Halo, Kak!
Kalau Kakak lupa sama detail
kemarin atau enggak dengar ceritaku sama sekali, aku rekap dulu ya yang terjadi
di pemeriksaan kesehatan akmil ini.
Sebanyak 50 calon taruna
melakukan pemeriksaan kesehatan di aula. Aku memeriksa hampir setengah dari
mereka di bagian kontol, biji peler, dan anusnya. Pemeriksaan kesehatan, kok.
Enggak ada adegan ngewe atau apa gitu. Rata-rata semua kontolnya sehat
tanpa penyakit kelamin atau masalah apa pun.
Ada yang ngaceng pas lagi
dipegang-pegang kontolnya.
Ada yang ngaceng pas bool-nya
di-fingering.
Malah, ada yang crot pas
diperiksa.
Dari 50 orang itu, ada satu yang
terindikasi hernia. Ada empat orang yang dicurigai varikokel—sehingga aku
memeriksanya secara khusus dengan USG testis. Dan ada juga yang diduga kanker
prostat. Satu calon taruna mengeluarkan urin ketika prostatnya kupijat di dalam
bool. Gara-gara itu, dr. Sigit memerintahkan seluruh calon taruna untuk
melakukan tes urin ulang, dengan proses kencing yang diobservasi oleh tenaga
medis.
Sebanyak 9 orang otomatis gugur
saat pemeriksaan kesehatan, sehingga hanya 41 orang yang melakukan pengambilan
urin. Aku kebagian tugas mengobservasi proses kencing mereka, lalu mengumpulkan
semua sampel urin untuk kubawa ke klinikku karena akan diperiksa kandungannya.
Salah satu dari 41 orang itu
memohon-mohon kepadaku agar “dibantu”.
Namanya Davin Haidar Madhava. Sering
mengompol saat tidur dan pipisnya terasa ngilu. Orangnya ganteng, seksi, dan
oke banget. Awalnya aku menolak bantu dia, tapi ternyata dia kenal sama Xavier.
Lalu, Xavier bilang aku membantunya, jadi Davin mengancamku kalau tidak mau
membantu, dia akan membeberkan apa yang kulakukan bersama Xavier dalam
pemeriksaan varikokel minggu lalu.
Aku panik, sih. Jujur aku
kepikiran selama beberapa saat. Tapi besok aku bakal ketemu Davin lagi dalam
pemeriksaan EPS (Expressed Prostatic Secretion), pemeriksaan dengan memasukkan
telunjuk ke bool, memijat-mijat prostat, sampai keluar prostatic
fluid dari lubang kontol.
Yes. Pemeriksaan macam begitu nyata adanya.
Bukan karanganku yang homo dan doyan kontol semata. Prostatic fluid-nya
akan digunakan untuk melihat kemungkinan prostatitis, abnormalitas sel darah
putih, infeksi, dan lain sebagainya. Berkaitan dengan kesehatan reproduksi,
tetapi karena dekat dengan kandung kemih, bisa berkaitan dengan kesehatan
ginjal juga.
Dr. Sigit memberikan tanggung
jawab penuh kepadaku untuk melakukan “fingering” ke bool para
calon taruna ini sampai mereka mengeluarkan cairan prostat. Persis kayak akun
bokep Jepang di Twitter @Ken_Prostate (bukan endors!). Ketika prostat
“dimainkan” keluarlah cairan dari lubang kontol dan itu nyata adanya.
(Eits! Enggak perlu nyobain
sekarang juga ya, Kak! Fokus dulu baca ceritaku! Nanti aja mainin prostatnya!)
Jadi, aku akan membahas lebih
lanjut soal ancaman Davin di pemeriksaan EPS-nya besok. Sore itu aku fokus pada
penutupan hari ini saja.
Aku berjalan masuk ke aula,
mengambil tas dan peralatanku, lalu menyusuri koridor yang memisahkan station
dari klinik lain. Tanpa disangka, aku melihat Fian sedang mengobrol dengan
seseorang dari puskesmas yang menangani HIV AIDS para calon taruna. (BTW,
penderita HIV AIDS boleh mendaftar jadi tentara. Status HIV dicek untuk
memastikan taruna-taruna ini mendapatkan terapi yang tepat andai mereka positif
HIV.)
