(HD) 4. Doa Mama Menembus Langit




Halo, Kak!

Apa aku pingsan? Hampir.

Apa aku membeku terkejut? Sudah pasti.

Apa aku cemburu karena Fian ternyata menginap di kamarnya Ida? Bukan lagi.

“Ngambil sugar waxing, ya?” sapa Fian, dengan senyum ganteng yang gagah ala-ala tentara.

Apa aku merasa malu?

BANGET!

“Ini,” kata Fian, sembari mengulurkan sekantung kresek penuh produk sugar waxing yang ditawarkan Ida. “Buat ditawarin ke teman-teman di klinik, kan?”

Please stop ngomong. Aku udah enggak tahu harus ngapain lagi dalam situasi ini.

“Heh, bencong! Ditanya, tuh! Buat di klinik, kan?” sahut Ida dari dalam kamar, sambil sibuk menggambar alis di depan cermin.

Goblok memang lonte satu ini. Di depan tentara ganteng macam gini dia memanggilku bencong?!

Inilah salah satu momen di mana aku benci Ida dan berharap kemarin aku menyorongkan tubuhnya melewati pagar, lalu Ida mati terjatuh dari lantai tiga, tubuhnya tertancap ke kaca spion sepeda motor yang parkir di bawah.

“Iya,” jawabku, dengan suara bergetar.

“Mau diantar ke klinik? Saya ada motor,” tawar Fian.

“Enggak usaaahhh ...!” sahut Ida, mulai menggambar alis satunya lagi. “Dia biasa naik angkot.”

Kusantet kau IDA!

“Enggak usah,” jawabku, sembari dengan canggung berjalan mundur. “Aku ... aku mau mampir dulu ke Indomaret soalnya. Takut lama.”

“Gapapa. Bisa saya antar.”

“Enggak usah gapapa,” kataku, benar-benar salah tingkah. “Lagian Abang ... belum pake baju.”

Fian tuh enggak pake baju, Kak. Dia telanjang dada. Pake kolor putih doang, setengah paha. Kolor ala-ala tentara. Badannya yang kekar dan berlekuk-lekuk itu terlihat jelas memantulkan sinar mentari pagi yang keemasan. Benar-benar bikin kontol berkedut-kedut.

Fian menghela napas. “Ya udah kalau enggak bisa. Hati-hati di jalan, ya.”

“Eh, Mat! Lo mau ke Indomaret, kan?”

“Hmmm.”

“Gue nitip beliin bedak Sari Pohatji, ya.”

“Mana ada Sari Pohatji di Indomaret!”

“Ya berarti lu cari ke tempat yang jual, ya! Byeee ...!

Aku lihat Fian terkekeh mendengar itu. Dia lalu mengangguk dan tersenyum, kemudian menutup pintu. Aku berbalik menyusuri koridor dengan perasaan dongkol karena dipermalukan Ida di depan Fian, dan fakta bahwa Fian ada di kamar Ida. Apa artinya dia semalam menginap di kosan Ida? Apa artinya semalam waktu aku ketemu dia handukan aja di lantai tiga, dia habis ngewe sama Ida? Apa artinya kemarin pagi waktu aku tabrakan sama Fian di depan, Fian bermaksud nyamperin Ida?

Bangsat.

Suatu hari akan kutuang sugar waxing ini ke kepala Ida, sehingga Ida terpaksa menarik lilin di rambutnya, lalu Ida jadi botak.

Suasana hatiku hari itu agak campur aduk. Aku senang bisa bertemu Fian lagi di kosan, tetapi aku bete bukan main gara-gara Ida. Untungnya pasien hari itu cukup banyak sehingga fokusku bisa teralihkan. Menjelang sore, aku meeting dengan Bu Lusi terkait kegiatan medical check up barengan calon tamtama tentang apa saja yang perlu kusediakan. Seperti biasa aku juga di-briefing untuk memberi tahu dan menyebarkan flyer tentang produk MCU di klinik kami.

Biasa, lah. Klinik swasta. Kalau ada keramaian pasti cari cara buat ngiklan.

Selesai mengirimkan laporan rekam medis pasien-pasien BPJS yang berkunjung mulai pukul 4 sore barengan dr. Stephen, aku pulang dari klinik sebelum Isya. Geca kebagian shift siang, sehingga dia pulang malam. Ketika aku keluar dari loker, Geca sedang menunggu di station-nya barengan lima pasien yang berkunjung setelah Magrib.

“Beneran lu enggak mau nambah lagi?” tawarku saat transit di depan meja registrasi.

“Enggak, ah!” balas Geca, sembari menulis data pasien yang baru saja datang. “Emangnya bulu gue tumbuh tiap hari?”

“Ya iyalah!” sergahku. “Emangnya bulu ketek kayak puasa Nabi Daud, selang-seling sehari?”

