Halo, Kak.
Bentar, ya ....
Aku sedang mengumpulkan nyawa yang
tercecer di dalam hitam gelap malam.
Nyawa yang membuncah karena Fian
tiba-tiba memegang tanganku sepanjang pendaratan.
Hancur sudah tubuhku dipenuhi berbagai
jenis hormon kebahagiaan. Hormon sange (misal ada). Dan hormon cinta.
Aku enggak mengatakan apa-apa lagi ketika pesawat dengan mulus mendarat di atas
landasan, lalu bergerak menuju tempat parkir yang sama. Aku juga tidak
menanggapi ketika Fian mengedikkan kepalanya, “Yuk!” sembari dia membantuku
membuka pintu pesawat. Aku membuntuti Fian dalam diam menuju parkiran motor.
Fian juga enggak mengatakan apa-apa. Dia
berbicara sejenak dengan rekannya di hanggar, atau menyapa taruna yang sedang
berjaga. Tapi dia enggak membahas apa pun lagi denganku.
Aku diboncengnya di motor besar itu
melewati jalanan kota yang mulai sepi.
Fian melajutkan motor besarnya dengan
santai, tak terburu-buru. Kami berbelok ke sebuah kompleks perumahan, tempat
Fian selama ini ngekos.
Kami berhenti di sebuah rumah mungil yang
pintu depannya terbuka. Beberapa motor berjejer di carport, seakan-akan
sedang ada pesta. Ribut-ribut cowok bermain gitar, bernyanyi, atau berteriak
sambil Mobile Legends juga terdengar dari dalam.
“Lagi pada kumpul,” gumam Fian ke diri
sendiri. Dia memarkir motornya di luar gerbang, lalu memasang standar.
Aku melompat turun. Masih menarik-narik
turun kausku agar ngaceng kontolku tidak kelihatan.
“Masuk dulu, yuk!” kata Fian,
menduluiku. “Bentar aja.”
Oke. Fian tidak membahas soal pegangan
tangan itu. Kuanggap Fian tidak mempermasalakannya. Mungkin bagi Fian, itu
hanyalah hal sepele. Hanya pegangan tangan. Mungkin Fian merasa, enggak mungkin
aku baper gara-gara pegangan tangan itu. Iya. Toh Fian cowok straight
yang kebetulan nyantuy-nyantuy aja nge-bromance ama cowok. Jadi
harusnya aku enggak memikirkannya lagi. Apalagi membahasnya bersama Fian.
Aku harus move on!
Aku membuntuti Fian masuk ke dalam
rumah. Sebelum mencapai teras, Fian sempat menjelaskan, “Abang patungan ama
temen, biar bisa ngontrak di sini. Ada dua kamar, tapi disekat, biar jadi empat
kamar. Biasanya jadi base camp kita-kita yang penugasan di sini.” Lalu
Fian masuk ke dalam dan menyapa. “Samlekum!” Suaranya menggelegar dan maskulin
sekali.
Namun hampir tak ada yang membalas.
Kecuali Bondan yang mengangkat kepalanya sebentar, sambil menyapa, “Oy!”
Setelahnya, Bondan lanjut lagi video call-an dengan Lela.
Ruang tengah rumah itu lumayan ramai.
Mungkin ada tujuh lelaki macho kekar yang semuanya TNI AU. Tiga di
antara mereka telanjang dada, memamerkan otot-otot menggiurkan. Dua lainnya
pakai tanktop. Dua sisanya sarungan. Erick ada di sana juga, sedang main
Mobile Legend dengan seseorang yang enggak pernah kutemui, tapi kayaknya aku
melihat dia hari ini di aula. Empat di antara mereka ikut di acara naik gunung
minggu lalu. Sehingga, Fian tidak mengenalkanku lagi.
“Kalau Abang mandi dulu, boleh?” tanya
Fian, sembari melepas jaket bombernya.
“Oh ....”
“Soalnya di kosan kalian tuh kamar
mandinya di luar. Enggak nyaman.”
“Boleh, Bang.”
“Lima menit aja. Adek tunggu di situ.”
Setelah Fian masuk kamarnya, aku duduk
di sofa ruang depan. Sofa untuk dua orang, yang di sebelahnya ada sofa panjang
untuk tiga orang. Nah, Erick ada di situ. Telanjang dada. Memamerkan kulit
telanjangnya yang kecokelatan. Otot-ototnya kekar, tetapi enggak sebesar otot
Fian. Di lehernya menggantung dog tag perak ala-ala cowok militer.
Mukanya agak bete karena tim rank-nya kalah.
“Anjing! Goblok itu mage-nya!”
semprot Erick dengan kesal.
