(HD) 18C. Maaf Udah Gangguin Adek




Halo, Kak!

Kuputuskan ini akan menjadi hari terberuntung dan tersial yang pernah kualami seumur hidup. Aku aja enggak tahu bagaimana menjelaskannya dengan tepat. Hingga aku tiba di kosan, perasaan campur aduk ini membuatku seperti zombi. Seperti tak tahu harus ngapain lagi dengan hidupku.

Aku rekap dulu apa yang terjadi, ya.

Setelah aku menemani Fian patroli udara, aku main ke kontrakannya dan hampir dibikin keok oleh tentara-tentara seksi. Aku yang belum berkesempatan untuk crot, hanya bisa menahan diri agar tidak ketahuan sedang ngaceng di depan tentara-tentara ini. Sebagian tentara menyadari bahwa aku akan menjadi asistennya dr. Sigit dalam penelitian beliau nanti. Satu tentara mendadak kepo denganku.

Namanya Bondan. Kakak juga tahu dia siapa.

Tapi kekepoannya tertunda karena aku diculik Fian ke kamarnya lalu di-briefing untuk hati-hati sama Bondan. Katanya, meskipun Bondan so sweet waktu naik gunung kemarin, bawa roti sepabrik dan mesra-mesraan sama pacarnya, Lela ..., Bondan rada-rada red flag urusan kontol.

Okelah kudengerin saran itu, jadi kulupakan Bondan untuk sesaat.

Masalahnya, sewaktu aku keluar dari WC, Bondan mencegatku dan menculikku ke kamar yang dulu pernah dia tempatin di rumah ini. Buat apa aku diculik ke sana? Rencana awal sih buat diminta ngecekin penyakitnya. Bondan yakin banget dia mengidap “penyakit seks”. Kupikir itu adalah penyakit IMS kayak herpes, gonore, HIV, dan lain-lain. Tapi ternyata itu adalah penyakit: gampang sange.

Dicolek dikit, kontolnya ngaceng.

Bahkan, dicolek dikit olehku, Bondan sange—padahal Bondan straight. Bondan bakal nikahin Lela bulan depan!

Akhirnya apa?

Akhirnya kami ngewe.

Ya. Aku ngewe sama Bondan.

Ngewe-nya panas banget, sampai-sampai Bondan crot tiga kali.

Tapi apakah aku crot? Enggak. Aku belum sempat crot, Fian keburu mengetuk pintu dan membubarkan sesi itu. Aku mengenakan lagi celanaku, Bondan mengenakan lagi sarungnya. Bondan membuka pintu, Fian mencoba mengonfrontasi Bondan, tetapi Bondan bisa berkelit.

Aku enggak bisa memberikan penjelasan apa-apa di tempat. Pun karena Fian tiba-tiba menarikku pergi.

“Ayo, Dek. Abang antar pulang.”

Dan aku pun pulang dibonceng oleh Fian.

Itu adalah perjalanan motor paling dingin yang pernah kulalui seumur hidup.

Dingin karena kami enggak mengobrol sama sekali. Aku duduk agak belakang di motor besar itu, berpegangan ke badan motor yang tak punya pegangan tangan. Fian mengemudikan motor dalam diam, membungkuk lebih depan sepanjang perjalanan. Dia tak mengatakan apa pun. Dia memarkirkan motornya di spot favorit di kosan, lalu turun sambil melepas sarung tangannya.

“Ayo,” katanya lemas, tanpa menatap wajahku. Kami menaiki tangga, didului oleh Fian.

Kulihat wajah Fian bete.

Bahkan ketika disapa oleh Ida, dia masih bete.

“Heeeyyy ...! Udah patrolinyaaa ...?” Ida ada di ambang pintu kamarnya ketika kami berdua tiba di lantai dua.

“Saya antar Rohmat dulu ke atas.”

“Jangan lama-lama, yaaa .... Aku nungguin kamu sendiri di sini lhooo ....” Ida meremas-remas dadanya sendiri. Dia sudah mengenakan lingerie.

Fian tidak merespons statement itu. Fian langsung naik lagi ke anak tangga berikutnya. Aku membuntutinya sambil menundukkan kepala.

Di depan kamar kosanku, akhirnya Fian berbalik dan menatapku. Kebetulan pojokan ini memang tak akan dilewati siapa pun, sehingga Fian merasa aman mengobrol denganku di situ.