“Ya kan enggak bakal tumbuh lima senti dalam semalam, anjir. Gue mau cobain satu dulu aja. Kalau oke gue repeat order.”

Aku menghela napas sambil melorotkan bahu. “Ya udah,” kataku, sambil cengar-cengir sebel. “Kalau ada temen lu yang pengin, kabari gue, ya!”

“Iya!”

Bye ....

Hari itu aku hanya berhasil menjual tiga kotak sugar waxing dari selusin yang ditawarkan Ida. Dr. Keandra hari ini enggak praktik, jadi aku enggak bisa jual ke dia. Tapi setelah dipikir-pikir, dia juga treatment-nya di beauty clinic, di-waxing-in ama orang lain, bukan olesin sendiri pake produk-produk tawaran Ida. Mungkin sisa sugar waxing ini akan kucoba jual di live Tiktok.

Sepulang dari klinik, aku enggak langsung pulang ke kosan. Aku mampir dulu ke salah satu supermarket lokal dekat lanud untuk belanja kebutuhan bulanan. Supermarket ini semacam Superindo atau Borma, tapi yang punyanya warga sekitar sini juga. Lumayan besar dan luas tempatnya. Yang dijual lumayan beragam, termasuk produk-produk UMKM lokal yang enggak mungkin masuk jaringan retail raksasa. Misalnya jamu-jamu, kerajinan lokal, oleh-oleh, dan lain sebagainya. Dengan begitu, Sari Pohatji mungkin dijual di sini juga.

Rencanaku, aku akan membeli Sari Pohatji di sini, lalu menagihnya ke Ida dengan harga yang lebih mahal 20-30%. Biar dia tahu rasa!

Aku tiba di supermarket kira-kira pukul delapan. Ketika aku turun dari angkot, beberapa calon tentara tampak berkumpul di pintu depan—yang juga terdapat penjual-penjual lokal seperti kue balok, pukis, es teh, dan lomie. Sebagian dari mereka menyantap lomie, sebagian lagi mengobrol biasa saja.

Ketika aku lewat pintu depan, aku melihat satu calon taruna sedang menangis dan menelepon di pojokan. Dia menghadap ke sudut. Bahunya berguncang naik turun dan dia terisak-isak.

Ndak keterima, Mah .... Hiks ..., hiks ..., hiks ....” Satu tangannya memegang dinding, dan mencengkeramnya dengan gemetar. “Aku ndak lolos, Maaa ....”

Seorang temannya muncul untuk merangkulnya. “Brooo .... Yang sabar.”

Aku tak bisa mendengar kelanjutannya karena aku sudah masuk dan mengambil keranjang belanja. Agak sedih sih melihat orang yang seserius itu ingin masuk tentara, tapi enggak lolos. Aku enggak tahu apa yang bikin dia enggak lolos. Semoga dia masih bisa mendaftar tahun depan dan memperbaiki kekurangannya.

Sepanjang aku berbelanja, beberapa lelaki berkepala gundul dengan celana katun tampak hilir mudik juga di dalam supermarket. Kayaknya hari ini ada kegiatan di lanud. Mungkin salah satu batch penerimaan TNI? Bisa jadi. Satu orang lelaki membawa-bawa satu lembar kertas kardus yang ditulisi:


BUKAN AKU YANG HEBAT TAPI DOA ORANG TUAKU YANG KUAT

DOA BAPA MAMA MENEMBUS LANGIT ANAKMU JADI TENTARA

#DOAMAMAMENEMBUSLANGIT

#DOANENEKDARISURGAUNTUKCUCUNYAJADITENTARA

#AKUKASHARAUVANAKANMEMBELANUSADANBANGSA


Aku enggak tahu kenapa dia perlu menuliskan hashtag di situ, mengingat tagarnya tidak akan tertaut ke media sosial mana pun. Tapi aku bisa membayangkan dirinya berfoto dengan lembaran kardus itu, menunjukkan dengan bangga bahwa dia diterima untuk pendidikan militer. Wajahnya tampak semringah sepanjang belanja. Mungkin saking bahagianya, dia bolak-balik di setiap lorong supermarket, senyum-senyum sendiri dan enggak ingat bahwa dia harusnya berbelanja di sini.

Namanya Kasha Rauvan. Orang tuanya waras dalam memberi nama.

Selama dua puluh menit aku mondar-mandir untuk berbelanja kebutuhan bulanan. Sepanjang belanja aku bertemu para calon tentara yang tampaknya berbelanja juga. Kemungkinan besar mereka diterima, lalu harus tinggal di barak sini, dan mereka sedang membeli kebutuhan dasar seperti sabun, sampo, pasta gigi, atau barusan ada yang nyetok Indomie dua kardus. Sebagian dari calon tentara ini ganteng, sebagian lagi maskulin banget. Sisanya harus bersyukur keterima sebagai calon tentara. Gara-gara melihat mereka berkeliaran seperti ini, dadaku berdebar-debar lagi mengingat fakta bahwa dalam waktu dekat aku akan mengecek kontol dan bool mereka.

