Deva salah satu makhluk jadi-jadian yang suka banget ku-fingering prostatnya sampe keenakan. Bahkan pernah crot juga.

“Bisa ...? Di bawah sepuluh menit?”

Aku menghela napas. “Saya jujur aja nih, Pak. Saya enggak ngitung waktunya berapa.”

Jujur, aku ngitung waktunya berapa. Dalam konteks ngewe, which means si “pasien”-nya adalah homo yang juga lagi sange, aku bisa melakukannya dalam dua menit. Precum langsung keluar. Tapi kan calon taruna besok 99% pasti straight semua. Ada jari masuk ke bool aja mungkin mereka belum pernah merasakan. Mungkin baru hari ini bool mereka dimainkan jariku dan jari dr. Sigit. Belum tentu mereka keenakan ketika prostatnya kumainkan.

“Tapi tadi ada yang sampai ejakulasi,” kata dr. Sigit mengingatkan.

“Oh, iya.” Aku terkekeh.

“Bisa lah ya, under 10 menit? Jarimu itu ..., jari ajaib, Mas.”

“Hehehe ... enggak, lah, Pak jari biasa aja, ini ....”

“Bisa, lah! Bisa. Saya yakin bisa. Kamunya yakin enggak?”

“Yaaa .... Inshaallah, Pak. Saya cobain—“

“Atau kita latihan sekarang,” sela dr. Sigit tiba-tiba. “Hey, kamu!” Dr. Sigit tiba-tiba memanggil satu taruna yang sedang menunggu kami.

Taruna itu mendongak bingung. Dia menghampiri kami dengan ragu, tetapi dengan sigap berdiri tegak di depan dr. Sigit dengan sikap sempurna. Kurasa dia taruna baru. Mungkin baru masuk tahun lalu. Tubuhnya normal. Seragam TNI-nya agak longgar di tubuhnya. Rambutnya cepak, kulitnya kecokelatan, tangannya besar. Nama di seragamnya Nadhif.

“Lagi mules enggak?”

Nadhif agak bingung ditanya begitu, tetapi dia menjawab, “Siap, tidak!”

“Kapan terakhir pipis?”

“Siap ....” Nadhif mengingat-ingat dulu selama beberapa detik. “Siap, lima menit lalu.”

“Sekarang lagi pengin pipis, enggak?”

“Siap, tidak.”

“Oke. Tutup tirainya. Buka celana kamu,” kata dr. Sigit tegas. “Saya mau cek prostat kamu.”

Nadhif terperangah kecil. Namun kayaknya peringkat Nadhif bawah banget di sini, sehingga tak ada yang bisa Nadhif lakukan selain menuruti perintah atasan. Sesuai prosedur yang kuketahui, aku pun memeriksa bool Nadhif. 

Good. Good. Kurang dari sepuluh menit,” kata dr. Sigit, sembari mematikan timer ponselnya. “Seperti dugaan saya, jarimu itu ada magic-nya. Hari ini kamu bisa bikin dua laki-laki ejakulasi. Kamu tahu dengan akurat, gimana men-sekresi fluid dari area prostat lewat stimulasi eksternal, tanpa harus ada rangsangan seksual. Itu bakat yang bagus, Mas. Harusnya Mas jadi praktisi, atau dokter sekalian.”

Atau jadi pure top sih, Pak. Itu jawaban yang bener. Wkwkwk. Tapi aku hanya mengangguk dengan canggung dan berkata, “Ma ... makasih, Pak.”

“Kamu sudah siap buat EPS besok,” lanjut dr. Sigit dengan tegas.

“Baik, Pak.” Aku mengambil hand sanitizer dan membersihkan tanganku. Pura-puranya bersikap higienis, padahal di dunia nyata sana, kontol dan bool Nadhif sudah pasti akan kulumat dengan mulut.

“Oh iya, sebelum kamu pulang, saya mau nanya satu hal lagi ke kamu.” Dr. Sigit membuka lagi ponselnya.

Aku duduk dengan manis dan mendengarkan baik-baik.

“Jam kerjamu gimana di klinik? Office hours? Shift?” tanya dr. Sigit.

“Dua-duanya, Pak. Office hour, tapi shift juga. Maksudnya, kadang masuk pagi, kadang agak siangan. Tapi Sabtu sama Minggu biasanya libur. Ada shift lain yang kerja di weekend. Aku udah diangkat jadi pegawai, jadi jamku kayak orang-orang kantoran.”

“Kalau saya ajak kamu ke penelitian saya ..., mau enggak?”

“Penelitian?”

“Saya lagi nyelesaiin tesis untuk S3 saya. Penelitiannya di akmil sini, enggak ke mana-mana. Saya butuh tim buat bantu saya nyelesaiin risetnya. Ngumpulin data.”

“Oh, kayak enumerator?”

“Betul! Kayak gitu. Kamu pernah jadi enumerator?”

“Pernah. Waktu masih kuliah. Magang jadi enumerator di NTT, buat ngumpulin data ibu hamil di desa-desa. Kerja sama BKKBN, Pak.”

“Sejenis itu, lah. Ngumpulin data-data medis. Tapi kita ngelakuinnya di sini. Di gedung sana, tuh ....” Dr. Sigit menunjuk ke satu arah, yang aku sebenarnya enggak akan tahu maksud dia ke gedung yang mana karena kami berada di dalam aula, “... saya ada ruangan buat lab-nya. Kamu enggak akan ngerjain di lab-nya. Saya butuh manpower buat ngambil datanya. Dan melihat kinerja kamu hari ini, saya yakin kamu bisa.”

