(HD) 16. Gue Kangen




Halo, Kak!

Makin iri sama aku, enggak?

Aku aja iri banget sama diriku sendiri. Kok bisa-bisanya dapat tawaran enumerasi yang begituan. Kupikir seluruh keberuntunganku seumur hidup habis di tawaran ngerjain medical check up buat calon tentara. You know, lah, salah satu alasanku jadi perawat adalah aku pengin lihat kontol orang dewasa. Berhasil, sih. Sepanjang karierku, aku sudah ketemu puluhan kontol, meskipun konteksnya adalah perawatan medis. Tapi pasienku kebanyakan kakek yang udah tua, atau anak kecil yang aku enggak ada ketertarikan sama sekali ke kemaluan mereka.

Sekarang aku kebagian doorprize meriksain kontol makhluk alfa terseksi yang pernah ada: tentara!

Kupikir sampai situ aja nasib baikku. Ternyata, di atas top, masih ada top yang lainnya.

Aku enggak bisa berkata-kata sewaktu keluar dari station dan berpisah dengan dr. Sigit. Kepalaku melayang ke fantasi bahwa aku harus meriksain kesehatan reproduksi para tentara di sini.

Tentara, lho, ya! Tentara! Bukan calon tentara yang ototnya aja belum jadi.

Tapi tentara.

Tentara macam Fian!

Bahkan, Fian adalah salah satu sampelnya!

FIAN!

RA. FI. AN. TO!

Sumpah, aku bukan mau lebai. Tapi aku berhenti melangkah di lorong aula itu. Kayak orang kesurupan. Masih kesulitan mencerna apa yang kudengar barusan. Apa dr. Sigit cuma nge-prank doang? Apa aku sedang tidur dan ini cuma mimpi? Masa iya aku harus ngocokin kontol Fian demi kepentingan penelitian?

Perutku mulas.

Sumpah.

Sange juga, karena seharian aku melihat lima puluh kontol di tempat ini.

Tapi perutku mulas oleh adrenalin yang membuncah ini.

Aku celingukan ke sepanjang lorong aula. Tempat ini mulai sepi. Para petugas klinik sudah tak ada di sini. Mereka sudah membawa sampel ke luar aula. Beberapa taruna terlihat bersih-bersih, menyapu, bahkan ada yang mengenakan APD karena akan mendisinfektan seluruh aula dari bakteri dan virus.

Aku tak melihat Fian di station IMS tadi. Station itu sudah sepi.

“Mas, kita mau bersih-bersih. Boleh minta tolong clear area?” Seorang taruna menyapaku dan memintaku pergi.

Aku mengangguk dan langsung berjalan ke luar aula. Aku hampir menabrak Nadhif yang baru keluar dari toilet sehabis pipis. Kami saling bertatapan, mengangguk, lalu berpapasan dengan normal. Aku pergi keluar, ke selasar terbuka yang panjang, yang dipenuhi pot-pot bunga berisi tanaman paku, menuju ke mobil yang akan membawa sampel-sampel ke klinikku.

“Dek?”

Fian memanggilku.

Aku menoleh dan menemukan tentara ganteng nan kekar itu sedang berjalan ke arahku. Dia sudah mengenakan jaket bomber-nya. Tampak ganteng dengan rambut cepak dan kacamata hitam, seolah-olah dia mau terbang dengan pesawat lima menit lagi.

Di belakang Fian, Erick terlihat ganteng juga. Mengenakan jaket bomber warna berbeda, sedang marah-marah di telepon. “Anjing, luuu! Jangan ke mana-mana dulu! Tungguin di situ! Gilaaa!”

“Dek? Mau ikut Abang enggak?” sapanya, sembari tersenyum lebar dengan ganteng, menguarkan aroma parfum yang manly banget.

Jenis parfum yang enggak akan pernah dikenakan boti mana pun di seluruh dunia. Jenis parfum yang cuma ada di iklan-iklan rokok malam hari, yang TVC-nya bertualang di arung jeram, atau mendaki di tebing-tebing, dan segala sesuatu yang laki banget. Ada aroma kayu yang memikat. Aroma segar mint, tapi seperti embun pagi hari.

Aku yang sebenarnya bete karena tadi Fian dipegang-pegang boti dari puskesmas, terlena oleh penampilannya. “Ikut ... ke mana?”

“Ke kosan Ezel.”