Yep. Bukan cuma varikokel saja. Bu Lusi tadi bilang akan ada anoskopi juga. Anoskopi adalah prosedur medis untuk mendeteksi gangguan pada saluran pencernaan. Khususnya di bagian: bool. Anoskopi dilakukan untuk mengecek wasir, fisura ani (luka di rektum), polip, kanker kolorektal, segala jenis peradangan di bagian rektum dan usus besar, dan apakah lelaki tersebut seorang boti yang sering dihantam kontol pure top sampai mentok. (Tentara biasanya melarang LGBT untuk gabung.)

Yang memeriksa anoskopi bukan suster macam aku, melainkan dokter spesialis gastroenterologi. Katanya, nanti akan ada dokter yang di-hire untuk melakukan pemeriksaan itu, tapi aku akan ada di ruangan yang sama untuk membantu mencatat dan menemani si dokter sepanjang pemeriksaan bersama entah berapa peleton calon tentara.

Jadi kalau si dokternya mengecek bool tentara pake alat anoskop, lalu dia bilang ke aku, “Ada benjolan konstan di rektum bagian atas, kayak semacam trauma. Tapi kondisi rektumnya bersih, enggak ada radang atau bahkan feses ....”

Maka aku akan menulis di catatan medisnya: PURE BOTTOM.

Wkwkwk

Bercanda.

Tapi kira-kira pemeriksaannya seperti itu. Aku juga berhak melihat ke dalam bool melalui anoskop itu untuk memastikan pencatatanku. Kalau tentaranya berbaris dan kami harus melakukan prosedur anoskopi secara masal, bisa jadi aku diminta si dokter memasukkan jariku ke bool calon tentara ini untuk mengecek tanda-tanda hadirnya wasir.

Atau istilah yang Kakak pasti kenal dan sering praktikkan: fingering.

Bayangkan Kakak mesti melakukan itu ke entah berapa banyak lelaki jantan, straight, badannya tegap dan maskulin, bisa pull up (karena itu syarat jadi abdi negara), sebagiannya ganteng dan menarik, lalu Kakak harus memegang dan memeriksa kontol maupun bool mereka. Dan mereka akan ikhlas membiarkan Kakak memain-mainkannya.

Sudah iri dengki belum sama job desk-ku ini, Kak?

Kalau sudah, mari kita lanjut, ya.

Barang terakhir yang harus kubeli malam itu adalah pelumas. Gara-gara barusan ngebahas tentang anoskopi, aku jadi teringat bahwa pelumasku kayaknya hampir habis. Aku tahu mungkin aku enggak akan ngewe dalam waktu dekat, tapi aku terbiasa untuk sedia payung sebelum hujan. Siapa tahuuu ini mah, ya ..., siapa tahuuu ..., waktu aku masukin jariku ke bool salah satu calon tentara, terus aku main-mainin prostatnya, terus dia keenakan, terus tiba-tiba dia ngasih nomor teleponnya buat ngajak ngewe, kan ..., siapa tahuuu .... Jadi, aku berjalan ke rak paling ujung yang memang ada perlengkapan untuk kegiatan orang “dewasa” di sana.

Ada kondom, cock ring vibrator, minuman penambah vitalitas, hingga pelumas. Selain ada Sari Pohatji, di sini juga ada Monogatari. Berbagai varian rasa, dari peach hingga stroberi.

Namun, ketika aku mau masuk ke lorongnya, aku menemukan dua calon tentara sedang berdiri di depan kumpulan pelumas, berbisik-bisik dengan mencurigakan. Otomatis aku melipir ke lorong lain, enggak mau kelihatan beli pelumas di depan dua tentara itu. Gimana pun, aku malu juga sih kalau harus ketahuan mengambil benda ini, meskipun nanti di kasir juga bakal kelihatan aku beli pelumas ini.

Nah, aku pindah ke lorong sebelahnya, pura-pura melihat jejeran produk baby oil. Tapi dari sini, aku bisa mendengar dua orang tentara itu berbisik-bisik agak keras.

“Enggak akan, Mas, justru aman kalau pakai ini,” kata calon tentara A.

Calon tentara B membalas, “Tapi aku ndak tahu cara pakainya.”

“Isi dulu air, terus masukin ke lubangnya.”

“Terus dipencet?”

“Ho-oh. Sampe semua airnya masuk. Terus entar keluarin lagi airnya.”

Mereka bahas apa, sih?

