(HD) 17B. Hampir Bilang I Love You




Halo, Kak!

Ketika pesawat mungil itu menjelajah mengelilingi wilayah udara di atas kota yang kutinggali dua tahun terakhir, aku terpukau dalam diam. Jantungku berdegup-degup untuk berbagai alasan. Berdegup karena takut ketinggian. Berdegup karena kagum. Berdegup karena pilot di sampingku.

Pesawat mungil itu tidak terbang tinggi seperti pesawat pada umumnya. Aku masih bisa melihat gedung-gedung dan rumah-rumah di bawah sana, tampak kaku seperti kerlap-kerlip bintang yang bertaburan di atas tanah. Jalanan malam yang disinari lampu jalan terlihat jelas meskipun jauh. Kendaraan melaju dengan pelan. Area dekat bundaran kosanku sedang macet. Kedekatan antara aku dan tanah di bawahku membuatku merinding. Sesekali aku mengira kami akan menabrak kabel listrik atau apa, meskipun Fian bilang ketinggian kami di atas 3.000 kaki.

“Kita cuma low flying. Patroli udara bentar buat ngecek area sekitaran lanud. Basic procedure yang dilakukan hampir setiap hari. Biasanya sekalian training pilot baru buat night fly. Tapi semua taruna lagi sibuk persiapan pembukaan batch baru. Yang harusnya patroli sekarang seharian ini capek ngurus acara. Jadinya Abang coba gantiin dia.” Begitu kata Fian.

Pemandangan yang terhampar di sekitarku membuatku kagum. Kami terbang pelan-pelan. Memutar-mutar. Merasakan pesawatnya oleng ke satu sisi saat berbelok, sehingga aku bisa melihat dengan jelas apa yang ada di bawahku. Terlebih lagi, langitnya lebih bersih di atas sini. Aku bisa melihat lebih banyak bintang dibandingkan ketika aku berada di darat.

Namun yang lebih membuatku berdebar tentunya sang pilot.

Lengan kami beradu sepanjang penerbangan. Mungkin manusia normal lain akan duduk tanpa bersentuhan di pesawat kecil ini. Tapi, you know, badan Fian terlalu perfect dengan bahu lebar, sehingga kami duduk dempet-dempetan. Kulit lenganku bergesekan dengan kulit lengan Fian yang kokoh. Yang rasanya hangat dan mengenakkan. Kulit kokoh yang membungkus otot besar di baliknya. Lalu aroma tubuh Fian yang enak. Lalu pesona wajah tampan berambut cepak, di dalam kegelapan kabin. Hanya lampu-lampu dari layar di dasbor saja yang menerangi wajah Fian hingga terlihat agak kebiruan. Aku bersyukur kabin ini gelap.

Soalnya kontolku ngaceng total.

Kalau agak terang sedikit, bisa-bisa Fian ganti persneling di pesawat ini dengan menggerakkan kontolku sebagai tuasnya.

Itu pun kalau ada istilah ganti persneling dalam penerbangan. Aku sih enggak paham. Kelihatannya sejauh ini Fian hanya menarik-narik tuas di atas kepala atau menekan tombol-tombol di dasbor saja.

Aku meleleh, Kak. Aku hampir bilang I love you di tengah keheningan kokpit pesawat.

(Enggak hening juga, sih. Suara kipas angin butut di depan sana cukup membuat telingaku pengang.)

Namun setiap aku menoleh dan melihat siluet wajah tampan itu dari pinggir, dengan hidung mancung, dagu sempurna, bibir tipis yang sesekali mengucapkan sesuatu ke mikrofon headset-nya, membuatku meleleh. Jakunnya bergerak-gerak seksi di leher. Dadanya menggembung besar, entah disumpal apa saja hingga besar seperti itu. Dan sialnya perut itu rata. Tidak seperti perutku yang agak meleber ke segala arah macam balon diisi air.

Lalu wajah itu menoleh ke arahku. “Kenapa, Dek?”

Dan aku salah tingkah.

Lelaki ini belum buka baju, tapi aku sudah sange maksimal.

Lelaki ini belum mencipokku, tapi aku sudah merasa orgasme.

Lelaki ini belum menggauliku, tapi aku sudah merasa diberikan nafkah batin.

Bayangkan kalau dia benar-benar membuka bajunya untuk mengentotku.

Almarhum mungkin statusku.

“Jadi ini .... Jadi ini pesawat tempur?” tanyaku, setelah kami terbang cukup lama.

“Bukan. Ini cuma pesawat latih.”

