Halo, Kak!
Enggak, kok. Pintuku enggak terbuka
waktu Fian mencoba mendobrak.
Yang terbuka adalah pintu neraka.
Karena, nyawaku otomatis melayang mendengar suara hantaman tubuh Fian ke
pintuku.
Dengan panik aku langsung menyahut, “Bentar,
Baaang ....” Suaraku terdengar parau.
“Oh ...? Adek ada di dalam?”
“La ... lagi ... lagi solat ....”
“Oh ... maaf, Dek. Maaf.”
Xavier melompat berdiri ke atas lantai. Tarikannya
begitu kuat, sehingga lakban yang harusnya menahan tangannya, langsung sobek
begitu saja. Dengan panik, Xavier merapat ke dinding yang sejajar dengan
jendela. Kepalanya menoleh ke arah pintu seperti mata-mata yang sedang
mengantisipasi musuh. Aku bisa melihat dadanya naik turun, perutnya cekung ke
dalam, seolah-olah Xavier ingin melebur jadi satu dengan tembok. Tapi mana
mungkin dia bisa melakukannya. Kontolnya panjang. Ngaceng pula.
“Kenapa dia bisa di sini?!” bisik Xavier
sambil memelotot.
Aku yang langsung menyambar baju dan
mengenakannya, tak menjawab pertanyaan Xavier.
Lelaki itu menyeberangi ruangan untuk
melihat ke dalam lemari piringku—mencari tempat bersembunyi. Namun jelas lemari
itu kekecilan.
“Gue sembunyi di mana?!” bisiknya lagi.
Seraya mengambil sehelai kain sarung
yang terlipat di atas meja, aku celingukan. “Kolong kasur aja!”
Xavier meluncur ke bawah tempat tidurku.
Ada beberapa benda kuletakkan di sana. Kotak sepatu dan dus-dus peralatan
elektronik mungil kujejalkan sejak pertama kali ngekos di sini. Kubantu
mengeluarkan beberapa benda, agar Xavier bisa merangkak masuk ke dalamnya.
(Telanjang bulat!) Lalu, kujejalkan lagi kardus-kardus itu untuk
menghalanginya.
Dengan hati berdebar-debar, keringat
dingin mengucur di pelipis, aku merapikan sarung. Aku belum pakai apa-apa di
area selangkangan. Kontolku masih ngaceng, pula. Namun aku langsung
menyambar pintu dan membukanya.
“Halo, Bang!” Kusapa Fian dengan senyum
selebar mungkin.
Fian sedang menunduk menatap sepatu di
depan kamarku. “Ini sepatu siapa?”
Anjing!
Itu sepatunya Xavier.
“Itu ... punyaku.” Buru-buru aku
meminggirkan sepatu Xavier ke kolong rak sepatu. “Tadi kan aku pake sepatu
ini.”
Fian menyipitkan matanya. Dia
mengingat-ingat dan terlihat yakin aku enggak pakai sepatu ini seharian. Namun
Fian memutuskan untuk tidak mendebatku. “Adek ... Adek gapapa, kan?”
Aku berdiri lagi dengan tegap di ambang
pintu, seolah-olah menghalangi Fian untuk masuk. “Aku ... gapapa.” Senyumku
makin lebar dan canggung. “Gimana Ezelio?”
“Aman,” jawab Fian setelah menghela
napas panjang. “Udah Abang pijitin tadi. Untungnya enggak ada tulang yang
patah.”
“Apanya yang dipijitin?”
“Kakinya. Ezel mau turun tangga, tapi
gara-gara luka di gunung kemaren, jalannya enggak bener. Dia kepeleset dari
atas tangga, guling-guling sampai ke bawah.”
“Luka dia yang kemaren gimana?”
“Berdarah lagi, tapi aman. Enggak ada
yang sobek.”
Sayang sekali enggak ada yang
sobek dan patah,
batinku.