“Kenapa Adek mau-maunya masuk ke kamar barengan Bondan?” tanyanya. Suara Fian terdengar tenang dan lembut, seperti bapak-bapak yang bijak. Fian terdengar seperti orang yang marah besar kepadaku, tetapi berhasil menguasai emosinya, lalu mengajakku bicara dengan kepala dingin.

“Dia minta tolong soalnya,” kataku, tak sepenuhnya berbohong.

“Adek enggak diapa-apain kan sama dia?”

“Enggak.”

Aku berbohong.

Aku tak sanggup mengatakan yang sebenarnya, karena aku tak mau membuat Fian kecewa.

Fian terlihat ganteng dan dewasa. Mengenakan kaus dan jaket bomber yang tadi, dan tampak sangat cakep karena dia mau ngewe dengan Ida. Matanya kelihatan agak sedih gara-gara kejadian Bondan itu.

“Terus Adek ngapain aja sama Bondan di dalam sana? Kenapa pintunya dikunci?”

Aku menelan ludah. “Soalnya ..., Kak Bondan minta aku buat ..., meriksa—“

“Meriksa apanya?”

“Periksa genital,” kataku, sebisa mungkin terdengar profesional. “Dia agak concern sama area genitalnya, karena dia mau nikah bulan depan. Dia mau mastiin, dia enggak punya IMS atau apa pun yang berbahaya.”

“Kan dia punya si Lela. Perawat juga. Kenapa enggak nanya si Lela?”

Aku mengangkat bahu. “Mungkin Kak Bondan malu nanya ke ceweknya—“

“Malu gimana?” sergah Fian tak paham. “Dia rajin ‘main’ sama si Lela. Kenapa enggak diperiksain aja pas mereka lagi main?”

Kok Fian kedengaran cemburu, sih?

“Kak Bondan mau mastiin, sebelum diteliti sama dr. Sigit entar, enggak ada apa-apa sama genitalnya.”

“Terus, Adek nemu apa?” Fian melipat kedua tangannya di depan dada. Terlihat defensif. Satu alisnya naik.

Aku menggelengkan kepala. “Aku enggak nemu apa-apa.”

“Terus kenapa meriksanya lama?”

“Aku ....”

“Abang teleponan tuh lebih dari 20 menit. Begitu selesai, Adek belum balik juga. Nanya ke yang lain, katanya Adek masuk ke kamar barengan Bondan. Periksa apaan sampe 20 menit? Besok aja Adek meriksain calon taruna enggak nyampe 10 menit, kan? Capt. Sigit ngasih instruksi durasi per pasien ke Abang sebelum merintahin set up bilik buat Adek.”

Aku menelan ludah. “Aku ... aku ....”

“Adek jujur aja, Adek diapain sama Bondan?”

Diperkosa sih, Bang. Tapi aku enggak bisa jujur soal itu. Nanti ada huru-hara di antara kalian semua dan aku enggak mau jadi penyebab semua kekacauan ini.

Apalagi aku enggak bisa membohongi diri sendiri bahwa aku nikmatin momenku bareng Bondan.

Aroma ketek Bondan masih bisa kurasakan di hidungku.

Putingnya yang mancung itu masih bisa kurasakan di mulutku.

Tubuh telanjangnya, kekar ototnya, bulu-bulu yang tumbuh hampir di setiap titik itu, masih membuatku terlena.

Aku masih bisa ngaceng dan coli membayangkan Bondan dalam kepalaku.

Bakal jadi munafik kalau aku menghancurkan relasi Bondan dan seluruh orang di angkatan udara itu hanya karena kubocorkan apa yang sebenarnya terjadi.

Dan munafik juga kalau aku enggak mengharapkan ngewe lagi bareng Bondan.

“Aku cuma meriksa aja,” kataku bersikukuh. “Memang agak lama. Aku ... aku jelasin satu-satu semuanya ke Kak Bondan.”

Ck!” Fian berdecak kesal. Dia juga mendengus sembari melemparkan pandangannya ke arah lain, mencoba menguasai dirinya. Fian berkacak pinggang dan akhirnya berkata, “Sampai kapan pun, Abang enggak bisa percaya sih ....”

“Ya terserah.”

“Adek enggak tahu Bondan tuh orangnya kayak gimana,” sergah Fian seketika. “Dia tuh enggak sepolos yang Adek lihat waktu kita naik gunung kemaren.”

