Halo, Kak!
Apa aku pingsan? Hampir.
Apa aku membeku terkejut? Sudah pasti.
Apa aku cemburu karena Fian ternyata
menginap di kamarnya Ida? Bukan lagi.
“Ngambil sugar waxing, ya?” sapa
Fian, dengan senyum ganteng yang gagah ala-ala tentara.
Apa aku merasa malu?
BANGET!
“Ini,” kata Fian, sembari mengulurkan
sekantung kresek penuh produk sugar waxing yang ditawarkan Ida. “Buat
ditawarin ke teman-teman di klinik, kan?”
Please stop ngomong. Aku udah enggak tahu
harus ngapain lagi dalam situasi ini.
“Heh, bencong! Ditanya, tuh! Buat di
klinik, kan?” sahut Ida dari dalam kamar, sambil sibuk menggambar alis di depan
cermin.
Goblok memang lonte satu ini. Di
depan tentara ganteng macam gini dia memanggilku bencong?!
Inilah salah satu momen di mana aku
benci Ida dan berharap kemarin aku menyorongkan tubuhnya melewati pagar, lalu
Ida mati terjatuh dari lantai tiga, tubuhnya tertancap ke kaca spion sepeda
motor yang parkir di bawah.
“Iya,” jawabku, dengan suara bergetar.
“Mau diantar ke klinik? Saya ada motor,”
tawar Fian.
“Enggak usaaahhh ...!” sahut Ida, mulai
menggambar alis satunya lagi. “Dia biasa naik angkot.”
Kusantet kau IDA!
“Enggak usah,” jawabku, sembari dengan
canggung berjalan mundur. “Aku ... aku mau mampir dulu ke Indomaret soalnya.
Takut lama.”
“Gapapa. Bisa saya antar.”
“Enggak usah gapapa,” kataku,
benar-benar salah tingkah. “Lagian Abang ... belum pake baju.”
Fian tuh enggak pake baju, Kak. Dia
telanjang dada. Pake kolor putih doang, setengah paha. Kolor ala-ala tentara.
Badannya yang kekar dan berlekuk-lekuk itu terlihat jelas memantulkan sinar
mentari pagi yang keemasan. Benar-benar bikin kontol berkedut-kedut.
Fian menghela napas. “Ya udah kalau
enggak bisa. Hati-hati di jalan, ya.”
“Eh, Mat! Lo mau ke Indomaret, kan?”
“Hmmm.”
“Gue nitip beliin bedak Sari Pohatji,
ya.”
“Mana ada Sari Pohatji di Indomaret!”
“Ya berarti lu cari ke tempat yang jual,
ya! Byeee ...!”
Aku lihat Fian terkekeh mendengar itu.
Dia lalu mengangguk dan tersenyum, kemudian menutup pintu. Aku berbalik
menyusuri koridor dengan perasaan dongkol karena dipermalukan Ida di depan
Fian, dan fakta bahwa Fian ada di kamar Ida. Apa artinya dia semalam menginap
di kosan Ida? Apa artinya semalam waktu aku ketemu dia handukan aja di lantai
tiga, dia habis ngewe sama Ida? Apa artinya kemarin pagi waktu aku
tabrakan sama Fian di depan, Fian bermaksud nyamperin Ida?
Bangsat.
Suatu hari akan kutuang sugar waxing
ini ke kepala Ida, sehingga Ida terpaksa menarik lilin di rambutnya, lalu Ida
jadi botak.
Suasana hatiku hari itu agak campur
aduk. Aku senang bisa bertemu Fian lagi di kosan, tetapi aku bete bukan main
gara-gara Ida. Untungnya pasien hari itu cukup banyak sehingga fokusku bisa
teralihkan. Menjelang sore, aku meeting dengan Bu Lusi terkait kegiatan medical
check up barengan calon tamtama tentang apa saja yang perlu kusediakan.
Seperti biasa aku juga di-briefing untuk memberi tahu dan menyebarkan flyer
tentang produk MCU di klinik kami.
Biasa, lah. Klinik swasta. Kalau ada
keramaian pasti cari cara buat ngiklan.
Selesai mengirimkan laporan rekam medis
pasien-pasien BPJS yang berkunjung mulai pukul 4 sore barengan dr. Stephen, aku
pulang dari klinik sebelum Isya. Geca kebagian shift siang, sehingga dia
pulang malam. Ketika aku keluar dari loker, Geca sedang menunggu di station-nya
barengan lima pasien yang berkunjung setelah Magrib.
“Beneran lu enggak mau nambah lagi?”
tawarku saat transit di depan meja registrasi.
“Enggak, ah!” balas Geca, sembari
menulis data pasien yang baru saja datang. “Emangnya bulu gue tumbuh tiap
hari?”
“Ya iyalah!” sergahku. “Emangnya bulu
ketek kayak puasa Nabi Daud, selang-seling sehari?”