Eh, goblok! Malah disebut nama itu!

“Ngapain?”

“Dia jatuh dari lantai dua kosannya. Katanya kepeleset. Ditolongin Pak Guntur. Mau Abang urut aja.”

Halah. Cari perhatian aja biar kamu datang itu mah, Bang!

Mendadak aku bete.

“Yuk ...?” Fian mengulurkan tangannya.

Tapi aku menggelengkan kepala. “Enggak bisa.”

“Enggak bisa kenapa?”

“Aku ... aku harus ke klinik, Bang.”

“Oh ... iya.” Fian menarik napas panjang. “Ya udah, Abang juga ke klinik Adek, deh. Abang jemput di sana gimana?”

Enggak, anjing! Aku enggak mau ke tempat si Ezel!

“Enggak bisa. Aku harus nemenin petugas di sana buat meriksa sampel.”

“Bukannya ada tim lain yang nanganin itu, ya?” Fian mengerutkan alisnya. “Bu Lusi bilang, kamu cuma bantu di sini aja. Nanti ada medik lain yang nerima di klinik, terus ngasih laporannya ke kita?”

Iya, sih. “Aku ... aku disuruh datang sama Bu Lusi. Mungkin buat laporan kegiatan hari ini?” dustaku.

“Oh .... Lama enggak?”

“Kenapa emangnya?”

“Kalau enggak lama, Abang tungguin. Nanti kita ke Ezel bareng dari kliniknya Adek.”

Ngotot banget sih harus ke tempatnya si Ezel?!

“Lama,” kataku lagi. “Jangan ditungguin. Abang ke sana aja sama Bang Erick. Aku ... aku mau pulang juga habis dari klinik. Mau istirahat. Capek banget hari ini.”

“Oh ....” Fian terlihat kecewa. Dia menggaruk-garuk kepalanya. Bingung. “Ya udah. Kalau gitu ..., Adek istirahat aja. Besok juga dari pagi, kan? Adek harus exam sendiri.”

Aku mengangguk. “Iya, Bang. Aku disuruh EPS sama dr. Sigit.”

“Iya. Tadi Abang yang set up ruangannya di belakang.” Fian menarik napas panjang. “Ya udah. Nanti nyampe kosan, langsung tidur, ya. Jangan keluyuran.”

“Iya, Bang. Maaf, ya. Salamin ke Ezel.”

“Oke.” Fian berjalan mundur pelan-pelan. Senyumnya begitu lebar. Mencoba untuk menerima situasi. “Salamin buat Dek Ida juga, ya.”

Enggak akan, jawabku dalam hati.

“Telepon Abang aja kalau ada apa-apa.”

“Iya, Bang.”

Fian pun pergi bersama Erick, mengendarai motor mereka yang macho, menuju kosan Ezel. Sementara aku, menumpangi mobil tentara menuju klinikku. Di jok belakang, di samping seorang tentara yang ikut mengantar, aku menyandarkan kepala ke kaca jendela dan menatap ke luar. Melamun membayangkan lagi Fian akan berada di kosan Ezel sekarang dan aku tak sekuat itu imannya untuk ikut ke sana dan memastikan mereka tidak berpelukan lagi.

Enggak mungkin sih mereka berpelukan. Ada Erick di situ.

Tapi kalau bener Ezel jatuh dari lantai dua, bagus, lah.

Sekalian pincang juga gapapa.

....

Eh, jangan. Kalau dia pincang, entar dia malah minta gendong ke Fian.

Jangan.

....

Langsung mati aja harusnya.

Sesampainya di klinik, para tentara yang mengantar sampel itu meminta arahan untuk meletakkan kontainer-kontainer sampel di ruangan mana. Aku langsung memimpin mereka membawanya ke laboratorium di lantai dua. Begitu aku turun, aku langsung ke ruang loker untuk mengambil baju ganti, lalu aku pergi ke depan.

Geca mencegatku. “Lama banget, sih!” sapanya. “Bukannya sejam lalu elu harusnya selesai, ya?”

“Aku diajak ngobrol dulu sama dokternya. Disuruh evaluasi.”

“Ada yang nyariin elo, tadi.”

“Hah? Siapa?”

Geca melongokkan kepala ke lobi, ke arah ruang tunggu. Ada beberapa orang yang sedang menunggu di sana, mengantre untuk kunjungan ke dokter umum yang buka praktik sore hari. “Eh, lagi enggak ada orangnya. Tadi ada di situ.”