Tentara yang aku enggak tahu namanya,
kita namai saja Puting Hitam (karena putingnya agak besar dan berwarna gelap),
menyenggol. “Udahan dulu. Ngaco mulu dari tadi timnya.”
“Mestinya lu ajakin temen lu yang atlet
itu.”
“Lagi pacaran dia!”
Erick dan Puting Hitam menurunkan
ponselnya setelah kekalahan permainan. Puting Hitam langsung buka aplikasi
lain—mungkin Whatsapp. Sementara Erick langsung bersandar ke sofa, melipat
tangannya di belakang kepala, memamerkan keteknya yang berbulu halus. (Hampir
saja aku menawari sugar waxing-nya Ida untuk membuka obrolan.)
Erick menoleh ke arahku. “Woy, Bro!”
sapanya.
“Hei juga, Bro,” jawabku, dengan suara
di-macho-macho-in. Nge-bass. Dalam. Kayak suara Morgan Freeman.
Aku berusaha keras untuk enggak
memberikan vibes Ezelio di depan Erick. Takutnya aku di-bully
Erick, kayak dia nge-bully adiknya sendiri.
“Patroli ..., tadi?” Erick mengedikkan
dagunya.
“Iya .... Bro.” Aku menelan ludah.
Oh. Aku harus agak ngangkang kayak
Erick.
Aku membuka lebar jarak antar pahaku.
Lalu aku mengalungkan lenganku ke sandaran sofa. Sembari aku berusaha terlihat
nyaman kayak bapak-bapak.
“Aman?”
“Aman, Bro.”
Lama-lama serem juga ya ngobrol sama
Erick. Dia punya aura intimidatif macam kakak kelas tukang bully.
Seakan-akan aku enggak boleh bersikap macam-macam, kalau aku enggak mau dihajar
sama seluruh kakak angkatan.
“Lu tuh yang ngecek medis kan tadi?”
tanya Erick lagi. Dia menurunkan satu tangannya, kemudian mengalungkan tangan
yang lain ke sandaran sofa sepertiku.
“Iya.”
“Aman?”
“Aman.” Aku tersenyum lebar. “Eh,
enggak. Maksudnya, ada yang gugur, sih.”
Oh sial. Suaraku mulai kedengaran
melengking.
Persis boti.
“Ya bagus, lah. Bibit-bibit kacrut
mah kagak usah sok-sokan pengin masuk tentara,” sahut Erick dengan congkak.
Gagah banget, sih. Aku enggak
tersinggung.
Melihat lagaknya yang cool dan
intimidatif, membuatku ingin berkata, “Ampun, Tuan. Silakan perkosa aku. Aku
ikhlas.”
Gimana pun, Erick tuh beda banget dari
Fian. Di luar sikapnya yang nyebelin dan bully, Erick punya vibes
alfa yang memancar dengan gahar. Bisa jadi kalau mereka bikin geng, Ericklah leader-nya.
Fian hanya menjadi another alpha guy in the circle yang lebih approachable
dan baik hati. (Dan badannya paling seksi.) Erick punya vibes
“penguasa”. Vibes yang bikin semua boti di sekolah menyodorkan
uang bekal mereka dengan ketakutan karena dipalak Erick di dekat lapangan.
Masih ingat waktu aku dibonceng Erick
dari gunung hingga kosan Ezel? Itu aku deg-degan, cuy. Takut banget
tanganku nyenggol punggung Erick, lalu dia jadi ngamuk besar—sama kayak pas di
pesawat tadi. Sekali sentuh, bisa meledak.
Tapi anehnya, aku merasa Erick tuh
seksi. Meskipun nyebelin, ya dia seksi.
Buktinya kontolku ngaceng lagi
saat ini.
(Ah emang sedari tadi aku lagi sange,
sih.)
(Chapter berapa ini ya Allah
sampai akhirnya aku bisa crot?!)
“Lu tuh yang bakal bantuin Captain
Sigit, kan?” tanya Erick tiba-tiba, setelah jeda beberapa saat.
“Captain Sigit?”
“Dokter Sigit,” ralat Erick. “Yang tadi
lu bantuin.”
“Oh! Buat ... penelitiannya?”
“He-eh.”
“Iya, Bro.” Aku mengangguk sopan. Masih
berusaha kedengaran macho.
Erick langsung menyenggol Puting Hitam.
“Nih! Orangnya nih! Hahaha ... yang entar neliti kontol lo! Hahaha ....”
Puting Hitam tersenyum kecil, mendongak
dari hape-nya sambil menatapku, lalu membalas sikutan Erick. “Kontol lu juga
anjing!”
Erick melirik ke arahku dengan tatapan
jenaka. “Entar pas ngocokin dia, lu ukur juga ya kontolnya sependek apa.”