“Ya kan enggak bakal tumbuh lima senti
dalam semalam, anjir. Gue mau cobain satu dulu aja. Kalau oke gue repeat
order.”
Aku menghela napas sambil melorotkan
bahu. “Ya udah,” kataku, sambil cengar-cengir sebel. “Kalau ada temen lu yang
pengin, kabari gue, ya!”
“Iya!”
“Bye ....”
Hari itu aku hanya berhasil menjual tiga
kotak sugar waxing dari selusin yang ditawarkan Ida. Dr. Keandra hari
ini enggak praktik, jadi aku enggak bisa jual ke dia. Tapi setelah
dipikir-pikir, dia juga treatment-nya di beauty clinic, di-waxing-in
ama orang lain, bukan olesin sendiri pake produk-produk tawaran Ida. Mungkin
sisa sugar waxing ini akan kucoba jual di live Tiktok.
Sepulang dari klinik, aku enggak
langsung pulang ke kosan. Aku mampir dulu ke salah satu supermarket lokal dekat
lanud untuk belanja kebutuhan bulanan. Supermarket ini semacam Superindo atau
Borma, tapi yang punyanya warga sekitar sini juga. Lumayan besar dan luas
tempatnya. Yang dijual lumayan beragam, termasuk produk-produk UMKM lokal yang
enggak mungkin masuk jaringan retail raksasa. Misalnya jamu-jamu, kerajinan
lokal, oleh-oleh, dan lain sebagainya. Dengan begitu, Sari Pohatji mungkin
dijual di sini juga.
Rencanaku, aku akan membeli Sari Pohatji
di sini, lalu menagihnya ke Ida dengan harga yang lebih mahal 20-30%. Biar dia
tahu rasa!
Aku tiba di supermarket kira-kira pukul
delapan. Ketika aku turun dari angkot, beberapa calon tentara tampak berkumpul
di pintu depan—yang juga terdapat penjual-penjual lokal seperti kue balok,
pukis, es teh, dan lomie. Sebagian dari mereka menyantap lomie, sebagian lagi
mengobrol biasa saja.
Ketika aku lewat pintu depan, aku
melihat satu calon taruna sedang menangis dan menelepon di pojokan. Dia
menghadap ke sudut. Bahunya berguncang naik turun dan dia terisak-isak.
“Ndak keterima, Mah .... Hiks
..., hiks ..., hiks ....” Satu tangannya memegang dinding, dan
mencengkeramnya dengan gemetar. “Aku ndak lolos, Maaa ....”
Seorang temannya muncul untuk
merangkulnya. “Brooo .... Yang sabar.”
Aku tak bisa mendengar kelanjutannya
karena aku sudah masuk dan mengambil keranjang belanja. Agak sedih sih melihat
orang yang seserius itu ingin masuk tentara, tapi enggak lolos. Aku enggak tahu
apa yang bikin dia enggak lolos. Semoga dia masih bisa mendaftar tahun depan
dan memperbaiki kekurangannya.
Sepanjang aku berbelanja, beberapa
lelaki berkepala gundul dengan celana katun tampak hilir mudik juga di dalam
supermarket. Kayaknya hari ini ada kegiatan di lanud. Mungkin salah satu batch
penerimaan TNI? Bisa jadi. Satu orang lelaki membawa-bawa satu lembar kertas
kardus yang ditulisi:
BUKAN AKU YANG HEBAT TAPI DOA ORANG
TUAKU YANG KUAT
DOA BAPA MAMA MENEMBUS LANGIT ANAKMU
JADI TENTARA
#DOAMAMAMENEMBUSLANGIT
#DOANENEKDARISURGAUNTUKCUCUNYAJADITENTARA
#AKUKASHARAUVANAKANMEMBELANUSADANBANGSA
Aku enggak tahu kenapa dia perlu
menuliskan hashtag di situ, mengingat tagarnya tidak akan tertaut ke media
sosial mana pun. Tapi aku bisa membayangkan dirinya berfoto dengan lembaran
kardus itu, menunjukkan dengan bangga bahwa dia diterima untuk pendidikan
militer. Wajahnya tampak semringah sepanjang belanja. Mungkin saking bahagianya,
dia bolak-balik di setiap lorong supermarket, senyum-senyum sendiri dan enggak
ingat bahwa dia harusnya berbelanja di sini.
Namanya Kasha Rauvan. Orang tuanya waras
dalam memberi nama.
Selama dua puluh menit aku mondar-mandir
untuk berbelanja kebutuhan bulanan. Sepanjang belanja aku bertemu para calon
tentara yang tampaknya berbelanja juga. Kemungkinan besar mereka diterima, lalu
harus tinggal di barak sini, dan mereka sedang membeli kebutuhan dasar seperti
sabun, sampo, pasta gigi, atau barusan ada yang nyetok Indomie dua kardus. Sebagian
dari calon tentara ini ganteng, sebagian lagi maskulin banget. Sisanya harus
bersyukur keterima sebagai calon tentara. Gara-gara melihat mereka berkeliaran
seperti ini, dadaku berdebar-debar lagi mengingat fakta bahwa dalam waktu dekat
aku akan mengecek kontol dan bool mereka.
