(HD) 17A. Aromanya Jantan Banget




Halo, Kak!

Enggak, kok. Pintuku enggak terbuka waktu Fian mencoba mendobrak.

Yang terbuka adalah pintu neraka. Karena, nyawaku otomatis melayang mendengar suara hantaman tubuh Fian ke pintuku.

Dengan panik aku langsung menyahut, “Bentar, Baaang ....” Suaraku terdengar parau.

“Oh ...? Adek ada di dalam?”

“La ... lagi ... lagi solat ....”

“Oh ... maaf, Dek. Maaf.”

Xavier melompat berdiri ke atas lantai. Tarikannya begitu kuat, sehingga lakban yang harusnya menahan tangannya, langsung sobek begitu saja. Dengan panik, Xavier merapat ke dinding yang sejajar dengan jendela. Kepalanya menoleh ke arah pintu seperti mata-mata yang sedang mengantisipasi musuh. Aku bisa melihat dadanya naik turun, perutnya cekung ke dalam, seolah-olah Xavier ingin melebur jadi satu dengan tembok. Tapi mana mungkin dia bisa melakukannya. Kontolnya panjang. Ngaceng pula.

“Kenapa dia bisa di sini?!” bisik Xavier sambil memelotot.

Aku yang langsung menyambar baju dan mengenakannya, tak menjawab pertanyaan Xavier.

Lelaki itu menyeberangi ruangan untuk melihat ke dalam lemari piringku—mencari tempat bersembunyi. Namun jelas lemari itu kekecilan.

“Gue sembunyi di mana?!” bisiknya lagi.

Seraya mengambil sehelai kain sarung yang terlipat di atas meja, aku celingukan. “Kolong kasur aja!”

Xavier meluncur ke bawah tempat tidurku. Ada beberapa benda kuletakkan di sana. Kotak sepatu dan dus-dus peralatan elektronik mungil kujejalkan sejak pertama kali ngekos di sini. Kubantu mengeluarkan beberapa benda, agar Xavier bisa merangkak masuk ke dalamnya. (Telanjang bulat!) Lalu, kujejalkan lagi kardus-kardus itu untuk menghalanginya.

Dengan hati berdebar-debar, keringat dingin mengucur di pelipis, aku merapikan sarung. Aku belum pakai apa-apa di area selangkangan. Kontolku masih ngaceng, pula. Namun aku langsung menyambar pintu dan membukanya.

“Halo, Bang!” Kusapa Fian dengan senyum selebar mungkin.

Fian sedang menunduk menatap sepatu di depan kamarku. “Ini sepatu siapa?”

Anjing!

Itu sepatunya Xavier.

“Itu ... punyaku.” Buru-buru aku meminggirkan sepatu Xavier ke kolong rak sepatu. “Tadi kan aku pake sepatu ini.”

Fian menyipitkan matanya. Dia mengingat-ingat dan terlihat yakin aku enggak pakai sepatu ini seharian. Namun Fian memutuskan untuk tidak mendebatku. “Adek ... Adek gapapa, kan?”

Aku berdiri lagi dengan tegap di ambang pintu, seolah-olah menghalangi Fian untuk masuk. “Aku ... gapapa.” Senyumku makin lebar dan canggung. “Gimana Ezelio?”

“Aman,” jawab Fian setelah menghela napas panjang. “Udah Abang pijitin tadi. Untungnya enggak ada tulang yang patah.”

“Apanya yang dipijitin?”

“Kakinya. Ezel mau turun tangga, tapi gara-gara luka di gunung kemaren, jalannya enggak bener. Dia kepeleset dari atas tangga, guling-guling sampai ke bawah.”

“Luka dia yang kemaren gimana?”

“Berdarah lagi, tapi aman. Enggak ada yang sobek.”

Sayang sekali enggak ada yang sobek dan patah, batinku.

Aku mengangguk kecil, menunjukkan simpati. Segila-gilanya itu boti mencari perhatian Fian, aku enggak punya alasan untuk membencinya. Dia hanyalah lelaki gay introver minus pengalaman, yang sekalinya naksir, malah naksir cowok alfa macam Fian.

Tapi siapa yang enggak naksir, sih? Fian ini tipe-tipe yang sanggup bikin cowok straight berubah haluan jadi berkelok-kelok kalau melihat penampilan dan perlakuannya yang maskulin dan caring. Fian mengenakan celana jeans yang enggak tahu kenapa pas bangeeettt sama tungkainya itu. Bentuknya sempurna kayak kaki-kaki Dewa Yunani. Tebal, besar, dan kokoh. Entah dia sumpal pake apa, tapi bentuknya jauh banget dari genu varum maupun valgum (kelainan tungkai kaki yang membentuk O atau X).