“Pokoknya, Mas mesti bersihin dulu isinya. Supaya nanti pas dicek, enggak ada apa-apa.”

“Emang kalau ada radang, bisa langsung sembuh pake air?”

“Bisa. Tapi pake kangen water. Si Ehsan juga lolos yang batch kemaren gara-gara dibersihin pake kangen water.”

Sumpah, aku kepo. Aku memutar lagi ke rak peralatan dewasa itu karena ingin melihat mereka sedang membahas apa. Ketika aku lewat, mereka enggak ngeh aku ada di situ, mereka sedang berdiri menempel dan berdekatan, sembunyi-sembunyi membolak-balik satu produk yang terpajang di rak.

Mereka mau beli enema.

Balon buat buat masukin air ke bool, untuk membersihkan bool dari kotoran. Sesuatu yang wajib dimiliki para bottom.

Aku geleng-geleng kepala karena mereka pikir hal itu akan meloloskannya menjadi tentara.

Mas ..., itu buat ngentot, Mas. (Selain buat bersihin usus, ya.) Itu enggak akan bikin Mas lolos tentara. Kalau bool Mas kebanyakan dimasukin kontol, ya tetep aja enggak lolos.

“Makasih ya Mas Arshan. Aku coba deh malam ini,” kata si B.

“Sama-sama, Mas Elvano. Semoga sukses, ya.”

Halah, namanya modern semua. Arshan sama Elvano. Nama-nama macam begitu sudah masuk dunia tentara sekarang. Suatu hari, kita akan punya, Jenderal TNI (Purn) Elvano Arshan Kasha Rauvan. Sudah persis dunia militer yang ada di cerita-cerita Wattpad. Yang namanya mengandung Subiyanto akan tereliminasi dari kepangkatan TNI.

Kenapa ya, namaku harus—

“ROHMAAAT!”

Aku tersentak kaget saat ada yang berteriak memanggil namaku dari jauh. Aku, Arshan, dan Elvano menoleh ke sumber suara. Di ujung lorong, seorang lelaki melambaikan tangannya dengan wajah berseri-seri.

“ROHMAT! WOY! INI GUE, ROHMAAATTT ...!”

Enggak perlu nyebut nama sampai tiga kali juga, kan?

Sialan.

Aku kenal orang itu. Dengan tergesa aku langsung menghampirinya sebelum dia membeberkan ke semua pelanggan supermarket untuk keempat kalinya, bahwa namaku Rohmat.

Siapa dia?

Dia itu mantanku, Kak ....


[ ... ]


Enggak spesifik mantan, sih. Karena enggak pernah ada janji cinta suci yang terucap pada awal-awal hubungan. Aku sama dia sempat dekat cukup lama. Khususnya pada awal-awal kepindahanku ke kota ini untuk bekerja di klinik yang sekarang. Aku ketemuan lewat aplikasi, sempat cocok, lalu jalan bareng, dan berminggu-minggu setelahnya aku mencari cara untuk keluar dari relationship itu.

Dia orang baik, Kak. Sumpah. Sayangnya aku enggak tahan sama dia. Aku enggak akan ceritain kayak gimana, tapi nanti Kakak lihat sendiri ya, alasan utama aku enggak tahan sama dia.

“Heeey ..., Mas Deva!”

Dia kelahiran 1992 dan sudah punya nama yang kekinian dari orang tuanya.

Deva mengulurkan tangannya untuk menyalamiku dengan macho. “Lu lagi ngapain di sini, Rohmat?”

Ingin sekali kujawab, “Aku lagi operasi plastik.” Tapi kuputuskan untuk enggak memperpanjang candaan itu karena nanti jadi “masalah”.

Sebenarnya bisa lho dia tuh nyebut silabel terakhir namaku aja. Misalnya, Lu lagi ngapain di sini, Mat? Enggak perlu lengkap dengan nama ROHMAT. Kan kalau cuma Mat doang, orang yang denger ngiranya namaku keren. Bisa jadi namaku Matheus atau apa gitu.

Sekali lagi, enggak usah diperpanjang. Diskusi bisa jadi enggak penting kalau kita menjawab dengan sarkasme di depan Deva.

“Ah, biasa. Belanja bulanan,” jawabku apa adanya.

“Gue juga ini belanja bulanan.”

Enggak nanya.

“Biasa, lah, gue tuh sebulan ada lima kali waktu belanja. Ada yang belanja bahan pokok, kayak makanan, buat disetok di kulkas. Tanggal lima itu biasanya. Ada belanja buat personal care. Elo tahulah, beli sabun, beli sampo, beli skincare. Ada juga hari belanja buat peralatan rumah. Kayak pel, atau sapu, atau ... ngng ..., pewangi ruangan. Itu gue tuh harus ganti tiap bulan, Rohmat. Biasa, lah. Sapu, kalau dipake setiap hari kan jadi kotor, ya. Kuman-kuman ngumpul. Nah, untuk menjaga sapunya tetap bersih ....”