Yep. Bukan cuma varikokel saja. Bu Lusi
tadi bilang akan ada anoskopi juga. Anoskopi adalah prosedur medis untuk
mendeteksi gangguan pada saluran pencernaan. Khususnya di bagian: bool. Anoskopi
dilakukan untuk mengecek wasir, fisura ani (luka di rektum), polip,
kanker kolorektal, segala jenis peradangan di bagian rektum dan usus besar, dan
apakah lelaki tersebut seorang boti yang sering dihantam kontol pure
top sampai mentok. (Tentara biasanya melarang LGBT untuk gabung.)
Yang memeriksa anoskopi bukan suster
macam aku, melainkan dokter spesialis gastroenterologi. Katanya, nanti akan ada
dokter yang di-hire untuk melakukan pemeriksaan itu, tapi aku akan ada
di ruangan yang sama untuk membantu mencatat dan menemani si dokter sepanjang
pemeriksaan bersama entah berapa peleton calon tentara.
Jadi kalau si dokternya mengecek bool
tentara pake alat anoskop, lalu dia bilang ke aku, “Ada benjolan konstan di
rektum bagian atas, kayak semacam trauma. Tapi kondisi rektumnya bersih, enggak
ada radang atau bahkan feses ....”
Maka aku akan menulis di catatan
medisnya: PURE BOTTOM.
Wkwkwk
Bercanda.
Tapi kira-kira pemeriksaannya seperti
itu. Aku juga berhak melihat ke dalam bool melalui anoskop itu untuk
memastikan pencatatanku. Kalau tentaranya berbaris dan kami harus melakukan
prosedur anoskopi secara masal, bisa jadi aku diminta si dokter memasukkan
jariku ke bool calon tentara ini untuk mengecek tanda-tanda hadirnya
wasir.
Atau istilah yang Kakak pasti kenal dan
sering praktikkan: fingering.
Bayangkan Kakak mesti melakukan itu ke
entah berapa banyak lelaki jantan, straight, badannya tegap dan
maskulin, bisa pull up (karena itu syarat jadi abdi negara), sebagiannya
ganteng dan menarik, lalu Kakak harus memegang dan memeriksa kontol maupun bool
mereka. Dan mereka akan ikhlas membiarkan Kakak memain-mainkannya.
Sudah iri dengki belum sama job desk-ku
ini, Kak?
Kalau sudah, mari kita lanjut, ya.
Barang terakhir yang harus kubeli malam
itu adalah pelumas. Gara-gara barusan ngebahas tentang anoskopi, aku jadi
teringat bahwa pelumasku kayaknya hampir habis. Aku tahu mungkin aku enggak
akan ngewe dalam waktu dekat, tapi aku terbiasa untuk sedia payung
sebelum hujan. Siapa tahuuu ini mah, ya ..., siapa tahuuu ..., waktu aku
masukin jariku ke bool salah satu calon tentara, terus aku main-mainin
prostatnya, terus dia keenakan, terus tiba-tiba dia ngasih nomor teleponnya
buat ngajak ngewe, kan ..., siapa tahuuu .... Jadi, aku berjalan ke rak
paling ujung yang memang ada perlengkapan untuk kegiatan orang “dewasa” di
sana.
Ada kondom, cock ring vibrator,
minuman penambah vitalitas, hingga pelumas. Selain ada Sari Pohatji, di sini
juga ada Monogatari. Berbagai varian rasa, dari peach hingga stroberi.
Namun, ketika aku mau masuk ke
lorongnya, aku menemukan dua calon tentara sedang berdiri di depan kumpulan
pelumas, berbisik-bisik dengan mencurigakan. Otomatis aku melipir ke lorong
lain, enggak mau kelihatan beli pelumas di depan dua tentara itu. Gimana pun,
aku malu juga sih kalau harus ketahuan mengambil benda ini, meskipun nanti di
kasir juga bakal kelihatan aku beli pelumas ini.
Nah, aku pindah ke lorong sebelahnya,
pura-pura melihat jejeran produk baby oil. Tapi dari sini, aku bisa
mendengar dua orang tentara itu berbisik-bisik agak keras.
“Enggak akan, Mas, justru aman
kalau pakai ini,”
kata calon tentara A.
Calon tentara B membalas, “Tapi aku ndak
tahu cara pakainya.”
“Isi dulu air, terus masukin ke
lubangnya.”
“Terus dipencet?”
“Ho-oh. Sampe semua airnya
masuk. Terus entar keluarin lagi airnya.”
Mereka bahas apa, sih?
“Pokoknya, Mas mesti bersihin
dulu isinya. Supaya nanti pas dicek, enggak ada apa-apa.”