Iya aku sudah melihat aslinya kok, Bang, balasku dalam hati.

“Kita ngajak naik gunung aja supaya dia bisa meredam problem dia.” Fian menatapku dengan serius. Penuh sayang, tetapi agak-agak sedih. “Kalau enggak diajak naik gunung, enggak tahu dia bakal ngelakuin apa sama anak-anak yang lain. Dia tuh jago ngitung, jago decoy, nerbangin jet juga oke, di satuan kami tuh dia tentara yang berprestasi! Enggak ada masalah aneh-aneh ..., tapi kalau penyakitnya ini mulai kambuh ....”

Kata-kata Fian menggantung di udara.

Dijeda selama beberapa detik yang canggung.

“... Abang cuma berharap Adek enggak diapa-apain sama dia. Itu aja.”

“Aku enggak diapa-apain,” kataku pelan.

“Jangan sampe yang terjadi ke Abang, atau ke yang lain ... gara-gara dia ... enggak terjadi sama Adek.”

Enggak tahu kenapa aku merasa kayaknya udah kejadian, sih. Kayaknya apa yang Bondan lakukan ke Fian atau yang lain adalah apa yang dia lakukan kepadaku di kamar tadi.

Sayangnya aku belum berani mengakui bahwa dalam kasusku ....

... itu bukan hal yang buruk.

Tapi sekarang aku jadi kepo, apa yang pernah terjadi antara Fian dan Bondan?

“Emang Kak Bondan pernah ngapain Abang?” tanyaku akhirnya.

Fian menggelengkan kepalanya. “Enggak usah tanya soal itu. Adek enggak akan mau tahu.”

Tetot. Aku mau tahu.

“Bukan cerita yang pantas dikasih tahu ke Adek,” lanjut Fian dengan lemas.

“Lho, kenapa?”

“Adek masih harus med-check di lanud sampe minggu depan. Adek juga bakal jadi asistennya Capt. Sigit buat penelitian. Kalau Adek ngundurin diri gara-gara cerita Abang ..., bakal jadi kacau nantinya.”

“Tapi aku mau tahu. Gimana kalau Kak Bondan ngelakuinnya pas Adek meriksa dia entar—“

“Oooh ... tenang aja, Dek. Pas giliran dia diteliti entar, Abang bakal ada di situ buat jaga Adek,” tegas Fian. Benar-benar percaya diri.

Aku jadi baper sih mendengarnya.

Aku tersenyum kecil sembari menundukkan kepala.

Akhirnya aku berkata, “Maaf kalau aku bikin Abang cemas.”

“Iya. Tolong jangan gitu lagi, ya. Kalau si Erick sih enggak masalah. Kalau sama Bondan, Abang yang enggak ikhlas.”

Haduh, aku jadi terbayang lagi kontol Erick yang katanya 22 cm. Kalau aku di-ebol sama Erick, itu nembus ke lambungku enggak, ya?

“Iya,” kataku sambil mengangguk kecil. Aku tak berani mendongak menatap wajah Fian. Soalnya wajah itu ganteng dan aku seperti baru saja mengecewakan hatinya.

Kami terdiam selama beberapa saat. Fian kayaknya menatapku terus-menerus, tetapi aku hanya sanggup menatap sepatunya yang besar. Jantungku berdebar-debar karena kami terasa intim di depan kamar kosanku. Jangan lupa bahwa aku belum crot, bahwa tubuhku masih diliputi gairah seksual yang membara.

Kekhawatiran Fian barusan membuat pipiku bersemu merah.

Rasa cemburunya membuat dadaku berdebar-debar tak keruan.

Seperti kali pertama jatuh cinta saat SMA, cinta pertama pada kakak tingkat ganteng yang bikin hari-hariku jungkir balik, lalu suatu hari si kating crush itu mengajakku ngobrol tanpa sebab. Deg-degannya seperti itu.

Apalagi tiba-tiba Fian menurunkan ritsleting jaket bombernya, lalu melepasnya. Tubuh kekarnya yang terbungkus oleh kaus ketat langsung terekspos. Jaket itu dia sampirkan ke bahuku, membuatku merasa hangat. Aroma Fian yang khas langsung menguar ke hidungku. Begitu jantan, gagah, sekaligus menenangkan.

