Makin
iri sama aku, enggak?
Aku
aja iri banget sama diriku sendiri. Kok bisa-bisanya dapat tawaran enumerasi
yang begituan. Kupikir seluruh keberuntunganku seumur hidup habis di tawaran
ngerjain medical check up buat calon tentara. You know, lah,
salah satu alasanku jadi perawat adalah aku pengin lihat kontol orang dewasa.
Berhasil, sih. Sepanjang karierku, aku sudah ketemu puluhan kontol, meskipun
konteksnya adalah perawatan medis. Tapi pasienku kebanyakan kakek yang udah
tua, atau anak kecil yang aku enggak ada ketertarikan sama sekali ke kemaluan
mereka.
Sekarang
aku kebagian doorprize meriksain kontol makhluk alfa terseksi yang
pernah ada: tentara!
Kupikir
sampai situ aja nasib baikku. Ternyata, di atas top, masih ada top
yang lainnya.
Aku
enggak bisa berkata-kata sewaktu keluar dari station dan berpisah dengan
dr. Sigit. Kepalaku melayang ke fantasi bahwa aku harus meriksain kesehatan
reproduksi para tentara di sini.
Tentara,
lho, ya! Tentara! Bukan calon tentara yang ototnya aja belum jadi.
Tapi
tentara.
Tentara
macam Fian!
Bahkan,
Fian adalah salah satu sampelnya!
FIAN!
RA.
FI. AN. TO!
Sumpah,
aku bukan mau lebai. Tapi aku berhenti melangkah di lorong aula itu. Kayak
orang kesurupan. Masih kesulitan mencerna apa yang kudengar barusan. Apa dr.
Sigit cuma nge-prank doang? Apa aku sedang tidur dan ini cuma mimpi?
Masa iya aku harus ngocokin kontol Fian demi kepentingan penelitian?
Perutku
mulas.
Sumpah.
Sange
juga, karena seharian aku melihat lima puluh kontol di tempat ini.
Tapi
perutku mulas oleh adrenalin yang membuncah ini.
Aku
celingukan ke sepanjang lorong aula. Tempat ini mulai sepi. Para petugas klinik
sudah tak ada di sini. Mereka sudah membawa sampel ke luar aula. Beberapa
taruna terlihat bersih-bersih, menyapu, bahkan ada yang mengenakan APD karena
akan mendisinfektan seluruh aula dari bakteri dan virus.
Aku
tak melihat Fian di station IMS tadi. Station itu sudah sepi.
“Mas,
kita mau bersih-bersih. Boleh minta tolong clear area?” Seorang taruna
menyapaku dan memintaku pergi.
Aku
mengangguk dan langsung berjalan ke luar aula. Aku hampir menabrak Nadhif yang
baru keluar dari toilet sehabis pipis. Kami saling bertatapan, mengangguk, lalu
berpapasan dengan normal. Aku pergi keluar, ke selasar terbuka yang panjang,
yang dipenuhi pot-pot bunga berisi tanaman paku, menuju ke mobil yang akan
membawa sampel-sampel ke klinikku.
“Dek?”
Fian
memanggilku.
Aku
menoleh dan menemukan tentara ganteng nan kekar itu sedang berjalan ke arahku.
Dia sudah mengenakan jaket bomber-nya. Tampak ganteng dengan rambut
cepak dan kacamata hitam, seolah-olah dia mau terbang dengan pesawat lima menit
lagi.
Di
belakang Fian, Erick terlihat ganteng juga. Mengenakan jaket bomber
warna berbeda, sedang marah-marah di telepon. “Anjing, luuu! Jangan ke
mana-mana dulu! Tungguin di situ! Gilaaa!”
“Dek?
Mau ikut Abang enggak?” sapanya, sembari tersenyum lebar dengan ganteng,
menguarkan aroma parfum yang manly banget.
Jenis
parfum yang enggak akan pernah dikenakan boti mana pun di seluruh dunia.
Jenis parfum yang cuma ada di iklan-iklan rokok malam hari, yang TVC-nya
bertualang di arung jeram, atau mendaki di tebing-tebing, dan segala sesuatu
yang laki banget. Ada aroma kayu yang memikat. Aroma segar mint, tapi
seperti embun pagi hari.
Aku
yang sebenarnya bete karena tadi Fian dipegang-pegang boti dari
puskesmas, terlena oleh penampilannya. “Ikut ... ke mana?”
“Ke
kosan Ezel.”
Eh,
goblok! Malah disebut nama itu!
“Ngapain?”