“Emang kalau ada radang, bisa
langsung sembuh pake air?”
“Bisa. Tapi pake kangen water. Si Ehsan juga
lolos yang batch kemaren gara-gara dibersihin pake kangen water.”
Sumpah, aku kepo. Aku memutar
lagi ke rak peralatan dewasa itu karena ingin melihat mereka sedang membahas
apa. Ketika aku lewat, mereka enggak ngeh aku ada di situ, mereka sedang
berdiri menempel dan berdekatan, sembunyi-sembunyi membolak-balik satu produk
yang terpajang di rak.
Mereka mau beli enema.
Balon buat buat masukin air ke bool,
untuk membersihkan bool dari kotoran. Sesuatu yang wajib dimiliki para bottom.
Aku geleng-geleng kepala karena mereka
pikir hal itu akan meloloskannya menjadi tentara.
Mas ..., itu buat ngentot, Mas. (Selain
buat bersihin usus, ya.) Itu enggak akan bikin Mas lolos tentara. Kalau bool
Mas kebanyakan dimasukin kontol, ya tetep aja enggak lolos.
“Makasih ya Mas Arshan. Aku coba deh
malam ini,” kata si B.
“Sama-sama, Mas Elvano. Semoga sukses,
ya.”
Halah, namanya modern semua. Arshan sama
Elvano. Nama-nama macam begitu sudah masuk dunia tentara sekarang. Suatu hari,
kita akan punya, Jenderal TNI (Purn) Elvano Arshan Kasha Rauvan. Sudah persis
dunia militer yang ada di cerita-cerita Wattpad. Yang namanya mengandung Subiyanto
akan tereliminasi dari kepangkatan TNI.
Kenapa ya, namaku harus—
“ROHMAAAT!”
Aku tersentak kaget saat ada yang
berteriak memanggil namaku dari jauh. Aku, Arshan, dan Elvano menoleh ke sumber
suara. Di ujung lorong, seorang lelaki melambaikan tangannya dengan wajah
berseri-seri.
“ROHMAT! WOY! INI GUE, ROHMAAATTT ...!”
Enggak perlu nyebut nama sampai tiga
kali juga, kan?
Sialan.
Aku kenal orang itu. Dengan tergesa aku
langsung menghampirinya sebelum dia membeberkan ke semua pelanggan supermarket
untuk keempat kalinya, bahwa namaku Rohmat.
Siapa dia?
Dia itu mantanku, Kak ....
[ ... ]
Enggak spesifik mantan, sih. Karena
enggak pernah ada janji cinta suci yang terucap pada awal-awal hubungan. Aku
sama dia sempat dekat cukup lama. Khususnya pada awal-awal kepindahanku ke kota
ini untuk bekerja di klinik yang sekarang. Aku ketemuan lewat aplikasi, sempat
cocok, lalu jalan bareng, dan berminggu-minggu setelahnya aku mencari cara
untuk keluar dari relationship itu.
Dia orang baik, Kak. Sumpah. Sayangnya
aku enggak tahan sama dia. Aku enggak akan ceritain kayak gimana, tapi nanti
Kakak lihat sendiri ya, alasan utama aku enggak tahan sama dia.
“Heeey ..., Mas Deva!”
Dia kelahiran 1992 dan sudah punya nama
yang kekinian dari orang tuanya.
Deva mengulurkan tangannya untuk
menyalamiku dengan macho. “Lu lagi ngapain di sini, Rohmat?”
Ingin sekali kujawab, “Aku lagi operasi
plastik.” Tapi kuputuskan untuk enggak memperpanjang candaan itu karena nanti
jadi “masalah”.
Sebenarnya bisa lho dia tuh nyebut
silabel terakhir namaku aja. Misalnya, Lu lagi ngapain di sini, Mat?
Enggak perlu lengkap dengan nama ROHMAT. Kan kalau cuma Mat doang, orang yang
denger ngiranya namaku keren. Bisa jadi namaku Matheus atau apa gitu.
Sekali lagi, enggak usah diperpanjang. Diskusi
bisa jadi enggak penting kalau kita menjawab dengan sarkasme di depan Deva.
“Ah, biasa. Belanja bulanan,” jawabku
apa adanya.
“Gue juga ini belanja bulanan.”
Enggak nanya.
“Biasa, lah, gue tuh sebulan ada lima
kali waktu belanja. Ada yang belanja bahan pokok, kayak makanan, buat disetok
di kulkas. Tanggal lima itu biasanya. Ada belanja buat personal care.
Elo tahulah, beli sabun, beli sampo, beli skincare. Ada juga hari
belanja buat peralatan rumah. Kayak pel, atau sapu, atau ... ngng ...,
pewangi ruangan. Itu gue tuh harus ganti tiap bulan, Rohmat. Biasa, lah. Sapu,
kalau dipake setiap hari kan jadi kotor, ya. Kuman-kuman ngumpul. Nah, untuk
menjaga sapunya tetap bersih ....”