Fian masih mengenakan jaket bomber kebesaran, di atas badannya yang sudah besar oleh otot, jadi kesannya jaket ini ngepas. Ritsletingnya diturunkan setengah. Dari dalamnya ada kaus putih tipis yang kerahnya digantungi kacamata hitam. Aroma parfum Fian masih sama seperti sore tadi saat kami berpisah di akmil.

“Adek lagi sibuk apa?” tanya Fian.

“Aku ....” Aku menoleh. Kutemukan kamarku masih kosong. Xavier masih bersembunyi di kolong kasurku. “Aku baru beres salat aja.”

“Udah makan?”

“Udah.”

“Mau nemenin Abang enggak?”

Aku menyipitkan mata. “Ke Ezel?”

Fian terkekeh. “Enggak, lah. Masa Abang balik lagi ke sana? Abang dapat tugas buat patroli.” Fian menatap jam perak mahal di pergelangan tangannya. “Sekitar setengah jam lagi, Abang mesti keliling lanud buat ngecek situasi. Habis itu udah, bebas tugas. Rencananya ..., Abang mau ngajak Adek nemenin Abang patroli.”

Enggak bisa, sih.

Sange-ku sedang maksimal.

Kalau kontolku ada ubun-ubunnya, sange-ku sudah ada di ubun-ubun kontol.

Aku pengin banget kontolku dibikin enak.

Atau bool-ku. Terserah. Yang penting bisa crot.

Dan di dalam kamarku ada calon taruna yang bisa mengabulkan itu semua.

Artinya, aku enggak mungkin ikutan patroli sama tentara ganteng berambut cepak yang aromanya terlalu jantan ini.

“Hmmm ... kayaknya Adek mau istirahat dulu deh, Bang,” tolakku. Kuhela napas lelah. “Hari ini capek banget. Besok aku harus nguji calon tarunanya sendirian. EPS, pula. Prostat.”

“Abang paham,” sergah Fian sambil melepas sepatu tiba-tiba dan masuk ke dalam kamarku. Fian mengeluarkan ponsel dari saku celananya. “Kalau gitu Abang suruh si Erick aja yang patroli. Abang mau nunggu di sini aja.”

Aku membelalak panik. “Nunggu ...?”

Fian dengan lancangnya membuka jaket bomber kebesaran itu, lalu menyampirkannya ke kursiku. Otot lengannya yang kokoh itu langsung terkuak jantan, karena kaus putihnya berlengan pendek, dan mungkin terlalu pendek sehingga aku bisa melihat seluruh trisep yang berlekuk  dan keras itu. Otomatis kontolku mengeras lagi. Hangat gairah seksual berkumpul di bawah perutku.

Bangsat lu, Fian.

Sekarang aku jadi pengin ngewe sama kamu.

“Abang sebenarnya ada janji sama Dek Ida,” kata Fian. “Dek Ida kerja sampai malam. Tadinya, kalau Adek nemenin Abang patroli, Abang anterin lagi ke sini pulangnya. Toh, Abang mau ke bawah juga. Tapi kalau Adek enggak nemenin, ya udah Abang nunggu di sini aja.”

Aku selalu lupa bahwa di atas Ezel, masih ada jalang yang lebih beracun.

Jalang yang jelas-jelas sudah merasakan kehangatan tubuh Fian secara utuh.

Yang mungkin sudah merasakan kontol Fian di tubuhnya.

Fian menghempaskan pantatnya ke atas kasurku. Agak menghantam.

Aku bisa mendengar Xavier mengerang, “Argh!” dengan suara agak mencicit.

“Apa itu?”

Dengan panik aku menyergah, “Aku!” Dan, dengan tolol aku menepuk-nepuk lenganku. Plok! Plok! “Argh! Argh! Ada nyamuk.”

Jantungku deg-degan. Sumpah.

Aku tahu kelihatannya kayak yang biasa-biasa saja, tapi sebenarnya keringat dingin mengucur di seluruh tubuhku. Di bawah sana ada satu calon taruna yang pasti dikenal baik oleh Fian, karena Fian sendiri yang merekomendasikannya kepadaku untuk USG. Kalau taruna itu ketahuan ngumpet di kolong sana, telanjang bulat, aku enggak bisa ngebayangin apa yang akan terjadi selanjutnya.

Mungkin aku bisa masuk penjara.

“Gapapa kan Abang nunggu di sini?” tanya Fian. Dia menumpukan kedua tangannya di belakang. Memamerkan torso depan tubuhnya yang menggembung berotot. Berlekuk oleh dua dada besar, dengan belahan yang kentara. Lalu kotak-kotak perut itu tercetak di bawah kaus putihnya yang tipis. Dan kakinya agak ngangkang ....

