(HD) 18A. Dipegang Dikit Burung Gue Naek




Halo, Kak.

Bentar, ya ....

Aku sedang mengumpulkan nyawa yang tercecer di dalam hitam gelap malam.

Nyawa yang membuncah karena Fian tiba-tiba memegang tanganku sepanjang pendaratan.

Hancur sudah tubuhku dipenuhi berbagai jenis hormon kebahagiaan. Hormon sange (misal ada). Dan hormon cinta. Aku enggak mengatakan apa-apa lagi ketika pesawat dengan mulus mendarat di atas landasan, lalu bergerak menuju tempat parkir yang sama. Aku juga tidak menanggapi ketika Fian mengedikkan kepalanya, “Yuk!” sembari dia membantuku membuka pintu pesawat. Aku membuntuti Fian dalam diam menuju parkiran motor.

Fian juga enggak mengatakan apa-apa. Dia berbicara sejenak dengan rekannya di hanggar, atau menyapa taruna yang sedang berjaga. Tapi dia enggak membahas apa pun lagi denganku.

Aku diboncengnya di motor besar itu melewati jalanan kota yang mulai sepi.

Fian melajutkan motor besarnya dengan santai, tak terburu-buru. Kami berbelok ke sebuah kompleks perumahan, tempat Fian selama ini ngekos.

Kami berhenti di sebuah rumah mungil yang pintu depannya terbuka. Beberapa motor berjejer di carport, seakan-akan sedang ada pesta. Ribut-ribut cowok bermain gitar, bernyanyi, atau berteriak sambil Mobile Legends juga terdengar dari dalam.

“Lagi pada kumpul,” gumam Fian ke diri sendiri. Dia memarkir motornya di luar gerbang, lalu memasang standar.

Aku melompat turun. Masih menarik-narik turun kausku agar ngaceng kontolku tidak kelihatan.

“Masuk dulu, yuk!” kata Fian, menduluiku. “Bentar aja.”

Oke. Fian tidak membahas soal pegangan tangan itu. Kuanggap Fian tidak mempermasalakannya. Mungkin bagi Fian, itu hanyalah hal sepele. Hanya pegangan tangan. Mungkin Fian merasa, enggak mungkin aku baper gara-gara pegangan tangan itu. Iya. Toh Fian cowok straight yang kebetulan nyantuy-nyantuy aja nge-bromance ama cowok. Jadi harusnya aku enggak memikirkannya lagi. Apalagi membahasnya bersama Fian.

Aku harus move on!

Aku membuntuti Fian masuk ke dalam rumah. Sebelum mencapai teras, Fian sempat menjelaskan, “Abang patungan ama temen, biar bisa ngontrak di sini. Ada dua kamar, tapi disekat, biar jadi empat kamar. Biasanya jadi base camp kita-kita yang penugasan di sini.” Lalu Fian masuk ke dalam dan menyapa. “Samlekum!” Suaranya menggelegar dan maskulin sekali.

Namun hampir tak ada yang membalas. Kecuali Bondan yang mengangkat kepalanya sebentar, sambil menyapa, “Oy!” Setelahnya, Bondan lanjut lagi video call-an dengan Lela.

Ruang tengah rumah itu lumayan ramai. Mungkin ada tujuh lelaki macho kekar yang semuanya TNI AU. Tiga di antara mereka telanjang dada, memamerkan otot-otot menggiurkan. Dua lainnya pakai tanktop. Dua sisanya sarungan. Erick ada di sana juga, sedang main Mobile Legend dengan seseorang yang enggak pernah kutemui, tapi kayaknya aku melihat dia hari ini di aula. Empat di antara mereka ikut di acara naik gunung minggu lalu. Sehingga, Fian tidak mengenalkanku lagi.

“Kalau Abang mandi dulu, boleh?” tanya Fian, sembari melepas jaket bombernya.

“Oh ....”

“Soalnya di kosan kalian tuh kamar mandinya di luar. Enggak nyaman.”

“Boleh, Bang.”

“Lima menit aja. Adek tunggu di situ.”

Setelah Fian masuk kamarnya, aku duduk di sofa ruang depan. Sofa untuk dua orang, yang di sebelahnya ada sofa panjang untuk tiga orang. Nah, Erick ada di situ. Telanjang dada. Memamerkan kulit telanjangnya yang kecokelatan. Otot-ototnya kekar, tetapi enggak sebesar otot Fian. Di lehernya menggantung dog tag perak ala-ala cowok militer. Mukanya agak bete karena tim rank-nya kalah.

“Anjing! Goblok itu mage-nya!” semprot Erick dengan kesal.