Aku enggak percaya aku mendengarkan Deva
menyebutkan tanggal-tanggal belanjanya hingga pembelanjaan kelima yaitu kebutuhan
hobi. Misalnya, bulan ini, dia sedang hobi melukis, jadi tanggal 17 kemarin dia
membeli kanvas, kuas, dan cat akrilik.
Aku enggak percaya Deva seniat itu
gonta-ganti hobi setiap bulan.
Aku lebih enggak percaya aku setia
mendengarkan racauannya selama bermenit-menit tanpa punya kesempatan menyela
sama sekali.
Nah, ini red flag pertama yang
aku maksud tadi. Red flag yang bikin aku enggak tahan sama dia. Mungkin
di luar sana ada orang yang sanggup dengerin dia ngomong tanpa henti. Sayangnya
orang itu bukan aku.
Aku adalah introvert yang butuh
ketenangan. Enggak butuh tahu hobi seseorang setiap bulannya berganti menjadi
apa saja.
“Lu balik kerja?” tanya Deva akhirnya,
setelah beberapa belas menit memberi Ted Talks soal jadwal belanja bulanannya.
“Akhirnya ...,” jawabku.
“Hah?”
“I-iya. Maksud aku ..., aku baru balik
kerja juga.”
“Masih di klinik? Jadi suster?”
Semudah itukah untuk ganti profesi dari
suster menjadi montir atau atlet lempar lembing? Tentu saja aku masih jadi
suster, Onta! Untuk apa aku sekolah keperawatan kalau ujung-ujungnya aku jadi
tukang goreng kerupuk yang menggoreng pakai baju Sailormoon?!
“Iya,” jawabku, sembari menghela napas
dan menenangkan diri. Aku harus sabar.
“Udah beres ini belanjanya?”
“Oh ....” Enggak mungkin aku bilang aku
tinggal beli Monogatari. Entar dia bakal nanyain kehidupan seksualku. Jadi aku
bilang, “Udah, kok. Ini lagi mau ke kasir.”
“Ya udah, bareng! Gue juga udah selesai.
Yuk!”
Anjing.
“Lo udah makan belum?” tanya Deva sambil
menjejeriku ke kasir. Aku belum menjawab pertanyaan itu, Deva sudah
melanjutkan. “Gue belum makan banget. Terakhir makan jam 4 sore tadi. Itu pun tea
time. Kayak teh Inggris gitu, pake biskuit-biskuit. Di ujung sana, habis
dari lanud, ada kafe baru gitu. Katanya makanannya oke, view-nya juga
bagus ke bandara. Mau ke sana enggak?”
“Ah, enggak usah. Aku udah—“
“Gue bayarin, kok. Tenang aja,” sela
Deva, tanpa mendengarkanku sama sekali. “Sambil nemenin gue makan.”
Aku sudah membuka mulut untuk menjawab,
tetapi aku menutupnya lagi. Sempat sih aku mengajukan banding, “Itu lawan arah
kosan aku, Mas. Entar aku pulang nyajauh—“
“Halaaahhh ..., kan bisa gue antar. Yuk!
Kita makan malam bareng. Elo suka karage, kan? Mereka ada menu karage katanya. Ada
Jepang-Jepangan gitu. Ada menu Korea juga. Pastinya ala-ala, sih. Tapi kan ...,
lumayan, ya.”
Oke, singkat cerita, kutemukan diriku
ada di kafe baru itu setengah jam kemudian, menyantap nasi goreng bebek sambal
ijo dan es teh manis (karena menu karagenya habis). Ceritanya harus
kupersingkat, Kak. Sebab meski barusan durasinya setengah jam, rasanya seperti
satu bulan penuh Ramadan, lengkap dengan sahur, imsak, iftar, tarawih, dan
itikaf di masjid.
Lamaaa banget.
Jadi, aku mau bahas soal Devanya saja
sekarang. Kapan-kapan kalau kita ketemu Deva lagi, akan kubiarkan Kakak
menikmati Deva dengan durasi sebenarnya.
Deva ini enggak ganteng. Enggak jelek
juga. Enggak kekar, enggak kurus, enggak gemuk. Normal saja dengan perut buncit
ala daddy-daddy. Dia bukan tipe yang bakal stand out di
keramaian. Tapi dia memang anak orang kaya. Jadi seenggaknya penampilan rapi,
bersih, wangi, pakai sepatu bagus, pakai iPhone, dan dia bawa mobil. Kalau
kencan sama dia, pasti naik mobil, enggak akan kehujanan. Barusan dari
supermarket ke kafe pun naik mobil dia.
Avanza keluaran tahun 2005.