ARGH!

Kak, sumpah ini mah ....

Mohon maklum kalau akunya ngebahas body Fian terus-menerus. Soalnya aku beneran lagi sange. Anjing! Dicampur stres karena takut ketahuan ada Xavier di bawah sana, adrenalinku memuncak. Jadi fokusku ya seksual terus terhadap Fian. Adrenalin yang tinggi ini berbahaya. Inilah cikal bakal sesuatu yang bernama ....

... nekat!

Aku bisa nekat nyipok Fian dan merkosa dia sekarang juga.

Menahan diri untuk bersikap waras adalah tantangan terbesar yang—

“Itu jaket siapa?” Fian tiba-tiba menunjuk ke sehelai jaket di belakang pintu.

Jaket bombernya Xavier!!!

FUCK!

Jantungku copot, sih. Seluruh isi tubuhku juga copot, jatuh ke atas lantai. Sekontol-kontolku copot semua. Perutku supermulas. Rasanya gravitasi menenggelamkanku ke bawah tanah.

Tergagap-gagap, aku mencoba menjawab, “Itu ... itu ... itu nemu.”

“Nemu?”

“Ka ... kayaknya ... tadi ada taruna yang ... ketinggalan. Aku ... aku bawain dulu. Siapa tahu besok—“

Fian berdiri untuk mengambilnya.

Tapi aku enggak bisa mengambil risiko.

Bagaimana jika penciuman Fian tajam seperti anjing pelacak, lalu dia mengendusnya, dan dia tahu ini aroma calon taruna yang dicurigai varikokel tempo hari?!

Atau parahnya, ponsel maupun dompet Xavier ada di sana, dan semua datanya terkuak, dan—

“Gimana kalau kita patroli aja?!” kataku tiba-tiba.

Aku enggak punya cara lain.

Aku langsung menyambar tangan Fian. Kutahan Fian agar tidak menghampiri pintu.

Fian berhenti dan menoleh. “Adek mau nemenin Abang?”

“IYA!” Aku menelan ludah. Aku hampir mati karena rasa panik.

“Patroli satu atau dua jam gapapa?”

“Gapapa. Aku butuh udara segar, kayaknya. Seharian meriksain selangkangan orang mulu. Aku ... aku butuh penyegaran.”

Fian tersenyum lebar. Tampak senang. “Oke .... Kita bisa berangkat sepuluh menit lagi kalau mau.”

“Berangkat sekarang aja!” sahutku, sembari menarik celana dari balik pintu, yang kebetulan tertutup jaket Xavier.

Fian kembali duduk ke atas tempat tidur. Dan dia menghempaskan lagi pantatnya sesuka hati. BRUK! “Oke, Abang tunggu di sini—“

“Argh!”

Hempasan pantat itu membuat Xavier mengerang lagi.

“Suara apa, sih?” Fian celingukan ke bawah tempat tidur.

“Abang tunggu di luar aja!” sahutku seketika, sembari menarik Fian agar berdiri. “Aku mau pake celana dulu soalnya.”

“Tinggal pake aja, kan?” Fian kebingungan karena tubuhnya didorong-dorong keluar kamar.

“Aku enggak pake apa-apa di balik sini!”

“Oh!” Fian, enggak tahu kenapa, kayak agak salting mendengarnya. Sambil menggaruk tengkuknya, Fian mengangguk dan menyambar lagi jaket bombernya. “Abang tunggu di luar.” Fian tidak berani menatapku.

Aku mendorongnya keluar, lalu menutup pintu. Aku bersandar di balik pintu untuk menenangkan napasku yang memburu. Rasanya menegangkan. Aku enggak tahu apa saja yang Fian sudah pikirkan atas tingkahku yang aneh. Sudah pasti seluruh kelakuanku mencurigakan, sih. Kalau dia bertanya lagi dalam perjalanan menuju patroli, aku harus mengarang cerita dengan lebih baik lagi.

Sssttt ...!” Xavier mendesis. “Keluarin gue dari sini!”


[ ... ]


Aku enggak mengeluarkan Xavier dari kolong kasur. Aku mengenakan pakaian santaiku, kemudian keluar dari kamar dan mengunci pintu. Tentu saja aku berbisik ke kolong kasur bahwa aku akan pergi dulu bersama Fian untuk patroli. Tapi aku berbisik-bisik, takut suaraku kedengaran oleh Fian di luar. Setelah itu aku pergi meninggalkan kosan menuju lanud.