Aku enggak percaya aku mendengarkan Deva menyebutkan tanggal-tanggal belanjanya hingga pembelanjaan kelima yaitu kebutuhan hobi. Misalnya, bulan ini, dia sedang hobi melukis, jadi tanggal 17 kemarin dia membeli kanvas, kuas, dan cat akrilik.

Aku enggak percaya Deva seniat itu gonta-ganti hobi setiap bulan.

Aku lebih enggak percaya aku setia mendengarkan racauannya selama bermenit-menit tanpa punya kesempatan menyela sama sekali.

Nah, ini red flag pertama yang aku maksud tadi. Red flag yang bikin aku enggak tahan sama dia. Mungkin di luar sana ada orang yang sanggup dengerin dia ngomong tanpa henti. Sayangnya orang itu bukan aku.

Aku adalah introvert yang butuh ketenangan. Enggak butuh tahu hobi seseorang setiap bulannya berganti menjadi apa saja.

“Lu balik kerja?” tanya Deva akhirnya, setelah beberapa belas menit memberi Ted Talks soal jadwal belanja bulanannya.

“Akhirnya ...,” jawabku.

“Hah?”

“I-iya. Maksud aku ..., aku baru balik kerja juga.”

“Masih di klinik? Jadi suster?”

Semudah itukah untuk ganti profesi dari suster menjadi montir atau atlet lempar lembing? Tentu saja aku masih jadi suster, Onta! Untuk apa aku sekolah keperawatan kalau ujung-ujungnya aku jadi tukang goreng kerupuk yang menggoreng pakai baju Sailormoon?!

“Iya,” jawabku, sembari menghela napas dan menenangkan diri. Aku harus sabar.

“Udah beres ini belanjanya?”

“Oh ....” Enggak mungkin aku bilang aku tinggal beli Monogatari. Entar dia bakal nanyain kehidupan seksualku. Jadi aku bilang, “Udah, kok. Ini lagi mau ke kasir.”

“Ya udah, bareng! Gue juga udah selesai. Yuk!”

Anjing.

“Lo udah makan belum?” tanya Deva sambil menjejeriku ke kasir. Aku belum menjawab pertanyaan itu, Deva sudah melanjutkan. “Gue belum makan banget. Terakhir makan jam 4 sore tadi. Itu pun tea time. Kayak teh Inggris gitu, pake biskuit-biskuit. Di ujung sana, habis dari lanud, ada kafe baru gitu. Katanya makanannya oke, view-nya juga bagus ke bandara. Mau ke sana enggak?”

“Ah, enggak usah. Aku udah—“

“Gue bayarin, kok. Tenang aja,” sela Deva, tanpa mendengarkanku sama sekali. “Sambil nemenin gue makan.”

Aku sudah membuka mulut untuk menjawab, tetapi aku menutupnya lagi. Sempat sih aku mengajukan banding, “Itu lawan arah kosan aku, Mas. Entar aku pulang nyajauh—“

“Halaaahhh ..., kan bisa gue antar. Yuk! Kita makan malam bareng. Elo suka karage, kan? Mereka ada menu karage katanya. Ada Jepang-Jepangan gitu. Ada menu Korea juga. Pastinya ala-ala, sih. Tapi kan ..., lumayan, ya.”

Oke, singkat cerita, kutemukan diriku ada di kafe baru itu setengah jam kemudian, menyantap nasi goreng bebek sambal ijo dan es teh manis (karena menu karagenya habis). Ceritanya harus kupersingkat, Kak. Sebab meski barusan durasinya setengah jam, rasanya seperti satu bulan penuh Ramadan, lengkap dengan sahur, imsak, iftar, tarawih, dan itikaf di masjid.

Lamaaa banget.

Jadi, aku mau bahas soal Devanya saja sekarang. Kapan-kapan kalau kita ketemu Deva lagi, akan kubiarkan Kakak menikmati Deva dengan durasi sebenarnya.

Deva ini enggak ganteng. Enggak jelek juga. Enggak kekar, enggak kurus, enggak gemuk. Normal saja dengan perut buncit ala daddy-daddy. Dia bukan tipe yang bakal stand out di keramaian. Tapi dia memang anak orang kaya. Jadi seenggaknya penampilan rapi, bersih, wangi, pakai sepatu bagus, pakai iPhone, dan dia bawa mobil. Kalau kencan sama dia, pasti naik mobil, enggak akan kehujanan. Barusan dari supermarket ke kafe pun naik mobil dia.

Avanza keluaran tahun 2005.