“Dia
jatuh dari lantai dua kosannya. Katanya kepeleset. Ditolongin Pak Guntur. Mau
Abang urut aja.”
Halah.
Cari perhatian aja biar kamu datang itu mah, Bang!
Mendadak
aku bete.
“Yuk
...?” Fian mengulurkan tangannya.
Tapi
aku menggelengkan kepala. “Enggak bisa.”
“Enggak
bisa kenapa?”
“Aku
... aku harus ke klinik, Bang.”
“Oh
... iya.” Fian menarik napas panjang. “Ya udah, Abang juga ke klinik Adek, deh.
Abang jemput di sana gimana?”
Enggak,
anjing! Aku enggak mau ke tempat si Ezel!
“Enggak
bisa. Aku harus nemenin petugas di sana buat meriksa sampel.”
“Bukannya
ada tim lain yang nanganin itu, ya?” Fian mengerutkan alisnya. “Bu Lusi bilang,
kamu cuma bantu di sini aja. Nanti ada medik lain yang nerima di klinik, terus
ngasih laporannya ke kita?”
Iya,
sih. “Aku ... aku disuruh datang sama Bu Lusi. Mungkin buat laporan kegiatan
hari ini?” dustaku.
“Oh
.... Lama enggak?”
“Kenapa
emangnya?”
“Kalau
enggak lama, Abang tungguin. Nanti kita ke Ezel bareng dari kliniknya Adek.”
Ngotot
banget sih harus ke tempatnya si Ezel?!
“Lama,”
kataku lagi. “Jangan ditungguin. Abang ke sana aja sama Bang Erick. Aku ... aku
mau pulang juga habis dari klinik. Mau istirahat. Capek banget hari ini.”
“Oh
....” Fian terlihat kecewa. Dia menggaruk-garuk kepalanya. Bingung. “Ya udah.
Kalau gitu ..., Adek istirahat aja. Besok juga dari pagi, kan? Adek harus exam
sendiri.”
Aku
mengangguk. “Iya, Bang. Aku disuruh EPS sama dr. Sigit.”
“Iya.
Tadi Abang yang set up ruangannya di belakang.” Fian menarik napas
panjang. “Ya udah. Nanti nyampe kosan, langsung tidur, ya. Jangan keluyuran.”
“Iya,
Bang. Maaf, ya. Salamin ke Ezel.”
“Oke.”
Fian berjalan mundur pelan-pelan. Senyumnya begitu lebar. Mencoba untuk
menerima situasi. “Salamin buat Dek Ida juga, ya.”
Enggak
akan, jawabku dalam hati.
“Telepon
Abang aja kalau ada apa-apa.”
“Iya,
Bang.”
Fian
pun pergi bersama Erick, mengendarai motor mereka yang macho, menuju
kosan Ezel. Sementara aku, menumpangi mobil tentara menuju klinikku. Di jok
belakang, di samping seorang tentara yang ikut mengantar, aku menyandarkan
kepala ke kaca jendela dan menatap ke luar. Melamun membayangkan lagi Fian akan
berada di kosan Ezel sekarang dan aku tak sekuat itu imannya untuk ikut ke sana
dan memastikan mereka tidak berpelukan lagi.
Enggak
mungkin sih mereka berpelukan. Ada Erick di situ.
Tapi
kalau bener Ezel jatuh dari lantai dua, bagus, lah.
Sekalian
pincang juga gapapa.
....
Eh,
jangan. Kalau dia pincang, entar dia malah minta gendong ke Fian.
Jangan.
....
Langsung
mati aja harusnya.
Sesampainya
di klinik, para tentara yang mengantar sampel itu meminta arahan untuk
meletakkan kontainer-kontainer sampel di ruangan mana. Aku langsung memimpin
mereka membawanya ke laboratorium di lantai dua. Begitu aku turun, aku langsung
ke ruang loker untuk mengambil baju ganti, lalu aku pergi ke depan.
Geca
mencegatku. “Lama banget, sih!” sapanya. “Bukannya sejam lalu elu harusnya
selesai, ya?”
“Aku
diajak ngobrol dulu sama dokternya. Disuruh evaluasi.”
“Ada
yang nyariin elo, tadi.”
“Hah?
Siapa?”
Geca
melongokkan kepala ke lobi, ke arah ruang tunggu. Ada beberapa orang yang
sedang menunggu di sana, mengantre untuk kunjungan ke dokter umum yang buka
praktik sore hari. “Eh, lagi enggak ada orangnya. Tadi ada di situ.”