Dulu, waktu aku dekat sama dia, aku
sedang desperate. Aku baru tiba di kota ini sendirian, ngekos, enggak
tahu siapa-siapa, tiba-tiba ada cowok yang baik banget mau ngantar aku ke
mana-mana. Dan itu beneran, setiap kali kami keluar, dia pasti jemput dan antar
pulang. Biasanya sih antar pulang karena dia mau ngewe sama aku, sebelum
dia beneran pulang ke rumahnya.
Kami enggak pernah bisa ngewe di
rumah Deva karena dia masih tinggal sama orang tuanya. Selain orang tuanya, di
rumah itu juga ada kakek neneknya, paman bibinya, kakak adiknya, keponakannya,
sepupunya, dan kucing-kucingnya. Jadi, enggak mungkin maksiat di sana.
Kalau lagi makan begini, Deva juga
sering nraktir. Dan itu beneran nraktir. Dia enggak pernah ngungkit-ngungkit
lagi soal semua makanan yang pernah dia bayarin.
Tapiii ..., kita sebagai yang ditraktir,
mesti ngedengerin si Deva dapat duitnya dari mana.
“Iya gapapa, gue aja yang bayar. Gue hari
ini deal tender sama perusahaan gede gitu. Bonusnya pasti gede. Lagian
udah gue bilang juga ke si bos, gue pasti bisa dapatin tendernya. Terbukti gue
dapat, kan?”
Awalnya biasa-biasa aja, tapi makin sini
kok jadi memuakkan ....
“... elu enggak usah bayar, Rohmat. Ini
ayam gepreknya semua gue yang bayar. Biasa, lah ... investasi gue ada
untungnya. Bitcoin, bitcoin!”
“... udah, enggak usah ngeluarin duit. Nyokap
gue baru jual mobilnya. Gue suruh ganti. Biar mobilnya enggak mogok terus! Gue
jualin sampe gue dapat duit lebih. Noh, pesen lagi. Lo mau makan apa?”
“... halah ini doang mah gue yang
bayar, Rohmat. Kemaren gue ngitung-ngitung pengeluaran gue, kayaknya gue
kelupaan infak bulan kemarin. Jadi ini ada lebih dikit. Gapapa, kita habisin
aja.”
Enggak ada yang salah sih dengan
menyebutkan sumber uang traktirannya dari mana. Jadinya kita tahu ini bukan
duit haram hasil korupsi, pesugihan, atau nyolong dari orang dengan ngirim
surat undangan ke Whatsapp yang tipe file-nya .apk, alih-alih .pdf.
Tapi gimana, ya ...?
Berlebihan gitu.
Dan itu cuma satu contoh aja. Setiap
saat, Deva merasa perlu untuk meninggikan dirinya di depanku. Padahal, aku
enggak masalah dengan dirinya yang apa adanya. Bukan hanya soal harta fisik
yang dia punya. Kadang pengetahuan pun dia merasa lebih tinggi dari siapa pun.
Selain senang mengobrol, Deva juga senang berdebat. Begini motto hidup Deva:
Bicara yang penting ❌
Yang penting bicara ✅
Dulu kami pernah berdebat soal minum es
saat batuk.
“Sebenarnya, es enggak memperparah
batuk,” kataku.
“Ya memperparah, lah. Es itu dingin,
Rohmat. Itu bisa mengaktifkan enzim yang akhirnya bikin orang jadi batuk.”
Aku membeku sejenak, mencoba
mengingat-ingat dari seluruh kuliah keperawatanku, enzim apa yang menjadi aktif
gara-gara mengonsumsi es. “Biasanya, kalau seseorang batuknya parah gara-gara
es, itu karena esnya enggak bersih,” kataku, menjelaskan sepengetahuanku sesuai
bidang profesiku. “Es yang di penjual-penjual itu kan dipasok dari pabrik es
yang mungkin sumber airnya mengandung mikroorganisme berbahaya, sehingga—“
“Ck! Enggak, lah. Semua bakteri
kalau dibekuin tuh ya mati! Hahaha ... Gimana sih elo nih, Rohmat? Katanya
perawat. Elo harus tahu, es itu bisa bikin batuk kita tambah parah. Bahkan
bikin kita mati. Makanya kalau elo sakit, elo batuk, jangan minum air dingin!
Bahaya! Nanti tuh ada ..., enzim telomerase ... masuk ke dalam usus janin ....”
“Hah?”
Oke, aku cut sampai sini. Tapi
semoga Kakak bisa dapat gambarannya seperti apa. Aku yang perawat saja jadi
merasa bego lagi kalau sudah berdebat dengan Deva. Padahal topik pembicaraannya
terkait medis. Setelah berbulan-bulan dekat dengan Deva, aku memutuskan bahwa lelaki
itu akan menghabiskan energiku. (Ada alasan lain kenapa aku memilih mundur dari
Deva, tapi itu ceritanya berbayar ya, Kak.) Di luar kebaikannya mengantar
jemput atau mentraktir makanan, aku enggak sanggup berkomunikasi bersama Deva.
