Halo, Kak!
Tahu enggak, sampai pulang kerja hari
itu, kepalaku masih enggak bisa lepas dari tugas baru minggu depan. Jujur,
efeknya positif. Aku tersenyum riang sepanjang hari, melayani pasien siang dan
sore dengan lebih ramah dan baik hati.
Sepeninggal Fian dari klinik, aku
dipanggil lagi Bu Lusi ke ruangannya. Kali ini bersama Geca, untuk mendapatkan
penjelasan handover tugas medical check up di perusahaan tekstil.
Setelahnya, aku juga dijelaskan ulang oleh Bu Lusi terkait hal-hal apa saja
perlu kulakukan saat membantu TNI-AU nantinya.
Melakukan tes kesehatan—kalau boleh
lebai—sudah jutaan kali kulakukan. Umumnya adalah pemeriksaan luar menggunakan
visual, ditambah pengambilan sampel seperti darah atau urin, baik itu dengan
jarum suntik, finger prick, bahkan swab. Aku juga terlatih
melakukan wawancara riwayat kesehatan dengan pasien, bahkan sudah mendapatkan
sertifikasi untuk menjelaskan rekam medisnya, meski bukan dokter. Rontgen dan
segala jenis pengambilan sampel pernah kulakukan, baik itu saat meng-assist
dokter atau petugas laboratoriumnya, maupun ketika aku harus melakukannya
sendiri karena dokternya sedang cuti.
Sekali lagi kuingatkan ya, Kak, ini
klinik swasta. Hehehe. Sering banget kekurangan staf medis. Jadi, segala jenis
pekerjaan mesti bisa kulakukan, meskipun job desk-ku bukan itu. Orang
awam mengira perawat memang harus melakukan segalanya. Padahal setiap tenaga
medis punya porsinya masing-masing.
Salah satu dari tes yang memang
dilakukan calon tamtama adalah mengecek varikokel. Varikokel tuh kondisi ketika
pembuluh darah vena, di biji pelermu itu, membengkak. Efeknya secara umum
berkaitan dengan tingkat kesuburan laki-laki. Jadi kalau kamu sange nih,
Kak, kan itu bikin jantung memompa darah ke kontol ya, sehingga kontolmu ngaceng.
Dan selama sange itu, skrotum, atau biji pelermu itu, menyiapkan air
mani untuk di-crot-kan keluar, yang lazimnya disemburkan ke vagina lalu
membuahi sel telur. Proses persiapan air mani itu termasuk penghasilan cairan
praejakulasi (precum) dari kelenjar Cowper, untuk menetralisir keasaman
uretra supaya sperma-sperma itu enggak metong dalam perjalanannya
menyembur dari lubang kontol.
Nah, kalau Kakak punya varikokel, darah
di pembuluh vena yang membengkak itu enggak bisa balik lagi ke jantung dengan
optimal. Akibatnya biji pelermu itu “memanas”, Kak. Jadi anget. Kalau suhunya
lebih tinggi dari suhu badan kita sendiri, itu bisa mengurangi produksi sperma
yang sehat.
(Tapi berhubung Kakak kemungkinan crot-nya
di dalam bool atau crot handsfree karena bool-nya
sedang dihantam sih, mungkin kehadiran varikokel enggak begitu ngaruh dalam
hidup Kakak.)
Untuk mengetahui ada atau enggaknya varikokel,
dilakukan pemeriksaan luar dengan cara meraba-raba testis dan merasakan
kehadiran benjolan atau pembengkakan di pembuluh vena. Tapi ada juga cara lain
yang lebih pasti, yaitu melalui ultrasonografi, atau USG, kayak ibu-ibu hamil memeriksa
kandungannya. Prosesnya sama persis, Kak. Bedanya yang di-USG bukan rahimmu,
melainkan bijimu. Nanti juga ada layarnya gitu di samping ranjang, untuk
melihat apa yang ada di dalam tubuhmu. Gambarnya tuh yang hitam putih abstrak
gerak-gerak enggak jelas gitu.
Cuma kalau biasanya si pemeriksa bilang,
“Nah, Bu, itu anak Ibu. Lihat nih kepalanya ... naaahhh ..., kalau ini kakinya.