“ANJING!” Puting Hitam langsung
menggeplak kepala Erick.
Erick menghindar dan ngakak.
“Kontol dia sunat lagi aja, Mas!” sahut
Puting Hitam sembari menendang perut Erick.
“Biarin! Kontol gue panjang! Dua puluh
dua senti! HAHAHA ...! Disunat dua kali juga masih lebih panjang dari elu!”
Glek.
Dua puluh dua senti.
Apakah ini momennya untukku bertransisi
dari versatile menjadi full-time boti?
“Iya iya ... entar aku telepon lagi
....” Bondan tiba-tiba muncul ke ruang depan, bergabung bersama kami di sofa
tunggal, yang kebetulan berada tepat di sebelahku. “Kamu tidur duluan aja. Aku
masih main ama yang lain .... Oke? Iya .... Iya .... Love you.”
“Bon!” panggil Erick. “Si Rohmat yang
bakal assist Capt. Sigit entar.”
Bondan membelalak kecil. “Wah? Serius?!”
Aku hanya tersenyum kecil sambil
mengangguk. Pahaku perlahan-lahan merapat, karena kontol ngaceng-ku
mulai enggak bisa disembunyikan lagi.
Soalnya ....
... kok Bondan hot banget, ya?!
Subhanallah, masyaallah, allahuakbar.
Kemaren pas di gunung si Bondan ini
biasa-biasa aja.
Sekarang malah kelihata 100x lebih seksi
dibanding sebelumnya.
Apa karena aku lagi sange berat,
ya? Jadinya yang muka preman pun pengin kuembat.
Bondan itu enggak jelek, Kak. Tapi dia
bukan yang terganteng kalau dibandingkan Fian sama Erick. Mukanya laki banget,
lah. Kulitnya paling gelap. Badannya besar, berotot, tapi lebih “basah”
ototnya. Jadinya kayak yang gemoy, tapi sebenarnya otot semua kok itu.
Badannya lumayan bongsor juga, hampir setara Fian. Bibirnya tebal, alisnya
tebal, bulu matanya lentik. Waktu naik gunung kemaren, romantis banget si
Bondan ke pacarnya, Lela. Bikin iri sejuta umat.
Malam ini, Bondan cuma sarungan aja.
Sisanya telanjang. Dadanya tuh membusung, bidang, berotot, tapi bagian
putingnya agak mancung ke depan. Ada bulu dada sedikit di antara belahan
dadanya. Tapi ada banyak bulu jembut yang merambat hingga ke pusarnya. Bulu
keteknya? Heaven. Aroma tubuh yang menguar dari ketek itu laki banget.
Hangat pula. Panas tubuh Bondan terasa hingga ke kulitku, berasa sedang dipeluk
langsung oleh Bondan.
Karena sekarang dia duduk di sebelahku,
kadar sange-ku meroket hingga melebihi atmosfer Bumi.
Aku mengambil bantal sofa dan
meletakkannya ke atas selangkanganku tanpa kentara.
“Mantap!” sahut Bondan, mengomentari
fakta bahwa aku akan membantu dr. Sigit untuk penelitiannya. “Santuy berarti
kita. Ada orang daleeem .... Bisa dinego-nego, lah. Iye enggak?”
Bondan menyenggol pahaku.
Aku tertawa dengan canggung.
Pada saat yang sama, Fian keluar dari
kamar tidurnya. Dia telanjang, hanya mengenakan sehelai handuk di bawah
perutnya. Aku bisa melihat otot lengan dan dada itu lebih jelas. Lengannya
berayun dengan maskulin selama Fian menyeberangi ruangan. Melewati sekumpulan
tentara yang sedang main gitar, menuju kamar mandi yang tampaknya ada di dekat
dapur.
“Lu tuh entar ngapain, sik?” tanya
Erick, sambil kembali mengangkat ponsel dan membuka lagi Mobile Legend.
Aku menggelengkan kepala. “Belum di-briefing
detail sama dr. Sigit. Baru ditawarin sore tadi, pas closing. Katanya
entar weekend baru mulai.”
“Iye. Sabtu entar kita pada disuruh
ngadep Capt. Sigit,” sahut Bondan, seraya merebahkan kepalanya ke sandaran
sofa. “Serem gue. Takut kagak bisa konsisten.”
“Jangan ngewe mulu makanya lu,”
sergah Erick. “Ketemu si Lela di pom bensin aja lu sempet-sempetin celup!
Anjing emang kontol lu biadab!”
“Kalian tanya aja si Parman. Dia ikut batch
satu kemaren,” ungkap Puting Hitam. “Man!”