“Ya lagi keluar aja, kali—“

“Oh tuh, dia datang lagi!” Geca langsung menunjuk seorang cowok yang menghambur masuk ke dalam klinik. Cowok itu pakai celana jeans, jaket bomber yang besar, dan topi.

Aku mengenal sosok itu.

Dia ....

... dia Xavier.


[ ... ]


Aku menemukan diriku nongkrong di sebuah kafe dekat klinik dengan Xavier. Ketika aku duduk, aku belum tahu alasan cowok ini datang ke klinik dan menarikku ke sini.

“Eh, Rohmat! Udah datang? Yuk!” katanya, sembari menyeretku keluar dari klinik.

“Ayuk ke mana nih maksudnya?”

“Yuk! Temenin gue makan.”

Aku tak punya kesempatan untuk melawan. Tubuhku diseret keluar tanpa ampun, seolah-olah kami sedang dikejar anjing. Aku sampai menoleh ke Geca, ingin meminta tolong. Tapi Geca malah mesem-mesem naksir sama Xavier, lalu me-Whatsapp-ku, Itu temen lo dari mana, sih?! Jujuuurrr ... cakep bangeeet! Please kasih gue nomor hapenya pleeeaseee ...!

Kafe yang kami kunjungi bukan kafe murah. Ini salah satu kafe mahal yang hanya akan kukunjungi bersama Geca enam bulan sekali, itu pun setelah kami gajian. Kafenya estetik, nyaman, modern, harga makanannya paling murah 60K, Air putih segelas harganya 15K, yang datang ke sini pake mobil semua, dan mereka buka laptop sambil teleponan dengan klien membahas nilai proyek ratusan juta rupiah.

“Aku enggak punya duit buat makan di sini,” kataku, ketika Xavier menghentikan motor Ninja-nya di halaman parkir kafe.

“Yang bilang lu harus bayar siapa?” hardik Xavier bete sambil melepas helm full face-nya. “Ayo!”

Tanganku ditarik Xavier sehingga aku terpaksa membuntutinya masuk ke area kafe. Aku langsung menarik tanganku lepas begitu kami masuk ke lobi. Seorang pelayan mengarahkan kami duduk di salah sudut kafe, dekat instalasi seni modern yang mungkin harganya ratusan juta. Setelah kami memesan makanan, aku langsung berdoa, “Please jangan ada Deva. Please jangan ada Deva. Please jangan ada Deva.”

Di situlah Xavier mengutarakan maksudnya. “Gue mau bayar utang,” katanya. Dia duduk bersandar ke kursi, melipat satu kakinya dengan maskulin, bergaya seolah-olah dia bos mafia.

“Utang apa?” Aku menyipitkan mata dengan curiga.

“Kan karena elo bantuin gue kemaren, tiap hari gue harus ....” Xavier mempraktikkan adegan telunjuk masuk ke lubang. “... gue harus begitu ama elo.”

Aku memutar bola mata. “Enggak gitu juga—“

“Janji tetaplah janji! Harus ditepati.”

“Ya nanti aja, kalau aku tagih.”

“Enggak bisa gitu, dong! Udah berapa hari gue enggak bayar cicilan. Kalau ada debt collector, gimana?!”

“Emangnya ini pinjol?!” Aku mendengus kesal. “Udah, sih. Santai aja.”

“Ibu gue ngajarin gue buat nepatin janji. Enggak boleh ingkar!”

“Ini kamu mau bayar utang, atau kamu lagi sange, jadinya nyari aku dengan modus mau bayar utang, hah?”

“Enggaaakkk ...!” Xavier merengut sembari melemparkan pandangannya ke arah lain. Dia mengusap tengkuknya dengan salah tingkah. “Ini bayar janjiii ....”

“Ya nanti aja, kalau aku tagih, ya. Aku lagi sibuk minggu ini.”

“Sibuk mainin titit ya?”

Ssst!” Aku mendesis dengan satu telunjuk di depan bibir. Khawatir orang di meja sebelah mendengarkan.

“Gue tahu elo ada di akmil hari ini,” aku Xavier. Dia menghela napas panjang. “Tadi pagi gue lihat lu masuk. Temen gue ada yang dicek hari ini.”