Dulu, waktu aku dekat sama dia, aku sedang desperate. Aku baru tiba di kota ini sendirian, ngekos, enggak tahu siapa-siapa, tiba-tiba ada cowok yang baik banget mau ngantar aku ke mana-mana. Dan itu beneran, setiap kali kami keluar, dia pasti jemput dan antar pulang. Biasanya sih antar pulang karena dia mau ngewe sama aku, sebelum dia beneran pulang ke rumahnya.

Kami enggak pernah bisa ngewe di rumah Deva karena dia masih tinggal sama orang tuanya. Selain orang tuanya, di rumah itu juga ada kakek neneknya, paman bibinya, kakak adiknya, keponakannya, sepupunya, dan kucing-kucingnya. Jadi, enggak mungkin maksiat di sana.

Kalau lagi makan begini, Deva juga sering nraktir. Dan itu beneran nraktir. Dia enggak pernah ngungkit-ngungkit lagi soal semua makanan yang pernah dia bayarin.

Tapiii ..., kita sebagai yang ditraktir, mesti ngedengerin si Deva dapat duitnya dari mana.

“Iya gapapa, gue aja yang bayar. Gue hari ini deal tender sama perusahaan gede gitu. Bonusnya pasti gede. Lagian udah gue bilang juga ke si bos, gue pasti bisa dapatin tendernya. Terbukti gue dapat, kan?”

Awalnya biasa-biasa aja, tapi makin sini kok jadi memuakkan ....

“... elu enggak usah bayar, Rohmat. Ini ayam gepreknya semua gue yang bayar. Biasa, lah ... investasi gue ada untungnya. Bitcoin, bitcoin!”

“... udah, enggak usah ngeluarin duit. Nyokap gue baru jual mobilnya. Gue suruh ganti. Biar mobilnya enggak mogok terus! Gue jualin sampe gue dapat duit lebih. Noh, pesen lagi. Lo mau makan apa?”

“... halah ini doang mah gue yang bayar, Rohmat. Kemaren gue ngitung-ngitung pengeluaran gue, kayaknya gue kelupaan infak bulan kemarin. Jadi ini ada lebih dikit. Gapapa, kita habisin aja.”

Enggak ada yang salah sih dengan menyebutkan sumber uang traktirannya dari mana. Jadinya kita tahu ini bukan duit haram hasil korupsi, pesugihan, atau nyolong dari orang dengan ngirim surat undangan ke Whatsapp yang tipe file-nya .apk, alih-alih .pdf.

Tapi gimana, ya ...?

Berlebihan gitu.

Dan itu cuma satu contoh aja. Setiap saat, Deva merasa perlu untuk meninggikan dirinya di depanku. Padahal, aku enggak masalah dengan dirinya yang apa adanya. Bukan hanya soal harta fisik yang dia punya. Kadang pengetahuan pun dia merasa lebih tinggi dari siapa pun. Selain senang mengobrol, Deva juga senang berdebat. Begini motto hidup Deva:


Bicara yang penting

Yang penting bicara


Dulu kami pernah berdebat soal minum es saat batuk.

“Sebenarnya, es enggak memperparah batuk,” kataku.

“Ya memperparah, lah. Es itu dingin, Rohmat. Itu bisa mengaktifkan enzim yang akhirnya bikin orang jadi batuk.”

Aku membeku sejenak, mencoba mengingat-ingat dari seluruh kuliah keperawatanku, enzim apa yang menjadi aktif gara-gara mengonsumsi es. “Biasanya, kalau seseorang batuknya parah gara-gara es, itu karena esnya enggak bersih,” kataku, menjelaskan sepengetahuanku sesuai bidang profesiku. “Es yang di penjual-penjual itu kan dipasok dari pabrik es yang mungkin sumber airnya mengandung mikroorganisme berbahaya, sehingga—“

Ck! Enggak, lah. Semua bakteri kalau dibekuin tuh ya mati! Hahaha ... Gimana sih elo nih, Rohmat? Katanya perawat. Elo harus tahu, es itu bisa bikin batuk kita tambah parah. Bahkan bikin kita mati. Makanya kalau elo sakit, elo batuk, jangan minum air dingin! Bahaya! Nanti tuh ada ..., enzim telomerase ... masuk ke dalam usus janin ....”

“Hah?”

Oke, aku cut sampai sini. Tapi semoga Kakak bisa dapat gambarannya seperti apa. Aku yang perawat saja jadi merasa bego lagi kalau sudah berdebat dengan Deva. Padahal topik pembicaraannya terkait medis. Setelah berbulan-bulan dekat dengan Deva, aku memutuskan bahwa lelaki itu akan menghabiskan energiku. (Ada alasan lain kenapa aku memilih mundur dari Deva, tapi itu ceritanya berbayar ya, Kak.) Di luar kebaikannya mengantar jemput atau mentraktir makanan, aku enggak sanggup berkomunikasi bersama Deva. Selain komunikasinya jarang dua arah, aku juga mencegah otakku yang lemot ini enggak semakin lemot dengan asupan knowledge dari Deva.