Yang namanya Parman ternyata ada di
sini. Sedang main gitar.
“Siap, Brother! Kenapa?” jawab Parman,
menghentikan petikannya.
“Waktu kemaren penelitian ama Capt.
Sigit, ngapain aja?”
“Yang kanker prostat?”
“Ho-oh!”
“Ya banyak,” jawab Parman, kembali
memetik senarnya. Genjreeeng .... “Biji lu dimainin. Lubang lu
dicolok-colok. Kagak boleh crot berapa hari—“
“Dikocokin juga, kan?” sela Bondan.
“Yoi!” Genjreeeng ....
“Buat apaan, dah?” Bondan
menyenggol pahaku. “Kita kagak ngocok sendiri?”
Aku mengangkat bahu lagi. “Belum tahu,
Bang. Sumpah. Aku belum di-briefing lebih lanjut. Baru ditawarin ama dr.
Sigit.”
“Ya tapi kalau ama elu mah ... cincay,
lah. Kenal kita soalnya.”
“Lah elu mah kenal enggak kenal
tetep elu crot-in, Bon?”
“ANJING!” Bondan mengambil bantal di
atas pangkuanku, lalu melemparkannya ke arah Erick.
BUK!
Bantal mendarat di dinding belakang
Erick.
Erick tertawa ngakak.
Aku langsung merapatkan pahaku karena
terkejut. Soalnya sekarang kontol ngaceng-ku terekspos lagi. Pelan-pelan
kukuak lagi pahaku hingga terbuka sembari memastikan jendolan kontolku tidak
kelihatan.
Untuk beberapa saat, Bondan, Erick, dan
Puting Hitam bercanda dan tertawa sambil saling bully. Saling menghina
kontol, harga diri, dan kisah internal mereka waktu dikejar waria di dekat
alun-alun kota. Topik berubah setelahnya karena Erick dan Puting Hitam sudah
balik lagi ke rank mereka.
Di tengah kesibukan masing-masing itu,
Bondan mencolekku. “Lu emang sering meriksa kayak begitu?” bisiknya.
“Meriksa apa?’
“Ya meriksa burung, lah. Meriksa lubang
belakang juga.”
Aku terkekeh renyah, mencoba bersikap
akrab. “Bagian dari tugasku Bang di klinik.”
“Oh jadi sering?”
“Iya.”
Enggak juga, sih. Tapi aku enggak bisa
menampilkan kesan kurang berpengalaman di depan mereka. Nanti mereka enggak
percaya aku sanggup melakukan itu semua.
“Sehari bisa berapa pasien yang elu cek
bijinya?”
Dengan ngarang aku menjawab, “Bisa dua
atau tiga orang, lah. Rata-rata cek prostatitis.” Kemudian supaya terdengar
‘keren’, aku melemparkan istilah-istilah medis yang kuharap tidak diketahui
oleh Bondan. “Benign Prostatic Hyperplasia ..., anal fissures
..., epididymitis ..., pelvic inflammatory ..., intertrigo ...,
bromhidrosis ..., hyperhidrosis .... Banyak, lah.”
Aku beneran meracau total. Tiga istilah
terakhir yang kusebutkan sudah bukan tenang selangkangan lagi, tapi lebih ke
penyakit-penyakit ketek.
Untungnya Bondan enggak berkomentar. Dia
tetap fokus pada apa yang mungkin akan kulakukan bersama dr. Sigit nantinya.
“Terus ..., suka ada temuan-temuan? Penyakit kanker burung?”
“Kadang ada, Bang. Langsung kita rujuk
ke spesialis kalau misal ada benjolan.”
Entah mengapa, aku bisa memergoki Bondan
menelan ludah. Jakunnya bergerak naik turun. “Itu ... itu bisa kelihatan?”
“Bisa kelihatan.”
“Tapi selain kanker ..., bisa ngecek
penyakit-penyakit lain juga enggak?” Tatapan Bondan terlihat penasaran. Dia
juga menoleh ke arah Erick dan semua tentara di ruangan itu, seakan-akan
memastikan tak ada yang mendengar pertanyaannya barusan.
“Penyakit kayak gimana?”
Dengan suara yang lebih pelan, supaya
tidak kedengaran, Bondan menjawab, “Penyakit misalnya—“
“Dek!” Fian menyela Bondan.
Fian berdiri di belakang Bondan,
melilitkan handuk ke pinggang, dengan badan lembap sehabis mandi. Rambutnya
juga basah. Titik-titik air menempel di beberapa lekukan ototnya yang kokoh.
Bondan agak terlonjak saat Fian muncul.
Dia langsung menghentikan pertanyaannya.
“Lagi bahas apa?”
