(HD) 3. Bantu Abang Cabutin Bulu-Bulu




Halo, Kak!

Tahu enggak, sampai pulang kerja hari itu, kepalaku masih enggak bisa lepas dari tugas baru minggu depan. Jujur, efeknya positif. Aku tersenyum riang sepanjang hari, melayani pasien siang dan sore dengan lebih ramah dan baik hati.

Sepeninggal Fian dari klinik, aku dipanggil lagi Bu Lusi ke ruangannya. Kali ini bersama Geca, untuk mendapatkan penjelasan handover tugas medical check up di perusahaan tekstil. Setelahnya, aku juga dijelaskan ulang oleh Bu Lusi terkait hal-hal apa saja perlu kulakukan saat membantu TNI-AU nantinya.

Melakukan tes kesehatan—kalau boleh lebai—sudah jutaan kali kulakukan. Umumnya adalah pemeriksaan luar menggunakan visual, ditambah pengambilan sampel seperti darah atau urin, baik itu dengan jarum suntik, finger prick, bahkan swab. Aku juga terlatih melakukan wawancara riwayat kesehatan dengan pasien, bahkan sudah mendapatkan sertifikasi untuk menjelaskan rekam medisnya, meski bukan dokter. Rontgen dan segala jenis pengambilan sampel pernah kulakukan, baik itu saat meng-assist dokter atau petugas laboratoriumnya, maupun ketika aku harus melakukannya sendiri karena dokternya sedang cuti.

Sekali lagi kuingatkan ya, Kak, ini klinik swasta. Hehehe. Sering banget kekurangan staf medis. Jadi, segala jenis pekerjaan mesti bisa kulakukan, meskipun job desk-ku bukan itu. Orang awam mengira perawat memang harus melakukan segalanya. Padahal setiap tenaga medis punya porsinya masing-masing.

Salah satu dari tes yang memang dilakukan calon tamtama adalah mengecek varikokel. Varikokel tuh kondisi ketika pembuluh darah vena, di biji pelermu itu, membengkak. Efeknya secara umum berkaitan dengan tingkat kesuburan laki-laki. Jadi kalau kamu sange nih, Kak, kan itu bikin jantung memompa darah ke kontol ya, sehingga kontolmu ngaceng. Dan selama sange itu, skrotum, atau biji pelermu itu, menyiapkan air mani untuk di-crot-kan keluar, yang lazimnya disemburkan ke vagina lalu membuahi sel telur. Proses persiapan air mani itu termasuk penghasilan cairan praejakulasi (precum) dari kelenjar Cowper, untuk menetralisir keasaman uretra supaya sperma-sperma itu enggak metong dalam perjalanannya menyembur dari lubang kontol.

Nah, kalau Kakak punya varikokel, darah di pembuluh vena yang membengkak itu enggak bisa balik lagi ke jantung dengan optimal. Akibatnya biji pelermu itu “memanas”, Kak. Jadi anget. Kalau suhunya lebih tinggi dari suhu badan kita sendiri, itu bisa mengurangi produksi sperma yang sehat.

(Tapi berhubung Kakak kemungkinan crot-nya di dalam bool atau crot handsfree karena bool-nya sedang dihantam sih, mungkin kehadiran varikokel enggak begitu ngaruh dalam hidup Kakak.)

Untuk mengetahui ada atau enggaknya varikokel, dilakukan pemeriksaan luar dengan cara meraba-raba testis dan merasakan kehadiran benjolan atau pembengkakan di pembuluh vena. Tapi ada juga cara lain yang lebih pasti, yaitu melalui ultrasonografi, atau USG, kayak ibu-ibu hamil memeriksa kandungannya. Prosesnya sama persis, Kak. Bedanya yang di-USG bukan rahimmu, melainkan bijimu. Nanti juga ada layarnya gitu di samping ranjang, untuk melihat apa yang ada di dalam tubuhmu. Gambarnya tuh yang hitam putih abstrak gerak-gerak enggak jelas gitu.