“Iya tahu. Namanya Davin, kan?” Aku mendengus sembari bertopang dagu. Kutatap Xavier dengan kesal, lalu mendadak setuju Xavier ini memang seganteng itu. Aku memang sudah pernah ngewe sama dia. Tapi penampilan Xavier hari ini membuatnya terlihat approachable dan menggemaskan.

“Iya,” jawab Xavier. “Dia ngomong sama lu, kagak?”

Aku mengangguk. “Dan aku enggak bisa janji bantuin, ya. Sampelnya udah masuk ke klinik barusan.”

“Haduuuh!” Xavier menggebrak meja. DUG! “Kenapa enggak lu bantuin?!”

“Karena terlalu banyak saksi mata! Ada taruna lain di situ. Kalau kedengaran gimana?! Bisa mampus!”

“Padahal dia sanggup nawarin harga kayak gue. Ngewe ama elu setiap hari—“

“Bukan soal itu! Tapi aku memang enggak bisa.”

“Kalau kita mau threesome ama dia juga bisa.”

Aku mengambil sehelai tisu di atas meja, meremasnya dengan kesal, lalu menimpuknya ke wajah Xavier. “Mesum mulu sih pikirannya!”

“Huh!” Xavier memalingkan muka lagi dengan bete. “Dia temen SMA gue. Tapi dia mah kayak gue. Lurus. Enggak belok kayak lu.”

Aku memutar bola mata. Ya memang, sejarah kehidupan Xavier lumayan kelam. Memang dia naturally straight. Tapi karena Xavier ujung-ujungnya nikmatin ngewe sesama jenis, udah bukan waktunya masih ngaku-ngaku “lurus” sih menurutku. Akuin aja ngewe ama laki tuh enak!

“Dia kagak varikokel, padahal,” gumam Xavier. Tatapannya kosong menatap kesibukan kafe.

“Iya, tahu. Dr. Sigit yang meriksa Davin juga enggak nulis diagnosa aneh-aneh.”

“Dia sehat.”

“Iya, sehat.”

“Harusnya lu ganti air kencing dia pake air kencing lu.”

“Ya kalau dia sehat, air kencingnya enggak usah ditukar, dong!”

“Tapi dia katanya sakit kalau ngompol. Kayak kalau habis crot, terus harus crot lagi, nah, ngilu di area selangkangan gitu.”

“Ya kalau memang sehat, pasti nanti hasilnya oke, kok.”

Xavier menghela napas lagi. “Elo enggak paham.”

“Aku bukan dokter. Aku memang enggak akan paham. Aku cuma bantu ngambil sampel aja.”

“Dia juga harus lulus akmil. Sodara-sodaranya abdi negara semua. Ada yang jadi polisi, tentara, Pemuda Pancasila .... Fisik dia bagus, anjir. Harus lulus.”

“Ya maaf aku enggak bisa ngebantuin sampe sejauh itu. Dan please, jangan kira aku bisa dibayar pake seks, ya. Aku emang suka yang begituan, tapi bukan berarti semua bisa kamu dapatin hanya modal kemaluan kamu doang.”

Ck!” Xavier berdecak kesal sambil mendelik ke arahku.

Kami terdiam selama beberapa saat karena makanan kami mulai berdatangan. Sembari menyantap makanan pesanannya, Xavier kembali berbicara.

“Elo pasti seneng banget ya hari ini?”

Aku mengunyah makananku sembari mengingat-ingat. “Enggak juga.”

“Tapi banyak senengnya, kan?”

Harus kuakui tebakan Xavier benar. “Kenapa emang?”

Sange enggak sekarang?”

Aku menimang-nimang sejenak apakah harus menjawab dengan jujur atau enggak. Tampaknya aku memang sange banget, sehingga aku menjawab apa adanya. “Iya. Kenapa?”

“Berarti habis ini gue maen ke kosan lu.”

“Enggak,” tegasku seketika.

“Kan elu lagi sange! Gimana, sih?!” Xavier menendang kakiku di bawah meja.

“AW!”

“Lu kalau sange, lampiaskan! Gue di sini udah siap jadi bahan pelampiasan lu!”

“Enggak setiap sange harus dilampiasin, ya!”

“Harus, lah!”

Aku menggeram kesal dan memilih lanjut dengan santapanku.