Kalau dari anatominya sih, anak Ibu laki-laki.”
Di pemeriksaan varikokel, pemeriksanya
bilang, “Nah, Pak, itu biji Bapak.”
Aku sudah melakukan tes varikokel
beberapa kali. Jadi aku udah meraba-raba juga kontol pasien varikokelku sewaktu
aku harus melakukan USG dan mengambil gambar. (Yang memberikan diagnosa tetap
petugas medis yang berwenang. Bukan aku, kok.) Lalu kenapa aku se-excited
ini menyambut tugas med-check minggu depan?
Karena ini semua calon tentara, cuuuyyy
...!
Yang kuperiksa cowok-cowok macho, tegap,
gagah, dan calon pembela bangsa!
Mana pernah aku megang kontol tentara
maupun calon-calonnya. Kan jadinya ....
Ah!
[ ... ]
Sampai di kosan, mood-ku
superbagus. Untuk merayakan, aku beli makan malam lewat ShopeeFood, alih-alih
masak sendiri untuk berhemat. Aku pesan sosis bakar bumbu barbeku, lalu buka
lagi ShopeeFood-nya untuk memesan Mixue. Enggak tahu kenapa pengin makan sosis.
Mendadak hari itu, segala sesuatu yang berbentuk sosis jadi highlight of the
day-ku.
Sambil menyantap makan malam, aku juga
mendengar musik ceria dari Spotify. Aku rebahan sambil scroll Tiktok,
bahkan sempat membuka aplikasi kencan, tapi enggak kepingin-kepingin amat buat ngewe.
(FunNowNPNC19cm masih belum balas juga, tapi aku sudah enggak berharap banget
bisa ketemu “19 cm” tersebut.) Lama-lama aku jadi explore di Instagram, mencari
semua akun yang namanya Rafianto. Berharap bisa nemu akun IG Rafianto si
tentara ganteng itu.
Enggak. Enggak nemu.
Ngecek di IG tentarapolisiganteng pun si
Fian belum mejeng di sana. Mungkin dia enggak punya medsos. Tapi gara-gara itu,
aku jadi nge-scroll foto-foto telanjang dada para abdi negara itu. Dan
aku sange.
Ujung-ujungnya aku coli juga. Aku
buka Twitter, kulepaskan celanaku, lalu aku ngocok.
Dan, seperti biasa, coli-ku agak
lama. Sampai dua jam kemudian, aku belum crot karena belum nemu bokep
yang pas banget untuk kutonton sambil crot.
Mendekati tengah malam, akhirnya aku crot.
Enggak ada yang istimewa, sih. Jadi aku
enggak ceritain ya, Kak. Aku rebahan sebentar sebelum akhirnya mengambil handuk
dan pergi ke kamar mandi. Lagi-lagi, karena aku sedang good mood,
mandinya aku lama-lamain. Toh ini sudah hampir tengah malam, enggak akan ada
yang pake kamar mandi juga jam segini. Aku luluran, scrub, pake
kondisioner, menggosok punggungku cukup lama, bahkan melakukan douching
dengan enema meskipun jelas aku enggak akan disodomi siapa pun malam ini.
Yang pasti aku keluar dari kamar mandi
dalam kondisi segar, wangi, dan mulus. Saking manjanya, aku membungkus kepalaku
dengan handuk bak ibu-ibu habis mandi, kemudian melilit handuk yang besar ke
hingga ke dadaku. Persis cewek-cewek.
Tapi sumpah, biasanya aku enggak pernah
begitu. Dan aku berani begitu pun karena ini sudah pukul satu dini hari. Sudah
enggak akan ada orang yang melihatku berjalan dari kamar mandi ke kamarku
dengan handuk dililit sampai dada, lalu kepalaku dibungkus handuk lain juga.
Aku bisa berlari cepat dari kamar mandi
ke kamar.
Atau mungkin sebaiknya aku berlari saja.
Takutnya ada orang yang melihatku
berpenampilan kayak begini di koridor kosan, entar aku dikira ngondek beneran.
Bertahun-tahun aku berlatih macho supaya enggak kelihatan bencong, jangan
sampai identitasku bocor gara-gara kelakuanku pake handuk tengah malam.