“Ya
lagi keluar aja, kali—“
“Oh
tuh, dia datang lagi!” Geca langsung menunjuk seorang cowok yang menghambur
masuk ke dalam klinik. Cowok itu pakai celana jeans, jaket bomber
yang besar, dan topi.
Aku
mengenal sosok itu.
Dia
....
...
dia Xavier.
[
... ]
Aku
menemukan diriku nongkrong di sebuah kafe dekat klinik dengan Xavier. Ketika
aku duduk, aku belum tahu alasan cowok ini datang ke klinik dan menarikku ke
sini.
“Eh,
Rohmat! Udah datang? Yuk!” katanya, sembari menyeretku keluar dari klinik.
“Ayuk
ke mana nih maksudnya?”
“Yuk!
Temenin gue makan.”
Aku
tak punya kesempatan untuk melawan. Tubuhku diseret keluar tanpa ampun,
seolah-olah kami sedang dikejar anjing. Aku sampai menoleh ke Geca, ingin
meminta tolong. Tapi Geca malah mesem-mesem naksir sama Xavier, lalu
me-Whatsapp-ku, Itu temen lo dari mana, sih?! Jujuuurrr ... cakep bangeeet!
Please kasih gue nomor hapenya pleeeaseee ...!
Kafe
yang kami kunjungi bukan kafe murah. Ini salah satu kafe mahal yang hanya akan
kukunjungi bersama Geca enam bulan sekali, itu pun setelah kami gajian. Kafenya
estetik, nyaman, modern, harga makanannya paling murah 60K, Air putih segelas
harganya 15K, yang datang ke sini pake mobil semua, dan mereka buka laptop
sambil teleponan dengan klien membahas nilai proyek ratusan juta rupiah.
“Aku
enggak punya duit buat makan di sini,” kataku, ketika Xavier menghentikan motor
Ninja-nya di halaman parkir kafe.
“Yang
bilang lu harus bayar siapa?” hardik Xavier bete sambil melepas helm full
face-nya. “Ayo!”
Tanganku
ditarik Xavier sehingga aku terpaksa membuntutinya masuk ke area kafe. Aku
langsung menarik tanganku lepas begitu kami masuk ke lobi. Seorang pelayan
mengarahkan kami duduk di salah sudut kafe, dekat instalasi seni modern yang
mungkin harganya ratusan juta. Setelah kami memesan makanan, aku langsung
berdoa, “Please jangan ada Deva. Please jangan ada Deva. Please
jangan ada Deva.”
Di
situlah Xavier mengutarakan maksudnya. “Gue mau bayar utang,” katanya. Dia
duduk bersandar ke kursi, melipat satu kakinya dengan maskulin, bergaya
seolah-olah dia bos mafia.
“Utang
apa?” Aku menyipitkan mata dengan curiga.
“Kan
karena elo bantuin gue kemaren, tiap hari gue harus ....” Xavier mempraktikkan
adegan telunjuk masuk ke lubang. “... gue harus begitu ama elo.”
Aku
memutar bola mata. “Enggak gitu juga—“
“Janji
tetaplah janji! Harus ditepati.”
“Ya
nanti aja, kalau aku tagih.”
“Enggak
bisa gitu, dong! Udah berapa hari gue enggak bayar cicilan. Kalau ada debt
collector, gimana?!”
“Emangnya
ini pinjol?!” Aku mendengus kesal. “Udah, sih. Santai aja.”
“Ibu
gue ngajarin gue buat nepatin janji. Enggak boleh ingkar!”
“Ini
kamu mau bayar utang, atau kamu lagi sange, jadinya nyari aku dengan
modus mau bayar utang, hah?”
“Enggaaakkk
...!” Xavier merengut sembari melemparkan pandangannya ke arah lain. Dia
mengusap tengkuknya dengan salah tingkah. “Ini bayar janjiii ....”
“Ya
nanti aja, kalau aku tagih, ya. Aku lagi sibuk minggu ini.”
“Sibuk
mainin titit ya?”
“Ssst!”
Aku mendesis dengan satu telunjuk di depan bibir. Khawatir orang di meja
sebelah mendengarkan.
“Gue
tahu elo ada di akmil hari ini,” aku Xavier. Dia menghela napas panjang. “Tadi
pagi gue lihat lu masuk. Temen gue ada yang dicek hari ini.”