Untungnya aku dibonceng naik motor, sehingga kami tidak mengobrol banyak. Fian sempat bertanya ini itu sepanjang perjalanan.

“Emang jaketnya ketemu di mana, Dek?”

Lalu aku menggunakan jurus dibonceng gojek dalam perjalanan. “Hah?!”

“Jaketnya? Itu nemu di mana?”

“Iya!”

“Jaketnya!” Fian sampai menoleh. “Jaketnya ketemu di mana?”

“Oh ... aku udah lulus kuliah. Ini mau berangkat kerja.”

“Hah?!”

“Hah?!”

Kakak paham lah ya ngobrol ama driver gojek kayak gimana.

Aku belum nemu karangan bahasa Indonesia yang tepat untuk jaket itu. Jadi aku mengulur waktu membuat skenario dalam kepalaku. Aku yakin Fian akan menanyakannya lagi nanti.

Sesampainya di lanud, kupikir kami akan naik sebuah mobil jip polisi untuk patroli. Mobil yang keliaran malam-malam, kemudian menangkap waria-waria yang sedang melonte di pinggir jalan. Yang dipaksa duduk di bak belakang yang terbuka, duduk saling berpunggungan satu sama lain. Kupikir itu maksudnya. Tapi Fian malah membawaku ke sebuah gedung besar berdinding aluminium.

Itu adalah hanggar.

Tempat menyimpan pesawat.

Kami berjalan melewati pos penjagaan. Fian menyapa seorang tentara yang berjaga di pintu masuk hanggar. Fian membawaku masuk ke sebuah ruangan berisi jejeran jet pesawat tempur. “Tunggu di situ,” kata Fian. Lalu Fian masuk ke sebuah ruangan kecil di sudut hanggar. Aku berdiri mematung seperti anak kecil di depan salah satu rudal yang sedang diperbaiki dekat pintu. Aku enggak mau bergerak karena takut rudalnya meledak. Tapi kelamaan berdiri di samping rudal, malah membuatku berfantasi aneh-aneh soal rudalnya Fian.

Di titik itu aku masih berpikir kami akan menaiki mobil patroli polisi. Namun ketika Fian muncul lagi, dia membawaku ke luar hanggar, ke tempat parkir pesawat berbentuk aneh yang aku enggak tahu jenisnya apa saja. Kecil-kecil pesawatnya. Seperti sebuah mobil yang bagian atasnya dipasangi sayap yang membentang lebar. Di bagian moncongnya ada baling-baling raksasa, yang mungkin kalau diputar di kamar kosanku, aku enggak perlu pasang AC lagi. Dingin banget pasti.

Tiba-tiba, Fian menghampiri salah satu pesawat bercat putih dan membuka pintu sebelah kanan. “Ayo, masuk!”

“Eh? Mau ke mana kita?”

“Patroli, kan?” Fian membuka pintu lebar-lebar. “Adek ngiranya kita patroli naik mobil?”

Aku menelan ludah. “I ... iya.”

Fian terkekeh. “Enggak, lah, Dek. Abang harus patroli udara. Lihat kondisi sekitar.”

Aku membeku beberapa meter di bawah sayap pesawat itu. Aku melihat ke dalam, ke jok pilotnya. Ada setir pesawat di situ. Dan yang kutahu, menyetir mobil di Indonesia kan di sebelah kanan.

“Aku enggak bisa nyetir!” sahutku dengan lutut lemas.

“Adek enggak usah nyetir. Abang yang nyetir.”

“Terus kenapa aku duduk di situ?”

“Semua pesawat, kanan ama kirinya ada setir. Tapi yang nyetir cuma satu orang. Di sebelah kiri.”

“Oooh ....”

“Ayo, masuk!”

Ragu-ragu, aku masuk ke dalam kabin. Aku merapatkan kedua tanganku ke dada, takut menyentuh apa pun yang membuat pesawatnya jatuh atau apa.

Bagian dalam pesawat itu terasa sempit sekali. Hampir seperti duduk di dalam becak, tetapi di depanku terdapat dasbor yang menampilkan layar-layar canggih. Kulihat Fian berjalan berkeliling pesawat, seperti memeriksa sesuatu. Atau mencabut sesuatu. Atau melepas sesuatu dari depan ban. Baru setelahnya Fian masuk ke dalam pesawat, duduk di sebelah kiriku sembari melepas jaket bombernya, lalu melemparkannya ke jok belakang, yang kelihatan lebih sempit lagi. Saking sempitnya, bahuku bergesekan dengan lengan kekar Fian yang kokoh. Setiap kali Fian bergerak, aku bisa merasakan kejantanan nan muscle itu menggelitik ujung bahuku.