Nah, perawat yang mengobrol
bersama Fian itu laki-laki. Tapi kelihatan kayak boti.
Enggak ngondek, tapi
radarku kencang banget meyakini dia pasti homo.
Yang membuatku semakin yakin
adalah ....
... ketika aku menghampiri Fian,
lelaki itu memegang tangan Fian dan mencengkeramnya selama beberapa saat. Dia
tertawa-tawa, tetapi tak melepaskan tangan Fian.
Aku menghentikan langkahku.
Aku cemburu.
Cemburunya sama seperti saat
melihat Fian memeluk Ezelio. Tubuhku terasa panas. Jantungku berdebar-debar
dengan tidak nyaman. Aku mencoba menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
Namun napasku pun terasa panas di atas mulut.
Aku mencoba berjalan mendekati
mereka, tetapi langkahku terhenti.
“Mas Rohmat! Mau ke mana?”
Dr. Sigit menahanku.
Beliau tiba-tiba muncul di
depanku, menghalangi pandanganku dari Fian dan boti itu.
“Oh ... eh?” Aku gelagapan.
“Jangan dulu pulang, Mas. Sini.
Kita evaluasi dulu check up hari ini.” Tiba-tiba dr. Sigit menarikku
kembali ke station kami.
Aku yang masih terpana hanya
bisa membuntuti sang dokter militer. Aku sempat menoleh ke belakang, ke arah
Fian dan perawat dari puskesmas. Namun semakin aku memandangnya, semakin sakit
hatiku. Jadi aku memejamkan mata dan masuk ke dalam station dengan
buru-buru. Aku duduk di depan meja yang ditumpuki data-data para calon taruna
hari ini. Semua sampel yang harus kubawa ke klinik sedang dimasukkan oleh dua
orang taruna ke dalam kontainer yang bisa menjaga suhu tetap sama.
“Kamu tuh perawat, kan?” tanya
dr. Sigit sembari duduk dan membuka beberapa dokumen untuk ditandatangani.
“Iya, Pak. Sudah ada STR juga.”
“Iya, saya sudah lihat.” Dr.
Sigit menandatangani dulu satu formulir rekam medis salah satu calon taruna.
“Tapi cita-cita kamu ... jadi dokterkah?”
Aku terkekeh. “Kalau cita-cita
sih, iya. Tapi uangnya enggak sanggup, Pak. Hehehe. Ibu bapak cuma bisa biayain
sekolah keperawatan aja.”
“Saya amati cara kamu
menganalisa pasien ...,” tanda tangan dokumen, “... enggak kayak perawat
biasanya. Kamu paham istilah medis ....” tanda tangan dokumen.
“Sebagai perawat kita harus
paham istilah medis kan, Pak?”
“Ya, iyalah! Hahaha .... Maksud
saya ...,” tanda tangan dokumen, “... kamu menganalisa pasien kayak dokter.
Biasanya perawat kan cuma menganalisa ...,” tanda tangan dokumen, “... yang
umum-umum aja. Kamu ngerti istilah medis yang spesifik ...,” tanda tangan
dokumen, “... yang biasanya cuma dokter sp.KK aja yang tahu ...,” tanda tangan
dokumen, “... atau urologi. Kamu juga bisa nemu prostat yang ...,” tanda tangan
dokumen, “... ukurannya lain.”
“Oh, saya memang dapat pelatihan
untuk itu, Pak. Di klinik, saya diharusin serba bisa. Hehe. Jadi udah lumayan
sering gantiin dokter buat ngambil sampel atau diagnosa umum—tapi tetep
dokternya kok yang ngasih statement. Saya cuma bantuin.”
“Pantas kamu dipuji-puji dr.
Lusi ...,” tanda tangan dokumen, “... saya nanya ke beliau, ‘Rohmat bisa ini,
enggak ...?’” tanda tangan dokumen, “... dr. Lusi bilang, ‘Bisa, Pak. Apa pun
bisa. Ikut operasi juga udah jago.’”