“Iya
tahu. Namanya Davin, kan?” Aku mendengus sembari bertopang dagu. Kutatap Xavier
dengan kesal, lalu mendadak setuju Xavier ini memang seganteng itu. Aku memang
sudah pernah ngewe sama dia. Tapi penampilan Xavier hari ini membuatnya
terlihat approachable dan menggemaskan.
“Iya,”
jawab Xavier. “Dia ngomong sama lu, kagak?”
Aku
mengangguk. “Dan aku enggak bisa janji bantuin, ya. Sampelnya udah masuk ke
klinik barusan.”
“Haduuuh!”
Xavier menggebrak meja. DUG! “Kenapa enggak lu bantuin?!”
“Karena
terlalu banyak saksi mata! Ada taruna lain di situ. Kalau kedengaran gimana?!
Bisa mampus!”
“Padahal
dia sanggup nawarin harga kayak gue. Ngewe ama elu setiap hari—“
“Bukan
soal itu! Tapi aku memang enggak bisa.”
“Kalau
kita mau threesome ama dia juga bisa.”
Aku
mengambil sehelai tisu di atas meja, meremasnya dengan kesal, lalu menimpuknya
ke wajah Xavier. “Mesum mulu sih pikirannya!”
“Huh!”
Xavier memalingkan muka lagi dengan bete. “Dia temen SMA gue. Tapi dia mah
kayak gue. Lurus. Enggak belok kayak lu.”
Aku
memutar bola mata. Ya memang, sejarah kehidupan Xavier lumayan kelam. Memang
dia naturally straight. Tapi karena Xavier ujung-ujungnya nikmatin ngewe
sesama jenis, udah bukan waktunya masih ngaku-ngaku “lurus” sih menurutku.
Akuin aja ngewe ama laki tuh enak!
“Dia
kagak varikokel, padahal,” gumam Xavier. Tatapannya kosong menatap kesibukan
kafe.
“Iya,
tahu. Dr. Sigit yang meriksa Davin juga enggak nulis diagnosa aneh-aneh.”
“Dia
sehat.”
“Iya,
sehat.”
“Harusnya
lu ganti air kencing dia pake air kencing lu.”
“Ya
kalau dia sehat, air kencingnya enggak usah ditukar, dong!”
“Tapi
dia katanya sakit kalau ngompol. Kayak kalau habis crot, terus harus crot
lagi, nah, ngilu di area selangkangan gitu.”
“Ya
kalau memang sehat, pasti nanti hasilnya oke, kok.”
Xavier
menghela napas lagi. “Elo enggak paham.”
“Aku
bukan dokter. Aku memang enggak akan paham. Aku cuma bantu ngambil sampel aja.”
“Dia
juga harus lulus akmil. Sodara-sodaranya abdi negara semua. Ada yang jadi
polisi, tentara, Pemuda Pancasila .... Fisik dia bagus, anjir. Harus lulus.”
“Ya
maaf aku enggak bisa ngebantuin sampe sejauh itu. Dan please, jangan
kira aku bisa dibayar pake seks, ya. Aku emang suka yang begituan, tapi bukan
berarti semua bisa kamu dapatin hanya modal kemaluan kamu doang.”
“Ck!”
Xavier berdecak kesal sambil mendelik ke arahku.
Kami
terdiam selama beberapa saat karena makanan kami mulai berdatangan. Sembari
menyantap makanan pesanannya, Xavier kembali berbicara.
“Elo
pasti seneng banget ya hari ini?”
Aku
mengunyah makananku sembari mengingat-ingat. “Enggak juga.”
“Tapi
banyak senengnya, kan?”
Harus
kuakui tebakan Xavier benar. “Kenapa emang?”
“Sange
enggak sekarang?”
Aku
menimang-nimang sejenak apakah harus menjawab dengan jujur atau enggak.
Tampaknya aku memang sange banget, sehingga aku menjawab apa adanya.
“Iya. Kenapa?”
“Berarti
habis ini gue maen ke kosan lu.”
“Enggak,”
tegasku seketika.
“Kan
elu lagi sange! Gimana, sih?!” Xavier menendang kakiku di bawah meja.
“AW!”
“Lu
kalau sange, lampiaskan! Gue di sini udah siap jadi bahan pelampiasan
lu!”
“Enggak
setiap sange harus dilampiasin, ya!”
“Harus,
lah!”
Aku
menggeram kesal dan memilih lanjut dengan santapanku.
Lama-lama,
aku malah merasa Xavier ada benarnya. Aku sange seharian. Melihat
kontol-kontol cowok kekar atletis, calon taruna, straight semua
inshaallah, tentu saja merangsang kontolku untuk ngaceng. Aku menyentuh
seenggaknya setengah dari semua kontol itu. Aku memainkannya kanan dan kiri.