Aku mengangguk kecil, menunjukkan
simpati. Segila-gilanya itu boti mencari perhatian Fian, aku enggak
punya alasan untuk membencinya. Dia hanyalah lelaki gay introver minus
pengalaman, yang sekalinya naksir, malah naksir cowok alfa macam Fian.
Tapi siapa yang enggak naksir, sih? Fian
ini tipe-tipe yang sanggup bikin cowok straight berubah haluan jadi
berkelok-kelok kalau melihat penampilan dan perlakuannya yang maskulin dan caring.
Fian mengenakan celana jeans yang enggak tahu kenapa pas bangeeettt sama
tungkainya itu. Bentuknya sempurna kayak kaki-kaki Dewa Yunani. Tebal, besar,
dan kokoh. Entah dia sumpal pake apa, tapi bentuknya jauh banget dari genu
varum maupun valgum (kelainan tungkai kaki yang membentuk O atau X).
Fian masih mengenakan jaket bomber
kebesaran, di atas badannya yang sudah besar oleh otot, jadi kesannya jaket ini
ngepas. Ritsletingnya diturunkan setengah. Dari dalamnya ada kaus putih tipis
yang kerahnya digantungi kacamata hitam. Aroma parfum Fian masih sama seperti
sore tadi saat kami berpisah di akmil.
“Adek lagi sibuk apa?” tanya Fian.
“Aku ....” Aku menoleh. Kutemukan
kamarku masih kosong. Xavier masih bersembunyi di kolong kasurku. “Aku baru
beres salat aja.”
“Udah makan?”
“Udah.”
“Mau nemenin Abang enggak?”
Aku menyipitkan mata. “Ke Ezel?”
Fian terkekeh. “Enggak, lah. Masa Abang
balik lagi ke sana? Abang dapat tugas buat patroli.” Fian menatap jam perak
mahal di pergelangan tangannya. “Sekitar setengah jam lagi, Abang mesti
keliling lanud buat ngecek situasi. Habis itu udah, bebas tugas. Rencananya ...,
Abang mau ngajak Adek nemenin Abang patroli.”
Enggak bisa, sih.
Sange-ku sedang maksimal.
Kalau kontolku ada ubun-ubunnya, sange-ku
sudah ada di ubun-ubun kontol.
Aku pengin banget kontolku dibikin enak.
Atau bool-ku. Terserah. Yang
penting bisa crot.
Dan di dalam kamarku ada calon taruna
yang bisa mengabulkan itu semua.
Artinya, aku enggak mungkin ikutan
patroli sama tentara ganteng berambut cepak yang aromanya terlalu jantan ini.
“Hmmm ... kayaknya Adek mau istirahat
dulu deh, Bang,” tolakku. Kuhela napas lelah. “Hari ini capek banget. Besok aku
harus nguji calon tarunanya sendirian. EPS, pula. Prostat.”
“Abang paham,” sergah Fian sambil
melepas sepatu tiba-tiba dan masuk ke dalam kamarku. Fian mengeluarkan ponsel
dari saku celananya. “Kalau gitu Abang suruh si Erick aja yang patroli. Abang
mau nunggu di sini aja.”
Aku membelalak panik. “Nunggu ...?”
Fian dengan lancangnya membuka jaket
bomber kebesaran itu, lalu menyampirkannya ke kursiku. Otot lengannya yang
kokoh itu langsung terkuak jantan, karena kaus putihnya berlengan pendek, dan
mungkin terlalu pendek sehingga aku bisa melihat seluruh trisep yang
berlekuk dan keras itu. Otomatis
kontolku mengeras lagi. Hangat gairah seksual berkumpul di bawah perutku.
Bangsat lu, Fian.
Sekarang aku jadi pengin ngewe sama kamu.
“Abang sebenarnya ada janji sama Dek
Ida,” kata Fian. “Dek Ida kerja sampai malam. Tadinya, kalau Adek nemenin Abang
patroli, Abang anterin lagi ke sini pulangnya. Toh, Abang mau ke bawah juga.