Manager sialan.
Aku memang pernah mengikuti
beberapa operasi bedah sebagai perawat—sebagai orang yang disuruh ini itu oleh
dokter bedahnya. Tapi konteksnya latihan dan koas. Belum ‘jago’ juga.
“Makanya saya suruh kamu EPS
besok ...,” lanjut dr. Sigit, sambil tetap menandatangani dokumen.
Kebetulan, itu adalah dokumen
terakhir. Dokumen itu dimasukkan ke dalam tas dan diserahkan ke dua taruna yang
tadi membereskan kontainer. Dr. Sigit mengirim dokumen itu ke pihak berwenang
di akmil. Setelahnya dia mengambil air minum dan duduk mengobrol menghadapku.
“Jarimu peka. Visualmu bagus.
Fokusmu juga bagus. Ada yang sekresi urin, kamu langsung notice.”
Fokus ndasmu. Aku fokus karena ada kontol di
situ, Pak. Aku fokus ke kontol. Jadi kalau kontolnya ngompol, ya aku langsung notice.
“Saya puas sama bantuan kamu
hari ini. Saya yakin kamu punya bakat khusus buat mendeteksi kelainan di area
prostat. Enggak semua perawat—atau dokter—punya kemampuan ini. I mean ...,
itu kan saluran pembuangan ya. Kebanyakan orang jijik duluan. Dokter-dokter
yang dulu pernah koas ama saya, waduh, manja banget! Disuruh masukin jari ke
rektum, DRE bentar, kagak mau! Parah, lah .... Mau jadi dokter tapi DRE aja
enggak ikhlas. Sementara kamu ....” Dr. Sigit mengacungkan jempol ke arahku,
“... ngecek rektum orang kayak dokter profesional! Hahaha.”
“Hehehe ....” Bukan profesional,
Pak. Kebetulan aja bool-nya milik para calon taruna yang ganteng, gagah,
straight, dan manly. Ku-rimming sekalian juga aku mau, Pak.
“Jadi ...,” lanjut dr. Sigit
menyimpulkan, “... mendingan kamu dikasih tanggung jawab EPS aja sekalian,
karena kesehatan reproduksi calon taruna juga penting. Kamu notice kan
testis mereka besar-besar hari ini?”
“Iya, Pak.”
“Kalau sekadar belum ejakulasi
sih aman. Kalau ada infeksi, gimana?” Dr. Sigit mengangkat alisnya. “Saya juga
ngobrol sama bagian IMS. Dari 50 yang periksa hari ini, ada tujuh yang positif
HIV.”
Aku terperangah. “Tujuh?”
“Yes. Kebangetan, itu. Lima dari
mereka masih lanjut besok. Kamu juga bakal ketemu ama mereka. Datanya udah
dipisahin, jadi kalau kamu mau ambil PrEP dari sekarang, atau kalau tadi ada
kontak darah, bisa ambil PEP langsung.”
“Saya sudah ambil PrEP Pak, dari
kemarin. Prosedur klinik soalnya.”
“Oh ya udah. Bagus. Besok juga,
pas EPS, jangan lupa siapin sarung tangan per pasien, ya.”
“Pasti, Pak. Saya sudah kontak
teman saya di klinik untuk bawa medical gloves buat besok.”
“Nah, gara-gara data itu, plus
tadi yang dicurigai prostatitis, saya langsung bawa isu ini ke koordinator.
Komandan izinin kita buat EPS. Biar sekalian diperiksa semua kesehatan
reproduksinya. Kebetulan klinik kamu ngasih diskon buat check up-nya. Budget-nya
masuk. Jadi maaf nih ya, kalau tiba-tiba kita berubah rencana gini.”
“Iya Pak, gapapa.” Aku tersenyum
pasrah.
“Besok ..., saya kasih waktu,
per orangnya, maksimal sepuluh menit. Kan cuma 41 orang juga, kan?”
“Iya.”