Cuma kalau biasanya si pemeriksa bilang, “Nah, Bu, itu anak Ibu. Lihat nih kepalanya ... naaahhh ..., kalau ini kakinya. Kalau dari anatominya sih, anak Ibu laki-laki.”

Di pemeriksaan varikokel, pemeriksanya bilang, “Nah, Pak, itu biji Bapak.”

Aku sudah melakukan tes varikokel beberapa kali. Jadi aku udah meraba-raba juga kontol pasien varikokelku sewaktu aku harus melakukan USG dan mengambil gambar. (Yang memberikan diagnosa tetap petugas medis yang berwenang. Bukan aku, kok.) Lalu kenapa aku se-excited ini menyambut tugas med-check minggu depan?

Karena ini semua calon tentara, cuuuyyy ...!

Yang kuperiksa cowok-cowok macho, tegap, gagah, dan calon pembela bangsa!

Mana pernah aku megang kontol tentara maupun calon-calonnya. Kan jadinya ....

Ah!


[ ... ]


Sampai di kosan, mood-ku superbagus. Untuk merayakan, aku beli makan malam lewat ShopeeFood, alih-alih masak sendiri untuk berhemat. Aku pesan sosis bakar bumbu barbeku, lalu buka lagi ShopeeFood-nya untuk memesan Mixue. Enggak tahu kenapa pengin makan sosis. Mendadak hari itu, segala sesuatu yang berbentuk sosis jadi highlight of the day-ku.

Sambil menyantap makan malam, aku juga mendengar musik ceria dari Spotify. Aku rebahan sambil scroll Tiktok, bahkan sempat membuka aplikasi kencan, tapi enggak kepingin-kepingin amat buat ngewe. (FunNowNPNC19cm masih belum balas juga, tapi aku sudah enggak berharap banget bisa ketemu “19 cm” tersebut.) Lama-lama aku jadi explore di Instagram, mencari semua akun yang namanya Rafianto. Berharap bisa nemu akun IG Rafianto si tentara ganteng itu.

Enggak. Enggak nemu.

Ngecek di IG tentarapolisiganteng pun si Fian belum mejeng di sana. Mungkin dia enggak punya medsos. Tapi gara-gara itu, aku jadi nge-scroll foto-foto telanjang dada para abdi negara itu. Dan aku sange.

Ujung-ujungnya aku coli juga. Aku buka Twitter, kulepaskan celanaku, lalu aku ngocok.

Dan, seperti biasa, coli-ku agak lama. Sampai dua jam kemudian, aku belum crot karena belum nemu bokep yang pas banget untuk kutonton sambil crot.

Mendekati tengah malam, akhirnya aku crot.

Enggak ada yang istimewa, sih. Jadi aku enggak ceritain ya, Kak. Aku rebahan sebentar sebelum akhirnya mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Lagi-lagi, karena aku sedang good mood, mandinya aku lama-lamain. Toh ini sudah hampir tengah malam, enggak akan ada yang pake kamar mandi juga jam segini. Aku luluran, scrub, pake kondisioner, menggosok punggungku cukup lama, bahkan melakukan douching dengan enema meskipun jelas aku enggak akan disodomi siapa pun malam ini.

Yang pasti aku keluar dari kamar mandi dalam kondisi segar, wangi, dan mulus. Saking manjanya, aku membungkus kepalaku dengan handuk bak ibu-ibu habis mandi, kemudian melilit handuk yang besar ke hingga ke dadaku. Persis cewek-cewek.

Tapi sumpah, biasanya aku enggak pernah begitu. Dan aku berani begitu pun karena ini sudah pukul satu dini hari. Sudah enggak akan ada orang yang melihatku berjalan dari kamar mandi ke kamarku dengan handuk dililit sampai dada, lalu kepalaku dibungkus handuk lain juga.

Aku bisa berlari cepat dari kamar mandi ke kamar.

Atau mungkin sebaiknya aku berlari saja.

Takutnya ada orang yang melihatku berpenampilan kayak begini di koridor kosan, entar aku dikira ngondek beneran. Bertahun-tahun aku berlatih macho supaya enggak kelihatan bencong, jangan sampai identitasku bocor gara-gara kelakuanku pake handuk tengah malam.