Menariknya atas dan bawah. Membetotnya maju. Menguak jembutnya yang lebat. Ada
juga yang jembutnya sudah dicukur.
Aku
mencium aroma kontol sepanjang hari. Aroma maskulin yang benar-benar memikat.
Aku mengecek lubang kontol mereka satu per satu. Aku menangkup dan
meremas-remas lembut biji peler mereka. Aku menikmati setiap luka habis sunat
yang membentuk pola berbeda-beda.
Setiap
kontol itu unik dan menarik. Batangnya bermacam-macam. Panjangnya bervariasi.
Rata-rata berwarna cokelat dengan kepala kontol yang lebih besar dari diameter
batangnya. Ketika kuputar-putar kontolnya, ada yang panggulnya ikutan maju
mundur kayak lagi mau ngewe.
Dan
itu baru kontol. Belum bool.
Jadi
iya, aku sange berat. Sekarang aja, hanya dengan membayangkan lagi
seluruh kontol yang kutemui hari ini, kontolku ngaceng. Lalu di depanku
ada calon taruna ganteng berkontol anakonda, yang literally ngajak aku ngewe
malam ini juga. Mau enggak makin ngaceng gimana, coba?
Tadi
waktu aku ke toilet, waktu masih di aula, aku sempat ngecek kondisi sempakku.
Banyak
bercak bekas precum, cuy.
Brutal
banget, anjir.
Pangkal
kontolku agak ngilu juga karena terus-terusan ngaceng, tapi enggak
dibikin enak.
Apa
aku terima aja tawaran Xavier untuk bayar utang?
“Gue
kangen!” kata Xavier tiba-tiba, membuyarkan lamunanku. “Tuh! Udah! Gue udah
ngaku, tuh! Udah, lu terima aja!”
“Hah?”
Aku mendongak bingung.
“Gue
kangen! Perlu berapa kali sih gue bilang!”
“Kangen
ke siapa?”
“Ya
sama lu, lah!”
“Kenapa
kangen sama aku?!”
“Lu
langsung pergi soalnya Sabtu kemaren. Ninggalin gue sendirian. Kagak ada sex
bye!”
“Apaan
itu sex bye?”
“Kayak
kiss bye, tapi ngewe. Harusnya pagi-pagi kita ngewe dulu,
baru kita pisah.”
“Ih,
ngapain?! Kan kita udah main semalaman. Macam-macam pula kepinginmu!”
“Ya
tapi gue ngerasa kayak enggak selesai. Lu langsung pergi gitu aja! Gue ngerasa
hampa, anjir! Gue jelek, ya?”
Ini
cowok tuh goblok atau apa, sih? “Kenapa jadi ke jelek, sih?!”
“Bencong-bencong
lain kalau habis ngewe ama gue, mereka minta nambah! Kenapa elu kagak?!”
“Aku
bukan bencong, ya!” Aku mendengus kesal. “Dan jangan ke-GR-an! Secakep-cakepnya
kamu, bukan berarti semua orang mau sama kamu!”
“HUH!”
Xavier mendengus. Dia menggaruk-garuk kepalanya sembari melayangkan pandangan
ke arah lain. “Sombong, lu!”
“Hah?!”
Aku sampai melongo dengan sendok setengah melayang di depan mukaku karena
enggak paham maksud Xavier apa. Yang sok ganteng dia, tapi yang sombong malah
aku?
Xavier
meletakkan sendoknya sambil menatapku dengan mata agak menyipit. “Jadi bisa
kagak entar malam?”
Ingin
sekali aku menjawab enggak bisa. Tapi aku enggak bisa membohongi diriku
sendiri. Aku lagi sange banget hari ini. Kalau aku tunda gairah seksual
ini sampai besok, aku bisa meledak. Bisa-bisa ketika aku melakukan EPS, aku
kerasukan setan dan malah memasukkan kontolku ke bool para calon taruna,
alih-alih telunjukku.
Bahaya
banget, sih. Kalau ketahuan LGBT di areanya militer, bukan hanya aku diganyang
sampai mampus di TKP, tujuh turunan keluargaku bakal dibabat habis juga sama
TNI. Aku harus mengontrol nafsu seksualku.