Tentara yang aku enggak tahu namanya, kita namai saja Puting Hitam (karena putingnya agak besar dan berwarna gelap), menyenggol. “Udahan dulu. Ngaco mulu dari tadi timnya.”

“Mestinya lu ajakin temen lu yang atlet itu.”

“Lagi pacaran dia!”

Erick dan Puting Hitam menurunkan ponselnya setelah kekalahan permainan. Puting Hitam langsung buka aplikasi lain—mungkin Whatsapp. Sementara Erick langsung bersandar ke sofa, melipat tangannya di belakang kepala, memamerkan keteknya yang berbulu halus. (Hampir saja aku menawari sugar waxing-nya Ida untuk membuka obrolan.)

Erick menoleh ke arahku. “Woy, Bro!” sapanya.

“Hei juga, Bro,” jawabku, dengan suara di-macho-macho-in. Nge-bass. Dalam. Kayak suara Morgan Freeman.

Aku berusaha keras untuk enggak memberikan vibes Ezelio di depan Erick. Takutnya aku di-bully Erick, kayak dia nge-bully adiknya sendiri.

“Patroli ..., tadi?” Erick mengedikkan dagunya.

“Iya .... Bro.” Aku menelan ludah.

Oh. Aku harus agak ngangkang kayak Erick.

Aku membuka lebar jarak antar pahaku. Lalu aku mengalungkan lenganku ke sandaran sofa. Sembari aku berusaha terlihat nyaman kayak bapak-bapak.

“Aman?”

“Aman, Bro.”

Lama-lama serem juga ya ngobrol sama Erick. Dia punya aura intimidatif macam kakak kelas tukang bully. Seakan-akan aku enggak boleh bersikap macam-macam, kalau aku enggak mau dihajar sama seluruh kakak angkatan.

“Lu tuh yang ngecek medis kan tadi?” tanya Erick lagi. Dia menurunkan satu tangannya, kemudian mengalungkan tangan yang lain ke sandaran sofa sepertiku.

“Iya.”

“Aman?”

“Aman.” Aku tersenyum lebar. “Eh, enggak. Maksudnya, ada yang gugur, sih.”

Oh sial. Suaraku mulai kedengaran melengking.

Persis boti.

“Ya bagus, lah. Bibit-bibit kacrut mah kagak usah sok-sokan pengin masuk tentara,” sahut Erick dengan congkak.

Gagah banget, sih. Aku enggak tersinggung.

Melihat lagaknya yang cool dan intimidatif, membuatku ingin berkata, “Ampun, Tuan. Silakan perkosa aku. Aku ikhlas.”

Gimana pun, Erick tuh beda banget dari Fian. Di luar sikapnya yang nyebelin dan bully, Erick punya vibes alfa yang memancar dengan gahar. Bisa jadi kalau mereka bikin geng, Ericklah leader-nya. Fian hanya menjadi another alpha guy in the circle yang lebih approachable dan baik hati. (Dan badannya paling seksi.) Erick punya vibes “penguasa”. Vibes yang bikin semua boti di sekolah menyodorkan uang bekal mereka dengan ketakutan karena dipalak Erick di dekat lapangan.

Masih ingat waktu aku dibonceng Erick dari gunung hingga kosan Ezel? Itu aku deg-degan, cuy. Takut banget tanganku nyenggol punggung Erick, lalu dia jadi ngamuk besar—sama kayak pas di pesawat tadi. Sekali sentuh, bisa meledak.

Tapi anehnya, aku merasa Erick tuh seksi. Meskipun nyebelin, ya dia seksi.

Buktinya kontolku ngaceng lagi saat ini.

(Ah emang sedari tadi aku lagi sange, sih.)

(Chapter berapa ini ya Allah sampai akhirnya aku bisa crot?!)

“Lu tuh yang bakal bantuin Captain Sigit, kan?” tanya Erick tiba-tiba, setelah jeda beberapa saat.

“Captain Sigit?”

“Dokter Sigit,” ralat Erick. “Yang tadi lu bantuin.”

“Oh! Buat ... penelitiannya?”

“He-eh.”

“Iya, Bro.” Aku mengangguk sopan. Masih berusaha kedengaran macho.

Erick langsung menyenggol Puting Hitam. “Nih! Orangnya nih! Hahaha ... yang entar neliti kontol lo! Hahaha ....”

Puting Hitam tersenyum kecil, mendongak dari hape-nya sambil menatapku, lalu membalas sikutan Erick. “Kontol lu juga anjing!”

Erick melirik ke arahku dengan tatapan jenaka. “Entar pas ngocokin dia, lu ukur juga ya kontolnya sependek apa.”