“Pesawat latih?” Aku membelalak. “Kayak mobil-mobil latihan di pinggir jalan yang tulisannya KURSUS MENGEMUDI, gitu?”

“Hahaha ....” Tawa Fian renyah sekali. Bahunya berguncang. Dan, guncangan itu menggesek ujung bahuku.

Membuatku makin sange, berasa digesek-gesek di area kemaluan.

“Yaaa ... semacam itu,” jawab Fian. “Untuk bisa nerbangin jet tempur tuh, ada tahapnya. Pesawat ini dipake buat basic terbang siswa. Semua pilot, di seluruh dunia, pake pesawat begini dulu sebelum nerbangin yang lebih gede. Hampir semuanya manual, meskipun yang ini udah fly-by-wire—setengahnya udah pake komputer.” Fian menepuk-nepuk satu area di dasbor, tetapi aku enggak paham dia sedang menjelaskan apa.

“Jadi semua tentara AU ini ... bisa nerbangin pesawat?”

One day harus bisa, lah. Ngapain masuk AU kalau enggak nerbangin pesawat? Tapi paling, pesawat apa yang bakal diterbangin, itu beda-beda spesifikasinya. Ada yang nerbangin jet tempur, ada yang nerbangin logistik, kayak Hercules, ada yang jadi instruktur ..., itu tergantung kualifikasinya gimana.”

“Abang bisa nerbangin jet tempur?”

Fian menoleh ke arahku dengan ekspresi datar. Secara sarkas, Fian menjawab, “Muka begini enggak bisa nerbangin jet tempur?”

Muka begitu lebih fuckable dan dijadiin suami sih, Bang. Boro-boro kepikiran nerbangin jet tempur.

Yang ada memek dan bool seluruh umat manusia ditempur terus sama “pesawat jet”-mu kalau bisa dapatin kamu, Bang.

“Ya kan aku enggak tahu,” kataku, seraya memalingkan muka ke arah lain. Soalnya aku langsung tersipu malu, ke-GR-an, dan baper pas ditoleh seperti itu.

“Abang udah masuk skuadron operasional, Dek. Udah konversi juga. Udah bisa nerbangin jet tempur. Prosesnya hampir sewindu.”

Aku membelalak. “Sewindu? Delapan tahun?”

Fian mengangguk. “Personel yang nerbangin jet tempur harus sempurna. Makanya seleksi kita ketat. Adek lihat sendiri aja, ada cacat dikit di pemeriksaan kesehatan, langsung eliminasi. Padahal mungkin itu sepele dari segi medis. Dan itu baru kesehatan. Masih ada seleksi lain yang lebih ketat lagi ke depannya. Yang daftar seribu orang. Yang keterima entar paling berapa puluh.”

“Jadi lima puluh orang yang aku periksa hari ini tuh—“

“Paling cuma belasan yang lanjut,” sela Fian. “Dan dari belasan itu, paling di bawah sepuluh yang beneran lanjut sampai tahap terakhir. Bakal ada sebagian yang tumbang di tengah jalan.”

Jadi agak useless juga ya aku mengkhawatirkan calon taruna yang impiannya hancur gara-gara gagal seleksi?

“Jadi kalau Adek ragu sama hasil pemeriksaan Adek, gugurin aja. Enggak perlu dibela-belain sampai keterima. Karena belum tentu orangnya lanjut sampai tahap akhir juga.” Fian menoleh lagi dengan wajah serius. Namun wajah itu terlihat begitu tenang dan mengayomi. “Besok kan Adek bakal membuat keputusan—“

“Bukan aku yang bikin keputusan—“

“Iya Abang paham,” sela Fian dengan sabar. “Adek cuma meriksa dan nyatet aja. Dr. Sigit yang bikin keputusan. Maksud Abang ..., apa pun yang Adek temukan, catat aja seadanya. Adek enggak usah mikirin orangnya lolos atau enggak lolos ke depannya. Biarin itu jadi bebannya pihak yang berwenang.”

Aku mengangguk kecil.

Aku melempar lagi pandanganku ke luar jendela, menatap titik-titik kuning lampu rumah di bawah sana.

Mungkin karena aku jadi melamun dan murung, Fian mencoba menghiburku.

“Maaf karena bahas kerjaan di sini. Harusnya Adek bisa istirahat sekarang.”

Aku tersenyum kecil. “Gapapa ....”

“Jadi ... jaket tadi punya siapa?”

Anjing. Masih dibahas.

“Punya pacar, ya?”

Aku langsung membeku diam. Membelalak kecil dalam gelap. Tak berani menoleh ke kiri, ke arah sang pilot.

“Bukan?” todong Fian lagi.