Atau bahasa medis untuk sindrom yang Deva alami: sok tahu.

Maka dari itu, dengan baik hati akan kupotong semua durasiku dari kasir supermarket, naik mobil ke kafe, duduk di kafe dan menyantap makan malam, lalu naik mobil ke kosanku saat Deva mengantarku pulang.

Aku akan melanjutkan kisah tentang Deva malam ini kira-kira seratus meter sebelum mobilnya sampai di depan kosanku.

“... jadi ya memang mereka harus berlatih di sini, karena lanud di sini langitnya bagus buat latihan terbang pake pesawat tempur. Anginnya tuh ergonomis. Aman buat calon tentara AU,” kata Deva, ketika berbelok menuju jalan ke kosanku. Konteks pembicaraan kami saat itu soal ramainya calon tentara di sekitar sini. “Dulu tuh rencananya gue mau masuk AU, tapi ... ah, ya udahlah. Enggak jadi. Kayaknya enggak aman juga. Mama enggak ngerestuin. Katanya gue mending ke sekolah flying school aja. Jadi pilot. Tapi, ya .... Enggak ngambil juga. Mungkin entar pas gue dapat bonus tahun ini, karena gue berhasil dapatin klien yang diincar kantor gue, mungkin gue mau daftar ke sekolah flying school di sini. Di lanud ini. Kan ada yang baru, tuh? Buat hobi aja lah, Rohmat. Bukan buat jadi pilot. Supaya kalau gue entar beli pesawat pribadi, Boeing A320, keluaran terbaru .... Gue udah tahu cara nyetir pesawatnya. Hehehe. Gimana kabar lo, Rohmat?”

Jarak kami tinggal beberapa puluh meter dari kosanku. Kira-kira sepuluh bangunan lagi menuju tempat tinggalku. Dan Deva baru menanyakan kabarku sejak dari supermarket tadi.

“Baik. Hehe.” Aku enggak tahu lagi apa yang harus kukatakan.

Oh! Aku tahu. Aku HARUS mengatakan ini:

“Aku di klinik lagi sibuk MCU calon tentara.”

“Oh gitu?”

“He eh. Mereka butuh vendor luar buat medical check up. Sebab calonnya banyak, katanya. Jadi, aku setiap hari bangun pagi, masuk jam tujuh, sampe jam tujuh lagi nih kayak barusan. Sibuk banget enggak bisa ngapa-ngapain. Nyampe kosan ini pasti langsung tidur. Enggak punya tenaga buat apa-apa lagi sebab jam enam kan udah mesti ke klinik, ya. Udah gitu ke lanud. Wah, enggak ada waktu banget aku.”

Alasannya apa? Supaya Deva tahu aku enggak bisa diganggu gugat malam ini.

Deva kelihatan kecewa. “Jadi ..., gue enggak bisa mampir?”

“Aduh, Dev .... Kalau aku lagi enggak sibuk, sih ..., Mas bisa mampir, deh.”

“Kapan elo enggak sibuk?”

Aku mengangkat bahu. “Enggak tahu. Sibuknya bisa dua atau tiga bulan, lah.”

Atau selamanya. Pokoknya kamu enggak bisa mampir, Dev.

“Oh ... gitu?” Deva menghela napas panjang sambil kepalanya berpikir keras. “Kalau weekend ini?”

Weekend ini aku pulang ke rumah nyokap.”

Weekend depan?”

“Enggak tahu. Takutnya lembur. Entar gue Whatsapp deh kalau gue ada waktu luang.” Kebetulan mobil tiba di depan kosanku. Jadi aku langsung membuka seat belt dan meraup tas maupun kantung belanjaanku. “Makasih banyak ya, Dev. Makasih udah diantar dan dibayarin makannya.”

“Gue mau staycation minggu depan. Di hotel Aston yang dekat terminal. Elo mau nemenin gue enggak?”

“Aduh, aku harus lihat jadwal dulu,” kataku, sambil susah payah membuka pintu dan melompat keluar mobil. “Entar aku Whatsapp, ya.”

“Nomor lo masih sama, kan?”

“Masih kok, masih! Mas Whatsapp aja.”

“Tapi elo balas ya Whatsapp, gue.”

“Iya!” Brak! Kututup pintu mobil. Tentu saja Deva menurunkan kaca jendelanya supaya dia bisa tetap berkomunikasi denganku. “Makasih banyak ya, Maaasss! Aku pulang dulu! Mau langsung tidur! Bye!

Deva, masih agak kecewa karena enggak dapat apa-apa setelah mengantarku, hanya bisa mengangguk pasrah. “Oke. Gue pulang, ya!”