“ANJING!” Puting Hitam langsung menggeplak kepala Erick.

Erick menghindar dan ngakak.

“Kontol dia sunat lagi aja, Mas!” sahut Puting Hitam sembari menendang perut Erick.

“Biarin! Kontol gue panjang! Dua puluh dua senti! HAHAHA ...! Disunat dua kali juga masih lebih panjang dari elu!”

Glek.

Dua puluh dua senti.

Apakah ini momennya untukku bertransisi dari versatile menjadi full-time boti?

“Iya iya ... entar aku telepon lagi ....” Bondan tiba-tiba muncul ke ruang depan, bergabung bersama kami di sofa tunggal, yang kebetulan berada tepat di sebelahku. “Kamu tidur duluan aja. Aku masih main ama yang lain .... Oke? Iya .... Iya .... Love you.”

“Bon!” panggil Erick. “Si Rohmat yang bakal assist Capt. Sigit entar.”

Bondan membelalak kecil. “Wah? Serius?!”

Aku hanya tersenyum kecil sambil mengangguk. Pahaku perlahan-lahan merapat, karena kontol ngaceng-ku mulai enggak bisa disembunyikan lagi.

Soalnya ....

... kok Bondan hot banget, ya?!

Subhanallah, masyaallah, allahuakbar.

Kemaren pas di gunung si Bondan ini biasa-biasa aja.

Sekarang malah kelihata 100x lebih seksi dibanding sebelumnya.

Apa karena aku lagi sange berat, ya? Jadinya yang muka preman pun pengin kuembat.

Bondan itu enggak jelek, Kak. Tapi dia bukan yang terganteng kalau dibandingkan Fian sama Erick. Mukanya laki banget, lah. Kulitnya paling gelap. Badannya besar, berotot, tapi lebih “basah” ototnya. Jadinya kayak yang gemoy, tapi sebenarnya otot semua kok itu. Badannya lumayan bongsor juga, hampir setara Fian. Bibirnya tebal, alisnya tebal, bulu matanya lentik. Waktu naik gunung kemaren, romantis banget si Bondan ke pacarnya, Lela. Bikin iri sejuta umat.

Malam ini, Bondan cuma sarungan aja. Sisanya telanjang. Dadanya tuh membusung, bidang, berotot, tapi bagian putingnya agak mancung ke depan. Ada bulu dada sedikit di antara belahan dadanya. Tapi ada banyak bulu jembut yang merambat hingga ke pusarnya. Bulu keteknya? Heaven. Aroma tubuh yang menguar dari ketek itu laki banget. Hangat pula. Panas tubuh Bondan terasa hingga ke kulitku, berasa sedang dipeluk langsung oleh Bondan.

Karena sekarang dia duduk di sebelahku, kadar sange-ku meroket hingga melebihi atmosfer Bumi.

Aku mengambil bantal sofa dan meletakkannya ke atas selangkanganku tanpa kentara.

“Mantap!” sahut Bondan, mengomentari fakta bahwa aku akan membantu dr. Sigit untuk penelitiannya. “Santuy berarti kita. Ada orang daleeem .... Bisa dinego-nego, lah. Iye enggak?”

Bondan menyenggol pahaku.

Aku tertawa dengan canggung.

Pada saat yang sama, Fian keluar dari kamar tidurnya. Dia telanjang, hanya mengenakan sehelai handuk di bawah perutnya. Aku bisa melihat otot lengan dan dada itu lebih jelas. Lengannya berayun dengan maskulin selama Fian menyeberangi ruangan. Melewati sekumpulan tentara yang sedang main gitar, menuju kamar mandi yang tampaknya ada di dekat dapur.

“Lu tuh entar ngapain, sik?” tanya Erick, sambil kembali mengangkat ponsel dan membuka lagi Mobile Legend.

Aku menggelengkan kepala. “Belum di-briefing detail sama dr. Sigit. Baru ditawarin sore tadi, pas closing. Katanya entar weekend baru mulai.”

“Iye. Sabtu entar kita pada disuruh ngadep Capt. Sigit,” sahut Bondan, seraya merebahkan kepalanya ke sandaran sofa. “Serem gue. Takut kagak bisa konsisten.”

“Jangan ngewe mulu makanya lu,” sergah Erick. “Ketemu si Lela di pom bensin aja lu sempet-sempetin celup! Anjing emang kontol lu biadab!”

“Kalian tanya aja si Parman. Dia ikut batch satu kemaren,” ungkap Puting Hitam. “Man!”

Yang namanya Parman ternyata ada di sini. Sedang main gitar.