Aku bisa merasakan dia menoleh ke arahku dan memandang wajahku dari samping. Aku salting bukan main. Jantung berdebar-debar lagi. Harapanku Xavier enggak pernah pakai jaket itu keluyuran di depan Fian, sehingga Fian mengenalinya. Tapi pertanyaan pentingnya adalah ....

... kenapa Fian bisa menyimpulkan jaket yang macho banget itu jaket “pacarku”?

“Diam aja ...?”

“Eh?” Aku menoleh sebentar ke arah Fian, tetapi tak berani menatap wajahnya. “Itu ... itu jaket aku nemu di ... aula. Besok mau kubawa lagi. Buat dikembalikan.”

“Kembalikan ke siapa?”

Aku mengangkat bahu, kembali memalingkan wajah dari Fian. “Ya ... nanti aku tanyain satu-satu. Yang datang hari ini kan bakal datang lagi besok buat diperiksa sama aku.”

“Kan enggak semuanya. Udah ada yang gugur hari ini.”

“Ya nanti aku simpan di pos penjagaan. Siapa tahu orangnya nyari ke sana.”

Fian diam sejenak sembari menatap ke luar jendela, sebelum akhirnya berkata, “Ambil aja.”

“Kok gitu?”

“Kalau orangnya seteledor itu buat ninggalin jaket, udah enggak mungkin dia keterima AU. Sekalian aja rampas.”

Dengan sebal aku menyikut Fian. “Jangan gitu!” Tapi sikuku mengenai lengan Fian yang berotot. Empuk-empuk kenyal bikin pengin di-headlock.

Sange lagilah, aku.

Fuck.

“Gapapa. Anggap aja rezeki,” kata Fian. Terkekeh kecil. “Bagus juga jaketnya. Kayak jaket penerbang. Biar enggak masuk angin kalau Abang bonceng naek motor.”

“Enggak, ah. Entar aku tetep mau kembaliin!”

“Ya udah. Yang penting bukan punya pacar ternyata.”

Aku menoleh seketika. “Emang kenapa kalau itu punya pacar?” tantangku.

Giliran Fian yang memalingkan wajah ke arah lain. Tapi lagaknya benar-benar maskulin, sehingga dia enggak kelihatan salting. Kelihatannya kayak lagi ngecek bagian-bagian pesawat. “Yaaahhh ... kalau Adek udah punya pacar, kan ..., jadi enggak bisa digangguin lagi.”

Suaranya agak kecil, hampir tenggelam di balik suara kipas angin butut di moncong pesawat sana. Tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas.

Makin baperlah aku bagaikan Ezel baper ke Fian.

GR-GR manja karena Fian ada niatan untuk “gangguin” aku.

Sumpah, sebadan-badan merinding karena kesengsem.

Perut sampai mulas.

Tapi aku enggak mau kelihatan “meleleh”. Entar aku jadi mirip Ezel. Jadi aku melemparkan pandangan lagi ke arah lain, enggak berani menatap Fian takut senyumku terlalu lebar karena kasmaran. “Aku kan ..., aku kan lagi single ....”

“Iyaaa .... Adek udah putus dari mantan yang ketemu di supermarket itu, kan?”

“Hah?” Aku menoleh lagi. “Supermarket?”

Fian mengangkat bahu. “Tempo hari sempat cerita, pernah ketemu mantan di supermarket?”

Aku menyipitkan mata. “Ooohhh ....” Iya juga, sih. Aku pernah cerita ke Fian soal ketemu Deva di supermarket. Tapi aku kan enggak cerita orangnya Deva.

Aku merasa akan berbahaya kalau kami terus-menerus membahas soal “pacar” atau “mantan”. Takutnya benar-benar terkuak bahwa Devalah yang kumaksud dengan mantan. Padahal pacaran pun kami enggak pernah. Nanti aku ketahuan LGBT sama Fian. Maka Fian akan menekan satu tombol di dasbor ini, di mana tiba-tiba ada pintu di bawah kursiku yang terbuka, lalu aku akan terjatuh bebas ke bawah karena semua tentara itu anti sama LGBT.

Aku harus ganti topik.

“Ini tuh pesawat tempur kan, ya?”

Fian mengernyitkan alisnya. “Yang lagi kita naikin ini?”

“Iya. Ini bisa dipake buat perang, enggak? Rudalnya ada di sebelah mana?”

“Kan tadi Abang udah bilang, ini pesawat latih. Kalau pesawat tempur tuh pake jetfuel-nya banyak. Kecepatannya bisa 2 mach, bisa sampe 2.500 km/jam. Boros banget kalau dipake patroli kayak begini.”