That’s
why ngewe sama Xavier sebenarnya bukan
ide buruk. Usahakan aku crot dua sampai tiga kali, deh. Sampe aku bosan
banget sama kontol. Jadi besok aku bakal biasa-biasa aja mainin kontol dan bool
empat puluh calon taruna. Kalau perlu, pagi-pagi sebelum berangkat, aku ngewe
lagi sama Xavier. Sampai puas! Sampai aku enggak punya nafsu lagi ke laki-laki.
Toh
aku enggak mungkin melakukannya bersama Fian, kan?
Barengan
Fian mah aku malah makin sange, tapi sange-ku enggak akan
pernah tersalurkan.
Xavier
sudah available secara cuma-cuma. Penampilannya tampan tak terkira.
Disiapkan oleh Semesta untuk membantuku melewati masa-masa penuh gairah.
Kurasa
aku harus menerimanya.
“Mau
berapa ronde?” tanyaku.
“Anjing!
Lu nanyain ronde?!” Xavier mendengus. “Sanggup berapa lu, hah?!”
“Kamu
sanggup berapa?” Aku mengangkat dagu, menantangnya.
Xavier
tampak tersinggung. “OKE!” Dia mendengus lagi. “Gue bikin lu cinta ama gue,
tahu rasa, lu! Gue bikin lu mohon-mohon pengin main ama gue tiap hari! Anjing!”
“Memang
utang kamu kan buat main sama aku tiap hari—“
“Ya
tapi lu bakal puas banget ama gue sampe lo nagih terus tiap pagi!”
Nada
bicara Xavier sombong sekali, tapi ya Tuhan, seksi banget barusan. Emang
nyebelin kedengarannya, tapi bagiku yang sedang sange total, sikap
Xavier itu menggemaskan. Bikin pengin uwel-uwel. Bikin pengin buktiin bahwa
justru dia yang bakalan nagih-nagih ngewe sama aku setiap hari.
Noh,
buktinya, dia yang “kangen” sama aku.
Dia
yang merasa hampa karena Sabtu kemaren aku tinggalin gitu aja pagi-pagi.
Dan
ini baru Selasa, Anjir.
Belum
seminggu atau sebulan, dia udah kangen.
“Ya
udah. Habis dari sini, ke kosanku,” kataku. “Tapi kosanku jelek.”
“Ya
biarin. Yang penting ada tempat.” Xavier melanjutkan lagi makan. Tiba-tiba saja
mood Xavier berubah. Dia senyum-senyum kecil sambil mengunyah
makanannya. Aku menatap perubahan gestur itu dengan sebal. Kayaknya emang modus
aja dia ngajak makan atau pura-pura bayar utang. Dia emang pengin ngewe
lagi sama aku. “Apa?!” hardik Xavier sambil mengedikkan kepalanya.
“Enggak.”
Aku menjulurkan lidah keluar, lalu lanjut menyuap makananku.
“Sok
cantik, lu!” Xavier menggerutu sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
Dan
aku bisa melihat dia tersenyum lagi setelah mengatakan itu.
[
... ]
Oke,
aku enggak perlu basa-basi lah, ya. Habis dari kafe itu, Xavier memboncengku ke
kosan. Kami tiba setelah Magrib. Dia langsung buka jaket dan kausnya. Malah
setelahnya nyosor ke bibirku.
“Eit,
eit, eit! Aku mau mandi dulu!” Aku mendorong tubuhnya.
“Kagak
usah, laaahhh .... Langsung ajaaa ....” Xavier nyosor lagi.
“Aku
baru med-check puluhan orang hari ini, woy. Harus bersih-bersih dulu.”
“Pan
cuma ngecek kontol doang. Bukan ngecek virus-virus—“
“Ya
tetep aja harus mandi dulu—iiihhh ....” Aku mendorong Xavier lagi hingga dia
terjengkang ke atas tempat tidurku.
Xavier
cengengesan nafsu kayak cowok ganteng yang viral ngewe sama Prilly waria
itu. (Aku yakin Kakak paham maksudku yang mana.) Muka Xavier mupeng, senyumnya
naik sebelah, matanya nafsu. Dia naik lagi, tapi aku dorong lagi hingga dia
terjengkang.
“Aku
ikat lho, ya!” ancamku.
“Boleeehhh
...!” Xavier malah menyengajakan diri. Dia mengulurkan kedua tangannya melewati
kepala, memamerkan keteknya yang seksi, lalu membentangkan kedua kakinya.
Seperti huruf X.
“Hari ini elo yang nguasain gue.”
Kuambil
lakban yang tersimpan di dalam rak. Lakban kain warna hitam. Kulakban
pergelangan tangan Xavier ke kepala ranjang. Tangan saja, sih. Kalau perlu
kuikat betulan, nanti saja sehabis aku mandi.