Aku membuka pintu kamar mandi pelan-pelan, lalu melirik ke segala arah.

Enggak ada orang. Sesuai dugaan. Lima penghuni lain di lantai tiga—waktu aku lewat tadi—pintu kamarnya tertutup, lampunya sudah padam. Pasti mereka sudah tidur.

Aku pun mengendap-endap keluar, lalu berlari di sepanjang koridor sambil memegang handuk di kepalaku, dan satu tangan lain menenteng—

BRUUUKKK ...!!!

....

“Argh!”

....

Aku menabrak orang di belokan koridor menuju kamar.

Dan aku terjengkang ke belakang, terpelanting hingga tersungkur di atas lantai ubin, dengan handuk di badanku tersingkap ke samping, sehingga aku buru-buru menutupnya karena takut kontolku kelihatan.

Orang yang kutabrak juga terkejut, tetapi dia enggak jatuh. Hanya mundur satu langkah ke belakang, kakinya masih bisa berdiri tegak.

Orang itu juga sedang telanjang dan mengenakan handuk saja.

Dan orang itu badannya besar.

Kekar.

FUCK!

....

Orang itu adalah Fian!

Tentara ganteng itu!

“Dek? Enggak apa-apa?” tanya Fian, yang handuknya merosot juga, tetapi dengan sigap dia meremas satu bagiannya, lalu menempelkannya ke perut, supaya kontolnya tertutupi.

Detik itu aku enggak punya alasan angkot ngetem untuk menghindari momen drama romantis seperti di film-film. Rasanya waktu berjalan lambat, kamera men-zoom in wajahku, lalu wajahku memerah, ada bunga-bunga bermekaran di sekitar wajahku ....

... di depanku ada Fian, si tentara ganteng. Telanjang bulat, hanya menggenggam handuk di satu tangan, yang ditempelkan ke perut kotak-kotak, sehingga handuk itu menggantung ke bawah menutupi area kontolnya, tapi kan ... tapi bagian pinggingnya yang telanjang terekspos, dan siapa pun yang ada di belakang Fian akan bisa melihat pantat telanjangnya ....

Fian mengulurkan tangan lagi ke arahku, seperti pagi tadi.

Tangan yang besar, menjulur dari lengan yang kekar dan berotot, yang menempel di bahu lebar dan berotot, yang bikin dadanya yang bidang itu membusung lebih dekat ..., dan berotot.

Aku membeku.

“Dek?”

“Eh ... oh?” Baru beberapa detik kemudian aku kembali lagi ragaku dan menerima uluran tangan Fian.

Buru-buru aku berbalik memunggungi Fian untuk membetulkan handukku, supaya diliiltnya di tempat yang tepat, yaitu di pinggang. Dan aku pun melepaskan handuk di kepalaku, supaya enggak kelihatan ngondek. Di depan tentara mah kita enggak boleh ketahuan LGBT, Kak. Bisa-bisa kita ditembak pake alutsista.

Ketika aku berbalik, Fian juga sudah merapikan handuknya. Melilitkannya di pinggang seperti sebelum aku tabrak barusan. Di bawah cahaya koridor remang-remang pukul satu malam, aku bisa melihat siluet kekar tentara ganteng itu, lengkap dengan lekukan-lekukan ototnya, bulat hitam putingnya, dan juga otot abdominal roti sobeknya.

Dan ada jendolan kontol di balik handuk itu.

Mampus, aku.

“Adek enggak apa-apa?” tanya Fian, dengan serius menundukkan kepala menatap wajahku. Badan Fian ini tinggi banget. Mungkin di atas 185 cm.

Aku menelan ludah. Aku menundukkan kepala, enggak berani menatap mata tentara itu. “Gapapa. Hehe. Gapapa.” Lalu dengan canggung aku berusaha menjauhkan lenganku dari badanku. Gestur lelaki manly kan begitu. Kalau lenganmu nempel ke badanmu, itu gestur ngondek.

Sekalian juga aku membusungkan sedikit dadaku, meskipun enggak kekar kayak si Fian.