“Besok-besok pake ini aja,” bisiknya, dengan suara dalam yang intim. “Yang di kamar itu buang aja. Enggak usah dipake-pake lagi.”

Aku membeku dalam rasa baper.

Mendadak aku merasa jaket ini memelukku dengan sempurna. Seperti sedang dipeluk langsung oleh Fian.

“Lagian jaketnya jelek.” Fian terkekeh kecil. “Bagusan punya Abang.”

Aku tak berani mengangkat wajahku karena aku sedang senyum-senyum gila.

Fian berjalan lebih dekat ke arahku. Dia menarik lengan jaket bombernya mendekat, sehingga tubuhku terpaksa maju. Tubuhku hampir menempel ke tubuh Fian. Mati-matian aku memundurkan panggulku supaya Fian enggak mendapati kontolku sedang ngaceng total di balik celana.

“Adek lebih cakep kalau pakai jaket ini ....”

“Iyaaa ...,” sergahku malu. “Besok ..., aku buang jaket yang di kamar.”

“Bakar aja.”

Dengan sebal aku memukul dada Fian.

Duk!

Boti banget kelihatannya, tapi aku enggak peduli. Sudah tanggung GR dan malu juga. Aku masih belum berani mengangkat kepala menatap wajah Fian. Jarak di antara kami sudah lenyap. Fian menarik lengan jaketnya yang menjuntai itu hingga tubuhku benar-benar menempel ke tubuhnya.

Aku sudah pasrah jika Fian menemukan jendolan di bawah perutku adalah sebatang kontol ngaceng. Di depan hidungku, ada dada Fian yang bidang dan berlekuk kekar. Yang aroma manly-nya menguar semakin pekat. Puting Fian juga tercetak jelas di kedua sisi. Mencuat, seakan-akan sedang mengeras.

“Besok Abang berangkat dari sini jam 6. Kalau Adek mau bareng, Abang tungguin.”

Aku menggelengkan kepala. “Aku harus ke klinik dulu, Bang. Harus clock in dulu. Lagian nanti kan bakal dijemput dari sana.”

“Oke.” Fian mengangguk dan memberikan lagi jeda yang cukup lama.

Lumayan lama, Kak.

Hampir dua menit, tapi kalau dua menit posisinya kayak begitu sih, rasanya ya lama.

Tubuh kami seperti berpelukan, tapi enggak sepenuhnya berpelukan. Fian masih memegang erat lengan jaket bombernya yang tersampir di tubuhku. Kedua tanganku bersilang di depan dada, menahan diri untuk enggak memilin puting Fian yang menonjol dari balik kausnya. Napas Fian yang hangat berembus ke keningku. Mataku masih belum berani melirik ke atas.

“Maaf kalau Abang lebai semalaman ini,” bisiknya lagi, terasa intim dan damai.

“Gapapa.”

“Maaf udah nyulik Adek buat patroli,” lanjutnya. “Abang kepikiran sedari siang. Adek kayak yang beda sama Abang. Makanya Abang mau ngajak jalan.”

“Aku cuma mau fokus sama kerjaanku aja, Bang ....”

“Iya Abang paham.” Fian menghela napas. “Maaf juga karena Abang lebai soal Bondan. Abang percaya kok Adek enggak ngapa-ngapain sama Bondan ....”

No comment.

“Tapi paling utama ...,” lanjut Fian. “Maaf udah gangguin Adek akhir-akhir ini ....”

Aku menggelengkan kepala. “Enggak ganggu, kok.”

“Abang lagi kesepian aja. Jadi Abang nyari korban buat ngisi hari-hari Abang. Kebetulan ..., Adek kena sialnya.” Fian terkekeh kecil.

Aku ikutan terkekeh. “Kenapa enggak sama Mbak Ida aja?”

“Ya ini juga lagi usaha, kan? Abang kontakan setiap hari sama Dek Ida ..., tapi Dek Idanya sibuk terus. Yang available justru Adek ....”

“Enggak juga. Aku sibuk setiap hari, harus ke klinik.”

“Seenggaknya Adek bisa diajak naik gunung.”

“Tapi malah ngerepotin orang-orang, nyasar sampe ke sarang ular.”

“Seenggaknya Adek mau nyukurin ketek Abang—“

“Ida juga bisa!” sergahku. “Sugar waxing-nya aja punya dia!”