Lama-lama, aku malah merasa Xavier ada benarnya. Aku sange seharian. Melihat kontol-kontol cowok kekar atletis, calon taruna, straight semua inshaallah, tentu saja merangsang kontolku untuk ngaceng. Aku menyentuh seenggaknya setengah dari semua kontol itu. Aku memainkannya kanan dan kiri. Menariknya atas dan bawah. Membetotnya maju. Menguak jembutnya yang lebat. Ada juga yang jembutnya sudah dicukur.

Aku mencium aroma kontol sepanjang hari. Aroma maskulin yang benar-benar memikat. Aku mengecek lubang kontol mereka satu per satu. Aku menangkup dan meremas-remas lembut biji peler mereka. Aku menikmati setiap luka habis sunat yang membentuk pola berbeda-beda.

Setiap kontol itu unik dan menarik. Batangnya bermacam-macam. Panjangnya bervariasi. Rata-rata berwarna cokelat dengan kepala kontol yang lebih besar dari diameter batangnya. Ketika kuputar-putar kontolnya, ada yang panggulnya ikutan maju mundur kayak lagi mau ngewe.

Dan itu baru kontol. Belum bool.

Jadi iya, aku sange berat. Sekarang aja, hanya dengan membayangkan lagi seluruh kontol yang kutemui hari ini, kontolku ngaceng. Lalu di depanku ada calon taruna ganteng berkontol anakonda, yang literally ngajak aku ngewe malam ini juga. Mau enggak makin ngaceng gimana, coba?

Tadi waktu aku ke toilet, waktu masih di aula, aku sempat ngecek kondisi sempakku.

Banyak bercak bekas precum, cuy.

Brutal banget, anjir.

Pangkal kontolku agak ngilu juga karena terus-terusan ngaceng, tapi enggak dibikin enak.

Apa aku terima aja tawaran Xavier untuk bayar utang?

“Gue kangen!” kata Xavier tiba-tiba, membuyarkan lamunanku. “Tuh! Udah! Gue udah ngaku, tuh! Udah, lu terima aja!”

“Hah?” Aku mendongak bingung.

“Gue kangen! Perlu berapa kali sih gue bilang!”

“Kangen ke siapa?”

“Ya sama lu, lah!”

“Kenapa kangen sama aku?!”

“Lu langsung pergi soalnya Sabtu kemaren. Ninggalin gue sendirian. Kagak ada sex bye!”

“Apaan itu sex bye?”

“Kayak kiss bye, tapi ngewe. Harusnya pagi-pagi kita ngewe dulu, baru kita pisah.”

“Ih, ngapain?! Kan kita udah main semalaman. Macam-macam pula kepinginmu!”

“Ya tapi gue ngerasa kayak enggak selesai. Lu langsung pergi gitu aja! Gue ngerasa hampa, anjir! Gue jelek, ya?”

Ini cowok tuh goblok atau apa, sih? “Kenapa jadi ke jelek, sih?!”

“Bencong-bencong lain kalau habis ngewe ama gue, mereka minta nambah! Kenapa elu kagak?!”

“Aku bukan bencong, ya!” Aku mendengus kesal. “Dan jangan ke-GR-an! Secakep-cakepnya kamu, bukan berarti semua orang mau sama kamu!”

“HUH!” Xavier mendengus. Dia menggaruk-garuk kepalanya sembari melayangkan pandangan ke arah lain. “Sombong, lu!”

“Hah?!” Aku sampai melongo dengan sendok setengah melayang di depan mukaku karena enggak paham maksud Xavier apa. Yang sok ganteng dia, tapi yang sombong malah aku?

Xavier meletakkan sendoknya sambil menatapku dengan mata agak menyipit. “Jadi bisa kagak entar malam?”

Ingin sekali aku menjawab enggak bisa. Tapi aku enggak bisa membohongi diriku sendiri. Aku lagi sange banget hari ini. Kalau aku tunda gairah seksual ini sampai besok, aku bisa meledak. Bisa-bisa ketika aku melakukan EPS, aku kerasukan setan dan malah memasukkan kontolku ke bool para calon taruna, alih-alih telunjukku.

Bahaya banget, sih. Kalau ketahuan LGBT di areanya militer, bukan hanya aku diganyang sampai mampus di TKP, tujuh turunan keluargaku bakal dibabat habis juga sama TNI. Aku harus mengontrol nafsu seksualku.