“Masih bangun?”

Eh si goblok malah ngajak ngobrol. Kontolku udah setengah ngaceng, anjing!

“Ba ... baru mau tidur. Ha ... habis mandi.”

“Kamar Adek di mana?”

Namaku Rohmat, Bang! ROHMAT! Tolong jangan panggil Adek, nanti aku baper.

Ngapain juga nanyain kamarku, hah? Mau mampir? Mau bikin aku berharap Abang main ke kamarku, hah?

Enggak! Aku enggak akan ngasih tahu kamarku yang mana!! Enggak akan pernah!!

“Di sana, Mas. Paling ujung, tiga kamar dari sini, di samping pot bunga lidah mertua. Yang ada rak sepatu warna pink, yang pintunya ngadep ke lapangan, yang di jendelanya ada stiker kampus sebelah karena dulu kamarnya bekas mahasiswa, yang ada jemuran handuknya itu,” kataku akhirnya.

Fian menoleh ke belakang untuk melihat lokasi yang kutunjuk.

Anjir, Kak. Lehernya aja, waktu dia noleh barusan, seksi banget. Leher kekar dan jenjang.

“Oke. Good,” kata Fian sembari kembali melihat ke arahku dan tersenyum lebar. Satu jempolnya bahkan terangkat, entah untuk apa.

“Bapak ... Bapak ngekos di sini juga?”

Fian terkekeh. “Jangan panggil Bapak, dong. Belum kawin, saya. Belum kolonel. Belum marsekal.”

“Tapi udah kopral?”

“Hahaha ...!” Fian tertawa seketika. Tawa yang sangat renyah. “Udah, dong. Udah lama lewat itu mah.” Setelah tawanya reda, menertawakan kekonyolan Bu Lusi siang tadi yang terus-menerus menyebutkan kopral, Fian pun menjelaskan, “Panggil Abang aja.”

Ah, baper ini mah.

“Saya lagi maen ke kosan temen saya di bawah,” lanjutnya. “Lagi ... yah ... main aja. Terus ini mau mandi. Disuruh ke lantai atas katanya. Lebih bersih.”

“O ... oke.” Aku mengasumsikan temannya Fian itu salah satu penghuni laki-laki di lantai satu. Lantai yang kamar mandinya memang kotor. Sehingga menurutku agak niat juga dia naik ke lantai tiga demi kamar mandi yang bersih.

Fian tiba-tiba menggosok belakang kepalanya. Yang artinya dia mengangkat lengannya yang kekar itu.

Yang artinya keteknya terekspos.

Dan sebagai gay default Indonesia, tentu mataku langsung tertuju ke ketek itu.

Keteknya berbulu. Cukup lebat.

Kemudian aku nyadar, ngapain aku melihat ke keteknya?

Jadi buru-buru aku menurunkan pandangan, tetapi Fian keburu melihatnya. Bukannya menurunkan lengan, Fian malah mengangkat lengannya lebih tinggi, lalu menatap keteknya sendiri. Dia bahkan memainkan bulu-bulu keteknya dengan tangan yang satu lagi.

“Ah, iya, saya perlu cabut bulu, nih,” kata Fian. “Adek bisa bantu saya cabutin semua ini?”

Oke, aku harus melompat dari lantai tiga sekarang juga.

“Kan tadi siang Adek bisa praktikin cara cabut bulu ketek ....”

Tuh, kan dibahas.

Setan dajjal emang ini tentara!

Aku lompat aja deh ke bawah, bunuh diri. Malu banget anjir, dibahas lagi soal kekonyolanku di klinik, oleh tentara ganteng yang aku suka!

Karena aku salah tingkah, wajahku udah merah, aku cuma mengangguk kecil. Enggak berani menatap wajah Fian. “Iya.”

Good! Kapan-kapan bantu Abang cabutin bulu-bulu ini, ya?” Fian pun mendekat dan menepuk bahuku. “Ya udah .... Abang mandi dulu. Have a good sleep!” Lalu dia pun berjalan melewatiku menuju kamar mandi.