“Siap, Brother! Kenapa?” jawab Parman, menghentikan petikannya.

“Waktu kemaren penelitian ama Capt. Sigit, ngapain aja?”

“Yang kanker prostat?”

“Ho-oh!”

“Ya banyak,” jawab Parman, kembali memetik senarnya. Genjreeeng .... “Biji lu dimainin. Lubang lu dicolok-colok. Kagak boleh crot berapa hari—“

“Dikocokin juga, kan?” sela Bondan.

“Yoi!” Genjreeeng ....

“Buat apaan, dah?” Bondan menyenggol pahaku. “Kita kagak ngocok sendiri?”

Aku mengangkat bahu lagi. “Belum tahu, Bang. Sumpah. Aku belum di-briefing lebih lanjut. Baru ditawarin ama dr. Sigit.”

“Ya tapi kalau ama elu mah ... cincay, lah. Kenal kita soalnya.”

“Lah elu mah kenal enggak kenal tetep elu crot-in, Bon?”

“ANJING!” Bondan mengambil bantal di atas pangkuanku, lalu melemparkannya ke arah Erick.

BUK!

Bantal mendarat di dinding belakang Erick.

Erick tertawa ngakak.

Aku langsung merapatkan pahaku karena terkejut. Soalnya sekarang kontol ngaceng-ku terekspos lagi. Pelan-pelan kukuak lagi pahaku hingga terbuka sembari memastikan jendolan kontolku tidak kelihatan.

Untuk beberapa saat, Bondan, Erick, dan Puting Hitam bercanda dan tertawa sambil saling bully. Saling menghina kontol, harga diri, dan kisah internal mereka waktu dikejar waria di dekat alun-alun kota. Topik berubah setelahnya karena Erick dan Puting Hitam sudah balik lagi ke rank mereka.

Di tengah kesibukan masing-masing itu, Bondan mencolekku. “Lu emang sering meriksa kayak begitu?” bisiknya.

“Meriksa apa?’

“Ya meriksa burung, lah. Meriksa lubang belakang juga.”

Aku terkekeh renyah, mencoba bersikap akrab. “Bagian dari tugasku Bang di klinik.”

“Oh jadi sering?”

“Iya.”

Enggak juga, sih. Tapi aku enggak bisa menampilkan kesan kurang berpengalaman di depan mereka. Nanti mereka enggak percaya aku sanggup melakukan itu semua.

“Sehari bisa berapa pasien yang elu cek bijinya?”

Dengan ngarang aku menjawab, “Bisa dua atau tiga orang, lah. Rata-rata cek prostatitis.” Kemudian supaya terdengar ‘keren’, aku melemparkan istilah-istilah medis yang kuharap tidak diketahui oleh Bondan. “Benign Prostatic Hyperplasia ..., anal fissures ..., epididymitis ..., pelvic inflammatory ..., intertrigo ..., bromhidrosis ..., hyperhidrosis .... Banyak, lah.”

Aku beneran meracau total. Tiga istilah terakhir yang kusebutkan sudah bukan tenang selangkangan lagi, tapi lebih ke penyakit-penyakit ketek.

Untungnya Bondan enggak berkomentar. Dia tetap fokus pada apa yang mungkin akan kulakukan bersama dr. Sigit nantinya. “Terus ..., suka ada temuan-temuan? Penyakit kanker burung?”

“Kadang ada, Bang. Langsung kita rujuk ke spesialis kalau misal ada benjolan.”

Entah mengapa, aku bisa memergoki Bondan menelan ludah. Jakunnya bergerak naik turun. “Itu ... itu bisa kelihatan?”

“Bisa kelihatan.”

“Tapi selain kanker ..., bisa ngecek penyakit-penyakit lain juga enggak?” Tatapan Bondan terlihat penasaran. Dia juga menoleh ke arah Erick dan semua tentara di ruangan itu, seakan-akan memastikan tak ada yang mendengar pertanyaannya barusan.

“Penyakit kayak gimana?”

Dengan suara yang lebih pelan, supaya tidak kedengaran, Bondan menjawab, “Penyakit misalnya—“

“Dek!” Fian menyela Bondan.

Fian berdiri di belakang Bondan, melilitkan handuk ke pinggang, dengan badan lembap sehabis mandi. Rambutnya juga basah. Titik-titik air menempel di beberapa lekukan ototnya yang kokoh.

Bondan agak terlonjak saat Fian muncul. Dia langsung menghentikan pertanyaannya.

“Lagi bahas apa?”

“Enggaaakkk ...,” jawab Bondan, dengan agak defensif.