“Nice
....” Xavier mendesah dengan wajah mupeng yang semakin menjadi. “Gue mau
dipecut, yaaa ...?”
“Bukan.
Kamu mau kujadiin babi guling!” Aku mendengus dan mulai membuka pakaianku.
Berhubung aku pernah ngewe sama Xavier, jadi aku langsung melucuti
semuanya hingga telanjang bulat, Aku mengambil handuk yang kugantung di
belakang pintu. Kontolku tentu saja sudah ngaceng. Seharian ini ngaceng,
dan sekarang ngaceng banget karena ada Xavier yang ganteng, yang kini
terlakban sambil pamer ketek di atas kasurku.
“Anjir!
Lu juga pengin ternyata!”
“Lah,
iya!” Aku melilitkan handuk ke pinggangku. “Tunggu sepuluh menit! Aku mandi
dulu!”
“Jangan
lama-lama, Sayang ....” Xavier mengirimkan blow kiss di udara. “Muach.”
Aku
menyambar peralatan mandi dan menghambur ke luar kamar. Aku pergi ke kamar
mandi untuk membersihkan diri. Aku enggak tahu, kali ini aku akan menjadi top
atau bottom bersama Xavier. Mungkin role kami enggak akan sama
dengan ngewe hari Sabtu lalu. Tapi apa pun itu, aku tetap melakukan quick
douching di kamar mandi. Sambil sabunan, sambil masukin enema ke bool
dan membersihkannya.
Begitu
aku kembali ke kamar, Xavier masih ada dalam posisi yang sama. Dia menoleh ke
arahku, tampak semakin bernafsu kayak setan.
“Come
on, Baby!” sahutnya dengan senyum menyeringai.
Untung
ganteng, anjing!
Kalau
ini Deva, langsung kulempar dia dari lantai tiga.
Aku
mengunci pintu dan langsung menggantung lagi handuk ke belakang pintu. Aku
telanjang bulat. Dan sudah ngaceng juga. Malah kayaknya hampir crot
karena waktu douching tadi, aku keenakan. Aku menggerakkan tabung
enemanya maju mundur di bool-ku sampai aku mendesah-desah. Jadi pas aku
ada di depan Xavier, lubang kontolku langsung melelehkan precum.
Mumpung
Xavier sedang terlakban, aku langsung membuka kancing celana Xavier dan
melucutinya hingga Xavier telanjang bulat. Sama saja ternyata. Kontol Xavier
yang bagaikan anakonda itu ngaceng juga. Panjang, kurus, dan
mengentak-entak minta dibikin enak.
Aku
menindih tubuh telanjangnya sembari langsung melumat puting Xavier.
“Aaaaaargh
...!” Xavier mengerang dengan senyum lebar. “FUCK! Enak banget, Sayang!”
Aku
terkekeh. Kulumat kedua puting itu dengan brutal. Bahkan kujilati ketek Xavier
yang berbulu halus.
Yang
ternyata terasa pahit karena Xavier pake deodoran.
Tapi
enggak apa-apa.
Setelahnya
aku naik sehingga kepala kami sejajar. Hidung kami hampir bersentuhan. Kontol
kami saling beradu, tertindih dan terjepit tubuh kami. Xavier tersenyum lebar.
Aku tersenyum lebar juga.
Aku
gemas pengin ngewe.
Sumpah.
Sekalian bayar rasa kecewaku pada Fian.
Iya,
aku tahu, penyebab Fian memeluk Ezel adalah aku. Jadi aku enggak pantas untuk ngomel-ngomel
soal itu. Tapi sore tadi, Fian dengan sengaja mau jenguk Ezel yang jatuh dari
lantai dua. Buat apa? Kan sudah ada Erick, kakaknya! Mau melindungi Ezel dari
Erick, hah? Mau bersikap “mature” dan “bijak” karena bisa menahan emosi
Erick yang enggak keruan itu ke adiknya? Mau kelihatan keren di depan Ezel?
Aku
sebal, sih.
Mumpung
aku lagi horny berat juga karena ngelihatin kontol cowok-cowok straight,
akan kumaksimalkan ngewe-ku dengan Xavier malam ini. Enggak ada alasan
buatku skip tubuh lelaki sempurna di depanku. Cowok dengan muka ganteng,
calon taruna, berkontol anakonda. Toh Fian belum siapa-siapaku, kan?