“Enggaaakkk ...,” jawab Bondan, dengan
agak defensif.
“Saya pinjam si Rohmatnya, ya.” Fian
menepuk bahu Bondan. “Yuk, Dek!”
Harusnya aku bertanya, mau diajak ke
mana. Tapi di posisi itu aku menurut saja. Aku langsung berdiri—menurunkan
tepian bawahku supaya area selangkangan ter-cover—lalu membuntuti Fian
ke kamarnya. Aku enggak sanggup lagi menghadapi Bondan yang tampil seksi,
menguarkan kejantanannya.
Sedari tadi aku enggak tahan pengin
ngenyot puting Bondan yang berbulu itu, atau meremas dada itu, atau melumat
semua bulu di tubuhnya. Aku tahu membuntuti Fian ke kamarnya dalam kondisi Fian
handukan doang sama saja keluar mulut harimau masuk mulut buaya.
Tapi seenggaknya, di kamar Fian, hanya
akan ada Fian. Bukan tujuh tentara seksi nan maskulin yang setengahnya
telanjang dada dan menguarkan kehangatan pria dewasa.
Aku masuk ke sebuah kamar yang disekat
menjadi dua ruangan. Pemisahnya hanyalah papan triplek tipis yang tidak sampai
ke langit-langit, tetapi di masing-masing ruangan terdapat lampu sendiri.
Ketika aku melewati pintu, aku bisa melihat kedua bagian kamar. Masing-masing
punya ranjang single dengan bedsheet dan bedcover berbeda.
Lalu meja kerja dan lemari baju yang beda total. Satu kamar tampak berantakan
ala-ala bujangan. Satu kamar terlihat sangat rapi. Hanya terdapat sehelai kaus
putih saja berserakan di atas tempat tidur.
Fian membawaku ke kamar yang rapi.
Pantas saja Fian hobi menginap di kamar
Ida. Kalau kamar tidurnya macam begini, sih, bye-bye privacy. Untuk coli
pun harus memastikan orang di kamar sebelah sudah tidur.
“Adek diapain sama si Bondan?” bisik
Fian seraya menutup pintu.
Aku duduk di atas tempat tidur sang
tentara, mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Kamar bagian Fian ini
aroma kayu dan rempah. Terasa menenangkan sekaligus maskulin. “Enggak
diapa-apain,” jawabku jujur.
“Hati-hati sama dia.”
“Hati-hati kenapa?”
Fian mengambil jeda sejenak sebelum
menjawab. Dia menarik sebotol body lotion dari atas meja lalu menuang
sedikit isinya ke atas telapak tangan. “Bondan orangnya agak-agak ... frontal.”
“Dalam artian?”
“Ya ... frontal.” Fian memutar otak
untuk mendefinisikan Bondan tanpa berniat menjelek-jelekkannya. Kedua tangannya
asyik mengoles losion ke tubuhnya.
Aku tahu Kakak tahu aku sedang sange,
tapi aku enggak bisa skip fakta bahwa melihat Fian mengoles body
lotion terlihat sangat seksi di mataku. Aku merapatkan paha sambil menarik
bantal Fian untuk menutupi area selangkanganku. Aku enggak peduli lagi kalau
aku kelihatan terlalu feminin duduk seperti ini.
“Otaknya mesum,” kata Fian akhirnya.
“Pikirannya ke arah ‘sana’ mulu.”
“Masa sih? Waktu di gunung kemaren
kayaknya Bang Bondan biasa-biasa aja.”
“Ya itu kan di depan ceweknya. Di depan
kita ... bisa beda cerita.”
“Oh ....” Aku manggut-manggut kecil.
“Tapi aku tadi enggak diapa-apain, kok. Abang tenang aja.”
“Ya Adek hati-hati aja.” Fian mengoles
lagi losion, kali ini ke pahanya. Sehingga Fian menaikkan satu kaki ke atas tempat
tidur. Handuknya tersingkap. Aku bisa melihat apa pun yang menggantung di balik
handuk itu, tetapi dengan tolol aku mengalihkan pandangan ke arah lain.
Belum bisa. Aku belum bisa melihat
kontol Fian sekarang.
Kalau aku melihatnya dalam situasi
gairah seksual memuncak hingga ke langit ketujuh, kontolku otomatis meledak
menyemburkan sperma.
“Kalau sudah ... ‘naik’ ..., Bondan udah
enggak akan lihat jenis kelamin lagi, Dek,” Fian terkekeh. “Si Erick aja
disuruh ‘mainin’ cuma gara-gara dia udah kebelet.”
“Masa?”
“Lebih parah dari itu, Dek. Tapi Abang
enggak akan cerita semuanya.” Fian selesai dengan paha dan betisnya. Tiba-tiba
dia mengulurkan losion itu ke arahku, lalu memintaku ..., “Tolong olesin di
punggung.”