“Saya pinjam si Rohmatnya, ya.” Fian menepuk bahu Bondan. “Yuk, Dek!”

Harusnya aku bertanya, mau diajak ke mana. Tapi di posisi itu aku menurut saja. Aku langsung berdiri—menurunkan tepian bawahku supaya area selangkangan ter-cover—lalu membuntuti Fian ke kamarnya. Aku enggak sanggup lagi menghadapi Bondan yang tampil seksi, menguarkan kejantanannya.

Sedari tadi aku enggak tahan pengin ngenyot puting Bondan yang berbulu itu, atau meremas dada itu, atau melumat semua bulu di tubuhnya. Aku tahu membuntuti Fian ke kamarnya dalam kondisi Fian handukan doang sama saja keluar mulut harimau masuk mulut buaya.

Tapi seenggaknya, di kamar Fian, hanya akan ada Fian. Bukan tujuh tentara seksi nan maskulin yang setengahnya telanjang dada dan menguarkan kehangatan pria dewasa.

Aku masuk ke sebuah kamar yang disekat menjadi dua ruangan. Pemisahnya hanyalah papan triplek tipis yang tidak sampai ke langit-langit, tetapi di masing-masing ruangan terdapat lampu sendiri. Ketika aku melewati pintu, aku bisa melihat kedua bagian kamar. Masing-masing punya ranjang single dengan bedsheet dan bedcover berbeda. Lalu meja kerja dan lemari baju yang beda total. Satu kamar tampak berantakan ala-ala bujangan. Satu kamar terlihat sangat rapi. Hanya terdapat sehelai kaus putih saja berserakan di atas tempat tidur.

Fian membawaku ke kamar yang rapi.

Pantas saja Fian hobi menginap di kamar Ida. Kalau kamar tidurnya macam begini, sih, bye-bye privacy. Untuk coli pun harus memastikan orang di kamar sebelah sudah tidur.

“Adek diapain sama si Bondan?” bisik Fian seraya menutup pintu.

Aku duduk di atas tempat tidur sang tentara, mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Kamar bagian Fian ini aroma kayu dan rempah. Terasa menenangkan sekaligus maskulin. “Enggak diapa-apain,” jawabku jujur.

“Hati-hati sama dia.”

“Hati-hati kenapa?”

Fian mengambil jeda sejenak sebelum menjawab. Dia menarik sebotol body lotion dari atas meja lalu menuang sedikit isinya ke atas telapak tangan. “Bondan orangnya agak-agak ... frontal.”

“Dalam artian?”

“Ya ... frontal.” Fian memutar otak untuk mendefinisikan Bondan tanpa berniat menjelek-jelekkannya. Kedua tangannya asyik mengoles losion ke tubuhnya.

Aku tahu Kakak tahu aku sedang sange, tapi aku enggak bisa skip fakta bahwa melihat Fian mengoles body lotion terlihat sangat seksi di mataku. Aku merapatkan paha sambil menarik bantal Fian untuk menutupi area selangkanganku. Aku enggak peduli lagi kalau aku kelihatan terlalu feminin duduk seperti ini.

“Otaknya mesum,” kata Fian akhirnya. “Pikirannya ke arah ‘sana’ mulu.”

“Masa sih? Waktu di gunung kemaren kayaknya Bang Bondan biasa-biasa aja.”

“Ya itu kan di depan ceweknya. Di depan kita ... bisa beda cerita.”

“Oh ....” Aku manggut-manggut kecil. “Tapi aku tadi enggak diapa-apain, kok. Abang tenang aja.”

“Ya Adek hati-hati aja.” Fian mengoles lagi losion, kali ini ke pahanya. Sehingga Fian menaikkan satu kaki ke atas tempat tidur. Handuknya tersingkap. Aku bisa melihat apa pun yang menggantung di balik handuk itu, tetapi dengan tolol aku mengalihkan pandangan ke arah lain.

Belum bisa. Aku belum bisa melihat kontol Fian sekarang.

Kalau aku melihatnya dalam situasi gairah seksual memuncak hingga ke langit ketujuh, kontolku otomatis meledak menyemburkan sperma.

“Kalau sudah ... ‘naik’ ..., Bondan udah enggak akan lihat jenis kelamin lagi, Dek,” Fian terkekeh. “Si Erick aja disuruh ‘mainin’ cuma gara-gara dia udah kebelet.”

“Masa?”

“Lebih parah dari itu, Dek. Tapi Abang enggak akan cerita semuanya.” Fian selesai dengan paha dan betisnya. Tiba-tiba dia mengulurkan losion itu ke arahku, lalu memintaku ..., “Tolong olesin di punggung.”