“Kerjanya ..., kapan, Pak?”

“Sebentar lagi. Mungkin minggu depan atau dua minggu lagi, lah. Tapi kamu jangan khawatir. Kita ngerjainnya weekend, kok.”

“Oh ... oke ....”

“Nanti ada honornya, tenang aja.” Dr. Sigit menunjukkan jurnalnya lewat ponsel. Pakai bahasa Inggris. Dan karena isinya tulisan semua, tentu saja aku enggak bisa menangkap secara general tulisan itu tentang apa. “Saya butuh perawat kayak kamu. Yang sudah tahu istilah-istilah medis di bidang yang saya teliti. Dan yang enggak segan buat periksa selangkangan laki-laki. Beberapa orang yang saya ajak buat bantuin penelitan saya ini pada nolak. Soalnya pada ogah ketemu selangkangan. Kalau kamu kan enggak.”

Itu karena aku homo, Dok. Kepinginku sih nyepong, rimming, sama ngewe sama semua laki-laki ini.

“Memang penelitiannya tentang apa, Dok?” tanyaku.

“Ini ....” Dr. Sigit menunjukkan cover tesisnya, yang masih tentatif. Aku membelalak saat membaca judul penelitiannya. “Saya sedang meneliti ....

“... risiko kanker prostat di profesi spesifik seperti abdi negara macam TNI AU yang diakibatkan radiasi ion, electromagnetic fields, karsinogen, dan lain sebagainya. Jadi, maaf kalau kamu jadi harus ngecek-ngecek alat vital orang ..., tapi secara sederhananya nih, ya ... kamu akan bantu saya mengambil sampel-sampel yang berkaitan dengan prostatic fluid, sperma, precum, kadang-kadang urin, dan segala kesehatan reproduksi yang berkaitan sama itu. Kamu harus ngelakuin kerjaan kotor kayak DRE, atau EPS barusan, atau mungkin ... masturbasi ke sampelnya. Tapi jangan khawatir, kalau kamu enggak sanggup ngelakuin yang begituan gapapa, saya masih bisa take over yang agak-agak private macam begitu ....

“Yang pasti, kamu bakal bantu meneliti ejakulasi dan orgasme sampel-sampel saya nanti. Harus mendata stimulan seksual mereka buat cari solusi, adakah uncommon erogonous zone yang bisa membantu kesehatan reproduksi ....

“Dan sampelnya ya ..., tentara-tentara di sini. Yang udah jadi tentara, bukan yang baru masuk. Kita akan neliti genital mereka, ngambil sampel secara berkala, misal, memonitor ejakulasi yang frequent sama yang rare hasilnya gimana. Ada banyak, lah. Bakalan canggung nantinya. Tapi tenang aja, tentara-tentara ini, kalau saya sudah kasih perintah, mereka bakal nurut perintah saya. Apalagi ini untuk kepentingan penelitian, kan. Untuk kesehatan abdi negara ke depannya. Supaya enggak kena kanker pas masih bertugas—kan itu ngerugiin.

“Kalau menurutmu, masturbasiin tentara ini butuh bayaran tinggi, saya bersedia dinego. Saya paham, ini pekerjaan yang ... apa, ya? Bikin geli. Bikin jijik juga. Ketemu penis para tentara. Hahaha. Saya bisa mulai dari dua juta per hari. Per beberapa orang yang diambil sampelnya. Kalau mau dinego lebih gede, gapapa. Tapi jangan gede-gede, ya. Hehehe. Beasiswa riset saya juga terbatas. LPDP enggak approve, jadinya cuma dapat sponsor dari Kemenhan doang. Dan you know, lah, Kemenhan enggak akan prioritasin pendanaan untuk kesehatan abdi negaranya, apalagi di bagian kemaluan. Mereka prioritasin alutsista terus.

“Gimana?”

....

Aku ....

Aku membeku diam karena syok ....

....

Aku masih belum tahu harus menjawab apa.

Itu adalah pekerjaan, yang ....

Pekerjaan yang akan membuatmu iri setengah mampus, Kak.

“Gimana?” ulang dr. Sigit.

Aku menelan ludah. “Bo ... boleh, Pak. Hehehe. Gapapa. Week ... end, kan?”

“Iya. Weekend. Saya janji enggak akan ganggu waktu kerjamu di klinik. Harganya udah oke?”

Aku menelan ludah lagi. “Bo ... boleh—“

“Entar kamu ikut aja dulu sekali. Kalau menurutmu kamu pantas dibayar lebih mahal karena harus pegang-pegang kemaluan tentara seharian, saya open buat nego. Oke?”

Dr. Sigit ini goblok atau gimana? Homo macam aku sih enggak dibayar pun pasti ikhlas melakukan pekerjaan itu. Semua homo di dunia ini pasti bersedia jadi volunteer!

“Oke, Dok.”

“Nanti saya kabari lagi kapan pengambilan sampel saya,” kata dr. Sigit sembari berdiri dan menjejeriku berjalan ke luar station. “Oh, si Rafian yang hari ini jadi korlap di sini, tahu?”

“I ... iya.” Tahu banget, Dok. Fian yang meluk Ezel dan barusan tangannya dipegang sama si boti dari puskesmas.

“Dia kayaknya jadi salah satu sampel saya entar. Sama teman-temannya. Semoga kamu enggak masalah harus pegang genitalnya Rafian. Hehehe.”

Fuck.

Aku ... aku harus coliin Fian?!

Mampus aku.


[ ... ]


14A. Pure Top Gagah atau Rifaiju | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 16. Gue Kangen

Komentar