Aku membuka pintu kamar mandi
pelan-pelan, lalu melirik ke segala arah.
Enggak ada orang. Sesuai dugaan. Lima
penghuni lain di lantai tiga—waktu aku lewat tadi—pintu kamarnya tertutup,
lampunya sudah padam. Pasti mereka sudah tidur.
Aku pun mengendap-endap keluar, lalu
berlari di sepanjang koridor sambil memegang handuk di kepalaku, dan satu
tangan lain menenteng—
BRUUUKKK ...!!!
....
“Argh!”
....
Aku menabrak orang di belokan koridor
menuju kamar.
Dan aku terjengkang ke belakang,
terpelanting hingga tersungkur di atas lantai ubin, dengan handuk di badanku
tersingkap ke samping, sehingga aku buru-buru menutupnya karena takut kontolku
kelihatan.
Orang yang kutabrak juga terkejut,
tetapi dia enggak jatuh. Hanya mundur satu langkah ke belakang, kakinya masih
bisa berdiri tegak.
Orang itu juga sedang telanjang dan
mengenakan handuk saja.
Dan orang itu badannya besar.
Kekar.
FUCK!
....
Orang itu adalah Fian!
Tentara ganteng itu!
“Dek? Enggak apa-apa?” tanya Fian, yang
handuknya merosot juga, tetapi dengan sigap dia meremas satu bagiannya, lalu
menempelkannya ke perut, supaya kontolnya tertutupi.
Detik itu aku enggak punya alasan angkot
ngetem untuk menghindari momen drama romantis seperti di film-film. Rasanya
waktu berjalan lambat, kamera men-zoom in wajahku, lalu wajahku memerah,
ada bunga-bunga bermekaran di sekitar wajahku ....
... di depanku ada Fian, si tentara
ganteng. Telanjang bulat, hanya menggenggam handuk di satu tangan, yang
ditempelkan ke perut kotak-kotak, sehingga handuk itu menggantung ke bawah
menutupi area kontolnya, tapi kan ... tapi bagian pinggingnya yang telanjang
terekspos, dan siapa pun yang ada di belakang Fian akan bisa melihat pantat
telanjangnya ....
Fian mengulurkan tangan lagi ke arahku,
seperti pagi tadi.
Tangan yang besar, menjulur dari lengan
yang kekar dan berotot, yang menempel di bahu lebar dan berotot, yang bikin
dadanya yang bidang itu membusung lebih dekat ..., dan berotot.
Aku membeku.
“Dek?”
“Eh ... oh?” Baru beberapa detik
kemudian aku kembali lagi ragaku dan menerima uluran tangan Fian.
Buru-buru aku berbalik memunggungi Fian
untuk membetulkan handukku, supaya diliiltnya di tempat yang tepat, yaitu di
pinggang. Dan aku pun melepaskan handuk di kepalaku, supaya enggak kelihatan
ngondek. Di depan tentara mah kita enggak boleh ketahuan LGBT, Kak.
Bisa-bisa kita ditembak pake alutsista.
Ketika aku berbalik, Fian juga sudah
merapikan handuknya. Melilitkannya di pinggang seperti sebelum aku tabrak
barusan. Di bawah cahaya koridor remang-remang pukul satu malam, aku bisa
melihat siluet kekar tentara ganteng itu, lengkap dengan lekukan-lekukan
ototnya, bulat hitam putingnya, dan juga otot abdominal roti sobeknya.
Dan ada jendolan kontol di balik handuk
itu.
Mampus, aku.
“Adek enggak apa-apa?” tanya Fian,
dengan serius menundukkan kepala menatap wajahku. Badan Fian ini tinggi banget.
Mungkin di atas 185 cm.
Aku menelan ludah. Aku menundukkan
kepala, enggak berani menatap mata tentara itu. “Gapapa. Hehe. Gapapa.” Lalu
dengan canggung aku berusaha menjauhkan lenganku dari badanku. Gestur lelaki manly
kan begitu. Kalau lenganmu nempel ke badanmu, itu gestur ngondek.
Sekalian juga aku membusungkan sedikit
dadaku, meskipun enggak kekar kayak si Fian.