“Oke.” Aku berdiri dan buru-buru menurunkan tepian bawah kausku. Soalnya jendolan kontolku sudah terlalu kentara.

Fian berbalik memunggungiku, memamerkan punggung kokoh yang lebar, berotot, dengan lekukan tulang punggung yang sempurna. Tubuh itu terlihat sangat besar di depanku. Mengundangku untuk memeluknya dari belakang.

“Masih basah, Bang.”

“Oh.” Fian celingukan mencari handuk. Namun tak ada handuk lain lagi di ruangan itu. Jadi Fian ....

... melepas handuk yang sedang melilitnya.

Aku otomatis melihat pantat seksi yang bulat itu ketika Fian melucuti handuknya, lalu menaikkannya ke punggung.

Tentu saja aku langsung berbalik ke arah lain. Dadaku berdebar-debar tak keruan. Kudengar Fian membuka lemari, mengenakan sesuatu, lalu menepuk lagi bahuku.

“Udah. Abang udah pake celana.”

Aku menoleh pelan-pelan.

Ya. Fian sudah pakai celana.

....

CELANA DALAM!

....

Hanya celana dalam!

Sialan!

Celana dalam putih yang membungkus panggulnya dengan sempurna. Bahannya tipis, sehingga aku bisa melihat lekukan belahan pantat Fian tercetak di celana dalam itu. Fian sudah membelakangiku lagi, tetapi tetap saja ini pemandang yang ....

... aduh, nyerah, deh.

Goblok total emang tentara yang satu ini.

Sudah tahu mukanya ganteng, badannya hot, masih aja santai tampil hampir telanjang di depan cowok yang jelas-jelas gay sepertiku.

Yang bisa kulakukan hanyalah menarik napas panjang dan menenangkan diri. Aku menuang losion ke tangan, lalu menebar cairan itu ke seluruh area punggung Fian yang lebar. Yang permukaan kulitnya kenyal dan lembut. Aku bisa merasakan otot-otot punggung itu bereaksi ketika aku mengusapnya dengan perlahan.

“Bondan tuh udah mau nikah,” kata Fian tiba-tiba. “Sama si Lela. Adek udah ketemu, kan?”

“Yang waktu naik gunung kemaren, kan?”

“Bulan depan nikahnya. Di aula lanud itu nikahnya. Makanya dia udah enggak tinggal di sini lagi. Udah ngontrak sendiri dia.”

“Dulunya Kak Bondan di sini?”

“Iya. Di kamar seberang. Sekarang udah diisi sama si Parman.”

“Kak Parman itu enggak ikut ke gunung kemaren.”

“Dia koordinator atraksi buat acara pembukaan entar. Sibuk banget, ngurus acara. Harusnya dia yang patroli barusan. Tapi dia capek, pengin santai-santai. Makanya Abang nawarin buat gantiin.”

Aku selesai mengusap losion itu.

Fian berbalik.

Aku mati-matian tidak melihat ke arah jendolan kontol Fian di bawah sana.

“Makasih ya, Dek.” Fian tersenyum lebar. Dia meletakkan lagi losionnya, lalu mengambil deodoran. Tapi sebelum mengolesnya, dia mengangkat lengannya dan memamerkan ketek mulusnya kepadaku. “Masih belum tumbuh.”

Anjing.

Tentara edan.

Malah mamerin ketek depan mukaku.

Fuck.

“I ... iya.”

Bahkan Fian mengoleskan deodoran itu di depanku. Jarakku dari ketek itu hanya beberapa senti aja. Kayak sengajain gitu, Kak.

Kan nyebelin, ya.

Mana tunas-tunas halus bulu keteknya mulai tumbuh pula.

Aroma keteknya aroma sabun mandi. Yang langsung tergantikan oleh aroma deodoran yang dioles basah ke ketek seksi itu.

Karena tak mau crot, aku mengalihkan pandangan ke arah lain. Pandanganku tanpa sengaja jatuh ke sebuah foto yang dibingkai kecil, yang diletakkan berdiri di atas meja. Foto itu adalah foto Fian mengenakan seragam tentara bersama seorang perempuan. Foto berdua di depan salah satu pesawat jet tempur.

“Siapa itu?”

Fian menoleh ke arah yang kulihat. “Oh ... itu ....” Tiba-tiba saja Fian meluncur ke meja dan menidurkan foto itu. “Ini ... masa lalu. Hehe ....” Fian terlihat salah tingkah.

“Mantan Abang?”