That’s why ngewe sama Xavier sebenarnya bukan ide buruk. Usahakan aku crot dua sampai tiga kali, deh. Sampe aku bosan banget sama kontol. Jadi besok aku bakal biasa-biasa aja mainin kontol dan bool empat puluh calon taruna. Kalau perlu, pagi-pagi sebelum berangkat, aku ngewe lagi sama Xavier. Sampai puas! Sampai aku enggak punya nafsu lagi ke laki-laki.

Toh aku enggak mungkin melakukannya bersama Fian, kan?

Barengan Fian mah aku malah makin sange, tapi sange-ku enggak akan pernah tersalurkan.

Xavier sudah available secara cuma-cuma. Penampilannya tampan tak terkira. Disiapkan oleh Semesta untuk membantuku melewati masa-masa penuh gairah.

Kurasa aku harus menerimanya.

“Mau berapa ronde?” tanyaku.

“Anjing! Lu nanyain ronde?!” Xavier mendengus. “Sanggup berapa lu, hah?!”

“Kamu sanggup berapa?” Aku mengangkat dagu, menantangnya.

Xavier tampak tersinggung. “OKE!” Dia mendengus lagi. “Gue bikin lu cinta ama gue, tahu rasa, lu! Gue bikin lu mohon-mohon pengin main ama gue tiap hari! Anjing!”

“Memang utang kamu kan buat main sama aku tiap hari—“

“Ya tapi lu bakal puas banget ama gue sampe lo nagih terus tiap pagi!”

Nada bicara Xavier sombong sekali, tapi ya Tuhan, seksi banget barusan. Emang nyebelin kedengarannya, tapi bagiku yang sedang sange total, sikap Xavier itu menggemaskan. Bikin pengin uwel-uwel. Bikin pengin buktiin bahwa justru dia yang bakalan nagih-nagih ngewe sama aku setiap hari.

Noh, buktinya, dia yang “kangen” sama aku.

Dia yang merasa hampa karena Sabtu kemaren aku tinggalin gitu aja pagi-pagi.

Dan ini baru Selasa, Anjir.

Belum seminggu atau sebulan, dia udah kangen.

“Ya udah. Habis dari sini, ke kosanku,” kataku. “Tapi kosanku jelek.”

“Ya biarin. Yang penting ada tempat.” Xavier melanjutkan lagi makan. Tiba-tiba saja mood Xavier berubah. Dia senyum-senyum kecil sambil mengunyah makanannya. Aku menatap perubahan gestur itu dengan sebal. Kayaknya emang modus aja dia ngajak makan atau pura-pura bayar utang. Dia emang pengin ngewe lagi sama aku. “Apa?!” hardik Xavier sambil mengedikkan kepalanya.

“Enggak.” Aku menjulurkan lidah keluar, lalu lanjut menyuap makananku.

“Sok cantik, lu!” Xavier menggerutu sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.

Dan aku bisa melihat dia tersenyum lagi setelah mengatakan itu.


[ ... ]


Oke, aku enggak perlu basa-basi lah, ya. Habis dari kafe itu, Xavier memboncengku ke kosan. Kami tiba setelah Magrib. Dia langsung buka jaket dan kausnya. Malah setelahnya nyosor ke bibirku.

“Eit, eit, eit! Aku mau mandi dulu!” Aku mendorong tubuhnya.

“Kagak usah, laaahhh .... Langsung ajaaa ....” Xavier nyosor lagi.

“Aku baru med-check puluhan orang hari ini, woy. Harus bersih-bersih dulu.”

Pan cuma ngecek kontol doang. Bukan ngecek virus-virus—“

“Ya tetep aja harus mandi dulu—iiihhh ....” Aku mendorong Xavier lagi hingga dia terjengkang ke atas tempat tidurku.

Xavier cengengesan nafsu kayak cowok ganteng yang viral ngewe sama Prilly waria itu. (Aku yakin Kakak paham maksudku yang mana.) Muka Xavier mupeng, senyumnya naik sebelah, matanya nafsu. Dia naik lagi, tapi aku dorong lagi hingga dia terjengkang.

“Aku ikat lho, ya!” ancamku.

“Boleeehhh ...!” Xavier malah menyengajakan diri. Dia mengulurkan kedua tangannya melewati kepala, memamerkan keteknya yang seksi, lalu membentangkan kedua kakinya. Seperti huruf X.
“Hari ini elo yang nguasain gue.”