“Oke.” Aku berdiri dan buru-buru
menurunkan tepian bawah kausku. Soalnya jendolan kontolku sudah terlalu
kentara.
Fian berbalik memunggungiku, memamerkan
punggung kokoh yang lebar, berotot, dengan lekukan tulang punggung yang
sempurna. Tubuh itu terlihat sangat besar di depanku. Mengundangku untuk
memeluknya dari belakang.
“Masih basah, Bang.”
“Oh.” Fian celingukan mencari handuk.
Namun tak ada handuk lain lagi di ruangan itu. Jadi Fian ....
... melepas handuk yang sedang
melilitnya.
Aku otomatis melihat pantat seksi yang
bulat itu ketika Fian melucuti handuknya, lalu menaikkannya ke punggung.
Tentu saja aku langsung berbalik ke arah
lain. Dadaku berdebar-debar tak keruan. Kudengar Fian membuka lemari,
mengenakan sesuatu, lalu menepuk lagi bahuku.
“Udah. Abang udah pake celana.”
Aku menoleh pelan-pelan.
Ya. Fian sudah pakai celana.
....
CELANA DALAM!
....
Hanya celana dalam!
Sialan!
Celana dalam putih yang membungkus
panggulnya dengan sempurna. Bahannya tipis, sehingga aku bisa melihat lekukan
belahan pantat Fian tercetak di celana dalam itu. Fian sudah membelakangiku
lagi, tetapi tetap saja ini pemandang yang ....
... aduh, nyerah, deh.
Goblok total emang tentara yang satu
ini.
Sudah tahu mukanya ganteng, badannya hot,
masih aja santai tampil hampir telanjang di depan cowok yang jelas-jelas gay
sepertiku.
Yang bisa kulakukan hanyalah menarik
napas panjang dan menenangkan diri. Aku menuang losion ke tangan, lalu menebar
cairan itu ke seluruh area punggung Fian yang lebar. Yang permukaan kulitnya
kenyal dan lembut. Aku bisa merasakan otot-otot punggung itu bereaksi ketika
aku mengusapnya dengan perlahan.
“Bondan tuh udah mau nikah,” kata Fian
tiba-tiba. “Sama si Lela. Adek udah ketemu, kan?”
“Yang waktu naik gunung kemaren, kan?”
“Bulan depan nikahnya. Di aula lanud itu
nikahnya. Makanya dia udah enggak tinggal di sini lagi. Udah ngontrak sendiri
dia.”
“Dulunya Kak Bondan di sini?”
“Iya. Di kamar seberang. Sekarang udah
diisi sama si Parman.”
“Kak Parman itu enggak ikut ke gunung
kemaren.”
“Dia koordinator atraksi buat acara
pembukaan entar. Sibuk banget, ngurus acara. Harusnya dia yang patroli barusan.
Tapi dia capek, pengin santai-santai. Makanya Abang nawarin buat gantiin.”
Aku selesai mengusap losion itu.
Fian berbalik.
Aku mati-matian tidak melihat ke arah
jendolan kontol Fian di bawah sana.
“Makasih ya, Dek.” Fian tersenyum lebar.
Dia meletakkan lagi losionnya, lalu mengambil deodoran. Tapi sebelum
mengolesnya, dia mengangkat lengannya dan memamerkan ketek mulusnya kepadaku.
“Masih belum tumbuh.”
Anjing.
Tentara edan.
Malah mamerin ketek depan mukaku.
Fuck.
“I ... iya.”
Bahkan Fian mengoleskan deodoran itu di
depanku. Jarakku dari ketek itu hanya beberapa senti aja. Kayak sengajain gitu,
Kak.
Kan nyebelin, ya.
Mana tunas-tunas halus bulu keteknya
mulai tumbuh pula.
Aroma keteknya aroma sabun mandi. Yang
langsung tergantikan oleh aroma deodoran yang dioles basah ke ketek seksi itu.
Karena tak mau crot, aku
mengalihkan pandangan ke arah lain. Pandanganku tanpa sengaja jatuh ke sebuah
foto yang dibingkai kecil, yang diletakkan berdiri di atas meja. Foto itu
adalah foto Fian mengenakan seragam tentara bersama seorang perempuan. Foto
berdua di depan salah satu pesawat jet tempur.
“Siapa itu?”
Fian menoleh ke arah yang kulihat. “Oh
... itu ....” Tiba-tiba saja Fian meluncur ke meja dan menidurkan foto itu.
“Ini ... masa lalu. Hehe ....” Fian terlihat salah tingkah.