“Iya.” Fian tak berani menatap wajahku. Dia menyelesaikan deodoran di ketek satunya dengan kilat, lalu mengambil kaus dari lemari tanpa bergerak dari depan meja. Sehingga, aku tak punya kesempatan untuk melihat lagi ke arah bingkai foto itu.

“Aku enggak akan bilang sama Ida, kok.”

“Gapapa ....” Fian terkekeh. “Kan itu masa lalu.”

“Abang masih sayang ama yang di foto?”

“Enggak. Udah enggak.” Fian masih tak menoleh ke arahku.

“Dia yang patroli sama Abang?”

Fian memberi jeda sejenak. Dia mengenakan celana pendek dan kaus yang baru ke tubuhnya. “Iya.” Kemudian, Fian menyemprotkan parfum ke tubuhnya.

“Di mana orangnya sekarang, Bang?”

Fian menggelengkan kepala. “Di ... rumahnya. Lagi tidur. Karena ini udah malam.” Fian mencoba bercanda, tetapi candaan itu benar-benar canggung. Kelihatan jelas dia enggak mau membahas soal perempuan itu, tetapi dia enggak tega menghentikanku bertanya-tanya.

Drrrttt ...! Drrrttt ...!

Ponsel Fian tiba-tiba bergetar. Dengan kilat dia menyambarnya dan melihat nama yang tampil di layar. “Pak Kresna?” gumamnya.

Aku memanfaatkan hal tersebut untuk meminta izin. “Bang, aku mau ke toilet.”

“Oh.” Fian terlihat bingung. “Di ... belakang dapur ya, Dek. Abang terima telepon dulu.”

“Iya, Bang.”

“Halo?”

Aku keluar dari kamar sebelum Fian bicara dengan siapa pun itu di telepon. Ketika aku menyeberangi ruangan, semua tentara yang ada di sana sudah telanjang dada. Mereka masih asyik dengan aktivitas masing-masing, tetapi yang tadinya pakai baju, sekarang sudah dilepas dan disampirkan ke bahu karena panas.

Badanku otomatis panas juga. Aku enggak sanggup melihat sekumpulan tentara kekar telanjang dada dalam satu ruangan yang sama. Aku menyeberangi ruang besar itu menuju kamar mandi yang berada di balik dapur.

Di kamar mandi, aku mengambil momen sejenak untuk menyandarkan tubuh ke balik pintu. Aku menarik napas panjang dan menenangkan diri. Khususnya menenangkan kontol karena rasanya ngilu dan perih ngaceng terus-terusan. Aku membuka celanaku, kontolku langsung terkuak menara beton.

Tuing!

Cairan precum sudah membanjiri seluruh kepala kontolku. Membasahi celana dalamku. Mungkin nanti akan meninggalkan bercak-bercak.

Aku mencoba untuk kencing ke toilet, tetapi aku kesulitan. Aku harus agak nungging ke belakang, membungkukkan badan, lalu mengarahkan kontol ngaceng-ku secara tepat ke lubang toilet. Sewaktu air kencing itu melewati kelenjar prostat, sebelum masuk ke uretra, rasanya sedap-sedap nikmat.

“Aaaaaaaaahhhhhh ....” Aku sampai mendesah dan merinding keenakan saat kencing.

Rasanya pengin nangis, ya Tuhan. Pipis doang udah kayak orgasme.

Apa sekalian aku kocok aja kontolku di sini supaya semua rasa sange ini reda?

“Aaaaaaaaahhhhhh ....”

Usai pipis penuh perjuangan itu, aku menaikkan lagi celana dan membuka pintu kamar mandi. Aku terlonjak kaget ketika mendapati seseorang sudah berdiri di ambang pintu.

Bondan.

Dia menyandarkan satu lengannya ke kusen pintu, dan satu tangan yang lain di pinggang. Dia menghalangi jalanku. Dan keteknya terekspos nyata, menampilkan bulu ketek rimbun yang vibes hangatnya langsung terasa ke wajahku. Aromanya?

Laki banget.

“Oi,” bisiknya, sembari menoleh ke belakang. “Bantuin gue, lah.”

Aku menelan ludah. “Bantu ... bantuin apa?”

“Ngecek penyakit.” Bondan menunduk ke bawah, ke arah selangkangannya. “Mumpung elu di sini. Bentar aja. Yuk?”

“Nge ... ngecek apa?”

“Ngecek gue. Mau ya?!”

Bondan tampak intimidatif. Badannya besar. Hampir sebesar Fian. Dengan muka sangar, status tentara, otot kekar, wajar dong kalau aku ciut. Aku seperti sedang di-bully, meskipun Bondan enggak nge-bully. Tapi lututku tetap gemetaran dan ketakutan.