Enggak
akan pernah jadi siapa-siapaku, sih. Orang dia sange-nya ngelihat Ida,
bukan aku. Kalau dia emang suka aku, sudah sejak awal dia mencoba ngewe
denganku. Sudah seharusnya dia ngentot aku pas nginap di sini malam minggu
kemarin.
Kurasa
aku terlalu berharap sama Fian. Kurasa dia hanya bersikap “baik” aja ke semua
orang, termasuk lelaki. Kurasa Fian kebetulan enggak homofobik aja. Jadi
melakukan hal-hal yang so gay kayak pelukan di motor bukanlah hal
besar buat Fian. Tapi itu bukan berarti Fiannya homo.
Ya
enggak, sih?
Lebih
nyata kalau aku nikmatin Xavier di depanku. Toh bentar lagi Xavier jadi
tentara. Sama aja. Aku bisa pacaran dengan Xavier dan kami akan membentuk
simbiosis mutualisme. Aku bisa punya cowok tentara ganteng, straight,
bisa ngewe denganku, kontolnya oke. Xavier bisa punya pelampiasan untuk ngewe
dengan cowok setiap trauma akan bapaknya itu mampir lagi di kepala Xavier.
Ya.
Lebih masuk akal.
Mungkin
itu nafsuku yang berbicara, tapi kurasa otakku juga setuju.
Bersama
Xavier akan lebih masuk akal.
Bersama
Fian hanya mendapatkan perlakuan manis tapi rasa manis itu sebatas harapan
palsu semata.
Cup.
Aku
memagut bibir Xavier dan mencumbunya penuh nafsu.
“Anjing!”
desah Xavier, membalas cumbuanku. “Lu mau romantis-romantisan ya—“
“Bacot!”
Kuremas kontolnya.
“AAAAAARGH!”
Xavier menjerit terkejut sembari membelalak. “Fuck!”
Lalu
kucumbu dengan brutal bibir itu, kulumat seolah-olah Xavier pacarku.
Akan
kunikmati Xavier seperti seharusnya.
“Aaaaaahhhhhh
....”
“AAAAAARGH
....”
Aku
merangkak turun, melumat puting Xavier hingga calon taruna itu mengerang
keenakan, lalu aku mengulum kontol Xavier yang panjang. Kontol ramping yang
sudah sunat, dan aromanya ... hmmm ... enak. Kontolnya wangi.
Aku
menyepong kontol Xavier selama beberapa menit, sembari kepalaku juga
mereka ulang ingatan akan puluhan kontol calon taruna yang kuperiksa hari ini.
Nafsuku semakin membara. Dadaku berdebar kencang. Aku meremas paha Xavier
dengan kuat, sementara mulutku mengisap kontol Xavier dengan brutal.
Aku
sedang berada di puncak gairahku ketika seseorang mengetuk pintu kamar.
Tok!
Tok! Tok!
Aku
langsung berhenti menyepong. Kontol Xavier masih ada di dalam mulutku.
Terbenam setengah, membuat pipiku menggembung karena mulutku penuh. Aku
mendongak menatap Xavier.
Xavier
menunduk dan membelalak. Dengan panik dia berbisik, “Siapa itu?!” Dengan
kekuatannya, dia menarik kedua tangannya maju, sehingga lakbannya terlepas, dan
kedua tangannya bebas. Xavier bangkit setengah, bertumpu ke sikunya. Dia
terlihat cemas. Aku tahu dia takut kepergok melakukan hal-hal LGBT, karena
nantinya dia enggak jadi masuk TNI.
Aku
menggelengkan kepala dan melepaskan kontol Xavier dari mulutku. “Siapaaa ...?”
sapaku.
Orang
di luar menjawab. “Halo ...? Dek ...? Ini Abang ....
“...
Fian.”
Aku
membeku.
Xavier
membeku.
Mata
kami memelotot.
“Boleh
Abang masuk?” kata Fian lagi. “Abang
pengin ketemu Adek. Adek lagi sama siapa? Siapa yang jerit-jerit barusan?”
Tok!
Tok! Tok!
MATI,
AKU!
Keringat
dingin langsung merembes keluar dari seluruh permukaan kulitku.
Xavier
apa lagi.
Xavier
kenal betul siapa yang ada di luar sana.
Muka
Xavier pucat.
Cklek!
Cklek! Fian mencoba membuka kenop
pintuku. Namun terkunci.
“Dek
...? Halo, Dek ...? Abang dobrak, ya ...? Dek ...?”
BRUUUKKK
...!!!
Komentar
Posting Komentar