“Logikanya, semua bisa selesai
sekitar 6 – 7 jam. Which is seharian. Tapi ..., bisa enggak nih, sepuluh
menit kamu dapatin cairan dari prostat mereka?”
Aku menelan ludah. “Hmmm ...
saya enggak bisa janji, Pak. Hehehe ....”
“Pernah tapi, kan?”
“Pernah, Pak. Waktu pendidikan,
koas, praktik, di klinik juga pernah.”
Tapi paling baru 5 – 6 kali aku
melakukan itu dalam konteks pemeriksaan medis.
Kalau dalam konteks ngewe
..., aku sudah lebih dari 20 kali fingering prostat boti sampai prostatic
fluid plus precum mereka meleleh bagaikan genteng bocor. Deva salah
satu makhluk jadi-jadian yang suka banget ku-fingering prostatnya sampe
keenakan. Bahkan pernah crot juga.
“Bisa ...? Di bawah sepuluh
menit?”
Aku menghela napas. “Saya jujur
aja nih, Pak. Saya enggak ngitung waktunya berapa.”
Jujur, aku ngitung waktunya
berapa. Dalam konteks ngewe, which means si “pasien”-nya adalah
homo yang juga lagi sange, aku bisa melakukannya dalam dua menit. Precum
langsung keluar. Tapi kan calon taruna besok 99% pasti straight semua.
Ada jari masuk ke bool aja mungkin mereka belum pernah merasakan.
Mungkin baru hari ini bool mereka dimainkan jariku dan jari dr. Sigit. Belum
tentu mereka keenakan ketika prostatnya kumainkan.
“Tapi tadi ada yang sampai
ejakulasi,” kata dr. Sigit mengingatkan.
“Oh, iya.” Aku terkekeh.
“Bisa lah ya, under 10 menit?
Jarimu itu ..., jari ajaib, Mas.”
“Hehehe ... enggak, lah, Pak
jari biasa aja, ini ....”
“Bisa, lah! Bisa. Saya yakin
bisa. Kamunya yakin enggak?”
“Yaaa .... Inshaallah, Pak. Saya
cobain—“
“Atau kita latihan sekarang,”
sela dr. Sigit tiba-tiba. “Hey, kamu!” Dr. Sigit tiba-tiba memanggil satu
taruna yang sedang menunggu kami.
Taruna itu mendongak bingung.
Dia menghampiri kami dengan ragu, tetapi dengan sigap berdiri tegak di depan
dr. Sigit dengan sikap sempurna. Kurasa dia taruna baru. Mungkin baru masuk
tahun lalu. Tubuhnya normal. Seragam TNI-nya agak longgar di tubuhnya. Rambutnya
cepak, kulitnya kecokelatan, tangannya besar. Nama di seragamnya Nadhif.
“Lagi mules enggak?”
Nadhif agak bingung ditanya
begitu, tetapi dia menjawab, “Siap, tidak!”
“Kapan terakhir pipis?”
“Siap ....” Nadhif
mengingat-ingat dulu selama beberapa detik. “Siap, lima menit lalu.”
“Sekarang lagi pengin pipis,
enggak?”
“Siap, tidak.”
“Oke. Tutup tirainya. Buka
celana kamu,” kata dr. Sigit tegas. “Saya mau cek prostat kamu.”
Nadhif terperangah kecil. Namun
kayaknya peringkat Nadhif bawah banget di sini, sehingga tak ada yang bisa
Nadhif lakukan selain menuruti perintah atasan. Sesuai prosedur yang kuketahui, aku pun memeriksa bool Nadhif.
“Good. Good. Kurang dari sepuluh
menit,” kata dr. Sigit, sembari mematikan timer ponselnya. “Seperti
dugaan saya, jarimu itu ada magic-nya. Hari ini kamu bisa bikin dua
laki-laki ejakulasi. Kamu tahu dengan akurat, gimana men-sekresi fluid
dari area prostat lewat stimulasi eksternal, tanpa harus ada rangsangan
seksual. Itu bakat yang bagus, Mas. Harusnya Mas jadi praktisi, atau dokter
sekalian.”