Tapi kalau Adek enggak nemenin, ya udah Abang nunggu di sini aja.”
Aku selalu lupa bahwa di atas Ezel,
masih ada jalang yang lebih beracun.
Jalang yang jelas-jelas sudah merasakan
kehangatan tubuh Fian secara utuh.
Yang mungkin sudah merasakan kontol Fian
di tubuhnya.
Fian menghempaskan pantatnya ke atas
kasurku. Agak menghantam.
Aku bisa mendengar Xavier mengerang, “Argh!”
dengan suara agak mencicit.
“Apa itu?”
Dengan panik aku menyergah, “Aku!” Dan,
dengan tolol aku menepuk-nepuk lenganku. Plok! Plok! “Argh! Argh! Ada
nyamuk.”
Jantungku deg-degan. Sumpah.
Aku tahu kelihatannya kayak yang
biasa-biasa saja, tapi sebenarnya keringat dingin mengucur di seluruh tubuhku.
Di bawah sana ada satu calon taruna yang pasti dikenal baik oleh Fian, karena
Fian sendiri yang merekomendasikannya kepadaku untuk USG. Kalau taruna itu
ketahuan ngumpet di kolong sana, telanjang bulat, aku enggak bisa ngebayangin
apa yang akan terjadi selanjutnya.
Mungkin aku bisa masuk penjara.
“Gapapa kan Abang nunggu di sini?” tanya
Fian. Dia menumpukan kedua tangannya di belakang. Memamerkan torso depan
tubuhnya yang menggembung berotot. Berlekuk oleh dua dada besar, dengan belahan
yang kentara. Lalu kotak-kotak perut itu tercetak di bawah kaus putihnya yang
tipis. Dan kakinya agak ngangkang ....
ARGH!
Kak, sumpah ini mah ....
Mohon maklum kalau akunya ngebahas body
Fian terus-menerus. Soalnya aku beneran lagi sange. Anjing! Dicampur
stres karena takut ketahuan ada Xavier di bawah sana, adrenalinku memuncak.
Jadi fokusku ya seksual terus terhadap Fian. Adrenalin yang tinggi ini
berbahaya. Inilah cikal bakal sesuatu yang bernama ....
... nekat!
Aku bisa nekat nyipok Fian dan merkosa
dia sekarang juga.
Menahan diri untuk bersikap waras adalah
tantangan terbesar yang—
“Itu jaket siapa?” Fian tiba-tiba
menunjuk ke sehelai jaket di belakang pintu.
Jaket bombernya Xavier!!!
FUCK!
Jantungku copot, sih. Seluruh isi
tubuhku juga copot, jatuh ke atas lantai. Sekontol-kontolku copot semua.
Perutku supermulas. Rasanya gravitasi menenggelamkanku ke bawah tanah.
Tergagap-gagap, aku mencoba menjawab,
“Itu ... itu ... itu nemu.”
“Nemu?”
“Ka ... kayaknya ... tadi ada taruna
yang ... ketinggalan. Aku ... aku bawain dulu. Siapa tahu besok—“
Fian berdiri untuk mengambilnya.
Tapi aku enggak bisa mengambil risiko.
Bagaimana jika penciuman Fian tajam
seperti anjing pelacak, lalu dia mengendusnya, dan dia tahu ini aroma calon
taruna yang dicurigai varikokel tempo hari?!
Atau parahnya, ponsel maupun dompet
Xavier ada di sana, dan semua datanya terkuak, dan—
“Gimana kalau kita patroli aja?!” kataku
tiba-tiba.
Aku enggak punya cara lain.
Aku langsung menyambar tangan Fian.
Kutahan Fian agar tidak menghampiri pintu.
Fian berhenti dan menoleh. “Adek mau
nemenin Abang?”
“IYA!” Aku menelan ludah. Aku hampir
mati karena rasa panik.
“Patroli satu atau dua jam gapapa?”
“Gapapa. Aku butuh udara segar,
kayaknya. Seharian meriksain selangkangan orang mulu. Aku ... aku butuh
penyegaran.”