Selain komunikasinya jarang dua arah, aku juga mencegah otakku yang lemot ini
enggak semakin lemot dengan asupan knowledge dari Deva.
Atau bahasa medis untuk sindrom yang
Deva alami: sok tahu.
Maka dari itu, dengan baik hati akan
kupotong semua durasiku dari kasir supermarket, naik mobil ke kafe, duduk di
kafe dan menyantap makan malam, lalu naik mobil ke kosanku saat Deva
mengantarku pulang.
Aku akan melanjutkan kisah tentang Deva
malam ini kira-kira seratus meter sebelum mobilnya sampai di depan kosanku.
“... jadi ya memang mereka harus
berlatih di sini, karena lanud di sini langitnya bagus buat latihan terbang
pake pesawat tempur. Anginnya tuh ergonomis. Aman buat calon tentara AU,” kata
Deva, ketika berbelok menuju jalan ke kosanku. Konteks pembicaraan kami saat
itu soal ramainya calon tentara di sekitar sini. “Dulu tuh rencananya gue mau
masuk AU, tapi ... ah, ya udahlah. Enggak jadi. Kayaknya enggak aman juga. Mama
enggak ngerestuin. Katanya gue mending ke sekolah flying school aja.
Jadi pilot. Tapi, ya .... Enggak ngambil juga. Mungkin entar pas gue dapat
bonus tahun ini, karena gue berhasil dapatin klien yang diincar kantor gue,
mungkin gue mau daftar ke sekolah flying school di sini. Di lanud ini.
Kan ada yang baru, tuh? Buat hobi aja lah, Rohmat. Bukan buat jadi pilot.
Supaya kalau gue entar beli pesawat pribadi, Boeing A320, keluaran terbaru ....
Gue udah tahu cara nyetir pesawatnya. Hehehe. Gimana kabar lo, Rohmat?”
Jarak kami tinggal beberapa puluh meter
dari kosanku. Kira-kira sepuluh bangunan lagi menuju tempat tinggalku. Dan Deva
baru menanyakan kabarku sejak dari supermarket tadi.
“Baik. Hehe.” Aku enggak tahu lagi apa
yang harus kukatakan.
Oh! Aku tahu. Aku HARUS
mengatakan ini:
“Aku di klinik lagi sibuk MCU calon
tentara.”
“Oh gitu?”
“He eh. Mereka butuh vendor luar buat medical
check up. Sebab calonnya banyak, katanya. Jadi, aku setiap hari bangun
pagi, masuk jam tujuh, sampe jam tujuh lagi nih kayak barusan. Sibuk banget
enggak bisa ngapa-ngapain. Nyampe kosan ini pasti langsung tidur. Enggak punya
tenaga buat apa-apa lagi sebab jam enam kan udah mesti ke klinik, ya. Udah gitu
ke lanud. Wah, enggak ada waktu banget aku.”
Alasannya apa? Supaya Deva tahu aku
enggak bisa diganggu gugat malam ini.
Deva kelihatan kecewa. “Jadi ..., gue
enggak bisa mampir?”
“Aduh, Dev .... Kalau aku lagi enggak
sibuk, sih ..., Mas bisa mampir, deh.”
“Kapan elo enggak sibuk?”
Aku mengangkat bahu. “Enggak tahu.
Sibuknya bisa dua atau tiga bulan, lah.”
Atau selamanya. Pokoknya kamu enggak
bisa mampir, Dev.
“Oh ... gitu?” Deva menghela napas
panjang sambil kepalanya berpikir keras. “Kalau weekend ini?”
“Weekend ini aku pulang ke rumah
nyokap.”
“Weekend depan?”
“Enggak tahu. Takutnya lembur. Entar gue
Whatsapp deh kalau gue ada waktu luang.” Kebetulan mobil tiba di depan kosanku.
Jadi aku langsung membuka seat belt dan meraup tas maupun kantung
belanjaanku. “Makasih banyak ya, Dev. Makasih udah diantar dan dibayarin
makannya.”
“Gue mau staycation minggu depan.
Di hotel Aston yang dekat terminal. Elo mau nemenin gue enggak?”
“Aduh, aku harus lihat jadwal dulu,”
kataku, sambil susah payah membuka pintu dan melompat keluar mobil. “Entar aku
Whatsapp, ya.”
“Nomor lo masih sama, kan?”
“Masih kok, masih! Mas Whatsapp aja.”
“Tapi elo balas ya Whatsapp, gue.”
“Iya!” Brak! Kututup pintu mobil.
Tentu saja Deva menurunkan kaca jendelanya supaya dia bisa tetap berkomunikasi
denganku. “Makasih banyak ya, Maaasss! Aku pulang dulu! Mau langsung tidur! Bye!’
Deva, masih agak kecewa karena enggak
dapat apa-apa setelah mengantarku, hanya bisa mengangguk pasrah. “Oke. Gue
pulang, ya!”