“Oh iya!” Fian garuk-garuk kepala sambil terkekeh kecil. Dia mencari alasan lain. “Seenggaknya Adek bisa diajak patroli bareng. Dek Ida mana bisa.”

“Iya, sih ....”

“Kenapa nunduk terus?” Fian tiba-tiba memegang daguku dan mengangkat kepalaku.

Kini, aku harus menatap wajah ganteng itu dari dekat.

Dan, aku merasa, jaraknya dekat sekali. Hidungku seperti hampir menyentuh puncak hidung Fian. Aku sampai menahan napasku karena gugup. Dadaku berdebar kencang. Bibir itu terasa dekat dengan wajahku.

“Bagusan gini,” bisik Fian. “Cakepnya kelihatan.”

Pipiku bersemu semakin merah saat dibilang cakep barusan.

Mana senyum Fian terlihat ganteng, pula.

“Adek jangan liar dulu,” bisik Fian. “Polosan aja kayak sekarang.”

“Aku enggak polos, Bang.”

Fian terkekeh. “Ya udah Abang jagain biar jadi polos.”

Aku enggak tahu harus merespons apa.

Aku hanya menatap wajah ganteng itu dengan penuh pesona.

Aku menatap mata Fian yang mengerling.

Menatap hidungnya yang sempurna.

Menatap bibirnya yang ....

... yang membuka sedikit.

....

Yang mendekat ke arahku.

....

Mendekat ke arah bibirku.

....

Cup.

Yang akhirnya memagut bibirku dengan hangat.

....

Melumat bibirku lembut-lembut. Menyapukan lidahnya ke seluruh bagian bibir dengan gentle.

Embusan napasnya menerpa wajahku.

Rasa mint seperti orang yang habis gosok gigi.

....

Aku membelalak dan membeku.

....

Aku dicium Fian di depan kamar.

Cukup lama.

Tubuhku ditarik semakin dekat ke tubuhnya. Menempel ke perutnya. Tangannya yang kokoh itu menarik jaket hingga aku dipeluknya secara sempurna.

....

Aku dicium Fian dengan intim dan hangat.

Mata Fian menutup, menikmati ciuman itu.

Mataku masih membelalak tak percaya.

Wajah ini begitu dekat dengan wajahku.

Aku bisa merasakan lidah Fian menyeruak masuk ke dalam mulutku.

Membuatku merasa nyaman.

Membuat tubuhku terasa nikmat.

Membuat aku ....

....

“Aaahhh ....” Aku mendesah.

....

Karena aku ....

....

Crot! Crot! Crot! Crot! Crot!

....

... akhirnya ejakulasi.

....

Ciuman itu begitu enak merasuk sukmaku.

Tubuhku bereaksi hingga ke puncaknya.

Menggelinjang kecil.

Lemas tak berdaya.

Dan sperma menyembur di balik celana.

Fian mungkin tak tahu.

Apalagi setelahnya, Fian melepaskan ciuman itu lalu tersenyum lebar.

....

Dan dengan kurang ajarnya dia berkata, sembari menepuk bahuku, “Sampai jumpa besok ya, Dek.”

Dia meninggalkanku sendirian di depan kamar.

Dengan lutut lemas dan bergetar.

Kebingungan.

Keenakan.

Merasa bahagia.

Merasa dicintai.

Merasa penasaran.

Apa yang terjadi barusan?

Kenapa bisa terjadi seperti itu?

Apa ini mimpi?

Apa ini hanya khayalanku?

Apa aku halu?

....

Aku berbalik dan melihat Fian lenyap di anak tangga menuju lantai dua. Aku ingin memanggilnya dan meminta kecupan bibirnya lagi. Namun aku tak sanggup berkata-kata.

....

Ini bukan mimpi.

Ini bukan mimpi.

Jaket bomber beraroma Fian itu masih ada di sini. Tersampir di bahuku.

Ciuman itu nyata.

Tok! Tok! Tok! “WOY!”

“Argh!” Aku menoleh ke arah jendela kamarku.

Xavier mengintip dari situ. “Buka pintunya! Gue kekunci dari tadi, anjing!”

Fuck! Aku mengunci Xavier sepanjang malam!!!


[ ... ]


18A. Dipegang Dikit Burung Gue Naek | Kembali ke Daftar Karya | Kembali ke Halo, Dek! | 19. Ini Burung Lo Naek, Nih! (Short Version)

Komentar