“Di kamar aja. Yuk!” Bondan menurunkan tangannya dan menduluiku ke sebuah kamar di seberang kamar Fian. Keenam tentara yang lain sibuk sendiri, tak ada yang melihatku masuk bersama Bondan ke kamar itu.

Kamarnya hampir sama dengan kamar Fian. Sebuah ruangan besar yang disekat menjadi dua. Di sini, pemisahnya adalah tirai. Kedua kamar tampak berantakan.

Bondan mengunci kamar itu dan mengajakku duduk di atas salah satu tempat tidur. Dia tampak gagah sekali. Mendadak tubuhnya kelihatan lebih besar kalau sudah berduaan begini. Dadanya tampak lebih mancung. Bulu-bulunya kelihatan lebih banyak.

“Gue ada problem,” katanya, melirik dulu ke pintu, memastikan tak ada yang mendengar kami berdua di sini. “Gue bentar lagi kawin ama si Lela.”

“Terus?”

“Tapi gue ... gue ada penyakit di burung gue. Lu periksain lah sekarang.”

Aku membelalak sejenak, tak percaya Bondan akan langsung sefrontal itu. “Aku ... aku bukan dokter, Bang—“

“Tapi kan lu perawat.”

“Tugasku sebagai perawat cuma meriksa aja, enggak sampai mendiagnos—“

“Ya sama!” sergah Bondan memotongku. “Tolong periksain aja dulu. Apa penyakit gue. Entar kalau elu udah confirm, gue pasti ke dokter buat pengobatan.”

Aku menelan ludah lagi. “Emangnya, apa yang Abang rasain?”

Tiba-tiba, Bondan berdiri di depanku dan melepas sarungnya. Dia tak mengenakan apa-apa di balik sarung itu. Sehingga kontolnya langsung terkuak di depanku.

Untuk sesaat, aku membeku.

Terkejut. Sekaligus takjub.

Di tengah puncak rasa sange-ku, di tengah gairah seksual yang tak kunjung tersalurkan lewat ejakulasi gara-gara aku terdistraksi terus, tiba-tiba aku melihat kontol seorang tentara.

Kontol tentara!

Real tentara berbody gagah, manly, STRAIGHT, dan masih muda.

Kontol itu setengah ngaceng. Sudah disunat. Bulu jembutnya rimbun dan banyak, tetapi tidak panjang. Buah zakar Bondan besar dan menggantung bulat. Tampak sehat.

Dari pengamatan visualku, tak ada apa pun yang aneh dengan kontol itu. Kontol Bondan terlihat sehat. Tidak ada kutil, kondiloma, atau papiloma. Bekas sunatnya juga rapi. Area sekitar pangkal atau kulit biji pelernya juga terlihat normal.

“Apa yang jadi keluhannya, Bang?”

“Gue gampang naek,” jawabnya, sembari memijat sebentar kontolnya. “Lu pegang, coba.”

Aku masih belum mau memegang. Aku tetap bertanya, “Gampang naek maksudnya gimana?”

“Gue kayaknya punya penyakit kelamin.” Bondan tiba-tiba menarik satu tanganku ke atas, mengarahkannya ke putingnya yang berbulu. Lalu, jemariku disuruh memilin-milin puting itu.

Apa yang terjadi?

Kontol Bondan mengembang keras menjadi ereksi.

Ukurannya normal, bukan 22 cm. Tapi kontol itu tiba-tiba mengacung ke atas, berkedut kecil seperti keenakan, kelihatan kokoh seperti tiang bendera.

“Gue gampang sange. Dipegang dikit, burung gue naek. Gue takut pas kawin entar ..., gue mampus tiap dicolek istri. Tolongin gue. Periksain ..., apa yang salah sama burung gue.”

Aku membeku terkejut. Aku belum bisa memberikan respons.

“Gue juga kepilih buat penelitiannya Capt. Sigit. Gue kagak mau ketahuan punya penyakit seks. Makanya, gue lega elu jadi asistennya. Tapi periksain dulu, lah. Pegang-pegang aja. Gue ikhlas! Lu apain pun, gue mau. Yang penting lu periksain gue.”

“Aku ... aku enggak punya kapasitas untuk—“

“Asal lu hati-hati aja,” sela Bondan kemudian. “Kalau lu megangnya terlalu enak ..., entar gue jadi pengin dibikin enak. Paham? Sini! Pegang! Pegang burung gue!”


[ ... ]



Catatan:
Part 18B tidak tersedia gratis. Hanya bisa dibaca melalui PDF.
Dapatkan PDF-nya di sini, untuk:

Komentar