“Mantan Abang?”
“Iya.” Fian tak berani menatap wajahku.
Dia menyelesaikan deodoran di ketek satunya dengan kilat, lalu mengambil kaus
dari lemari tanpa bergerak dari depan meja. Sehingga, aku tak punya kesempatan
untuk melihat lagi ke arah bingkai foto itu.
“Aku enggak akan bilang sama Ida, kok.”
“Gapapa ....” Fian terkekeh. “Kan itu
masa lalu.”
“Abang masih sayang ama yang di foto?”
“Enggak. Udah enggak.” Fian masih tak
menoleh ke arahku.
“Dia yang patroli sama Abang?”
Fian memberi jeda sejenak. Dia
mengenakan celana pendek dan kaus yang baru ke tubuhnya. “Iya.” Kemudian, Fian
menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
“Di mana orangnya sekarang, Bang?”
Fian menggelengkan kepala. “Di ...
rumahnya. Lagi tidur. Karena ini udah malam.” Fian mencoba bercanda, tetapi
candaan itu benar-benar canggung. Kelihatan jelas dia enggak mau membahas soal
perempuan itu, tetapi dia enggak tega menghentikanku bertanya-tanya.
Drrrttt ...! Drrrttt ...!
Ponsel Fian tiba-tiba bergetar. Dengan
kilat dia menyambarnya dan melihat nama yang tampil di layar. “Pak Kresna?”
gumamnya.
Aku memanfaatkan hal tersebut untuk
meminta izin. “Bang, aku mau ke toilet.”
“Oh.” Fian terlihat bingung. “Di ...
belakang dapur ya, Dek. Abang terima telepon dulu.”
“Iya, Bang.”
“Halo?”
Aku keluar dari kamar sebelum Fian
bicara dengan siapa pun itu di telepon. Ketika aku menyeberangi ruangan, semua
tentara yang ada di sana sudah telanjang dada. Mereka masih asyik dengan
aktivitas masing-masing, tetapi yang tadinya pakai baju, sekarang sudah dilepas
dan disampirkan ke bahu karena panas.
Badanku otomatis panas juga. Aku enggak
sanggup melihat sekumpulan tentara kekar telanjang dada dalam satu ruangan yang
sama. Aku menyeberangi ruang besar itu menuju kamar mandi yang berada di balik
dapur.
Di kamar mandi, aku mengambil momen
sejenak untuk menyandarkan tubuh ke balik pintu. Aku menarik napas panjang dan
menenangkan diri. Khususnya menenangkan kontol karena rasanya ngilu dan perih ngaceng
terus-terusan. Aku membuka celanaku, kontolku langsung terkuak menara beton.
Tuing!
Cairan precum sudah membanjiri
seluruh kepala kontolku. Membasahi celana dalamku. Mungkin nanti akan
meninggalkan bercak-bercak.
Aku mencoba untuk kencing ke toilet,
tetapi aku kesulitan. Aku harus agak nungging ke belakang, membungkukkan badan,
lalu mengarahkan kontol ngaceng-ku secara tepat ke lubang toilet.
Sewaktu air kencing itu melewati kelenjar prostat, sebelum masuk ke uretra,
rasanya sedap-sedap nikmat.
“Aaaaaaaaahhhhhh ....” Aku sampai
mendesah dan merinding keenakan saat kencing.
Rasanya pengin nangis, ya Tuhan. Pipis
doang udah kayak orgasme.
Apa sekalian aku kocok aja kontolku di
sini supaya semua rasa sange ini reda?
“Aaaaaaaaahhhhhh ....”
Usai pipis penuh perjuangan itu, aku
menaikkan lagi celana dan membuka pintu kamar mandi. Aku terlonjak kaget ketika
mendapati seseorang sudah berdiri di ambang pintu.
Bondan.
Dia menyandarkan satu lengannya ke kusen
pintu, dan satu tangan yang lain di pinggang. Dia menghalangi jalanku. Dan
keteknya terekspos nyata, menampilkan bulu ketek rimbun yang vibes
hangatnya langsung terasa ke wajahku. Aromanya?
Laki banget.
“Oi,” bisiknya, sembari menoleh ke
belakang. “Bantuin gue, lah.”
Aku menelan ludah. “Bantu ... bantuin
apa?”
“Ngecek penyakit.” Bondan menunduk ke
bawah, ke arah selangkangannya. “Mumpung elu di sini. Bentar aja. Yuk?”
“Nge ... ngecek apa?”
“Ngecek gue. Mau ya?!”
Bondan tampak intimidatif. Badannya
besar. Hampir sebesar Fian. Dengan muka sangar, status tentara, otot kekar,
wajar dong kalau aku ciut. Aku seperti sedang di-bully, meskipun Bondan
enggak nge-bully. Tapi lututku tetap gemetaran dan ketakutan.