Atau jadi pure top sih,
Pak. Itu jawaban yang bener. Wkwkwk. Tapi aku hanya mengangguk dengan canggung
dan berkata, “Ma ... makasih, Pak.”
“Kamu sudah siap buat EPS besok,”
lanjut dr. Sigit dengan tegas.
“Baik, Pak.” Aku mengambil hand
sanitizer dan membersihkan tanganku. Pura-puranya bersikap higienis,
padahal di dunia nyata sana, kontol dan bool Nadhif sudah pasti akan
kulumat dengan mulut.
“Oh iya, sebelum kamu pulang,
saya mau nanya satu hal lagi ke kamu.” Dr. Sigit membuka lagi ponselnya.
Aku duduk dengan manis dan
mendengarkan baik-baik.
“Jam kerjamu gimana di klinik? Office
hours? Shift?” tanya dr. Sigit.
“Dua-duanya, Pak. Office hour,
tapi shift juga. Maksudnya, kadang masuk pagi, kadang agak siangan. Tapi
Sabtu sama Minggu biasanya libur. Ada shift lain yang kerja di weekend.
Aku udah diangkat jadi pegawai, jadi jamku kayak orang-orang kantoran.”
“Kalau saya ajak kamu ke
penelitian saya ..., mau enggak?”
“Penelitian?”
“Saya lagi nyelesaiin tesis
untuk S3 saya. Penelitiannya di akmil sini, enggak ke mana-mana. Saya butuh tim
buat bantu saya nyelesaiin risetnya. Ngumpulin data.”
“Oh, kayak enumerator?”
“Betul! Kayak gitu. Kamu pernah
jadi enumerator?”
“Pernah. Waktu masih kuliah.
Magang jadi enumerator di NTT, buat ngumpulin data ibu hamil di desa-desa.
Kerja sama BKKBN, Pak.”
“Sejenis itu, lah. Ngumpulin
data-data medis. Tapi kita ngelakuinnya di sini. Di gedung sana, tuh ....” Dr.
Sigit menunjuk ke satu arah, yang aku sebenarnya enggak akan tahu maksud dia ke
gedung yang mana karena kami berada di dalam aula, “... saya ada ruangan buat lab-nya.
Kamu enggak akan ngerjain di lab-nya. Saya butuh manpower buat
ngambil datanya. Dan melihat kinerja kamu hari ini, saya yakin kamu bisa.”
“Kerjanya ..., kapan, Pak?”
“Sebentar lagi. Mungkin minggu
depan atau dua minggu lagi, lah. Tapi kamu jangan khawatir. Kita ngerjainnya weekend,
kok.”
“Oh ... oke ....”
“Nanti ada honornya, tenang
aja.” Dr. Sigit menunjukkan jurnalnya lewat ponsel. Pakai bahasa Inggris. Dan
karena isinya tulisan semua, tentu saja aku enggak bisa menangkap secara general
tulisan itu tentang apa. “Saya butuh perawat kayak kamu. Yang sudah tahu istilah-istilah
medis di bidang yang saya teliti. Dan yang enggak segan buat periksa
selangkangan laki-laki. Beberapa orang yang saya ajak buat bantuin penelitan
saya ini pada nolak. Soalnya pada ogah ketemu selangkangan. Kalau kamu kan
enggak.”
Itu karena aku homo, Dok.
Kepinginku sih nyepong, rimming, sama ngewe sama semua
laki-laki ini.
“Memang penelitiannya tentang
apa, Dok?” tanyaku.
“Ini ....” Dr. Sigit menunjukkan
cover tesisnya, yang masih tentatif. Aku membelalak saat membaca judul
penelitiannya. “Saya sedang meneliti ....