Kuambil lakban yang tersimpan di dalam rak. Lakban kain warna hitam. Kulakban pergelangan tangan Xavier ke kepala ranjang. Tangan saja, sih. Kalau perlu kuikat betulan, nanti saja sehabis aku mandi.

Nice ....” Xavier mendesah dengan wajah mupeng yang semakin menjadi. “Gue mau dipecut, yaaa ...?”

“Bukan. Kamu mau kujadiin babi guling!” Aku mendengus dan mulai membuka pakaianku. Berhubung aku pernah ngewe sama Xavier, jadi aku langsung melucuti semuanya hingga telanjang bulat, Aku mengambil handuk yang kugantung di belakang pintu. Kontolku tentu saja sudah ngaceng. Seharian ini ngaceng, dan sekarang ngaceng banget karena ada Xavier yang ganteng, yang kini terlakban sambil pamer ketek di atas kasurku.

“Anjir! Lu juga pengin ternyata!”

“Lah, iya!” Aku melilitkan handuk ke pinggangku. “Tunggu sepuluh menit! Aku mandi dulu!”

“Jangan lama-lama, Sayang ....” Xavier mengirimkan blow kiss di udara. “Muach.”

Aku menyambar peralatan mandi dan menghambur ke luar kamar. Aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku enggak tahu, kali ini aku akan menjadi top atau bottom bersama Xavier. Mungkin role kami enggak akan sama dengan ngewe hari Sabtu lalu. Tapi apa pun itu, aku tetap melakukan quick douching di kamar mandi. Sambil sabunan, sambil masukin enema ke bool dan membersihkannya.

Begitu aku kembali ke kamar, Xavier masih ada dalam posisi yang sama. Dia menoleh ke arahku, tampak semakin bernafsu kayak setan.

Come on, Baby!” sahutnya dengan senyum menyeringai.

Untung ganteng, anjing!

Kalau ini Deva, langsung kulempar dia dari lantai tiga.

Aku mengunci pintu dan langsung menggantung lagi handuk ke belakang pintu. Aku telanjang bulat. Dan sudah ngaceng juga. Malah kayaknya hampir crot karena waktu douching tadi, aku keenakan. Aku menggerakkan tabung enemanya maju mundur di bool-ku sampai aku mendesah-desah. Jadi pas aku ada di depan Xavier, lubang kontolku langsung melelehkan precum.

Mumpung Xavier sedang terlakban, aku langsung membuka kancing celana Xavier dan melucutinya hingga Xavier telanjang bulat. Sama saja ternyata. Kontol Xavier yang bagaikan anakonda itu ngaceng juga. Panjang, kurus, dan mengentak-entak minta dibikin enak.

Aku menindih tubuh telanjangnya sembari langsung melumat puting Xavier.

“Aaaaaargh ...!” Xavier mengerang dengan senyum lebar. “FUCK! Enak banget, Sayang!”

Aku terkekeh. Kulumat kedua puting itu dengan brutal. Bahkan kujilati ketek Xavier yang berbulu halus.

Yang ternyata terasa pahit karena Xavier pake deodoran.

Tapi enggak apa-apa.

Setelahnya aku naik sehingga kepala kami sejajar. Hidung kami hampir bersentuhan. Kontol kami saling beradu, tertindih dan terjepit tubuh kami. Xavier tersenyum lebar. Aku tersenyum lebar juga.

Aku gemas pengin ngewe.

Sumpah. Sekalian bayar rasa kecewaku pada Fian.

Iya, aku tahu, penyebab Fian memeluk Ezel adalah aku. Jadi aku enggak pantas untuk ngomel-ngomel soal itu. Tapi sore tadi, Fian dengan sengaja mau jenguk Ezel yang jatuh dari lantai dua. Buat apa? Kan sudah ada Erick, kakaknya! Mau melindungi Ezel dari Erick, hah? Mau bersikap “mature” dan “bijak” karena bisa menahan emosi Erick yang enggak keruan itu ke adiknya? Mau kelihatan keren di depan Ezel?

Aku sebal, sih.

Mumpung aku lagi horny berat juga karena ngelihatin kontol cowok-cowok straight, akan kumaksimalkan ngewe-ku dengan Xavier malam ini. Enggak ada alasan buatku skip tubuh lelaki sempurna di depanku. Cowok dengan muka ganteng, calon taruna, berkontol anakonda. Toh Fian belum siapa-siapaku, kan?