“Hati-hati di jalan!”
Aku pun berlari masuk ke dalam kosan,
tidak memberi celah untuk Deva mampir ke sini. Pokoknya pergi, pergi, pergi.
Jangan menoleh, jangan menoleh, jangan menoleh! Ketika aku tiba di anak tangga
pertama, aku bisa melihat dari ekor mataku Avanza keluaran tahun 2005 itu
melaju pergi. Aku bisa bernapas lega sepanjang menaiki undakan tangga.
Begitu aku tiba di lantai dua, aku
mengintip ke gerbang depan kosan ....
... mobil Deva sudah tidak ada.
Bagus. Akhirnya aku bisa mendapatkan
kedamaianku lagi. Aku bisa merasakan ketenangan jiwa untuk malam ini. Ternyata
untuk sepiring nasi goreng bebek sambal ijo dan segelas es teh manis gratis aku
harus memberikan energi sebanyak itu menghadapi Deva. Aku harus
mempertimbangkan lagi, apakah transaksi itu worthy atau tidak.
Mungkin tidak.
Tapi ya sudahlah. Malam ini aku bisa
mendapatkan kebebasanku. Aku akan menghempaskan tubuhku ke atas kasur.
Beristirahat. Mungkin mandi. Atau perawatan tubuh. Lalu menonton drama Korea
dari situs ilegal. Lalu tidur.
Ya. Ini harus jadi malam yang “tenang”
setelah barusan aku kelelahan menghadapi Deva.
Namun, seperti biasa, ada saja yang
mengganggu kedamaian hariku akhir-akhir ini. Ketika aku naik ke lantai tiga,
berbelok menuju kamarku yang di ujung, aku hampir menabrak seseorang. Bedanya,
kali ini aku enggak menabrak dia. Aku sempat berhenti. Padahal, kalau aku
nabrak dia, aku bakal dapat payung cantik. Sebab itu akan menjadi tabrakanku
yang ketiga dengan makhluk ini.
“Halo, Dek!”
Ya. Fian ada di depanku. Mengenakan
celana jeans ngepas tungkai, kemeja polo ngepas badan yang memamerkan kekar
tubuhnya, dan aroma parfum maskulin yang bikin semua boti meleleh. Belum
ditambah muka ganteng yang tersenyum itu.
“Baru pulang?” sapanya.
Aku masih membeku terkejut. Menelan
ludah dengan bingung kenapa Fian ada di lantai tiga lagi. Dan kali ini bukan
dalam konteks ikut mandi di kamar mandi lantai tiga.
“I ... iya.”
Fian tiba-tiba menyambar kantung
belanjaanku yang berat, lalu berjalan menduluiku ke kamar kosanku. “Dek Ida
harus ke rumah sakit jenguk temannya. Padahal Abang ada janji sama dia di sini.
Terus Abang disuruh nunggu di kosan dia. Tapi kosan dia dikunci. Jadi ..., Abang
ke sini. Siapa tahu Adek ada di kosan.”
Dengan lutut gemetar karena aku
tiba-tiba sange melihat siluet punggung kekar berbentuk V dan bahu lebar
yang kokoh itu, aku bertanya, “Abang ... Abang udah lama di sini?”
“Enggak juga. Baru sepuluh menit.
Barusan mau turun lagi, mau keluar, tapi Adek udah datang. Dek Ida masih sejam
dua jam lagi nyampe sini katanya. Boleh Abang nunggu di kosanmu, Dek?” tanya
Fian, berhenti di depan pintuku, lalu berbalik sambil tersenyum.
“Bo ... boleh,” kataku, mengabaikan
semua rencana malam tenangku barusan. “Tapi ... tapi enggak ada apa-apa di
kosanku. Aku juga enggak punya makanan—“
“Abang udah makan,” kata Fian, sembari
menungguku membuka pintu kosan. “Ikut duduk aja. Nungguin. Ngobrol. Bebas.”
“O ... oke.” Aku masuk ke dalam kamar
untuk meletakkan tasku di atas meja. Fian juga masuk ke dalam kamarku, setelah
membuka sepatu botnya yang tinggi. Kaki-kaki Fian tampak besar dan seksi.
Ketika Fian meletakkan kantung belanjaku
di atas lantai, menggelinding keluar beberapa kotak sugar waxing yang
belum terbeli. Fian melihatnya.
“Atau oh,” kata Fian tiba-tiba, sembari
mengambil satu kotak itu, lalu menyerahkannya kepadaku, “Adek bisa bantu Abang waxing
ketek Abang.”
“A ... apa?”
Tiba-tiba, Fian mengangkat satu
lengannya, menarik lengan kausnya ke bawah, memamerkan ketek seksi yang berbulu
leb ....
... ah, Kak.
Udah.
Malamku enggak akan pernah tenang lagi.
Ini akan jadi malam yang membara.
Komentar
Posting Komentar