“... risiko kanker prostat di
profesi spesifik seperti abdi negara macam TNI AU yang diakibatkan radiasi ion,
electromagnetic fields, karsinogen, dan lain sebagainya. Jadi, maaf
kalau kamu jadi harus ngecek-ngecek alat vital orang ..., tapi secara
sederhananya nih, ya ... kamu akan bantu saya mengambil sampel-sampel yang
berkaitan dengan prostatic fluid, sperma, precum, kadang-kadang
urin, dan segala kesehatan reproduksi yang berkaitan sama itu. Kamu harus
ngelakuin kerjaan kotor kayak DRE, atau EPS barusan, atau mungkin ... masturbasi
ke sampelnya. Tapi jangan khawatir, kalau kamu enggak sanggup ngelakuin yang
begituan gapapa, saya masih bisa take over yang agak-agak private macam begitu
....
“Yang pasti, kamu bakal bantu meneliti
ejakulasi dan orgasme sampel-sampel saya nanti. Harus mendata stimulan seksual
mereka buat cari solusi, adakah uncommon erogonous zone yang bisa
membantu kesehatan reproduksi ....
“Dan sampelnya ya ...,
tentara-tentara di sini. Yang udah jadi tentara, bukan yang baru masuk. Kita
akan neliti genital mereka, ngambil sampel secara berkala, misal, memonitor
ejakulasi yang frequent sama yang rare hasilnya gimana. Ada
banyak, lah. Bakalan canggung nantinya. Tapi tenang aja, tentara-tentara ini,
kalau saya sudah kasih perintah, mereka bakal nurut perintah saya. Apalagi ini
untuk kepentingan penelitian, kan. Untuk kesehatan abdi negara ke depannya.
Supaya enggak kena kanker pas masih bertugas—kan itu ngerugiin.
“Kalau menurutmu, masturbasiin
tentara ini butuh bayaran tinggi, saya bersedia dinego. Saya paham, ini
pekerjaan yang ... apa, ya? Bikin geli. Bikin jijik juga. Ketemu penis para
tentara. Hahaha. Saya bisa mulai dari dua juta per hari. Per beberapa orang
yang diambil sampelnya. Kalau mau dinego lebih gede, gapapa. Tapi jangan
gede-gede, ya. Hehehe. Beasiswa riset saya juga terbatas. LPDP enggak approve,
jadinya cuma dapat sponsor dari Kemenhan doang. Dan you know, lah,
Kemenhan enggak akan prioritasin pendanaan untuk kesehatan abdi negaranya,
apalagi di bagian kemaluan. Mereka prioritasin alutsista terus.
“Gimana?”
....
Aku ....
Aku membeku diam karena syok
....
....
Aku masih belum tahu harus
menjawab apa.
Itu adalah pekerjaan, yang ....
Pekerjaan yang akan membuatmu
iri setengah mampus, Kak.
“Gimana?” ulang dr. Sigit.
Aku menelan ludah. “Bo ...
boleh, Pak. Hehehe. Gapapa. Week ... end, kan?”
“Iya. Weekend. Saya janji
enggak akan ganggu waktu kerjamu di klinik. Harganya udah oke?”
Aku menelan ludah lagi. “Bo ...
boleh—“
“Entar kamu ikut aja dulu
sekali. Kalau menurutmu kamu pantas dibayar lebih mahal karena harus
pegang-pegang kemaluan tentara seharian, saya open buat nego. Oke?”
Dr. Sigit ini goblok atau
gimana? Homo macam aku sih enggak dibayar pun pasti ikhlas melakukan pekerjaan
itu. Semua homo di dunia ini pasti bersedia jadi volunteer!
“Oke, Dok.”
“Nanti saya kabari lagi kapan
pengambilan sampel saya,” kata dr. Sigit sembari berdiri dan menjejeriku
berjalan ke luar station. “Oh, si Rafian yang hari ini jadi korlap di
sini, tahu?”
“I ... iya.” Tahu banget, Dok.
Fian yang meluk Ezel dan barusan tangannya dipegang sama si boti dari
puskesmas.
“Dia kayaknya jadi salah satu
sampel saya entar. Sama teman-temannya. Semoga kamu enggak masalah harus pegang
genitalnya Rafian. Hehehe.”
Fuck.
Aku ... aku harus coliin
Fian?!
Mampus aku.
[ ... ]
14A. Pure Top Gagah atau Rifaiju | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 16. Gue Kangen
Komentar
Posting Komentar