Aromanya gimana?

Aromanya manly banget, ANJING!

Aroma enak laki-laki yang habis keringatan, lalu hangat, lalu ada sensasi pastry dan keju, yang bikin kita pengin jilatin itu badan.

Ah!

Coli lagi ini sih begitu nyampe kamar. Aroma tubuh Fian masih kerasa pekat di hidungku saat lewat, dan waktu tabrakan tadi enggak sengaja aku meremas badannya juga. Badan yang kenyal dan tebal itu.

AH!

Udah. Harus coli dan mandi lagi nanti.

Dengan canggung aku langsung berjalan ke kamarku, tanpa pamit atau menutup pembicaraan dengan Fian. Sebelum aku benar-benar berbelok, Fian memanggilku lagi.

“Eh, Dek!”

Aku berhenti melangkah, lalu menelan ludah. Aku menoleh. “Ya?”

Fian tiba-tiba menghampiriku lagi. “Kemarin tuh, kan udah ada tes kesehatan, ya. Ada beberapa calon tamtama yang testisnya dicurigai varikokel. Kita butuh pemeriksaan ultrasound buat mastiin. Klinik yang assist kemarin enggak punya alat USG-nya. Abang rekomendasiin ke klinikmu, ya? Bisa?”

“Bi ... bisa.”

Thanks! Nanti Abang rujuk dia ke situ. Adek tolong bantu cekin, dia ada varikokelnya atau enggak.” Fian mengedipkan sebelah mata, lalu menepuk bahuku lagi sebelum berbalik menuju kamar mandi. “Good night!

Good ... night.


[ ... ]


Ya baper, sih.

Aku hampir enggak bisa tidur gara-gara kebanyakan senyam-senyum sendiri membayangkan ulang adegan ngobrol bersama Fian di koridor. Aku masih ingat detail tubuh setengah telanjangnya itu, termasuk lekukan ototnya, terlebih aroma tubuhnya yang maskulin. Aku juga bisa memvisualisasikan lagi area panggul telanjang, yang bagian V merujuk ke selangkangan, yang semalam terekspos dan tidak tertutup handuk yang menggantung.

Pagi itu aku coli.

Kali ini sambil membayangkan Fian, dan crot-ku luar biasa dahsyat.

Yang pasti mood-ku bagus, sih—meskipun aku kurang tidur. Aku mandi pukul delapan pagi dan kebetulan kamar mandinya sepi. Enggak ada Ida di sana. Aku sarapan dulu di kosan, membuat oat dan mencampurnya dengan pisang. Kemudian aku menyeduh kopi yang hangat sebelum benar-benar berangkat. Dengan senyum lebar aku juga me-Whatsapp Ida, menanyakan stok sugar waxing yang dia jual. Sebab aku mau menjualnya ke beberapa rekan kerjaku di klinik hari ini.

Ida bilang, Datang aja ke kosan gue, Cong. Nih gue kasih selusin langsung, ya!

Kubalas, Iya. Entar sebelum berangkat gue mampir.

Lalu aku menghabiskan kopiku sembari mendengarkan lagu-lagu romantis dari Spotify.

Dengan hati yang berbunga, aku pun keluar dari kamar kosan pukul 9.15. Aku akan memesan GoJek saja, enggak akan naik angkot. Dengan wajah mesum kayak lagi bucin begini mah enggak mungkin aku naik angkot. Nanti penumpang lain mengira aku psycho. Aku menuruni tangga sembari membuka aplikasi ojek online, tetapi aku mampir dulu ke kamar Ida untuk mengambil sugar waxing.

Tok! Tok! Tok! “Lonte! Ini gue! Mau ngambil sugar waxing!” sapaku di depan pintu.

Agak lama Ida merespons. Tapi semenit kemudian, kenop pintunya turun, dan pintu pun terbuka. Seseorang melongokkan setengah badannya dari dalam, menyapaku dengan senyum, “Halo, Dek!”

Aku membeku di tempat. Kayak lagi lihat hantu.

Yang buka pintu kamar Ida adalah ....

... Fian.


[ ... ]


Komentar