“Masih bangun?”
Eh si goblok malah ngajak ngobrol.
Kontolku udah setengah ngaceng, anjing!
“Ba ... baru mau tidur. Ha ... habis
mandi.”
“Kamar Adek di mana?”
Namaku Rohmat, Bang! ROHMAT! Tolong
jangan panggil Adek, nanti aku baper.
Ngapain juga nanyain kamarku, hah? Mau
mampir? Mau bikin aku berharap Abang main ke kamarku, hah?
Enggak! Aku enggak akan ngasih tahu
kamarku yang mana!! Enggak akan pernah!!
“Di sana, Mas. Paling ujung, tiga kamar
dari sini, di samping pot bunga lidah mertua. Yang ada rak sepatu warna pink,
yang pintunya ngadep ke lapangan, yang di jendelanya ada stiker kampus sebelah
karena dulu kamarnya bekas mahasiswa, yang ada jemuran handuknya itu,” kataku
akhirnya.
Fian menoleh ke belakang untuk melihat
lokasi yang kutunjuk.
Anjir, Kak. Lehernya aja, waktu dia
noleh barusan, seksi banget. Leher kekar dan jenjang.
“Oke. Good,” kata Fian sembari
kembali melihat ke arahku dan tersenyum lebar. Satu jempolnya bahkan terangkat,
entah untuk apa.
“Bapak ... Bapak ngekos di sini juga?”
Fian terkekeh. “Jangan panggil Bapak,
dong. Belum kawin, saya. Belum kolonel. Belum marsekal.”
“Tapi udah kopral?”
“Hahaha ...!” Fian tertawa seketika.
Tawa yang sangat renyah. “Udah, dong. Udah lama lewat itu mah.” Setelah
tawanya reda, menertawakan kekonyolan Bu Lusi siang tadi yang terus-menerus
menyebutkan kopral, Fian pun menjelaskan, “Panggil Abang aja.”
Ah, baper ini mah.
“Saya lagi maen ke kosan temen saya di
bawah,” lanjutnya. “Lagi ... yah ... main aja. Terus ini mau mandi. Disuruh ke
lantai atas katanya. Lebih bersih.”
“O ... oke.” Aku mengasumsikan temannya
Fian itu salah satu penghuni laki-laki di lantai satu. Lantai yang kamar
mandinya memang kotor. Sehingga menurutku agak niat juga dia naik ke lantai
tiga demi kamar mandi yang bersih.
Fian tiba-tiba menggosok belakang
kepalanya. Yang artinya dia mengangkat lengannya yang kekar itu.
Yang artinya keteknya terekspos.
Dan sebagai gay default
Indonesia, tentu mataku langsung tertuju ke ketek itu.
Keteknya berbulu. Cukup lebat.
Kemudian aku nyadar, ngapain aku melihat
ke keteknya?
Jadi buru-buru aku menurunkan pandangan,
tetapi Fian keburu melihatnya. Bukannya menurunkan lengan, Fian malah
mengangkat lengannya lebih tinggi, lalu menatap keteknya sendiri. Dia bahkan
memainkan bulu-bulu keteknya dengan tangan yang satu lagi.
“Ah, iya, saya perlu cabut bulu, nih,”
kata Fian. “Adek bisa bantu saya cabutin semua ini?”
Oke, aku harus melompat dari lantai tiga
sekarang juga.
“Kan tadi siang Adek bisa praktikin cara
cabut bulu ketek ....”
Tuh, kan dibahas.
Setan dajjal emang ini tentara!
Aku lompat aja deh ke bawah, bunuh diri.
Malu banget anjir, dibahas lagi soal kekonyolanku di klinik, oleh tentara
ganteng yang aku suka!
Karena aku salah tingkah, wajahku udah
merah, aku cuma mengangguk kecil. Enggak berani menatap wajah Fian. “Iya.”
“Good! Kapan-kapan bantu Abang
cabutin bulu-bulu ini, ya?” Fian pun mendekat dan menepuk bahuku. “Ya udah ....
Abang mandi dulu. Have a good sleep!” Lalu dia pun berjalan melewatiku
menuju kamar mandi.
Aromanya gimana?