Membuat kontolku “terbang tinggi”.

Aku belum berani menginterupsi apa pun. Aku hanya duduk manis. Merapatkan kedua pahaku. Menyilangkan kedua tangan di depan dada—seperti cewek yang sedang menutup dadanya. Maksudku adalah ..., aku enggak mau tanganku berada dekat-dekat semua tombol pesawat ini, takutnya pesawat jatuh di Gunung Salak gara-gara aku salah pencet atau apa.

Sementara di sampingku, Fian masih sibuk berkomunikasi dengan seseorang lewat radio, menggunakan bahasa alien yang tak kupahami. “Tower, ready for taxi. Air patrol post evening flight training. Papa kilo echo whiskey echo zero two seven niner. Request clearance.

Lalu seseorang dari radio membalasnya dengan bahasa yang sama aliennya. “Taxi granted. Use mainline. Traffic is clear. Climb to three thousand at one seven zero. Expect downwind during landing.”

Roger.”

Enggak. Aku enggak paham sama sekali. Dan aku enggak akan menerjemahkannya untukmu, Kak. Toh sepanjang proses belibet ala-ala pilot pesawat tempur itu, aku sedang sibuk celingukan ke sana kemari.

Aku enggak takut terbang. Aku cuma takut salah pencet doang. Aku enggak pernah membayangkan naik pesawat terbang ngadep ke depan kayak begini. Kupikir aku akan duduk di belakang saja, menunggu dilayani pramugari dengan jamuan teh atau kopi. Namun layar-layar di depanku tampak menyeramkan. Satu layar besar membagi dua warna, biru dan cokelat. Ada banyak garis indikatornya. Berkedip-kedip menampilkan berbagai simbol dan angka yang tak kupahami sama sekali. Di sekitarnya terdapat layar-layar bulat seperti speedometer yang jarumnya bergerak kanan kiri ketika Fian mengklik entah apa di atas kepala kami.

Aku sampai melompat terkejut ketika baling-baling di moncong depan pesawat berputar tiba-tiba. Suaranya bising seperti kipas angin di rumah orang tuaku yang terus-menerus dipakai bapak meskipun sudah rusak, dan sering maju sendiri kipasnya kalau dinyalakan hingga nomor tiga.

“Pakai sabuk pengamannya, Dek,” kata Fian, di tengah kesibukannya.

“Oh.” Aku berbalik untuk mencari-cari sabuk pengamannya di mana. Kupikir sabuk pengamannya akan seperti di mobil, berada di dekat pintu.

Ternyata sabuk pengamannya dari bagian tengah atas, di langit-langitnya. Fian langsung memasangkannya untukku. Lengannya yang besar itu naik, sehingga keteknya yang mulus terekspos. Aku menelan ludah sembari mengamati ketek Fian yang seksi, yang titik-titik bulu keteknya mulai muncul lagi setelah ku-wax beberapa hari lalu. Keteknya agak basah sedikit. Tapi aromanya ....

Fuck.

Bikin sange.

Aromanya jantan banget. Enak, kayak bau cowok.

Jantungku berdebar-debar lagi karena gairah seksual itu kembali memuncak. Mempermainkan tubuhku yang masih belum dikasih kesempatan untuk crot setelah beberapa chapter kisah hidupku.

Dengan pasrah aku mengamati lengan-lengan besar itu melintang di depan tubuhku, sibuk memasangkan sabuk pengaman hingga ngeklik dengan aman. Lalu dengan cekatan, kedua tangan itu mengecek berbagai hal lain seperti pintu atau tombol-tombol entah apa yang mengamankan. Baru setelahnya ....

... pesawat bergerak maju.

Fian masih berkomunikasi dengan radio hingga pesawat berada di sebuah area yang sangat-sangat gelap, tetapi dari lampu yang menyorot ke depan aku bisa melihat sebuah landasan aspal yang memanjang dan mulus, yang kanan kirinya dipenuhi titik-titik lampu berjejer rapi. Di ujung landasan, Fian melakukan komunikasi terakhir dengan radio.

Dan orang di radio untuk kali pertama berbicara sesuatu yang bisa kupahami. “Oke, Kap. Hati-hati di jalan dan langsung ke Center begitu airborne.”

“Siap, Mas. Terima kasih banyak.”

“Malam.”

“Malam.”

Fian menoleh ke arahku, tersenyum lebar, lalu melemparkan lagi pandangannya ke depan.

Pesawat sempit itu melaju ke depan dengan cepat.

Kurang dari satu menit, aku sudah mengudara.


[ ... ]


16. Gue Kangen | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 17B. Hampir Bilang I Love You

Komentar