“Hati-hati di jalan!”

Aku pun berlari masuk ke dalam kosan, tidak memberi celah untuk Deva mampir ke sini. Pokoknya pergi, pergi, pergi. Jangan menoleh, jangan menoleh, jangan menoleh! Ketika aku tiba di anak tangga pertama, aku bisa melihat dari ekor mataku Avanza keluaran tahun 2005 itu melaju pergi. Aku bisa bernapas lega sepanjang menaiki undakan tangga.

Begitu aku tiba di lantai dua, aku mengintip ke gerbang depan kosan ....

... mobil Deva sudah tidak ada.

Bagus. Akhirnya aku bisa mendapatkan kedamaianku lagi. Aku bisa merasakan ketenangan jiwa untuk malam ini. Ternyata untuk sepiring nasi goreng bebek sambal ijo dan segelas es teh manis gratis aku harus memberikan energi sebanyak itu menghadapi Deva. Aku harus mempertimbangkan lagi, apakah transaksi itu worthy atau tidak.

Mungkin tidak.

Tapi ya sudahlah. Malam ini aku bisa mendapatkan kebebasanku. Aku akan menghempaskan tubuhku ke atas kasur. Beristirahat. Mungkin mandi. Atau perawatan tubuh. Lalu menonton drama Korea dari situs ilegal. Lalu tidur.

Ya. Ini harus jadi malam yang “tenang” setelah barusan aku kelelahan menghadapi Deva.

Namun, seperti biasa, ada saja yang mengganggu kedamaian hariku akhir-akhir ini. Ketika aku naik ke lantai tiga, berbelok menuju kamarku yang di ujung, aku hampir menabrak seseorang. Bedanya, kali ini aku enggak menabrak dia. Aku sempat berhenti. Padahal, kalau aku nabrak dia, aku bakal dapat payung cantik. Sebab itu akan menjadi tabrakanku yang ketiga dengan makhluk ini.

“Halo, Dek!”

Ya. Fian ada di depanku. Mengenakan celana jeans ngepas tungkai, kemeja polo ngepas badan yang memamerkan kekar tubuhnya, dan aroma parfum maskulin yang bikin semua boti meleleh. Belum ditambah muka ganteng yang tersenyum itu.

“Baru pulang?” sapanya.

Aku masih membeku terkejut. Menelan ludah dengan bingung kenapa Fian ada di lantai tiga lagi. Dan kali ini bukan dalam konteks ikut mandi di kamar mandi lantai tiga.

“I ... iya.”

Fian tiba-tiba menyambar kantung belanjaanku yang berat, lalu berjalan menduluiku ke kamar kosanku. “Dek Ida harus ke rumah sakit jenguk temannya. Padahal Abang ada janji sama dia di sini. Terus Abang disuruh nunggu di kosan dia. Tapi kosan dia dikunci. Jadi ..., Abang ke sini. Siapa tahu Adek ada di kosan.”

Dengan lutut gemetar karena aku tiba-tiba sange melihat siluet punggung kekar berbentuk V dan bahu lebar yang kokoh itu, aku bertanya, “Abang ... Abang udah lama di sini?”

“Enggak juga. Baru sepuluh menit. Barusan mau turun lagi, mau keluar, tapi Adek udah datang. Dek Ida masih sejam dua jam lagi nyampe sini katanya. Boleh Abang nunggu di kosanmu, Dek?” tanya Fian, berhenti di depan pintuku, lalu berbalik sambil tersenyum.

“Bo ... boleh,” kataku, mengabaikan semua rencana malam tenangku barusan. “Tapi ... tapi enggak ada apa-apa di kosanku. Aku juga enggak punya makanan—“

“Abang udah makan,” kata Fian, sembari menungguku membuka pintu kosan. “Ikut duduk aja. Nungguin. Ngobrol. Bebas.”

“O ... oke.” Aku masuk ke dalam kamar untuk meletakkan tasku di atas meja. Fian juga masuk ke dalam kamarku, setelah membuka sepatu botnya yang tinggi. Kaki-kaki Fian tampak besar dan seksi.

Ketika Fian meletakkan kantung belanjaku di atas lantai, menggelinding keluar beberapa kotak sugar waxing yang belum terbeli. Fian melihatnya.

“Atau oh,” kata Fian tiba-tiba, sembari mengambil satu kotak itu, lalu menyerahkannya kepadaku, “Adek bisa bantu Abang waxing ketek Abang.”

“A ... apa?”

Tiba-tiba, Fian mengangkat satu lengannya, menarik lengan kausnya ke bawah, memamerkan ketek seksi yang berbulu leb ....

... ah, Kak.

Udah.

Malamku enggak akan pernah tenang lagi. Ini akan jadi malam yang membara.


[ ... ]


Komentar