Aromanya manly banget, ANJING!
Aroma enak laki-laki yang habis
keringatan, lalu hangat, lalu ada sensasi pastry dan keju, yang bikin
kita pengin jilatin itu badan.
Ah!
Coli lagi ini sih begitu nyampe kamar. Aroma
tubuh Fian masih kerasa pekat di hidungku saat lewat, dan waktu tabrakan tadi
enggak sengaja aku meremas badannya juga. Badan yang kenyal dan tebal itu.
AH!
Udah. Harus coli dan mandi lagi
nanti.
Dengan canggung aku langsung berjalan ke
kamarku, tanpa pamit atau menutup pembicaraan dengan Fian. Sebelum aku
benar-benar berbelok, Fian memanggilku lagi.
“Eh, Dek!”
Aku berhenti melangkah, lalu menelan
ludah. Aku menoleh. “Ya?”
Fian tiba-tiba menghampiriku lagi. “Kemarin
tuh, kan udah ada tes kesehatan, ya. Ada beberapa calon tamtama yang testisnya
dicurigai varikokel. Kita butuh pemeriksaan ultrasound buat mastiin.
Klinik yang assist kemarin enggak punya alat USG-nya. Abang
rekomendasiin ke klinikmu, ya? Bisa?”
“Bi ... bisa.”
“Thanks! Nanti Abang rujuk dia ke
situ. Adek tolong bantu cekin, dia ada varikokelnya atau enggak.” Fian
mengedipkan sebelah mata, lalu menepuk bahuku lagi sebelum berbalik menuju
kamar mandi. “Good night!”
“Good ... night.”
[ ... ]
Ya baper, sih.
Aku hampir enggak bisa tidur gara-gara
kebanyakan senyam-senyum sendiri membayangkan ulang adegan ngobrol bersama Fian
di koridor. Aku masih ingat detail tubuh setengah telanjangnya itu, termasuk
lekukan ototnya, terlebih aroma tubuhnya yang maskulin. Aku juga bisa
memvisualisasikan lagi area panggul telanjang, yang bagian V merujuk ke
selangkangan, yang semalam terekspos dan tidak tertutup handuk yang
menggantung.
Pagi itu aku coli.
Kali ini sambil membayangkan Fian, dan crot-ku
luar biasa dahsyat.
Yang pasti mood-ku bagus, sih—meskipun
aku kurang tidur. Aku mandi pukul delapan pagi dan kebetulan kamar mandinya
sepi. Enggak ada Ida di sana. Aku sarapan dulu di kosan, membuat oat dan
mencampurnya dengan pisang. Kemudian aku menyeduh kopi yang hangat sebelum
benar-benar berangkat. Dengan senyum lebar aku juga me-Whatsapp Ida, menanyakan
stok sugar waxing yang dia jual. Sebab aku mau menjualnya ke beberapa
rekan kerjaku di klinik hari ini.
Ida bilang, Datang aja ke kosan gue,
Cong. Nih gue kasih selusin langsung, ya!
Kubalas, Iya. Entar sebelum berangkat
gue mampir.
Lalu aku menghabiskan kopiku sembari
mendengarkan lagu-lagu romantis dari Spotify.
Dengan hati yang berbunga, aku pun
keluar dari kamar kosan pukul 9.15. Aku akan memesan GoJek saja, enggak akan
naik angkot. Dengan wajah mesum kayak lagi bucin begini mah
enggak mungkin aku naik angkot. Nanti penumpang lain mengira aku psycho.
Aku menuruni tangga sembari membuka aplikasi ojek online, tetapi aku
mampir dulu ke kamar Ida untuk mengambil sugar waxing.
Tok! Tok! Tok! “Lonte! Ini gue! Mau ngambil sugar
waxing!” sapaku di depan pintu.
Agak lama Ida merespons. Tapi semenit
kemudian, kenop pintunya turun, dan pintu pun terbuka. Seseorang melongokkan
setengah badannya dari dalam, menyapaku dengan senyum, “Halo, Dek!”
Aku membeku di tempat. Kayak lagi lihat
hantu.
Yang buka pintu kamar Ida adalah ....
... Fian.
Komentar
Posting Komentar