“Di kamar aja. Yuk!” Bondan menurunkan
tangannya dan menduluiku ke sebuah kamar di seberang kamar Fian. Keenam tentara
yang lain sibuk sendiri, tak ada yang melihatku masuk bersama Bondan ke kamar
itu.
Kamarnya hampir sama dengan kamar Fian.
Sebuah ruangan besar yang disekat menjadi dua. Di sini, pemisahnya adalah
tirai. Kedua kamar tampak berantakan.
Bondan mengunci kamar itu dan mengajakku
duduk di atas salah satu tempat tidur. Dia tampak gagah sekali. Mendadak
tubuhnya kelihatan lebih besar kalau sudah berduaan begini. Dadanya tampak
lebih mancung. Bulu-bulunya kelihatan lebih banyak.
“Gue ada problem,” katanya,
melirik dulu ke pintu, memastikan tak ada yang mendengar kami berdua di sini.
“Gue bentar lagi kawin ama si Lela.”
“Terus?”
“Tapi gue ... gue ada penyakit di burung
gue. Lu periksain lah sekarang.”
Aku membelalak sejenak, tak percaya
Bondan akan langsung sefrontal itu. “Aku ... aku bukan dokter, Bang—“
“Tapi kan lu perawat.”
“Tugasku sebagai perawat cuma meriksa
aja, enggak sampai mendiagnos—“
“Ya sama!” sergah Bondan memotongku.
“Tolong periksain aja dulu. Apa penyakit gue. Entar kalau elu udah confirm,
gue pasti ke dokter buat pengobatan.”
Aku menelan ludah lagi. “Emangnya, apa
yang Abang rasain?”
Tiba-tiba, Bondan berdiri di depanku dan
melepas sarungnya. Dia tak mengenakan apa-apa di balik sarung itu. Sehingga
kontolnya langsung terkuak di depanku.
Untuk sesaat, aku membeku.
Terkejut. Sekaligus takjub.
Di tengah puncak rasa sange-ku,
di tengah gairah seksual yang tak kunjung tersalurkan lewat ejakulasi gara-gara
aku terdistraksi terus, tiba-tiba aku melihat kontol seorang tentara.
Kontol tentara!
Real tentara berbody gagah, manly, STRAIGHT,
dan masih muda.
Kontol itu setengah ngaceng.
Sudah disunat. Bulu jembutnya rimbun dan banyak, tetapi tidak panjang. Buah
zakar Bondan besar dan menggantung bulat. Tampak sehat.
Dari pengamatan visualku, tak ada apa
pun yang aneh dengan kontol itu. Kontol Bondan terlihat sehat. Tidak ada kutil,
kondiloma, atau papiloma. Bekas sunatnya juga rapi. Area sekitar pangkal atau
kulit biji pelernya juga terlihat normal.
“Apa yang jadi keluhannya, Bang?”
“Gue gampang naek,” jawabnya, sembari
memijat sebentar kontolnya. “Lu pegang, coba.”
Aku masih belum mau memegang. Aku tetap
bertanya, “Gampang naek maksudnya gimana?”
“Gue kayaknya punya penyakit kelamin.”
Bondan tiba-tiba menarik satu tanganku ke atas, mengarahkannya ke putingnya
yang berbulu. Lalu, jemariku disuruh memilin-milin puting itu.
Apa yang terjadi?
Kontol Bondan mengembang keras menjadi
ereksi.
Ukurannya normal, bukan 22 cm. Tapi
kontol itu tiba-tiba mengacung ke atas, berkedut kecil seperti keenakan,
kelihatan kokoh seperti tiang bendera.
“Gue gampang sange. Dipegang
dikit, burung gue naek. Gue takut pas kawin entar ..., gue mampus tiap dicolek
istri. Tolongin gue. Periksain ..., apa yang salah sama burung gue.”
Aku membeku terkejut. Aku belum bisa
memberikan respons.
“Gue juga kepilih buat penelitiannya
Capt. Sigit. Gue kagak mau ketahuan punya penyakit seks. Makanya, gue lega elu
jadi asistennya. Tapi periksain dulu, lah. Pegang-pegang aja. Gue ikhlas! Lu
apain pun, gue mau. Yang penting lu periksain gue.”
“Aku ... aku enggak punya kapasitas
untuk—“
“Asal lu hati-hati aja,” sela Bondan
kemudian. “Kalau lu megangnya terlalu enak ..., entar gue jadi pengin dibikin
enak. Paham? Sini! Pegang! Pegang burung gue!”
Komentar
Posting Komentar