“Ooohhh .... Tapi Abang pernah bawa orang lain enggak buat patroli. Selain aku?”

“Pernah.” Fian menghela napas panjang. “Pernah bawa mantan juga.”

“Mantan? Katanya enggak pernah pacaran selama pendidikan.”

“Iya. Memang. Tapi ada satu mantan yang datang ke sini, nemuin Abang, pengin balikan lagi. Tapi Abang tolak, soalnya waktu itu Abang lagi fokus buat ujian rating pesawat. Terus Abang ajak patroli kayak gini buat closure. Supaya bisa ngobrol berdua. Dari hati ke hati.”

“Romantis banget sih closure-nya sambil terbang.”

Fian memberi jeda sejenak. Dia menatap kosong pemandangan langit gelap di depannya, sebelum akhirnya menoleh ke arahku dan berkata, “Karena pas dia datang itu .... Abang juga susah ngelepas dia.”

“Lho, kenapa?”

Fian menghela napas lagi. “Entar aja Abang cerita.” Tiba-tiba dia menekan sesuatu, dan setelahnya memajukan setir, sehingga pesawat menukik agak ke bawah. “Kita sudah harus turun.”

“Oh. Oke.”

Aku enggak kepo-kepo banget, sih. Aku pengin tahu, tapi enggak perlu tahu sekarang. Yang paling penting sekarang adalah Fian enggak mendesakku mengatakan sesuatu yang bikin aku ketahuan homo di depannya. Aku tahu kelakuan Fian juga homo banget di sekitarku. Maksudku, dia ngajak aku patroli begini aja udah kayak top yang lagi pedekate ama satu boti. Dia “enggak mau ganggu” aja itu udah ciri-ciri orang yang enggak masalah ngegodain sesama lelaki. Tapi tetap aja, aku enggak mau ambil risiko. Aku masih punya tugas mulia meriksain kontol calon taruna soalnya. Segamblang-gamblangnya tingkah Fian yang nyerempet homo, aku tetap enggak boleh coming out bahwa aku homo asli.

Setelah Fian melakukan berbagai manuver, dia sempat berbicara lagi denganku. “Nanti habis ini, mampir bentar ke kosan Abang, gapapa?”

“Mau ngapain?”

“Abang mau ambil barang yang ketinggalan. Soalnya nanti kan nginap di Dek Ida.”

“Oke.”

Lalu beberapa saat kemudian, Fian menoleh ke arahku dan menatap dadaku. “Kenapa tangannya dilipat terus di depan dada?”

Sejak awal penerbangan, tanganku memang disilang di depan dada kayak orang yang lagi ngambek atau defensif. Aku beneran enggak mau menyentuh apa pun yang menyebabkan pesawat ini jungkir balik menjadi pesawat ulang alik. Tanganku menempel rapat ke dada secara konsisten.

“Aku ... aku kedinginan,” kelitku akhirnya.

“Kedinginan atau takut salah pencet?”

Aku menelan ludah. “Ya ... itu juga.”

“Gapapa. Sini.” Tiba-tiba Fian meletakkan tangannya yang besar itu di atas pahaku.

Aku hampir jantungan karena tangan itu dekeeeeeeeeettt ... banget sama kontolku yang lagi ngaceng. Sumpah, aku takut kontolku dikira persneling buat ganti gigi. Jadi aku malah menghindar agak jauh, menempel ke jendela.

“Sini ...,” ulang Fian, membuka tangan kanannya dengan bersahabat.

Tapi karena aku masih bergeming, masih meletakkan tanganku di depan dada, akhirnya Fian menarik satu tanganku lepas. Ditariknya tangan kiriku dan diletakkannya di antara paha Fian.

DI ANTARA PAHA FIAN!

Jemarinya menyusup masuk ke sela-sela jariku. Lalu tanganku digenggamnya dengan kuat, seolah-olah enggak boleh lepas dari antara paha berotot itu.

“Udah di sini aja. Enggak akan ilang kok tangannya. Ya?”

Aku sudah melambung jauh, sih. Sudah terbang tinggi bersama mimpi. Aku terlelap dalam lautan emosi. Dihempas keras gelombang. Dan tertimbun batu karang.

Aku membeku karena terkejut.

Lemas banget ya Tuhan.

Tanganku ....

Tanganku ada di depan kontol Fian sekarang ....

Tanganku diculik dan digenggam Fian ....

Tanganku ....

... hanya satu senti dari jendolan kontol Fian ....

....

Dan itu terus begitu hingga kami mendarat ke pangkalan.

Pengin nangis rasanya.


[ ... ]


Komentar