Fian tersenyum lebar. Tampak senang.
“Oke .... Kita bisa berangkat sepuluh menit lagi kalau mau.”
“Berangkat sekarang aja!” sahutku,
sembari menarik celana dari balik pintu, yang kebetulan tertutup jaket Xavier.
Fian kembali duduk ke atas tempat tidur.
Dan dia menghempaskan lagi pantatnya sesuka hati. BRUK! “Oke, Abang
tunggu di sini—“
“Argh!”
Hempasan pantat itu membuat Xavier
mengerang lagi.
“Suara apa, sih?” Fian celingukan ke
bawah tempat tidur.
“Abang tunggu di luar aja!” sahutku
seketika, sembari menarik Fian agar berdiri. “Aku mau pake celana dulu
soalnya.”
“Tinggal pake aja, kan?” Fian
kebingungan karena tubuhnya didorong-dorong keluar kamar.
“Aku enggak pake apa-apa di balik sini!”
“Oh!” Fian, enggak tahu kenapa, kayak
agak salting mendengarnya. Sambil menggaruk tengkuknya, Fian mengangguk dan
menyambar lagi jaket bombernya. “Abang tunggu di luar.” Fian tidak berani
menatapku.
Aku mendorongnya keluar, lalu menutup
pintu. Aku bersandar di balik pintu untuk menenangkan napasku yang memburu.
Rasanya menegangkan. Aku enggak tahu apa saja yang Fian sudah pikirkan atas
tingkahku yang aneh. Sudah pasti seluruh kelakuanku mencurigakan, sih. Kalau
dia bertanya lagi dalam perjalanan menuju patroli, aku harus mengarang cerita
dengan lebih baik lagi.
“Sssttt ...!” Xavier mendesis.
“Keluarin gue dari sini!”
[ ... ]
Aku enggak mengeluarkan Xavier dari
kolong kasur. Aku mengenakan pakaian santaiku, kemudian keluar dari kamar dan
mengunci pintu. Tentu saja aku berbisik ke kolong kasur bahwa aku akan pergi
dulu bersama Fian untuk patroli. Tapi aku berbisik-bisik, takut suaraku
kedengaran oleh Fian di luar. Setelah itu aku pergi meninggalkan kosan menuju
lanud.
Untungnya aku dibonceng naik motor,
sehingga kami tidak mengobrol banyak. Fian sempat bertanya ini itu sepanjang
perjalanan.
“Emang jaketnya ketemu di mana, Dek?”
Lalu aku menggunakan jurus dibonceng
gojek dalam perjalanan. “Hah?!”
“Jaketnya? Itu nemu di mana?”
“Iya!”
“Jaketnya!” Fian sampai menoleh.
“Jaketnya ketemu di mana?”
“Oh ... aku udah lulus kuliah. Ini mau
berangkat kerja.”
“Hah?!”
“Hah?!”
Kakak paham lah ya ngobrol ama driver
gojek kayak gimana.
Aku belum nemu karangan bahasa Indonesia
yang tepat untuk jaket itu. Jadi aku mengulur waktu membuat skenario dalam
kepalaku. Aku yakin Fian akan menanyakannya lagi nanti.
Sesampainya di lanud, kupikir kami akan
naik sebuah mobil jip polisi untuk patroli. Mobil yang keliaran malam-malam,
kemudian menangkap waria-waria yang sedang melonte di pinggir jalan. Yang
dipaksa duduk di bak belakang yang terbuka, duduk saling berpunggungan satu
sama lain. Kupikir itu maksudnya. Tapi Fian malah membawaku ke sebuah gedung
besar berdinding aluminium.
Itu adalah hanggar.
Tempat menyimpan pesawat.
Kami berjalan melewati pos penjagaan.