Enggak akan pernah jadi siapa-siapaku, sih. Orang dia sange-nya ngelihat Ida, bukan aku. Kalau dia emang suka aku, sudah sejak awal dia mencoba ngewe denganku. Sudah seharusnya dia ngentot aku pas nginap di sini malam minggu kemarin.

Kurasa aku terlalu berharap sama Fian. Kurasa dia hanya bersikap “baik” aja ke semua orang, termasuk lelaki. Kurasa Fian kebetulan enggak homofobik aja. Jadi melakukan hal-hal yang so gay kayak pelukan di motor bukanlah hal besar buat Fian. Tapi itu bukan berarti Fiannya homo.

Ya enggak, sih?

Lebih nyata kalau aku nikmatin Xavier di depanku. Toh bentar lagi Xavier jadi tentara. Sama aja. Aku bisa pacaran dengan Xavier dan kami akan membentuk simbiosis mutualisme. Aku bisa punya cowok tentara ganteng, straight, bisa ngewe denganku, kontolnya oke. Xavier bisa punya pelampiasan untuk ngewe dengan cowok setiap trauma akan bapaknya itu mampir lagi di kepala Xavier.

Ya. Lebih masuk akal.

Mungkin itu nafsuku yang berbicara, tapi kurasa otakku juga setuju.

Bersama Xavier akan lebih masuk akal.

Bersama Fian hanya mendapatkan perlakuan manis tapi rasa manis itu sebatas harapan palsu semata.

Cup.

Aku memagut bibir Xavier dan mencumbunya penuh nafsu.

“Anjing!” desah Xavier, membalas cumbuanku. “Lu mau romantis-romantisan ya—“

“Bacot!” Kuremas kontolnya.

“AAAAAARGH!” Xavier menjerit terkejut sembari membelalak. “Fuck!

Lalu kucumbu dengan brutal bibir itu, kulumat seolah-olah Xavier pacarku.

Akan kunikmati Xavier seperti seharusnya.

“Aaaaaahhhhhh ....”

“AAAAAARGH ....”

Aku merangkak turun, melumat puting Xavier hingga calon taruna itu mengerang keenakan, lalu aku mengulum kontol Xavier yang panjang. Kontol ramping yang sudah sunat, dan aromanya ... hmmm ... enak. Kontolnya wangi.

Aku menyepong kontol Xavier selama beberapa menit, sembari kepalaku juga mereka ulang ingatan akan puluhan kontol calon taruna yang kuperiksa hari ini. Nafsuku semakin membara. Dadaku berdebar kencang. Aku meremas paha Xavier dengan kuat, sementara mulutku mengisap kontol Xavier dengan brutal.

Aku sedang berada di puncak gairahku ketika seseorang mengetuk pintu kamar.

Tok! Tok! Tok!

Aku langsung berhenti menyepong. Kontol Xavier masih ada di dalam mulutku. Terbenam setengah, membuat pipiku menggembung karena mulutku penuh. Aku mendongak menatap Xavier.

Xavier menunduk dan membelalak. Dengan panik dia berbisik, “Siapa itu?!” Dengan kekuatannya, dia menarik kedua tangannya maju, sehingga lakbannya terlepas, dan kedua tangannya bebas. Xavier bangkit setengah, bertumpu ke sikunya. Dia terlihat cemas. Aku tahu dia takut kepergok melakukan hal-hal LGBT, karena nantinya dia enggak jadi masuk TNI.

Aku menggelengkan kepala dan melepaskan kontol Xavier dari mulutku. “Siapaaa ...?” sapaku.

Orang di luar menjawab. “Halo ...? Dek ...? Ini Abang ....

“... Fian.”

Aku membeku.

Xavier membeku.

Mata kami memelotot.

“Boleh Abang masuk?” kata Fian lagi. “Abang pengin ketemu Adek. Adek lagi sama siapa? Siapa yang jerit-jerit barusan?”

Tok! Tok! Tok!

MATI, AKU!

Keringat dingin langsung merembes keluar dari seluruh permukaan kulitku.

Xavier apa lagi.

Xavier kenal betul siapa yang ada di luar sana.

Muka Xavier pucat.

Cklek! Cklek! Fian mencoba membuka kenop pintuku. Namun terkunci.

“Dek ...? Halo, Dek ...? Abang dobrak, ya ...? Dek ...?”

BRUUUKKK ...!!!


[ ... ]


Komentar