Fian menyapa seorang tentara yang berjaga di pintu masuk hanggar. Fian
membawaku masuk ke sebuah ruangan berisi jejeran jet pesawat tempur. “Tunggu di
situ,” kata Fian. Lalu Fian masuk ke sebuah ruangan kecil di sudut hanggar. Aku
berdiri mematung seperti anak kecil di depan salah satu rudal yang sedang
diperbaiki dekat pintu. Aku enggak mau bergerak karena takut rudalnya meledak.
Tapi kelamaan berdiri di samping rudal, malah membuatku berfantasi aneh-aneh
soal rudalnya Fian.
Di titik itu aku masih berpikir kami
akan menaiki mobil patroli polisi. Namun ketika Fian muncul lagi, dia membawaku
ke luar hanggar, ke tempat parkir pesawat berbentuk aneh yang aku enggak tahu
jenisnya apa saja. Kecil-kecil pesawatnya. Seperti sebuah mobil yang bagian
atasnya dipasangi sayap yang membentang lebar. Di bagian moncongnya ada
baling-baling raksasa, yang mungkin kalau diputar di kamar kosanku, aku enggak
perlu pasang AC lagi. Dingin banget pasti.
Tiba-tiba, Fian menghampiri salah satu
pesawat bercat putih dan membuka pintu sebelah kanan. “Ayo, masuk!”
“Eh? Mau ke mana kita?”
“Patroli, kan?” Fian membuka pintu
lebar-lebar. “Adek ngiranya kita patroli naik mobil?”
Aku menelan ludah. “I ... iya.”
Fian terkekeh. “Enggak, lah, Dek. Abang
harus patroli udara. Lihat kondisi sekitar.”
Aku membeku beberapa meter di bawah
sayap pesawat itu. Aku melihat ke dalam, ke jok pilotnya. Ada setir pesawat di
situ. Dan yang kutahu, menyetir mobil di Indonesia kan di sebelah kanan.
“Aku enggak bisa nyetir!” sahutku dengan
lutut lemas.
“Adek enggak usah nyetir. Abang yang
nyetir.”
“Terus kenapa aku duduk di situ?”
“Semua pesawat, kanan ama kirinya ada
setir. Tapi yang nyetir cuma satu orang. Di sebelah kiri.”
“Oooh ....”
“Ayo, masuk!”
Ragu-ragu, aku masuk ke dalam kabin. Aku
merapatkan kedua tanganku ke dada, takut menyentuh apa pun yang membuat
pesawatnya jatuh atau apa.
Bagian dalam pesawat itu terasa sempit
sekali. Hampir seperti duduk di dalam becak, tetapi di depanku terdapat dasbor
yang menampilkan layar-layar canggih. Kulihat Fian berjalan berkeliling
pesawat, seperti memeriksa sesuatu. Atau mencabut sesuatu. Atau melepas sesuatu
dari depan ban. Baru setelahnya Fian masuk ke dalam pesawat, duduk di sebelah
kiriku sembari melepas jaket bombernya, lalu melemparkannya ke jok belakang,
yang kelihatan lebih sempit lagi. Saking sempitnya, bahuku bergesekan dengan
lengan kekar Fian yang kokoh. Setiap kali Fian bergerak, aku bisa merasakan
kejantanan nan muscle itu menggelitik ujung bahuku.
Membuat kontolku “terbang tinggi”.
Aku belum berani menginterupsi apa pun.
Aku hanya duduk manis. Merapatkan kedua pahaku. Menyilangkan kedua tangan di
depan dada—seperti cewek yang sedang menutup dadanya. Maksudku adalah ..., aku
enggak mau tanganku berada dekat-dekat semua tombol pesawat ini, takutnya
pesawat jatuh di Gunung Salak gara-gara aku salah pencet atau apa.
Sementara di sampingku, Fian masih sibuk
berkomunikasi dengan seseorang lewat radio, menggunakan bahasa alien yang tak
kupahami. “Tower, ready for taxi. Air patrol post evening flight training.
Papa kilo echo whiskey echo zero two seven niner. Request clearance.”
Lalu seseorang dari radio membalasnya
dengan bahasa yang sama aliennya. “Taxi granted. Use mainline. Traffic is
clear. Climb to three thousand at one seven zero. Expect downwind during
landing.”
“Roger.”
Enggak. Aku enggak paham sama sekali.
Dan aku enggak akan menerjemahkannya untukmu, Kak. Toh sepanjang proses belibet
ala-ala pilot pesawat tempur itu, aku sedang sibuk celingukan ke sana kemari.
Aku enggak takut terbang. Aku cuma takut
salah pencet doang. Aku enggak pernah membayangkan naik pesawat terbang ngadep
ke depan kayak begini. Kupikir aku akan duduk di belakang saja, menunggu
dilayani pramugari dengan jamuan teh atau kopi. Namun layar-layar di depanku
tampak menyeramkan. Satu layar besar membagi dua warna, biru dan cokelat. Ada
banyak garis indikatornya. Berkedip-kedip menampilkan berbagai simbol dan angka
yang tak kupahami sama sekali. Di sekitarnya terdapat layar-layar bulat seperti
speedometer yang jarumnya bergerak kanan kiri ketika Fian mengklik entah
apa di atas kepala kami.
Aku sampai melompat terkejut ketika
baling-baling di moncong depan pesawat berputar tiba-tiba. Suaranya bising
seperti kipas angin di rumah orang tuaku yang terus-menerus dipakai bapak
meskipun sudah rusak, dan sering maju sendiri kipasnya kalau dinyalakan hingga
nomor tiga.
“Pakai sabuk pengamannya, Dek,” kata
Fian, di tengah kesibukannya.
“Oh.” Aku berbalik untuk mencari-cari
sabuk pengamannya di mana. Kupikir sabuk pengamannya akan seperti di mobil,
berada di dekat pintu.
Ternyata sabuk pengamannya dari bagian
tengah atas, di langit-langitnya. Fian langsung memasangkannya untukku.
Lengannya yang besar itu naik, sehingga keteknya yang mulus terekspos. Aku
menelan ludah sembari mengamati ketek Fian yang seksi, yang titik-titik bulu
keteknya mulai muncul lagi setelah ku-wax beberapa hari lalu. Keteknya
agak basah sedikit. Tapi aromanya ....
Fuck.
Bikin sange.
Aromanya jantan banget. Enak, kayak bau
cowok.
Jantungku berdebar-debar lagi karena
gairah seksual itu kembali memuncak. Mempermainkan tubuhku yang masih belum
dikasih kesempatan untuk crot setelah beberapa chapter kisah
hidupku.
Dengan pasrah aku mengamati
lengan-lengan besar itu melintang di depan tubuhku, sibuk memasangkan sabuk
pengaman hingga ngeklik dengan aman. Lalu dengan cekatan, kedua tangan itu
mengecek berbagai hal lain seperti pintu atau tombol-tombol entah apa yang
mengamankan. Baru setelahnya ....
... pesawat bergerak maju.
Fian masih berkomunikasi dengan radio
hingga pesawat berada di sebuah area yang sangat-sangat gelap, tetapi dari
lampu yang menyorot ke depan aku bisa melihat sebuah landasan aspal yang
memanjang dan mulus, yang kanan kirinya dipenuhi titik-titik lampu berjejer
rapi. Di ujung landasan, Fian melakukan komunikasi terakhir dengan radio.
Dan orang di radio untuk kali pertama
berbicara sesuatu yang bisa kupahami. “Oke, Kap. Hati-hati di jalan dan
langsung ke Center begitu airborne.”
“Siap, Mas. Terima kasih banyak.”
“Malam.”
“Malam.”
Fian menoleh ke arahku, tersenyum lebar,
lalu melemparkan lagi pandangannya ke depan.
Pesawat sempit itu melaju ke depan
dengan cepat.
Kurang dari satu menit, aku sudah
mengudara.
[ ... ]
16. Gue Kangen | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 17B. Hampir Bilang I Love You
Komentar
Posting Komentar